Hasil Riset: Pasca Covid-19 Penumpang Inginkan WiFi Onboard dan Leg Room Lebih Luas

Belum lama ini, Inmarsat, operator telepon satelit tertua asal Britania Raya yang beroperasi sejak tahun 1979, meluncurkan hasil riset terbaru terkait keinginan penumpang pesawat saat pandemi Covid-19 berakhir , yang bertajuk Passenger Confidence Tracker.

Baca juga: Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan?

Riset yang dimulai sejak Oktober lalu, dengan dibantu oleh firma riset Yonder, tersebut melibatkan sekitar 10 ribu frequent flyer atau responden yang dalam kurun waktu minimal 18 bulan terakhir bepergian satu kali dengan pesawat terbang.

Dalam riset atau penelitian tersebut, seperti dikutip dari Simple Flying, Inmarsat coba mendalami keinginan penumpang pesawat setelah kondisi kembali normal. Dalam penelitian itu ada banyak sekali hal yang ingin diketahui dari penumpang. Salah satu bidang utamanya adalah persepsi mereka tentang teknologi dan digitalisasi maskapai penerbangan.

Di antara persepsi tentang teknologi dan digitalisasi maskapai penerbangan, mayoritas responden melihat inflight WiFi sebagai hal yang terpenting. Inflight WiFi atau WiFi onboard dinilai akan berperan penting dalam memastikan penerbangan berlansung dengan menyenangkan. Setidaknya ada 39 persen penumpang dari jumlah total keseluruhan responden yang berpendapat seperti itu. Bahkan, penumpang tersebut mengaku akan memilih maskapai yang menyediakan inflight WiFi sebagai pilihan utama.

Anehnya, dari 39 persen penumpang yang memandang inflight WiFi penting untuk dihadirkan dalam penerbangan pasca pandemi Corona berakhir, ternyata datang dari kelompok usia 35-44 tahun. Dari semua kelompok di bawah 54 tahun, rentang usia tersebutlah yang paling tinggi mendorong adanya inflight WiFi, bukan generasi millenial atau rentang usia 25-40 tahun. Padahal, selama ini, millenial dianggap memiliki kebutuhan WiFi onboard yang tinggi saat di pesawat.

Pasca pandemi virus Corona, kehadiran inflight WiFi akan melengkapi faktor kenyamanan penumpang dengan adanya leg room yang lebih luas hingga 43 persen dari luas yang ada saat ini serta service experience dan free bagasi, sebagai tiga yang terpenting.

Kebutuhan WiFi untuk penumpang pesawat agaknya sudah mulai diendus oleh Qatar Airways, jauh sebelum Inmarsat, yang notabene kondang dikenal sebagai penyedia WiFi onboard, merilis penelitian terkait itu.

Pada September lalu, Qatar Airways, salah satu maskapai paling tajir di dunia, merayakan peluncuran pesawat ke-100 miliknya yang memiliki konektivitas ‘Super WiFi’ berkecepatan tinggi (in-flight broadband) yang membuat para penumpang dapat tetap terhubung dengan keluarga, kerabat, dan rekan kerja mereka ketika sedang berada di pesawat.

Pesawat ke-100 dengan koneksi Super WiFi tersebut adalah Airbus A350-900 dengan nomer registrasi A7-ALC. Bertindak sebagai provider akses internet adalah perusahaan komunikasi satelit seluler global, Inmarsat. Mengutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (14/9/2020), disebutkan layanan ini hadir di seluruh armada maskapai sejak peluncurannya pada 2018.

Baca juga: Gara-gara Hotspot WiFi ‘Nyala’ di Kabin, Dua Penumpang Diturunkan dari Pesawat!

Para penumpang Qatar Airways yang berada pada penerbangan dengan GX Aviation dapat menerima hingga satu jam akses gratis ke layanan Super WiFi, dengan pilihan untuk membeli akses penuh selama penerbangan, jika membutuhkan lebih banyak waktu untuk online.

“Karena pada masa yang sulit ini, terhubung dengan orang-orang terkasih dan teman-teman menjadi lebih penting dari sebelumnya, kami sangat bangga untuk bekerja sama dengan Inmarsat dan teknologi GX Aviation untuk menghadirkan broadband Super WiFi berkecepatan tinggi,” ujar Kepala Eksekutif Grup Qatar Airways, Akbar Al Baker.

“Ticc” Mudahkan Pesepeda Memberikan Tanda Belok pada Pengendara Lain

Ketika sepeda kembali berjaya di masa pandemi saat ini, banyak kalangan yang menggunakannya baik sebagai alat transportasi menuju ke tempat kerja maupun hanya untuk berolahraga. Tak hanya itu, karena hal tersebut, maka perangkat untuk kelengkapan sepeda pun semakin banyak, seperti helm, masker, lampu hingga lampu sein untuk memberitahukan pengendara lain ketika sepeda berbelok.

Baca juga: Berkat Teknologi GPS, Lampu Sein di Sepeda Bisa Menyala Otomatis

Salah satunya akan dibahas oleh KabarPenumpang.com yakni sein sepeda yang mana ada kemungkinan indikator sein LED sepeda banyak di pasaran dan mengharuskan pengemudi untuk menekan tombol yang berada di stang. Ini terlihat seperti tombol di sepeda motor, namun untuk mencari kemudahan dan membuatnya lebih sederhana serta aman, perangkat ticc justru mengaktifkan sein melalui head-tilts.

Dilansir dari newatlas.com (12 /11/2020), ticc sendiri dikembangkan oleh sekelompok pengusaha yang berbasis di Bercelona. Bentuknya cakram dengan cincin LED RGB di sekelilingnya dan tahan air. Ini cukup mudah digunakan yakni bisa di pasang di helm menggunakan dudukan magnet neodymium yang memudahkan untuk di copot kembali.

Dalam mode default ticc, semua LED menyala merah seperti lampu belakang standar. Namun, ketika pengguna dengan sengaja memiringkan kepalanya ke satu sisi atau sisi lain, LED di sisi perangkat tersebut mulai berkedip hijau secara berurutan, yang menunjukkan arah belokan yang akan datang.

Untuk memberi tahu pengendara bahwa itu memang telah diaktifkan, ticc juga berbunyi bip saat berkedip dengan nada berbeda untuk setiap sisi. Bunyi bip dan kedipan berlanjut hingga dibatalkan dengan kepala miring ke sisi yang berlawanan.

Selain itu ada juga mode lampu rem, di mana semua LED berkedip merah terang saat diaktifkan dengan menundukkan kepala ke depan. Perangkat mengeluarkan 60 lumens, memiliki sudut pandang 180 derajat dan diisi ulang melalui kabel USB. Saat mengisi daya, level baterainya ditunjukkan oleh jumlah LED yang menyala.

Baca juga: Pengemudi Ojek Sepeda di Kigali Wajib Pakai Helm

Bahkan ticc saat ini menjadi subjek kampanye Kickstarter. Dengan asumsi itu mencapai produksi, janji sebesar €49 (sekitar Rp822 ribu) untuk satu ticc. Kehadiran ticc, diharapkan akan lebih baik daripada Bigo yang merupakan indikator belok LED yang diaktifkan dengan kepala, tetapi itu tidak mencapai tujuan Kickstarter-nya.

Sadar Hidupnya Tak Lama Lagi, Nenek 104 Tahun Maksa Ingin Terbang dengan Helikopter

Entah apa yang ada dibenak Agnes Van Put. Nenek berusia satu abad lebih empat tahun (104) itu memaksa terbang dengan helikopter. Sadar keinginan Agnes harus dituruti, keluarga dibantu pihak terkait pun akhirnya membawanya terbang dengan bantuan pilot lokal di sekitaran rumah tinggalnya, di Sullivan County, New York, Amerika Serikat.

Baca juga: Bertukar Kursi di Penerbangan, Nenek ini Akhirnya Mewujudkan Mimpi Duduk di Kelas Satu

Dilansir recordonline.com, Agnes sebetulnya telah meminta dibawa terbang dengan helikopter sejak awal tahun lalu. Namun, karena pandemi Corona sedang mengganas di dunia, termasuk AS, sampai beberapa waktu belakangan, Anggota Dewan Kota New York, Aileen Gunther, yang mengagumi sosok Agnes sekaligus mengklaim ‘teman’ Agnes, belum bisa mewujudkan keinginannya itu.

Setelah kembali memaksa ingin mewujudkan salah satu keinginannya karena sadar umurnya tak akan lama lagi, Gunther pun mengamininya. Dengan dibantu pilot Michael Croissant, Agnes dan Gunther diajak terbang keliling Sullivan County menggunakan helikopter milik pengusaha terkenal di wilayah tersebut.

Dalam penerbangan di ketinggian sekitar 2.000 kaki itu Agnes berkesempatan melihat keindahan alam Sullivan County sambil melihat kasino Resorts World Catskills di kota Thompson, Bethel Woods, hingga rumah Aileen Gunther di Forestburgh dari ketinggian.

“Sungguh menakjubkan melihat seperti apa (daratan) dari atas,” kata Agnes Van Put saat ditanyai wartawan, tak lama setelah helikopter mendarat.

Menariknya, dari daftar keinginan Agnes di sisa umurnya itu, ia juga ingin untuk terakhir kalinya mengendarai mobil Ford Roadster keluaran 1920. Ia, yang kesehariannya menghabiskan waktu duduk di teras depan rumah sambil menikmati sup dan kue khas desa tempatnya bermukim, mengaku akan sangat senang bila sebelum hidupnya berakhir bisa duduk di kursi kemudi sambil berkeliling kota mengendari mobil tersebut.

Seiring bertambahnya usia, terkadang lansia memiliki keinginan lebih dari sekedar menghabiskan sisa umurnya. Agnes mungkin salah satunya. Selain nenek Agnes, tentu masih banyak di luar sana nenek atau lansia yang berusaha untuk mewujudkan daftar impiannya. Seperti apa yang dilakukan Jo Ann Ussery, nenek 78 tahun asal Benoit, Mississippi, Amerika Serikat (AS). Jo Ann mengaku sangat ingin mempunyai rumah tinggal dari sebuah pesawat Boeing 727 yang dimodifikasi.

Baca juga: Dengan Kocek Kurang dari Rp500 Juta, Nenek 78 Tahun Sulap Boeing 727 Jadi ‘Little Trump’

Dikutip dari mirror.co.uk, ide untuk mengubah Boeing 727 menjadi sebuah huniah idaman sebetulnya diawali dengan musibah yang menimpa Jo Ann. Saat itu, rumahnya hancur diterjang badai es beberapa tahun lalu. Menyikapi hal itu, sang kakak ipar, Bob Farrow, yang bekerja sebagai air traffic control di bandara sekitar, menyarankan agar Jo Ann membeli pesawat tersebut seharga US$2.000 atau Rp29 juta (kurs Rp15.012) untuk diubah menjadi hunian idaman.

Setelah pesawat berpindah tangan, bermodal sekitar US$30.000 atau Rp446 juta (kurs 15.012), ia pun mulai menyulapnya menjadi hunian idaman hari tua dengan berbagai fasilitas layaknya rumah pada umumnya, seperti penghangat ruangan, listrik, tiga kamar tidur, lounge, dapur, tempat cuci baju, tempat cucian piring, pendingin ruangan, oven, mesin cuci, hot-tub, dan sejumlah fasilitas lainnya.

Hyper-Tube Akan Jadi Kereta Berkecepatan Tinggi dengan Tekanan Rendah

Kereta berkecepatan tinggi terus dikembangkan, salah satunya adalah kecepatannya yang ditonjolkan. Seperti dalam uji coba aerodinamis di Korea Selatan, di mana kereta berkecepatan tinggi yang dilengkapi dengan teknologi baru mencapai kecepatan seribu kilometer per jam. Model kereta baru ini dikenal dengan nama hyper-tube yang sudah diuji pada 11 November 2020 kemarin.

Baca juga: Gunakan Teknologi 5G, Kereta Otonom di Korea Selatan dalam Fase Uji Coba

Sebelumnya kereta tercepat diketahui hanya mencapai 600 km per jam dan dengan kesuksesan hyper-tube ini, maka kecepatan yang lebih tinggi bisa untuk dimaklumi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman somagnews.com (12 /11/2020), kecepatan seribu kilometer per jam tersebut setara dengan penerbangan internasional.

Menurut detail yang diumumkan, model uji 1/17 yang dikembangkan oleh Institut Penelitian Kereta Api Korea (KRRI) merupakan konsep kereta cepat yang mana hambatan udara diminimalkan. Sehingga bisa dikatakan ketika mencapai dimensi aslinya 1/1, maka jumlah udara yang harus ditahan, bobot dan waktu percepatan maksimum pun dapat berubah.

Selama pengujian, hyper-tube rupanya mampu menstabilkan tekanan atmosfer hingga 0,001 ATM. Tekanan atmosfer sendiri bisa dikurangi menjadi 1 ATM di semua kereta lain yang diketahui hingga saat ini.

Bisa dikatakan kehadiran hyper-tube tidak hanya menjadi konsep kereta cepat, tetapi juga menjadikannya konsep kereta dengan tekanan rendah. Nantinya versi ukuran penuh akan di uji pada 2022 mendatang dan hyper-tube bisa saja menjadi pesaing hyperloop.

Meski belum ada gambaran resmi yang diterbitkan oleh KRRI terkait tahapan tes versi ukuran penuh, bahkan menurut informasi, kereta ini akan bersaing dengan milik Elon Musk. Diharapkan, kereta hyper-tube akan diuji pada tingkat 1/1 pada tahun 2022.

Baca juga: Hilangkan Kursi Tengah di Kereta Berkecepatan Tinggi, Texas Train Berharap Beroperasi di 2026

Komponen utama dari sistem yang digunakan di kereta berkecepatan tinggi Elon Musk dan hyperloop lainnya adalah tekanan udara. Namun, komponen dasar Hyper-tube adalah gaya tolak magnet yang diciptakan oleh magnet raksasa. Tahun 2020-an tampaknya menjadi periode persaingan antarbenua di mana kita akan melihat rekor baru dalam teknologi perkeretaapian.

Masih Sempurnakan Kelengkapan, Soft Launching KRL di Daop 6 Yogyakarta Diundur

Untuk menunjang kelengkapan Kereta Commuter Indonesia di Yogyakarta, satuan kerja masih melakukan penyelesaian pekerjaan. Direktur Utama PTK KCI Wiwik Widayanti mengatakan, sedangkan untuk sarananya sudah siap beroperasi.

Baca juga: Jelang Elektrifikasi Jalur Kereta Yogyakarta-Solo, PT KCI Kelola Pengoperasian KA Prameks

Wiwik menyebutkan dua train set sudah siap untuk saat ini tengah dalam uji coba di Jakarta dan untuk uji coba di Yogyakarta sendiri, akan terlaksana pada bulan November. Hal ini karena masih ada beberapa pekerjaan yang masih dilakukan seperti tempat untuk perawatan kerta.

“Pembangunan kan terus bertahap ini sehingga di Oktober akhir itu nanti akan ada uji sistem semuanya, harapannya seperti itu. Tapi kami menunggu kepastian dari satuan kerja,” kata Wiwik yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com (12 /11/2020).

Namun sayangnya soft launcing kereta rel listrik atau KRL di Yogyakarta yang harusnya berlangsung awal November ini terpaksa mundur. Mundurnya soft launching tersebut karena KCI masih menyempurnakan uji coba terhadap train set serta kelengkapan penunjang lainnya.

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Budiyanto menjelaskan, bahwa KRL adalah proyek milik Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan RI. Di mana operatornya adalah PT KCI. Namun karena lokasinya KRL berada di Yogyakarta, Eko menjelaskan alasan mundurnya soft launching KRL.

“Uji coba ini terus berlangsung, tapi melihat kondisi saat ini perlu penyempurnaan. Sehingga soft launching yang sedianya berlangsung awal bulan November terpaksa mundur,” katanya.

Eko menyebutkan, uji coba sudah berlangsung sejak 4 November yang berjalan dari Prambanan menuju Klaten. Nantinya akan dilanjutkan dari Lempuyangan menuju ke Klaten secara bertahap.

“Intinya uji coba terus berlangsung baik sarana dan prasarananya. Seperti kekurangan apa, buka pintu bagaimana caranya, daya listrik bagaimana, tracknya. Mengingat dalam pengoperasiannya KRL selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Nanti kalau sudah fix, baru (soft launching),” ujarnya.

Baca juga: Electric Multiple Unit, Inilah Basis Teknologi KRL di Indonesia

Untuk Diketahui, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menugaskan anak usahanya, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengoperasikan kereta api lokal di Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Yogyakarta menjadi kota kedua setelah Jakarta dan untuk ujicoba akan berlangsung bulan November.

Mencekam! Begini Detik-detik Penumpang Histeris Saat Pesawat Terbakar Akibat Bird Strike

Belum lama ini, sebuah pesawat Boeing 737 dilaporkan tiba-tiba berguncang hebat saat melakoni penerbangan malam hari. Sejurus kemudian, mesin sebelah kiri pesawat diliputi asap disusul api. Pesawat diduga menabrak kawanan angsa yang tengah bermigrasi atau bird strike. Akibatnya penumpang pun menjadi histeris.

Baca juga: Ngeri! Inilah Video Detik-detik Boeing 767 Atlas Air Terbakar Saat di Udara

Dilansir thesun.co.uk, pesawat dari maskapai SCAT Airlines, dengan nomor penerbangan DV766 ini mula-mula terbang dengan mulus. Namun, saat diperjalanan, pesawat tiba-tiba berguncang dengan amat keras. Awalnya, penumpang masih mencari-cari penyebab guncangan tersebut tanpa diliputi rasa cemas berlebih.

Akan tetapi, dalam sebuah video viral, setelah seorang penumpang melihat ada api di mesin sebelah kiri dan diamini oleh penumpang lainnya, seorang penumpang pun histeris dan menyebut, “Apakah (pesawat) kita terbakar? Apakah (pesawat) kita terbakar? (pesawat) kita terbakar,” katanya. Penumpang lainnya juga tak kalah histeris dengan melantunkan doa-doa seolah pesawat akan berakhir nahas dan merenggut nyawa mereka semua.

Pesawat yang berangkat dari Atyrau, dekat Laut Kaspia, menuju ibu kota Nur-Sultan, Kazakhtan itu pun akhirnya dilaporkan berhasil mendarat darurat dengan selamat beberapa waktu setelah diketahui salah satu mesinnya terbakar.

Setelah mendarat, sebuah video menunjukkan bulu-bulu dari kawanan angsa tersebut masih menempel di mesin pesawat. Dalam video tersebut pula, bilah-bilah mesin pesawat tampak rusak akibat insiden bird strike itu.

Insiden mesin terbakar belum lama ini, tepatnya pada akhir September lalu, juga pernah terjadi. Sebelumnya, sebuah penerbangan charter Atlas Air belum lama ini dikabarkan terbakar saat di udara. Dalam video yang beredar, sumber api diketahui berasal dari mesin sebelah kanan dan membuat kabin yang gelap gulita menjadi berwarna merah menyala akibat kobaran api.

Dari laporan 6abc.com, pihak maskapai sendiri mengakui adanya kejadian tersebut. Melalui sebuah penyataan, salah satu raksasa kargo dan charter di dunia ini menyebut api berkobar akibat kerusakan di salah satu mesin pesawat.

Baca juga: Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

“Penerbangan penumpang Atlas Air mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Daniel K. Inouye di Honolulu menyusul masalah mekanis dengan satu mesin. Di Atlas, keselamatan selalu menjadi prioritas utama kami dan kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebabnya,” bunyi penyataan maskapai.

Insiden mesin terbakar bermula saat pesawat Boeing 767 milik maskapai penerbangan Atlas Air lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Hickman, Honolulu, Hawaii, menuju ke Guam, Barat Samudera Pasifik, Amerika Serikat(AS). Beberapa menit berselang, mesin pesawat widebody dengan lebar terkecil di dunia yang memuat anggota militer ini terbakar dan pesawat terpaksa melakukan pendaratan darurat di Honolulu. Beruntung, tak ada korban tewas atas insiden tersebut.

(Video) Boeing 747 Ex Cathay Pacific Ditabrakkan dengan Sengaja ke Hanggar

Belum lama ini, sebuah video yang menunjukkan pesawat Boeing 747-200F Norskfreight dengan sengaja ditabrakkan ke hanggar beredar luas. Usut punya usut, pesawat di video yang menjadi bagian dari trailer film Tenet itu rupanya ex pesawat Cathay Pacific yang sudah purna tugas sejak 2009 silam. Adapun livery Norskfreight merupakan maskapai khayalan; termasuk nomor registrasi pesawat LN-WTJK yang juga palsu.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Dilansir Simple Flying, pesawat dengan nomor registrasi asli B-HMD itu awalnya mangkrak, sebagaimana pesawat lain pada umumnya yang sudah purna tugas, di kuburan pesawat di Davis-Monthan Air Force Boneyard atau The Boneyard, Tucson, Arizona, Amerika Serikat.

Saat hendak mencari lokasi syuting di dekat Victorville, California, sang sutradara film Tenet, Christopher Nolan, melihat banyak pesawat yang dinilai masih bagus namun mangkrak di kuburan pesawat itu.

Seketika, ia pun terpikir untuk membeli dan menggunakannya sebagai properti syuting film terbarunya itu, ketimbang menggunakan CGI (computer-generated imagery). Terlebih, ia pernah merencanakan hal serupa di film sebelumnya sekalipun gagal. Lagi pula, harga pesawat pesawat bisa dibilang cukup terjangkau.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, harga pesawat Boeing 747 bekas di pasaran memang tergolong murah sekalipun semuanya tergantung tahun produksi. Jadi, sangat relatif. Misalnya, di situs telstarlogistics.typepad.com Boeing 747-200 keluaran tahun 1970-an dibanderol sekitar $100,000 atau Rp1,4 miliar lebih (kurs 14,6210).

Di situs lainnya, Boeing 747-400F keluaran tahun 2013 masih dibanderol dengan harga tinggi, mencapai $29,700,000 atau lebih dari Rp419 miliar (kurs 14,6210). Adapun pesawat yang digunakan Christopher Nolan untuk diledakkan dalam salah satu adegan di film Tenet tidak disebutkan dengan rinci jenis dan tahun pembuatannya.

Hanya saja, dari kode registrasi pesawat yang terlihat dalam trailer Tenet tercantum kode registrasi sebagai LN-WTJK. Menurut planespotters.net, pesawat Boeing 747 dengan kode registrasi tersebut adalah Boeing 747-200F berumur 40 tahun 3 bulan atau produksi tahun 1980-an. Dengan harga pasaran yang sudah disebutkan di atas, terbayang bukan nilai investasi untuk meledakkan sebuah pesawat Boeing 747-200F?

Aksi Christopher Nolan menggunakan pesawat asli untuk dihancurkan dalam proses produksi sebuah film bukan pertama kalinya. Pada 2016 lalu, sutradara, penulis, dan produser berkebangsaan Inggris ini juga pernah memperjuangkan agar film besutannya dan Emma Thomas menggunakan pesawat asli Spitfires dan HA-1112 Buchón buatan Spanyol (versi lisensi dari Messerschmitt Bf 109).

Baca juga: Awas, Asteroid Sebesar Boeing 747 Tabrak Orbit Bumi 7 Oktober!

Namun, entah bagaimana proses pergolakan di dalam tubuh tim, pada akhirnya, adegan yang sudah dirancang Nolan dengan pesawat asli harus berakhir pupus. Disebutkan, adegan di film Dunkirk yang dimaksud hanya menggunakan replika pesawat.

Sebagai informasi, Christopher Nolan belum lama ini meluncurkan trailer kedua film terbarunya Tenet. Film yang digadang-gadang dibumbui degan adegan-adegan menarik itu menurut salah satu aktornya, John David Washington, justru memiliki jalan cerita atau plot yang absurd. Pendapat itu pun juga diamini oleh aktor-aktor lainnya dalam film tersebut. Walau penuh dengan ketidakpastian akibat wabah corona, Tenet akhirnya tetap dirilis pada 3 September di AS dan sudah meraup Rp 297 miliar tak lama setelah tayang perdana.

Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata

Industri pariwisata di dunia terhenti sementara akibat pandemi Covid-19. Namun meski begitu analis masih berharap pertumbuhan pariwisata terus berlanjut setelah vaksin tersedia. Apalagi jika koneksi jaringan seluler sudah 5G yang mana bisa lebih cepat, lebih andal dan menjangkau jauh sehingga bisa dimanfaatkan pada industri pariwisata.

Baca juga: Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone

Bahkan dengan jaringan seluler 5G, interaksi terbatas karena pandemi ini dapat mengaktifkan semua jenis kasus penggunaan jarak jauh seperti pembayaran tanpa kontak, pemantauan robot, kendaraan antar jemput tanpa pengemudi dan banyak hal lainnya. Nah KabarPenumpang.com merangkum dari 5gradar.com (12/11/2020), cara utama 5G dapat mengubah pariwisata.

1. Pemantauan robot di bandara dan sekitarnya
Salah satu penggunaan teknologi 5G yang menarik perhatian adalah robot patroli. Robot ini digunakan di area sibuk seperti bandara yang tugasnya untuk memantau warga serta memastikan bahwa orang menggunakan masker mereka saat berada di ruang publik. Robot ini dikembangkan oleh Guangzhou Gosuncn Robot Company, dengan dukungan tambahan dari spesialis perangkat keras dan perangkat lunak IoT, Advantech. Robot patroli tersebut sudah disebarluaskan selain bandara yakni di pusat perbelanjaan di Guangzhou, Shanghai, Xi’an dan Guiyang.

2. Daya tarik kota yang terhubung
Kehadiran jaringan 5G, membantu pelancong menjelajahi tujuan dengan lebih mudah bahkan memungkinkan membuat reservasi restoran dan tiket atraksi secara online lebih cepat. Dalam uji coba pedesaan 5G baru-baru ini, telah menunjukkan potensi untuk mencapai hal ini bahkan di tempat wisata yang paling terpencil, membantu dewan wisata pedesaan yang lebih kecil dan kekurangan uang menawarkan tingkat pengalaman yang sama dengan yang ditemukan di kota-kota besar.

3. Pemberdayaan bisnis lokal
5G akan menjadi kunci bagi bisnis lokal yang mengandalkan pariwisata. Layanan seluler yang biasanya mengandalkan pembayaran tunai, seperti taksi dan van es krim, akan dapat terhubung ke jaringan 5G untuk menawarkan pembayaran kartu untuk pertama kalinya, terutama di daerah pedesaan. Demikian pula, toko-toko dan atraksi desa yang saat ini membayar biaya untuk menggunakan pembaca kartu tradisional akan dapat memanfaatkan pembaca seluler yang lebih murah dari orang-orang seperti iZettle dan Square.

4. Pentingnya berbagi sosial
Bagi para pelancong, segala hal yang difoto kerap kali menjadi lebih penting dibagikan di media sosial mereka baik itu ke WhatsApp, Instagram dan Facebook. Dengan membagikan ke media sosial, ini menjadi salah satu cara signifikan bagi destinasi mendapat publisitas gratis. Jaringan 5G tidak hanya berarti tempat-tempat wisata paling terpencil dan tersembunyi pun akan dapat memperoleh manfaat dari paparan semacam itu, bisnis ini berpotensi menghemat uang dengan tidak harus menyediakan jaringan WiFi yang mahal dengan bandwidth tinggi.

5. Perjalanan yang lebih mudah
Kehadiran jaringan 5G membuka jalan bagi miliaran lebih banyak sensor IoT untuk online, dan salah satu dampak paling signifikan yang akan ditimbulkan oleh sensor ini adalah pada transportasi. Di mana menyesuaikannya dengan gerbong kereta dan rel, teknisi akan dapat mendeteksi kesalahan sebelum terjadi, mengurangi penundaan liburan orang dan menghemat uang operator untuk perbaikan yang lama. Sensor semacam itu, ketika terhubung ke jaringan 5G berkecepatan tinggi, juga berarti penumpang bisa mendapatkan pembaruan waktu nyata di perangkat seluler mereka, membantu mereka merencanakan perjalanan dengan lebih efektif dan mengelola penundaan yang tidak dapat dihindari.

6. Bandara pintar
Sama seperti sensor IoT di kereta akan membantu pelancong melakukan perjalanan ke bandara dengan gangguan minimal, begitu mereka tiba di terminal, sensor dan jaringan berkemampuan 5G akan memainkan peran utama dalam memotong waktu tunggu dan memberikan pengalaman tanpa gesekan. Gatwick, misalnya, melalui kemitraannya dengan Pointr, adalah bandara pertama di dunia yang memasang 2000 suar yang membantu penumpang menavigasi terminalnya dan mendapatkan pembaruan akurat untuk informasi penerbangan dan gerbang. Toko-toko juga menggunakan suar ini untuk menyampaikan pesan pemasaran kepada wisatawan saat mereka menuju gerbang.

7. Asisten 5G dan robot
Pada Desember 2018 Helsinki menjadi bandara 5G pertama di dunia dan operatornya Finavia bermitra dengan Telco Finlandia untuk memperkenalkan agen layanan pelanggan robot bernama Tellu. Tellu tidak hanya membantu penumpang menemukan jalannya dan mendapatkan informasi tentang penerbangan mereka, kamera di dalam pesawat mengirimkan rekaman waktu nyata ke tim keamanan untuk mengawasi lapangan.

8. Hotel pintar
Penelitian telah menemukan bahwa WiFi adalah faktor terpenting saat memilih akomodasi untuk liburan dan pelancong bisnis dengan lebih dari setengah responden mengklaim kurangnya WiFi akan membuat mereka kehilangan lokasi. Namun para pelaku bisnis perhotelan mengatakan permintaan yang meningkat ini membebani bandwidth dan keamanan jaringan mereka. 5G akan menyelesaikan kedua masalah tersebut, menawarkan kecepatan tinggi untuk banyak perangkat sekaligus mengurangi beban pada jaringan Wi-Fi.

Baca juga: Gunakan Teknologi 5G, Kereta Otonom di Korea Selatan dalam Fase Uji Coba

Bandwidth gratis ini, dilengkapi dengan koneksi 5G yang andal, juga akan memungkinkan hotel menawarkan fitur pintar yang lebih canggih seperti lampu yang terhubung dan termostat pintar, seperti yang terlihat di Premier Inn Hub London, yang memungkinkan penumpang mengatur suhu kamar ideal dari jarak jauh sebelum kedatangan, atau matikan lampu dari panel kontrol layar sentuh di samping tempat tidur.

Kenapa Pilot Tak Banyak Memberikan Informasi Saat Terjadi Insiden? Inilah Alasannya

Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Dari jutaan penerbangan tersebut, pasti ada saja beberapa insiden kecil yang sempat membuat penumpang bertanya-tanya. Sebab, tidak ada informasi apapun selama insiden berlangsung. Paling-paling, pilot hanya memohon maaf atas ketidaknyamanan penumpang. That’s it, tidak lebih.

Di beberapa kasus, sikap pilot membatasi informasi ke penumpang justru membuat keadaan kian tak jelas. Awal Januari lalu, misalnya, penumpang Air India mengamuk lantaran pesawat tak kunjung lepas landas. Saat itu, penumpang sudah menunggu di dalam pesawat selama sekitar 1 jam.

Alih-alih berangkat, pesawat justru tetap berdiam diri di apron tanpa informasi apapun. Selama menunggu, penumpang hanya dibiarkan bertanya-tanya dan kebingungan sambil sesekali menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Setelah empat jam tertahan di kabin, seluruh penumpang akhirnya diizinkan turun dan kembali diberangkatkan empat jam kemudian. Itupun setelah seluruh penumpang kompak mengamuk. Bila tidak, mungkin penumpang hanya bisa gigit jarinya dibuatnya.

Berbagai spekulasi pun muncul. Ada yang menyebut bahwa pilot tak berwenang menjelaskan insiden apapun. Demikian juga dengan pramugari. Namun, ada pula yang menyebut bahwa dengan membatasi informasi, penumpang diharapkan menjadi tak khawatir. Padahal, fakta berkata sebaliknya.

Dilansir express.co.uk, terkait hal itu, Patrick Smith, pilot senior yang juga menulis buku Cockpit Confidential pun buka suara. Menurutnya, bukan masalah berwenang atau tidak, pilot pada umumnya memang diperintahkan tak berkata apapun saat terjadi insiden, baik insiden kecil maupun besar, baik saat pesawat masih di darat atau di udara.

“Dari semua staf di garda terdepan, pilot jadi yang paling berpotensi untuk menghilangkan kecemasan dan menjelaskan situasi yang terjadi,” tulis Smith dalam bukunya keluaran tahun 2013.

“Sayangnya, customer service training untuk pilot sangat minim dan salah satunya adalah kecenderungan untuk mengatakan sesedikit mungkin, semacam aturan untuk bisa mengelak. Ini jelas kontraproduktif, dan tidak pernah terdengar dari yang lebih dari itu (tidak pernah berkata banyak),” lanjutnya.

Sebagai pilot, Smith mengaku pernah melakukan itu. Pun demikian, sebagai penumpang pesawat, ia pernah diperlakukan seperti itu. Ia pun mengulang kejadian yang dialaminya di masa lalu. Kala itu, tepat sebelum mendarat, pilot mendadak batal approach dan go around mengelilingi bandara selama beberapa lama. Tidak ada alasan apapun terkait hal ini.

Sebetulnya, ia biasa saja, namun, ketika satu orang mulai merasa takut kemudian orang lain ikut merasa takut dan lambat laun ikut mempengaruhi seisi pesawat, ia pun pada akhirnya juga ikut merasa takut.

Menariknya, ketika penumpang diliputi rasa takut yang semakin mendalam, pilot dengan singkat hanya berkat, “Ah, mohon maaf atas ketidaknyamanannya.” Beberapa menit berselang, pilot kembali menjelaskan, “Pesawat lain memotong jalur kami dan tengah bertengger di runway. Jadi kami harus mengalah. Dalam beberapa menit, pesawat akan mendarat,” Jelasnya.

Baca juga: Mengenal “Go-Around,” Saat Pesawat Tak Jadi Mendarat Karena Beragam Faktor

Meski pilot sudah berbicara agak banyak, namun Smith tetap khawatir. Begitu pula penumpang lainnya. Di posisi inilah, ia berpandangan bahwa pilot mungkin bisa berbicara lebih banyak. Setiap ucapan pilot di posisi ini bisa berperan penting untuk menenangkan penumpang, layaknya sabda seorang nabi untuk para pengikutnya.

Namun demikian, karena ia juga seorang pilot dan ia tahu kondisi yang dialami pilot, ia mengungkap bahwa kuncinya ada di maskapai. Bagaimana perintah maskapai kepada pilot saat sebuah insiden terjadi itulah yang akan dijalankan oleh pilot. Tetapi, umumnya, pilot diminta untuk tak berbicara banyak. Sekalipun berbicara, pilot hanya diminta untuk menjelaskan singkat dengan diksi yang bisa membuat penumpang tenang, bukan sebaliknya.

Korea Selatan Berencana Luncurkan Taksi Terbang di 2025

Dalam waktu beberapa tahun mendatang, sepertinya rencana taksi terbang mulai mengudara akan terealisasi. Ini terlihat dari Kementerian Transportasi Korea Selatan yang mulai menguji layanan taksi udara tak berawak di kota Seoul.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Pihak Kementerian Transportasi mengatakan, taksi ini akan diluncurkan secepatnya pada tahun 2025. KabarPenumpang.com melansir laman metro.co.uk (11/11/2020), pemerintah Korea Selatan saat ini diketahui sudah menguji enam taksi drone di pinggiran Seoul. Dan, kini mereka akan menguji layanan tersebut di daerah yang padat yakni di Seoul untuk pertama kalinya. Drone bergaya Blade Runner tersebut merupakan armada taksi udara tanpa awak yang dibuat oleh Ehang di Cina.

Taksi terbang ini memiliki berat sekitar 650 kg per satu armada. Meski menggunakan taksi terbang buatan Cina, Korea Selatan tak hanya diam saja dan tengah mengembangkan sistem manajemen lalu lintas K-drone milik mereka sendiri dengan pembiayaan dari negara.

Pasalnya dilakukannya pengembangan sistem tersebut karena Korea Selatan berencana membuka sepuluh terminal taksi tebang pada tahun 2030. Bahkan Kementerian Transportasi berharap bahwa pasar mobilitas udara perkotaan akan bernilai miliaran pound di tahun 2040.

Di mana fokusnya akan berjalan sejauh 18-30 mil bersama bus, sistem kereta bawah tanah dan bentuk transportasi umum lainnya. Tes serupa sebelumnya dilakukan di lokasi yang ditunjuk di Incheon, sebelah barat Seoul dan Yeongwol, 200 kilometer timur Seoul.

Hanwha Systems Co., industri pertahanan dan unit layanan TIK dari konglomerat kimia keuangan Hanwha Group, juga meluncurkan Butterfly. Ini adalah sebuah mockup dari kendaraan udara pribadi yang dikembangkannya dengan startup taksi udara yang berbasis di Amerika Serikat, Overair.

Perusahaan mengatakan sedang berusaha untuk membangun “hub-verti,” terminal untuk lepas landas dan pendaratan taksi udara, di Bandara Internasional Gimpo di Seoul barat bekerja sama dengan Korea Airports Corp. Menurut Hanwha Systems, Verti-hub jika dibangun, akan menjadi fasilitas pertama di dunia untuk taksi drone.

Taksi udara yang dilengkapi dengan fungsi lepas landas dan mendarat vertikal listrik (eVTOL) juga diharapkan akan tersedia di beberapa kota di Amerika Serikat dan Eropa untuk layanan komersial pada tahun 2025.

Baca juga: [Video] Taksi Drone 282 Karya Anak Bangsa Berhasil Terbang Sebelum Dipamerkan di Jerman

Pada bulan September, kementerian menguji layanan pengiriman makanan drone otonom di tengah Tren kontak setelah pandemi Covid-19 di Kota Sejong, pusat administrasi 130 km tenggara Seoul. Di Sejong, lima drone mengirimkan makanan dan produk lainnya kepada orang-orang di rumah yang berjarak dua hingga tiga kilometer di seberang danau dan di gedung-gedung bertingkat dalam waktu sepuluh menit.