Jepang Luncurkan Kereta Khusus Karantina Penumpang Pesawat Internasional

Jepang melakukan kebijakan ketat dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19; termasuk strain atau mutasi baru virus Corona dari Inggris dan Afrika Selatan. Salah satunya, melarang penumpang pesawat rute internasional untuk menggunakan transportasi umum saat menuju ke tujuan masing-masing. Sebagai gantinya, mereka hanya diperbolehkan memakai kendaraan pribadi atau taksi.

Baca juga: Varian Baru Virus Corona Ditemukan, Mulai 28 Desember Jepang Larang Kedatangan Turis

Bagi warga yang mempunyai keluarga, rekan, ataupun saudara yang bisa menjemput mereka di bandara, tentu larangan tersebut tak akan jadi masalah. Namun, tidak demikian bila sebaliknya.

Oleh karena itu, belum lama ini, Jepang, melalui perusahaan Keisei Electric Railway, menyediakan kereta atau gerbong khusus untuk mengakomodir perjalanan mereka dari Bandara Internasional Narita ke pusat kota Tokyo.

Simple Flying, mengutip dari The Mainichi, menulis sejak kebijakan tersebut (larangan menggunakan transportasi umum) diterapkan beberapa hari lalu, penumpang kedatangan internasional di Bandara Narita, Prefektur Chiba, lebih sering menggunakan taksi menuju pusat kota Tokyo. Imbasnya, mereka sudah dipastikan bakal mengeluarkan ongkos jauh lebih mahal sampai US$200. Sudah begitu, jarak tempuhnya juga cukup lama.

Dengan adanya kereta khusus penumpang kedatangan internasional tersebut, mereka jadi sangat terbantu. Selain karena tarifnya lebih murah ketimbang tarif taksi, hanya sekitar US$25, waktu tempuh juga lebih singkat, tak kurang dari 41 menit.

Setiap harinya, mulai Senin lalu, kereta Keisei Skyliner melayani sebanyak 15 jadwal perjalanan dari Bandara Narita ke stasiun Ueno Tokyo. Meskipun hanya gerbong depan saja, namun, sejauh ini dilaporkan tidak terjadi penumpukan penumpang di dalam kereta. Sebab, Jepang memang melarang turis dari 152 negara, termasuk Indonesia, masuk ke negara mereka. Hanya warga negara Jepang ataupun warga negara asing yang telah lama menetap di Jepang yang boleh masuk.

Setiap sesudah digunakan, kereta tersebut langsung didisinfeksi untuk menjaga sterilitas rangkaian kereta.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Sayangnya, layanan sejenis belum tersedia di bandara lain di Jepang. Sudah begitu, kereta tersebut juga terbatas beroperasi antara Bandara Narita dan stasiun Ueno di pusat kota Tokyo.

Selain kebijakan larangan penumpang kedatangan internasional menggunakan transportasi umum, kecuali kereta khusus semacam Keisei Skyliner, Jepang juga telah menerapkan berbagai kebijakan ketat lainnya dalam menyikapi kemunculan strain baru virus Corona dari Inggris, seperti karantina mandiri bagi kedatangan dari Inggris dan Afrika Selatan serta tes Covid-19 di hari ketiga, mengunduh aplikasi kontak tracing, dan hasil tes negatif Covid-19 yang berlaku 3×24 jam untuk seluruh kedatangan internasional mulai 30 Desember 2020 mendatang.

Pilot Training Kaget Ada Orang Pakai Jetpack di Ketinggian 3.000 Kaki

Di langit, umumnya pilot melihat berbagai pemandangan indah, berbagai aktivitas di darat maupun lautan serta pesawat lain yang juga melintas. Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi, beberapa tahun belakangan pilot tidak hanya dimungkinkan melihat objek-objek sebagaimana disebutkan di atas, melainkan juga dimungkinkan melilhat manusia terbang, dalam hal ini menggunakan jetpack; seperti yang pernah terjadi baru-baru ini.

Baca juga: Pilot Panik Ada Objek Asing Melintas di Ketinggian 6.000 Kaki, Ternyata Orang Pakai Jetpack

Dilansir popularmechanics.com, pada Senin pekan lalu, seorang pilot training dari Sling Pilot Academy tiba-tiba dikejutkan dengan objek asing yang melintas di atas ketinggian 3.000 kaki (sekitar 914 meter), di sekitar Palos Verdes dan Pulau Catalina, selatan Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Meski terpaut jarak agak jauh, namun, kehadiran jetpack tersebut tetap saja membahayakan karena masih dalam jangkauan pesawat. Sudah begitu, jetpack tersebut juga terbang diagonal dari arah depan, terus bergerak ke arah sebelah kanan dan memotong airways atau jalur pesawat.

Lebih dari itu, kehadiran manusia terbang dengan jetpack ini juga tak terdeteksi alias tidak dilaporkan oleh petugas ATC. Bukan karena ATC lalai melainkan karena jetpack man tersebut terbang bukan pada tempat yang seharusnya, di samping terbang secara ilegal.

Tak diketahui secara persis siapa pria dibalik jetpack tersebut. Yang jelas, dari video yang beredar, kemungkinan, jetpack man itu terbang pada kecepatan 150 km per jam dan pilot pun menyempatkan diri untuk memvideokan momen tersebut.

Kejadian ini tentu bukan untuk yang pertama. Sebelumnya, pilot pesawat China Airlines terkejut usai melihat objek asing melintas di ketinggian 6 ribu kaki. Padahal, pesawat sebelumnya sudah mendapat clearance dari ATC. Sontak, insiden yang terjadi sekitar 11 km dari Los Angeles itu sempat membuat geger kokpit dan petugas.

Tak lama kemudian, objek yang dinilai terlalu kecil dan cepat di ketinggian 6 ribu kaki itu langsung dilaporkan pilot ke ATC. Petugas ATC awalnya sempat tak percaya dengan laporan itu. Karenanya, ia meminta pilot untuk mengulang laporannya. Sebab, bisa saja objek kecil tersebut ialah unidentified flying object disingkat (UFO), piring terbang yang sampai saat ini keberadaannya masih menjadi misteri, sekalipun kerap muncul di seluruh dunia, baik siang maupun malam.

Perkiraan terburuk, objek kecil dan cepat tersebut bukan tak mungkin merupakan sebuah pesawat latih yang melenceng jauh dari jalurnya, sehingga mengacaukan airways yang telah diatur ATC. Pasalnya, kejadian seperti ini (objek asing yang ternyata pesawat latih) pernah terjadi di dunia, tepatnya tak jauh dari Bandara San Diego, AS. Kala itu, pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 bertabrakan dengan objek asing yang setelah itu dikonfirmasi merupakan pesawat Cessna 172 Skyhawk.

Baca juga: Inilah Pemandangan Fanstastik yang Bisa Anda Lihat dari Udara!

Usai diperjelas oleh pilot terkait objek asing yang melintas di ketinggian 6 ribu kaki, ATC merespon dengan balik bertanya terkait dua kemungkinan, apakah yang pilot lihat itu merupakan UFO atau sebuah jetpack? Dan pilot menduga bahwa itu jetpack. Asumsinya, objek tersebut terlalu kecil dan cepat.

Pemerintah federal sendiri tak mau berasumsi mengingat tak ada petunjuk otentik yang mengarahkan dugaan kepada jetpack. Otoritas lebih memilih untuk menyelidiki laporan yang masuk pada Kamis kemarin itu, sekalipun sekilas, kronologinya mirip dengan kejadian beberapa pekan sebelumnya.

Lusitania Expresso, Balada Kapal Ferry RoRo Legendaris ‘Penantang’ Kapal Perang TNI AL

Kapal ferry RoRo biasanya hanya melakukan perjalanan yang tidak jauh, bila di Indonesia biasanya kapal ferry jenis ini digunakan untuk menyeberang Selat seperti Selat Sunda, Selat Bali dan lainnya. Nah bagaimana jika ada kapal ferry RoRo yang biasa digunakan untuk melintasi selat atau penyeberangan tak jauh ini justru melintasi berbagai benua, negara dan lautan?

Baca juga: KRI Tanjung Kambani 971, Kapal Ferry RoRo dengan Cita Rasa Militer

Mungkin Anda akan berpikir tidak akan ada, tetapi nyatanya kapal ferry RoRo yang melintasi jarak terjauh pernah ada yakni Lusitania Expresso. Bahkan Lusitania Expresso pernah akan ditenggelamkan oleh TNI Angkatan Laut. Kok bisa? Pasti pertanyaan itu timbul dibenak Anda.

Ternyata kapal buatan 1964 yang memiliki bobot 1612 ton tersebut, mengabaikan peringatan Indonesia karena rencana pelayarannya ke Dili. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, Lusitania Expresso merupakan kapal ferry RoRo yang berbendera Portugal.

Lusitania Expresso bertolak dari Pelabuhan Lisabon di Portugal menuju ke Dili, Timor Timor untuk acara tabur bunga di pemakaman pasca terjadinya kerusuhan Santa Cruz beberapa bulan sebelumnya. Ketika itu tahun 1992, kapal ferry ini mengangkut 73 aktivis dari 21 negara dan 59 wartawan Internasional.

Sebelum melakukan tabur bunga, Lusitania Expresso transit di Darwin Australia dari Vasco Dagama dan berencana membawa mantan presiden Portugal. Niatnya setelah transit kapal tersebut akan melanjutkan ke Dili tetapi pimpinan misi tidak mendapat dukungan Sekjen PBB yang dihubungi dalam perjalan tersebut.

Bahkan ketika mencoba menghubungi Sekjen PBB, Lusitania Expresso dihadang tiga kapal perang TNI AL yang tergabung dalam Operasi Aru Jaya. Awalnya sebelum dihadang ternyata kapal dengan panjang 72 meter dan memiliki luas 13 meter tersebut sudah diintai oleh frigat KRI Yos Sudarso 353 bersama korvet KRI Ki Hajar Dewantara-364 sejak berlayar memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia atau ZEEI.

Saat itu dua kapal TNI AL itu hanya bisa membayang-bayangi tanpa bisa menindak sebab sesuai ketentuan hukum internasional yang mana semua kapal bebas berlayar di daerah tersebut. Namun, pesawat intai maritim TNI AL Nomad N-21 yang mencarinya di perairan internasional setelah Lusitania Expresso meninggalkan Pelabuhan Aju Darwin di Australia.

Karena hal inilah ketika Lusitania Expresso posisinya diketahui, korvet Ki Hajar Dewantara yang berpatroli di Laut Timor menyalakan mesin turbin, berlayar ngebut sepanjang malam menyonsong Lusitania di ZEEI. Kemudian menyusul fregat KRI Yos Sudarso, kapal perang kelas Van Speijk dengan senjata andalannya, peluru kendali Exocet.

Seperti tak mengindahkan peringatan, kapal dengan panjang 73 meter dan lebar 13 meter itu terus melaju dan mereka seperti menguji nyali kapal-kapal perang TNI AL. Peringatan dilakukan karena saat itu Indonesia dan Portugal tengah bermusuhan akibat integrasi Timor Timor menjadi provinsi ke-27 Indonesia.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

Kapal yang namanya diganti bedhes atau anak monyet oleh para pelaut TNI AL pada 11 Maret 1992 akhirnya berhasil memasuki perairan teritorial Indonesia. Lusitania Expresso dibuat oleh galangan Trondhjems Mekaniske Verksted di Norwegia yang mana dulunya dikenal dengan Roslagen Spervik 1. Status Lusitania Expresso sendiri saat ini laid up atau secara teknis berarti kapal tersebut untuk sementara diberhentikan operasionalnya.

Begini Potret Karantina Mandiri sambil Berlibur ala Australia

Untuk pertama kalinya sejak Juni lalu, zona merah Covid-19 di Australia, negara bagian Victoria, melaporkan nihil kasus virus Corona pada Oktober dan November lalu. Kesuksesan itu dipercaya berkat aturan lockdown ketat selama enam pekan yang membuat warga jenuh berada di dalam rumah. Namun, tidak untuk Sheree Rubinstein dan bayinya yang baru berusia lima bulan.

Baca juga: Australia Punya Jalur Lurus Kereta Api Terpanjang di Dunia

Sebelum lockdown diberlakukan, Sheree dan buah hati, Goldie, didesak hijrah oleh teman-temannya agar tak merasakan lockdown berkepanjangan nan membosankan di Victoria. Meskipun sempat menolak, desakan kabur dari negara bagian dengan penduduk terpadat kedua di Australia itu akhirnya diterima dan pindah ke Darwin sebelum menuju Byron Shire, di pantai utara New South Wales.

Di sana, Sheree memang tetap diwajibkan menjalani karatina selama 14 hari. Namun, karantina di sini berbeda dengan karantina di Victoria ataupun di kota-kota lainnya. Sebab, karantina di Darwin, masih memungkinkan seseorang untuk beraktivitas, seperti jogging hingga berenang.

Sheree dan sang buah hati, Goldie. Foto: Lexi Spurr

Dilansir ABC Australia, karantina di fasilitas Howard Springs selama dua pekan wajib dijalani Sheree dan warga lainnya yang hendak masuk ke Darwin dengan biaya $2.500 untuk perorangan dan $5.000 untuk keluarga.

Dahulu, fasilitas Howard Springs merupakan sebuah kamp pekerja. Namun, sejak tahun lalu, kamp tersebut kosong dan dikelola oleh pemerintah Northern Territory. Di awal pandemi, fasilitas ini sempat digunakan untuk mengkarantina warga Australia yang baru pulang dari Wuhan, Cina.

Fasilitas karantina yang terletak sekitar 25 kilometer di selatan CBD Darwin ini terdiri dari puluhan kamar luas; lengkap dengan televisi, dapur, internet, AC, dan balkon. Dengan berbagai fasilitas tersebut, peserta karantina, termasuk Sheree dimungkinkan untuk tetap berinteraksi satu sama lain dari balkon masing-masing, baik berkomunikasi secara langsung ataupun via virtual melalui video games.

Peserta karantina bisa jogging di sekitar kawasan. Foto: Lexi Spurr

Setiap hari, sambil tetap mengenakan masker dan menjaga jarak, Sheree dan yang lainnya memulai aktivitas dengan melakukan stretching di balkon masing-masing. Kemudian, mereka berjalan-jalan keliling kawasan, berkumpul sambil berjemur, bermain games ketangkasan, menikmati matahari terbenam di Top End, dan bahkan berenang di pantai.

Baca juga: Hari ini, 101 Tahun Lalu, Penerbangan Terjauh di Dunia Inggris-Australia Dimulai! Sempat Mampir di Batavia dan Surabaya

Tak ayal, dengan kelonggaran tersebut, fasilitas karantina di sini kerap disebut sebagai karantina sambil berlibur ala Darwin, sebuah kondisi yang sama sekali berbeda dengan karantina di Melbourne, Victoria, Australia, dimana warga yang karantina di sana sampai menangis atau berteriak, saking jenuhnya terkurung di hotel.

Sheree sendiri mengamini bahwa fasilitas karantina di Darwin itu sebagai karantina sambil berlibur. “Kami benar-benar menikmatinya,” katanya. “Sejujurnya, rasanya seperti liburan dibanding di Melbourne. Setiap hari kami melakukan kelas Pilates virtual di balkon atau kami bermain kartu di malam hari,” tambahnya.

Kementerian Perhubungan Usulkan Buka Trayek Bus ke Puncak

Sebanyak 41 trayek angkutan bus baru diusulkan oleh Kementerian Perhubungan atau Kemenhub untuk operasional bus di wilayah Jabodetabek. Dalam dokumen Kemenhub trayek baru ini tersebar di berbagai wilayah Jabodetabek dengan usulan rute ke Bogor sebanyak tujuh trayek, Depok 17 trayek, Tangerang dan Bekasi masing-masing tiga trayek.

Baca juga: Sejarah ALS, Perusahaan Otobus dengan Trayek Terjauh Lintas Jawa-Sumatera

Sedangkan delapan trayek lainnya termasuk dalam rute angkutan umum yang berdasarkan Rencana Umum Transportasi Jabodetabek atau RUJT dan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek atau RIJT. Rencana 41 trayek ini diusulkan diakomodasi melalui skema Buy the Service (BTS).

Dikutip KabarPenumpang.com dari cnbcindonesia.com (17/11/2020), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Buy the Service menjadikan suatu konsep di perkotaan seperti Bogor, Bekasi dan Tangerang. Sehingga masyarakat yang akan menggunakannya mendapatkan subsidi.

“Antara kemampuannya dengan cost itu kita subsidi sehingga swasta bisa masuk ke kegiatan itu dengan adanya subsidi pemerintah,” tambah Budi.

Budi menyebutkan, meski Buy the Service sudah diberlakukan di berbagai daerah, Jabodetabek sendiri bus-bus ini sempat dimanfaatkan untuk mengangkut calon penumpang KRL yang terdampak pembatasan kapasitas. Dia mencontohkan ketika kereta overloda, Kemenhub memberikan bus gratis dari Bogor ke Jakarta atau sebaliknya.

Dia juga mengatakan ada bus gratis dari Bekasi dan juga Tangerang. Budi menambahkan, tiga trayek akan secara khusus mengambil rute ke kawasan Puncak, Bogor. Adapun rute ke Puncak yakni Baranangsiang menuju Puncak, Kampung Rambutan tujuan Puncak dan Cibubur ke Puncak.

Kemenhub mencatat, waktu operasi diproyeksikan mulai pukul 05.00 hingga 21.00 WIB. Di antara jam operasional itu terdapat peak hour pukul 05.00 sampai 08.00 pagi dan pukul 16.00 hingga 19.00 sore. Ketika peak hour atau jam padat ini headway antar keberangkatan bus dilakukan per 15 menit.

Baca juga: Ada Pramugari di Bus AKAP, Dari Layani Penumpang Hingga Turunkan Barang di Bagasi

Adapun dalam waktu off peak atau jam longgar, headway keberangkatan dilakukan per 30 menit. Off peak ini mulai pukul 08.00 sampai 16.00 dan pukul 19.00 hingga 22.00.
Trayek ini di bawah wewenang Badan Pengatur Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Anggaran sebesar Rp100 miliar disiapkan BPTJ untuk program Buy the Service ini. Subsidi tersebut membuat total pagu BPTJ bertambah dari Rp350 miliar menjadi Rp450 miliar di tahun 2021.

Terkait rute TransJakarta menuju ke Puncak, sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak TransJakarta setelah di hubungi KabarPenumpang.com, Selasa (29/12/2020).

Yutong dan WeRide Kembangkan Bus Tanpa Pengemudi

WeRide yang merupakan startup ride hailing otonom di Cina telah mengumpulkan US$200 juta dari pembuataan bus seri B1 dari Yutong Group yang merupakan induk dari produsen bus Zhengzhou Yutong Bus Co Ltd. Keduanya juga setuju untuk berkolaborasi dalam mengembangkan bus tanpa pengemudi.

Baca juga: Lampaui AS, Cina Mulai Operasikan Taksi Otonom Level Tertinggi, Apollo RoboTaxi

KabarPenumpang.com melansir dari laman kr-asia.com (23/12/2020), WeRide bahkan mengatakan dalam sebuah pernyataan keduanya telah mengembangkan mini robobus tanpa pengemudi yang dibuat untuk meluncur di jalan kota. Bus ini tidak akan ada kemudi atau setir, akselerator atau rem, tetapi sebagai gantinya dilengkapi dengan perangkat lunak serta perangkat keras dari WeRide.

“Investasi strategis Yutong Group adalah bukti kuat untuk teknologi WeRide yang kuat dan upaya terus-menerus kami untuk memperluas batasan industri,” kata Tony Han, salah satu pendiri dan CEO WeRide.

WeRide memulai operasi robotaxi pada November tahun lalu dan menyelesaikan 147.128 perjalanan, mengantar lebih dari 60 ribu penumpang dengan selamat ke tujuan mereka di tahun pertama layanannya dan masih dengan pengemudi cadangan. Meskipun WeRide hanya beroperasi di Guangzhou, Baidu telah menjalankan armada di beberapa kota termasuk Changsha, Cangzhou dan Beijing.

Baidu mulai memproduksi secara massal bus penggerak otonom Apolong pada awal 2018 dan bekerja sama dengan pabrikan yang berbasis di Xiamen, King Long. Robobus Apolong telah digunakan di 28 kota di Cina, termasuk Beijing dan Chonqqing, mengangkut lebih dari 100 ribu penumpang.

Untuk diketahui, sebelum putaran pendanaan baru, WeRide mendapatkan total investasi sebesar USD207 juta dari investor termasuk Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi dan CEO pembuat EV Cina, Xpeng Motors, He Xiaopeng tahun ini. WeRide mengejar standar otonom level 4, perusahaan memperoleh persetujuan pemerintah untuk meluncurkan program robotaxi percontohan di Guangzhou pada November 2019.

Baca juga: Implementasi Bus Listrik, Tak Hanya Berbicara Armada Tapi Juga Sistem Pendukung

Ini kemudian menjadikannya start up self-driving pertama di Cina yang menerima lampu hijau dari pejabat. Yutong sendiri dulunya pernah digunakan oleh PT TransJakarta sebagai salah satu armada bus gandeng untuk beroperasi di Jakarta.

Namun bus Yutong tersebut harus dikandangkan karena terbakar pada 2014 lalu, padahal belum satu tahun beroperasi melayani rute BRT di Jakarta. Saat itu ada 30 bus yang harus dikandangkan untuk dilakukan penyelidikan terkait kebakaran yang terjadi saat beroperasi.

Pertama Kalinya, Singapore Airlines Buka Fasilitas Pelatihan untuk Umum! Satu Jam Tiket Ludes Terjual

Singapore Airlines (SIA) membuka fasilitas pelatihannya untuk umum selama empat hari. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi bertahan hidup maskapai di tengah pandemi virus Corona yang membuat industri penerbangan anjlok.

Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380

Singapore Airlines memang sangat mengandalkan penerbangan internasional dikarenakan maskapai tak mempunyai pasar penerbangan domestik. Praktis, kondisi tersebut tak bisa membuat perusahaan berharap banyak pada penerbangan.

Karenanya, sejak beberapa bulan lalu, maskapai terbaik dunia tahun 2019 versi Skytrax ini meluncurkan lini bisnis baru semata demi mencetak pundi-pundi uang, mulai dari makan siang mewah di pesawat Airbus A380, layanan pesan-antar (delivery) sajian mewah khas penerbangan, program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) lewat Singapore Airlines Academy, serta tur keliling fasilitas pelatihan maskapai.

Dilansir Simple Flying, SIA menawarkan pengalaman seru berkeliling pusat pelatihan maskapai dengan biaya terjangkau, sebesar $15 atau sekitar Rp225 ribu (kurs 14.800) untuk anak-anak berusia 3-12 tahun dan $30 atau sekitar Rp450 ribu (kurs 14.800) untuk orang dewasa.

Disebut terjangkau, sebab, hanya dalam satu jam, tiket tur keliling fasilitas maskapai itu sudah ludes terjual. Selain harganya yang terjangkau, ini merupakan untuk pertama kalinya SIA membuka fasilitas pelatihan mereka bagi publik. Tak ayal, warga Singapura antusias menyambutnya.

Selama beberapa jam, peserta tur keliling fasilitas pelatihan Singapore Airlines akan disuguhkan rahasia sukses maskapai, mulai dari mengunjungi heritage center, wine appreciation room, etiquette training room, makeup training room, mockup pesawat, evacuation slides and wave pool, flight simulator, serta makan mewah di restoran A380 SIA.

Sebagaimana namanya, masing-masing ruangan di fasilitas pelatihan memiliki ciri khas tersendiri. Heritage center menampilkan sepak terjang Singapore Airlines sejak pertama kali berdiri pada 28 Januari 1972 dan masih dipandang sebelah mata, mulai diakui, sampai akhirnya menjadi langganan pemenang penghargaan tingkat dunia.

Di wine appreciation room, peserta memang hanya disuguhkan pemandangan ruangan berseta pernak-perniknya; begitu juga di etiquette training room, mockup pesawat, dan safety slide & pool. Namun, di sini (wine appreciation room), peserta tur juga dimungkinkan untuk mencicipi langsung wine khas maskapai, sebelum atau sesudah tur, dengan tambahan biaya sebesar SGD40.

Senada dengan wine appreciation room, peserta juga bisa turut merasakan sensasi menjadi kru SIA saat di ruang rias atau makeup training room dengan tambahan biaya sebesar SGD100. Dengan harga segitu, nantinya peserta tur akan dibukakan rahasia cantik dan anggun khas pramugari Singapore Airlines.

Pun demikian dengan flight simulator Singapore Airlines, peserta tur keliling fasilitas pelatihan maskapai juga bisa turut serta merasakannya, dengan biaya tambahan sebesar SGD535 selama 75 menit. Harga itu termasuk menjajal flight simulator 777, 737 MAX, dan 787. Sayangnya, itu tidak termasuk flight simulator pesawat-pesawat Airbus.

Baca juga: Singapore Airlines Luncurkan Tempat dan Alat Makan Ramah Lingkungan dari Kertas dan Bambu

Tak lupa, SIA juga menunjukkan cara maskapai menghadirkan produk-produk atau penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan, baik di udara maupun di darat.

Sebetulnya, dari rangkaian tur keliling ini, ada satu ruangan penting namun tak termasuk paket tur. Ruangan itu adalah fasilitas gym staf SIA. Fasilitas gym diakui oleh SIA sebagai salah satu pendukung kesuksesan maskapai, dengan memperhatikan gizi, penampilan, di bawah bimbingan pelatih kebugaran dan konsultan nutrisi.

Trump Ingin Ganti Nama Bandara Ini Jadi Bandara Internasional Donald J. Trump

Happy ending, mungkin itulah alasan Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45, Donald Trump, digadang tengah mencari salah satu bandara potensial untuk diubah menjadi namanya. Langkah tersebut juga menjadi sinyal bahwa Trump sudah mulai bersiap untuk mengakui kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS 2020.

Baca juga: Potret Pesawat Pribadi Donald Trump, Dahulu Paling Mewah Sekarang Paling Butut

Dilansir Simple Flying, menurut sebuah sumber, Donald J. Trump disebut sudah meminta penasehat dan orang-orang di lingkarannya untuk memberikan saran bandara potensial mana yang bisa mengabadikan namanya; termasuk menanyakan kelengkapan dokumen-dokumen dan langkah-langkah yang dibutuhkan.

Meski Gedung Putih belum mengkonfirmasi hal itu, namun beberapa tokoh partai Republik justru seolah mengamini rumor tersebut dengan turut memberikan saran bandara potensial yang dimaksud kepada Trump.

Menurut Sun-Sentinel, Christian Ziegler, wakil ketua GOP Florida (underbow partai Republik), telah menyarankan Palm Beach International di Florida sebagai kandidat potensial. Bandara ini terletak hanya beberapa mil dari resor Mar-a-Lago Trump, dimana ia dan istrinya, Melania, bisa menikmati hari tua setelah lengser dari Gedung Putih sambil melihat Bandara International Donald J. Trump (jika jadi diubah) dipadati penumpang.

Sampai saat ini, juru bicara Bandara International Palm Beach mengaku belum dihubungi Gedung Putih terkait hal itu.

Akan tetapi, bila dilihat dari traffic penumpang, rasanya kemungkinan bandara tersebut diubah menjadi Bandara International Donald J. Trump sangat besar. Sebab, bandara tersebut tak begitu sibuk namun tak juga terlalu sepi atau tergolong sebagai bandara medium. Di masa mendatang, Florida, dengan segala daya tariknya, juga berpotensi mendatangkan banyak wisatawan dan menjadikan bandara itu ramai dikunjungi.

Selain secara administrasi tak akan begitu menyulitkan, dari segi kebanggaan juga bandara tersebut tak terlalu memalukan. Tentu, Trump tidak ingin bandara yang disematkan namanya merupakan bandara yang sepi dan tidak diminati pengunjung.

Dari data tahun 2018, Bandara International Palm Beach didatangi sebanyak 3 juta lebih pengunjung. Jumlah tersebut menempatkannya di posisi 54 bandara tersibuk di Amerika Serikat dari total ratusan bandara.

Sebelum Donald Trump, Presiden AS sebelum-sebelumnya juga pernah melakukan itu. Seperti bandara bandara di bawah ini:

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Bandara Abraham Lincoln Capital (SPI), Springfield, Illinois
Bandara Nasional Bill dan Hillary Clinton (LIT), Little Rock, Arkansas
Bandara Regional Dickinson Theodore Roosevelt (DIK), Dickinson, North Dakota
Bandara Interkontinental George Bush (IAH), Houston, Texas
Bandara Internasional Gerald R. Ford (GRR), Grand Rapids, Michigan
Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), Queens, New York
Bandara Nasional Ronald Reagan Washington (DCA), Washington, DC
Bandara Nasional (ICT) Wichita Dwight D. Eisenhower, Wichita, Kansas

Dari bandara-bandara di atas, Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), Queens, New York, menjadi bandara tersibuk yang disematkan nama Presiden AS dan berada di posisi ke-6 bandara tersibuk di AS pada tahun 2018 dengan 30 juta lebih pengunjung.

40 Tahun Lalu, Mercedes-Benz Luncurkan Airbag dan Sabuk Pengaman Pada S-Class

Pada tahun 1980, Mercedes-Benz meluncurkan airbag pengemudi dan sabuk pengaman yang pada masa itu merupakan inovasi mutakhir dalam teknologi keselamatan. Namun saat itu airbag dan sabuk pengaman masih terbatas yakni pada sedan S-class. Ini menjadi mobil seri pertama yang memiliki teknologi baru tersebut dan merupakan tonggak lain untuk keselamatan kendaraan pasif dalam barisan inovasi luar biasa Mercedes-Benz.

Baca juga: Pertama di Dunia, Mercedes-Benz Sematkan Fitur Airbag Depan-Belakang

Airbag tersebut merupakan pengembangan bersama antara Daimler-Benz AG dan Bosch dan lebih dari 100 kendaraan S-Class yang dilengkapi dengan sistem keselamatan baru diluncurkan dari jalur perakitan pada Januari dan Februari 1981. KabarPenumpang.com merangkum automotiveworld.com (22/12/2020), Mercedes-Benz mempresentasikan airbag pengemudi dan sabuk pengaman kepada publik di Geneva Motor Show.

Yang mana airbag dan sabuk pengaman tersedia pada 1982 sebagai tambahan opsional untuk semua mobil penumpang Mercedes-Benz. Pada tahun 1992, airbag pengemudi merupakan perlengkapan standar di semua model merek, diikuti oleh airbag penumpang depan sebagai fitur keselamatan standar pada tahun 1994. Meski begitu, banyak airbag lain mengikuti di tahun selanjutnya dengan airbag dipasangn di berbagai posisi kendaraan.

Ketika terjadi kecelakaan dan rem mendadak dengan benturan langsung yang parah, airbag akan mengembang dalam beberapa milidetik di depan penumpang. Di mana campuran gas yang dihasilkan, pada saat penemuan airbag terutama terdiri dari nitrogen, menggembungkan penutup kain berbentuk bantal airbag.

Ini menawarkan perlindungan terbaik yang mungkin dikombinasikan dengan sabuk pengaman, keduanya digunakan untuk melindungi tubuh bagian atas dengan lembut saat terlempar ke depan karena benturan. Empat dekade lalu, Mercedes-Benz memiliki inovasi lain dengan sabuk pengaman.

Pada akhir 1980-an, merek tersebut meluncurkan airbag pengemudi bersama dengan sistem pengekangan untuk penumpang depan, yang pada saat itu dikenal sebagai “pengencang sabuk”. Namun pada tahun 1984, seat belt tensioner, sebutan yang sekarang lebih dikenal dengan fitur keselamatan ini, sudah menjadi perlengkapan standar untuk kursi depan semua mobil penumpang Mercedes-Benz.

Ide dasar untuk airbag dikaitkan, antara lain, dengan penemu hobi, Walter Linderer yang pada tahun 1950-an, telah merancang apa yang dia gambarkan sebagai “wadah tiup dalam keadaan terlipat, yang secara otomatis mengembang jika terjadi bahaya. Pada tanggal 6 Oktober 1951, penemu kelahiran Munich mengajukan paten untuk “perangkat untuk melindungi orang di dalam kendaraan dari cedera jika terjadi tabrakan” dari Kantor Paten Jerman.

Meskipun dalam aplikasinya Linderer secara tepat menjelaskan prinsip airbag, persyaratan teknis untuk sensor dan juga untuk pembangkit gas cepat tidak ada pada masa itu. Udara tekan konvensional tidak cocok untuk menghasilkan tekanan karena butuh waktu terlalu lama untuk mengembang kantung udara. Bahan elastis dan sangat tahan air mata yang diperlukan untuk membuat kantung udara juga tidak tersedia pada saat itu dan ini tetap terjadi selama beberapa tahun. Lalu Mercedes-Benz kembali ke ide airbag pada tahun 1966 dan memulai uji coba awal untuk produksi gas efektif pada tahun 1967.

Di mana paten untuk “perangkat perlindungan benturan untuk penumpang kendaraan” (Paten No: DE 21 52 902 C2) diajukan oleh kemudian Daimler-Benz AG pada Oktober 1971. Kemajuan berkelanjutan: Setelah sekitar 250 uji tabrak, lebih dari 2.500 mobil uji luncur, dan ribuan uji coba pada masing-masing komponen, insinyur keselamatan Mercedes-Benz berhasil membawa teknologi tersebut ke kematangan produksi seri selama lima belas tahun ke depan.

“SRS airbag” (suplemental restraint system) yang melengkapi sabuk pengaman dan awalnya terlihat pada roda kemudi model Mercedes-Benz yang dilengkapi dengan teknologi ini. Peredam benturan di roda kemudi ini berukuran besar karena harus mengakomodasi penutup kain yang besar saat digelembungkan, kantung udara pengemudi pertama memiliki volume antara 60 hingga 70 liter.

Hingga akhirnya pada 2020, seri model 223 S-Class, yang memulai debutnya termasuk airbag baru tambahan seperti airbag belakang, yang merayakan penayangan perdana dunia mereka tahun ini. 40 tahun setelah peluncuran kantung udara pengemudi pertama, kantung udara belakang baru ini menggunakan konsep inflasi baru yang radikal dengan struktur tubular, dirancang untuk memasang kantung udara depan untuk kedua jok belakang luar untuk pertama kalinya.

Baca juga: Sabuk Pengaman Model “V,” Lambang Supremasi Teknologi Volvo

Sehingga jika terjadi tabrakan langsung yang parah, inovasi ini sangat mengurangi beban di kepala dan leher penumpang yang tertahan oleh sabuk pengaman di kursi ini. Sama seperti Mercedes-Benz S-Class membuka jalan dengan standar baru keselamatan 40 tahun yang lalu, generasi baru terus membawa keselamatan pengemudi dan penumpang ke tingkat yang benar-benar baru dan menetapkan standar baru tidak hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk industri secara keseluruhan.

Jalan-Jalan Ke Ancol Naik Kereta? Yuk Turunnya di Stasiun Ancol

Meski pada liburan Natal dan Tahun Baru kali ini, kawasan Ancol dan pusat hiburan di DKI Jakarta ditutup terkait pandemi Covid-19, namun, merencakan liburan ke Ancol tetap menjadi minat tersendiri bagi sebagian warga. Nah, untuk sampai ke Ancol, masih sedikit pelancong yang menggunakan jasa kereta api. Padahal pelancong bisa turun di Stasiun Ancol yang tak jauh dari pintu masuk taman rekreasi terbesar di utara Jakarta ini.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Stasiun Jakarta Kota Resmi Beroperasi

Stasiun Ancol merupakan stasiun yang berada di Jalan RE Martadinata tepatnya di Pademangan Barat, Pademangan, Jakarta Utara. Stasiun ini berada di ketinggian +4 meter diatas permukaan laut. Stasiun ini termasuk dalam Daerah Operasional (Daop) 1 Jakarta.

Stasiun Ancol merupakan stasiun kereta api kelas III atau stasiun kecil yang berada di jalur kereta CommuterLine yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dengan relasi KRL Stasiun Tanjung Priok menuju ke Stasiun Kota. Stasiun Ancol memiliki empat jalur kereta tanpa memiliki sepur belok sama sekali.

Yang mana jalurnya terdiri dari jalur dwiganda dengan jalur ganda di sisi utara yang mengarah dari Jakarta Kota menuju Kampung Bandan dan jalur ganda di sisi selatan yang mengarah dari Rajawali. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ke arah timur dari stasiun ini, tepatnya beberapa meter sebelum memasuki Stasiun Tanjung Priok, ada percabangan menuju ke Pasoso-Depot Pertamina Cilincing.

Sayangnya jalur yang menuju Depot Pertamina sudah ditutup sejak tahun 1990-an dan di jalur 4 Stasiun Ancol dulunya terdapat wesel menuju gardu listrik yang kini sudah dicabut. Dulunya Stasiun Ancol hanya dilintasi kereta baik KRL atau pun kereta lainnya.

Baca juga: Seutas Cerita di Balik Kelamnya Stasiun Kampung Bandan

Meski begitu saat itu belum ada KRL yang berhenti di Stasiun Ancol karena menunggu perpanjangan peron untuk mengangkut penumpang. Kemudian sejak 25 Juni 2016, PT KCJ yang kini menjadi KCI kembali mengoperasikannya untuk pelayanan penumpang.

Pembukannya Stasiun ini selain memudahkan pelancong yang menumpang kereta menuju ke Ancol juga mengurangi kepadatan di Stasiun Kota ataupun Kampung Bandan. Meski begitu stasiun ini tak terlalu banyak penumpang yang turun untuk menuju ke destinasi Ancol.

Hal terebut karena jalur menuju ke Ancol cukup menyeramkan tanpa ada jalur aman untuk pejalan kaki. Semoga saja kedepannya Pemprov DKI Jakarta memberikan kenyamanan untuk menyeberang pada penumpang kereta yang akan berlibur ke Ancol.