NVDIA DRIVE dan Platform AI Hadir di Semua Model Terbaru Hyundai Motor Group

Hyundai Motor Group dan NVIDIA mengumumkan peluncuran platform terbaru mereka yakni NVIDIA DRIVE. Di mana platform tersebut hadir di semua model baru dari Hyundai, KIA dan Genensis mulai tahun 2022 dan seterusnya. Kerja sama ini akan memungkinkan Hyundai Motor Group mengembangkan sistem komputasi mobil terhubung berperforma tinggi untuk model generasi berikutnya.

Baca juga: Sistem Input Prediktif Digunakan Tanpa Sentuhan Langsung pada Layar

Ini akan ada dari kendaraan di tingkat pemula hingga premium serta semua model masa depan akan menampilkan sistem infotainment dalam kendaraan IVI yang didukung oleh NVDIA DRIVE sebagai standar. Nantinya, NVIDIA DRIVE mencakup tumpukan perangkat keras dan perangkat lunak, memungkinkan sistem IVI Hyundai Motor Group untuk menggabungkan audio, video, navigasi, konektivitas, dan layanan ‘mobil terhubung’ berbasis kecerdasan buatan (AI).

KabarPenumpang.com merangkum automotiveworld.com (9/11/2020), dengan menggunakan platform NVIDIA DRIVE berkinerja tinggi dan hemat energi untuk model masa depan. Sehingga memungkinkan merek Grup untuk menawarkan pengalaman pengguna AI dalam kendaraan yang mulus dan terus ditingkatkan kepada pelanggan.

Oleh karena itu, pelanggan Hyundai, KIA dan Genesis akan mendapat manfaat dari pengalaman pengguna AI yang kaya fitur dan ditentukan perangkat lunak yang dapat diperbarui terus-menerus. Hyundai Motor Group telah bekerja dengan NVIDIA sejak 2015, dan platform NVIDIA DRIVE sudah mendukung sistem IVI canggih yang ditemukan di Genesis GV80 dan G80.

Perusahaan juga telah berkolaborasi dalam kokpit digital terintegrasi canggih, yang akan diluncurkan pada akhir 2021. Kehadiran platform baru ini membawa hubungan lebih jauh, karena Hyundai Motor Group meletakkan dasar untuk sistem IVI yang dapat mendukung berbagai aplikasi dan fitur masa depan, di seluruh jajaran modelnya.

“NVIDIA menghadirkan fungsionalitas elektronik konsumen dan antarmuka pengguna yang kaya grafis ke sistem infotainment lebih dari satu dekade yang lalu. Sekarang, kami sekali lagi mengubah sistem ini melalui kekuatan AI, membantu Hyundai Motor Group meningkatkan keselamatan dan nilai, serta meningkatkan kepuasan pelanggan, selama masa pakai kendaraan,” kata Ali Kani, Wakil Presiden Kendaraan Otonomi NVIDIA.

Paul Choo, Wakil Presiden Senior Unit Teknologi Elektronik di Hyundai Motor Group mengatakan, di Hyundai Motor Group, mereka berkomitmen untuk memberikan nilai, keamanan, fungsionalitas dan kesenangan yang lebih besar selama masa pakai mobil. Platform NVIDIA DRIVE telah terbukti dapat diskalakan, hemat energi, dan memiliki kinerja untuk mendukung kendaraan yang ditentukan perangkat lunak generasi berikutnya.

Kemitraan dengan NVIDIA akan memungkinkan Hyundai Motor Group meluncurkan ‘sistem operasi mobil terhubung’ (ccOS) berikutnya di model masa depan. Dikembangkan secara internal oleh Hyundai Motor Group, ccOS baru akan menyatukan sejumlah besar data yang dihasilkan oleh kendaraan dan jaringan sensornya, serta pusat data mobil yang terhubung secara eksternal, memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dan nyaman bagi pengemudi dan penghuni.

CcOS akan menggunakan kerangka kerja perangkat lunak NVIDIA untuk menerapkan empat kompetensi TI inti, di mana ‘komputasi berperforma tinggi’, menggunakan GPU NVIDIA untuk memproses data dalam jumlah besar di dalam dan di luar kendaraan dan mengoptimalkan kinerja sistem untuk mendukung teknologi TI canggih, seperti pembelajaran mendalam.

‘Komputasi yang mulus’, yang memberikan layanan tanpa gangguan terlepas dari status online atau offline kendaraan. Kendaraan terhubung dengan infrastruktur sekitar dan perangkat pintar untuk menghadirkan pengalaman pengguna dari perangkat eksternal ke lingkungan kendaraan. Komputasi cerdas’, menyediakan layanan cerdas yang disesuaikan dengan mengidentifikasi maksud dan kondisi pengemudi dengan tepat.

‘Komputasi aman’, melindungi sistem dengan memantau jaringan dalam kendaraan dan eksternal dan mengisolasi data yang terkait dengan keselamatan kendaraan. Selain itu, terobosan baru-baru ini dalam AI dan komputasi yang dipercepat telah membuka pintu bagi kendaraan generasi berikutnya untuk memanfaatkan fungsionalitas baru, kemampuan, dan fitur keselamatan yang ditingkatkan yang dapat ditambahkan setelah mobil dibeli.

Baca juga: Keren, Dubai Gunakan Teknologi Kecerdasan Buatan, Pastikan Sopir dan Penumpang Pakai Masker

Dengan arsitektur komputer terpusat dan terdefinisi perangkat lunak, kendaraan masa depan dapat diperbarui sepanjang hidup mereka untuk menampilkan teknologi kokpit digital canggih terkini, serta fitur lainnya. Hyundai Motor Group akan mengumumkan rincian yang lebih spesifik dari kemampuan IVI dan ccOS yang akan datang sejalan dengan pengumuman di masa mendatang terkait dengan kendaraan tertentu.

Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Perkembangan jet bisnis supersonik Aerion AS2 semakin menggeliat. Belum lama ini, pesawat dari pabrikan asal Amerika Serikat (AS) itu dikabarkan berhasil melewati uji terowongan angin atau wind tunnel testing. Dengan begitu, desain pesawat futuristik dengan bahan bakar ramah lingkungan ini dinyatakan aman dan bisa melanjutkan ke tahap pembuatan komponen pada 2022 dan proses perakitan pada 2023 untuk membuatnya jadi nyata.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

“Tes tersebut melibatkan evaluasi keseluruhan operasional AS2, termasuk lepas landas dan mendarat, penerbangan subsonik, penerbangan supersonik tanpa dentuman, dan kecepatan jelajah. Selain itu, desain AS2 telah diuji untuk kondisi operasional, termasuk uji landing gear dan wing icing, bersama dengan kualitas handling,” bunyi laporan Aviation International News, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.

Pesawat supersonik ini memang tidak akan menyamai atau bahkan melampaui legenda pesawat supersonik Concorde. Jet bisnis supersonik Aerion AS2 diproyeksikan hanya mampu melesat dengan kecepatan Mach 1.4 atau 1.729 km per jam. Dengan begitu, rute andalan mereka, London-New York bisa dijangkau dalam empat jam.

Bandingkan dengan Concorde yang mampu melesat 2.179 km per jam atau melahap penerbangan London-New York hanya dalam tiga jam.

Demikian juga dengan kursi penumpang. Aerion AS2 digadang hanya mampu mengangkut 8-12 penumpang, dengan kabin eksklusif dan mewah. Jumlah tersebut tentu tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Concorde yang mampu mengangkut 100 penumpang.

Namun, durasi tersebut masih lebih baik ketimbang pesawat komersial pada umumnya yang bisa memakan waktu enam jam. Oleh karena itu, pesawat supersonik ini lebih mengincar ke perjalanan bisnis ketimbang perjalanan wisata.

Meski terlihat masih jauh dari pesawat supersonik Concorde, bukan berarti pesawat supersonik yang direncanakan bakal hadir pada 2027 itu tidak memiliki keunggulan apapun yang bisa dibangga-banggakan.

Disebutkan, Aerion AS2 memiliki lima keunggulan yang tak dimiliki Concorde sebagai sesama pesawat supersonik ataupun pabrikannya. Pesawat supersonik Aerion AS2 dijanjikan bakal bebas emisi sejak pertama kali mengudara sampai seterusnya. 100 juta pohon juga bakal ditanam pada tahun 2036 sejak kehadiran pesawat ini untuk kali pertama.

Tak cukup sampai di situ, Aerion AS2 akan menggunakan 100 persen bahan bakar berkelanjutan yang dinilai sanggup mengurasi emisi karbon di udara sampai 80 persen. Sebagai pesawat masa depan, pabrikan juga turut andil dengan tren ramah lingkungan, dimana program carbon offsetting bakal dijajaki tanpa memungut biaya sepersen pun ke penumpang.

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

Keunggulan lain, umumnya, pesawat supersonik amat berisik atau seringkali menciptakan sonic boom atau dentuman sonik. Namun, tidak demikian dengan Aerion AS2. Pesawat ini diklaim bakal boomless atau tanpa dentuman sekalipun melesat dengan kecepatan tinggi sehingga tidak menimbulkan polusi suara.

Sedikit terkait polusi suara, di dunia memang sudah memperhatikan hal itu. Bahkan, polusi suara di malam hari oleh pesawat terbang bisa dikenai biaya tambahan sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan yang tercipta, khususnya saat di bandara.

Demi Bertahan Hidup, Etihad Produksi 1,3 Juta Masker untuk Dijual dan Dibagikan ke Pramugari

Etihad Airways Selasa lalu mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah membuka fasilitas produksi masker medis tiga lapis. Fasilitas tersebut diproyeksikan bakal memproduksi sebanyak 1,3 juta masker dalam waktu tiga bulan. Nantinya, masker-masker tersebut akan dijual melalui pemasok serta dibagikan ke seluruh pramugari dan staf garis depan; termasuk ke tenaga kesehatan (Nakes) seantero Uni Emirat Arab.

Baca juga: Etihad Kirim A380 ke ‘Kuburan’ Pesawat di Perancis

Masker tiga lapis Etihad Airways diproduksi oleh divisi teknik. Masker tersebut disertifikasi oleh dua badan sertifikasi, Laboratorio Analisi Tecnal of Italy dan CNTAC dari Cina.

Dengan mesin super canggih serba otomatis, fasilitas produksi itu disebut bisa menghasilkan masker medis, lengkap dengan logo Etihad yang diembos, sebanyak 20 ribu per hari. Jumlah tersebut tentu relevan bila berkaca pada aturan yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO mengimbau agar masker medis setiap hari, bahkan empat jam segali, diganti.

Etihad Airways memutuskan mengambil langkah tersebut untuk memenuhi kebutuhan garda terdepan maskapai, seperti pramugari, pilot, serta staf darat. Sejak awal pandemi Corona pada awal tahun ini, maskapai di seluruh dunia berusaha keras untuk mengamankan pasokan masker untuk kebutuhan mereka.

Saking sulitnya, tak sedikit maskapai di dunia terpaksa menggunakan masker kertas yang notabene di bawah standar. Sadar pihaknya bisa saja termasuk maskapai yang kesulitan mendapatkan pasokan masker medis, Etihad Airways pun akhirnya mengambil jalan itu.

“Sejak awal pandemi, kami menyaksikan permintaan yang konsisten untuk masker medis di internal maskapai,” kata Nasir, wakil presiden vice president of airframe services Etihad Engineering, seperti dikutip dari paddleyourownkanoo.com.

“Dengan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan pelanggan dan karyawan menjadi perhatian utama dan prioritas utama kami, kami melihat peluang untuk menjadi mandiri,” lanjutnya. Nasir juga mengatakan bahwa Etihad berniat memproduksi masker untuk pelanggan dan supplier agar dijual kembali ke masyarakat ataupun perusahaan.

Seiring anjloknya penerbangan penumpang, layaknya Etihad, berbagai maskapai di dunia ramai-ramai putar otak untuk mencari penghasilan tambahan. Thai Airways dilaporkan banting setir jualan gorengan. Qantas Airways terang-terangan menjual sweater cashmere, hoody, dan tas pantai dengan harga bervariasi untuk bertahan hidup.

Baca juga: Etihad Kerja Sama dengan Bandara Abu Dhabi Hadirkan Kursi Roda Otomatis

Singapore Airlines (SIA) juga demikian. Maskapai nasional Singapura itu dikabarkan belum lama ini membentuk entitas bisnis baru bernama Singapore Airlines Academy atau Akademi Singapore Airlines. Akademi SIA bertujuan untuk membuat program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi perusahaan jasa dan perhotelan untuk meningkatkan kualitas pelayanan mereka.

Meskipun menyebut bisnis program pelatihan SDM melalui Akademi Singapore Airlines lahir atas permintaan dari berbagai perusahaan dan organisasi, namun, perusahaan tak menampik bahwa pihaknya memutuskan membuka bisnis baru itu untuk mencari keuntungan tambahan, jika tak ingin disebut demi bertahan hidup.

Lika-Liku Karyawan Freeport, Berangkat Kerja Harus Pakai ‘Bus Perang’ Anti Peluru

Di Jakarta, sehari-hari karyawan swasta maupun BUMN bisa dengan mudah dan bebas memilih kendaraan untuk bisa sampai ke tujuan. Namun, tidak demikian dengan karyawan maupun para tamu PT Freeport Indonesia (PTFI). Mereka umumnya hanya mempunyai satu pilihan kendaraan untuk mobilitas dari dan ke lokasi tambang, dalam hal ini dari Timika-Tembagapura. Kendaraan tersebut adalah truk ‘bus’ anti peluru, Iveco Trakker 380 buatan Italia.

Baca juga: Intip Kemampuan Truk Offroad Kelas Dunia Milik TNI AL, Tatrapan 6×6

Pamor bus anti peluru Freeport itu mungkin belum bisa menyalip truk setinggi rumah dan ban besar yang harga satuannya bisa setara sedan kelas atas (Rp500 jutaan) milik PTFI. Namun demikian, bus tersebut sangat diandalkan untuk meredam ancaman dan gangguan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Disarikan dari Indomiliter.com, bus angkut ala perang berkat kemampuan anti pelurunya ini sejatinya merupakan truk yang dimodifikasi. Bus ini dibangun dari basis truk Iveco Trakker 380 4×4, untuk memenuhi spesifikasi sebagai ‘bus,’ posisi bak bagian belakang diganti dengan manhaul bus bodies. Modifikasi karoseri pada truk buatan Italia ini dilakukan oleh perusahaan swasta nasional PT Sanggar Sarana Baja.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang) on

Bus anti peluru yang biasa digunakan untuk perjalanan dari Timika-Tembagapura sejauh 2,5 – 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam ini hampir seluruh bagiannya anti peluru, termasuk jendela bus yang juga ditutup dengan plat logam anti peluru dengan hanya menyisakan seperdelapan bagian di sisi atas jendela agar cahaya bisa masuk.

Sayangnya fitur tersebut tak tersemat di bagian ruang kemudi bus anti peluru ini. Karenanya, sopir mendapat perlindungan tambahan dengan mengenakan rompi anti peluru, kevlar hingga helm anti-peluru.

Akan tetapi, bus berkapasitas 56 penumpang dengan disokong mesin diesel 340 hp ini tak diketahui secara persis apakah bagian bannya sudah mengadopsi run flat tyre (RFT) atau tidak, dengan RFT bila ban diterjang proyektil masih dapat berjalan sampai jarak tertentu.

Baca juga: Singapore Duck Tour, Wisata Amfibi dengan Rantis eks Perang Vietnam

Namun demikian, bila pun terjadi penembakan, bus tersebut akan tetap aman karena dilindungi oleh satu unit kendaraan berisi pasukan pengamanan bersenjata lengkap. Selain itu, bus biasanya tak berjalanan sendirian melainkan selalu beriringan dengan kendaraan serupa.

Meski bus anti peluru ini dianggap aman untuk melindungi dari serangan KKB, hal itu tentu sangat relatif, mengingat bus tersebut bisa saja luluh lantak bila KKB menggunakan peluncur roket anti-tank (bazooka) atau senapan anti anti tank, yakni senapan yang bisa menembus kendaraan lapis baja ataupun anti peluru dengan kecepatan rata-rata lesatan mencapai 900 meter per detik.

Kantung Laundry Mudahkan Pengendara Mobil Meletakkan Masker Kotor

Bukan lagi hanya pakaian kotor yang masuk dalam tas laundry, kini masker pun menjadi salah satu yang wajib diganti setiap hari bahkan empat jam sekali untuk masker kain. Sehingga orang-orang biasanya membawa masker ganti dan menempatkan masker sebelumnya di tempat yang sudah di sediakan.

Baca juga: Berselisih Karena Tak Kenakan Masker, Penumpang Kereta Terkena Semprotan Merica

Bagi pengguna mobil pribadi, sepertinya meletakkan satu kantung laundry untuk tempat masker bekas pakai cukup berguna. Apalagi jika mobil tersebut digunakan oleh satu keluarga ketika bepergian dan bisa saja masker bekas pakai diletakkan sembarangan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman vitals.lifehacker.com (10/11/2020), Beth Skwarecki seorang senior editor kesehatan di Lifehacker mengatakan, meletakkan tas laundry di dalam mobil karena dirinya menemukan masker berserakan di dalam mobil. Bahkan menemukan setumpuk masker yang tak jelas bersih atau kotor.

“Apakah ini bersih atau kotor ???” kata Beth dalam chatnya kepada suami.

“Argh. Kebanyakan dari mereka kotor,” tulisnya kembali.

Dia mengatakan selama delapan bulan merasakan kehidupan di masa pandemi, pikiran untuk memisahkan masker bersih dan kotor di dalam mobil baru terpikir.

“Kami menyimpan yang bersih di salah satu kompartemen dasbor yang tidak memiliki tujuan khusus di dunia pra-pandemi kami, tetapi berfungsi dengan sempurna untuk menampung lusinan berbagai ukuran topeng. Jadi yang kami butuhkan hanyalah tempat untuk yang kotor. Inilah yang saya lakukan,” ujarnya.

Beth mengatakan, dia mengambil tas pakaian dalam dari meja rias dengan salah satu tali jala yang menggunakan ritsleting di atasnya kemudian dijahit dengan karet elastis ke sudut atasnya agar bisa digantung di sandaran kursi kepala penumpang. Bila kurang nyaman di sandaran kepala, bisa menjepitnya di mana pun Anda suka.

Baca juga: Penumpang Tunanrungu Gunakan Masker Bertuliskan “Just Deaf, Not Rude”, Terluka Karena Dibilang Tuli

Adanya kantung laundry ini, memudahkan pengendara mobil pribadi yang akan meletakkan masker kotor mereka sebelum diletakkan di tempat cuci di rumah. Selain itu juga memudahkan penumpang lain yang serumah meletakkan masker bekas mereka agar tak lagi bercecer.

Ngeri! Begini Detik-detik Pengisian Bahan Bakar Udara-ke-Udara Pertama Kali

Pada hari ini, 99 Tahun lalu, bertepatan dengan Sabtu, 12 November 1921, pengisian bahan bakar udara-ke-udara antar pesawat pertama kali dilakukan. Jangan membayangkan pengisian bahan bakar dilakukan secara otomatis, sebab, itu jauh dari kenyataan.

Baca juga: Mengapa Pesawat Buang Bahan Bakar Saat di Udara? Simak Penjelasannya

Di atas ketinggian sekitar 1 ribu kaki atau 300 meter lebih, Wesley May, tanpa pikir panjang berpindah ke pesawat lain bersama lima galon bahan bakar yang diikat di punggungnya dan menuangkan bahan bakar. Atas aksinya tersebut, ia pun dikenal luas saat itu dan sampai saat ini dinobatkan sebagai aksi pengisian bahan bakar udara-ke-udara atau disebut air-to-air refueling (AAR), in-flight refueling, dan tanking untuk pertama kalinya di dunia.

Dilansir popsci.com, meskipun hanya uji coba, pengisian bahan bakar udara-ke-udara dengan cara manual seperti ini tetaplah menjadi bagian dari sejarah. Wesley May mula-mula menumpangi pesawat bersayap ganda atau biplane yang diterbangkan oleh Frank Hawks. Setelah sampai di ketinggian 300 meter lebih, ia beranjak dari kursi kokpit dan mulai berjalan perlahan menuju ujung sayap pesawat.

Di sana, ia menunggu pesawat biplane lain yang diterbangkan pilot Earl Daugherty dan mulai melakukan manuver sederhana untuk memperkecil jarak antar pesawat, seperti gambar di atas. Setelah dirasa cukup, May mulai memanjat dan berpindah pesawat untuk menuang lima galon bahan bakar yang diikat dipunggungnya.

Dianggap tak efektif dan efisien, cara pengisian bahan bakar yang dilakukan Wesley May kemudian digantikan dengan pengisian bahan bakar udara-ke-udara melalui selang. Foto: National Museum of the USAF

Tak disebutkan dengan jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian tersebut. Yang pasti, inilah pengisian bahan bakar udara-ke-udara pertama di dunia.

Akan tetapi, dirasa tak efektif, cara manual seperti itu pun coba digantikan dengan cara lain yang dinilai lebih efektif. Pada 27 Juni 1923, US Army Air Service menggunakan dua biplane Airco DH-4B untuk mencoba manuver sederhana guna menuntaskan misi pengisian bahan bakar udara-ke-udara. Usai dirasa pas, biplane bomber Inggris bekas Perang Dunia I itu pun mulai mengeluarkan selang dan memulai pengisian bahan bakar.

Seiring perkembangan teknologi, ide pengisian bahan bakar udara-ke-udara melalui selang kemudian berkembang menjadi apa yang disebut “probe-and-drogue”. Probe and droge dikembangkan oleh Sir Alan Cobham di Inggris pada tahun 1950. Probe dikeluarkan oleh pesawat yang hendak diisi bahan bakar sedangkan drogue, berbentuk semacam mangkuk yang terdapat di ujung selang, dikeluarkan oleh pesawat tanker. Usai bertemu, keduanya saling mengunci untuk mengurangi risiko saat pengisian bahan bakar dimulai.

Saat ini, probe and drogue sangat memudahkan pesawat tanker mentransfer bahan bakar hingga 420 galon per menit. Berbeda ketika Wesley May melakukan pengisian bahan bakar untuk pertama kalinya secara manual, pengisian bahan bakar pesawat modern, khususnya jet atau helikopter tempur, seperti sekarang ini dilakukan di ketinggian sekitar 25 ribu kaki atau sekitar 7 ribu meter lebih pada kecepatan sekitar 555 km per jam.

Akan tetapi, ketinggian tersebut cukup relatif, mengikuti visibilitas dan turbulensi yang mungkin terjadi ketika pengisian dimulai.

Baca juga: Airbus Dorong Penerbangan “Fello’Fly” Guna Capai Efisiensi Bahan Bakar Hingga 15 Persen

Seiring berjalannya waktu, pengisian bahan bakar udara-ke-udara bahkan sudah mulai mengarah ke otomatisasi. April lalu, Airbus, mengumumkan bahwa pihaknya berhasil menyelesaikan operasi pengisian bahan bakar udara-ke-udara otomatis pertama di dunia (automatic air-to-air refueling operation) terhadap jet tempur F-16.

Menariknya, jet tempur Amerika Serikat itu diisi bahan bakar secara otomatis oleh pesawat tanker Airbus tanpa penyesuaian sistem. Artinya, seluruh jet yang ada saat ini bisa menikmati layanan itu tanpa modifikasi tambahan.

Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Dewan Kota Orlando, negara bagian Florida, Amerika Serikat (AS), belum lama ini disebut menyetujui potongan pajak hingga $831.250 untuk Lilium Aviation. Hal itu merupakan salah satu dari paket perjanjian pembangunan fasilitas pendaratan dan lepas landas taksi udara lilstrik Lilium, atau biasa juga disebut vertiport, seluas 56.000 kaki persegi di Danau Nona, Orlando. Tak hanya itu, proyek ini juga akan menawarkan lapangan pekerjaan baru bagi warga kota dengan tawaran gaji tinggi.

Baca juga: Peneliti University of Michigan: Kendaraan VTOL Listrik Lebih Ramah Lingkungan Ketimbang Mobil Listrik

Vertiport Orlando tersebut berada tepat di selatan Bandara Internasional Orlando di Danau Nona, menjadikannya sebagai pusat transportasi taksi udara listrik Lilium terbesar di AS, layaknya airport untuk lepas landas dan pendaratan pesawat-pesawat komersial.

Kedatangan vertiport taksi udara Lilium belakangan juga dilaporkan menarik datangnya perusahaan-perusahaan lain untuk membangun kantor pusat di dekat Danau Nona. Dengan begitu, proyeksi vertiport di tahun 2025 mendatang, saat taksi udara listrik tersebut direncanakan mendarat untuk pertama kalinya, akan sangat cerah.

Dilansir bizjournals.com, proyek pembangunan pusat transportasi taksi udara Lilium disebut menelan biaya sekitar $25 juta yang ditetapkan untuk membuat 143 pekerjaan baru pada tahun 2025.

https://www.youtube.com/watch?v=lojpe3lUdFk&feature=emb_title

Didukung oleh 36 mesin serba listrik, taksi udara berkapasitas lima kursi ini adalah eVTOL (electric vertical takeoff and landing) yang diklaim enam hingga tujuh kali lebih tenang daripada helikopter saat lepas landas.

Sebelum menjadikan Orlando sebagai pusat transportasi taksi udara, Lilium Aviation sudah lebih dahulu membangun fasilitas serupa di Eropa, tepatnya di Jerman, pada September lalu. Kala itu, mereka mengumumkan kemitraan dengan dua bandara Jerman yang akan berfungsi sebagai hub untuk jaringan transportasi Lilium di regional Eropa.

Lilium Aviation secara resmi meluncurkan taksi udaranya pada tahun 2019, enam tahun setelah mereka awalnya menyusun ide taksi udara. Taksi itu memiliki dua sayap tetap, satu sayap utama dengan empat sayap di bagian belakang. Sementara sayap ‘canard’ di depan memiliki dua sayap. Semua flap bisa bergerak secara independen.

Baca juga: Uber Elevate Gandeng GE Aviation Guna Wujudkan Taksi Udara eVTOL Ridesharing 2023

Perusahaan asal Jerman itu mengatakan bahwa mereka menggunakan mesin jet listrik perintis di setiap flap untuk memungkinkan pesawat berputar dan mengubah arah dorong yang mereka buat. Selain itu, Lilium menggunakan vektor dorong yang biasa digunakan oleh roket luar angkasa dan jet tempur untuk memungkinkan gerakan vertikal dan horizontal pada jet.

Lilium mengungkap, karena pesawat ruang angkasa tidak dapat mengandalkan penutup saat berada di luar angkasa untuk mengarahkan kendaraan ke arah tertentu, solusinya adalah menyesuaikan sudut dorong yang dihasilkan pesawat ruang angkasa.

Didukung Uni Eropa, Pemerintah Jerman Kembali Ciptakan Trans Europe Express

Pemerintah Jerman akan kembali menciptakan sistem kereta api internasional “Trans Europe Express” (TEE), yang pada tahun 1950-an hingga 1970-an merupakan kereta internasional terbaik dan termewah di Eropa Barat. Rencana ini pun mendapat dukungan dari negara-negara Uni Eropa.

Baca juga: Gegara Covid-19, Kereta Jadi Pilihan Favorit Berlibur Ketimbang Pesawat! Ini Alasannya

TEE ini terinspirasi dari gerakan Swedia yang mencari alternatif untuk perjalanan jarak pendek tetapi juga oleh target yang mengikat secara hukum dalam mengurangi emisi karbon yang sekarang diterapkan di seluruh Eropa. Namun TEE2.0 ini agak berbeda dari pendahulunya di tahun 1960-an.

KabarPenumpang.com merangkum dari trn.trains.com (9/11/2020), perbedaannya adalah pertama pada jarak yang akan ditempuh dan jumlah negara yang akan ikut terlibat lebih jauh dari jaringan TEE asli di mana fokus pada Eropa Barat. Kedua daripada menawarkan perjalanan mewah, TEE2.0 baru akan menawarkan layanan kecepatan tinggi untuk sejumlah besar penumpang daripada beberapa orang terpilih di kelas satu.

Sehingga jaringan kereta malam direncanakan bersamaan dengan layanan kecepatan tinggi siang hari. Jaringan baru yang diusulkan dimungkinkan oleh jaringan kereta api modern di Eropa. Miliaran dolar telah diinvestasikan dalam jaringan kereta api Eropa sejak tahun 1980-an dengan jaringan kecepatan tinggi di beberapa negara dan terkadang didanai oleh Uni Eropa dengan jalur berkecepatan tinggi yang menghubungkan negara-negara dan jaringan domestik mereka.

Di wilayah Alpine antara Eropa utara dan selatan, beberapa Terowongan Dasar baru telah dibuka, terutama di Swiss, memotong waktu perjalanan secara signifikan dan lebih banyak lagi yang sedang dibangun di Austria, Prancis, dan Italia. Ini selanjutnya akan mengurangi waktu perjalanan ketika dibuka pada dekade berikutnya antara Jerman dan Denmark, sebuah terowongan bawah laut baru sedang dibangun yang, ketika dibuka pada tahun 2028, akan mengurangi waktu perjalanan antara kota-kota Denmark dan Jerman.

Ini, dikombinasikan dengan jembatan Øresund yang menghubungkan Swedia dan Denmark, digunakan sejak tahun 2000, juga akan memungkinkan layanan langsung ke kota-kota Swedia. Proposal menyarankan rute yang dapat ditetapkan dalam jangka pendek, ditambah rute yang akan membutuhkan infrastruktur baru.

Sebuah perusahaan operasi internasional baru, yang dimiliki bersama oleh perusahaan kereta api milik pemerintah yang berpartisipasi, telah diusulkan untuk mengoperasikan layanan tersebut. Awalnya, setidaknya, mereka akan menggunakan peralatan yang sudah ada seperti TGV Prancis, ICE Jerman, atau kereta berkecepatan tinggi Frecciarossa Italia.

Tidak jelas peran apa, jika ada, bagi operator kereta penumpang milik pribadi yang sekarang aktif di banyak negara Eropa. Rute pertama akan menyatukan layanan yang ada misalnya, menggabungkan layanan Amsterdam-Paris dan Paris-Barcelona untuk menawarkan layanan melalui dari Amsterdam ke Barcelona melalui Prancis. Rute “jangka pendek” lainnya, yang dapat beroperasi dalam dua hingga tiga tahun, sebagian besar dibuat dengan menggabungkan layanan yang ada, adalah Brussels-Berlin- Warsawa; Roma-Zürich-Frankfurt-Amsterdam dan Barcelona-Lyon-Frankfurt-Berlin.

Jangka panjang, jaringan koneksi siang hari TEE2.0 yang diperluas akan dimungkinkan oleh infrastruktur baru untuk dibuka dalam dekade berikutnya, termasuk Stockholm dan Kopenhagen ke Paris serta Munich, ditambah Roma-Berlin dan Paris-Budapest. Waktu perjalanan ujung ke ujung 12-15 jam akan dimungkinkan dengan kereta api.

Namun, karena sebagian besar perjalanan ini dapat dilakukan dalam 2-3 jam penerbangan langsung, nampaknya sebagian besar penumpang hanya melakukan perjalanan sebagian dari setiap rute, karena beberapa kota besar dihubungkan oleh setiap layanan yang diusulkan. Rencana TEE2.0 juga mencakup proposal untuk jaringan kereta malam baru yang akan menawarkan kereta tidur atau sofa ‘berkualitas tinggi’ di beberapa rute panjang seperti Paris-Warsawa, Berlin-Roma, atau Frankfurt-Barcelona dalam jangka pendek (kemungkinan akan tidak sebelum 2025).

Dalam jangka panjang, setelah penyelesaian terowongan Fehmarnbelt antara Denmark dan Jerman pada tahun 2028, layanan Stockholm-Paris atau Amsterdam dan Stockholm-Vienna dapat ditambahkan. Tidak jelas bagaimana layanan tersebut akan didanai, karena banyak rute semalam Eropa jarak jauh telah ditutup karena kurangnya profitabilitas.

Perusahaan swasta telah menawarkan beberapa layanan semalam dengan basis profit. Perusahaan Prancis Transdev, yang beroperasi di Swedia sebagai “Snälltåget,” berencana menawarkan kereta malam Stockholm-ke-Berlin mulai 2021. RDC Deutschland, yang dimiliki oleh Rail Development Corp yang berbasis di AS, beroperasi dari Jerman ke Austria.

Baca juga: Bingung Pilih Kereta atau Pesawat Ketika Berlibur ke Eropa? Simak Ini!

Usulan tersebut disambut positif oleh pejabat transportasi dari negara anggota UE dan beberapa perusahaan kereta api negara. Apakah perjalanan kereta berkecepatan tinggi lebih dari 12 jam benar-benar akan menggantikan penerbangan 2-3 jam masih harus dilihat.

Hari ini, 85 Tahun Lalu, Perwira Angkatan Darat AS Berhasil Pecahkan Rekor Balon Udara Tertinggi

Pada hari ini, 85 tahun lalu, bertepatan dengan 11 November 1935, dua perwira Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (AS), A. W. Stevens dan O. A. Anderson berhasil memecahkan rekor ketinggian balon udara. Bersama balon udara Gondola Explorer II, keduanya berhasil mencapai 22.066 km, sedikit lebih tinggi dari rekor sebelumnya pada tahun 30 Januari 1934 yang mencapai ketinggian 21.946 km.

Baca juga: Hari ini, 223 Tahun Lalu, Perancis Jadi Saksi Penggunaan Parasut Pertama di Dunia

Selain memecahkan rekor penerbangan balon udara tertinggi di dunia, pencapaian keduanya juga terasa amat spesial lantaran rekor tersebut mampu bertahan selama 21 tahun, sebelum akhirnya Malcolm D. Ross dan M. L. Lewis, perwira Angkatan Laut AS, melampaui rekor tersebut dengan penerbangan balon udara mencapai ketinggian 23.165 km pada 8 November 1956.

Hal itu merupakan rekor kedua terlama yang bertahan di abad ke-20 setelah rekor penerbangan balon udara tertinggi oleh Nicholas Piantanida pada tahun 2 Februari 1966 yang mencapai ketinggian 37,700 m. Rekor tersebut setidaknya bertahan selama 46 tahun sebelum akhirnya kembali dipatahkan oleh rekor yang dicetak Felix Baumgartner pada tahun 14 Oktober 2012 di ketinggian 38,969 m.

Dilansir Britannica, perjalanan memecahkan rekor balon udara tertinggi oleh kedua perwira tentara AS itu, khususnya Albert William Stevens, telah dimulai sejak 29 Juli 1934. Saat itu, Stevens dan dua perwira Korps Udara Angkatan Darat lainnya, Mayor William Kepner dan Kapten Orvil Arson Anderson, terbang dengan balon udara yang dirancangan khusus bernama Explorer I, di langit Nebraska, AS, untuk memecahkan rekor penerbangan balon udara berawak tertinggi saat itu (21.946 km yang dicetak pada 30 Januari 1934).

Sayangnya, saat mendekati rekor ketinggian itu, selubung balon pecah dan seketika gondola jatuh menghantam daratan. Beruntung, Stevens dan kedua awak balon berhasil melarikan diri dan terjun payung dengan selamat.

https://www.youtube.com/watch?v=XkZWfyoLoFA&feature=emb_title

Penasaran, Stevens memulai misi memecahkan rekor penerbangan balon udara tertinggi pada 11 November 1935. Kala itu Stevens, yang merupakan seorang fotografer udara, bersama dengan Kapten Anderson, berhasil mematahkan rekor sebelumnya setelah berhasil mencapai ketinggian 72.395 kaki (22.066 m) dengan menggunakan balon udara khusus hasil pengembangan dari Gondola Explorer I.

Setelah terbang dari Stratobowl, dekat Rapid City, South Dakota, AS, tempat yang sebetulnya tak terlalu jauh dari lokasi penerbangan Gondala Explorer I, dengan disaksikan oleh 20 ribu pasang mata dan jutaan pasang telinga melalui siaran langsung radio NBC, A. W. Stevens dan O. A. Anderson resmi mematahkan rekor sebelumnya setelah melalui perjalanan panjang selama 8 jam 13 menit dan menempuh jarak 362 km dengan balon udara Gondola Explorer II. Rekor tersebut terus bertahan selama 21 tahun hingga tahun 1956.

Atas dua aksi heroiknya itu, ia pun dianugerahi Distinguished Flying Cross. Setelah melanglangbuana hingga ke Stratosfer, lapisan kedua dari lima lapisan di atmosfer yang menyelimuti bumi, veteran Perang Dunia II ini akhirnya meninggal di usia 63 tahun di Redwood City, California, AS.

Baca juga: Hari Ini, 88 tahun Lalu, Wolfgang von Gronau Keliling Dunia Selama 111 Hari Pakai Pesawat Amfibi

Sejak rekor balon udara tertinggi sekaligus penerbangan balon udara pertama di dunia dicetak oleh Jean-François Pilâtre de Rozier dari Perancis pada 15 Agustus 1783, dengan ketinggian hanya mencapai 24 meter, selama bertahun-tahun, silih berganti, tokoh-tokoh penerbang balon udara lainnya muncul dari berbagai penjuru dunia dan saling mematahkan rekor satu sama lain.

Saat ini, rekor penerbangan balon udara berawak tertinggi di dunia dipegang oleh Alan Eustace, senior vice president Google corporation, pada 24 Oktober 2014, setelah mencapai ketinggian 41,424 meter. Rekor tersebut dicapai dalam misi StratEx yang dijalankan Paragon Space Development Corporation.

Untuk Pertama Kalinya, Virgin Hyperloop One Uji Coba Pod Berpenumpang

Virgin Hyperloop One untuk pertama kalinya melibatkan dua orang penumpang dalam rangka uji coba pod futuristiknya. Sistem transportasi ultra cepat yang ide awalnya berasal dari bos Tesla, Elon Musk, ini disebut telah menempuh jalur uji 500 meter dalam 15 detik dengan kecepatan mencapai 160 km per jam, cukup jauh tertinggal dari target besar perusahaan mencapai 1.000 km per jam.

Baca juga: Virgin Hyperloop One Coba Jajaki Mumbai dan Pune

Dilansir theverge.com, uji coba berlangsung di jalur uji DevLoop, Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat pada Minggu, 8 November 2020, melibatkan dua orang. Dua orang penumpang tersebut tak lain tak bukan adalah Chief Technology Offiecer Virgin Hyperloop, Josh Giegel dan Director of Passenger Experience Virgin Hyperloop, Sara Luchian.

“Perjalanannya mulus dan sama sekali tidak seperti rollercoaster, meskipun akselerasinya lebih cepat daripada dengan trek yang lebih panjang,” kata Luchian.

Kedua orang itu menjadi penumpang kapsul Virgin Hyperloop tanpa mengenakan baju khusus. Hal ini sekaligus membantah kritikan bahwa penumpang Virgin Hyperloop harus mengenakan baju khusus karena kecepatannya yang ekstrem.

Kapsul yang diberi nama Pegasus itu kemudian melaju dengan kecepatan 160 km per jam di sepanjang lintasan, sebelum melambat hingga berhenti. Jalur lintasan uji DevLoop memiliki panjang 500 meter dan diameter 3,3 meter. Lintasan ini terletak sekitar 30 menit dari Las Vegas, di tengah gurun yang suatu hari bisa dilintasi oleh pod hyperloop dalam beberapa menit.

Pod Virgin Hyperloop One. Foto: Virgin Hyperloop One

Perusahaan tersebut mengatakan telah melakukan lebih dari 400 tes di jalur itu, tetapi belum pernah sekalipun pod Virgin Hyperloop One melakukan uji coba penumpang.

“Tidak ada yang melakukan sesuatu yang mendekati apa yang kita bicarakan saat ini,” kata Jay Walder, CEO Virgin Hyperloop.

“Ini adalah skala penuh, hyperloop yang berfungsi tidak hanya akan berjalan di lingkungan vakum, tetapi akan memiliki seseorang di dalamnya. Tidak ada yang mendekati melakukannya,” tambahnya.

Dalam uji cobanya, kapsul Pegasus masih berukuran kecil, namun perusahaan berharap sistem transportasi itu akan mampu membawa 23 penumpang sekaligus dengan ukuran yang besar pula. “Beratnya 2,5 ton dan panjangnya sekitar 15-18 kaki,” kata Giegel.

Virgin Hyperloop bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan konsep serupa. Namun sejauh ini, belum ada yang perusahaan yang mencoba membawa penumpang sebelumnya.

Konsep yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam pengembangan, dibangun di atas proposal oleh pendiri Tesla, Elon Musk. Beberapa kritikus menggambarkannya sebagai fiksi ilmiah.

Konsep ini didasarkan pada kereta levitasi magnetik (maglev) tercepat di dunia, kemudian dibuat lebih cepat dengan mempercepat di dalam tabung hampa udara. Proposal dari Elon Musk tersebut kemudian dilirik oleh Sir Richard Branson, sang konglomerat pemilik maskapai Virgin Australia dan Virgin Atlantic Airways, hingga berdirilah Virgin Hyperloop One.

Baca juga: Virgin Hyperloop One Bangun Pusat Penelitian di Andalusia

Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada tahun 2018, mantan bos Virgin Hyperloop One, Rob Lloyd, mengatakan bahwa kecepatan secara teori akan memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan antara bandara Gatwick dan Heathrow, yang terpisah sejauh 45 mil di sisi berlawanan dari London, dalam empat menit.

Virgin Hyperloop yang berbasis di Los Angeles juga mengeksplorasi konsep di negara lain. Seperti koneksi hipotesis 12 menit antara Dubai dan Abu Dhabi, yang memakan waktu lebih dari satu jam dengan transportasi umum.