Bus Trans Jawa Siapkan Koridor Keenam dan Hadirkan Aplikasi “Si Anteng”

Sejak Juli 2017 lalu, provinsi Jawa Tengah sudah mengembangkan bus sistem transit atau BTS yang dinamai Trans Jateng dengan pola beli layanan atau buy the service. Pengelolaan bus Trans Jateng ini dilakukan oleh Balai Trans Jateng dibawah Dinas Perhubungan Jawa Tengah.

Baca juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat, Djoko Soetijowarno mengatakan, pada 2021 ini akan mengembangkan koridor keenam yakni trayek dari Semarang menuju Gubuk di Kabupaten Grobogan. Djoko menyebutkan untuk pengembangan koridor keenam ini masuk dalam anggaran APBD Jawa Tengah sebesar Rp96 miliar.

Tak hanya pengembangan koridor keenam, pengelola bus Trans Jateng juga mengembangkan inovasi smart transportation yakni melalui aplikasi Si Anteng yang bisa di unduh melalui Play Store. Aplikasi Si Anteng nantinya memberikan layanan lebih baik kepada pelanggan yang juga pengguna bus Trans Jateng.

“Bus Trans Jateng juga tengah mengembangkan sistem pembayaran non tunai atau cashless yang diharapkan terwujud tahun 2021 dari penyedia perbankan dan lembaga keuangan. Integrasi pembayaran seperti ini juga bisa dilakukan bus Trans Jateng rute Terminal Tirtonadi di kota Surakarta ke Terminal Sumber Lawang di Sragen dengan Batik Solo Trans dan KRL relasi Yogyakarta menuju Surakarta,” ujar Djoko yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Senin (4/1/2021).

Djoko menambahkan, saat ini pengembangan rute layanan transportasi umum Trans Jateng hingga akhir 2029 sudah mencapai lima koridor. Di mana koridor pertama dari Stasiun Tawang ke Terminal Bawen yang dibuka sejak 17 Juli 2017 dan koridor kedua dari Purwokerto menuju ke Purbalingga sejak Agustus 2018.

Koridor ketiga dibuka Oktober 2019 dengan trayek Terminal Bahurekso ke Terminal Mangkang. Koridor keempat pada September 2020 dengan dua relasi yang mendukung pengembangan KSPN Borobudur yakni Stasiun Kutoarjo-Purworejo- Terminal Borobudur.

Kemudian Terminal Tirtonadi ke Terminal Lawang yang mana kedua koridor ini sudah menggunakan bus dengan low entry sehingga tidak memerlukan halte tinggi lagi dan cukup dengan bus stop sebagai tempat perhentiannya.  Bus Trans Jateng sendiri beroperasi sejak pukul 05.00 hingga 21.00 dengan tarif yang dibebankan untuk buruh, pelajar dan mahasiswa Rp2 ribu dan untuk umum Rp4 ribu.

Baca juga: Medan Kini Punya Transmetro Deli, Gratiskan Tiket Penumpang Hingga Akhir 2020

Djoko menyebutkan, selama tiga tahun beroperasi penumpang sudah mencapai 8,8 juta orang. Target penumpang hingga pertengahan 2021 mencapai sepuluh juta orang.

Kembangkan Motor Listrik Internal, Volvo Ingin Jadi Manufaktur Mobil Listrik Premium

Ketika kendaraan yang menggunakan bahan bakar listrik semakin berkembang, motor penggeraknya pun tak lupa untuk dibuat. Salah satunya yang sudah mulai mengembangkan motor listrik untuk kendaraan berbahan bakar listrik adalah Volvo. Perusahaan asal Swedia ini akan merakit motor listriknya di pabrik powertrain mereka di Skövde, Swedia.

Baca juga: Demi Menjamin Keselamatan, Volvo Rela Jatuhkan Sepuluh Tipe Mobil dari Ketinggian 30 Meter

Volvo juga berencana untuk membuat produksi motor listrik in-house lengkap pada pertengahan dekade. Bahkan untuk ini, Volvo akan menginvestasikan 700 juta SEK di tahun-tahun mendatang. KabarPenumpang.com melansir laman automotiveworld.com (9/12/2020), dengan menginvestasikan sejumlah modal, Volvo juga berkomitmen untuk menjadi perusahaan mobil listrik premium.

Di mana mereka menargetkan penjualan globanya terdiri dari 50 persen full mobil listrik pada 2025 dan sisanya hibrida. Pada awal tahun ini, Volvo juga mengumumkan mereka berinvestasi secara signifikan dalam desain internal dan pengembangan motor listrik untuk mobil generasi berikutnya. Pasalnya Volvo mengatakan bahwa dengan investasi yang di rencanakan di Skövde menjadi langkah awal menuju perakitan dan manufaktur motor listrik internal.

Di tahap pertama Volvo membuat fasilitas Skövde untuk merakit motor listrik dan tahap selanjutnya membawa proses manufaktur penuh motor listrik in-house ke sana. Untuk diketahui, operasi Skövde telah menjadi bagian dari kisah Volvo Cars sejak perusahaan didirikan pada tahun 1927. Sehingga saat Volvo menambahkan produksi motor listrik ke aktivitas pabrik berarti tanah bersejarah di Skövde akan menjadi bagian dari masa depan perusahaan juga.

“Volvo pertama dari tahun 1927 didukung oleh mesin yang dibangun di SkövdeTim ini sangat terampil dan berkomitmen untuk memberikan standar kualitas tertinggi. Jadi sudah sepantasnya mereka akan menjadi bagian dari masa depan kita yang menarik,” kata Javier Varela, wakil presiden senior Operasi dan Kualitas Industri.

Mengambil alih peran mesin pembakaran internal dalam rekayasa mobil, motor listrik adalah blok bangunan fundamental mobil listrik, bersama dengan baterai dan elektronika daya. Interaksi antara ketiga area komponen ini sangat penting dalam mengembangkan mobil listrik premium.

Membawa pengembangan dan produksimotor listrik secara internal akan memungkinkan para insinyur Volvo Cars untuk lebih mengoptimalkan motor listrik dan seluruh driveline listrik di Volvo baru. Pendekatan ini akan memungkinkan para insinyur untuk mendapatkan keuntungan lebih lanjut dalam hal efisiensi energi dan kinerja keseluruhan.

Desain dan pengembangan motor listrik perusahaan berlangsung di Gothenburg, Swedia dan Shanghai, Cina. Awal tahun ini Volvo Cars membuka lab motor listrik baru di Shanghai, selain pengembangan motor listrik yang sedang berlangsung di Gothenburg, Swedia dan laboratorium baterai canggih di China dan Swedia.

Baca juga: Volvo Demonstrasikan Bus Otonom Bertenaga Listrik yang Bisa Keliling Depo!

Kegiatan yang tersisa di pabrik mesin Skövde, adalah berfokus pada produksi mesin pembakaran internal, akan dialihkan ke anak perusahaan terpisah dari Volvo Cars, bernama Powertrain Engineering Sweden (PES). PES dimaksudkan untuk digabungkan dengan operasi mesin pembakaran Geely, seperti yang diumumkan sebelumnya.

Wow, Kereta Shinkansen Ada di Restoran Indonesia!

Mendengar kata Shinkansen yang ada dibenak pertama kali adalah kereta cepat di Negeri Sakura, Jepang. Tapi apa yang ada dipikiran jika kereta Shinkansen ada di dalam sebuah rumah makan di Indonesia?

Baca juga: Antisipasi Bencana Alam, Tiga Operator Shinkansen Gunakan Sistem Keselamatan Baru!

Dua rumah makan di Indonesia tepatnya satu di Karawang dan di Jakarta ini melayani pesanan pelanggan dengan menggunakan kereta Shinkansen. Jangan salah, kereta yang dimaksud di sini bukanlah dalam bentuk kereta asli melainkan nampan yang di bentuk seperti kereta Shinkansen.

KabarPenumpang.com mencoba menjabarkan dua restoran yang menggunakan nampan Shinkansen untuk mengantar makanan ke pelanggan. Dirangkum dari berbagai sumber, didapatkan informasi bahwa kedua resto ini menggunakan teknik yang sama dalam pemesanan, Shinkansen Cafe dan Resto serta Genki Sushi melakukan pemesanan menggunakan tablet yang terhubung dengan bagian dapur untuk memesan menu yang ditampilkan.

Untuk Shinkansen Cafe dan Resto, pelanggan bisa memesan empat menu untuk sekali pemesanan. Supervisor Shinkansen Cafe dan Resto, Dida M Qatrunada mengatakan, setelah mengkonfirmasi empat menu pilihan, makanan akan datang dari arah kiri atau kanan pelanggan tergantung posisi duduknya.

Restoran ini terasa keunikannya saat kereta meluncur ke sisi meja pengunjung. Tema nampan ini juga dibuat anime atau tokoh kartun Jepang seperti Astro Boy.

Menu makanan akan dibuat di dapur setelah list pesanan datang maka, terkadang pesanan akan datang satu persatu. Lain halnya dengan dessert atau makanan penutup yang sebagian besar adalah es krim akan hadir di meja Anda dalam waktu singkat karena bahan sudah siap sedia.

Untungnya makanan yang dipesan pun tak terlalu lama datang dari waktu pesan hanya sekitar satu hingga lima menit saja. Anda bisa mengambil pesanan dan nampan kereta Shinkansen akan kembali ke dapur.

Untuk menjalanakannya, nampan diletakkan diatas conveyor elektronik dan dilengkapi dengan sensor. Shinkansen Resto yang ada di Karawang ini sendiri sudah ada sejak pertengahan 2017 lalu.

Selain Shinkansen Resto dan Cafe, ada Genki Sushi yang juga menggunakan teknologi ini. Bedanya, Genki Sushi sudah ada di Jakarta sejak 28 April 2014 dan menjadi yang pertama menggunakan teknologi ini di restoran Jepang.

Baca juga: Armada Anyar Shinkansen Siap Mengular Pada 2020 Mendatang

Untuk cara pemesanan dan pengantaran di Genki Sushi ini pun sama dengan di Shinkansen Cafe dan Resto. Adapun yang berbeda yakni, saat mengembalikan nampan, pelanggan harus menekan tombol yang ada di bawah Kousuku Lane untuk mengembalikan nampan tersebut ke dapur.

Penasaran dengan kecanggihan Shinkansen di Restoran? Coba saja kedua resto ini.

Stasiun Mayong, Beralih Fungsi Menjadi Lobi Hotel di Magelang

Ketika berbicara stasiun yang beralih dari fungsi semestinya, ada stasiun Demak yang menjadi kafe, stasiun Bantul menjadi warung makan dan beberapa stasiun lainnya yang berubah fungsi. Kali ini ada yang berbeda yakni sebuah stasiun yang menjadi lobi hotel. Penasaran ada di mana dan bagaimana stasiun menjadi lobi hotel?

Baca juga: Jalur Mau Dihidupkan, Stasiun Demak Justru Sudah Menjadi Kafe

Jejak sejarah perkeretaapin di wilayah Jepara masih sangat terasa karena dulunya sempat dilintasi kereta api. Tapi di daerah ini transportasi kereta tinggallah kenangan. Salah satu yang membekas adalah stasiun Mayong.

Stasiun ini  menjadi salah satu stasiun tertua di Pulau Jawa. Berdiri tahun 1873 bangunan stasiun Mayong terbuat dari kayu jati pilihan dan memiliki bentuk yang berkarakter.

Lokasi stasiun Mayong sendiri dulunya di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Jepara atau tepatnya di depan SMPN 2 Mayong. Saat ini bekas daerah stasiun Mayong berdiri kios dan toko sedangkan bangunan aslinya sudah berpindah pada investor.

Bagian dalam stasiun Mayong

Stasiun Mayong tak lagi beroperasi sejak tahun 1980an dikarenakan penumpang yang turun drastis karena adanya pelebaran jalan dan semakin banyaknya kendaraan pribadi. Padahal dulunya stasiun ini menjadi salah satu titik berkumpulnya penumpang.

Namun sejak akhir tahun 1990an bangunan stasiun Mayong yang terbuat dari kayu jati ini dipindahkan oleh investor dan di tempatkan di daerah Grabag Magelang menjadi Losari Spa Retreat & Coffee Plantation. Kemudian pada tahun 2001, menjadi sebuah lobi hotel di daerah Magelang yakni hotel bergaya Jawa klassik MesaStila.

Bangunan stasiun Mayong di hotel ini menjadi lobi dan respsionis dengan bangunan berwarna krem serta masih bergaya kolonial Belanda. Untungnya bentuk luar bangunan stasiun ini masih dipertahankan oleh pemilik hotel dengan papan yang bertuliskan nama serta ketinggian stasiun menempel di bagian sisi bangunan.

Tak hanya itu, kotak surat, loket pembelian tiket, hingga ruang informasi dan ruang kepala stasiun juga masih terlihat jelas dengan papan namanya. Menurut pihak pengelola hotel stasiun ini diselamatkan untuk dilestarikan agar tidak punah.

Baca juga: Setelah Baso, Butuh, dan Tanggung, Kapas Juga Ternyata Nama Stasiun Kereta!

Selain itu juga karena hotel yang ada disana menggunakan rumah joglo yang sudah tidak digunakan lagi. Selain menikmati bangunan tua, pengunjung juga bisa menikmati perkebunan kopi di areal hotel ini.

Seletar Bus Depot, Pool Bus Berkapasitas Besar dengan Fasilitas Lengkap dan Mewah

Singapore Bus Service (SBS) Transit yang baru saja memperluas jaringan operasinya menggunakan pool bus baru dengan kelengkapan fasilitas yang mengundang decak kagum warganet. Perluasan jaringan yang dilakukan oleh SBS Transit ini merupakan bagian dari Seletar Bus Package, proses tender oleh pihak Land Transport Authority (LTA) yang pertama kali dipublikasi pada 6 Juni 2016. Alhasil, SBS Transit akan menambah 12 rute baru sehingga keseluruhan rute yang tersedia menjadi 26 layanan bus.

Baca Juga: Wales Bangun Terminal Bus Terpadu, Sinergikan Ritel dan Perkantoran

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (28/1/2018), pool bus yang akan menunjang pengoperasian SBS Transit diresmikan langsung oleh Menteri Transportasi Singapura, Khaw Boon Wan pada Sabtu (27/1/2018) kemarin. Adapun pool yang terletak di perbatasan Yio Chu Kang Crescent ini berdiri di atas lahan seluas 96.000 meter persegi, dimana pool ini mampu menampung 530 bus sekaligus.

Dapat dibayangkan, kemegahan bangunan ini sudah langsung terpancar manakala melihat luas lahan yang diduduki oleh bangunan yang mencakup pool, kantor SBS Transit, dan maintain facilities ini. “Kami akan mempekerjakan 925 staf, termasuk 777 bus captain untuk menjalankan Seletar Bus Package,” ungkap Chief Executive SBS Transit, Gan Juay Kiat. “Kami berencana untuk melakukan perekrutan 150 pengemudi baru yang tentu saja memenuhi standar SBS Transit,” imbuhnnya.

Baca Juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

Mengingat Seletar Bus Depot merupakan zona terintergrasi, maka kelengkapan dari pra-sarana transportasi anyar di Negeri Singa tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Mulai dari akses WiFi, kantin sekelas café non-tunai (lengkap dengan pendingin udara), hingga pusat kebugaran semuanya ada di Seletar Bus Depot. Tidak berhenti sampai di situ, jika para pegawai mulai merasa lelah, mereka bisa menggunakan fasilitas kursi pijat yang juga tersedia di sana. Lengkap, bukan?

Karnaval yang diadakan oleh SBS Transit. Sumber: straitstimes.com

“Dengan tersedianya berbagai fasilitas pendukung ini, kami akan betah dan tidak cepat merasa bosan,” kata Chief Bus Captain SBS, Joseph Yap.

Diketahui, Seletar Bus Depot merupakan depo ketiga yang dibangun oleh LTA dan disewakan kepada pihak SBS Transit dengan sistem kontrak. Sementara dua depo pendahulunya, Bulim dan Loyang masing-masing dioperasikan oleh Tower Transit dan Go-Ahead dengan sistem yang serupa. Bertepatan dengan peresmiannya, publik diberi kesempatan untuk mengunjungi Seletar Bus Depot, sebagai bagian dari karnaval yang diselenggarakan oleh SBS Transit.

Bandara AP I Catat Trafik Tertinggi Selama Pandemi Covid-19 Saat Libur Nataru

Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi, menyebut tren pertumbuhan penumpang selama periode libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 berhasil mencapai trafik tertinggi selama pandemi Covid-19. Padahal itu terjadi di tengah pengetatan persyaratan bepergian melalui Surat Edaran Satgas Covid-19 No. 3/2020 dan SE Kemenhub No. 22/2020.

Baca juga: Bandara Radin Inten II, Peninggalan Jepang yang Pernah Didarati Pesawat Beechcraft Baron Garuda Indonesia

Trafik tertinggi selama pandemi Covid-19 itu berhasil dicatat pada 23-24 Desember 2020 yakni berkisar 123.000 penumpang per hari di 15 bandara AP I.

“Dari 18-29 Desember 2020, rata-rata penumpang di 15 bandara 102.541 per hari. Kalau dibandingkan dengan kondisi sebelum Nataru dari 1-15 Desember rata-rata 97.926 jadi ada peningkatan, periode Desember awal dan peak season Nataru, peningkatan tak signifikan hanya lima persen,” katanya, dalam Virtual Press Conference Angkasa Pura Airports, Rabu (30/12).

Faik menjelaskan, dari jumlah di atas, penumpang yang ada di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi yang paling tinggi. Kemudian disusul oleh Bandara Internasional Juanda yang membukukan jumlah penumpang 226.041 penumpang. Dan lalu di tempat ketiga adalah Bandara Internasional Ngurah Rai Bali yang membukukan jumlah penumpang 150.495.

“Pertama itu di ujung pandang karena periode 18-29 Desember ini membukukan penumpang sampai dengan 259.418 penumpang. Kemudian, Surabaya di posisi kedua sekitar 226.041. Nah yang ketiga adalah Denpasar 150.495,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, dalam kondisi normal AP I melayani rata-rata 223.000 penumpang per hari dan kondisi Nataru ini sudah 45 persen dari kondisi normal tersebut.

“Trafik ada tanda-tanda peningkatan walaupun persyaratan terbang diperketat, dari rapid antibodi menjadi antigen, di Bali bahkan harus PCR, sebelum periode 18 Desember ini masih meningkat. Harapan kami, ini bisa terus dilakukan baik, walaupun penumpang dilayani meningkat, protokol kesehatan tetap baik,” ujarnya.

Baca juga: Mengapa Slot Bandara Bisa Sangat Mahal? Inilah Jawabannya

Sebelumnya, PT Angkasa Pura I (Persero) mencatatkan tren kenaikan pergerakan wisatawan domestik menuju Pulau Bali pada libur Natal dan tahun baru 2021. Secara kumulatif, jumlah wisatawan masuk Bali melalui Bandara Ngurah Rai mencapai 46.979 orang sejak 18 sampai 24 Desember 2020.

Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura I Ngurah Rai Taufan Yudhistira menyebut, torehan itu mengindikasikan aturan swab PCR tak serta merta menurunkan tingkat kunjungan wisatawan ke Bali. Mengingat pergerakan penumpang tercatat lebih tinggi dibandingkan sebelum periode libur Nataru tiba.

Jepang Luncurkan Kereta Khusus Karantina Penumpang Pesawat Internasional

Jepang melakukan kebijakan ketat dalam upaya mencegah penyebaran Covid-19; termasuk strain atau mutasi baru virus Corona dari Inggris dan Afrika Selatan. Salah satunya, melarang penumpang pesawat rute internasional untuk menggunakan transportasi umum saat menuju ke tujuan masing-masing. Sebagai gantinya, mereka hanya diperbolehkan memakai kendaraan pribadi atau taksi.

Baca juga: Varian Baru Virus Corona Ditemukan, Mulai 28 Desember Jepang Larang Kedatangan Turis

Bagi warga yang mempunyai keluarga, rekan, ataupun saudara yang bisa menjemput mereka di bandara, tentu larangan tersebut tak akan jadi masalah. Namun, tidak demikian bila sebaliknya.

Oleh karena itu, belum lama ini, Jepang, melalui perusahaan Keisei Electric Railway, menyediakan kereta atau gerbong khusus untuk mengakomodir perjalanan mereka dari Bandara Internasional Narita ke pusat kota Tokyo.

Simple Flying, mengutip dari The Mainichi, menulis sejak kebijakan tersebut (larangan menggunakan transportasi umum) diterapkan beberapa hari lalu, penumpang kedatangan internasional di Bandara Narita, Prefektur Chiba, lebih sering menggunakan taksi menuju pusat kota Tokyo. Imbasnya, mereka sudah dipastikan bakal mengeluarkan ongkos jauh lebih mahal sampai US$200. Sudah begitu, jarak tempuhnya juga cukup lama.

Dengan adanya kereta khusus penumpang kedatangan internasional tersebut, mereka jadi sangat terbantu. Selain karena tarifnya lebih murah ketimbang tarif taksi, hanya sekitar US$25, waktu tempuh juga lebih singkat, tak kurang dari 41 menit.

Setiap harinya, mulai Senin lalu, kereta Keisei Skyliner melayani sebanyak 15 jadwal perjalanan dari Bandara Narita ke stasiun Ueno Tokyo. Meskipun hanya gerbong depan saja, namun, sejauh ini dilaporkan tidak terjadi penumpukan penumpang di dalam kereta. Sebab, Jepang memang melarang turis dari 152 negara, termasuk Indonesia, masuk ke negara mereka. Hanya warga negara Jepang ataupun warga negara asing yang telah lama menetap di Jepang yang boleh masuk.

Setiap sesudah digunakan, kereta tersebut langsung didisinfeksi untuk menjaga sterilitas rangkaian kereta.

Baca juga: Gegara Virus Corona Baru, Inilah Daftar Negara-negara yang Melarang Penerbangan dari dan ke Inggris

Sayangnya, layanan sejenis belum tersedia di bandara lain di Jepang. Sudah begitu, kereta tersebut juga terbatas beroperasi antara Bandara Narita dan stasiun Ueno di pusat kota Tokyo.

Selain kebijakan larangan penumpang kedatangan internasional menggunakan transportasi umum, kecuali kereta khusus semacam Keisei Skyliner, Jepang juga telah menerapkan berbagai kebijakan ketat lainnya dalam menyikapi kemunculan strain baru virus Corona dari Inggris, seperti karantina mandiri bagi kedatangan dari Inggris dan Afrika Selatan serta tes Covid-19 di hari ketiga, mengunduh aplikasi kontak tracing, dan hasil tes negatif Covid-19 yang berlaku 3×24 jam untuk seluruh kedatangan internasional mulai 30 Desember 2020 mendatang.

Pilot Training Kaget Ada Orang Pakai Jetpack di Ketinggian 3.000 Kaki

Di langit, umumnya pilot melihat berbagai pemandangan indah, berbagai aktivitas di darat maupun lautan serta pesawat lain yang juga melintas. Namun, seiring perkembangan zaman dan teknologi, beberapa tahun belakangan pilot tidak hanya dimungkinkan melihat objek-objek sebagaimana disebutkan di atas, melainkan juga dimungkinkan melilhat manusia terbang, dalam hal ini menggunakan jetpack; seperti yang pernah terjadi baru-baru ini.

Baca juga: Pilot Panik Ada Objek Asing Melintas di Ketinggian 6.000 Kaki, Ternyata Orang Pakai Jetpack

Dilansir popularmechanics.com, pada Senin pekan lalu, seorang pilot training dari Sling Pilot Academy tiba-tiba dikejutkan dengan objek asing yang melintas di atas ketinggian 3.000 kaki (sekitar 914 meter), di sekitar Palos Verdes dan Pulau Catalina, selatan Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Meski terpaut jarak agak jauh, namun, kehadiran jetpack tersebut tetap saja membahayakan karena masih dalam jangkauan pesawat. Sudah begitu, jetpack tersebut juga terbang diagonal dari arah depan, terus bergerak ke arah sebelah kanan dan memotong airways atau jalur pesawat.

Lebih dari itu, kehadiran manusia terbang dengan jetpack ini juga tak terdeteksi alias tidak dilaporkan oleh petugas ATC. Bukan karena ATC lalai melainkan karena jetpack man tersebut terbang bukan pada tempat yang seharusnya, di samping terbang secara ilegal.

Tak diketahui secara persis siapa pria dibalik jetpack tersebut. Yang jelas, dari video yang beredar, kemungkinan, jetpack man itu terbang pada kecepatan 150 km per jam dan pilot pun menyempatkan diri untuk memvideokan momen tersebut.

Kejadian ini tentu bukan untuk yang pertama. Sebelumnya, pilot pesawat China Airlines terkejut usai melihat objek asing melintas di ketinggian 6 ribu kaki. Padahal, pesawat sebelumnya sudah mendapat clearance dari ATC. Sontak, insiden yang terjadi sekitar 11 km dari Los Angeles itu sempat membuat geger kokpit dan petugas.

Tak lama kemudian, objek yang dinilai terlalu kecil dan cepat di ketinggian 6 ribu kaki itu langsung dilaporkan pilot ke ATC. Petugas ATC awalnya sempat tak percaya dengan laporan itu. Karenanya, ia meminta pilot untuk mengulang laporannya. Sebab, bisa saja objek kecil tersebut ialah unidentified flying object disingkat (UFO), piring terbang yang sampai saat ini keberadaannya masih menjadi misteri, sekalipun kerap muncul di seluruh dunia, baik siang maupun malam.

Perkiraan terburuk, objek kecil dan cepat tersebut bukan tak mungkin merupakan sebuah pesawat latih yang melenceng jauh dari jalurnya, sehingga mengacaukan airways yang telah diatur ATC. Pasalnya, kejadian seperti ini (objek asing yang ternyata pesawat latih) pernah terjadi di dunia, tepatnya tak jauh dari Bandara San Diego, AS. Kala itu, pesawat Pacific Southwest Airlines (PSA) flight 182 bertabrakan dengan objek asing yang setelah itu dikonfirmasi merupakan pesawat Cessna 172 Skyhawk.

Baca juga: Inilah Pemandangan Fanstastik yang Bisa Anda Lihat dari Udara!

Usai diperjelas oleh pilot terkait objek asing yang melintas di ketinggian 6 ribu kaki, ATC merespon dengan balik bertanya terkait dua kemungkinan, apakah yang pilot lihat itu merupakan UFO atau sebuah jetpack? Dan pilot menduga bahwa itu jetpack. Asumsinya, objek tersebut terlalu kecil dan cepat.

Pemerintah federal sendiri tak mau berasumsi mengingat tak ada petunjuk otentik yang mengarahkan dugaan kepada jetpack. Otoritas lebih memilih untuk menyelidiki laporan yang masuk pada Kamis kemarin itu, sekalipun sekilas, kronologinya mirip dengan kejadian beberapa pekan sebelumnya.

Lusitania Expresso, Balada Kapal Ferry RoRo Legendaris ‘Penantang’ Kapal Perang TNI AL

Kapal ferry RoRo biasanya hanya melakukan perjalanan yang tidak jauh, bila di Indonesia biasanya kapal ferry jenis ini digunakan untuk menyeberang Selat seperti Selat Sunda, Selat Bali dan lainnya. Nah bagaimana jika ada kapal ferry RoRo yang biasa digunakan untuk melintasi selat atau penyeberangan tak jauh ini justru melintasi berbagai benua, negara dan lautan?

Baca juga: KRI Tanjung Kambani 971, Kapal Ferry RoRo dengan Cita Rasa Militer

Mungkin Anda akan berpikir tidak akan ada, tetapi nyatanya kapal ferry RoRo yang melintasi jarak terjauh pernah ada yakni Lusitania Expresso. Bahkan Lusitania Expresso pernah akan ditenggelamkan oleh TNI Angkatan Laut. Kok bisa? Pasti pertanyaan itu timbul dibenak Anda.

Ternyata kapal buatan 1964 yang memiliki bobot 1612 ton tersebut, mengabaikan peringatan Indonesia karena rencana pelayarannya ke Dili. KabarPenumpang.com merangkum berbagai laman sumber, Lusitania Expresso merupakan kapal ferry RoRo yang berbendera Portugal.

Lusitania Expresso bertolak dari Pelabuhan Lisabon di Portugal menuju ke Dili, Timor Timor untuk acara tabur bunga di pemakaman pasca terjadinya kerusuhan Santa Cruz beberapa bulan sebelumnya. Ketika itu tahun 1992, kapal ferry ini mengangkut 73 aktivis dari 21 negara dan 59 wartawan Internasional.

Sebelum melakukan tabur bunga, Lusitania Expresso transit di Darwin Australia dari Vasco Dagama dan berencana membawa mantan presiden Portugal. Niatnya setelah transit kapal tersebut akan melanjutkan ke Dili tetapi pimpinan misi tidak mendapat dukungan Sekjen PBB yang dihubungi dalam perjalan tersebut.

Bahkan ketika mencoba menghubungi Sekjen PBB, Lusitania Expresso dihadang tiga kapal perang TNI AL yang tergabung dalam Operasi Aru Jaya. Awalnya sebelum dihadang ternyata kapal dengan panjang 72 meter dan memiliki luas 13 meter tersebut sudah diintai oleh frigat KRI Yos Sudarso 353 bersama korvet KRI Ki Hajar Dewantara-364 sejak berlayar memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia atau ZEEI.

Saat itu dua kapal TNI AL itu hanya bisa membayang-bayangi tanpa bisa menindak sebab sesuai ketentuan hukum internasional yang mana semua kapal bebas berlayar di daerah tersebut. Namun, pesawat intai maritim TNI AL Nomad N-21 yang mencarinya di perairan internasional setelah Lusitania Expresso meninggalkan Pelabuhan Aju Darwin di Australia.

Karena hal inilah ketika Lusitania Expresso posisinya diketahui, korvet Ki Hajar Dewantara yang berpatroli di Laut Timor menyalakan mesin turbin, berlayar ngebut sepanjang malam menyonsong Lusitania di ZEEI. Kemudian menyusul fregat KRI Yos Sudarso, kapal perang kelas Van Speijk dengan senjata andalannya, peluru kendali Exocet.

Seperti tak mengindahkan peringatan, kapal dengan panjang 73 meter dan lebar 13 meter itu terus melaju dan mereka seperti menguji nyali kapal-kapal perang TNI AL. Peringatan dilakukan karena saat itu Indonesia dan Portugal tengah bermusuhan akibat integrasi Timor Timor menjadi provinsi ke-27 Indonesia.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

Kapal yang namanya diganti bedhes atau anak monyet oleh para pelaut TNI AL pada 11 Maret 1992 akhirnya berhasil memasuki perairan teritorial Indonesia. Lusitania Expresso dibuat oleh galangan Trondhjems Mekaniske Verksted di Norwegia yang mana dulunya dikenal dengan Roslagen Spervik 1. Status Lusitania Expresso sendiri saat ini laid up atau secara teknis berarti kapal tersebut untuk sementara diberhentikan operasionalnya.

Begini Potret Karantina Mandiri sambil Berlibur ala Australia

Untuk pertama kalinya sejak Juni lalu, zona merah Covid-19 di Australia, negara bagian Victoria, melaporkan nihil kasus virus Corona pada Oktober dan November lalu. Kesuksesan itu dipercaya berkat aturan lockdown ketat selama enam pekan yang membuat warga jenuh berada di dalam rumah. Namun, tidak untuk Sheree Rubinstein dan bayinya yang baru berusia lima bulan.

Baca juga: Australia Punya Jalur Lurus Kereta Api Terpanjang di Dunia

Sebelum lockdown diberlakukan, Sheree dan buah hati, Goldie, didesak hijrah oleh teman-temannya agar tak merasakan lockdown berkepanjangan nan membosankan di Victoria. Meskipun sempat menolak, desakan kabur dari negara bagian dengan penduduk terpadat kedua di Australia itu akhirnya diterima dan pindah ke Darwin sebelum menuju Byron Shire, di pantai utara New South Wales.

Di sana, Sheree memang tetap diwajibkan menjalani karatina selama 14 hari. Namun, karantina di sini berbeda dengan karantina di Victoria ataupun di kota-kota lainnya. Sebab, karantina di Darwin, masih memungkinkan seseorang untuk beraktivitas, seperti jogging hingga berenang.

Sheree dan sang buah hati, Goldie. Foto: Lexi Spurr

Dilansir ABC Australia, karantina di fasilitas Howard Springs selama dua pekan wajib dijalani Sheree dan warga lainnya yang hendak masuk ke Darwin dengan biaya $2.500 untuk perorangan dan $5.000 untuk keluarga.

Dahulu, fasilitas Howard Springs merupakan sebuah kamp pekerja. Namun, sejak tahun lalu, kamp tersebut kosong dan dikelola oleh pemerintah Northern Territory. Di awal pandemi, fasilitas ini sempat digunakan untuk mengkarantina warga Australia yang baru pulang dari Wuhan, Cina.

Fasilitas karantina yang terletak sekitar 25 kilometer di selatan CBD Darwin ini terdiri dari puluhan kamar luas; lengkap dengan televisi, dapur, internet, AC, dan balkon. Dengan berbagai fasilitas tersebut, peserta karantina, termasuk Sheree dimungkinkan untuk tetap berinteraksi satu sama lain dari balkon masing-masing, baik berkomunikasi secara langsung ataupun via virtual melalui video games.

Peserta karantina bisa jogging di sekitar kawasan. Foto: Lexi Spurr

Setiap hari, sambil tetap mengenakan masker dan menjaga jarak, Sheree dan yang lainnya memulai aktivitas dengan melakukan stretching di balkon masing-masing. Kemudian, mereka berjalan-jalan keliling kawasan, berkumpul sambil berjemur, bermain games ketangkasan, menikmati matahari terbenam di Top End, dan bahkan berenang di pantai.

Baca juga: Hari ini, 101 Tahun Lalu, Penerbangan Terjauh di Dunia Inggris-Australia Dimulai! Sempat Mampir di Batavia dan Surabaya

Tak ayal, dengan kelonggaran tersebut, fasilitas karantina di sini kerap disebut sebagai karantina sambil berlibur ala Darwin, sebuah kondisi yang sama sekali berbeda dengan karantina di Melbourne, Victoria, Australia, dimana warga yang karantina di sana sampai menangis atau berteriak, saking jenuhnya terkurung di hotel.

Sheree sendiri mengamini bahwa fasilitas karantina di Darwin itu sebagai karantina sambil berlibur. “Kami benar-benar menikmatinya,” katanya. “Sejujurnya, rasanya seperti liburan dibanding di Melbourne. Setiap hari kami melakukan kelas Pilates virtual di balkon atau kami bermain kartu di malam hari,” tambahnya.