Airbus A320neo Azul Livery Mickey Mouse Siap Terbang Perdana

Ada yang beda dari pesawat Airbus A320neo Azul Linhas Aéreas. Maskapai asal Brasil tersebut menggunakan livery Mickey Mouse nan lucu, serta Walt Disney World untuk melengkapinya.

Baca juga: Lilium Pamer Penjualan 220 Unit Taksi Udara eVTOL Terbesar di Dunia Bernilai Rp12,5 Triliun

Saat ini, pengerjaan livery Mickey Mouse dan Walt Disney World serta warna identik yang menyertainya, kuning, merah, dan hitam, sudah rampung.

Proses pemasangan mesin di Toulouse, Perancis, juga sudah selesai. Disebutkan, pesawat dengan nomor seri 10582 dan diregistrasi sebagai F-WWOT di Perancis, sekalipun akan diregistrasi ulang menjadi PR-YSH di Brasil, tak lama lagi akan menjalani penerbangan perdana.

Bagi Azul, ini adalah pesawat pertama maskapai dengan livery Walt Disney. Sebelumnya maskapai memang beberapa kali menggunakan livery unik, seperti livery Timnas Brasil, Ararinha Azul, dan sederet livery berwarna-warni lainnya, begitu laporan aviacionline.com.

Disney sendiri memang sedang gencar mempromosikan brand mereka ke seluruh dunia lewat livery Mickey Mouse dan Walt Disney World. Ini dilakukan untuk memperingati 50 tahun berdirinya taman rekreasi pertama perusahaan berdiri. Perayaan tersebut akan dimulai pada 1 Oktober mendatang dan terus berlangsung selama 18 bulan.

Selain pesawat A320neo Azul Linhas Aéreas, Disney juga sudah mempromosikan brandnya dalam momentum perayaan 50 tahun berdirinya taman rekreasi pertama perusahaan ke dua pesawat LATAM Airlines. Satu di pesawat Boeing 767-300ER dengan tail art Walt Disney World dan lainnya Boeing 777 dengan livery Stormtrooper, karakter tentara fiksi dalam film Star Wars.

Azul Linhas Aéreas Brasileiras atau Azul Brazilian Airlines sendiri adalah maskapai penerbangan yang berpusat di Barueri, pinggiran kota Sao Paulo, Brasil.

Maskapai berbiaya rendah (LCC) swasta ini didirikan pada 5 Mei 2008 oleh David Neeleman (pendiri maskapai bertarif rendah Amerika, Morris Air dan JetBlue, serta maskapai Kanada, Westjet).

Kendali masih tergolong muda, tetapi, maskapai yang juga biasa disebut Azul (bermakna “Biru” dalam bahasa Portugis) ini berhasil meraup pangsa pasar 17,8 persen untuk penerbangan domestik dan 11,8 persen untuk penerbangan internasional, jika dihitung berdasarkan pendapatan per penumpang per kilometer, pada tahun 2017 silam.

Capaian tersebut berhasil mengantarkannya menjadi maskapai terbesar ketiga untuk penerbangan domestik dan terbesar kedua untuk penerbangan internasional di Brasil. Meski menjadi maskapai terbesar ketiga, tetapi, Azul melayani lebih banyak kota dan terbang lebih sering ketimbang para kompetitornya.

Azul sebelumnya banyak mengoperasikan pesawat lokal Embraer 195. Tetapi, semakin ke sini, maskapai mulai mengoperasikan pesawat lainnya, seperti Airbus A330neo, menjadikannya sebagai maskapai pertama di kawasan Amerika Selatan.

Baca juga: Eva Air Tampilkan Tema Hello Kitty di Boeing 777-300ER

Bahkan, baru-baru ini, maskapai Azul Linhas Aéreas memulai era baru penerbangan penumpang usai menyepakati pembelian taksi udara eVTOL terbesar di dunia, Lilium, sebanyak 220 unit.

Brasil sendiri dikenal sebagai pasar helikopter terbesar kedua di dunia. Itu mungkin dilandasi berbagai faktor, seperti infrastruktur yang buruk, geografi, serta tingginya tingkat kejahatan di jalan seperti pembajakan, penodongan, pencurian, dan sejenisnya. Tak ayal, transportasi udara sangat diandalkan dan tumbuh pesat di sini.

Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

Peristiwa 11 September tahun 2001 atau biasa juga disebut Tragedi 11 September meninggalkan banyak kisah. Salah satunya dari Paul Veneto, pramugara United Airlines. Ketika itu, Paulie, sapaan akrabnya, lolos dari insiden pesawat yang dibajak dan menabrakkan diri ke Twin Tower itu karena ia libur bertugas di hari kejadian.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Meski begitu, teman-temannya di maskapai banyak yang menjadi korban. Karenanya, untuk menghormati mereka setelah 20 tahun berlalu, ia akan mendorong troli makanan-minuman di pesawat (beverage cart) dari Boston ke New York City sejauh 350 km (setara Jakarta-Pekalongan) dengan berjalan kaki.

Padahal, saat ini usianya tak lagi muda, menginjak 62 tahun. Tetapi, sekali lagi, itu ia lakukan demi menghormati rekan-rekannya yang menjadi korban peristiwa 9/11.

Dilansir ksat.com, ketika itu, pagi hari pada 11 September 2001, pesawat Boeing 767-222 United Airlines dengan nomor penerbangan 175 memuat sembilan penumpang dan 56 penumpang, lima di antaranya disebut sebagai teroris.

Sebelum peristiwa 11 September 2001 terjadi, Veneto malam harinya masih berkomunikasi seperti biasa kepada rekan-rekannya sehabis ia bertugas. Karena itu, ia mendapat waktu libur di keesokan harinya (pagi hari).

“Saya akhirnya terbang pada (8 September) dan saya kembali (10 September) pukul 8 malam. Mereka pergi Selasa pagi, (11 September 2001),” jelasnya.

Saat pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 menabrak Menara Utara World Trade Center pada pukul 08.46 waktu setempat, Veneto sedang berada di rumah temannya, dan tak melihat langsung kejadian itu.

Barulah saat pesawat Boeing 767-222 United Airlines Flight 175 menabrak Menara Selatan World Trade Center, ia menyaksikannya secara langsung. “Sejak saat itu, hidup saya berubah selamanya. Itu sangat kacau,” tambahnya.

Setelah peristiwa 11 September 2001, hidupnya berubah signifikan. Ia bahkan sampai harus mengkonsumsi obat penenang Opioid sejenis morfin, untuk membuatnya rileks saat di pesawat sekaligus lupa akan peristiwa itu.

“Banyak orang (pramugara-pramugari) tidak kembali bekerja, dan saya tidak menyalahkan mereka, tetapi saya tidak menyerah. Saya berkata, ‘Saya tidak akan membiarkan mereka mengambil karier saya.’ Dan di situlah saya mulai kecanduan Opioid,” ujarnya.

“Saya mati rasa (sehabis mengkonsumsinya). Saya tidak merasakan efek sebenarnya dari apa yang sedang terjadi. Saya tidak mengetahuinya saat itu, tetapi setiap tahun perayaan tragedi 11 September 2001 datang, saya selalu mengkonsumsinya (Opioid),” lanjutnya.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat 

Barulah setelah 15 tahun berlalu, ia tersadar bahwa mengkonsumsi Opioid agar lupa dengan peristiwa 11 September 2001 tidak baik dan ia mulai meninggalkannya. Seketika itu, ia juga bertekad untuk berjalan kaki mendorong troli makanan-minuman di pesawat dari Bandara Internasional Logan di Boston ke Ground Zero di New York.

Maka dari itu, di perayaan 20 tahun peristiwa 11 September 2001, ia bertekad untuk melancarkan aksinya. Paulie mendapat banyak dukungan moril maupun materil dari berbagai pihak atas rencananya tersebut.

Afghanistan Punya Tiga Jalur Kereta, Statusnya “Hidup Segan Mati Tak Mau”

Afghanistan saat ini tengah mengalami konflik dan banyak warganya yang pergi meninggalkan negara kaya konflik tersebut. Bahkan banyak beredar video, mereka naik pesawat kargo milik Amerika Serikat untuk menyelamatkan diri. Hal ini karena dari mereka banyak yang bingung harus kabur menggunakan transportasi apa dan kemana.

Baca juga: Setelah Tertunda 13 Tahun, Iran dan Afghanistan Akhirnya Terhubung dengan Jalur Kereta

Sebenarnya negara yang tidak memiliki batas laut tersebut bisa dikatakan hanya terhubung dengan transportasi darat dan udara. Salah satu transportasi darat adalah kereta api, yang mana Afghanistan memiliki tiga jalur kereta api. Jalur pertama adalah antara Mazar-i-Sharif dan kota perbatasan Hairatan di provinsi Balkh, yang kemudian terhubung dengan Kereta Api Uzbekistan Uzbekistan (dibuka 2011).

Kemudian jalur kedua menghubungkan Torghundi di provinsi Herat dengan kereta api Turkmenistan yang dibuka sejak tahun 1960. Untuk jalur ketiga menghubungkan Turkmenistan dan Aqina di provinsi Faryab Afghanistan dibuka tahun 2016 yang membentang ke selatan ke kota Andkhoy.

KabarPenumpang.com merangkum dari Wikipedia, ternyata negara ini tidak memiliki layanan kereta api penumpang, tetapi jalur kereta baru dari Herat ke Khaf di Iran dipergunakan untuk kargo dan penumpang belum lama selesai. Bahkan layanan ini juga diusulkan di seksi Hairatan – Mazar-i-Sharif dan Mazar-i-Sharif – Aqina.

Bisa dikatakan, jaringan kereta api Afghanistan hingga saat ini masih dalam tahap pengembangan. Bahkan dalam waktu dekat akan diperpanjang dalam waktu dekat.  Jalur yang diperpanjang itu nantinya untuk lalu lintas kargo serta transportasi penumpang.

Tak hanya itu, perpanjangan jalur ini merupakan rencana utama yang mana menggunakan Afghanistan untuk menghubungkan kereta api ke empat negara anak benua Asia. Awalnya tahun 1920-an, Raja Amanullah membeli tiga lokomotif uap kecil dari Henschel of Kassel di Jerman, dan ini mulai dikerjakan pada jalur trem sepanjang 7 km. Trem ini yang menghubungkan Kabul dan Darulaman.

Namun kemudian, jalur trem ditutup, dan dibongkar pada tahun 1940-an, tetapi lokomotif masih ada di museum Kabul di Darulaman. Sebelumnya, pada 1885 ada rencana untuk menghubungkan kereta api Transkaspia Rusia dengan British India melalui Sarakhsm Herat dan Kandahar. Lalu sekitar tahun 1928, proposal diajukan untuk jalur kereta api untuk menghubungkan Jalalabad dengan Kabul, yang akhirnya menghubungkan ke sistem India (saat itu) di Peshawar.

Garis untuk bergabung dengan Kabul dengan Kandahar dan Herat akan menyusul kemudian. Sayangnya, karena pergolakan politik rencana ini tidak dilaksanakan. Pada 1950-an pembangkit listrik tenaga air dibangun di Surobi, sebelah timur Kabul. Tiga lokomotif diesel-hidrolik ukuran sempit 600 mm. Henschel empat roda yang dibangun pada tahun 1951 (nomor pekerjaan 24892, 24993, 24994) dipasok ke pembangkit listrik.

Baca juga: Ingin ‘Kuasai’ Bandara Kabul Afghanistan, Erdogan Minta Restu AS

Pada tahun 1979 pembuat lokomotif pertambangan dan konstruksi Bedia Maschinenfabrik dari Bonn memasok lima lokomotif diesel-hidraulik 600 mm D35/6 dua gandar 600 mm nomor pekerjaan 150-154, kepada pelanggan yang tidak dikenal di Afghanistan.

Untuk diketahui, pemerintah Afghanistan masa lalu lebih memilih untuk mencegah pembangunan rel kereta api yang dapat membantu campur tangan asing di Afghanistan oleh Inggris atau Rusia. Sampai abad ke-21, ada kurang dari 25 km rel kereta api di dalam negeri, yang semuanya dibangun dengan ukuran Rusia 1.520 mm.






















Airbus Bakal Gantikan Majalah Skymall dengan Majalah OLED Digital, Seperti Apa?

Majalah Skymall (termasuk majalah lain) dan layar inflight entertainment (IFE) di belakang kursi pesawat saat ini memang sudah ditinggalkan. Bukan karena keberadannya ingin dihilangkan tetapi karena pandemi virus Corona yang mengharuskan maskapai untuk mengurangi kehadiran benda-benda yang banyak disentuh penumpang.

Baca juga: Di Masa Mendatang, Pesawat Bakal Tanpa Jendela! Layar OLED Jadi Gantinya

Meski begitu, di masa mendatang, keduanya benar-benar akan dihilangkan, setidaknya oleh Airbus. Sebagai gantinya, produsen pesawat asal Eropa itu akan menghadirkan perangkat majalah digital dengan layar Organic- Light Emitting Diode (OLED) atau disebut juga majalah OLED digital.

Dibanding majalah berbentuk fisik atau hardcopy yang mudah lusuh, robek, dan sebagainya, serta layar IFE dengan kualitas rendah, kecil, dan terletak jauh dari penumpang, majalah OLED digital memang menjanjikan berbagai kelebihan. Majalah OLED digital disebut lebih flesibel, kuat, mudah diupdate, dibersihkan, dan berbagai kelebihan lainnya.

Saat ini, majalah hardcopy di belakang kursi pesawat memang sudah dicarikan alternatif berupa majalah digital yang terintegrasi dengan layar inflight entertainment (IFE) tanpa sentuh ataupun fitur Companion App, dimana penumpang bisa menggunakan ponsel mereka untuk menikmati hiburan dalam penerbangan, dengan mengunduh aplikasi tertentu agar bisa tersambung dengan sistem dan jaringan WiFi maskapai di pesawat.

Tetapi, solusi tersebut disebut tidak efisien karena harus dibantu pramugari atau kru kabin untuk bisa mengoperasikannya. Padahal, pramugari terlalu banyak pekerjaan untuk sekedar membantu penumpang login ke sistem IFE maskapai melalui ponsel masing-masing.

Karenanya, konsep perangkat majalah OLED digital diyakini mampu memecahkan permasalahan tersebut tanpa membuat masalah baru.

Pada tahun 2018, Airbus menggandeng Royole Technology untuk mengeksplorasi bagaimana tampilan OLED yang fleksibel dapat digunakan di industri penerbangan. Royole diketahui berpengalaman dalam membuat layar OLED, salah satunya FlexPai, smartphone OLED lipat pertama di dunia.

Bersama Royole, Airbus mengembangkan konsep majalah digital OLED. Bentuknya mirip iPad tetapi dengan nuansa yang lebih fleksibel.

Melalui perangkat majalah OLED digital itu, penumpang memiliki akses tak terbatas, termasuk memesan makanan (termasuk membayarnya menggunakan kartu kredit), membaca majalah dan surat kabar digital, streaming film, acara TV, dan musik, bahkan internetan, andai maskapai menyediakan WiFi onboard.

Perangkat majalah OLED digital Airbus di pesawat juga akan disisipi safety instructions di cover majalah dan bagian tengah ketika penumpang membukanya. Ini diyakini lebih efektif dalam menyampaikan informasi prosedur keselamatan saat terjadi keadaan darurat.

Layar OLED pada majalah digital Airbus di pesawat bukan hanya memberikan tampilan yang jauh lebih baik daripada layar IFE di belakang kursi, tetapi lebih hemat daya dan lebih fleksibel untuk diposisikan penumpang saat menonton film dan lain sebagainya.

Di masa pandemi, perangkat majalah digital OLED juga lebih mudah dibersihkan untuk mencegah penularan virus Corona.

Baca juga: Perangi Karbon Dioksida, ANA Pensiunkan Majalah Cetak di Pesawat

Perangkat majalah digital OLED ini nantinya tetap diletakkan di penyimpanan di belakang kursi, seperti majalah hardcopy yang ada saat ini.

Dalam waktu dekat, perangkat majalah digital OLED akan diuji coba Airbus. Andaipun berhasil, belum tentu itu akan tersedia di seluruh maskapai, mengingat keuangan mereka saat ini terpuruk pasca pandemi virus Corona.

Lokomotif “Ramah Lingkungan” H10 Menjadi yang Pertama Diekspor SHM Rail Malaysia

SHM Rail yang merupakan produsen lokomotif milik Malaysia baru saja merilis lokomotif seri H10 baru. Bahkan ini merupakan lokomotif pertama yang dibuat Malaysia untuk pasar ekspor. H10 merupakan lokomotif diesel dan sudah dilengkapi teknologi canggih untuk mengurangi emisi.

Baca juga: Thailand Canangkan Kereta Peluru Trans-ASEAN, Hubungkan Cina, Laos, Malaysia dan Singapura

KabarPenumpang.com melansir railjournal.com (22/8/2021), SHM Rail mengatakan lokomotif seri H10 mampu mengangkut barang sebanyak seratus truk. Selain itu mengurangi mampu emisi karbon hingga 75 persen dan kemacetan di jalan. Lokomotif ini memiliki desain praktis yang memastikan keandalan dan ketersediaan tinggi untuk meningkatkan efisiensi operasional, kapasitas angkut dan mengurangi tantangan perawatan yang menghasilkan biaya siklus operasional keseluruhan yang lebih rendah.

Lokomotif seri H10 memiliki kabin ganda yang memenuhi standar UIC dan dirancang untuk pengangkutan berat serta layanan jarak jauh tanpa gangguan. Salah satu fitur utamanya adalah kemampuan untuk beroperasi di medan dan kondisi cuaca yang menantang.

Tak hanya itu H10 juga dilengkapi dengan pemantauan dan diagnostik jarak jauh untuk memberikan pembaruan waktu nyata kepada operator untuk memungkinkan mereka memantau kinerja dari jarak jauh termasuk kecepatan, kebutuhan perawatan, konsumsi bahan bakar dan peringatan kesalahan. Ini mendukung analisis data yang melacak penanganan yang lalai, mengurangi risiko kegagalan dan meningkatkan keselamatan operasional.

Lokomotif Co-Co gelombang pertama akan dikirim ke Tanzania Railways Corporation, yang memesan setelah menerima dukungan dana dari Bank Dunia.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

“Saya yakin bahwa lokomotif ini akan membawa manfaat ekonomi yang sangat besar bagi industri kargo Kereta Api Afrika. Ini efisien dalam menjembatani konektivitas, meningkatkan akses rantai pasokan, mempercepat industrialisasi dan mempromosikan perdagangan lintas batas. Dengan lebih dari 60 persen kontennya diproduksi secara lokal di Malaysia, Seri H10 menandai pencapaian penting perusahaan kami di industri perkeretaapian global,” kata ketua dan direktur pelaksana SMH Rail, PK Nara.

Jepang Luncurkan Kereta Bertenaga Hibrida Tahun 2022, Kini Mulai Uji Coba

Jepang yang terkenal dengan kereta sebagai transportasi populer tak berhenti hanya di shinkansen yang merupakan kereta peluru. Sebab pada tahun 2022, Central Japan Railway Company atau JR Central akan memperkenalkan keluarga baru yakni kereta dengan teknologi hibrida.

Baca juga: Gandeng Rolls-Royce, Porterbrook Uji Kereta Bertenaga Listrik Hibrida Pertama di Inggris

Kereta tersebut akan menggunakan kombinasi baterai dan mesin diesel pertama di Negeri Sakura yang mampu melaju dengan kecepatan maksimum 120 km per jam. KabarPenumpang.com melansir dari laman mainichi.jp (26/8/2021), JR Central yang merupakan operator kereta telah menggelar uji coba untuk media pada 24 Agustus lalu.

Nantinya kereta ekspres hibrida seri HC85 yang baru akan menggantikan kereta diesel seri 85 yang saat ini digunakan untuk kereta terbatas Hida dan Nanki.

“Kereta hybrid berjalan menggunakan motor yang digerakkan bersama oleh tenaga dari mesin diesel dan listrik yang disimpan dalam baterai isi ulang. Sementara kereta seri 85, yang diperkenalkan 32 tahun lalu, masing-masing memiliki dua mesin diesel, kereta seri HC85 masing-masing memiliki mesin dan baterai yang dapat diisi ulang,” ujar JR Central.

Selama acara test-ride, kereta melaju antara Stasiun Unuma di Kakamigahara, Prefektur Gifu, dan Stasiun Nagoya di Prefektur Aichi dengan kecepatan maksimum hampir 120 km per jam. Kereta melaju dengan suara mesin dan getaran yang minim, serta kualitas perjalanan telah meningkat dari seri 85.

Menurut JR Central, kereta baru ini sekitar 35 persen lebih hemat energi dan mengeluarkan sekitar 30 persen lebih sedikit karbon dioksida dari pendahulunya. Ini juga membawa sistem pemantauan konstan termasuk data pada mesin dan komponen lainnya, dan mendeteksi tanda-tanda masalah internal. Biaya untuk menghadirkan 64 mobil (gerbong) baru pada seri kereta baru ini mencapai 31 miliar yen (sekitar US$282 juta).

Baca juga: Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia

“Kami akan terus memperkenalkan dan mengejar teknologi terbaru sehingga kereta api akan dicintai oleh wisatawan dan masyarakat lokal,” kata Manajer departemen gerbong kereta Takashi Sugiyama.






















10 Tahun Lalu Diterbangkan dari Afghanistan, Presenter Bertemu Pilot Penolongnya Saat ke Paralimpiade Tokyo

Sepuluh tahun lalu, seorang veteran marinir Inggris yang juga presenter BBC yakni JJ Chalmers tidak pernah tahu siapa yang menerbangkannya keluar dari Afghanistan saat dirinya dalam keadaan koma karena terkena bom di pinggir jalan. Namun saat dirinya dalam perjalanan menuju ke Jepang untuk meliput Paralimpiade Tokyo untuk BBC Radio 5 Live, seorang awak kabin menepuk pundaknya dengan misterius.

Baca juga: Teka-teki Dibalik Sistem Pertahanan Udara di Bandara Kabul Afghanistan

“Ini salah satu pekerjaan impian saya dan merupakan momen yang cukup istimewa sampai satu awak kabin menarik saya ke satu sisi dan berkata, ‘Tuan Chalmers, apakah saya benar mengatakan bahwa Anda bertugas di Afghanistan?’ Dan saya seperti, ‘Ini mau kemana? Apa yang terjadi disini?’“ ungkapnya.

Saat itu awak kabin mengatakan bahwa pilot mereka menerbangkan dirinya kembali dari Afghanistan ke Inggris saat terluka sepuluh tahun lalu. Chalmers mengaku dirinya menangis sebagai salah satu reaksi yang dikeluarkannya setelah mengetahui hal itu.

Nama pilot yang menyelamatkan dirinya adalah David Ellis. Sebelum hal itu dikemukakan kepada Chalmer, Ellis telah menerima manifes penumpang beberapa hari sebelum penerbangan. Dia mengenali nama Chalmer dan mencari di Google serta mendapatkan tanggal cedera dan melakukan triangulasi dengan log terbang RAF lamanya untuk mengetahui bahwa benar dia yang membawanya kembali ke rumah.

Dilansir KabarPenumpang.com dari nydailynews.com (25/8/2021), saat itu tahun 2011, dan Chalmers ditempatkan di Afghanistan membantu melindungi warga sipil setempat dan melakukan pencarian bom. Pada bulan Mei tahun itu, selama pencarian, dia dan timnya memicu bahan peledak. Dua temannya dan penerjemah Afghanistan mereka tewas, sementara Chalmers dan tiga lainnya terluka parah.

Chalmers, yang bernama lengkap Lance Cpl. John James Chalmers, telah memiliki lebih dari 30 operasi dalam dekade berikutnya. Dia nyaris tidak perlu mengamputasi lengannya, menurut organisasi asisten veteran yang dia dirikan, Help for Heroes. Sikunya rusak parah, dan dia kehilangan dua jari, serta mengalami cedera wajah dan kaki.

Chalmers tahu bahwa awak pesawat dan pilot telah berperan dalam menyelamatkan hidupnya. Tapi dia tidak tahu siapa nama mereka dan menemukan prospek bertemu langsung dengan pilot itu secara tak terduga.

“Saya duduk dengan ketakutan bertemu seseorang yang belum pernah saya temui sebelumnya, sungguh. Maksudku, dia melihatku, tidak sadarkan diri, seseorang yang begitu mendalam dan penting dalam hidupku sehingga kamu tidak pernah berpikir kamu akan bertemu,” kata Chalmers.

“Halo, JJ. Senang bertemu denganmu lagi,” kata Ellis, seperti yang diceritakan Chalmers.

Pembatasan Covid mencegah mereka berjabat tangan, tetapi itu tidak menghentikan mereka untuk mengenang berjam-jam tentang waktu mereka. Selain itu dia mendapat kesempatan untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.

“Saya berterima kasih padanya karena memainkan peran penting dalam memastikan saya memiliki kehidupan. Dia adalah bagian yang kritis pada tahap awal di mana hidup saya masih sangat tergantung pada keseimbangan,” kata Chalmers.

Selain mendirikan kelompok bantuan veteran dan menjadi presenter TV, Chalmers juga menjadi parathlete, mendapatkan medali emas di Invictus Games 2014, mitra Inggris untuk Paralimpiade. Game-game itu didirikan oleh Pangeran Harry, yang telah menjadi teman bahkan muncul melalui Zoom untuk menghibur Chalmers ketika dia berkompetisi di “Strictly Come Dancing” Inggris, acara yang menginspirasi “Dancing With the Stars.”

Baca juga: Pesawat Delay Karena Badai Pasir, Pilot Belikan Pizza untuk Semua Penumpang

“Saya berutang sesuatu yang tidak akan pernah bisa saya bayarkan kembali kepada Anda. Saya sangat berterima kasih atas apa yang Anda lakukan untuk saya. Terima kasih,” kata Chalmers kepada pilot.






















20 Maskapai Ramai-ramai Tak Lagi Terbang ke Bandara Sydney, Ada Apa?

Sekitar 20 maskapai di seluruh dunia ramai-ramai meninggalkan Bandara Internasional Sydney dalam daftar rutenya. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Australia mengingat bandara itu merupakan gerbang utama negara benua tersebut.

Baca juga: Corona Melonjak, Australia Batasi Penumpang Internasional! Tiket Melonjak Sampai Rp400 Jutaan

CEO Bandara Sydney, Geoff Culbert, mengakui bahwa pihaknya telah kehilangan bisnis utamanya sejak 18 bulan terakhir. Celakanya, dalam beberapa bulan ke depan Bandara Sydney masih terus ditinggal maskapai, baik itu maskapai regional maupun internasional.

British Airways menjadi maskapai Eropa sekaligus maskapai internasional pertama yang mulai menangguhkan penerbangan ke Sydney. Maskapai asal Inggris itu tercatat mulai menghentikan penerbangan harian menggunakan Boeing 777 ke Sydney sejak April 2020.

Air India, yang sejak tahun 2013 silam mulai kembali terbang ke Australia, juga memutuskan menutup untuk sementara penerbangan ke Bandara Sydney pada tahun 2020.

Maskapai Amerika Selatan satu-satunya yang terbang langsung ke Sydney melalui Santiago, Chili, LATAM Airlines, juga menangguhkan rute tersebut pada tahun 2020. Padahal, maskapai baru membuka rute tersebut setahun sebelumnya.

Cina juga menangguhkan penerbangan mereka ke Sydney. Setidaknya, ada tiga maskapai asal Negeri Tirai Bambu yang membekukan rute ke sana, seperti Beijing Capital Airlines, Sichuan Airlines, dan Tianjin Airlines. Setahun sebelumnya, penerbangan ke Sydney bisa dibilang sangat diminati. Terlebih, skema codeshare juga mendukung wisatawan asal Cina untuk sampai ke berbagai tempat di Australia via Bandara Sydney.

Dari Indonesia, yang notabene cukup dekat dengan Australia, ada dua maskapai yang menghentikan layanan ke Bandara Sydney. Dua itu datang dari Lion Group; Batik Air dan Malindo Air. Citilink juga tercatat juga sudah menangguhkan penerbangan ke Sydney.

Sementara itu, induk perusahaannya, Garuda Indonesia masih terbang sepekan sekali ke Bandara Sydney dengan kapasitas maksimum 25 orang.

Amerika Serikat (AS) sejauh ini menjadi negara dengan maskapai terbanyak yang menangguhkan penerbangan ke Australia atau Bandara Sydney. Hawaiian Airlines, United Airlines, dan Delta Air Lines sudah sejak tahun 2020 lalu menangguhkannya. Sementara itu, American Airlines baru-baru ini mengumumkan penangguhan rute Los Angeles dan Sydney.

Bagi maskapai yang masih terbang ke Sydney, kondisinya memang sangat rentan. Di atas sudah disingguh bahwa Garuda Indonesia hanya terbang maksimum 25 penumpang per penerbangan. Korean Air mungkin lebih baik, terbang membawa 46 orang ke Sydney dari Seoul dan pulang ke Seoul dengan 93 penumpang seminggu sekali.

Maskapai lain seperti Air Canada, Air China, Hainan Airlines, dan Hong Kong Airlines bahkan hanya membawa kargo untuk penerbangan ke Sydney.

Ketatnya Pemerintah Australia dalam menahan laju penyebaran virus Corona menjadi alasan mengapa maskapai ramai-ramai menangguhkan penerbangan ke sini. Dengan pembatasan penumpang jauh di bawah load factor, maskapai sulit mencapai break even hingga akhirnya menangguhkan penerbangan ke Sydney, Australia.

Meski begitu, dalam waktu dekat, maskapai-maskapai yang tak lagi terbang ke Sydney untuk sementara waktu, akan terbang kembali.

Baca juga: Penerbangan Repatriasi Qantas Pulangkan Ratusan Aussie dari Bali

“Sydney telah menjadi rute yang sangat penting dan menguntungkan dalam jaringan mereka, dan kami yakin ketika perbatasan internasional terbuka, dan mereka dapat terbang ke Australia bahwa Sydney akan menjadi agenda utama mereka – jika bukan prioritas pertama mereka dalam hal tujuan,” kata Culbert.

“Ini adalah pertanyaan kapan perbatasan internasional dibuka kembali. Kemudian kami berharap dapat melihat dukungan yang baik dari maskapai internasional kembali ke pasar ini,” tutupnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Diburu Taliban Gegara Bersekutu dengan AS, Dua Cerita Pelarian Warga Afghanistan Ini Bikin Merinding!

Taliban menguasai Afghanistan sejak 15 Agustus lalu. Bagi mereka yang netral, itu sama saja. Pun bagi mereka yang pro, itu kemenangan. Tetapi, bagi mereka yang kontra dan bersekutu dengan Amerika Serikat (AS) sejak 20 tahun terakhir, itu sama saja kiamat. Tak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan diri, keluar dari Afghanistan.

Baca juga: Miris, Warga Afghanistan Tewas di Bandara Kabul Gegara Kepanasan dan Kelaparan Saat Tunggu Evakuasi

Di antara berbagai cerita atau kisah menarik tentang pelarian warga Afghanistan dari kejaran Taliban, Khan dan Hakim adalah salah duanya. Masing-masing melewati rintangan tersendiri. Salah melangkah, sudah pasti ajal menjemputnya dengan cara yang kejam, dipenggal atau diberondong peluru tajam dari jarak dekat.

Dilansir theatlantic.com, Khan memulai pelariannya dari Kota Kabul. Sama seperti kisah warga Afghanistan lainnya yang hendak melarikan diri dari Taliban, Khan juga awalnya pergi ke bandara dengan berapi-api. Dalam benaknya, hanya bandara tempat teraman dan bisa menyelamatkan hidupnya.

Tetapi, tentu itu tidak mudah. Berkali-kali ia harus jatuh bangun dan babak belur dipukul Taliban dengan ujung dan gagang senjata. Istrinya yang tengah hamil delapan bulan dan anaknya hanya bisa menangis melihat hal ini. Tetapi, itu masih cukup beruntung. Andai saja Taliban tahu Khan adalah sekutu AS, sudah pasti ia akan ditembak mati detik itu juga.

Khan terus merangsek penjagaan di luar bandara yang berlapis-lapis. Dipenuhi oleh puluhan ribu warga yang berharap bisa masuk bandara tetapi tidak dalam daftar manifes penerbangan evakuasi di garis terluar, dijaga oleh Taliban, dan tentara sekutu di garis berikutnya.

Khan hilang kesebaran. Ia menyerah dan berjanji ke rekan AS-nya bahwa ia akan menyelamatkan diri dengan cara lain dan tidak akan pernah kembali ke bandara. Tetapi, beberapa jam kemudian, ia memutuskan kembali ke bandara. Namun, ia kembali gagal.

Puncak kegagalannya diwarnai dengan kericuhan setelah Taliban menembakkan senjatanya ke langit, membuat warga kabur ke segala arah. Di sini, istrinya yang sedang hamil bahkan jatuh terinjak-injak. Tetapi, Khan justru melihat ini adalah peluang untuk merangsek masuk ke gerbang. Ia pun berlari, meninggalkan istri dan anaknya untuk sejenak, dan mencapai gerbang.

Setelah menunjukkan visa spesialnya, ia diizinkan masuk dan kembali sebentar untuk membawa anak dan istrinya. Ia dievakuasi menggunakan pesawat Boeing C-17 Globemaster ke Pangkalan Udara AS di Qatar, dibawa ke Bandara Internasional Hamad, dan terbang ke Virginia menggunakan Qatar Airways setelah terkatung-katung selama beberapa hari menunggu penerbangan. Ia, istri, dan anaknya selamat.

Begitu juga dengan Hakim. Sekalipun ia memiliki cerita lebih sulit. Pasalnya, identitasnya dan keluarga, sebagai sekutu AS, sudah terbongkar. Hal yang sama sekali berbeda dengan Khan. Sudah begitu, Hakim berada ratusan mil jauhnya dari Kabul.

Setelah identitasnya terbongkar dan diburu Taliban, ia melakukan penyamaran. Pakaiannya compang-camping hingga dikira sebagai orang miskin. Di posisi itu, ia melarikan diri ke Kabul menggunakan bus. Ada belasan pos pemeriksaan Taliban yang dilewatinya. Setiap pos, belasan orang melakukan pemeriksaan dan Hakim berserta istri dan tiga anaknya lolos.

Baca juga: Ternyata Ini Alasan C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar Pakai Livery Qatar Airways

Ia berhasil ke Kabul. Tetapi, itu tak cukup. Ia harus pergi ke bandara dan itu tidak mudah. Singkatnya ia berhasil lolos dari semua itu, mendapat SIV atau special immigration visa setelah terkatung-katung, dan diterbangkan ke Makedonia lewat penerbangan charter yang digagas oleh jurnalis.

Ini pertama kalinya ia naik pesawat dan ke Makedonia. Ia bahkan tak tahu dimana Makedonia. Tetapi, ia tetap senang karena dipastikan selamat dari Taliban.

Diperingati di Jerman, 26 Agustus adalah “Hari Kertas Toilet”

Bagi kebanyakan orang barat (Eropa), kertas toilet punya peranan penting, salah satunya terkait dengan urusan pasca buang air besar. Nah, setiap 26 Agustus rupanya diperingati sebagai “Hari Kertas Toilet.”

Baca juga: Mengapa Orang Pilih Timbun Tisu Toilet Ketimbang yang Lain? Ini Dia Jawabannya

Dan Kota Stuttgart di Jerman akan merayakannya dan merupakan sebuah kesempatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran akan sejarah kebanggan produk tersebut. Ini dilakukan juga sekaligus menjelaskan kebiasaan membuang sampah yang merusak dari warga.

KabarPenumpang.com melansir themayor.eu (20/8/2021), pemerintah setempat menjelaskan, toilet bukanlah tong sampah dan terlepas dari sejarah panjang produksi kertas toilet di Jerman, orang masih perlu belajar untuk menghormati sistem saluran pembuangan.

Untuk diketahui, produksi kertas toilet skala besar dimulai di Cina pada abad ke-14 dan diadopsi orang Eropa setidaknya 500 tahun setelahnya. Toilet dalam ruangan pertama atau kloset air, diterapkan di Stuttgart pada abad ke-19. Selama periode ini, sistem saluran pembuangan kota juga muncul dan rumah-rumah pertama terhubung ke jaringan pembuangan limbah. Kota melanjutkan perluasan sistem sampai tahun 1960-an ketika mereka meluncurkan empat pabrik pengolahan air limbah.

Hal ini membuat jamban (toilet) menjadi fasilitas pilihan bagi penduduk perkotaan, karena sebelumnya sebagian besar rumah di Eropa tidak tangga menggunakan jamban. Kertas lebih lembut yang kita kenal dan cintai hari ini datang dengan munculnya toilet dan saluran pembuangan, karena koran kasar yang sebelumnya digunakan menyumbat pipa.

Sekarang, Stuttgart mengoperasikan jaringan saluran pembuangan sepanjang 1.700 kilometer, serta empat instalasi pengolahan air limbah. Hari kertas toilet telah menjadi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Tisu Toilet di Stasiun Tokyo ‘Ingatkan’ Penumpang untuk Tak Gunakan Ponsel Ketika Berjalan

Kota ini membutuhkan bantuan semua warga di sini, karena, sayangnya, pabrik air limbah kesulitan memproses hal-hal selain air limbah. Masalahnya berasal dari penggunaan jenis kertas yang lebih kuat, yang tidak memiliki cukup waktu untuk terurai dengan baik dalam perjalanan singkat antara flush dan instalasi pengolahan limbah. Sehingga biaya yang dikeluarkan kota semakin banyak untuk memperbaiki pipa dan pompa yang tersumbat.