Inilah Panorama Paling Indah Saat Naik Kereta Api di Pulau Jawa

Menikmati perjalanan kereta api tak sekadar merasakan kenyamanan dengan fasilitas yang disediakan. Apalagi saat menggunakan kereta api dengan rangkaian yang baru, tentunya seperti tak mau beranjak dari tempat duduk.

Tentunya kereta api di Indonesia selalu menghadirkan panorama yang memukau saat di perjalanan. Panorama gunung, bukit, hamparan sawah, serta laut lepas. Bagi yang sering menggunakan kereta api tentu paham jalur mana yang akan melewati panorama indah baik di utara maupun selatan Pulau Jawa.

Tak hanya itu banyak jalur kereta api yang memiliki sejarah yang melegenda bahkan masih bisa digunakan hingga kini. Rute-rute bersejarah tersebut tentunya juga menyimpan pesona wisata alam yang kuar biasa. Apalagi saat melihat melalui jendela, panorama yang tersaji berubah menjadi sesi berwisata menikmati keindahan alam langsung saat di perjalanan.

Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata (Kemenpar), inilah jalur kereta api yang memiliki panorama indah di Pulau Jawa yang wajib kalian ketahui:

Rangkaian kereta api melintas di tepi pantai jalur utara Jawa. (Foto: Dok. Tangkapan Layar Youtube Amri Saputera)

1. Jalur Tepi Laut Pekalongan – Semarang
Primadona jalur utara memang sangat diacungi jempol. Memang tak banyak pemandangan menawan seperti di jalur selatan, namun jalur utara ini satu-satunya yang tak dimiliki oleh jalur kereta api lainnya di Pulau Jawa.

Kereta api yang melewati jalur ini sangat dekat dengan laut. Penumpang tentu bisa menikmati pemandangan laut utara Jawa yang luas. Stasiun yang berada di jalur utara ini pun sebenarnya tersedia, namun sayangnya tak ada kereta api yang singgah atau berhenti apalagi melayani naik dan turun penumpang. Ya, Stasiun Plabuan yang benar-benar memiliki panorama laut utara yang mempesona.

2. Jalur Selatan Banjar – Cicalengka Sensasi Panorama Priangan Timur
Jalur selatan punya sensasi segudang panorama indah yang ditawarkan selama naik kereta api. Disini penumpang selalu dihadirkan dengan pemandangan gunung, hamparan sawah, sungai dan pedesaan yang membuat mata tak bisa terpejam.

Selain panorama yang disebutkan, jalur ini merupakan jalur bersejarah dan masih meninggalkan jejak bangunan kereta api maupun sistem persinyalan yang masih jadul dan aktif digunakan hingga saat ini.

3. Jalur Purwakarta – Bandung Paling Ekstrem
Dikatakan jalur ekstrem tentu saja bagi penumpang setia kereta api yang tentu mengetahui jalur ini. Ya jalur ini selalu melewati jalur ekstrem seperti jembatan dan terowongan tertua kedua yang aktif hingga kini.

Banyaknya jembatan yang dilewati membuat penumpang yang merasakannya serasa terbang, pasalnya tak ada penyangga di kiri maupun kanan jembatan tak seperti di jalur lainnya. Rangka bawah menjadi penyangga satu-satunya untuk menahan setiap kereta api yang melintas selama lebih dari satu abad.

Tak cuma jembatan, terowongan yang dilalui satu-satunya pun tak luput dari pandangan penumpang saat naik kereta. Terowongan Sasaksaat yang sangat dinanti penumpang saat memasuki perbukitan di kawasan Bandung Barat, tepatnya antara petak Stasiun Maswati – Stasiun Sasaksaat.

4. Jalur Kantong Terlama di Timur Pulau Jawa
Pemandangan di jalur ini memang random. Ada beberapa jembatan terkenal dan terowongan kembar kereta api yang digadang-gadang satu-satunya dibangun oleh anak bangsa pada tahun 1967 – 1969. Terowongan tersebut bersamaan dengan pembangunan Bendungan Ir. Sutami. Terowongan tersebut dinamakan Eka Bakti Karya dan Dwi Bakti Karya.

Jalur ini biasa disebut ‘jalur kantong’ karena bisa dilihat dari aplikasi google map. Jalur ini memang satu-satunya jalur kereta api yg bisa terakses menggunakan kereta api lokal yang melintas dari Surabaya melewati Sidoarjo, Bangil, Malang, Blitar, Kertosono, Mojokerto, dan berakhir kembali di Surabaya.

5. Menembus Hutan dan Kebun Kopi di Jalur Paling Timur Pulau Jawa
Panorama satu ini merupakan jalur kereta api paling timur Pulau Jawa. Jalur ini menghubungkan dari Surabaya maupun Malang menuju perhentian akhir di Banyuwangi (Stasiun Ketapang). Di jalur ini tentu tak kalah menarik dengan panorama di jalur lainnya.

Ya, banyak panorama yang ditawarkan saat naik kereta api, seperti melewati terowongan yang menembus perbukitan Gumitir yakni Terowongan Mrawan (690 meter) dan Garahan (113 meter). Kedua terowongan tersebut menjadi terowongan terpanjang di jalur tersebut.

Tak hanya itu penumpang juga disuguhi panorama kebun kopi yang luas, hutan, serta perkebunan dengan latar belakang megahnya Gunung Raung dan Gunung Ijen. Nah, ciri khas jalur ini adalah banyaknya pohon kelapa yang menambah ekosistem pemandangan.

Selain itu jalur kereta api hingga ke Stasiun Ketapang merupakan rute paling praktis menuju ke Pulau Bali. Banyak penumpang yang biasa berlibur dengan budget rendah, selalu gunakan kereta api untuk perjalanan transit ke Pulau Bali dari Pelabuhan Ketapang.

Bagaimana, pemandangan jalur kereta api di Pulau Jawa tentu indah bukan? Perjalanan kereta api tentu menawarkan wisata yang berbeda, unik, dan berkesan. Momen di balik jendela ini juga dapat menjadi kesempatan untuk refleksi diri menikmati keindahan alam Nusantara.

[Video] Stasiun Plabuan – Stasiun Aktif di Indonesia yang Berdiri Kokoh di Tepi Laut Jawa

Beken dengan ‘Atraksi’ Jet Blast, Bandara Princess Juliana Ternyata Pernah Makan Korban Jiwa

Bandara yang satu ini terkenal bukan karena layanannya yang special, melainkan letak geografisnya yang berada di tepi laut dimana itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Banyak wisatawan yang menantikan pesawat landing dan take off, karena hal tersebut memberikan pengalaman luar biasa, tersembur jet blast! Ya, selamat datang di Bandara Internasional Princess Juliana!

Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Bandara yang masuk ke dalam teritori Belanda, tepatnya di The Caribbean Island of Saint Martin ini memiliki kode IATA SXM. Pada tahun 1942, bandara ini mulanya beroperasi sebagai bandara militer, hingga pada tahun 1943, bandara ini beralih fungsi menjadi bandara untuk penerbangan sipil.

Kemudian pada tahun 1964, bandara ini didesain ulang dan dipindahkan, dengan sebuah bangunan terminal dan menara Air Traffic Controller (ATC) yang baru. Mengingat perkembangan di dunia aviasi global terbilang cepat, maka fasilitas pendukung operasional bandara di-upgrade pada tahun 1985 dan 2001.

Seperti yang sudah disinggung di atas, orang-orang lebih mengenal bandara ini sebagai area untuk ‘menguji’ kekuatan mesin jet, karena para pengunjung Pantai Maho – Pantai yang berada persis di ujung landas pacu Bandara Internasional Princess Juliana – selalu menantikan ‘atraksi gratis nan berbahaya’ dari setiap pesawat yang hendak take off dan menembakkan angin dari mesin jet. Tidak hanya itu, pesawat yang hendak landing pun menjadi salah satu atraksi yang ditunggu oleh pengunjung Pantai Maho, karena mereka bisa melihat lambung pesawat dari jarak yang sangat dekat!

Sumber: Baltimore Post-Examiner

Adapun nama bandara ini sendiri diambil dari salah satu Ratu Kerajaan Belanda yang memerintah sejak 6 September 1948 hingga 30 April 1980, Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau. Putri Juliana sendiri pernah mendarat di bandara ini pada tahun 1944 sebagai Putri Mahkota, dan dari situlah cikal bakal pemberian nama bandara ini.

Menyinggung soal operasional, tidak hanya melayani penerbangan sipil saja, tapi bandara yang memiliki terminal empat lantai yang menawarkan ruang seluas 27000 meter persegi ini melayani penerbangan charter seperti Gol Transportes Aéreos dan Surinam Airways.

Mengingat statusnya yang masuk ke dalam salah satu daftar bandara ekstrem di dunia, bukan berarti bandara yang pada tahun 2015 silam menangani 1.829.543 penumpang dan sekitar 60.000 pergerakan pesawat ini tidak pernah memakan korban jiwa.

Baca Juga: Mendarat Darurat, Pesawat Cessna Gilas Dua Orang di Pantai Caparica

Pada 13 Juli 2017, seorang wisman asal Selandia Baru dinyatakan meninggal setelah dirinya terhempas jet blast yang dihasilkan oleh sebuah Boeing 737 yang hendak take off. Wanita berusia 57 tahun tersebut di nyatakan sebagai korban jiwa pertama yang meninggal akibat jet blast yang mengakibatkan dirinya terpental dan kepalanya menghantam kerasnya aspal.

Dukung Operasional Kereta Petani, KAI Services Bangun Triple Decker Parkir Motor di Stasiun Rangkasbitung

KAI Services melalui unit usahanya Resparking tengah membangun fasilitas triple decker parkir motor seluas 500 m² di Stasiun Rangkasbitung. Infrastruktur baru ini akan menambah sekitar 1.700 Satuan Ruang Parkir (SRP).

Penambahan kapasitas parkir ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan ruang parkir yang terus meningkat, terutama setelah beroperasinya Kereta Petani dan Pedagang, yang kini menjadi moda transportasi utama bagi petani, pedagang, serta pelaku usaha kecil di wilayah Banten. Saat ini, Stasiun Rangkasbitung memiliki kapasitas 750 SRP motor dan 44 SRP mobil.

Catat! Ini Syaratnya Jika Penumpang Ingin Naik Kereta Petani dan Pedagang

Pembangunan triple decker tersebut ditargetkan selesai sebelum angkutan Lebaran 2026, sehingga masyarakat dapat langsung memanfaatkannya pada puncak mobilitas perjalanan. Kehadiran fasilitas baru ini diharapkan semakin memperkuat konektivitas masyarakat menuju layanan Kereta Petani, yang berperan dalam mendukung distribusi hasil bumi dan aktivitas ekonomi lokal.

Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menyampaikan bahwa proyek ini merupakan bagian dari komitmen KAI Services dalam meningkatkan kualitas layanan pendukung transportasi publik.

“Pembangunan triple decker di Stasiun Rangkasbitung merupakan dukungan nyata KAI Services terhadap operasional Kereta Petani. Dengan fasilitas parkir yang lebih luas dan teratur, kami ingin memastikan mobilitas masyarakat—terutama petani dan pedagang—dapat berjalan semakin mudah,” ujar Nyoman.

“Parkir yang memadai adalah simpul penting dari ekosistem transportasi. Penambahan 1.700 SRP ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan lebih bagi masyarakat, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi yang tumbuh bersama hadirnya Kereta Petani,” tambahnya.

KAI Services melalui Resparking akan terus memperkuat fasilitas parkir di berbagai stasiun untuk memastikan akses yang aman, nyaman, dan memenuhi kebutuhan pengguna transportasi publik.

Jalur Tanah Abang – Rangkasbitung: Rute Padat, Headway Cepat

Setelah Manggarai, Stasiun Tanah Abang Kini Menjadi Tersibuk di Jakarta

Berlokasi strategis di pusat kegiatan perdagangan terbesar se-Asia Tenggara, yakni kawasan Tanah Abang, stasiun ini tak hanya melayani penumpang harian, tetapi juga menjadi penggerak utama mobilitas warga, pekerja, dan wisatawan domestik yang menggunakan moda transportasi massal.

Dalam sistem transportasi Jabodetabek, Stasiun Tanah Abang memegang peran penting sebagai titik konektivitas lintas kota dan kabupaten melalui layanan KRL Commuter Line yang efisien dan terjangkau.

Dengan infrastruktur yang telah diperbarui dan layanan yang semakin ditingkatkan, Stasiun Tanah Abang tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik-turun penumpang, melainkan juga sebagai pusat integrasi moda transportasi perkotaan yang mendukung mobilitas cepat dan dinamis bagi masyarakat modern.

Rangkaian KRL masuk jalur 1 bangunan baru Stasiun Tanah Abang.

Tentu setiap harinya memanfaatkan Stasiun Tanah Abang untuk bepergian dari dan menuju berbagai destinasi, mulai dari kawasan Serpong, Parung Panjang, hingga Rangkasbitung di ujung barat Provinsi Banten. Banyak masyarakat pekerja yang menggantungkan perjalanan hariannya ke stasiun ini karena keterjangkauan waktu dan biaya, serta ketersediaan jadwal keberangkatan yang tinggi.

Modernisasi sistem persinyalan di stasiun ini pun menjadi salah satu juga perjalanan tersibuk KRL Jabodetabek ini dan bukan sekadar pembaruan teknis. Upaya besar untuk meningkatkan keselamatan, keandalan, dan efisiensi operasional kereta api, sistem baru ini memungkinkan pengaturan lalu lintas kereta juga lebih fleksibel dan minim risiko kesalahan manusia.

Sebagai salah satu stasiun tersibuk di Jakarta, Stasiun Tanah Abang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang yang dirancang untuk menunjang kenyamanan, keamanan, dan efisiensi aktivitas mobilitas harian. Fasilitas di stasiun ini terus ditingkatkan secara berkala guna menyesuaikan dengan kebutuhan penumpang yang semakin beragam, mulai dari pekerja kantoran, pelajar, hingga wisatawan.

Stasiun Tanah Abang sudah menjadi kewajiban untuk menjaga keselamatan dan keamanan para penumpang yang menjadi stasiun paling sibuk setelah Stasiun Manggarai. Dari data penumpang menyebutkan bahwa Stasiun Tanah Abang Baru setelah pembangunan, kapasitasnya meningkat dari 141 ribu menjadi 380 ribu penumpang per hari atau sekitar 63 juta penumpang selama Januari–Oktober 2025, setara dengan 22 persen dari total penumpang KRL Jabodetabek.

Dengan sistem modern yang terintegrasi, Stasiun Tanah Abang Baru diharapkan mampu menjawab tantangan kepadatan penumpang dan menjadi model transformasi transportasi publik yang aman, efisien, dan berdaya saing global.

Gedung Baru Stasiun Tanah Abang, Kini Penumpang Bisa Gunakan Peron Jalur 1

Isu Mesin Global: Airbus A320neo Dinyatakan Aman Setelah Inspeksi Wajib

Isu global mengenai kebutuhan inspeksi mendesak pada mesin Pratt & Whitney PW1100G (GTF) yang menggerakkan keluarga pesawat Airbus A320neo telah menjadi sorotan utama dalam industri penerbangan sejak pertengahan tahun 2023. Meskipun sempat menyebabkan pengandangan massal ratusan pesawat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, otoritas penerbangan kini mengonfirmasi bahwa pesawat yang telah menjalani prosedur perbaikan dan inspeksi wajib sudah aman untuk beroperasi kembali.

Masalah utama yang memicu krisis ini adalah temuan mengenai cacat manufaktur pada serbuk logam yang digunakan untuk memproduksi cakram turbin bertekanan tinggi (High-Pressure Turbine disks) dan komponen tertentu lainnya di mesin GTF. Kontaminasi ini meningkatkan risiko keretakan dan keausan dini, yang dapat menyebabkan kegagalan mesin di udara.

Produsen mesin, Pratt & Whitney, bersama dengan Airbus dan regulator penerbangan global seperti EASA (European Union Aviation Safety Agency) dan FAA (Federal Aviation Administration), segera mengeluarkan Arahan Kelaikan Udara (Airworthiness Directive) yang bersifat wajib. Arahan ini memerintahkan maskapai untuk melakukan inspeksi mendalam (termasuk inspeksi non-destructive) terhadap komponen mesin tertentu, termasuk melepas mesin dari pesawat dan menggantinya dengan unit cadangan atau yang sudah diperbaiki.

Akibat dari arahan wajib ini, maskapai penerbangan di seluruh dunia terpaksa mengandangkan ratusan pesawat A320neo yang ditenagai mesin GTF. Hal ini disebabkan kurangnya ketersediaan mesin pengganti yang bebas cacat, menciptakan kemacetan besar dalam rantai pemeliharaan dan perbaikan (Maintenance, Repair, and Overhaul/MRO).

Data industri penerbangan menunjukkan bahwa situasi ini membuat sepertiga armada Airbus A320neo yang menggunakan mesin GTF tidak dapat beroperasi penuh pada tahun 2025.

Di Indonesia, maskapai yang mengoperasikan A320neo juga turut merasakan dampak, memaksa mereka membatalkan sejumlah penerbangan dan menyesuaikan jadwal operasional.

Pernyataan bahwa pesawat-pesawat ini “sudah resmi dinyatakan aman” merujuk pada fakta bahwa otoritas penerbangan seperti FAA dan EASA tidak pernah mencabut sertifikasi kelaikan udara dasar pesawat Airbus A320neo secara keseluruhan.

Terkait Grounded Armada A320, Ini Update Terbaru dari Airbus

Starlink Luncurkan Layanan Internet Seluler Satelit: Tanpa Pengaturan, Ponsel Lama pun Bisa Terhubung

Starlink, layanan internet satelit global yang dioperasikan oleh SpaceX milik Elon Musk, kembali menciptakan gebrakan dengan meluncurkan teknologi Direct to Cell (D2C). Layanan revolusioner ini menjanjikan konektivitas internet, pesan, dan suara langsung dari satelit ke ponsel pintar standar—tanpa perlu perangkat keras khusus, parabola, ataupun aplikasi tambahan.

Teknologi Direct to Cell (D2C) mengatasi kendala koneksi satelit tradisional dengan cara yang cerdas, persisnya satelit Starlink generasi terbaru dilengkapi dengan modem eNodeB dan antena phased array yang canggih. Modem ini memungkinkan satelit untuk berfungsi layaknya Base Transceiver Station (BTS) atau menara seluler yang mengorbit di luar angkasa.

Qatar Airways Umumkan Lebih dari 100 Pesawat Widebody Telah Dilengkapi Akses Internet Starlink

Ponsel pintar 4G/LTE biasa—bukan ponsel satelit khusus—dapat menerima dan mengirim sinyal langsung ke satelit ini. Starlink beroperasi sebagai mitra roaming bagi operator seluler di darat. Karena menggunakan frekuensi LTE standar, pengguna tidak perlu menginstal firmware baru, membeli ponsel satelit, atau melakukan pengaturan khusus. Cukup pastikan ponsel memiliki pandangan yang jelas ke langit.

Layanan D2C ini menawarkan tiga kemudahan utama yang membedakannya dari layanan satelit lain:

1. Tanpa Perangkat Keras Khusus (No Setup)
Tidak seperti layanan broadband Starlink konvensional yang membutuhkan parabola (Dishy), D2C tidak memerlukan peralatan tambahan. Hal ini menghilangkan kerumitan instalasi dan membuat konektivitas benar-benar portabel.

2. Kompatibel dengan Ponsel Standar (No New Phone Needed)
Pengguna dapat terhubung menggunakan ponsel pintar 4G/LTE yang sudah ada di saku mereka. Ini adalah kunci untuk konektivitas massal dan memotong biaya bagi konsumen.

3. Menghapus Zona Blank Spot
Fokus utama D2C adalah mengisi kekosongan sinyal di wilayah terpencil, pedalaman (3T), laut, atau saat terjadi bencana. Teknologi ini bekerja sebagai pelengkap, bukan pengganti, jaringan seluler darat.

Layanan D2C Starlink tidak diluncurkan sekaligus dengan kapasitas penuh. Peluncurannya dilakukan bertahap, biasanya melalui kemitraan dengan operator seluler lokal di berbagai negara (misalnya, T-Mobile di AS, Entel di Chile, atau Kyivstar di Ukraina).

Starlink mengklaim bahwa dengan lebih dari 650 satelit D2C di orbit rendah, konstelasi mereka merupakan penyedia jangkauan 4G terbesar di Bumi, menjanjikan konektivitas berkelanjutan di lima benua.

Tandingi Starlink, Amazon Luncurkan Project Kuiper, Layanan Koneksi Internet Berbasis Satelit

Cara Laporan ke Petugas Setelah Temukan Barang Tertinggal di Kereta

Tentu masih ingat kejadian hilangnya tumbler di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) beberapa hari yang lalu? Ya, jejak media sosial memang di hebohkan tentang peristiwa tersebut hingga seorang pegawai yang hampir kehilangan pekerjaannya. Salah seorang penumpang KRL justru menjadi bahan cemooh dari warganet kepada penumpang KRL tersebut yang bernama Anita.

Kehilangan barang bawaan saat menggunakan transportasi umum memang rawan terjadi. Tidak hanya hilang, barang yang kita bawa juga mungkin saja rusak atau tertukar. Kehebohan Anita ini mungkin bisa dinilai sepele tapi juga suatu hal yang sebenarnya tidak boleh disepelekan oleh kita semua khususnya pengguna transportasi umum.

Kasus seperti Anita ini jika melihat dari realisasi kinerja KRL Januari-Mei 2025, yang telah melayani hampir 180 juta penumpang di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Nilai kerugian mulai dari harga tumbler hingga kegaduhan yang ditimbulkan yang tidak sebanding dengan keributan yang dibuatlah yang membuat masyarakat lebih menghakimi Anita.

Nah, bagaimana jika ada penumpang lain mengalami hal yang sama? Dalam artian tertinggal barang bawaan didalam kereta saat turun di stasiun tujuan. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) pastinya terus memperkuat layanan penanganan barang tertinggal atau hilang (Lost and Found) di seluruh stasiun dan kereta api. Hal ini bertujuan memberikan rasa aman dan nyaman sekaligus pelayanan yang responsif bagi para pelanggan.

Setiap barang yang ditemukan petugas di kereta maupun stasiun diumumkan melalui pengeras suara. Jika tidak ada yang mengambil, barang tersebut disimpan di pos pengamanan stasiun dan didata secara rinci dalam sistem Lost and Found. Pendokumentasian dilakukan dengan cermat demi keamanan dan ketepatan penyerahan kembali barang ke pemilik.

Penumpang sedang melapor ke petugas Lost and Found. (Foto: Dok. KAI)

Nah, jika kalian merasa menemukan barang yang tertinggal di kereta atau di stasiun, berikut langkah-langkahnya:

• Segera laporkan barang hilang di kereta.

• Jika masih dalam perjalanan, laporkan kepada kondektur, petugas keamanan, atau customer service on train.

• Datangi layanan Lost and Found di stasiun tujuan.

• Petugas akan membantu pencarian dan pengecekan data.

• Sampaikan detail barang, kode booking tiket, serta lokasi terakhir barang terlihat.

• Jaga kerahasiaan data pribadi dan hindari memberikan informasi pada pihak tidak berwenang.

• Verifikasi dan cocokkan data dengan petugas.

• Pastikan barang yang ditemukan memang milik Anda.

• Ambil barang sesuai prosedur resmi.

• Petugas menyerahkan barang setelah pendataan dan dokumentasi selesai.

• Hubungi Contact Center KAI 121 untuk bantuan.

• Jika tidak bisa melapor langsung, penumpang bisa menghubungi via telepon 121 atau WhatsApp 08111-2111-21.

KAI terus meningkatkan kualitas layanan, tapi pelanggan juga diimbau untuk selalu memeriksa barang sebelum turun kereta atau meninggalkan stasiun. Penumpang harus selalu menjaga barang bawaan pribadi mengingat jika kehilangan atau kerugian disebabkan karena kesalahan sendiri, akan menghilangkan pertanggungjawaban pengangkut.

Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek

SeeArch, Pelampung Penyelamat yang Dikemas Ergonomis dalam Tas Pinggang

Menikmati keindahan laut yang mempesona atau hanya bermain air, biasanya pelancong menggunakan kapal, kayak atau perahu layar tunggal. Namun bagaimana ketika kapal layar tunggal, kayak atau perahu yang ditumpangi terbalik dan terjadi di tengah laut?

Baca juga: Dramatis! Kapal Ferry di Yunani Selamatkan Gadis Kecil dengan Pelampung Unicorn yang Terbawa Arus Hingga ke Tengah Laut

Bila hal tersebut terjadi, Anda harus bertahan dan terlihat oleh orang lain yang bisa membantu menyelematkan. Belum lama ini seorang pengusaha asal Kanada, Neil Darroch membuat SeeArch yang dirancang sebagai pelampung pribadi.

SeeArch saat tidak digunakan bisa dimasukkan ke dalam kantong seperti menggunakan tas pinggang. Sehingga jika orang itu jatuh ke laut dan tidak dapat kembali ke perahu mereka, pengguna bisa meraih ke bawah dan menarik tali di kantong.

Hal ini membuat kartrid CO2 terintegrasi dengan cepat mengembang lengkungan itu sendiri, yang keluar dari kantong dan mengapung di permukaan. Selain itu tetap menempel pada kantong melalui tambatan pendek sehingga pengguna tetap aman.

Lengkungan dipasang dalam delapan detik, membentuk segitiga kuning setinggi 1,5 meter yang sangat terlihat menonjol di udara di atas pengguna. Ini terbuat dari nilon balistik 210 denier yang tangguh, dan menggabungkan patch retoreflektif di bagian atas untuk visibilitas lampu sorot malam hari.

Setelah bantuan tiba, pemakainya meletakkan kepala dan bahu mereka melalui bagian bawah lengkungan, dengan tangan terentang ke samping. Para penyelamat kemudian dapat mengambil lengkungan di bagian atas, menggunakannya sebagai selempang untuk menarik pengguna keluar dari air.

Selain itu, jika pengguna membutuhkan istirahat berkala dari menggantung yang sebagian besar direndam dalam air dingin, mereka dapat mendorong lengkungan sehingga duduk rata di permukaan mereka kemudian dapat menggunakannya seperti kasur udara kolam renang, jadi mereka berbaring secara horizontal dengan lengan dan kaki di samping.

Setelah digunakan, lengkungan dikempiskan dan dimasukkan kembali ke dalam kantong, dan kartrid CO2 diganti. Ada dua model SeeArch yakni Sport yang relatif ringan dan ramping, bersama dengan Mariner yang lebih berat.

Baca juga: Sedia Payung Sebelum Hujan, Sedia “OneUp” Sebelum Tenggelam!

Harganya masing-masing seharga CAD$199 dan $219 (sekitar US$153 dan $169). Pengiriman saat ini terbatas ke alamat Kanada, meskipun pelanggan asing dapat mendaftar untuk diberi tahu ketika pengiriman internasional tersedia.

Unik! Kota Tegal Punya Dua Stasiun Bernama Sama, Ini Penjelasannya

Menggunakan kereta api di jalur utara ada saja hal-hal unik bahkan bersejarah yang membuat masyarakat dibuat penasaran. Meski tak seindah jalur selatan, namun berbagai bangunan stasiun dan jalur non aktif pun masih bisa disaksikan hingga kini. Bahkan jalur cabang yang terhubung dengan transportasi tram pun tak luput dari ikonik daerah tersebut.

Seperti yang terjadi di Kota Tegal. Kota dengan julukan Kota Bahari ini ternyata memiliki sejarah jalur kereta api yang berdekatan dengan Stasiun Tegal. Stasiun yang hingga kini masih melayani naik dan turun penumpang tersebut merupakan stasiun cagar budaya yang dikelola PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Nah, dari sejarah di Kota Tegal, tahukah kalian bahwa sebelumnya ternyata Stasiun Tegal memiliki dua nama stasiun ya sama?

Mengutip dari artikel yang berjudul “Melihat Sejarah Tegal dari Sisi Nusantara dan Kolonial”, Stasiun Tegal Lama dibangun oleh perusahaan Javasche Spoorweg Maatschappij (JSM). Lokasi stasiun ini berada disisi utara Stasiun Tegal saat ini, tepatnya di Jalan Panggung Timur atau yang biasa dikenal dengan Tempa. Pembangunan cikal bakal stasiun di Kota Bahari ini dimulai pada tahun 1885 dan diresmikan pada 17 November 1886.

Stasiun Tegal Lama. (Foto: Dok. universiteitleiden.nl)

Awal pengoperasiannya digunakan untuk menjalankan trem, sedangkan rute awal yang dilayani stasiun ini adalah Tegal – Balapulang. Kemudian pada 16 September 1895, bangunan ini dibeli oleh perusahaan kereta api Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).

Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan, stasiun ini akhirnya digantikan oleh Stasiun Tegal Baru yang dibangun di Slerok pada tahun 1918. Usai berpindahnya operasional ke stasiun baru, kemudian stasiun ex JSM ini dinonaktifkan.

Meskipun sudah lama non aktif, saat ini sisa bangunannya masih dapat dilihat namun kondisinya sudah menjadi koperasi dan rumah makan. Sedangkan sisa relnya sudah tertimbun tanah dan bangunan, namun ada sisa rel yang terlihat menyeberangi sungai dan mengarah ke utara atau Pelabuhan.

Sementara itu Stasiun Tegal baru yang saat ini masih digunakan merupakan bangunan yang dirancang oleh Henri MacLaine Pont, salah seorang arsitek terkenal berkebangsaan Belanda yang dikenal dekat dengan SCS. Stasiun inilah yang dikenal banyak orang sebagai Stasiun Tegal yang sampai saat ini melayani perjalanan kereta api.

SCS membuat rencana untuk meningkatkan kapasitas lintas Tegal – Brebes terlebih kebutuhan angkutan penumpang dan barang semakin meningkat. Selain mengoperasikan stasiun baru, SCS juga mengoperasikan jalur baru.

Jalur baru sepanjang 12 km memiliki keunikan, antara lain jalurnya sejajar dengan jalur cabang Tegal–Prupuk bekas JSM setelah memasuki wilayah Kejambon. Dengan selesainya jalur tersebut, diharapkan kecepatan kereta api uap pada masa itu dapat ditambah dari 30 menjadi 45 km/jam.

Merasakan Nuansa Khas Vintage Stasiun Gundih di Jalur Penghubung Semarang-Solo

Keuntungan-Kerugian Duduk di Kursi Dekat Jendela-Tengah-Aisle Pesawat, Mana Lebih Favorit?

Serba-serbi memilih kursi paling nyaman dan tepat di pesawat sudah lama menjadi perbincangan. Tetapi, itu tak kunjung usai karena prefensi dan kebutuhan penumpang pesawat berbeda-beda sehingga hasilnya pun demikian.

Baca juga: Bye-bye Antre, Kursi Ini Bikin Lorong Pesawat Jadi Dua Kali Lebih Luas

Setiap kursi di kabin pesawat memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka dari itu, bila menyesuaikan pada kelebihannya saja, tentu keputusan memilih kursi tertentu akan menjadi blunder tersendiri. Pun sebaliknya, bila sekedar menghindari kekurangan kursi di dekat jendela, kursi tengah, dan kursi lorong atau aisle saja, hasilnya mungkin juga tak begitu memuaskan.

Itu sebab, sebelum memilih kursi, ketahui dulu keuntungan dan kelebihannya. Bukan hanya kursi tertentu, tetapi seluruhnya agar kursi pesawat yang dipilih bisa benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Dilansir Wiki Travel, tips atau cara memilih kursi terbaik di pesawat tentu dalam konteks maskapai yang menggratiskan pemilihan kursi. Sebab, tak sedikit maskapai yang mengenakan tarif tertentu untuk pemilihan kursi di pesawat. Salah satunya Southwest Airlines.

Untuk lebih lengkapnya, berikut tips memilih kursi pesawat yang didasari dari keuntungan dan kerugian duduk di kursi dekat jendela, kursi tengah, dan kursi di aisle.

Baca juga: Akhirnya Penumpang Pesawat di Kursi Tengah Tak Perlu Rebutan ‘Armrest’ Berkat Inovasi Kursi Joy

Kursi dekat jendela
Penumpang pesawat pada umumnya lebih memilih duduk di kursi dekat jendela ketimbang kursi tengah ataupun aisle. Itu tak sepenuhnya benar tetapi belum tentu salah. Balik lagi, sesuai dengan kebutuhan.

Kursi dekat jendela setidaknya memiliki tiga kelebihan; bebas tidur tanpa diganggu (entah itu dengan menyandarkan kepala ke kursi atau ke jendela), tidak rebutan armrest (setidaknya armrest atau sandaran tangan sebelah kanan karena armrest sebelah kiri masih rebutan dengan penumpang di kursi tengah), dan bisa menikmati pemandangan luar pesawat dengan lebih leluasa.

Tetapi, untuk masalah menikmati pemandangan, ini lebih cocok pada penerbangan pagi, siang, atau sore hari. Pada malam hari, mungkin cocok beberapa saat setelah lepas landas dan mendarat. Saat cruising di udara, hampir tak ada pemandangan apapun kecuali bulan.

Baca juga: Tips – Mau Tidur di Pesawat, Jangan Turunkan Tirai Jendelanya!

Kekurangannya tentu penumpang harus melewati satu atau dua orang untuk bisa keluar-masuk kursi. Legroom juga lebih sempit akibat dari cekungan di pesawat dan biasanya lebih dingin. Terkait itu, tentu tergantung. Bagi yang suka dingin, ini cocok. Bagi yang suka sejuk, mungkin ini jadi kekurangan.

Kursi ini juga tak cocok untuk yang terburu-buru. Sebab, penumpang harus bersabar menunggu dua penumpang di sebelahnya untuk bisa mengambil tas di kompartemen bagasi dan keluar kabin.

Kursi tengah
Kursi tengah cenderung dihindari penumpang. Padahal, sebagaimana kursi dekat jendela dan kursi di aisle, kursi tengah tetap memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kursi tengah ialah minim guncangan atau turbulensi. Selain itu, secara etiket, kursi tengah juga berhak atas armrest kanan dan kiri.

Kekurangannya, tentu lebih terbatas, harus rela diganggu penumpang di dekat jendela, dan serba sulit, baik itu melihat pemandangan, ke luar kursi, dan lainnya. Armrest kanan dan kiri terkadang juga harus berbagai karena kurangnya kesadaran etiket penumpang.

Baca juga: Kisruh di Kabin, Penumpang Kursi Belakang Kesal Pukul Kursi Depan Karena Bersandar

Kursi lorong atau aisle
Kursi di aisle kekurangannya tentu tak bisa melihat pemandangan dengan leluasa dan harus rela diganggu dua penumpang di sebelahnya. Kursi ini juga memiliki kekurangan karena kerap disenggol penumpang lain dan troli makanan secara tak sengaja. Biasanya ini terjadi di pesawat LCC yang lorongnya sempit.

Tetapi, kursi aisle memiliki beberapa kelebihan, seperti kemudahan akses ke toilet ataupun keluar masuk pesawat dan ruang lebih besar. Ini cocok untuk penerbangan malam hari yang biasanya membuat penumpang lebih cepat keluar-masuk toilet serta penumpang dengan berat badan berlebih (over weight).