Bawa 40 Kg Bawang dan Buah-buahan dari Timur Tengah, 10 Awak Kabin Philippine Airlines Langgar UU Bea Cukai

Salah satu berkah menjadi awak kabin adalah dapat menyambangi beragam destinasi di manca negara. Dan sudah lazim, saat lay over, awak kabin banyak membeli cindera mata. Tapi tak sedikit juga, yang menjadikan kesempatan tersebut untuk menjalankan bisnis sampingan, mulai dari jastip (jasa titipan) sampai memborong barang dan makanan untuk dijual kembali. Tentu saja jika volume dan beratnya di luar kalaziman, maka akan menjadi masalah tersendiri.

Baca juga: Bea Cukai Bandara Dallas-Forth Worth Amankan Jeruk dan Olahan Babi

Seperti belum lama ini, aparat Bea Cuka telah mengamankan 10 awak kabin maskapai Philippine Airlines, terkait dengan membawa bawang dan buah-buahan dengan berat yang tidak wajar.

Dikutip dari philstar.com (15/1/2023), pihak Philippine Airlines (PAL) sedang menyelidiki setidaknya 10 awak kabin karena diduga berusaha menyelundupkan hampir 40 kilogram bawang dan buah-buahan dari Timur Tengah ke negara itu. Memorandum Bea Cukai menyatakan bahwa awak PAL Penerbangan PR655 dari Riyadh ditangkap dengan 11,5 kilogram bawang merah dan enam kilogram lemon dengan nilai pasar total US$100.

Tidak itu saja, awak kabin Penerbangan PR659 dari Dubai ditangkap dengan 15,5 kg bawang merah, 4,5 kg lemon, dan satu kg stroberi dan blueberry senilai US$150.

Juru bicara PAL Cielo Villaluna mengatakan maskapai sedang “menyelidiki insiden yang melibatkan 10 awak yang ditemukan membawa sayuran dan buah-buahan yang tidak diumumkan di bagasi mereka setelah terbang dari Riyadh dan Dubai.”

Dewan Komisaris mengatakan dua penerbangan PAL dari Riyadh dan Dubai tiba di Terminal 1 Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA) pada 10 Januari, dengan kru melewati jalur bea cukai dan wajib untuk memeriksa barang bawaan mereka.

“Setelah pemeriksaan fisik, pemeriksa Bea Cukai menemukan berbagai macam produk pertanian dan merujuknya ke petugas karantina tanaman Celeste Barrios dari Biro Industri Tanaman, yang menyita barang tersebut untuk dibuang dengan benar,” kata pihak Bea Cukai Filipina.

Baca juga: Per Agustus 2019, Bea Cukai Arab Saudi Sita Produk Tembakau yang Tidak Memiliki Stempel Pajak

Juru bicara Bea Cukai Bandara Ninoy Aquino Arnaldo dela Torre Jr. mengatakan tidak ada tuntutan yang diajukan terhadap 10 awak kabin PAL. Dia menegaskan, satu-satunya tindakan yang diambil saat kejadian adalah penyitaan barang dan segera menyerahkannya ke otoritas karantina.

Airbus UpNext Uji Teknologi Navigasi Penerbangan Terbaru di A350-1000 “DragonFly”

Airbus UpNext, anak perusahaan Airbus yang berfokus pada masa depan penerbangan, telah mulai menguji teknologi baru yang mengeksplorasi kemungkinan sistem penerbangan otonom. Pengujian teknologi baru tersebut menggunakan pesawat uji A350-1000 yang dijuluki Airbus DragonFly demonstrator.
Airbus DragonFly digunakan untuk menguji teknologi  test on ground dan in flight pilot assistance— termasuk pengalihan darurat otomatis selama penerbangan, pendaratan otomatis, dan bantuan saat pesawat melakukan taxii di bandara. Solusi ini memungkinkan awak dapat lebih memahami lingkungan kerja mereka, dan membantu mendukung pengambilan keputusan, yang pada akhirnya membuat operasi “lebih aman dan lebih efisien,” kata Airbus dalam siaran pers.
Nama “DragonFly” terinspirasi oleh serangga itu sendiri, berkat penglihatannya yang luar biasa, dan “kemampuan untuk melihat dalam 360 derajat dan mengenali landmark,” jelas Airbus.
“Sama seperti capung dapat mengenali tengara yang membantu mereka menentukan batas, demonstran kami dilengkapi dengan teknologi dan perangkat lunak penginderaan mutakhir, yang mampu mengelola operasi penerbangan dan pendaratan,” kata Isabelle Lacaze, kepala uji DragonFly.

Tujuan DragonFly adalah untuk menyediakan pesawat dengan lapisan keamanan ekstra, terutama dalam situasi darurat, atau saat mendarat dalam jarak pandang rendah atau cuaca sulit.
Semisal jika awak tidak dapat mengendalikan pesawat karena alasan apa pun, “fungsi onboard mendeteksi masalah dan secara otomatis memilih bandara yang paling sesuai untuk mengarahkan pesawat,” jelas Airbus. Teknologi ini juga dapat “disesuaikan” dengan keterampilan terbang pilot “untuk membebaskan mereka dari proses tambahan” dalam situasi darurat.
Namun, perusahaan telah memperhitungkan fakta bahwa jalur penerbangan, dan faktor eksternal lainnya, dapat menjadi target bergerak. Airbus UpNext mengatakan telah merancang DragonFly untuk memanfaatkan data yang dikumpulkan selama penerbangan, dikombinasikan dengan zona penerbangan, medan, dan kondisi cuaca, untuk membuat keputusan otomatis, namun cerdas, tentang tempat mendarat.
“DragonFly kami juga mendapat manfaat dari saluran komunikasi yang konstan antara pesawat dan Air Traffic Control (ATC) dan Pusat Kontrol Operasi maskapai untuk memastikan pendekatan yang aman dan terkoordinasi,” tambah perusahaan.
Performa tersebut telah diuji oleh Airbus, bekerja sama dengan anak perusahaan dan mitra eksternalnya — Cobham, Collins Aerospace, Honeywell, Onera, dan Thales.
DragonFly saat ini memasuki bulan ketiga dari kampanye pengujiannya, menurut Airbus, di mana penekanan akan ditempatkan pada kemampuan jalur terbang, pendaratan otomatis, dan teknologi bantuan pilot.

Diragukan Boeing, Bagimana Cara Airbus Bangun Tangki Hidrogen Kriogenik Pertamanya?

Boeing terus terang ragu dengan dipilihnya hidrogen sebagai bahan bakar berkelanjutan andalan di masa depan. Menurutnya, bahan bakar hidrogen membutuhkan tangki bahan bakar yang sangat besar melebihi pesawat. Namun hal itu tak membuat Airbus ragu. Pabrikan Eropa itu terus melanjutkan proyek pesawat hidrogen, dimulai dari tangki hidrogen kriogenik yang sedang dibangun.

Baca juga: Alasan Boeing Pesimis Hidrogen Sebagai Bahan Bakar: Tangki Bahan Bakar Lebih Besar dari Kabin

Di sela-sela gelaran Dubai Air Show pada tahun 2021, CSO Chris Raymond membeberkan alasan Boeing tidak menjadikan hidrogen sebagai bahan bakar bebas emisi di masa depan.

Menurutnya, sekilas hidrogen memang sangat menarik untuk dijadikan bahan bakar pesawat, termasuk juga kendaraan darat dan laut, di masa depan. Sebab, hidrogen lebih ringan dari bahan bakar fosil dan tidak menghasilkan emisi karbon melainkan hanya berupa uap air sebagai sisa pembakaran. Tak hanya itu, energi hidrogen juga 2,5 kali lebih besar per kilogram dari minyak tanah.

Tantangannya adalah, hidrogen tidak bisa langsung digunakan ketika diproduksi. Ia harus didinginkan dan dikompresi sebelum bisa dijadikan bahan bakar. Sudah begitu, tingkat kerapatannya yang payah membuat volume pesawat empat kali lebih banyak dibanding bahan bakar jet.

Karenanya, lanjut Chris, bahan bakar hidrogen membutuhkan sistem pendingin dan tangi penyimpanan bahan bakar yang besar. Saking besarnya, bukan tak mungkin tangki bahan bakar pesawat hidrogen lebih besar dibanding kabin penumpang, sesuatu yang agaknya tidak cukup efisien dari segi desain dan pada akhirnya bisa saja itu tidak begitu menarik untuk maskapai.

Karena sifatnya yang unik, bahan bakar hidrogen di pesawat membutuhkan tangki kriogenik untuk menjaga suhu hidrogen cair dikisaran -250 derajat celcius. Temperatur deep freeze membutuhkan material khusus, dinding yang lebih tebal, dan isolasi yang cukup di antara tumpukan silinder.

Airbus sendiri dilaporkan tengah membangun Pusat Pengembangan Tanpa Emisi (ZDEC) di Bremen, Jerman dan Nantes, Perancis. Itu nantinya akan menjadi pusat pengerjaan pembuatan tangki kriogenik bahan bakar hidrogen ZEROe Airbus.

Dalam laman resminya, Airbus mengatakan bahwa pembangunan ZDEC memerlukan waktu dan tak secepat kilat, mengingat butuh detail-detail berteknologi tinggi. Diperkirakan, itu baru bisa beroperasi penuh pada 2023. Setelah beroperasi penuh, tangki bahan bakar hidrogen cair diproyeksi rampung dan melakukan uji terbang perdana pada 2025.

Uji coba prototipe tangki kriogenik Airbus akan dilakukan pada pesawat uji ZEROe yang sudah beberapa kali mengemban misi itu.

“Ini adalah bukti nyata dari kerja sama tim di seluruh lokasi kami untuk melihat tank pertama ini diproduksi dengan sangat cepat. Metodologi yang gesit telah menghasilkan prototipe yang hebat dan akan membantu mendorong peningkatan dalam iterasi di masa mendatang. Kami ingin mengoptimalkan tank untuk efisiensi yang lebih besar dan mengurangi jejak lingkungannya lebih jauh,” jelas Head of Manufacturing of the ZEROe Aircraft and Head of Propulsion Industrial Architect, Chris Redfern.

“Lagipula, pesawat tanpa emisi harus sedekat mungkin dengan emisi nol sepanjang seluruh siklus hidupnya,” tutupnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: 4 Tantangan Pesawat Berbahan Bakar Hidrogen, Nomor 1 Tak Terbayang

Menurut Airbus, fasilitas Bremen-nya itu telah memiliki pengalaman luas terhadap sistem hidrogen cair. Pihaknya sudah melalui banyak proyek serupa guna mendukung bisnis Defence and Space business and the Ariane space division. Fasilitas ini akan fokus pada instalasi sistem dan pengujian kriogenik (mempelajari temperatur sangat rendah) tangki.

Adapun fasilitas di Nantes, lanjut Airbus, memfokuskan diri dalam struktur logam yang digunakan di sekitar center wing box pesawat. Mereka akan bertanggung jawab untuk mengembangkan teknologi logam dan komposit untuk diintegrasikan ke dalam tangki hidrogen. Fasilitas ini akan didukung oleh para ahli engineering Nantes Technocentre.

ATR 72 Yeti Airlines Jatuh Sesaat Lepas Landas, Tewaskan 72 Orang, Kecelakaan Udara Terburuk dalam 30 Tahun di Nepal

Hari Minggu kemarin, 15 Januari 2023, telah terjadi kecelakaan udara yang disebut paling mematikan dalam 30 tahun di Nepal. Kecelakaan fatal tersebut menimpa pesawat turboprop ATR 72-500 milik Yeti Airlines, yang jatuh di dekat kota Pokhara di Nepal tengah. Total 72 orang tewas, terdiri dari 68 penumpang dan empat awak, di antara korban terdapat tiga anak-anak dan tiga bayi.
Dikutip dari CNN.com yang melansir kabar dari Otoritas Penerbangan Sipil Nepal melaporkan upaya pencarian korban sempat ditunda karena kendala cuaca.
Menurut data dari Aviation Safety Network, insiden hari Minggu adalah kecelakaan paling mematikan ketiga dalam sejarah negara Himalaya itu. Satu-satunya insiden di mana lebih banyak orang tewas terjadi pada bulan Juli dan September 1992. Kecelakaan tersebut melibatkan pesawat yang dijalankan oleh maskapai penerbangan Thai Airways dan Pakistan International dan masing-masing menyebabkan 113 dan 167 orang tewas.
ATR 72-500 Yeti Airlines terbang dari ibu kota Kathmandu ke Pokhara, kota terpadat kedua di Nepal, dan pintu gerbang ke Himalaya. Pokahara terletak sekitar 129 kilometer (80 mil) di sebelah barat Kathmandu.
Pesawat terakhir melakukan kontak dengan Bandara Pokhara sekitar pukul 10.50 waktu setempat, sekitar 18 menit setelah lepas landas. Pesawat kemudian turun di Ngarai Sungai Seti di dekatnya. Responden pertama dari Angkatan Darat Nepal dan berbagai departemen kepolisian telah dikerahkan ke lokasi kecelakaan dan sedang melakukan operasi penyelamatan, kata otoritas penerbangan sipil dalam sebuah pernyataan.
Sebuah klip video di media sosial pada hari Minggu muncul untuk menunjukkan saat-saat sebelum pesawat jatuh. Film yang tampaknya diambil dari atap sebuah rumah di Pokhara, menunjukkan pesawat terbang rendah di atas daerah berpenduduk dan berguling ke samping sebelum pesawat tidak lagi terlihat di klip. Ledakan keras terdengar di akhir video.
Komite beranggotakan lima orang juga telah dibentuk untuk menyelidiki penyebab kecelakaan itu. Pemerintah mengumumkan hari Senin sebagai hari libur nasional untuk berkabung bagi para korban, kata juru bicara Perdana Menteri Nepal.

Ini Dia Lima Hanggar Terbesar di Dunia, Hampir Semuanya Ada di Amerika Serikat

Sebagai salah satu komponen pendukung pengoperasian dunia aviasi global, hanggar menjadi satu titik vital dimana perawatan hingga produksi aircraft berlangsung di sini. Berfungsi bak sebuah garasi mobil, hanggar pun tak ayal menjadi tempat parkir sejumlah pesawat penting, seperti pesawat kepresidenan.

Baca juga: Perdana Keluar dari Hanggar, Pesawat Terbesar di Dunia Lakukan Uji Coba Mesin

Nah, mungkin beberapa dari Anda bertanya-tanya, dimana ya hanggar terbesar di dunia? Berikut KabarPenumpang.com himpun lima hanggar terbesar yang ada di dunia versi laman alaskastructures.com. Patut diketahui, kelima hanggar ini tidak dikelompokkan berdasarkan fungsi utamanya (maintenance atau produksi).

Lockheed Air Terminal Hangar, California

Sumber: youtube

Berdiri di atas lahan seluas 15.175 meter persegi, hanggar ini telah mulai beroperasi ketika Perang Dunia II berkecamuk (1940 – 1967). Alih-alih diabadikan karena sarat akan nilai sejarah, hanggar yang terletak di bandara yang sudah berkali ganti nama ini bak hilang ditelan bumi dan berganti menjadi Hollywood Burbank Airport. Kala itu, hanggar ini berfungsi untuk menyimpan pesawat dan sejumlah peralatan perang.

Hangar B, Oregon

Sumber: Travelers Roundtable

Masih dari Negeri Paman Sam, posisi keempat hanggar terbesar di dunia ditempati oleh Hangar B yang terletak di Oregon. Menduduki lahan seluas 29.450 meter persegi, kini hanggar yang dibangun Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1942 ini sudah beralih fungsi menjadi Tillamook Air Museum. Selain memegang predikat sebagai salah satu hanggar terbesar di dunia, Hangar B juga menyandang gelar bangunan dengan struktur kayu baji terbesar di dunia.

Hangar One, San Francisco Bay

Sumber: Woodworking Network

Mulai beroperasi pada 1933, hanggar ini terletak di daerah California. Berada di atas lahan seluas 8 hektar, luas hanggar ini sendiri mencapai 32.419 meter persegi dan ditujukan untuk menjadi ‘garasi’ dari kapal induk USS Macon yang terkenal. Kendati pada 8 Desember 1965 Hangar One dinominasikan menjadi lokasi bersejarah dari Angkatan Laut Amerika Serikat, kini bangunan tersebut tengah disewa dan dipulihkan oleh Google – dimana pada Mei 2016, mereka mengumumkan siap untuk menghilangkan bahan kimia beracum dari tubuh Hangar One.

Hangar 375, Texas

Sumber: Flickr

Dilansir dari laman guinessworldrecords.com, Hangar 375 atau yang akrab disebut Big Texas yang berada di Pangkalan Angkatan Udara Kelly, San Antonio, Texas, AS ini rampung pada 15 Februari 1956. Hanggar ini memiliki empat pintu masing-masing memiliki lebar 76m dan tinggi 18,3m. Menduduki area seluas 55.742 meter persegi, menjadikan bangunan ini sebagai hanggar free-standing aktif terbesar di dunia.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Aerium Hangar, Jerman

Sumber: Pinterest

Bisa dibilang, ini merupakan calon hanggar terbesar di dunia. Pasalnya, bangunan yang berdiri sejak pertengahan 1990-an ini awalnya ditujukan sebagai lokasi perakitan dan penyimpanan CL 160, pesawat pengangkut kargo dengan ukuran yang ekstra besar. Dilatarbelakangi satu dua hal, perakitan CL160 ini sendiri tidak pernah terjadi dan hanya menyisakan bangunan hanggar seluas 75.762 meter persegi yang kini sudah beralih fungsi menjadi Tropical Islands Resort yang sangat terkenal.

 

Viral Video Petugas Bandara Jebol Risleting Koper dengan Pulpen, Bukti Pentingnya Baggage Wrapping

Saat Anda melakukan perjalanan yang sudah lama dinanti, tentu Anda ingin bepergian dengan kepastian bahwa barang bawaan Anda akan aman. Untuk urusan yang satu ini, banyak penumpang udara akan berinvestasi dengan membeli gembok dengan kualitas terbaik untuk menambah proteksi pada koper yang akan dimuat ke dalam bagasi kargo pesawat.
Namun, belum lama sebuah video pendek yang diunggah ke TikTok oleh akun @geenaanac, memperlihatkan aksi petugas keamanan bandara – Transportation Security Administration (TSA) di Amerika Serikat, bahwa gembok untuk koper tidak memberikan perlindungan sebanyak yang Anda kira.
Dalam klip video berdurasi 56 detik, petugas bandara itu mampu membuka ritsleting koper hanya dengan sebuah pulpen, yang menyiratkan bahwa gembok apa pun jenisnya tidak benar-benar menambah keamanan pada koper sama sekali.
Ia menjuluki pembukaan koper ini sebagai ‘teknik ritsleting’, sementara video ini dibuat agar para pelancong udara berhati-hati tentang keamanan bagasi di bandara. Berbicara dalam klip yang viral, petugas bandara itu berkata: “Jika Anda ingin bepergian, pastikan Anda mengetahui bagaimana sistem keamanan di tas/koper Anda dapat diterobos oleh pencuri.”
“Banyak orang yang saya lihat bepergian dengan gembok di koper menggunakan gembok dengan kombinasi khusus, tapi hanya dengan pulpen, Anda sebenarnya bisa menembus keamanan koper,” tambah petugas bandara yang tidak disebutkan identitasnya.
Jadi bagi mereka yang mungkin sedang memikirkan cara baru untuk membuat barang bawaannya lebih aman dan terjamin, petugas keamanan bandara punya beberapa tips.
Yang pertama adalah gunakan koper dengan jenis ritsleting terbaik yang memiliki penutup di atasnya. Itu adalah lapisan keamanan ekstra untuk bagasi Anda saat Anda bepergian. Tips kedua, selalu bungkus tas Anda, sebagian besar bandara saat ini memiliki layanan ini. Dan inilah mengapa begitu banyak pelancong menggunakan jasa baggage wrapping.
Selain membuat isi dalam koper aman, wrapping juga membuat koper terhindar dari lecet saat proses bongkar muat kargo, serta memudahkan penumpang atau pemilik mengidentifikasi kopernya agar tak tertukar dan mudah ditemukan saat di baggage handling atau baggage conveyor.

Gegara Jaringan 5G, FAA Wajibkan Maskapai Pasang Filter Frekuensi Radio di Pesawat

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mewajibkan maskapai meningkatkan sistem avionik, dengan memasang teknologi filtrasi atau filter frekuensi radio C-band 5G paling lambat 24 Februari 2024. Hal ini dilakukan untuk menghindari pesawat dari bahaya jaringan 5G yang dinilai menggangu kinerja radar altimeter pesawat.

Baca juga: Bos Maskapai di AS Ramai-ramai Surati Gedung Putih Soal Bahaya 5G Bagi Penerbangan

Saking genting bahaya jaringan 5G dan teknologi filtrasi atau filter frekuensi radio C-band 5G, FAA meminta maskapai di seluruh dunia merevisi manual operasi penerbangan untuk menyatakan bahwa pendaratan dengan jarak pandang rendah (low-visibility landing) tidak diizinkan setelah 30 Juni 2023, kecuali pesawat, baik itu pesawat penumpang maupun kargo, sudah dilengkapi dengan teknologi filtrasi yang dimaksud.

Teknologi tersebut disebut memberatkan maskapai, tetapi mau tidak mau harus dilakukan demi kesalamatan dan keamanan penerbangan. Biaya modifikasi teknologi filtrasi jaringan 5G diketahui mencapai US$26 Juta atau sekitar Rp400 juta.

Beruntung, tak semua pesawat yang diregistrasi di AS harus dimodifikasi dan dipasang alat tersebut. Dilansir Simple Flying, 7.993 pesawat diketahui sudah dilengkapi atau dipasang teknologi tersebut sebelum ada instruksi FAA. Hanya sekitar 820 unit pesawat saja yang harus dipasang teknologi tersebut.

Masalah terkait bahaya jaringan 5G terhadap radal altimeter pesawat muncul pertama kali usai Federal Communications Commission (FCC) melelang frekuensi C-band untuk komunikasi 5G.

Banyak frekuensi yang dilelang sangat dekat dengan frekuensi yang digunakan oleh altimeter radio atau radar altimeter yang diperlukan untuk pendekatan visibilitas rendah (low visibility approach). Ini (radar altimeter) biasa digunakan untuk menentukan ketinggian pesawat dari ground saat mendarat dan merupakan satu-satunya sensor pesawat yang mengukur ketinggian pesawat dengan ground.

Begitu layanan 5G diterapkan di seluruh AS pada awal tahun 2022 lalu, benar saja masalah dengan altimeter radio mulai muncul. Masalah tersebut bahkan memaksa FAA mengeluarkan NOTAM ke semua pilot bahwa altimeter radio tidak berfungsi.

Sejauh ini, solusi dari masalah yang muncul akibat jaringan 5G di AS terhadap radar altimeter pesawat adalah membuat buffer zone atau zona penyangga di sekitar bandara untuk meminimalisir gangguan. Hal ini sudah dikomunikasikan dengan perusahaan nirkabel terbesar di sana, Verizon dan AT&T.

Baca juga: FAA Akui Jaringan 5G Ancam Keselamatan Penerbangan 

Sebetulnya, maskapai-maskapai di AS yang bernaung di bawah Airlines for America tidak masalah dengan spektrum C-Band 5G. Masalahnya terletak pada seberapa dekat menara pemancar 5G terlalu dekat dengan runway bandara. Ini yang pada akhirnya jadi polemik.

Mereka meminta agar menara 5G terletak 2 mil (3,2 km) dari landasan pacu bandara agar tak menggangu jalannya penerbangan. Terlebih, baik Boeing maupun Airbus, sudah mengingatkan ke maskapai agar meng-grounded pesawat dalam jangka waktu yang bisa ditentukan saat teknologi 5G mulai diterapkan.

Boeing 737 Max Kembali Mengudara di Cina, China Southern Airlines Jadi Pelopor

Sejak rangkaian insiden maut yang menyangkut pesawat narrow body Boeing 737 Max, maka baru kali ini pertama maskapai asal Cina mulai menerbangkan kembali pesawat tersebut. Bukan sekedar uji coba terbang, China Southern Airlines sejak Jumat minggu lalu disebut telah memulai penerbangan perdana dengan melayani penumpang sejak Maret 2019, yakni saat dimulainya grounded massal 737 Max.

Baca juga: Cina Akhirnya ‘Tunduk’ ke AS, Boeing 737 MAX Diizinkan Terbang Kembali

Dikutip dari brecorder.com (13/1/2023), penerbangan Boeing 737 Max pertama di Cina daratan dimulai dengan melayani rute domestik, yaitu dari Guangzhou ke Zhengzhou berangkat pukul 12:45 siang. (0445 GMT), dan menjadi tonggak penting dalam upaya Boeing guna membangun kembali bisnisnya di pasar penerbangan terbesar kedua di dunia.

737 Max menjadi seri Boeing terlaris di dunia, namun dilarang terbang pada Maret 2019 setelah kecelakaan fatal di Indonesia dan Ethiopia. Setelah serangkaian perbaikan, Boeing 737 Max kembali beroperasi di seluruh dunia mulai akhir 2020, kecuali di Cina dan Rusia. Setelah modifikasi pesawat dan pelatihan pilot. Rusia masih belum menerbangkan 737 MAX di dalam negeri.

China Southern mulai menerbangkan 737 Max di Cina pada Oktober 2022, sebagai tanda negara yang melonggarkan kebijakannya meskipun ada ketegangan perdagangan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. China Southern telah menjadwalkan kembalinya layanan komersial untuk 737 MAX pada Oktober 2022, tetapi tidak menggunakannya pada penerbangan berjadwal.

Menurut data Cirium pada 2019, maskapai di Cina memiliki sekitar 97 unit Boeing 737 Max sebelum dilarang terbang. China Southern adalah pelanggan di Cina terbesar untuk model pesawat tersebut, dengan 50 pesanan, 34 unit di antaranya telah dikirimkan.

Boeing pada bulan Oktober mengatakan pihaknya memiliki 138 pesawat lagi yang diproduksi untuk maskapai Cina yang berada di Amerika Serikat menunggu untuk dikirim.

Baca juga: Susul AS dan Cina, Malaysia Izinkan Boeing 737 MAX Kembali Terbang

Analis penerbangan, Citi Jason Gursky mengatakan kembalinya 737 Max adalah langkah pertama bagi Boeing dalam menormalkan operasinya di Cina, dan dapat membuka pintu untuk pengiriman pesawat baru.

Dear Traveler, Qantas Luncurkan Paket Tour Private & Small Group ke 10 Destinasi Wisata Dunia

Qantas terus cari cara dalam mendapatkan pundi-pundi uang setelah diterpa pandemi Covid-19 dua tahun lamanya. Terbaru, maskapai nasional Australia itu meluncurkan paket tur private dan rombongan kecil ke 10 destinasi favorit dunia, mulai dari Vietnam sampai ke Alaska-Kanada. Paket trip atau paket tour yang dioperasikan oleh Qantas Tour itu berlangsaung pada Mei 2023 sampai Mei 2024.

Baca juga: Usai Flight to Nowhere, Qantas Luncurkan “Flight Mystery,” Apa Itu?

Selama puluhan tahun, warga Australia telah terlayani dengan baik untuk mengunjungi destinasi wisata favorit dunia di Amerika Selatan, India, Afrika, Antartika, dan Timur Tengah menggunakan private jet. Salah satu paket trip yang populer di Negeri Kangguru itu adalah dari Captains Choice.

Sadar pasar penerbangan private mengunjungi destinasi wisatawa favorit dunia cukup besar di Australia, Qantas tak ingin ketinggalan. Mulai tahun dua tahun lalu, Qantas sudah mulai tes pasar menjual paket tour. Ketika itu hanya fokus di dalam negeri dan animo penumpang cukup tinggi.

Serius berkompetisi di pasar penerbangan paket tour atau paket trip private dan small group, Qantas mengakuisisi TripADeal, operator paket tour kenamaan di Australia. Maskapai berharap, dengan bergabungnya perusahaan yang berbasis di Byron Bay, Qantas Tour atau setiap paket tour/paket trip/paket wisata yang dijual Qantas dapat dijalankan dengan maksimal baik dari sisi logistik maupun schedule dan rundown.

Guna menarik hati traveler di Australia, Qantas menawarkan tiga poin frequent flyer Qantas untuk setiap dolar yang dihabiskan untuk pemesanan Qantas Tour. Loyalty program tersebut diketahui hanya untuk anggota saja. Bagi non anggota, disarankan untuk mendaftar terlebih dahulu agar mendapat poin frequent Qantas.

“Qantas Tours akan menawarkan pengalaman tak terlupakan kepada para anggota di destinasi yang mungkin belum pernah mereka kunjungi sebelumnya tanpa harus merencanakan atau mengelola logistik perjalanan,” jelas CEO Qantas Loyalty, Olivia Wirth.

“Dengan perluasan portofolio Qantas Holidays terbaru ini, kami memberikan lebih banyak kesempatan kepada frequent flyer untuk mewujudkan liburan yang menyenangkan dengan Poin Qantas mereka dan mengembangkan cara mereka dapat meningkatkan keseimbangan poin mereka,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Foto-foto Menakjubkan Penerbangan Tanpa Tujuan Boeing 787 Qantas Selama 8,5 Jam

Paket Tour Qantas menawarkan liburan tak terlupakan selama sekitar 11-15 hari. Program keberangkatan paket trip Qantas ini dimulai pada Mei 2023 sampai Mei 2024. Sayangnya tidak ada informasi berapa kisaran harga paket wisata tersebut.

Saat ini, hanya ada 10 destinasi wisata yang dituju, tetapi ke depannya dijanjikan lebih banyak destinasi wisata lainnya yang akan dijangkau. Berikut daftar destinasinya.

  1. Tuscany, Rome and The Amalfi Coast
  2. Ho Chi Minh City to Hanoi Vietnam
  3. Essential Japan
  4. Ultimate Sri Lanka and Maldives
  5. Treasures of The Nile
  6. Discover The Balkans and Beyond
  7. South Africa Explorer
  8. Taste of Türkiye
  9. Best of The Greek Islands
  10. Alaska and Canada Discovery

Tidak Ada Bandara Changi, Ini 10 Bandara Paling Terhubung di Dunia Tahun 2022

Bandara Changi terkenal sebagai salah satu hub terbesar dunia. Koneksi bandara tersebut dengan bandara lainnya tak perlu diragukan lagi. Nyatanya, dalam daftar bandara yang paling terhubung atau terkoneksi dengan bandara lainnya di tahun 2022 ini versi Cirium, tidak ada Bandara Changi. Lantas, bandara mana saja yang ada dalam daftar? Berikut selengkapnya.

Baca juga: 10 Bandara Internasional Ini, Pilihan Transit Ternyaman di Dunia

1. Bandara Frankfurt

Bandara Frankfurt, Jerman, menjadi bandara yang paling terhubung atau terkoneksi di dunia. Bandara ini sedikitnya terhubung dengan 330 bandara di dunia, dimana mayoritas penerbangannya berasal dari Lufthansa. Rute tersibuk dari bandara ini adalah rute ke Bandara London Heathrow dengan 100 penerbangan per minggu. Koneksi yang luas memudahkan penumpang transit kemanapun.

2. Bandara Istanbul

Berjarak tak terlalu jauh dari Bandara Frankfurt, Bandara Istanbul, Turki, menduduki posisi kedua dengan tawaran koneksi ke 309 bandara lainnya. Selama berabad-abad, Istanbul memang kondang dikenal sebagai persimpangan perdagangan dan transportasi antara Timur dan Barat. Ini dimanfaatkan betul oleh Turkish Airlines dengan menjadikan bandara itu sebagai hub ke seluruh dunia. Rute tersibuk di bandara ini adalah rute ke Bandara Internasional Teheran Imam Khomeini Iran.

3. Bandara Charles de Gaulle

Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis, menawarkan koneksi ke 308 bandara lainnya di dunia, membuatnya berada di posisi ketiga. Posisi Paris dan Perancis itu sendiri sebagai salah satu destinasi wisata terfavorit di dunia dimanfaatkan oleh Air France untuk menghubungkan Perancis dengan dunia.

4. Bandara Schiphol Amsterdam

Bandara Schiphol Amsterdam, Belanda, terhubung dengan 293 bandara di dunia. Tak seperti yang lain, ini lebih didukung oleh luasnya jangkauan terbang maskapai nasional negara itu, KLM. Terlebih setelah bergabung dengan Air France. Rute tersibuk bandara ini ialah ke London Heathrow dengan 120 penerbangan per minggu.

5. Bandara Internasional O’Hare

Bergeser ke Amerika Serikat (AS), Bandara Internasional O’Hare Chicago menghubungkan AS dengan 278 bandara di dunia. Sekalipun posisi AS bisa dibilang terisolir, namun statusnya sebagai pusat keuangan, politik, dan sosial dunia, membuat bandaranya terhubung ke banyak bandara dunia. Bandara ini merupakan hub bagi maskapai United Airlines.

6. Bandara Internasional Dallas/Fort Worth

Sebagai hub maskapai terbesar di dunia (American Airlines), Bandara Internasional Dallas/Fort Worth, AS, terhubung dengan 269 bandara di dunia. Rute tersibuk bandara ini adalah ke Bandara Internasional La Guardia, New York, mencapai 119 penerbangan per minggu.

7. Bandara Dubai

Seperti Istanbul, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) adalah pusat perdagangan yang sudah berusia berabad-abad. Ditambah lagi, ekspansi besar-besaran Emirat itu melalui maskapai Emirates, Bandara Dubai setidaknya terkoneksi dengan 262 di seluruh dunia. Daya tarik wisata dan bisnis serta penerbangan transit menjadikannya berada di posisi ke-7 daftar ini.

8. Bandara Heathrow London

Bandara Heathrow London setidaknya terhubung ke 242 bandara di dunia. Ini cukup menakjubkan mengingat ada beberapa bandara internasional di kota London, Inggris. Sebagian besar penerbangan dari bandara ini dilayani British Airways.

Baca juga: Berdasarkan Luas Lahan,10 Bandara Ini Jadi Yang Terbesar di Dunia

9. Bandara Internasional Leonardo da Vinci

Daya tarik panas matahari di Mediterania beserta pantai dan sajian kuliner serta pemandangannya yang menakjubkan, membuat Italia selalu menjadi tujuan destinasi favorit di Eropa dan hub internasional di negara ini terletak di Bandara Internasional Leonardo da Vinci. Tak heran, bandara ini terhubung dengan 239 bandara di dunia. Rute tersibuk di bandara ini adalah ke Bandara Linate Milan mencapai 94 flight per pekan.

10. Bandara Internasional Denver

Bandara Internasional Denver terhubung dengan 226 bandara di dunia. Bandara ini juga menjadi perhubung bagi mayoritas kota-kota di AS. Denver berfungsi sebagai hub untuk maskapai Southwest, Frontier, United, dan SkyWest, menyediakan bandara dengan banyak koneksi.