Terbang Makin Aman, Airbus Luncurkan Desain Karantina Mandiri di Pesawat

Selama pandemi Covid-19, sudah beberapa kali terjadi kasus dimana penumpang pesawat diketahui positif virus Corona saat dalam penerbangan. Cukup panjang bila diceritakan detail bagaimana itu bisa terjadi.

Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman

Selain itu, beberapa kasus juga diketahui sejumlah penumpang di seluruh dunia mengalami gejala mengidap Covid-19 saat dalam penerbangan. Ketika semua itu terjadi, rata-rata dari maskapai hanya melakukan tindakan preventif dengan mengkarantina penumpang tersebut di kursi paling belakang.

Tetapi memang, itu hanya namanya saja karantina mandiri. Faktanya, mereka masih menghirup dan menghembuskan udara di tempat yang sama tanpa sekat. Tentu hal ini membuat penumpang merasa khawatir dan kekhawatiran inilah yang coba dijawab Airbus dengan mendesain kursi khusus karantina di pesawat.

Dilansir CNN International, belum lama ini Airbus resmi meluncurkan konsep desain PaxCASE (Passenger Containment Area for Symptomatic Events). Prinsipnya sederhana, penumpang bergejala positif Covid-19 diarahkan duduk di kursi bagian belakang pesawat dan di sekat sampai tertutup layaknya ruangan khusus menggunakan plastik semi-transparan. Dengan begitu, diharapkan tidak terjadi droplet di kabin pesawat.

Wakil presiden pemasaran kabin Airbus, Ingo Wuggetzer, mengungkapkan PaxCASE sangat fleksibel alias mudah dibongkar pasang, dengan begitu tetap bisa memaksimalkan kapasitas kursi penumpang andai tak terjadi kasus demikian.

Tirai, sekat, atau ruang khusus karantina mandiri di pesawat inovasi Airbus ini didesain hanya memakai empat kursi belakang dari formasi tiga baris di sisi kanan dan kiri. “Ini adalah prinsip yang sangat sederhana dan mudah, diterapkan oleh kru jika terjadi kebutuhan darurat,” kata Wuggetzer.

Konsep PaxCASE ini diketahui berhasil masuk nominasi ajang Crystal Cabin Awards 2021 kategori Clean and Safe Air Travel. Selain itu, dari delapan kategori yang diperebutkan, konsep desain khusus karantina mandiri di pesawat tersebut juga masuk dalam nominasi Judges Choice.

Baca juga: Perkenalkan Glassafe dan ‘S’, Desain Kursi Pesawat Anti Corona Besutan Aviointeriors

Meski demikian, Wuggetzer mengungkapkan, maskapai penerbangan di dunia pada umumnya saat ini fokus pada pengalaman terbang nirsentuh, disinfeksi pesawat sebelum dan sesudah penerbangan, surat bebas Covid-19, mengosongkan kursi tengah, memakai masker, dan melarang berbicara selama dalam penerbangan.

Singkatnya, Airbus menyadari bahwa dalam waktu dekat konsep PaxCASE gagasannya belum akan diaplikasikan maskapai dalam waktu dekat. Terlebih, IATA juga sudah menguatkan langkah yang ditempuh maskapai dunia saat ini, dengan menyebut, “Risiko tertular Covid-19, saat mengenakan masker di pesawat, sangat rendah.”

Cina Buat Jalur Uji Coba Kereta Maglev Berkecepatan 1.000 Km Per Jam
























Rasanya untuk keunggulan teknologi kereta cepat, Cina akan menjadi yang terdepan di dunia. Pasalnya Cina belum lama ini melakukan pembangunan jalur uji kereta Maglev yang bisa melayani kecepatan kereta hingga 1.000 km per jam. Jalur uji tersebut akan dibangun di Provinsi Shanxi, Cina Utara.

Baca juga: Dengan Maglev, Cina Siap Buktikan Perjalanan 2200 Km Hanya Butuh Waktu 2 Jam!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman globaltimes.cn (26/5/2021), langkah ini bisa dikatakan menjadi terobosan terbaru Cina setelah commissioning kereta Maglev yang dapat melaju hingga 620 km per jam pada awal tahun ini. Sementara itu Jepang dan Amerika Serikat juga melakukan peningkatan upaya penelitian dan pengembangan serta uji coba kereta Maglev dengan sistem vakum.

Uji coba kereta api berkecepatan tinggi ini dilakukan oleh North University of China dan Institut Penelitian Ketiga di China Aerospace Science and Industry Corp yang memanfaatkan proses suspensi vakum dan magnetik yang rendah. Teknologi tersebut berarti kereta api akan memiliki potensi untuk melakukan perjalanan jauh lebih cepat daripada kereta berkecepatan tinggi 350 km per jam saat ini.

Ma Tiehua, dekan Sekolah Teknik Elektro dan Kontrol Universitas Pusat Utara memperkirakan bahwa kecepatan moda transportasi futuristik ini kemungkinan akan melebihi 1.000 km per jam, dan mencapai tiga atau empat kali di masa depan. Seperti sesuatu yang keluar dari fiksi ilmiah, Virgin Hyperloop yang berbasis di AS melakukan uji coba sistem transportasi ultra-cepat dengan penumpang manusia tahun lalu.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 2014 dengan alasan membuat visi Tesla dan CEO SpaceX Elon Musk tentang sistem transportasi ultracepat dari pod yang melayang secara magnetis melalui tabung hampir tanpa udara telah menjadi kenyataan. Sementara beberapa perusahaan dan lembaga sedang mengerjakan desain transportasi khusus, beberapa akademisi memiliki ide yang berbeda.

Zhao Jian, seorang profesor di Universitas Jiaotong Beijing, mengatakan, teknologi ini dapat digunakan untuk eksperimen tetapi tidak mungkin diadopsi untuk proyek komersial dan rekayasa. Selain itu, keselamatan adalah masalah utama untuk transportasi massal, jadi tidak jelas bagaimana seseorang dapat mengoperasikan kendaraan dengan kecepatan tinggi seperti itu di bawah keadaan hampir vakum.

Baca juga: Prototipe Kereta Maglev Cina Melaju dengan Kecepatan 620 Km Per Jam

“Kereta maglev peluru super” dengan kecepatan maksimum 620 kilometer per jam, ditujukan untuk mengisi kesenjangan kecepatan antara kereta api berkecepatan tinggi saat ini dengan pesawat terbang yang melesat 800 kilometer per jam.

Desember 2021, Laos dan Cina Akan Terhubung dengan Jalur Kereta Api
























Vientiane yang merupakan ibu kota dari Laos akan terhubung dengan Negeri Tirai Bambu. Hal ini terlihat dari Laos yang akan mulai melakukan uji coba pertama kereta di jalur Laos – Cina pada Agustus 2021.

Baca juga: “Belt and Road Initiative” dari Cina, Ibarat Madu dan Racun Bagi Negara Berkembang

Jalur yang menghubungkan dua negara tersebut memiliki rel sepanjang 422,4 km. Dilansir KabaraPenumpang.com dari bangkokpost.com (23/6/2021), pembangunan semua stasiun di sepanjang jalur ini ditargetkan selesai pada September dan Oktober mendatang, serta diharapkan dapat beroperasi untuk umum pada Desember 2021.

Sebuah terowongan yang sedang dibangun di jalur kereta api yang menghubungkan Laos dan Cina (Akun Facebook Laos-China Railway Company Limited)

Sepanjang jalur dari Laos menuju ke Cina akan ada sepuluh stasiun, yakni Vientiane, Phonhong, Vangvieng, Kasy, Luang Prabang, Nga, Xay, Namor, Nateuy dan Boten. Tak hanya stasiun untuk penumpang, jalur ini juga punya 22 stasiun untuk bongkar muat barang.

Perjalanan kereta yang menghubungkan Vientiane ke perbatasan Cina akan melintasi provinsi Vientiane, Luang Prabang, Oudomxay dan Luang Namtha. Menurut Laos-China Railway Co., Ltd, kereta nantinya akan melewati 75 terowongan dengan panjang gabungan 197,83 km.

Jalur kereta yang menghubungkan dua negara ini pembangunannya menelan biaya US$5986 miliar (37,4 miliar yuan). Di mana pengerjaannya sudah dimulai sejak Desember 2016 lalu. Kehadiran jalur Laos menuju Cina juga merupakan bagian strategis dari China’s Belt and Road Initiative mencakup koneksi kereta api dengan Thailand di Nong Khai.

Hadirnya jalur ini juga strategi pemerintah Laos untuk mengubah Negeri Sejuta Gajah tersebut dari negara terkurung daratan menjadi jalur darat di dalam kawasan. Nantinya setelah kereta beroperasi, ini akan memangkas biaya transportasi melalui barat laut Laos sebesar 30-40 persen dibandingkan transportasi melalui jalan darat biasa.

Baca juga: Pemasangan Balok Jalur Kereta Cina-Laos Mulai Memasuki Tahap Akhir

Kereta api berjalan dari perbatasan Boten di Laos utara, berbatasan dengan Cina, ke Vientiane, dengan kereta yang melaju dengan kecepatan maksimum 160 km per jam. Pemerintah yakin kereta api akan memacu pembangunan sosial-ekonomi dan memungkinkan Laos untuk membuat kemajuan yang lebih besar.

Rute Penerbangan Terpendek Lufthansa Setara Jakarta-Bandung Kini Dilayani Pakai Bus

Lufthansa menyetop penerbangan di rute terpendeknya sejauh 86 mil (138 km) antara Munich dan Nuremberg. Sebagai gantinya, maskapai terbesar di Eropa itu mengerahkan armada busnya untuk melayani royal customer.

Baca juga: Emirates Operasikan A380 dengan Rute Terpendek di Dunia, Jaraknya Setara Jakarta – Pangandaran!

Selama ini, Lufthansa memang dikenal memiliki jejaring kuat bukan hanya regional Eropa dan internasional, tetapi juga domestik. Saking banyaknya, beberapa di antara mereka bahkan bisa dibilang sangat dekat, salah satunya rute Munich-Nuremberg.

Sebetulnya, rute tersebut masih tak lebih pendek dibanding rute terpendek Garuda Indonesia, yaitu Denpasar – Lombok sejauh 76 mil. Hanya saja, rute tersebut terpisah oleh perairan, tak seperti rute Lufthansa. Karenanya, tak heran bila maskapai yang didirikan pada 6 Januari 1953 itu sampai mengganti layanan tersebut dari semula menggunakan pesawat menjadi bus.

Laporan aeroTELEGRAPH, Lufthansa Express Bus atau Layanan Bus Express Lufthansa waktu tempuhnya sudah pasti lebih lambat ketimbang pesawat. Sudah begitu, jarak tempuhnya juga bertambah, dari semula hanya 86 mil menjadi sekitar 100 mil (167 km) setara Jakarta-Bandung, selama kurang lebih 1 jam 38 menit.

Dari data internal perusahaan, di 2018 lalu, tiga persen dari penumpang tercatat ingin mengakhiri perjalanan di Munich. Sedangkan sisanya, sebanyak 97 persen adalah connecting passengers.

Lufthansa sendiri tak mengungkap dengan detail alasan di balik keputusan ini. Sebab, rute lain yang tergolong pendek, yaitu Munich ke Frankfurt sejauh 118 mil (190 km), tetap dipertahankan dan tentu saja mendapat kecaman dari German Green Party.

Menurut partai yang pernah berkuasa di Jerman itu, penerbangan di bawah dua jam setengah, sebagaimana kebijakan di Perancis, tidak sejalan dalam langkah memangkas emisi karbon yang dihasilkan dari perjalanan udara.

Maka dari itu, penerbangan di bawah rentang waktu tersebut didorong untuk menggunakan kereta. Terlebih Komisi Eropa berniat menjadikan tahun 2021 sebagai “Tahun Kereta Eropa” sebagai wujud dari dukungan untuk Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal).

Tujuan besar dari langkah-langkah di atas tentu mengarah pada turunnya emisi gas rumah kaca (netralitas iklim) pada 2050 mendatang.

Bila berhasil, Uni Eropa akan menjadi benua “blok netral-iklim” pertama di dunia, mengalahkan paket stimulus Green New Deal yang diusulkan Amerika Serikat. Target terdekat dalam Kesepatan Hijau Eropa terjadi pada 2030 mendatang, dimana emisi gas rumah kaca diproyeksikan turun hingga 55 persen.

Baca juga: Gegara Covid-19, Kereta Jadi Pilihan Favorit Berlibur Ketimbang Pesawat! Ini Alasannya

Uni Eropa saat ini tercatat menyumbang seperempat dari emisi gas rumah kaca dunia dari seluruh jaringan moda transportasi mereka. Tak ayal, dengan catatan tersebut, mereka bertekad untuk mengejar laju dekarbonisasi -salah satunya memasifkan penggunaan kereta api- sambil terus meningkatkan laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Sayangnya Lufthansa tak bergeming. Melalui CEO-nya, perusahaan mengaku tetap akan terus maju dan mengoperasikan rute tersebut.

Dilarang Terbang ke Hong Kong, Cobaan (Lagi) Buat Garuda Indonesia

Garuda Indonesia dipaksa menelan pil pahit usai temuan Otoritas Kesehatan Hong Kong, Centre for Health Protection (CHP), soal adanya empat penumpang positif Covid-19 dalam penerbangan GA876. Flag carrier Indonesia itu dilarang membawa penumpang masuk Hong Kong mulai 22 Juni – 5 Juli mendatang. Adapun penerbangan kargo tetap diizinkan seperti biasa. Begitu laporan media lokal China Daily.

Baca juga: Rute ke Hong Kong Lesu, Garuda Indonesia Susutkan Frekuensi Penerbangan Jadi 2 Kali Seminggu!

Larangan tersebut pun makin memperparah bisnis angkutan penumpang Garuda terhadap Hong Kong. Sebagai negara ketiga penampung TKI terbanyak serta lima besar investor asing Indonesia, Hong Kong memang menjadi salah satu rute internasional paling potensial Garuda Indonesia.

Akan tetapi, sejak beberapa tahun belakangan, bisnis penerbangan penumpang dan kargo Garuda Indonesia ke Hong Kong mulai meredup. Bukan karena tertinggal dengan maskapai lain, melainkan karena faktor internal dan eksternal negara tersebut.

Petaka pertama Garuda Indonesia datang di tahun 2019. Ketika itu, gelombang protes besar-besaran menetang RUU Ekstradisi terjadi sekitar bulan Juni di seantero Hong Kong dan dalam tempo yang cukup lama.

Jangankan Garuda Indonesia, tiga maskapai raksasa, Singapore Airlines, Qantas, dan Cathay Pacific, pun juga turut kena imbas. Rata-rata dari mereka load factor turun belasan sampai puluhan persen. Garuda Indonesia sendiri, di masa terjadinya gelombang protes menetang RUU Ekstradisi Hong Kong, sampai memangkas 12 penerbangan, dari 14 penerbangan menjadi hanya dua penerbangan sepekan.

Saat gelombang protes mulai mereda menyusul dicabutnya RUU Ekstradisi pada bulan Oktober dan penerbangan penumpang serta kargo mulai kembali pulih, pandemi Covid-19 pun membawa petaka lanjutan bagi bisnis Garuda Indonesia di Hong Kong.

Adanya larangan terbang oleh otoritas Hong Kong dan pemerintah Indonesia membuat penerbangan penumpang lumpuh berbulan-bulan. Di 2020, penerbangan penumpang baru bisa kembali di bulan September sepekan sekali, bersama rute-rute internasional lainnya seperti Jepang, Malaysia, Singapura, Australia, dan Belanda.

Sepanjang tahun 2020 lalu, Bandara Hong Kong tercatat kehilangan 89 persen penumpang, terendah sejak 1985.

Saat ini, pergerakan penumpang juga belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan drastis. Selain virus Corona masih merajalela di sejumlah negara, mengingat Hong Kong tidak memiliki penerbangan domestik dan mengandalkan penerbangan internasional, aturan karantina ketat juga menjadi penghalang masuknya wisatawan ke Hong Kong.

Baca juga: Akhir 2021, Startup Hong Kong Luncurkan Layanan Drone Penumpang Pertama! Target Selanjutnya Indonesia

Sejak awal pandemi, otoritas Hong Kong melibatkan teknologi gelang elektronik canggih untuk mengontrol warga dan wisatawan, dibarengi dengan sejumlah kontrol dan aturan ketat lainnya. Gelang itu diberikan kepada turis maupun masyarakat yang baru pulang bepergian dari luar negeri untuk memantau mereka selama fase karantina mandiri.

Meski kasus virus Corona di sana sudah mereda, tetapi aturan ketat masih dijunjung tinggi. Mulai 20 Februari 2021 lalu, otoritas Hong Kong telah menerapkan kebijakan karantina mandiri selama 14 hari untuk kru pesawat, baik itu pramugari maupun pilot. Saat memasuki hari ke-15, mereka tetap akan mendapat pengawasan penuh petugas selama tujuh hari.

Soal Penamaan Stasiun, Di India Ternyata Operator Kereta Tak Ikut Ambil Bagian
























Setiap operator kereta api biasanya memberikan nama kepada stasiun tempat kereta melintas dan berhenti sesuai nama daerahnya. Namun Indian Railways sepertinya menjadi satu-satunya operator yang memiliki stasiun tapi tidak memberikan penamaannya.

Baca juga: Di India Ada Stasiun Kereta Tanpa Nama

Pasalnya pemberian nama ini tergantung pada kebijaksanaan pemerintah negara bagian yang bersangkutan. Sehingga ketika pemerintah negara bagian ingin mengubah nama kota dan ingin agar merefleksikan papan nama termasuk di stasiun kereta api, mereka akan mengajukan ke kementerian Dalam Negeri.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari indianexpress.com, hal ini seperti pemerintah Uttar Pradesh saat ingin mengganti nama Stasiun Mughalsarai, Indian Railways harus menunggu Kementerian Dalam Negeri dan pemerintah negara bagian untuk menyelesaikan formalitas. Setelah itu nama secara resmi diubah menjadi Pandit Deen Dayal Upadhyaya Junction di papan nama stasiun dan tiket.

Hal ini juga sama ketika perubahan nama Allahabad ke Prayagraj. Indian Railway mengatur bahasa yang ditampilkan pada papan nama stasiun dan dikenal sebagai Indian Railway Works manual di mana dokumen setebal 260 halaman yang mengkodekan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan konstruksi teknik sipil.

Bahasa untuk penamaan stasiun sendiri menggunakan Bahasa Hindi dan Inggris, tetapi seiring berjalannya waktu, diperintahkan bahwa bahasa ketiga yang menjadi bahasa lokal harus dimasukkan. Karena tidak sesederhana itu, pihak kereta api mau tak mau tetap harus mendapat persetujuan dari pemerintah negara bagian yang terkait dengan pengejaan nama-nama dalam tiga bahasa sebelum meletakkannya di papan nama stasiun.

“Nama-nama stasiun akan dipamerkan dalam urutan berikut, Bahasa Daerah, Hindi dan Inggris, kecuali untuk Tamil Nadu di mana penggunaan bahasa Hindi akan dibatasi pada stasiun-stasiun penting dan pusat-pusat peziarah sebagaimana ditentukan oleh Departemen Komersial. Di mana bahasa Regional adalah bahasa Hindi, papan nama akan berada dalam dua bahasa, bahasa Hindi dan bahasa Inggris …,” kata Manual.

Seperti di Uttar Pradesh, bahasa Urdu menjadi salah satu bahasa resmi yang tertulis di papan nama stasiun. Uttarakhand pernah menjadi bagian dari Uttar Pradesh, sehingga stasiun Dehradun terus memiliki Urdu di papan tulis. Bisa dikatakan bahasa Urdu menjadi bahasa unik yang bukan bahasa daerah yang terbatas pada negara bagian tertentu.

Indian Railway memiliki aturan terpisah untuk menulis nama stasiun dalam bahasa ini pada papan namanya. Paragraf 424 Manual Pekerjaan memiliki bagian terpisah yang mencantumkan kabupaten di seluruh India di mana semua stasiun memiliki nama dalam bahasa Urdu bersama dengan bahasa lain.

Daftar ini telah diperbarui dari waktu ke waktu. Ia memiliki hampir 100 distrik dari negara bagian India Selatan ke Maharashtra ke Bihar. Bahkan setelah ini, jika ada bahasa yang menurut penduduk setempat harus diwakili pada papan nama stasiun, departemen kereta api yang bersangkutan diberi mandat untuk memasukkannya setelah berdiskusi dengan Komite Konsultasi Pengguna Kereta Api Zonal dan pemerintah negara bagian.

Sebuah BJP MLA telah menulis kepada Kementerian Perkeretaapian untuk mendapatkan nama yang ditulis dalam bahasa Sanskerta, sementara sebuah kelompok lokal secara lokal keberatan dengan skrip Urdu dihapus. Kantor-kantor kereta api lokal menulis kepada otoritas distrik untuk mendapatkan nama resmi bahasa Sansekerta September lalu dan juga pada Februari tahun ini. Untuk saat ini, Railways menyatakan bahwa papan nama di Uttarakhand akan terus menampilkan nama dalam bahasa Inggris, Hindi, dan Urdu.

Dengan adanya ini mengingatkan bahwa beberapa waktu lalu, di jalur Indian Railway ada satu stasiun tak bernama. Stasiun tanpa identitas tersebut letaknya berada sekitar 35 km dari Bardhaman di Benggala Barat. terletak di jalur Bankura dan Massagram, stasiun ini terletak di antara dua desa yakni Raina dan Rainagarh.

Baca juga: Mirip di Bandara, Dua Stasiun Kereta di India Dilengkapi Sensor Thermal Canggih

Awalnya stasiun ini memiliki nama dan dikenal dengan Rainagarh. Namun penduduk desa Raina tidak suka dengan ini karena mereka mengatakan, stasiun tersebut dibangun di atas tanah desa Raina. Penduduk desa Raina percaya bahwa stasiun ini harus dinamai Raina bukannya Rianagarh. Karena masalah ini, kemudian terjadi pertengkaran di antara dua penduduk desa. Adanya perselisihan nama stasiun tersebut terdengar hingga ke operator kereta api.

Setelah perselisihan, Indian Railways kemudian menghapus nama stasiun dari semua papan tanda yang di pasang di sana. Hal ini kemudian membuat banyak penumpang bingung dan bermasalah.

Kejar Restrukturisasi Utang Rp70 Triliun, Garuda Indonesia Gandeng Tiga Advisor AS

Garuda Indonesia terus mempercepat proses restrukturisasi utang Rp70 triliun. Teranyar, perseroan dan Kementerian BUMN menunjuk tiga advisor asal Amerika Serikat (AS). Tiga itu, McKinsey & Company (business advisor), Guggenheim Partners (financial advisor), dan legal advisor Cleary Gottlieb; dibantu oleh dua advisor dalam negeri, PT Mandiri Sekuritas (lead advisor) dan legal advisor Assegaf Hamzah & Partners.

Baca juga: The New Garuda Indonesia Mau Pakai Satu Tipe Pesawat? Ini Untung-Ruginya

Lima advisor yang terkuak berdasarkan dokumen paparan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI, Senin (21/6) yang disiarkan dari laman Youtube DPR RI, itu menjadi jawaban atas teka-teki beberapa pekan sebelumnya.

Dalam sebuah forum diskusi di salah satu stasiun TV swasta nasional, Irfan Setiaputra pernah mengungkapkan pihaknya telah merekrut beberapa advisor. Tetapi, tidak disebutkan dengan detail siapa saja. Itu dilakukan untuk menghadapi kemungkinan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di pengadilan atau di luar pengadilan.

Dari empat opsi penyelamatan Garuda Indonesia yang disampaikan perseroan saat rapat dengan Komisi VI DPR, kemarin, terkuak bahwa manajemen memang memilih opsi nomor dua, yaitu merestrukturisasi utang ketimbang nomor satu, yaitu diberi suntikan modal kerja oleh pemerintah. Karenanya, tak heran bila manajemen menunjuk advisor untuk membantu proses PKPU.

Sambil mengurus perihal PKPU, di tempat terpisah, manajemen Garuda Indonesia juga diketahui tengah fokus untuk memperkuat konsep New Garuda Indonesia. Diharapkan, model bisnis New Garuda Indonesia bisa mencatat Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi positif sepanjang periode 2022-2026.

“Garuda telah memiliki rencana bisnis model baru untuk tahun 2022-2026, untuk menjembatani kondisi saat ini menjadi New GA diperlukan rencana strategis yang dilakukan secara bertahap pada periode Juni-Desember 2021,” tulis manajemen Garuda, dikutip Selasa (22/6).

Baca juga: De Javu Krisis Garuda Indonesia, Dirut Irfan Mungkin Bisa Belajar dari Dirut Robby Djohan?

Adapun rencana bisnis lima tahun yaitu mencatatkan EBITDA positif 2022-2026, new business model (fleet as variable, profitable route, sufficient people with high productivity), armada mulai 66 unit di 2022, dan total pegawai berdasarkan jumlah armada.

Adapun periode pembalikan kinerja (turn around) yakni dilakukan dengan dua cara, restrukturisasi keuangan (Lease Negotiation dan Unsustain Debt Settlement – in/out of court), dan restrukturisasi operasional (Rightsizing SDM, Route and Fleet Optimization, Social Distancing Evaluation, dan Frequency optimization).

Punya Gelar Maskapai Teraman di Dunia, Tujuh Insiden ini Pernah Membuat Penerbangan Qantas Nyaris Berujung Petaka

Qantas selama ini dikenal sebagai maskapai dengan predikat teraman di dunia. Predikat maskapai teraman tentu ada dasarnya, yaitu selama 100 tahun pengabdian di dunia dirgantara, belum pernah terjadi kecelakaan fatal yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak awak pesawat maupun penumpang.

Baca juga: Sambut Perayaan Satu Abad, Qantas Layak Bangga Jadi Maskapai Teraman di Dunia

Budaya mengutamakan safety rupanya telah tertanam sejak lama, bahkan Qantas kini memimpin dalam teknologi pemantauan mesin secara real-time di seluruh armadanya dengan menggunakan komunikasi satelit. Cara tersebut memungkinkan maskapai dengan julukan The “Flying Kangaroo” ini mampu mendeteksi masalah sebelum menjadi isu keamanan pesawat membesar.

Tapi tahukah Anda, meski belum pernah mengalami insiden yang berujung hilangnya nyawa pada penumpangnya, ternyata ada ada beberapa insiden ‘berat’ yang terkait pesawat Qantas, di mana insiden-insiden ini berpotensi menyebabkan hilangnya nyawa awak pesawat dan penumpang. Dikutip dari flightsafetyaustralia.com, berikut tujuh insiden besar yang terkait keselamatan pada Qantas yang terjadi sejak tahun 1951.

1. Pada tahun 1960, Lockheed Super Constellation Qantas gagal lepas landas di Mauritius setelah mengalami kerusakan salah satu mesin turbo kompon Wright R-3350. Pesawat dalam insiden ini mengalami total lost pasca kebakaran, dalam insiden ini semua penumpang dan awak berhasil dievakuasi.

2.Pada tahun 1966, Boeing 707 Qantas mengalami guncangan hebat sesaat setelah pesawat lepas landas dari Sydney. Dalam peristiwa ini, pilot memutuskan return to base setelah 10 menit di udara. Dengan kecepatan 287 knot, pesawat sempat mengalami manuver 2G. Penyelidikan atas perisitiwa ini menemukan adanya baut yang longgar di area sayap ekor.

Ilustrasi Boeing 707 milik Qantas dengan lima mesin Foto: Simple Flying

3. Pada tahun 1969, Boeing 707 Qantas mengalami manuver spiral sesaat mengoreksi jalur penerbangan Sebelum itu, indikator pada instrumen di kokpit tidak menunjukkan sesuatu yang salah. Lebih dari 40 detik, pesawat kehilangan ketinggian 19.000 kaki atau 5.791 meter. Saat kehilangan ketinggian, kecepatan turun pesawat mencapai Mach 0,93 dengan catatan tekanan gravitasi hingga 4,5G.

4. Pada tahun 1999, dalam cuaca yang berangin keras, Boeing 747-400 Qantas tergelincir saat proses pendaratan di Bangkok, Thailand.

5. Pada tahun 2008, sebuah tabung oksigen meledak pada penerbangan Qantas 30 dengan pesawat Boeing 747-400 Qantas 30. Sampai saat ini Biro Keselamatan Transportasi Australia tidak dapat menemukan penyebab dari meledaknya tabung oksigen. Dalam insiden, fagmen tabung yang meledak sampai menembus kabin penumpang dengan kecepatan tinggi, ajaibnya tidak ada penumpang yang terluka dalam insiden di udara ini.

Dua tahun lalu, pesawat Qantas yang dipensiunkan akhirnya dibeli oleh Rolls Royce untuk dijadikan sebagai flying test bed atau pesawat uji terbang yang nantinya mendukung pengembangan mesin baru perusahaan. Foto: Airline Geeks

6. Pada tahun 2008, penerbangan Qantas 30 dengan Airbus A330-300 terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Learmonth, Australia, menyusul insiden dalam penerbangan yang mencakup dua manuver pitch-down, dalam insiden ini menyebabkan cedera parah pada beberapa penumpang dan awak.

7. Pada tahun 2010, Airbus A380 milik Qantas mendarat darurat di Singapura setelah mesinnya rusak di langit Batam. Inilah insiden pertama pesawat terbesar di dunia saat itu. A380 Qantas dengan nomor penerbangan QF32 terbang dari London ke Sydney dengan transit di Singapura. QF32 menggunakan Airbus A380-800 buatan tahun 2008.

Baca juga: Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Insiden ini terjadi dalam perjalanan dari Singapura ke Sydney. Saat baru terbang 6 menit, satu mesin jet ini mengalami kerusakan. Bahkan, ada komponen fiberglass dari pesawat yang berjatuhan dari langit. Atas kejadian ini, pilot memilih mendaratkan pesawat di Changi, semua penumpang dan awak pesawat dilaporkan selamat.

Misteri Balok Es ‘Hujani’ Inggris, Diduga dari Toilet Pesawat Bocor

Misteri ‘serangan’ balok es kembali terjadi. Kali ini di Eagle Avenue, Waterlooville, dekat Portsmouth, Inggris. Balok es berukuran besar menghantam dengan keras di pemukiman warga dan meninggalkan jejak bukan hanya berupa es yang sudah mencair, melainkan juga plastik. Keduanya diduga berasal dari toilet pesawat yang bocor.

Baca juga: Berpendingin Es Balok, Inilah Kereta Kepresidenan Soekarno

“Saya pikir seseorang telah menabrakkan skuter mereka di luar, ada suara mendesing cukup besar dan bunyi gedebuk, jadi saya melihat ke luar jendela dan hanya ada gumpalan es di jalan,” kata Lisa Boyd, warga sekitar.

“Kami hanya bersyukur tidak ada yang lewat dan tidak ada yang tertimpa balok es karena bisa membunuh seseorang,” lanjutnya, seperti dikutip dari The Sun.

Louise Browne, tetangga Lisa, menyebut balok es berukuran sedang itu menimpa pemukiman mereka pada malam hari. “Kami baru saja naik ke tempat tidur dan kami pikir seseorang sedang melemparkan batu kerikil ke jendela kami. Saya pikir (ukurannya) itu sekitar setengah meter persegi. Cukup besar,” jelasnya.

Diyakini, balok es misterius yang jatuh dari langit itu berasal dari toilet pesawat yang bocor saat terbang di ketinggian 35 ribu kaki. Dugaan tersebut diperkuat dengan bukti adanya kotoran manusia dan tisu toilet setelah balok es mencair.

Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA) sendiri mengklaim semua limbah toilet tetap tersimpan di pesawat sampai akhirnya ditampung di kendaraan khusus untuk persiapan penerbangan berikutnya.

Misteri balok es jatuh dari langit sebelumnya beberapa kali terjadi di Britania Raya. Pada 2018 lalu, balok es sebesar 20 kg jatuh dari langit dan menewaskan petugas kebersihan jika sampai terkena. Untungnya tak terkena.

Amir Khan, pria 39 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan taksi terdekat, mengatakan kepada Evening Standard bahwa kejadian yang ia lihat seperti adegan pada film.

“Rasanya seperti awalan film bencana seperti The Day After Tomorrow. Peristiwa itu menimbulkan suara keras seperti meteorit runtuh. Petugas pembersih jalanan begitu bingung dan takut. Semua orang berlari keluar untuk melihat langit. Gila,” ujar Amir.

Baca juga: Tangki Toilet Kosong Saat Mendarat, Patut Diduga Pesawat Buang Kotoran di Udara

Sama halnya seperti insiden jatuhnya balok es di Portsmouth, insiden di jalanan di Kew, London Barat, itu diperkirakan jatuh dari pesawat terbang. Sebab, lokasi peristiwa tersebut merupakan jalanan menuju Bandara Heathrow. Otoritas Penerbangan Sipil mengatakan bahwa sekitar 30 es jatuh terjadi per tahun, yang bisa disebabkan oleh kebocoran dari pesawat.

Setahun sebelumnya, kebun rumah warga di Busby, East Renfrewshire, Skotlandia juga pernah dihujani balok es berukuran besar. Beruntung, balok es tak menimpa warga dan mencederai atau bahkan menewaskannya.

The New Garuda Indonesia Mau Pakai Satu Tipe Pesawat? Ini Untung-Ruginya

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dalam sebuah program di salah satu stasiun TV swasta, mengungkap saat ini pihaknya tengah menyusun proposal The New Garuda Indonesia. Di antara poin-poin penting yang dibocorkan terkait The New Garuda ialah tidak akan lagi mengoperasikan rute-rute sepi pesanan segelintir orang berpengaruh, fokus pada rute-rute domestik, dan efisiensi.

Baca juga: Gunakan Satu Jenis Pesawat, Jadi Jurus AirAsia Tetap Efisien dengan Harga Tiket Terjangkau

Terkait efisiensi dan fokus pada rute domestik, dua kata kunci itu agaknya The New Garuda Indonesia yang digagas Irfan dkk bisa berkaca pada sepak terjang maskapai dunia, semisal Southwest Airlines, Ryanair, easyJet, dan tentu saja AirAsia.

Sudah jadi rahasia umum bahwa maskapai-maskapai di atas berhasil mencapai tingkat efisiensi mengesankan dengan mengoperasikan satu tipe pesawat saja. Southwest Airlines dan Ryanair hanya mengoperasikan satu tipe pesawat Boeing 737. Adapun easyJet dan AirAsia hanya mengoperasikan satu tipe pesawat Airbus A320.

Hanya saja, keempat maskapai itu merupakan maskapai berbiaya hemat atau LCC. Sedangkan Garuda Indonesia merupakan maskapai full service. Namun demikian, mengingat The New Garuda Indonesia akan berfokus pada rute-rute domestik, itu artinya, menurut beberapa pengamat, model bisnis LCC bisa digunakan.

Pada rute-rute domestik, The New Garuda Indonesia menggunakan satu tipe pesawat. Begitu juga dengan rute-rute internasional, juga menggunakan satu tipe pesawat.

Kendati demikian, konsekuensi di balik penggunaan satu tipe pesawat saja pasti ada. Tetapi, untung-rugi mengoperasikan satu tipe pesawat bisa berimbang.

Keuntungannya, tentu efisiensi. Efisiensi bisa didapat dari berbagai lini, seperti biaya spare part, biaya training-sertifikasi pilot dan tim mekanik, fasilitas simulator dan mockup untuk pramugari, sampai diskon seiring tingginya kuantitas pembelian pesawat.

Meski begitu, menurut pengamat, efisiensi bisa maksimal bila menggunakan pesawat-pesawat Airbus ketimbang Boeing. Itu karena pesawat Airbus cenderung lebih universal atau komonalitas.

Jadi, satu keluarga pesawat, misalnya A320, meski ada peningkatan satu sama lain namun tidak jauh berbeda, membuat biaya training serta turunannya lebih murah dan cepat ketimbang Boeing, yang meski pesawatnya berasal dari tipe yang sama, misalnya keluarga B737, namun cenderung banyak perbedaan atau bahkan sangat berbeda.

Untuk kerugian menggunakan satu tipe pesawat, pastinya jangkauan terbatas, terutama jika dihadapkan pada pelayanan rute regional. Tetapi, dalam konteks penerbangan domestik The New Garuda Indonesia, masalah jangkauan terbatas akibat menggunakan satu tipe pesawat tentu tak ada masalah mengingat range-nya masih terjangkau.

Baca juga: Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

Kerugian lain maskapai hanya menggunakan satu tipe pesawat ialah masalah manajemen. Dalam kasus Boeing 737 MAX, tak ada yang pernah menyangka bahwa jenis pesawat itu di-grounded sampai setahun lebih. Bayangkan bila ketika itu ada maskapai yang hanya mengoperasikan MAX, sudah pasti bisnisnya akan ikut berantakan.

Sudah begitu, ketergantungan terhadap satu produsen pesawat juga tak baik untuk bisnis maskapai itu sendiri.