Irak Bangun Ibu Kota Baru Dekat Bandara Baghdad

Irak baru-baru ini mengumumkan rencana pembangunan ibu kota baru, Al-Rafeel, di luar Baghdad. Komisi Investasi Nasional (NIC) menyebut, proyek tersebut akan memanfaatkan lahan seluas 400 km persegi, di dekat Bandara Internasional Baghdad.

Baca juga: Ibukota Baru Akan Punya Bandara VVIP untuk Private Jet

Kepada media lokal Al Sabaah, ketua NIC, Suha Al-Najjar, mengatakan, atas arahan konsultan arsitektur AS, CH2M Hill, ada empat tahap yang dilakukan dalam pembangunan ibu kota baru tersebut. Tahap pertama yaitu pembangunan sekitar 75.000 rumah untuk 300.000 orang, serta toko-toko, kantor, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas rekreasi.

Adapun tahap kedua, ketiga, dan keempat akan dilakukan berbagai pembangunan gedung-gedung pemerintahan, mobilisasi PNS, dan lain sebagainya.

Proyek pembangunan ibu kota baru ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian Irak serta membuka lapangan pekerjaan.

“Kami berharap ini akan memiliki efek positif pada ekonomi Irak, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan perumahan yang mendesak dan berkembang. Diharapkan proyek tersebut dapat memenuhi kebutuhan sekitar satu juta orang dan juga akan memberikan lebih dari 100.000 kesempatan kerja,” kata Suha Al-Najjar.

Kendati proyek tersebut diharapkan segera berjalan dan rampung, namun, NIC tidak mau ugal-ugalan dalam pelaksanaannya. NIC akan memberikan kontrol ketat terhadap pekerja Cina dan pekerja asing lainnya. Selama pekerja dalam negeri Irak mampu melakukannya, dipastikan itu akan dilakukan oleh mereka.

Adapun hal-hal terkait teknologi dan tenaga ahli yang memang SDM dalam negeri Irak belum bisa memenuhinya, NIC tidak bisa berbuat banyak demi kelancaran proyek.

Dalam waktu dekat, sekitar 12 paket kerja berupa fasilitas perumahan dan layanan terpadu akan segera ditawarkan ke investor .

Sayangnya, NIC belum membeberkan berapa investasi yang dibutuhkan dalam proyek pembangunan ibu kota baru ini.

Proyek pembangunan ibu kota baru Irak ini sebetulnya masih pro-kontra. Sebab, lokasinya tak jauh dari Bandara Internasional Baghdad. Di satu sisi, membangun ibu kota baru dekat bandara terbesar di Irak tentu banyak mendatangkan keuntungan, khususnya terkait akses.

Baca juga: Budi Karya: Kereta Listrik Dipastikan Akan Ada di Ibukota Baru

Di sisi lain, keamanan ibu kota baru patut dipertanyakan. Sebab, selama ini negara bekas perang tersebut kerap dikirim rudal tak bertuan ke berbagai titik vital, salah satunya Bandara Internasional Baghdad.

Juni tahun lalu, di tengah lockdown besar-besaran seantero Irak, tiba-tiba sebua rudal menghantam perimeter bandara tersebut. Beruntung, karena sedang lockdown, tak ada korban luka maupun jiwa dalam insiden serangan tersebut.

Serba-serbi Private Jet Pangeran Al Waleed bin Talal: Singgasana Emas dengan 11 Pramugari

“Orang kaya mah bebas”. Begitu kira-kira ungkapan anak zaman now saat merespon tingkah konglomerat dunia dalam menyalurkan hobi dan keinginannya. Salah satunya Pangeran Al Waleed bin Talal.

Baca juga: Potret Pesawat Pribadi Donald Trump, Dahulu Paling Mewah Sekarang Paling Butut

Orang terkaya ke-45 versi Forbes ini (kendati harta sesungguhnya dipercaya jauh lebih dari sekedar urutan ke-45), diketahui membeli pesawat Boeing 747-400 pada tahun 2003 silam. Setelah itu, pesawat tersebut direnovasi sedemikian rupa sampai tak lagi layak disebut pesawat, melainkan istana terbang. Saking mewahnya.

Bagaimana tidak mewah, dari rekaman video yang beredar di YouTube, pesawat super mewah itu setiap sudutnya dihiasi dengan marmer berkualitas tinggi. Pesawat berharga Rp3 triliun itu juga memiliki dua kamar tidur mewah, meja makan untuk 14 orang, ruang hiburan, sampai ruang meeting.

Tak hanya itu, banyak bagian dari private jet Pangeran Al Waleed bin Talal ini juga berlapiskan emas, seperti gagang pintu, tiang penopang lantai bawah dan atas, kran toilet, kamar, dan lain sebagainya.

Yang paling monumental tentu singgasana emasnya di bagian tengah pesawat, menjadikannya bak raja di raja. Selama penerbangan, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, pelayannya juga sangat banyak, mencapai setidaknya 11 pramugari. Itu belum termasuk pelayan pribadinya.

Pangeran dengan kekayaan mencapai US$19 miliar, pemilik perusahaan investasi Kingdom Holding Co, serta mempunyai saham di perusahaan-perusahaan besar macam Citigroup, Apple, Twitter, Lyft, 21st Century Fox, JD.com, dan sejumlah hotel mewah di dunia seperti The Plaza di New York, Savoy Hotel di London, George V di Paris, serta jaringan operator hotel Accor, tersebut juga diketahui memiliki private jet lainnya berbasis pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380.

Istana terbang cucu mendiang Raja Abdulaziz Al-Saud berharga Rp6,6 triliun dilengkapi dengan jacuzzi, ruang tidur mewah, ruangan rapat, tempat makan, ruang rekreasi, empat ruang VIP suite khusus untuk keluarga dan tamu VIP sang pangeran, garasi yang bisa memuat dua mobil Rolls-Royce, serta ruangan salat yang sajadah elektroniknya bisa bergerak sendiri menghadap kiblat.

Baca juga: Kisah “Azab” Big Bunny, Pesawat Private DC-9 Mewah Milik Bos Majalah Playboy

Selain itu, di dalam private jet istana terbang ini juga terdapat kamar mandi bergaya Turki dan seluruh ruangan pesawat di warnai dengan warna khas kerajaan, pernak-pernih mewah, ruang makan mewah, dapur mewah serta sofa-sofa kelas atas.

Tak ayal, dengan berbagai kemewahan tersebut, private jet A380 Pangeran Al Waleed bin Talal disebut sebagai yang termewah di dunia dan tentu saja terbesar.

Kendati demikian, pada tahun 2013 silam, private jet tersebut dijual pangeran, setelah menemaninya selama kurang lebih enam tahun. Tak disebutkan dengan jelas alasan mengapa private jet itu dijual. Yang pasti bukan karena butuh uang, ya.

Tri Sakti Jadi Karoseri Anak Bangsa Pertama yang Bangun Bus Tingkat

Rasanya hampir semua perusahan otobus atau (PO) memiliki bus double decker atau bus tingkat. Tapi sebagai pecinta bus, tahukah Anda karoseri yang pertama kali membuat bus tingkat di Indonesia? Mungkin Anda akan berpikir karoseri Adiputro, Laksana atau karoseri terkenal lainnya.

Baca juga: Werkudara, Bus Tingkat di Solo Besutan Karoseri Indonesia

Namun, ternyata karoseri yang membuat bus tingkat pertama kali adalah Tri Sakti. Penasaran? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, karoseri yang membuat bus tingkat pertama adalah Tri Sakti yang didirikan oleh Widodo tahun 1983 silam. Letaknya berada tepat di Jalan Raya Magelang – Purwerejo Km. 10, Tempuran, Magelang Jawa Tengah.

Karoseri Tri Sakti memiliki pekerja lebih dari 300 orang dan lokasinya sendiri berada di bangunan dengan luas lebih dari 35 ribu meter persegi. Dalam setahun, Tri Sakti menghasilkan berbagai produk bus berkualitas sekitar 300 hingga 500 unit untuk bus besar, sedang, mini bus dan kendaraan khusus.

Salah satu produk dari karoseri Tri Sakti adalah bus double decker atau bus tingkat pertama yakni Werkudara yang menjadi bus wisata kota Solo. Pembuatan bus Wekudara sendiri selesai pada tahun 2010 dan dioperasikan satu tahun kemudian.

Bus Werkudara Solo bisa menampung total 43 penumpang, 18 penumpang di kabin bawah dan 18 penumpang di dek atas. Soal dapur pacu, bus ini pakai mesin OM 924 LA, 4,8 liter, 4 silinder, yang bisa menghasilkan tenaga 160 kW (218 dk). Setelah eksis digunakan sebagai bus wisata atau bus perkotaan, bus double decker mulai dibuat untuk kebutuhan trayek bus AKAP, dengan dimensi dan kapasitas mesin lebih besar.

Selain bus double decker Werkudara, salah satu varian paling sukses yang pernah dibuat oleh Tri Sakti adalah varian Old Setra, yang mana banyak sekali PO yang menggunakannya. Satu ciri khas yang unik dari Setra Trisakti ini adalah diaplikasinya spoiler pada ekor bus. Menambah kesan sporty walau hampir tidak berpengaruh pada aerodinamika.

Berdiri hampir 40 tahun, Tri Sakti telah membuktikan kualitas produknya dan memiliki pangsa pasar nasional. Di mana pabrik pembuatan bus milik karoseri Tri Sakti memiliki peralatan yang selalu mengikuti perkembangan teknolohi untuk menghasilkan produk yang berkualitas.

Baca juga: Ini Perbedaan Bus Single Glass dan Double Glass yang Digunakan Karoseri di Indonesia

Bahkan memiliki area parkir standara penuimpanan sasi yang ditentukan APM untuk menjaga kualitas dan keamanan sasis. Selain itu juga ada parkir khusus untuk barang jadi alias bus siap pakai yang akan dikirim ke pemilik PO.

TransLink Perluas Platform Stasiun SkyTrain, Penuhi Pertumbuhan Penumpang di Masa Depan

Dalam perjalanan kereta api, operator biasanya memikirkan masa depan yang akan terjadi pada transportasi berbasis rel ini. Seperti TransLink di Kanada yang kini tengah memperluas platform stasiun Skytrain mereka untuk memenuhi pertumbuhan dan peningkatan penumpang.

Baca juga: Persiapan Musim Salju, Translink ‘Selimuti’ Ban Pada Armada Bus

Juru bicara TransLink mengatakan, proyek akses dan keselamatan stasiun SkyTrain bertujuan untuk memastikan armada SkyTrain baru dan lebih baik di masa depan dengan kereta yang lebih panjang. Selain itu juga bisa mengangkut penumpang lebih banyak yang bisa ditampung di stasiun.

KabarPenumpang.com melansir dailyhive.com (16/6/2021), saat ini, otoritas angkutan umum sedang mencari kontraktor untuk menyiapkan desain konseptual untuk memperluas platform keluar Stasiun New Westminster, yang merupakan salah satu stasiun yang diidentifikasi dalam studi. Mereka juga mencari stasiun lain di Jalur Expo dan Jalur Milenium untuk menentukan apakah ada modifikasi yang diperlukan.

Panjang peron pada jalur Expo dan Milenium umumnya kira-kira 80 meter, sementara sebagian besar peron Jalur Kanada adalah 40 meter. Beberapa stasiun Canada Line sudah memiliki peron 50 meter, yang merupakan panjang semua peron stasiun yang dapat diperpanjang untuk kereta tiga gerbong Canada Line di masa depan.

Antara tahun 2023 dan 2027 mendatang, jalur Expo dan Milenium akan melihat kedatangan 41 kereta Mark III lima gerbong, yang akan menjadi yang terpanjang di armada SkyTrain untuk mengisi panjang peron, melebihi 80 meter. TransLink juga sebelumnya mengatakan bahwa berdasarkan proyeksi, permintaan pada jalur Expo dan Kanada dapat mencapai kapasitas pada tahun 2050, setelah peningkatan kapasitas yang direncanakan saat ini terjadi.

“Memprioritaskan kebutuhan untuk solusi bantuan akhirnya adalah sesuatu yang kami ingin identifikasi dalam proses Transport 2050, tetapi lebih banyak studi perlu dilakukan sebelum langkah-langkah bantuan khusus, koridor, atau proyek perluasan diidentifikasi sebagai prioritas,” kata seorang juru bicara.

Selama dekade terakhir, TransLink telah melakukan peningkatan ekstensif yang terutama meningkatkan aksesibilitas dan kapasitas penumpang yang masuk dan beredar di stasiun. Proyek perombakan kapasitas besar berikutnya direncanakan untuk Stasiun Burrard.

Baca juga: Terowongan Brockville – Terowongan Kereta Pertama di Kanada yang Dihiasi Lampu Warna Warni dan Alunan Musik

Sebagai bagian dari proyek Broadway Subway, peron Jalur Kanada di Stasiun Broadway-City Hall akan diperluas hingga panjang maksimum 50 meter untuk menyediakan ruang sirkulasi yang lebih luas bagi penumpang. Ini menjelaskan lonjakan penumpang yang diharapkan di stasiun, yang akan menjadi pusat pertukaran utama antara Jalur Kanada dan Jalur Milenium.

De Javu Krisis Garuda Indonesia, Dirut Irfan Mungkin Bisa Belajar dari Dirut Robby Djohan?

Krisis yang dialami Garuda Indonesia disebut bak Deja Vu. Sebab, masalahnya nyaris sama (jika tidak ingin dibilang sama persis), mulai dari inefisiensi sampai corporate governance, kemudian sembuh, lolos dari krisis, performa melesat, mulai menurun, penghematan besar-besaran, dan kembali krisis. Terus seperti itu sampai berulang kembali di era Direktur Utama Garuda Indonesi saat ini, Irfan Setiaputra.

Baca juga: Pembayarannya Ditunda Garuda Indonesia, Apa Itu Sukuk Global?

Sudah bukan satu dua ahli atau pengamat yang mengatakan bahwa krisis Garuda Indonesia saat ini bukan diakibatkan oleh pandemi Covid-19.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, misalnya, dalam sebuah forum, menggambarkan Garuda Indonesia bak pasien positif Covid-19 yang kemudian wafat. Bukan karena Covid-19, melainkan karena komorbid atau penyakit bawaan.

Di masa lalu, tepatnya saat pada tahun 1998, Garuda Indonesia mengalami krisis hebat. Betapa tidak, ketika itu, nilai tukar rupiah meroket ke Rp15.000 per USD. Utang perseroan melonjak ke level US$1,2 miliar. Dalam posisi itu, Presiden Soeharto pun mengangkat Direktur Utama baru, Robby Djohan.

Sampai di sini, sebetulnya ada kesamaan dengan krisis Garuda Indonesia di era Irfan Setiaputra. Sama-sama memiliki utang segunung (Rp70 triliun atau sekitar US$4,5 miliar di era Irfan) dan bisnis airlines sedang tidak stabil akibat faktor eksternal.

Menariknya, kedua Dirut ini sebelumnya juga bukan dari insan penerbangan. Robby Djohan sebelumnya dikenal sebagai bankir dan Irfan Setiaputra sebagai profesional yang malang melitang sebagai pimpinan di beberapa BUMN dan swasta.

Lebih dari itu, ketika sudah resmi menjadi Dirut Garuda Indonesia, keduanya juga sama-sama berdalih memiliki pengalaman di industri penerbangan, setidaknya pengalaman sebagai penumpang.

Kembali ke Dirut Robby Johan, dalam menghadapi krisis Garuda Indonesia, setidaknya ada beberapa langkah yang dilakukan. Dalam buku Robby Djohan, ‘The Art of Turn Around – Kiat Restrukturisasi’, 2003, seperti dikutip dari politikus PSI, Andre Vincent Wenas, Robby Djohan disebut melakukan tiga langkah awal; cek laporan keuangan arus-kas, laporan neraca, dan laporan rugi-laba.

Setelahnya, ia melakukan tiga hal lain. Pertama, perbaiki cash-flow, dengan cara mengambil segala tindakan yang perlu demi menghentikan kerugian. Untuk itu mungkin perlu merestrukturisasi utang atau suntikan modal baru.

Kedua, identifikasi isu-isu pokok, misalnya: citra yang jelek, posisi keuangan yang insolvent, staf dan personalia yang demotivasi, segmen-segmen operasional yang tidak profitable, proses kerja yang tidak efisien dan efektif, faktor kompetisi, dan faktor eksternal lainnya. Adapun ketiga, tuntaskan tiga masalah operasional, seperti personalia, operasional, dan pemasaran.

Selama memimpin Garuda Indonesia, Direktur Utama Robby Djohan menghembuskan setidaknya delapan prinsip kerja, mulai dari misi dan budaya organisasi yang pragmatis sampai cepat dalam berinovasi dan menyesuaikan dengan keadaan.

Kendati hanya enam bulan menjabat, terhitung mulai Februari 1998 – Oktober 1998, Dirut Robby Djohan disebut berhasil mengeluarkan Garuda Indonesia dari krisis.

Baca juga: Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

Meski demikian, tetap saja, mustahil dalam tempo enam bulan semua masalah beres, apalagi utang mencapai US$1,2 miliar. Sudah pasti, yang dilakukan Robby Djohan hanyalah merestrukturisasi utang dan melobi kreditur agar tak mempailitkan perseroan, bukan melunasinya.

Faktanya, ketika Garuda Indonesia dipegang oleh Dirut Abdulgani sampai akhirnya dipegang Indra Setiawan pada Senin, 6 Mei 2002, utang flag carrier Indonesia itu berada di level US$1,1 miliar, selisih US$100 juta dengan utang di era Robby Djohan. Justru di era ‘anak emas’ Dirut Wiweko Supeno inilah Garuda Indonesia perlahan melunasi utang-utangnya.

FedEx Gandeng Nuro, Kirim Paket dengan Kendaraan Otonom

Nuro mengambil langkah penting menuju masa depan pengiriman otonom melalui kemitraan dengan beberapa nama besar. Salah satunya yakni dengan raksasa logistik FedEx yang berkomitmen untuk menggunakan kendaraan pengiriman otonom startup dalam jangka panjang dan skala yang besar.

Baca juga: Nuro, Mobil Otonom Pengantar Pizza Hadir Akhir Tahun di Houston

KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (15/6/2021), di mana FedEx juga sudah menggunakan pengiriman otonom. Ini terlihat pada tahun 2019, di mana mereka meluncurkan SameDay Bot yang adalah pod pengiriman baterai listrik prototipe yang meluncur di trotoar dan pinggir jalan untuk menyelesaikan pengiriman di hari yang sama.

Kemudian saat ini dengan Nuro, FedEx akan menugaskan kendaraan otonom dengan memiliki tanggung jawab yang sama. Kerja sama ini membuat Nuro menambahkan armada yang ada sebanyak 200 ribu kendaraan. Nantinya ini akan digunakan untuk pengiriman jarak jauh.

FedEx dan Nuro memulai pengujiannya di Houston, Amerika Serikat dan akan mulai memasukkan bot pengiriman Nuro dalam pengujian tersebut serta meningkatkannya. Selain itu juga menargetkan kasus penggunaan serta pasar tertentu.

Di luar itu, detailnya agak langka seputar kendaraan apa yang akan digunakan, dan kapan pelanggan FedEx mungkin mengharapkan pod Nuro untuk menjatuhkan paket di depan pintu. Nuro mengharapkan teknologinya untuk membuat operasi FedEx lebih efisien, namun, meningkatkan kapasitasnya dan membuka metode pengiriman baru.

Untuk diketahui, Nuro memulai uji cobanya pada pengiriman bahan makanan di Arizona dengan pengecer toko Krogen tahun 2018 lalu. Setelahnya juga, Nuro melakukan uji coba serupa dengan Domino, Walmart dan CVS.

Baca juga: Tidak Antar Penumpang, Moda Otonom Ini Ditugaskan Untuk Kirim Barang!

Dalam tonggak penting bagi industri, Nuro juga baru-baru ini mendapatkan pengecualian kendaraan otonom pertama dari Departemen Transportasi Amerika Serikat untuk pod R2-nya, yang mulai diuji di jalanan Houston tahun lalu.

Nuro merupakan Startup Silicon Valley, didirikan oleh veteran Google, telah menghasilkan $940 juta pada bulan Februari 2019.

Asli Sultan! Private Jet Bos Chelsea Dilengkapi Anti Rudal Setara Pesawat Kepresidenan AS

Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Ibrahimovic, Neymar, Paul Pogba, dan Gareth Bale boleh aja masuk dalam jajaran pesepak bola yang memiliki private jet termahal. Tetapi, bila di kategori umum, sudah pasti private jet mereka tak ada apa-apanya.

Baca juga: Enam Private Jet Termahal Milik Pesepak Bola Dunia, Nomor Satu Lekat dengan Aceh-Indonesia!

Pada umumnya, seluruh konglomerat di dunia yang hartanya triliunan sudah barang tentu mempunyai private jet.

Bill Gates, misalnya, punya empat pesawat jet pribadi berupa dua Gulfstream G650ER (menggantikan dua jet Bombardier 700 Global Express yang sudah tua), masing-masing bernilai hampir US$70 juta, dan dua Bombardier Challenger 350, bernilai US$ 27 juta per unit. Jeff Bezos, orang terkaya di dunia, punya beberapa private jet. Salah satunya Gulfstream G650.

Meski demikian, tak semua orang terkaya atau konglomerat di dunia punya private jet terbesar di dunia. Hanya ada segelintir orang, mulai dari private jet Boeing 747-8 VIP konglomerat Hong Kong Joseph Lau, private jet Boeing 747-400 Pangeran Al Waleed bin Talal, private jet Airbus A340 Alisher Usmanov, Boeing 767-300 Roman Abramovich, dan Boeing 767-200 rapper Kanada, Drake.

Selain dilengkapi rudal, interiornya juga didesain sangat mewah menghabiskan 66 juta Euro. Foto: The Sun

Di antara lima private jet terbesar di dunia, laporan Simple Flying, private jet Boeing 767-300 Roman Abramovich tentu yang paling menarik. Betapa tidak, pesawat dari bos klub Liga Inggris, Chelsea, itu bukan hanya mewah tetapi juga dilengkapi dengan sistem rudal anti-balistik yang sama dengan pesawat kepresidenan AS Air Force One.

Pesawat kepresidenan pemimpin dunia, termasuk AS, memang dilengkapi engan sistem pertahanan anti rudal atau biasa juga disebut CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System) untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS).

Sistem pertahan anti rudal ini akan sangat berguna ketika jet tempur pengawal Air Force One (biasanya berjumlah tiga-enam jet) berhasil dilumpuhkan. Namun, sistem anti rudal itu bukanlah opsi terakhir, pesawat masih dibekali dengan fitur escape pod atau kursi lontar. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas berapa jumlah kursi lontar yang tersedia.

Kembali ke private jet terbesar di dunia milik Roman Abramovich, konglomerat asal Rusia ini diketahui membeli Boeing 767-33AER yang dijuluki ‘The Bandit’ pada tahun 2004 lalu dari Hawaiian Airlines.

Baca juga: Dassault Falcon 20 – Sosok Jet Pribadi Unik di Halaman Depan Kantor GMF AeroAsia

Interiornya didesain sangat mewah. Banquet hall untuk menjamu para tamu kelas kakap yang menampung 30 orang terlihat sangat mewah dengan sentuhan furniture mahal. Pesawat juga dilengkapi dengan dapur, bar, tempat tidur, ruang hiburan, sampai kamar mandi mewah berlapiskan emas.

Saat salah satu private jet terbesar di dunia ini tidak digunakan untuk transportasi pribadinya, Roman Abramovich dengan kerendahan hati meminjamkannya kepada para pemain Chelsea FC. Dia bahkan diketahui menerbangkan calon pemain anyar Chelsea atau yang mewakilinya ke London untuk negosiasi kontrak dengan pesawat tersebut.

JR West Kembangkan Tongkat ‘Pencengkeram’ Pengambil Barang Jatuh di Rel Kereta

Begitu banyak barang penumpang yang jatuh di rel peron membuat perusahaan kereta api Jepang menciptakan tongkat pencengkeram serbaguna. Tongkat tersebut akan digunakan untuk mengambil barang milik penumpang yang terjatuh di rel saat menunggu kereta.

Baca juga: Panasonic Ciptakan ‘Vacuum Cleaner’ untuk Sedot AirPods yang Jatuh di Rel

West Japan Railway Company atau JR West yang mengembangkan dan memperkenalkan model baru tongkat pencengkeram yang bisa mengambil barang dengan cepat. Tongkat ini dilengkapi dengan bantalan lengket dan magnet yang menempel di salah satu ujungnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (6/6/2021), tongkat ini, nantinya memudahkan petugas untuk mengambil barang termasuk barang kecil seperti earbud nirkabel yang sulit diambil ketika jatuh di rel. Salah seorang juru bicara jR West mengatakan, bahwa petugas bisa mengambil barang terjatuh di rel dengan tongkat tersebut dalam waktu satu menit.

Dia menambahkan, dengan kecepatan tersebut diharapkan tidak mengganggu jadwal perjalanan kereta yang ada. Juru bicara tersebut mengatakan, tongkat ini adalah versi terbaru yang terbuat dari serat kaca dan panjangnya sekitar 2,4 meter saat diregangkan dan beratnya sekitar 860 gram.

Selain cakar mekanis konvensional, dua bantalan lengket untuk mengambil benda tipis seperti kartu IC dan ponsel cerdas, magnet untuk mengambil earbud nirkabel, pengait untuk mengambil tas dan sepatu hak tinggi dan lampu untuk digunakan di malam hari telah hadir baru. Di balik perkembangannya adalah semakin luasnya jangkauan objek yang secara tidak sengaja dijatuhkan orang di atas rel.

Earbud nirkabel, yang berbentuk seperti penyumbat telinga, sangat mudah dijatuhkan, dan sulit untuk diangkat jika jatuh di antara batu yang hancur di rel. Karena harganya mahal, dengan beberapa di antaranya dihargai dalam kisaran puluhan ribu yen (ratusan dolar), penumpang telah membuat lebih banyak permintaan untuk mengambilnya.

Untuk diketahui ada sebanyak 1.323 kasus earbud terjatuh di rel selama April tahun ini dan menjadi rekor tertinggi. Seorang perwakilan di kantor pusat kereta api JR West mengatakan, karena waktu pekerjaan pengambilan disesuaikan dengan pusat komando operasi, hampir tidak mempengaruhi jadwal kereta api.

Meski begitu, ada seruan keras di lapangan untuk mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah barang yang jatuh di rel. Departemen operasi stasiun JR West dan lainnya memulai penelitian bersama dengan produsen untuk mengembangkan versi terbaru perangkat, dan membuat prototipe pada November 2019.

Setelah memverifikasi gaya magnet sehingga magnet tidak tertarik ke rel atau gerbong kereta, mereka meluncurkan penggunaan perangkat skala penuh pada Mei tahun ini di total 109 stasiun termasuk Osaka dan Tennoji.

Baca juga: Demi Ambil Barang Jatuh, Wanita Ini Nekat Turun ke Rel Lewat Celah Antara Kereta dan Peron

“Kami telah berhasil membuat alat temu kembali yang belum pernah ada sebelumnya. Jika Anda menjatuhkan sesuatu, jangan pernah turun ke rel; sebaliknya, hubungi staf stasiun terdekat,” kata seorang perwakilan di departemen operasi stasiun.

Mulai 2029, Korea Selatan Hapuskan Operasional Semua Kereta Diesel

Untuk mengurangi emisi karbon, banyak negara yang kini mulai menggunakan kendaraan listrik atau energi terbarukan untuk moda transportasi massal mereka. Bahkan Korea Selatan pada tahun 2029 mendatang berencana menghapus semua kereta berbahan diesel untuk mengurangi emisi karbon sekitar 30 persen di sektor kereta api nasional.

Baca juga: Ini Jalur Metro dan Kereta Bawah Tanah Terpanjang di Dunia, Korea Selatan Diurutan Pertama

Rencana ini diumumkan oleh Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan mengatakan akan mengganti kereta diesel dengan armada kereta berkecepatan tinggi EMU-250 yang melaju pada kecepatan 260 km perjam yang dibangun Hyundai Rotem. EMU berkecepatan tinggi ini ditetapakn sebagai KTX-Eum (KTX-Connect) oleh operator Korail.

Karena hal ini didasarkan pada HEMU-430X dengan prototipe yang mampu melaju pada kecepatan 430 km per jam. KabarPenumpang.com melansir railjournal.com (22/1/2021), armada lima EMU-250 enam gerbong mulai beroperasi di jalur Seoul – Gyeongju Jungang pada 5 Januari.

Kereta dipasok di bawah kontrak 216 juta won (US$196,4 juta) untuk 84 set EMU-250 yang diberikan kepada Hyundai Rotem pada bulan Desember 2016. Set yang tersisa akan digunakan untuk mengoperasikan layanan di jalur Center Island dan Seohae. Kontrak 102 miliar Won terpisah yang diberikan pada Mei 2016 untuk 30 set untuk beroperasi di jalur Gyeongjeon juga saat ini sedang dieksekusi.

“Kami akan mengganti semua kereta penumpang diesel dengan KTX-Eum pada tahun 2029 dan membangun transportasi kereta api ramah lingkungan secara nasional. Dengan melakukan itu, kami akan mengurangi 70 ribu ton emisi gas rumah kaca, yang setara dengan menanam sepuluh juta pohon pinus, dan memajukan masyarakat netral karbon,” kata Moon.

Selain bagian jalur Jungang yang baru dibuka dari Wonju ke Jecheon, Korail dan Korea Rail Network Authority (KRNA) terus menggemparkan bagian jaringan. Ini termasuk sebagian besar Jalur Donghae di pantai timur, yang akan selesai pada 2022, dan sebagian Jalur Gyeongjeon antara Gwangyang dan Jinju, yang juga akan siap pada 2022.

Kereta bertenaga hidrogen juga tampak sebagai alternatif masa depan untuk diesel. Korean Rail Research Institute (KRRI) dan Hyundai telah sepakat untuk bertukar teknologi sementara KRRI bekerja pada sistem propulsi kereta hidrogen yang dapat berjalan hingga 600 km dengan sekali pengisian daya dengan kecepatan maksimum 110 km per jam.

Kereta tersebut diperkirakan akan digunakan di jalur antara Gangneung dan Jejin di perbatasan dengan Korea Utara. Hyundai Rotem dan kota Ulsan juga telah menandatangani MoU untuk memproduksi dan menguji LRV bertenaga hidrogen pada jalur percobaan di area pelabuhan Ulsan.

Pada Desember 2020, Hyundai Rotem juga membuka fasilitas ekstraksi hidrogen skala penuh di kota Uiwang untuk mempercepat pengembangan infrastruktur ekonomi hidrogennya. Pabrikan mengatakan bahwa mereka akan melokalisasi produksi suku cadang, termasuk agen katalitik, pada Maret tahun depan. Pemerintah Korea mengumumkan peluncuran enam tahun, Won 114 triliun Green New Deal pada 14 Juli 2020.

Baca juga: Tahun 2030, Qatar Siap Terapkan Transportasi Nol Emisi

Rencana investasi ini dimaksudkan untuk mengekang ketergantungan negara pada bahan bakar fosil dan mendukung pemulihan ekonomi pasca-Covid. Saat ini, batu bara merupakan 40 persen dari bauran listrik Korea, sementara energi terbarukan menyumbang kurang dari enam persen. Namun, negara ini sekarang bertujuan untuk sepenuhnya netral karbon pada tahun 2050.

Integrated Transport Hub Hadirkan Kenyamanan Bagi Warga Woodlands Singapura

Woodlands Integrated Transport Hub (ITH) mulai dibuka pada Minggu (13/6/2021), yang mana kehadirannya bisa membuat perjalanan lebih lancar dan nyaman bagi warga di Woodlands, Singapura. ITH sendiri adalah persimpangan bus dengan pendingin udara yang terhubung ke stasiun MRT dan pusat perbelanjaan terdekat.

Baca juga: Terkait Pandemi, Singapura Hadirkan Aturan yang Bikin Bingung, Cek ini Biar Paham

Selain itu juga menghubungkan persimpangan bus baru di bawah pusat perbelanjaan Causwey Point dan Stasiun Wodlands yang melayani jalur utara ke selatan serta jalur pantai timur ke Thomson. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (13/6/2021), persimpangan bus menggantikan Persimpangan Bus Sementara Woodlands terbuka, yang telah beroperasi sejak 2016.

Seorang ibu rumah tangga, Cheryl Sim mengatakan, menghargai kehadiran IHT karena memberikan kenyamanan yang lebih besar dari tempat berteduh biasa dan pendingin udara lebih baik. Tak hanya itu, kehadiran IHT juga membantu para pengguna transportasi serta pengunjung pusat perbelanjaan terhindar dari cuaca panas maupun hujan.

“Saya cukup senang dengan simpang susun baru karena memiliki AC dan pencahayaan yang baik, sehingga terasa lebih nyaman dan semarak. Persimpangan bus lama agak panas dan gelap,” kata wanita 42 tahun tersebut.

Tak hanya itu, sebanyak 25 dari 29 layanan bus yang beroperasi di persimpangan sementara telah pindah ke ITH, empat layanan bus yakni 925/925M, 950, 961/961M dan 965 yang akan terus berjalan di persimpangan sementara dan berada di samping ITH.

Otoritas Transportasi Darat (LTA) mngatakan, untuk membantu penumpang di kursi roda dan orang tua dengan kereta bayi, persimpangan bus baru memiliki area naik dan turun bebas hambatan serta tepi trotoar bertingkat. Untuk meningkatkan keselamatan, persimpangan bus juga dilengkapi dengan sistem peringatan mundur dengan lampu berkedip untuk memperingatkan kapten bus ketika bus lain mundur di dalam area parkir.

LTA menambahkan bahwa selain fasilitas penumpang, ITH juga dilengkapi dengan fasilitas yang ditingkatkan untuk pekerja transportasi, seperti kantin staf ber-AC, toilet staf khusus, ruang pembersih, dan ruang staf. Melvin Yong, MP untuk Radin Mas dan sekretaris eksekutif Serikat Pekerja Transportasi Nasional (NTWU), mengatakan dalam sebuah posting Facebook pada hari Minggu bahwa sementara kantin terbuka hanya untuk pekerja angkutan umum yang bertugas untuk makan untuk saat ini, itu dapat menampung hingga 30 pelanggan ketika langkah-langkah manajemen aman Covid-19 dilonggarkan.

Baca juga: 20 Unit Bus SMRT Singapura Dikonversi Jadi Ambulans

Dioperasikan oleh SMRT, Woodlands ITH adalah hub ke-11 di Singapura. Dengan luas 41.500 meter persegi, itu juga yang terbesar sejauh ini. Sedangkan sepuluh ITH lainnya berada di Ang Mo Kio, Bedok, Boon Lay, Clementi, Joo Koon, Sengkang, Serangoon, Toa Payoh, Bukit Panjang dan Yishun.