Awak Aviasi Indonesia Menulis dan Punya Komunitas CCM “Cabin Crew Menulis”

Setiap orang bisa menulis meski bukan lulusan ilmu komunikasi ataupun jurnalistik. Bahkan para pilot, awak kabin dan lainnya yang bekerja di dunia aviasi juga bisa menulis dengan baik. Ini terlihat dari adanya sebuah komunitas yang menampung hobi para pekerja penerbangan di dunia menulis.

Baca juga: Bagi-bagi Hadiah Model A350-900, Blogger ini Buka Kontes Menulis Tentang Singapore Airlines

Komunitas itu bernama Cabin Crew Menulis atau CCM yang mewadahi pekerja aviasi menulis berbagai cerita dan pengalaman seputar dunia aviasi untuk para awak kabin baik yang masih aktif, mantan awak kabin ataupun yang ingin menjadi bagian dari awak kabin. Bisa dikatakan CCM merupakan komunitas aviasi menulis pertama yang ada di Indonesia.

Kehadiran CCM ini awalnya dari Instagram @cabincrewmenulis hingga kini tertuang di situs resmi cabincrewmenulis.com. Para pegiat membagikan pengalaman mereka untuk pembaca dari cerita tentang emergency landing, life after flying stories, kisah percintaan awak kabin hingga tips dan trik.

Dikutip KabarPenumpang.com dari beritasatu.com, komunitas ini juga memberikan informasi rekrutmen awak kabin dari berbagai maskapai penerbangan. Memenuhi rasa penasaran masyarakat, komunitas CCM juga berbagi cerita menyeramkan yang dialami oleh para awak kabin.

Ternyata komunitas ini rutin berbagi pengalaman secara langsung bersama para awak kabin lain melalui Instagram setiap Selasa yang nantinya siaran langsung itu disimpan melalui IGTV. CCM berdiri sejak 31 Januari 2020 yang diprakarsai oleh Ratri Handayani yang juga seorang awak kabin dari maskapai internasional.

“Ide membuat komunitas ini berawal dari obrolan bersama rekan-rekan cabin crew setelah bertugas. Banyak sekali cerita menarik yang harus dibagi, bisa menjadi hiburan bahkan informasi bagi masyarakat,” ujar pemilik Instagram @ratrihdy ini.

Lahirnya komunitas CCM ini juga dilatarbelakangi oleh kegelisahan Ratri mengenai pandangan atau stigma negatif masyarakat pada awak kabin. Padahal, para awak kabin juga memiliki prestasinya masing-masing secara akademisi, olahraga, fotografi, model dan lainnya.

Baca juga: Troli Virtual, Awak Kabin Tak Lagi Langsung Bersentuhan dengan Penumpang

“Banyak yang tidak diketahui masyarakat mengenai dunia aviasi, dari cerita selama terbang sampai sisi lain dan prestasi para kru kabin. Saya yakin banyak yang penasaran juga, makannya komunitas ini akan membantu masyarakat mendapat informasi yang mereka butuhkan,” jelasnya.

Tangkal “Cabin Fever” Selama Pandemi, Ini Solusinya

Berdiam diri cukup lama di dalam rumah selama pandemi ternyata bisa menimbulkan berbagai macam hal, baik yang positif maupun negatif. Biasanya hal negatif ini disebut sebagai cabin fever atau demam kabin.

Baca juga: Hadapi Karantina Wilayah, Ini 8 Hal yang Bisa Anda Lakukan Bersama Anak di Rumah

Cabin fever ini bisa terlihat dari rasa kurang nyaman, kurangnya motivasi, mudah tersinggung, pola tidur tidak teratur atau berbagai hal lainnya. Nah, seseorang yang terkena cabin fever disebabkan mereka minim melakukan aktivitas

Dirangkum KabarPenumpang.com dari bradfordfamilydentist.ca, bahkan awal seseorang bisa terkena cabin fever ketika menganggap work from home atau bekerja dari rumah selama masa pendemi seperti liburan sehingga di bawa santai. Padahal jika dilakukan dengan jangka waktu yang lama seseorang akan bosan dan terkena cabin fever ini.

Untuk mengatasinya, bisa dilakukan dengan mencari hiburan dan aktivitas kebugaran. Perlu dicatat, tinggal di rumah bukan berarti tidak bisa keluar untuk berolahraga dan mencari udara segar. Anda bisa bersepeda atau berkeliling taman, sebab udara segar membantu merasa lebih baik setelah tinggal lama di rumah.

Jangan lupa jadwalkan rutinitas harian, sehingga meski bekerja di rumah bukan untuk bermalas-malasan. Anda bangun dan mandi pagi agar pikiran tetap terjaga. Anda juga bisa membersihkan rumah secara berkala. Biasanya ini adalah hal yang paling sulit dilakukan meski dihari libur karena sudah lelah bekerja. Sehingga saat WFH memberikan Anda banyak waktu membereskan rumah.

Dengan tetap aktif secara fisik maupun mental, Anda tidak akan terkena cabin fever karena masih tetap melakukan aktivitas yang menjaga kesehatan pikiran dan badan. Anda juga bisa tetap terhubung dengan orang terdekat, saling bertukar kabar dan cerita meski melalui media sosial.

Cara ini bisa membantu Anda dan orang lain meringankan beban di masa pandemi yang mana tidak bisa berhubungan secara langsung. Untuk menjauhkan Anda dari cabin fever, selain berbagai macam hal yang disebutkan, memberikan kesenangan pada diri pribadi pun bisa dilakukan.

Baca juga: Usai Pandemi, Rencanakan Berlibur di Flotel Yuk

Melakukan spa sendiri di rumah, mengadakan makan malam ala restoran bersama keluarga serta berdoa bersama juga bisa menjauhkan Anda dari cabin fever. Dengan berbagai solusi ini, rasanya cabin fever akan jauh dari dan Anda bisa tetap menikmati hari-hari yang menyenangkan.

Dibalik Kedatangan 6 Juta Bulk Vaksin Sinovac, PK-GIK ‘Bangkit’ Pasca Gagal Terbangkan Jokowi

Ada yang menarik dibalik kedatangan 6 juta bulk atau bahan baku vaksin Sinovac. Apalagi kalau bukan pesawat Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Retro livery Brand Logo 1969-1985. Pesawat yang baru diterima maskapai pelat merah ini pada Januari 2016 itu sebelum digunakan mengangkut vaksin Sinovac pernah digadang bakal menjalani tugas kenegaraan mengantar Presiden Jokowi. Sayangnya itu dibatalkan.

Baca juga: Untung Rugi Narrowbody vs Widebody untuk Pesawat Kepresidenan Indonesia

Ketika itu, presiden dijadwalkan melawat ke Las Vegas, Amerika Serikat (AS) pada Maret 2020 silam dalam gelaran ASEAN-US Summit. Sebetulnya, Jokowi bisa saja terbang dengan pesawat kepresidenan jenis Boeing Business Jet (BBJ) 2 737-800. Konsekuensinya, pesawat harus transit tiga kali untuk mengisi bahan bakar. Tentu tidak efisien.

Berhubung pandemi Covid-19 yang semakin mengganas, gelaran tersebut pun dibatalkan. Alhasil, pesawat Boeing 777-300ER dengan nomor registrasi PK-GIK yang sudah dicat livery kepresidenan pun harus kembali mangkrak di hanggar.

PK-GIK kembali menghirup udara segar usai lama digrounded. Foto: Istimewa

Dari data airplane-pictures.net, sebelum dijadwalkan mengantar presiden, Boeing 777-300ER atau Triple Seven Garuda Indonesia Retro livery Brand Logo 1969-1985 diketahui sudah kurang lebih setahun menganggur.

Pesawat itu diketahui terakhir kali terbang dan tertangkap kamera pada 21 Agustus 2019 di Bandara Schiphol, Belanda.

Meskipun tak ada keterangan resmi dalam rangka apa pesawat tersebut berada di sana, namun, itu sebetulnya tidak begitu aneh mengingat Garuda Indonesia memang mempunyai penerbangan ke sana. Selain itu, bandara tersebut juga menjadi hub Eropa Garuda, melengkapi Jepang melalui Bandara Tokyo Haneda yang menjadi hub Asia maskapai.

Sebelum dicat livery retro, pesawat tersebut diketahui sempat menggunakan livery brand logo Garuda Indonesia saat ini. Pesawat tertangkap kamera terakhir kali menggunakan livery itu pada 16 Juli 2018 silam juga di Bandara Schiphol, Belanda.

Setahun berikutnya atau pada 5 April 2019, PK-GIK kembali tertangkap kamera di bandara yang sama menggunakan Retro livery Brand Logo 1969-1985 untuk pertama kalinya.

Kontainer pembawa bulk Sinovac dengan latar belakang livery klasik Garuda Indonesia. Foto Istimewa

Setelah itu, pesawat sempat beberapa kali menjalani beberapa penerbangan internasional ke Bandara Tokyo Haneda Jepang, Bandara Schiphol Belanda, Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, dan Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah, sebelum akhirnya mangkrak di hanggar GMF.

Baca juga: Ada DC-9 Berlivery Klasik di Hanggar Garuda Maintenance Facility, Buat Apa Ya?

Usai lama tak mengudara, pesawat akhirnya bisa terbang bebas alias kembali ke langit dengan misi berbeda, yaitu penerbangan khusus kargo, bukan penerbangan penumpang yang biasa dilakoninya.

Mengingat Indonesia baru menerima 59,5 juta dosis bulk vaksin dari total 140 juta yang dijadwalkan akan diterima tahun ini, bukan tak mungkin pesawat dengan livery special ini akan terus mengudara sampai beroperasi secara reguler seiring membaiknya penerbangan penumpang.

Tidak Beri Alasan Tak Menggunakan Masker, Pria Ini Ditinggal di Bandara Okushiri

Seorang penumpang tidak menggunakan masker dalam sebuah penerbangan Hokkaido Air System harus ditinggalkan di Bandara Okushiri prefektur Hokkaido. Hal ini dilakukan pihak maskapai karena penumpang tersebut ketika ditanya mengapa tidak mengenakan masker, tidak memberikan alasan apapun.

Baca juga: Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

KabarPenumpang.com melansir dari laman soranews24.com (15/9/2020), insiden diturunkannya penumpang di Bandara Okushiri berawal saat pesawat menuju ke Hakodate tersebut bersiap lepas landas. Awak kabin mengingatkan penumpang untuk memasang sabuk pengaman, mengembalikan posisi kursi dan mengenakan masker.

Namun seorang penumpang pria menolak mengenakan maskernya dalam penerbangan tersebut. Kemudian awak kabin mendekatinya dan meminta pria itu menggunakan kembali maskernya untuk mengurangi kemungkinan infeksi bagi semua orang dalam penerbangan tersebut.

Karena menolak, awak kabin berulang kali bertanya mengapa tidak mau menggunakan masker. Tapi berulang kali juga pria itu tidak memberikan penjelasan apa pun. Hal ini pun membuat pria tersebut dikeluarkan dari pesawat dan ditinggalkan saat lepas landas.

Untuk diketahui, Okushiri tempat pria bertopeng ditinggalkan, adalah pulau berpenduduk jarang, jadi sepertinya dia tidak bisa. naik bus saja. Masalah penolakan menggunakan masker itu membuat penerbangan tersebut tertunda hingga 30 menit. Adanya hal ini, pria itu mengaku pada salah satu media karena menggunakan masker membuat kulit wajahnya mengalami ruam.

“Saya tidak bertanggung jawab untuk memakai topeng juga tidak membantu kredibilitas dari alasan yang seharusnya dibenarkan untuk ruam kulit,” ujar pria tersebut.

Baca juga: Berciuman Memakai Masker, Kelakuan Penumpang Pesawat di Masa Pandemi Semakin Aneh

Menyusul insiden tersebut, Hokkaido Air System (anak perusahaan Japan Airlines) mengeluarkan pernyataan yang mengklarifikasi bahwa mereka tidak melepas pria tersebut secara khusus karena dia tidak mengenakan masker, tetapi karena penolakannya untuk berkomunikasi dengan awak pesawat menimbulkan gangguan, lingkungan yang berpotensi tidak aman di dalam kabin. Tapi, setidaknya dia berusaha berdiri sebelum penerbangan lepas landas, tidak seperti orang ini.

Hari Ini, 43 Tahun Lalu, Vickers Viscount Jadi Turboprop Pertama yang Beroperasi Selama 25 Tahun

Pada hari ini, 43 tahun lalu, bertepatan dengan 18 April 1978, Vickers Viscount menjadi pesawat turboprop pertama yang beroperasi selama 25 tahun. Ini tentu tak mengherankan mengingat pesawat ini merupakan pesawat turboprop pertama di dunia. Saat pesawat beroperasi lebih lama, sudah pasti rekor demi rekor tercipta tanpa ada yang bisa menghalaunya.

Baca juga: Vickers Viscount, Pesawat Turboprop Pertama di Dunia

Dilansir baesystems.com, di era sebelum pesawat-pesawat Amerika Serikat dan Perancis mendominasi, Inggris memainkan peranan penting dalam percaturan industri penerbangan global di tahun 40-60an.

Pesawat jet komersial pertama dunia, de Havilland Comet, mungkin jadi salah satu bukti. Tak hanya itu, Inggris juga membuka jalan dimulainya era penerbangan turboprop -sebagai pengganti mesin piston yang berisik dan banyak getaran- melalui pengembangan pesawat turboprop pertama di dunia, Vickers Viscount.

Penerbangan perdana Vickers Viscount dimulai pada Juli 1948 melalui prototipe tipe 630. Saat itu, pesawat dengan nomor registrasi G-AHRF ini hanya diperbolehkan oleh Komite Brabazon -komite yang dibentuk oleh pemerintah Inggris pada tahun 1942 untuk menganalisis kebutuhan masa depan pasar pesawat sipil Inggris setelah Perang Dunia II- sebanyak 24 kursi.

Namun, setelah prototipe Vickers Viscount tipe 630 sukses terbang, kapasitasnya ditingkatkan menjadi 32 penumpang dengan panjang pesawat hingga 22 meter lebih.

Keberhasilan prototipe Vickers Viscount tipe 630 bersama mesin turboprop Rolls-Royce Dart pun mengundang perhatian dunia. Pasalnya, sebelum Vickers Viscount datang, umumnya pesawat masih menggunakan mesin piston yang tak ramah penumpang.

Walaupun masih butuh beberapa perbaikan, Vickers Viscount sebagai pesawat dengan mesin turboprop pertama di dunia kala itu digadang-gadang bakal menggantikan Douglas DC-3 yang dinilai usang.

Belum usai prototipe Vickers Viscount tipe 630 dengan mesin turboprop Rolls-Royce Dart, prototipe kedua Viscount tipe 663 dengan mesin jet Rolls-Royce Tay tak lama berselang siap mengudara.

Prototipe ini didapuk sebagai test-bed untuk mengembangkan pesawat Vickers Valiant dengan mesin jet. Maklum, saat itu, perlombaan pengembangan pesawat jet komersial pertama di dunia cukup ketat, dengan saingan terberat datang dari rekan se-negara, De Havilland.

Setelah berdiskusi dengan British European Airways (BEA) sebagai mitra utama Vickers-Armstrongs (pabrikan Vickers Viscount), varian turboprop akhirnya lebih diprioritaskan karena dinilai lebih menguntungkan. Maskapai Inggris itu pun akhirnya memesan 26 pesawat Vickers Viscount tipe 700, dengan penambahan 47 hingga 53 kursi, jauh lebih besar dari dua tipe sebelumnya.

Dalam rentang 1948 -1963, sebanyak 445 Vickers Viscount diproduksi. Dengan jumlah tersebut, Vickers Viscount menjadi pesawat pertama yang sukses dan menguntungkan setelah Perang Dunia II. Pelanggan terbesar tentu datang dari maskapai domestik sebanyak 77 unit. Sisanya, tersebar di 40 negara melalui lebih dari 60 operator. Umumnya, Eropa dan Amerika Utara masih menjadi pasar terbesar Vickers Viscount.

Baca juga: Kisah Keluarga Vickers, Pesawat Komuter Andalan Penerbangan Domestik Dekade 70-an, Punya Cerita Kelam di Indonesia!

Setelah 25 tahun mengudara, menjadi pesawat turboprop pertama di dunia yang melakukan hal itu, Vickers Viscount masih eksis beroperasi. Dari total 445 pesawat yang diproduksi, hampir seluruhnya masih menghiasi langit.

Barulah, memasuki tahun ke-61 atau pada Januari 2009 silam, pesawat Vicker Viscount terakhir dengan nomor registrasi 9Q-COD, akhirnya melakoni penerbangan terakhir bersama Global Airways di Republik Demokratik Kongo dan sejak saat itu, tak ada lagi pesawat turboprop pertama di dunia di langit dunia.

JoGo, Sedotan Canggih yang Mudahkan Minum Kopi Tanpa Gunakan Saringan

Sebagai seorang pecinta kopi, sepertinya tidak boleh melewatkan sedotan yang satu ini. Sebab sedotan ini berbeda dari sedotan biasanya yang digunakan untuk menikmati semua minuman. Sedotan ini bernama JoGo yang mana ketika seseorang menyeruput kopi mereka, ampas tidak akan terbawa dan tidak menghilangkan cita rasa alami kopi yang diminum.

Baca juga: Ciptakan Bandara Ramah Lingkungan, Bandara San Francisco Larang Penggunaan Botol Plastik Sekali Pakai

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (14/4/2021), menggunakan JoGo sama mudahnya saat membuat kopi. Yang mana pecinta kopi menambahkan kopi bubuk langsung ke mug atau gelas kemudian tuangkan air panas dan diaduk dengan JoGo. Meski harus menunggu dingin, tetapi saat Anda menyeruput kopi menggunakan JoGo, tidak akan ada ampas yang ikut terserap.

Pasalnya, sedotan berbahan baja tahan karat ini dilengkapi dengan filter mesh logam mikron yang menjaga ampas saat menyesap dan menyisakan kopi lembut penuh rasa seperti menikmati kopi hasi French press. Namun, JoGo ternyata bukanlah ide yang baru dan didasarkan pada ide yang cukup lama dan didirikan oleh perusahaan pada abad ke-1.

Di mana salah satu pendiri JoGo, Joey Jones, diperkenalkan dengan bombilla, sedotan tradisional yang memiliki saringan untuk minum teh Yerba ketika ekspedisi sepeda motor dari Minnesota ke Argentina. Saat itu Jones dan Nick menyatukan ide dan merancang versi yang akan bekerja dengan minuman yang mereka inginkan.

Menyeruput kopi panas melalui sedotan tidak akan menarik bagi semua orang, tetapi pembuatan kopi di pedalaman selalu merupakan masalah kompromi, baik itu kopi instan, “merokok” kopi Anda dari pipa, atau menanggung beban ransel ekstra gaya rumahan sehingga French press tak lagi dibutuhkan ketika bepergian.

JoGo adalah pilihan lain, dirancang untuk rasa yang lebih penuh dan lebih segar daripada kopi instan tanpa bobot, curah, atau biaya sistem pembuatan bir lainnya. JoGo juga dapat digunakan untuk teh daun lepas, minuman buah dan koktail yang biasanya mengirimkan sedikit materi yang tidak diinginkan terbang ke atas sedotan yang tidak disaring (pikirkan potongan mint dari mojitos atau bubur dalam jus jeruk).

Baca juga: Tekan Limbah, Qantas Tahun Ini Stop Penggunaan Boarding Pass Berbahan Kertas 

Jika sekrup filter dibuka, ini berfungsi seperti sedotan biasa yang dapat digunakan kembali. JoGo menawarkan sedotan kopi tunggal di Kickstarter dengan harga mulai dari US$17. Itu berteriak beberapa kali melebihi target $10 ribu pada hari pertama, dan jika semua berlanjut seperti yang direncanakan, pengiriman akan dimulai pada bulan September. Setiap sedotan JoGo dilengkapi dengan sikat pembersih, tas jinjing, dan tip minum dengan warna khusus.

Mantan Pramugari Kini Jadi Jurnalis Penerbangan

Menjadi pramugari ternyata tak pernah ada dibenak Gabriele Petrauskaite untuk kehidupan profesionalnya sejak dirinya melihat karir impian di televisi. Pasalnya wanita 24 tahun yang lulusan dengan gelar sarjana jurnalistik ini mengatakan, dia selalu terpesona dengan karir di media yang tidak ada hubungannya dengan industri penerbangan.

Baca juga: 14 Tahun Jadi Pramugari Singapore Airlines, Kini Alih Profesi Menjadi Perawat Medis

“Pengalaman singkat saya dalam penerbangan telah mengajari saya betapa pentingnya bagi seseorang untuk memiliki keterampilan yang dapat dia gunakan sebagai rencana cadangan. Sejak kecil, saya bercita-cita menjadi jurnalis,” kata Gabriele.

Ia mengambil kesempatan pertama untuk bergabung dengan industri ini saat masih belajar jurnalisme di Vilnius University, Lithuania. Selama tahun pertama studi, Gabriele bergabung dengan televisi lokal dan menjadi jurnalis video, membuat reportase video pendek tentang berbagai topik berita.

Setelah menginjakkan kakinya di pintu, Gabriele segera menyadari betapa kompetitif jalur karier yang telah dia pilih dan setelah empat tahun dihabiskan di industri media, dia mulai meragukan keputusannya.

“Saya senang menjadi bagian dari tim profesional media di mana saya dapat mempelajari banyak seluk-beluk liputan berita dari kolega saya yang sangat berpengalaman. Tapi saya merasa sedikit lelah dengan tekanan saat menggabungkan studi dan pekerjaan saya, karena jurnalis harus selalu tetap fokus dan berada di episentrum peristiwa dan insiden,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari aerotime.aero.

Kemudian dia memutuskan untuk beristirahat sejenak dari media dan dengan dorongan seorang teman, Gabriele melamar sebagai pramugari di maskapai penerbangan yang berbasis di kota kelahirannya.

“Saya mengharapkan tidak lebih dari kesempatan untuk berkeliling dunia sementara saya sedang mempertimbangkan rencana masa depan saya. Tapi ketika saya terlibat dalam penerbangan, setiap detail proses penerbangan menarik minat saya yang besar,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pekerjaan pramugari tidak hanya melayani penumpang dan memastikan penerbangan yang aman dan menyenangkan. Sebab di balik persinggahan tanpa akhir di berbagai belahan dunia, Gabriele mengatakan dirinya menemukan banyak hal dari jenis pesawat hingga manajemen maskapai dalam, manual pengoperasian, keselamatan penerbangan dan hal lainnya.

Pada April 2020, ketika pandemi melanda industri penerbangan, pramugari menjadi salah satu dari ratusan awak kabin yang langsung kehilangan pekerjaan. Saat itu, dirinya merasa terkejut sekaligus kesal karena Gabriele mengaku tengah berlatih bekerja di pesawat berbadan lebar.

“Pertama, saya pikir situasi terkait pandemi ini hanya sementara. Tidak ada yang menyadari betapa seriusnya hal itu dapat memengaruhi perusahaan dan kehidupan kita. Saya sangat menyukai pekerjaan saya sebagai pramugari sehingga saya bahkan tidak berusaha mencari peluang kerja lain setelah saya dipecat. Saya akan berbohong jika saya mengatakan bahwa itu tidak berdampak emosional pada saya,” jelasnya.

Baca juga: 30 Awak Kabin Singapore Airlines Jadi Duta Perawat di Rumah Sakit

Bersamaan dengan studi baru, mantan pramugari itu membangun rencana tentang bagaimana menggabungkan pengalaman sebelumnya di media dengan hasrat untuk industri penerbangan. Gabriele bergabung dengan tim AeroTime News pada Agustus 2020. Sejak itu, ia meliput berita terkini, keuangan, dan teknologi penerbangan. Mayoritas wawancara My Covid Story juga dipersembahkan oleh Gabriele.

Mengenal Howard Hughes, Pilot, Pebisnis dan Perancang Pesawat yang Ubah Dunia Penerbangan

Insan penerbangan mungkin sudah pasti mengenal Wright bersaudara sebagai tokoh penerbangan dunia. Namun, bagaimana dengan Howard Hughes? Mungkin tak semua avgeek mengenalnya, bukan? Padahal, pria multi talenta di dunia penerbangan ini disebut sebagai seseorang yang mengubah industri penerbangan, loh.

Baca juga: Hughes H-4 Hercules Flying Boat, Pesawat Amfibi (Gagal) dengan Rentang Sayap Terbesar

Sejak usai 14 tahun, Hughes sudah menunjukkan minat yang kuat terhadap dunia penerbangan. Ia pun mengambil jalan sebagai pilot ketika itu. Pada 1935, Hughes mulai jadi pesohor sebagai pilot usai mencatat rekor dunia untuk kategori landplane airspeed dengan kecepatan 567 km per jam, di Santa Ana, California, Amerika Serikat (AS).

Menariknya, seperti dikutip dari Simple Flying, yang membuat momentum pemecahan rekor dunia tersebut menjadi spesial, pesawat H-1 Racer yang digunakan ialah hasil rancangan sendiri.

Setelah itu, karir Hughes sebagai pilot terus melonjak usai mencetak rekor kecepatan pesawat lintas benua (Los Angeles-Newark) mencapai kecepatan rata-rata 518 km per jam pada tahun 1937. Pada Juli 1938, Hughes juga mencetak rekor dunia keliling hanya 91 jam 14 menit menggunakan pesawat Lockheed L-14, mengalahkan rekor Wiley Post dengan capaian hampir empat hari.

Popularitas dan nama besar pun mendatangkan pundi-pundi dolar yang banyak kepada Hughes. Ia pun mulai naik kelas menjadi pebisnis dirgantara dengan membeli saham maskapai Trans World Airlines (TWA) pada akhir tahun 1930-an. Ketika itu, ia masih tercatat sebagai pemegang saham minoritas. Barulah pada tahun 1944 ia berhasil merangsek menjadi pemegang saham mayoritas TWA.

Di bawah kepemimpinan Hughes, TWA berkembang sangat pesat. Maskapai ini memulai layanan trans-Atlantik ke Perancis, Italia, dan Mesir pada tahun 1946.

Armadanya juga berkembang di bawah Hughes, yang secara pribadi mendanai pesanan 40 pesawat Lockheed Constellation bernilai US$18 juta dan merupakan pesanan terbesar dalam sejarah penerbangan pada saat itu. Gebrakan Hughes pun diikuti oleh banyak maskapai dan menjadi warisan berharga di penerbangan AS.

Meskipun Hughes meninggalkan TWA pada tahun 1960, kepemimpinannya telah menempatkan TWA di posisi yang cukup bagus untuk merajai pasar. Hughes kemudian mengakuisisi Northeast Airlines pada tahun 1962, meskipun kembali menjualnya dua tahun kemudian.

Tak berhenti sampai di situ, Hughes kembali mengakuisisi maskapai. Kali ini Air West pada tahun 1970 yang kemudian namanya berubah menjadi Hughes Airwest.

Sebagaimana di TWA, Hughes merevitalisasi armada dari semula pesawat tua menjadi pesawat baru yang seluruhnya bermesin jet. Selain itu, jaringan rutenya juga berkembang secara signifikan dari hub San Francisco, melayani Kanada dan Meksiko, serta tujuan domestik ujung timur seperti Houston dan Milwaukee.

Republic Airlines akhirnya mengakuisisi Hughes Airwest pada tahun 1980. Maskapai ini kemudian bergabung dengan Northwest Airlines, yang kemudian bergabung dengan Delta pada tahun 2008.

Sebelum mengakuisisi TWA, Howard Hughes sudah lebih dahulu mendirikan Hughes Aircraft Company pada 1932. Pabrikan tersebut kemudian merancang dan membangun prototipe kapal angkut udara strategis, Hughes H-4 Hercules.

Baca juga: Hari Ini, 54 Tahun Lalu, TWA Jadi Maskapai Pertama yang Seluruh Armadanya Pesawat Jet

Pesawat, yang ketika itu menjadi kapal terbang terbesar di dunia itu, diproyeksikan sebagai transportasi penerbangan transatlantik untuk digunakan selama Perang Dunia II. Sayang, pembangunannya lamban dan tak selesai sampai perang berakhir.

Kendati Howard Hughes sudah wafat pada 5 April 1976, namun, warisannya di dunia penerbangan masih terlihat dan tercatat apik di Museum Penerbangan & Luar Angkasa Oregon. Selain itu, Hughes juga mewarisi Howard Hughes Corporation dan Howard Hughes Medical Institute serta Delta Airlines yang saat ini eksis sebagai salah satu maskapai terbesar di dunia.

Teknologi LIDAR Kini Deteksi Pergerakan Penumpang di Bandara Frankfurt

Bandara Frankfurt kini dilengkapi dengan teknologi LIDAR (Light Detection and Ranging) atau biasa juga dikenal pemindaian laser 3D. Bila di pelabuhan teknologi ini diimplementasikan sebagai sistem Automatic Vehicle Classification, di bandara, LIDAR hadir untuk memprediksi arus pergerakan serta mengoptimalkan logistik penumpang.

Baca juga: Giliran Robot YAPE yang Uji Kemampuan di Bandara Frankfurt

Dilansir businesswire.com, saat ini, penggunaan teknologi yang disediakan oleh Blickfeld, perusahaan asal Jerman yang fokus di bidang LIDAR sensors and perception software tersebut, sudah berhasil memasuki fase pertama atau pemasangan instalasi di area check-in A Terminal 1.

Usai pemasangan berhasil dilakukan, sensor LIDAR sudah bisa dioperasikan dan arus keluar masuk penumpang sudah bisa dilacak didukung oleh perangkat lunak penghitungan dan pelacakan. Di masa mendatang, teknologi ini diklaim dapat membantu mengoptimalkan logistik dan prediksi peningkatan volume penumpang, terutama di masa libur panjang dan tahun baru.

Secara teknis, sensor LIDAR dipasang di titik-titik masuk dan keluar di area check-in A Terminal 1 sebelum masuk ke pos pemeriksaan keamanan. Sensor kemudian memindai area menjadi visual data dalam bentuk pointcloud 3D yang sangat detail. Nantinya, setiap orang yang berada di area yang dimaksud senantiasa dipantau dan dihitung, namun tetap anonim, serta diawasi pergerakannya.

Keuntungan dari penerapan teknologi LIDAR ini tentu kontrol penuh operator terhadap penumpang di area tersebut.

Kontrol penuh yang dimaksud bukan berarti mengawasi pergerakan penumpang untuk membatasi privasi mereka, layaknya di Negeri Komunis. Lagi pula, sensor ini tidak merekam data pribadi penumpang. Tetapi, lebih dimaksudkan untuk menyiapkan dan memenuhi kebutuhan penumpang, salah satunya seperti menyiapkan staf di check-in counter lebih banyak di jam-jam tertentu berdasarkan analisis pergerakan penumpang.

“Selain perannya yang menonjol dalam industri otomotif, LiDAR adalah teknologi serba guna yang memungkinkan tingkat keandalan tertinggi dalam berbagai aplikasi lain. Data LiDAR menawarkan dimensi baru dalam presisi dan privasi, karena data jarak 3D tidak hanya memungkinkan akurasi tertinggi, tetapi juga anonimitas absolut. Ini jelas merupakan keunggulan dibandingkan teknologi sensor lainnya, seperti kamera,” kata Dr. Florian Petit, pendiri Blickfeld.

Baca juga: PT Mata Pensil Globalindo Raih Hak Cipta Teknologi “Automatic Vehicle Classification”

Sebagai informasi, LIDAR pertama kali digunakan pada 1960an dan digunakan untuk mengukur jarak suatu objek berdasarkan pantulan sinar laser. Ini bekerja dengan menerangi objek atau ruang target dengan sinar laser dan merekam waktu yang dibutuhkan sinar laser untuk kembali ke sensor untuk mengukur jarak dengan akurasi yang tinggi.

Pemindaian laser 3D sudah digunakan di berbagai industri, lewat berbagai aplikasi, mulai dari proyek pengumpulan data seluler hingga terestrial dan udara. Karena pemindaian laser mengukur jarak secara akurat, teknologi ini sangat efektif untuk membuat reka ulang 3D secara digital dari ruang, objek, dan landscape.

Keren, Tahun 2022 Pesawat Airbus Terhubung Internet Berbasis Satelit Berkecepatan 1,8 Gbps!

Industri pesawat tak henti-hentinya berinovasi. Terbaru, Airbus dilaporkan akan mulai menguji ketersediaan internet atau WiFi OnBoard di pesawat-pesawatnya. Tak tanggung-tanggung, kecepatan internet di pesawat Airbus nantinya bisa mencapai 1,8 Gbps. Hal itu dimungkinkan berkat sinyal internet yang dipancarkan satelit ke pesawat dari luar angkasa.

Baca juga: Hasil Riset: Pasca Covid-19 Penumpang Inginkan WiFi Onboard dan Leg Room Lebih Luas

Dilansir Simple Flying, proyek ini dilakukan Airbus dengan menggandeng mitra Belandanya, UltraAir. Perusahaan tersebut nantinya akan memfasilitasi komunikasi antara pesawat dalam penerbangan dan satelit di orbit geostasioner.

Teknologi ini akan mencakup sistem mekatronika optik yang stabil dan presisi, yang diharapkan Airbus akan memberikan tingkat transmisi yang luar biasa tinggi dan belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai informasi, kecepatan WiFi OnBoard saat ini rata-rata hanya dikisaran 3 Mbps, dibandingkan dengan 1,8 Gpbs yang ditargetkan Airbus. Sangat jauh bukan?

Selain itu, WiFi, yang identik tempat paling rawan membobol data pribadi, akan berbeda. WiFi OnBoard yang nantinya disediakan Airbus-UltraAir menjamin keamanan data, selain kapasitas dan jangkauan yang jauh lebih luas untuk memenuhi kebutuhan di masa depan.

Kunci dari proyek yang dinamakan SpaceDataHighway ini tentu terletak pada Badan Antariksa Eropa (ESA). ESA diketahui turut andil dalam memancarkan sinyal internet dari satelit Alphasat miliknya ke pesawat melalui teknologi laser canggih untuk menyampaikan informasi dari satelit orbit rendah Bumi dan platform udara melalui satelit GEO dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Bila tak ada aral melintang, pengujian pertama akan dilakukan di laboratorium akhir tahun ini, dibantu oleh anak perusahaan Airbus, Tesat, yang berpengalaman dalam bidang komunikasi laser.

Setelah itu, pengujian langsung pertama dijadwalkan bakal terlaksana pada awal tahun 2022 mendatang di Tenerife, Spanyol. Selama pengujian ini, konektivitas akan dibuat antara terminal demonstran UltraAir dan satelit geostasioner.

Bila berhasil, pengujian secara massif akan dilakukan pada pertengahan 2022. Setelahnya, seluruh penumpang pesawat Airbus dapat menikmati layanan internet atau WiFi OnBoard dengan kecepatan super tinggi, mencapai 1,8 Gpbs, baik ketika di atas daratan maupun lautan, dua sampai empat tahun mendatang.

Sebagai informasi, terdapat dua metode yang digunakan oleh maskapai penerbangan untuk mendapatkan sinyal WiFi untuk dipancarkan kembali di dalam kabin dalam konsep Wi-Fi OnBoard.

Metode pertama adalah Air to Ground (ATG). Metode ATG ini menggunakan dua antena yang dipasang di perut pesawat untuk menangkap sinyal dari menara seluler di daratan dan yang kedua adalah antena pemancar dari provider seluler di bumi. Ketika pesawat sudah berada dalam ketinggian tertentu dalam hal ini 10.000 kaki maka pesawat antenna di pesawat siap untuk menarik sinyal WiFi dari menara seluler yang ada di daratan.

Saat ini metoder ATG ini bisa mengeluarkan WiFi dengan kecepatan 3 Mbps saja. Kekurangan dari metoder ATG ini adalah ketika pesawat melewati lautan atau pegunungan yang tidak terjangkau oleh antenna pemancar provider maka koneksi internet akan ikut mati atau tersendat.

Baca juga: Transport for London Lacak Pergerakan Penumpang via Jaringan WiFi

Metode yang kedua adalah dengan menggunakan Satelit. Metode yang kedua ini memang memiliki koneksi yang lebih stabil dan kuat karena sinyal WiFi yang diterima oleh pesawat di dapatkan dari satelit di luar angkasa. Sehingga tidak ada batasan saat melewati lautan atau pegunungan karena satelit berada di atas pesawat.

Namun untuk bisa menerima sinyal dari satelit, pesawat harus memiliki tiga jenis antenna untuk menyerap sinyal WiFi yatiu Ku-Band, Ka-Band, dan Ku/ka Band. Setiap antenna memiliki kecepatan yang bervariasi dalam menyerap koneksi internet dari satelit.