Dembell Motorhome, Desain ‘Kapal Pesiar’ dengan Sasis Mercedes Tiga Gandar

Dembell, perusahaan karoseri mewah asal Jerman memiliki cita-cita untuk membuat kapal pesiar darat paling mewah yang pernah ada di dunia. Dengan basis Mercedes tiga gandar (sumbu roda) yang membentang, interior yang diperluas tiga kali lipat, interior yacht, eksterior yang terinspirasi motorsport dan suite mengesankan, Dembel bahkan dapat mengklaim jajaran “land superyacht” pertama di dunia.

Baca juga: Ada Sentuhan Mobil Mewah Honda, Ini Sederet Fitur Baru All-New HondaJet Elite S

Tidak puas hanya menggunakan moniker “kapal pesiar darat” sebagai istilah pemasaran, tim manajemen Dembell mengejar definisi yang lebih murni, meninggalkan janji interiornya di tangan perusahaan desain Italia dengan pengalaman menghidupkan ruang interior kapal pesiar Azimut. Hasil awal tampak mengesankan, bahkan untuk “uang bukan objek” akhir dari pasar motorhome.

Interior motorhome. Foto: Dembell

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (18/8/2021), kamar individu Dembell tersebar di balik pintu kaca semi-transparan, lantai kayu keras berpadu rapi dengan dinding yang serasi. Kamar utama, yang melampaui lebar “balok penuh” dengan bantuan modul ekspansi geser, harus membuat orang yang tertidur di tempat tidur berukuran 79 x 79 inci (200 x 200 cm) melupakan daun yang berhembus, tidak memukul ombak, menunggu di luar kaca jendela berpemanas.

Pilihan furnitur dan dekorasi yang menarik termasuk kursi makan lipat bergaya sutradara, sconce dinding, toilet keramik dan wastafel, pencahayaan ambient, trim kamar mandi batu dan pelapis sofa kulit. Lantai Dembel berjalan datar dan tanpa langkah dari depan ke belakang, memberikan ketinggian berdiri lebih dari dua meter di seluruh denah lantai. Di depan, motorhome mengakomodasi pengemudi dan tiga penumpang di kursi kapten ber-AC dengan suspensi pegas dan fungsi pijat.

Di atas, tempat tidur queen lift-away berukuran 63 x 79-in (160 x 200-cm) menyediakan ruang bagi anak-anak atau tamu untuk bergabung dengan pemiliknya untuk bermalam. Di bagian belakang, Dembel menawarkan dua atau tiga slide-out ekspansi untuk menambah ruang lantai interior. Slide-out memperluas ruang tamu tepat di belakang kabin pengemudi, dapur di seberang lorong dan kamar utama belakang.

Miele menyediakan kompor induksi, oven, kulkas 224-L, mesin cuci piring dan microwave untuk dapur, sementara Bose menangani suara surround di ruang tamu. Kombinasi mesin cuci/pengering juga disertakan, dan TV berukuran 50 hingga 55 inci dipasang rapi di ruang tamu dan dinding kamar tidur utama.

Tiga opsi garasi yang tersedia mencakup spektrum dari sepeda dan skuter hingga sport coupe dengan panjang hingga 450 cm, termasuk Ferrari California yang berfungsi sebagai coupe contoh Dembel. Itu bukan pilihan yang mengesankan karena Porsche 911 GT2 RS Volkner memutuskan untuk membawa di tengah kapal motor Performance S-nya beberapa tahun yang lalu, tapi itu bukan cara yang buruk untuk turun dan menjelajahi jalan pegunungan yang sempit dan berliku di sekitar base camp.

Dembell Motorhome mendukung penghuni selama perjalanan panjang dengan panel surya yang dipasang di atap, generator onboard, dan tangki air tawar 1.000 L. Kombinasi panas di bawah lantai dan radiator membuat segala sesuatunya tetap hangat dalam cuaca yang cerah. Di luar, tenda berukuran 6,3 x 3,5 meter dengan sensor angin menyediakan naungan untuk bersantap di luar ruangan.

Dembelll terinspirasi oleh motorhomes hari balapan dan akar itu bersinar melalui gaya eksterior. “Sporty” mungkin berlebihan ketika datang ke kotak RV yang lebar, tetapi Dembel meningkatkan tampilan monoton dari bodi motor Mercedes Actros yang ditanam dengan garis balap merah yang menggarisbawahi garis jendela berwarna penuh.

Baca juga: Habiskan Rp10 Juta, Pria Asal Malaysia Ubah Daihatsu Hijet S85 Jadi Campervan

Dembell menunjukkan motorhome-nya pada pertemuan kecil bergaya VIP awal tahun ini dan merencanakan pertunjukan publik yang lebih besar di Düsseldorf Caravan Salon tahun ini. Kami akan melihat untuk mendapatkan detail lebih lanjut, termasuk harga, setelah pertunjukan dibuka pada 27 Agustus. Dembel muncul dengan posisi yang cukup baik untuk pengakuan “motorhome paling mahal dari pertunjukan”.






















Tail Table Mudahkan Rehat Sejenak Menikmati Cemilan Saat Berkendara

Ketika bepergian dengan mobil dan perlu rehat untuk menikmati cemilan atau piknik, biasanya sulit untuk menempatkan makanan bila tidak ada meja kecil. Sehingga terkadang diletakkan di jok mobil atau membuka bagasi belakang mobil sambil duduk bersantai. Untuk memudahkan ini, ada solusi yang dihadirkan oleh Colorado’s Space Innovation Labs.

Baca juga: Mudahkan Pelancong, Kotak Camper Modular Bisa Jadi Basecamp Indoor dan Outdoor

KabarPenumpang.com melansir dari newatlas.com (18/8/2021), solusi tersebut adalah Tail Table yang memberikan kenyamanan dan cerdiknya lagi menempel pada bagasi sebagain besar kendaraan. Tail Table ini pun mudah digunakan dan bisa menampung banyak ruang untuk makanan dan minuman. Meja ini sendiri dirancang bekerja dengan mobil apa pun yang menggunakan kait berbentuk U atau I untuk mengamankan bagasinya.

Di mana ini bisa dikunci dengan kait dan ada kaki kecil yang bertumpu di bumper belakang untuk menopang meja ini. Uniknya lagi, kaki Tail Table bisa disesuaikan, sehingga meski tanah tidak rata dan bahan yang digunakan adalah nilon. Meski ringan Tail Table mampu menopang beban lebih dari 90 kg di bagian dasar dan 11 kg di tepi jauh.

Meja utama menawarkan ruang kira-kira 24 x 10 inci (60 x 25 cm), tetapi sebuah baki meluncur keluar dari bawah dan menggunakan sayap lipat untuk memperluasnya ke area seluas 48 x 30 inci (122 x 76 cm) saat sepenuhnya diperpanjang. Meja memiliki ketebalan 3 inci (7,6 cm), dan di sekeliling tepinya terukir enam tempat untuk gelas anggur bertangkai.

Meja ini dilengkapi dengan alas penyiapan makanan yang dapat diganti dan aman untuk mesin pencuci piring dan talenan, lengkap dengan saluran untuk mengalirkan cairan apa pun dan mencegahnya tumpah ke interior kendaraan Anda. Dan saat tidak digunakan, Tail Table yang dilipat dapat dimasukkan ke dalam tas khusus yang diikat ke bagian belakang kursi untuk perjalanan yang aman dan hemat tempat.

Baca juga: Butuh Kabin Mobil Tambahan untuk Piknik? Kabin Pop-Up CARSULE Mungkin Bisa Jadi Solusi

Space Innovation Labs mengatakan Tail Table akan bekerja dengan 95 persen mobil, SUV, van, atau kendaraan apa pun dengan kait berbentuk I atau U yang diperlukan. Meja itu sendiri saat ini siap dijual dengan harga US$170, sementara tambahan $50 akan mendapatkan paket deluxe, yang mencakup anggur plastik dan gelas tumbler, kantong penyimpanan untuk peralatan dan peralatan makan, dan tali untuk membawa piring. Pengiriman dijadwalkan untuk musim gugur AS.

Teknologi Aircraft Towing System Janjikan Penghematan Bahan Bakar dan Tekan Emisi C02!

Teknologi aircraft towing disebut sangat sejalan dengan upaya mengurangi emisi karbon dioksida (C02) sekaligus menghemat bahan bakar pesawat sebelum lepas landas.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Di dunia, teknologi yang juga disebut towbarless tug ataupun towbarless aircraft tug tersebut teknisnya sangat beragam. Ada yang berupa TaxiBot atau towbarless tug semi-robotic yang dioperasikan di Bandara Internasional Indira Gandhi (Delhi). Ada pula bentuk lain, seperti yang tengah dikembangkan oleh ATS World Wide.

Dilansir dari New Atlas, perusahaan yang berbasis di Oklahoma, Amerika Serikat (AS) itu diketahui sedang mengembangkan Aircraft Towing System (ATS). Teknologi aircraft towing ini dinilai lebih efektif dan efisien ketimbang towbarless tug semi-robotic yang digunakan di India ataupun WheelTug.

Sebab, ATS sudah dirancang sedemikian rupa membentuk berbagai jalur yang saling terhubung hingga membentuk sejenis sirkuit.

Teknisnya, sistem ini tertanam di bawah permukaan aspal runway sampai ke bawah permukaan apron. Kemudian, pesawat akan ditarik oleh pullcar dengan sistem monorail usai mendarat dan berhenti di titik yang sudah ditentukan. Ban atau roda depan pesawat yang sudah dikunci menggunakan wheel chocks lalu ditarik terus sampai ke apron.

Bila pesawat ingin kembali digunakan, pullcar tadi akan menuntun pesawat sampai ke runway untuk lepas landas.

Seluruh sistem dijalankan secara terkomputeriasi atau otomatis. Sehingga pilot tidak perlu mengarahkan pesawat. Tak hanya itu, staf ATC juga tidak berlu berkomunikasi dengan pilot untuk memberitahu lokasi runway untuk lepas landas. Cukup atur di sistem dan pullcar akan mengangkat dan mengunci roda depan menggunakan wheel chocks untuk dibawa ke runway yang sudah ditentukan.

Hasil penelitian dari para peneliti di Oklahoma State University, ATS dapat meningkatkan throughput pesawat di bandara hingga 30 persen.

“Saat ini ketika sebuah pesawat mendarat, biasanya akan dihandle oleh sekitar empat orang yang berbeda mulai dari landing dan sampai ke apron,” kata CEO ATS World Wide, Vince Howie.

“Dan 80 persen dalam proses itu, pilot mengemudikan pesawatnya sendiri, tanpa arah. Kami akan menggunakan sistem itu, dan sepenuhnya mengotomatisasi dan mengoptimalkannya,” jelasnya.

Mengingat sistemnya modular, bandara dengan anggaran kecil tentu tidak sanggup membiayai sistem untuk pushback saat ingin lepas landas dan menarik pesawat sampai ke gate sehabis mendarat, mengingat biayanya bisa mencapai US$150 juta atau sekitar Rp2,1 triliun (kurs 14.402). Tetapi, mereka bisa memilih salah satunya.

Menurut perusahaan, bandara kecil dengan anggaran terbatas baiknya menggunakan sistem pushback aircraft towing system, membantu pesawat melakukan pushback dan menariknya sampai ke runway. Sistem ini dalam waktu dekat akan mulai beroperasi di Bandara Ardmore Municipal Oklahoma, AS.

Baca juga: Pertama di Dunia, Bandara Delhi Catat 1.000 Pergerakan TaxiBot! Hemat 214 Ribu Liter Avtur

Meski mahal, Howie menjamin bahwa investasi sebesar itu (Rp2,1 triliun untuk paket lengkap aircraft towing system) akan kembali dalam tempo dua tahun. Itu dihasilkan dari penghematan biaya bahan bakar penerbangan selama taxiing menuju runway ataupun menuju apron usai mendarat.

“Delapan puluh persen armada komersial adalah 737 atau A320. Mereka membakar sekitar sembilan galon bahan bakar per menit selama taxiing. Waktu taxiing rata-rata di AS adalah antara 16 dan 27 menit. Di bandara besar, Anda akan memiliki lebih dari 800.000 pergerakan per tahun. Jadi jika Anda mengambil sembilan galon bahan bakar itu, dikali 16 menit, dikali 800.000, dikali berapa pun harga bahan bakar hari itu, itu berubah menjadi uang sungguhan dengan sangat cepat,” tutupnya.

Wolf’s Fang Punya Banyak Hal di Antartika dari Camp, Runway Hingga Energi Terbarukan

Setelah sebelumnya telah membahas sedikit tentang Wolf’s Fang yang membangun berbagai pengalaman yang emudahkan pelancong di Benua Antartika. Sekarang saatnya membahas tuntas apa yang dimiliki Wolf’s Fang di Kutub Selatan tersebut.

Baca juga: Wolf’s Fang Camp – Penginapan di Lingkungan Ekstrem Kutub Selatan

Penasaran apa yang dibuat Wolf’s Fang untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan pelancong di selatan bumi? KabarPenumpang.com merangkum dari white-desert.com, Wolf’s Fang memiliki landasan pacu sepanjang 2500 meter dan lebar 60 meter dengan stopway 500 meter. Landasasn pacu di Benua Antartika ini memiliki kemiringan longitudinal secara keseluruhan 0,3 persen naik ke Selatan.

Destinasi, transportasi dan akomodasi di Benua Antartika. Foto: White Desert

Untuk bahan bakar pesawat pihak Wolf’s Fang dibantu kapal sains Afrika Selatan yang dikirim ke tepi Antartika. Yang kemudian tim penyeberangan memulai perjalanan sejauh 800 km melintasi lapisan es Fimbul ke Wolf’s Fang Runway. Tak hanya itu, Wolf’s Fang memiliki camp atau tempat kemping yang berlokasi unik dan dirancang agar mudah dibongkas serta dipindahkan.

Bahkan camp ini ketika dibongkar tidak meninggalkan jejak dan lingkungan terlihat asli karena tidak ada bekasnya. Pelancong yang berada di Antartika bisa memilih menginap yang bisa menghadap ke danau air tawar atau yang terletak di beberapa pegunungan paling dramatis di Bumi. Wolf’s Fang menyadari mereka beroperasi di hutan belantara yang masih asli dan terus berupaya meminimalkan jejaknya.

Wolf’s Fang menghadirkan tempat dan mengurangi limbah plastik sekali pakai dan limbah lainnya dikirim ke Afrika Selatan untuk didaur ulang atau dibuang secara bertanggung jawab. Bahkan para pelancong yang menginap di penginapan menggunakan sabun, deterjen dan bahan pembersih dibuat alamai agar dapat terurai secara hayati.

Meski berada di bagian selatan Bumi, semua hal yang ada di Benua Antartika yang dibuat Wolf’s Fang menggunakan energi terbarukan. Mereka bermitra dengan Arctica Solar yang berbasis di California dan menggunakan pemanas tenaga surya untuk menghangatkan pod. Selain itu, teknologi mutakhir tersebut memungkinkan Wolf’s Fang meminimalkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Baca juga: Perkuat Ekspansi, Cina Siap Bangun Bandara Permanen di Antartika

Inti dari misi Wolf’s Fang adalah keinginan untuk menciptakan dampak positif pada masa depan Antartika melalui program pariwisata dan logistik sainsnya. White Desert memasok dukungan logistik untuk program sains internasional di pangkalan mereka di Antartika. Berbagi pesawat mereka dengan ilmuwan dan pengunjung, membantu mengantarkan ilmuwan ke basis penelitian mereka secara lebih efisien, sehingga mengurangi dampak lingkungan.

Saat Bandara Kabul Chaos, Tim CCT AS Pegang Kendali Penuh untuk Layani Penerbangan Darurat

Amerika Serikat (AS) melalui Tim Kontrol Tempur Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF CCT/Combat Control Team) mengambil alih operasi Bandara Kabul sejak Taliban mulai menduduki istana kepresidenan Afghanistan pada 15 Agustus lalu.

Baca juga: Taliban Kuasai Kabul, Kemenlu Pastikan 26 WNI Sudah Dievakuasi Pakai Pesawat TNI AU

Meski berstatus sebagai bandara internasional atau bandara sipil, dalam keadaan darurat, militer memang memiliki wewenang untuk itu.

Mereka juga didukung kesiapan mental dan pengetahuan dalam kontrol lalu lintas udara, seperti mengatur lalu lintas penerbangan, pemantauan cuaca, komunikasi darat-udara dan sebaliknya, petugas pemadam kebakaran, kesehatan, dan lain sebagainya.

Dihimpun dari berbagai sumber, CCT sendiri biasanya tak sendiri dalam mengontrol lalu lintas udara. Disebutkan, ia bahu-membahu bersama Special Tactics Squadrons dan Special Tactics Team, Special Operations Reconnaissance, dan Tactical Air Control Party (TACP) operators.

CCT juga bagian integral dari Komando Operasi Khusus Angkatan Udara (AFSOC) komponen Angkatan Udara Amerika Serikat Komando Operasi Khusus (USSOCOM), dan Komando Operasi Khusus Gabungan (JSOC).

Meski tugasnya berkenaan dengan kebandarudaraan dan kedirgantaraan, tetapi, CCT juga dibekali dengan kemampuan survival lainnya, seperti berenang untuk operasi maritim, terjun payung, terjun bebas, dan banyak lainnya.

Terkait kemampuan kontrol lalu lintas udaranya, kru dari CCT juga wajib mendapat sertifikat air traffic controller dari Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA).

Selain AS, militer negara lain juga memiliki tim serupa; termasuk Indonesia lewat Tim Pengendali Pangkalan (Dallan) yang tergabung di Korps Paskhas TNI AU.

Dikutip dari tni-au.mil.id, tim ini memiliki peran penting dalam mendukung operasi udara yaitu bertugas untuk mengoperasikan kembali pangkalan udara yang telah berhasil direbut dari tangan musuh untuk digunakan sebagai pangkalan udara depan di mandala operasi.

Lebih lanjut, Komandan Wing III Paskhas Koloenle Psk, Yudi Bustami, menjelaskan, memfungsikan kembali pangkalan udara depan yang berhasil direbut dari tangan musuh dan atau daerah lain untuk difungsikan menjadi pangkalan udara depan dalam dukungan operasi lanjutan.

Baca juga: Bandara Kabul ‘Dihantui’ Pesawat Mata-mata AS RC-135W Rivet Joint, Pertanda Apa?

Selain itu, tim Dallan juga harus mampu melaksanakan gelar fasilitas penerbangan dengan kemampuan awal dari alpal yang dibawa maupun pemanfaatan fasilitas dan instalasi dukungan operasi penerbangan yang ditinggalkan musuh.

Mengingat banyaknya kemampuan yang harus dimiliki prajurit Dallan, materi yang diberikan selama pelatihan pun juga cukup banyak, mencakup teori dan praktek Konsep Operasi 3U, Organisasi Operasi Dahlan, Konsep Dasar Operasi Dahlan, Penerapan Operas Dahlan. PLLU, Meteo, DAAU, Bamin, Komlek, Pemadam Kebakaran, Kesehatan Lapangan, serta GSE.

“Sea Change” – Kapal Ferry Bertenaga Hidrogen Pertama yang Meluncur di Amerika Serikat

Sea Change setinggi 21,36 meter merupakan kapal ferry penggerak listrik bertenaga sel bahan bakar hidrogen. Kapal ferry ini mampu mengangkut penumpang sebanyak 75 orang yang akan beroperasi di San Francisco. Sea Change sendiri baru saja diluncurkan dan menjadi kapal sel berbahan bakar hidrogen pertama yang dibangun serta dioperasikan di Amerika Serikat.

Baca juga: Australia Bangun Kapal Ferry Berbahan Bakar Hidrogen Untuk Kurangi Emisi

Kapal ferry tersebut merupakan desain dari Incat Crowther dan dibangun oleh All American Marine sebagai prototipe yang juga dapat digunakan untuk mengembangkan kapal hidrogen di AS. Sea Change dibangun untuk menunjukkan jalur komersialisasi pada teknologi kelautan sel bahan bakar hidrogen tanpa emisi.

Saat ini, kapal tersebut masih dalam proses perizinan untuk sistem bahan bakar hidrogen kapal maritim dengan Penjaga Pantai AS. Untuk pengawasan dan manajemen konstruksi dipimpin oleh Hornblower Group sementara kapal akan dimiliki oleh SWITCH Maritime, yang merupakan platform investasi swasta yang membangun armada kapal maritim nol-karbon untuk mempercepat dekarbonisasi dan transisi energi sektor maritim AS.

“Dengan bekerja sama dengan Penjaga Pantai AS, dengan mitra teknologi inovatif, dan dengan galangan kapal terbaik di kelasnya seperti All American Marine, kami dapat membuat transisi ke pengiriman dekarbonisasi menjadi kenyataan hari ini,” kata Pace Ralli, Co-Founder dan CEO SWITCH yang dikutip KabarPenumpang.com dari maritime-executive.com (18/8/2021).

Perusahaan berusaha untuk bekerja dengan pemilik dan operator ferry yang ada di seluruh negeri untuk membantu memfasilitasi adopsi kapal nol-karbon mereka. Kapal ini dilengkapi dengan paket daya sel bahan bakar hidrogen yang disediakan oleh Zero Emissions Industries, terdiri dari 360 kW sel bahan bakar Cummins dan tangki penyimpanan hidrogen Hexagon dengan kapasitas 246 kg.

Sistem ini terintegrasi dengan baterai lithium-ion 100 kWh yang disediakan oleh XALT dan sistem propulsi listrik 2x 300 kW yang disediakan oleh BAE Systems. Menurut perusahaan, sistem powertrain sel bahan bakar hidrogen akan memberikan fleksibilitas operasional yang sama seperti diesel dengan nol emisi dan perawatan yang lebih sedikit. Dibangun dari aluminium kelas laut, katamaran Incat dirancang untuk kecepatan tertinggi 22 knot.

“Teknologi sel bahan bakar hidrogen akan terbukti menjadi alternatif yang kuat untuk teknologi powertrain konvensional,” kata Ron Wille, Presiden & COO AAM.

Proyek ini menerima dukungan kota termasuk hibah $3 juta dari California Air Resources Board (CARB), yang dikelola oleh Bay Area Air Quality Management District (BAAQMD). Selain itu, proyek ini menerima jaminan pinjaman pertama di bawah program Climate Tech Finance BAAQMD, yang mengembangkan konstruksi senilai $5 juta dan pinjaman berjangka yang membiayai pembangunan tersebut.

Baca juga: HYBRIDShip Bangun Kapal Ferry Tanpa Emisi

Untuk diketahui, uji coba operasional Sea Change saat ini sedang berlangsung. Diperkirakan akan mulai beroperasi di Teluk San Francisco pada kuartal ketiga tahun 2021.

Gegara Tak Pakai Masker, Pria Inggris Dipenjara Enam Minggu di Singapura

Setiap negara di dunia, saat ini mewajibkan penduduk maupun pelancong yang tiba dan berwisata untuk menggunakan masker dan mematuhi protokol kesehatan yang ada. Namun bagaimana jika ada yang melanggar? Biasanya setiap negara memiliki sanksi masing-masing bagi pelanggar protokol kesehatan yang sudah ditentukan.

Baca juga: Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Seperti di Singapura yang baru-baru ini pengadilan menghukum seorang pria asal Inggris dipenjara selama enam Minggu. Pria tersebut dihukum karena berulang kali melanggar protokol kesehatan yakni dengan menolak menggenakan masker ketika di depan umum.

KabarPenumpang.com melansir cnn.com (18/8/2021), pria bernama Benjamin Glynn itu bersalah atas empat tuduhan pada masalah menggunakan masker di kereta pada Mei kemarin. Kemudian kehadirannya di pengadilan pada bulan Juli serta menyebabkan gangguan publik dan menggunakan kata-kata ancaman kepada pegawai negeri.

Pria 40 tahun tersebut, sebelumnya sudah menjalani penilaian psikiatri yang diperintahkan oleh hakim sebagai akibat dari perilaku dan pernyataannya di pengadilan. Kemudian pada Rabu (18/8/2021), Glyyn meminta pengadilan untuk membatalkan apa yang dia sebut tuduhan melanggar hukum dan meminta paspornya dikembalikan sehingga bisa kembali ke Inggris berkumpul dengan keluarganya.

Hakim mengatakan kepada Glyyn bahwa dia benar-benar salah arah dalam keyakinan dirinya dibebaskan dari undang-undang Singapura tentang menggenakan masker. Glyyn diketahui mewakili dirinya sendiri di pengadilan dan panggilan.

Singapura saat ini terkenal dengan penegakan aturan yang ketat dan telah memenjarakan serta mendenda orang lain karena melanggar peraturan Covid-19. Bahkan beberapa pekerja asing telah dicabut izin kerjanya karena melanggar peraturan.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Hingga kini, Negeri Singa itu telah mengendalikan wabah Covid-19, sebagian besar karena penegakan atau tindakan yang ketat. Pada bulan Februari lalu, pengadilan Singapura menghukum seorang pria Inggris dua Minggu penjara setelah dia menyelinap keluar dari kamar hotel untuk bertemu tunangannya saat dikarantina.

Deja Vu Kekacauan Akibat Perang Vietnam di Bandara Kabul

Kejatuhan Kota Kabul hingga mendorong warga untuk berbondong-bondong menyelamatkan diri dengan cara menaiki pesawat evakuasi, rupanya sangat mirip dengan peristiwa Perang Vietnam. Bisa dibilang kekacauan di Bandara Kabul merupakan Deja Vu (pengulangan) dari kekacauan di beberapa bandara di Vietnam Selatan (yang didukung AS).

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Bedanya, bila warga Vietnam yang enggan dipimpin pemerintahan Komunis (Vietnam Utara) yang memenangi Perang Vietnam 1975 silam, berebut masuk pesawat sipil, warga Afghanistan yang takut dipimpin Taliban berebut masuk pesawat militer Boeing C-17 Globemaster, meski juga ada yang berebut masuk pesawat sipil.

Pesawat Boeing C-17 Globemaster memang menjadi salah satu yang menyita perhatian setelah peristiwa kejatuhan Kabul ataupun istana kepresidenan Afghanistan ke tangan Taliban, 15 Agustus lalu.

Di antara video-foto viral di jagat dunia maya terkait pesawat angkut militer itu, momen ketika pesawat hendak lepas landas dari Bandara Kabul namun masyarakat justru menyertainya seraya mencoba menaiki bagian luar pesawat adalah salah satunya.

Tak cukup sampai di situ, di bagian dalam, pesawat angkut dengan jarak tempuh 10.390 km, bentang sayap 52 meter, dan kecepatan maksimum mencapai 950 km per jam ini juga menyita perhatian dari bagian dalamnya.

Kita tahu, dalam proses evakuasi oleh Angkatan Udara AS menggunakan pesawat tersebut, setidaknya ada 800 penumpang di bagian dalam kabin. Padahal, Boeing C-17 Globemaster biasanya membawa 102 pasukan payung atau 150 pasukan reguler dengan konfigurasi palet dan sidewall seats atau kursi samping menempel di dinding pesawat. Jauh melebihi kapasitas, bukan?

Sebagaimana Boeing C-17 Globemaster, pesawat C-130 Hercules juga diketahui sempat over capacity saat melakukan misi evakuasi di detik-detik terakhir kejatuhan Kota Saigon di bawah kendali Vietnam Selatan.

Pesawat C-130 “Saigon Lady”. Foto: nationalwarplanemuseum.com

Menurut mantan Kepala Staf TNI AU Marsekal Chappy Hakim dalam buku Pelangi Dirgantara dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas Tahun 2010, ketika itu, pesawat Hercules diketahui mengangkut sekitar 452 orang.

Kisah yang diabadikan lewat sebuah tulisan di onlyinark.com tersebut, disebutkan pesawat itu adalah yang terakhir melakukan penerbangan evakuasi dari Pangkalan Udara Tan Son Nhut menuju Pangkalan Udara Utapao Thailand yang jaraknya 400 mil laut dari Tan Son Nhut. Diperkirakan waktu tempuh sekitar 1 jam 20 menit.

Baca juga: Ini Deretan Pesawat Maskapai yang Terjebak di Bandara Kabul Usai Chaos

Serupa dengan itu, dalam sebuah tulisan di nationalwarplanemuseum.com, disebutkan, pesawat C-130 Hercules lainnya juga disebut berangkat dari salah satu pangkalan udara di Vietnam Selata. Bedanya, saat itu, pesawat yang dipiloti Pham Quang Kheim hanya membawa beberapa orang dari keluarga sang pilot.

Rutenya juga berbeda, bila C-130 Hercules dari Ton Son Nhut terbang ke Thailand, C-130A “Saigon Lady” terbang ke Singapura.

Taliban Kuasai Kabul, Kemenlu Pastikan 26 WNI Sudah Dievakuasi Pakai Pesawat TNI AU

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemenlu) memastikan kepulangan 26 warga negara Indonesia sebagai respon atas ketegangan yang terjadi di Afghanistan pasca kudeta oleh Taliban. Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan menuju Indonesia.

Baca juga: Bandara Kabul ‘Dihantui’ Pesawat Mata-mata AS RC-135W Rivet Joint, Pertanda Apa?

“Alhamdullilah, Pemerintah Indonesia telah berhasil mengevakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan dengan pesawat TNI AU. Pesawat saat ini sudah berada di Islamabad untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia,” tulis Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, di laman Twitternya.

Kabar darinya bukan saja memperjelas nasib WNI, utamanya staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kabul, Afghanistan, tetapi juga teka-teki pesawat yang membawa pulang mereka.

Sebelum ini, beredar kabar Indonesia akan mengutus pesawat Airbus A320Neo Batik Air yang teregistrasi sebagai PK-BDF untuk melakoni penerbangan repatriasi, membawa pulang 15 orang WNI. Pesawat itu akan terbang menggunakan flight number ID3102 pada 19 Agustus 2021 lalu.

Saat kabar tersebut tersiar luas, Kedubes RI dikabarkan masih beroperasi di Kabul. Namun serangkaian rencana memang tengah dimatangkan untuk memulangkan WNI.

Tetapi, itu menjadi teka-teki setelah aplikasi FlightRadar24 tidak memuat data penerbangan untuk flight number Batik Air itu. Padahal, situs tersebut sebelumnya memuat informasi rencana terbang pesawat dan nomor penerbangan itu.

Jumlah WNI yang disebut bakal ikut dalam penerbangan repatriasi kemarin juga keliru. Disebutkan, WNI yang akan dijemput pulang pemerintah Indonesia berjumlah 15 orang. Sedangkan hari ini, Retno Marsudi mengkonfirmasi ada 26 WNI termasuk staff KBRI, 5 WN Filipina, dan 2 WN Afghanistan (suami dari WNI dan staff lokal KBRI).

“Tim evakuasi membawa 26 WNI termasuk staff KBRI, 5 WN Filipina, dan 2 WN Afghanistan (suami dari WNI dan staff lokal KBRI),” cuitnya. Pesawat yang digunakan untuk misi repatriasi berasal dari TNI AU, yakni Boeing 737-400 Skadron Udara 17. 

Sejak Taliban menguasai Kabul dan menduduki istana kepresidenan Afghanistan pada 15 Agustus lalu, berbagai negara sibuk mengatur penerbangan evakuasi bagi warga negara mereka.

Amerika Serikat menjadi yang paling sibuk mengingat banyak tentara dan pekerja migrannya yang masih tertahan di sana.

Baca juga: ‘Misteri’ Batik Air PK-BDF, Misi Penerbangan Repatriasi WNI dari Kabul

Usai penerbangan evakuasi besar-besaran menggunakan Boeing C-17 Globemaster, Negeri Paman Sam bahkan sampai mengirim pesawat mata-mata RC-135W Rivet Joint, sebagai pertanda proses evakuasi masih berjalan panjang sampai beberapa hari ke depan.

Selain itu, ada pula Turki, Perancis, India, dan lainnya yang juga turut mengevakuasi warganya. India, misalnya, dilaporkan juga mengirim pesawat angkut militer Boeing C-17 Globemaster ke Kabul. Meski mampu memuat sampai 800 penumpang, tetapi, India disebut hanya menjemput 120 orang, terdiri dari diplomat, pejabat, dan wartawan.

Bandara Kabul ‘Dihantui’ Pesawat Mata-mata AS RC-135W Rivet Joint, Pertanda Apa?

Pesawat mata-mata Amerika Serikat (AS) RC-135W Rivet Joint dikonfirmasi telah beroperasi di sekitar langit Bandara Internasonal Kabul sejak Selasa lalu. Tak begitu jelas misi apa yang diemban pesawat tersebut.

Baca juga: Teka-teki Dibalik Sistem Pertahanan Udara di Bandara Kabul Afghanistan

Sejak 15 Agustus lalu, situasi di Bandara Internasional Hamid Karzai memang mencekam. Warga Afghanistan panik dan berbondong-bondong menyerbu bandara, semata untuk ikut penerbangan evakuasi yang digelar oleh militer berbagai negara, seperti AS, Turki, India, dan lain sebagainya.

Tentu, masing-masing negara sudah mempunyai daftar siapa saja yang boleh ikut dalam penerbangan evakuasi.

Adapun mereka yang tak terdaftar pastinya akan dilarang ikut. Bila coba merangsek masuk, militer yang bertugas tak segan untuk menembak mati. Sejauh ini dilaporkan ada beberapa korban meninggal akibat percobaan merangsek masuk kabin pesawat evakuasi.

Kejadian itu tentu makin menambah kepanikan warga. Apalagi, Taliban diyakini bakal membunuh semua warga dan keluarganya yang bersekutu dengan AS selama 20 tahun terakhir. Meski begitu, selama warga Afghanistan tetap berada di bandara, mereka sebetulnya aman.

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, sendiri mengancam akan memberangus Taliban andai berani menyerang bandara atau mengganggu kepentingan AS dalam mengevakuasi warganya, diplomat, dan warga negara Afghanistan yang bersekutu dengannya.

Meski proses evakuasi sudah dilakukan sejak hari Ahad lalu, tetapi, belakangan AS dilaporkan justru memperluas area evakuasi dan meningkatkan keamanan bandara serta mengirim bala bantuan untuk memperlancar proses evakuasi. Salah satunya dengan mengerahkan pesawat pengintai.

Dilansir dari The Drive, pesawat RC-135W Rivet Joint diketahui memiliki berbagai kemampuan andal dalam misi mata-mata. Pesawat dengan callsign Python 52 diketahui mampu menjalankan tugas pengawasan, pengintaian, pengumpul sinyal, dan lainnya. Yang unik, RC-135W berbekal peralatan canggih, namun fuselage-nya mengadopsi desain pesawat lama, yaitu berasal dari keturunan Boeing 707, pesawat narrow body jarak jauh yang legendaris. 

Pesawat ini secara teratur digunakan untuk mencuri informasi tentang peta kekuatan lawan dari berbagai jenis pemancar semisal radar dan radio untuk mendukung tim di darat. 

Setiap transmisi apapun dalam radius yang cukup luas bisa ditangkap berbagai sensor yang ada di pesawat. Kru kemudian langsung mengkalibrasi itu dan informasinya akan dilaporkan ke tim udara dan darat.

Baca juga: Mengenal Sidewall Seats, Kursi C-17 Globemaster yang ‘Hilang’ Saat Evakuasi Warga di Afghanistan

Selain mengirim pesawat mata-mata, AS juga terlacak mengirim helikopter milik elit Angkatan Darat AS ke-160 Resimen Penerbangan Operasi Khusus (SOAR).

AS juga pada Selasa lalu tengah mempertimbangankan pengiriman elemen komando dan kontrol dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat untuk membantu mengawasi operasi di bandara.