Mendadak Belok Saat Ngebut di Runway, Pesawat Tibet Airlines Terbakar

Pesawat Airbus A319 Tibet Airlines terbakar di sebuah bandara Kota Chongqing, Cina, Kamis lalu. Sebelum kejadian, pesawat sedang melaju dengan kecepatan tinggi di runway untuk lepas landas dan kemudian mendadak berbelok ke kiri, tergelincir ke rumput sekitar runway, masuk ke taxiway, kehilangan mesin dan landing gear, sebelum akhirnya terhenti dan terbakar tak jauh dari runway.

Baca juga: Mengenal “Rejected Takeoff,” Pesawat Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway Gegara Hal Ini

Laporan Aviation Herald, 113 penumpang dan sembilan kru yang berada di dalam pesawat berhasil dievakuasi dengan aman.

Pesawat dengan nomor registrasi B-6425 seharusnya terbang dua jam ke Kota Nyingchi, Tibet, dengan nomor penerbangan TV9833.

Usai kejadian, Otoritas Penerbangan Sipil China (CAAC) langsung turun ke lokasi kejadian dan melakukan investigasi. Temuan awal, insiden itu disebabkan oleh anomali pada pesawat saat sedang ngebut atau melesat di runway untuk lepas landas.

Mengetahui hal itu (anomali pada pesawat), pilot pun melakukan prosedur rejected takeoff atau aborted takeoff. Sejurus kemudian pesawat mendadak berbelok ke kiri tanpa instruksi pilot dan mesin menyentuh aspal dan kemudian terbakar.

“Pada 12 Mei 2022, penerbangan Tibet Airlines TV9833 keluar dari landasan saat lepas landas dan meluncur di Bandara Chongqing saat menjalankan misi transportasi penumpang antara Chongqing dan Nyingchi, Tibet,” kata CAAC dalam sebuah pernyataan.

“Menurut seorang kru, pesawat mengalami anomali saat lepas landas, kemudian kru menerapkan prosedur penolakan lepas landas. Setelah keluar dari landasan, mesin menggores tanah dan terbakar. Api telah dipadamkan sekarang,” lanjutnya.

“Sebanyak 122 orang di dalamnya, termasuk 113 penumpang dan 9 awak, telah dievakuasi dengan selamat. Selama evakuasi, 36 orang mengalami memar dan keseleo dan dikirim ke rumah sakit setempat untuk diperiksa. Saat ini, Bandara Chongqing telah menutup satu landasan pacu, dan dua landasan pacu lainnya beroperasi normal,” tambahnya.

Hampir di waktu yang bersamaan, Tibet Airlines pun turut mengeluarkan siaran pers. Kronologinya hampir sama meskipun dengan detail yang sedikit berbeda karena ada hal-hal yang hendak ditutupi.

“Pukul 08:09 tanggal 12 Mei 2022, Tibet Airlines TV9833 (nomor register pesawat B-6425) dijadwalkan untuk melakukan penerbangan penumpang dari Chongqing ke Nyingchi dengan 113 penumpang dan 9 awak di dalamnya,” ungkap maskapai.

Baca juga: Berapa Detik Pesawat Melesat di Runway untuk Bisa Terbang? Ini Jawabannya

“Selama lepas landas, kru menemukan pesawat tidak biasa dan menerapkan prosedur lepas landas yang ditolak (rejected takeoff), pesawat membelok dari landasan pacu di Bandara Chongqing Jiangbei. Semua penumpang dan awak dievakuasi dengan selamat,” jelasnya.

“Para penumpang yang terluka dikirim ke rumah sakit setempat dengan luka ringan. Pesawat tersebut rusak akibat kebakaran. Setelah kejadian itu, Tibet Airlines segera mengaktifkan rencana darurat tingkat pertama dan melakukan segala upaya untuk menangani pekerjaan berikut,” tutupnya.

Terbang ke Bangkok, Penumpang Singapore Airlines Keluhkan Kualitas “Pasta”

Dikenal sebagai maskapai bintang lima, Singapore Airlnes (SIA) menjadi rujukan bagi banyak penumpang untuk bepergian, salah satu yang dinilai ‘sempurna’ adalah kualitas in flight meals SIA yang dikenal sangat baik berkat racikan dari chef-chef ternama.  Namun, belum lama ini, seorang pria Singapura mengeluhkan makanan yang disajikan dalam penerbangan SIA. Dia juga menggambarkan bahwa sajian panganan di kabin SIA lebih buruk daripada makanan yang Ia makan selama menggunakan penerbangan berbiaya murah.

Baca juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis

Pria bernama Anderson Soh, mengeluhkan tentang makanan SIA melalui Facebook. Dalam postingan yang sudah dihapus, Soh membagikan pegalamannya saat dia dalam penerbangan dari Singapura ke Bangkok pada 30 April lalu.

Dilansir KabarPenumpang.com dari mothership.sg (8/5/2022), Soh menggambarkan pasta yang dimakan “sangat menjijikkan”, dan membandingkannya dengan makanan di maskapai penerbangan murah. Soh mengatakan dia “sangat kecewa” dan mengklaim bahwa ada perbedaan besar antara makanan yang baru saja dia makan dengan makanan yang ia makan sebelum pandemi.

Dia juga mengatakan bahwa makanan itu termasuk porsi pasta yang “menyedihkan”, yang rasanya “mengerikan”, dan bak mini es krim Udders. Alih-alih pasta, pilihan lainnya adalah bihun Thailand, dan Soh juga tidak bisa memilih rasa es krim. Dia juga mencatat bahwa “tidak ada lagi buah, roti, kue, atau makanan penutup”.

Dalam komentar di postingannya, Soh juga berpendapat bahwa “makanan tentara terasa lebih enak”. Sebaliknya, Soh merasa hidangan laksa dalam penerbangan pulangnya dari Bangkok ke Singapura “lezat”. Soh berbagi bahwa dia kemudian memberikan umpan balik tentang makanan pertama ke SIA melalui survei yang dikirim ke emailnya.

Dengan adanya kasus tersebut, juru bicara SIA mengatakan bahwa makanan jenis roti merupakan bagian dari konsep makanan kelas ekonomi regional baru untuk penerbangan jarak pendek yang diluncurkan pada Desember 2020. Konsep makanannya mencakup hidangan utama dan hidangan penutup, dan “menyediakan pelanggan kami dengan lebih banyak variasi favorit lokal Singapura dan internasional menggunakan peralatan makan yang berkelanjutan”. Meski kemasan makanannya berbeda, SIA tetap mempertahankan kuantitas makanannya.

“SIA tidak berkompromi pada jumlah dan kualitas sajian dalam konsep makanan baru. Kami telah menukar casserole tradisional dengan kotak kertas yang menampung jumlah makanan yang sama tetapi jauh lebih besar dalam ukuran kemasan. Dengan begitu, chef kami dapat memperkenalkan lebih banyak variasi hidangan ke menu termasuk berbagai favorit Singapura seperti bubur, laksa, dan mie siam kaya kuah yang sebelumnya tidak tersedia di Kelas Ekonomi,” kata juru bicara itu.

Baca juga: Penumpang Sadar Gaya Hidup Sehat, Singapore Airlines Tawarkan Makanan Sehat dalam Penerbangan

“Kami berterima kasih kepada pelanggan kami atas umpan balik mereka, dan kami ingin meyakinkan mereka bahwa kami tetap berkomitmen untuk memberikan pengalaman yang lebih baik ketika mereka bepergian dengan SIA,” kata juru bicara tersebut.

Manfaatkan Runway dan Apron, Tiga Bandara ini Gelar Balapan Mobil: Ada Balap Formula E

Saat ini, balap mobil bisa dilakukan dimana saja, tidak selalu di sirkuit, mulai dari jalan raya sampai bandara semua bisa dan pernah menyelenggarakan kejuaraan balap atau grand prix, dalam hal ini balap mobil. Lantas bandara mana saja yang pernah menyelenggarakan balap mobil? Dilansir Simple Flying, berikut selengkapnya.

Baca juga: Lima Lounge Bandara Terbaik di Dunia, Nomor Empat Dilengkapi Simulator Mobil Balap Formula 1

Bandara Berlin Tempelhof

Bandara yang terletak di bagian selatan kota Berlin ini merupakan salah satu gerbang utama para turis yang datang, terhitung sejak tahun bandara ini dibuka, mulai tahun 1923 hingga 2008.

Berdiri di atas lahan seluas 877 hektar, kini eks-bandara tersebut sudah beralih fungsi menjadi taman kota yang besarnya melebihi New York Central Park dan hampir dua kali lebih besar dari ukuran wilayah Monaco.

Dengan ditutupnya bandara ini pada tahun 2008, maka pada saat itu pintu gerbang menuju kota Berlin terbelah menjadi dua, yaitu melalui Bandara Internasional Tegel dan Bandara Internasional Schönefeld.

Dalam konteks lain, ditutupnya bandara ini juga membuat dewan kota mendorong untuk tetap memanfaatkan fasilitas bandara ini hingga akhirnya bandara ini menjadi lokasi ajang balap Formula E mulai tahun 2015.

Meski Berlin ePrix sempat pindah ke sirkuit setahun setelahnya, namun, Bandara Berlin Termpelhof kembali mengadakan balap mobil Formula E pada tahun 2017 sampai terakhir pada tahun 2021 lalu.

Bandara Lakefront Burke, Cleveland, Amerika Serikat

Tak seperti Bandara Berlin Tempelhof, Bandara Lakefront Burke, Cleveland, Amerika Serikat, masih aktif sampai sekarang meski frekuensinya kalah jauh dari Bandara Internasional Hopkins yang terletak tak jauh. Karenanya, bandara tersebut sering dijadikan tempat balapan mobil dan ini sudah berlangsung sejak lama.

Disebutkan, balapan pertama di ajang CART (Championship Auto Racing Teams) dimulai pada tanggal 4 Juli 1982. Runway lurus panjang dan lebar menjadikan balapan tak kalah seru dengan balapan di sirkuit dan penonton yang datang langsung pun juga dimungkinkan menikmati balapan dengan sempurna.

Sejak saat itu sampai saat ini, sedikitnya 26 balapan sudah digelar di bandara ini. Indy Racing League atau IndyCar juga kerap menggelar balapan di bandara ini.

Baca juga: Jerman Ubah Dua Bandara di Berlin Jadi Pusat Vaksinasi Covid-19, Jadi Vaccine Tourism Hub?

Bandara St Petersburg Albert Whitted, Florida, Amerika Serikat

Meski panjang dan besar runwaynya tak melebihi Bandara Lakefront Burke Cleveland, namun, Bandara St Petersburg Albert Whitted tetap menjadi langganan digelarnya ajang balap mobil, seperti IndiCar dan Champ Car mulai tahun 2003.

Sebab ukurannya yang tergolong kecil, bandara ini adalah bagian dari sirkuit atau lintasan terdiri dari runway, apron, dan bagian lain di luar bandara.

Apakah Pilot dan Pramugari Harus Menjalani Pemeriksaan Ketat di Bandara Seperti Penumpang

Bagi Anda yang kerap bepergian dengan pesawat, pasti pernah beberapa kali melihat rombongan kru maskapai, baik pilot-kopilot maupun pramugari-pramugara, berjalan menuju terminal seperti ingin memulai bekerja.

Baca juga: Apa Perbedaan Antara Homebase dan Hub Maskapai?

Akan tetapi, ketika di pos pemeriksaan keamanan, mereka tak terlihat dimanapun sampai akhirnya bertemu di pesawat. Lantas, apakah pilot dan pramugari, termasuk petugas bandara dan maskapai lainnya, juga diperiksa petugas keamanan sebagaimana penumpang?

Pada 7 April 1994, insinyur penerbangan FedEx DC-10, Auburn Calloway, pernah menyembunyikan tombak dan beberapa palu dalam sarung gitar setelah mengetahui pemecatan dirinya akibat memalsukan jam terbang.

Ia kemudian naik ke pesawat dengan nomor penerbangan 705 dan menyerang kru di kabin utama saat pesawat sedang mengudara. Beruntung, kopilot Tucker berhasil menahannya mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak dan fatal. Pesawat juga berhasil mendarat dengan selamat.

Akibat kejadian tersebut, beberapa kru kabin luka-luka dan pesawat mengalami kerusakan dengan total kerugian sekitar US$1 juta. Sejak insiden itu dan berbagai insiden lainnya, maskapai dan regulator penerbangan sipil masing-masing negara pun menerapkan langkah-langkah pemeriksaan ketat kepada kru yang hendak bertugas.

Dilansir Simple Flying, pilot dan pramugari serta petugas lainnya memang tidak melewati gate pemeriksaan yang sama dengan penumpang. Bukan untuk membedakan proses pengecekan, dimana pemeriksaan di gate penumpang dilakukan dengan ketat sedangkan, gate pemeriksaan karyawan tidak. Itu lebih kepada mengelompokkan penumpang dan karyawan.

Lebih luas lagi, saat ada beberapa event di bandara, insan pers juga sering kali melewati gate pemeriksaan keamanan dan x-ray karyawan alih-alih membaur dengan penumpang pesawat.

Meski begitu, seberapa ketat pilot dan pramugari diperiksa sebelum mulai bertugas bisa berbeda-beda. Tergantung maskapai dan regulator penerbangan itu sendiri. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, mereka bukan hanya akan melewati pemeriksaan fisik terhadap diri dan barang bawaan mereka saja, melainkan pemeriksaan mental dan latar belakang mereka. Ini disebut Known Crew Member (KCM).

Baca juga: Buntut Insiden 20 Tahun Silam, Bandara di AS Masih Wajibkan Penumpang Lepas Sepatu di Jalur Pemeriksaan

Setelah sukses melewati pemeriksaan ekstensif terkait latar belakangnya, pilot, kopilot, dan pramugari tidak melenggang bebas begitu saja. Mereka tetap harus melewati yang membutuhkan akses khusus, menunjukkan identitas sebagai pilot ataupun pramugari, dan beberapa kali perlu men-scan sebagai bagia dari prosedur pemeriksaan.

Mengingat pilot dan pramugari pun turut dilakukan pengecekan secara ketat oleh petugas, mereka juga dilarang mengajak orang lain melewati pos pemeriksaan bandara khusus karyawan.

Wisata Lawang Sewu, Raih Cuan Capai Rp800 Juta hingga Kelabui Petugas

Ramainya saat libur lebaran membuat tempat wisata di Kota Semarang dipadati pengunjung. Salah satunya destinasi wisata yang berada di jantung Kota Semarang, Lawang Sewu. Ya, bekas gedung perkantoran sejak jaman kolonial Belanda ini, tetap buka saat libur Lebaran. Tak heran, wisatawan lokal bahkan turis juga mendatangi tempat ini.

Baca juga: Libur Lebaran ke Semarang? Yuk, Wisata Edukasi KA ke Lawang Sewu dan Museum Ambarawa 

Lawang Sewu yang dibuka mulai pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam ini dikunjungi warga yang ingin menikmati keindahan bangunan untuk mengabadikan dengan berfoto. Bahkan mereka pun menelusuri bagian – bagian yang memiliki nilai sejarah dengan melewati banyaknya pintu yang ada dilorong bangunan. Tingkat kunjungan wisatawan di Lawang Sewu selama libur Lebaran per tanggal 30 April 2022 sampai 7 Mei 2022 mencapai 37.500 orang.

Menurut Manajer Historical Building and Museum PT KA Wisata, Trisna Cahyani, pendapatan yang didapat dari penjualan tiket Lawang Sewu saat liburan Lebaran mencapai Rp800 juta. Raihan pendapatan itu muncul karena tren kunjungan wisatawan naik dia kali lipat ketimbang kondisi bulan sebelumnya (dilansir IDN Times).

Namun dari sekian banyaknya pengunjung yang ingin memasuki Lawang Sewu, ada pelanggaran yang dilakukan wisatawan hingga mengelabui petugas dengan cara berbohong. Petugas sudah menerapkan aturan yang berlaku saat berkunjung ke Lawang Sewu, yaitu dengan menunjukkan hasil vaksin minimal dosis pertama. Ternyata dari kondisi dilokasi tak jarang ada rombongan yang tidak bisa membawa bukti vaksin dosis pertama.

Bahkan, untuk mengelabui petugas, ada wisatawan yang nekat berbohong soal penyakit bawaan alias komorbid. Wisatawan yang berbohong kebanyakan dari rombongan luar kota Semarang. Faktanya orang tersebut tidak menunjukkan surat keterangan dari dokter. Karena ketahuan jadinya tidak diijinkan masuk. Rata-rata 25–50 wisatawan yang gagal masuk Lawang Sewu setiap hari.

Baca juga: Lebih Enak Mana, Naik Kereta Api Jalur Selatan atau Jalur Utara?

Tindakan tegas menjadi risiko bagi wisatawan yang tidak bisa memenuhi aturan protokol kesehatan COVID-19. Maka dari itu, untuk berkunjung ke tempat manapun yang memiliki kerumunan diwajibkan untuk mematuhi aturan yang berlaku, seperti menerapkan protokol kesehatan dan sudah melakukan vaksinasi minimal dosis pertama. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Sri Lanka Buka Bandara Pertama dan Tertua Setelah 54 Tahun, Gegara Hampir Bangkrut

Sri Lanka tengah diambang kebangkrutan akibat krisis ekonomi serta jebakan hutang menggunung dari Cina. Namun, beberapa bulan sebelum negara tersebut disebut bangkrut hingga terjadi kerusuhan dimana-mana, Sri Lanka lebih dahulu membuka bandara pertama dan tertua, Bandara Ratmalana, setelah 54 tahun stop operasi.

Baca juga: Bandara “Bandaranaike” Kolombo, Saksi Bisu Beberapa Pendaratan Darurat Garuda Indonesia

Bandara Ratmalana sendiri didirikan pada tahun 1938 di Kolombo, Sri Lanka. Ketika itu sampai sebelum adanya Bandara Internasional Bandaranaike, bandara ini merupakan bandara internasional utama di Sri Lanka.

Namun pada akhir 1960-an, Bandara Internasional Bandaranaike di Katunayake diresmikan dan Ratmalana diubah menjadi bandara domestik.

Sejak saat itu, Bandara Bandaranaike menjadi bandara utama di Sri Lanka yang melayani penerbangan internasional. Tapi, Ratmalana masih tetap menjadi bandara tertua di Sri Lanka.

Akan tetapi, setelah 54 tahun, otoritas Sri Lanka mengumumkan bahwa Bandara Ratmalana mulai melayani penerbangan internasional.

Laporan Times of India, penerbangan dari Maladewa dengan kapasitas 50 penumpang ini akan menjalankan tiga penerbangan setiap minggu ke Kolombo, dan akan terus berkembang menjadi lima penerbangan per minggu di waktu mendatang.

Untuk menyambut turis asing pertama kalinya di bandara ini akan diadakan sebuah upacara yang diselenggarakan di bandara. Karena biasanya maskapai yang berasal dari Maladewa akan mendarat di Bandara Bandaranaike di Kolombo.

Menurut Otoritas Penerbangan Sipil Sri Lanka (CAASL), akan ada tiga penerbangan mingguan yaitu setiap hari Minggu, Selasa, dan Kamis dan akan beroperasi antara Bandara Internasional Velana di Maladewa dan Bandara Ratmalana di Sri Lanka.

Menurut pejabat dari Maldivian Airlines, hampir 9 ribu penduduk Maladewa tinggal di dekat bandara Ratmalana, yang sekarang akan membuat perjalanan mereka menjadi lebih nyaman.

Indonesia bisa dibilang memiliki sejarah tersendiri dengan bandara di Sri Lanka, yaitu Bandara Internasional Bandaranaike.

Bandara Internasional Bandaranaike, atau yang biasa juga disebut Bandara Katunayake atau Bandara Internasional Kolombo ini pertama kali beroperasi sebagai pangkalan udara Royal Air Force (Angkatan Udara Inggris) pada tahun 1944 pada masa Perang Dunia II.

Baca juga: Kolombo, “Kota Keramat” Bagi Garuda Indonesia yang Terbang Menuju Tanah Suci

Kemudian pada tahun 1957, Perdana Menteri Salomon West Ridgeway Dias Bandaranaike memindahkan semua lapangan terbang Militer Inggris dari Ceylon (Nama jajahan Inggris sebelum berubah menjadi Sri Lanka), dan lapangan terbang tersebut diserahkan kepada Royal Ceylon Air Force (RCyAF) dan lapangan tersebut berganti nama menjadi Katunayake.

Sejak dibuka pada tahun 1960an menggantikan Bandara Ratmalana, tercatat, pesawat-pesawat Indonesia pernah beberapa kali mengalami insiden. Terakhir, insiden di bandara tersebut melibatkan Airbus A330 Garuda Indonesia GA972 yang mendarat darurat akibat kepulan asap dari pesawat.

2023 Pesawat Falcon 50 Berbahan Bakar Amonia Terbang Perdana, Tantang Pesawat Hidrogen Airbus?

Harga Avtur mahal di masa mendatang mungkin tak akan jadi masalah. Sebab, pesawat lambat laun akan beralih ke bahan bakar ramah lingkungan. Salah satunya amonia. Startup dirgantara asal Australia, Aviation H2, menargetkan tahun 2023 pesawat Dassault Falcon 50 berbahan bakar amonia terbang perdana.

Baca juga: Begini Wujud Helikopter Hidrogen Berawak Pertama di Dunia

Sebelum Aviation H2 mengumumkan pesawat berbahan amonia bakal terbang perdana pada tahun 2023, pamor amonia, salah satu senyawa kimia yang membentuk amonium nitrat, tidak begitu terdengar sampai akhirnya muncul ke permukaan dan dikenal banyak orang awam pasca ledakan besar di Beirut, Lebanon, pada tahun 2020 silam.

Tak lama setelahnya, amonia dikabarkan bakal jadi alternatif bahan bakar penerbangan pengganti Avtur. Ini terjadi usai Reaction Engines dan Britain’s Science and Technology Facilities Council (STFC) sukses menyelesaikan studi tentang penggunaan amonia sebagai bahan bakar alternatif pengganti fosil.

Studi tersebut dilakukan dengan menggabungkan heat exchanger technology atau teknologi penukar panas Reaction Engines dengan katalis (zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu) canggih STFC. Rumusan tersebut diharapkan dapat menghasilkan sistem propulsi bebas emisi yang ramah lingkungan untuk digunakan pesawat di masa mendatang.

Dilansir New Atlas, Direktur Aviation H2, Christof Mayer, mengungkapkan pihaknya sepakat bahwa hidrogen cair adalah pilihan terbaik dalam upaya menciptakan keberlanjutan di dunia penerbangan. Hanya saja, terdapat pilihan sulit di balik itu. Hidrogen cair membutuhkan tangki penyimpanan yang besar dan berat. Ini pada akhirnya akan mempengarughi bobot dan ukuran pesawat itu sendiri.

Karenanya, Mayer dan saudaranya, Helmut Mayer, beralih ke amonia, yang merupakan campuran dari hidrogen dan atmospheric nitrogen.

“Gas hidrogen sangat ringan untuk energi yang dimilikinya dan hidrogen cair adalah bentuk yang lebih kompak,” jelas Christof Mayer.

Baca juga: Airbus Gandeng CFM Internasional, Uji Coba Mesin Berbahan Bakar Hidrogen di Pesawat A380

“Tapi tangkinya besar dan berat. Kami tentu saja tidak mengabaikan hidrogen cair atau bentuk hidrogen lainnya sebagai opsi. Kami tidak mematikannya. Kami hanya menggunakan amonia untuk saat ini. Ini adalah konversi paling sederhana, dan itu secara intrinsik akan menjadikannya yang paling dapat diandalkan, dan itu sendiri membuatnya secara intrinsik paling aman,” tambahnya.

Selain lebih efektif karena tidak membutuhkan tangki bahan bakar nitrogen yang besar dan berat, pengoperasian juga akan jauh lebih cepat dan murah karena tetap bisa memakai mesin turbofan, tidak seperti sel bahan bakar hidrogen yang harus menggantinya dengan motor listrik.

Meski begitu, lanjut Mayer, berbagai komponen seperti sistem penyimpanan bahan bakar kontrol mesin, dan mesin itu sendiri tetap butuh penyesuaian.

Baca juga: Alasan Boeing Pesimis Hidrogen Sebagai Bahan Bakar: Tangki Bahan Bakar Lebih Besar dari Kabin

“Kita perlu memodifikasi sistem penyimpanan bahan bakar menjadi sesuatu yang pada dasarnya mirip dengan tangki LPG,” ujarnya.

“Jadi penyimpanan bahan bakar, kontrol mesin, dan mesin, itu adalah item tiket besar yang perlu kami kembangkan. Tapi kami tidak benar-benar mengubah desain mesin sama sekali secara fisik,” tutupnya.

Akan tetapi, tim Aviation H2 masih mempunyai pekerjaan rumah besar. Disebutkan, amonia akan megeluarkan oksida nitrat yang berbahaya bagi lingkungan dan ini masih terus dicari solusinya.

Bila tak ada aral melintang, pertengahan tahun 2023, Avation H2, bersama maskapai asal Swedia, Falcon Air, dan produsen pesawat jet bisnis, Dassault Avation, akan menerbangkan Falcon 50 pertama berbahan dasar amonia.

Pesawat tersebut ditargetkan mampu terbang di udara selama satu jam. Hanya saja, dari tiga mesin pesawat Falcon 50, tidak seluruhnya bekerja dengan bahan bakar amonia, melainkan hanya salah satunya saja.

Baca juga: “Elon Musk” Rusia Kembangkan Drone Kargo Bertenaga Hidrogen, Bisa Melesat Sampai Mach 15

Bila ini berhasil, langkah selanjutnya yang bakal ditempuh Aviation H2 adalah go public di bursa saham untuk mengumpulkan dana dan mempatenkan, mensertifikasi, dan mengkomersialisasi powertrain amonia atau mesin jet berbahan bakar amonia sebagai sebauh produk.

Selain Aviation H2, ada banyak perusahaan lain yang turut mengembangkan amonia sebagai alternatif bahan bakar penerbangan ramah lingkungan di masa depan, seperti UK Reaction Engines, SABRE, University of Central Florida bekerjasama dengan Boeing, General Electric, serta mitra lainnya yang didanai oleh NASA.

Airbus Gandeng MAGicALL, Kembangkan Motor Listrik Taksi Udara eVTOL CityAirbus NextGen

Sejak diluncurkan pada bulan September 2021 silam, prototipe taksi terbang atau taksi udara electric vertical take-off and landing (eVTOL) CityAirbus NextGen terus disempurnakan. Terbaru, Airbus mengumumkan telah menggandeng MAGicALL untuk mengembangkan dan memasok propulsi listrik CityAirbus NextGen.

Baca juga: ITA Airways dan Airbus Kembangkan Desain Urban Air Mobility di Italia

Dengan kerjasama ini, nantinya prototipe eVTOL CityAirbus NextGen akan dilengkapi dengan MAGiDRIVE, motor listrik generasi terbaru yang diproduksi oleh MAGicALL.

Dalam keterangan resminya kepada KabarPenumpang.com, sistem propulsi listrik MAGiDRIVE memungkinkan CityAirbus NextGen beroperasi dengan lebih andal, efektif, dan efisien.

Disebutkan, motor brushless ringan yang akan diintegrasikan ke CityAirbus NextGen adalah produk dari desain dan manufaktur yang inovatif, motor ini menggabungkan teknologi magnet dan elektronik daya generasi terbaru dari MAGicALL.

Head of Urban Air Mobility (UAM) Airbus, Joerg P. Mueller, mengungkapkan rasa bangganya bisa bermitra dengan perusahaan asal California, Amerika Serikat (AS) itu, terutama pasokan sistem propulsi generasi terbaru, MAGiDRIVE, yang secara desain sangat cocok dengan CityAirbus NextGen serta sangat canggih secara teknologi.

“Kami bangga dapat memanfaatkan pengalaman MAGicALL untuk mengembangkan sistem propulsi listrik CityAirbus NextGen. Motor listrik adalah komponen utama dari prototipe kami: torsi tinggi dan bobot rendah MAGiDRIVE serta desainnya yang kokoh akan sangat bermanfaat bagi efisiensi keseluruhan taksi udara eVTOL,” jelasnya.

MAGicALL sangat berpengalaman terkait propulsi listrik. Sejak tahun 2004 silam, perusahaan tersebut terus hadir memberi solusi magnetik dan elektronik khusus untuk industri kedirgantaraan. Karenanya, tak heran bila Airbus sampai menunjuk MAGicALL mengingat reputasinya.

Selain bekerjasama pada proyek prototipe eVTOL CityAirbus NextGen, MAGicALL juga pernah bekerjasama dengan Airbus dalam proyek pengembangan motor Airbus’ tilt-wing UAM technological demonstrator, Vahana.

Sebagaimana Airbus, Boeing juga turut berkompetisi meramaikan pasar eVTOL. Raksasa dirgantara AS itu juga menggandeng startup teknologi dan tidak mengembangkan taksi udara sendiri.

Baca juga: Honda Kembangkan eVTOL dan Robot Telepresence untuk Transportasi Masa Depan

Pada awal tahun ini, Boeing mengumumkan telah mengucurkan dana sebesar US$450 juta atau Rp6,5 triliun (kurs 14.352) untuk mengembangkan taksi udara atau taksi terbang all-electric vertical takeoff and landing (eVTOL).

Raksasa manufaktur pesawat dunia itu tidak membuatnya secara langsung, melainkan berinvestasi ke Wisk Aero. Bila tak ada aral melintang, taksi udara atau taksi terbang generasi keenam Wisk Aero akan menjadi yang pertama yang mendapat sertifikasi di Amerika Serikat (AS).

Catat, Mulai 17 Mei Jadwal KA Pangrango Berubah

Ada informasi bagi penumpang yang biasa menggunakan Kereta Api Pangrango. Mulai Selasa, 17 Mei 2022 jadwalnya mengalami perubahan sedikit. Pastikan sebelum naik KA Pangrango bisa cek jadwal terlebih dahulu. Calon penumpang tetap menuju ke Stasiun Bogor Paledang (BOP) untuk perjalanan awal menuju ke beberapa stasiun hingga Sukabumi.

Baca juga: Pesan Tiket KA Pangrango dari Bogor Tidak Tersedia? Ini Solusinya

Rangkaian KA Pangrango masih seperti biasa untuk jenis kelasnya. Yaitu tersedianya 2 kelas eksekutif dan 5 kelas ekonomi setiap harinya. Perhentiannya pun masih sama di beberapa stasiun lintas Bogor – Sukabumi, hanya saja masih belum difungsikan untuk Stasiun Ciomas (CS) yang berada di petak Stasiun Batutulis (BTT) dengan Stasiun Maseng (MSG). Jadwal Bisa Menyesuaikan dengan KA Siliwangi.

Dengan berubahnya jadwal KA Pangrango ternyata ada segi baiknya juga bagi penumpang yang hanya sekadar menikmati perjalanan di jalur yang terbilang tua ini. Ya, ternyata jadwal KA Pangrango nantinya akan menyesuaikan dengan kedatangan dan keberangkatan KA Siliwangi. Karena sebelumnya, jadwal kedatangan KA Siliwangi sore hari dengan keberangkatan KA Pangrango dari Stasiun Sukabumi (SI) tidak pas.

Jika kalian naik KA Pangrango dari Bogor Paledang pukul 08.30 dan tiba di Sukabumi pukul 10.30, bisa melanjutkan perjalanan ke Stasiun Cianjur (CJ) ataupun Stasiun Cipatat (CPT) dengan KA Siliwangi (sudah memiliki tiket) pukul 11.45. Kemudian jika ingin kembali ke Sukabumi, kalian bisa kembali dari Cipatat (pukul 14.45) atau dari Cianjur (pukul 15.43) dan tiba di Sukabumi pukul 17.11. Lalu kalian bisa melanjutkan perjalanan kembali ke Bogor dengan KA Pangrango (sudah memiliki tiket) pukul 17.25 dari Sukabumi.

Berikut jadwal perubahan keberangkatan KA Pangrango berlaku mulai 17 Mei 2022:

SUKABUMI – BOGOR (KA 213 / KA 215 / KA 217)
Sukabumi : 05.30 / 11.25 / 17.25
Cisaat : 05.41 / 11.36 / 17.36
Karangtengah : 05.56 / 11.50 / 17.50
Cibadak : 06.06 / 12.01 / 18.01
Parungkuda : 06.19 / 12.14 / 18.14
Cicurug : 06.35 / 12.30 / 18.30
Cigombong : 06.49 / 12.44 / 18.44
Maseng : 07.01 / 12.56 / 18.56
Batutulis : 07.21 / 13.16 / 19.16
Bogor Paledang : 07.30 / 13.25 / 19.25

Baca juga: KA Pangrango Mulai Beroperasi, Ini Harga Tiketnya

BOGOR – SUKABUMI (KA 216 / KA 218 / KA 214)
Bogor Paledang : 08.30 / 14.30 / 20.00
Batutulis : 08.40 / 14.40 / 20.10
Maseng : 09.00 / 15.00 / 20.30
Cigombong : 09.11 / 15.11 / 20.41
Cicurug : 09.26 / 15.26 / 20.55
Parungkuda : 09.42 / 15.42 / 21.11
Cibadak : 09.55 / 15.55 / 21.24
Karangtengah : 10.04 / 16.04 / 21.35
Cisaat : 10.20 / 16.20 / 21.50
Sukabumi : 10.30 / 16.30 / 22.00

Belajar Gerakan SOS dari TikTok, Pengemudi Taksi Selamat dari Penumpang Bersenjata

Media sosial seperti Instgram atau TikTok banyak konten yang mengedukasi masyarakat. Baik itu untuk diri pribadi maupun berbagai hal keselamatan ketika berada dalam bahaya. Biasanya konten menjelaskan cara menyelamatkan diri dari serangan orang tidak dikenal atau dari penculikan.

Baca juga: Cegah Pelecehan, Halifax Setujui Pemasangan Stiker Nomor Lisensi di Taksi

Nah, ternyata konten seperti ini membantu banyak orang terselamatkan dari bahaya-bahaya seperti yang disebutkan sebelumnya. Bahkan sudah dirasakan oleh seorang pengemudi taksi di Bangkok. Saat itu, dia menggunakan gerakan SOS yang dipelajari dari TikTok untuk memberi isyarat kepada polisi.

Dia melakukan itu untuk meminta bantuan setelah melihat penumpangnya bersenjata dan menggunakan narkoba. KabarPenumpang.com melansir dari laman bangkokpost.com (6/5/2022), insiden ini awalnya terjadi setelah Tanongsak Liangsa (pengemudi taksi) dielu-elukan oleh seorang pria berusia 23 tahun di daerah Mor Chit.

Saat itu, penumpang yang dibawa Tanongsak meminta diturunkan di daerah Phetkasem. Namun pria itu bingung dan tidak dapat mengambil keputusan yang kemudian membuatnya mengubah tujuan pilihan beberapa kali ke Ratchaburi dan Rayong.

Tanongsak menyebutkan, bahwa penumpang pertama kali mengatakan kepadanya bahwa dia adalah seorang perwira polisi sebelum mengklaim bahwa dia telah melarikan diri dari rumah. Lalu dia juga melihat penumpang memegang es kristal obat di dalam mobil.

Saat mereka berada di dekat Ban Chang di Rayong, pria tersebut tiba-tiba mengacungkan pistol dan borgol. Dalam ketakutan, Tanongsak tetap mengemudi seperti yang diperintahkan sebelum dia menipu penumpang dengan mengatakan dia perlu pergi ke toilet di sebuah pompa bensin.

Saat itulah Tanongsak pergi ke kantor polisi Ban Bueng di Chon Buri. Setelah tiba, dia membuat gerakan tangan yang diambil dari platform media sosial TikTok. Sebagai tanggapan, petugas polisi bergegas ke kendaraan, menyelamatkannya dan menangkap pria itu.

Baca juga: Pengemudi Taksi Kembalikan Dompet Penumpang yang Tertinggal

Dari tangan penumpang, polisi menyita barang bukti senjata, pisau saku, satu set borgol, empat ponsel, senter, jam tangan dan dua tas kulit. Polisi juga melakukan tes urin untuk mengungkapkan jejak narkotika. Setelah penangkapan, Tanongsak mengatakan polisi memberinya 300 baht untuk menutupi biaya bahan bakarnya.