Mekanik Wanita Termuda di Yunnan, Jadi ‘Dokter’ Kereta Peluru

Setiap moda transportasi harus dicek kelayakan untuk beroperasi. Hal ini untuk menghindarkan permasalahan semua moda transportasi harus mendapat perawatan yang menyeluruh dan detail. Sehingga bukan hanya dari luar tetapi bagian dalam hingga ke sekrup terkecil di kendaraan tersebut.

Baca juga: Sambut Hari Perempuan Internasional, Pilot dan Awak Kabin Air India Seluruhnya Adalah Perempuan

Biasanya untuk ini, ada mekanik yang memerhatikan kondisi sertiap armada sehingga terjamin keamanannya. Salah satu yang mendapat perhatian seperti ini adalah kereta peluru yang beroperasi dengan kepecatan tinggi.

Meski begitu, Anda tahu mekanik lebih banyak pria dibandingkan wanita, apa lagi untuk masalah pemeriksaan armada. Namun di Cina tepatnya di provinsi Yunnan, seorang mekanik kereta peluru adalah wanita muda.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman cgtn.com (24/8/2021), Cheng Yanqi merupakan mekanik kereta peluru wanita termuda di Yunnan, Cina. Wanita kelahiran Juni 2000 ini mengikuti jejak sang ayah.

Di mana karena ayahnya lah dia menjadi “dokter” kereta peluru. Setiap malam lebih dari 20 ribu langkah setiap malam, Yanqi memeriksa status pengoperasian komponen bawah dan samping kereta peluru.

Baca juga: Lesyiana Oktaviana, Pramugari Kereta Cantik yang Kuasai Empat Bahasa!

Bahkan dirinya juga masuk ke bawah kolong untuk melihat kondisi sekrup dan kawat di bagian bawah kereta. Untuk diketahui, di Institut kereta peluru Kunming, ada 200 mekanik kereta peluru seperti Cheng, yang bekerja keras untuk memastikan pengoperasian kereta peluru yang aman dan perjalanan penumpang yang aman.

Ratu Victoria Sering Naik Kereta dari Stasiun Stokes Bay, Kini Jalur Itu Tinggal Kenangan Tanpa Jejak

Selama beberapa dekade, Hampsire, Inggris menjadi rumah bagi sejumlah stasiun kereta api yang sekarang tidak lagi beroperasi dan ditinggalkan. Bahkan ada beberapa yang tidak tahu, bahwa lokasi tersebut dulunya merupakan rumah bagi stasiun kereta api.

Baca juga: Stasiun Dent, Jadi Stasiun Tertinggi di Inggris dan Disewakan untuk Penginapan

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, salah satu yang menjadi bagian sejarah perkeretaapian Hampsire adalah di pantai Stokes Bay. Tempat ini adalah pantai populer yang dikunjungi dan mungkin tidak banyak yang tahu bahwa ada dermaga di laut yang merupakan rumah bagi stasiun kereta api Stokes Bay.

Dermaga yang menyatu dengan Stasiun Stokes Bay. Foto: Istimewa

Stasiun Stokes Bay dibuka tahun 1860-an dan dirancang untuk memberi penumpang rute lain agar mengakses ferry ke Isle of Wight yang populer. Jalur ini dibangun dari Stasiun Gosport melintasi stasiun lain yang kini tak lagi ada dan tidak digunakan menuju ke peron di dermaga.

Dari catatan sejarah mengatakan bahwa stasiun ini digunakan oleh bangsawan pada beberapa kesempatan. Bahkan Ratu Victoria menggunakannya sebagai alternatif dari titik penyeberangan Gosport atau Clarence Yard yang disukainya ke Isle of Wight yang dicintainya.

Dalam buku harian Ratu Victoria, pada Februari 1880 menunjukkan bahwa Ia harus menggunakan stasiun selama cuaca buruk. Meski begitu layanan ke Stasiun Stokes Bay tidak sepopuler yang diharapkan meski penyeberangan ferry lebih cepat daripada berangkat dari Portsmouth.

Pada awal 1900-an, rute baru dibuka dari London ke Teluk Stokes di sepanjang jalur Lembah Meon, tetapi ini dikatakan tidak membawa peningkatan penumpang yang diharapkan. Layanan kapal uap dihentikan pada awal Perang Dunia Pertama, tetapi jalur tetap terbuka sampai 1 November 1915.

Ternyata, trek tersebut mulai diangkat secara bertahap pada tahun 1930-an, dengan sisa yang sedikit. Di mana bagian utara yang tersisa digunakan untuk menyimpan kereta sebelum dipindahkan seluruhnya. Pada tahun 2011 lokasi stasiun di Gosport Road ditempati oleh gedung pertukaran telepon BT.

Baca juga: Birmingham New Street, Stasiun Kereta Pertama di Inggris yang Adopsi Jaringan 5G

Sebagian besar rute selatan ke Teluk Stokes sekarang menjadi jalan setapak umum dan tidak ada jejak stasiun atau dermaga di Stokes Bay. Dermaga itu sendiri juga telah hilang, tetapi dulu terletak sangat dekat dengan tempat stasiun sekoci sekarang berada di pinggir laut Gosport.

Tak Hanya Bandara Kabul, Bandara Kandahar Afghanistan Juga Pernah Diserang Bom Bunuh Diri

Sedikitnya 85 orang tewas, termasuk 13 marinis AS, dalam serangan bom bunuh diri yang didalangi ISIS di luar gerbang Bandara Kabul, Afghanistan, baru-baru ini. Meski begitu, tentu, bom bunuh diri yang menjadikan bandara sebagai targetnya bukan pertama kali terjadi di negara kaya mineral ini.

Baca juga: Miris, Warga Afghanistan Tewas di Bandara Kabul Gegara Kepanasan dan Kelaparan Saat Tunggu Evakuasi

Laporan BBC, pada tahun 2015, Bandara Kandahar, 500 km dari Kota Kabul, pernah mendapat serangan bom bunih diri. Menariknya, bila insiden bom bunuh diri di Bandara Kabul dilakukan oleh ISIS dan Taliban serta Amerika Serikat (AS) sebagai korbannya, pada insiden bom bunuh diri di Bandara Kandahar, Taliban adalah pelakunya.

Hal yang membedakan lainnya, bila saat itu serangan bom bunuh diri didahului oleh peringatan keras melalui video di situs Taliban, serangan bom bunuh diri di Bandara Kabul tidak didahului oleh apapun, mengingat Afghanistan, baik Taliban maupun tentara sekutu, tengah sibuk melancarkan proses evakuasi di sana.

Disebutkan, serangan bom bunuh diri di Bandara Kandahar dimulai dengan menerobos barikade keamanan dan masuk ke area gedung sekolah tua yang disulap jadi pertokoan di area bandara. Tentara Afghanistan dan sekutu pun langsung menghujani mereka dengan peluru tajam dan dibalas hal serupa oleh pejuang Taliban selama berjam-jam.

Kementerian Pertahanan Afghanistan menyebut, insiden bom bunuh diri di Bandara Kandahar menewaskan 50 orang, terdiri dari warga sipil, pasukan keamanan, dan 11 pejuang Taliban. Sementara itu, 35 orang dilaporkan luka-luka.

https://twitter.com/Reuters/status/1430998545566470152?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1430998545566470152%7Ctwgr%5E%7Ctwcon%5Es1_&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.reuters.com%2Fworld%2Fasia-pacific%2Fwestern-nations-race-complete-afghan-evacuation-deadline-looms-2021-08-25%2F

Pada tahun 2018 silam, insiden bom bunuh diri dengan menjadikan Bandara Internasional Hamid Karzai atau Bandara Kabul sebagai targetnya juga pernah terjadi. Saat itu, 14 nyawa melayang dan 60 orang lainnya luka-luka.

Tahun 2013, bom bunuh diri juga terjadi. Walau begitu, insiden di tahun ini tidak ada berhasil menewaskan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) yang dipimpin NATO ataupun warga sipil.

Tahun 2011 serangan bom bunuh diri terjadi di dekat Bandara Kabul. Sejak insiden di tahun ini, tidak ada lagi serangan bom bunuh diri yang menewaskan tentara AS dalam sehari lebih banyak dari serangan bom bunuh diri pada 26 Agustus 2021 kemarin.

Dilansir Reuters, Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan satu ledakan terjadi di dekat Gerbang Abbey Bandara Kabul dan ledakan lainnya di dekat Hotel Baron. Dua pejabat AS mengatakan, dari dua itu, salah satu di antaranya berasal dari bom bunuh diri.

Baca juga: Diburu Taliban Gegara Bersekutu dengan AS, Dua Cerita Pelarian Warga Afghanistan Ini Bikin Merinding!

Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, sendiri beberapa hari lalu pernah mengancam akan memberangus Taliban andai berani menyerang bandara atau mengganggu kepentingan AS dalam mengevakuasi warganya, diplomat, dan warga negara Afghanistan yang bersekutu dengannya selama 20 tahun operasi di negara itu.

Sayangnya, pada insiden bom bunuh diri di luar gerbang Bandara Kabul, di tengah kerumunan warga Afghanistan yang ingin melarikan diri, dan menewaskan 13 tentara AS kemarin bukan didalangi Taliban, melainkan ISIS. Karenanya, apakah Joe Biden akan mengerahkan pasukan keamanan dalam jumlah besar menyikapi hilangnya nyawa warga negara AS?

Putus Asa Pesawatnya Menukik Tajam, Pilot di Perancis Lompat ke Laut dan Hilang

Seorang kopilot di Perancis dilaporkan hilang akibat melompat dari pesawat sesaat sebelum terjadi kecelakaan. Namun nahas, niat hati menyelamatkan diri, pilot tersebut malah hilang dan belum ditemukan keberadaannya sampai berita ini diturunkan.

Baca juga: Inilah Autorotation, Fitur yang Wajib Dikuasai Pilot untuk Keadaan Darurat

Laporan BBC Internasional, kopilot berusia 32 tahun itu disebutkan tengah mengikuti training class menggunakan pesawat kecil Piper. Tetapi, saat berada di dekat pantai di Biscarrosse, barat daya Bordeaux, Perancis, pesawat dilaporkan hilang kendali, menukik tajam dan nyaris nyemplung ke laut.

Merasa tak aman, kopilot tersebut reflek dan menyelamatkan diri dengan cara melompat ke laut. Padahal, pesawat masih bisa mendarat mulus dengan selamat di pantai berkat sang instruktur.

Helikopter dan speedboat penjaga pantai sejak dua hari lalu telah dikerahkan untuk mencari keberadaan kopilot nahas itu. Tetapi, hasilnya nihil. Pencarian terus dilakukan sampai hari ini.

Tim penyelidik sendiri masih mencari tahu penyebab pasti insiden itu. Sejauh ini ada dua dugaan, satu karena pesawat kehabisan bahan bakar dan satu lainnya karena kopilot mengambil alih pesawat hingga menyebabkannya menukik tajam.

Dari kacamata prosedur, tentu apa yang dilakukan kopilot hilang di Perancis ini keliru. Saat terjadi keadaan darurat pada pesawat, tetap tenang tentu menjadi syarat agar segalanya berjalan lancar. Ketenangan menjadi harga mati pilot saat menghadapi berbagai situasi genting saat penerbangan berlangsung.

Terbukti, meski keadannya sudah terlampau genting dan pesawat nyaris celaka, instruktur penerbangan yang melatihnya berhasil mengendalikan pesawat dan mendarat bersamanya dengan selamat.

Pada pesawat perintis seperti itu, mungkin tantangannya tak lebih besar dibanding pesawat narrowbody ataupun widebody. Misalnya, saat terjadi depresurisasi pesawat.

Depresurisasi pesawat sendiri merupakan situasi dimana tekanan udara berkurang yang biasa terjadi di dalam kabin pesawat. Secara epistemologi, depresurisasi pesawat bisa dibilang sama dengan dekompresi eksplosif.

Ketika terjadi depresurisasi, pilot harus menurunkan ketinggian pesawat untuk mengembalikan tekanan udara seperti sedia kala. Namun, dikutip dari Simple Flying, dalam situasi tersebut, rata-rata penumpang dan kru dapat bertahan 25 detik sebelum pingsan.

Itulah mengapa jika depresurisasi pesawat terjadi di sekitar ketinggian 30.000 kaki dan hal tersebut menyebabkan masker oksiden keluar dari langit-langit di atas kursi penumpang, kapten pilot harus sesegera mungkin menurunkan ketinggian sebelum pasokan di tangki oksigen habis. Sebelum itu terjadi, penumpang dan kru sudah dibekali masker oksigen untuk memudahkan bernapas.

Setidaknya pesawat harus berada di ketinggian dimana manusia bisa bernafas secara normal, yaitu di bawah 10 ribu kaki. Sebagai informasi tambahan, tangki oksigen yang dibawa oleh sebuah pesawat ini disimpan di bagian lambung.

Baca juga: Bagaimana Awak Kokpit Mengatasi Situasi Darurat di Udara?

Dalam rentang waktu yang cukup singkat tersebut, dan tentu saja menegangkan, kapten pilot harus dengan cekatan mencari jalur yang aman dan tidak menginterupsi penerbangan lainnya, sembari juga berkomunikasi dengan menara pengawas (ATC) untuk meminta izin melakukan pendaratan darurat.

Mungkin ini terdengar sangat klise dan tidak akan berpengaruh banyak pada Anda yang tengah berada dalam kondisi terdesak seperti ini. Tapi sejatinya, seorang pilot sudah terlatih untuk menangani situasi darurat semacam ini.

Lockheed L-100-30, Hibah Merpati Nusantara Airlines yang Kini Jadi Andalan TNI AU

TNI Angkatan Udara (AU) sudah bukan rahasia lagi mendapat banyak hibah pesawat dari berbagai maskapai dalam negeri, swasta maupun maskapai nasional.

Baca juga: Lockheed L-100 30, “Kenangan” Merpati Nusantara Airlines yang Kini Masih Eksis Mengudara

Pesawat hibah dari Garuda Indonesia, Boeing 737-400 dengan nomor registrasi A-7305, belum lama ini tampil seperti biasa, menjalani misi evakuasi WNI di Kabul, Afghanistan, usai negara tersebut chaos akibat kudeta oleh Taliban.

Pesawat VIP yang sudah berusia menuju 40 tahun itu sudah sangat sering diandalkan TNI AU dalam berbagai misi evakuasi. Selain A-7305, pesawat hibah lain yang juga diandalkan TNI adalah Lockheed L-100-30 hibah dari Merpati Nusantara Airlines (MNA).

Dilansir Indomiliter.com, Lockheed L-100 30 saat ini dioperasikan Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 17 TNI AU. Tak banyak catatan penerbangan ataupun history log pesawat selama di MNA. Tahun pembuatannya juga sangat sulit dicari, baik melalui kata kunci nomor seri manufaktur ataupun PK-MLT. Menariknya, data di Planespotter.net sekalipun, pesawat ini tidak terdaftar dalam barisan armada MNA. Padahal, pesawat pendahulunya tercatat.

Meski begitu, dari foto-foto yang terdapat di Airlines.net, pesawat Lockheed L-100 30 MNA dengan nomor registrasi PK-MLT kerap tertangkap kamera di beberapa bandara, seperti Bandara Kemayoran, Bandara Husein Sastranegara, Bandara I Gusti Ngurah Rai, dan bandara lainnya.

Pada tahun 1995 TNI AU mendapat hibah dua unit L-100-30 dari maskapai Merpati Nusantara Airlines, dan tiga unit L-100-30 dari Pelita Air service. Kelima pesawat tersebut kini menjadi barisan armada Skadron Udara 31, masing-masing dengan nomer A-1325, A-1326, A-1327, A-1338 dan A-1329.

Berbeda dengan Skadron Udara 31, Skadron Udara 17 juga mengoperasikan pesawat yang total diproduksi sebanyak 114 unit ini (jauh dibanding saudaranya Lockheed C-130 Hercules berjumlah lebih dari 2.300 unit). Bedanya, pesawat dibeli baru, bukan program hibah, dan diregistrasi sebagai A-1314. Pesawat diplot sebagai sarana angkut VIP/VVIP.

Sekilas tentang Lockheed L-100-30, pesawat ini dikembangkan berdasarkan kesuksesan Lockheed C-130 Hercules sebagai pesawat angkut militer. Prototipe pertama L-100 terbang perdana pada 20 April 1964 dengan melaukan penerbangan selama satu jam 25 menit. Kemudian sertifikasi kelayakan penerbangan L-100 resmi didapat pada 16 Februari 1965. Pesanan perdana L-100 berjumlah 21 unit untuk Continental Air Services pada tahun 1965.

Baca juga: Setelah 25 Tahun Stop Produksi, Lockheed Martin Tampilkan L-100 di Paris AirShow 2017

Ada tiga varian pesawat yang tersedia, L-100-20, L-100-30, dan LM-100J. Total hanya 114 unit L-100 yang terjual, produksi terakhir terjadi pada tahun 1992. Secara umum, Lockheed L-100-30 punya spesifikasi yang lumayan; panjang 34,35 meter, tinggi 11 meter, kecepatan maksimum 570 km per jam, ketinggian maksimum 23 ribu kaki, dan jangkauan sejauh 2.470 km.

Thailand Bangun Jalur High Speed Rail dari Bangkok ke Pattaya

Thailand sebagai salah satu negara yang populer dikunjungi pelancong dari seluruh dunia. Bukan hanya keindahan alamnya saja, tetapi kebudayaan, makanan hingga pusat perbelanjaannya pun menjadi serbuan pelancong. Selain itu, sistem transportasinya pun mudah seperti kereta api.

Baca juga: Thailand Canangkan Kereta Peluru Trans-ASEAN, Hubungkan Cina, Laos, Malaysia dan Singapura

Hal ini kemudian membuat pemerintah Negeri Gajah Putih tersebut berusaha untuk melayani masyarakat dan pelancong dengan banyak kereta api. Sebab, agar memudahkan mereka mencapai beberapa tujuan tanpa menghabiskan banyak uang untuk penerbangan atau kendaraan pribadi.

KabarPenumpang.com melansir dari laman urbantransportnews.com (25/8/2021), usaha tersebut bahkan didukung dengan disetujuinya kereta api ke Pattaya dan akan menjadi perubahan besar bagi Thailand. Di mana kereta yang akan dibangun adalah jalur untuk high speed rail (HSR) atau kereta peluru dari Bangkok ke Pattaya yang diharapkan akan diresmikan proyeknya tahun 2021 dan mulai beroperasi tahun 2026 mendatang.

Jalur kereta ini akan melintasi Stasiun Bang Sue yang menjadi hub kereta di Bangkok karena memiliki jalur ganda dan teknologi HSR. Jalur ini akan dimulai dari Don Mueang melewati Bang Sue kemudian Makkasan yang terletak di pusat kota Bangkok dan melanjutkan perjalanan ke Chachoengsao, Chonburi, Sriracha hingga Pattaya.

Kehadiran HSR sendiri akan menggantikan cara paling umum pergi dari Bangkok ke Pattaya yang sebelumnya dengan bus. Jalur sepanjang 137 mil atau 220 km akan berakhir di Bandara U–Tapao yang terletak di luar Pattaya di provinsi Rayong.

Bahkan kehadiran sistem perkeretaapian tersebut, pemerintah Thailand berencana memindahkan sekitar sepuluh persen penerbangan dari Bangkok ke U–Tapao. Ini juga untuk mengurangi kemacetan di Suvarnabhumi dan Don Mueang. Pembangunan jalur HSR tersebut diketahui, studi kelayakannya hampir selesai dan akan diserahkan kepada dewan kota serta pemerintah untuk pertimbangan.

Wakil Walikota Pattaya Kiattisak Sriwomgchai mengatakan, ingin meminimalkan penggunaan lahan untuk rute dan jaringan HSR. Track pertama tahun 2020–2026 dipastikan akan memetakan dimulainya pembangunan jalur Hijau dan Ungu. Tahap kedua tahun 2027–2031 akan mencakup penyelesaian Jalur Ungu yang membentang dari Nong Prue ke Sekolah 8 Muang Pattaya.

Baca juga: Tuai Pro dan Kontra, Thailand Setujui Proyek Pembangunan Kereta Cepat dengan Cina

Sedangkan tahap ketiga dan terakhir akan melibatkan pembangunan Jalur Merah yang melewati Jomtien Sai 2 Road, Pattaya Sai 2 Road dan Dolphin Circle. Nantinya proyek ini adalah salah satu bagian utama dari rencana Komite Koridor Ekonomi Timur untuk mengembangkan tiga provinsi timur Changchoengsao, Rayong dan Chon Buri.

Dulu Beroperasi untuk Industri Minyak dan Gas, Kini Bandara Ngloram dalam Reaktivasi Komersial

Bandara Ngloram saat ini tengah dalam reaktivasi dan ditargetkan selesai pada 2021. Bandara ini dibangun tahun 1978 dan beroperasi hingga 1984 lalu. Bandara Ngloram sendiri awalnya adalah aset Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia, Minyak dan Gas Bumi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Baca juga: KRD Cepu Ekspres – Pernah Jadi Idola Transportasi Warga Blora

Kemudian dihibahkan pada Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara hingga akhirnya direaktivasi. Bandara Ngloram berada di Kecamatan Cepu, Jawa Tengah. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, setelah direaktivasi, progresnya adalah sistem udara yang sudah memenuhi syarat dan kini berfokus pada gedung terminal penumpang yang sudah 90 persen.

Tak hanya terminal penumpang, akses jalan masuk menuju bandara juga akan dikebut dan dalam tahap penimbunan tanah. Bandara Ngloram terletak di daerah sekitar persawahan dan tak jauh dari Stasiun Kapuan sekitar 1,5 km dan sekitar 12 kilometer Stasiun Kereta Api di Kota Cepu.

Sebelum direaktivasi seperti saat ini, pada 2018, Bandara Ngloram pernah diperbaiki dan sekaligus dialihkan dari Kementerian ESDM ke Kemenhub untuk dijadikan bandara umum. Bandara tersebut memiliki landasan pacu sepanjang 1.500 meter, dengan lebar 30 meter karena dulu hanya dikhususkan untuk mendukung industri minyak dan gas di Cepu dan sekitarnya.

Berbeda dari fungsi sebelumnya, pengembangan Bandara Ngloram ditujukan untuk melayani penumpang umum dan ekspatriat dan menjadi bandara komersial. Dalam reaktivasi akan ada beberapa tahap yakni memperluas runway menjadi 1.400 m x 30 m, apron 84 m x 60 m, serta pembangunan terminal penumpang seluas 240 meter persegi dengan kapasitas <50 ribu penumpang per tahun.

Tahap ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2020, agar dapat segera dioperasikan menjadi bandara komersil. Pada tahap kedua dilakukan pengembangan runway menjadi 1.600 x 30 m, apron menjadi 127 m x 90 m, terminal penumpang menjadi 2.013 meter persegi dengan kapasitas 138.562 penumpang per tahun.

Tahap ketiga, runway diperluas menjadi 1.850 m x 45 m, apron menjadi 168 m x 90 m, dan terminal penumpang menjadi 3.726 meter persegi dengan kapasitas 237.390 penumpang per tahun. Ditahap terakhir direncanakan runway akan memiliki panjang 2.000 m x 45 m, apron seluas 168 m x 90 m akan di fasilitasi untuk dapat menampung empat pesawat ATR 72-600 serta dua pesawat Boeing 737-600.

Selain itu terminal penumpang yang luasnya 5.216 meter persegi dengan kapasitas 420.551 penumpang per tahun. Untuk diketahui penghujung tahun 2020, menjadi catatan sejarah Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, sejak terakhir beroperasi tahun 1984, bandara ini berhasil dipergunakan pendaratan pesawat komersil ATR 72 milik maskapai penerbangan Nam Air berkapasitas penumpang 70 orang.

Ini menjadi bukti penerbangan dan kelayakan Bandara Ngloram untuk beroperasi. Saat ini Progres pembangunan terminal Bandara Ngloram memasuki proses finishing. Segala persiapan, mulai pembangunan counter tiket dan layanan pemeriksaan sesuai standar pencegahan Covid-19, gedung terminal penumpang dan akses jalan masuk menuju bandara terus dikebut.

Baca juga: Dongkrak Perekonomian Wilayah Purbalingga, Bandara JB Soedirman Siap Beroperasi di 2019

Bandara Ngloram yang terletak di ujung timur Jawa Tengah itu diharapkan membuka aksesibilitas ke Kabupaten Blora dan sekitarnya yang akan berdampak pada peningkatkan ekonomi daerah. Bahkan beredar kabar, Bandara Ngloram namanya akan diganti menjadi Bandara Abdul Rahman Wahid.

Garuda Indonesia Mulai Uji Coba Penerapan IATA Travel Pass

Garuda Indonesia akan melaksanakan uji coba penerapan “International Air Transport Association (IATA) Travel Pass” sebagai aplikasi autentikasi dokumen kredensial kesehatan untuk persyaratan perjalanan udara internasional. Adapun uji coba penggunaan “IATA Travel Pass” tersebut akan dilaksanakan mulai 30 Agustus hingga 13 September 2021, dimana pada tahap awal akan diterapkan pada penerbangan GA874/GA875 rute Jakarta-Haneda pergi pulang (PP).

Baca juga: 1 Mei 2021, Singapura Resmi Gunakan IATA Travel Pass untuk Data Covid-19 Pelancong 

Melalui uji coba ini, Garuda Indonesia menjadi maskapai pertama di Indonesia yang melakukan uji coba aplikasi IATA Travel Pass kepada pengguna jasa layanan udara untuk mengelola dokumen kredensial kesehatan Covid-19 digital secara lebih mudah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah, khususnya bagi mereka yang akan melakukan perjalanan udara internasional.

IATA Travel Pass merupakan sebuah aplikasi berbasis digital yang memungkinkan penggunanya untuk menyimpan dan mengelola hasil sertifikasi tes atau vaksin Covid-19 dengan mudah dan aman. Melalui IATA Travel Pass tersebut, para pengguna jasa Garuda Indonesia dapat dengan mudah memperoleh informasi perihal persyaratan dokumen Covid-19 untuk destinasi tujuan, termasuk informasi tentang lokasi laboratorium pengujian Covid-19 yang terakreditasi. Lebih lanjut, aplikasi tersebut juga memungkinkan pengguna jasa memiliki paspor digital untuk mengelola dokumen perjalanan yang dibutuhkan.

Dalam pesan tertulisnya (27/8/2021), Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan bahwa menjadi sebuah kebanggaan tersendiri menjadi maskapai pertama di Indonesia yang dipercaya untuk melaksanakan uji coba IATA Travel Pass dimana uji coba ini memiliki arti penting dalam mempersiapkan maskapai dan industri penerbangan ketika berbagai negara secara bertahap mulai melonggarkan pembatasan wilayah. Lebih lanjut, uji coba IATA Travel Pass ini merupakan upaya Garuda Indonesia untuk senantiasa bergerak adaptif di era yang penuh tantangan saat ini, salah satunya melalui optimalisasi layanan digital.

“Kami memahami bahwa era kenormalan baru ini tentunya telah mengubah pola perjalanan masyarakat internasional. Uji coba IATA Travel Pass ini merupakan upaya kami dalam memberikan nilai tambah bagi para penumpang kami dengan menghadirkan kemudahan, rasa aman dan kenyamanan dalam melaksanakan perjalanan antarnegara melalui layanan yang lebih seamless khususnya di masa adaptasi kebiasaan baru ini,” papar Irfan.

Irfan menambahkan, “Kolaborasi bersama IATA juga merupakan bentuk nyata dukungan Garuda Indonesia tidak hanya terhadap pemulihan ekonomi nasional namun juga industri penerbangan global, melalui berbagai inovasi dan kolaborasi bersama berbagai mitra khususnya IATA—sebagai asosiasi pengangkutan udara internasional—untuk memulai kembali konektivitas antarnegara. Kiranya uji coba aplikasi digital ini tidak hanya dapat memberikan kemudahan bagi para penumpang namun juga, di saat yang bersamaan, dapat memberikan kepastian bagi negara tujuan terkait validitas dokumen kredensial kesehatan sesuai yang dipersyaratkan oleh otoritas setempat.”

Baca juga: Qatar Airways Uji Coba IATA Travel Pass, Klaim Jadi yang Pertama di Dunia! Benarkah? 

Para pengguna jasa dapat mengunduh aplikasi IATA Travel Pass secara mudah dan langsung pada perangkat seluler melalui iOS dan Google Play Store. Selanjutnya, pada aplikasi tersebut pengguna jasa dapat membuat akun dengan mengisi data diri digital dengan melampirkan foto dan paspor. Dengan memasukkan informasi rencana perjalanan ke aplikasi IATA Travel Pass, pengguna akan mendapatkan informasi lengkap perihal persyaratan dokumen Covid-19 yang berlaku di destinasi tujuan. Lebih lanjut, pengguna memiliki kendali penuh atas informasi pribadi yang akan dicantumkan karena penyimpanan data dilakukan secara lokal pada ponsel, bukan pada database pusat manapun.

Sudah ‘Pensiun Dini’, Qantas Umumkan Airbus A380 Terbang Lagi Mulai 2022

Entah apa yang merasuki Qantas. Maskapai nasional Australia itu baru-baru ini mengumumkan bakal menarik lima pesawat Airbus A380 dari kuburan pesawat di fasilitas penyimpanan jangka panjang, di Boneyard, Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS). Paling lambat, itu akan terjadi setelah bulan Juli 2022.

Baca juga: Qantas Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Amerika Serikat

Airbus A380 Qantas akan terbang antara Sydney dan Los Angeles mulai Juli 2022. Selain itu, rute gemuk maskapai, antara Sydney dan London (transit di Singapura) mulai November 2022.

“A380 bekerja dengan baik pada rute jarak jauh ini ketika ada permintaan yang cukup, dan tingkat vaksinasi yang tinggi di kedua pasar akan mendukung hal ini,” ujar maskapai dalam sebuah pernyataan.

Meski begitu, CEO Qantas, Alan Joyce, mengatakan, dari 12 armada A380, maskapai hanya akan mengoperasikan 10 di antaranya. Sedangkan dua sisanya, tetap akan disimpan di fasilitas jangka panjang. Bisa dibilang, dua pesawat itu hanyalah pemain cadangan. Andai permintaan tinggi, pesawat itu akan kembali mengudara.

Demikian juga sebaliknya, andai penerbangan penumpang dan kargo masih sepi, bukan tak mungkin Airbus A380 Qantas akan tetap berada di Gurun Mojave sampai kondisi berangsur normal.

Usai terbang perdana pada Juli 2022 mendatang pasca ‘pensiun dini’ pada pertengahan tahun lalu, secara bertahap 10 pesawat itu baru bisa beroperasi seluruhnya pada 2024.

Di antara banyak negara yang diterbangi Qantas, rute ke negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi, seperti sebagian negara Asia semisal Singapura, Amerika Utara, dan Inggris, akan menjadi andalan rute internasional maskapai. Traveler disebut akan lebih nyaman bepergian ke sana dibanding negara lain dengan tingkat vaksinasi rendah.

Adapun rute internasional ke negara atau kota dengan tingkat vaksinasi rendah, seperti Bali, Jakarta, Manila, Bangkok, Phuket, Kota Ho Chi Minh, dan Johannesburg, masih akan ditunda sampai April 2022.

“Ada banyak pekerjaan yang perlu dilakukan, termasuk pelatihan untuk orang-orang kami dan dengan hati-hati membawa pesawat (A380) kembali ke layanan,” kata Alan Joyce.

“Beberapa orang mungkin mengatakan kami terlalu optimis, tetapi berdasarkan kecepatan peluncuran vaksin, ini dalam jangkauan dan kami ingin memastikan kami siap,” tutupnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Sebelumnya, pada Juli tahun lalu, Qantas mengatakan bakal menggrounded armada A380 selama tiga tahun lebih. Sebagai gantinya, Qantas akan memaksimalkan dua jenis pesawat lainnya, Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A330.

Mengingat begitu dinamisnya kebijakan Qantas, menarik ditunggu, apakah maskapai akan benar-benar bisa mengoperasikan pesawat superjumbo itu?

Ponsel Samsung Galaxy A21 Meledak di Kabin Alaska Airlines yang Sedang Mendarat

Smartphone Samsung kembali meledak di sebuah pesawat Alaska Airline dengan nomor penerbangan 751. Akibatnya, semua penumpang dievakuasi setelah mendarat di Bandara Internasional Tacoma di Seattle, Amerika Serikat pada Senin (23/8/2021) kemarin.

Baca juga: (Lagi) Kasus Ponsel Meledak, Kali Ini Dialami Air Canada Flight 101

Ledakan yang terjadi di dalam kabin pesawat Alaska Airline bukanlah peristiwa kecil, karena nyala api yang cukup besar sehingga mengharuskan pendaratan darurat dan seluruh orang yang ada dievakuasi . Dilansir KabarPenumpang.com dari gizchina.com (25/8/2021), saat melihat api kecil, awak kabin langsung menggunakan tas penahan baterai dan alat pemadam kebakaran untuk menghentikan api dari smartphone.

Namun demikian, pihak maskapai mengevakuasi para penumpang dan mengangkut mereka kembali ke bandara dengan bus. Untungnya insiden meledaknya Samsung Galaxy A21 itu terjadi tepat setelah mendarat di bandara dan maskapai menanganinya dengan cukup baik.

“Setelah banyak menggali, saya dapat memberi tahu Anda bahwa telepon itu terbakar tanpa bisa dikenali. Namun, saat wawancara dengan salah satu petugas Kepolisian Port of Seattle kami, penumpang tersebut secara sukarela menyatakan bahwa ponsel tersebut adalah Samsung Galaxy A21. Sekali lagi, kami tidak dapat mengonfirmasinya dengan melihat sisa-sisa perangkat,” ujar Perry Cooper, juru bicara Port of Seattle.

Untungnya dalam insiden terbakarnya smartphone Samsung ini tidak ada korban jiwa. Di mana secara keseluruhan dari 129 penumpang dan 6 awak kabin turun dengan selamat meski ada dua penumpang yang harus ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Laporan menunjukkan bahwa Alaska Airlines dan maskapai regional Horizon Air memperkenalkan tas penyegel baterai khusus untuk kru, tas ini tahan api dan dapat menangani suhu hingga tinggi.

Kehadiran perangkat tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik dalam situasi ini. Samsung Galaxy A21 merupakan smartphone entry-level keluaran tahun 2020 yang dilengkapi baterai lithium ion 4000 mAh. Penting untuk dicatat bahwa perangkat apa pun dengan baterai lithium-ion memiliki potensi risiko ledakan api.

Baca juga: Awas, Kelamaan Dicas dan Terselip di Kursi Pesawat, Ponsel iPhone Meledak dan Terbakar!

Ini jelas merupakan kasus yang terisolasi dan tidak berarti bahwa Galaxy A21 memiliki masalah. Selama bertahun-tahun, ada beberapa peristiwa yang terisolasi di berbagai merek. Meski begitu tidak berarti bahwa ponsel cerdas atau baterainya buruk.