Bandara Sydney Dibuka Setelah 20 Bulan Lockdown, Disambut Tangis Penumpang

Bandara Sydney Australia untuk pertama kalinya membuka pintu bagi penerbangan internasional -khusus warga negara Australia dan tidak untuk selain itu- setelah 20 bulan lockdown. Hal ini pun disambut dengan tangis haru keluarga para penumpang yang juga warga negara Australia.

Baca juga: Corona Melonjak, Australia Batasi Penumpang Internasional! Tiket Melonjak Sampai Rp400 Jutaan

Mulai hari ini, 1 November 2021, persyaratan karantina mandiri dan berbagai prosedur rumit lainnya bagi kedatangan internasional sudah tidak berlaku bagi mereka yang sudah mendapat vaksinasi dua dosis.

ABC News melaporkan, 14 penerbangan internasional diperkirakan akan mendarat di Bandara Sydney hari ini. Beberapa di antaranya sejak dini hari sudah mendarat dan dibarengi dengan momen sangat emosional.

Salah satu penumpang pertama yang tiba di Bandara Sydney mengaku sangat rindu dengan ibunya yang sedang sakit. Sang ibu divonis dokter sudah tak lama lagi. “Saya sangat takut dan emosional karena saya sangat ingin melihat ibu saya karena dokter mengatakan dia tidak akan lama,” katanya kepada wartawan.

Setelah tiba di bandara dan bertemu dengan keluarganya, penumpang tersebut masih harus menuju ke Australia Barat, tempat ibunya berada dan itu tidak mudah. Tetapi, ia bertekad untuk melibas semua tantangan yang ada. “Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa untuk melihatnya,” katanya.

Penumpang pesawat pertama di Bandara Sydney lainnya yang juga warga negara Australia lainnya, Nick Skarajew, mengaku lega bisa kembali ke Negeri Kangguru. Sebab, tak sedikit kerabat, keluarga, dan lingkaran terdekatnya yang sakit atau meninggal tanpa bisa dihadirinya.

“Sungguh menakjubkan mendengar beberapa cerita tentang keluarga terlantar, tentang hubungan dan juga banyak orang sedih yang merasa sangat tidak berdaya dengan mengetahui orang tua dan anggota keluarga dekat meninggal dan tidak bisa berbuat banyak,” jelasnya.

Australia memutuskan membuka kembali penerbangan internasional khusus bagi warga negara Australia ataupun bagi warga asing yang sudah menetap di sana. Adapun penerbangan untuk wisatawan dan pelajar internasional masih belum diizinkan.

“Hari ini Sydney telah membuka kembali Australia untuk dunia,” ujar Menteri Pekerjaan, Investasi, dan Pariwisata NSW Stuart Ayres.

“Senang sekali berada di sini di aula kedatangan melihat senyum di wajah orang-orang, pelukan hangat dan tulus dari anggota keluarga yang bersatu kembali untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan,” tambahnya.

Sementara itu, Perdana Menteri NSW Dominic Perrottet, mengatakan, “Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu banyak orang dan tingkat vaksinasi kami yang tinggi memungkinkan kami untuk membuka kembali dengan cara yang aman dan penuh pertimbangan,” jelasnya.

Baca juga: Australia Canangkan Buka Penerbangan (Penumpang) ke Luar Negeri pada Desember

“Keluarga dan teman-teman di seluruh NSW sekarang dapat berkumpul dan juga menantikan untuk menyambut pulang warga Australia yang telah ke luar negeri untuk mencoba pulang,” tutupnya.

Sebetulnya, sebelum ini, Bandara Sydney sudah dibuka untuk penerbangan internasional. Setiap hari, hanya 400 penumpang internasional yang diizinkan masuk Australia. Hanya saja, ketika itu, tidaknya sangat mahal karena sedikitnya penerbangan. Tiket termahal bahkan sampai Rp400 juta. Sudah begitu, penumpang harus karantina mandiri 14 hari menggunakan biaya sendiri dan sederet prosedur lainnya.

Malam Hallowen, Pria Berkostum Joker Tusuk Penumpang dan Membakar Kereta

Halloween tahun ini di kereta Tokyo menjadi hal yang cukup mengerikan. Pasalnya seorang berkostum Joker mengacungkan pisau dan menikam satu orang penumpang di kereta dan itu dilakukannya sebelum menyalakan api. Polisi dan saksi mata yang melihat itu mengatakan, pelaku setelah melakukan tindakannya, melarikan diri dan melompat dari jendela.

Baca juga: Dalam Dua Hari, Tiga Kondektur Kereta di India Diserang Penumpang Tak Bertiket

Dalam insiden tersebut, departemen pemadam kebakaran Tokyo mengatakan ada 17 penumpang terluka dan tiga di antaranya mendapt luka serius. Dilansir KabarPenumpang.com dari bloomberg.com (31/10/2021), pihak kepolisian Tokyo mengidentifikasi pelaku penyerangan adalah Kyota Hattori yang berusia 24 tahun, ia telah ditangkap setelah serangan hari Minggu dan sedang diselidiki atas dugaan percobaan pembunuhan.

Diketahui, pelaku naik kereta ekspres menuju Stasiun Shinjuku di Tokyo. Saat itu tiba-tiba dia mengeluarkan pisau dan menikam dada kanan penumpang pria berusia 70-an yang tengah duduk. Polisi menjelaskan bahwa pelaku mengatakan kepada pihak berwenang bahwa dia ingin membunuh orang dan mendapatkan hukuman mati. Saat melakukan hal itu, pelaku mengenakan pakaian cerah yakni kemeja hijau, jas biru dan mantel ungu layaknya Joker dalam komik Batman atau seseorang yang akan pergi ke acara Halloween.

Sebuah video yang diposting oleh seorang saksi di media sosial menunjukkan tersangka duduk, dengan kaki disilangkan dan merokok di salah satu gerbong kereta, mungkin setelah serangan itu. Pejabat polisi Tokyo mengatakan serangan itu terjadi di dalam kereta Keio dekat stasiun Kokuryo. Tayangan televisi menunjukkan sejumlah petugas pemadam kebakaran, petugas polisi dan paramedis menyelamatkan para penumpang, banyak di antaranya melarikan diri melalui jendela kereta.

Dalam satu video, penumpang berlari dari mobil lain yang terbakar. Untuk diketahui, tersangka, setelah menikam penumpang, menuangkan cairan menyerupai minyak dari botol plastik dan membakar, yang membakar sebagian kursi. Shunsuke Kimura, yang merekam video tersebut, mengatakan bahwa dia melihat penumpang berlari dengan putus asa dan ketika dia mencoba mencari tahu apa yang terjadi, dia mendengar suara ledakan dan melihat asap mengepul. Dia juga melompat dari jendela tetapi jatuh di peron dan bahunya terluka.

Baca juga: Makin Panas, Kereta Pakistan ‘Hilang’ di India Setelah Peristiwa Berdarah

“Pintu kereta ditutup dan kami tidak tahu apa yang terjadi, dan kami melompat dari jendela. Itu mengerikan,” kata Kimura.

Singapura Punya SAGE, Sistem Pemantau Kinerja dan Kemampuan Sopir Bus Kota

Operator bus kota – SBS Transit di Singapura punya cara canggih untuk memontir kinerja pada pengemudinya, yaitu dengan mengadopsi sistem yang diberi label SAGE (SAfe, Green and Eco).

Baca juga: Dubai Gunakan Virtual Reality Sebagai Media Pelatihan Pengemudi Bus

SAGE mampu memantau berbagai aspek kemampuan pengemudi bus, seperti jumlah putaran, pengereman, akselerasi, kecepatan, jumlah waktu yang dihabiskan untuk idling dan tikungan. Dalam unggahannya di Facebook, SBS Transit memperlihatkan berbagai aspek mengemudi bus yakni putaran dan pengereman yang berlebihan. Hal tersebut yang disinyalir dapat membuat perjalanan menjadi tidak nyaman.

Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg (27/10/2021), mengemudi yang lebih baik ternyata membantu meningkatkan konsumsi bahan bakar dan menghemat biaya bahan bakar dalam jangka panjang. Untuk memudahkan pelacakan data mengemudi mereka dari SAGE, para pengemudi bus SBS Transit bisa menggunakan aplikasi.

Nantinya aplikasi tersebut akan memberitahu pada pengemudi area mana yang harus ditingkatkan. Tak hanya itu, penggunaan telematika bukanlah hal baru karena tidak terbatas pada SBS Transit. Untuk diketahui, Tower Transit sudah memasang perangkat telematika di dalam dasbor semua bus SBS Transit pada tahun 2016 lalu.

Perangkat ini terhubung ke tag RFID yang dikeluarkan untuk setiap pengemudi bus dan memperingatkan mereka tentang contoh mengemudi yang mengerikan dengan berkedip hijau, kuning atau merah. Tower Transit juga memulai skema penghargaan untuk pengemudinya pada tahun 2016, memberikan poin kepada setiap pengemudi untuk setiap insiden yang direkam pada perangkat telematika.

Mereka yang mencetak 20 poin atau lebih rendah dalam sebulan akan mendapatkan bonus S$130 atau sekitar Rp1,3 juta. Namun bagi mereka yang mencapai lebih dari 50 poin dikirim untuk kursus penyegaran.SMRT juga merupakan pengadopsi awal telematika, menerapkannya dalam armada busnya pada tahun 2014.

Selain berfungsi sebagai alat peringatan kecepatan, penggunaan telematika di bus SMRT memungkinkan Pusat Kontrol Operasi Bus operator untuk memantau lokasi yang tepat dari setiap bus dan jarak antar bus. Hal ini memungkinkan operator untuk mengontrol jadwal bus dengan lebih baik dan mengurangi penumpukan bus.

Telematika juga dapat memainkan peran yang lebih prediktif dalam membantu operator mengidentifikasi masalah sejak dini. Selama di Go-Ahead Singapore, operator bus menggunakan sistem telematika yang dibuat khusus yang dikembangkan bersama oleh Singtel. Sistem ini diterapkan di seluruh armada pada tahun 2020.

Baca juga: Transport for London Lacak Pergerakan Penumpang via Jaringan WiFi

Sistem telematika Go-Ahead Singapura memantau data waktu nyata utama seperti tekanan ban dan suhu mesin. Dengan menggunakan sensor tekanan ban alih-alih pengukur tekanan manual telah menyelamatkan pekerja pemeliharaan operator tiga jam per hari. Selain telematika, bus di Singapura juga dilengkapi dengan berbagai fitur teknologi seperti Anti-Fatigue System untuk mendeteksi kelelahan pengemudi dan Collision Warning System.






















Hari Ini, 41 Tahun Lalu, British Airways Stop Penerbangan Concorde dari Bahrain dan Singapura

Pada hari ini, 41 tahun lalu, bertepatan dengan 1 November 1980, maskapai British Airways resmi menyetop rute penerbangan pesawat supersonik Concorde dari Bahrain dan Singapura. Alasannya simpel, karena sepi penumpang.

Baca juga: Video: Dahsyatnya Mesin Concorde Saat Lepas Landas, Alarm Mobil Sampai Bunyi!

Dilansir france24, setelah bertahun-tahun berjalan tanpa ikatan resmi, sejarah pesawat supersonik Concorde akhirnya dimulai usai Pemerintah Perancis dan Inggris menandatangani perjanjian untuk bersama-sama merancang dan memproduksi jet supersonik komersial pertama pada 29 November 1962. Sebelumnya, penelitian terkait itu telah dimulai sejak tahun 1958.

Lama dinanti, prototipe pesawat supersonik Concorde buatan Perancis akhirnya sukses terbang perdana pada 2 Maret 1969. Ketika itu, pesawat lepas landas dari Bandara Toulouse dan mengudara selama 42 menit. Adapun prototipe pesawat Concorde 002 buatan Inggris sukses melakukan penerbangan perdananya sebulan kemudian.

Selang beberapa bulan, tepatnya pada 1 Oktober 1969, pesawat supersonik Concorde 001 buatan Perancis sukses memecahkan pengalang suara atau terbang melebihi kecepatan suara. Sebelum itu, pesawat Concorde belum menunjukkan klaim supersoniknya.

Setelah sukses terbang perdana dan terbang melebihi kecepatan suara, penerbangan komersial Concorde pun dimulai.

Pada 21 Januari 1976, pesawat supersonik Concorde Air France mulai melayani rute Paris – Rio de Janeiro dan British Airways melayani penerbangan supersonik rute penerbangan London – Bahrain. Pasang surut tentu terjadi di kedua rute ini.

Baca juga: Sejarah Concorde Mendarat-Lepas Landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Sonic Boom Bikin Kaca Pecah?

Sambil terus mensukseskan rute yang telah dibuka, British Airways dan Air France terus melakukan penerbangan promosi ke berbagai negara, salah satunya Indonesia.

Dikutip dari Majalah Angkasa Edisi November-Desember 1976, pesawat supersonik Concorde milik Air France dengan nomor registrasi F-BTSC pernah mendarat dan lepas landas di Bandara Internasinoal Halim Perdanakusuma untuk pertama kalinya pada 8 November 1976.

Sekilas tentang Concorde dengan nomor registrasi F-BTSC ini, pesawat pertama kali dikirim ke Air France pada bulan Mei 1975. Menariknya, pesawat ini adalah pesawat yang terlibat kecelakaan nahas tak lama setelah lepas landas di Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Setelah dua tahun tersangkut masalah hukum, Concorde memulai penerbangan komersial reguler ke New York dari London dan Paris pada 22 November 1977.

Tak lama kemudian, rute ini segera menjadi penerbangan transatlantik paling favorit pilihan penumpang. Terbukti, walau harga tiketnya selangit, berkisar US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang, penerbangan di rute ini tetap ramai atau mencatat load factor tinggi.

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Barbara ‘Penata Rambut’ Harmer Resmi Jadi Pilot Wanita Pertama Concorde

Sayangnya, itu tak diikuti oleh rute-rute lainnya. Pada 1 November 1980, British Airways menghentikan layanan Concorde ke Bahrain dan Singapura karena kurangnya permintaan.

Dari keduanya, Singapura menjadi yang paling singkat diterbangi Concorde. Negeri Jiran itu tercatat mulai dilayani penerbangan supersonik Concorde pada tahun 1977.

Menipu! Terdengar Sangat “Eropa,” Padahal Stasiun ini Terletak di Jawa Timur

Apa yang pertama kali terlintas di benak Anda ketika mendengar nama Stasiun Glenmore? Mungkin kebanyakan dari Anda mengira ini merupakan salah satu stasiun yang berada di tanah Britania atau di daratan Eropa. Jika Anda menebak stasiun ini berada di luar negeri, maka Anda salah besar. Siapa sangka bahwa stasiun yang namanya terdengar sangat kebarat-baratan ini terletak di Jawa Timur, tepatnya di Banyuwangi. Wah, kok namanya bisa Bule banget, ya?

Baca Juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun ini masuk ke dalam kategori stasiun kelas III atau stasiun kecil, yang masuk ke dalam teritori Daerah Operasi (Daop) IX Jember. Stasiun dengan kode GLM ini bertengger di atas ketinggian +342 meter di Sepanjang, Glenmore, Banyuwangi. Dari data ini, bisa kita simpulkan bahwa nama stasiun ini diambil dari nama kecamatan tempatnya berdiri.

Sebagai informasi tambahan, pada tahun 1910, daerah ini pernah dijadikan perkebunan tembakau oleh seorang Inggris yang bernama Ros Taylor. Ros sendirilah yang akhirnya menamai perkebunan tersebut dengan nama Glenmore. Mungkin inilah yang menjadi asal-usul mengapa nama daerah ini sangat kental dengan nuansa Eropa.

Kini, kecamatan Glenmore sendiri terdiri dari tujuh desa, yaitu Bumiharjo, Karangharjo, Margomulyo, Sepanjang, Sumbergondo, Tegalharjo, dan Tulungrejo.

Kembali ke pembahasan awal, masuknya Stasiun Glenmore ke dalam kategori kelas III membuat tidak memiliki banyak jalur, hanya ada dua jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Tidak hanya itu, stasiun ini juga hanya melayani kereta penumpang kelas ekonomi saja, baik komuter atau layanan biasa. Adapun layanan kereta dari stasiun ini, antara lain;

Kelas Ekonomi AC
1. Kereta Sri Tanjung, tujuan Surabaya bersambung Yogyakarta via Madiun-Solo dan tujuan Banyuwangi
2. Kereta Tawang Alun, tujuan Bangil bersambung Malang dan tujuan Banyuwangi
3. Kereta Probowangi, tujuan Surabaya dan tujuan Banyuwangi

Lokal/Komuter Ekonomi AC
1. Kereta Pandanwangi, tujuan Jember dan tujuan Banyuwangi

Baca Juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Ditinjau dari segi geografis, sebelah timur stasiun ini terdapat Stasiun Kempit yang kini sudah tidak lagi aktif. Penutupan tersebut didukung oleh berbagai alasan, diantaranya karena letaknya yang kurang strategis, okupansi penumpang yang minim, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Stasiun Sumberwadung (letaknya persis setelah Stasiun Glenmore). Sedangkan ke arah barat, terdapat Halte Krikilan yang nasibnya hampir serupa dengan Stasiun Kempit.

Jadi, jangan mengira stasiun ini berada di luar negeri lagi, ya!






















Beli Tas Pengepak di Online, Mudahkan Pramugari Bepergian dengan Banyak Pakaian

Berbagai macam cara orang untuk mengepak pakaian mereka saat bepergian. Mungkin banyak yang memiliki cara sama dan bisa saja ada terobosan baru sehingga saat pengepakan pakaian di dalam koper sehingga memuat lebih banyak dari semestinya.

Baca juga: 13 Tips Perjalanan Luar Negeri dengan Ransel

Setiap awak kabin bisa dikatakan selalu bepergian untuk menjalankan tugasnya pasti memiliki cara pengepakan pakaian mereka sendiri. Hal tersebut diungkapkan oleh Miguel Munoz yang sudah enam tahun menggeluti pekerjaan itu.

Dilansir KabarPenumpang.com dari nzherald.co.nz (20/10/2021), Munoz mengatakan, pengepakan pakaian dan barang lainnya dikemas dalam sebuah tempat. Dia mengatakan, membeli bungkus pengepakan itu secara online dan menjadi cara sempurna untuk menyatukan atau mengelompokkan item pakaian tertentu seperti kemeja atau kaus kaki.

“Anda tidak perlu mengambil banyak dan membongkar dan mengemas seluruh koper Anda setiap saat. Plus, pakaian ekstra akan dimasukkan ke dalam koper Anda karena lebih padat,” katanya.

Pengikutnya tampak setuju dan menyebut tempat pengepakan itu sebagai “pengubah permainan”. Bahkan tidak hanya bisa digunakan di penerbangan, tetapi tempat pengepakan tersebut bisa digunakan saat berkemah, hiking hingga perjalanan darat.

Tempat pengepakan itu praktis dan memudahkan Anda mengambil barang sesuai dengan yang sudah diatur dalam tas itu. Selain itu jika Anda ingin memasukkan banyak barang seperti seratus item ke dalam tas jinjing atau ransel, bisa dengan menggabungkan tempat pengepakan.

Pembawa acara TV Inggris dan mantan Gadis Bond Rachel Grant mengatakan, dirinya menggulung semua pakaian, menyimpas kaus kaki di dalam sepatu dan mengemasnya ke dalan tempat. Dia juga memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas jinjing kecil.

Baca juga: Tips Kemas Barang Saat Melancong dengan Koper Kecil

Namun, berbicara dengan penyimpanan Ratu Marie Kondo dan dia memiliki teknik yang berbeda sama sekali yakni menumpuk pakaian berdampingan daripada digulung atau di atas satu sama lain. Kondo menjelaskan bagaimana taktik ini mencegah beban diterapkan pada item bawah dan menyebabkan kerutan.






















Kenapa Hasil Tes PCR Lama Keluar? Ini Jawabannya

Setelah lama menjadi polemik, harga tes PCR kembali diturunkan pemerintah menjadi maksimal Rp275 ribu. Tetapi, tetap saja, untuk hasil kurang dari 1×24 jam, tarifnya bisa di atas harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Lantas, mengapa hasil tes PCR lama keluar?

Baca juga: Paling Murah, Garuda Indonesia Tawarkan Tes PCR Rp260 Ribu!

Bukan hanya Indonesia, di seluruh dunia, hasil tes PCR tidak bisa langsung keluar secepat tes swab antigen atau rapid tes. Alasannya kompleks dan erat hubungannya dengan ketersediaan serta kapasitas labortatorium uji molekuler tempat dimana spesimen diproses.

Dikutip dari khn.org, salah satu alasan mengapa masyarakat harus menunggu lebih lama untuk mengetahui hasil pemeriksaan PCR adalah, kapasitas laboratorium yang dinilai masih belum mencukupi. Keterbatasan ini tidak bisa dipaksakan, karena itulah hasil uji memakan waktu lebih lama.

Setiap hari, setiap laboratorium tentu memiliki target penyelesaian uji PCR. Namun, terkadang ada berbagai kondisi yang mengakibatkan petugas tidak berhasil memenuhi target uji, sehingga mau tidak mau harus menunggu lebih lama dari waktu sebenarnya.

Belum lagi, tak semua klinik atau pusat kesehatan mempunyai laboratorium untuk memproses sampel hasil swab PCR. Pada kasus ini saja, terkadang proses mengirim sampelnya saja sudah berjam-jam atau seharian. Belum lagi saat di laboratoriumnya, sampel harus menunggu banyak untuk diuji dan mendapatkan hasil.

Saat proses pengujian pun, waktunya bisa berbeda-beda. Tergantung mesin PCR, perlatan, dan tenaga medis yang memprosesnya.

Disebutkan, setelah sampel swab PCR diambil, spesimen diproses RNA virus diekstrak atau dibersihkan untuk membantu mengatur gen. Pada laboratorium uji molekuler, proses ekstraknya dilakukan dengan cara otomatis dan lebih cepat.

Di Indonesia, menurut Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir, ada dua macam mesin tes PCR; PCM (alat seperti mikroskop dengan menggunakan catridge) dan NAT (teknologi uji saring yang mampu mendeteksi keberadaan DNA/RNA virus).

Hasil tes PCR menggunakan mesin PCM bisa keluar dalam waktu sekitar dua jam, sedangkan PCR umum yang digunakan laboratorium hasilnya minimal delapan jam, tergantung kapasitas dan variabel lainnya, seperti kekurangan reagen, tes kit, dan lain sebagainya.

Baca juga: Kapasitas Penumpang Pesawat Boleh 100 Persen tapi Wajib PCR, Pengamat: Mungkin Stok Masih Banyak

Di masa awal pandemi Covid-19, hasil tes PCR keluar dengan cepat atau kurang dari 1×24 jam sangat sulit ditemukan. Bahkan hampir tidak ada. Penyebabnya itu tadi, kekurangan reagen, tes kit, mesin PCR, kapasitas uji, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, saat ini, hasil tes PCR keluar dalam tempo dua-tiga jam sudah banyak tersedia, sekalipun memang harganya bisa saja lebih mahal dari yang sudah ditetapkan pemerintah atau di atas Rp275 ribu.

Lima Penerbangan Terpanjang di Dunia Tahun 2021, Semuanya Libatkan Asia-AS

Lanskap penerbangan telah banyak berubah sejak pandemi Covid- 19, termasuk banyak rute jarak jauh yang ditangguhkan. Namun seiring waktu, penerbangan mulai pulih dan beberapa darinya mencatatkan diri sebagai penerbangan terpanjang di dunia, setidaknya sepanjang tahun 2021.

Baca juga: Penerbangan Terpanjang di Dunia Singapore Airlines Beroperasi Lagi, Malah Bakal Lebih Panjang

Menariknya, lima daftar teratas penerbangan terpanjang di dunia semuanya melibatkan rute-rute dari Asia dan Amerika Serikat (AS). Lantas, rute mana saja? Dikutip dari Sam Chui, berikut daftar lima penerbangan terpanjang di dunia tahun 2021 atau bukan tak mungkin juga dibilang sebagai rute terpanjang di dunia selama pandemi Covid- 19.

1. New York JFK-Singapura, Singapore Airlines SQ23

Singapore Airlines memang tak pernah lepas dari pemberitaan. Terlebih soal penerbangan terpanjang di dunia. Di tahun 2021 ini, penerbangan 15.346 km dari Singapura ke Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York, AS menempati posisi pertama daftar penerbangan terpanjang di dunia.

Penerbangan dengan waktu tempuh 18 jam 50 menit yang dimulai pada 9 November 2020 itu dilayani Singapore Airlines menggunakan pesawat Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range).

2. Los Angeles-Singapura, Singapore Airlines SQ37

Penerbangan perdana di rute ini terjadi pada 2 November 2018. Pesawat yang digunakan pun sama dengan penerbangan Singapore Airlines SQ23 New York JFK-Singapura, yaitu A350-900ULR. Kadang kala, SIA juga menggunakan A350-900.

Pada rute ini, waktu tempuhnya berjarak sejam dengan rute penerbangan terpanjang di dunia, sebagaimana disebutkan di atas, yaitu total 17 jam 50 menit sejauh 14.144 km.

3. San Francisco-Bengaluru, Air India AI176

Di urutan ketiga daftar penerbangan terpanjang di dunia memang tidak melibatkan Singapura. Tetapi, melibatkan negara Asia lainnya, India. Rute San Francisco-Bengaluru Air India AI176 pertama kali beroperasi pada 9 Januari 2021.

Rute dengan jarak dan waktu tempuh 14.004 km dan 17 jam 45 menit ini dilayani menggunakan pesawat Boeing 777-200LR (Long Range).

Baca juga: Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

4. New York JFK-Manila, Philippine Airlines PR127

Masih dari Asia, rute New York JFK-Manila Philippine Airlines PR127 masuk dalam daftar penerbangan terpanjang di dunia tahun 2021. Penerbangan yang pertama kali dihelat pada 29 Oktober 2018 menempuh jarak 13.712 km selama 16 jam 40 menit menggunakan pesawat Airbus A350-900.

5. San Francisco-Singapura, Singapore Airlines SQ33

Bertengger di urutan kelima daftar penerbangan terpanjang di dunia tahun 2021, San Francisco-Singapura Singapore Airlines SQ33 ditempuh selama 17 jam 35 menit. Penerbangan yang pertama kali beroperasi pada 23 Oktober 2016 ini menggunakan Airbus A350-900ULR, menempuh jarak sejauh 13.593 km.

Emirates-Qantas Jalin Kemitraan, Dua A380 Terbang Formasi Rendah di Atas Sydney Harbour

Delapan tahun sudah Qantas dan Emirates menjalin kemitraan. Di sela-sela pertemuan tahunan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) baru-baru ini, keduanya juga melanjutkan kemitraan tersebut sampai lima tahun ke depan atau 2028 mendatang. Namun, kesepakatan itu tak dibarengi dengan aksi spesial dua Airbus A380 maskapai di atas Sydney Harbour seperti pada tahun 2013 silam.

Baca juga: Setelah Qantas, Emirates Berpotensi Batalkan Pesanan Airbus A380

Ketika itu, dua maskapai komersial terbesar Qantas dan Emirates menggelar aksi yang bisa dibilang sekali seumur hidup. Setidaknya untuk warga Australia yang menyaksikannya. Saat itu, pesawat terbang rendah berdampingan dan membentuk formasi di atas Sydney Harbour.

Dilansir Simple Flying, kedua pesawat itu lepas landas dari Bandara Sydney, melaju ke Longreef di Pantai Utara Sydney sebelum melanjutkan ke Watson’s Bay, dan terbang ke Sydney Harbour. Selama penerbangan keduanya membentuk formasi dimana A380 Qantas terbang di ketinggian 1.500 kaki dan A380 Emirates sedikit lebih tinggi serta saling berdekatan.

Setelahnya, pesawat terbang ke Gladesville Bridge, putar balik kembali ke Sydney Harbour, dan kembali ke bandara.

Walau terlihat mudah, tetapi, penerbangan formasi rendah keduanya butuh persiapan khusus berhari-hari dan mendapat persetujuan bukan hanya dari otoritas penerbangan Australia tetapi juga Uni Emirat Arab. Semua dilakukan semata untuk mempertontonkan aksi menakjubkan kepada publik.

“Ada sejumlah besar perencanaan yang diperlukan untuk memungkinkan hal ini, termasuk meminta persetujuan dari regulator keselamatan di Australia dan Uni Emirat Arab,” kata juru bicara Qantas.

“Pilot dari kedua maskapai telah melakukan puluhan sesi pelatihan simulator khusus sejak Januari tahun ini. Pilot Emirates datang ke Australia awal bulan ini untuk melakukan sesi bersama di simulator A380 Qantas di Sydney dan melakukan beberapa latihan lagi selama beberapa hari terakhir,” lanjutnya.

Sayangnya, langit tak mendukung. Alih-alih mendapat view langit biru cerah, aksi dua pesawat itu diselimuti awan mendung. Beruntung, itu tak menyurut semangat masyarak untuk hadir langsung di lokasi-lokasi yang diterbangkan A380 Qantas dan Emirates.

Terbang rendah di atas Sydney Harbour sepertinya sudah menjadi kebiasaan tersendiri di Australia. Pada tahun 2015 lalu, A380 Qantas melakukan hal demikian. Setahun yang lalu, maskapai nasional Australia itu kembali melakukannya pada penerbangan Boeing 747-400 yang terakhir sebelum dikirim ke Gurun Mojave.

Baca juga: (Video) Pesawat C-17 Globemaster AU Australia Terbang Meliuk-liuk Nyaris Tabrak Gedung

Awal tahun ini, pesawat Boeing 737-800 Regional Express (Rex) juga terbang rendah di atas Sydney Harbour dan pusat kota sebagai ajang promosi atas hadirnya jet baru maskapai.

Kemitraan Qantas dan Emirates membawa banyak keuntungan bagi keduanya. Untuk para pelanggan Emirates, kesepakatan ini akan memberikan akses ke lebih dari 55 penerbangan tujuan Australia, dan para pelanggan Qantas akan dapat terbang dengan Emirates ke Dubai dan mengakses lebih dari 50 kota di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Spanyol Luncurkan Kereta Cepat London-Paris dan Spanyol-Inggris

Spanyol berencana meluncurkan kereta cepat internasional antara dari London, Inggris, ke Paris, Perancis. Rute ini sebelumnya sudah eksis dilayani oleh kereta cepat Eurostar, yang menghubungkan London, Inggris dengan Paris serta Marseille, Perancis, Brussel, Belgia, dan Amsterdam serta Rotterdam, Belanda.

Baca juga: Hari ini 40 Tahun Lalu, Kereta Cepat TGV Kebanggaan Perancis Meluncur Perdana

Melalui perusahaan kereta api nasional, Renfe, Spanyol bertekad menggunakan 100 persen teknologi dalam negeri dan akan memulai debutnya dengan tujuh kereta dalam satu rangkaian. Sayangnya tak ada keterangan lanjutan berapa kecepatan dan waktu tempuh kereta cepat Renfe ini, apakah melampaui kereta cepat Eurostar atau tidak.

Pada fase kedua, layanan dapat diperluas ke tujuan favorit lainnya di Perancis dan internasional, sebagaimana Eurostar. Tak menutup kemungkinan, Renfe akan membuka layanan kereta cepat Spanyol-Inggris di masa mendatang.

Laporan Euronews, rencana KAI-nya Spanyol itu disambut baik oleh Eurotunnel. Anak perusahaan dari grup Getlink, perusahaan publik asal Eropa yang mengelola dan mengoperasikan Terowongan Channel atau Channel Tunnel antara Inggris dan Perancis, berjanji akan membantu merealisasikan rencana itu.

Meski begitu, layanan kereta cepat Spanyol – Inggris oleh Renfe masih jauh panggang dari api. Perusahaan akan fokus pada layanan kereta api cepat London ke Paris terlebih dahulu.

Pada masa pra pandemi, misalnya pada tahun 2019, Eurostar mengangkut sekitar tujuh juta penumpang dari dan ke London – Paris sepanjang tahun. Kereta Eurostar dipilih karena bisa mengantarkan penumpang sampai ke pusat kota Paris dalam tiga jam 16 menit, dengan kecepatan 300 km per jam.

Waktu tempuh itu jauh lebih cepat dibanding naik pesawat dengan durasi penerbangan, dari mulai datang dua jam sebelum penerbangan, penerbangan itu sendiri, sampai mendarat dan menuju terminal kedatangan, butuh 5 jam 40 menit. Ditambah lagi, penumpang butuh biaya taksi atau bus, karena Bandara Paris-Charles de Gaulle cukup jauh dari pusat kota.

Sedangkan bila naik kereta cepat Eurostar, penumpang tak perlu repot-repot demikian mengingat stasiun di Paris berada di pusat kota. Berbagai hal menarik inilah yang juga ingin dimaksimalkan oleh Renfe, meski diakui atau tidak itu tak akan mudah mengingat Eurostar sudah melayani rute London ke Paris sejak tahun 1994. Pastinya sudah banyak royal customer Eurostar, bukan?

Baca juga: Eurostar Hadirkan Sistem Pemindaian Wajah, Penumpang Lintas Negara Tak Perlu Perlihatkan Tiket dan Paspor

Keputusan Renfe untuk masuk ke pasar layanan kereta cepat London ke Paris datang menyusul ekspansi bisnis oleh perusahaan kereta api nasional Perancis, SNCF. KAI-nya Perancis itu belum lama ini meresmikan jalur Ouigo antara Madrid dan Barcelona pada musim semi lalu.

SNCF bersama konsorsium Perancis total menginvestasikan sekitar 600 juta euro demi mengambil ceruk pasar perkeretaapian antara kedua kota itu.