Skylander Facelift Mejeng di Busworld, Punya Fitur Canggih Pertama di Indonesia: Terinspirasi dari Pandemi Covid-19

Setelah absen akibat pandemi Covid-19, Busworld Southeast Asia kembali digelar di Jakarta mulai 5-7 Oktober. Kendati tidak seramai sebelum pandemi, namun, pengunjung cukup terhibur dengan deretan bus-bus mewah beserta inovasinya dari karoseri kebanggaan Indonesia; salah satunya Skylander Facelift atau New Skylander R22. Bus ini diklaim punya fitur pertama di Indonesia.

Baca juga: New Armada Tampilkan New Skylander R22, Bus dengan Layar Videotron di Belakang Bodi

Dani Dimas Febriano, Engineer Departemen Produk Development (RnD) New Armada Karoseri, mengungkapkan, fitur canggih yang dimaksud adalah videotron atau layar LED besar di bagian belakang bus.

Videotron tersebut, lanjutnya, berfungsi untuk menampilkan situasi di depan bus agar pengemudi di belakang bisa mengetahui dan menyesuaikan dengan kebutuhannya seperti saat hendak menyalip.

Di samping itu, videotron tersebut juga bisa menjadi wadah pengguna, dalam hal ini PO bus, untuk mengiklankan produk-produk dan berbagai jasa, terutama produk dan jasa PO bus itu sendiri. Dengan begitu, perusahaan bisa mendapatkan pundi-pundi tamabahan pasca dihantam pandemi Covid-19.

“Selain sebagai media periklanan ini juga berfungsi sebagai safety karena bisa menambah keselamatan terutama bagi kendaraan di belakang jika ingin mendahului bus di depan. Jadi bisa tahu kendaraan apa yang tertutupi oleh bus ini ketika di jalan. Jadi bisa mengestimasi-lah,” jelasnya kepada KabarPenumpang.com, Kamis (6/10).

Ia menambahkan fitur tersebut telah melalui riset yang cukup panjang sejak awal pandemi. Ketika itu, Karoseri New Armada berpikir keras untuk menghadirkan inovasi-inovasi terbaru bagi PO bus agar bisa membantu melewati masa-masa sulit akibat pandemi virus Corona. Dari situ tercetuslah ide untuk membuat videotron tersebut di Skylander Facelift.

Pihaknya yakin, sambung Dani, fitur tersebut mampu menjadi salah satu pertimbangan perusahaan otobus (PO) untuk menambah barisan armadanya dengan New Skylander R22 ini.

“Melihat inovasi yang kami lakukan ada celah di situ kami berusaha semaksimal mungkin bagaimana memaksimalkan ini sebagai daya tarik untuk PO-PO lain karena bisa jadi pemasukan untuk mereka juga kan, untuk iklan PO mereka sendiri atau mungkin iklan dari produk lain,” ujarnya.

“Bus ini kan terus berjalan otomatis akan dilihat oleh puluhan bahkan ratusan orang di jalan apalagi bus antar kota, otomatis potensi untuk dilihat orang itu jadi makin besar,” tambahnya.

Baca juga: Diikuti 4 Karoseri Ternama, Busworld Southeast Asia 2022 Digelar 5-7 Oktober di JIExpo

Terhadap pihak-pihak yang meragukan keamanan pengendara di belakang yang terganggu konsentrasinya akibat videotron di bagian belakang bus Skylander Facelift tersebut, Dani menegaskan ini sudah melalui riset panjang dan dipastikan aman.

“Kalau kita lihat di jalan-jalan sekarang kan sebetulnya tidak hanya bus aja yang ada videotron, kita juga bisa lihat di kendaraan periklanan lain seperti di kota-kota besar ada juga mungkin di perempatan jalan, rasanya bukan jadi alasan safety kalau videotron yang ada di bus disebut sebagai pengalih fokus pengendara di belakang,” tutupnya.

Kawasan BSD City Kini Dilayani Bus Listrik Gratis, Bisa Dicoba Tanpa Harus Registrasi

Ada yang baru di wilayah township BSD City, yaitu telah hadir wahana transportasi ramah lingkungan, bus listrik Skywell tipe NJL6730BEV. Pengadaan bus listrik ini merupakan kerja sama antara Sinar Mas Land bersama PT Eka Sari Lorena Transport Tbk dengan total nilai investasi Rp3,8 miliar.

Baca juga: Kempower Jadi Solusi Pengisian Daya di Bus Listrik Swedia 

Peresmian operasional BSD Link Electric Bus dilakukan oleh Dony Martadisata (Managing Director President Office Sinar Mas Land), Dwi Ryanta Soerbakti (Managing Director PT Eka Sari Lorena Transport Tbk) dan Dinesvara Airlangga (Chairman PT Kendaraan Listrik Indonesia/Skywell) di Lobby The Breeze BSD City pada Jumat (07/10).

BSD Link Electric Bus memiliki penggerak listrik dan battery pack Lithium Iron Phosphate (LiFePo4) berkapasitas 114 kWh dengan proses pengisian daya selama 2 jam. Bus listrik ini mampu menempuh perjalanan sejauh 180 km dan kecepatan maksimalnya hingga 50 km per jam.

BSD Link Electric Bus berdimensi 7,3 x 2,1 meter dengan kapasitas 17 seat serta 13 hand grip sehingga dapat membawa 30 penumpang. Selain itu, bus listrik ini juga dilengkapi dengan CCTV, face recognition temperature, hingga USB port di kabin bus yang dapat dimanfaatkan penumpang untuk mengisi baterai ponsel.

Baca juga: Bus Listrik Dek Ganda Hadir di Hong Kong

Buat yang ingin menjajal bus listrik buatan Cina ini, BSD Link Electric Bus beroperasi setiap hari Senin hingga Minggu pukul 07.00-19.35 WIB. Bus listrik ini memiliki 6 rute pemberhentian dengan pin awal di Terminal Intermoda – ICE – Qbig – Ara Rasa – The Breeze 1 – Digital Hub – Terminal Intermoda yang dapat ditempuh hanya dalam waktu satu jam. Masyarakat umum dapat mencoba bus listrik ini secara gratis dan tanpa harus registrasi terlebih dahulu.

Mau Berwisata ke Eropa? Perhatikan Dulu Skor Ramah Lingkungan di Kota-kota Ini

Tentu ada beberapa hal yang Anda idamkan kala memutuskan untuk berwisata ke Eropa. Dari sekian hal yang ada dalam benak Anda, boleh jadi sensasi serba keteraturan, ketertiban dan kebersihan kota-kota di Eropa adalah sesuatu yang menarik untuk dinikmati, terlebih bagi pelancong asal Indonesia yang banyak mendambakan hal tersebut bisa ada di Tanah Air.

Baca juga: Mau Cari yang Halal? Ini Dia Lima Destinasi Wisata di Eropa yang Muslim-Friendly

Berangkat dari hal di atas, faktor ramah lingkungan bisa menjadi parameter yang dapat Anda perhatikan untuk menikmati kota-kota di Eropa. Dan Schengen Visa Info memilah 28 kota populer di Eropa berdasarkan parameter yang dianggap paling ramah lingkungan untuk para pelancong.

Di antara 28 kota paling populer di Eropa, rupanya Berlin menempati puncak kategori kota di Eropa paling ramah lingkungan untuk pelancong. Berlin menjadi juara kota paling ramah lingkungan dalam sebuah survei yang diadakan oleh aplikasi penyimpanan bagasi bernama Bounce.

Survei tersebut mempertimbangkan beberapa faktor, di antaranya yaitu jumlah hotel berkelanjutan, transportasi publik, hingga kualitas udara. Berdasarkan survei tersebut, Berlin mendapatkan skor keberlanjutan total sebesar 6,98 dari 10.

Berikut 10 besar kota di Eropa paling ramah lingkungan untuk wisatawan:
Stockholm, Swedia dengan skor 6,93
Zurich, Swiss dengan skor 6,56
Munich, Jerman dengan skor 6,51
Paris, Prancis dengan skor 6,40
Roma, Italia dengan skor 6,25
Wina, Austria dengan skor 5,77
Copenhagen, Denmark dengan skor 5,71
Valencia, Spanyol dengan skor 5,40
Frankfurt, Jerman dengan skor 5,29
Helsinki, Finlandia dengan skor 5,24
Lausanne, Swiss dengan skor 5,13
Brussels, Belgia dengan skor 5,13
London, Inggris dengan skor 4,71
Amsterdam, Belanda dengan skor 4,66
Bucharest, Rumania dengan skor 4,66.

Baca juga: Melancong Ke Eropa? Silahkan, Tapi Waspadai Negara-negara di Perbatasan Ukraina

Sementara itu, lima kota ini menempati urutan terbawah dalam daftar. Artinya, kota-kota ini merupakan kota dengan tingkat berkelanjutan yang sangat rendah. Kelima kota itu adalah Sofia di Bulgaria; Dublin di Irlandia; Belgrade di Serbia; Athena di Yunani; dan Rotterdam di Belanda.

KAI Luncurkan Entertainment on Board Gratis di KA Taksaka, Syaratnya Harus Aktifkan “Flight Mode” di Ponsel

Mirip dengan yang hadir di kabin beberapa pesawat, PT Kereta Api Indonesia kini menghadirkan fitur baru pada aplikasi KAI Access, yaitu menu Entertainment on Board (EoB). EoB merupakan menu yang menampilkan berbagai hiburan yang dapat diakses melalui jaringan WiFi khusus selama dalam perjalanan.

Baca juga: Bisa Dinikmati Gratis, “WiFi on Board Entertainment” Segera Hadir di Lima Pesawat Lion Air

Dikutip dari siaran pers PT KAI (6/10/2022), untuk saat ini layanan EoB sudah dapat dinikmati pada perjalanan Kereta Api Taksaka (Gambir – Yogyakarta pp). Fitur Entertainment on Board bertujuan untuk memberikan berbagai hiburan yang dapat dinikmati pelanggan selama dalam perjalanan kereta api. Fitur Entertainment on Board ini juga memiliki keunggulan di mana dapat diakses oleh pelanggan tanpa perlu menggunakan kuota internet.

Saat ini terdapat berbagai judul film yang dapat dinikmati pelanggan pada menu Movies di fitur EoB. Tersedia juga menu Music yang menyediakan playlist lagu-lagu dalam dan luar negeri. Ke depan, jenis hiburan yang ada pada layanan Entertainment On Board akan terus dikembangkan dan diterapkan pada perjalanan KA-KA lainnya.

Saat ini fitur Entertainment on Board baru tersedia pada pengguna Android, sedangkan untuk pengguna iOS masih dalam tahap pengembangan.

Sebagi syarat untuk menikmati Entertainment On Board, pelanggan harus mengupdate aplikasi KAI Access-nya pada Google Playstore ke versi 5.0.3 terlebih dahulu. Kemudian untuk menggunakan fitur Entertainment on Board selama dalam perjalanan, setiap pelanggan harus mengaktifkan mode pesawat (flight mode) terlebih dahulu, hubungkan jaringan ke WiFi “KITANONTON”, buka KAI Access klik menu EoB, dan pelanggan sudah dapat menikmati hiburan dan mendapatkan informasi yang tersedia.

Baca juga: Di India, Layanan WiFi Gratis di Kereta Juga Dapat Dinikmati oleh Warga Sekitar 

Meski menjadi layanan yang menarik, namun perlu dicatat, dengan pengguna mengaktifkan flight mode pada gawai, maka otomatis pengguna tidak bisa menikmati akses komunikasi seluler dari operator seperti Telkomsel, XL, Tri dan Smartfren.

Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

Bandara Internasional Pyongyang diduga kuat oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) terhubung dengan sebuah fasilitas baru program rudal balistik antar-benua Korea Utara. Lembaga think-tank yang berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS),tersebut mendasari dugaan itu lewat sebuah citra satelit komersial yang diungkap baru-baru ini.

Baca juga: Terganjal Sanksi Nuklir, Korea Utara Kesulitan Membeli Pesawat Baru untuk Air Koryo

Dikutip dari straitstimes.com, CSIS belum lama ini melaporkan temuan citra satelit yang menunjukkan adanya fasilitas nuklir bawah tanah yang terhubung dengan Bandara Internasional Pyongyang. Tak hanya itu, menurut para ahli, dilihat dari struktur dan aktivitasnya, besar kemungkinan, rudal balistik antar-benua (ICBM) terbesar di Korea Utara itu mampu menjangkau bagian manapun di AS.

Dalam laporan CSIS yang dirilis pada awal Mei lalu, fasilitas yang telah dibangun sejak 2016 ini juga memiliki sejumlah fitur penting, seperti stasiun kereta api tertutup yang sangat besar dan bangunan-bangunan yang seluruhnya dihubungkan oleh akses drive-through untuk memudahkan aktivitas di sana, termasuk juga terhubung dengan bandara komersial. Menariknya, fasilitas ini juga relatif dekat dengan pabrik komponen rudal balistik lainnya di wilayah Pyongyang.

“Secara keseluruhan, karakteristik ini menunjukkan bahwa fasilitas ini kemungkinan dirancang untuk mendukung operasi rudal balistik,” begitu salah satu bunyi di laporan tersebut, yang juga tertulis sebagai sebuah Fasilitas Pendukung Rudal Balistik Sil-li.

“Fasilitas itu telah dibangun di sebelah fasilitas bawah tanah yang ukurannya kemungkinan juga cukup besar untuk dengan mudah mengakomodasi semua rudal balistik Korea Utara yang terdeteksi, peluncur, serta kendaraan pendukungnya,” bunyi lainnya di laporan tersebut.

Terlepas dari pro-kontra terkait kepakatan nuklir internasional, sebagai sebuah bandara komersial, keterkaitan langsung Bandara Internasional Pyongyang dengan fasilitas nuklir terbesar di Korea Utara tentu menjadi menarik.

Betapa tidak, bila bandara-bandara komersial pada umumnya dijauhkan dengan aktivitas militer, bandara di negeri Komunis itu justru terhubung langsung dengan militer. Tak heran bila pada tahun 2017 lalu, bandara yang dibangun pasca perang dunia II ini digunakan untuk menembakkan rudal Hwasong-12. Kala itu, rudal berhasil menempuh jarak 3.700 kilometer (2.300 mil) dan ketinggian maksimum 770 kilometer (480 mil).

Baca juga: Air Koryo, Flag Carrier Korea Utara dengan Predikat Bintang 1 Versi Skytrax

Walaupun berstatus sebagai bandara internasional, bukan berarti bandara ini sibuk dengan aktivitas penerbangan antar negara. Justru sebaliknya, tergolong minim penerbangan internasional. Tercatat, hanya ada dua tujuan internasional di sini, Cina dan Rusia, yang juga dioperasikan oleh dua maskapai, Air China dan Air Koryo dengan frekuensi tiga kali dalam sepekan.

Selain itu, era industri penerbangan yang baru menggeliat belakangan ini juga membuat bandara yang terletak di distrik Sunan, Pyongyang, Korea Utara tersebut juga baru memiliki terminal penumpang sejak 2015 lalu. Adapun terminal kedua menyusul setahun kemudian. Meski demikian, fasilitas di bandara yang hanya memiliki satu landasan pacu aktif ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas, layaknya bandara pada umumnya, seperti lounge mewah, F&B, Wi-Fi gratis, hingga jaringan kereta listrik Korea Utara yang terhubung dengan terminal dua bandara.

Bagaimana Cara Ketahui Pesawat yang Ditumpangi Sudah Tua Hanya dengan Melihatnya?

Belum lama ini viral pesawat Qantas penuh dengan tambalan di bagian atas sayapnya. Banyak yang menduga itu karena pesawat sudah terlalu tua dan memiliki konsekuensi terhadap keselamatan. Terlepas dari itu, sebetulnya bagaimana cara penumpang mengetahui bahwa pesawat yang ditumpangi sudah tua hanya dengan mata?

Baca juga: Hawker Siddeley 748 Air North Pensiun Setelah 51 Tahun Mengudara! Masih Ragukan Pesawat Tua?

Langkah awal yang paling mudah tentunya melihat tipe pesawat. Ambil contoh pesawat dari keluarga Boeing 737. Andai pesawat itu adalah Boeing 737-100 atau generasi pertama, pastinya itu sudah sangat tua lantaran sudah lama beroperasi.

Di samping itu keluarga pesawat tersebut juga terus kedatangan anggota baru (tipe baru), Boeing 737 MAX. Dari segi desain dan karakteristik, tentu saja banyak perbedaan antara pesawat Boeing 737 generasi pertama dengan MAX. Bagi penumpang yang mengikuti perkembangan pesawat tersebut, tentu ini bukan perkara mudah. Sebaliknya, ini akan sulit dilakukan oleh penumpang awam.

Karena itu, dalam konteks mengetahui sebuah pesawat sudah tua hanya dengan melihatnya, penumpang bisa melihat pelat pesawat di bagian dalam di atas pintu utama pesawat. Di sana, tertera pesawat apa, tipe, serial number pabrik, sertifikat, sampai nomor sertifikat dikeluarkan. Setali tiga uang, penumpang juga bisa melihat nomor registrasi pesawat di bagian luar.

Baik informasi di pelat pesawat di bagian dalam kabin maupun nomor registrasi di bagian luar, itu bisa ditindaklanjuti di internet melalui berbagai platform untuk mengetahui kapan pesawat tersebut dibuat.

Cara lainnya, menurut salah satu pengguna Quora, itu bisa dilakukan dengan memperhatikan beberapa detail, seperti karpet di lorong pesawat sudah sangat tipis dan ini bisa terlihat oleh mata perbedaannya dengan karpet yang masih tebal. Hal yang sama juga bisa dilihat dari kursi pesawat yang biasanya cenderung terpampang jelas bekas lekukan.

Ada juga cara mengetahui pesawat sudah tua atau belum dengan cara melihat tampilan eksterior secara keseluruhan. Kendati pesawat setiap dua sampai enam bulan sekali dicuci steam layaknya motor-mobil, namun cat pesawat yang sudah memudar tak bisa dibohongi. Itupun juga biasanya bisa saja maskapai mengecat ulang pesawat.

Akan tetapi, besarnya biaya membuat maskapai lebih memilih melakukan pemeliharaan di bagian interior dan komponen yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca juga: Nyaris 54 Tahun, Ini Pesawat Komersial Aktif Tertua di Dunia

Sebetulnya, usia tidak berbanding lurus dengan performa pesawat. Pada pesawat, yang paling menentukan adalah jam terbang. Bisa saja sebuah pesawat sudah tua tetapi secara jam terbang masih rendah lantaran tidak terlalu aktif digunakan. Dengan begitu, pesawat masih aman untuk digunakan sekalipun sudah tua.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman, dalam sebuah wawancara di program berita CNN Indonesia, pernah menyebut bahwa pesawat sejatinya adalah benda mati. Begitu komponen yang ada sudah tak lagi berfungsi secara optimal, ia tinggal diganti saja dengan yang baru dan pesawat pun sehat kembali. Berbeda dengan manusia sebagai benda hidup yang meski digonta-ganti komponen atau organ tubuhnya, tetap saja, akan ada masalah. Sebab, faktor usia amat menentukan.

Arti Kode ‘SSSS’ di Boarding Pass Penerbangan Internasional, Penumpang Wajib Waspada

Pada penerbangan internasional, penumpang diidentifikasi dengan lebih detail dibanding penerbangan domestik. Karenanya, beberapa penumpang pesawat ‘ditandai’ oleh otoritas bandara tujuan akhir dengan kode ‘SSSS’. Kode ‘SSSS’ pada boarding pass tidak selalu identik dengan negatif, tetapi penumpang harus waspada saat mendapatkannya.

Baca juga: Di Bandara AS, Boarding Pass dan KTP ‘Haram’ Saat Lewati Boarding Gate

Dikutip dari Quora, kode ‘SSSS’ pada boarding pass merupakan kepanjangan dari Secondary Security Screening Selection yang artinya adalah Seleksi Pemeriksaan Keamanan Sekunder. Kode ini dibuat oleh sistem keamanan bandara Amerika Serikat (AS), Transportasion Savety Administration (TSA) untuk penerbangan ke wilayahnya.

Ada beberapa hal yang mendasari TSA mengeluarkan kode SSSS pada borading pass seorang penumpang. Pada prinsipnya ini didasari kecurigaan dari beberapa gelagat atau hal yang tak biasa, seperti membayar cash (tunai) untuk penerbangan, membeli tiket kurang dari dua pekan atau bahkan hitungan jam, membeli tiket penerbangan sekali jalan, termasuk catatan penerbangan penumpang.

TSA juga melihat indikator lainnya sebagai dasar untuk memasukkan seorang penumpang dalam kode ‘SSSS’, seperti terbang dari, ke, atau melalui negara-negara yang dianggap “berisiko tinggi” oleh Departemen Luar Negeri, memiliki kemiripan dengan seseorang di daftar pengawasan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan DPO interpol.

Beberapa latar belakang di atas untuk menandai boarding pass penumpang dengan kode ‘SSSS’ sebetulnya sangat wajar karena beberapa hal. Di era digital, semua rekam jejak kehidupan, mulai dari catatan keuangan, belanja, identitas, perbankan, transaki, dan lain sebagainya, itu semua tercatat di big data.

Maka dari itu, cara yang paling mudah untuk menghindari rekam jejak data transaksi adalah dengan melakukannya secara tunai. Dengan begitu, tidak ada catatan perbankan dan turunannya.

Membeli tiket penerbangan internasional sekali jalan tanpa membeli tiket kembali dan membelinya mendekati hari H, itu jelas tidak lazim; kecuali penumpang yang bersangkutan adalah warga pribumi yang kembali dari luar negeri.

Lebih mencurigakan lagi apabila penumpang melakukan itu (terbang sekali jalan, membelinya dengan uang tunai, dan mendekati hari H) dengan keberangkatan awal dari bandara di negara konflik atau yang dicap berisiko tinggi. Sudah pasti penumpang tersebut akan mendapati kode ‘SSSS’ di boarding pass-nya.

Baca juga: Penumpang Pesawat Mesti Jeli, Ini Kelemahan e-Boarding Pass yang Merepotkan

Selain penerbangan internasional, kode ‘SSSS’ juga bisa didapat oleh penumpang tujuan domestik, dalam hal ini AS yang mempelopori pengguna kode tersebut. Menurut salah satu pengguna Quora, dari ratusan penerbangan yang dijalaninya secara rutin, ia hanya sekali mendapati boarding pass-nya tertera kode ‘SSSS’.

Dari segi pemeriksaan di gate pemeriksaan, ia memang diperlakukan lebih ketat dibanding penumpang lain. Detail dan gelagatnya diteliti dengan jeli oleh petugas.

Tahukah Anda, Pesawat Take-off dengan Kecepatan Rendah Bisa Berujung Petaka

Tak sedikit penumpang yang merasakan takut sesaat menjelang pesawat lepas landas (take-off), pasalnya dalam kondisi itu mesin pesawat dipacu kencang dengan suara yang lumayan keras menembus kabin. Lantaran menjadi situasi yang kurang nyaman, ada saja penumpang yang bertanya, apakah saat take-off kecepatan pesawat dapat diturunkan? Umumnya mereka berharap agar efek hentakan saat take-off dapat dikurangi.

Baca juga: Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

Berangkat dari pertanyaan klasik di atas, sejumah penerbang dan mantan penerbang di forum quora.com memberikan beberapa pendapatnya untuk mencerahkan wawasan netizen. Sebut saja Ross Whittle, mantan pilot Emirates Airlines (2006 – 2016) menyebutkan, bahwa harus ada kecepatan minimum di mana sebuah pesawat dapat menghasilkan daya angkat yang cukup untuk menopang beratnya.

Di bawah kecepatan tersebut, maka sebuah pesawat tidak akan mampu lepas landas. Ada kasus pilot yang mencoba membuat pesawat lepas landas di bawah kecepatan ini, yang dalam kasus ekstrim menyeret ekor pesawat di sepanjang landasan (tail strike).

Lain dari itu, jika seorang pilot memutuskan berada pada kecepatan minimum ini, yang didapatkan bukan kecepatan efisien, karena menghasilkan jumlah drag yang tinggi. Ross Whittle yang kini menjadi instruktur penerbang di New South Wales, Australia menegaskan, kecepatan lepas landas harus diperhitungkan untuk memungkinkan pesawat mengudara dengan margin yang nyaman di atas kecepatan minimum dan dalam lower drag regime.

Pada intinya, perlu kecepatan tertentu untuk bisa mengudara, di bawah itu, pesawat hanya akan membuat semacam lompatan, dan pesawat akan angsung turun lagi, tentu menjadi masalah besar jika jarak landasan yang tersisa tidak memadai.

Berapa kecepatan minimum pesawat yang diperlukan untuk take-off, itu pun bergantung pada beberapa faktor, yang paling mudah dipahami bahwa kecepatan yang diperlukan bergantung pada bobot pesawat itu sendiri, kecepatan angin dan suhu. Sebagai ilustrasi, pada kondisi suhu tinggi seperti di wilayah gurun, maka pesawat membutuhkan tenaga dan kecepatan ekstra saat take-off, yaitu untuk meningkatkan daya angkat.

Baca juga: Pesawat Lepas Landas dalam Kondisi Suhu Tinggi, Ternyata Bikin Maskapai Merugi

Secara teori, meningkatnya suhu atau temperatur berarti akan mengurangi kemampuan daya angkat pesawat. Suhu yang lebih tinggi menyebabkan udara yang kurang padat, yang mengurangi gaya angkat pada sayap pesawat. Dengan kondisi lebih sedikit daya angkat, berarti jarak lepas landas akan meningkat. Jika jarak lepas landas tidak dapat ditingkatkan, maka mau tak mau pesawat perlu beroperasi di bawah batasan berat yang berbeda, atau pesawat harus mengurangi kapasitas muatannya.

Tragedi Aeroflot Flight 3932, Kecelakaan Paling Mematikan Kedua Tupolev Tu-104

Aeroflot mempunyai sejarah kelam bersama pesawat yang dilabeli sebagai pesawat paling mematikan di dunia, Tuploev Tu-104. Ketika itu, pesawat tengah beroperasi di rute Sverdlovsk (sekarang dikenal sebagai Yekaterinburg) ke Vladivostok via Omsk, Novosibirsk, Chita, dan Khabarovsk. Namun nahas, beberapa saat setelah lepas landas, pesawat jatuh dan menewaskan 100 penumpang serta 8 kru. Peristiwa ini pun dikenang sebagai kecelakaan paling mematikan kedua yang melibatkan pesawat itu.

Baca juga: Kisah Tupolev Tu-114, Pesawat Turboprop Tercepat, Terbesar, dan Jangkauan Terjauh di Dunia

Tupolev Tu-104 memang menjadi salah satu kebanggan Uni Soviet 9Rusia) saat itu di sektor pesawat sipil sebagai pelopor penerbangan jet komersial Soviet dan salah satu pesawat jet pertama di dunia. Namun, fakta berbicara lain.

Pesawat yang didesain oleh Biro Desain Tupolev itu dianggap sangat tidak bisa diandalkan dan tidak terkontrol. Pesawat itu kerap mengalami Dutch roll, yaitu berguling ke satu arah dan berayun ke sisi lain. Tu-104 juga sangat rentan mati mesin pada kecepatan rendah. Selain itu, kualitas elektronik di dalam pesawat itu sangat buruk.

Banyak pilot yang mengeluhkan karakteristik pesawat tersebut. Namun, para perancang Tu-104 di biro Tupolev menolak menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang salah dengan pesawat itu dan malah menuduh para pilot tidak profesional.

Meski begitu, pada akhirnya, Tupolev Tu-104 pun dinobatkan oleh banyak pihak menjadi pesawat penumpang Soviet paling berbahaya dalam sejarah. Dari 201 unit yang diproduksi, 37 atau hampir seperlimanya hilang dalam kecelakaan udara menewaskan 1.137 orang; termasuk di dalamnya kecelakaan Tupolev Tu-104 Aeroflot Flight 3932 pada 30 September 1973.

Dihimpun dari berbagai sumber, pesawat dengan nomor registrasi CCCP-42506 diketahui sudah terbang selama 20 ribu jam terbang. Cuaca juga dilaporkan normal dengan jarak pandang 6 km dan suhu 3 derajat Celcius. Pesawat diawaki oleh pilot berpengalaman Kapten Boris Stepanovich Putintsev, kopilot Vladimir Andreevich Shirokov, Navigator Pyotr Gavrilirich Kanin, dan Flight Engineer Ivan Yakovlevich Raponov.

Setelah pre-flight check tuntas, pesawat lepas landas pukul 18:34 waktu Moskow atau 20:34 waktu setempat. Pilot diberi bantalan (bearing) 256 derajat menuju Omsk dan naik ke ketinggian 4.900 kaki. Pilot merespon dan menyebut akan menginformasikan bila sudah mencapai ketinggian tersebut.

Pukul 20:35, pesawat mengikuti prosedur dengan berbelok ke kiri 35 derajat. Sambil menambah ketinggian, pesawat terus miring 75 derajat dan berhasil mencapai ketinggian 3.900 kaki.

Pukul 20:37 waktu setempat, kru kokpit melaporkan kehilangan kendali pada pesawat. Tak lama kemudian pesawat dilaporkan jatuh di hutan Sverdlovsk, sekitar 10 km barat daya bandara, dengan kecepatan 150 knot, dan terbakar.

Dari hasil penyelidikan pihak berwenang, penyebab kecelakaan diidenfikasi karena kegagalan mekanis pesawat Tupolev Tu-104.

Baca juga: Tupolev Tu-334, Pesaing Fokker F28 Fellowship yang Tidak Pernah Beroperasi Komersial

Main artificial horizon dan compass system indicated menunjukkan informasi yang salah dan mengakibatkan disorientasi pilot. Itu kenapa pesawat terus miring 75 derajat dan terus miring sambil menambah ketinggian sampai akhirnya jatuh menghantam daratan.

Penyebab kecelakaan tersebut bukan kali pertama terjadi. Kecelakaan paling mematikan Tupolev Tu-104, yang terjadi sebulan setelah kecelakaan ini, juga terjadi karena mirip-mirip dengan itu, dimana terjadi electrical supply dan menyebabkan kegagalan multiple navigation instruments hingga mengakibatkan 114 penumpang dan 8 awak tewas.

Daftar Maskapai yang Operasikan Satu Tipe Pesawat Boeing dan Airbus, Ada Maskapai Indonesia

Boeing dan Airbus masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Meski begitu, bukan berarti keduanya harus ada dalam barisan armada maskapai untuk saling melengkapi. Justru sebaliknya, beberapa maskapai hanya mengoperasikan satu tipe pesawat saja, baik itu satu tipe pesawat Airbus maupun Boeing. Maskapai mana sajakah itu?

Baca juga: The New Garuda Indonesia Mau Pakai Satu Tipe Pesawat? Ini Untung-Ruginya

Dari berbagai sumber yang dihimpun, daftar maskapai yang mengoperasikan satu pesawat saja, yaitu pesawat Airbus adalah Frontier Airlines, Spirit Airlines, Allegiant Air, easyJet, AirAsia, dan Super Air Jet. Semua dari maskapai tersebut adalah maskapai LCC.

Sedangkan maskapai yang masuk dalam dalam daftar operator penganut prinsip satu tipe pesawat, dalam hal ini satu tipe pesawat Boeing, adalah Southwest Airlines, Ryanair, Xiamen Airlines (namun tahun depan akan mulai menggunakan Airbus A320neo), Akasa Airlines, dan Go2Sky (maskapai charter).

Banyak alasan kenapa maskapai memutuskan untuk menggunakan satu tipe pesawat saja, baik itu satu tipe pesawat Airbus maupun Boeing.

Keuntungannya, tentu efisiensi. Efisiensi bisa didapat dari berbagai lini, seperti biaya spare part, biaya training-sertifikasi pilot dan tim mekanik, fasilitas simulator dan mockup untuk pramugari, sampai diskon seiring tingginya kuantitas pembelian pesawat.

Meski begitu, menurut pengamat, efisiensi bisa maksimal bila menggunakan pesawat-pesawat Airbus ketimbang Boeing. Itu karena pesawat Airbus cenderung lebih universal atau komonalitas.

Satu keluarga pesawat, misalnya A320, meski ada peningkatan satu sama lain namun tidak jauh berbeda, membuat biaya training serta turunannya lebih murah dan cepat ketimbang Boeing, yang meski pesawatnya berasal dari tipe yang sama, misalnya keluarga B737, namun cenderung banyak perbedaan atau bahkan sangat berbeda.

Keuntungan lainnya ialah diskon besar. Sebagai contoh, Ryanair, sebagai maskapai yang mengoperasikan all-Boeing aircraft, memesan 200 pesawat Boeing 737 MAX. Dengan pesanan sebanyak ini, tentu diskon yang didapatkan maskapai berbeda dengan yang lain.

Ada keuntungan ada kekurangan atau kerugian. Kerugian menggunakan satu tipe pesawat saja oleh maskapai pastinya jangkauan terbatas, terutama jika dihadapkan pada pelayanan rute regional. Namun, dalam konteks maskapai LCC, dimana jangkauannya terbatas pada regional, masalah jangkauan terbatas akibat menggunakan satu tipe pesawat tentu tak ada masalah mengingat range-nya masih terjangkau.

Baca juga: 9 Maskapai Baru yang Lahir Selama Pandemi Covid-19, Dari Negara Mana Saja?

Kerugian lain maskapai hanya menggunakan satu tipe pesawat ialah masalah manajemen. Dalam kasus Boeing 737 MAX, tak ada yang pernah menyangka bahwa jenis pesawat itu di-grounded sampai setahun lebih. Bayangkan bila ketika itu ada maskapai yang hanya mengoperasikan MAX, sudah pasti bisnisnya akan ikut berantakan.

Sudah begitu, ketergantungan terhadap satu produsen pesawat juga tak baik untuk bisnis maskapai itu sendiri.