Bagaimana Pilot Tahu Dimana Posisi Pesawat Padahal di Luar Gelap?

Berbeda dengan pramugari yang tidak tahu posisi pesawat berada saat dalam penerbangan, pilot sangat mengetahui dimana posisi pesawat berada, sekalipun di luar gelar. Entah di tengah cuaca buruk ataupun penerbangan malam hari. Lantas, bagaimana caranya?

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pilot Tidak Berkomunikasi dengan ATC? Ini Jawabannya

Di kokpit ada begitu banyak panel yang memiliki fungsinya masing-masing. Dari sekian banyak panel di kokpit, itu dibagi menjadi dua instrumen; flight instrument (instrumen penerbangan) dan flight control (kontrol penerbangan).

Di antara banyak instrumen, dalam hal ini instrumen penerbangan, setidaknya, ada enam instrumen penerbangan dasar atau biasa disebut ‘six pack’ yang harus dikuasai pilot, mulai dari altimeter, indikator kecepatan udara (pitot static system), indikator kecepatan vertikal (sistem statis pitot), attitude indicator, heading indicator (gyroscopic system), dan turn indicator (gyroscopic system).

Dari keenam instrumen tersebut, salah satu instrumen yang sangat membantu pilot dalam mengetahui dimana posisi pesawat berada sekaligus bagaimana cara pilot mengetahui lintasan ke bandara tujuan adalah heading indicator (gyroscopic system).

Heading Indicator atau Giro Direksi merupakan instrumen yang menunjukkan heading dari pesawat relatif terhadap arah utara berdasarkan letak geografis dari bumi. Instrumen ini dikalibrasi berdasarkan arah utara kutub magnet bumi (dari Magnetic Compass) untuk meningkatkan kepresisian penunjukan arah.

Pada pesawat-pesawat jet saat ini, Heading Indicator digantikan oleh HSI (Horizontal Situation Indicator) yang selain menampilkan informasi heading juga menampilkan informasi navigasi berupa VOR.

Very High Frequency Omni-Directional Range (VOR), sebagaimana dikutip dari thepointsguy.co.uk, merupakan ground-based electronic system yang menghubungkan VOR station di ground dengan receiver yang ada di pesawat. Mengingat terbatasnya jangkauan VOR station, maka jumlahnya harus diperbanyak agar bisa menuntun pesawat ke VOR lainnya sampai ke bandara tujuan.

Akan tetapi, VOR ini memiliki kelemahan karena tidak bisa dipasang di perairan. Maka dari itu, VOR umumnya hanya berguna saat penerbangan di atas daratan saja, baik saat gelap akibat penerbangan malam atau cuaca buruk maupun penerbangan siang hari.

Di penerbangan lintas benua yang pastinya melewati perairan, seperti penerbangan trans atlantik dan trans pasifik, saat ini instrumennya sudah digantikan dengan GPS yang berbasis satelit.

Dalam kaitannya mengetahui posisi pesawat berada walau kondisi di luar gelap ataupun cara pilot mengetahui bandara tujuan, alat pemancar dan penerima GPS yang ada di bagian kanan dan kiri pesawat, diterima oleh IRU (indefeasible right of use) dan AHRU (attitude heading reference unit) yang juga ada di sisi kanan dan kiri pesawat.

Baca juga: Inilah AeroMACS, Sistem Komunikasi Digital Bandara Karya NASA yang Bikin Pilot ‘Bisu’

Ini kemudian terhubung dengan flight management computer untuk memberikan informasi posisi yang akurat. Dat tersebut ditampilkan di flight deck yang tampilannya saat ini sudah sangat canggih di pesawat-pesawat modern berupa animasi bergerak mirip dengan kondisi real di sekitar pesawat.

Dalam kasus penerbangan lintas benua, yang tidak terjangkau ATC, biasanya pilot akan membuat Organised Track System (OTS) atau sejenis membuat jalur penerbangan berbasis GPS. Dengan begitu, pilot hanya perlu mengikuti rute animasi yang ditampilkan di floight deck di kokpit untuk bisa sampai di bandara tujuan.

Anti Mainstream, Rumah John Travolta Punya Runway, Apron, dan Lounge Bak Bandara Mini

Garasi rumah pada umumnya diisi oleh mobil dan motor mewah serta kendaraan lainnya. Namun tidak dengan John Travolta. Garasi aktor kawakan Hollywood tersebut bukan lagi diisi oleh kendaraan mewah melainkan lima pesawat yang satu di antaranya pesawa widebody Boeing 707 bekas Qantas.

Baca juga: Spruce Creek, Hunian yang Bikin Pesawat Mondar-mandir di Jalan Raya Bak Mobil

Melengkapi garasi yang lebih mirip sebagai apron bandara mini John Travolta itu, juga dilengkapi dengan runway sepanjang 2,2 km untuk mobilitas lepas landas dan mendarat pesawat. Menariknya, rumah bergaya seperti rumah-rumah di abad pertengahan ini juga dilengkapi dengan lounge di bagian sayap depan rumah untuk menjamu kolega, teman, dan beberapa kenalan, termasuk rekan-rekannya sesama penghuni kompleks.

Kompleks Perumahan Penerbangan Jumbolair atau Jumbolair Aviation Estates, memang terletak tak jauh dari Greystone Airport di Florida, Amerika Serikat (AS). Itu merupakan resident di kawasan bandara yang menfasilitasi para pembeli atau penerbang untuk mendaratkan pesawat pribadinya di lahan yang telah disiapkan.

Menariknya, John menjadi orang pertama yang tinggal di kawasan tersebut dan membuat landasan pacu seluas 550 hektare untuk koleksi pesawat pribadinya.

Dalam sebuah wawancara ia mengatakan bahwa rumah tersebut ia desain khusus untuk jet dan pesawat pribadi miliknya agar dirinya memiliki akses yang mudah dengan dunia, sesuai dengan tujuan awal dibuatnya kompleks Jumbolair Aviation Estates.

Kemudahan mobilitas yang membawanya lebih dekat dengan dunia, berpadu dengan kecintaannya dengan dunia penerbangan, membuat rumah tersebut seolah bersatu membentuk rumah yang lebih pantas disebut sebagai mini bandara John Travolta.

Beberapa ruangan di rumah ini memiliki view menghadap ke landasan pacu serta tempat terparkirnya pesawat-pesawat. Di ruangan tersebut John sering menerima serta menjamu para kolega, teman, dan beberapa kenalan yang sama-sama memiliki minat di dunia penerbangan. Salah satunya adalah sebuah ruangan yang didesain seperti lounge di bagian sayap depan rumah.

Selain kehadiran bandara yang lengkap dengan landasan pacu serta tempat kontrol untuk pesawat-pesawat pribadinya, rumah tersebut juga memiliki fasilitas mewah lainnya. Dua di antarnya adalah paviliun-paviliun khusus sebagai tempar berteduhnya pesawat serta kolam renang besar bergaya tropis yang sangat cocok dengan wilayah California.

Baca juga: Gegara Covid-19, Boeing 707 Jhon Travolta Batal Disumbangkan ke Museum

Selain California, AS juga mempunyai kompleks lainnya di sisi Timur yang juga tak kalah menarik dengan kompleks Jumbolair Aviation Estates yang di dalamnya terdapat rumah atau bandara mini John Travolta. Salah satunya adalah Spruce Creek.

Spruce Creek sendiri baru dibangun sejak tahun 2000 lalu. Meskipun demikian, perumahan yang terletak di Volusia County, Florida, Amerika Serikat, tersebut saat ini menjadi komunitas fly-in terbesar. Di kompleks ini, pesawat mondar-mandir bak kendaraan di jalan raya, lebih terasa aura dirgantaranya dibanding kompeks tempat John Travolta tinggal.

Situs Layanan Bandara di AS Dilumpuhkan Hacker Pro Rusia

Meski Amerika Serikat dan Rusia tidak berperang secara langsung, namun buntut dari konflik yang terjadi di Ukraina, telah menciptakan proxy war yang melibatkan entitas sipil, yang menyerang ke berbagai situs dan fasilitas non militer. Sebut saja yang terbaru adalah kabar peretasan yang menimpa situs (website) bandara di AS yang mendapatkan DDoS attack yang diduga dilakukan hacker pro Rusia.

Baca juga: Pengakuan Seorang Hacker: Bisa Jatuhkan Pesawat Penumpang dari Kamar Tidur

Dikutip dari bleepingcomputer.com (10/10/2022), disebutkan bahwa kelompok peretas pro-Rusia ‘KillNet’ mengklaim serangan DDoS skala besar terhadap situs web beberapa bandara besar di AS, membuat situs mereka tidak dapat diakses.

DDoS attack atau Distributed Denial of Service merupakan serangan cyber dengan cara mengirimkan fake traffic atau lalu lintas palsu ke suatu sistem atau server secara terus menerus. Dampaknya, server tersebut tidak dapat mengatur seluruh traffic sehingga menyebabkan down.

Serangan DDoS telah membanjiri server yang menampung situs-situs ini dengan permintaan sampah, sehingga tidak memungkinkan bagi pelancong atau pengguna jasa penerbangan untuk terhubung dan mendapatkan pembaruan (update) tentang penerbangan terjadwal mereka atau memesan layanan bandara.

Contoh penting dari situs web bandara yang saat ini tidak tersedia termasuk Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (ATL), salah satu pusat lalu lintas udara yang lebih besar di negara itu, dan Bandara Internasional Los Angeles (LAX), yang terkadang offline atau sangat lambat untuk merespons.

Para peretas menggunakan perangkat lunak khusus untuk menghasilkan permintaan palsu dan lalu lintas sampah yang diarahkan ke target dengan tujuan menghabiskan sumber daya server dan membuatnya tidak bisa diakses oleh pengguna jasa bandara.

Dalam hal ini, serangan DDoS tidak berdampak pada penerbangan, tetapi masih memiliki efek buruk pada fungsi sektor ekonomi penting, mengancam untuk mengganggu atau menunda layanan terkait.

KillNet sebelumnya menargetkan negara-negara yang berpihak pada Ukraina, seperti Rumania dan Italia, sementara”sub-group” Legiun menyerang entitas kunci Norwegia dan Lithuania karena alasan yang sama.

Ketika perang di Ukraina telah memasuki fase baru, para pelaku ancaman dan peretas pro Rusia mencoba untuk meningkatkan serangan siber pembalasan mereka terhadap organisasi saraf di dunia barat.

Baca juga: Perusahaan Kereta Api Italia Hentikan Sementara Penjualan Tiket Karena Jadi Sasaran Peretas, Diduga Berasal dari Rusia

AS, sebagai pemimpin de-facto NATO, yang merupakan saingan militer utama Rusia, telah memasok Ukraina dengan intelijen dan peralatan sejak awal perang, tetapi serangan DDoS sejauh ini tampaknya difokuskan pada target Uni Eropa, terutama setelah pengumuman sejumlah sanksi.

Berapa Lama Maskapai Menunggu Penumpang yang Telat Saat Transit?

Transit atau connecting flight di sektor kedirgantaraan global memang sudah tidak asing lagi terdengar. Bagi Anda yang belum mengetahuinya, connecting flight merupakan suatu kondisi dimana Anda akan berganti pesawat di titik transit untuk tiba di satu destinasi. Karena pesawat yang akan Anda tumpangi berbeda, maka nomor penerbangannya pun akan berbeda pula.

Baca juga: Apa yang Penumpang Harus Lakukan Saat Ketinggalan Pesawat Saat Transit?

Selain menjadi moda transportasi paling aman, pesawat juga menjadi moda transportasi paling tepat waktu. Namun bukan berarti tidak pernah terlambat.

Saat itu terjadi, terutama pada penerbangan transit, penerbangan berikutnya ada yang menunggu penumpang datang untuk transit dan ada pula yang sebaliknya, tetap berpegang pada waktu yang sudah ditetapkan dan tidak menunggu penumpang yang terlambat datang. Andai pun menunggu, berapa lama maskapai akan menunggu?

Menurut salah satu pengguna Quora, itu tidak ada ukuran rata-ratanya alias tidak ada kejelasan berapa lama maskapai akan menunggu penumpang yang telat transit (connecting flight). Ini semua tergantung situasi dan kondisi. Celakanya, situasi dan kondisi setiap harinya di setiap bandara berbeda-beda. Terlebih di bandara besar.

Dalam pelaksanaannya, maskapai memutuskan berapa lama waktu menunggu penumpang didasari pada beberapa hal, seperti ketersediaan gate di bandara tujuan, ketersediaan slot bandara (slot lepas landas dan mendarat), jam berapa bandara yang dituju bisa melayani mereka, dan lain sebagainya.

Demikian juga sebaliknya, maskapai yang memutuskan meninggalkan penumpang, itu berarti maskapai siap dengan berbagai konsekuensinya, seperti membayar biaya penginapan penumpang, makanan dan minuman, serta penerbangan pengganti.

Sebelum antara dua keputusan itu diambil, maskapai secara garis besar tentunya sudah menetapkan di tataran petinggi, lebih mengutamakan penumpang atau catatan on-time performance (OTP). Ini pada akhirnya menjadi dasar bagi maskapai untuk mengambil keputusan selanjutnya, menunggu penumpang yang telah transit atau melanjutkan penerbangan sesuai jadwal.

Seiring waktu, maskapai tak ingin 100 persen menunggu penumpang transit setiap kali terjadi keterlambatan dan sebaliknya tidak jadi 100 persen mengejar OTP. Mereka berada di tengah antara kedua itu. Caranya dengan memakai aplikasi khusus. Salah satunya United Airlines lewat aplikasi Connection Saver.

Baca juga: 10 Bandara Internasional Ini, Pilihan Transit Ternyaman di Dunia

Teknologi ini menjalankan fungsi penghitungan algoritma beberapa kemungkinan dimana hasilnya akan memberikan opsi kepada pihak maskapai, apakah akan tetap meninggalkan penumpang yang terlambat ini atau menunggunya. Dengan begitu, keputusan menunggu atau tidaknya jadi lebih efektif karena didasari data bukan intuisi belaka.

CEO dari United Airlines, Oscar Munoz mengatakan bahwa sejak aplikasi ini diluncurkan pada bulan Januari silam, aplikasi ini terbukti sudah ‘menyelamatkan’ lebih dari 50.000 penumpang yang mengalami keterlambatan di penerbangan pertama mereka.

Apa yang Terjadi Jika Pistol Ditembakkan ke Jendela dari dalam Pesawat?

Pesawat adalah moda transportasi paling aman di dunia, dengan catatan bila segala hal berjalan normal. Di luar itu, tak sedikit pihak yang meragukan. Seperti misalnya ada pistol yang ditembakkan penumpang dan mengenai tepat di bagian tengah jendela. Andai ini terjadi, apa yang akan dialami pesawat?

Baca juga: Bedah Jendela Pesawat, Inilah Bagian-bagian Beserta Fungsinya

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, diketahui jendela pesawat memiliki tiga lapisan; bagian luar, tengah, dan dalam. Lubang kecil yang kita lihat terdapat di lapisan kaca tengah dan dikenal sebagai breather atau lubang napas.

Breather tersebut bekerja untuk menyeimbangkan tekanan antara kabin dan udara yang terkurung di antara kaca jendela. Selain itu, lapisan kaca tengah merupakan cadangan apabila kaca di bagian luar retak karena tekanan.

Tak hanya mengatur tekanan, lubang kecil itu juga berfungsi untuk melepaskan kelembaban untuk mencegah jendela pesawat membeku atau berkabut.

Dilihat dari bahannya, lapis pertama, jendela pesawat terbuat dari campuran kaca dan akrilik. Keduanya disatukan dengan teknik glass frit bonding, juga disebut sebagai solder kaca atau seal glass bonding. Jadi, pada intinya, teknik ini memadukan lapisan luar kaca dengan akrilik yang direnggangkan.

Lapis kedua, kaca jendela pesawat terbuat dari urethane, termasuk jenis dari polimer yang lumrah dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Sedangkan dilapisan ketiga atau di bagian dalam, kaca jendela pesawat terbuat dari akrilik. Masing-masing lapisan memiliki ketebalan kaca 1-3 inci atau empat kali lipat ketebalan kaca mobil.

Meski tidak terlalu tebal, namun, jenis kaca yang digunakan tergolong sangat kuat untuk menahan tekanan, termasuk tembakan dari senjata api (pistol). Tetapi, andai pun jendela pesawat berhasil tembus sampai ke luar dan membuat adanya lubang kecil seukurang peluru tajam, apa yang akan terjadi?

Dikutip dari Quora, di ketinggian 6.000-8.000 kaki, tekanan pada pesawat berkisar 11,78 pon per inci persegi hingga 10,91 pon per inci persegi. Pada ketinggian 35 ribu kaki, tekanan di kabin pesawat berkisar 3,47 pon per inci persegi.

Ketika sebuah peluru tajam yang ditembakkan dari pistol di kabin penumpang menembus jendela atau bahkan badan pesawat sekalipun, itu bukan sebuah masalah besar.

Hal-hal yang ditampilkan di film-film Hollywood, seperti pesawat akan meledak, terbakar, kehilangan ketinggian, lubang semakin membesar karena tekanan, mengalami dekompresi eksplosif, menarik penumpang yang tak menggunakan seat belt keluar pesawat, sampai berujung kecelakaan fatal, itu tidak terjadi.

Baca juga: Bagaimana Pilot Tangani Depresurisasi Saat Pesawat di Udara? Ini Jawabannya

Sebaliknya, pesawat mungkin akan kehilangan keseimbangan tekanan di dalam kabin. Tetapi, lubang sekecil itu (baik di jendela ataupun di badan pesawat) mudah diatasi oleh kompresi besar pada mesin untuk menyeimbangkan pasokan udara. Linear dengan itu, pesawat hanya perlu menurunkan ketinggian untuk menyesuaikan tekanan agar lubang yang ada tak semakin membesar dan terjadi dekompresi eksplosif.

Pilot pastinya akan mengontak ATC untuk izin mendarat darurat di bandara terdekat tak lama setelah terjadi tembakan dan membuat jendela berlubang. Dengan begitu, pesawat dapat mendarat dengan selamat tanpa terjadi insiden fatal.

Rute Penerbangan Mana yang Paling Berbahaya dan Sering Terjadi Turbulensi Hebat?

Seiring terjadinya pemanasan global (global warming), turbulensi lebih sering sulit diprediksi waktu dan tempatnya. Meski begitu, menurut pengalaman banyak pilot dan penumpang, terdapat beberapa rute penerbangan yang berbahaya dan sering terjadi turbulensi hebat.

Baca juga: Enam Jenis Turbulensi Pesawat, Mana yang Paling Sering Terjadi?

Dilihat dari jenisnya, turbulensi terbagi menjadi enam; Clear air turbulence (CAT), turbulensi wind shear, turbulensi termal atau konvektif, turbulensi vortex, turbulensi mekanik, dan turbulensi frontal. Masing-masing turbulensi tersebut mempunyai penyebab tersendiri.

Dari segi intensitasnya, turbulensi pesawat terbagi menjadi tiga; lemah, sedang, dan turbulensi parah. Sebetulnya ada tambahan satu lagi yaitu turbulensi ekstrem. Namun ini jarang terjadi karena pilot diharuskan menghindari awan cumulonimbus atau inti badai berjarak 20 mil laut.

Karenanya, turbulensi ekstem jarang terjadi. Bila terjadi, pesawat dibawa terbang oleh pilot melewati inti badai dan sangat jarang atau tidak pernah ada pilot waras melakukan itu. Sedang terbang melewati tepi badai saja turbulensinya sudah cukup parah, apalagi terbang melewati inti badai (warna merah pada gambar di bawah).

Turbulensi lemah biasanya terdapat sedikit guncangan pada pesawat dan membuat penumpang sedikit tidak nyaman. Namun secara umum penerbangan masih normal.

Turbulensi sedang sudah pasti membuat penumpang lebih tidak nyaman dibanding turbulensi lemah. Guncangannya pun sudah pasti lebih kuat.

Turbulensi jenis ini bisa diibaratkan seperti bus atau mobil yang ngerem mendadak ataupun menikung tajam dan berpotensi membuat penumpang terluka atau cedera. Karenanya, tak heran bila pilot meminta penumpang dan kru kembali ke tempat duduk dan menggunakan seat belt (sabuk pengaman).

Baca juga: Gegara Pemanasan Global, Penumpang Pesawat Bakal Rasakan Turbulensi 3x Lipat

Turbulensi parah atau kuat adalah satu-satunya kategori turbulensi pesawat yang dianggap berbahaya bagi penerbangan. Turbulensi jenis ini sangat mungkin untuk membuat pilot kehilangan kendali pada mesin untuk sementara.

Menurut Mechanical Engineering jebolan Durham University, David Walker, turbulensi pada umumnya terjadi di wilayah atau zona konvergensi tropis. Zona ini berada di sekitar garis khatulistiwa tempat angin pasat dari belahan bumi utara dan selatan bertemu, menjadi badai besar, dan menyebabkan turbulensi hebat atau parah pada pesawat.

Di antara zona tersebut, salah satu yang paling berbahaya adalah di langit sekitar Teluk Benggala, terutama di atas Kepulauan Andaman.

Turbulensi di wilayah ini bukan hanya hitungan di atas kertas semata, melainkan sudah memakan korban, salah satunya insiden jatuhnya pesawat Airbus A330-200 Air France Flight 447 yang menewaskan 228 orang.

Selain kecelakaan tersebut, penerbangan internasional dari Timur ke Barat atau dari Eropa dan India ke negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand, begitupun sebaliknya, juga sering mengalami turbulensi parah di sekitar Teluk Benggala atau di atas Kepaulauan Andaman.

Baca juga: Seberapa Bahaya Turbulensi Pesawat?

Penerbangan Singapore Airlines dari Singapura ke London, pernah mengalami turbulensi parah di atas Teluk Benggala tepat saat penumpang tengah menyantap makan pagi (sarapan). Akibatnya, kabin porak poranda dengan penampakan baki makanan dan minuman berserakan dimana-mana.

Selain di atas Teluk Benggala atau perairan sebelah tenggara India, ada juga tempat lainnya yang sering terjadi turbulensi parah, seperti di atas perairan Teluk Arab, di atas Pegunungan Himalaya dan dekat puncak Gunung Fuji.

Buntut Insiden Maut AF447, Air France dan Airbus Diseret ke Meja Hijau

Maskapai nasional Perancis Air France dan manufaktur pesawat Airbus, akan diadili pada Senin (10/10/2022) atas tuduhan pembunuhan tidak disengaja pada insiden maut yang terjadi pada tahun 2009, yakni jatuhnya pesawat Airbus A330 Air France AF447 yang dalam perjalanan dari Rio de Janeiro (Brasil) menuju Paris (Perancis) dan menewaskan semua 228 orang di dalamnya.

Baca juga: Di Rute Jenewa – Paris, Pilot dan Kopilot Air France Baku Hantam di Dalam Kabin

Dikutip dari France24.com, keluarga korban dan beberapa pakar penerbangan mengatakan pilot tidak cukup terlatih untuk menangani hilangnya pembacaan kecepatan yang disebabkan oleh peralatan penting yang membeku dalam badai. Penerbangan AF447 dari Rio de Janeiro jatuh ke Samudera Atlantik pada dini hari tanggal 1 Juni 2009, setelah memasuki zona dekat Khatulistiwa yang dikenal dengan turbulensi yang kuat.

Pesawat dalam insiden AF447 adalah Airbus A330-203 yang membawa 12 awak dan 216 penumpang. Lantaran jatuh di samudera yang luas dan dalam, butuh waktu hampir dua tahun untuk menemukan sebagian besar badan pesawat dan menemukan perekam penerbangan “kotak hitam”.

Air France dan Airbus didakwa saat penyelidikan berlangsung, dengan para ahli menentukan kecelakaan itu akibat kesalahan yang dibuat oleh pilot yang disorientasi oleh apa yang disebut tabung pemantau kecepatan Pitot yang telah membeku di awan tebal.

Tetapi hakim investigasi yang mengawasi kasus tersebut membatalkan dakwaan pada 2019, sebuah keputusan yang membuat marah keluarga korban. Kemudian Jaksa mengajukan banding atas keputusan itu, dan pada tahun 2021 Pengadilan Paris memutuskan ada cukup bukti untuk melanjutkan persidangan.

Ophelie Toulliou, yang kehilangan saudara laki-lakinya dalam penerbangan itu, mengatakan bahwa sangat penting “kebenaran terungkap, dan bahwa hukuman, jika pantas, dijatuhkan”.

“Tetapi pesannya juga untuk membuat perusahaan yang berpikir bahwa mereka tidak tersentuh mengerti: “Anda seperti orang lain dan jika Anda membuat kesalahan, mereka akan dihukum,” katanya.

Pengadilan di Paris akan mendengarkan kesaksian dari lusinan pakar penerbangan dan pilot selama dua bulan persidangan, dan masing-masing perusahaan menghadapi denda maksimum 225.000 euro (US$220.000).

Detail yang terungkap dari investigasi sebagian dimuat di majalah Vanity Fair, termasuk rekaman percakapan terakhir di kokpit. Disebutkan, 2 dari 3 pilot yang ada di pesawat sedang tertidur, saat Airbus 330 itu menghadapi masalah akibat badai tropis dalam perjalanan dari Paris, Prancis menuju Rio de Janeiro, Brasil.

Pierre-Cedric Bonin (32), ‘anak bawang’ yang baru mencatatkan ratusan jam terbang ditinggalkan sendirian di belakang kemudi, sementara kapten penerbang, Marc Dubois (58) dan pilot David Robert (37) sedang tidur. Sang kapten diduga hanya tidur sejam malam sebelumnya, Ia disebut-sebut menghabiskan waktunya dengan teman seperjalanannya, pramugari yang tak sedang bertugas (off-duty) sekaligus penyanyi opera.

Baca juga: Gegara Sepotong Besi Terlepas dari DC-10, Jadi Pengantar Maut Concorde Air France 4590

“Seandainya kapten berada di posisinya ketika menghadapi Intertropical Convergence Zone (ITCZ), paling-paling tidurnya hanya terganggu tak lebih dari 15 menit. Dan dengan pengalamannya itu, kisah pesawat itu mungkin akan berakhir beda,” kata kepala penyelidik Alain Bouillard seperti dikutip Vanity Fair.

Setelah Sempat Ditutup, Garuda Indonesia Kembali Buka Rute Jakarta – Melbourne

Sebagai dampak pandemi, Garuda Indonesia menutup rute ke Melbourne pada pertengahan 2021. Namun, seiring meredanya tren Covid-19, dan terbukanya akses masuk ke sejumlah kota di Australia, mendorong Garuda Indonesia untuk tidak hanya meningkatkan frekuensi penerbangan ke Sydney, melainkan akan membuka rute lamanya, yaitu ke Melbourne, kota yang dikenal banyak dihuni oleh pelajar dan mahasiswa dari Indonesia.

Baca juga: Hari ini 50 Tahun Lalu, Garuda Indonesia Lakukan Penerbangan Perdana ke Australia

Dari siaran pers yang diterima Kabarpenumpang.com, Garuda Indonesia pada 23 November 2022 mendatang mulai mengoperasikan kembali rute Jakarta – Melbourne pp sebagai bagian dari langkah intensifikasi pemulihan kinerja melalui upaya maksimalisasi potensi market demand negara Australia yang terus menunjukan pertumbuhan signifikan di tengah transisi dari masa pandemi Covid-19 menuju situasi endemi.

Rute Jakarta – Melbourne nantinya akan dilayani dengan menggunakan pesawat Airbus A330-300 yang berkapasitas 251 penumpang dengan konfigurasi 36 business class dan 215 economy class dan akan beroperasi sebanyak dua kali setiap minggunya.

Rute Jakarta – Melbourne tersebut akan diberangkatkan dengan pesawat bernomor penerbangan GA 716 yang akan dilayani setiap Rabu dan Sabtu, diberangkatkan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 21:00 LT dan tiba di Melbourne Airport keesokan harinya pukul 07:35 LT.

Sementara itu penerbangan Melbourne – Jakarta akan diberangkatkan dari Melbourne Airport pukul 09:10 LT dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta pukul 12:15 LT menggunakan pesawat bernomor penerbangan GA 717.

Baca juga: Batik Air Layani Penerbangan Langsung Denpasar – Brisbane, ke Melbourne Kini 1x Setiap Hari

Hadirnya rute ini melengkapi rute Sydney – Denpasar yang sebelumnya telah kembali beroperasi lebih dahulu. Hal ini menjadi sinyal positif bagi outlook peningkatan trafik penumpang internasional Garuda Indonesia mengingat Australia merupakan salah satu pangsa pasar potensial, sebagai salah satu negara dengan tingkat kunjungan wisatawan tertinggi ke Indonesia. Pada Juli 2022, tercatat jumlah kunjungan wisatawan asal Australia menuju Indonesia berhasil menyentuh kisaran 80 ribu orang.

Anjing “Liar” Masuk di Gerbong Komuter, Begini Penanganan Petugas Kereta di Jepang

Ada perbedaan aturan antara layanan kereta komuter di Jabodetabek dengan kereta komuter di Jepang. Di Negeri Sakura, dengan syarat tertetu, penumpang komuter diperkenankan membawa binatang pelihaharaan masuk ke dalam gerbong. Namun, ada insiden yang unik terjadi pada hari Kamis, 6 Oktober lalu di Jalur Odakyu Odawara, di mana ada seekor anjing yang membut geger di perjalanan komuter yang pada padat di pagi hari.

Baca juga: Viral Video Anjing Pintar di India, Tunggu Kereta Hingga Berhenti Baru Turun

Dikutip dari soranews24.com, “kami telah menerima kabar bahwa ada seekor anjing di kereta” kondektur mengumumkan melalui pengeras suara dan kereta berhenti di Stasiun Tsurumaki Onsen sedikit sebelum jam 7:30 pagi. Jalur Odakyu Odawara menghubungkan Stasiun Shinjuku Tokyo, yaitu stasiun kereta api tersibuk di dunia dengan pinggiran kota dan kota-kota terpencil di barat daya.

Jadi pada pagi hari kerja tertentu, Anda akan melihat banyak orang di kereta ke utara pergi ke tempat kerja atau sekolah di kota besar.

Rupanya anjing itu menyelinap melalui celah di pagar antara stasiun dan jalan, dan ketika seorang staf stasiun melihatnya berlarian di peron, dia mencoba mengejarnya. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh pemeragaan visual grafis yang sangat lucu dalam video di atas, anjing itu tidak ingin ditangkap, dan kebetulan sebuah kereta berhenti dan pintunya terbuka untuk membiarkan penumpang naik. Jadi anjing itu melompat ke kanan, menyebabkan terhenti ketika para pekerja mencoba membujuknya untuk pergi dan anjing itu menggeram kembali ke arah mereka.

Setelah usaha penangkapan selama sembilan menit, seorang petugas stasiun berhasil meraih kerah anjing itu dan membawanya keluar dari kereta, dan Ia mendapatkan tepuk tangan untuk menyelesaikan situasi tanpa membahayakan hewan atau penumpang, meskipun seorang petugas memang menahan gigitan pada ibu jari dan jari telunjuknya.

Sebagai catatan, Odakyu mengizinkan anjing masuk ke dalam kereta, tetapi panjangnya maksimal 70 sentimeter (27,6 inci) atau kurang dan di dalam wadah. Dan pastinya anjing juga harus ditemani oleh seorang manusia. Itu bagian yang sangat penting.

Baca juga: Berbaris di Peron, Anjing Golden Retriever Bukan Tunggu Kereta Tapi Untuk Pemotretan Kalender

Dan berbicara tentang kerah anjing, itu adalah petunjuk bahwa hewan itu tidak tersesat. Seorang pekerja membawa anjing itu ke kotak polisi setempat, dan tak lama sebelum itu seorang lelaki tua yang tinggal di lingkungan itu pergi ke kotak polisi yang berbeda untuk melaporkan bahwa dia sedang berjalan-jalan dengan anjingnya ketika talinya terlepas dari kerahnya dan anjing itu kabur. Untungnya, pria dan hewan peliharaannya telah dipersatukan kembali.

Terowongan Brockville – Terowongan Kereta Pertama di Kanada yang Dihiasi Lampu Warna Warni dan Alunan Musik

Terowongan Kereta Brockville dibuka untuk umum setiap musim semi, tetapi karena pandemi Covid-19, terowongan ini akhirnya dibuka pada 14 Agustus 2020 lalu. Terowongan ini terletak di Ontario tepatnya di bawah kota Brockville dan merupakan terowongan kereta api pertama di Kanada. Walikota Jason Baker mengatakan, pihaknya sangat senang membuka kembali terowongan tersebut dan berharap suatu hari nanti bisa dibuka kembali dengan normal.

Baca juga: Terowongan Kereta “Gunung Braswell,” Gelap di Dalam Instagramable di Luar

“Kami bekerja dengan para ahli kesehatan untuk memastikan kami bisa membuka ini dengan aman. Pada satu titik kami khawatir tentang membuat terowongan lalu lintas satu arah dan karena panjangnya yang benar-benar tidak layak,” ujar Baker.

Lorong dari Terowongan Kereta Brockville di Ontario

Terowongan Brockville akan menampilkan pertunjukan cahaya dan yang berbeda pada saat ini adalah beberapa prosedur keamanan dan keselamatan bagi pengunjung yang wajib diikuti. Di masa pandemi, para pengunjung harus menggunakan masker dan menjaga jarak fisik di dalam terowongan.

Bahkan tanda pemberitahuan pedoman Covid19 dipasang di setiap pintu masuk. KabarPenumpang.com melansir ctvnews.ca (14/8/2020), Terowongan Kereta Brockville akan dibuka setiap hari dari jam 09.00 pagi hingga 21.00 waktu setempat dan gratis tetapi ada kotak donasi jika pengunjung ingin memberikannya.

Salah satu pengunjung pertama yang melintasi Terowongan Kereta Brockville di tahun 2020 ini adalah Devin Johnston dan putranya dari Oxford Mills.

“Ketika saya melihatnya secara online tadi malam bahwa mereka buka hari ini, saya seperti, waktunya pergi! Hebat! Pertunjukan cahayanya luar biasa, musiknya hebat, Warren sangat menyukainya. Kami naik turun,” kata Johnston.

Bahkan dibukanya terowongan ini membuat sepasang saudara dari Toronto merasakan hal yang luar biasa.

“Luar biasa! Saya membacanya di berita beberapa tahun yang lalu dan sangat bersemangat saat itu dan agak lupa. Adik saya baru saja mengingatkan saya tentang hal itu dan itu luar biasa. Musiknya, keasliannya,” kata Una saat dia disela oleh klakson kereta dan lampu merah yang turun dari terowongan.

Dibukanya kembali Terowongan Kereta Brockville, walikota mengatakan, ini menjadi tanda bahwa kota tersebut secara resmi dibuka setelah memperoleh keuntungan.

“Ini adalah indikasi yang hilang bahwa Brockville terbuka untuk bisnis dan saya pikir itu adalah pernyataan penting yang perlu kita lakukan. Ada banyak orang dalam radius satu kilometer dari terowongan ini yang mendapatkan keuntungan dari pengunjungnya dan mereka telah tahun tersulit mereka dalam industri pariwisata. Kami senang telah mencapai titik ini, kami hanya minta maaf karena butuh waktu selama ini, ”kata Baker.

Tidak ada kejadian di terowongan yang akan direncanakan tahun ini seperti tahun-tahun lainnya, tetapi walikota memang mengisyaratkan bahwa terowongan masih bisa akses di musim gugur. Untuk saat ini, Baker mencatat cuacanya sempurna dan mendorong orang untuk datang dan mengunjungi Brockville.

Terowongan Kereta Brockville sendiri konstruksinya dimulai pada September 1854 tetapi tidak dibuka untuk lalu lintas kereta api hingga 31 Desember 1860. Terowongan ini memiliki panjang 527 m dan dirancang untuk menyediakan jalur rel dari perdagangan kayu Lembah Ottawa ke fasilitas pelabuhan Brockville di rute kapal Sungai St. Lawrence.

Jalur rel yang melewati terowongan kemudian digunakan oleh mesin uap khusus yang diturunkan ketinggiannya, dan kemudian kereta diesel hingga pertengahan 1970-an. Rel dan pengikat kemudian dijual dan dilepas pada 1980-an, dan terowongan kereta api tidak lagi digunakan saat dibangun.

Pada tahun 1982, terowongan tersebut dialihkan ke Kota Brockville oleh Marathon Realty, sayap real estat Canadian Pacific Railway. Pada 2016–17, terowongan kereta api menjalani rehabilitasi interior besar-besaran agar dapat dilalui dengan aman dengan berjalan kaki. Pengunjung sekarang dapat berjalan kaki dari portal selatan ke portal utara, keluar di ngarai ujung utara dan naik ke jalan setapak.

Sebelum rehabilitasi, pengunjung hanya dapat masuk di portal selatan dan berjalan di bawah tanah. Terowongan kereta api telah menerima ribuan pengunjung sejak dibuka sepenuhnya pada 12 Agustus 2017. Sekarang dilengkapi dengan sistem lampu berwarna LED modern, yang diprogram dengan berbagai cara, bersama dengan rekaman trek musik yang diputar saat seseorang berjalan melewatinya.

Baca juga: Ernest Junction, Bekas Terowongan Kereta yang Kondang Jadi Obyek Grafiti

Di samping terowongan adalah caboose atau van CPR yang telah direnovasi, yang disumbangkan pada tahun 1987 ke kota oleh Canadian Pacific Railway. Sebuah plakat rinci, dalam bahasa Inggris dan Prancis, menggambarkan detail dan kisah bagaimana caboose dahulu menjadi bagian dari setiap kereta.