Dua Pesawat KLM Tabrakan di Bandara Schiphol, Serikat Pekerja: Akibat Beban Kerja Terlalu Tinggi

Tabrakan antara dua pesawat KLM, Boeing 747 dengan Airbus A330, belum lama ini terjadi di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda. Dalam foto-foto yang beredar di Twitter, tampak hidung Queen of the Skies -yang tengah menanti hari-hari terakhirnya sebelum dipensiunkan secara permanen- penyok akibat hantaman sayap Airbus A330.

Baca juga: Imbas Virus Corona, KLM Pensiunkan Boeing 747-400 Lebih Cepat, Salah Satunya “City of Jakarta”?

Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka karena pesawat tidak sedang melayani penumpang. Menanggapi kejadian tersebut, serikat pekerja perusahaan menyebut insiden itu merupakan buah dari beban kerja tinggi akibat kekurangan pekerja, bukan semata-mata ketidakprofesionalan petugas di lapangan.

Dilansir Simple Flying, insiden tabrakan bermula saat pesawat Boeing 747 KLM dengan nomor registrasi PH-BFV ditarik towing car. Entah bagaimana ceritanya, armada KLM yang saat ini hanya tersisa tiga unit tersebut melewati area yang cukup sempit dan cenderung dipaksakan untuk dilewati pesawat. Padahal, jelas-jelas di situ melintang sayap pesawat dari Airbus A330-200 KLM Piazza San Marco – Venezia dengan nomor registrasi PH-AOM.

Akan tetapi, bila diperhatikan secara detail, sebetulnya, petugas towing car tak bisa juga dikambinghitamkan. Sebab, Boeing 747 yang ditarik sudah mengikuti line marking atau marka di apron. Dengan demikian, besar kemungkinan kesalahan ada pada petugas, entah pilot atau staf ground handling, yang memarkir pesawat tidak pada tempatnya.

Namun demikian, sekalipun sudah mengikuti line marking yang ada, sudah seharusnya petugas tetap melihat sekeliling. Lagi pula, ukuran pesawat yang cukup besar harusnya tak membuat insiden tersebut terjadi.

https://twitter.com/FakeMikeOLeary/status/1148538082364469249?s=20

Insiden tabrakan di Bandara Schiphol tentu bukan yang pertama. Pada Juli lalu, mesin kiri Boeing 787 Dreamliner TUI rusak akibat bertabrakan dengan garbarata saat ditarik towing car. Mirisnya, pesawat tersebut baru akan kembali mengudara setelah empat bulan di-grounded. Alhasil, pesawat harus masuk hanggar untuk perbaikan.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Pada bulan yang sama di tahun lalu, dua pesawat yang sedang melayani penumpang, easyJet Airbus A220 tujuan London, dan KLM Boeing 737-800 tujuan Madrid, juga pernah bertabrakan di bandara tersibuk kelima di Eropa itu. Kedua pesawat bertabrakan saat sama-sama sedang dipushback oleh pushback tractor atau biasa juga disebut pushback truck. The Guardian melaporkan, penumpang dibuat menunggu 2,5 jam karenanya.

Pada Februari 2019, Boeing 747 KLM PH-BFV yang belum lama ini terlibat tabrakan kecil, juga pernah terlibat dalam insiden pushback. Saat itu, pesawat tengah dipush menjauh dari gate dan di saat yang bersamaan, Boeing 787 Dreamliner KLM tengah taxiing. Akibatnya winglet 747 bertabrakan dengan rear stabilizer 787 dan menyebabkan kerusakan substansial pada keduanya.

MGM Grand Air, Maskapai Favorit Tom Cruise, Madonna, dan Julia Roberts yang Bangkrut Gegara Resesi

Metro-Goldwyn-Mayer atau MGM, yang dikenal sebagai produsen film sejak tahun 1920-an, mungkin sudah lumrah didengar telinga masyarakat. Begitupun juga dengan MGM Grand Casino, hotel terbesar di dunia, dengan lebih dari 2.000 kamar, sekaligus pusat judi kenamaan dunia, pasti sudah dikenal luas masyarakat. Namun, bagaimana dengan “MGM” lainnya, dalam hal ini MGM Grand Air? Rasanya, agak jarang terdengar masyarakat luas.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Akan tetapi, tidak demikian bagi para pejudi serta selebriti kenamaan dunia. Selain menjadi maskapai charter yang melayani rute antara Bandara Internasional Los Angeles (LAX) dan Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) di New York, Amerika Serikat (AS), mengangkut para selebriti kenamaan dunia serta orang kaya seantero bumi yang ingin berjudi di MGM Grand Casino, maskapai tersebut juga dikenal lantaran fasilitas yang ditawarkan.

Dilansir Simple Flying, maskapai yang berdiri pada tahun 1987 ini disebut berlapis emas di banyak sudut. Selain itu, tiga pesawat Boeing 727 dan tiga Douglas DC-8 yang dioperasikan juga dilengkapi dengan lapisan kain mewah Versace asal Italia, kursi putar, ruang pertemuan pribadi, sajian gourmet di atas porselen mewah, hiburan berupa enam film yang tayang perdana dan VCR (video cassette recorder), toilet mewah bak di istana, serta layanan telepon udara-ke-darat yang kala itu amat jarang ditemui.

Tak jarang, dengan sederet layanan serta tampilan mewah itu, para selebritis papan atas dan miliarder dunia, seperti Ivana Trump, Madonna, Tom Cruise, Robert De Niro, Julia Roberts, dan Vokalis Guns N ‘Roses Axl Rose sampai kepincut dan menjadi royal customer maskapai milik Kirk Kerkorian, imigran asal Armenia yang lama menetap di AS, ini.

Tarif yang ditawarkan tentu sebanding dengan fasilitas yang bisa dinikmati penumpang. Layanan terbang dari Los Angeles ke New York dipatok seharga $1.400, $1.000 untuk terbang antara Las Vegas dan New York, dan $180 untuk terbang antara Los Angeles dan Las Vegas .

Sebagai maskapai charter mewah, MGM Grand Air hanya memuat tak lebih dari 33 penumpang di setiap penerbangan dalam satu kelas, dilayani oleh sekitar lima pramugari.

Baca juga: Hari Ini 80 Tahun Lalu, Boeing 314 Pan Am Lakukan Penerbangan Berjadwal Perdana Trans-Atlantik

Setelah menikmati masa kejayaannya sejak pertama kali didirikan, lima tahun berselang, tepatnya pada akhir 1992, MGM Grand Air menangguhkan layanan terjadwal antara LAX-JFK dan LAX-LAS serta menyisakan layanan antara Las Vegas dan JFK. Hal itu dilakukan lantaran perusahaan terus merugi. Terlebih, saat itu ekonomi dunia juga tengah terguncang, dimulai dengan resesi yang melanda Amerika Serikat mulai 1990-1992.

Pada tahun 1994, MGM Grand Air akhirnya diakuisisi oleh Champion Air sebagai maskapai charter yang fokus melayani tim olahraga dan supporternya. Setelah bertahun-tahun beroperasi dan terseok-seok, Champion Air akhirnya bangkrut dan tutup total pada 2008.

Natal di Inggris, Nikmati Tur Bersama Lokomotif Steam Dreams

Natal dan salju menjadi salah satu waktu yang ditunggu ketika liburan musim dingin tiba. Selain berkumpul bersama keluarga, banyak orang di benua yang memiliki empat musim menikmati bermain di salju.

Baca juga: Rayakan Halloween, Inggris Buka Tur Kereta dan Kanada Gelar “Bus Hantu”

Bahkan di Inggris tepatnya di bagian selatan, tur yang diadakan oleh Steam Dreams sudah mulai diumumkan. Di mana Steam Dreams telah merilis tiket mereka untuk tur Natal mendatang meski juga harus mengumumkan beberapa pembatalan pada tur tersebut.

Sebagai bagian dari rencana operator tur, ada dua pilihan yakni Santa Specials dan Christmas Dining Specials. Di mana Santa Specials akan berangkat dari London Victoria tiga kali sehari pada tanggal 14, 16, 21 dan 23 Desember 2020.

KabarPenumpang.com melansir laman railadvent.co.uk (11/11/2020), untuk tur Christmas Dining Specials akan berangkat dan meninggalkan London Victoria pada 14, 16, 18, 21 dan 23 Desember 2020. Selain perjalanan tur, Steam Dreams juga mengumumkan pembatalan perjalanan mereka. Yang mana pihak operator tur mengatakan mereka mengikuti pengumuman terbaru pemerintah pada akhir pekan dan membuat keputusan untuk membatalkan perjalanan.

“Adapun perjalanan yang kami batalkan adalah yang berangkat dari Bath pada 29 November dan 1 Desember serta dari York pada 6 Desember,“ ujar David Buck, pemilik Steam Dreams.

Dia mengatakan, meski disayangkan, kesehatan dan keselamatan penumpang, staf dan para relawan mereka adalah yang terpenting. Bahkan menjadikan pedomanan kesehatan dan keselamatan sebagai yang terdepan bagi Steam Dreams. David menambahkan, para penumpang yang terkena dampak pembatalan telah dihubungi pihaknya dan ditawarkan opsi atau pilihan alternatif lain.

”Ini adalah masa-masa yang menantang dan kami memantau situasi setiap hari. Pada catatan positif, kami merasa ada keinginan untuk melakukan perjalanan menuju tahun 2021, dan dengan senang hati saya umumkan bahwa program Musim Semi 2021 kami akan segera dirilis dan semoga memberikan sesuatu yang dinantikan kepada semua orang,” ungkapnya.

Diketahui, tur akan diangkut oleh lokomotif uap Ex-LNER B1 David Buck No. 61306 Mayflower di selatan Inggris. Lokomotif dibangun pada tahun 1948 oleh Perusahaan Lokomotif Inggris Utara di Glasgow.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Ini memiliki dua silinder, enam roda penggerak, perapian kotak api seluas 30 kaki persegi dan dapat beroperasi pada 75mph. Kereta tersebut adalah salah satu mesin B1 terakhir yang masih ada yang direkayasa untuk mengangkut kereta penumpang ekspres dan juga lalu lintas barang.

Mengapa Pilot Tak Pakai Masker Saat di Pesawat? Inilah Enam Alasannya

Di masa pandemi virus Corona, seluruh penumpang pesawat diwajibkan memakai masker dan dibekali hasil tes kesehatan, entah itu rapid test ataupun swab test, tergantung kebijaka masing-masing maskapai. Begitu juga dengan para pramugari. Bukan hanya itu, di dalam pesawat, kursi tengah juga diatur agar dikosongkan sebagai upaya menjaga jarak (sekalipun dinilai memang tak efektif karena kurang dari dua meter).

Baca juga: Kenapa Pilot Tak Banyak Memberikan Informasi Saat Terjadi Insiden? Inilah Alasannya

Akan tetapi, kewajiban memakai masker saat di pesawat rupanya tak berlaku untuk pilot. Tentu ada alasan atas perbedaan tersebut. Oleh karenanya, dilansir dari The Point Guy, berikut enam alasan mengapa pilot tak pakai masker saat di pesawat.

1. Komunikasi
Diakui atau tidak, beban kerja pilot cukup tinggi. Selain harus mengoperasikan pesawat dengan ratusan panel di kokpit, menanggung nyawa penumpang, serta berkomunikasi dengan ATC bandara, pilot juga harus berkomunikasi dengan co-pilot (atau sebaliknya), baik secara verbal maupun non verbal (atau melalui bahasa tubuh).

Khusus untuk komunikasi non verbal, hal itu rasanya sulit untuk dilakukan bila pilot dan co-pilot menggunakan masker. Lagi pula, degan beban kerja yang sangat berat, pilot dimungkinkan mengidap stres dengan perubahan situasi saat dalam mengoperasikan pesawat. Salah satu indikasi stres itu bisa dilihat ketika pilot menggigit bibir dan tanda ini mustahil bisa dilihat bila memakai masker.

2. Oksigen darurat
Di ketinggian 43 ribu kaki, pilot -termasuk penumpang- hanya memiliki waktu sekitar 10 detik untuk menggunakan masker oksigen saat terjadi keadaan darurat. Durasi tersebut tentu sangat sempit bila bercampur dengan panik. Bila penumpang pingsan karena kekurangan oksigen, mungkin dampaknya tak terlalu fatal. Namun, bagaimana bila pilot yang pingsan? Tentu, hal buruk akan terjadi.

3. Penglihatan kabur
Terkadang, ketika seseorang memakai masker, udara yang dihembuskan kadang kala membuat penglihatan menjadi kabur. Orang lain bisa saja seperti itu, namun tidak demikian dengan pilot yang notabene mengoperasikan burung besi seberat 190 ton dengan ratusan penumpang.

4. Efek samping
Bukan satu atau dua cerita masker membuat penggunanya merasakan gatal di area wajah. Padahal, konsentrasi pilot tak boleh terpecah sedikitpun saat di kokpit, terlebih saat hendak lepas landas dan turun landas.

Baca juga: KLM Cityhopper Jadi Maskapai Pertama Integrasikan Virtual Flight Deck dalam Pelatihan Pilot

5. Tetap memakai masker
Sekalipun di kokpit pilot tidak memakai masker, namun, ketika keluar kokpit mereka tetap diwajibkan memakainya. Selain itu, seluruh area kokpit juga disemprot disinfektan secara berkala sehingga besar kemungkinan kokpit tetap steril dari patogen berbahaya.

6. Aliran udara
Layaknya kabin, aliran udara di kokpit juga dilengkapi dengan filter HEPA (High Efficiency Particulate Air). Namun, aliran udara di kokpit berbeda dengan aliran udara di kabin. Singkatnya, kokpit tak berbagi udara dengan kabin. Begitupun sebaliknya. Dengan begitu, udara di kokpit bisa dibilang tak kalah sehat dengan di kabin.

Sydney-London, Rute Bus Terpanjang di Dunia! Perjalanan Butuh 132 Hari

Qantas melalui Project Sunrise akan menghubungkan Sydney dengan London non-stop dalam waktu dekat. Program ambisius maskapai nasional Negeri Kanguru ini nantinya akan menyediakan layanan penerbangan ultra jarak jauh non-stop 21 jam dari Pantai Timur Australia ke kota-kota besar dunia bukan hanya London, namun juga New York, dan Sao Paulo.

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Atas program tersebut, sekalipun belum diluncurkan (seharusnya diirilis pada Maret lalu), Qantas boleh saja berbangga diri. Namun, di masa lalu, rute sejauh itu rupanya juga pernah digarap. Bukan oleh maskapai pesaing, melainkan dijajaki oleh bus Double Decker yang dikenal sebagai Albert.

Dilansir curlytales.com, laporan Central Western Daily, cerita perjalanan rute bus terpanjang di dunia ini dimulai oleh seorang traveler asal Inggris, Andy Stewart. Pada tahun 1968, ia memutuskan membeli bus tersebut untuk melakukan perjalanan dari Sydney ke London melalui India.

Pada 8 Oktober 1968, bus Albert pun memulai perjalanan dari Martin Place, Sydney dengan 13 penumpang untuk menempuh perjalanan hampir 16.000 kilometer. Setelah 132 hari, perjalanan panjang melewati 14 negara, Belgia, Jerman Barat, Austria, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Iran, Afghanistan, Pakistan Barat, India (termasuk kota Delhi, Agra, Allahabad, Benaras dan akhirnya Kolkata), Burma (Myanmar), Thailand, Malaysia, dan Singapura, bus Albert akhirnya tiba di London, Inggris pada 17 Februari 1969.

Bus Albert rute Kolkata-London. Foto: curlytales.com

Seiring berjalannya waktu, Albert bus pun melayani Kolkata-London secara terpisah, dari yang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan Sydney-London. Menurut sebuah laporan, rute London-Kolkata-London diberi nomor 12, 13, 14, dan 15. Sedangkan Rute London-Sydney non-stop diberi nomor 4, 5, 6, 7, 8 dan 9.

Dari sini, bus Albert seolah mempunyai lebih dari satu armada. Hanya saja, tak diketahui secara persis, berapa banyak armada yang beroperasi untuk menjajaki rute-rute tersebut.

Yang pasti, selama beroperasi, Albert telah menyelesaikan sekitar 15 perjalanan antara Kolkata (India)-London (Inggris) dengan tarif sebesar 145 Poundsterling (cukup besar untuk ukuran saat itu) dan empat perjalanan antara London (Inggris)- Sydney (Australia) hingga tahun 1976, dengan tarif yang tak diketahui secara pasti.

Selama beroperasi, bus tersebut telah melintasi hampir 150 perbatasan tanpa pengawasan ketat dan dijuluki sebagai ‘duta besar yang ramah’ di semua negara yang dilewatinya.

Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial

Sebagai bus yang melahap rute terpanjang di dunia, bus Albert dilengkapi dengan berbagai fitur mewah seperti ruang baca dan makan di dek bawah serta ruang observasi (untuk menikmati pemandangan), dapur, sleeping bed, hingga karoeke di dek atas. Selain itu, bus juga dilengkapi dengan penghangat dan pendingin, sesuai dengan kondisi lingkungan dimana bus berada. Dengan begitu, para penumpang dijamin tidak akan bosan selama perjalanan.

Lagi pula, berbeda dengan perjalanan Sydney-London via udara yang pada umumnya hanya melihat awan, perjalanan rute tersebut via darat oleh bus Albert dijamin tak akan membosankan, dengan suguhan pemandangan menarik dan cantik dari destinasi favorit di berbagai negara di dunia, seperti Golden Horn di Istanbul, the Peacock Throne di Delhi, the Taj Mahal di Agra, Benaras di Sungai Gangga, pantai Laut Kaspia, Blue Danube, Draconian Pass, Lebah Rhine, Kyber Pass and Kabul Gorge; termasuk beberapa hari untuk berbelanja di beberapa destinasi wisata, seperti New Delhi, Kabul, Istanbul, Tehran, Vienna, dan Salzburg.

Pelantun Lagu “Forever and Ever” Ternyata Pernah Menjadi Sandera Pembajakan TWA Flight 847

Pembajakan Boeing 727 TWA Flight 847 menjadi salah satu catatan kelam dari dunia penerbangan global. Pesawat yang bertolak dari Athena (Yunani) menuju Roma (Italia) dibajak dua teroris berkebangsaan Libanon yang bersenjatakan granat dan pistol 9 mm. Pembajakan yang terjadi pada 14 Juni 1985 itu berakhir dengan satu penumpang tewas dan sisanya dapat dibebaskan. Meski peristiwa TWA 847 selalu diingat, namun tak banyak yang tahu bahwa salah satu sandera di penerbangan itu ada seorang penyanyi kondang.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Bagi Anda yang besar di era 70/80-an, mungkin mengenal Demis Roussos, musisi bertumbuh tambun berdarah Yunani-Mesir ini adalah pelantun lagu melow legendaris “Forever and Ever.” Mengutip sumber dari wikipedia.org, disebut Roussos adalah salah satu pemumpang di TWA Flight 847. Entah karena alasan apa, Roussos termasuk sandera yang bernasib mujur, pasalnya ia dibebaskan bersama empat orang asal Yunani setelah lima hari disandera, sementara sebagian besar penumpang masih harus menjadi sandera hingga 17 hari.

Yang unik, Demis Roussos menghabiskan ulang tahun ke-39 saat dalam pembajakan. Karena dibebaskan tanpa cidera, Roussos justru mengucapkan terima kasih kepada para pembajak, yang pada konferensi pers menyebut telah memberinya kue ulang tahun. Pria yang bernama lengkap Artemios “Demis” Ventouris-Roussos menjadi penyanyi kondang yang telah merilis puluhan album, Demis Roussos wafat akibat sakit kanker pada 25 Januri 2015 dalam usia 68 tahun.

Tentang tragedi TWA Flight 847, Pada 30 Juni, setelah negosiasi dilakukan dengan berhati-hati, para sandera dapat dibebaskan. Mohammed Ali Hamadi, yang dicari karena perannya dalam penyerangan TWA Flight 847 itu, ditangkap dua tahun kemudian di sebuah bandara di Frankfurt, Jerman, bersama dengan bahan peledak.

Belum Lama Terbang Perdana, Proyek Mistubishi SpaceJet Terpaksa Di-grounded, Bukan Semana-mata Karena Pandemi

Ironis, itulah kata yang mungkin tepat untuk menggambarkan proyek jet regional Mistubishi SpaceJet. Betapa tidak, baru Maret 2020 diwartakan pesawat ini sukses terbang perdana, bahkan sempat dibanggakan lantaran bisa merampungkan first flight di masa pendemi Covid-19. Namun, rupanya karena pandemi pula proyek SpaceJet kini terpaksa di-grounded sejak akhir Oktober lalu.

Baca juga: Di Tengah Wabah Virus Corona, Mitsubishi SpaceJet Sukses Terbang Perdana

Dikutip dari Japantimes.co.jp (13/11/2020), disebutkan Mitsubishi Heavy Industries (MHI), induk dari manufaktur pesawat Mitsubishi Aircraft Cor telah mengumumkan untuk membekukan proyek SpaceJet. Pangkal musbab yang mengemuka adalah penuruan perjalanan udara yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Dengan pembeluan proyek tersebut, anggaran untuk SpaceJet akan dipotong menjadi 20 miliar yen untuk tiga tahun mulai April 2021 – sekitar satu per dua puluh dari 370 miliar yen yang dialokasikan untuk proyek dari tahun fiskal 2018 hingga tahun fiskal 2020, yang berakhir pada Maret tahun depan. “Kami menyampaikan permintaan maaf yang mendalam (kepada klien) bahwa pengembangan SpaceJet telah tertunda,” ujar Presiden MHI Seiji Izumisawa dalam konferensi pers online.

SpaceJet telah diluncurkan pada 2008 sebagai proyek Mitsubishi Regional Jet (MRJ). Pengiriman pertamanya, yang semula direncanakan pada 2013, telah tertunda enam kali. Sejauh ini, proyek tersebut telah menerima pendanaan sekitar 1 triliun yen, termasuk uang dari kas negara.

Namun, dari kabar yang berkembang, ternyata keputusan untuk meng-grounded proyek SpaceJet tak meluku karena Covid-19. Masih dari sumber yang sama, dikatakan Mitsubishi Aircraft yang berbasis di Toyoyama, Prefektur Aichi, melakukan sejumlah kesalahan perhitungan yang menyebabkan efek bola salju dalam proses produksi. Isu yang mengemuka adalah bahwa perusahaan tersebut “terlalu yakin” bahwa mereka akan mampu membuat semua komponen pesawat sendiri.

Saat perusahaan mengumumkan penundaan pengiriman pertama pada tahun 2010, seorang eksekutif Boeing telah menyarankan agar Mitsubishi Aircraft menggunakan kokpit dari Boeing 737, yang digunakan untuk jet penumpang yang lebih kecil, untuk jet penumpang regionalnya. Tetapi eksekutif Mitsubishi Aircraft menolak tawaran tersebut, bertahan dengan ide untuk memproduksi seluruh pesawat sendiri. Dengan berbagai instrumen dan perangkat komunikasi yang dipasang di kokpit, membuat SpaceJet tampil eksklusif, yang pada akhirnya menyulitkan pengujian dan intergrasi semua perangkat.

Mengadopsi teknologi kokpit dari pabrikan pesawat besar yang sudah digunakan di seluruh dunia akan menghemat banyak waktu dan uang. Ini akan mengurangi jam pelatihan untuk pilot dan kru pemeliharaan, dan memungkinkan mereka untuk lebih cepat terbiasa dengan fungsi kendali pesawat.

Baca juga: Belum Tuntas Soal Regulasi, Boeing Kembali Temukan Masalah di 737 MAX

Kemudian masih ada masalah pada sistem kabel listrik, dimana semuanya terkonsentrasi di satu bagian pesawat. Setelah otoritas AS menunjukkan masalah tersebut ke Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang, Kementerian tersebut menginstruksikan Mitsubishi Aircraft untuk membagi sistem kabel, dan alhasil pabrikan terpaksa mengerjakan ulang lebih dari 23.000 komponen kabel. Pengkabelan pada seluruh sistem pesawat, seperti merevisi pembuluh darah atau sama saja dengan membuat pesawat dari awal.

Intip Livery Pepsi di Pesawat Concorde Seharga Rp 7 Trliun Lebih

Pesawat supersonik Concorde umumnya beroperasi dengan menggunakan livery putih kombinasi biru (Air France) atau merah (British Airways). Namun, tak banyak yang menyadari, bahwa dari 14 unit pesawat yang produksi, salah satunya pernah menggunakan livery berwana biru kombinasi putih dan merah; warna kebesaran dari minuman ringan berkarbonasi terkenal di dunia, Pepsi.

Baca juga: Lolos Tes Terowongan Angin, Pesawat Supersonik Ramah Lingkungan Aerion Kian Nyata

Dilansir Simple Flying, livery Pepsi di pesawat Concorde ini bertahan selama dua pekan, muali akhir Maret sampai awal April, di tahun 1996. Cukup singkat memang -hal itu pula yang menjadikan tak banyak masyarakat yang menyadari penggunaan livery tersebut- namun mahar atas itu nilainya bisa dibilang cukup fantastis.

The Independent melaporkan, Pepsi menggelontorkan uang hampir US$500 juta atau setara Rp 7 triliun (kurs 14.140). Bila jumlah tersebut saja, di masa kini, masih tergolong besar apalagi di tahun dimana kesepakatan tersebut terjadi. Tak ayal, media-media di dunia menyorot tajam kesepakatan kontrak tersebut dan beberapa di antaranya melabeli Pepsi sebagai perusahaan yang cukup berani sekaligus putus asa hanya untuk sebuah rebranding.

Pesawat supersonik Concorde livery Pepsi. Foto: Getty

Selain itu, dari segi Concorde, harga sebesar itu tentu cukup worth it mengingat pamor pesawat supersonik yang terbang perdana (first flight) pada 2 Maret 1969 itu disebut cukup tinggi. Pesawat yang dioperasikan oleh Air France dan British Airways tersebut, saat itu, memang menjadi satu-satunya pesawat supersonik yang beroperasi secara reguler. Dengan status tersebut, Concorde tak pernah lepas dari pengamatan media ataupun avgeek (pecinta penerbangan) di seluruh dunia.

Adapun di antara dua maskapai yang mengoperasikan Concorde, livery Pepsi digunakan di pesawat Air France. Dari data The Aviation Geek Club, pesawat supersonik Concorde livery Pepsi dengan nomor registrasi F-BTSD mengoperasikan 16 penerbangan dalam dua pekan, antara Paris-New York. Sekali lagi, sekalipun cukup singkat, hanya 16 penerbangan, namun, logo baru Pepsi, yang digunakan sampai saat ini, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia, seiring sebaran foto dan video serta pemberitaan terkait Concorde.

Baca juga: Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2

Setelah melalui masa kejayaannya, masing-masing tujuh unit Concorde yang dioperasikan oleh Air France dan British Airways akhirnya harus pensiun di tahun 2003 silam, sebagai respon atas jatuhnya Air France Concorde pada Juli tahun 2000. Air France lebih dahulu mempensiunkan Concorde pada 31 Mei dan British Airways pada 24 Oktober.

Selama berkiprah di dunia penerbangan, Concorde sudah mengangkut 3,7 juta penumpang, dengan jam terbang lebih dari 200 ribu jam terbang. Pesawat ini mampu membawa 144 penumpang dengan kecepatan 2.200 km per jam atau Mach 2.2 pada ketinggian 17.700 meter.

Roadster, Prototipe Archimoto dengan Tiga Roda dan Tanpa Penutup Atas

Pengembangan sepeda motor listrik di dunia modern ini sudah semakin maju dan bukan lagi dengan roda dua. Pasalnya perusahaan mobilitas Ultimate Fun Machine menghadirkan sepeda motor listrik dengan tiga roda.

Baca juga: Aglis – Angkutan Motor Listrik Tiga Roda Khas Wong Solo

Motor listrik tiga roda ini diberi nama Roadster dan menjadi salah satu prototipe Fun Utility Vehicle Archimoto yang tak berpenutup bagian atasnya. Sebab tipe sebelumnya yakni Polaris Slingshot dan Can-Am Spyder digerakkan dengan listrik tetapi memiliki atas meski merupakan sebuah sepeda motor.

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (11/11/2020), Roadster saat ini sedang dalam tahap pengembangan prototipe dan didasarkan pada platform yang sama dengan wahana listrik lainnya di armada Archimoto. Dengan tiga roda, prototipe Roadster memiliki dua roda di bagian depan dan satu di belakang.

Meski ada dua roda dibagian depannya,sepeda motor listrik yang satu ini mampu melaju dengan kecepatan tertinggi 75 mil per hours atau sekitar 120 km per jam. Bahkan bisa melaju hingga 102 mil per hours atau sekitar 165 km per jam saat berada di kota.

Meski tak lagi berpenutup di bagian atasnya, ternyata mengakibatkan perubahan pada angka kinerja tersebut. Roadster sendiri dilengkapi dengan tempat duduk tendem seperti sepeda motor pada umumnya.

Namun bagian belakangnya lebih luas untuk penyimpanan barang. Bagian depan Roadster terlihat sangat mirip dengan Fun Utility Vechile dengan perbedaan satu-satunya adalah kaca depan.

Meski belum ada rencana produksi yang solid terungkap, Arcimoto dapat mempertimbangkan untuk menambahkan model ini ke jajaran produknya secepatnya di akhir tahun ini. Sementara itu, perusahaan telah mengumumkan rencananya untuk produksi volume kendaraan listriknya dengan laju 50 ribu per tahun dalam waktu 24 bulan dan telah bermitra dengan DHL Global Forwarding untuk memperluas model penjualan langsung ke pelanggan kepada pelanggan.

Baca juga: The Solo, Electric Vehicle Roda Tiga yang Ramah Lingkungan nan Nyentrik

Pengiriman ke rumah untuk Fun Utility Vehicle akan diluncurkan dalam dua tahap, memusatkan upaya di 48 negara bagian AS yang lebih rendah pada awalnya, dan kemudian menambahkan tujuan Alaska, Hawaii, dan internasional di beberapa titik di masa depan.

Sebarkan Senyum Pada Pelanggan, Pengemudi Taksi Gunakan Kostum Badut

Tawa, senyum dan ekspresi kebahagiaan lainnya sedikit hilang di masa pandemi Covid-19. Hal ini karena virus corona baru tersebut membuat banyak orang kehilangan nyawa mereka sehingga kerabat serta keluarga yang tinggalkan hanya menghadirkan raut wajah yang sedih dan resah.

Baca juga: Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Meski begitu, rasanya tak perlu berlarut dalam kesedihan dan harus bisa membahagiakan diri sendiri dengan berbagi senyum atau tawa kepada orang lain. Mungkin terlihat sederhana tetapi senyuman Anda bisa menghilangkan kesedihan dan keresahan orang lain meski sedikit.

Seperti yang dilakukan seorang pengemudi taksi dengan menjadi badut saat berkendara dan menjemput penumpang. Darren Clark, pengemudi tersebut mengatakan dengan menjadi badut, maka layanan senyuman luar biasa bisa dibagikan kepada pelanggan. Apalagi pengemudi taksi banyak yang suka bersenang-senang sehingga menjadikannya tantangan pribadi untuk menyebarkan kegembiraan.

Selain itu, pria berusia 40 tahun tersebut, mengatakan, dengan menggunakan kostum badut dan riasan wajah senyum yang lebar, bisa membantu banyak orang berjuang untuk tersenyum selama masa sulit seperti pandemi Covid-19 saat ini. Dia bahkan mendekorasi taksinya seperti di penuhi jaring laba-laba dan melakukan bagiannya untuk komunitas.

“Saya ingin berdandan karena sejak wabah Covid, saya melihat banyak orang khawatir dan kesulitan. Saya telah melihat gaya hidup berubah dan banyak hari libur dan acara dibatalkan, dan meskipun kami tidak dapat merayakan acara ini seperti dulu, kami tetap dapat menikmatinya,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newsandstar.co.uk (10/11/2020).

Ternyata penggunaan kostum badut dan mendekorasi taksinya bukanlah hal sia-sia, sebab rencananya berhasil. Di mana pengemudi taksi di radio memberikan tawa yang baik kepada semua orang di Carlisle.

“Semua orang yang saya temui, dari pelanggan, sesama pengemudi dan orang yang lewat, menyukai pakaian itu. Namun, tidak ada yang menganggapnya menakutkan meskipun saya bekerja di siang hari!” ujar Clark.

Baca juga: Taksi dengan Hiasan Lampu Natal di Raleigh Telah Kehilangan Pemiliknya

Ternyata saat-saat menyenangkan itu bahkan belum berakhir. Ini karena Clark sudah membersihkan setelan Santanya dan menyiapkan rusa taksinya yang berbentuk taksi serta semua siap untuk memberi penerangan pada komunitasnya untuk Natal.