Taildragger vs Tricycle Landing Gear: Ini Perbedaan-Persamaan dan Keunggulan-Kekurangannya

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas dan turun landas, sampai mendarat dengan sempurna di runway dan parkir di apron.

Baca juga: Desain Pesawat Sayap Tinggi vs Sayap Rendah: Ini Perbedaan-Persamaan dan Untung-Ruginya

Meski pada umumnya saat ini landing gear jenisnya berupa tricycle atau dua roda pendaratan di belakang dan satu di depan, tetapi, setidaknya ada dua jenis landing gear lain di dunia.

Dua itu, tandem landing gear (biasanya dua main gear dan tail gear sejajar seperti pada pesawat B-52 Stratofortress, disebut juga sebagai quadricycle) dan satu lainnya yakni conventional atau taildragger atau biasa juga disebut tailwheel-type landing gear.

Dari tiga jenis landing gear di atas, tandem landing gear atau quadricycle jarang ditemui. Karenanya, dalam tulisan ini redaksi akan fokus head to head antara roda pendaratan taildragger vs roda pendaratan tricycle, baik itu persamaan-perbedaan serta kelebihan dan kekurangannya.

Dilansir monroeaerospace.com, perbedaan antara kedua jenis landing gear itu ada pada penempatan rodanya. Pada tricycle landing gear, main gear hanya ada satu roda dan tail gear di belakang punya dua roda pendaratan. Bisa dibilang, pada tricycle landing gear, main landing gearnya di berada di belakang.

Sedangkan taildragger justru sebaliknya, main gear memiliki dua roda dan tail gear di belakang hanya satu roda pesawat.

Perbedaan lainnya yaitu, pada tricycle landing gear, navigasi pesawat (belok kanan-kiri) berada di depan. Sedangkan pada taildragger navigasinya berada di tail gear atau roda pendaratan di belakang.

Didasari pada penggunaannya, taildragger bisa dibilang hanya digunakan oleh pesawat kecil atau perintis dan pesawat lawas, seperti pesawat Perang Dunia II. Sedangkan roda pendaratan tricycle digunakan oleh hampir seluruh jenis pesawat saat ini, mulai dari pesawat komersial, kargo maupun penumpang, militer, pesawat kecil, pesawat besar, sampai lain sebagainya.

Meski lebih mudah ditemui di pesawat-pesawat komersial maupun militer pada saat ini, rupanya, di kalangan pilot, taildragger landing gear lebih populer atau mungkin bisa dibilang lebih favorit.

Disebutkan, banyak pesawat yang ada saat ini -terutama pesawat komersial- bobotnya cukup berat. Mereka berisi penumpang dan kargo yang menggeser pusat gravitasi pesawat ke arah belakang. Dalam kondisi ini, taildragger landing gear disebut dapat menopang pesawat lebih baik berkat tail gear atau roda sekunder di belakang.

Selain itu, dari segi keunggulan pesawat dengan roda pendarat taildragger biasanya lebih mudah ditangani daripada pesawat dengan roda pendarat roda tiga. Landing gear, tentu saja, tidak memengaruhi cara pesawat ditangani selama penerbangan. Ini hanya mempengaruhi kinerja pesawat saat lepas landas dan mendarat.

Baca juga: Jadi Salah Satu Bagian Terpenting Pesawat, Begini Cara Kerja Landing Gear

Meskipun demikian, roda pendarat taildragger disebut memungkinkan pilot untuk mengontrol pesawat lebih mudah saat lepas landas dan mendarat karena penempatan tail gearnya. Sedangkan tricycle landing gear sebaliknya.

Tetapi, tricycle landing gear memiliki kelebihan berupa lebih rigid dan stabil digunakan untuk pesawat-pesawat besar dibanding roda pendarat taildragger.

Susul AS dan Cina, Malaysia Izinkan Boeing 737 MAX Kembali Terbang

Setelah dua tahun di-grounded, Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM) akhirnya mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX. Atas keputusan ini, Malaysia bergabung dengan negara lain yang sudah lebih dahulu mengizinkan 737 MAX kembali terbang, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, India, dan Cina.

Baca juga: Wow, Boeing 737 MAX Sudah Cetak 2.700 Penerbangan Pasca Diizinkan Kembali Terbang

Dilansir Reuters, CAAM mengaku sudah sejak lama memantau kembalinya 737 MAX ke udara serta berbagai perbaikan yang dilakukan Boeing dan Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA). Atas dasar itu, mereka akhirnya mengizinkan Boeing 737 MAX, baik maskapai dalam negeri maupun asing, kembali terbang.

Ini tentu berbeda dengan regulator negara lain. Cina, misalnya, saat AS, Eropa, serta beberapa negara lainnya, sudah mengizinkan Boeing 737 MAX kembali terbang, mereka memilih untuk menunggu dan melakukan inspeksi sendiri, tidak bergantung pada hasil perbaikan dan inspeksi dari FAA dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Diizinkannya Boeing 737 MAX terbang kembali di Malaysia tentu menjadi berkah tersendiri bagi maskapai nasional Negeri Jiran, Malaysia Airlines.

Disebutkan, saat maskapai dan lessor di seluruh dunia umumnya membatalkan atau setidaknya mengurangi pesanan pesawat Boeing 737 MAX, Malaysia Airlines justru tetap pada pendiriannya, memesan 25 jet tersebut.

Selambat-lambatnya, pengiriman pesawat Boeing 737 MAX pertama Malaysia Airlines akan dilakukan pada 2024 mendatang.

Berjarak sepekan sebelum Malaysia, India dilaporkan lebih dahulu mengizinkan maskapai untuk mengoperasikan Boeing 737 MAX.

Baca juga: Demi 737 MAX Kembali Terbang, Boeing Kirim Pilot Khusus ke Maskapai

Pada awal Agustus lalu, varian terkecil dari Boeing 737 MAX, 737 MAX-7, terpantau Flightradar24 melakukan uji terbang perdana usai grounded berkepanjangan, dari Bandara Internasional Pudong Shanghai pada pukul 09:24 waktu setempat.

Pesawat kemudian mendarat di Bandara Zhoushan Putuoshan, sekitar 150 km ke selatan Shanghai, setelah dirasa cukup mendapat data pengujian.

Kembalinya Boeing 737 MAX tentu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pada hari Minggu (8/7), pejabat Regulator Penerbangan Sipil Cina (CAAC) secara tiba-tiba mengizinkan Boeing 737 MAX terbang.

Ketika itu, Boeing langsung merespon, mengirim tim yang terdiri dari 35 pilot dan insinyur, dan membuat beberapa kesepakatan. Adapun penerbangan perdana MAX awal Agustus lalu adalah buah dari keputusan CAAC.

Jauh ke belakang, pada Desember lalu, EASA akhirnya mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX. Padahal, pada akhir November, regulator Eropa itu menyebut akan melakukan sertifikasi sendiri dan berlepas diri dari keputusan FAA yang sudah mengizinkan kembalinya MAX.

Baca juga: Cina Akhirnya ‘Tunduk’ ke AS, Boeing 737 MAX Diizinkan Terbang Kembali

FAA sendiri resmi mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX pada 18 November 2020 lalu. Usai keputusan itu, berbagai maskapai dunia ramai-ramai mulai mengatur jadwal penerbangan perdana Boeing 737 MAX.

Pada awal Februari lalu, Boeing 737 MAX bahkan sudah berhasil mencatat 2.700 penerbangan penumpang dan 5.500 jam terbang bersama berbagai maskapai di setidaknya lima negara, meliputi Amerika Serikat (AS), Kanada, Brazil, Panama, Meksiko.

Unik, Stasiun Bhawani Mandi Terletak di Dua Negara Bagian India

Menjadi jaringan kereta api ketiga terbesar di dunia, India bukan hanya melayani penumpang di kota besar tetapi di kota kecil dan Indian Railways menjadi operatornya. Bahkan banyak hal menarik serta unik dari stasiun di India, dari yang tidak memiliki nama hingga berada di antara dua negara bagian.

Baca juga: Di India Ada Stasiun Kereta Tanpa Nama

Seperti stasiun kereta api di Bhawani Mandi yang berada di distrik Jhalawar Rajasthan. Stasiun ini memiliki hal uniknya tersendiri, yaitu salah satu ujungnya berada di Negara Bagian Rajasthan sedangkan yang lainnya di Negara Bagian Madhya Pradesh.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman news18.com (4/8/2021), stasiun yang berada di rute Delhi menuju Mumbai itu memfasilitasi banyak kereta api yang melintas di antara dua negara bagian itu. Keistimewaan lainnya dari Stasiun Bhawani Mandi yakni memiliki loket dan petugas penjual tiket yang beradadi Madhya Pradesh, sedangkan penumpang membeli tiketnya di luar loket yang berada di Rajasthan.

Hal menarik lainnya adalah salah satu ujung stasiun kereta memiliki papan Rajasthan dan ujung lainnya Madhya Pradesh. Yang mana ujung selatan bagian dari Rajasthan dan utara milik Madhya Pradesh.

Stasiun ini setiap harinya melayani delapan hingga sepuluh ribu penumpang dan menghubungkan sebanyak 375 stasiun lainnya secara langsung dan hampir 50 kereta melewati peronnya. Para pelancong juga mendapatkan pengalaman unik karena kedua negara bagian hanya berjarak beberapa meter di stasiun.

Bukan hanya stasiun kereta api yang membentang ke kedua negara bagian, beberapa rumah yang dibangun di daerah perbatasan distrik Jhalawar juga jatuh di Rajasthan dan Madhya Pradesh. Beberapa rumah bahkan memiliki pintu masuk depan yang terbuka ke Bhensoda Mandi di Madhya Pradesh, sedangkan pintu belakang jatuh di Bhawani Mandi di Rajasthan.

Kedekatan juga menyebabkan orang-orang Madhya Pradesh menjadi tergantung pada Bhawani Mandi untuk bisnis, transportasi, kesehatan, pendidikan dan hal-hal penting lainnya. Meski begitu, Stasiun Bhawani Mandi bukanlah satu-satunya stasiun kereta api di India yang jatuh di dua negara bagian.

Baca juga: India Bangun Hotel Bintang Lima Pertama di Atas Stasiun

Sebab Stasiun Navapur pun berada di perbatasan Maharashtra dan Gujarat dan dibagi rata antar keduanya. Sama seperti Bhawani Mandi, kereta api yang berhenti di sana berhenti di perbatasan dua negara bagian dan menawarkan pelat stasiun dari kedua negara bagian secara berdampingan.

Inilah Pesawat Pertama yang Mendarat di Bandara Kabul Usai Kepergian AS

Amerika Serikat (AS) resmi pergi dari Afghanistan setelah Mayor Jenderal (Mayjen) Chris Donahue, warga negara AS sekaligus tentara terakhir yang berada di Bandara Kabul, meninggalkan Afghanistan menggunakan pesawat Boeing C-17 Globemaster, Senin malam jelang dini hari. Setelah sehari sunyi, Bandara Kabul akhirnya kedatangan pesawat dari jenis yang sama.

Baca juga: Amerika Serikat Pergi dari Afghanistan, Taliban Minta Turki Operasikan Bandara Kabul

Dari tayangan video yang dibagikan wartawan Middle East Eye melalui laman Twitternya, Boeing C-17 Globemaster yang mendarat di Bandara Kabul Rabu, 1 September 2021 kemarin, bukan datang dari AS, melainkan dari Qatar Airways.

Sejatinya, pesawat tersebut bukanlah pesawat milik maskapai Qatar Airways. Tetapi, milik Angkatan Udara Qatar yang karena berbagai hal menggunakan livery maskapai nasional Qatar tersebut.

Dikutip dari topwar.ru, sejak tentara AS pergi meninggalkan Afghanistan, Taliban memang menggandeng sejumlah negara, seperti Qatar, Turki, dan Cina, untuk membangun kembali negara yang disebut kaya cadangan mineral itu.

Karenanya, tidak heran bila pesawat Boeing C-17 Globemaster livery Qatar Airway milik Angkatan Udara Qatar itu bisa mendarat di sana. Lebih lanjut, berbagai ahli seperti konstruksi, sipil, dan kebandarudaraan dari Qatar sudah tiba di Afghanistan dengan menumpangi pesawat itu.

Baca juga: Ternyata Ini Alasan C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar Pakai Livery Qatar Airways

Mereka ditugaskan untuk membangun kembali Bandara Internasional Hamid Karzai tersebut, yang notabene menjadi gerbang keluar masuknya orang dan barang dari Afghanistan.

Selama bertugas, tenaga ahli dari Qatar akan dijaga ketat oleh pasukan khusus Taliban “Badri 313”. Pasukan khusus yang memiliki persenjataan lengkap tersebut, saat ini, menjadi pemegang otoritas Bandara Kabul untuk sementara, menjaga seluruh pos pemeriksaan dan skrining bandara.

Sebelum diambil alih oleh pasukan khusus Badri 313, Taliban disebut sempat meminta Turki untuk mengoperasikan bandara, termasuk keamanannya. Hal itu dikonfirmasi langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Jumat pekan lalu.

“Taliban meminta agar kami mengoperasikan Bandara Kabul. Kami belum membuat keputusan tentang masalah ini,” ujarnya seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.

Baca juga: Jadi Ikon Evakuasi Warga di Afghanistan, Boeing C-17 Globemaster Dijuluki ‘Rusa Besar’! Ini Alasannya

Meski Taliban sudah berkuasa penuh dan AS sudah pergi, tetapi, media-media barat menyebut situasi keamanan di Afghanistan masih rawan teror. Apalagi di wilayah bandara.

Sumber-sumber lain juga menyebut, di saat tentara AS dan sekutu pergi, tentara Inggris masih bertahan di sana. Tujuannya, untuk membalas serangan bom bunuh diri beberapa hari lalu yang menewaskan pasukan elite Inggris, SAS.

Pernah Uji Coba Angkut Penumpang, Kini Apa Kabar Virgin Hyperloop?

Pada 8 November 2020, Virgin Hyperloop membawa penumpang manusia pertamanya untuk naik dan merasakan sensasinya. CEO Virgin Hyperloop Josh Giegel mengatakan, gagasan ini adalah sebuah konsep dan merupakan satu dari beberapa pengalaman luar biasa dalam dirinya. Bahkan Virgin Hyperloop tersebut pada pengujian pertama berhasil melaju sejauh 400 meter pada uji cobanya.

Baca juga: Untuk Pertama Kalinya, Virgin Hyperloop One Uji Coba Pod Berpenumpang

Meski dalam ruang terbatas, Anda juga harus memperlambat dan berhenti di kecepatan tinggi 173 km per jam. Dengan kecepatan itu pun bisa membuat orang berdebar apa lagi bagi mereka yang pernah merasakan peluncuran di drag strip. Dirangkum KabarPenumpang.com dari autoweek.com (31/8/2021), di mana penumpang duduk di dalam pod yang digantung dari trek di atas tabung baja panjang dan digantung oleh medan magnet di trek di bagian atas tabung.

Untuk lebih mengurangi resistensi, 99,9 persen udara disedot keluar dari tabung. Akibatnya, setelah elektromagnet diisi, pod bergerak ke bawah tabung. Setelah tabung yang lebih panjang dibangun, karena banyak dari mereka akan menjadi satu hari antara kota dan lintas negara, Hyperloop dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan 1.078 km per jam, tanpa suara dan lancar.

“Sistem kami dapat mendorong pod penumpang atau kargo dengan kecepatan lebih dari 1000 km per jam. Itu tiga kali lebih cepat dari rel berkecepatan tinggi dan lebih dari sepuluh kali lebih cepat dari kereta rel konvensional,” kata Virgin Hyperloop.

Pod Virgin Hyperloop pertama kemungkinan akan muncul di India dan Timur Tengah, yang terakhir antara Dubai dan Abu Dahbi. Tapi saat ini, yang tersedia adalah pod dengan penjang lintasan 500 meter di padang pasir oleh Las Vegas, bersama dengan pod uji lain yang dibangun oleh Elon Musk di sebelah pabrik roketnya di Hawthorne, California.

Dia mengatakan, dalam pod Virgin Hyperloop, tidak ada getaran mekanis yang nyata, kebisingan, getaran dan kekerasan di mana semuanya normal.

Virgin Hyperloop merancang pod independen yang dapat diprogram untuk meluncur dari jalur utama ke tabung tambahan dan menjangkau kota-kota kecil. Fleksibilitas yang lebih besar diperhitungkan saat merencanakan rute. Hyperloop akan dapat menyertakan gravitasi positif dan negatif dalam rutenya, semuanya tetap dalam batas yang ditentukan untuk kenyamanan g-force manusia.

Baca juga: Virgin Hyperloop One Bangun Pusat Penelitian di Andalusia

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tiket Virgin Hyperloop rute Kansas – St. Louis yang berjarak 250 mile akan berharga sama dengan setengah tangki bensin, atau antara US$30 – US$40.

Pelancong Pengguna iPhone Tak Perlu Bawa ID di Beberapa Negara Bagian AS

Perjalanan tanpa harus membawa identitas bisa saja terjadi dan ini memudahkan agar tidak hilang sewaktu bepergian. Tapi itu hanya berlaku bagi pengguna iPhone di beberapa negara alias belum di seluruh dunia. Sehingga pelancong tidak serta merta meninggalkan identitas mereka sepenuhnya di rumah.

Baca juga: Paspor Perjalanan Digital, Cara Pastikan Data Penumpang Tetap Aman

KabarPenumpang.com melansir dari laman wrcbtv.com (1/9/2021), Apple mendaftarkan delapan negara bagian dalam sebuah program yang memungkinkan orang agar menikmati perjalan mulus dan aman dengan menambahkan SIM atau kartu identitas negara bagian mereka ke Apple Wallet untuk ditunjukkan di pos pemeriksaan bandara. Dalam program ini, Apple memasukkan Arizona dan Georgia sebagai negara pertama.

Kemudian Connecticut, Iowa, Kentucky, Maryland, Oklahoma dan Utah akan segera menyusul. Apple mengatakan, inisiatif ini adalah cara yang mudah, cepat dan lebih aman bagi pelancong yang menunjukkan kartu identitas mereka di iPhone atau Apple Watch pada petugas Administrasi Keamanan Transportasi.

Apple tidak mengatakan kapan program TSA yang pertama kali diumumkan Juni lalu diluncurkan secara resmi di negara-negara bagian tersebut. Untuk memastikan itu resmi, pengguna harus mengambil selfie setelah mengunggah gambar SIM atau KTP mereka.

Mereka juga akan diminta untuk menyelesaikan gerakan wajah dan kepala, mirip dengan cara ID Wajah diaktifkan. Unggahan akan “diberikan dengan aman” ke negara bagian untuk verifikasi. Setelah diaktifkan dan disetujui, pengguna dapat mengetuk iPhone atau Apple Watch mereka di pembaca identitas di pos pemeriksaan keamanan dan agen akan melihat informasi yang diperlukan untuk terbang.

Cara kerjanya mirip dengan cara orang menggunakan Wallet untuk melakukan pembelian di pembaca kartu. Meski begitu pelancong diharapkan tidak meninggalkan kartu identitas mereka. Ini karena bila Anda memerlukan untuk terbang ke negara bagian lainnya yang belum masuk dalam program Apple.

Untuk keamanan, Apple mengatakan informasi pada ID “dienkripsi dan dilindungi dari gangguan dan pencurian.” Otentikasi biometrik juga digunakan untuk memastikan orang yang tepat menggunakan ponsel atau jam tangan. Masalah privasi dan keamanan telah mengganggu Apple baru-baru ini.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Perusahaan memicu protes bulan lalu ketika meluncurkan alat iOS baru yang memindai perangkatpengguna untuk gambar pelecehan anak. Kritikus mengatakan teknologi tersebut dapat digunakan di luar tujuan yang dinyatakan, misalnya dieksploitasi oleh penegak hukum atau entitas pemerintah.

Seberapa Jauh Pesawat Modern Terbang dengan Satu Mesin? Simak Jawabannya

Bisakah pesawat penumpang ataupun kargo terbang dengan satu mesin? Pertanyaan itu mungkin tak mudah dijawab, tetapi tidak pula terlalu sulit sehingga tidak dijawab. Pastinya, menurut tulisan di flightdeckfriend.com, pesawat twinjet atau dua mesin bisa terbang dengan hanya satu mesin.

Baca juga: Bisakah Airbus A380 Terbang dengan Satu Mesin? Ini Jawabannya

Jangankan satu mesin, seluruh mesin dalam keadaan mati saja pesawat masih bisa terbang di udara. Masalahnya adalah, seberapa jauh pesawat bisa terbang dengan satu mesin?

Dalam artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com sudah pernah membahas pesawat bisa terbang atau tidak dengan satu mesin. Tetapi, dalam artikel itu contoh kasusnya terjadi pada pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380, yang notabene mempunyai empat mesin.

Meski begitu, esensinya tetap sama. Pesawat twin engine tetap bisa mengudara selama beberapa menit. Perkara ini juga bukan hal tabu dan sudah menjadi sebuah keharusan dalam proses sertifikasi Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) untuk mengukur seberapa jauh pesawat twinjet terbang dengan satu mesin.

Sertifikasi ETOPS ini wajib dilewati pesawat sebelum mulai beroperasi dan terbang membawa penumpang.

Baca juga: Seberapa Jauh Pesawat Bisa Terbang Saat Mesin Rusak-Kehabisan Bahan Bakar di Udara?

Pada Februari tahun 2019, Airbus A330-900 berhasil meraih sertifikasi ETOPS 285min dari European Aviation Safety Agency (EASA).

Sertifikasi ETOPS 285min dari EASA menandakan bahwa armada A330-900 sanggup mengudara selama empat jam 45 menit (285 menit) hanya dengan menggunakan satu mesin saja. Ini merupakan skema tanggap darurat semisal A330-900 mengalami kerusakan mesin.

ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370. Angka yang tertera di akhir merupakan durasi yang diizinkan untuk pesawat mengudara hanya dengan satu mesin.

Kemampuan pesawat terbang dengan satu mesin juga linier dengan prosedur keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca juga: Berapa Banyak Bahan Bakar yang Dibutuhkan Pesawat untuk Sekali Terbang?

Seperti yang sudah redaksi tulis sebelumnya, sebelum memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan).

Selain itu, pilot dan kopilot juga membahas informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan. Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

Terkait bandara yang dilalui sepanjang perjalanan ke bandara tujuan, ini penting, mengingat andai terjadi kesalahan mekanis maupun teknis, pesawat bisa mendarat darurat di sana. Selain itu, setiap pesawat juga diwajibkan untuk terbang berjarak satu jam dengan bandara terdekat, sebagai langkah antisipatif bilamana terjadi kerusakan pada mesin maupun pesawat secara keseluruhan.

Baca juga: Terbang 4 Jam 45 Menit Hanya dengan Satu Mesin, Airbus A330-900 Raih Sertifikasi ETOPS

Dengan begitu, andai pesawat twinjet mengalami kerusakan di salah satu mesinnya, pesawat tetap bisa mendarat darurat di bandara terdekat yang hanya berjarak 60 menit, masih di bawah kemampuan pesawat modern yang minimal bisa terbang 75 menit dengan satu mesin.

Lebih buruk dari itupun, dimana kedua mesin pesawat twinjet mati atau rusak saat di ketinggian, pesawat tetap bisa terbang sejauh sekitar 112 kilometer sebelum sampai ke permukaan tanah dengan asumsi pesawat terbang di ketinggian 36 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer.

 

Taksi Udara EHang 216 Tiba di Jakarta, Taksi Udara Seaplane Hong Kong Nyusul?

Taksi udara (drone) EHang 216 sukses mendarat di Jakarta. Taksi udara atau taksi terbang pertama di dunia ini didatangkan oleh Prestige Image Motorcars. Tak hanya EHang 216, taksi terbang lainnya juga berencana masuk ke Indonesia. Mereka adalah taksi terbang Seaplane, start up asal Hong Kong.

Baca juga: Pertama di Dunia, Taksi Udara EHang 216 Mulai Layani Kargo Udara

Usai tiba di Jakarta, belum jelas apakah taksi udara atau taksi terbang EHang 216 ini akan segera mengudara dan melayani penumpang atau tidak. Tetapi, biasanya, sebelum mulai beroperasi secara komersial, terlebih dahulu taksi terbang EHang 216 ini akan menjalani penerbangan perdana dan sertifikasi dari Kemenhub.

Sejauh ini, Prestige Image Motorcars belum berbicara banyak kapan taksi terbang EHang 216 akan benar-benar mengudara dan menjadi angkutan mobilitas udara perkotaan (UAM) di Jakarta.

Sebelum tiba dan nantinya beroperasi di Jakarta, EHang 216 sudah lebih dahulu beroperasi di beberapa kota di Cina, negeri asal pembuat taksi terbang tersebut.

Pada akhir Mei tahun lalu, EHang 216 muncul Taizhou, Provinsi Zhejiang Cina, untuk menjalani uji coba logistik udara untuk pertama kalinya di dunia, mengangkut kargo dengan muatan sedang hingga berat serta jarak dan medan yang beravariasi, antara permukaan tanah dan lokasi di puncak bukit, serta antara pantai dan pulau.

Baca juga: Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Sampai di sini, belum ada yang mengoperasikan taksi terbang EHang 216 sebagai UAM dan baru berupa layanan kargo drone saja.

Barulah pada bulan Juli di tahun yang sama, taksi udara EHang 216 menggebrak jagat persaingan passenger drone atau taksi udara otonom penumpang. Taksi terbang EHang 216 sukses mengujicoba ketangguhan taksi udara otonom atau tanpa pilot pertama di dunia buatan Cina ini dengan melibatkan empat orang penumpang.

Ketika itu, taksi udara EHang 216 membawa satu per satu penumpang keliling Kota Yantai, pesisir Cina Timur, menyusuliri langit Fisherman’s Wharf, dan kembali lagi ke daratan.

Keberhasilan uji coba dengan melibatkan penumpang ini tentu semakin mengukuhkan posisi EHang sebagai produsen taksi udara paling menjanjikan di dunia dan paling siap untuk penggunaan di masa depan sebagai drone penumpang perusahaan-perusahaan.

Baca juga: Taksi Drone EHang Masuki Tahun Layanan Pertama dengan Konsep Passenger Drone Hotel

Pada awal tahun ini, taksi udara EHang 216 juga muncul Kota Yeuhu, Zhaoqing, sebuah kota tujuan wisata paling populer di Guangdong.

Taksi udara otonom EHang 216 juga bakal menghibur masyarakat yang berkunjung dengan atraksi aerial media show, sejenis atraksi akrobatik nan menawan dari deretan drone EHang, seperti membentuk sebuah kata, benda, bendera, bangunan, dan berbagai bentuk lainnya, seperti video di bawah ini.

Taksi drone otonom EHang 216, sejak awal kemunculannya, memang begitu menarik perhatian publik. Drone tersebut dinilai lebih efektif dan efisien dibanding helikopter, sekalipun EHang 216 memiliki rotor yang lebih banyak, yakni 16.

Taksi drone otonom EHang 216 beroperasi secara otonom atau otomatis tanpa pilot. Taksi terbang ini mampu memuat dua penumpang dengan muatan maksimum 220kg dan terbang selama 21 menit sejauh 35 km di kecepatan mencapai 130 km per jam serta ketinggian terbang maksimum mencapai 3.000 meter.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Taksi terbang EHang 216 ini dapat diisi hingga 220v atau 380v dalam 1,5 jam waktu pengisian. Perangkat pengisi daya terhubung secara real time ke sistem manajemen baterai pesawat.

Selain taksi terbang EHang 216, taksi terbang Seaplane Hong Kong juga berencana ekspansi ke Indonesia, Vietnam, dan Filipina, setelah sukses melayani penerbangan charter serta joyflight (tamasya udara di beberapa kota di Hong Kong serta Greater Bay Area (wilayah teluk meliputi Guangdong-Hong Kong-Makau).

Sebelum Pandemi Lima Maskapai ini Punya Chef Onboard, Salah Satunya dari Indonesia

Pada umumnya, seluruh sajian makanan dalam penerbangan maskapai global dibuat di darat. Tetapi, agar lebih terkesan mewah dan berbeda, beberapa maskapai menghadirkan chef onboard atau koki dalam penerbangan.

Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat

Dari ratusan bahkan mungkin ribuan maskapai penerbangan di dunia, setidaknya ada lima maskapai yang sebelum pandemi menyediakan layanan chef onboard. Tetapi, apakah mereka benar-benar memasak layaknya koki di darat?

Agar lebih jelas, seperti dikutip dari One Mile At a Time, berikut daftar lima maskapai yang sediakan layanan chef onboard, sekaligus menjawab apakah in-flight chef memasak di pesawat atau tidak.

1. Austrian Airlines

Maskapai nasional Austria ini disebut menyediakan inflight chef di setiap penerbangan, khususnya rute-rute gemuk. Tetapi, tidak semua penumpang bisa menikmati sajian dari chef ini, melainkan hanya penumpang first class saja.

2. Etihad Airways

Maskapai nasional Uni Emrirat Arab yang berbasis di Abu Dhabi ini terkenal dengan layanan first classnya. Etihad Airways juga menambah kesan premium penumpang first class dengan menghadirkan langsung chef onboard.

Baca juga: Meski Dianggap Tak Sehat, Tapi Inilah 5 Maskapai yang Punya Makanan Terbaik di Seluruh Dunia

Meski begitu, dalam video promosinya, inflight chef Etihad Airways tidak betul-betul memasak di pesawat dengan api besar, asap, dan lain sebagainya. Tetapi, koki tersebut memasaknya di darat dan menatanya di piring, menjadikannya jauh lebih mewah dibanding penumpang kelas ekonomi yang hanya mendapat sajian katering maskapai.

3. Turkish Airlines

Maskapai nasional Turki ini juga tak ketinggalan menghadirkan flying chef dalam penerbangan. Dalam video yang diunggah Just Planes, tak cukup satu, Turkish Airlines menghadirkan langsung dua koki sekaligus untuk melayani penumpang first class mereka. Dalam video tersebut, penerbangan menggunakan Boeing 777. Di penerbangan lain mungkin kondisinya bisa berbeda.

Sama halnya dengan koki di Etihad Airways dan koki dalam penerbangan lainnya, mereka tidak memasak di pesawat, melainkan hanya menatanya saja agar terlihat mewah.

4. Garuda Indonesia

Maskapai nasional Indonesia menjadi salah satu maskapai yang menyediakan chef onboard. Dalam video resmi maskapai, setidaknya ada tiga koki yang melayani penumpang first class. Tetapi, besar kemungkinan ketiganya tidak bekerja di satu penerbangan yang sama.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Berbeda dengan tiga maskapai sebelumnya, chef onboard Garuda Indonesia memasak di pesawat dalam penerbangan. Namun tidak benar-benar memasak menu yang rumit dengan api besar, melainkan hanya memasak telur di oven.

Sisanya, sama saja. Makanan yang sudah di masak di darat dihangatkan, dicampur, diaduk, dan ditata di piring untuk disajikan ke penumpang first class atau mungkin juga business class.

5. SAS Airlines

Scandinavian Airlines System atau disebut juga SAS Airlines juga menyediakan layanan chef dalam penerbangan. Tetapi, sayangnya tak ada official video yang menampilkan langsung hal itu.

Baca juga: Begini Proses ‘Memasak’ Makanan di Pesawat Sampai Dihidangkan ke Penumpang

Sebagai catatan, maskapai lain memang tidak menghadirkan koki onboard. Tetapi, biasanya mereka telah melatih pramugari untuk menjadi koki dalam penerbangan. Pramugari yang ditugaskan menjadi koki juga hanya bekerja di dapur dan menyiapkan makanan untuk penumpang, sama sekali tidak ke kabin.

Selain itu, maskapai besar dan terkenal dengan investasi besar serta mewah di penerbangan seperti Qatar Airways dan Emirates, memang tidak memiliki chef onboard. Tetapi, mereka memiliki katering dan meja makan di pesawat -untuk penumpang first class- yang mengesankan.

Etihad Rail Buka Terowongan Kereta Terpanjang di Uni Emirat Arab

Etihad Rail membuka jalur dari Dubai ke Fujairah di Uni Emirat Arab dengan menggali terowongan sepanjang 1,8 km yang belum lama ini telah selesai. Hal tersebut dikatakan oleh China Civil Engineering Constraction Coporation selaku pihak pelaksana proyek.

Baca juga: Kontraktor Cina Rampungkan Pembangunan Terowongan Kereta Terpanjang di Afrika Timur

China Civil Engineering menyelesaikan pekerjaan pembuatan terowongan di jalur T1 sepanjang 1,8 km di Pegunungan Hajar untuk seksi D tahap 2 proyek itu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thenationalnews.com (25/7/2021), untuk menggali terowongan itu harus diledakkan dan menggunakan daya ledak lebih lembut karena medannya cukup riskan.

Untuk diketahui, pada Desember 2019 lalu, Etihad Rail memberikan kontrak Dh4,6 miliar kepada perusahaan patungan Cina untuk mengerjakan 145 km jalur di sepanjang perbatasan Sharjah, Fujairah dan Dubai. Ini kemudian mencakup pembangunan 15 terowongan melalui Pegunungan Hajar dengan total panjang 16 km yang mencakup pembangunan 35 jembatan dan 32 underpass.

Dalam pembangunan itu, rel milik Etihad dibangun dalam tiga fase. Dimana fase pertama dibangun tahun 2009 dengan jalur yang membentang 264 km antara Al Ruwais dan ladang gas Shah dan Habshan. Setiap harinya ada dua kereta yang melintas di seluruh negeri dan mampu mengangkut hingga 22 ton belerang dan setiap kereta bisa menarik hingga 110 gerbong. Ketika ini semua selesai, maka jaringan kereta api akan menghubungkan populasi utama dan pusat industri di Uni Emirat Arab.

Bahkan ini bisa menjadi bagian penting dari jaringan yang direncanakan di seluruh wilayah. Pada tahap kedua proyek itu, ada lebih dari 600 km jalur yang akan dibangun dari Ghuweifat di perbatasan Arab Saudi hingga Fujairah di pantai timur.

Baca juga: Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia

Kontrak untuk proyek tahap dua diberikan dalam bentuk paket A, B, C dan D kepada SK Engineering and Construction, sebuah perusahaan Korea Selatan, dan China State Construction Engineering Corporation, untuk teknik sipil, pekerjaan lintasan, perancangan dan pembangunan proyek. Tracklaying untuk dua paket Tahap 2 dari proyek Etihad Rail sedang berlangsung.