Inilah Nautilus, Desain Superyacht Hybrid, Bisa Jadi Kapal Permukaan dan Kapal Selam

0

Meski terdengar bak khayalan, namun tak sedikit inovasi canggih yang hadir saat ini berasal dari konsep atas rancangan yang telah dipikirkan pada empat dekade lalu. Terkait hal tersebut, U-Boat Worx, perusahaan perkapalan yang berbasis di Belanda, belum lama ini merilis desain kapal hybrid futuristik, berupa superyacht-submarine yang bisa berubah moda, dari kapal permukaan menjadi kapal selam.

Baca juga: Day Limo, Perahu Amfibi Keluaran Iguana Yacht, Oke di Darat dan Lautan

Dikutip dari robbreport.com, konsep superyacht hybrid ini diperkenalkan dalam ajang Monaco Yacht Show 2022. Idenya berupa kapal yang punya panjang lambung 37,4 meter dan berat 1.250 ton. Untuk namanya, wahana ini diberi label Nautilus.

Nautilus dalam desainnya ditenagai sistem propulsi diesel-listrik yang memungkinkannya untuk berlayar melintasi lautan dengan kecepatan hingga 9 knots atau melakukan perjalanan di bawah air dengan kecepatan 4 knots. U-Boat Worx menyebut, Nautilus dapat menyelam sampai kedalaman 200 meter.

“Orang-orang yang telah memutuskan untuk membeli kapal pesiar sekarang harus mempertimbangkan apakah kapal pilihan mereka juga dapat menyelam hingga kedalaman 200 meter,” kata ketua dan pendiri U-Boat Worx Bert Houtman dalam sebuah pernyataan.

Kapal selam superyacht Nautilis diklaim dapat bertahan di bawah air hingga empat hari, tetapi hanya dapat berlayar di bawah air selama enam jam setiap kali berlayar. Sebagai bonus tambahan, Nautilus dapat melarikan diri dengan cepat saat menghadapi air yang bergelombang tinggi. “Jika laut menjadi terlalu ganas, Anda cukup menyelam dan melanjutkan perjalanan dengan nyaman,” tambah Houtman.

Baca juga: FB277 – Superyacht Serba Komplit yang Siap Disewakan Per Juni 2019

Interior mewah Nautilus menawarkan semua kenyamanan superyacht dan dapat disesuaikan sepenuhnya oleh klien. Sebagai standar, tata ruangnya terdiri dari gabungan lounge dan ruang makan seluas 538 kaki persegi, bersama dengan dapur lengkap, satu suite pemilik, empat kabin dan tempat tidur hingga enam awak. Anda juga akan melihat pemandangan bawah laut yang luar biasa, berkat jendela melingkar yang besar di sekelilingnya.

U-Boat Worx mengatakan Nautilus dapat dibuat dan dikirimkan ke pelanggan dalam waktu 30 bulan. Untuk harga, Nautilis ditawarkan mulai dari US$24,5 juta.

Bagaimana Cara Pilot Masuk ke Kokpit Pesawat Saat Terkunci dari Luar?

Insiden terkait pesawat tak melulu soal kecelakaan melainkan ada hal lain lebih sederhana, seperti pilot terkunci dari luar pintu kokpit. Meskipun secara prosedur ini tidak mungkin terjadi dalam sebuah penerbangan karena kokpit tidak boleh kosong, namun andaipun terjadi, bagaiamana cara pilot masuk ke dalam kokpit?

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Pintu Kokpit Cegah Pembajakan? Berikut Ulasannya

Salah satu pengguna Quora menyebut, pintu kokpit pesawat modern setidaknya memiliki lima komponen utama, mulai dari pintu anti peluru dengan tambahan electronic triple bolt, lubang intip (peephole), kamera di kabin untuk memantau aktivitas penumpang dan kru, panel kontrol pintu kokpit dengan tiga mode (normal, lock, dan unlock), serta panel keyboard di area kabin dan telepon untuk komunikasi kru dengan pilot.

Sebagai bagian dari standar keamanan terbang, setiap pramugari yang hendak masuk ke kokpit, diharuskan membunyikan bel terlebih dahulu. Kru kokpit kemudian dapat mengecek secara visual dengan fitur lubang intip atau kamera. Bila benar pramugari, tentu akan dibukakan, bila tidak, jangan harap pilot akan membukanya.

Lagi pula, bila kedapatan bukan pramugari yang mengetuk atau menggedor pintu, bisa dipastikan, pilot akan mengaktifkan pengamanan tambahan pintu kokpit dengan mode ‘lock’ dalam keadaan on. Otomatis, tiga baut tambahan akan memperkuat ketahanan pintu kokpit terhadap segala macam bentuk pembobolan.

Hanya saja, terkadang, situasi dan kondisi tetap mengharuskan pintu kokpit harus dibuka dari luar. Misalnya, pilot pingsan akibat turbulensi, terbang melebihi batas ketinggian maksimum pesawat, pingsan karena gangguan kesehatan, atau bahkan terkunci dari luar setelah ditinggal pergi ke toilet. Dalam kondisi tersebut, mau tak mau pintu kokpit harus bisa dibuka dari luar.

Mengantisipasi hal itu, regulator penerbangan sipil dunia memberi akses masuk dari luar pintu kokpit bagi awak kabin, termasuk pilot, dengan menggunakan kode khusus di keypad yang tersedia dekat pintu kokpit. Setelah kode khusus tersebut diakses, pintu tak serta merta terbuka. Harus menunggu 30 detik. Pendapat lain menyebut 5-10 detik.

Saat kode akses masuk pintu kokpit berhasil dimasukkan dengan benar akan ada alarm yang berbunyi dan indikator yang menyala di kokpit.

Dalam keadaan normal, pilot dan kopilot memiliki dua pilihan, unlock atau lock. Bila ‘unlock’ yang dipilih, maka seketika pintu kokpit bisa dibuka. Sebaliknya, bila ‘lock’ yang dipilih, maka pintu kokpit akan tetap terkunci dan keypad akses di luar tidak berfungsi selama beberapa waktu.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Selain dua pilihan itu, sesuai dengan konteks pertanyaan di awal dimana pilot terkunci dari luar pintu kokpit, menyisakan satu pilihan lain yaitu tidak merespon unlock ataupun lock. Di kondisi ini, pintu kokpit akan tetap terkunci selama beberapa waktu sambil mengeluarkan alarm cukup kencang di kokpit. Ini dimaksudkan agar pilot-kopilot sadar dari tidur atau pingsan agar bisa merespon permintaan masuk dari luar pintu kokpit.

Setelah itu, kode akses berfungsi kembali dan pilot yang terkunci dari luar bisa memasukkan kembali kode akses, menunggu beberapa saat dan pintu kokpit dapat dibuka sebelum menutup dan terkunci lagi secara otomatis.

Dalam Penerbangan Jarak Jauh, Inilah yang Dilakukan Pilot untuk Mengatasi Jenuh

Dalam penerbangan jarak jauh yang memakan waktu lama, tersebit dipikiran penumpang, apa saja yang dilakukan pilot di dalam kokpit? Mengendalikan dan memantau tools navigasi penerbangan itu sudah jelas, tapi apakah di penerbangan yang panjang hingga belasan jam, pilot tidak bisa melakukan hal yang lebih santai? Toh, pilot didampingi oleh kopilot, sehingga beban pekerjaan dapat dibagi.

Baca juga: Sterile Cockpit Rule, Inilah Aturan yang Melarang Pilot dan Kopilot ‘Ngobrol’ Selama Penerbangan

Untuk menjawab pertanyaan di atas, diskusi di quora.com menjadi menarik untuk disimak, lantaran beberapa komentar diutarakan oleh pilot atau mantan pilot. Pendapat umum mengungkapkan bahwa pilot ‘tetap’ cukup sibuk di kokpit, berbicara dengan petugas ATC (Air Traffic Control), memantau pembakaran bahan bakar, update kondisi cuaca di wilayah tujuan.

Namun, ‘selama masa tenang’, salah satu yang dapat dilakukan untuk mengatasi kejenuhan adalah dengan bermain “bagaimana jika”. Semisal awak kokpit menyajikan skenario darurat atau mendesak, dan rekan lain bekerja mencari solusi. Hal ini akan melibatkan pengetahuan tentang sistem pesawat, peraturan udara, dan kesadaran situasional pada kondisi maksimal. Seringkali skenario akan mencakup cara terbaik untuk berinteraksi dengan awak kabin dan penumpang.

Lain dari itu, membahas rencana singgah (layover) selalu menjadi topik diskusi pada penerbangan yang panjang, serta hampir semua topik lain yang kemungkinan tidak terlalu menarik untuk mengalihkan perhatian kru dari tugas mereka.

Ada yang Kerap Dilanggar Pilot
Pendapat lain diungkapkan Randy Duncan, pilot komersial ini menyebut bahwa perusahaanya melarang membaca materi yang tidak relevan selama penerbangan. “Ini mungkin peraturan yang paling sering dilanggar,” ujar Duncan.

Sejauh ini, hal paling populer untuk dilakukan selama penerbangan panjang adalah membaca buku, koran, majalah, dan Kindles. “Saya telah melihat sangat, sangat sedikit di kokpit, di mana kapten melarangnya. Lelucon yang ada adalah seperti komentar, saya tidak membaca … saya hanya melihat gambar-gambarnya,” kata Duncan.

Duncan menambahkan, “saya tahu ini tampaknya sangat tidak profesional. Tetapi pesawat modern tidak membutuhkan pengawasan terus-menerus seperti yang mereka lakukan di masa lalu. Pilot terbang memeriksa pembakaran bahan bakar di setiap ketinggian penerbangan dan melacak navigasi serta komunikasi. Itu berarti bahwa kami selalu mendengarkan apa yang terjadi pada frekuensi dan pesawat. Dan tidak ada yang membaca untuk rekreasi di wilayah udara yang padat atau cuaca buruk.”

Namun, hal semacam di atas bisa ‘lepas kendali,’ sehingga awak kokpit perlu menjaga kesadaran yang baik tentang apa yang terjadi.

Kilas balik pada insiden yang terjadi di Oktober 2009, pilot maskapai penerbangan Northwest 188, larut dalam percakapan tentang program penjadwalan kru baru dan membuka laptop. Akibatnya, tidak ada yang mendengarkan radio atau memantau navigasi. Pesawat pun terbang melewati tujuan sejauh 100 mil. Seorang pramugari memperhatikan bahwa mereka seharusnya sudah mendarat saat itu dan memberi tahu pilot.

Baca juga: Waduh, Pilot Ryanair Operasikan Pesawat Sambil Mainin “Ayam-ayaman”

Dari hasil investigasi, diketahui bahwa pesawat tersebut telah kehilangan kontak dengan ATC selama hampir dua jam. Selain menjadi insiden yang memalukan, akibat yang ditimbulkan dari pilot yang ‘keasyikan’ ngobrol bisa membahayakan keselamatan penerbangan.

Militer Meksiko Dirikan Maskapai Penerbangan Komersial, Terinspirasi Kostrad TNI AD yang Dirikan Mandala Air?

Guacamaya Leaks membocorkan ribuan dokumen dari tentara Meksiko pekan lalu. Di antara dokumen tersebut, terdapat informasi yang menyebut Angkatan Darat Tentara Nasional Meksiko akan mendirikan maskapai penerbangan komersial. Isu ini pun menjadi bola liar selama beberapa hari belakangan, sebelum akhirnya dikonfirmasi Presiden Meksiko, Andrés Manuel López Obrador.

Baca juga: Mandala Airlines Akhirnya Bangkrut Walau Didukung Sandiaga Uno, Buntut Kecelakaan Flight 091?

Pada Selasa lalu, López Obrador mengungkapkan Angkatan Darat akan mendirikan maskapai penerbangan komersial. Rencananya, maskapai tersebut mulai aktif beroperasi pada tahun 2023 mendatang.

Tujuannya adalah untuk menggantikan beberapa maskapai penerbangan komersial yang bangkrut atau menutup rute-rute domestik dalam jumlah besar.

“Banyak tempat yang tidak bisa dijangkau dengan pesawat karena tidak dilayani oleh maskapai saat ini. Ada juga pengurangan penerbangan karena hilangnya Mexicana dan Interjet dan pemotongan (kapasitas) oleh Aeromar,” jelasnya.

Kami memiliki kota-kota yang dulunya memiliki penerbangan tetapi telah kehilangan konektivitas ini. Negara ini tumbuh dan akan tumbuh lebih banyak, tetapi kami membutuhkan lebih banyak maskapai penerbangan,” tambahnya, seperti dikutip dari media lokal El Universal.

Lebih lanjut, sang presiden mengungkapkan maskapai bentukan Angkatan Darat Tentara Nasional Meksiko itu harus menggunakan nama maskapai yang dahulu pernah eksis, Mexicana de Aviación. Nama maskapai tersebut sudah melekat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Mesiko karena sudah berdiri sejak tahun 1920 dan harus menerima kenyataan pahit bangkrut pada tahun 2010 silam.

Meski tujuannya baik, namun, konstitusi Meksiko melarang pengelola bandara memiliki maskapai begitu juga sebaliknya.

Saat ini, Angkatan Darat Tentara Nasional Meksiko diketahui mengoperasikan tiga bandara, Bandara Felipe Ángeles, Bandara Palenque, dan Bandara Chetumal serta Bandara Internasional Tulum (yang sedang dibangun menjadi bandara masa depan Meksiko) di bawah perusahaan bernama Grupo Aeroportaurio Ferroviario de Servicios Auxiliares Olmeca Maya Mexica.

Karenanya, pihak Angkatan Darat bersama DPR Meksiko dan pemerintah berencana untuk mengubah konstitusi agar rencana tersebut legal dan bisa berjalan sesuai rencana.

Belum ada keterangan pasti maskapai baru bentukan Tentara Nasional Meksiko ini akan terbang ke rute mana saja. Namun, menurut Cirium, hanya ada enam rute penting yang hilang di Mexico City; Toluca-Acapulco, Mexico City-Tamuin, Mexico-Saltillo, Mexico-Palenque, Mexico-Poza Rica, dan Mexico City-Lazaro Cárdenas.

Rencananya, maskapai tersebut akan diperkuat 10 pesawat sewaan dan pesawat kepresidenan Boeing 787 Dreamliner yang sudah sejak tahun 2018 silam ingin dijual sang presiden.

Baca juga: Hari Ini, 17 Tahun Lalu, Bouraq dan Mandala Airlines Jadi ‘Korban’ Arogansi Militer AS dalam Insiden Bawean

Ini bukan kali pertama sebuah instansi militer sebuah negara mendirikan maskapai. Dahulu, salah satu kesatuan di TNI AD, Kostrad, pernah mendirikan dan mengoperasikan maskapai dalam waktu cukup lama. Maskapai itu adalah Mandala Air.

Dikutip Tirto, Mandala Air berdiri pada 17 April 1969 di bawah naungan PT Dharma Kencana Sakti milik Yayasan Dharma Putra (Kostrad). Meski berstatus sebagai pendiri, PT Dharma Kencana Sakti hanya memiliki 40 persen saham, lebih kecil sedikit dibanding PT Nusantara Ampera Bakti milik Bob Hasan sebesar 45 persen.
























Pesawat Ryanair Mendarat Selamat Meski ‘Dihantam’ Crosswind di Bandara Cristiano Ronaldo

Terlepas dari keindahan Pulau Madeira, Portugal, tanah kelahiran bintang sepak bola kenamaan dunia, Cristiano Ronaldo, tersebut pasti membuat siapapun yang berkunjung ke sana (menggunakan pesawat) takut sejadi-jadinya.

Baca juga: (Video) Pendaratan Mulus di Bandara Cristiano Ronaldo, Bandara Paling Berbahaya di Dunia

Betapa tidak, alih-alih mendarat di bandara besar nan aman, Pulau Madeira justru menawarkan bandara dengan runway pendek dan curam. Sedikit kesalahan sudah pasti akan fatal.

Bandara yang sempat berganti-ganti nama ini, mulai dari Bandara Saint Chatarina, Bandara Funchal, dan terakhir Bandara Internasional Cristiano Ronaldo, pertama dibuka tahun 1964 dengan dua landasan pacu sepanjang 1600 meter. Runway di sini juga diketahui beberapa kali direnovasi dan diperpanjang.

Kendati demikian, tetap saja, mendarat di sini bukan suatu hal yang menyenangkan, apalagi bila cuaca sedang tidak bersahabat. Seperti pendaratan oleh pesawat Ryanair belum lama ini.

Dilihat KabarPenumpang.com dari unggahan video dari Twitter @mundoaeroclub, tampak pesawat Boeing 737 Ryanair tengah melakukan landing approach. Usai mencapai posisi vertikal dengan runway, pesawat berbelok ke kanan 90 derajat dan menuju runway.

Semakin mendekati runway, pesawat semakin oleng dan membuat posisi pesawat tidak mengarah ke runway akibat dihantam crosswind atau angin dari arah samping. Dalam video tersebut tampak cuaca normal dan tidak sedang dilanda hujan deras.

Kendati begitu, pilot-kopilot tetap berupaya untuk menurunkan ketinggian pesawat sambil mengembalikan arahnya ke runway.

Namun tidak berhasil. Saat touchdown, main landing gear pesawat menyentuh landasan pacu, moncong pesawat masih mengarah ke 30 derajat ke kiri. Beruntung, kru kokpit berhasil menyeimbangkannya dan nose landing gear pun menyentuh runway bersamaan dengan arah laju pesawat yang lurus menuju ujung runway.

Di Madeira atau Bandara Cristiano Ronaldo, pendaratan seperti itu bukan kali pertama terjadi, melainkan sudah sangat sering. Pilot senior bahkan sangat menyukai sensai pendaratan pesawat di bandara yang masuk ke dalam daftar 10 bandara terekstrem di dunia itu.

Meski begitu, bandara paling ekstrem di dunia ini bukan berarti tidak pernah terlibat kecelakaan. Bahkan bisa dibilang cukup banyak terjadi kecelakaan sejak bandara pertama kali dibuka.

Salah satu yang paling fenomenal adalah kecelakaan pada 1980, dimana pesawat Boeing 727 yang terbang dari Brussel jatuh di ujung landasan saat akan mendarat dan menewaskan 131 penumpang. Sejak adanya kejadian itu, landasan pacu ini diperpanjang dengan sanggahan 150 tiang beton penopang.

Di luar itu, kecelakaan sering terjadi dengan jumlah korban tewas cukup beragam. Pada 5 Maret 1973, tidak lama setelah bandara ini di buka, sebuah Aviao Sud Caravelle 10R (Registrasi EC-BID) masuk ke laut dan menewakan tiga orang kru.

Empat tahun kemudian, tepatnya 19 November 1977, TAP Portugal perbangan 425, Boeing 727-200 terbang Brussels ke Madeira via Lisbon.

Baca juga: Banyak Kecelakaan Tapi Bandara Ini Mendapat Award Bergengsi

Setelah berputar, pesawat mencoba mendarat dalam keadaan cuaca yang buruk, pesawat mendarat panjang pada landasan pacu 24 dan terjun melewati tepian yang curam. Kemudian menabrak sebuah jembatan batu dan sayap kanannya rusak, lalu menabrak keras ke sebuah pantai. Api membakar pesawat dan menewaskan 131 penumpang dari 164 penumpang di dalamnya.

Ditahun yang sama tepatnya sebulan kemudian pada 18 Desember 1977, SA de Transport Aérien Penerbangan 730 di perbolehkan oleh pihak bandara untuk mendekati landasan pacu, sayangnya ketinggian pesawat tersebut dibawah 720 kaki dan menyebabkan pesawat menghantam laut, serta menewaskan 36 penumpang.

Dengan Boeing 737-800NG, Garuda Indonesia Kembali Layani Rute Makassar – Denpasar

Garuda Indonesia mulai hari Jumat, 7 Oktober 2022, akan kembali melayani penerbangan Makassar – Denpasar Pengoperasian kembali rute Makassar -Denpasar ini merupakan bagian dari upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap aksesibilitas transportasi udara yang menghubungkan dua hub penerbangan terbesar di wilayah Indonesia Timur dan Indonesia Tengah tersebut.

Baca juga: Garuda Indonesia Luncurkan Paket Umrah 4 Hari Rp 24 Jutaan

Rute penerbangan Makassar – Denpasar akan dilayani tiga kali per minggu, yaitu pada hari Rabu, Jumat, dan Minggu, menggunakan pesawat Boeing 737-800NG. Penerbangan dari Makassar akan dilayani dengan penerbangan GA-621 yang akan diberangkatkan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada pukul 18.30 WITA dan dijadwalkan tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar pada pukul 20.05 WITA.

Sedangkan penerbangan dari Denpasar akan dilayani dengan nomor penerbangan GA-620 yang diberangkatkan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada pukul 20.50 WITA untuk selanjutnya mendarat di Makassar pada pukul 22.15 WITA.

Ke depannya, layanan penerbangan Makassar – Denpasar juga akan memfasilitasi pengangkutan komoditas kargo dari Makassar yang terdiri dari general cargo serta marine products seperti tuna, kepiting hidup, dan lobster, yang akan dikirimkan langsung menuju Jepang melalui pengembangan jaringan rute penerbangan internasional dari Denpasar.

Baca juga: Ganti Direktur dan Komisaris, Bagaimana Nasib Drone Kargo Garuda Indonesia?

Garuda Indonesia pada periode September – Oktober 2022 akan melaksanakan penambahan frekuensi penerbangan pada rute-rute penerbangan domestik yang dinilai punya kinerja positif. Penambahan frekuensi tersebut telah dan akan dilaksanakan pada beberapa rute penerbangan domestik yang dilayani dari Jakarta, di antaranya:

• Jakarta – Tanjung Pinang, yang mulai 2 Oktober 2022 akan dilayani sebanyak 5 kali setiap minggunya (dari sebelumnya 2 kali per minggu);

• Jakarta – Malang, yang mulai 17 Oktober 2022 akan dilayani sebanyak 3 kali setiap minggunya (dari sebelumnya 2 kali per minggu);

• Jakarta – Bengkulu, yang mulai 2 Oktober akan dilayani sebanyak 5 kali setiap minggunya (dari sebelumnya 3 kali per minggu);

• Jakarta – Palangkaraya, yang mulai 14 Oktober 2022 akan dilayani sebanyak 4 kali setiap minggunya (dari sebelumnya 3 kali per minggu); dan

• Jakarta – Lampung, yang mulai 24 September 2022 dilayani setiap hari (dari sebelumnya 6 kali per minggu).

Apa yang Terjadi Bila Pesawat Widebody Mendarat di Bandara Kecil dengan Landasan Pendek?

Dalam kondisi normal, pesawat hanya mendarat di bandara tertentu sesuai dengan bobot dan dimensinya. Namun dalam keadaan darurat, pesawat (widebody) harus segera mendarat di bandara terdekat. Celakanya, hanya ada bandara dengan runway atau landasan pendek dan kecil bukan peruntukannya dan mau tak mau harus tetap mendarat. Bila ini dilakukan, apa yang akan terjadi? Begitupun juga sebaliknya, apa yang terjadi bila landasan pacu tidak cukup panjang untuk pesawat lepas landas?

Baca juga: Apakah Seluruh Pesawat Bisa Mendarat di Bandara Manapun?

Di dunia, ukuran runway berbeda-beda tergantung kebutuhan. ICAO sendiri sudah mengatur dan mengklasifikasikan runway dalam empat golongan atau kode (code).

Code number 1 panjang landasan pacu kurang dari 800 meter. Code number 2, panjang landasan pacu antara 800 meter sampai 1.200 meter. Code number 3, panjang landasan pacu mulai dari 1.200 meter sampai 1.800 meter.

Code number 4, panjang landasan pacu mulai dari 1.800 meter sampai 1.900 meter. Terakhir, runway dengan kode nomor 6 memiliki panjang landasan pacu mulai dari 1.900 atau lebih hingga 4.200 meter.

Pada umumnya, landasan pacu pesawat komersial memiliki panjang mulai dari 2.438 meter (8.000 kaki) sampai 3.962 meter 913 ribu kaki).

Panjang landasan pacu bandara tentu berkaitan dengan pesawat, dalam hal ini bobot serta kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas. Karenanya, tak semua pesawat bisa mendarat di seluruh bandara. Namun, dalam kondisi darurat, pesawat bisa saja mendarat di bandara atau landasan pacu kecil yang bukan peruntukannya. Hal ini pernah terjadi pada tahun 2013 silam.

Menurut pengguna Quora, Ian Beyer, ketika itu pesawat Boeing Dreamlifter (Boeing 747-400LCF yang dimodifikasi untuk membawa bagian-bagian seperti badan pesawat Boeing 787 Dreamliner) mendarat di Bandara James Jabara Wichita -panjang runway 6.100 kaki atau 1.859 meter- dari seharusnya di landasan pabrik Beechcraft yang tak jauh dari lokasi pendaratan.

Proses pendaratan berjalan mulus tanpa adanya insiden overrun atau keluar dari landasan pacu (runway) akibat terlalu pendek. Saat itu, pesawat mendarat dalam kondisi kosong dan baru ingin menjemput bagian pesawat Boeing 787 Dreamliner yang dibuat Spirit Aerosystems di pabrik Beechcraft.

Kendati demikian, itu bukan berarti tanpa masalah. Diketahui, runway tempat pesawat mendarat dan bermalam untuk mencari cara agar pesawat berbadan lebar ini (widebody) bisa lepas landas dengan aman dari bandara tersebut, retak akibat tak mampu menahan bobot berat pesawat. Hal itu wajar mengingat runway memang tidak dipersiapkan untuk menahan bobot sebesar itu.

Baca juga: Mengapa Penumpang Harus Tetap Duduk Pakai Sabuk Pengaman Setelah Pesawat Mendarat? 

Keesokan harinya tim melakukan analisis untuk bisa menerbangkan pesawat berbobot besar di runway pendek. Beruntung, pada suatu momen di malam hari, suhu mencapai titik beku dan membawa angin berkecepatan 20 knot per jam yang bertiup dari utara.

Suhu dingin dan kelembaban tinggi yang membuat udara hampir sepadat di permukaan laut daripada ketinggian 1400 yang berkombinasi dengan angin memberikan daya angkat ekstra untuk pesawat yang lepas landas dari arah berlawanan (selatan). Pesawat juga dikondisikan seringan mungkin dengan cara mengurangi bahan bakar. Alhasil, pesawat Boeing Dreamlifter berhasil lepas landas dari runway pendek.

Mengapa Benua Eropa dan Afrika Tidak Terhubung Jembatan atau Kereta Bawah Laut?

Seiring perkembangan teknologi di bidang sipil dan engineering, daratan yang terpisahkan oleh perairan di beberapa tempat bisa terhubung dengan jembatan atau terowongan bawah laut (kereta bawah laut).

Baca juga: Hubungkan Cina, Rusia, Kanada dan AS, Bagaimana Nasib Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Sepanjang 200 Km?

Turki Eropa dan Asia yang terpisah oleh Selat Bosphorus, misalnya, terhubung oleh Jembatan Martir atau Jembatan Bosphorus. Inggris dan Perancis, yang terpisah oleh Selat Inggris, pada tahun 1994 terhubung dengan terowongan bawah laut yang bisa dilintasi kereta cepat bawah laut. Ada juga di Jepang dimana Pulau Hokkaido dan Pulau Honshu terhubung oleh kereta cepat Shinkansen di bawah laut.

Akan tetapi, mengapa benua Eropa dan benua Afrika tidak terhubung jembatan atau kereta bawah seperti contoh di atas? Padahal selat yang memisahkan kedua benua itu hanya selebar 14 kilometer.

Menurut pengguna Quora, William Alexander, adanya jembatan atau terowongan bawah laut, sebagaimana disebutkan di atas, tidak bisa disamakan dengan benua Afrika dan Eropa. Sebab, masing-masing memiliki tantangan tersendiri dan salah satu tantangan terbesar di perairan Selat Gibraltar adalah kedalamannya yang mencapai 900 meter di area sekitar 500 meter.

Karenanya, untuk membangun sebuah konstruksi kokoh yang melampaui kedalaman tersebut, tentu membutuhkan tidak sedikit biaya. Andai pun dana bisa dicari dan dihadirkan untuk membangun proyek raksasa untuk menghubungkan benua Afrika dan Eropa, itu tak berarti menjawab persolan. Itu baru satu soal.

Soal lainnya, belum tentu, termasuk terkait teknologi. Sebab, para ahli juga belum pernah membangun konstruksi mencapai kedalaman 900 meter.

Tak berhenti sampai di situ, kencangnya arus di Selat Gibraltar pun menjadi faktor yang mempersulit untuk membangun jembatan antara Benua Eropa dan Afrika. Seperti yang sudah disinggung, letak Selat Gibraltar berada di laut lepas Samudra Atlantik. Kondisi laut lepas dengan arus yang sangat kencang ke berbagai arah membuatnya semakin susah untuk membangun konstruksi yang stabil.

Kemungkinan besar jembatan antara Benua Eropa dan Afrika mustahil diwujudkan, para ahli tak menyerah begitu saja. Mereka berencana membangun terowongan bawah laut. Tetapi lagi-lagi hal ini susah karena dasar Selat Gibraltar bermaterial batu yang sangat keras sehingga sulit untuk digali.

Lebih dari tantangan ketiga itu, terlalu dalam, arus bawah laut yang terlalu kuat, dan mahalnya biaya konstruksi untuk membuat jembatan ataupun terowongan bawah laut, antara Eropa dan Afrika bak bumi dan langit, jauh berbeda.

Baca juga: Miliki Konstruksi Baja Jepang, Jembatan Ini Masih Bertahan Sejak Tahun 1880

Orang-orang dari Afrika tentu saja tertarik ingin menyerbu Eropa. Namun, bagaimana dengan Eropa? Tentu persentase ketertarikannya untuk melintas ke Afrika cenderung kecil, kendati Afrika utara, seperti Maroko dan Aljazair, semakin menarik dikunjungi.

Meski begitu, terkait tantangan engineering mungkin seiring waktu bisa dicarikan solusinya. Namun, terkait politik kepentingan adanya jembatan atau terowongan bawah laut antara Afrika dan Eropa, ini yang mungkin akan stagnan sampai waktu yang lama karena satu dan lain hal.

Apa yang Terjadi Bila Pesawat Terbang Terlalu Tinggi?

Pesawat adalah moda transportasi paling canggih di dunia. Kendati begitu, pesawat mempunyai batasan-batasan, termasuk batasan ketinggian terbang. Lantas, apa yang terjadi bila pesawat terbang terlalu tinggi melampaui batasan yang sudah ditetapkan oleh pabrik atau manufaktur?

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

Menurut praktisi penerbangan Armchair Expert, George Gonzalez, seperti dikutip dari Quora, pesawat yang terbang terlalu tinggi setidaknya akan terjadi dua hal, yaitu stall dan mesin mati.

Saat dua hal ini terjadi, pesawat bisa saja kembali mendapat kontrol penuh dari pilot dan kopilot. Begitupun juga dengan mesin yang mati, itu bisa saja di-restart dengan catatan pesawat sudah turun dari batas ketinggian maksimum pesawat (servie ceilling) dan pilot-kopilot melakukan langkah-langkah yang tepat dalam me-restart mesin.

Dalam sebuah tulisan yang dilansir flightdeckfriend.com, pesawat komersial umumnya terbang antara 37 ribu kaki sampai 43 ribu kaki di atas permukaan laut. Di atas itu, pesawat akan mengalami apa yang disebut sebagai Coffin Corner.

Ini adalah kondisi dimana low speed stall dan high-speed buffet sehingga membuat pesawat tidak lagi bisa mempertahankan ketinggiannya dan memaksa untuk turun. Saat ini terjadi, pesawat akan kehilangan kontrol karena mesin mati dan udara yang berada di sayap tak mendukung aerodinamika pesawat.

Kemungkinan lainnya saat pesawat terbang melebihi ketinggian maksimum, bukan hanya terjadi stall dan pesawat akan kehilangan ketinggian, tetapi mesin akan meledak dan terbakar sehingga tak bisa di-restart ulang untuk melanjutkan penerbangan.

Lebih lanjut, ketinggian pesawat terbang tidak selalu sama di segala kondisi sesuai dengan ketetapan pabrik. Itu sangat tergantung dengan muatan yang dibawa serta musim. Biasanya ketinggian maksimum pesawat akan lebih rendah saat musim panas. Pesawat disebut tidak lagi mampu mencapai rate of climb setidaknya 300 kaki per menit.

Dari segi perbedaan tekanan kabin, ini akan membuat pesawat mengalami kegagalan struktural. Diektahui, semakin tinggi semakin tipis udara dan tidak cukup oksigen untuk membuat manusia bernapas dengan normal.

Karenanya, udara dingin mencapai 60 derajat di ketinggian 37 ribu – 43 ribu kaki diolah di dalam mesin sehingga lebih hangat dan mencapai ambang normal yang dibutuhkan manusia. Itu kenapa manusia bisa bernapas di ketinggian 37 ribu ke atas saat di dalam pesawat.

Namun, lebih dari itu, mesin mati dan proses suplai udara ke dalam kabin akan terganggu. Ini tentu membahayakan penumpang dan kru. Selain itu, udara di dalam kabin dan udara di luar pesawat mengalami perbedaan jauh di atas normal yaitu mencapai 9 psi. Andai ini terjadi, pesawat akan mengalami kegagalan struktural.

Di dunia, pesawat komersial terbang melebihi ketinggian maksimum pernah terjadi. Dilansir Forbes, pada tahun 2004 silam, pilot-kopilot maskapai Pinnacle Airlines 3701 diketahui tengah menjalani penerbangan reposisi tanpa penumpang.

Baca juga: Bagaimana Bisa Oksigen Tersedia di Kabin Pesawat Saat di Ketinggian 30 Ribu Kaki Lebih?

Di tengah perjalanan, mereka meminta untuk diizinkan terbang di ketinggian 41 ribu kaki yang mana itu adalah batas ketinggian maksimum pesawat. Pesawat akhirnya mengalami kegagalan mesin dan keduanya tidak mampu me-restart-nya sehingga sehingga berakhir nahas.

Menjawab pertanyaan di awal, pesawat akan mengalami stall dan kegagalan mesin saat terbang melebihi ketinggian maksimum. Ini bisa berarti dua, mesin mati tanpa terbakar dan bisa di-restart ulang ataupun sebaliknya. Selain itu, pesawat akan mengalami kegagalan struktural akibat perbedaan tekanan di dalam kabin dan di luar kabin melebihi batas normal 9 psi.

Hyundai Rotem Luncurkan EMU-320, Kereta Berkecepatan Tinggi Tercepat di Korea Selatan

Hyundai Rotem, manufaktur rolling stock asal Korea Selatan, pada 27 September lalu meluncurkan kereta berkecepatan tinggi tercepat di Korea Selatan EMU-320 yang mampu melesat dengan kecepatan maksimum 320 km per jam.

Baca juga: Mulai 2029, Korea Selatan Hapuskan Operasional Semua Kereta Diesel 

Pihak Hyundai Rotem mengatakan bahwa setelah uji coba, kereta baru akan dioperasikan di jalur berkecepatan tinggi Gyeongbu dan Honam di samping jenis KTX-1 dan KTX-Sancheon saat ini. Hyundai Rotem menambahkan bahwa sistem traksi terdistribusi kereta baru membuatnya unggul dari kereta api lainnya dalam hal kinerja akselerasi dan deselerasi serta kapasitas penumpang.

Sistem tenaga terdistribusi sudah digunakan pada KTX-Ieum buatan Hyundai Rotem, atau EMU berkecepatan tinggi kelas Korail 150000 yang digunakan di jalur Jungang, Gangneung, Yeongdong dan Jungbu Naeryuk.

“Di lingkungan kereta api domestik, dengan banyak bagian melengkung dan jarak pendek antar stasiun, sistem tenaga terdistribusi lebih efisien,” kata Hyundai Rotem, yang menambahkan bahwa sistem ini juga disukai oleh operator berkecepatan tinggi lainnya di seluruh dunia.

Baca juga: Ini Jalur Metro dan Kereta Bawah Tanah Terpanjang di Dunia, Korea Selatan Diurutan Pertama

Dikutip dari railjournal.com (3/10/2022), pada upacara pembukaan diumumkan bahwa gelombang pertama kereta EMU-320 telah dikirim ke operator kereta Korea Korail, dan pengiriman gelombang kedua diharapkan pada bulan November mendatang.