Keren, Tahun 2022 Pesawat Airbus Terhubung Internet Berbasis Satelit Berkecepatan 1,8 Gbps!

Industri pesawat tak henti-hentinya berinovasi. Terbaru, Airbus dilaporkan akan mulai menguji ketersediaan internet atau WiFi OnBoard di pesawat-pesawatnya. Tak tanggung-tanggung, kecepatan internet di pesawat Airbus nantinya bisa mencapai 1,8 Gbps. Hal itu dimungkinkan berkat sinyal internet yang dipancarkan satelit ke pesawat dari luar angkasa.

Baca juga: Hasil Riset: Pasca Covid-19 Penumpang Inginkan WiFi Onboard dan Leg Room Lebih Luas

Dilansir Simple Flying, proyek ini dilakukan Airbus dengan menggandeng mitra Belandanya, UltraAir. Perusahaan tersebut nantinya akan memfasilitasi komunikasi antara pesawat dalam penerbangan dan satelit di orbit geostasioner.

Teknologi ini akan mencakup sistem mekatronika optik yang stabil dan presisi, yang diharapkan Airbus akan memberikan tingkat transmisi yang luar biasa tinggi dan belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai informasi, kecepatan WiFi OnBoard saat ini rata-rata hanya dikisaran 3 Mbps, dibandingkan dengan 1,8 Gpbs yang ditargetkan Airbus. Sangat jauh bukan?

Selain itu, WiFi, yang identik tempat paling rawan membobol data pribadi, akan berbeda. WiFi OnBoard yang nantinya disediakan Airbus-UltraAir menjamin keamanan data, selain kapasitas dan jangkauan yang jauh lebih luas untuk memenuhi kebutuhan di masa depan.

Kunci dari proyek yang dinamakan SpaceDataHighway ini tentu terletak pada Badan Antariksa Eropa (ESA). ESA diketahui turut andil dalam memancarkan sinyal internet dari satelit Alphasat miliknya ke pesawat melalui teknologi laser canggih untuk menyampaikan informasi dari satelit orbit rendah Bumi dan platform udara melalui satelit GEO dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Bila tak ada aral melintang, pengujian pertama akan dilakukan di laboratorium akhir tahun ini, dibantu oleh anak perusahaan Airbus, Tesat, yang berpengalaman dalam bidang komunikasi laser.

Setelah itu, pengujian langsung pertama dijadwalkan bakal terlaksana pada awal tahun 2022 mendatang di Tenerife, Spanyol. Selama pengujian ini, konektivitas akan dibuat antara terminal demonstran UltraAir dan satelit geostasioner.

Bila berhasil, pengujian secara massif akan dilakukan pada pertengahan 2022. Setelahnya, seluruh penumpang pesawat Airbus dapat menikmati layanan internet atau WiFi OnBoard dengan kecepatan super tinggi, mencapai 1,8 Gpbs, baik ketika di atas daratan maupun lautan, dua sampai empat tahun mendatang.

Sebagai informasi, terdapat dua metode yang digunakan oleh maskapai penerbangan untuk mendapatkan sinyal WiFi untuk dipancarkan kembali di dalam kabin dalam konsep Wi-Fi OnBoard.

Metode pertama adalah Air to Ground (ATG). Metode ATG ini menggunakan dua antena yang dipasang di perut pesawat untuk menangkap sinyal dari menara seluler di daratan dan yang kedua adalah antena pemancar dari provider seluler di bumi. Ketika pesawat sudah berada dalam ketinggian tertentu dalam hal ini 10.000 kaki maka pesawat antenna di pesawat siap untuk menarik sinyal WiFi dari menara seluler yang ada di daratan.

Saat ini metoder ATG ini bisa mengeluarkan WiFi dengan kecepatan 3 Mbps saja. Kekurangan dari metoder ATG ini adalah ketika pesawat melewati lautan atau pegunungan yang tidak terjangkau oleh antenna pemancar provider maka koneksi internet akan ikut mati atau tersendat.

Baca juga: Transport for London Lacak Pergerakan Penumpang via Jaringan WiFi

Metode yang kedua adalah dengan menggunakan Satelit. Metode yang kedua ini memang memiliki koneksi yang lebih stabil dan kuat karena sinyal WiFi yang diterima oleh pesawat di dapatkan dari satelit di luar angkasa. Sehingga tidak ada batasan saat melewati lautan atau pegunungan karena satelit berada di atas pesawat.

Namun untuk bisa menerima sinyal dari satelit, pesawat harus memiliki tiga jenis antenna untuk menyerap sinyal WiFi yatiu Ku-Band, Ka-Band, dan Ku/ka Band. Setiap antenna memiliki kecepatan yang bervariasi dalam menyerap koneksi internet dari satelit.

Pakistan Airlines Peringatkan Awak Kabin dan Pilot Tak Berpuasa Selama Penerbangan

Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan hal yang wajib bagi umat Islam. Namun beberapa maskapai di Asia tidak mengizinkan awak kabin mereka berpuasa saat terbang selama Ramadhan. Beberapa maskapai tersebut di antaranya seperti Pakistan International Airlines atau PIA.

Baca juga: Berniat Habiskan Ramadhan di Luar Negeri, Perhatikan Dulu Durasi Puasanya!

PIA memperingatkan awak kabin dan pilot untuk tidak berpuasa dan mengeluarkan peringatan keselamatan. Peringatan keamanan yang dikeluarkan PIA yakni meskipun terbang dengan puasa adalah suatu yang memungkinkan, namun dalam kasus seperti ini ternyata elemen risikonya cukup besar dan margin keselamatan lebih sedikit.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman onemileatatime.com (10/4/2021), ketika seseorang berpuasa, mereka melakukan perubahan dalam rutinitas normal. Oleh karena itu, puasa dan terbang mungkin tidak terbatas pada alasan agama sebab terdapat relaksasi yang ditentukan pada puasa saat bepergian.

Peringatan keamanan juga mencatat bahwa puasa dapat menyebabkan dehidrasi, melambatnya refleks, memburuknya kemampuan menilai dan menurunkan stamina, yang semuanya bisa menjadi masalah jika Anda berada dalam situasi di mana Anda memiliki banyak tanggung jawab. Seperti contohnya bagaimana berpuasa dalam penerbangan dari Dubai ke Los Angeles yang mana waktu Dubai lebih cepat sebelas jam.

Sebagai ilustrasi, Matahari terbit di Dubai sekitar pukul 06.00, matahari terbenam di Los Angeles sekitar pukul 19.30. Penerbangan 16 jam 20 menit dari Dubai ke Los Angeles berangkat pukul 08.55 dan tiba pukul 14.15. Dengan kata lain, jika ingin menjalankan puasa dalam penerbangan ini, Anda tidak boleh makan apapun selama lebih dari 24 jam.

Ini akan berbahaya apalagi jika Anda diharapkan untuk waspada. Sehingga tampaknya puasa selama Ramadhan akan sangat berat bagi awak maskapai pada umumnya. Selain masalah waktu, logistik pun menjadi rumit di mana makanan yang disediakan untuk penumpang yang tidak berpuasa, jika penumpang berpuasa maka ada buka puasa dan sahur.

Baca juga: Selama Ramadhan, Emirates dan Qatar Suguhkan Sajian Istimewa di Lounge dan Kabin 

PIA tidak mengizinkan pilot dan awak kabin berpuasa selama terbang karena khawatir berdampak pada keselamatan operasi. Meski PIA melakukan hal itu, sebagian besar maskapai penerbangan menyerahkan berpuasa pada individu masing-masing awak untuk memutuskannya.

Muncul Dugaan, Titanic Tenggelam Karena Terjadi Kebakaran Sebelumnya

Selama ini yang diketahui masyarakat umum, RMS Titanic tenggelam karena menabrak gunung es yang menyebabkan lambung kapal sobek dan akhirnya kapal pesiar itu terbelah dua. Namun, beberapa ahli mengklaim tenggelamnya kapal Titanic bukan menabrak gunung es. tetapi karena adanya kemungkinan kebakaran yang menjadi bencana pada tahun 1912 silam.

Baca juga: Fakta! Titanic Saat Kecelakaan Ternyata Tak Punya Cukup Sekoci untuk Selamatkan Penumpang

KabarPenumpang.com merangkum dari independent.co.uk, menurut ahli bukti baru telah diterbitkan untuk mendukung teori tersebut. Sementara penyebab bencana telah lama dikaitkan dengan gunung es, bukti baru telah muncul dari kebakaran di lambung kapal, yang menurut para penelit,i terbakar tanpa disadari selama hampir tiga minggu menjelang tabrakan.

Sementara para ahli sebelumnya telah mengakui teori kebakaran di atas kapal, analisis baru dari foto-foto yang jarang terlihat telah mendorong para peneliti untuk menyalahkan api sebagai penyebab utama pada bencana di kapal. Jurnalis Senan Molony, yang telah menghabiskan lebih dari 30 tahun meneliti tenggelamnya Titanic, mempelajari foto-foto yang diambil oleh kepala teknisi kelistrikan kapal sebelum meninggalkan galangan kapal di Belfast.

Maloney mengatakan dia bisa mengidentifikasi tanda hitam sepanjang 30 kaki di sepanjang sisi kanan depan lambung, tepat di belakang di mana lapisan kapal ditembus oleh gunung es.

“Kami sedang mencari di area yang tepat di mana gunung es terjebak, dan kami tampaknya memiliki kelemahan atau kerusakan lambung di tempat tertentu, bahkan sebelum dia meninggalkan Belfast,” ujarnya.

Para ahli kemudian mengonfirmasi bahwa tanda tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh kebakaran yang dimulai di gudang bahan bakar bertingkat tiga di belakang salah satu ruang ketel kapal. Sebuah tim yang terdiri dari 12 orang berusaha memadamkan api, tetapi api itu terlalu besar untuk dikendalikan, dan mencapai suhu hingga 1000 derajat Celcius.

Selanjutnya, ketika Titanic menghantam es, lambung bajanya cukup lemah sehingga lapisan kapal bisa robek. Menyajikan penelitiannya dalam film dokumenter Channel 4, Titanic: The New Evidence, Maloney juga mengklaim kapal itu dibalikkan ke tempat berlabuhnya di Southampton untuk mencegah penumpang melihat kerusakan yang terjadi di sisi kapal oleh kapal yang sedang berlangsung karena api.

“Tidak ada yang pernah menyelidiki tanda ini sebelumnya. Itu benar-benar mengubah narasi. Kami memiliki pakar metalurgi yang memberi tahu kami bahwa ketika Anda mendapatkan tingkat suhu terhadap baja itu membuatnya rapuh, dan mengurangi kekuatannya hingga 75 persen. Kebakaran itu diketahui, tapi sudah dikecilkan. Titanic seharusnya tidak boleh berada di laut,” jelas Maloney.

Pada tahun 2008, Ray Boston, seorang ahli dengan lebih dari 20 tahun penelitian tentang perjalanan Titanic, mengatakan dia yakin kebakaran batu bara dimulai selama uji kecepatan sebanyak 10 hari sebelum kapal meninggalkan Southampton. Dia mengatakan api berpotensi menyebabkan “ledakan serius” di bawah geladak sebelum mencapai New York.

Baca juga: 1 September 1985, Bangkai Kapal Titanic Ditemukan, Banyak Barang Masih Utuh

Penyelidikan atas bencana tersebut, yang diajukan kepada Parlemen pada tahun 1912, menggambarkan kapal tersebut melakukan perjalanan dengan “kecepatan tinggi” melalui perairan es yang berbahaya, memberikan sedikit kesempatan kepada awak untuk menghindari tabrakan yang fatal.

Garuda Indonesia Sewakan Simulator Pesawat dengan Tarif Mulai Rp1,6 Jutaan, Ikuti Thai Airways?

Garuda Indonesia akhirnya mulai menjajaki bisnis sewa simulator pesawat. Sebelumnya, bisnis penyewaan simulator pesawat oleh maskapai sudah lebih dahulu dilakukan Thai Airways sejak September lalu. Tak lama setelahnya, beberapa kalangan pun mendorong Garuda Indonesia untuk turut melakukan hal itu sebagai pundi-pundi uang tambahan, mengingat penerbangan penumpang masih lesu.

Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Melalui brosur resmi yang dikirim Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiawan, disebutkan maskapai pelat merah itu hanya menyewakan flight simulator Bombardier CRJ1000. Adapun untuk simulator pesawat lain yang dimiliki Garuda, seperti Boeing 777, Boeing 737, A330, dan ATR 72, belum mulai disewakan.

Kendati demikian, flight simulator CRJ1000 yang disewakan Garuda Indonesia sudah dilengkapi dengan simulasi kondisi cuaca dan efek gerak yang mendekati kondisi sesungguhnya. Jadi, masyarakat umum atau pilot wannabe yang bermimpi menjadi pilot, tidak ada salahnya menjajal keseruan menerbangkan pesawat tersebut di sini. Apalagi program ini hanya dibuka sampai 31 Desember 2021.

Tarifnya sendiri bisa dibilang terjangkau. Disebutkan, flight simulator CRJ1000 disewakan seharga Rp1,6 juta untuk 30 menit, Rp2 juta untuk 60 menit, Rp3 juta untuk 90 menit, dan Rp3,7 juta untuk 120 menit. Sepanjang waktu-waktu tersebut, para pengunjung didampingi oleh Senior & Certified Garuda Indonesia Pilot, sehingga memaksimalkan pengalaman menjajal simulator.

Selain mendapatkan keseruan seakan-akan menerbangkan pesawat CRJ1000 asli, para peserta program ini juga mendapatkan benefit lainnya, seperti digital completion award, digital photo souvenirs, snack box, dan virtual briefing.

Bagi para pemburu diskon, Anda bisa mengajak dua teman untuk turut mengikuti program penyewaan simulator ini dengan hanya menambahkan biaya sebesar Rp1 juta. Peserta program juga bisa mendapat potongan harga mencapai Rp200 ribu dengan menukarkan GarudaMiles.

Simulator CRJ1000 tentu bukan salah satu yang terfavorit untuk dijajal taruna pilot atau pilot wannabe. Namun, Irfan tidak menutup kemungkinan simulator pesawat lain yang dimiliki Garuda Indonesia juga akan menyusul disewakan untuk umum di kemudian hari.

“Satu-satu. Kita basisnya availability,” jelasnya kepada KabarPenumpang.com, menjawab pertanyaan kenapa hanya simulator pesawat CRJ1000 saja yang disewakan.

Baca juga: Tak Hanya Diserbu Pilot, Microsoft Flight Simulator 2020 Juga Diserbu Traveller yang Kangen Liburan

Sayangnya, Irfan tidak menanggapi pertanyaan lain terkait penyewaan simulator pesawat Bombardier CRJ-1000 dengan pengembalian 12 pesawat tersebut ke lessor Nordic Aviation Capital atau NAC.

Kembali ke soal bisnis penyewaan simulator Garuda Indonesia, Irfan mengingatkan, reservasi dilakukan maksimal 48 jam sebelum jadwal yang diinginkan. Untuk informasi lebih lanjut terkait program ini, Anda dapat mengakses laman https://www.garuda-indonesia.com/GASimulator.

Antonov, Warisan Uni Soviet Milik Ukraina, Bukan Rusia!

Pesawat-pesawat jet di era millenium memang lebih senyap, efisien, dan ramah lingkungan. Namun, soal keunikan desain, bobot, dan tingkat kebisingan tinggi, rasanya, tak ada yang bisa menyaingi pesawat-pesawat legendaris buatan Uni Soviet.

Baca juga: Antonov An-24, Jawara Pesawat Penumpang Propeller Soviet yang ‘Dijiplak’ Menjadi Xian MA60

Terkait suara bising yang dihasilkan pesawat warisan Uni Soviet, warga Pantura Jawa, mulai dari Cirebon, Pekalongan, Semarang sampai ke Blora, merasakan betul akan hal ini. Pada Desember 2018 lalu, warga pernah dihebohkan dengan suara misterius yang memekakkan telinga.

Ketika itu, ada yang menyebut suara yang terdengar di waktu bersamaan, pada Jumat (14/12), pukul 01:00 WIB dini hari itu seperti “klakson kereta api tapi jauh”, “suara terompet” hingga “suara-pesawat terbang rendah”, meskipun tidak ada pesawat yang terlihat.

Akan tetapi, data penerbangan pesawat Antonov An-12BP dengan nomor registrasi UR-CGW termuat di situs Flight Radar 24. Pada 14 Desember 2018 pukul 05.40 UTC atau 00.40 WIB, pesawat Antonov An-12BP diketahui melintas di langit Purwakarta, Jawa Barat, pada ketinggian 15.350 kaki.

Pesawat terdeteksi hingga sekitar langit Subang pada empat menit kemudian. Hanya saja, suara misterius yang diduga berasal dari Antonov itu masih menjadi perdebatan.

Berdirinya Antonov tentu tak terlepas dari jasa besar Oleg Konstantinovich Antonov. Sejak 31 Mei 1946, Antonov diangkat menjadi kepala fasilitas di Biro Penelitian dan Desain Antonov, di Kiev, Ukraina. Di waktu yang hampir bersamaan, Antonov juga diangkat menjadi Siberian R&D Institute for Aeronautics.

Dari situlah perjalanan perusahaan Antonov dimulai. Di bawah badan hukum Biro Desain Antonov, pengembangan demi pengembangan terus dilakukan olehnya, hingga yang paling fenomenal adalah Antonov An-225 yang masuk ke Guinness Book of Records untuk catatan 240 rekornya.

Perlu dicatat, sebelum Antonov berkantor pusat di Kiev, Ukraina, perusahaan sempat berkantor di Novosibirsk, Rusia. Sebelum Uni Soviet runtuh, keduanya masih menjadi masuk dalam teritori negara. Namun, ketika Soviet runtuh, ini menjadi silamakama.

Sebab, selama ini, berbicara Uni Soviet, asosiasinya pasti terhubung langsung ke Rusia. Hal itu memang tak berlebihan mengingat negara tersebut mayoritas mewarisi wilayah Negeri Komunis yang sangat luas. Tetapi, berbicara soal Antonov sebagai warisan industri penerbangan Uni Soviet, ini bukan jatuh ke tangan Rusia, melainkan Ukraina.

Dilansir flightradar24.com, hingga saat ini, Antonov, yang kini mengusung nama Antonov State Enterprise di bawah Ukroboronprom, bukan lagi Biro Desain Antonov peninggalan Soviet, disebut telah memproduksi sekitar 22.000 pesawat.

Pesawat-pesawat tersebut memang sudah banyak yang tak lagi terbang. Umumnya, pesawat buatan Antonov lebih sering terlihat di Ukraina, melalui salah satu maskapai terbesarnya, Motor Sich Airlines. Maskapai tersebut diketahui mengoperasikan banyak pesawat Antonov untuk penerbangan kargo dan penumpang berjadwal serta charter, seperti Antonov An-24 dan An-140.

Sayangnya, di tangan Ukraina, bisnis Antonov seperti tak bergairah. Kalaulah bukan karena nama besar, sudah pasti Antonov bangkrut.

Baca juga: Antonov An-124 Terasa ‘Istimewa’ di Yogyakarta, Tapi Sudah ‘Biasa’ di Makassar

Selama enam tahun terakhir, Antonov diketahui tidak memproduksi satupun pesawat. Tetapi, masa depan memang masih menanti seiring banyaknya charteran pesawat, seperti pesawat terbesar di dunia An-225 dan An-124, serta datangnya beberapa pesanan pesawat.

Disebutkan, Kepolisian Nasional Peru dipastikan telah memesan pesawat Antonov An-178. Tak diketahui secara persis berapa jumlahnya. Yang jelas, badan pesawat tersebut sudah dibuat dan terus menunjukkan progres. Tetapi, ke depan, tak ada kepastian bakal seberapa aktif Antonov untuk terus mengembangkan bisnisnya, tak seperti perusahaan dirgantara warisan Soviet lainnya, seperti Tupolev dan Ilyushin yang berada di tangan Rusia.

Bandara Minneapolis Hadirkan “Gita,” Robot Pengantar Makanan ke Pelancong

Teknologi di masa kini tak bisa lepas dari kehidupan manusia, pasalnya hal ini membantu dalam berbagai macam pekerjaan. Salah satunya teknologi robot yang membantu dalam berbagai hal yakni digunakan di banyak bandara dunia.

Baca juga: Bandara Seattle-Tacoma Kerahkan Robot Pembersih Lantai dan Teknologi Canggih Lawan Corona

Seperti di Bandara Internasional Minneapolis-Saint Paul yang meluncurkan robot baru. Di mana robot tersebut akan mengirimkan makanan kepada para pelancong di Terminal 1 sebagai bagian dari program percontohan yang bertujuan untuk mendorong pemesanan tanpa kontak selama pandemi Covid-19.

Dilansir KabarPenumpang.com dari passengerterminaltoday.com (12/4/2021), robot ini kehadirannya atas kerja sama dengan platform makanan bandara AtYourGate dan Grab. Nyatanya, robot diluncurkan di Bandara MSP pada tahun 2019, portal pengiriman makanan bandara MSP ASAP sekarang menawarkan pengiriman makanan tanpa kontak melalui rolling droid, bernama Gita (diucapkan jee-tah).

“Ada kenyamanan dan keamanan bagi pelanggan untuk dapat memesan makanan dari ponsel atau laptop mereka, dan dalam waktu 15 hingga 30 menit, Gita menggulung dan membuka pintu kargonya agar pelanggan dapat mengambil pesanan mereka. Memang menyenangkan dan aneh, tetapi ada juga tujuan di balik teknologi ini agar pelanggan merasa lebih percaya diri dalam menghindari antrean antrean dan pesanan mereka terkirim,” kata Eric Johnson, direktur manajemen komersial dan urusan penerbangan untuk Metropolitan Airports Commission, yang mengoperasikan Bandara MSP.

Menggunakan teknologi penginderaan visual, Gita mengikuti anggota staf pengiriman AtYourGate untuk menjangkau pelanggan. Droid dapat membawa pesanan hingga 18 kg, memungkinkan pengiriman ke lebih dari satu pelanggan pada satu waktu. Permintaan pesanan dan faktor lokasi menjadi kapan dan di mana Gita dikirim. Saat ini menawarkan pengiriman dari 17 restoran dan penjual makanan.

Baca juga: Cara Jitu Cegah Bird Strike di Sekitar Bandara, Kerahkan Robot Pemotong Rumput 

“Kami melihat Gita sebagai langkah pertama untuk memperkenalkan robotika sebagai pilihan baru yang inovatif dan aman bagi penumpang yang berbelanja dan makan saat berada di MSP. Selain itu, momen kejutan dan kegembiraan yang tercipta saat para tamu bertemu Gita untuk pertama kalinya memberikan kesempatan luar biasa bagi tim AtYourGate untuk mempromosikan pengalaman MSP ASAP,” kata salah satu pendiri AtYourGate, Chris Hartman.

Masih Punya Tabungan, Boeing Yakin Maskapai dan Lessor Segera Beli Pesawat Baru

Kendati industri penerbangan masih belum sepenuhnya pulih dan maskapai banyak yang sudah berdarah-darah, Boeing percaya bahwa mereka masih punya cukup uang. Itu nantinya mendorong maskapai untuk membeli pesawat baru pada kuartal berikutnya.

Baca juga: Maskapai Butuh 32 Ribu Unit Pesawat Baru di 2040, Airbus Tingkatkan Kapasitas Produksi A320

Selain maskapai, pemodal besar dan kecil di industri penerbangan juga dipercaya masih punya cukup uang untuk membeli pesawat baru. Terlebih, upaya melawan Covid-19 terus dilakukan dengan massifnya vaksinasi di berbagai belahan dunia.

“Pemodal dan investor memahami ketahanan industri dan fundamental jangka panjang yang menjadikan pesawat terbang sebagai kelas aset yang berharga. Terlepas dari dampak Covid-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya pada industri kedirgantaraan global, secara umum likuiditas terus berlanjut di pasar bagi pelanggan kami, dan kami berharap itu akan meningkat lebih lanjut karena perjalanan mulai pulih,” ujar Tim Myers, presiden Boeing Capital Corporation.

“Dasar-dasar industri terus menunjukkan berbagai tingkat kekuatan di pasar yang berbeda tergantung pada tren regional pandemi global. Kami berharap modal akan terus dialihkan ke sektor ini oleh pemain mapan dan sebagai pendatang baru mencari peluang selama pemulihan industri,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Keyakinan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Boeing mengacu pada angka-angka dari laporan Current Aircraft Finance Market Outlook (CAMFO) 2021. Secara keseluruhan, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pembiayaan pesawat tahun lalu berakhir dengan likuiditas yang cukup untuk mendanai pengiriman pesawat.

Disebutkan, Bank masih memainkan peranan penting bagi maskapai penerbangan untuk mengamankan pendanaan tahun lalu. Namun, hutang bank jangka panjang menjadi salah satu bentuk pendanaan yang jarang digunakan. Sementara itu, investor dan kreditur membantu secara signifikan karena beberapa pemodal menghentikan bantuan dan margin kredit jadi meluas.

Boeing menyimpulkan bahwa sumber pembiayaan yang paling umum untuk pengiriman pesawat adalah uang tunai, hutang bank, dan pasar modal. Penting untuk diperhatikan bahwa semua pengiriman pesawat untuk maskapai dan lessor dibiayai oleh pihak ketiga.

Secara keseluruhan, pasar modal untuk volume penerbangan 70 persen lebih besar daripada tingkat sebelum pandemi. Angka ini menyoroti jumlah dukungan finansial yang telah diterima sektor tersebut.

Meski demikian, masih ada kekhawatiran yang cukup besar karena banyak maskapai yang masih terseok-seok dan membutuhkan stimulus lebih dari pemerintah, terutama dari pemerintah yang masih memutuskan lockdown atau pembatasan perjalanan.

Baca juga: Terganjal Sanksi Nuklir, Korea Utara Kesulitan Membeli Pesawat Baru untuk Air Koryo

Sejak Oktober tahun lalu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sudah menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Ketika itu, IATA menyebut, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Selain itu, IATA juga menyerukan agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

Dibayangi Wajib Bayar Royalti Musik dan Lagu, Begini Respon KAI dan Garuda Indonesia

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, memilih tak ambil pusing dengan adanya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) yang mewajibkan pihaknya membayar royalti dari pemutaran musik dan lagu di pesawat.

Baca juga: Ternyata, Mendengarkan Musik Memiliki Banyak Manfaat Selama Perjalanan

Senada dengan Irfan, VP Public Relations PT Kereta Api Indonesia (KAI) Joni Martinus juga mengaku demikian.

Kewajiban membayar royalti memang sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani PP Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik pada tanggal 30 Maret 2021.

Peraturan tersebut guna memberikan pelindungan dan kepastian hukum terhadap pencipta, pemegang hak cipta, dan pemilik hak terkait terhadap hak ekonomi atas lagu dan/atau musik serta setiap orang yang melakukan penggunaan secara komersial lagu dan/atau musik.

Dalam Pasal 3 ayat 2 PP Nomor 56 Tahun 2021, diatur 14 tempat dan jenis kegiatan yang akan dikenai royalti terhadap sebuah karya cipta. Salah satunya sektor transportasi seperti pesawat udara, bus, kereta api, dan kapal laut.

Pantauan KabarPenumpang.com, pada KRL relasi Bogor-Jakarta dan Jakarta-Bogor, memang sejak PP tersebut ditandatangani sampai hari ini, sudah tidak ada lagi lagu-lagu atau musik dari musisi Indonesia yang diputar. Sepanjang perjalanan, penumpang hanya ditemani dengan lagu-lagu atau musik karya luar negeri saja.

Meski KAI Commuter belum memberikan tanggapan resmi terkait hal ini, namun, hal itu bisa tercermin dari tanggapan induk perusahaannya, PT KAI.

Kepada wartawan, VP Public Relations, Joni Martinus menjelaskan pihaknya akan mematuhi seluruh aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Kami juga akan pelajari lebih lanjut terkait penerapannya di kereta api dan stasiun,” katanya kepada Kontan.co.id, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, juga nyaris memberikan tanggapan yang sama terkait pemberlakuan royalti dari pemutaran musik dan lagu di pesawat.

Baca juga: JOOX dan AirAsia Rilis “Fly Away,” Musik Tanpa Internet di Pesawat

Irfan Setiaputra menyetujui aturan Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik tersebut. “Ya harus diikuti aturan tersebut, karena kan aturan dari pemerintah,” ujar dia kepada MNC Portal Indonesia.

Tarif yang harus dibayar atas royalti pada pesawat udara, bus, kereta api, dan kapal laut yaitu jumlah penumpang dikalikan 0,25 persen dari harga tiket terendah dikalikan durasi musik dikalikan prosentase tingkat penggunaan musik. Kemudian pemutaran musik di bioskop sebesar Rp 3,6 juta per layar per tahun.

Setelah Dua Tahun Keok, Boeing Akhirnya Kalahkan Pesanan Pesawat Airbus

Boeing akhirnya berhasil kembali merengkuh status sebagai produsen pesawat terbesar di dunia dalam urusan pesanan pesawat. Itu terjadi setelah dua tahun berturut-turut selalu berada di bawah bayang-bayang kompetitor Eropa-nya, Airbus.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Sejak Boeing 737 MAX di-grounded pada Maret 2019, praktis pesanan pesawat Airbus terus melejit lewat armada narrowbody mereka, khususnya keluarga A320, yang menjadi pesaing terberat 737 MAX. Airbus terus berada di atas Boeing dalam urusan pesanan pesawat sampai 2020 lalu.

Terbukti, ketika 737 MAX kembali mengudara dan mulai kembali mendapat tempat di hati maskapai dan penumpang, per 31 Maret 2021, pesanan pesawat Boeing kembali mengungguli Airbus. Boeing tercatat mendapat 282 pesanan pesawat dengan 76 pembatalan. Sedangkan Airbus jauh berada di bawah Boeing, dengan mencatat 39 pesanan dan 100 pembatalan.

Kendati demikian, Boeing masih mempunyai sejumlah pekerjaan besar. Produsen pesawat asal Amerika Serikat itu diketahui masih belum bisa mengungguli Airbus dalam urusan pengiriman pesawat di kuartal I 2021 ini.

Laporan CNN International, Airbus berhasil membukukan pengiriman 125 pesawat, berbanding jauh dengan Boeing yang hanya mengirim 77 pesawat. Padahal, Airbus sebelumnya selalu kesulitan untuk memenuhi pengiriman pesawat sesuai jadwal lantaran kapasitas produksinya masih jauh di bawah Boeing. Sudah begitu, supplai chain Airbus juga belum seluas Boeing. Hal itupun diakui oleh CEO Airbus, Guillaume Faury.

Menurutnya, ekosistem bisnis menjadi krusial dalam kaitannya dengan kapasitas produksi. Singkatnya, mulai dari hulu hingga hilir; yang notabene banyak melibatkan pihak lain, seperti penyediaan bahan baku, kapasitas produksi, pengiriman bahan baku, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, hingga barang jadi ke mitra kerja Airbus, baik internal maupun eksternal, yang tersebar di 11 negara, seperti Wales, Spanyol, Perancis, Jerman, hingga Cina.

“Ini mungkin terlihat seperti sebuah paradoks, tetapi dalam jangka pendek, kami tidak mendapatkan manfaat dari situasi dengan pesaing kami,” kata Faury, di sebuah konferensi pers terkait laporan keuangan perusahaan pada 2019 lalu, di Toulouse, Perancis.

Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Airbus adalah mengirim pesanan pesawat ke pelanggan, yang sangat terpengaruh dengan kemampuan perusahaan dalam memproduksi pesawat secepat mungkin.

Dengan keberhasilan Airbus meningkatkan kapasitas produksi dan mengejar pengiriman pesawat, di saat yang bersamaan, Boeing juga mampu menyalip Airbus dalam urusan pesanan pesawat, persaingan antar keduanya akan semakin menarik ditunggu. Terlebih, tahun 2021 masih cukup panjang dan segalanya masih mungkin serta menentukan siapa yang akan menjadi yang terbesar dalam urusan pesanan dan produksi pesawat.

Pernah Delapan Tahun Kerja di Grab, Tony Fernandes Siap Bawa AirAsia ke Pasar Ride Hailing

Pandemi Covid-19 telah berdampak buruk pada usaha penerbangan, seperti salah satunya dirasakan oleh AirAsia. Pada periode Oktober hingga Desember 2020, AirAsia Grup melaporkan kerugiannya telah mencapai Rp8,5 triliun. Guna meredam kerugian yang bakal terus berlanjut, CEO AirAsia Tony Fernandes berusaha keras melakukan inovasi yang terbilang out of the box.

Baca juga: AirAsia Food Siap Bersaing di Segmen Layanan Antar Makanan Online

Setelah meluncurkan layanan antar makanan online, AirAsia Food, dilansir KabarPenumpang.com dari laman dealstreetasia.com (30/3/2021),  Tony Fernandes mengatakan dirinya pernah di Grab delapan tahun dan belajar banyak. Tony menyebutkan, bahwa dirinya tidak perlu membuang uang untuk masalah aplikasi layanan penumpang jika akan membuatnya.

“Dengan eksperimen, membangun teknologi, melatih pengemudi dan memperkenalkan  pasar, maka tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk hal ini, karena saya pernah belajar dari delapan tahun di Grab. Model ride-hailing telah dibangun, semua orang di Malaysia tahu bagaimana cara menggunakannya,” kata Tony.

Langkah ini merupakan bagian dari rencana AirAsia yang lebih besar untuk menjadi super app. Di mana belum lama ini, AirAsia meluncurkan layanan pengirimanan makanan di Malaysia dan Singapura serta melakukan uji coba untuk layanan pengiriman drone di Negeri Jiran tersebut.

Tak hanya itu, AirAsia juga berencana untuk mendaftarkan armada logistiknya, yakni Teleport untuk memperluas bisnis non penerbangannya. Untuk peluncuran aplikasi ride-hailing, juru bicara AirAsia mengatakan setiap pengumuman tentang layanan baru akan dibuat pada waktunya.

Bahkan menurut Tony, kehadiran aplikasi ride-hailing ini bisa memberikan keuntungan karena bila digabungkan dengan penumpang pesawat yang tiba di bandara, maka bisa memesan taksi untuk pergi ke tujuan mereka.

“Bagaimana Anda akan bersaing dengan Grab? Setiap penumpang yang tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur atau KLIA melihat saya terlebih dahulu sebelum orang lain. Sehingga ketika memesan penerbangan, Anda juga bisa memesan taksi,” ujarnya.

Dia mengatakan, maskapai ingin membuka apliasi setiap hari dengan menggabungkan semua bisnisnya. Tony menambahkan, daya dorong utama transformasi digital ini adalah logistik dan inilah yang dicari.

Baca juga: Rilis Logo Baru, AirAsia Resmi Jadi Super App dan Tawarkan Diskon Tiket 50 Persen

Tidak ada aplikasi super yang dapat melakukan apa yang mereka buat, karena saat ini AirAsia memiliki 245 pesawat. AirAsia juga tengah mengintegrasikan dompet elektronik BigPay ke dalam aplikasi AirAsia.