Wujudkan Kereta Cepat Indonesia, INKA Kolaborasi dengan BPPT

Apakah Indonesia mampu membuat kereta cepat seperti Jepang atau negara maju lainnya? Ini bukan hal yang tidak mungkin, bahkan bisa menjadi kenyataan dan bisa saja dioperasikan dalam waktu dekat.

Baca juga: Jalur Kereta Parepare-Makassar Dicanangkan Beroperasi Pertengahan 2020

Sebab, baru–baru ini, PT Industri Kereta Api (INKA) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan beberapa perguruan tinggi serta perusahaan tengah mempersiapkan untuk membuat kereta cepat yang mampu melaju di atas 200 km per jam. Direktur Utama PT INKA Agung Sedaju mengumumkan hal tersebut dalam seminar yang online bertajuk “Kesiapan Jalur Kereta Makassar – Parepare”.

“Secara teknologi sendiri PT INKA sudah siap untuk membuat sarana kereta api cepat Makassar – Parepare ini yang sedang dikolaborasikan dengan BPPT. Kami siap mengoperasikan kereta cepat produk anak negeri dengan diketuai oleh BPPT, dengan teknology hybrid battery pada tahun 2022,“ ujar Agung yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Senin (16/8/2021).

Muljadi Sinung Harjono, Direktur Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi BPPT juga mengatakan bahwa BPPT memiliki target pembuatan prototype kereta cepat dengan kecepatan di atas 200 km per jam.

“Pada tahun 2020 kami sudah menyelesaikan target DR&O (design requirement and objective atau pre-spesifikasi teknis) dan basic & manufacture design di 2021. Di tahun 2022 kami terdapat rencana anggaran pembangunan sarana prototype kereta api cepat. Maka dari itu diperlukan lokasi untuk uji sebenarnya kereta api cepat dengan kecepatan di atas 200 km per jam sepanjang 20 km dengan lebar track yang mencukupi,” ungkap Muljadi.

Rencananya di tahun 2022 tersebut akan dibuat prototipe kereta api cepat tersebut. Untuk pembuktian kereta api cepat tersebut diharapkan bisa diuji cobakan di jalur Makassar – Parepare.

“Setelah prototipe tersebut jadi, setelah akhir 2022, harapannya prototipe tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian armada kereta api penumpang yang dapat memenuhi kebutuhan lapangan,” jelas Muljadi.

Baca juga: Kereta Api dari Makassar Menuju Parepare Beroperasi Komersial di 2022

Untuk diketahui, BPPT berkolaborasi dengan konsorsium Prioritas Riset Nasional Teknologi Perkeretaapian. Di dalamnya terdapat perguruan tinggi seperti ITB, ITS, UNS dan UGM dan beberapa industri yang terkait dengan perkeretaapian PT INKA dan PT Pindad.






















Teka-teki Dibalik Sistem Pertahanan Udara di Bandara Kabul Afghanistan

Dalam beberapa hari terakhir, foto dan video kerumunan masyarakat di Bandara Kabul berseliweran di jagat dunia maya. Bahkan, saking banyaknya masyarakat yang memenuhi bandara, korban tewas akibat terlindas pesawat pun berjatuhan.

Baca juga: Kabul Dikuasai Taliban, Warga dan WNA Tak Bisa Kabur Lewat Bandara Kabul?

Warga Afghanistan memenuhi Bandara Kabul semata untuk melarikan diri, mengingat negara tersebut hanya mempunyai akses darat dan udara alias tak punya laut, untuk akses keluar masuk. Mereka berebut menumpangi pesawat, bahkan yang sedang parkir sekalipun.

Sebetulnya warga Afghanistan tidak perlu khawatir terhadap Taliban, selama mereka masih di dalam bandara. Sebab, bandara, sebagai satu-satunya pintu gerbang keluar masuk Afghanistan sudah dijamin keamanannya oleh AS dan sekutu (NATO).

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, sendiri mengancam akan memberangus Taliban andai berani menyerang bandara atau mengganggu kepentingan AS dalam mengevakuasi warganya, diplomat, dan warga negara Afghanistan yang bersekutu dengannya selama 20 tahun operasi di negara itu.

Tetapi, andaipun Taliban berani menyerang, Bandara Kabul atau disebut juga Bandara Hamid Karzai sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan udara.

Laporan timesofindia.indiatimes.com, pejabat Kementerian Dalam Negeri Afghanistan memastikan bandara tersebut telah terpasang sistem pertahanan udara untuk menghindari serangan dari kelompok separatis sejak Juli lalu.

Sistem pertahanan udara itu dipasang pukul 2 dini hari waktu setempat, menyusul klaim Taliban yang mengaku sudah menguasai 85 persen wilayah di Afghanistan.

“Sistem pertahanan udara yang baru dipasang telah beroperasi di Kabul sejak pukul 2.00 pagi hari Ahad,” kata Tariq Arian, juru bicara Kementerian Dalam Negeri.

Meski berstatus sebagai bandara internasional, bandara yang memiliki memiliki satu runway sejauh 3.500 m dan lebar 50 m juga berstatus sebagai pangkalan militer. Itu sebab bandara ini dilengkapi dengan pertahanan udara.

Otoritas Afghanistan sendiri tidak mau merinci siapa yang memasang dan jenis dari sistem pertahanan udara tersebut.

Yang jelas, selama bertahun-tahun militer AS sudah memasang beberapa C-RAM (Counter Rocket, Artillery, and Mortar Systems) di seluruh pangkalannya, termasuk di Bagram, untuk menghancurkan setiap roket masuk ke fasilitas tersebut.

Selain roket, sistem pertahanan udara C-RAMS juga termasuk kamera untuk mendeteksi roket yang masuk dan memperingatkan pasukan akan adanya bahaya.

Baca juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

Meski begitu, Tariq memberikan sedikit informasi terkait jenis sistem pertahanan udara di Bandara Kaul. Disebutkan, sistem pertahanan rudal tersebut sudah terbukti di seluruh dunia dalam menangkis rudal dan roket.

“Sistem ini telah terbukti berguna di seluruh dunia dalam menangkis serangan roket maupun rudal,” tutupnya.

Sistem Pengisian Nirkabel Kereta Korea Selatan Masuk Babak Penetapan Standar Internasional

Berkembangnya sistem pengisian nirkabel kereta api saat ini mulai di kembangkan oleh Korea Selatan. Karena hal ini menarik, kemudian para ahli melakukan pertemuan online untuk menetapkan standar internasional sistem pengisian nirkabel kereta api Korea Selatan.

Baca juga: Layani Kendaraan Listrik, Momentum Dynamics Rilis Halte Berdaya 200 Kilowatt Nirkabel

Diskusi itu difokuskan pada metode kumparan yang sangat penting dalam pengisian nirkabel. Dilansir KabarPenumpang.com dari ajudaily.com (10/5/2021), dalam diskusi tersebut Negeri Ginseng mengusulkan menggunakan metode kumparan oval.

Untuk diketahui, pertemuan pada 7 Mei lalu, melibatkan sekitar 30 pakar dari berbagai negara seperti Prancis, Italia, Jerman, Cina, Jepang dan Korea Selatan. Para pakar ini tergabung dalam grup TC9 ahG 29 di International Electrotechnical Commission (IEC), yang menyiapkan dan menerbitkan standar internasional untuk elektroteknologi, menurut Kementerian Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi.

Grup ad-hoc IEC menangani interoperabilitas dan keamanan sistem transfer daya nirkabel dinamis – dynamic wireless power transfer (WPT) untuk perkeretaapian.

“Sangat berarti bahwa diskusi internasional telah dimulai dengan sungguh-sungguh mengenai standar internasional terkait dengan interoperabilitas dan keamanan sistem transfer daya nirkabel kereta api yang diusulkan oleh Korea Selatan,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Pengisian tanpa kabel menggunakan gelombang magnet. Sehinga tidak ada risiko sengatan listrik, dan WPT dapat mengurangi biaya konstruksi terowongan dan pembentukan debu halus. Dimungkinkan untuk secara bebas memilih lokasi stasiun dan menambah panjang rute dan waktu penggunaan baterai, serta mengurangi waktu tunggu untuk pengisian daya.

“Korea Selatan diharapkan untuk memimpin teknologi WPT perkeretaapian dan meletakkan dasar untuk keasyikan di pasar luar negeri melalui penetapan standar internasional,” kata Kang Hee-up, seorang pejabat di biro kebijakan keselamatan perkeretaapian kementerian.

Baca juga: Prototipe Maglev Hasilkan Daya dengan Teknologi yang Sama dengan Ponsel Pintar

Efisiensi transfer daya erat kaitannya dengan kumparan primer dan sekunder, ukurannya, bahan serta jaraknya. Pemilihan dan posisi yang tepat dari kumparan transmisi dan penerima memiliki pengaruh besar pada efisiensi transmisi daya. Korea Selatan telah meningkatkan upaya untuk menetapkan beberapa standar internasional untuk sistem pengisian daya yang memungkinkan transmisi daya nirkabel saat kendaraan listrik berhenti atau berjalan.

KM Umsini Jadi Pusat Perawatan Covid-19, Pasien Isolasi Bisa Memancing untuk Mengisi Waktu Luang

Bukan hanya di luar negeri yang mengubah kapal menjadi sebuah bangsal rumah sakit atau ruang untuk perawatan pasien terdampak Covid-19. Di Indonesia, tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan, hal ini pun dilakukan. Kapal yang digunakan adalah kapal  penumpang yang memiliki berat 14.500 gross ton.

Baca juga: Kapal Penumpang di Swedia Dikonversi jadi Rumah Sakit

Kapal ferry bernama KM Umsini itu berusia 36 tahun dan biasanya menangkut penumpang sebanyak 1.600 orang dan juga kargo. Kini setelah dikonversi oleh pihak berwenang pada Juli kemarin, KM Umsini menjadi pusat isolasi dengan 800 tempat tidur dan 60 tenaga medis yang merawat pasien Covid-19.

Dilansir KabarPenumpang.com dari maritime-executive.com (17/8/2021), banyak fasilitas yang dihadirkan untuk menunjang pelaksanaan isolasi mandiri pasien terinfeksi Covid-19. Ada pun fasilitasnya yakni kamera pengintai atau CCTV, poliklinik dan jogging track dengan dek atas diubah menjadi ruang terbuka untuk berolahraga atau berjemur.

Uniknya lagi, karena isolasi di atas sebuah kapal, pasien bisa mendengarkan musik dan berpartisipasi memancing dari geladak kapal untuk mengisi waktu luang selama isolasi mandiri. KM Umsini merupakan kapal penumpang yang dimiliki oleh PT Pelni yang diproduksi oleh pabrik kapal asal Papenburg, Jerman yang bernama Jos L Meyer.

Nama kapal Umsini ini diambil dari nama sebuah gunung yang bernama Gunung Umsini. Letak gunung Umsini berada di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Kapal KM Umsini dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti tempat tidur, pendingin ruangan, makanan, restoran, salon dan mushola.

Selain Umsini, PT Pelni pekan lalu mengoperasikan empat kapal penumpang lainnya untuk dijadikan lokasi isolasi terapung. Keempat kapal tersebut antara lain KM Tatamailau yang akan sandar di Bitung, KM Bukit Raya di Pelabuhan Belawan, KM Sirimau di Pelabuhan Sorong dan KM Tidar di Pelabuhan Jayapura.

“Sebelum digunakan, semua kapal akan disterilkan dan dilengkapi dengan fasilitas pendukung penerapan floating isolasi oleh pemerintah dan instansi setempat. Hal ini harus dilakukan agar memenuhi standar sebagai lokasi isolasi mandiri yang ditetapkan Kementerian Kesehatan seperti yang telah dilakukan di KM Umsini Makassar,” kata Insan Purwarisya Tobing, Direktur Utama PT Pelni.

Keempat kapal tersebut akan menyediakan total 906 tempat tidur untuk pasien Covid-19 dan 23 tempat tidur untuk tenaga medis. Indonesia bukan negara pertama yang menggunakan kapal penumpang untuk membuat tambahan tempat tidur medis untuk isolasi.

Baca juga: Detroit Kedatangan Sepuluh Minivan Odyssey Guna Bantu Penanganan Pasien Covid-19

Di awal pandemi, Italia juga menggunakan feri dan kapal pesiar untuk menyediakan ruang bangsal tambahan bagi mereka yang tidak sakit kritis. Italia juga telah menggunakan feri untuk membuat bangsal isolasi bagi beberapa migran yang mencapai pantainya.






















Beda Pemandangan Evakuasi Warga di C-17 Globemaster India dan Amerika dari Afghanistan

Pesawat Boeing C-17 Globemaster menjadi salah satu yang menyita perhatian setelah peristiwa kejatuhan Kabul ataupun istana kepresidenan Afghanistan ke tangan Taliban, 15 Agustus lalu.

Baca juga: Mengenal Sidewall Seats, Kursi C-17 Globemaster yang ‘Hilang’ Saat Evakuasi Warga di Afghanistan

Di antara video-foto viral di jagat dunia maya terkait pesawat angkut militer itu, momen ketika pesawat hendak lepas landas dari Bandara Kabul namun masyarakat justru menyertainya seraya mencoba menaiki bagian luar pesawat adalah salah satunya.

Tak cukup sampai di situ, di bagian dalam, pesawat angkut dengan jarak tempuh 10.390 km, bentang sayap 52 meter, dan kecepatan maksimum mencapai 950 km per jam ini juga menyita perhatian dari bagian dalamnya.

Kita tahu, dalam proses evakuasi oleh Angkatan Udara AS menggunakan pesawat tersebut, setidaknya ada 800 penumpang di bagian dalam kabin. Padahal, Boeing C-17 Globemaster biasanya membawa 102 pasukan payung atau 150 pasukan reguler dengan konfigurasi palet dan sidewall seats atau kursi samping menempel di dinding pesawat. Jauh melebihi kapasitas, bukan?

Akan tetapi, dalam proses evakuasi menggunakan jenis pesawat yang sama oleh Angkatan Udara India (IAF), penampakan di luar apalagi di dalam kabin sangat jauh berbeda. Entah karena timing atau memang jumlah yang dievakuasi tak sebanyak AS, yang jelas evakuasi oleh IAF sangat berjalan sebagaimana mestinya.

Evakuasi diplomat, pejabat, dan wartawan oleh militer India menggunakan pesawat Boeing C-17 Globemaster. Foto: Twitter @ZaidZamanHamid

Dilansir hindustantimes.com, India melalui IAF disebut mengirim Boeing C-17 Globemaster untuk menjemput pulang sekitar 120 orang, terdiri dari diplomat, pejabat, dan wartawan, dari Kabul, Afghanistan pada Selasa lalu.

Pesawat itu kemudian berhasil mendarat di New Delhi pada pukul 13:30 siang setelah transit di Jamnagar Gujarat. Ini diketahui merupakan gelombang kedua dari proses evakuasi oleh IAF dari Afghanistan.

Adapun penerbangan evakuasi pertama oleh pemerintah India sudah dilakukan pada hari Minggu kemarin, persis setelah Taliban menduduki istana kepresidenan Afghanistan, menggunakan pesawat sipil Air India.

“Sambutan Anda berdampak pada kita semua. Terima kasih kepada Angkatan Udara India yang menerbangkan kami dalam kondisi yang tidak normal,” kata duta besar India untuk Afghanistan, Rudrendra Tandon.

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Saat ini, India masih menunggu penerbangans sipil dibuka kembali oleh AS selaku pemegang otoritas sementara Bandara Hamid Karzai atau Bandara Kabul.

Sejak Senin lalu, Bandara Kabul memang berada di tangan otoritas AS setelah Turki secara tiba-tiba meninggalkan bandara dan negara itu. Taliban yang buta huruf dan tak tahu cara mengatur lalu lintas bandara akhirnya menyerahkan itu ke AS.

Nyaris 54 Tahun, Ini Pesawat Komersial Aktif Tertua di Dunia

Meski pesawat terbaru dengan sederet fitur canggih di kokpit maupun kabin penumpang diburu maskapai. Tetapi, di seantero dunia masih ada maskapai yang mengoperasikan pesawat tua. Bahkan, salah satu maskapai di Benua Amerika masih mengoperasikan pesawat yang nyaris berumur 54 tahun. Luar biasa, bukan?

Baca juga: Setelah 68 Tahun Beroperasi, Pesawat Convair 580 Air Chathams Akhirnya Pensiun

Menurut data dari ch-aviation.com, pesawat komersial aktif tertua di dunia saat ini dioperasikan oleh maskapai Meksiko Aeronaves TSM. Maskapai charter dan kargo ini diketahui memiliki 11 pesawat McDonnell Douglas DC-9.

Seluruh pesawat twin jet yang mesinnya terletak di bagian belakang ini diketahui buatan akhir 1960-an dan awal 1970-an. Pesawat tertua teregistrasi sebagai XA-TIG, berusia 53,93 tahun. Pesawat ini akan merayakan 54 tahun sepak terjangnya di udara pada bulan September mendatang.

Sejak pertama kali selesai dibuat, pesawat itu terbang melayani penumpang bersama Texas International dan Air National dari 1967 hingga 1984, sebelum diubah menjadi konfigurasi kargo setelahnya dan bergabung dengan Aeronaves TSM pada tahun 2017.

Selain McDonnell Douglas, Boeing juga mempunyai pesawat tertua di dunia yang masih aktif beroperasi, meskipun di luar layanan komersial. Masih menurut ch-aviation.com, Boeing 737-200 yang diregistrasi sebagai FAP354 tercatat sebagai pesawat tertua di dunia yang berusia 51,64 tahun.

Sama seperti DC-9, pesawat yang dioperasikan oleh Fuerza Aérea del Per (Angkatan Udara Peru) ini awalnya melayani penerbangan penumpang bersama Aer Lingus sejak tahun 1970. Selain Boeing 737-200, Angkatan Udara AS juga tercatat masih mengoperasikan pesawat tua Boeing 707-300 berusia lebih dari 50 tahun.

Di kelas pesawat regional, ‘Twin Otter’ de Havilland Canada DHC-6-300 menjadi pesawat komersial aktif tertua di dunia, dimana yang paling tua teregistrasi sebagai F-OIJI, sudah berusia 51,62 tahun. Saat ini, maskapai masih rutin terbang bersama Air Loyauté di Kaledonia Baru.

Pesawat tercatat mulai masuk tahun layanan di Australia sebelum keliling dunia dengan beberapa maskapai berbeda dan jatuh ke tangan Air Loyauté pada tahun 2009.

Sebetulnya, gelar pesawat komersial aktif tertua di dunia bisa saja dipegang oleh Convair 580 Air Chathams yang berusia sekitar 68 tahun (buatan tahun 1953).

Sayangnya, tiga pesawat yang dimiliki maskapai asal Selandia Baru itu dipastikan pensiun tahun ini. Meski begitu, bila ditanya maskapai komersial aktif tertua di dunia saat ini, tentu Convair 580 adalah jawabannya.

Selain itu, untuk pesawat aktif tertua di dunia, di luar layanan komersial, bila menurut ch-aviation.com dipegang oleh Boeing 737-200 Fuerza Aérea del Per, maka, menurut sumber lain, bisa saja itu diraih oleh McDonnell Douglas DC-3. Sampai tahun 2017 lalu, masih ada sekitar 2.000an pesawat yang aktif melayani penerbangan komersial di seluruh dunia.

Baca juga: Hawker Siddeley 748 Air North Pensiun Setelah 51 Tahun Mengudara! Masih Ragukan Pesawat Tua?

Sayangnya tak ada data yang memastikan berapa pesawat dari jumlah tersebut yang masih aktif beroperasi.

Andai ada satu saja pesawat yang masih aktif beroperasi, itu akan jadi pesawat aktif tertua di dunia, mengingat pesawat tersebut sudah stop produksi pada dekade 50-an. Itu berarti pesawat DC-3 yang masih aktif beroperasi saat ini berusia sekitar 60-70 tahunan.

Mengenal Sidewall Seats, Kursi C-17 Globemaster yang ‘Hilang’ Saat Evakuasi Warga di Afghanistan

Sedikitnya 800 orang berhasil dievakuasi pesawat militer C-17 Globemaster setelah Taliban berhasil menguasai istana kepresidenan Afghanistan. Dalam kondisi sepenuh itu, sudah pasti warga yang dievakuasi tidak mendapat tempat yang laik di dalam pesawat.

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Padahal, dalam kondisi normal, sebagaimana pesawat biasa, pesawat tersebut memiliki konfigurasi penumpang tersendiri, meski tidak seperti pesawat komersial dimana penumpang duduk berbaris menghadap depan.

Dilansir Indomiliter.com, Boeing C-17 Globemaster biasaya membawa 102 pasukan payung atau 150 pasukan reguler dengan konfigurasi palet dan sidewall seats atau kursi samping menempel di dinding pesawat.

Kendati begitu, bukan berarti pesawat dengan kapasitas payload hingga 77,5 ton, namun untuk peran angkut personel, rilisan resmi pesawat bermesin empat unit Pratt & Whitney F117-PW-100 turbofan ini tak sanggup mengangkut penumpang jauh di atas itu. Evakuasi mencapai 800 penumpang dalam sekali terbang baru-baru ini menjadi buktinya.

Dengan kondisi chaos dimana penerbangan evakuasi terbatas tetapi warga yang ingin dievakuasi membludak, sudah pasti proses evakuasi berjalan dramatis. Semua orang berlomba untuk ambil bagian sebagai penumpang yang dievakuasi sekalipun Presiden AS Joe Biden sudah memastikan proses evakuasi akan berjalan lancara tanpa gangguan Taliban.

Belum lama ini, dalam pidato terbarunya, Biden mengultimatum Taliban agar tak mengganggu kepentingan AS, dalam hal ini proses evakuasi di bandara.

“Saat kami melakukan evakuasi ini, kami telah menjelaskan kepada Taliban, jika mereka menyerang personel kami atau mengganggu operasi kami, respon AS akan cepat dan kuat,” kata Biden seperti dilansir Associated Press.

“Kami akan membela rakyat kami dengan kekuatan menghancurkan jika perlu.” tambahnya.

“Kami akan mengakhiri perang terpanjang Amerika setelah 20 tahun pertumpahan darah. Peristiwa yang kita lihat sekarang ini adalah bukti menyedihkan bahwa tak ada jumlah kekuatan militer sebanyak apa pun yang akan pernah menciptakan Afghanistan yang stabil, bersatu, aman,” ujar Biden.

Baca juga: Penerbangan Repatriasi Qantas Pulangkan Ratusan Aussie dari Bali

Kembali ke soal sidewall seats terkait evakuasi C-17 Globemaster yang mengangkut sekitar 800 penumpang dalam sekali angkut, sebetulnya tak semua pesawat militer memiliki konfigurasi kursi penumpang mengadang ke samping atau menempel di dinding. Model kursi sidewall sifatnya portable dan dapat dilipat, umumnya model  kursi ini dipersiapkan untuk pasukan payung yang akan melaksanakan misi penerjunan dari pesawat angkut. 

 

‘Misteri’ Batik Air PK-BDF, Misi Penerbangan Repatriasi WNI dari Kabul

Dengan tajuk penerbangan repatriasi, beragam pesawat diterbangkan secara charter untuk melakukan evakuasi pada warga negara asing yang ingin segera keluar dari ibu kota Afghanistan, Kabul. Dari Indonesia, disebutkan ada sekitar 15 orang WNI yang berada di kota yang kini dikuasi Taliban tersebut, termasuk di antaranya adalah staf Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Baca juga: Ini Deretan Pesawat Maskapai yang Terjebak di Bandara Kabul Usai Chaos

Meski Kedubes RI masih beroperasi di Kabul, serangkaian rencana tengah dimatangkan untuk memulangkan WNI, salah satu kabar yang menarik perhatian adalah adanya penerbangan dari maskapai swasta Indonesia yang melakukan misi repatriasi. Maskapai yang dimaksud adalah Batik Air dengan pesawat narrow body Airbus A320Neo, bahkan nomer registrasi sudah diketahui sebagai PK-BDF yang akan terbang ke Kabul pada 19 Agustus 2021.

Namun, penerbangan repatriasi PK-BDF menjadi tanda tanya, pasalnya informasi dari situs CNBCIndonesia.com (19/8/2021) yang memantau dari FlightRadar24 menyebut, bila penerbangan Batik Air dengan nomor penebangan ID3102 rute Jakarta-Kabul berada dalam status “Unknown” atau tidak diketahui. Sementara itu, pihak Batik Air menyebut bahwa saat ini pihaknya belum menerbangkan armada ke Afghanistan. “Keterangan yang dapat saya sampaikan: Batik Air tidak terbang ke Afghanistan,” ujar Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, dalam sebuah pesan singkat yang didapatkan CNBC Indonesia.

Sebelumnya pihak Kementerian Luar Negeri menyebut bahwa pemerintah Indonesia sedang menyiapkan penerbangan repatriasi bagi WNI yang ada di sana. Kementerian Luar Negeri menyebut bahwa ada 15 orang WNI selain petugas kedutaan. Namun kedutaan RI masih tetap beroperasi.

Informasi awal adanya penerbangan Batik Air menuju Kabul diketahui dari data di aplikasi pelacakan penerbangan FlightRadar24 yang diunggah oleh forum penggemar aviasi Indoflyer. Dalam data itu tertulis bahwa pesawat Batik Air bertipe Airbus A320 neo akan terbang dari Jakarta menuju Kabul dalam misi membawa WNI pulang dari negara Asia Tengah itu.

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Lepas dari belum ‘misteri’ di atas, Airbus A320Neo dengan kapasitas 160 penumpang (single class) atau 140 penumpang (two class), mampu terbang sejauh 6.940 km non stop. Sementara jarak Jakarta ke Kabul adalah 6.0007 km, ini artinya dimungkinkan untuk dilakukan penerbangan langsung, tetapi mengingat bekal ulang bahan bakar di Bandara Kabul belum dimungkinkan, besar kemungkinan pesawat harus transit terlebih dahulu sebelum mencapai Kabul.






















Pengendara Sepeda Berjalan Dijalur Semestinya, Tetsu-ota Berteriak Tak Dapat Hasil Foto Kereta

Memotret menjadi salah satu hobi yang bisa dikatakan santai dan sangat sederhana. Namun bagi otaku kereta api atau “tetsu-ota” (dari testudo/”kereta api”) atau penggemar yang lebih mencintai kereta api, demikian sebutan singkatnya, menganggap ini adalah hal serius. Salah satunya adalah insiden yang terjadi pada Kamis (5/8/2021) malam di sepanjang jalur kereta listrik Enoshima di prefektur Kanagawa.

Baca juga: Nintendo Switch Punya Kontroler Kereta di Jepang

Yang mana jalur ini memiliki lokasi yang indah yakni di pantai Shonan yang modis dan konfigurasi trem yang unik, Enoden, begitu juga dikenal sebagai jalur, sangat populer di kalangan tetsu-ota. Jadi ketika tersiar kabar bahwa uji coba akan dilakukan untuk model baru kereta Enoden, tetsu-ota muncul di tengah malam dengan tujuan mengamankan hak membuat untuk menjadi penggemar pertama yang memotret kereta yang ditingkatkan.

KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (7/8/2021), namun saat kereta melewati tikungan di dekat persimpangan di mana banyak orang berkumpul, begitu juga seorang pengendara sepeda non-Jepang. Pengendara itu mengayuh sepedanya berada di antara kereta api dan kamera, dan lengan kirinya terangkat tinggi. Ini langsung membuat tetsu-ota marah, yang mulai berteriak, “Apa yang kamu lakukan?” dan “Minggir, tolol!”

Video kejadian dapat dilihat di sini, dan sulit untuk mengatakan apakah pria itu mengangkat tangannya untuk melambai kepada orang banyak, atau untuk memberi isyarat bahwa dia ingin berbelok ke jalan bahwa beberapa tetsu-ota tampaknya menghalangi jalan dan masuk ke dalam memposisikan diri untuk memotret kereta. Either way, kerumunan terus berteriak saat kereta terus berjalan, dengan beberapa tetsu-ota mendekati pria itu setelah dia menghentikan sepedanya.

“Ini benar-benar berita buruk,” kata seseorang.

Sementara yang lain berteriak, “Bayar!” dan suara “berita buruk” dapat terdengar mendukung mosi tersebut, menyetujui “Bayar. Ya, pasti. Masuk akal bahwa dia harus membayar.”

Tidak jelas apakah penggeledahan yang disarankan akhirnya terjadi atau tidak, tetapi insiden itu telah membagi pendapat secara online. Di satu sisi adalah mereka yang membawa pengendara sepeda ke tugas untuk apa yang mereka lihat sebagai sengaja merusak foto tetsu-ota, dengan mencari-cari kesalahan sejauh beberapa mengatakan pria itu harus dihukum karena perilaku berbahaya mengendarai sepeda (terkesiap !) hanya satu tangan di setang.

Di sisi lain adalah mereka yang menemukan reaksi dari penggemar kereta api di tempat benar-benar tidak proporsional dengan ketidaksopanan yang dirasakan, meninggalkan komentar seperti.

Untuk diketahui, Jepang saat ini tertutup untuk pariwisata internasional, masuk akal bahwa pengendara sepeda kemungkinan adalah penduduk Jepang, dan dengan demikian seseorang yang Anda harapkan setidaknya menyadari betapa bersemangatnya penggemar kereta api Jepang dan betapa kecewanya mereka dengan seseorang yang melakukan photobomb. Di sisi lain, dia menggunakan jalan umum, dan tidak berkewajiban untuk mengubah rutenya hanya untuk membantu seseorang lebih menikmati hobi otaku mereka.

Baca juga: Naik Kereta di Stasiun Nakatsu Jalur Hankyu, Penumpang Jangan Kaget dengan Peron yang Super Sempit

Sungguh, satu-satunya hal yang dapat dikatakan dengan pasti adalah bahwa jika sekelompok orang asing mulai meneriaki Anda dan berbicara tentang kemungkinan merampok Anda, mungkin hal terbaik yang harus dilakukan adalah terus mengayuh.






















Vande Bharat Express, Hubungkan Seluruh India dalam Waktu 75 Minggu

Setiap negara di dunia, memiliki fasilitas pembuatan keretanya masing-masing. Bahkan kereta-kereta tersebut tak hanya digunakan negara itu sendiri, melainkan juga ada yang diekspor ke negara lainnya yang tidak memiliki fasilitas pembuatan kereta api.

Baca juga: Kereta “Semi High Speed” Vande Bharat Express Resmi Meluncur

Salah satu yang memiliki fasilitas pembuatan kereta api adalah India. Di mana saat ini, fasilitas tersebut memproduksi kereta semi kecepatan tinggi yang nantinya kereta-kereta itu akan beroperasi di seluruh India. Bahkan Vande Bharat Express dalam beberapa bulan mendatang akan diproduksi lebih banyak.

Nantinya kereta tersebut akan beroperasi di seluruh jaringan India Railways. Hal itu diumumkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi yang menyebutkan bahwa selama 75 minggu Amrit Mahotsav Kemerdekaan negara, ada sebanyak 75 kereta Vande Bharat Express yang akan menghubungkan semua jaringan kereta api Negeri Bollywood tersebut.

KabarPenumpang.com melansir financialexoress.com (16/8/2021), kereta yang diproduksi di bawah inisiatif “Make in India” merupakan kereta semi kecepatan tinggi pertama di India. Yang mana kereta ini menawarkan beberapa fasilitas penumpang dunia.

Selain itu, rangkaian kereta canggih ini memiliki beberapa fitur dan sistem ultra modern seperti akselerasi cepat, pintu geser otomatis, infotainment dalam kabin, sistem informasi penumpang berbasis Global Positioning System (GPS), toilet bio vakum dengan nol debit, langkah kaki yang dapat ditarik dan lainnya. Kereta Vande Bharat dapat melaju hingga kecepatan maksimum 160 km per jam.

Gerbong set kereta kecepatan semi tinggi ini memiliki sistem pengereman regeneratif, yang dapat menghemat energi listrik hingga 30 persen. Menurut PM Modi, negara ini juga telah mengambil langkah menuju Mobilitas Listrik dan juga pekerjaan Kementerian Perkeretaapian pada elektrifikasi 100 persen jaringan Kereta Api India sedang berkembang dengan pesat.

Baca juga: Train 18 Resmi Punya Nama ‘Vande Bharat Express’

Pada tahun 2030, Kementerian Perkeretaapian telah menetapkan target menjadi Net Zero Carbon Emitter. PM Modi juga menyebutkan menghubungkan semua ibu kota negara bagian di wilayah Timur Laut negara itu dengan jaringan Kereta Api India.