AirAsia X Vs Scoot Vs Jetstar, Siapa yang Terbaik?

Maskapai low-cost medium-haul atau jarak menengah dan jauh berbiaya rendah selalu menarik hati para pelancong dunia. Alasannya, apalagi kalau bukan harga murah. Di Asia, dalam hal ini Asia Tenggara, gelar maskapai terbaik di kategori itu setidaknya diperebutkan oleh tiga maskapai, AirAsia X, Scoot, dan Jetstar.

Baca juga: Saudia vs Etihad, Siapa Juara di Kelas Ekonomi?

Tidak mudah memang untuk mencari siapa yang terbaik di antara ketiga itu. Sebab, satu sama lain pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, yang pada akhirnya menggiring keberpihakan penumpang dari sudut pandang bervariaKosi. Guna mendapatkan hasil itu, mungkin ada baiknya dimulai dari jangkauan atau rute masing-masing maskapai.

Rute maskapai
Dilansir Simple Flying, selain terbang di sekitaran Singapura, Scoot juga terbang ke India, Cina, Jepang, Taiwan, Arab Saudi, dan Australia. Anak perusahaan Singapore Airlines itu dinilai memiliki jaringan kuat ke Cina dan India, dengan terbang ke lebih dari 20 kota di Cina dan sekitar 10 kota di India. Hal Itu menjadikan Scoot pilihan cukup baik untuk terbang antara Singapura dan India atau Cina.

AirAsiaX pun demikian, selain terbang di sekitaran Malaysia, maskapai yang didirikan oleh Tony Fernandes ini juga terbang jauh ke Timur dan Barat, seperti ke Abu Dhabi dan Selandia Baru. Jetstar pun demikian. Anak perusahaan dari Qantas ini juga menghubungkan Australia ke beberapa kota di Asia, seperti Jepang di Utara dan Bali di selatan. Penerbangan Australia-Bali sejauh ini selalu menjadi primadona.

Jetstar (istimewa)

Pesawat yang digunakanBerbeda dengan rute yang cukup beragam dan cenderung saling menghindari satu sama lain, soal pesawat, rasanya ketiga maskapai tak punya banyak pilihan. AirAsia X mengoperasikan pesawat A330-300 dengan total 377 kursi penumpang dalam dua kelas. Detailnya, terdapat 12 flat seat di kelas bisnis dengan konfigurasi 2-2-2 dan sisanya, 365 kursi dalam konfigurasi 3-3-3 di kelas ekonomi, dibagi menjadi tiga ruang kabin yang berbeda.

Jetstar mengoperasikan Boeing 787 Dreamliner. Di rute favorit, Bali, maskapai itu menawarkan 335 kursi penumpang, dengan 21 kelas bisnis dalam konfigurasi 2-3-2, berbeda dengan kelas ekonomi, 3-3-3 yang juga disekat dalam tiga bagian. Scoot lebih variatif, maskapai itu menggunakan dua pesawat berbeda, tipe 787-8 dengan 335 penumpang dalam tiga kelas dan 787-9 375 penumpang dalam tiga kelas. Scoot menggunakan konfigurasi 2-3-2 di kelas bisnis, dan 3-3-3 di kelas ekonomi. Kadang kala, Scoot juga menerbangkan Boeing 777.

AirAsia X. Foto: The Star

Dimensi kursi dan leg room
AirAsia X A330-300, jarak antar kursi adalah 60 cm untuk kelas bisnis, dan lebar tempat duduk adalah 20 cm. Di kabin utama kelas ekonomi, jarak antar kursi adalah 32 cm, dan lebar kursi 16,5 cm. Boeing 787-8 Jetstar, jarak antar kursi mencapai 30 cm di kelas ekonomi dan lebar tempat duduk sebesar 17 cm. Di kabin kelas bisnis, jarak antar kursi yakni 38 cm dan lebar tempat duduk sebesar 19 cm. Dari data-data di atas, Scoot berada di antara keduanya, baik leg room maupun lebar kursi.

The in-flight experience
Ketiganya hampir menawarkan pengalaman yang sama, mulai dari makanan, minuman, selimut dan bantal, dan headphone. Pelayanannya juga terkesan agak terburu-buru. Bagi Scoot, sekalipun berstatus anak perusahaan Singapore Airlines yang terkenal karena servicenya, ternyata tak bisa terlalu diharapkan.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Siapa paling murah?
Sebetulnya pertanyaan itu bisa dibilang bias. Sebab, ketiga maskapai di atas menjual tiket murah, tergantung dari mana penumpang berangkat. Bila dari Malaysia, AirAsia X tentu paling murah. Berangkat dari Singapura, Scoot lebih murah. Berangkat dari kota-kota di Australia, Jetstar lebih murah dibanding keduanya.

Siapa yang terbaik?
Dari pemaparan di atas, bila Anda berencana terbang di kelas bisnis, AirAsia X memiliki tawaran yang lebih menjanjikan. Sedangkan untuk kelas ekonomi, Scoot rasanya lebih baik dibanding kedua maskapai tersebut.

Penumpang Lion Air JT-797 Melahirkan di Kabin, Penerbangan Sempat Dialihkan ke Bandara Terdekat

Meski tak bisa dibilang sering, namun kasus persalinan (melahirkan) di kabin pesawat sudah beberapa kali terjadi di Indonesia. Setelah kasus pada 26 Oktober 2018, dimana lahir seorang bayi laki-laki di kabin pesawat Boeing 737-800NG Lion Air JT-996 rute Makassar-Kendari, kini masih dari maskapai yang sama terjadi pada penerbangan Lion Air JT-797 rute Sentai – Makassar.

Baca juga: Penumpang Lion Air JT-996 Rute Makassar-Kendari Melahirkan di Kabin Pesawat

Dari siaran pers, pihak Lion Air Group menyebutkan telah melakukan penanganan persalinan atas penumpang bernama Anastasia Geavani (memiliki tiket perjalanan Merauke – Jayapura – Makassar – Jakarta) yang melahirkan di dalam pesawat udara pada Selasa (17/11/2020).

Lion Air JT-797 lepas landas dari Bandara Sentani, Jayapura dengan jadwal keberangkatan pukul 13.35 WIT. Dan kira-kira
50 menit setelah mengudara, pendamping dari penumpang dimaksud meminta bantuan kepada awak kabin bahwa penumpang mengeluh sakit perut dan meminta air putih hangat.

Pimpinan awak kabin (senior flight attendant/ SFA) Novitalia bersama kru kabin lainnya menghampiri langsung guna mengetahui kondisi aktual penumpang. Setelah mendapatkan informasi detail, SFA segera melakukan pengumuman (announcement) apakah dalam penerbangan terdapat profesi dokter. Satu penumpang atas nama Marthina Setiawati Randabunga mengaku sebagai dokter dengan menunjukkan identitas resmi serta dokumen pendukung lainnya.

Koordinasi dan kerjasama yang baik antara awak kabin dan dokter, proses persalinan (melahirkan) penumpang termasuk penanganannya tersebut berjalan normal, dilakukan di kursi bagian belakang. Ibu dan anak dalam keadaan sehat serta selamat.

Dalam situasi seperti itu guna memberikan pelayanan terbaik, pilot Capt. Eirstanto Prabowo bersama kopilot Tanto Adi Prasetyo setelah koordinasi dengan dokter dan awak kabin memutuskan untuk melakukan pengalihan pendaratan (divert) ke bandar udara terdekat, yakni Bandara Pattimura, Ambon, Maluku. Pilot menginformasikan kepada petugas lalu lintas udara dan petugas darat, dalam penerbangan terdapat penumpang yang membutuhkan penanganan kesehatan lebih lanjut.

Baca juga: Saipan Jadi Kota Wisata Melahirkan, Pelancong Wanita Wajib Tes Kehamilan Sebelum Naik Pesawat!

Pesawat mendarat pada 15.49 WIT. Setelah pesawat udara parkir pada tempatnya dan pada posisi sempurna, petugas layanan darat (ground handling) Lion Air bersama tim medis segera menangani penumpang dimaksud, untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Lion Air JT-797 kembali mengudara pada pukul 16.30 WIT dan tiba di Bandara Hasanuddin Makassar pada 17.15 WITA.

Pesawat El Al Delay Dua Hari Gegara Kucing Hilang di Pesawat

Pesawat Boeing 787 Dreamliner El Al belum lama ini dikabarkan geger akibat adanya temuan ceplakan kaki kucing di pesawat ketika mendarat di Bandara Hong Kong. Otoritas bandara tersebut pun mengambil langkah tegas dengan melarang maskapai nasional Israel itu lepas landas sampai kucing tak bertuan itu ditemukan. Alhasil, pesawat pun delay dua hari dibuatnya.

Baca juga: Bikin Ketar-Ketir Penumpang, Inilah 6 Insiden Binatang Masuk ke Pesawat Tanpa Sengaja

Dilansir Simple Flying, insiden pesawat El Al delay dua hari di Bandara Hong Kong gegara seekor kucing tak bertuan, bermula saat petugas melakukan pengecekan rutin. Laporan kantor berita Israel Ynet, saat pengecekan sampai di ruang kargo, petugas menemukan jejak aneh yang diyakini berasal dari seekor kucing.

Diduga, kucing tersebut menyelinap masuk saat pesawat dalam proses bongkar muat barang di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, Israel. Sejurus kemudian petugas bahu-membahu menemukan keberadaan kucing tersebut. Berbagai cara pun dilakukan, seperti menakut-nakuti kucing dengan membunyikan suara menakutkan, mengerahkan banyak staf, hingga meletakkan jebakan. Namun, tak kunjung membuahkan hasil.

Dari data penerbangan, Boeing 787 Dreamliner 4X-EDL yang tiba di Hong Kong pada 10 November pukul 11:20 itu akhirnya kembali terbang dua hari kemudian pada 12 November pukul 18:10 waktu setempat. Pesawat pun tiba di Tel Aviv pada pukul 23:09 waktu setempat. Anehnya, tidak ada info apapun apakah pesawat kembali terbang setelah kucing ditemukan atau belum. Pihak El Al pun belum mau buka suara terkait hal ini.

Yang pasti, terbang dengan seekor kucing yang terlepas tanpa diketahui keberadaannya, sangat berbahaya. Sebab, kucing atau hewan apapun, terlebih ukurannya kecil, berpotensi masuk ke ruang sensitif pesawat atau restricted area dan menyebabkan pesawat mengalami kendala teknis.

Insiden pesawat El Al delay gegara kucing bukanlah kali pertama. Sebelumnya, pada 2017 lalu, penerbangan El Al Airlines dari Bandara Ben-Gurion Israel menuju Bandara Internasional John F Kennedy Amerika Serikat delay selama empat jam akibat kucing hilang di pesawat.

Baca juga: Bawa Tiga Kucing Dalam Kandang dari Delhi, Sampai di Mumbai Hanya Tersisa Dua

Kronologinya, seekor kucing peliharaan salah satu penumpang kedapatan kabur dari kandangnya di kargo sesaat sebelum pesawat lepas landas. Hal itu bikin heboh seisi pesawat. Oleh sebab itu, petugas pun langsung dikerahkan. Tak hanya itu, untuk memudahkan proses pencarian, seluruh penumpang pesawat yang sudah duduk juga diminta turun lagi.

Dalam aturan dunia penerbangan Israel, binatang peliharaan yang memiliki berat maksimal hingga tujuh kg memang diperbolehkan masuk kabin selama ada di dalam kandang. Sama dengan insiden di Hong Kong, kucing tersebut dilaporkan tidak berhasil ditemukan petugas. Meski demikian, entah bagaimana ceritanya, setelah empat jam, pesawat akhirnya diizinkan terbang.

Mampir ke Singapura, Pecinta Kereta Api Jangan Lupa Telusuri Jalur Tersembunyi “The Lost Railway to Jurong”

Luas Singapura bisa dikatakan tak lebih besar dari DKI Jakarta, dengan penduduk sekitar 5 juta, maka bisa dipastikan ruang terbuka di Negeri Singa itu sangat terbatas. Namun, siapa sangka, ternyata ada destinasi wisata yang lokasinya tersembunyi dan terkesan telah terlupakan.

Baca juga: Tak Perlu Jauh ke Jepang, Singapura Punya Tempat yang Mirip Loh!

Di Singapura persisnya ada terowongan serta rel kereta api yang tersembunyi dan ditumbuhi vegetasi. Terowongan dan rel kereta ini berada di Jurong yang dikenal dengan The Lost Railway to Jurong. Ini benar-benar terpencil dan salah satu tempat menarik di luar ruangan yang unik di Singapura.

The Lost Railway to Jurong (mothership.sg)

Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg (27/10/2020), letaknya sedikit sulit untuk dicapai, tetapi masih ada serta bisa diakses jika pelancong tahu mencarinya. Karena jarang dikunjungi, terowongan dan jalur kereta ini bahkan diberi label sebagai yang “terlupakan”.

The Lost Railway to Jurong ini mengarah pada rel kereta api sepanjang satu kilometer yang dipindahkan sekitar pertengahan 1990-an. Jalur ini berasal dari Stasiun Bukit Timah dan mengarah ke barat. Kini jejak rel tersebut sebagian besar ditumbuhi vegetasi dan bisa dikatakan alam kembali merebut apa yang selalu menjadi miliknya.

Meski begitu, sisa jalur tetap ada dan karena dari masa lalu, maka semakin menarik perhatian penduduk setempat yang ingin pergi ke suatu tempat selain pusat perbelanjaan dan kafe. Dibuka pada tahun 1965, Kereta Api Jurong menempuh jarak 19 km dari stasiun kereta Bukit Timah ke Shipyard Road, dekat Pulau Jurong yang sekarang. Jalur utama membentang 14 km, sementara tiga jalur cabang lainnya memperpanjang jalur kereta api ke bagian lain Jurong.

Nyatanya, tak lengkap ketika menyusuri rel kereta api ini tapi tak menemukan terowongan kereta. Berada di bawah Clemeti Road, terowongan ini letaknya dibelakang halte bus di seberang Kamp Maju dan menuruni lereng.

Terowongan kereta api yang membentang di bawah Jalan Clementi ini, serta terowongan super panjang lainnya di bawah Jembatan Layang Teban, adalah dua dari tiga terowongan yang dibangun sebagai bagian dari jalur kereta api industri pada awal 1960-an.

Untuk diketahui, jalur Jurong selesai pada 1965 silam dan diberhentikan pada akhir 1980-an setelah Ayer Rajah Expressway (AYE) dibangun. Kemudian layanan berhenti beroperasi tahun 1992 dan Stasiun Kereta Api Jurong dibongkar pada tahun 1993.

Namun, Stasiun Bukit Timah saat ini tengah dilestarikan serta dianggap sebagai titik awal dari jalur Jurong menuju ke barat. Stasiun Kereta Bukit Timah merupakan bagian dari jalur kereta api utama yang digunakan untuk melaju dari Woodlands ke Tanjong Pagar.

Jalur kereta api utama itu, yang dikenal sebagai Jalur Utara-Selatan, dimulai dari Malaysia dan memotong jantung Singapura. Jalur kereta api antara Woodlands dan Tanjong Pagar ini ditutup pada Juli 2011. Kereta api adalah satu-satunya cara untuk memindahkan sejumlah besar barang dan bahan mentah ke kawasan industri di masa lalu.

Baca juga: Canberra yang Ini Bukan Ibukota Australia, Tapi Nama Stasiun MRT Singapura

Jalur Jurong membawa kargo dari Malaysia ke kawasan industri Jurong dan mereka berakhir di salah satu pelabuhan di Jurong. Jalur itu akan melewati gudang, kilang, dan pabrik untuk mencapai pantai barat.

Mengenal Flynas, Maskapai LCC Pertama dan Satu-satunya di Negeri Raja Salman

Dengan cadangan minyak terbesar kedua di dunia, Arab Saudi bercokol sebagai salah satu negara terkaya di dunia Islam. Tercatat, salah satu negara tujuan favorit para tenaga kerja Indonesia (TKI) ini memiliki PDB per kapita mencapai US$24.434 atau Rp364 juta pada 2011, tertinggi ke-6 di Timur Tengah.

Baca juga: Kembali ke Tanah Air, Flynas Siap Terbangkan (Lagi) Jemaah Haji asal Indonesia

Akan tetapi, tak banyak yang menyangka bahwa dalam urusan transportasi, Negeri Raja Salman ini rupanya mempunyai maskapai penerbangan nasional berbiaya rendah (LCC), sesuatu yang agaknya berbeda dengan label sebagai negara kaya raya. Maskapai tersebut adalah Flynas Airlines.

Dilansir tradearabia.com, Flynas, yang dahulu bernama Nas Air, bukan hanya melayani penerbangan murah domestik, tetapi juuga internasional. Bisa dibilang, Flynas ialah maskapai LCC jarak jauh. Itulah mengapa, maskapai LCC pertama dan satu-satunya di negara ini juga melayani penerbangan umrah dan haji di berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Maskapai yang didirikan pada tahun 2007 itu saat ini memiliki sekitar armada 29 pesawat, yang mengoperasikan sekitar 1.000 penerbangan per minggu ke-33 tujuan dalam dan luar Arab Saudi.

Meskipun bukan maskapai LCC pertama di Timur Tengah, Flynas bukanlah kaleng-kaleng. Terbukti, maskapai yang telah mengoperasikan lebih dari 170.000 penerbangan dan mengangkut lebih dari 18 juta penumpang ini berhasil menyabet gelar sebagai Leading Low-Cost Airline in the Middle East the World Travel Awards atau maskapai LCC terbaik di Timur Tengah enam tahun berturut-turut sejak 2015 silam, sejalan dengan slogan perusahaan, yakni The Kingdom’s First Low-Cost Airline.

Prestasi tersebut tentu tidak digapai dengan mudah. Sebab, maskapai yang Oktober lalu baru saja kedatangan sembilan dari total rencana 120 armada baru A320neo ini harus bersaing dengan pemain lama LCC di Timur Tengah, seperti Air Arabia (berbasis di Sharjah, Uni Emirat Arab), flydubai (berbasis di Munisipalitas, Dubai, UEA), Air1Air (maskapai LCC pertama di Iran yang berbasis di Teheran), hingga Gulf Traveller (berbasis di Manamah, Bahrain).

“Kami bangga atas penghargaan yang diraih flynas selama enam tahun berturut-turut,” ujar CEO Bander Almohanna.

Baca juga: Etihad dan Air Arabia Kerjasama Hadirkan Low Cost Carrier Baru!

“Memperoleh pengakuan ini pada waktu khusus ini (saat pandemi virus Corona) memiliki makna tambahan dan dengan jelas menekankan bahwa semua rencana yang telah kami terapkan selama periode sebelumnya, di bawah bimbingan dan dukungan dari kepemimpinan kami yang lihai, telah efektif di tingkat operasional dan pengembangan bisnis,” tambahnya.

“Penghargaan ini mencerminkan strategi flynas yang bertujuan untuk mempertahankan posisi terdepan sebagai maskapai paling terpercaya bagi penumpang, dan mengakui timnya yang luar biasa dan berdedikasi yang selalu berusaha memberikan layanan terbaik kepada para pelanggan,” pungkasnya.

Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia

Dalam benak kebanyakan orang, identitas kereta cepat atau kereta express akan merujuk ke nama-nama seperti KA Bima, KA Argo Bromo, dan KA Gajayana. Tapi tahukah, bahwa pada era kolonial Belanda, di Indonesia sudah melaju kereta express, malah bukan sekedar express semata, kereta yang disebut sebagai “Java Nacht Express” juga di dapuk sebagai kereta mewah, lengkapi dengan fasilitas kamar tidur, menjadikan wahana di era kereta uap ini layak disebut sebagai sleeper train.

Baca juga: Mengenal Eksotisme Layanan Kereta Tidur di Indonesia

Ada label Nacht, maka Java Nacht Express memang melayani perjalanan malam hari dengan relasi Jakarta – Cirebon – Surabaya. Kereta ini pertama diresmikan pada 1 November 1936, menyusul dibukanya jalur kereta Jakarta – Surabaya pada tahun 1894 oleh Staatsspoorwegen. Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya dapat ditempuh 13,5 jam, sebelum itu perjalanan kereta dari Jakarta – Surabaya bisa memakan waktu 32,5 jam, lantaran kereta tidak berjalan pada malam hari, serta adanya perbedaan lebar lintasan (gauge break) antara Yogyakarta sampai Solo.

Yang menjadi ciri khas Java Nacht Express adalah gerbong kereta mewah dengan nomer seri SS9000 merupakan kereta yang dibeli oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen pada tahun 1938 dari pabrik Beynes (Belanda). Dikutip KabarPenumpang.com dari heritage.kereta-api.co.id, Kereta seri SS9000 merupakan kereta dengan fasilitas tempat tidur yang dilengkapi sistem penyejuk udara. Bogie kereta seri SS9000 dilengkapi dengan roller bearing yang mulus dan handal serta dirancang untuk dapat melaju pada kecepatan tinggi. Kereta ini memiliki panjang 20 meter. Kereta ini dibeli dengan tujuan untuk melengkapi kereta mewah Java Nacht Express.

Baca juga: Oriental Desert Express, Sensasi Kereta Mewah Pelintas Padang Pasir

Lokomotif C28

Bagaimana pun SS9000 adalah sebuah gerbong, meski dirancang dapat melaju pada kecepatan tinggi, kinerjanya akan bergantung pada tipe lokomotif yang digunakan. Merujuk informasi dari Wikipedia.org, lokomotif penarik dari Java Nacht Express adalah C28 produksi Henschel Kassel, Jerman. Lokomotif uap ini dinobatkan sebagai lokomotif tercepat dunia untuk tipe Narrow gauge (1.067 mm) yakni 110 km per jam. Pada saat itu rutenya meliputi Jakarta – Bandung, Jakarta – Surabaya, dan Surabaya – Jakarta. Selain itu kehandalannya terbukti karena lokomotif ini dapat melaju dengan kecepatan yang sama pada dua arah. Lokomotif lain yang juga pernah menarik Java Nacht Express adalah C53 buatan Werkspoor, N.V, Belanda. Lokomotif uap ini dapat melesat hingga kecepatan maksimum 90 km per jam.

Tentang kereta (gerbong) SS9000 hingga kini masih lekat di kalangan pecinta dunia kereta api di Tanah Air. Sebutan lain SS9000 adalah Kereta Djoko Kendil. Djoko Kendil terdiri dari 2 gerbong, dan Di usia yang semakin tua, kereta-kereta seri SS9000 mulai terpinggirkan dan turun kelas menjadi kereta penumpang kelas ekonomi dan kereta penolong. Sebagai kereta penumpang kelas ekonomi dan kereta penolong, SS9000 mendapat nomer baru yaitu IW 3821 dan IW 38221. Kereta IW 38212 merupakan bekas kereta penumpang K3 38201 sedangkan kereta IW 38221 merupakan bekas kereta penolong NRU 38201. Kereta Djoko Kendil saat ini telah berhasil direstorasi oleh Balai Yasa Surabaya Gubeng, dan dioperasikan sebagai kereta wisata.

Kereta Djoko Kendil saat ini. Foto: heritage.kereta-api.co.id

Baca juga: Tengok Kemewahan “Venice Simplon – Orient Express, Kereta dengan Tarif Mulai Rp44 Juta

Pada 28 April 2009, Kereta Djoko Kendil mendapat kehormatan untuk membawa Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa menteri, dari Stasiun Tanjung Priok ke Stasiun Pasar Senen.

Rongsokan Mesin Jet Rolls-Royce Disulap Jadi Karavan Unik, Butuh Waktu 1.000 Jam

Mesin rongsokan hampir tidak ada manfaatnya. Namun, jika ada kemauan, mesin rongsok mungkin bisa jadi suatu hal bernilai dan unik, seperti apa yang dilakukan Steve Jones. Mantan teknisi Angkatan Udara Britania Raya (RAF) dikabarkan berhasil mengubah rongsokan mesin Rolls-Royce Conway menjadi sebuah pod karavan unik bernama VC10 Caravan Pod.

Baca juga: Pensiun dari Kedinasan, Helikoper Ini Berubah Fungsi Jadi Cottage Mewah

Dilansir Insider, ide untuk menyulap mesin yang biasa digunakan di pesawat Vickers VC10 itu muncul pada 2013 lalu. Saat itu, ia mendapat kabar bahwa rekan lamanya di RAF telah mempensiunkan pesawat buatan Vickers-Armstrongs tersebut.

Setelah beberapa tahun berlalu, ia pun mendatanginya dan membeli mesin pesawat itu. Proses perakitan mesin rongsok menjadi sebuah trailer atau pod karavan tidaklah mudah. Setidaknya butuh waktu sekitar 1.000 jam atau kurang lebih dua bulan, mulai Januari-Maret 2020 lalu. Kocek yang dikeluarkan juga tergolong mahal, mencapai $5.025 atau sekitar Rp70 juta lebih (kurs 14.084). Itu pun belum termasuk membeli rongsokan atau mesin bekas itu.

Interior pod karavan buatan Steve Jones. Foto: Insider

Disebutkan, mula-mula Jones memotong semua kabel dan pipa, diikuti dengan meratakan bagian bawah mesin agar sesuai dengan sasis. Kemudian, ia menyiapkan dua pintu, jendela, melapisi bagian dalam pesawat dengan kayu, karpet, membuat pajangan di dinding, meletakkan furnitur minimalis, dan membuat lounge-dining area di ruang yang cukup sempit, lengkap dengan dua kursi panjang yang bisa difungsikan sebagai tempat tidur double bed.

“Tugas besar pertama saya adalah membagi mesin menjadi dua, jadi saya bisa menggunakan rangka luar menjadi pod saya,” katanya. “Setelah semua komponen dikeluarkan dan hanya menyisakan dua roda saja, saya memasukkan kayu lapis dan kemudian menambahkan furniture dan peralatan penunjuang lainnya,” tambahnya.

Ketika difungsikan, VC10 Caravan Pod buatan Jones akan tampak lebih lega dengan adanya dua pintu yang membuat separuh karavan tersebut terbuka lebar. Hal itu juga bisa membuat cahaya dan udara segar masuk ke dalam kabin pod itu.

Baca juga: Furrion Rilis Dua Konsep Caravan Futuristik, Salah Satunya Dilengkapi Helipad!

Meskipun sudah selesai dikerjakan dan siap digunakan kapan pun, Jones belum berencana membawa pod karavan unik itu keliling Inggris sampai setidaknya 2021, akibat pandemi virus Corona. Namun, sebelum hal itu terwujud, nampaknya ia akan disibukkan dengan banyaknya pesanan pod karavan serupa dan khusus. Dalam waktu dekat, Jones berencana untuk menyelesaikan pesanan pod karavan senilai $31.477 atau Rp 436 juta lebih (kurs Rp 14.084).

Jones memang mendadak terkenal usai kegiatannya yang berpusat di kediamannya di Leicester, diliput oleh sebuah stasiun TV dan ditayangkan dalam sebuah acara bedah rumah, George Clarke’s Amazing Spaces.

Kekurangan Tenaga Kerja, Jepang Canangkan Operasional Shinkansen Tanpa Masinis

Berbading terbalik dengan di Indonesia, di Jepang kabarnya tengah terjadi penyusutuan jumlah angkatan kerja, alhasil beberapa sektor di Negeri Sakura mengalami kesulitan untuk mencari tenaga kerja. Berangkat dari hal tersebut, East Japan Railway Co (JR East) telah mencanangkan program pengoperasian kereta peluru Shinkansen dengan mekanisme tanpa awak di tahun 2021.

Baca juga: Beruang Serang Pekerja Konstruksi Kereta Peluru Shinkansen Gegara Kehabisan Biji Pohon Ek

Mengutip dari kyodonews.net (10/11/2020), disebutkan JR East akan melakukan uji coba otonom kereta peluru shinkansen seri E7 pada musim gugur mendatang, dengan tujuan mengoperasikan kereta secara otomatis di masa depan di tengah kekurangan tenaga kerja.

Yuji Fukasawa, presiden operator kereta api utama di JR East mengatakan pada konferensi pers, bahwa kereta Shinkansen dengan 12 gerbongnya akan melakukan beberapa uji coba sejauh 5 kilometer di Prefektur Niigata, barat laut Tokyo, antara Oktober dan November untuk pemeriksaan teknis.

Shinkansen seri E7, yang memiliki kecepatan tertinggi 260 km per jam dan melintasi Jepang bagian tengah dan timur. Untuk tahap uji coba, kereta peluru itu akan dikemudikan dari jarak jauh. Meskipun masinis ada di dalam kereta, mereka tidak akan mengoperasikan kereta dan hanya menangani keadaan darurat, sepintas mirip dengan operasional di MRT Jakarta.

Sementara untuk jadwal otomatisasi secara penuh pada Shinkansen, pihak operator belum memberikan keputusan.

Di balik itu semua, JR East berharap sistem otomatis akan mengurangi kesalahan manusia dan meningkatkan keselamatan sembari membantu mengatasi kekurangan masisnis di masa depan di tengah populasi usia kerja yang menyusut. Program otomatisasi kereta peluru di Jepang diperkirakan akan menyedot dana sekitar 200 juta yen (US$ 1,9 juta).

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Pada saat pengujian di musim gugur, kereta juga akan diintegrasikan dengan komunikasi berbasis teknologi 5G lokal, yang memungkinkan transmisi informasi cepat di area tertentu. JR East memperkirakan test koneksi mobile broadband bakal menelan biaya 80 juta yen. JR East kabarnya telah melakukan tes serupa pada kereta api untuk jalur lingkar Yamanote Tokyo.

Enam Alasan Mengapa Pesawat Tidak Terbang di Atas Pegunungan Himalaya, Nomor Enam Ngeri!

Pesawat, sekalipun sudah dilengkapi dengan teknologi super canggih, tetap saja memiliki batasan-batasan tertentu. Hal itulah yang pada akhirnya membuat pesawat tidak terbang atau bisa juga dibilang menghindari wilayah tertentu.

Baca juga: Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun

Di tulisan sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com sudah membahas tuntas alasan mengapa pesawat dilarang terbang di atas kakbah serta alasan mengapa pesawat tidak terbang di atas Antartika. Selain dua hal itu, ternyata, pesawat pada umumnya juga menghindari terbang di atas Pegunungan Himalaya. Setidaknya, ada enam alasan terkait hal itu.

Oleh karenanya, agar lebih jelas, berikut kami sarikan dari laman Simple Flying, enam asalan mengapa pesawat tidak terbang di atas Pegunungan Himalaya.

1. Terlalu tinggi
Secara teknis, banyak pesawat modern dapat terbang melintasi Himalaya. Hanya saja, Himalaya merupakan wilayah yang sangat luas. Panjangnya lebih dari 2.300 kilometer dengan ketinggian rata-rata lebih dari 6.000 meter. Puncak tertingginya adalah Gunung Everest yang mencapai 8.848 meter. Itu berarti, pesawat komersial jarak jauh beberapa di antaranya sudah dipastikan tak bisa melewati wilayah ini, seperti Boeing 777-300.

2. Kurangnya medan datar
Wilayah yang luas dan tinggi rupanya masih belum cukup menghalangi pesawat untuk terbang di atas langit Himalaya. Ada hal lain yang juga turut menghalangi, yakni kurangnya medan datar. Saat ini, hanya ada dua bandara dengan landasan pacu yang mumpuni di sana, yakni Bandara Gonggar Lhasa dengan landasan pacu sepanjang 4.000 meter dan Bandara Internasional Tribhuvan Kathmandu yang memiliki landasan pacu 3.350 meter.

3. Area konflik
Sudah bukan satu ada dua pesawat yang mengalami kecelakaan saat melintasi area konflik. Teranyar, pesawat Boeing 737-800 Ukraina International Airlines 752 mungkin bisa jadi salah satu bukti betapa bahayanya bila pesawat komersial melintasi wilayah konflik.

Himalaya sebetulnya masuk ke dalam lima negara, Pakistan, India, Cina, Bhutan, dan Nepal. Dari kelima itu, Cina dan India menjadi dua negara yang kerap berseteru memperebutkan satu-dua wilayah di pegunungan tersebut. Muara dari itu, latihan militer pun kerap dilakukan.

Selain itu, selaku negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, Cina sangat superior untuk mengatur lalu lintas di Himalaya. Sayangnya, Negeri Tirai Bambu itu kerap melarang maskapai komersial melintas. Hanya maskapai Cina yang diizinkan melintasi wilayah tersebut.

4. Kondisi darurat
Saat terbang dengan aman di FL34 di atas puncak tertinggi Himalaya, udara sangat tipis. Bila penerbangan normal, mungkin tak ada masalah. Namun, bila terjadi dekompresi dan pesawat dipaksa turun ke ketinggian sekitar 10 ribu kaki untuk mengamankan pasokan oksigen, tentu hal itu akan sangat membahayakan, mengingat ketinggian tersebut masih dalam range pegunungan.

Baca juga: Bandara Pakyong di Timur Laut India, Tawarkan Eksotisme Himalaya

5. Turbulensi
Ketinggian ekstrem membuat cuaca di sekitaran Pegunungan Himalaya cepat berubah. Sudah begitu, udara yang jernih juga membuat kinerja radar menurun. Akibatnya, potensi turbulensi atau clear air turbulence jadi meningkat dan membuat penerbangan jadi riskan.

6. Bahan bakar membeku
Semakin tinggi terbang, semakin dingin. Bahan bakar pesawat nyatanya bisa saja membeku pada -47 derajat Celcius di sekitaran langit Himalaya. Guna menghindari hal itu, pesawat biasanya terbang lebih rendah untuk mendapatkan udara yang lebih hangat. Namun, hal itu bukan sebuah pilihan terbaik saat terbang di Himalaya.

Buat Para Mahasiswa, Qatar Airways Tawarkan Program Eksklusif untuk Menjelajahi Dunia

Ada kabar baik baik untuk para mahasiswa di seluruh dunia, pasalnya Qatar Airways telah meluncurkan program eksklusif yang diberi label Student Club, yaitu berupa diskon besar dan keuntungan seperti tarif khusus untuk penerbangan, kuota bagasi yang lebih besar, kebebasan mengubah tanggal penerbangan dan Super WiFi gratis di pesawat.

Baca juga: Sejak Februari 2020, 99,9 Persen Penumpang Qatar Airways Bebas Covid-19

“Produk Student Club dirancang khusus dengan mempertimbangkan kebutuhan para mahasiswa. Bepergian adalah bagian penting dari kehidupan mereka karena banyak yang memilih untuk belajar di luar negeri selama masa kuliah atau untuk satu semester saja. Kami juga memahami bahwa masa liburan panjang di universitas adalah kesempatan emas bagi para mahasiswa untuk mengunjungi keluarga, teman, atau sekadar menjelajahi dunia,” ujar Chief Executive Qatar Airways Group, Akbar Al Baker dalam pesan tertulis yang diterima KabarPenumpang.com (17/11/2020).

Para mahasiswa juga akan terdaftar secara otomatis dalam Qatar Airways Privilege Club — untuk mendapatkan akses ke lebih banyak manfaat — dan akan naik tingkat sebagai hadiah kelulusan, serta berkesempatan mendapatkan 5.000 Qmiles jika mengajak teman bergabung ke Student Club.

Sebagai anggota Privilege Club, para mahasiswa akan mendapatkan Qmiles saat bepergian dengan Qatar Airways, maskapai aliansi Oneworld, atau maskapai mana pun yang menjadi mitra Qatar Airways. Para mahasiswa juga bisa mendapatkan Qmiles dengan menggunakan kartu kredit Qatar Airways dan saat berbelanja di mitra ritel dan gaya hidup Privilege Club. Qmiles dapat ditukar dengan berbagai manfaat menarik, termasuk hadiah penerbangan, peningkatan kabin atau bagasi lebih besar di Qatar Airways, berbelanja di Qatar Duty Free, serta penerbangan dan menginap di hotel mitra Qatar Airways.

Baca juga: Susul Singapore Airlines, Qatar Airways Luncurkan Menu Vegetarian

Anggota Student Club akan mendapatkan kartu digital yang menunjukkan tingkat keanggotaan mereka. Kartu ini dapat disimpan di dompet seluler atau aplikasi seluler Qatar Airways. Semua mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan penuh atau paruh waktu dan berusia antara 18 hingga 30 tahun berhak untuk mengikuti program ini.