Filosofi Logo Japan Airlines, Samakah dengan Lambang Keluarga Kozuki Oden di One Piece?

Bagi pencinta anime One Piece, logo maskapai Japan Airlines (JAL) sekilas sangat mirip dengan lambang keluarga atau klan Kozuki Sukiyaki/Oden. Meski tak mirip identik, tetapi, usut punya usut, antara logo JAL dengan lambang klan Kozuki memiliki filosofi yang sama.

Baca juga: Japan Airlines Bingung Saat Orang Terberat di Dunia Naik Pesawat, 16 Kursi Jadi ‘Korban’

Dikutip dari logos.fandom.com, sejak pertama kali didirkan pada 1 Agustus 1951, di Shinagawa, Tokyo, Jepang, JAL tercatat sudah enam kali mengganti logo. Logo pertama maskapai yang melaporkan mengalami kerugian 286,7 miliar yen (US$ 2,6 miliar) atau Rp36 triliun lebih dalam periode setahun Maret 2020-Maret 2021 ini mengusung gambar mirip pesawat.

Tak ada keterangan resmi terkait logo ini. Tetapi, logo ini bisa dibilang mirip dengan pesawat-pesawat andalan Jepang di Perang Dunia II. Logo ini bertahan selama sembilan tahun, dari tahun 1951-1959.

Barulah di tahun 1959, Japan Airlines mengadopsi logo khusus yang dikenal sebagai Tsurumaru. Logo ini menjadi bagian yang tak terpisahkan selama bertahun-tahun, membersamai maskapai hingga menjadi jauh lebih besar secara bisnis dari sembilan tahun awal maskapai berdiri.

Disebutkan, logo Tsurumaru JAL ini dibuat pada tahun 1958 oleh Jerry Huff, direktur kreatif di Botsford, Constantine and Gardner dari San Francisco, yang telah menjadi biro iklan untuk Japan Airlines sejak maskapai berdiri.

Logo baru ini sebetulnya tidak terpikirkan sejak awal, tetapi lebih karena didorong oleh momentum besar JAL saat membeli pesawat baru Boeing 747.

Ketika itu, pesawat Boieng 747 sangat fenomenal dan maskapai yang mengoperasikannya pasti mempunyai gagasan besar di tataran industri penerbangan global. Tak ayal, JAL memutuskan untuk membuat logo baru untuk diperkenalkan ke publik saat penerbangan pertama maskapai bersama Boeing 747.

Perjalanan terciptanya logo Tsurumaru ini sangat berkesan. Disebutkan, sang kreator, Jerry Huff, berusaha untuk lebih mengenal budaya Jepang saat proses mencari inspirasi.

Selain itu, perusahaan yang sejak awal bermitra di banyak bidang dengan Japan Airlines ini juga sudah berpengalaman keliling Jepang untuk berbagai proyek, seperti pemotretan di 20 lokasi favorit di Jepang dan lain sebagainya.

Atas berbagai pengalamannya itu, Jerry merasa pengetahuannya tentang Jepang sama dengan pengetahuannya tentang tanah kelahirannya, Amerika Serikat.

Entah bagaimana awalnya, ia disebut mendapat buku tentang budaya Jepang dari warga lokal.

Di dalam buku tersebut, Jerry melihat banyak hewan bangau dan mitos bangau di Jepang seluruhnya positif, seperti bermakna pasangan seumur hidup atau lambang kesetiaan dan lambang kekuatan atau dalam hal ini terbang tinggi berkilo-kilometer tanpa sedikitpun lelah.

Lebih spesifik lagi, bangau ini disebut sebagai lambang pribadi kelularga samurai Jepang, sangat mirip dengan filosofi lambang bangau milik keluarga Kozuki yang juga berasal dari kalangan samurai sarung pedang merah. Jadi, bisa dibilang, logo JAL dan lambang klan Kozuki berasal dari embrio yang sama, yakni keluarga samurai Jepang.

Dikarenakan logo di zaman itu banyak yang berupa bulat, bangau tersebut akhirnya disesuaikan sampai akhirnya terciptalah logo Tsurumaru JAL.

Meski sempat mendapat sedikit revisi atas permintaan JAL untuk kesesuaian pangsa pasar di Amerika, lgo Tsurumaru akhirnya tetap dipertahankan dan digunakan JAL selama 40 tahun sampai tahun 1989.

Baca juga: Usung Oryx Sebagai Ikon, Ini Filosofi Logo Maskapai Qatar Airways

Di tahun 1989–2002, maskapai nasional Jepang itu menggunakan logo akronim maskapai, yaitu JAL, ditambah persegi panjang berwarna merah dan abu-abu. Logo yang sama juga digunakan pada tahun 2002–2011 dengan perbedaan mencolok di bagian aksen garis diagonal.

Di sela-sela itu, logo Tsurumaru JAL sempat digunakan kembali pada tahun 1989–2002 dengan modifikasi sedikit di bagian akronim JAL. Logo Tsurumaru akhirnya disempurnakan pada tahun 2011 dimana logo Tsurumaru di tahun 1989–2002 pada akronim ‘JAL’ diganti dengan font yang lebih tegas dan ditambah tulisan ‘Japan Airlines’ di bagian bawah logo dan terus digunakan sampai saat ini.

 

Taliban Larang Empat Pesawat Evakuasi yang Memuat Warga AS Terbang, Penumpang Disandera!

Taliban disebut melarang empat pesawat evakuasi terbang meninggalkan Bandara Mazar-e-Sharif beberapa hari yang lalu. Pesawat disebut ingin menuju Doha, Qatar. Tak ada keterangan pasti alasan pelarangan itu. Namun, rumor yang beredar, penumpang pesawat itu akan dijadikan tawanan oleh Taliban, mengingat salah satu pesawat ada yang memuat warga negara Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Bandara Kabul Mulai Layani Penerbangan Domestik, Penerbangan Internasional Masih Abu-abu

Laporan Associated Press, seorang pejabat Afghanistan saat ditemui di bandara tersebut mengatakan bahwa mayoritas calon penumpang penerbangan evakuasi yang menggunakan pesawat charter maskapai Ariana Afghan Airlines tersebut, tidak memiliki paspor dan visa. Karenanya, Taliban tidak mengizinkan mereka meninggalkan Afghanistan.

Terhadap rumor yang menyebut bahwa mereka akan dijadikan tawanan, ia menjawab bahwa seluruh penumpang sudah meninggalkan bandara dan kondisinya sudah normal.

Keterangan ini kemudian dibantah oleh salah seorang pejabat di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS dari partai Rebuplik, bahwa di antara calon penumpang di empat pesawat evakuasi itu ada warga negara AS dan Taliban tetap tak mengizinkan mereka meninggalkan Afghanistan.

Tak hanya itu, pejabat yang disebutkan namanya itu juga mengklaim bahwa penumpang (warga negara AS) ditahan dan dijadikan sandera. Namun, ia tak bisa menjelaskan darimana informasi itu berasal.

Terlepas dari itu, yang pasti, AS sudah berikrar akan terus menjalin kerjasama dengan Taliban sebagai penguasa baru Afghanistan. Pun demikian dengan Taliban, mereka berkomitmen untuk mengizinkan siapapun yang memiliki dokumen yang sah untuk keluar dari Afghanistan.

Departemen Luar Negeri AS sendiri mengaku tidak memiliki data berapa banyak warga AS yang masih berada di Afghanistan. Sebab, proses evakuasi besar-besaran oleh Negeri Paman Sam sudah dilakukan secara maksimal sampai tanggal 30 Agustus lalu dan tidak ada satupun yang tertinggal.

Kendati begitu, mereka akan menuntut Taliban atas janjinya untuk membiarkan siapapun bepergian keluar Afghanistan dengan bebas.

Bandara Mazar-e-Sharif, yang lebih kecil dibanding Bandara Kabul ini, sejak beberapa hari belakangan sudah membuka penerbangan internasional. Tetapi, sejauh ini hanya ke Turki.

Baca juga: Amerika Serikat Pergi dari Afghanistan, Taliban Minta Turki Operasikan Bandara Kabul

Taliban menaruh curiga mengapa penerbangan charter tersebut bukan berangkat dari Bandara Kabul, yang notabene berstatus internasional.

Bandara Kabul sendiri sejak Sabtu lalu sudah memulai layanan penerbangan domestik meski hanya maskapai Ariana Afghan Airlines. Penerbangan dimaksimalkan terjadi pada pagi sampai sore hari untuk pendaratan visual mengingat bandara ini tidak memiliki fasilitas radar.

Bandara Kabul Mulai Layani Penerbangan Domestik, Penerbangan Internasional Masih Abu-abu

Bandara Kabul akhirnya mulai melayani penerbangan sipil. Untuk di awal, penerbangan domestik lebih dahulu dibuka. Adapun penerbangan internasional (komersial) masih menunggu kesiapan tim dan bandara itu sendiri, mengingat banyak fasilitas di bandara hancur saat proses evakuasi warga bersamaan dengan kepergian tentara Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan.

Baca juga: Inilah Pesawat Pertama yang Mendarat di Bandara Kabul Usai Kepergian AS

Laporan Reuters, layanan pertama penerbangan domestik dijalani oleh Ariana Afghan Airlines. Maskapai nasional Afghanistan itu sudah melayani penerbangan antara Kabul dan tiga kota besar lainnya, meliputi Herat di barat, Mazar-i Sharif di utara, dan Kandahar di selatan.

“Ariana Afghan Airlines dengan bangga melanjutkan penerbangan domestiknya,” katanya dalam sebuah pernyataan yang diunggal di laman Facebook resmi perusahaan.

Kembali dibukanya Bandara Kabul untuk penerbangan sipil tidak lepas dari kedatangan tim ahli dari Qatar. Rabu, 1 September 2021 lalu, pesawat pertama yang mendarat di Bandara Kabul pasca kepergian AS, Boeing C-17 Globemaster livery Qatar Airways milik Angkatan Udara Qatar, diketahui membawa sejumlah peralatan, termasuk tim ahli untuk membantu operasional bandara.

Selain itu, Duta Besar Qatar untuk Afghanistan juga mengkonfirmasi, tim dari negaranya juga membantu memperbaiki runway bandara yang disebut rusak dalam gejolak selama tiga pekan terakhir. Mereka dibantu oleh tenaga ahli dari Turki yang juga sudah tiba sejak beberapa hari yang lalu.

Beroperasinya layanan penerbangan sipil Bandara Kabul atau yang biasa juga disebut Bandara Hamid Karzai ini tentu menjadi langkah maju bagi perekonomian negara. Sebab, bandara atau moda transportasi udara menjadi satu-satunya akses paling efektif dan efisien untuk memudahkan pertukaran barang dan orang, dari dan ke Afghanistan, mengingat negara ini tidak mempunyai laut.

Sebetulnya, jalur darat juga bisa diandalkan. Sebagai contoh, selama ini, sebuah terowongan menghubungkan Kabul dengan perbatasan Tajikistan di bawah Pegunungan Hindu Kush, menjadi jalur utama pertukaran berbagai komoditas, seperti baju, bit gula, furnitur, dan perlengkapan senjata. Tetapi, kuantitasnya tak bisa menyamai lewat udara.

Sejak tentara AS pergi meninggalkan Afghanistan pada akhir Agustus, penerbangan sipil maupun militer sempat ditangguhkan selama kurang lebih satu hari. Setelah kedatangan pesawat Angkatan Udara Qatar, geliat aktivitas di bandara memang meningkat dan pembukaan kembali layanan penerbangan di bandara ini adalah buah dari itu.

Baca juga: Miris, Warga Afghanistan Tewas di Bandara Kabul Gegara Kepanasan dan Kelaparan Saat Tunggu Evakuasi

Bandara Kabul sendiri saat ini dijaga ketat oleh pasukan khusus Taliban “Badri 313”. Pasukan khusus yang memiliki persenjataan lengkap tersebut, saat ini, menjadi pemegang otoritas Bandara Kabul untuk sementara, menjaga seluruh pos pemeriksaan dan skrining bandara.

Sebelum diambil alih oleh pasukan khusus Badri 313, Taliban disebut sempat meminta Turki untuk mengoperasikan bandara, termasuk keamanannya. Tetapi, sampai saat ini, itu tak kunjung terwujud.

Pandemi Covid-19 ‘Paksa’ Etihad Gabung Aliansi Maskapai: Dulu Ngotot Bikin Aliansi Maskapai Sendiri!

Pandemi Covid-19 memaksa maskapai di seluruh dunia putar otak untuk terus menyelamatkan bisnisnya. Salah satunya dengan bergabung dengan satu dari tiga aliansi maskapai besar dunia; oneworld, StarAlliance, dan SkyTeam. Itulah yang saat ini dialami salah satu maskapai besar Timur Tengah, Etihad Airways.

Baca juga: Untung-Rugi Gabung Aliansi SkyTeam yang Juga Diikuti Garuda Indonesia, Apa Saja?

Sebelum wabah virus Corona merebak ke seluruh dunia dan menghantam bisnis penerbangan global, Etihad selama bertahun-tahun berambisi untuk membuat aliansi maskapai sendiri, alih-alih bergabung dengan tiga aliansi besar di atas.

Tak sedikit nilai investasi yang telah digelontorkan maskapai asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab itu untuk memuluskan langkahnya.

Di saat yang bersamaan, kompetitor Timur Tengah-nya, Emirates, juga melakukan hal serupa, tak bergabung dengan aliansi maskapai manapun dan berinvestasi besar-besaran untuk membentuk jaringan aliansi maskapai sendiri. Ini pada akhirnya membuat Etihad semakin yakin terhadap mimpinya membentuk aliansi maskapai sendiri.

Sejauh ini, ada tiga maskapai yang sudah memiliki jejaring kuat dengan Etihad. Tiga itu, Jet Airways, Air Serbia, dan Air Seychelles. Sayangnya, pandemi virus Corona membuat keuangan tiga maskapai tersebut dan mau tak mau melakukan efisiensi. Salah satunya dengan mengundurkan diri dari aliansi maskapai dan sejenisnya.

Melihat hal itu, berbagai spekulasi pun muncul bahwa Etihad Airways mulai menyerah dengan ambisi besarnya dan bersiap gabung dengan satu dari tiga aliansi maskapai.

“Saya pikir itu salah satu yang Anda tahu, Anda tidak pernah mengatakan tidak pernah. Itu adalah hal yang selalu kami awasi,” kata CEO Tony Douglas dalam wawancara eksklusif baru-baru ini bersama Simple Flying.

“Karena itu, mengingat program transformasi yang telah kami lakukan, apa yang kami tidak ingin terlibat adalah apa pun selain menyampaikan rencana yang kami tetapkan. Omong-omong, bukan berarti terlibat dalam salah satu tiga aliansi utama akan (melakukannya),” lanjutnya.

Meski tidak menutup kemungkinan bergabung dengan salah satu aliansi besar maskapai, ia tetap meyakini bahwa fokus pada rencana yang telah dibuat jauh lebih baik, yaitu membentuk aliansi sendiri. Intinya, segala hal masih mungkin, termasuk mengoperasikan kembali Airbus A380 Etihad pasca pandemi.

Baca juga: Inilah Perbedaan Airlines dan Airways di Dunia Penerbangan

“Tetapi apa yang kami juga lihat bahwa jauh lebih mudah, mengingat fokus dan bandwidth kami, untuk berkonsentrasi pada hubungan tertentu di mana kami dapat membangun codeshare atau (perjanjian) antar baris,” tambahnya.

“Akan bagus untuk melihat mungkin dalam dua hingga lima tahun ke depan pasca-pandemi, perubahan konfigurasi seperti apa yang terjadi dengan aliansi besar juga. Apakah mereka relevan pasca pandemi seperti sebelum pandemi, atau apakah mereka sebenarnya lebih relevan pasca pandemi. Saya pikir itu akan menjadi satu untuk kita semua untuk menonton dengan penuh minat, termasuk kami (Etihad),” tutupnya.

Paspor Terkuat di Dunia Tahun 2021, Wakil Asia Jepang-Singapura-Korsel Urutan Teratas!

Negara-negara di Asia mendominasi dalam daftar urutan paspor terkuat di dunia versi HENLEY Passport Index, khususnya tiga teratas. Tiga itu adalah Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Jepang didapuk sebagai pemegang gelar paspor terkuat di dunia tahun 2021, disusul Singapura di posisi kedua dan Korea Selatan serta Jerman di posisi ketiga.

Baca juga: Terbukti Mudahkan Penumpang, Paspor Kesehatan Digital IBM Kini Digunakan 450 Maskapai Lebih

Dilansir CNN Internasional, sebetulnya, peringkat paspor terkuat di dunia pada kuartal I 2021 bisa dibilang tidak ada perubahan berarti.

Di samping itu, akses negara-negara yang memuncaki daftar paspor terkuat di dunia juga berbeda dengan kenyataannya.

Jepang diketahui saat ini berada di posisi satu sebagai negara dengan pasport paling kuat di dunia. Negeri Sakura menawarkan akses bebas visa atau visa-on-arrival ke 193 tujuan di seluruh dunia.

Tetapi, pada kenyataannya, pemegang paspor Jepang memiliki akses ke kurang dari 80 tujuan -hampir sama dengan peringkat indeks Arab Saudi, yang berada di peringkat ke-71 (dengan kenyataan di lapangan hanya 58 tujuan).

Di posisi ada Singapura yang menawarkan akses bebas visa atau visa-on-arrival ke 192 tujuan atau destinasi di seluruh dunia.

Namun, pada kenyataannya, pemegang paspor Singapura saat ini hanya mengakses kurang dari 75 tujuan. Sama halnya dengan Jepang, ini disebabkan pembatasan perjalanan, entah itu disebabkan oleh tingginya kasus Covid-19 di negara asal, ataupun lockdown ketat di negara tujuan.

Yang menarik dalam daftar paspor terkuat di dunia kuartal I tahun 2021 sebetulnya bukan dari bertenggernya tiga perwakilan Asia di tiga besar dan dominasi barat di posisi 10 besar, melainkan meningkatnya peringkat Cina dan Uni Emirat Arab (UEA) sejak beberapa tahun terakhir.

Selandia Baru, Swiss, Belgia tetap di tempat ketujuh, dengan akses bebas visa ke 187 tujuan, terus menurun sejak menempati posisi puncak daftar paspor terkuat di dunia tahun 2014 silam. Sementara itu, Australia turun dari tempat kedelapan pada Januari ke tempat kesembilan hari ini dengan skor 185 bersama Kanada.

Baca juga: Di Paspor ‘Tertulis’ 123 Tahun, Kakek ini Terlihat Seperti 90 Tahun Karena Rajin Yoga

Disebutkan, sejak tahun 2011, Cina telah naik 22 peringkat, dari posisi 90 ke posisi 68. Sementara itu, UEA naik dari urutan ke-65 menjadi urutan ke-15 daftar paspor terkuat di dunia.

Lobi-lobi politik dengan meningkatkan hubungan diplomatik ke seluruh dunia membawa pemegang paspor UEA mendapat akses masuk mudah ke 174 destinasi dibandingkan hanya 67 destinasi satu dekade yang lalu.

Agar lebih lengkap, berikut daftar paspor terbaik di dunia tahun 2021:
1. Jepang (193 destinasi)
2. Singapura (192)
3. Jerman, Korea Selatan (191)
4. Finlandia, Italia, Luksemburg, Spanyol (190)
5. Austria, Denmark (189)
6. Perancis, Irlandia, Belanda, Portugal, Swedia (188)
7. Belgia, Selandia Baru, Swiss, Inggris Raya, Amerika Serikat (187)
8. Republik Ceko, Yunani, Malta, Norwegia (186)
9. Australia, Kanada (185)
10. Hongaria (184)

 

Digunakan Pada Jalur Non Listrik, Kereta Hidrogen Meluncur di Swedia

Kereta bertenaga hidrogen mulai merambah perkeretaapian Eropa. Jerman bahkan sudah membangun stasiun pengisian bahan bakar karena pertengahan tahun 2021, negara ini sudah mulai mengoperasikan kereta bertenaga hidrogen.

Baca juga: Dukung Operasional Kereta Hidrogen, Jerman Bangun Stasiun Pengisian Khusus di 2021

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman h2-view.com (27/8/2021), selain Jerman, kehadiran dan beroperasinya kereta hidrogen di Swedia pun menjadi kenyataaan. Di mana Swedia pada Rabu (25/8/2021) mengumumkan penyebaran kereta penumpang iLint Alstom di Stersund, untuk menyoroti potensi transportasi bertenaga hidrogen.

Diyakini sebagai kereta penumpang operasional pertama dan satu-satunya di dunia yang ditenagai oleh sel bahan bakar hidrogen. Coradia iLint dirancang khusus untuk digunakan pada jalur non-listrik untuk memungkinkan pengoperasian kereta yang bersih dan berkelanjutan.

Swedia bukanlah negara pertama yang menerapkan iLint, namun, inovasi kereta bertenaga hidrogen sudah berjalan di Jerman, Austria, Belanda dan akan segera memasuki jalur kereta api Italia. Rob Whyte, CEO Alstom Nordics, kereta Coradia iLint mewakili peluang besar bagi Swedia untuk mengurangi emisi CO2 dan bahkan menghilangkan karbon pada transportasi kereta api.

“Berkat transportasi umum bertenaga hidrogen, operator regional dapat menjadi mercusuar mobilitas modern, seperti yang dialami baru-baru ini di Jerman, Belanda, dan Austria – yang telah menguji dan menerapkan (atau berencana menerapkan) kereta hidrogen,” ujar Whyte.

Baca juga: Tahun 2021, Kereta Bertenaga Hidrogen Siap Mengular di Rel Jerman

Alstom mempersembahkan kereta kepada berbagai pemangku kepentingan lokal, termasuk operator regional, otoritas transportasi, pengambil keputusan pemerintah, dan media terkemuka.

EV4 Mountain Cart – Kendaraan Off-Road untuk Penyandang Disabilitas

Menjadi penyandang disabilitas tidaklah mudah, sebab kerap kali menjadi bahan perbincangan dan orang-orang merasa dipersulit dengan kehadiran mereka. Bahkan mungkin bagi penyandang disabilitas memiliki hobi yang menantang seperti mendaki gunung dan off road akan sangat disepelekan.

Baca juga: Bepergian Sendiri, Penyandang Disabilitas ini Dilarang Mengudara oleh Hong Kong Airlines!

Padahal beberapa penyandang disabilitas sudah ada yang mampu menaklukkan beberapa gunung tinggi di dunia. Namun bagaimana bila penyandang disabilitas ternyata pecinta dan hobi dengan off road? Kini tak perlu lagi khawatir, pasalnya sudah ada sebuah kendaraan roda empat yang bisa digunakan para penyandang disabilitas untuk menikmati hobi mereka tersebut.

KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (8/3/2019), EV4 Mountain Cart adalah kendaraan roda empat yang bisa digunakan penyandang disabilitas saat menyusuri trek tanah, mendaki bukit berumput dan melalui jalan setapak dihutan. Skopinski telah mempertahankan estetika industri untuk rangka aluminium kelas penerbangan dengan swingarm baja yang dilas dan skema warna yang memutar kepala, sehingga anggota baru keluarga EV4 tidak akan terlihat terlalu tidak cocok dalam parade identitas.

Mountain Cart memiliki dua motor hub belakang 1.000 W BLDC yang dikontrol oleh throttle listrik di stang. Kecepatan tertinggi dilaporkan 40 km perjam (25 mph), dan ada baterai 36 V / 23 Ah di bawah rak depan yang menawarkan rentang per 3-4 jam pengisian 50-80 km (30-50 mi).

Masing-masing dari empat roda 20 inci yang dibungkus 20×2.125 ban Kenda memiliki rem cakram hidrolik, dan 160 x 138 x 90 cm (63 x 54 x 35 in). EV4 Mountain Cart memiliki empat guncangan sepeda yang membantu menghaluskan gundukan. Layar LCD memungkinkan pengguna mengawasi sisa waktu dan melacak info perjalanan.

Kursi dengan sabuk pengaman dapat disesuaikan untuk pengendara berukuran berbeda, dan kendaraan dapat mengakomodasi pengendara maksimum dan berat kargo 130 kg (286,6 lb). EV4 Mountain Cart bukan jalan yang legal, jadi Anda harus menemukan jejak petualangan yang cocok untuk dibawa berputar. Ini tersedia sekarang, harga mulai dari US$5.285 atau senilai Rp75,4 juta.

Baca juga: Mudahkan Penyandang Disabilitas, Tahun 2025 Semua Bus di Seoul Adopsi Low Deck

Kendaraan off road khusus penyandang disabilitas tersebut dibuat oleh perancang asal Polandia dengan menciptakan pelacak jejak listrik off road yang tidak menggunakan mekanisme memiringkan. EV4 sendiri bisa mengangkut kursi roda yang dipasangkan di sisi kirinya sehingga memudahkan para penyandang disabilitas.






















Robot Barista Hadir di 30 Stasiun MRT Singapura

Era robot sepertinya makin jelas terlihat di depan mata. Beberapa waktu lalu, Jepang menghadirkan robot bartender, robot barista, robot pembuat mie dan berbagai robot lainnya di stasiun kereta. Kemudian jejak ini pun diikuti oleh Singapura yang menghadirkan robot barista.

Baca juga: Sambut Olimpiade Tokyo 2021, JR East Co Hadirkan ELLA Robot Barista di Semua Stasiun Besar

Di mana Crown Digital yang memasang robot barista di 30 stasiun MRT Singapura. KabarPenumpang.com melansir thespoon.tech (19/8/2021), robot ini bisa membuat kopi sebanyak 200 gelas per jam.

Untuk instalasi MRT ini, Crown Digital telah berkolaborasi dengan Stellar Lifestyle, yang memiliki “keahlian dalam manajemen properti dan ritel, solusi media dan periklanan digital,” menurut posting blog pengumuman Crown Digital. Crown Digital juga menulis bahwa Stella Lifestyle telah menginvestasikan jumlah yang tidak diungkapkan dalam putaran pendanaan pra-Seri A Crown Digital.

Ini adalah jaringan kereta api kedua yang bermitra dengan Crown Digital, menyusul kesepakatan percontohan dengan stasiun kereta JR East Jepang yang ditandatangani pada akhir tahun lalu.

Dengan lalu lintas penumpang yang tinggi, mereka mencari penyegaran saat bepergian. Sehingga hub transit seperti stasiun MRT dan bandara adalah target pasar yang populer untuk perusahaan kios kopi robotik yang baru saja masuk pasar seperti Crown Digital, Smyze dan Cafe X.

Manfaat lain dari robot barista kopi di masa pandemi ini adalah mereka tidak bisa dihubungi. Robot tidak sakit, dan tidak bertindak sebagai vektor penularan virus seperti yang dilakukan manusia.

“Meskipun ada sejumlah barista robot yang datang ke pasar, kami belum melihat rantai kopi besar terjun ke otomatisasi. Pengecualian adalah Costa Coffee, yang membeli Briggo tahun lalu dan menamai ulang Coffee Hauses tersebut menjadi Costa Coffee BaristaBots,“ kata Crown Digital.

Baca juga: “Peter,” Inilah Robot Barista di Bandara San Jose

“Meskipun saya menduga bahwa semakin banyak penawaran seperti Crown Digital mulai bermunculan, kami akan segera melihat merek kopi besar lainnya seperti Starbucks dan Dunkin menambahkan robot mereka sendiri juga,“ tambah Crown Digital.

8 Film Terkenal yang Syuting di Pesawat, Nomor 7 Nyaris Bikin Aktor Tewas!

Sejak dahulu, ada belasan atau mungkin puluhan film yang menceritakan tentang pesawat ataupun memiliki adegan unik dan monumental di atau dengan pesawat. Dari jumlah tersebut, beberapa film diatur sedemikian rupa agar pesawat dan berbagai detail bisa menyerupai aslinya.

Baca juga: Syuting Adegan Pilot ‘Aneh’ di Kokpit ala Sinetron Indonesia! Netizen: Kalo Ga Bisa Jangan Maksain

Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga menampilkan adegan-adegan nyata tanpa bantuan green screen. Salah satunya bahkan sampai membuat sang aktor nyaris celaka. Penasaran? Diktuip dari CNTraveler, berikut daftar delapan flm terkenal dan favorit yang syuting di pesawat.

1. Air Force One

Film Air Force One rilis pada tahun 1997. Film yang dibintangi oleh Harrison Ford sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) ini menceritakan tentang pembajakan pesawat kepresidenan AS. Saat syuting, sebetulnya pesawat yang digunakan adalah Boeing 747-100 milik maskapai kargo charter American International Airways. Tetapi, ini dirombak sedemikian rupa sampai menyerupai Air Force One.

2. Executive Decision

Film yang dirilis pada 15 Maret 1996 ini menampilkan adegan penyelamatan oleh tentara AS di pesawat Boeing 747-200 Oceanic Airlines Flight 343 yang sedang dibajak. Tentara khusus AS itu menyusup ke dalam pesawat dan berhasil mengambil alih setelah melumpuhkan teroris.

3. The Aviator

Film yang dirilis tahun 2004 ini dibintangi oleh Leonardo DiCaprio sebagai Howard Hughes, penerbang, pebisnis, dan desainer pesawat ulung asal AS. Film ini lebih banyak menceritakan perjalanan Howard Hughes di dunia penerbangan, salah satunya menerbangkan H-4 Hercules flying boat.

4. Tenet

Film yang baru dirilis pada tahun 2020 ini bisa dibilang sebagai salah satu yang paling fenomenal. Betapa tidak, alih-alih menggunakan miniatur ataupun green screen, film Tenet yang disutradarai oleh Christopher Nolan ini justru menggunakan pesawat Boeing 747 bekas Cathay Pacific untuk ditabrakkan ke sebuah hanggar, meledak, dan terbakar.

5. Sully: Miracle On The Hudson

Film yang pada tahun 2016 tentu menjadi salah satu film tentang pesawat yang paling dikenal di masyarakat luas, khususnya pecinta penerbangan. Meski film yang diangkat dari kisah nyata mengenai pendaratan darurat di atas air atau ditching oleh maskapai US Airways Flight 1549 di Sungai Hudson pada 15 Januari 2009 ini diambil di studio, tetapi, video dari peristiwa asli turut ditampilkan.

6. Tomorrow Never Dies

Film James Bond: Tomorrow Never Dies lansiran tahun 1997 yang dibintangi oleh Pierce Brosnan ini menampilkan adegan pesawat Aero Vodochody L-39 Albatross meluncur dari runway dan terbang sempurna setelah nyaris kecelakaan.

Baca juga: Tak Semudah Menontonnya, Begini Rahasia Dibalik Proses Pemilihan Film di Pesawat, Rumit!

7. Mission: Impossible – Rogue Nation

Film rilisan tahun 2015 ini menampilkan adegan berbahaya agen IMF Ethan Hunt (Tom Cruise) di pesawat A400M F-WWMZ. Disebut berbahaya, karena Tom Cruise bergelantungan di pesawat yang terbang sampai ketinggian lima ribu kaki. Celakanya, adegan ini harus dilakukan berkali-kali dan membuat Tom Cruise hampir pingsan karenanya.

8. Casino Royale

Masih terkait film James Bond yang kali ini dibintangi oleh Daniel Craig tersebut melibatkan pesawat Boeing 747-200 British Airways dengan registrasi G-BDXJ sebetulnya tak ada yang spesial, dalam konteks adegan di pesawat. Tetapi, secara keseluruhan film ini sangat keren dan layak untuk masuk dalam daftar film favorit tentang atau yang mengambil adegan di pesawat.

 

Shinkansen Seri E4 “Double Decker” Pensiun Setelah 24 Tahun Beroperasi

Kereta peluru Shinkansen memiliki banyak seri dan semuanya mememiliki kelebihan masing-masing. Namun saat ini Shinkansen seri E4 yang dikenal juga sebagai layanan Max Toki dan Max Tanigawa, yaitu satu-satunya kereta Shinkansen bertingkat di Jepang.

Baca juga: Melepas Lelah, Para Pekerja Bisa Nikmati Shinkansen Sambil Merendam Kaki

Pensiunnya seri E4 bahkan membuat akun media sosial East Japan Railway Co. atau JR East dibanjiri pesan dari penumpang dan penggemar. Dimana pesan tersebut menggambarkan kenangan perjalanan mengungkapkan penghargaan mereka.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman the-japan-news.com (5/9/2021), JR East merencanakan acara dan menjual barang-barang peringatan dalam skala besar. Penggemar dan perusahaan kereta api bersatu dalam keinginan mereka untuk mengirim kereta dengan gaya.

“Perjalanan solo pertama saya adalah di Green Car kelas satu dari seri E4; Saya menyimpan uang hadiah Tahun Baru saya, ”kata sebuah pesan yang diposting di akun Instagram resmi JR East cabang Niigata.

Posting lain di sana berbunyi: “[E4] adalah kereta Shinkansen terbaik dan terindah, dan saya sangat menyukainya. Saya tidak akan pernah melupakannya.”

Kereta 16 gerbong ini memiliki kapasitas tempat duduk 1.634 kursi, paling banyak dari semua kereta berkecepatan tinggi di dunia. Selain penuaan, kecepatan juga menjadi masalah pada E4. Saat ini ada kereta api yang dapat melaju dengan kecepatan 320 km per jam di jalur Tohoku shinkansen. Sehingga menjaga efisiensi operasional menjadi tantangan tersendiri karena kecepatan maksimum E4 yang mencapai 240 km per jam. JR East telah mengganti kereta seri E4 dengan model tingkat tunggal yang baru. Kereta E4 di jalur Tohoku Shinkansen mengakhiri layanannya pada September 2012.

Menanggapi orang-orang yang mengatakan mereka akan ketinggalan kereta, JR East meluncurkan situs web khusus dengan berbagai konten, termasuk gambar pemandangan dari kursi pengemudi dan hal-hal sepele.

Baca juga: Shinkansen N700S Mulai Melayani Penumpang dengan Fitur Terbaru

Enam puluh lima item peringatan telah diperkenalkan. Makanan bento tingkat dua dalam kotak yang menyerupai gerbong kereta E4 dijual seharga 1.634 yen, dan telah populer sebagai hiasan setelah makanan dikonsumsi.