Trem Baterai yang Diuji Coba PT INKA Rencananya Melaju di Bogor dan Bali

PT Industri Kereta Api (INKA) mulai melakukan uji prototipe Trem Baterai di jalur kereta api umu pada 9-10 November 2020 kemarin. Uji coba ini berjalan pergi dan pulang dari Stasiun Madiun ke Stasiun Babadan. Direktur Utama PT INKA, Budi Noviantoro mengatakan, uji coba dilakukan dengan tujuan untuk menguji performansi Trem Baterai sebelum dilakukan produksi massal.

Baca juga: Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia

“Sesuai dengan namanya, Trem Baterai ini menggunakan baterai sebagai sumber energi satu-satunya di dalam kereta. Energi baterai tersebut digunakan untuk menggerakkan kereta sekaligus untuk menyalakan AC, kompresor dan lampu penerangan. Karena menggunakan baterai, dalam operasionalnya Tram ini tentu sangat ramah lingkungan dan dapat digunakan di daerah yang tidak terdapat jalur catenary atau listrik aliran atas,“ kata Budi dalam siaran pers.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh PT INKA (Persero) (@pt_inka) pada

Dia menambahkan, satu set prototipe Trem ini terdiri dari dua mobil yang mana satu mobil dengan unik penggerak yang dilengkapi baterai. Sedangkan mobil lainnya merupakan kereta penumpang yang dilengkapi dengan tempat duduk bagi para penumpang serta dilengkapi dengan pegangan tangan bagian atas untuk penumpang berdiri.

Pengisian baterai Trem ini membutuhkan waktu tiga hingga empat jam. Sekali pengisian baterai, Trem mampu menempuh perjalanan hingga 25 km. Humas PT INKA Muhammad Advin menambahkan, Trem ini rencananya akan beroperasi di Bogor dan Bali.

“Yang Bogor, dulu pak Bima dan pak Dedi sudah pernah lihat. Cuma karena pandemi ini, belum ada tindak lanjut lagi. Kalau yang di Bali, ini rencananya akan termasuk dalam MoU INKA dan Perusda Bali Oktober kemarin selain sarana bus listrik,“ kata Advin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (11/11/2020).

Prototipe Trem Baterai ini berbobot sembilan tol dan akan melaju di kecepatan 30 km per jam dengan memiliki kapasitas baterai sebesar 30 kWh. Penumpang yang bisa diangkut oleh prototipe Tram Baterai sebanyak 75 orang. Namun, nantinya jika sudah diproduksi masal, INKA akan mengembangkan produk series Trem Baterai dengan meningkatkan spesifikasi sesuai kebutuhan operasionalnya.

Baca juga: Seperti Trem Menghantam Trotoar, Ini Dia Pintu Masuk Stasiun Kereta Bawah Tanah Bockenheimer Warte

Di mana Trem Baterai akan memiliki berat 12 ton dan mampu melaju dengan kecepatan 40 km per jam. Waktu pengisian baterai selama empat jam dan akan bisa menempuh jarak 100 km serta kapasitas penumpang yang bisa diangkut sebanyak 200 orang.

Hari Ini, 37 Tahun Lalu, CN-235 Pesawat Turboprop Kebanggaan Indonesia Terbang Perdana

Pada hari ini, 37 tahun lalu, bertepatan dengan Jumat, 11 November 1983, pesawat penumpang sipil angkut turboprop kelas menengah twin engine hasil kolaborasi Indonesia IPTN (sekarang PTDI) dan CASA (sekarang Airbus Defense & Space), CN-235 terbang perdana (first flight).

Baca juga: N-250, Pesawat Komuter Fly By Wire “Asli” Indonesia yang Kandas Tersapu Krisis Moneter

Pesawat multiguna ini memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), ramp door untuk memudahkan keluar-masuk barang, dan diklaim punya karakteristik biaya perawatan rendah.

Dikutip dari laman resmi PT Drigantara Indonesia (PT DI), pada 17 Oktober 1979, IPTN dan CASA (sekarang Airbus Defense & Space) mendirikan perusahaan baru, Aircraft Technology (Airtech) untuk mendesain CN-235.

Setelah menunggu lama, prototipe pertama “Elena” yang diproduksi oleh CASA melakukan penerbangan perdananya pada 11 November 1983 dan tak lama kemudian prototipe kedua “Tetuko” yang diproduksi PTDI terbang untuk pertama kalinya pada Desember 1983. Tiga tahun berselang, produksi serial dimulai pada 1986 untuk versi 10 dan 100.

Dalam prosesnya, masing-masing perusahaan membuat versinya sendiri. PT DI mengembangkan versi yang disempurnakan, seperti versi 110 dan 220, sedangkan Airbus Defense & Space dengan versi 200 dan 300-nya. Hingga saat ini, lebih dari 300 CN-235 telah diproduksi dalam banyak versi dengan dua mesin General Electric CT7-9C terbaru (masing-masing memiliki 1.750 SHP).

Khusus untuk versi -200, CN235 diproduksi dalam tiga varian; sipil, militer, dan special mission. CN-235-220 dapat mengangkut beban maksimal hingga 4.700 kg ataupun dengan jumlah penumpang sebanyak 36 orang.

Pesawat Angkut Militer CN-235-220 yang diproduksi PTDI adalah versi sipil yang telah mengalami berbagai peningkatan dalam desain, aplikasi teknologi, dan metode manufaktur untuk memenuhi standar operasional militer dengan berbagai medan menengah hingga berat.

Adapun CN-235-220 special mission merupakan pesawat yang diklaim tangguh untuk melakukan berbagai misi khusus seperti Search and Rescue (SAR), pengawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut, pengawasan dan keamanan laut, Anti-Surface Warfare (ASuW), dan Anti-Submarine Warfare (ASW).

Dalam kolaborasi untuk tujuan ekspor, PTDI memproduksi outer wings, horizontal stabilizers, vertical fins and doors untuk Airbus Defense & Space; sementara Airbus Defense & Space menghasilkan disassembled noses, disassembled cockpit, and center wings untuk PTDI.

Baca juga: PK-KKH, Sang Pendahulu N250 yang Lebih Awal Pamer Pesawat Indonesia di Eropa

Secara umum, spesifikasi CN-235 memuat dua orang awak dan 45 penumpang. Pesawat dengan panjang 21.40 m, bentang sayap 25.81 m, tinggi 8.18 m, berat kosong 9,800 kg, dan maksimum takeoff 15,100 ini ditenagai oleh dua mesin General Electric CT79C turboprops 1.850 tenaga kuda.

Pesawat dengan kecepatan maksimum 509 km per jam dengan jangakuan terbang sejauh 796 km ini tercatat sudah digunakan di 24 negara, termasuk Indonesia, di antaranya Korea Selatan, Amerika Serikat, Perancis, Turki, Thailand, Uni Emirat Arab, Irlandia, dan Malaysia.

Bantu Penyandang Disabilitas ‘Tersembunyi,’ Bandara Orlando Kerja Sama dengan Hidden Disabilities Sunflower

Bandara Internasional Orlando di Florida, Amerika Serikat, pada awal November 2020 mulai bermitra dengan Hidden Disabilities Sunflower Shceme Limited. Kerja sama ini untuk membantu pelancong yang memiliki disabilitas tersembunyi.

Baca juga: IATA Tetapkan Standar Layanan Bagi Penyandang Disabilitas di Bandara

Nantinya program Sunflower akan memberi layanan bantuan ekstra bagi mereka yang menghadapi masalah seperti penglihatan kurang, gangguan pendengaran, autisme, gangguan kecemasan, penyakit Crohn, epilepsi, fibromyalgia, lupus, rheumatoid arthritis, Sindrom Asperger, pos Gangguan stres trauma, ketidakmampuan belajar atau masalah mobilitas. KabarPenumpang.com melansir ftnnews.com (1/11/2020), Brian Engle Direktur Pengalaman Pelanggan untuk Greater Orlando Aviation Authority, mengatakan, tidak semua penyandang disabilitas terlihat.

“Kehadiran program ini memungkinkan staf kami untuk secara halus mengidentifikasi mereka yang membutuhkan tingkat layanan pelanggan ekstra dan dan memastikan bahwa setiap orang, apa pun keadaan mereka, memiliki Orlando Experience yang baik,“ kata Brian.

Program ini awalnya dimulai di Bandar Gatwick London, Inggris pada 2016 yang menggunakan lanyard hijau warna-warni untuk identifikasi diri sukarela. Di mana program ini dihiasi bunga matahari yang dengan cepat diadopsi oleh supermarket, museum, stasiun kereta api dan tempat olahraga Inggris Raya.

“Kami sangat senang dapat bermitra dengan Bandara Internasional Orlando dalam inisiatif yang berkembang ini untuk menawarkan produk Bunga Matahari Disabilitas Tersembunyi di Amerika Serikat Tenggara,” kata Billy Caan, CEO The Sourcing Group.

Billy menambahkan, program ini adalah tujuan yang sangat berharga, dan menciptakan pengalaman bandara yang lebih nyaman dan positif bagi penyandang disabilitas yang mungkin tidak terlihat. Dia mengatakan, tali pengikat tersedia di bilik informasi tingkat ketiga di terminal utama sesaat sebelum memasuki keamanan.

Tali pengikat ini gratis dan hanya untuk pelancong. Meskipun mereka memberikan sinyal rahasia kepada karyawan, mengenakan lanyard tidak menjamin pelacakan cepat melalui keamanan atau perlakuan TSA preferensial.

Baca juga: Bepergian Sendiri, Penyandang Disabilitas ini Dilarang Mengudara oleh Hong Kong Airlines!

Penumpang didorong untuk mengatur bantuan khusus yang diperlukan dengan maskapai penerbangan dan TSA Cares mereka. Mengenakan Cacat Tersembunyi Bunga matahari secara diam-diam menunjukkan kepada orang-orang di sekitar pemakainya termasuk staf, kolega, dan profesional kesehatan bahwa mereka memerlukan dukungan tambahan, bantuan, atau waktu lebih lama.

Wizz Air Luncurkan Program Carbon Offsetting, Penumpang Bakal Ganti Rugi Emisi CO2

Wizz Air belum lama ini resmi meluncurkan carbon offsetting program atau penggantian kerugian karbon. Program tersebut memungkinkan penumpang untuk memasukkan detail penerbangan, mendapatkan jejak karbon, dan membayar ganti rugi atas karbon yang dihasilkan dari perjalanan mereka. Dana tersebut kemudian disalurkan ke dua proyek carbon-reducing masyhur di dunia.

Baca juga: Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat

Program carbon offsetting belakangan memang cukup populer di industri penerbangan global efek dari tingginya keinginan maskapai untuk memerangi emisi CO2. Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Lewat program tersebut, penumpang nantinya akan difasilitasi untuk mengeluarkan sejumlah uang pengganti atas emisi CO2 dihasilkan dari perjalanan mereka. Uang tersebut akan disalurkan Wizz Air ke dua lembaga kenamaan dunia dalam memerangi emisi gas buang, yakni CHOOOSE dan Norwegian Climate Action.

Skema ganti rugi yang ditawarkan Wizz Air sendiri berbeda dari yang sudah diterapkan maskapai lain. Para penumpang nantinya akan diarahkan untuk masuk ke web resmi CHOOOSE dan memasukkan detail perjalanan untuk memahami dampak emisi yang dihasilkan. Setelah itu, mereka bebas memilih biaya ganti rugi atas emisi CO2 yang dihasilkan atau carbon offsetting tadi, dengan varian harga yang cukup beragam.

Perjalanan pulang pergi dari London Luton ke Athena, misalnya, dengan estimasi harga tiket sekitar US$59,4, biaya ganti rugi karbonnya adalah US$8,2. Harga tersebut muncul untuk mengimbangi atau mengganti kerugian atas 784kgs emisi CO2 yang dihasilkan dari dua penerbangan berdurasi 3,5 jam. Meskipun terlihat cukup murah, namun, harga itu setara dengan 14 persen dari harga tiket, jauh lebih tinggi dari biaya offset carbon maskapai kompetitor.

Ryanair, misalnya, hanya mengenakan biaya ganti rugi sebesar $2 per penerbangan. Namun, harga segitu tentu bukan fixed rate dan tetap akan berubah-ubah mengikuti rute dan keinginan penumpang untuk membayar biaya ganti rugi dengan harga terendah atau harga tertinggi.

Sejauh ini, program carbon offsetting Wizz Air belum include tiket. Karenanya, diperkirakan belum banyak penumpang yang akan berpartisipasi. Namun, ke depan opsi untuk mengintegrasikan program tersebut dengan tiket bukan tak mungkin akan diambil untuk efektivitas program.

Baca juga: Bandara di Seluruh Dunia Menuju Bebas Emisi CO2! Berikut Empat Tahapannya

“Kami berusaha keras untuk menjadi maskapai pilihan paling ramah lingkungan karena kami bekerja keras untuk terus mengurangi jejak lingkungan kami. Melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, kami bangga telah memiliki salah satu tingkat emisi terendah di industri penerbangan Eropa dan senang bekerja sama dengan CHOOOSE untuk memberikan penggantian kerugian karbon kepada penumpang kami,” kata CCO Wizz Air, Marion Geoffroy, dikutip dari Simple Flying.

Selain carbon offsetting program maskapai berbiaya hemat asal Polandia/Hungaria ini juga mulai menerapkan tindakan kecil berkenaan dengan flaps saat lepas landas maupun mendarat. Sekalipun tindakan tersebut tak terlalu terlihat, namun, langkah itu bisa menghemat 2.000 ton bahan bakar setiap tahun.

Hari Ini, 88 tahun Lalu, Wolfgang von Gronau Keliling Dunia Selama 111 Hari Pakai Pesawat Amfibi

Pada hari ini, 88 tahun lalu, bertepatan dengan Rabu, 10 November 1932, Wolfgang von Gronau berhasil mendarat dengan selamat di Danau Constance atau Danau Konstanz, setelah 111 hari keliling dunia menggunakan pesawat amfibi Dornier Do J Wal “flying boat”. Pria kelahiran Berlin, Jerman ini menempuh jarak lebih dari 44.000 km, melewati sekitar 17 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Baca juga: Hari Ini, 73 Tahun Lalu, Rhulin A. Thomas Jadi Pilot Tuna Rungu Pertama Terbang Solo Jarak Jauh

Sebelum membahas lebih jauh, sebetulnya masih terdapat perdebatan terkait waktu. Ada yang menyebut Wolfgang von Gronau mendarat setelah 111 hari keliling dunia pada 9 November 1932, satu hari lebih cepat dari info yang kebanyakan beredar saat ini. Terlepas dari itu, tentu semua sepakat bahwa Wolfgang von Gronau berhasil keliling dunia menggunakan pesawat amfibi.

Dilansir airandspace.si.edu, von Gronau memulai penerbangan keliling dunia pada 21 Juli 1932 dari List auf Sylt, kota paling utara di Jerman, berbatasan dengan Denmark, terbang ke arah barat melintasi Islandia, Greenland, Kanada, Kepulauan Aleut, Alaska, Kepulauan Kuril, Jepang, Cina, Filipina, Indonesia, Malaka, Myanmar, Ceylon (Sri Lanka), India, Iran, Irak, Siprus, Yunani, Italia, hingga akhirnya mendarat di Danau Constance.

Dalam penerbangan bersejarah itu, pesawat “Grönland Wal” atau Paus Greenland berangkat dengan memuat empat awak, termasuk Wolfgang von Gronau. Sayangnya, sedikit sekali informasi mendetail tentang bagaimana penerbangan tersebut berlangsung.

Di antara informasi yang ada, pesawat amfibi Dornier Do J Wal “flying boat” yang digunakan disebut pernah mengalami kebocoran cairan pendingin saat melintasi Samudera Hindia dan dipaksa mendarat darurat di atas air (ditching) karenanya. Beruntung, pesawat yang dilengkapi tiang radio tinggi dengan generator yang digerakkan angin untuk transmisi setelah mendarat ini berhasil diselamatkan oleh kapal uap Inggris sebelum diterjang oleh ganasnya ombak samudera.

Pesawat Dornier Do J Wal saat tengah diselamatkan usai mendarat darurat di Samudera Hindia. Foto: The U.S. Army Air Corps

Sebagai seorang putra jenderal kenamaan Jerman, Hans von Gronau, jiwa bertualang Wolfgang von Gronau memang sangat tinggi. Penerbangan keliling dunia bersama Paus Greenland merupakan puncak dari semangat tersebut.

Sebelumnya, pada tanggal 18 Agustus 1930, von Gronau coba melahap penerbangan trans-Atlantik dengan Dornier Wal, pesawat tua dengan nomor registrasi D-1422 yang pernah dipakai penjelajah kutub berkebangsaan Norwegia yang merupakan orang pertama yang mencapai kedua Kutub Utara dan Selatan, Roald Engelbregt Gravning Amundsen.

Sama dengan penerbangan keliling dunia, von Gronau juga melahap penerbangan tersebut dari Sylt, menuju Kepulauan Faroe, Islandia , Greenland dan Labrador, sebelum akhirnya mencapai New York City setelah menempuh 7.520 km dalam waktu 47 jam.

Meskipun berhasil melakukan aksi heroik dalam penerbangan tersebut, nyatanya, von Gronau tidak mendapat dukungan penuh dari pemerintah Jerman untuk melakukan hal lebih dari yang sudah dicapainya.

Kala itu, Jerman lebih memilih fokus terhadap DELAG, maskapai penerbangan pertama di dunia, untuk melakukan penerbagan reguler trans-atlantik. Sebab, proyek bersama DELAG dan Zeppelin dinilai lebih berpengaruh dan mampu membawa perubahan besar dibanding sekedar penerbangan trans-atlantik menggunakan pesawat amfibi bermuatan empat orang.

Baca juga: Hari Ini, 111 Tahun Lalu, DELAG Maskapai Pertama di Dunia Asal Jerman Resmi Berdiri

Meski demikian, von Gronau tetap mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Presiden Amerika Serikat yang ke-31, Herbert Clark Hoover, yang mengundangnya ke Gedung Putih untuk jamuan makan malam.

Sadar AS ingin mengambil talenta terbaiknya, pemerintah Jerman pun turun tangan. Von Gronau pun ditugaskan di Kedutaan Besar Jerman di Tokyo sebagai atase udara sesaat sebelum pecahnya Perang Dunia II. Ia hidup sebagai diplomat di Jepang sampai akhir perang, setelah mencapai pangkat Mayor jenderal ketika Third Reich atau Nazi Jerman dibubarkan.

Peringati Hari Pahlawan, PT KAI Bagikan 10.000 Voucher Kereta untuk Guru dan Tenaga Kesehatan

Memperingati Hari Pahlawan 10 November, PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta memberikan apresiasi pada para guru dan tenaga kesehatan. PT KAI mengatakan dua profesi ini yakni pahlawan tanpa tanda jasa dan garda terdepan di masa pandemi.

Baca juga: Sambut HUT RI Ke-75, Inilah Parade Promo Diskon dan Tiket Gratis dari PT KAI

Kedua profesi ini diberi apresiasi oleh PT KAI dengan memberikan sepuluh ribu lembar voucher tiket kereta api gratis untuk kelas eksekutif dan ekonomi. Pembagian voucher tiket kereta api gratis tersebut dibagikan disejumlah area termasuk Daop 1 Jakarta. VP Humas Daop 1 Jakarta, Eva Chairunisa mengatakan, voucher ini untuk periode keberangkatan 8 sampai 30 November 2020.

“Program Gratis Naik KA ini dihadirkan untuk menghormati dan menghargai guru dan tenaga kesehatan yang merupakan para pahlawan tanpa tanda jasa,” ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dikutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (7/11/2020).

Didiek mengatakan, guru adalah sosok utama di garda terdepan pendidikan nasional, mengingat pendidikan adalah wadah pondasi yang sangat penting pencetak generasi bangsa. Sedangkan para tenaga kesehatan merupakan para pahlawan kemanusiaan pada masa pandemi Covid-19 saat ini. Mereka yang berada di garis terdepan tidak hanya mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga, tetapi juga rela mengorbankan risiko kesehatannya demi keselamatan orang lain.

Eva menambahkan, untuk guru dan tenaga kesehatan di area Daop 1 Jakarta pengambilan voucher dapat dilakukan di Customer service Stasiun Gambir mulai tanggal 7 sampai dengan 30 November 2020. Adapun syarat dan ketentuannya adalah, profesi tenaga kesehatan bidan atau perawat sedangkan guru dari TK sampai SMA.

Jam operasional layanan Pengambilan Voucher mulai pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Voucher Eksekutif dilayani mulai tgl 7 sampai 29 November 2020 untuk keberangkatan tgl 8 hingga 30 November 2020. Sedangkan voucher Ekonomi dilayani mulai tgl 11 sampai 29 November 2020 untuk keberangkatan tgl 12 sampai 30 November 2020.

Voucher yang diambil di Stasiun Gambir hanya berlaku untuk KA keberangkatan dari Area Daop 1 Jakarta yakni Stasiun Gambir dan Pasar Senen.

Voucher hanya berlaku 1 kali perjalanan dan pengambilan voucher dilayani selama ketersedian masih ada dan engambilan voucher tidak dapat diwakilkan dan dipindah tangankan.

Sudah dapat voucher, para guru dan tenaga kesehatan bisa memilih kereta yang akan mereka tumpangi ke tujuan. Berikut ini adalah daftar KA yang bisa dinaiki para guru dan tenaga kesehatan dengan menggunakan voucher tersebut.

1. KA 4 Argo Bromo Anggrek (Gambir-Surabaya Pasar Turi) jadwal keberangkatan pukul 08.15 WIB

2. KA 10 Argo Dwipangga (Gambir-Solo Balapan) jadwal keberangkatan pukul 08.00 WIB

3. KA 7030 Argo Parahyangan (Gambir-Kiaracondong) jadwal keberangkatan pukul 07.50 WIB

4. KA 46 Argo Parahyangan (Gambir-Bandung) jadwal keberangkatan pukul 18.10 WIB

5. KA 44 Argo Parahyangan Excellence (Gambir-Bandung) jadwal keberangkatan pukul 15.40

6. KA 76C Gajayana (Gambir-Malang) jadwal keberangkatan pukul 18.00 WIB

7. KA 6 Argo Bromo Anggrek (Gambir-Surabaya Pasar Turi) jadwal keberangkatan pukul 20.30 WIB

8. KA 118 Brantas (Pasarsenen-Blitar) jadwal keberangkatan pukul 13.30 WIB

9. KA 136 Dharmawangsa (Pasarsenen-Surabaya Pasar Turi) jadwal keberangkatan pukul 08.25 WIB

10. KA 114 Jayabaya (Pasarsenen-Malang) jadwal keberangkatan pukul 16.55 WIB

11. KA 292 Mataramaja (Pasarsenen-Malang) jadwal keberangkatan pukul 10.30 WIB

12. KA 308B Progo  (Pasarsenen-Lempuyangan) jadwal keberangkatan pukul 22.30 WIB

Didiek juga kembali mengingatkan seluruh masyarakat terkait protokol kesehatan yang harus diikuti saat menggunakan KA Jarak Jauh.

“Saat menggunakan layanan KA Jarak Jauh, pelanggan harus dalam kondisi sehat (tidak menderita flu, pilek, batuk, demam), suhu badan tidak lebih dari 37,3 derajat celsius dan menunjukkan Surat Bebas Covid-19 (Tes PCR/Rapid Test) yang masih berlaku (14 hari sejak diterbitkan) atau surat keterangan bebas gejala seperti influenza (influenza-like illness) yang dikeluarkan oleh dokter Rumah Sakit/Puskesmas bagi daerah yang tidak memiliki fasilitas Tes PCR dan/atau Rapid Test. Pelanggan juga diharuskan menggunakan Face Shield yang disediakan oleh KAI secara cuma-cuma selama dalam perjalanan dan diimbau menggunakan pakaian lengan panjang,” tuturnya.

Sementara sebagai antisipasi, pada setiap kereta juga telah dilengkapi ruang isolasi sementara jika sewaktu2 diperjalanan kedapat penumpang dengan suhu tubuh 37,3 atau lebih. Selanjutnya penumpang dengan kondisi tersebut akan diturunkan di Stasiun terdekat yg memiliki pos kesehatan untuk penanganan lanjutan.

Baca juga: Rayakan Hari Jadi Ke-35, Super Mario Menghiasi Stasiun Shinjuku dan Tokyo

Upaya pencegahan penyebaran Covid-19 juga dilakukan dari sisi prasarana stasiun dan sarana kereta. Seluruh area dan perangkat yang rentan disentuh banyak orang dibersihkan menggunakan cairan disinfektan secara rutin setiap 30 menit sekali, kesiapan penyediaan perangkat pembersih tangan seperti cairan antiseptik dan perangkat cuci tangan yang dilengkapi sabun dipastikan selalu tersedia dan berfungsi baik.

Tiga Tahun Setelah Bernama “Nurtanio,” Inilah Progres Sertifikasi Pesawat N219

Tepat 3 tahun lalu, yaitu 10 November 2017, prototipe pesawat N219 resmi diberi nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo, dan setelah tiga tahun berlalu, apa saja progres yang telah diraih pada program pesawat hasil kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia dan LAPAN tersebut. Sebagaimana umumnya prototipe pesawat yang telah berhasil terbang perdana, maka tahapan yang ditunggu adalah meraih sertifikasi.

Baca juga: N-219 Nurtanio, Digadang Sebagai Jawara Penerbangan Perintis di Papua

Mengutip dari siaran pers dari Humas PT Dirgantara Indonesia yang diterima KabarPenumpang.com (10/11/2020), Kepala Program N219 PT DI, Palmana Banandhi menyatakan bahwa PT DI menggunakan dua prototipe pesawat untuk mempercepat proses sertifikasi uji terbang, dimana dua pesawat ini memiliki misinya masing-masing. Proses sertifikasi merupakan proses penting untuk menjamin keamanan dan keselamatan karena akan digunakan oleh pengguna dan masyarakat umum.

Prototipe pesawat pertama N219 Nurtanio menjalani serangkaian pengujian yakni menyelesaikan pengujian aircraft performance, karakteristik kestabilan dan pengendalian dan uji terbang struktur pesawat, sedangkan prototype pesawat kedua N219 Nurtanio digunakan untuk pengujian sub sistem pesawat, seperti avionic system, electrical system, flight control dan propulsion.

“Dengan penggunaan dua prototipe sebagai wahana sertifikasi uji terbang, maka kegiatan flight test bisa dioptimalkan karena tidak hanya bertumpu pada satu pesawat. Ini memungkinkan bisa tercapai Type Certificate di akhir tahun 2020”, jelas Palmana Banandhi.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Tahukah Anda, tepat pada #haripahlawan 10 November 2017, prototipe pesawat N219 resmi diberi nama “Nurtanio” oleh Presiden @jokowi #n219 @officialptdi

Sebuah kiriman dibagikan oleh KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) pada

Type certificate adalah sertifikasi kelaikan udara dari desain manufaktur pesawat. Sertifikat ini dikeluarkan oleh otoritas kelaikudaraan sipil, dalam hal ini yang berwenang di wilayah Indonesia adalah Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Palmana Banandhi menambahkan bahwa Prototipe pesawat pertama (Prototype Design 1) N219 Nurtanio telah menjalani Flight Cycle sebanyak 231 cycle dan Flight Hours sebanyak 256 jam, sedangkan Prototype pesawat kedua (Prototype Design 2) N219 Nurtanio telah menjalani Flight Cycle sebanyak 139 cycle dan Flight Hours sebanyak 170 jam.

Direktur DKPPU Kementerian Perhubungan RI, Dadun Kohar mengatakan, proses sertifikasi pesawat terbang N219 diantaranya meliputi pemeriksaan technical documents, ground test, flight test, dan conformity process. Proses conformity diperlukan untuk memastikan as design sama dengan as built dari pesawat terbang tersebut.

Pemeriksaan technical documents, kata dia, dilakukan dengan mengacu kepada CASR Part 23 terkait pemenuhan persyaratan design yang dilakukan oleh PT DI untuk pesawat 19 penumpang itu. “Begitupun dengan Test Flight yang dilakukan, untuk memperoleh data-data yang diperlukan. Data akan digunakan sebagai salah satu syarat CASR Part 23,” jelas Dadun Kohar.

Direktur Utama PTDI, Elfien Goentoro mengungkapkan pesawat N219 secara khusus dirancang untuk dapat mendukung program Jembatan Udara sesuai dengan Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik Untuk Angkutan Barang Dari Dan Ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan. Pesawat N219 dapat menjangkau daerah dengan kondisi georafis berbukit-bukit dengan landasan pendek dan tidak dipersiapkan

Produksi awal pesawat N219 akan dibuat 4 unit pesawat N219 dengan menggunakan kapasitas produksi yang saat ini tersedia, untuk selanjutnya PT DI akan melakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem automasi pada manufacturing, sehingga secara bertahap kemampuan delivery akan terus meningkat sesuai dengan kebutuhan pasar.

Baca juga: Pesawat Twin Otter, Si Kecil Bandel yang Lincah Meliuk di Daerah Pegunungan

“Inovasi dari pesawat N219 nantinya akan dikembangkan menjadi varian amphibi, akan mengurangi biaya infrastruktur untuk pembuatan bandara”, tambah Elfien Goentoro.
Pesawat N219 versi amphibi akan dapat lepas landas di bandara yang minim infrastruktur, sehingga diharapkan dengan inovasi transportasi udara tersebut, kedepannya semua tujuan destinasi pariwisata dapat dicapai dengan menggunakan pesawat N219 amphibi.

Mulai Beroperasi 2021, Bang Sue Bakal Menjadi Stasiun Kereta Terbesar di Asia Tenggara

Tahun depan diperkirakan stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara akan selesai di bangun di Thailand. Kehadiran stasiun kereta ini merupakan bagian dari rencana untuk meningkatkan sistem transportasi umum Negeri Gajah Putih tersebut.

Baca juga: Hua Hin, Stasiun Tertua di Thailand dan Punya Bangunan Unik

Stasiun tersebut bernama Stasiun Besar Bang Sue yang kehadirannya dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas yang cukup fatal di Bangkok. Selain itu juga untuk mendukung peran negara sebagai pusat transpotasi regional.

Dilansir KabarPenumpang.com dari globalconstructionreview.com (9/11/2020), Stasiun Besar Bang Sue nantinya akan menggantikan Stasiun Hua Lamphong yang merupakan stasiun utama Bangkok saat ini. Selain melayani kereta antar kota, Stasiun Bang Sue juga akan melayani metro bangkok hingga kereta berkecepatan tinggi.

Kehadiran Stasiun Bang Sue juga merupakan salah satu koneksi cepat ke Bandara Internasional Suvarnabhumi, Don Mueang dan U-Tapao. Menurut Kementerian Luar Negeri Thailand, jalur sepanjang 220 km dari Don Mueang yang berada di pinggiran utara Bangkok dan U-Tapao di provinsi Rayong bisa ditempung dengan waktu kurang dari satu jam.

Stasiun ini konstruksinya dibuat oleh Teknik Sino-Thailand yang mulai mengerjakan struktur stasiun pada tahun 2013 dan sekarang telah selesai. Sedangkan untuk pengerjaan interiornya akan selesai tepat waktu hingga layanan dimulai pada tahun 2021.

Saat selesai, stasiun seluas 520 ha akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan memiliki empat lantai, 12 platform sepanjang panjang 600 meter dan 24 trek. Ini akan memungkinkannya menampung hingga 40 kereta pada saat yang sama, dengan kapasitas penumpang harian 600 ribu atau sepuluh kali lipat dari Hua Lamphong.

Setidaknya 30 persen areanya akan dikhususkan untuk ruang hijau dan bebas polusi karena hanya akan melayani kereta listrik. Stasiun Besar Bang Sue akan menjadi perhentian untuk proyek kereta kecepatan tinggi pertama di Thailand, yang akan beroperasi antara Bangkok ke Nong Khai.

Fase pertama, meliputi 251 km dari Bangkok utara ke Nakhon Ratchasima, sedang dibangun. Rute lain yang menghubungkan Nakhon Ratchasima dengan Nong Khai akan menempuh jarak 356 km. Setelah selesai, proyek ini akan memungkinkan para pelancong dari Bangkok mencapai perbatasan Laos dalam tiga jam, bukan 11 jam seperti saat ini.

Baca juga: Stasiun Da Lat dengan Desain Antik Perancis, Andalan Wisata Kereta Vietnam

Kementerian menambahkan bahwa jalur ini akan diperpanjang untuk menghubungkan dengan jalur rel yang sedang dibangun melalui Laos sebagai bagian dari Belt and Road Initiative China. Tautan berkecepatan tinggi penting lainnya adalah dengan bandara U-Tapao, yang sedang diperluas untuk melayani Koridor Ekonomi Timur Pemerintah Thailand juga berharap dapat mempromosikan Bang Sue sebagai katalisator untuk mengembangkan kawasan pusat bisnis baru di sekitar stasiun.

Akses Menuju Bandara Soekarno-Hatta Macet Total, Tiga Maskapai Beri Kompensasi Pada Penumpang

Hari ini, Selasa (10/11/2020), Habib Rizieq kembali ke Indonesia dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng. Hal ini membuat kemacetan panjang di jalan akses tol Soedyatmo akses Bandara Soetta di mana membludaknya simpatisan Habib Rizieq yang datang untuk menjemput sang imam besar menjadi pemicunya.

Baca juga: Bicara Kompensasi Saat Terjadi Delay Ada di Peraturan Menteri Perhubungan

Selain kemacetan menuju ke Bandara Soetta, imbas lainnya adalah pada penerbangan yang delay bisa selama tiga hingga empat jam. Hal tersebut kemudian membuat maskapai nasional mulai memberikan kompensasi bagi penumpang mereka yang terkena dampak.

KabarPenumpang.com menerima siaran pers dari Citilink, Garuda Indonesia dan Lion Air Group, di mana maskapai-maskapai ini menyatakan memberikan kompensasi baik untuk reschedule maupun refund tiket. Citilink, saat ini langsung melakukan penyesuaian pada beberapa jadwal penerbangan milik mereka.

Maskapai hijau ini juga memberlakukan pembebasan biaya reschedule ataupun refund tiket. Direktur Utama Citilink Juliandra mengatakan, Citilink berkomitmen dalam mengutamakan kenyamanan dan keamanan penumpang dengan memberi solusi yang beragam bagi penumpang yang terdampak atas kemacetan menuju bandara.

Dia menyebutkan, penerapan pembebasan biaya reschedule maupun refund tiket tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku. Hal serupa juga dilakukan oleh Garuda Indonesia. Maskapai tersebut juga membebaskan biaya penyesuaian jadwal penerbangan maupun refund tiket bagi penumpang yang terdampak kondisi kemacetan menuju ke Bandara Soetta.

“Kami sepenuhnya mengerti kekhawatiran yang dialami penumpang. Untuk itu, Garuda Indonesia berkomitmen untuk selalu hadir bersama seluruh penumpang dengan menghadirkan sejumlah solusi bagi penumpang yang terdampak imbas kemacetan akses menuju bandara,” kata Direktur utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.

Baca juga: Agar Anda Tidak Tertipu, Kenali “Downgrade” Kelas dalam Penerbangan

Dia menambahkan bagi penumpang yang harus melanjutkan perjalanan, pihaknya juga mempersiapkan opsi pengalihan jadwal keberangkatan ke penerbangan selanjutnya. Sedangkan untuk Lion Air Group, Corporate Communications Strategic Danang Mandala Prihantoro mengatakan, pihaknya akan memberi kompensasi yakni tidak mengenakan biaya pada penumpang yang akan mereschedule tiket mereka.

Panasonic Ciptakan ‘Vacuum Cleaner’ untuk Sedot AirPods yang Jatuh di Rel

Orang Jepang gemar mendengarkan musik lewat AirPods, dan karena favoritnya penggunaan earphone wireless tersebut, lumayan banyak kasus AirPods yang hilang atau terjatuh saat digunakan di kereta komuter. Hanya dalam tiga bulan antara Juli hingga September 2020, dilaporkan penumpang komuter telah menjatuhkan lebih dari 950 pasang AirPod di 78 jalur stasiun kereta di wilayah Tokyo.

Baca juga: Rentan Hilang, Ada Baiknya Pertimbangkan Kembali Penggunaan AirPods Saat Naik Komuter!

Kabarnya, AirPods merupakan seperempat dari semua barang yang jatuh dari kereta komuter. Masifnya kejadian tersebut nyatanya telah membuat repot East Japan Railway Co (JR East), pasalnya para pekerja JR East harus menggunakan alat penjepit untuk mengambil AirPods, sebuah tugas yang sangat membosankan, lantaran AirPods berupa gadget kecil sering kali terjebak di antara kerikil pada bantalan rel.

Dikutip dari engadget.com (6/11/2020), disebutkan kini sudah ada solusi untuk mengambil AirPods yang terjatuh pada rel. Persisnya JR East telah bermitra dengan Panasonic dalam menghadirkan jenis alat berupa vacuum cleaner untuk menyedot AirPods dan earbuds lain yang terjatuh di rel saat proses keluar masuk penumpang ke kereta.

Pengujian awal di Stasiun Ikebukuro Tokyo menunjukkan bahwa penyedot debu Panasonic dapat mengumpulkan earphone kecil jauh lebih cepat daripada alat pengambil mekanis, alat penyedot ini dapat bekerja lebih baik pada barang yang lebih besar seperti smartphone atau tas tangan.

Menurut data dari Counterpoint Research yang dilaporkan oleh Bloomberg, Apple menjual lebih dari 60 juta AirPods pada 2019 dan diperkirakan menjual 82 juta lebih AirPods pada 2020. Lantaran praktis dan efektif, Kemungkinan vakum besutan Panasonic akan diminati di negara lain, karena pengambilan AirPod tidak hanya terjadi pada perusahaan kereta api di Jepang.

Baca juga: Hilangkan Kepenatan Karena Pandemi, Kereta Komuter Seoul Hadirkan Festival Film Kereta Bawah Tanah Internasional

Selain di Jepang, laporan AirPods yang terjatuh di kereta komuter juga terjadi di Amerika Serikat. Salah satu wilayah yang kerap kehilangan AirPods adalah di San Francisco Bay Area, sebelah utara California. Padahal, papan peringatan untuk tidak memakai AirPods sudah banyak dipasang guna mencegah si empunya kehilangan barang yang cukup berharga ini – terutama di dekat kereta atau di sekitaran area kereta bawah tanah.