Setelah Lima Tahun, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Baru Mencapai 56 Persen

Pada awalnya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sangat dibanggakan dan menjadi kemenangan bagi Beijing yang mendukung impian Belt and Road Initiative (BRI) di Indonesia. Namun setelah, lima tahun berjalan, bagaimana proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung?

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penuh Masalah, Indonesia Balik Rangkul Jepang! Ahli: Sulit Integrasikan Cina-Jepang

Bisa dikatakan proyeknya kini tak lagi bisa lagi dibanggakan, bahkan berubah menjadi mimpi buruk karena ada unsur penggusuran paksa, jalanan banjir, rumah dan lahan pertanian rusak, protes massal, pembengkakan anggaran secara besar-besaran hingga pelanggaran enam Undang-Undang di Indonesia.

Padahal kereta cepat ini sendiri merupakan proyek senilai US$5,5 miliar yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada perusahaan dari Cina. Sejak awal proyek ini merupakan serangkaian keputusan yang buruk dan asusmsi salah arah bahwa setiap infrastruktur pada dasarnya layak untuk dibangun. Dirangkum KabarPenumpang.com dari thediplomat.com (3/12/2020), pengembangan proyek terang-terangan mengabaikan tanda bahaya besar yang terkait dengan desain proyek, keberlanjutan dan kepatuhan hukum.

Menurut masyarakat lokal, jalur rel tersebut akan menghilangkan ratusan rumah tangga dari lahan pertanian mereka, sehingga menghilangkan mata pencaharian ekonomi tradisional mereka. Ketakutan ini telah menyebabkan protes yang meluas dan berulang di sepanjang jalur rel 142 kilometer yang diusulkan sejak 2015.

Klaim pemerintah Indonesia dan Cina bahwa jalur kereta api akan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat, ibarat mengoleskan garam ke luka bagi masyarakat lokal yang membantah bahwa Pemerintah Indonesia seharusnya memprioritaskan infrastruktur berdasarkan kebutuhan masyarakat yang sebenarnya seperti perumahan. Sebagai kereta berkecepatan tinggi, terutama akan lebih menguntungkan kaum elit Indonesia yang mampu membayar biaya perjalanan yang mahal.

Beberapa laporan berpendapat bahwa menghubungkan Jakarta dan Bandung dengan kereta api akan menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi kenyataannya manfaat tersebut akan menguntungkan elit Indonesia secara tidak proporsional. Penolakan publik begitu kuat sehingga proyek tersebut berulang kali macet karena kegagalan yang sedang berlangsung dalam pembebasan lahan.

Hal ini bahkan mendorong pemodal utama, China Development Bank milik negara, untuk menahan pencairan pinjaman hingga 100 persen tanah telah dibebaskan. Bahkan TNI AU  telah menolak menyerahkan tanah untuk proyek yang tidak direncanakan itu.

Untuk proyek yang dimaksudkan, menunjukkan ambisi BRI Cina, juga aneh bahwa pendukung kereta api Cina tidak pernah mempublikasikan studi kelayakan mereka. Memastikan transparansi proyek dan pengungkapan informasi dengan membagikan dokumen-dokumen ini akan meningkatkan kepercayaan publik.

Meski begitu, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih berlangsung meski virus corona terus menyebar luas di dalam negeri. Sejauh ini, pembangunan proyek tersebut baru menyentuh 56 persen.

Baca juga: Pembebasan Lahan Tuntas, LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mengular 2021

Tiko menargetkan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung bisa selesai akhir 2022. Jika meleset, proyek tersebut diharapkan paling lambat selesai awal 2023 mendatang.

Mengenal Envirotainer, Kontainer Pembawa Vaksin Covid-19 Pertama Indonesia Buatan Sinovac

Pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia, yang membawa 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 pertama di Indonesia buatan Sinovac, berhasil mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada hari Minggu (6/12).

Baca juga: Jaga kelembaban Udara, Inilah Cara Maskapai Mengontrol Suhu di Pesawat

Vaksin Covid-19 Sinovac yang dimuat dalam deretan kontainer Envirotainer tersebut belum bisa langsung divaksin, melainkan harus menunggu proses izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta sertifikasi halal MUI.

Terlepas dari kapan vaksin tersebut digunakan dan siapa yang bakal divaksin terlebih dahulu, proses mengirim vaksin tersebut tentu tak mudah, mengingat suhu vaksin harus terjaga agar tetap efektif bekerja saat disuntik ke manusia. Itulah mengapa vaksin dikirim menggunakan Envirotainer, kontainer yang didesain khusus untuk membawa muatan produk-produk riskan seperti produk farmasi.

Dilansir dari laman resminya, Envirotainer sendiri merupakan brand kontainer (kargo udara) terbesar di dunia. Perusahaan asal Swedia ini kondang dikenal di jagat transportasi udara internasional sebagai penyedia jasa kontainer yang mampu mengirim berbagai produk farmasi atau produk-produk sensitif lainnya dengan aman berkat apa yang disebut sebagai Unit Load Devices (ULD).

ULD berfungsi untuk menjaga kelembaban sekaligus suhu pada tingkat yang diinginkan. ULD memungkinkan muatan kargo yang berumur pendek, mudah rusak (mudah basi untuk makanan), dan sensitif menjadi lebih terjaga sampai ke tempat tujuan.

Kontainer standar Envirotainer memiliki kisaran suhu -20 hingga 20 derajat Celcius. Suhu tersebut akan selalu terjaga dengan teknologi t2 active temperature control system berupa kuantitas biang es yang cukup. Selain itu, suhu di dalam kontainer juga terjaga berkat adanya e1/e2 active temperature control system berupa kompresor pendingin dan pemanas listrik.

Dengan jaringan penyewaan kontainer dan suplai chain berkesinambungan, didukung dengan tenaga andal, Envirotainer juga bisa dilacak posisi serta kondisi suhu di dalam kontainer. Hal itu dimungkinkan berkat aplikasi khusus yang dibuat untuk memantau secara real time before-after pengiriman.

Meski demikian, bukan berarti kehadiran ULD atau Envirotainer otomatis menyelesaikan masalah maskapai terkait pengiriman kargo. Pada prosesnya, maskapai juga harus mempertimbangkan seluruh rangkaian pengiriman kargo, mulai dari mengumpulkan, memuat ke dalam pesawat, mengeluarkan dari pesawat, sampai memindahkan kargo ke kontainer.

Oleh karenanya, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pun mengeluarkan petunjuk teknis terkait hal itu. Setidaknya, ada dua hal yang diatur IATA, Perishable Cargo Regulations (PCR) dan Temperature Control Regulations (TCR).

Baca juga: Berkah Vaksin, IATA Sebut Butuh 8 Ribu Pesawat Jumbo untuk Antarkan Vaksin ke Seluruh Dunia

PCR mencakup semua kargo yang mudah rusak. Selain itu, PCR juga mengatur izin atau persyaratan pemerintah (menurut negara) dan persyaratan pengemasan, pelabelan, dan pelacakan.

Sedangkan TCR merupakan perluasan peraturan dari PCR, mencakup persyaratan atau izin khusus untuk barang dengan suhu terkontrol, termasuk obat-obatan. TCR, termasuk PCR, harus dilakukan dengan sempurna. Sebab, ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan rantai pasokan yang rumit.

MyTimor, Aplikasi Ride Hailing Besutan Telkomcel untuk Masyarakat Timor Leste

Timor Leste kini punya aplikasi ojek dan taksi online pertamanya untuk mengantar orang serta mengirim barang atau paket. Aplikasi bernama MyTimor ini diluncurkan oleh Telkomcel yang meruapakan operator seluler di Timor Leste milik Telkom Indonesia Internasional (Telkom Group).

Baca juga: Menyusup di Aplikasi RadickRadio, Aplikasi Ride Hailing Asal Iran Dihapus dari App Store!

Kehadiran aplikasi MyTimor ini sendiri guna untuk memudahkan masyarakat Timor Leste dalam aktivitas di tengah pandemi Covid-19 atau dalam masa State Emergency. Tak sendirian, Telkomcel menjalakankan MyTimor bersama dengan Corrotrans yang merupakan perusahaan lokal Timor Leste yang memiliki bidang usaha transportasi taksi berbayar.

“Aplikasi ini adalah product innovative karya anak bangsa dari Telkomcel agar masyarakat Timor-Leste tetap bisa melakukan aktivitas secara produktif dengan aman dan mudah di masa pandemi COVID-19. Hal ini selaras dengan visi dan misi CEO Telkom Group, bahwa Tekom Group harus menjadi pilihan utama perusahaan digital telco untuk memajukan masyarakat di manapun berada”, ujar CEO Telkomcel, Yogi Rizkian Bahar yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Jika dilihat secara sepintas, alikasi ini memiliki aspek yang sama dengan GoJek maupun Grab dari proses pendaftaran driver hingga beberapa layanannya. Nama aplikasi MyTimor sendiri diambil dari kata “Hau Nia Timor” dalam bahasa tetum, bahasa lokal Timor Leste yang berarti ‘milik’ dengan tagline Buat hotu ida fasil yang berarti ‘Semua jadi lebih mudah’.

Yogi mengatakan, aplikasi MyTimor menjamin kestabilan jaringan yang lebih baik dalam melakukan proses pemesanan dan pelacakan lokasi hingga keamanan karena lokasi server-nya berada di Timor Leste. Selain itu kelebihan dari MyTimor dapat digunakan oleh semua nomor operator telekomunikasi yang beroperasi di Timor Leste. MyTimor akan diresmikan pada tanggal 4 desember 2020 kemarin.

“Telkomcel berharap dengan adanya aplikasi tersebut dapat memudahkan masyarakat dalam melakukan kegiatan ataupun berbelanja melalui aplikasi online, melakukan pengiriman barang atau paket dengan lebih mudah, nyaman dan aman. Di samping itu kehadiran aplikasi MyTimor yang akan mendampingi dan mempermudah aktivitas masyarakat sehari-hari ini selaras dengan tujuan dari keberadaan team Telkomcel yang mampu bekerja dengan meaning and purpose,“ ujar Yogi.

Baca juga: Imbas Pandemi Bisnis Turun 100 Persen, Jeeny Tata Ulang Model Bisnis Ride Hailing di Arab Saudi

Yogi mengatakan, menjadikan Telkomcel menjadi perusahaan yang memberikan dampak positif bagi pembangunan inklusif dan berkelanjutan untuk negara Timor Leste.

Wahana Antariksa Cina Bawa Pulang 2 Kg Tanah dan Bebatuan dari Bulan ke Bumi

Program luar angkasa Cina, yang juga memiliki pengorbit dan penjelajah menuju Mars, makin ambisius. Belum lama ini, wahana antariksa Cina, Chang’e 5, dikabarkan berhasil lepas landas dari bulan untuk memulai misi kembali ke bumi dengan membawa pulang bebatuan dan tanah seberat 2kg.

Baca juga: 2021 Bakal Ada Balapan Mobil Remote Control di Bulan, Aktornya Anak SMP

Sebelumnya, wahana antariksa Cina ketiga yang mendarat dan yang pertama lepas landas dari bulan tersebut, sejak 1 Desember 2020 lalu melakukan pengeboran hingga kedalaman dua meter di barat laut sisi dekat Bulan, cukup jauh dari lokasi pendaratan wahana antariksa milik AS dan Soviet yang lebih dahulu melakukan hal serupa. Lokasi pendaratan berada dekat formasi yang disebut Mons Rumker dan mungkin berisi batuan miliaran tahun lebih muda dari yang ditemukan sebelumnya.

Dilansir The New York Times, meski mengambil sampel adalah tugas utamanya, wahana pendarat itu juga dilengkapi dengan peralatan untuk memotret area secara ekstensif, memetakan kondisi di bawah permukaan dengan radar penembus tanah, dan menganalisis tanah Bulan untuk mengetahui kandungan mineral dan air.

Usai mengumpulkan tanah dan bebatuan di bulan, wahana yang berada di atas lander Chang’e 5 tersebut lepas landas dari Oceanus Procellarum pada pukul 23.10 waktu Cina. Enam menit kemudian, wahana peluncur tersebut tiba di orbit Bulan.

Selanjutnya wahana tersebut harus mengorbit Bulan sampai bisa bertemu dengan orbiter Chang’e 5, melakukan proses docking, dan memindahkan muatan berharganya ke kapsul untuk dibawa pulang ke Bumi.

Proses docking ini akan cukup menantang mengingat rentang waktunya yang sangat sempit. Wahana peluncur dan orbiter akan membutuhkan waktu dua atau tiga hari untuk bertemu, menyamakan orbitnya dan memulai percobaan docking. Keduanya hanya memiliki waktu 3,5 jam untuk melakukan manuver ini.

Beijing mengatakan wahana dengan sampel tersebut akan mendarat di Bumi sekitar pertengahan Desember. Pendaratan direncanakan dilakukan di padang rumput Mongolia Dalam, tempat astronaut Cina kembali dengan pesawat ruang angkasa Shenzhou.

Sampel tersebut nantinya akan diteliti lebih jauh untuk mengungkap berbagai fakta, termasuk awal mula terbentuknya bulan, kepercayaan bahwa bulan pernah terbelah, hingga asal mula penciptaan tata surya.

Baca juga: Mengenal Pesawat Luar Angkasa Terbesar dalam Sejarah Buatan Boeing, Begini Keunggulannya

Bila tak ada aral melintang, ini merupakan pengembalian sampel pertama sejak 40 tahun terakhir, dimana pesawat ruang angkasa Soviet melakukannya pada 1970-an. Sebelumnya, astronaut Apollo AS membawa kembali ratusan pon batuan bulan di tahun 1960-an.

Wahan antariksa Cina Chang’e 5 jelas telah menghidupkan kembali wacana tentang Cina suatu hari akan mengirim astronaut ke Bulan, menjadi negara ketiga yang berhasil mengirim astronot ke bulan, dan mungkin membangun pangkalan ilmiah di sana. Meskipun tidak ada jadwal yang jelas terkait proyek itu. Cina sudah meluncurkan laboratorium pengorbit sementara pertamanya pada 2011 dan yang kedua pada 2016.

Pastikan Aman, Boeing 737 MAX American Airlines Sukses Lahap Penerbangan Penumpang Perdana

Boeing 737 MAX American Airlines sukses melewati penerbangan penumpang perdana pasca grounded berkepanjangan sejak Maret 2019 silam, menyusul dua kecelakaan beruntun yang menewaskan total 346 orang. Hal ini ditempuh guna memastikan bahwa pesawat itu aman. Penerbangan tersebut sejatinya merupakan sebuah penerbangan uji coba yang melibatkan sejumlah wartawan dari Dallas menuju Tulsa, Oklahoma, baru-baru ini.

Baca juga: FAA Izinkan Boeing 737 MAX Terbang Lagi, EASA Pilih Sertifikasi Ulang Mandiri

Dilansir abcnews.go.com, sejak diizinkan terbang (mendapat sertifikasi) kembali oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) pada 18 November 2020 lalu, berbagai maskapai dunia mulai mengatur jadawal penerbangan perdana mereka dengan Boeing 737 MAX.

American Airlines merupakan maskapai perdana yang akan melakoni penerbangan penumpang perdana 737 Max secara komersial pada 29 Desember mendatang, dari Miami ke New York City, Amerika Serikat (AS). Southwest Airlines, sang operator Boeing 737 MAX terbesar di dunia, menyatakan tidak berencana menggunakan pesawat itu hingga pertengahan 2021.

Alaska Airlines, yang baru akan kedatangan MAX pada awal tahun depan, berencana baru akan menerbangkan 737 MAX di bulan Maret. United Airlines, berencana baru akan menerbangkan pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah Boeing itu pada kuartal II 2021.

Sambil menunggu momen tersebut datang (penerbangan perdana penumpang), seluruh maskapai diminta untuk memberikan pelatihan ulang ke para pilot sebelum menerbangankan MAX. Di samping itu, maskapai juga akan mensosialisasikan secara massif terlebih dahulu bahwa Boeng 737 MAX aman.

Meski demikian, pasti ada saja penumpang yang belum sepenuhnya yakin atau bahkan sama sekali tak akan pernah yakin dan menghindari penerbangan bersama Boeing 737 MAX sumur hidup. Karenanya, maskapai diyakini bakal mencantumkan informasi pesawat apa yang bakal digunakan dalam penerbangan mereka; tak terkecuali American Airlines.

Sebelumnya, kepala FAA, Stephen Dickson, percaya bahwa Boeing sudah mengakomodir seluruh masukan dari regulator. Ia pun dengan sangat percaya diri menyebut, “Saya 100 persen nyaman dengan keluarga saya terbang di atasnya.” Di samping itu, pihaknya juga sudah bekerja dengan teliti untuk memastikan Boeing 737 MAX aman sebelum akhirnya diputuskan mencabut larangan terbang.

Baca juga: Ironis, Boeing 737 MAX Sudah Boleh Terbang tapi Maskapai, Pramugari, hingga Penumpang Ragu

Demikian juga dengan The Air Line Pilots Association International atau Asosiasi Pilot Internasional (ALPA). Asosiasi yang mewakili hampir 60 ribu pilot di Amerika Utara itu mengaku yakin dan percaya kepada teknisi yang bekerja. Secara tidak langsung, ALPA siap untuk menerbangkan MAX.

Akan tetapi, sekalipun sudah dipastikan aman dan lolos sertifikasi FAA, maskapai-maskapai dari Eropa, Brasil, Kanada, dan Cina, dipastikan belum akan terbang dalam waktu dekat sampai regulator penerbangan sipil mereka menyatakan aman. Regulator negara-negara itu diketahui tidak lagi mengekor ke FAA terkait 737 MAX dan memilih melakukan sertifikasi ulang mandiri untuk mengecek tingkat kelaikan pesawat.

Demi Menjamin Keselamatan, Volvo Rela Jatuhkan Sepuluh Tipe Mobil dari Ketinggian 30 Meter

Volvo belum lama ini memantapkan perusahaannya sebagai pelopor dalam keselamatan otomotif dan memainkan peran penting dalam mengurangi kecelakaan yang menyebabkan kematian di jalan raya dengan melakukan beberapa proyek penelitian. Produsen mobil asal Swedia tersebut dalam penelitian ini bahkan tidak segan mengorbankan beberapa kendaraan yang sepenuhnya dibangun dalam proses mempelajari masalah terkait keselamatan.

Baca juga: Sabuk Keselamatan Tiga Titik Jadi Standar dan Lebih Aman untuk Penumpang Bus

Untuk itu, Volvo melakukan drop tes sebagai bagian dari penelitian baru yakni dengan menjatuhkan sekitar sepuluh tipe mobil seperti XC40, V90, XC90, dan banyak lagi lainnya. Mobil-mobil ini diderek hingga ketinggian 30 meter beberapa kali untuk mencoba dan memahami tantangan yang dihadapi oleh personel penyelamat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari rushlane.com (13/11/2020), eksperimen penurunan derek adalah upaya untuk mensimulasikan skenario kecelakaan paling ekstrem di mana kendaraan mengalami berbagai dampak energi tinggi. Eksperimen ini memungkinkan para insinyur dan profesional penyelamat untuk memahami sifat kekuatan dan tingkat kerusakan yang tidak dapat disimulasikan selama uji tabrak biasa.

Seperti misalnya, kecepatan yang sangat tinggi yang menyatukan mobil dan truk dengan melakukan banyak pukulan samping. Dalam tabrakan seperti ini, penumpang di dalam mobil kemungkinan besar berada dalam kondisi yang sangat kritis dan seringkali, mengeluarkan mereka dari sisa-sisa reruntuhan merupakan tugas yang menantang.

Spesialis penyelamatan kecelakaan jalan raya menggunakan alat hidrolik yang dikenal dalam industri sebagai ‘rahang kehidupan’ yang memainkan peran penting dalam mengangkut korban kecelakaan ke rumah sakit dalam waktu emas. Eksperimen penelitian crane drop Volvo dilakukan terkait dengan layanan penyelamatan Swedia untuk mengidentifikasi metode yang efisien untuk membantu menyelamatkan nyawa jika terjadi kecelakaan parah.

Studi ini akan menghasilkan laporan terperinci dengan semua temuan, dan akan tersedia untuk petugas penyelamat di tempat lain secara gratis. Para petugas penyelamat biasanya dilatih menggunakan mobil bekas yang sudah berumur beberapa tahun. Selama bertahun-tahun, bahan yang digunakan pada bodi otomotif semakin kuat dan oleh karena itu, penting bagi para personel untuk membiasakan diri dengan mobil modern agar bisa efektif.

Bisa dikatakan di sinilah eksperimen terbaru Volvo muncul. Produsen mobil menjatuhkan total sepuluh kendaraan dari model yang berbeda beberapa kali untuk menjamin keselamatan. Para insinyur menghitung berapa banyak tekanan dan kekuatan yang dibutuhkan setiap mobil untuk mencapai tingkat kerusakan yang diinginkan.

Baca juga: Sudah Saatnya Produsen Mobil Perhatikan Keselamatan Penumpang di Bangku Belakang

“Kami berharap uji jatuh mengarah pada temuan penting yang akan membantu layanan darurat menangani ekstraksi penumpang lebih cepat dan mudah. Kia pernah melakukan uji tabrak vertikal di Karnaval. Tapi itu untuk alasan yang berbeda,” ujar pihak Volvo.

TajSat, Katering Penerbangan Terbesar India Layani Pemesanan Makanan Antar ke Rumah

Bukan hanya maskapai penerbangan yang merasakan kesulitan di masa pandemi Covid-19, tetapi katering makanan pun menjadi salah satu yang terdampak. Seperti katering penerbangan terbesar di India Tata Group TajSats yang kini mulai mejelajah diluar maskapai penerbangan.

Baca juga: Rindu Santapan ala Kabin, Maskapai ini Tawarkan Sensasi In-Flight Meals untuk Korban Lockdown

Di mana TajSats mengirimkan makanan katering mereka ke rumah-rumah sementara penerbangan internasional terjadwal dalam penangguhan. Apalagi lalu lintas udara global diperkirakan akan kembali seperti semula pada tahun 2024 hingga 2025.

CEO TajSats Manish Gupta mengatakan, pada masa pandemi ini, mereka memiliki rencana pertumbuhan yang agresif untuk memperluas portofolio dan melakukan diversifikasi ke katering non penerbangan. Tak hanya itu, mereka pun meluncurkan merek baru yakni Anuka, yang mana restoran virtual dengan beragam masakan yang tersedia di aplikasi Qmin (pesan-antar makanan Taj Hotels) dan sudah hadir di Mumbai serta Delhi.

Gupta menyebutkan, melalui pemesanan makanan dari aplikasi, Anda akan merasakan kelezatan gourmet untuk para tamu dalam kenyamanan rumah mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari timesofindia.indiatimes.com (27/11/2020), TajSats juga telah meluncurkan “merek cokelat baru (Asa) dan manisan India (Ishri), yang akan tersedia sepanjang tahun untuk penjualan ritel di platform e-commerce serta untuk penjualan institusional.

Gupta menambahkan bahwa perusahaan berfokus pada keamanan dan kebersihan pangan telah meningkat berlipat ganda seiring dengan pergeseran perilaku konsumen dan keinginan mereka untuk hanya mengonsumsi makanan dari merek tepercaya selama pandemi. Dimulainya kembali penjualan di dalam pesawat (oleh maskapai berbiaya hemat) dan penyajian (oleh maskapai penerbangan berbiaya penuh) diizinkan pada akhir Agustus untuk penerbangan domestik.

Saat itu, maskapai penerbangan India diizinkan menyajikan makanan hangat di penerbangan internasional bersama alkohol. Namun, pada penjualan makanan penerbangan domestik belum ada layanan makanan.

“Orang-orang sudah mulai terbang lagi tapi dalam penerbangan singkat, mereka suka memakai masker dan melepasnya untuk dimakan. Pada penerbangan internasional menengah hingga panjang, seseorang harus makan. Bisnis makanan secara keseluruhan sangat rendah,” kata seorang pejabat senior maskapai.

Pada masa pra-pandemi, TajSat yang berusia empat dekade melayani lebih dari 3,7 lakh penerbangan setiap tahun, menyajikan lebih dari 2,3 crore makanan dalam setahun atau lebih dari 65 ribu makanan yang disajikan di dalam pesawat setiap hari.

Baca juga: Cegah Virus Corona di Kabin, Inilah Sejumlah Langkah yang Dilakukan Maskapai Penerbangan

“Jumlahnya telah menurun karena makanan tidak disajikan di maskapai penerbangan selama enam bulan pertama penutupan. Makanan di dalam pesawat telah dimulai kembali dari September namun dengan banyak pembatasan seperti menyajikan makanan dingin (pada penerbangan domestik), makanan yang telah disiapkan sebelumnya untuk penumpang kelas bisnis dan penerbangan internasional terbatas yang beroperasi. Kami berharap jumlahnya berlanjut setelah perjalanan dan perbatasan dibuka,” jelas Gupta.

Bila Ada Headrest Boom, Penumpang Pesawat Tak Lagi Perlu Bawa Bantal Leher

Sandaran kepala ternyata sama pentingnya dengan sandaran tangan untuk kenyamanan penumpang selama perjalanan. Sayangnya sandaran kepala di pesawat saat ini tidaklah bisa membuat nyaman penumpang, sehingga banyak dari mereka yang membawa bantal untuk menyangga leher dan kepala mereka.

Baca juga: Bersihkan ‘Ruang’ Pribadi, Hindari Virus dan Kuman di Kabin Pesawat

Karena hal ini, perusahaan desain Italia, ABC International meluncurkan produk yang tidak biasa untuk mengatasi masalah kuno. Produk ini adalah sebuah sandaran kepala yang disebut Boom yang dirancang untuk memberikan penyangga leher dan kepala secara penuh. Selain itu menargetkan kesehatan tulang dan kenyamanan penumpang dalam penerbangan.

KabarPenumpang.com melansir simpleflying.com (1/12/2020), sandaran kepala ini bisa dipasang atau dilepas sesuai kebutuhan penumpang. Desainer headrest Boom bernama Aysegul Durak yang merupakan mantan kepala insinyur interior kabin di Turkish Airlines dan memiliki lebih dari 24 tahun pengalaman dalam konfigurasi kabin serta pengalaman penumpang.

Durak menyebutkan, sandaran kepala yang saat ini sama sekali tidak menyangga tengkuk atau bagian leher manapun. Kebanyakan sandaran kepala memungkinkan penumpang untuk bersandar di punggung, atau sesekali ke samping jika sandaran kepala dengan “sayap”. Hal ini menyebabkan banyak penumpang beralih ke bantal perjalanan agar tetap nyaman dalam penerbangan panjang mereka.

Dengan kehadiran Boom, akan mengisi celah dalam kenyamanan dan kebutuhan dukungan ini yang mana berfungsi dengan merangkul leher dengan kuat di tengkuk, dan melingkari leher untuk memberikan dukungan. Mekanisme pembengkokan berarti penumpang dapat memilih penyangga mereka dan mengubahnya sepanjang perjalanan untuk memberikan kenyamanan yang optimal. Durak menambahkan, Boom bisa diatur secara vertikal ke atas dan ke bawah untuk memberikan dukungan kepada penumpang dari brbagai ketinggian sandaran yang diinginkan penumpang.

“Kami dengan bangga mengklaim bahwa Boom Headrest adalah sandaran kepala paling nyaman yang pernah dirancang, bahkan melebihi kenyamanan bantal leher portabel,” kata Durak.

Dia menyebutkan, rintangan utama lainnya adalah sertifikasi dan rintangan yang perlu dinavigasi untuk mulai menggunakan produk. Namun, ABC memiliki banyak pengalaman di bidang ini, menjadikannya mitra teknis yang sangat baik untuk retrofit sandaran kepala. Boom Headrest dapat dipasang ke semua jenis sandaran kursi, teknisi ABC akan memberikan dokumentasi lengkap dan kit hingga pemasangan, jika diminta.

“Kami tidak berharap bahwa sertifikasi ulang akan diperlukan karena sandaran kepala Boom lebih ringan daripada sandaran kepala lainnya di pasar. Bahkan kursi saat ini tanpa sandaran kepala mungkin masih dalam batas berat untuk memasang Sandaran Kepala Boom,” jelasnya.

Baca juga: BYD dan Didi Luncurkan D1, Mobil Listrik Pertama yang Dirancang Khusus untuk Ride Hailing

ABC belum menemukan partner maskapai yang serius untuk produk barunya, namun karena baru diluncurkan baru-baru ini, masih ada banyak waktu. Alberto D’Ambrosio, CEO ABC International, mencatat bahwa, mereka akan memulai kampanye pemasaran yang ekstensif untuk mempromosikan dan menyebarkan kesadaran akan produk baru yang menjanjikan ini di antara pembuat kursi dan maskapai penerbangan di seluruh dunia. Perusahaan menargetkan pengiriman headrest Boom terintegrasi penuh pertama dalam waktu enam hingga delapan bulan sejak pesanan pertama diterima.

Dinilai Krusial untuk Hibur Penumpang, Begini Cara Kerja In-Flight Entertainment

In-flight entertainment (IFE) dinilai memegang peranan penting, dalam hal ini terhadap hiburan penumpang, di setiap penerbangan. Di masa pandemi, IFE bahkan bukan hanya menyuguhkan hiburan audio visual, melainkan juga jadi sarana informasi kru pesawat saat on board.

Baca juga: Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit!

Sekilas, IFE tampak tak dilengkapi kabel. Padahal, di balik semua itu, terdapat kabel dalam sebuah jaringan besar di seluruh badan pesawat dan terhubung dengan unit daya untuk membuatnya berfungsi.

Menurut Cranky Flier, IFE modern tidak menggunakan terlalu banyak kabel. Perannya digantikan dengan kabel serat optik untuk membawa sebagian besar data dan daya. Dengan begitu, sistem IFE jauh lebih ringan dan efisien dari sebelumnya, dimana kaki penumpang seringkali terbentur box IFE dan membatasi ruang kaki. Tentu menjadikannya tak nyaman.

Sekalipun box IFE di bagian bawah kursi sudah tidak ada lagi, bukan berarti tugas maskapai selesai. Masing-masing maskapai bakal dipusingkan dengan proses penyediaan konten, berupa film, games, musik, dan berbagai liburan lainnya. Tak jarang, pada proses ini, maskapai sampai merogoh kocek cukup dalam demi menghadirkan konten berkualitas.

Terkait konten film di penerbangan, di masa lalu, maskapai MGM Grand Air bahkan pernah menghadirkan enam film tayang perdana di setiap penerbangan. Alhasil, tak sedikit penumpang yang jatuh hati pada maskapai langganan para selebriti papan atas dunia itu.

Saat ini, maskapai penerbangan global, termasuk maskapai papan atas sekalipun, seperti British Airways, Emirates, Qatar, Qantas, dan Singapore Airlines, memang tak bisa mengikuti jejak MGM Grand Air. Namun, maskapai-maskapai tersebut menempuh proses panjang dan mahal, dengan melibatkan banyak pihak, untuk mendapatkan hasil akhir berupa film-film berkualitas.

Menurut laporan dari Valor Consultancy, sebagaimana dikutip Simple Flying, film in flight atau IFE terbagi menjadi tiga, early window content (EWC), late window content (LWC), dan film internasional. EWC adalah film termahal karena baru saja keluar dari bioskop. LWC justru sebaliknya, meliputi film-film klasik dan jauh lebih murah. Adapun film internasional derajatnya lebih rendah dari LWC, dengan lebih sedikit pilihan.

Maskapai penerbangan biasanya membeli film-film langsung ke Hollywood studio, dimana harga didasari pada rute yang diterbangi dan rating box office film itu sendiri. Semakin tinggi dan semakin baru tentu semakin mahal. Disebutkan, untuk film yang baru rilis, maskapai penerbangan sampai menghabiskan sekitar US$32.718 atau sekitar Rp462 juta (kurs 14.200) per film.

Seiring berjalannya waktu, biaya penyediaan fasilitas IFE yang menempel di bagian belakang kursi pesawat dinilai terlalu mahal. Belum lagi biaya perawatan dan operasional.

Baca juga: Mengapa Pesawat Punya Dua Soket Audio? Inilah Alasannya

Oleh karena itu, perlahan tapi pasti maskapai mulai bergerak menyediakan layanan streaming film langsung ke ponsel penumpang. Dengan sebagian besar penumpang yang sudah mempunyai akses streaming, seperti smartphone, laptop, ataupun tablet, akan jauh lebih murah untuk meninggalkan unit IFE dan menggantinya dengan fasilitas WiFi di pesawat.

Bila itu terjadi, bukan tak mungkin di masa mendatang unit IFE di tiap-tiap pesawat akan ditinggalkan sepenuhnya dan diganti dengan penyedia layanan streaming, seperti Netflix, Amazon Prime Video, dan perusahaan lainnya.

Jaga kelembaban Udara, Inilah Cara Maskapai Mengontrol Suhu di Pesawat

Salah satu hal yang sulit dihindari maskapai di dalam kabin (termasuk kargo) pesawat adalah udara yang “kering” karena kandungan air yang dihasilkan hanya maksimum 15 persen saja. Padahal, kelembaban adalah faktor terpenting untuk menjaga kualitas barang (pada kargo) dan tentu saja kenyamanan penumpang di kabin penumpang.

Baca juga: Jasa Kargo Jadi Kunci Maskapai Lanjutkan Penerbangan Penumpang

Oleh karena itu beberapa maskapai berusaha menaikan tingkat humidity (kelembaban) dengan alat tambahan yang dikenal sebagai ‘humidying system’ atau sistem kelembaban udara seharga lebih dari US$180.000 atau sekitar Rp2,5 miliar (kurs 14.092) dan hanya mampu menaikkan humidity sampai maksimum 25 persen saja. Itu baru di kabin penumpang, untuk kompartemen kargo, pendekatannya beda lagi.

Dilansir Simple Flying, pada kompartemen kargo, maskapai umumnya menggunakan apa yang disebut Unit Load Devices (ULD), untuk menjaga kelembaban sekaligus suhu pada tingkat yang diinginkan. ULD memungkinkan muatan kargo yang berumur pendek dan mudah rusak (mudah basi untuk makanan) menjadi lebih terjaga sampai ke tempat tujuan.

Di antara pemasok ULD dengan kualitas tinggi serta yang terbesar, Envirotainer adalah salah satunya. Perusahaan ini menawarkan berbagai ukuran kontainer dan mengklaim memiliki lebih dari 6.000 kontainer yang beredar. Wadah standar memiliki kisaran suhu -20 hingga 20 derajat Celcius. Pendinginan sebagian besar dicapai dengan pasokan baterai yang dikombinasikan dengan es kering.

Meski demikian, bukan berarti kehadiran ULD otomatis menyelesaikan masalah maskapai terkait pengiriman kargo. Pada prosesnya, maskapai juga harus mempertimbangkan seluruh rangkaian pengiriman kargo, mulai dari mengumpulkan, memuat ke dalam pesawat, mengeluarkan dari pesawat, sampai memindahkan kargo ke kontainer.

Oleh karenanya, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pun mengeluarkan petunjuk teknis terkait hal itu. Setidaknya, ada dua hal yang diatur IATA, Perishable Cargo Regulations (PCR) dan Temperature Control Regulations (TCR).

PCR mencakup semua kargo yang mudah rusak. Selain itu, PCR juga mengatur izin atau persyaratan pemerintah (menurut negara) dan persyaratan pengemasan, pelabelan, dan pelacakan.

Sedangkan TCR merupakan perluasan peraturan dari PCR, mencakup persyaratan atau izin khusus untuk barang dengan suhu terkontrol, termasuk obat-obatan. TCR, termasuk PCR, harus dilakukan dengan sempurna. Sebab, ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan rantai pasokan yang rumit.

Baca juga: Kabin Penumpang Penuh Kargo Bikin Pilot ‘Nambah Kerjaan’

IATA menyebut, lebih dari satu triliun dolar kargo farmasi dikirim setiap tahun. Terlebih di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, permintaan terkait kargo farmasi pasti sangat dibutuhkan dengan puncaknya saat vaksin Covid-19 resmi tersedia. Jauh sebelum masa itu (vaksin Covid-19 tersedia) enam bulan pertama tahun 2020, misalnya, telah terjadi peningkatan permintaan (produk farmasi) sebesar 60 persen.

Pada waktunya tiba, sudah pasti traffic akan tinggi dan transportasi udara sangat berperan untuk mengirim itu ke seluruh dunia, dengan kecepatan serta menjaga kualitas barang jadi andalan.