Sejarah Terminal Bandara dengan Konsep Pier-Finger yang Diadopsi Sampai Sekarang

Seiring pertumbuhan penumpang dari tahun ke tahun, bandara terus bersolek di berbagai lini, mulai dari pemutakhiran teknologi conveyor belt sampai teknologi di gate pengecekan barang dan penumpang. Namun, jauh sebelum itu, di masa-masa awal era jet lahir, bandara juga bersolek dan perubahan itu terus bertahan sampai saat ini. Itu adalah terminal bandara dengan konsep pier-finger. Apa itu?

Baca juga: Sejarah Singkat Lounge Bandara, Dibuat untuk Para Bos

Sekitar 72 tahun lalu, bertepatan dengan 27 Juli 1949, pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet, berhasil terbang perdana. Ini bukan hanya menandai keberhasilan manufaktur dalam pengembangan pesawat jet melainkan menjadi pembuka tirai dimulainya era penerbangan jet.

Setelah dibuka oleh De Havilland Comet, pamor pesawat jet semakin menjadi usai lahirnya Boeing 707 dan Douglas DC-8 di dekade 50-an. Ini juga pada akhirnya diikuti oleh peningkatan jumlah penumpang pesawat di seluruh dunia, terlebih dengan lahirnya konsep maskapai LCC atau kelas ekonomi jarak jauh yang dicetuskan oleh maskapai legendaris Pan Am.

Peningkatan jumlah penumpang dan pesawat menjadi tantangan tersendiri bagi arsitek untuk membuat bandara mampu melayani keduanya dengan maksimal.

Pada tahun 1950-an, di era awal kemunculan pesawat jet, bandara di seluruh dunia -bekerjasama dengan maskapai- mulai bersolek. Bukan hanya memperluas area, menambah runway, terminal, dan sebagainya, tetapi juga membawa konsep baru terminal bandara pier-ginger.

Dilansir cbc.ca, pada tahun 1956, maskapai Trans World Airlines (TWA) merilis desain pier/finger pertama di Bandara John F. Kennedy (JFK).

Baca juga: Sejarah Panjang Sabuk Pengaman di Pesawat, Ternyata Karena “Iri” Pada Mobil

Dalam konfigurasi atau konsep pier-finger, pengambilan tiket dan bagasi semua dilakukan di satu terminal, kemudian penumpang diarahkan ke “pier atau connecting corridor” atau ke gate keberangkatan. Di sini, penumpang sudah sangat dekat dengan pesawat yang menunggu mereka di area yang disebut “finger”.

Di masa-masa awal konsep terminal bandara pier-finger, penumpang memang sudah dekat dengan pesawat. Namun mereka masih harus turun ke apron dan naik ke pesawat karena belum ada garbarata. Setelah garbarata pertama kali digunakan pada tanggal 26 Juli 1959 di Bandara Internasional San Francisco dan diikuti oleh bandara lain, barulah konsep pier-finger menjadi sempurna.

Secara kuantitas di apron juga lebih banyak dan efektif, dimana dalam konsep pier-finger pesawat parkir menunggu penunpang di kedua sisi pier.

Konsep ini bisa sama-sama kita lihat, terus bertahan sampai sekarang. Sekalipun ada satu-dua pengembangan, seperti ada yang pier-fingernya horizontal, bentuk huruf ‘X’, huruf ‘Y’, dan sebagainya, namun tidak merubah konsep pier-finger itu sendiri.

Bersamaan dengan lahirnya konsep terminal bandara pier-finger, banyak bandara lain yang mencari cara lain untuk membuat penumpang tidak berjalan jauh dari konter check-in ke gate keberangkatan. Salah satunya Bandara Internasional Dulles, Washington, AS.

Baca juga: Sejarah Water Salute, Terinspirasi dari Kapal Laut-Disadur Aviasi Sejak 1990-an

Usai dari konter check-in, penumpang diarahkan ke mobile lounge untuk dibawa ke pesawat yang sudah menunggu di apron.

“Alih-alih membuat penumpang menunggu di dalam terminal untuk pesawat mereka, pesawat diparkir di landasan di suatu tempat, dan kendaraan bermotor akan datang dan Anda akan menaikinya. Di dalam, (itu) tampak seperti di mana Anda duduk-duduk. menunggu pesawat di terminal,” ungkap Janet Bednarek, sejarawan penerbangan dan penulis buku Airports, Cities, dan the Jet Age.

Bandara Jean-Lesage Quebec Hadirkan Lubang Khusus di Pagar Untuk Fotografer Planetspotting

Pernah liat foto pesawat yang akan landing atau take off di bandara dengan pengambilan gambar secara profesional? Ya, ini benar diambil oleh para fotografer profesional dari suatu tempat di bandara.

Baca juga: Terpecahkan! Beginilah Proses Pengambilan Gambar Ketika Pesawat Tengah Mengudara

Bahkan komunitas besar fotografer planetspotting di seluruh dunia yang suka memotret pesawat tiba dan berangkat sering berkemah di luar bandara dan dekat dengan landasan pacu. KabarPenumpang.com melansir laman petapixel.com, untuk memudahkan pengambilan gambar, salah satu bandara besar di Kanada telah memutuskan untuk melayani fotografer.

Salah satu fotografer yang memfoto dari lubang foto. Foto: oleh Bandara Internasional Jean Lesage Kota Quebec

Mereka bahkan membuat lubang khusus di pagarnya untuk memudahkan lensa kamera membidik pesawat yang lepas landas atau mendarat di bandara. Ini adalah Bandara Internasional Jean-Lesage Quebec, yang menjadi bandara tersibuk ke sebelas di Kanada.

Pengelola bandara bekerja sama dengan planetspotting yang berbasis di Quebec, YQB Aviation untuk memasang panel khusus di sekeliling bandara. Hal itu dilakukan untuk memberikan fotografer berbagai pemandangan landasan pacu dan aspal.

Di masing-masing panel ada pemberitahuan yang menyatakan bahwa itu adalah area yang dikhususkan untuk para fotografer. Jika Anda ingin mengunjungi bandara, ada peta yang menunjukkan sepuluh lubang fotografi.

Baca juga: Tips dan Trik Fotografi dari Dalam Kabin Pesawat

“Selamat melihat pesawat!” kata bandara.

Namun ide ini belum terlihat di bandara lainnya di seluruh dunia.

Ini Beda Penerbangan VIP dengan Penerbangan Komersial Versi Pramugari

Bepergian dengan mobil pribadi tentu lebih nyaman dibanding bus atau angkutan umum. Demikian juga dengan pesawat, naik jet pribadi tentu jauh lebih nyaman dibanding naik pesawat komersial. Tetapi, tentu saja ada harga mahal yang harus dibayar untuk itu. Setidaknya, seseorang harus mengeluarkan uang sebesar Rp1 triliun untuk membeli Bombardier Global 7500 atau Gulfstream G700.

Baca juga: Intip Deretan Koleksi Jet Pribadi Bill Gates yang Picu Kontroversi

Meski begitu, bepergian menggunakan pesawat jet pribadi tentu tidak selalu harus membelinya, sekalipun tetap saja mahal dan membutuhkan kocek besar. Seperti di masa pandemi Covid-19 mulai dari awal Maret 2020 sampai beberapa waktu lalu, permintaan penerbangan charter pesawat jet pribadi trennya cukup bagus.

Selain datang dari pribadi atau orang perorangan, permintaan charter pesawat jet pribadi juga datang dari perusahaan. Secata matematis, memang menyewa jet pribadi lebih menguntungkan dibanding membooking seluruh atau banyak kursi di sebuah penerbangan maskapai.

Di samping itu, secara waktu tempuh dan kenyamanan, jet pribadi juga memberikan lebih baik dibanding penerbangan komersial. Itu secara umum. Bagaimana dengan pandangan pramugari terkait untung-rugi atau kelebihan-kekurangan naik pesawat jet pribadi atau penerbangan VIP dengan naik pesawat komersial pada umumnya?

1. Pergi kemanapun

Dilansir Simple Flying, menurut pramugari, penumpang yang terbang dengan pesawat VIP atau pesawat jet pribadi bisa terbang kemanapun dan kapanpun. Biasanya, pesawat pribadi akan terbang dari bandara yang sepi alias FBO (operator fixed-base) sehingga penumpang tidak perlu melalui prosedur yang rumit untuk masuk ke bandara.

Mengingat pesawat jet pribadi tidak mungkin menggunakan garbarata, penumpang bisa saja berjalan kaki dari gate ke apron sampai ke pesawat. Namun, ini penerbangan VIP, penumpang tidak mungkin dibiarkan melakukan itu. Disebutkan, mereka akan diantar dari gate ke tangga pesawat menggunakan limusin.

Mulai dari masuk sampai keluar, pintu akan otomatis dibukakan oleh petugas. Barang-barang seperti koper, jas, dan lainnya pun akan dibawakan oleh kru yang mendampingi. Ini adalah salah satu bentuk kemewahan layanan jet pribadi.

2. Serba mewah

Pesawat jet pribadi ada untuk memberikan semua kemewahan dan kenyamanan kepada pelanggan. Mulai dari kamar mandi berlapis emas, perabotan super mahal, selimut kasmir, kamar tidur bak hotel terbang, wifi, kursi mewah, telepon satelit, piring dan gelas mewah terbuat dari perak dan emas, dan masih banyak lainnya.

3. Hidangan spesial

Meskipun makanan jauh berbeda dengan makanan yang ada di pesawat komersial, namun, tetap saja makanan di sini berasal dari katering di darat. Tidak masak langsung di pesawat. Namun demikian, kateringnya tetap disesuaikan dengan keinginan penumpang dan dibuat sangat istimewa oleh chef profesional khas restoran bintang 5.

Baca juga: Serba-serbi Private Jet Pangeran Al Waleed bin Talal: Singgasana Emas dengan 11 Pramugari

4. Kerahasiaan tinggi

Segala apapun yang dilakukan penumpang di pesawat, itu bisa saja menjadi informasi penting bagi orang lain yang membutuhkannya. Bagaimana tidak, hampir semua pengguna jet pribadi adalah orang penting kelas atas, baik di tataran satu negara, regional, maupun dunia.

Maka dari itu, pramugari dan seluruh kru wajib menjaga kerahasiaan penumpang, mulai dari masuk pesawat, tidur di kamar, sampai kembali ke darat.

Bus Vintage Atap Terbuka, Bawa Pelancong Ke Taman Nasional dan Pegunungan di Kanada

Ketika berkunjung ke Banff di Kanada, ada cara yang benar-benar baru untuk menikmati kota tersebut. Penasaran caranya seperti apa? Operator tur kota Banff yakni Open Top Touring menghadirkan bus vintage dengan atap terbuka.

Baca juga: TransJakarta Hadirkan 8 Bus Wisata, Satu Diantaranya Punya Atap Terbuka

Tur dengan bus antik ini akan membawa Anda ke beberapa landmark ikonik seperti taman nasional dan membuat pelancong bepergian menjadi penuh gaya. KabarPenumpang.com melansir narcity.com (6/5/2022), dalam turnya, bus atap terbuka ini bergaya tahun 1930-an dan akan mengunjungi Taman Nasional serta Pegunungan Rocky dengan semua kenyamanan perjalanan yang diberikan.

Ada dua tur berbeda dengan waktu perjalanan 90 menit yang membawa Anda ke lokasi yang indah termasuk Surprise Corner, Vermilion Viewpoint, Tunnel Mountain, Mount Norquay, dan Bow Falls sehingga Anda dapat mengambil foto selfie. Anda juga akan melihat beberapa landmark paling ikonik di Banff seperti Banff Springs Hotel.

Setiap tur juga dilengkapi dengan pemandu wisata dengan kostum periode penuh yang akan mengajari Anda tentang sejarah Banff yang menarik, dan wajah-wajah terkenal yang tak terhitung jumlahnya yang telah mengunjungi taman selama bertahun-tahun dari Marilyn Monroe hingga bangsawan sebenarnya. Ini adalah tur dan pelajaran sejarah sekaligus.

Karena cuaca pegunungan dikenal sangat tidak terduga, bus juga dilengkapi dengan atap kanvas sehingga Anda tidak perlu khawatir basah kuyup selama perjalanan.
Tur berangkat dari Mount Royal Hotel atau Fairmont Banff Springs di Banff pada berbagai waktu sepanjang hari sehingga Anda dapat menikmati makan siang atau menjelajahi beberapa pendakian singkat Banff sebelumnya.

Baca juga: Snap Uji Coba Bus Wisata Double Decker Tak Beratap untuk Transportasi Pekerja London

Untuk menikmati ini Anda dapat memesan teh sore atau menikmati koktail di Rundle Bar di Banff Spring Hotel untuk kemewahan. Tiket untuk menikmati tur dengan bus vintage ini mulai dari $24 untuk anak usia 6-15, $42 untuk dewasa.

Tahun 2025, Kota-kota Norwegia Bakal Terhubung Berkat Pesawat Amfibi Listrik Byfly

Perusahaan dirgantara asal Norwegia, Elfly, belum lama ini meluncurkan desain pesawat amfibi listrik, Byfly. Pesawat ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2030 dengan kecepatan rata-rata 250 km per jam. Ini membuat pesawat amfibi Byfly tetap bisa menghubungkan kota-kota yang berada di garis pantai serta fjord (dibaca fyord) yang sangat banyak di Norwegia.

Baca juga: Pesawat Listrik Rolls-Royce dan Tecnam Meluncur 2026, Norwegia Jadi Pasar Terbesar

Dalam laman resmi Elfly, ide membuat pesawat amfibi listrik tak lain karena kondisi geografis Norwegia itu sendiri.

Selain banyaknya kota-kota yang terletak di fjord atau teluk yang banyak dihuni penduduk, jalan darat dan angkutan umum lainnya terlalu memutar dan butuh usaha lebih untuk menjangkaunya. Demikian juga dengan pesawat, terlalu mahal investasinya untuk membangun sebuah bandara di antara fjord yang terpencil.

Tak hanya itu, dunia penerbangan setiap tahunnnya menyumbang 2-3 persen emisi global. Lebih dari itu, publik Norwegia mayoritas sudah sangat sadar pentingnya energi berkelanjutan dan mengurangi polusi suara, termasuk di pesawat. Dari situ kemudian tercetuslah ide membuat Byfly, pesawat amfibi listrik jarak pendek.

Disebutkan, pesawat amfibi Byfly akan beroperasi dari terminal laut atau sejenis dermaga khusus yang berada di pusat kota. Mungkin ini sedikit agak menggelitik.

Akan tetapi ini sangat mungkin mengingat Norwegia memiliki banyak danau, telaga, rawa, dan sejenisnya yang berada di pusat kota. Ini kemudian akan dibuatkan terminal laut dan memudahkan penumpang menjangkaunya.

Elfly yang dikembangkan Byfly berkpasitas sembilan penumpang. Elfly lepas landas dan mendarat di air menggunakan lambungnya, bukan menggunakan ponton atau sejenis pelampung yang ada di bagian ‘landing gear’ atau undercarriage pesawat. Jadi badan pesawat menyentuh air.

Dengan begitu, tepat bila Elfly disebut pesawat amfibi. Meski begitu, ponton tetap dibutuhkan di bagian wingtip atau ujung sayap untuk menstabilkan.

Saat ini, lambung pesawat amfibi Byfly sedang dikembangkan di lembaga penelitian SINTEF Norwegia dan masih berupa model skala, belum sampai ke tahap prototipe.

Pesawat amfibi Byfly ditenagai oleh baterai lithium yang mampu melesat hingga 300 km per jam dengan jangkauan terbang 250 km per sekali pengecasan. Tergantung konfigurasinya, kokpit bisa fleksibel antara satu atau dua orang pilot.

Baca juga: Bagaimana Pesawat Apung/Pesawat Amfibi Mendarat?

Bila tak ada ral melintang, prototipe pesawat amfibi Byfly rampung dikerjakan tiga tahun mendatang. Proyek pesawat amfibi hasil dari kemitraan dengan Dewan Riset Norwegia diharapkan bisa tersedia sebanyak 15-20 unit dan bisa digunakan secara komersial pada tahun 2030.

“Tujuannya adalah untuk dapat memberikan mobilitas yang fleksibel di Norwegia, dengan emisi nol (bebas emisi) dan polusi suara yang berkurang secara signifikan, dan juga mengembangkan model bisnis baru yang berkelanjutan,” kata CEO Elfly Eric Lithun.

KA Serayu: Acuan Para Pelancong via Selatan dari Warga di Ibu Kota

Ini bukan sekadar promosi bagi pelaku perjalanan kereta api dengan harga ekonomis yang menempuh perjalanan jauh, inilah Kereta Api Serayu. KA ini paling cocok bagi penumpang yang mencari tarif paling murah menuju destinasi terkenal di Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Tak hanya itu, sebagian dari mereka memanfaat kereta api ini untuk sekedar berjalan – jalan menikmati perjalanan. Karena pemandangan yang di tawarkan selama perjalanan dengan KA Serayu sangat luar biasa indah.

Baca juga: Beberapa Kali Ganti Nama, Kereta Serayu Kembali Beroperasi

KA Serayu merupakan rangkaian kelas ekonomi dengan tarif yang masih di PSO (Public Service Obligation). Hanya merogoh kocek Rp63.000 (Pasar Senen – Banjar) dan Rp67.000 (Pasar Senen – Kroya – Purwokerto) penumpang bisa terangkut dengan kapasitas sebanyak 636 tempat duduk menuju ke berbagai wilayah yang di lewati KA Serayu ini.

Jika menggunakan KA Serayu pada siang hari, pemandangan yang disuguhkan tak jauh – jauh dari pegunungan, hamparan sawah, sungai, dan jejeran rumah pedesaan yang berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Meski terlampau cukup lama diperjalanan namun penumpangnya merasa mendapat pengalaman yang luar biasa dengan kereta ini.

Perjalanan KA Serayu di jalankan sebanyak 2 kali dalam satu hari. Yaitu pada pagi hari dari Stasiun Pasar Senen dan Purwokerto, serta malam hari maupun sore hari. Tak heran KA Serayu ini selalu dipenuhi penumpang bahkan tak segan – segan tiket selalu ludes terjual. Apalagi saat weekend (Jumat malam sampai dengan Minggu pagi).

Baca juga: Ini Dia Ciri Khas Musik Kedatangan Kereta Api di Stasiun. Kira – kira Apa Saja, ya?

Jika ingin naik KA Serayu baik pagi ataupun malam pastikan untuk membeli tiket secara daring melalui aplikasi kereta api. Ini guna mencegah penuhnya kursi yang ditempati penumpang lain. Selain murah, KA Serayu juga cukup nyaman bagi penumpang yang menaikinya. Dan jangan ragu untuk mampir ke lokasi wisata yang di lewati KA ini, ya. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Uni Eropa Cabut Mandat Penggunaan Masker di Bandara dan di Dalam Penerbangan

Mandat penggunaan masker untuk penumpang di penerbangan dan bandara di Eropa akan dicabut Senin (16/5/2022) mendatang. Meski begitu, aturan masker di setiap maskapai akan berbeda terutama pada penerbangan ke atau dari tujuan penggunaan masker masih perlu digunakan di transportasi umum dan penumpang yang rentan tetap harus menggunakan masker.

Baca juga: Ketika Terbang Tanpa Masker Diizinkan, Haruskah Khawatir Terular Covid?

Pencabutan mandat itu mengikuti dikeluarkannya pembaruan untuk langkah-langkah kesehatan serta keselamatan untuk perjalanan udara oleh Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) pada hari Rabu (11/5/2022).

Mereka mencatat bahwa masker masih menjadi salah satu perlindungan terbaik terhadap penularan Covid-19. KabarPenumpang.com melansir irishexaminer.com (11/5/2022), pembaruan protokol keselamatan kesehatan penerbangan bersama memperhitungkan perkembangan terbaru dalam pandemi.

Mereka juga mengatakan, khususnya tingkat vaksinasi dan kekebalan yang didapat secara alami dan pencabutan pembatasan yang menyertainya di lebih banyak negara Eropa. Pembaruan juga mencakup pelonggaran tindakan yang lebih ketat dalam operasi udara yang menurut badan-badan tersebut akan membantu meringankan beban industri.
Direktur Eksekutif EASA Patrick Ky mengatakan fakta bahwa masker wajah tidak lagi wajib dalam perjalanan udara merupakan langkah maju yang besar dalam normalisasi perjalanan udara.

“Namun penumpang harus berperilaku bertanggung jawab dan menghormati pilihan orang lain di sekitar mereka,” katanya.

Sedangkan untuk penumpang yang batuk dan bersin harus sangat mempertimbangkan dalam memakai masker wajah. Itu dilakukan untuk meyakinkan mereka yang duduk di dekatnya. Direktur ECDC, Andrea Ammon, mengatakan sementara risiko tetap ada, mereka telah melihat bahwa intervensi non farmasi dan vaksin telah memungkinkan kehidupan masyarakat mulai kembali normal.

“Meskipun wajib memakai masker dalam semua situasi tidak lagi direkomendasikan, penting untuk diingat bahwa bersama dengan jarak fisik dan kebersihan tangan yang baik, itu adalah salah satu metode terbaik untuk mengurangi penularan,” katanya.

Baca juga: easyJet Tambah Daftar Maskapai yang Izinkan Penumpang Lepas Masker di Pesawat

“Peraturan dan persyaratan keberangkatan dan negara tujuan harus dihormati dan diterapkan secara konsisten, dan operator perjalanan harus berhati-hati untuk memberi tahu penumpang tentang tindakan yang diperlukan secara tepat waktu. Pentingnya langkah-langkah ini harus terus dikomunikasikan secara efektif kepada penumpang untuk keselamatan mereka, dan ECDC akan terus bekerja dengan rekan-rekan kami di EASA untuk secara teratur menilai dan mengubah rekomendasi yang diperlukan,” tambahnya.

Taksi dari Bandara Changi Akan Kenakan Biaya Tambahan

Biaya tambahan untuk perjalanan taksi yang berangkat dari Bandara Changi akan naik sebesar S$3 mulai kamis (19/5/2022) hingga 30 Juni mendatang. Adanya penambahan biaya sebagai upaya untuk meningkatkan pasokan taksi bagi penumpang yang berangkat dari Changi.

Baca juga: Wow! Tujuh Bandara Ini Punya Fasilitas Tur Gratis

Dengan biaya tambahan yang meningkat, perjalanan mulai dari Changi akan dikenakan biaya tambahan $8 setiap hari dari pukul 17.00 hingga 23.59, dan tambahan $6 pada waktu lainnya. Biaya tambahan saat ini adalah $5 pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu dari pukul 17.00 hingga 23.59, dan $3 pada waktu lainnya.

Langkah tersebut, diumumkan oleh Changi Airport Group (CAG) dalam sebuah posting Facebook pada Kamis (12/5/2022), terjadi di tengah keengganan taksi untuk pergi ke bandara untuk menjemput penumpang meskipun ada kebangkitan dalam perjalanan udara internasional. Menurut posting Facebook oleh ComfortDelGro Taxi, operator taksi terbesar di Singapura, kenaikan biaya tambahan juga akan berlaku untuk perjalanan mulai dari Changi Air Freight Centre, Kantor Polisi Bandara, dan Airport Logistics Park of Singapore.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman yahoo.com (12/5/2022), kenaikan biaya tambahan akan dimulai dari tengah malam pada 19 Mei dan berakhir pada 23.59 pada 30 Juni. Untuk diketahui, pada Maret kemarin, sekitar 1,14 juta pelancong melewati Changi. Ini pertama kalinya volume penumpang di sana melampaui angka satu juta sejak pandemi Covid-19 dimulai lebih dari dua tahun lalu.

Lalu lintas penumpang di Bandara Changi meningkat lebih dari dua kali lipat bulan lalu dari Maret, mendekati 40 persen dari tingkat pra pandemi. Hal ini membuat Singapura semakin dekat untuk mencapai targetnya untuk mengembalikan volume penumpang di bandara setidaknya 50 persen dari tingkat pra-Covid-19 pada akhir tahun.

Tingginya jumlah penumpang, ditambah dengan pasokan taksi yang semakin sedikit, menyebabkan antrean panjang masyarakat yang menunggu taksi di bandara. Pengemudi taksi mengatakan bahwa lebih banyak uang dapat dihasilkan di Kawasan Pusat Bisnis dan di malam hari dalam sebuah laporan.

Ditambah dengan biaya bahan bakar yang tinggi, mereka mengatakan bahwa mereka tidak menemukan alasan untuk pergi jauh-jauh ke bandara, di mana mereka berisiko menunggu lama dengan mesin dihidupkan. CAG telah meluncurkan program insentif bulan lalu untuk mendapatkan taksi kembali ke bandara, menawarkan taksi hadiah $10 untuk setiap hari mereka melakukan minimal tiga perjalanan ke bandara dalam tiga jendela waktu, 06.00 pagi sampai 10.00 pagi, siang sampai 13.00 siang dan 16.00 sore ke jam 19.00 malam.

Itu juga memberikan kopi gratis kepada pengemudi di pagi hari, tetapi tindakannya tidak memadai. Menanggapi pertanyaan, juru bicara CAG mengatakan lima perusahaan taksi di sini telah membahas kekurangan taksi di bandara dengan CAG sebelum perusahaan mengajukan rencana untuk merevisi biaya tambahan lokasi dengan Dewan Transportasi Umum (PTC).

CAG mengatakan bahwa program insentifnya sendiri, yang semula dijadwalkan berakhir pada 30 April, juga akan berjalan hingga 16 Mei. Dari 17 Mei hingga 30 Juni, akan ada skema baru, di mana sopir taksi dapat memperoleh hadiah $10 jika mereka melakukan minimal tiga perjalanan ke bandara dari pukul 06.00 hingga 09.00 dan dari pukul 15.00 hingga 21.00.

Seorang juru bicara PTC mengatakan dewan telah diberitahu tentang niat operator taksi untuk menaikkan biaya tambahan lokasi taksi dan mengingatkan mereka untuk memberi tahu penumpang tentang tarif baru. Tidak disebutkan kapan rencana untuk menaikkan biaya tambahan diajukan.

Di bawah kerangka peraturan yang berlaku pada Oktober 2020, operator taksi di Singapura diharuskan untuk mengajukan rencana untuk mengubah tarif mereka setidaknya 28 hari sebelum melakukan perubahan. Mereka juga perlu mempublikasikan perubahan setidaknya tujuh hari sebelumnya.

Baca juga: Belajar Gerakan SOS dari TikTok, Pengemudi Taksi Selamat dari Penumpang Bersenjata

Yeo Wan Ling, penasihat Asosiasi Taksi Nasional (NTA), mengatakan pengeluaran wisatawan secara tradisional menjadi komponen penting dari pendapatan taksi.
Tetapi dengan norma baru, pengemudi masih membiasakan diri dengan pengaturan waktu penerbangan dan terminal di bandara yang baru.

Tampil Serupa, Tapi Vespa dan Piaggio Tak Sama

Piaggio dan Vespa merek yang berbeda? Mungkin sebagian orang masih banyak yang menganggap keduanya sama, padahal kenyataannya dua merek ini berbeda. Meskipun keduanya memiliki desain skuter ikonik yang bernuansa Italia dan juga sebagai kiblat dari motor matik klasik.

Baca juga: Piaggio P180 Avanti – Mampu Tandingi Jet Bisnis dengan Desain Unik!

Penasaran kenapa keduanya berbeda tapi serupa? KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Vespa merupakan salah satu brand dari perusahaan yang induknya adalah Piaggio. Sedangkan Piaggio sendiri selain memiliki merek Vespa, juga punya merek lain seperti Aprilia, Moto Guzzi dan salah satunya adalah Piaggio itu sendiri.

Bahkan hingga saat ini pun, Vespa nyatanya masih disebut sebagai merek yang cukup konsisten untuk menghadirkan desain klasik dari tahun ke tahun. Ini karena Vespa menjunjung asas sejarah. Sehingga tidak heran bila melihat varian Vespa yang bentuknya hampir mirip dari tahun 50an sampai sekarang.

Sedangkan Piaggio lebih mengikuti perkembangan zaman meski identitasnya sebagai motor dari Italia. Tak hanya itu, Piaggio dan Vespa memiliki perbedaan yang cukup besar dibagian velgnya.

Baca juga: Bantu Kurangi Polusi Udara, Bajaj Listrik Piaggio Ape Mulai Merambah India

Yang mana Piaggio memiliki velg berukuran sekitar 14-16 inci dan Vespa 10-12 inci. Bukan hanya itu, suspensi antara Vespa dan Piaggio pun berbeda. Vespa memiliki suspensi dengan model lengan tinggan dan Piaggio teleskopik ganda.

KAI: LRT Jabodebek Operasional Komersial di Desember 2022

Light Rail Transit Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi atau disebut LRT Jabodebek akan soft launching pada 17 Agustus 2022. Hal ini dikatakan oleh direktur utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Didiek Hartantyo. Dia juga menjelaskan bahwa, LRT Jabodebek ditargetkan akan beroperasi komersial paling cepat akhir tahun 2022 dan paling lambat awal 2023 mendatang.

Baca juga: Soft Launching pada Agustus Nanti, Ini yang Dilakukan LRT Jabodebek Agar Aman Saat Beroperasi

Hal ini dikatakan Didiek dengan melihat progres pembangunan secara keseluruhan yang sudah mencapai 81,75 persen dan progres pembangunan infrastruktur sudah mendekati 97 persen hingga Mei 2022. Didiek menjelaskan setelah soft launching di Agustus 2022, akan dilanjutkan pada Oktober untuk uji coba operasional tanpa penumpang.

“Nah baru pada saat Desember 2022 atau awal 2023 akan dimulai tahap operasional komersial LRT Jabodebek,” ujar Didiek yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com.

Adanya keterlambatan operasional sendiri, dikatakan Didiek lantaran persoalan pembebasan lahan yang terjadi di depo LRT Jabodebek Bekasi Timur. Selain akan mulai soft launching dan beroperasi secara komersial, nantiny LRT Jabodebek juga akan terintegrasi dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, kehadiran LRT Jabodebek merupakan upaya pemerintah dalam menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta. Dia menambahkan, integrasi moda adalah kunci untuk meningkatkan minat masyarakat menggunakan angkutan massal.

Bahkan direktur prasarana direktorat jenderal perkeretaapian Kemenhub Harno Trimadi mengatakan, kehadiran LRT Jabodebek nantinya bisa memfasilitasi tiga pihak pengguna yakni pejalan kaki, pesepeda, pengguna angkutan umum lain dan pengguna angkutan pribadi.

Tak hanya itu, Kemenhub juga membangun sejumlah fasilitas pendukung jangka pendek seperti jembatan, tangga, eskalator dan lift. Untuk yang jangka panjang adalah park an ride. Selain itu juga akan melakukan perbaikan geometri jalan dan pelebaran jalan. Harno mengatakan, target penumpang LRT Jabodebek adalah tembus seratus ribu orang per hari dengan headway enam menit sekali.

“Stasiun Cawang akan menjadi hub-nya yang diprediksi terjadi pergerakan paling besar di stasiun ini, yaitu sekitar 79 ribu pergerakan per hari,” ujar Harno yang dikutip dari tempo.co.

Baca juga: LRT Jabodebek Targetkan Soft Launching 17 Agustus 2022

LRT Jabodebek memiliki panjang lintasan 44,43 kilometer dan 18 titik stasiun pemberhentian. Waktu tempuh yang lebih cepat, kepastian jadwal, dan kenyamanan dalam LRT, diklaim menjadi keunggulan transportasi yang telah direncanakan sejak 2015 itu.