Stasiun Jepang Tanpa Petugas, Penyandang Disabilitas Terancam Kesulitan Bepergian dengan Kereta

Buntut dari Jepang yang kekurangan tenaga kerja, memang mendorong teknologi otomatisasi dalam beragam industri. Namun, tak semuanya membawa berkah, sebagai buktinya para penyandang disabilitas serta lansia, termasuk yang kerepotan saat akan naik kereta api, pasalnya hampir setengah dari stasiun kereta di Jepang sudah tak lagi menempatkan petugasnya sejak tahun 2019.

Baca juga: Kekurangan Tenaga Kerja, Jepang Canangkan Operasional Shinkansen Tanpa Masinis

Ini termasuk sepuluh persen stasiun di prefektur Tokyo dan Osaka menurut data dari Kementerian Tanah, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Jepang. Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (30/11/2020), bahkan jumlah stasiun tanpa petugas cenderung lebih tinggi di daerah pedesaan, namun yang lebih parahnya lagi stasiun tanpa petugas justru semakin banyak di daerah perkotaan di mana pengguna kereta lebih banyak.

Adanya hal ini kemudian berdampak pada kehidupan sehari-hari para penyandang disabilitas yang menggunakan kereta api dan membutuhkan bantuan saat naik dan turun dari kereta. Karena hal ini, pemerintah Jepang berencana untuk merumuskan pedoman yang menentukan bagaimana operator kereta api dalam menangani masalah tersebut.

Angka-angka tersebut menandai pertama kalinya kementerian mengungkapkan data tentang stasiun tanpa pekerja menurut prefektur. Ada 9.465 stasiun kereta api di seluruh negeri pada akhir tahun fiskal 2019 dan 48,2 persen di antaranya atau 4.564, beroperasi tanpa satu pun staf stasiun. Sementara jumlah stasiun kereta api secara keseluruhan di Jepang menurun sebanyak 49 dari akhir tahun fiskal 2001, jumlah stasiun tak berawak tumbuh sebesar 444 dan meningkatkan persentase stasiun semacam itu di negara tersebut sebesar lima poin selama 18 tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa rasio stasiun tanpa petugas meningkat secara nasional. Prefektur Kochi memiliki rasio stasiun tak berawak tertinggi, yaitu 93,5 persen, dengan 159 dari 170 stasiunnya tidak memiliki petugas. Itu adalah satu-satunya prefektur di Jepang yang melampaui 90 persen.

Persentase stasiun tanpa petugas cukup rendah di wilayah Kanto dan Kansai di Jepang bagian timur dan barat. Namun, 9,9 persen stasiun di Tokyo, yang merupakan prefektur terpadat di Jepang, dan 16 persen di prefektur Kanagawa dan Osaka, yang masing-masing merupakan prefektur terpadat kedua dan ketiga, tidak ada petugas.

Meski begitu ada 19 stasiun di prefektur paling selatan Okinawa, di mana hanya monorel yang beroperasi, memiliki petugas. Penurunan stasiun berawak berasal dari memburuknya kinerja bisnis di antara perusahaan kereta api karena jumlah pengguna kereta turun seiring dengan penurunan populasi Jepang.

Stasiun di daerah pedesaan mengalami penurunan populasi yang signifikan berada di bawah tekanan untuk merampingkan operasi mereka. Perampingan telah menyerukan pembentukan pedoman bagi perusahaan kereta api tentang masalah ini.

Baca juga: Mules Saat Kereta Terakhir, Siswa di Jepang Terkunci di Toilet Stasiun

House of Councilors memberikan contoh ketentuan yang akan dimasukkan dalam pedoman dalam resolusi tambahan ketika undang-undang aksesibilitas transportasi yang direvisi diberlakukan pada bulan Mei. Ini termasuk penempatan pengasuh permanen bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan dan persiapan platform yang memungkinkan penyandang disabilitas yang tidak membutuhkan bantuan untuk naik dan turun kereta sendiri.

Atur Jarak Sosial, Pengemudi Taksi Dudukkan Manekin di Kursi Depan Penumpang

Banyak cara untuk menjaga jarak sosial antara penumpang dengan pengemudi taksi konvensional maupun online. Selain menggunakan masker, mereka juga memasang pembatas atau partisi yang dibuat dari plastik antara bilik pengemudi dengan penumpang di belakangnya.

Baca juga: Taksi di Selandia Baru Gunakan Kode QR Guna Lacak Penumpang yang Terinfeksi Covid-19

Bahkan beberapa pengemudi juga benar-benar memproteksi diri mereka dengan menutup kursi pengemudi dengan pembatas sehingga penumpang masih bisa duduk di kursi depan. Namun, demi menjaga jarak sosial di masa pandemi Covid-19, ada hal unik lain yang buat oleh pengemudi taksi.

Ya, salah satunya yang dilakukan oleh pengemudi taksi online asal Turki. Di mana pengemudi tersebut menempatkan sebuah boneka manusia atau yang biasa disebut manekin di kursi depan penumpang sebelah kursi pengemudi.

Dilansir KabarPenumpang.com dari hurriyetdailynews.com (20/11/2020), pengemudi ini bernama Hakan Atilgan yang tinggal dan mengoperasikan taksinya di provinsi barat laut Düzce, Turki. Dia sengaja mendudukkan manekin tersebut di kursi depan penumpang dan melengkapinya dengan masker untuk menutupi hidung serta mulut untuk menunjukkan protkol kesehatan.

Atilgan mengatakan, dengan kehadiran manekin dan penggunaan masker selama berkendara tersebut, dirinya bahkan mendapat tanggapan dari para pelanggannya. Meski begitu, penumpang yang naik taksi secara berkelompok tidak menyukai pengaturan tempat duduk yang baru tersebut.

Dia menyebutkan bahwa, kursi depan sangat berisiko untuk diduduki penumpang. Sebab, orang terkadang bersin dan setiap orang yang berada di dalam mobil akan menghirup virus yang keluar dari mulut mereka.

Sehingga Atilgan mengatakan, dengan adanya manekin tersebut menjadi tindakan pencegahan awal sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.

“Setiap orang peduli dengan kehidupan mereka sendiri. Itu sebabnya saya ingin warga peka tentang ini. Saya ingin mereka melindungi diri mereka sendiri dan kami sebanyak yang kami bisa, ”katanya.

Baca juga: Sebarkan Senyum Pada Pelanggan, Pengemudi Taksi Gunakan Kostum Badut

Tenzile Koç, pelanggan tetap Atılgan, menyatakan kepuasannya atas tindakan tersebut. Meskipun dia mengatakan dia suka bepergian di kursi penumpang depan sepanjang waktu, dia yakin beberapa kebiasaan harus diubah karena Covid-19.

Telat Bayar Motor Didatangi Debt Collector, Maskapai Telat Bayar Utang Juga Didatangi?

Di dunia otomotif, telat membayar kendaraan -motor maupun mobil- umumnya pengguna atau terhutang sudah hampir pasti bakal didatangi oleh debt collector. Namun, bagaimana dengan maskapai penerbangan? Terlebih, di tengah pandemi virus Corona seperti sekarang ini, sudah pasti banyak maskapai yang terseok-seok untuk membayar utang. Akankah juga mengalami nasib serupa dengan dunia otomotif?

Baca juga: Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

Terkait hal ini, praktisi hukum leasing dan keuangan pesawat, Hendra Ong, berpendapat bahwa maskapai penerbangan tidak akan didatangi oleh debt collector atau sejenisnya. Meski demikian, lessor tentu akan mencari cara bagaimana lessee atau debitur membayar utang.

Di samping itu, sebelum asset (pesawat) diberikan, lessor biasanya juga sudah mewanti-wanti maskapai bilamana terjadi gagal bayar ataupun default. Dengan begitu, langkah-langkah yang ditempuh lessor sudah sangat jelas tanpa perlu debt collector; sekalipun bila memungkinkan tetap dibutuhkan perpanjangan tangan lessor untuk mengikuti prosedur hukum di negara tempat lessee bernaung.

“Seperti yang saya sampaikan, asset ini sangat mahal sekali, puluhan juta US Dollar. Itulah diperlukan suatu dokumentasi sebelum pesawat diserahkan kepada penyewa itu sudah didokumentasi dimana ketika terjadi default, maka perusahaan lessor ataupun leasing itu dapat menarik kembali asset,” jelas lawyer yang juga partner dari firma hukum Dentons HPRP itu, saat ditemui KabarPenumpang.com, Senin (30/11), di Wisma 46, Jakarta.

Umumnya, bila maskapai sudah tak mampu membayar kewajiban utang, ada tiga skenario yang bisa ditempuh. Pertama, maskapai penerbangan akan mendapatkan bantuan dari lessor untuk mengatasi masalah keuangan mereka, seperti mengubah suku bunga tetap, periode bunga, perpanjangan sewa, atau pengiriman kembali pesawat ke lessor lebih awal, dan skenario lainnya.

Kedua, maskapai penerbangan dianggap lalai terkait pembayaran setelah kegagalan mereka untuk mengamankan bantuan dari lessor. Ketiga, maskapai penerbangan memasuki periode kebangkrutan, suka atau tidak suka.

Khusus untuk skenario kedua dan ketiga, bila hal itu terjadi, maka pesawat otomatis harus kembali ke tangan lessor. Secara umum, lessor dapat mengambil kembali fleet dari tangan maskapai dalam rentang waktu 10 hari. Namun, bila maskapai tidak kooperatif serta menolak untuk menyerahkan pesawat dan atau dokumen pesawat ke lessor maka bila lessor ingin menempuh jalur hukum, prosesnya mungkin bisa memakan waktu tiga tahun.

Dalam prakteknya, lessor hanya memiliki tiga pilihan, menempuh jalur hukum lewat pengadilan asing, arbitrase internasional, atau pengadilan tempat dimana lessee atau debitur berada, dalam hal ini Indonesia. Di antara ketiga pilihan tersebut, biasanya lessor lebih senang menempuh jalur hukum melalui arbitrase internasional.

Baca juga: Lion Air Digugat 9 Leasing Pesawat Rp189 Miliar, Pengamat: Tak Ada Iktikad Baik Bayar Utang

Beruntung, Undang-Undang Kebangkrutan Indonesia mengatur untuk menengahi perseteruan antara lessor dan lessee. Disebutkan, seorang debitur (dalam bentuk perusahaan yang didirikan atau bertempat tinggal di Indonesia) yang memiliki dua kreditur atau lebih dan gagal membayar setidaknya satu hutang yang telah jatuh tempo dan harus dibayarkan akan dinyatakan bangkrut melalui keputusan pengadilan, baik atas permintaannya sendiri atau atas permintaan satu atau lebih krediturnya.

Dengan begitu, secara hukum, debitur kehilangan haknya untuk mengendalikan dan mengelola asetnya termasuk dalam kebangkrutannya pada tanggal di mana deklarasi kebangkrutan diucapkan asalkan jika perusahaan masih memenuhi fungsi itu. Kemudian, biaya yang dapat menyebabkan pengurangan aset kebangkrutan akan menjadi di bawah wewenang kurator atau penerima (kreditur).

Studi Terbaru: Teknologi 5G Bahayakan Radar Altimeter Pesawat Sipil

Studi terbaru oleh Radio Technical Commission for Aeronautics (RTCA), mitra penerbangan swasta-publik yang memberi masukan kepada Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), memperingatkan bahwa teknologi 5G dapat menimbulkan risiko besar atau gangguan berbahaya terhadap radar altimeter pesawat sipil.

Baca juga: Pernah Dengar Cara Kerja Radar Cuaca di Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Dilansir robbreport.com, makalah tersebut dirilis bulan lalu menyusul persetujuan oleh Komisi Komunikasi Federal (FCC) terhadap provider telekomunikasi untuk menggunakan spektrum frekuensi 3,7-3,98 GHz. Keputusan ini dinilai berbahaya mengingat spektrum tersebut biasa digunakan oleh pesawat sipil.

Jika sistem telekomunikasi 5G diizinkan untuk menggunakan pita frekuensi itu, risikonya akan sangat besar dan berdampak pada operasional penerbangan di AS; termasuk adanya kemungkinan kegagalan katastropik (keretakan atau biasa juga disebut kegagalan struktural) yang berdampak cukup besar, bila tak dibarengi dengan mitigasi dini.

Altimeter radar banyak digunakan oleh pesawat-pesawat sipil di dunia. Altimeter radar merupakan satu-satunya sensor pesawat yang mengukur ketinggian pesawat di atas medan dan objek. Menurut Flight Safety Foundation, altimeter radar memberikan informasi penting terkait terrain awareness and warning systems (TAWS), sistem peringatan lalu lintas dan pencegah tabrakan (TCAS), wind shear detection systems, sistem kontrol penerbangan, dan sistem autoland.

Tak hanya itu, fitur pengukur ketinggian dari altimeter radar juga digunakan oleh sistem electronic centralized aircraft monitoring (ECAM) serta engine-indicating and crew alerting systems (EICAS).

“Kegagalan sensor-sensor ini karenanya dapat menyebabkan insiden besar,” kata laporan itu. Lebih lanjut, dalam laporan tersebut, industri penerbangan juga telah memperingatkan FCC awal tahun ini, bahwa studi tambahan diperlukan untuk mengevaluasi efek gangguan frekuensi potensial dari jaringan 5G pada altimeter radar.

Baca juga: Airbus dan M1 Singapura Uji Coba Jaringan 5G untuk Drone

“Mengingat sejauh mana batas interferensi aman terlampaui dan luasnya dampak terhadap keselamatan penerbangan, risiko interferensi berbahaya pada altimeter radar tidak dapat diselesaikan sendiri oleh industri penerbangan,” bunyi lain dari laporan itu.

Meski demikian, RTCA, mengatakan bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan industri nirkabel seluler untuk melakukan penelitian lanjutan, baik secara mandiri ataupun bersama-sama.

Inilah Journey, Bus Mewah dengan Interior ala Kondominium

Winnebago yang dikenal sebagai manufaktur kendaraan karavan asal Amerika Serikat, menghadirkan perjalanan bus yang melengkapi penumpang dengan interior seperti kondominium dengan beberapa slide-out, kontrol rumah pintar, home theater, perapian dan berbagai kenyamanan serta kemudahan lainnya. Bus baru bernama Journey ini dibangun dengan sasis dari Freightliner Maxum II XCM yang didukung oleh mesin turbo diesel 380-hp 8,9-L Cummins.

Baca juga: Bus Antar Jemput Ford E-Series ‘Disulap’ Jadi Rumah Mewah

Bila dari luar ini adalah bus RV kelas A khas dengan grafik menukik yang tersedia dalam berbagai warna. Bagian paling menarik dari eksterior adalah sistem hiburan luar ruangan yang meluncur keluar dari salah satu kompartemen penyimpanan yang berbaris di antara as roda.

Interior bus Journey (newatlas.com)

Ini mengemas TV 40-in, sound bar home theater dan subwoofer Bluetooth portabel untuk hari-hari permainan, malam film berbintang dan kebutuhan menonton TV umum. KabarPenumpang.com merangkum newatlas.com (20/11/2020), Journey bukanlah tentang penampilan eksterior yang kisahnya selalu terkuak di dalam pintu dalam hal ini pintu sisi penumpang dengan tangga tarik turun dan tenda khusus.

Kendaraan berukuran 35 kaki atau 10,8 meter ini mengandalkan tiga perosotan untuk membuka interior, dengan dua di antaranya terletak berseberangan tepat di belakang kabin pengemudi. Konfigurasi geser vis-a-vis ini membuka ruang tamu secara dramatis, dan Winnebago menjelaskan bahwa ruang tersebut dirancang untuk mengadakan pesta koktail dan jenis hiburan lainnya.

Di dalamnya menampung bangku penumpang tiga kursi di depan, satu set ruang makan yang dapat diupgrade di tengah dan kulkas 510-L bergaya perumahan di belakang, sebelum masuk ke kamar tidur serta lemari pakaian. Slide-out sisi pengemudi yang lebih pendek ditempati oleh unit kabinet penuh dengan meja panjang yang menampung TV pintar 50-in yang dapat ditarik di depan dan kompor induksi pembakar ganda portabel di sudut belakang.

Sofa terletak tepat di seberang sistem hiburan, yang juga mencakup pengaturan bilah suara. Mereka yang tidak membutuhkan tempat tidur konversi 48 x 74-in yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan bangku sofa tiga dudukan dapat memilih sepasang kursi home theater dengan cupholder built-in dan lapang pijakan kaki, menjadikan ruangan ini home theater seluler yang lengkap.

Jika penghuni tidak ingin menonton TV, mereka dapat menurunkannya dan fokus pada pemandangan ke luar jendela dan cahaya dari perapian listrik di bawah meja. Sepasang “chottomans” standar berfungsi sebagai sandaran kaki dan termasuk mengangkat sandaran kursi untuk berfungsi ganda sebagai kursi.

Kamar mandi berada di antara dapur dan kamar tidur belakang adalah desain kering yang terlihat hampir seperti dicabut dari rumah. Kamar mandi mencakup shower pintu kaca dengan tempat duduk, toilet porselen sentral dan wastafel rias yang dikelilingi oleh lemari.

Membuat interior Journey yang besar sedikit lebih kecil dan lebih terhubung, sistem Winnebago Connect menyediakan pemantauan dan kontrol sistem onboard utama dari layar sentuh dan smartphone terpusat. Dengan menggunakan sistem tersebut, penghuni dapat mengatur suhu di sekitar motorhome, menyalakan dan mematikan lampu serta mengoperasikan tenda samping.

Mereka juga dapat dengan cepat mengakses informasi tentang daya baterai, level tangki, status generator, dan lainnya. Modul hidup Journey dilengkapi dengan enam baterai rekreasi siklus dalam, inverter atau pengisi daya 3.000 W dan generator Cummins Onan 8000 W dengan start otomatis.

Ini termasuk AC ganda 15.000 W dengan pompa panas dan pemanas air tanpa tangki Aqua Hot yang dialiri oleh tangki air tawar 397-L. Fasilitas seluruh bus lainnya termasuk antena Winegard Air 360+ RV dengan router WiFi dan kartu SIM AT&T dan pemanas lantai hidronik yang tersedia.

Baca juga: Angkut Penumpang Kereta Secara Acak, Bus Ultra Mewah Yuga Akan Beroperasi 5 Hari di Tokyo

Kabin pengemudi Freightliner memiliki kursi putar dengan penyesuaian daya enam arah dan sistem infotainment 12,3 inci dengan navigasi, kamera warna belakang, dan radio Sirius-XM. Sasis 33.400-lb (15.150-kg) mengendarai suspensi udara. Winnebago memulai debutnya pada 2022 Journey pada acara Road Ahead minggu ini, yang juga memperkenalkan motorhome off-grid Ekko yang baru. Harga akan mulai dari $377.181.

Pesawat Taxiing dengan Dua Mesin, Pilot Qatar Airways Terancam di PHK

Pilot-pilot Qatar Airways terancam mendapat sanksi tegas berujung PHK lantaran kerap taxiing dengan dua mesin. Padahal, standar operasional prosedur (SOP) maskapai mengharuskan (taxiing) hanya dengan satu mesin pasca mendarat. Hal ini dimaksudkan agar penerbangan lebih hemat bahan bakar dan tentu guna menekan biaya operasional.

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Sejak akhir September lalu, Chief Flight Operations Officer Qatar Airways, Captain Jassim Al-Haroon, rutin melayangkan teguran keras kepada pilot atas ketidakpatuhan terhadap SOP. Betapa tidak, dari target kepatuhan 95 persen (terkait penggunaan satu mesin saat taxiing), hanya 55 persen pilot yang mematuhi kebijakan tersebut dalam tiga bulan terakhir.

Di masa kritis akibat pandemi virus Corona seperti sekarang ini, upaya penghematan sekecil apapun akan berdampak besar bila dilakukan secara konsisten dan massif. Karenanya, maskapai tak segan-segan menindak tegas pilot yang masih membandel dengan mem-PHK atau sanksi tegas lainnya.

“Karena maskapai ini sedang melewati masa-masa yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat krisis saat ini, saya berharap Anda semua sebagai profesional membuat semua tindakan yang diperlukan untuk menghindari biaya operasional yang tidak perlu,” kata Captain Jassim Al-Haroon, seperti dikutip dari onemileatatime.com.

Selain menghemat bahan bakar dan uang, Qatar Airways menegaskan, taxiing dengan satu mesin juga baik untuk lingkungan (mengurangi emisi karbon dioksida). Upaya mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas penerbangan memang sudah menggeliat di dunia; baik oleh maskapai, bandara, pabrikan mesin, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Untuk maskapai, Wizz Air, misalnya, belum lama ini resmi meluncurkan carbon offsetting program atau penggantian kerugian karbon. Program tersebut memungkinkan penumpang untuk memasukkan detail penerbangan, mendapatkan jejak karbon, dan membayar ganti rugi atas karbon yang dihasilkan dari perjalanan mereka. Dana tersebut kemudian disalurkan ke dua proyek carbon-reducing masyhur di dunia.

Program carbon offsetting belakangan memang cukup populer di industri penerbangan global efek dari tingginya keinginan maskapai untuk memerangi emisi CO2. Saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia.

Lewat program tersebut, penumpang nantinya akan difasilitasi untuk mengeluarkan sejumlah uang pengganti atas emisi CO2 dihasilkan dari perjalanan mereka. Uang tersebut akan disalurkan Wizz Air ke dua lembaga kenamaan dunia dalam memerangi emisi gas buang, yakni CHOOOSE dan Norwegian Climate Action.

Di kategori bandara, skema Akreditasi Karbon Bandara (ACA) jelas jadi indikasi kuat atas upaya tersebut. Pada 2009 lalu, Airports Council International (ACI) Eropa mengusulkan dibentuknya skema Akreditasi Karbon Bandara (ACA). Tahun 2011, ACA diadopsi oleh bandara-bandara di Asia-Pasifik. Tiga tahun berselang, Amerika Utara dan Afrika menyusul dan mengukuhkan ACA sebagai gerakan global. Saat ini, sekitar 312 bandara terlibat dalam Akreditasi Karbon Bandara.

Baca juga: 5 Kesalahan Populer Pilot Pemula Saat Taxi, Nomor Tiga Butuh Insting Tajam

Di tahun pertama ACA diimplementasikan, penurunan emisi CO2 bisa dibilang sukses. Data menunjukkan, antara Juli 2009 dan Juni 2010, ACA berhasil membebaskan atmosfer dari CO2 sebanyak 56.633 ton, setara dengan jumlah CO2 yang diserap dari sekitar 399 hektar hutan.

Di periode antara Juli 2018 dan Juni 2019 hasilnya lebih menakjubkan lagi. Gerakan ACA berhasil membebaskan sebanyak 322.297 ton CO2 atau setara dengan emisi yang dibutuhkan untuk memberi daya 767 juta jam streaming video HD.

AirAsia Bantu Penumpang di Masa Pandemi Melalui Chatbot WhatsApp

Bagaimana kabar AirAsia di masa pandemi ini? Sepertinya maskapai asal Malaysia tersebut mulai mengembangkan berbagai hal untuk memudahkan pelanggan mereka menikmati perjalanan menuju ke destinasi meski masih dalam masa pandemi Covid-19. Maskapai yang memiliki dominasi warna merah tersebut baru-baru ini meluncurkan chatbot virtualnya yakni AirAsia Virtual Allstar atau AVA.

Baca juga: Singapore Airlines Hadirkan Chatbot di Laman Facebook

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber futuretravelexperience.com (30/11/2020), chatbot ini ada pada aplikasi perpesanan populer WhatsApp. Chief Customer Happiness Officer Adam Geneave mengatakan kepindahan tersebut sangat tepat waktu dengan rekor jumlah tamu yang mencari dukungan akibat Covid-19.

“Di AirAsia, kami terobsesi dengan tamu. Kami juga merupakan perusahaan yang progresif dan dipimpin secara digital dan Virtual Allstar AVA kami menawarkan layanan pelanggan berstandar tinggi melalui kecerdasan buatan,” kata Geneave.

Dia menyebutkan, AVA sudah menangani jutaan kasus setiap tahun di platform lain seperti Facebook, aplikasi milik AirAsia dan airasia.com, jadi sangat masuk akal untuk membuatnya tersedia di WhatsApp di mana terdapat lebih dari dua miliar pengguna di seluruh dunia.

“Tahun ini penuh tantangan bagi seluruh industri penerbangan dan lebih penting dari sebelumnya bahwa tamu kami merasa didukung dan didengar serta dapat menghubungi kami melalui mode komunikasi pilihan mereka. Seperti halnya teknologi baru, kami terus belajar dan beradaptasi dan AVA menjadi semakin baik dari waktu ke waktu. Saat ini, lebih dari 80 persen kasus pelanggan berhasil dikelola oleh AVA, dan sisanya ditransfer ke Agen Langsung yang membantu secara langsung,” jelas Geneave.

Dalam menggunakan chatbot ini, penumpang bisa langsung ngobrol dengan AVA di WhatsApp atau mengunjungi situs AirAsia. Layanan chatbot tersebut tersedia 24/7 dan para tamu harus mengetik ‘hai’ untuk memulai percakapan.

Baca juga: AirAsia X Vs Scoot Vs Jetstar, Siapa yang Terbaik?

AVA adalah Virtual Allstar AirAsia, sebuah bot yang mampu menjawab pertanyaan dari pelanggan secara instan dalam sebelas bahasa yakni Inggris, Malaysia, Thailand, Indonesia, Vietnam, Korea, Tagalog, Hindi, Jepang, Cina Sederhana dan Cina Tradisional.

Tahun lalu, AirAsia dianugerahi FTE Asia 2019 Silver Award untuk Best Passenger Experience Initiative untuk aplikasi AVA-nya.

Stasiun Kedundang di Yogyakarta, Punya Arsitektur Bersejarah Tinggi

Berada di Daerah Operasional (Daop) 6 Yogyakarta, Stasiun Kedundang merupakan stasiun kelas III atau kecil. Stasiun ini berada di ketinggian +11 meter di atas permukaan laut. Letaknya berada di paling barat Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Kulon Progo.

Baca juga: Pasang Tarif Rp30 Ribu, KA Bandara YIA Resmi Beroperasi Hingga Stasiun Wojo

Meski bernama Stasiun Kedundang, lokasinya tidak terletak di desa Kedundang tetapi di sebelah utara desa tersebut yang berbatasan langsung dengan stasiun. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Kedundang, berada di lintas antara Stasiun Wates dan Stasiun Wojo.

Pada masa beroperasinya, stasiun ini berfungsi sebagai stasiun perilangan antara kereta api di masa menggunakan jalur rel tunggal. Dari kabar yang beredar, Stasiun Kedungdang dibangun antara tahun 1876 – 1887 oleh perusahaan kereta api negara pemerintah Hindia Belanda atau Staatsspoorwegen.

Karena peninggalan Belanda, stasiun ini memiliki ciri khas desain atap dan lubang ventilasi berbentuk bulat. Bahkan bentuknya mirip dengan Stasiun Sukoharjo, Stasiun Winongo, Stasiun Palbapang dan Stasiun Bantul.

Stasiun Kedundang lama bercorak khas era Perumka yang memiliki beberapa ruangan seperti tuang tunggu penumpang, penjualan tiket, ruang kepala stasiun dan PPKA yang tampaknya dibangun belakangan karena bentuk bangunannya berbeda dengan bentuk asli.

Sayangnya pada 21 Juli 2007 lalu, stasiun ini dinonaktifkan untuk efisiensi setelah dibukanya jalur ganda lintas Yogyakarta menuju ke Kulon Progo. Namun jelang dibukanya Bandara Kulon Progo atau Bandara Internasional Yogyakarta, Stasiun Kedundang mulai direnovasi.

Renovasi dilakukan pada bangunan lama stasiun beserta fasilitas dan rumah dinas kecuali gardu persinyalan blok intermediet yang sudah dirobohkan karena terkena dampak pembangunan jalur baru stasiun menuju ke YIA. Renovasi tersebut mencakup ruang tunggu dan keberangkatan kereta di lantai dua, tempat transit, wajah depannya, dan tempat jual-beli tiket.

Untuk artsitekturnya tidak akan diubah lantaran sarat nilai historis tinggi. Proses pengaktifan kembali stasiun Kedundang saat ini masih dalam tahap administrasi, tapi diyakini tidak akan butuh waktu lama penyelesaiannya. Targetnya rampung tahun 2020. Jadi untuk sementara, akses kereta ke bandara NYIA akan memakai stasiun Wojo.

Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara

Jika telah selesai direnovasi, langkah selanjutnya adalah membangun sub stasiun di Solo dan di sisi utara stasiun Tugu, juga pemasangan jaringan listrik di atas perlintasan rel. Penggunaan listrik ini dinilai akan lebih efektif operasionalnya ketimbang kereta Prameks yang menjadi kereta komuter Solo-Yogya.

Jalur Metro Panama 3 Sepanjang 34 km dan Menjadi Proyek Terbesar Sejak Perluasan Terusan Panama

Proyek Metro Panama mengembangkan jalur monorel sepanjang 34 km untuk Metro Panama 3 dan ini akan menjadi proyek terbesar di negara tersebut sejak perluasan Terusan Panama. Nantinya jalur tersebut akan menghubungkan provinsi Panama Oeste dan provinsi Panama.

Baca juga: 60 Tahun Beroperasi, Monorail di Kebun Binatang Ueno Tokyo Harus Pensiun

Kehadirannya akan mengurangi setengah waktu perjalanan rata-rata dari 90 menit menjadi 45 menit. Selain itu, sistem monorel ini akan menjadi yang pertama di Amerika yang menggunakan teknologi Jepang. KabarPenumpang.com melansir railway-technology.com, fase pertama proyek tersebut menghubungkan Albrook ke sektor Ciudad del Futuro.

Sedangkan di fase kedua akan diperpanjang hingga La Chorrera. Setelah beroperasi, diharapkan mampu melayani 20 ribu penumpang di setiap arah selama jam sibuk dengan waktu tunggu empat menit antar kereta. Untuk tahap kedua, diharapkan akan melayani 32 ribu penumpang tahun 2050.

Jalur Metro Panama 3 akan dikerjakan lebih dari 5000 pekerja termasuk 800 pekerja lokal selama pengembangan. Harapannya adalah pertengahan tahun 2025, jalur akan menguntungkan lebih dari 500 ribu penduduk di Panama Oeste. Pada fase satu jalur ini akan menjadi jalur monorel setinggi 25 km dan mengurangi kemacetan pusat kota yang juga akan meningkatkan jaringan transportasi melintasi daerah pegunungan curam di kawasan tersebut.

Di jalur Metro 1, kereta akan berangkat dari Stasiun Albrook yang melintas Arraijan kemudian ke Jalan Pan America dengan beberapa perhentian sebelum tiba di Stasiun Ciudad del Futuro. Tahap satu juga akan mencakup pembangunan fasilitas pemeliharaan dan penyimpanan di Ciudad del Futuro.

Jalur tersebut akan melewati terowongan yang dibangun di bawah Terusan Panama dan ditetapkan untuk menjadi yang pertama di bawah kanal, terowongan sepanjang empat kilometer akan memiliki diameter 13 meter dan akan terletak di kedalaman lebih dari 50 meter.

Tahap pertama dari proyek monorel jalur ganda layang baru akan mencakup 14 stasiun. Setiap kereta akan membagi pengoperasian jalur menjadi dua sirkuit, sirkuit timur untuk rute Albrook-Nuevo Chorrillo sepanjang 17,5 km dan sirkuit lengkap untuk rute Albrook-Ciudad del Futuro sepanjang 25,85 km.

Pengembangan lainnya akan mencakup pembangunan fasilitas pejalan kaki dan perbaikan area pertemuan di sekitar stasiun. Rolling stock untuk Panama Metro jalur 3 akan memiliki 28 rangkaian kereta yang terdiri dari enam kereta yang masing-masing menawarkan kapasitas seribu penumpan.

Kereta ini akan menjadi monorel jenis straddle besar yang dibangun menggunakan paduan aluminium. Sistem B-CHOP (Energy Storage for Traction Power Supply) Hitachi akan digabungkan untuk memanfaatkan energi regeneratif kereta. Sehingga secara substansial akan mengurangi konsumsi energi dari seluruh sistem rel dengan menghasilkan energi regeneratif saat kereta dalam mode pengereman.

Ini akan memangkas emisi CO2 serta menyediakan energi untuk digunakan di masa depan dan kereta akan memiliki sistem kontrol otomatis untuk mencegah tabrakan, bersama dengan sistem pengawasan dan keamanan. Untuk pembangunan jalur Metro Panama 3, pemerintah Panama dan Jepang menandatangani perjanjian perdana senilai $2,6 miliar pada April 2016 untuk mendukung pembangunan jalur metro baru.

Perjanjian tersebut juga mencakup kerjasama teknis yang tidak dapat dikembalikan hingga $350 ribu untuk menyewa seorang manajer proyek. Pendanaan diatur oleh Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) atas nama Pemerintah Jepang. Pinjaman ini berjangka waktu 20 tahun dengan 14 tahun amortisasi, enam tahun masa tenggang, dan tiga tahun untuk pencairan.

Konsorsium HPH yang terdiri dari Hyundai Engineering and Construction, POSCO, dan Hyundai Engineering ditunjuk sebagai kontraktor utama untuk proyek tersebut pada Oktober 2020. Hitachi dan Mitsubishi adalah sub-kontraktor, yang bertanggung jawab untuk menyediakan sarana perkeretaapian dan sistem operasi terintegrasi.

Baca juga: Permudah Transportasi Urban, Tiongkok Bangun Rel Kereta di Apartemen

Hitachi, Hitachi Rail, dan Mitsubishi menandatangani kontrak senilai $883 juta dengan konsorsium HPH pada Oktober 2020. Hitachi dan Hitachi Rail akan memasok pusat kendali, sistem tenaga listrik, sistem persinyalan, sistem telekomunikasi, gerbang platform, dan peralatan halaman untuk monorel, sementara Mitsubishi akan mengatur urusan administrasi. Nippon Koei dan anak perusahaannya Tonichi Engineering Consultants akan menyediakan layanan manajemen proyek.

Jepang dan Cina Berlomba Dalam Teknologi Kereta Berkecepatan Tinggi

Jepang dan Cina selalu berlomba dalam teknologi kereta berkecepatan tinggi dan kali ini jenis baru yang melayang serta melaju dengan cepat. Kereta leviasi magnetik atau dikenal dengan maglev, ini adalah kereta yang menggunakan magnet kuat untuk meluncur di jalur bermuatan listrik dengan kecepatan super cepat.

Baca juga: JR Central Luncurkan Maglev di Jalur Eksperimental dengan Kecepatan 500 Km Per Jam

Beberapa kereta maglev jarak pendek dan eksperimental sudah beroperasi di dua negara itu. Namun Jepang dan Cina saat ini berlomba mengembangkan kereta maglev jarak jauh pertama di dunia. Central Japan Railway Co., memiliki proyek maglev senilai sembilan triliun yen yang diharapkan menghubungkan Tokyo dan Osaka tahun 2037. Sedangkan Cina memiliki proyek on-again, off-again senilai 100 miliar yuan dan beroperasi antara Shanghai dengan kota pelabuhan timur Ningbo.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari techxplore.com (25/11/2020), nilai kereta maglev lebih mahal karena sebagain besar jumlah penggalian diperlukan untuk membuat terowongan yang melintas pedesaan pegunungan. Nantinya jika Jepang dan Cina berhasil meluncurkan proyek maglev jarak jauh dengan tepat, ini akan memberikan keduanya kesempatan untuk mengekspor teknologi tersebut.

“Teknologi maglev memiliki potensi ekspor yang sangat besar, dan proyek domestik China dan Jepang seperti jendela toko tentang bagaimana teknologi itu dapat berhasil diterapkan di luar negeri,” kata Christopher Hood, seorang profesor di Universitas Cardiff.

Jepang, pencipta kereta peluru pertama di dunia, atau shinkansen, telah lama menjadi pemasok utama untuk proyek kereta cepat global. Mantan Perdana Menteri Shinzo Abe menargetkan ekspor infrastruktur termasuk teknologi kereta api berkecepatan tinggi sebagai papan utama pertumbuhan ekonomi.

Namun selama dekade terakhir, Cina sering kali bersedia memasok suku cadang dan tahu cara yang lebih murah, telah mengejar ketinggalan. Pada 2015, pemasok Jepang kalah dari saingan Cina dalam upaya membangun kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia dari ibu kota Jakarta ke Bandung di Jawa Barat.

Jepang akhirnya diminta untuk bergabung kembali dengan proyek tersebut setelah mulai menghadapi penundaan yang signifikan. Jepang diketahui merupakan “saingan kuat” dalam mengembangkan kereta peluru reguler dan maglev berkecepatan tinggi. Jalur maglev yang akan menghubungkan pusat keuangan Shanghai dan Ningbo, melalui Hangzhou, adalah bagian dari rencana pemerintah provinsi Zhejiang Cina untuk menyuntikkan tiga triliun yuan untuk membangun jalur kereta api provinsi.

“Ada perasaan bahwa di dunia teknologi, Jepang semakin tertinggal di belakang Cina, jadi jika bisa mewujudkan teknologi baru ini terlebih dahulu, itu akan menjadi masalah kebanggaan nasional yang sangat besar,” kata Hood.

Dia menunjuk pada pengembangan prototipe kereta berkecepatan tinggi baru-baru ini di Cina yang dapat berjalan di pengukur trek yang berbeda, sesuatu yang telah coba dikuasai Jepang dengan berbagai tingkat keberhasilan selama beberapa tahun. Pada tahun 2016, pemerintah Abe menyetujui pinjaman senilai tiga triliun yen untuk membantu JR Central mendanai jalur maglev Chuo Shinkansen, yang mengakibatkan tanggal akhir proyek dipindahkan ke tahun 2037 dari tahun 2045.

Meski begitu, pembangunan tersebut menghadapi sejumlah tantangan. yang dapat menyebabkan penundaan, termasuk penolakan dari pemerintah prefektur yang prihatin tentang dampak lingkungan jalur tersebut.

“Kami melakukan segala upaya untuk mengaktifkan dan menjalankan Shinkansen Chuo secepat mungkin,” kata Yuri Akahoshi, juru bicara JR Central.

JR Central menjalankan tes di jalur sepanjang 43 km di prefektur Yamanashi barat daya Tokyo, di mana keretanya secara rutin mencatat kecepatan operasi lebih dari 500 km per jam. Salah satu negara tempat JR Central ingin mengekspor teknologi maglevnya adalah AS, tempat mereka bekerja dengan mitra untuk meletakkan dasar bagi jalur maglev yang akan menghubungkan Washington DC dan New York, dengan biaya sekitar $10 miliar untuk DC pertama ke kaki Baltimore saja.

Jika dibangun, kereta akan memotong waktu perjalanan antara hub menjadi satu jam dari tiga saat ini dan membuatnya lebih cepat daripada terbang. Pemerintah Jepang telah menjanjikan dukungan finansial beberapa miliar dolar untuk proyek pantai timur AS dan JR Central mengatakan tidak berencana untuk membebankan biaya lisensi untuk teknologi tersebut.

“Pihak berwenang “mendukung penuh” proyek tersebut karena “pentingnya untuk perluasan luar negeri dari sistem kereta api Jepang,” kata Akahoshi dari JR Central.

Baca juga: Dengan Maglev, Cina Siap Buktikan Perjalanan 2200 Km Hanya Butuh Waktu 2 Jam!

Maglev jarak pendek milik negara yang menghubungkan Bandara Internasional Pudong Shanghai ke kota dan yang dimulai pada tahun 2002 telah berjuang untuk menghasilkan keuntungan, kehilangan lebih dari satu miliar yuan pada tahun-tahun awalnya. Label harga Chuo Shinkansen Jepang yang lumayan juga dipertanyakan di tengah pandemi virus corona, yang menurut survei dapat secara permanen mengubah kebutuhan perjalanan bisnis antara pusat-pusat utama.

“Yang penting adalah proyek mana yang lebih mampu menjustifikasi biayanya. Itu lebih penting daripada siapa yang sampai di sana lebih dulu,” kata analis infrastruktur Bloomberg Intelligence Asia, Denise Wong.