Awak Kabin Citilink Gunakan Seragam Baru Karya Oscar Lawalata

Semangat baru di Hari Pelanggan Nasional sepertinya menjadi sesuatu yang lumrah. Hal ini pun terlihat dari Citilink yang menghadirkan seragam baru bagi semua awak kabin. Di mana seragam ini mengedepankan keramahtamahan dan sentuhan Indonesia dan digunakan secara serentak pada penerbanagn Citilink Sabtu, (4/9/2021).

Baca juga: Sambut Ramadhan, Awak Kabin Citilink Hadir dengan Seragam Baru dan Beri Takjil Gratis

“Bertepatan dengan Hari Pelanggan Nasional yang jatuh pada hari ini, Citilink meluncurkan seragam baru awak kabin dengan membawa semangat perusahaan sebagai innovative modern airline yang berciri khas young, fun and dynamic sebagai bagian dari strategi peningkatan pelayanan untuk penumpang,” ujar Direktur Utama Citilink Juliandra yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Citilink Indonesia (@citilink)


Seragam baru awak kabin Citilink merupakan hasil karya desainer Oscar Lawalata. Seragam baru ini dibuat dalam bentuk kebaya untuk tetap menjunjung tinggi budaya Indonesia. Namun, seragam baru ini juga memiliki sentuhan modernisasi yaitu menggunakan corak kain tenun ikat khas dari Nusa Tenggara Timur.

“Desain tenun terinspirasi dari motif patola ratu dengan corak geometris yang sambung-menyambung dan kait-mengait dengan serasi dan indah. Motif ini dahulu dipakai oleh pemimpin kerajaan yang menggambarkan pemimpin berintegritas dan jujur. Adanya garis-garis geometris juga melambangkan hubungan manusia dengan lingkungannya. Selain itu, terdapat sentuhan inovasi motif bunga wala mangata yang cantik dan indah yang dipercaya mampu menjauhkan dari malapetaka dan bahaya,” kata Juliandra.

Pada pinggiran kain seragam ini juga terdapat motif ragam hias dari tenun Sumba karya anak bangsa yang menggariskan arti kelembutan, kebersamaan dan harapan. Motif-motif ini dipadupadankan menjadi sebuah karya dalam desain yang utuh pada kain seragam awak kabin Citilink.

Di samping itu, Citilink juga menggunakan dominasi warna hijau dan lime untuk pewarnaan seragam baru awak kabin ini. Warna hijau merepresentasikan kejayaan, kebesaran, keseimbangan dan kedamaian. Sementara warna lime merupakan perpaduan warna hijau dan kuning yang merepresentasikan keceriaan, kebahagiaan, energik serta optimis.

“Citilink berharap kehadiran seragam baru awak kabin ini dapat membawa harapan serta semangat baru untuk semakin memberikan pelayanan yang lebih maksimal untuk meningkatkan customer experience serta mewujudkan better journey bagi seluruh pelanggan,” tambah Juliandra.

Citilink senantiasa menerapkan protokol kesehatan yang ketat di seluruh lini operasional penerbangannya, baik dari pre-, in-, hingga post-flight dengan mengacu pada ketentuan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah untuk dapat memastikan seluruh penerbangan berjalan secara optimal dengan tetap memprioritaskan kesehatan dan keamanan bagi seluruh pelanggan.






















Kebisingan Pengaruhi Kualitas Tidur dan Bisa Merambah ke Kesehatan Kronis

Tidur merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan setiap manusia agar tetap berenergi dan mempertahankan fungsi tubuh. Namun apakah suara lingkungan bisa mempengaruhi kualitas tidur seseorang? Asisten Profesor Junta Tagusari dari Laboratorium Isu Lingkungan Regional, Sekolah Pascasarjana Teknik, sedang menyelidiki metode terbaik untuk mengukur kebisingan dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan manusia.

Baca juga: Mengenal Polusi Suara Pesawat: Bisa Bikin Stres Sampai Kardiovaskular! Penumpang-Pilot Terdampak

“Kebisingan berpotensi tidak hanya merusak kemampuan pendengaran, tetapi juga menyebabkan masalah kesehatan yang lebih luas. Telah dilaporkan bahwa risikonya lebih tinggi ketika suara terdengar saat tidur. Laporan Kantor Regional WHO untuk Eropa juga mengindikasikan beberapa masalah kesehatan kronis termasuk gagal jantung dan diabetes, bisa dipicu dari paparan jangka panjang terhadap gangguan tidur yang disebabkan oleh kebisingan,” kata Tagusari.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari news-medical.net (4/8/2021), masalah ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, dia bahkan telah melaporkan beberapa hasil. Namun, Tagusari menilai sebagian besar indeks kebisingan yang ada, dengan menggunakan nilai rata-rata tingkat kebisingan dan tidak cukup dalam mengukur efek kebisingan terhadap tidur.

Tak hanya itu, dia mengembangkan indeks baru untuk kebisingan malam hari berdasarkan data yang dikumpulkan dan dianalisis dalam studi tahun 2014 berdasarkan pola tidur 30 subjek dewasa di Kadena, Okinawa. Apalagi di Okinawa ada Pangkalan Udara Kadena yang adalah pangkalan aktif untuk angkatan udara Amerika Serikat.

Di dekat pangkalan udara tersebut, lebih dari seratus ribu penduduk yang tinggal terkena kebisingan pesawat. Kebisingan malam hari di sekitar pangkalan bisa mencapai 100 dB. Sumber utama kebisingan yang mengganggu di wilayah studi adalah pesawat terbang, meskipun di area depan pangkalan, kebisingan didominasi oleh kebisingan pesawat yang membebani.

Ketika mesin pesawat dibiarkan berjalan untuk penyesuaian, itu bisa menghasilkan kebisingan 60dB yang berlangsung selama beberapa jam saat fajar. Menurut Tagusari, sejak masa studi, situasi tidak berubah berpihak pada warga. Namun, berdasarkan analisis, dirinya mengembangkan formula matematika baru untuk indeks kebisingan malam hari, yang dapat diterapkan dalam penelitian epidemiologi terkait kebisingan.

Analisis epidemiologi terhadap kesehatan warga di sekitar Pangkalan Udara Kadena sebelumnya telah dilakukan, namun ada rencana untuk menganalisis kembali situasi dengan menggunakan indeks baru ini.

“Warga setempat ini sudah sering mengeluhkan suara bising pesawat yang sering terjadi, bahkan pada malam hari. Mereka berinisiatif meminta laboratorium kami untuk mengukur kebisingan pesawat dan korelasinya dengan tidur mereka. Selama sebulan, kami tidak hanya mendapatkan tingkat kebisingan malam hari, kami juga mengukur motilitas tubuh saat tidur dari beberapa penduduk setempat, berusia dari 20 hingga 60 tahun,” kata Tagusari.

Tagusari mengakui bahwa salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah masalah semacam ini tampaknya adalah dengan membatasi sumber kebisingan lingkungan di kawasan pemukiman. Warga di sekitar Pangkalan Udara Kadena telah berulang kali membawa masalah ini ke pengadilan yang berbeda, memohon solusi yang paling ideal dalam mengurangi kebisingan, tetapi hanya menerima solusi yang dianggap tidak mencukupi.

Baca juga: Stres Akibat Covid-19? Cobain Aplikasi Meditasi Khusus Corona Ini Deh

Mengingat keberadaan kebisingan lingkungan yang hampir ada di mana-mana, Tagusari sudah merencanakan dan mengorganisir lebih banyak studi tentang kebisingan dan tidur. Dalam penelitian terpisah, Tagusari akan menerapkan indeks kebisingan malam hari yang telah dirumuskannya untuk mengetahui pengaruh paparan kebisingan terhadap pertumbuhan janin dan tingkat kelahiran rendah pada ibu di seluruh Hokkaido.

Jembatan Penyeberangan Multi Guna ‘Serambi Temu’ Koneksikan Beragam Moda Transportasi

LRT Jabodebek bila tidak ada halangan akan mulai beroperasi pada Juli 2022. Karena jalurnya memiliki konektivitas dengan moda transportasi lainnya seperti Stasiun Sudirman dan MRT Jakarta, maka PT MITJ diberi amanah untuk membangun jembatannya. Di mana jembatan ini akan melintang dan melintasi Kanal Banjir Barat dan bila ditotal akan memiliki panjang 265 meter dari Stasiun LRT Dukuh Atas hingga menuju ke Stasiun Sudirman.

Baca juga: PT MITJ Benahi Empat Stasiun Integrasi, MRT Jakarta Mulai Fase 2

Direktur utama PT MITJ Tuhiyat mengatakan, pihaknya akan membangun jembatan dan merevitalisasi Stasiun Sudirman. Dia menjelaskan, MITJ diberi amanah ini sejak Februari kemarin dan langsung bergerak untuk melakukan proses pengadaan bersama konsultan untuk menyusun dokumen basic desain dan bisnis plan.

“Kami mulai proses pengadaan dan kemudian menyusun dokumen dan bisnis plan. Saat selesai sounding mitra investor kita mengadakan beauty contest dan mitra terpilih adalah Waskita bersama Vision First – KSO,” ujar Tuhiyat dalam forum jurnalis, Kamis (2/9/2021).

Sehingga dikatakan Tuhiyat, proses pembangunan konstruksi akan bisa dimulai sekarang dan diharapkan selesai Juni 2022 sebelum LRT Jabodebek beroperasi komersial secara penuh. Jembatan Penyeberangan Multi Guna (JPM) Serambi Temu ini dibangun dua lantai yang mana nantinya bangunan jembatan yang melintasi Kanal Banjir Barat hanya satu lantai.

“Yang melintas di atas Kanal Banjir Barat hanya satu lantai karena tidak diperbolehkan membuat tiang di sana. Sehingga yang dua lantai hanya di Stasiun Sudirman dan Stasiun LRT Jabodebek,” jelas Tuhiyat.

Dalam pembangunan jembatan ini ada lima prinsip yakni konektivitas antarmoda, urban experience, ruang publik inklusi, identitas baru perkotaan dan destinasi perkotaan. Tuhiyat mengatakan, sebagai destinasi baru karena masyarakat memiliki space di jembatan ini dengan menghadirkan retail, jalur pesepeda dan bisa sebagai ikon baru untuk meeting, diskusi atau hal lainnya.

Baca juga: Catat, Ini 4 Stasiun di Jakarta yang Terintegrasi dengan 6 Moda, Lima lainnya Nyusul

Tuhiyat menambahkan, ini akan menjadi komersial hub di beberapa titik jembatan. JPM sendiri setelah jadi dan bisa digunakan akan bisa menampung sekitar sembilan ribu orang pada akhir pekan dan lebih dari jumlah itu di hari biasa. Bahkan meski tidak memiliki tiang yang menyangga bangunan di atas Kanal Banjir Barat, JPM sendiri dikatakan Tuhiyat tahan gempa karena semua sudah diakomodir.

Usung Oryx Sebagai Ikon, Ini Filosofi Logo Maskapai Qatar Airways

Qatar Airways belakangan menjadi buah bibir usai kemunculan pesawat Boeing C-17 Globemaster yang menggunakan livery maskapai tersebut di Bandara Kabul, Afghanistan, belum lama ini. Padahal, itu adalah pesawat milik Angkatan Udara Qatar yang karena satu dan lain hal menggunakan livery Qatar Airways.

Baca juga: Ternyata Ini Alasan C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar Pakai Livery Qatar Airways

Dalam tayangan video yang beredar di sosial media, terpampang jelas gambar oryx atau kijang Arab yang menjadi ikon Qatar Airways di bagian tail stabilizer. Di samping itu, tulisan livery ‘Qatar Airways’ di bagian badan pesawat juga menguatkan identitas pesawat tersebut.

Terkait Oryx (biasa juga disebut antelop), ini memang bukan sembarang hewan dan dijadikannya binatang tersebut sebagai ikon pada logo maskapai juga memiliki filosofi tinggi.

Dilansir logos-world.net, sejak didirikan pada 1993, Qatar Airways tercatat sudah tiga kali berganti logo. Tetapi, semuanya mengusung oryx sebagai ikon utamanya. Sebagai maskapai nasional, Qatar Airways juga mengusung warna kebesaran negaranya, Qatar.

Sejak tahun 1993-1997, Qatar Airways mengusung logo berwarna dasar ungu kemerah-merahan dan oryx berwarna putih. Pada logo pertama ini, sang oryx hanya ditampilkan kepalanya saja, tentu dengan tanduk khasnya. Tidak dengan leher beserta badan dan kakinya.

Barulah pada tahun 1997, Qatar Airways merevitalisasi logonya. Kali ini, logo Qatar Airways lebih lengkap dengan adanya tambahan tulisan ‘Qatar Airways’ dan kata yang sama dalam bahasa Arab.

Selain itu, pada ikon antelop oryx juga terdapat perubahan, mulai dari warna yang menjadi ungu berkode 5C0632 kombinasi putih sampai tabahan leher pada antelop. Ikon kijang Arab ini ditempatkan di atas tulisan itu di dalam lingkaran putus-putus berwarna abu-abu dengan kode 747F8A. Logo ini bertahan sampai tahun 2006.

Barulah pada tahun 2006 sampai sekarang, Qatar Airways merombak lagi logonya. Tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara logo kedua dan logo ketiga. Bedanya hanya diukuran dimensi logo saja yang jauh lebih besar, baik pada ikon antelop oryx maupun pada tulisan Qatar Airways-nya. Kemudian, ikon antelop oryx yang semula di atas dibuat menjadi sejajara dengan tulisan yang berada di sebelah kiri.

Sebetulnya, antara logo kedua dan ketiga terdapat perbedaan font. Sayangnya tak disebutkan font keduanya. Adapun logo ketiga menggunakan font Optima Demi Bold. Khusus untuk font, pada tahun 2015, Qatar Airways menggantinya lagi dengan font Jotia dan bertahan sampai sekarang.

Penggunaan ikon antelop oryx juga didasari beberapa hal. Sebelum itu, oryx sendiri adalah genus yang terdiri dari empat spesies antelop yang disebut oryx. Tiga dari mereka adalah binatang asli bagian kering Afrika, dan sisanya di Semenanjung Arab.

Baca juga: Tahun 2030, Qatar Siap Terapkan Transportasi Nol Emisi

Maka dari itu, filosofi oryx pada logo Qatar Airways tentu saja hewan tersebut adalah binatang asli Semenjung Arab yang juga hidup di Qatar. Kedua, oryx melambangkan kecepatan tinggi.

Dengan begitu, diharapkan, perkembangan bisnis maskapai bisa melesat. Terbukti, Qatar Airways berhasil menyabet gelar bergengsi sebagai maskapai terbaik di dunia tahun 2019 versi Skytrax.

 

Stasiun Tempeh, Sisakan Bangunan Tanpa Jejak Jaringan Kereta

Indonesia memiliki jalur kereta api yang sudah dibangun sejak jaman Kolonial Belanda. Bahkan bukan hanya di Pulau Jawa tetapi juga di Sumatera. Nama stasiunnya pun cukup unik dan ada yang sama seperti nama makanan padahal itu adalah nama daerah di mana stasiun tersebut di bangun.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Penasaran? KabarPenumpang.com pernah menulis beberapa di antaranya yakni Stasiun Baso dan Stasiun Warung Bandrek. Namun kali ini yang akan dibahas adalah Stasiun Tempeh. Yang mana ini merupakan nama makanan dengan protein nabati asli Indonesia.

Tapi, yang akan dibahas bukanlah makanan atau kandungan di dalamnya, melainkan sejarah keberadaannya. Ini adalah sebuah stasiun yang terletak di desa Tempeh Lor, Kecamatan Tempeh, Lumajang di Jawa Timur.

Stasiun bernama Tempeh ini adalah stasiun kereta non aktif dan letaknya berada di ketinggian +93 meter di atas permukaan laut dan masuk dalam wilayah aset IX Jember. Kehadiran Stasiun Tempeh, ternyata tak lepas dengan peresmian jalur kereta api dari Klakah ke Lumajang hingga di Pasirian.

Stasiun ini berdiri bersamaan dengan peresmian jalur tersebut pada tanggal 16 Mei 1896 silam. Kemudian ditutup setelah 92 tahun beroperasi atau tepatnya pada 1 Februari 1988. Penutupan ini terjadi karena seiring waktu jumlah penumpang yang mulai berkurang, baik dari Klakah maupun Lumajang.

Meski mulai berkurang kapasitas penumpangnya, stasiun ini masih menaik dan menurunkan penumpang. Penurunan jumlah penumpang terjadi karena kereta api kalah saing dengan angkutan umum dan mobil pribadi yang akhirnya membuat stasiun dan layanan kereta api di jalur di wilayah Lumajang hingga ke Balung–Rambipuji ditutup semuanya.

Baca juga: “Warung Bandrek,” dari Tempat Minum Sampai Jadi Nama Stasiun Kereta

Saat ini kondisi Stasiun Tempeh tinggal bangunan utama, yang dijadikan sebagai rumah walet dan tempat bermain kanak-kanak. Sementara jaringan rel beserta kelengkapan wesel dan persinyalannya telah habis tak bersisa. Bekas jalur relnya kini menjadi jalan kecil atau gang antarkampung.

Boeing 747 Ternyata Sempat Dibuat Konsep Trijet! Batal Gegara Hal Ini

Boeing 747 bisa dibilang jadi salah satu pesawat paling suskes di dunia. Pesawat yang sudah merayakan 50 tahun sejak penerbangan pertama pada Februari 2019 ini, menurut catatan Planespotters.net, sudah terjual sekitar 1.561.747 unit di seluruh dunia, tertinggi di kelasnya.

Baca juga: Parade Pesawat Trijet yang Pernah Beroperasi di Indonesia, Anda Pernah Coba?

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 selalu mengusung empat mesin jet. Namun, sepanjang sejarah pengoperasiannya, Boeing 747 tercatat pernah terbang dengan lima mesin.

Pada awal Januari tahun 2016, Boeing 747 milik Qantas sempat menjadi perbincangan hangat karena membawa lima mesin sekaligus di sayap. Penumpang sempat dibuat khawatir karenanya.

Mereka takut tiga mesin di sayap kiri dan dua mesin di sayap kanan membuat pesawat menjadi tidak seimbang dan pada akhirnya dikhawatirkan bakal berdampak fatal.

Namun, kekhawatiran itu langsung dibantah Qantas. Flag carrier Australia tersebut memastikan, pesawat Qantas rute Sydney-Johanesburg bernomor penerbangan QF63 tetap aman sekalipun terdapat perbedaan jumlah mesin di kedua sayap pesawat.

Baca juga: Lebih dari 1.500 Unit Diproduksi, Inilah Seri Boeing 747 yang Terpopuler dan Sebaliknya

Mesin tersebut pada hakikatnya hanya sebagai sebuah ‘tempelan’ saja untuk digunakan oleh pesawat Qantas lainnya yang mengalami gangguan mesin di Johannesburg, Afrika Selatan. Jadi, mesin yang beroperasi tetap hanya empat.

Akan tetapi, di dekade 1960-an dan 1970-an, Boeing pernah mempertimbangkan konsep trijet di pesawat 747. Mockup Boeing 747 trijet juga sudah dibuat. Di tahun tersebut, pesawat trijet sedang menjadi primadona, dimana McDonnell Douglas DC-10 dan Boeing 727 jadi yang paling laris serta Lockheed L1011 TriStar digadang menjadi pesawat trijet tercanggih.

Sebagaimana pesawat trijet lainnya, Boeing 747 trijet juga menempatkan dua mesin di sayap dan satu lainnya di bagian ekor.

Tetapi, Boeing 747 tri-jet ini jauh lebih pendek dibanding Boieng 747 saat ini, yang salah satu variannya, Boeing 747-8, bahkan menjadi pesawat terpanjang di dunia, mengalahkan Airbus A340-600; sekalipun saat ini gelar pesawat terpanjang di dunia saat ini dipegang oleh Boeing 777X.

Baca juga: Maskapai Mana yang Paling Lama Operasikan Boeing 747?

Dilansir Simple Flying, proyek pengembangan Boeing 747 trijet pun akhirnya batal. Setidaknya ada dua faktor penyebab.

Pertama, mengingat sayap sudah ada didesian untuk masing-masing dua mesin, tentu, apabila ingin diubah menjadi satu mesin, Boeing harus melakukan riset dan pengembangan ulang dan itu butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit.

Kedua, terkait sertifikasi atau pelatihan pilot. Semakin identik dengan Boeing 747 yang sudah ada, maskapai pengguna tidak perlu memerlukan sertifikasi ulang. Tetapi, bila Boeing 747 trijet jadi dibuat, tentu maskapai pengguna Boeing 747 harus melatih ulang para pilotnya bilamana ingin mengoperasikan Boeing 747 trijet.

Baca juga: 9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Meski begitu, konsep Boeing 747 trijet tidak benar-benar ditinggalkan. Hanya, dikemas menjadi konsep Boeing 747SP atau Special Performance.

Boeing 747SP tetap mengusung empat mesin dan pertama kali memasuki tahun layanan pada 1976 bersama Pan Am. Catatan Planespotters, Boeing memproduksi total 45 unit 747SP, dimana enam di antaranya masih beroperasi sampai saat ini.

 

Yara Birkeland, Inilah Kapal Kargo Tanpa Awak dan Bebas Emisi Pertama di Dunia

Ketika kendaraan di darat mulai meluncur tanpa awak, kini giliran kapal di laut yang memulainya. Yang mana ini akan dimulai oleh perusahaan Norwegia yang menciptakan kapal kargo otonom tanpa emisi pertama di dunia. Nantinya jika sesuai rencana, kapal ini akan melakukan perjalanan pertamanya di dua kota Norwegia sebelum akhir tahun.

Baca juga: Rolls-Royce dan Finferries Hadirkan Falco, Kapal Ferry dengan Kendali Otonom

Di mana dalam perjalanannya awak akan dikurangi untuk menguji keandalan sistem otonom dengan semua pergerakan dipantau dari tiga pusat kendali data di darat. KabarPenumpang.com merangkum cnn.com (27/8/2021), meski bukan kapal otonom pertama, tetapi perusahaan pembuat mengatakan ini adalah kapal kontainer listrik pertama. Dikembangkan oleh perusahaan kimia Yara International, Yara Birkeland dirancang untuk mengurangi emisi nitrogen oksida, yang merupakan polutan beracun dan gas rumah kaca, dan karbon dioksida, serta memindahkan barang dari jalan raya ke laut.

Menurut Organisasi Maritim Internasional, industri perkapalan saat ini menyumbang antara 2,5 persen hingga tiga persen dari emisi gas rumah kaca global. Hampir semua listrik Norwegia dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air, yang umumnya dianggap memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah daripada pembakaran bahan bakar fosil, meskipun masih menghasilkan gas rumah kaca.

“Pertama kali dikonsep pada tahun 2017, kapal tersebut dibuat dalam kemitraan dengan perusahaan teknologi Kongsberg Maritime dan pembuat kapal Vard. Mampu membawa 103 kontainer dan dengan kecepatan tertinggi 13 knot, akan menggunakan baterai tujuh MWh, dengan sekitar seribu kali kapasitas satu mobil listrik,” menurut Jon Sletten, manajer pabrik untuk pabrik Yara di Porsgrunn, Norwegia.

Dia mengatakan itu akan dikenakan biaya di dermaga “sebelum berlayar ke pelabuhan kontainer di sepanjang pantai dan kemudian kembali lagi, menggantikan 40 ribu perjalanan truk setahun.” Selain memberikan pilihan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kapal kargo konvensional, Sletten mengatakan tanpa awak berarti akan lebih hemat biaya untuk beroperasi.

Awalnya, bongkar muat kapal akan membutuhkan manusia, tetapi menurut Sletten, semua operasi bongkar muat, dan tambat, termasuk berlabuh dan membongkar kapal, pada akhirnya juga akan beroperasi menggunakan teknologi otonom. Itu akan melibatkan pengembangan derek otonom dan pengangkut straddle kendaraan yang menempatkan kontainer ke kapal.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Yara Birkeland awalnya dijadwalkan untuk berlayar tahun lalu, tetapi pandemi Covid-19 ditambah dengan tantangan logistik menunda peluncurannya. Setelah mengalihkan proyek dari jalur cepat ke pendekatan langkah demi langkah, Sletten berharap kapal akan mengangkut kontainer pertamanya dari kota Herøya ke Brevik tahun ini. Proyek ini juga membutuhkan peraturan untuk dikembangkan bersama dengan otoritas maritim Norwegia untuk memungkinkan kapal otonom untuk menavigasi perairan negara itu untuk pertama kalinya.

Hadir Lebih dari 50 Tahun, Blok Tenji Digunakan Seluruh Dunia Guna Mudahkan Tunanetra

Paving taktil hadir di Jepang lebih dari 50 tahun yang lalu untuk membantu mereka yang mengalami gangguan penglihatan. Taktil ini biasanya ditemukan di peron stasiun kereta api, trotoar dan di depan gedung publik serta biasanya berwarna kuning.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Taktil ini hadir dua jenis kotak atau blok yakni dengan garis paralel panjang timbul untuk memudahkan pejalan tunanetra berjalan dengan aman dan terus mengikuti jalan itu. Kemudian blok dengan bentuk bulat timbul di sekelilingnya dan ini biasanya berada di pintu masuk, tepi platform, tangga dan dekat lampu lalu lintas.

“Berjalan di sepanjang paving taktil meyakinkan saya bahwa aman untuk berjalan di sana,” kata Toyoharu Yoshiizumi, anggota eksekutif Federasi Jepang untuk Tunanetra yang dikutip KabarPenumpang.com melansir scmp.com (1/9/2021).

Yoshiizumi, yang kehilangan penglihatannya pada usia 12, bepergian sekitar 40 menit setiap hari, dipandu oleh blok-blok tenji yang dinamai menurut kata Jepang untuk Braille.

“Jalan tidak pernah lurus dan sering melengkung atau memutar, dan berkat blok pemandu, saya merasa aman karena saya tahu saya berjalan di sepanjang jalan,” tambahnya.

Blok yang sekarang ada di mana-mana adalah gagasan penemu lokal Seiichi Miyake dari Okayama Jepang barat. Setelah menyaksikan orang buta dengan tongkat hampir tertabrak mobil di persimpangan, Miyake memutuskan untuk mengabdikan dirinya untuk menciptakan sesuatu untuk menjaga pejalan kaki tunanetra tetap aman.

Pada tahun 1967, blok-blok tenji pertama di Jepang disumbangkan untuk penyeberangan dekat sekolah tunanetra di Okayama. Kakak Miyake membantunya mengembangkan blok tenji dan kemudian mengatakan bahwa dia “tidak akan pernah melupakan momen emosional” ketika ubin pertama kali diuji oleh pejalan kaki.

Perlu tiga tahun lagi bagi ubin untuk mencapai distrik pertama di Tokyo, dan seiring waktu mereka tersebar secara global serta menjadi sangat terkenal sehingga ditampilkan sebagai Google Doodle animasi pada tahun 2019. Bahkan inovasi tersebut masih terus ada hingga hari ini.

Meskipun blok membantu menjaga pejalan kaki tetap aman dan berada di jalurnya, blok tersebut tidak memberikan lebih banyak informasi, termasuk arah yang dituju seseorang. Tetapi sebuah aplikasi yang diluncurkan tahun ini bertujuan untuk mengatasinya, dengan kode QR yang ditempelkan ke blok di beberapa stasiun Tokyo, yang dapat dipindai pejalan kaki untuk informasi lisan termasuk arah dan jarak ke tujuan mereka.

“Banyak informasi berasal dari penglihatan tetapi orang dengan gangguan penglihatan tidak memiliki akses ke sana. Kami ingin melakukan sesuatu dengan teknologi,” kata Yuichi Konishi, ketua LiNKX.

Dengan aplikasi ini, pengguna dapat memilih tujuan seperti pintu keluar tertentu, toilet dan gerbong kereta. Sejauh ini kode QR tersedia di sembilan stasiun metro Tokyo dan perusahaan berharap untuk melihat proyek ini berkembang. Namun ternyata blok Tenji saja tidak selalu cukup untuk membuat orang tetap aman.

Baca juga: Kereta di Jepang Gunakan Kecerdasan Buatan Guna Bantu Penumpang Disabilitas

Tahun lalu, seorang pria tunanetra jatuh ke rel kereta api di Stasiun Tokyo dan ditabrak kereta meskipun ada blok di peron. Tak hanya itu peron di stasiun juga dilengkapi pintu dan terbuka ketika kereta tiba. Langkah keamanan lainnya, di Tokyo termasuk suara penyeberangan pejalan kaki yang memberi tahu orang-orang kapan harus menyeberang, dan rekaman yang mengumumkan awal atau akhir eskalator. Yoshiizumi mengatakan mereka yang tunanetra membutuhkan infrastruktur tetapi juga dukungan dari orang lain.

Ubah Smoking Room Jadi Zoom Meeting Room, JR Central Tawarkan Meeting di Kereta Peluru Shinkansen

Ketika pandemi membuat semuanya berubah, perjalanan moda transportasi pun mengubah beragam fasilitas dan kegunan ruang baik di dalam moda transportasi maupun di halte atau stasiun. Seperti kereta peluru Shinkansen di Jepang yang mengubah ruang merokok menjadi ruang untuk meeting menggunakan Zoom.

Baca juga: Cabin Fever, Film yang Dibuat Melalui Aplikasi Zoom dan WhatsApp

KabarPenumpang.com melansir dari laman theregister.com (27/8/2021), Central Japan Railway Company akan mengganti ruang merokok di beberapa kereta cepat shinkansen dengan mobil Zooming. Sebelum menghadirkan ruang Zoom ini, JR Central sudah menghadirkan WiFi gratis di kereta dan mengaku bahwa pandemi sekarang membuat konferensi melalui video menjadi lebih populer.

Sehingga JR Central telah menyiapkan kendaraan S-Work dan melengkapinya dengan WiFi yang menawarkan kecepatan dua kali lipat dari layanan konvensionalnya. Selain itu juga ada penambahan tenaga di kursi. Kehadiran ruang Zoom ini sepertinya bisa merepotkan penumpang yang bukan pebisnis atau pekerja bila harus semuanya dibuat seperti itu.

Tak hanya itu, JR Central pun sudah melengkapi kereta shinkansen dengan peminjaman mouse, layar privasi untuk laptop mereka dan bantal untuk meletakkannya. Beberapa bahkan akan menampilkan stand Zoom di ruang yang sebelumnya ditempati oleh ruang merokok penumpang.

Untuk diketahui, merokok sendiri dilarang di kereta Jepang sejak tahun 2020. Hal ini membuat ruangan untuk merokok itu kosong dan tak lagi digunakan oleh para penumpang. Meski begitu, layanan kereta shinkansen yang menawarkan ruang Zoom tidaklah semua rute.

Salah satunya adalah kereta Shinkansen jenis N700S. Jadi bisa dikatakan, penumpang akan melakukan meeting Zoom dengan kecepatan 300 km per jam dari rute Tokaido atau Sanyo dan ini sungguh mencengangkan.

Baca juga: Melepas Lelah, Para Pekerja Bisa Nikmati Shinkansen Sambil Merendam Kaki

JR Central sendiri telah membuka situs promosi untuk layanan tersebut. Tak hanya itu, dalam promosi juga dilengkapi dengan beberapa ilustrasi gaya manga yang bagus tentang manfaatnya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Bisa Masuk di Antara Sumbu Roda, Motorhome ini Angkut Supercar Sporty

Di masa lalu, banyak yang melihat Volkner mengungguli beberapa pesaingnya untuk penghargaan “motorhome paling mahal dari Düsseldorf Caravan Salon” dengan rumah mewah dengan harga US$1,7 juta. Tahun ini, ia meninggalkan persaingan dalam debu, mengeluarkan semua paket motorhome paling mahal dan paling mahal di lantai pertunjukan.

Baca juga: Dembell Motorhome, Desain ‘Kapal Pesiar’ dengan Sasis Mercedes Tiga Gandar

Bahkan ini menggeser c1.480-hp di atas rumah motor Performance S senilai US$ 2,4 juta dan memperlakukan pemilik pengalaman kendaraan ultra-mewah/hypercar yang rumit ke tempat tinggal yang ditunjuk secara mewah lengkap dengan sistem audio Burmester khusus yang disesuaikan dengan hati-hati untuk ruang bergerak. Tak hanya itu, sellama lebih dari satu dekade, Volkner telah memukau orang banyak di Düsseldorf dengan roadster sporty dan supercar yang berhasil dijepit di antara as roda motorhome-nya yang besar.

Bugatti Chiron 1.480-hp di garasi pada dasarnya menggandakan harga Volkner Performance S. Foto: Messe Düsseldorf, Constanze Tillman

Sehingga Volkner tahun ini, itu benar-benar meningkatkan permainannya sendiri. Bugatti Chiron seharga $3 juta sebenarnya lebih mahal daripada motorhome Performance S itu sendiri dan mengemas lebih dari tiga kali lipat tenaga kuda dari 430-hp 18-ton 39-footer Volkner. Namun beberapa lebih suka Porsche 911 GT2 Volkner yang dibawa ke Caravan Salon 2018.

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (30/8/2021), meski tidak setahun penuh setelah rekor mobil Nürburgring, tetapi tidak dapat disangkal bahwa tim Chiron dan Performance S adalah paket yang benar-benar menakjubkan, pasangan ekstrim, over-the-top teknik bermotor seperti beberapa yang pernah terlihat. Sementara sesuatu seperti Porsche atau Bugatti terlihat paling mengesankan di garasi pusat slide-out Volkner, perusahaan menekankan bahwa garasi juga dapat digunakan untuk alternatif yang lebih sehari-hari, seperti jet ski, sepeda motor, ATV atau ebike.

Di kamp, ​​platform geser berfungsi ganda sebagai teras depan yang dilindungi oleh tenda di atas. Chiron mungkin merupakan perhiasan paling kuat dan mahal pada Performance S tahun ini, tetapi interiornya tetap yang paling penting, karena tidak ada gunanya mengangkut hypercar tujuh digit Anda dengan motorhome tujuh digit jika tidak benar-benar luas, nyaman dan mewah.

Finishing interior “BrilliantDark” Volkner yang sangat mengkilap bukanlah favorit, tetapi tampilan multi-nada gelap dari veneer kayu Makasar yang diletakkan dengan tangan berpadu cukup baik dengan cat dan pelapis berwarna krem. Itu juga membuat casing kayu alami untuk speaker besar sistem audio premium Volkner dan Burmester yang dioptimalkan untuk kabin Performance S.

Volkner menyematkan biaya sistem suara itu saja pada €300 ribu (sekitar $354 ribu), yang menambah intrik model tampilan yang mahal dan berlebihan. Selain itu, di sini lain dengan bodohnya berpikir bahwa motorhome Dembell baru mungkin yang paling mahal di pameran. Dengan audio Chiron, Burmester, dan sejumlah peningkatan lainnya, Performance S yang menarik perhatian banyak orang ke stan Volkner 2021 melonjak dari €2.035.000 ($2,4 juta) yang keren menjadi total paket €6,5 juta ($7,7 juta) euro.
Itu menjadikannya mendapat gelar motorhome paling mahal di acara itu, seperti yang diidentifikasi oleh tim media Caravan Salon.

Sebenarnya, pembuat selera di Volkner mungkin menertawakan diri sendiri saat pendatang baru Dembell mengiklankan Ferrari California sebagai kendaraan yang kompatibel dengan garasi terbesar di kelas tiga gandar ultra-premium Kelas A.

Baca juga: Rongsokan Pesawat Disulap Jadi Mobil RV Seharga Rp400 Jutaan, Modifikasi Butuh 36 Tahun

Volkner telah meningkatkan permainan mobil pengangkut supercar ke tingkat yang lebih tinggi tahun ini, tetapi itu bukan satu-satunya merek yang menunjukkan betapa sempurnanya supercar modern dan rumah motor ultra-mewah yang sangat besar. Di bawah, Morelo menunjukkan produknya di samping Maserati MC20 baru.