Turkish Airlines Akhirnya Punya Cabin Training Simulator Buatan Dalam Negeri

Turkish Airlines dipastikan bakal menggunakan cabin training simulator atau simulator pelatihan kabin buatan dalam negeri. Itu terjadi setelah Turkish Cabin Interior (TCI), anak perusahaan dari MRO Turkish Technic dan Turkish Aerospace Industries, yang berfokus pada pembuatan aircraft galleys atau sejenis mockup pesawat, sukses membangun Cabin Service Training Simulator project untuk Turkish Airlines Flight Training Center.

Baca juga: Gokil, Spesial Hari Anak, Turkish Airlines Jalankan Penerbangan yang Seluruh Krunya Anak-anak!

TCI diketahui mulai mengerjakan proyek simulator pelatihan kabin Turkish Airlines pada tahun 2018 lalu. Ketika itu, perusahaan yang berbasis di Istanbul, Turki, ini merancang dan memproduksi empat model atau mockup pesawat; Airbus A320, A330, Boeing 737, dan 777, untuk mendukung proses pelatihan pramugari di Flight Training Center maskapai.

Selain untuk mendukung pelatihan awak kabin Turkish Airlines, ini juga bisa digunakan untuk pelatihan pra-penerbangan maskapai lain.

Dilansir Runway Girl Network, Gokhan Mertay, senior business development specialist TCI, mengatakan bahwa seluruh fitur-fitur pada cabin training simulator ini diproduksi oleh perusahaan atau buatan dalam negeri.

Agar membuatnya jadi sangat mirip dengan aslinya, TCI memastikan telah berinovasi meningkatkan berbagai fitur tertentu, seperti handset IFE, auditory and visual warnings, cabin noise, announcements and IFE simulations.

Sejak didirikan pada 2010 lalu, TCI baru berhasil masuk katalog Boeing pada akhir tahun 2015. Keberhasilan itu membuat perusahaan kebanjiran job, mencakup 79 pesawat Boeing 737 MAX di Jet Airways dan 155 pesawat MAX di SpiceJet.

Setelahnya, TCI terus memenangkan tender simulator pelatihan kabin seperti pembuatan simulator pesawat Boeing 737 MAX untuk Azerbaijan Airlines dan SunExpress, serta berhasil menembus pasar Cina untuk pertama kalinya juga dalam pembuatan Boeing 737 MAX.

Dalam beberapa tahun terakhir, TCI mulai memproduksi mockup front row pesawat berbadan lebar Turkish Airlines, seperti Boeing 787 dan Airbus A350, serta menyelesaikan prototipe toilet “pureLav” yang katanya menawarkan desain unik dan berbagai fitur inovatif.

Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Ke depan, TCI menargetkan bakal memperluas jangkauan produknya, seperti pembuatan mockup atau simulator toilet, kontainer kargo dan palet, troli, overhead bins, sidewall panels, dan membuat berbagai barang ekspor dalam penerbangan bersama subkontraktor lokalnya.

Outputnya, TCI ingin menjadi perusahaan atau produsen utama di industri interior pesawat. Tentu saja itu tidak mudah, mengingat produsen interior pesawat di Eropa dan Amerika Serikat tidak akan rela pangsa pasarnya direbut begitu saja.

Awak Kabin Bagikan Lima Hal yang Tak Disarankan dalam Penerbangan, Termasuk Jangan Gunakan Celana Pendek

Belum lama ini seorang TikToker diteriaki awak kabin karena pakaian yang digunakannya. Nah, seorang awak kabin, Tommy Cimato juga baru-baru ini membagikan lima hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang penumpang pesawat.

Baca juga: Gara-gara Pakaian, TikToker Diteriaki Awak Kabin Sebelum Masuk Pesawat

Sebab bukan rahasia lagi meski ada peningkatan sanitasi pandemi dan pembersihan, pesawat terkendal bukan ruang terbersih saat penumpang berada di dalamnya. Apalagi di dalam pesawat banyak penumpang lainnya dan akan bepergian dalam jangka waktu yang lama bisa meningkatkan risiko tertular kuman.

KabarPenumpang.com melansir entrepreneur.com (3/8/2021), memiliki lebih dari 108 ribu pengikuti di TikTok, Tommy membagikan salah satu dari lima hal yang paing tidak disarankan dilakukan dalam penerbangan yakni mengenakan celana pendek. Dalam video yang sudah dilihat lebih dari 3,3 juta kali, membahas daftar lima perilaku yang harus dipraktikkan di pesawat, termasuk minum 16 ons air per penerbangan, tidak menyentuh tombol flush di kamar mandi dengan tangan kosong dan tidak tidur di jendela.

Semua ini tampaknya relatif masuk akal ketika memikirkan risiko kuman, tetapi Cimato menjelaskan bahwa mengenakan celana pendek dan membiarkan kaki Anda terkena kursi sama berisikonya.

“Jangan atau cobalah untuk tidak memakai celana pendek saat berada di pesawat. Sama halnya dengan jendela, Anda tidak pernah tahu seberapa bersih nantinya. Jadi jika gunakan celana lain selain celana pendek untuk menghindari lebih sedikit kuman,” katanya dalam video.

Postingan tersebut telah mengumpulkan lebih dari 462 ribu komentar dengan banyak yang mempertanyakan apakah tips Tommy berarti bahwa pesawat tidak selalu dibersihkan dengan benar.

“Jadi kalian tidak membersihkannya setelah setiap penerbangan,” pengguna Criss Carrillo bertanya.

“Jadi pada dasarnya Anda mengatakan bahwa Anda tidak membersihkan/mensanitasi pesawat setelah setiap penerbangan,” tulis pengguna lain.

Tommy memang menanggapi satu pengguna yang memposting pertanyaan “Apakah mereka tidak membersihkan setiap penerbangan?”

“Crew darat melakukan semua pembersihan pesawat, mereka mencoba yang terbaik untuk menjaganya tetap bersih. Tapi ini untuk berjaga-jaga jika terlewatkan!,” tulis Tommy.

Baca juga: Gandeng TikTok, Penumpang American Airlines Kini Bisa TikTok-an Saat Pesawat di Udara

Sebuah laporan oleh badan transportasi udara Perserikatan Bangsa-Bangsa (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) menunjukkan bahwa industri penerbangan secara keseluruhan kehilangan sekitar $370 miliar pada tahun 2020 berkat pandemi, dengan jumlah penumpang anjlok hampir 60 persen dari tahun sebelumnya. Dalam videonya, Tommy tidak mengungkapkan di maskapai apa dia bekerja.

Intelsat dan Airbus Sukses Kirim Pesawat dengan In-Flight Antenna ke Cathay Pacific

Intelsat dan Airbus belum lama ini menuntaskan pengiriman pesawat A321neo ke Cathay Pacific. Tak seperti pesawat kebanyakan, pesawat tersebut diketahui sudah terinstall antena Intelsat 2Ku di pabrik Hamburg, Jerman, sebagai bagian dari Layanan Konektivitas Bandwidth Tinggi (HBCS).

Baca juga: Keren, Tahun 2022 Pesawat Airbus Terhubung Internet Berbasis Satelit Berkecepatan 1,8 Gbps!

Antena Intelsat 2Ku memungkinkan maskapai untuk mengakses jaringan satelit Intelsat global. Dengan begitu, para penumpang maskapai dijamin bakal mendapat pengalaman baru mengakses inflight entertainment and connectivity (IFEC) atau internet berkecepatan tinggi.

Mengingat maskapai memilih opsi pemasangan sistem Intelsat 2Ku di pabrik Airbus, itu berarti sistem tersebut bisa langsung dinikmati penumpang sejak pertama kali pesawat dioperasikan.

“Kami merasa terhormat dapat bekerja sama dengan Airbus dan Cathay Pacific untuk membuat penawaran katalog yang substansial ini,” kata Dave Bijur, Commercial Aviation business division Intelsat, dikutip dari satelliteprome.com.

“Menjadi bagian dari perusahaan satelit terbesar di dunia menciptakan peluang besar untuk memperluas layanan yang kami tawarkan dan armada yang kami layani. Kami telah bekerja sama dengan Airbus untuk mengirimkan pesawat linefit, dan dengan senang hati sekarang mewujudkannya,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager Customer Experience and Design Cathay Pacific, Vivian Lo, mengaku menghadirkan internet berkecepatan tinggi di dalam penerbangan penting. Selain dibutuhkan pelanggan, ini juga menjadi semakin melecut semangat maskapai untuk terus berinovasi pada layanan.

“Kami senang dapat memperluas kemitraan kami dengan Intelsat ke armada A321neo, menambah armada jarak jauh yang terhubung sepenuhnya dan pesawat berbadan lebar regional yang sudah terbang dengan WiFi,” jelasnya.

“Menghubungkan pesawat jarak pendek baru ini sangat penting di dunia modern untuk perjalanan bisnis dan liburan,” ujarnya.

“Sebagai operator layanan premium, Cathay Pacific bertekad untuk berinovasi dan meningkatkan pengalaman terbang jarak pendek dengan menawarkan konektivitas, hiburan dalam pesawat 4K sandaran tempat duduk, dan pemasangan headphone Bluetooth pada armada A321neo kami yang baru,” tutupnya.

Baca juga: Airbus A320 Qingdao Airlines Dilengkapi Sistem Internet Satelit Berkecepatan Tinggi 100 Mbps

Intelsat saat ini memanfaatkan hak orbital dan spektrum globalnya, skala dan kemitraan untuk membangun ” network of networks” berbasis satelit 5G global pertama di dunia.

Intelsat tentu tidak sendirian bermain di pasar penyedia layanan internet dalam penerbangan di pesawat. Sebelumnya, Airbus A320 Qingdao Airlines diketahui berhasil terbang pertama usai dilengkapi sistem internet satelit berkecepatan tinggi buatan perusahaan dalam negeri, XstreamSAT.

“7500” Bukan Nomor Penerbangan, Tapi Kode Pesawat Telah Dibajak

7500? Ya ini adalah judul sebuah film tentang pembajakan sebuah pesawat. Mungkin banyak yang berpikir kenapa judulnya adalah angka 7500. Ini adalah sebuah kode penerbangan yang mengacu pada pembajakan sebuah pesawat. Dalam film ini, memperlihatkan sebuah kelompok teroris yang mengambil alih pesawat.

Baca juga: Hari Ini, 107 Tahun Lalu, Film Dokumenter Pertama yang Diambil dari Udara Terjadi Demi Raja Inggris

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, film karya Patrick Vollrath yang pertama kali dirilis pada tahun 2019 di Festival Film Locarno dimulai dengan tenang. Tobias Ellis (Joseph Gordon-Levitt), seorang kopilot muda dan Kapten Michael Lutzmann (Carlo Kitzlinger) sedang bersiap menerbangkan pesawat yang akan lepas landas dari Berlin menuju Paris.

7500 adalah kode pesawat telah dibajak

Film ini merupakan sebuah film hasil produksi beberapa negara, yaitu Jerman, Austria, dan Amerika Serikat. Sebelum take-off, Michael dan Tobias melakukan pengecekan standar pesawat terlebih dahulu. Suasana santai sangat terasa dalam kokpit saat Michael dan Tobias menceritakan kehidupan mereka satu sama lain sambil mempersiapkan penerbangan. Tobias ternyata berpacaran dengan seorang pramugari bernama Gokce (Aylin Tezel) dan telah memiliki seorang anak yang baru berumur dua tahun.

Kemudian setelah semuanya siap, kapten dan kopilot memutuskan untuk take off. Adegan dalam kokpit pun terasa sangat nyata, di mana setiap yang menonton diajak seperti duduk di dalamnya. Tak ada lagi hanya ada kesunyian dan suara deru mesin pesawat. Kedua pilot dengan tenang memulai penerbangan mereka menuju ke Paris dari Bandara Berlin.

Film berdurasi 90 menit ini menghadirkan ketegangan yang cukup cepat. Saat pramugari meminta izin masuk ke kokpit untuk menanyakan pesanan makanan, para pembajak lantas memaksa masuk ke dalam. Untungnya Tobias cekatan dan membuat para teroris itu gagal masuk ke kokpit tetapi dia dan Michael terluka atas serangan tersebut.

Atmosfer film berubah menjadi sangat menegangkan dan sang kapten Michael terduduk lemas di samping Tobias dengan banyak luka tusuk di tubuhnya. Tobias mencoba tetap tenang sambil meneruskan tugasnya dengan lengan kiri yang terluka parah. Melalui monitornya, ia dapat melihat para teroris mencoba untuk merusak pintu kokpit yang sudah terkunci.

Meski begitu sambil menenangkan diri, Tobias menghubungi pemandu lalu lintas udara dan memberikan kode 7-5-0-0. Dalam film ini, latar yang hadir hanya satu yakni kokpit pesawat. Sehingga penonton diajak untuk merasakan ketegangan yang dirasakan Tobias saat menerbangkan pesawat sendirian dan juga dalam tekanan teror pembajak.

Dia pun hanya berkomunikasi dengan pemandu lalu lintas udara yang akan membantunya mendarat di bandara terdekat. Film ini lebih memberikan Joseph Gordon-Levitt untuk mendominasi perannya pada setiap adegan. Sehingga terlihat seperti film dengan pemain tunggal.

Ketika menonton film ini, Anda akan merasakan ketegangan dan menerka apa yang terjadi di luar kokpit karena kamera hanya memperlihatkan pintu dekat kokpit tidak pada bagian lain pesawat. Dalam keadaan panik, Tobias tetap tenang dan tidak gegabah.

Namun sayangnya pada pertengahan durasi, cerita film terasa menurun dan kembali menggunakan klise-klise film “pembajakan teroris” yang sudah sering digunakan. Apalagi saat Patrick Vollrath memilih untuk mengakhiri menit-menit terakhir film ini dengan plot cerita yang terlalu klise, yaitu ketika seorang teroris bernama Vedat (Omid Memar) perlahan-lahan berubah menjadi seorang protagonis.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Open ending adalah cara yang dipilih oleh Vollrath untuk mengeksekusi akhir dari film ini. Penonton diberi kesempatan untuk memilih sendiri akhir cerita bagi Tobias dan Vedat. Terlepas dari akhir cerita yang klise, 7500 merupakan film yang sangat layak dinikmati jika ingin menyaksikan sebuah film action-thriller dengan durasi yang tidak terlalu panjang.

Ini Kata Pramugari Tentang Seragam yang Mereka Kenakan

Meski sudah berkembang jauh, tetapi para pramugari masih menganggap seragam mereka tidak praktis. Ini karena pramugari melakukan banyak hal dalam pekerjaan mereka di dalam pesawat. Meski begitu seragam yang dikenakan harus tetap terlihat bagus dan nyaman ketka digunakan saat bekerja.

Baca juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Seragam pramugari harus tahan api, yang membatasi pilihan bahan—tetapi anggota kru yang kami ajak bicara sepakat bahwa hampir semua bahan kaku, tidak nyaman, dan memerangkap panas. Tidak persis seperti yang Anda inginkan saat berdiri dan mengangkat, membungkuk, atau meraih—terkadang dalam turbulensi bergelombang.

“Ini membatasi gerakan. Saya hanya perlu melihat bagaimana saya membungkuk atau jongkok dalam gaun dan rok,” kata seorang pramugari yang bekerja untuk sebuah maskapai penerbangan besar AS yang dikutip dari cntraveler.com (4/8/2021).

Bahkan pramugari lain mengatakan dirinya merobek tiga seragam saat melakukan tugas dasar dalam penerbangan. Selain itu banyak pramugari mengatakan bahwa masalah utama dengan seragam salah satunya adalah tidak sesuai dengan berbagai bentuk tubuh dan ukuran.

“Kami memiliki pramugari berusia 18 hingga 70 tahun dan beragam tipe tubuh. Kami membutuhkan lebih dari setelan jas tiga potong dengan kemeja putih atau rok atau pilihan gaun untuk dikenakan,” kata seorang pramugari yang berbasis di Toronto.

Selama karirnya dia pernah menggunakan beberapa seragam berbeda yakni setelan double breasted dengan syal pita, rok pensil dengan rompi permadani, setelan tiga potong lainnya dengan blazer dan ikat pinggang yang mana semuanya tidak nyaman untuk bekerja. Saat ini, semua orang di maskapainya tanpa memandang usia, bentuk, ukuran, jenis kelamin—harus mengenakan setelan jas tiga potong yang sama.

Pria mendapatkan dasi, dan wanita sekarang memiliki pilihan untuk mengenakan syal atau gaun. Bergerak ke arah ini tentu diperlukan, mengingat kembali ketika pramugari wanita dari semua ras diatur ke bra dan pakaian dalam mereka, yang semuanya harus berwarna yang sama.

“Tahukah Anda, haruskah kita melakukan evakuasi darurat, salah satu hal pertama yang harus kita lakukan adalah melepas nilon dan sepatu hak kita? Mengapa tidak menyingkirkan itu sepenuhnya? ” kata seorang pramugari penduduk asli Amerika yang bekerja untuk maskapai penerbangan berbiaya murah.

Pramugari itu juga bergumul dengan kenyataan bahwa maskapainya melarang tato yang terlihat. Selain itu, dia mengatakan bahwa meskipun sebagian besar operator ramah LGBTQ+, aturan berpakaiannya masih sangat konservatif. Sementara celana dan celana pendek menjadi lebih tersedia untuk awak kabin wanita di seluruh industri, jika Anda laki-laki atau dianggap sebagai laki-laki, gaya yang lebih feminin benar-benar tidak disukai.

Baca juga: Ulang Tahun Ke-50, Korean Air Hadirkan Seragam Vintage Awak Kabin dari Masa ke Masa

Sebagian besar pramugari setuju bahwa maskapai telah membuat langkah ke arah yang lebih baik dan tidak dapat disangkal bahwa wanita sekarang memiliki pilihan untuk mengenakan celana dan kemeja, bukan hanya gaun atau rok.






















Hari ini, 76 Tahun Lalu, Pesawat Pengebom Hiroshima-Nagasaki “Enola Gay” Beraksi

Hari ini, tepat 76 tahun lalu, pesawat pengebom Amerika Serikat di Perang Dunia II, Boeing B-29 Superfortress “Enola Gay” dan “Bock’s Car” menjatuhkan bom atom pertama di dunia. Akibatnya, sekitar ratusan ribu jiwa dari kalangan sipil dan militer tewas mengenaskan.

Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Peristiwa bermula pada pagi hari, Enola Gay yang dimudikan oleh Kolonel Paul W. Tibbets lepas landas dari Pulau Tinian di Samudra Pasifik. Pesawat pengebom khusus versi Silverplate itu memuat muatan bom atom pertama dan paling mematikan di dunia.

Bom atom dengan nama sandi “Little Boy” itu pun dijatuhkan tepat pukul 8.15 pagi dan melenyapkan Kota Hiroshima dalam sekejap, bersamaan dengan munculnya awan jamur yang terbentuk efek dari ledakan.

Menurut Departemen Energi AS, diperkirakan, 200 ribu jiwa melayang bila ditotal dengan korban tewas dan luka-luka yang baru meninggal beberapa tahun kemudian akibat luka bakar, keracunan radiasi, dan kanker.

Seolah tak cukup, pesawat pengebom Amerika Serikat kembali beraksi. Kali ini targetnya adalah Kota Nagasaki, yang berada di sebelah Selatan Jepang atau berjarak sekitar 420 km dari Kota Hiroshima.

Tepat pada tanggal 9 Agustus 1945, pesawat pengebom B-29 Bock’s Car sukses melepas bom atom atau bom nuklir kedua di Perang Dunia II dengan nama sandi “Fat Man” itu. Seketika, lebih dari 80 ribu nyawa melayang. Lima hari kemudian, Jepang menyerah dan Perang Dunia II berakhir.

Dikutip dari cincinnati.com, menjatuhkan bom atom merupakan momen penting dalam sejarah manusia. Betapa tidak, bom nuklir yang dibuat, bukan hanya mampu mengubah dinamika peperangan, melainkan juga membuka jalan pada zaman atom atau nuklir, dimana manusia mampu melenyapkan dirinya sendiri.

Selama beberapa tahun, momen menjatuhkan bom atom telah menjadi perdebatan keras di kalangan ahli. Beberapa berpendapat bahwa bom atom yang dijatuhkan justru menyelamatkan Jepang dari invasi militer yang dinilai bakal jauh lebih sadis dan merugikan, dengan jumlah korban jauh lebih besar.

Dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh pesawat pengebom Amerika Serikat, Boeing B-29 Superfortress “Enola Gay” dan “Bock’s Car”, perang dapat segera berakhir dan mempercepat penderitaan. Sama halnya dengan mengeksekusi tahanan dengan peluru tajam ketimbang menggunakan pedang tumpul.

Namun, pendapat itu tentu saja ditentang oleh kubu lain yang menyebut tindakan itu sebagai hal yang tak berperikemanusiaan.

Terlepas dari perdebatan itu, sang pilot, Kolonel Paul W. Tibbets, mengaku bangga atas perbuatannya. Ia malah merasa lebih senang dan bisa tidur nyenyak kapanpun setelah kejadian itu.

“Saya dapat meyakinkan Anda, saya tidak pernah kehilangan waktu untuk tidur karena keputusan saya (sebagai pilot pengebom Kota Hiroshima) tersebut,” kata Tibbets dalam wawancara pada tahun 1989 yang merupakan bagian dari proyek Atomic Heritage Foundation.

Ia melanjutkan, pertama kali bom dijatuhkan dan seketika ia tersadar bahwa korban bukan hanya datang dari kalangan militer, melainkan sipil, pilot yang bergabung di Korps Udara Angkatan Darat AS pada tahun 1937 itu mengaku tak ada urusan dengannya (para korban).

Justru sebaliknya, bilapun perbuatan itu dinilai tak manusiawi, ia menyebut para petinggi yang memerintahkannya-lah yang patut dipertanyakan. Sebab, yang ia tahu hanyalah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sekuat tenaga, bukan mempermasalahkan dampak dari tugas yang ia jalankan.

Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Kini, Kolonel Paul W. Tibbets, telah meninggal pada tahun 2007 lalu, bersama dengan idealismenya. Sedangkan Enola Gay B-29 Superfortress dengan nomor seri B-2945-MO 44-86292 yang secara khusus dipilih oleh Kolonel Paul Tibbets saat dibuat di ladang milik Glenn L. Martin Company di Omaha, Nebraska, sejak tahun 2003 sampai sekarang, dipamerkan di Museum Steven F. Udvar-Hazy Center.

Agar lebih dikenang, pesawat dengan empat mesin 18-silinder bertenaga 8.800 tenaga kuda yang mampu membawa muatan bom seberat 20.000 pon dan bahan bakar untuk terbang lebih dari 3.500 mil ini dibuatkan lagu oleh Grup musik asal Britania Raya Orchestral Manoeuvres in the Dark berjudul sesuai nama pesawat, Enola Gay.






















Bandara Manchester Buka Kelas Pelajaran Pilot Bagi Anak-anak Selama Musim Panas

Di dunia, banyak anak-anak yang memiliki cita-cita sebagai seorang pilot. Ini pun tak menutup kemungkinan dengan gender mereka, karena sebuah pesawat terbang bisa dikemudikan oleh seorang pilot wanita atau pria.

Baca juga: Gokil, Spesial Hari Anak, Turkish Airlines Jalankan Penerbangan yang Seluruh Krunya Anak-anak!

Nah, bagi anak-anak yang berkeinginan menjadi pilot, Akademi Penerbangan Bandara Manchester di musim panas ini membuka kesempatan untuk mereka menjadi pilot. Di mana nantinya anak-anak bisa naik pesawat yang sebenarnya dan belajar tentang peran yang berbeda di dalam pesawat di Runway Visitor Park bandara selama libur sekolah.

Dilansir KabarPenumpang.com dari manchestereveningnews.co.uk (2/8/2021), dalam pelajaran tersebut akan ada dua sesi terpisah yang akan berlangsung bersamaan. Dua kelas ini akan dibagi sesuai umur yakni empat hingga tujuh tahun dan delapan hingga 12 tahun, dengan tanggal yang tersedia selama istirahat panjang.

Semua pelajaran akan berlangsung di atas pesawat pensiunan Runway Visitor Park milik Monarch DC10 dan anak-anak dapat merasakan bagaimana rasanya duduk di kokpit serta mengendalikan pesawat komersial. Setiap sesi akan berlangsung selama 90 menit dengan tiket untuk satu orang dewasa dan satu anak berharga £10 atau sekitar Rp199 ribu, dengan parkir tersedia untuk sehari penuh seharga £5 atau sekitar Rp99 ribu.

Setelah pelajaran usai, orang tua dan anak-anak bisa pergi ke luar untuk melihat landasan pacu Bandara Manchester. Nantinya di sini, bisa menyaksikan pesawat lepas landas dan mendarat serta melihat beberapa dari berbagai pekerjaan yang telah dipelajari.

“Kami sangat senang dapat membawa kembali program Akademi Penerbangan secara penuh musim panas ini setelah kami terpaksa membuat beberapa perubahan tahun lalu karena pandemi Covid-19. Program ini adalah salah satu program kami yang paling populer dan telah menginspirasi ratusan anak-anak dan remaja untuk mempertimbangkan karir di bidang penerbangan. Ini adalah hari yang menyenangkan bagi seluruh keluarga dan juga bernilai tinggi dengan tiket dewasa dan anak-anak hanya dengan £10,“ kata Robert Hassard, Manajer Taman Pengunjung Runway.

Dia mengatakan, RVP sekarang terbuka penuh dan musim panas adalah waktu yang tepat untuk dikunjungi karena perjalanan internasional terus meningkat dan lebih banyak lagi maskapai yang melanjutkan operasi mereka setiap minggunya.

“Kami tidak sabar untuk menyambut pengunjung dari segala usia kembali ke RVP musim panas ini dan berbagi pengalaman bandara dengan mereka sekali lagi,” tambah Robert.

Baca juga: Enam Tips Aman Bawa Anak Naik Pesawat, Nomor Empat Sering Dilupakan Orang Tua

Ada kafe dan area bermain di taman pengunjung, di mana pasar malam juga diadakan selama liburan. Tur grup di objek wisata Concorde yang ikonik juga telah dilanjutkan, dengan pengunjung memiliki kesempatan untuk melihat pesawat dari dekat, di dalam, dan di luar, berjalan di bawah sayap, menjelajahi kabin, dan bahkan mampir di dek penerbangan.

Untuk diketahui, program yang sudah berjalan selama beberapa tahun tersebut adalah favorit bagi para keluarga muda.

Stasiun Kuno Yusubaru Punya Bangunan Terbuat dari Kayu dengan Usia Lebih dari 100 Tahun

Bukan hanya kota besar yang dilintasi kereta api, tetapi pedesaan di Jepang pun tak asing dengan jalur lintasan si kuda besi. Beberapa di antaranya bahkan memiliki keunikan dan cerita tersendiri. Meski tidak seramai di perkotaan, tetapi jalur kereta di pedesaan menghadirkan ketenangan serta suasana yang lebih kuno.

Baca juga: Merasakan Nostalgia Satu Abad Lalu di Stasiun Mojiko Jepang

KabarPenumpang.com melansir laman soranews24.com (5/8/2021), Stasiun Yusubaru Kyushu yang terletak di prefektur Fukuoka merupakan salah satu stasiun di pedesaan yang memiliki suasan kuno dan menawan. Stasiun ini juga merupakan stasiun dengan bangunan kayu tertua di Kyushu dan dibuka pada Agustus 1895.

Bahkan dalam foto, tidak terlihat adanya mesin penjual otomatis di Stasiun Yusubaru tersebut. Di atas pintu masuk stasiun terdapat papan kecil dari kayu dengan nama stasiun secara lengkap ‘Stasiun Kereta Api Heisei Chikuho Yusubaru’. Di atas bangku di sebelah kiri ada tanda kayu lain, dengan tanda yang menunjuk ke ruang bagasi di sebelah kanan, dan ke area parkir sepeda di sebelah kiri.

Tanda tersebut menggunakan karakter kanji kuno untuk jitensha (sepeda), berlawanan dengan cara penulisan modern. Perbedaan kecil, tetapi bukti lebih lanjut tentang berapa umur stasiun ini. Area tunggu di stasiun juga menampilkan karakter kanji kuno untuk ‘papan pesan’ dan digunakan sebagai pengganti , yang saat ini digunakan. Kanji kuno dimaksudkan untuk dibaca dari kanan ke kiri.

Pada tahun 1895, papan ini digunakan oleh penduduk setempat untuk bertukar pesan. Bahkan, papan pesan Stasiun Yusubaru sekarang menampilkan poster dan informasi tentang sejarah stasiun. Dalam stasiun ada jadwal kereta yang tertera dan mungkin bagi orang perkotaan di Tokyo atau kota besar di Jepang lainnya pasti bingung karna tidak tahu artinya.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, jadwal tampaknya untuk stasiun lain sepenuhnya. Jadwal sebenarnya ada di poster merah-biru di sebelah kiri pintu masuk. Mungkin, tapi alasan yang lebih mungkin adalah bahwa stasiun itu sebenarnya digunakan sebagai lokasi syuting untuk drama Tokyo Tower: Mom and Me, and Sometimes Dad.

Stasiun Yusubaru terutama digunakan di masa lalu untuk membantu mengangkut batu bara. Karena stasiun setelah Yusubaru semuanya menurun, kereta bank dilepas di sini sebelum kereta lainnya melanjutkan perjalanannya.

Pemandangan yang dihadirkan saat naik kereta dari stasiun ini pun indah dan hanya ada pada kereta api pedesaan. Meski sudah berusia lebih dari 100 tahun, Stasiun Yusubaru masih terpelihara dengan sangat baik.

Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar

Stasiun ini juga tidak memiliki staf khusus, shingga ucapan terima kasih harus diberikan kepada penduduk setempat dan sukarelawan kereta api yang datang untuk membersihkannya sehingga kondisinya seperti sekarang ini. Jika Anda berada di daerah Fukuoka dan ingin menikmati sedikit sejarah Jepang yang menyenangkan, pastikan untuk mengunjunginya!






















Bermasalah, Qatar Airways Kandangkan 13 Unit Airbus A350, Al Baker Murka!

Qatar Airways terpaksa meng-grounded seluruh armada Airbus A350 miliknya. Keputusan itu datang setelah ditemukan masalah pada badan pesawat di bawah permukaan cat, saat salah satu armada menjalani proses pengecatan livery World Cup 2022 (Piala Dunia 2022) di Irlandia, awal tahun ini.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

“Dengan perkembangan terakhir ini, kami sangat berharap bahwa Airbus menangani masalah ini dengan penuh perhatian,” kata Akbar Al Baker, CEO Qatar Airways dalam keterangan resminya kepada KabarPenumpang.com.

“Qatar Airways tidak akan menerima apa pun selain pesawat yang terus beroperasi. menawarkan kepada pelanggannya standar keselamatan setinggi mungkin dan pengalaman perjalanan terbaik yang layak mereka dapatkan,” tambahnya.

“Qatar Airways mengharapkan Airbus telah menetapkan akar permasalahan dan secara permanen memperbaiki kondisi yang mendasarinya demi kepuasan Qatar Airways dan regulator kami sebelum kami melakukan pengiriman lebih lanjut Pesawat A350,” lanjutnya.

Secara terpisah, Al Baker nampaknya cukup geram dengan masalah ini. Sebetulnya bukan karena masalah yang terjadi pada pesawat, sebab itu biasa. Tetapi lebih kepada sikap Airbus dalam merespon insiden ini.

Dikutip dari Simple Flying, Airbus disebut menganggap masalah pada Airbus A350 Qatar Airways sebagai persoalan biasa dan tak perlu dikhawatirkan. Selain itu, Airbus terkesan lamban dan malas-malasan dalam menangani masalah ini. Dua hal itu yang pada akhirnya membuat Al Baker murka.

“Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan detailnya. (Airbus) mengabaikan fakta bahwa ada masalah serius dengan yang kami hadapi dengan (A350). Mereka hanya mencoba bermalas-malasan dan menyeret kaki mereka alih-alih bekerja nyata dan memecahkan masalah yang dimiliki pesawat mereka,” jelasnya.

Sebagai grup maskapai yang juga menjadi pemegang saham mayoritas di beberapa maskapai lain, seperti nternational Airlines Group dan LATAM, Qatar Airways diduga akan mempengaruhi maskapai lain yang juga satu grup dengannya agar menggrounded pesawat serupa. Tetapi, itu dibantah langsung oleh Al Baker.

“Saya tidak ingin mempengaruhi maskapai mana pun, kami hanya pemegang saham strategis. Ketika mereka tahu bahwa Qatar Airways memiliki masalah, tentu saja hal itu juga membuat mereka heran. Mereka ingin tahu apa masalahnya karena mereka juga menerbangkan pesawat yang sama,” ujarnya.

“Masalah itu tidak hanya unik untuk kami. Saya yakin masalah yang kita miliki saat ini akan tercermin dalam pesawat yang mereka terbangkan karena mereka adalah operator 350,” tutupnya.

Baca juga: (Video) Pilot Ungkap Ruang Tersembunyi di Bawah Kokpit Airbus A350!

Menanggapi masalah ini, Airbus mengaku sudah berkomunikasi dengan Qatar Airways. Hanya saja, produsen pesawat asal Eropa itu tak ingin mengungkapnya lebih jauh.

“Sebagai produsen pesawat terkemuka kami selalu melakukan pembicaraan/bekerja sama dengan pelanggan kami. Pembicaraan itu kami rahasiakan. Kami tidak memiliki komentar lebih lanjut tentang operasi pelanggan kami,” singkatnya.

Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Singapura dikenal ketat dalam melakukan berbagai pencegahan dan penularan Covid-19. Saking ketatnya, negara tersebut bahkan sampai tidak menghitung warga yang sudah divaksin Sinovac (yang notabene keampuhannya masih dipertanyakan) ke dalam data capaian vaksinasi nasional.

Baca juga: Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Tak cukup sampai di situ, otoritas Singapura juga ketat melakukan screening terhadap warga negara asing yang hendak masuk; terlebih yang berasal dari Indonesia. Sesampainya di sana dan menjalani karantina mandiri selama 14 hari, otoritas tidak kendur dan selalu mengawasi tamu asing dengan ketat.

Ketatnya Singapura terhadap pelancong dirasakan sendiri oleh salah satu kontributor KabarPenumpang.com. Saat ini, ia masih menjalani masa karantina mandiri 14 hari di fasilitas khusus yang telah disediakan.

Melengkapi artikel sebelumnya tentang pengalaman bepergian ke Singapura saat PPKM Level 4 di Indonesia dan pembatasan sosial level 2 (darurat) di sana, mulai dari keberangkatan sampai tiba di bandara dan menjalani karantina mandiri, selama menjalani itu, tamu asing yang akan masuk ke Singapura tidak dilepas begitu saja. Hal ini tentu berbeda dengan yang terjadi di Indonesia.

Sedikit informasi, beberapa waktu lalu, warganet ramai mengeluh tentang penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, dalam hal ini terkait layanan kepada warga yang isolasi mandiri. Selama isoman, banyak warga yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah melalui Puskesmas atau RS terdekat. Jauh dibandingkan dengan di Singapura.

Seleberan yang dari Kementerian Kesehatan Singapura untuk wisatawan yang jalani karantina mandiri. Foto: Istimewa

Di Singapura, pengalaman kami baru-baru ini selama menjalani masa karantina mandiri (SHN), terus diawasi secara ketat. Di sini, pelancong dibekali dengan box swab masing-masing berisi dua atau total empat alat tes. Sebetulnya hanya butuh tiga, namun dilebihkan satu untuk jaga-jaga. Alat self test swab tersebut wajib digunakan pada hari ke-3, 7, dan 11.

Tata cara penggunaannya pun bisa dilihat di booklet yang ada di box swabnya. Pengguna juga bisa melihat video melalui scan barcode dari selebaran yang diberikan Kementerian Kesehatan Singapura (MoH).

Tak begitu saja percaya dengan guideline booklet dan video tutorial cara melakukan tes swab antigen mandiri, petugas dari MoH beberapa kali akan melakukan panggilan video untuk melihat kondisi wisatawan serta cara menggunakan alat tes swab secara langsung. Petugas hotel atau tempat pelancong menjalani karantina mandiri juga menelepon setiap hari untuk menanyakan kondisi terkini pasien.

Baca juga: Singapura Siapkan Vending Machine yang Hadirkan Masker Gratis

Sesudah melakukan tes swab antigen sendiri, hasilnya kemudian diunggah di web yang bisa diakses dengan mengklik link yang dibagikan petugas.

Setelah masa karantina mandiri 14 hari usai, wisatawan diwajibkan melakukan tes PCR ulang dengan biaya sekitar S$160 (Rp1,7 juta), melengkapi S$220 (Rp2,3 juta) yang sudah lebih dahulu dikeluarkan untuk PCR dan swab antigen (negara lain hanya PCR, khusus kedatangan Indonesia wajib ditambah swab antigen) saat tiba di Bandara Internasional Changi.