Kapal Ferry Listrik Terbesar di Dunia Berlayar Dua Tahun Lagi, Bisa Angkut 2100 Penumpang dan 226 Kendaraan

Incat, produsen kapal ferry berkecepatan tinggi – high-speed craft (HSC) ferries asal Tasmania Australia, diwartakan akan meluncurkan kapal ferry listrik terbesar di dunia dalam dua tahun mendatang. Kapal ferry Utility Ro-Pax sepanjang 148 meter, diklaim bakal menjadi kapal ferry listrik terbesar di dunia yang dapat membawa 2.100 penumpang melintasi lautan.

Baca juga: Auckland Gunakan Ferry Listrik Mulai Tahun 2024

Dirancang oleh Revolution Design dan dibangun oleh Incat, kapal ferry ini ditenagai oleh dua motor listrik (5 – 9,6 MW) yang ditemptkan di bawah lambung. Selain 2.100 penumpang, kapal ferry listrik ini dapat membawa 226 kendaraan. Meski bertenaga listrik, kapal ferry ini dari spesifikasinya dapat berlayar hingga kecepatan maksimum 25 knots untuk jangkauan berlayar 100 nautical mile.

Buquebus, adalah opeator pelayaran di Amerika Selatan, dan rencananya akan menjadi operator kapal ferry listrik ini untuk mengangkut penumpang antara Argentina dan Uraguay.

Kapal itu awalnya dimaksudkan untuk ditenagai oleh LNG, tetapi setelah dilakukan evaluasi, baik Incat dan Buquebus setuju bahwa yang terbaik bagi lingkungan dan aspek keselamatan adalah menggunakan listrik tanpa emisi.

“Meskipun menukar propulsi listrik memerlukan desain ulang yang signifikan, kapal ferry ini akan mengganti 500 ton peralatan dan tangki bahan bakar dengan 400 ton baterai untuk mempertahankan bobotnya yang ringan,” ujar Robert Clifford, Pendiri Incat Group.

Ia menambahkan, kapal ferry listrik juga akan menggunakan aluminium alih-alih baja untuk membuat kapal dapat mengurangi beratnya hingga setengahnya, dan memastikan bahwa feri listrik tidak akan menjadi biaya tambahan dibandingkan dengan penggunaan kapal tradisional.

Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional berkomitmen untuk mengurangi emisi CO2 untuk kapal baru yang dibangun mulai tahun 2025 sebesar 30 persen sambil menurunkan rata-rata emisi keseluruhan armada sebesar 40 persen pada tahun 2030. Ferry dan kapal listrik dapat memainkan peran penting dalam transisi. Ferry tanpa emisi adalah wahana yang sangat baik untuk memulai elektrifikasi karena umumnya menjalankan rute yang sama, membuatnya mudah untuk menempatkan infrastruktur pengisian daya.

Baca juga: “The Ampere,” Kapal Ferry Bertenaga Listrik Pertama di Dunia!

Adopsi ferry listrik tidak hanya akan menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menghemat kocek operator. Feri all-electric pertama di Norwegia mengklaim telah memangkas biaya hingga 80 persen.

Seperti Pesawat, Runway dan Taxiway Bandara Juga Rutin Diinspeksi

Salah satu bagian vital dari bandara dan penerbangan itu sendiri adalah landasan pacu (runways) dan taxiway. Tanpa kedua itu, sulit bagi pesawat untuk lepas landas dan mendarat. Mengingat peran vitalnya itu, runway dan taxiway rutin diinspeksi petugas, layaknya pesawat. Lantas, seperti apa dan bagaimana inspeksi keduanya dilakukan?

Baca juga: Bagaimana Bandara Diuji Coba Sebelum Melayani Pesawat? Ini Jawabannya

Pada awal tahun 2021, pesawat Boeing 747 Singapore Airlines ditemukan berlubang atau rusak di bagian bawah pesawat dekat landing gear pasca mendarat di Bandara Internasional Brussels. Hasil penyelidikan awal menemukan, insiden itu besar kemungkinan disebabkan oleh bebatuan yang berada di runway. Itu belum seberapa karena masih sebatas kerugian finansial tanpa korban jiwa.

Pada 25 Juli tahun 2000, pesawat supersonik Concorde Air France Flight 4590 mengalami kecelakaan saat lepas landas dari Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis.

Hasil investigasi mengungkapkan, penyebab kecelakaan karena ban pesawat pecah akibat menabrak logam di runway. Pesawat pun oleng dan hilang kendali sampai akhirnya menabrak sebuah hotel. Semua penumpang dan kru berjumlah 109 orang tewas seketika.

Dua kasus di atas menggambarkan betapa pentingnya inspeksi rutin runway dan taxiway dalam mendukung keselamatan dan keamanan penerbangan.

Sebagaimana pesawat, petugas inspeksi taxiway dan runway harus meminta izin ATC terlebih dahulu sebelum memulai inspeksi. Ini wajar mengingat ATC-lah yang paling tahu kapan pesawat datang atau lepas landas. Sehingga proses inspeksi tidak membahayakan petugas dan menghambat aktivitas penerbangan.

Selama melakukan proses inspeksi, seperti dikutip dari Simple Flying, petugas di lapangan akan dan harus selalu terhubung serta berkomunikasi dengan ATC.

Tak hanya mengandalkan informasi ATC, petugas tetap harus memperhatikan berbagai hal di sekitar mereka, seperti marka dan rambu runway dan potensi bahaya lainnya. Barulah petugas melakukan pengecekan di runway dan taxiway untuk menyisir Foreign Object Damage (FOD) di semua area beraspal, lampu di runway (airfield lighting), pro-active bird control, tumpahan minyak, dan lainnya.

Pedoman dari FAA, inspeksi dilakukan dengan cara menyisir sisi landasan pacu menggunakan kendaraan khusus. Ini dilakukan secara bolak-balik dari ujung ke ujung. Itu berarti harus ada dua tim di sebelah kanan dan kiri runway dan taxiway untuk mengeceknya. Arahan FAA juga menyebutkan kendaraan harus sangat pelan agar inspeksi berlangsung maksimal.

Begitu ditemukan masalah, petugas harus mendokumentasikannya secara visual maupun non visual. Jika ada FOD, petugas harus segera mengambilnya.

Baca juga: Kerahkan Kawanan Drone, Korean Air Pangkas Waktu Inspeksi Pesawat Sampai 60 Persen

Umumnya, inspeksi atau pemeriksaan runway, taxiway, dan area di sekitarnya dilakukan setiap 30 menit sampai 120 menit atau dua jam sekali.

Selain itu, jadwal inspeksi meliputi rentang waktu harian, mingguan, bulanan, enam bulan, sampai tahunan. Inspeksi bulanan, misalnya, itu biasanya termasuk memotong rumput di sekitar runway agar tetap pendek dan mencegah burung yang dapat menyebabkan bird strike datang.

Dua Fungsi Tanda Spiral di Spinner Mesin Pesawat, Apa Saja?

Setiap desain pada pesawat memiliki fungsi dan tujuan tertentu, tidak hanya sekadar hiasan; termasuk tanda spiral atau tanda putih di spinner mesin pesawat. Lantas apa saja fungsi dari desain tanda spiral pada spinner mesin pesawat?

Baca juga: Kenapa Kedipan Wing Strobe Light Pesawat Airbus dan Boeing Berbeda? Ini Jawabannya

Sebelum pesawat lepas landas, begitu banyak aktivitas di ground oleh para kru, mulai dari aktivitas bongkar muat bagasi, bongkar muat katering, pengisian bahan bakar, pre flight check, APU check, dan lain sebagainya.

Pilot atau kopilot sendiri juga melakukan berbagai aktivitas di darat dalam kaitannya dengan pre-flight check sebelum mulai menerbangkan pesawat Ini disebut sebagai walk around.

Setelah preflight check di kokpit tuntas, pilot atau kopilot biasanya akan mulai melakukan walk around. Itu biasanya dimulai dengan memeriksa mesin sebelah kanan dan berputar berlawanan arah jarum jam. Hal-hal yang diperiksa dari mesin berupa palka, probe, sensor, bilah kipas, dan spinner. Jadi, tidak harus membongkar keseluruhan mesin.

Dari mesin sebelah kanan, karena walk around berlawanan dengan arah jarum jam, pilot bergerak ke arah depan dan memeriksa nose atau hidung pesawat serta nose wheel atau landing gear depan. Pada hidung pesawat (radome), pilot biasanya memeriksa radar cuaca. Pada nose wheel pilot akan mengecek penutup nose wheel apakah berfungsi atau tidak.

Beralih ke depan sebelah kiri, pilot akan memeriksa beberapa hal, seperti probe, sensor, port, pitot tube and static port, dan ventilasi. Kemudian pilot memeriksa katup aliran udara, lights and pack inlets, wing root, sayap dan mesin kiri, main landing gear, bagian ekor pesawat seperti knalpot, APU, tailtfin, horizontal stabilizer, sayap kanan, dan main landing gear kanan.

Mengingat banyaknya aktivitas pra penerbangan atau pre-flight check di sekitar pesawat, ini tentu berbahaya terhadap keselamatan para pekerja, mengingat mesin jet cukup kuat untuk menyebabkan kecelakaan kerja. Karenanya, para insinyur dan stakeholder mengatur sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya hal itu. Salah satunya melalui desain tanda spiral di spinner mesin pesawat.

Dilansir kenyans.co.ke, tanda spiral di mesin pesawat memiliki fungsi penanda bahwa mesin tersebut tengah bekerja atau berputar, sehingga petugas di ground agar menjauh dari pesawat. Sebelum pilot mengaktifkan mesin, regulator mengatur pilot menyalakan apa yang disebut sebagai beacon lights sebagai isyarat lain agar kru di ground menjauh dari pesawat karena tak lama lagi mesin jet akan dihidupkan.

Baca juga: Untung-Rugi Mesin Pesawat di Sayap dan di Belakang, Mana Lebih Baik?

Tanda spiral di mesin pesawat juga berfungsi untuk menakut-nakuti burung, angsa, dan sejenisnya agar menjauh dari pesawat dan pada akhirnya mencegah terjadinya bird strike. Hanya saja, terkait fungsi ini masih menjadi perdebatan lantaran tetap banyak terjadi insiden bird strike karena tanda itu tidak terlihat kawanan burung karena putaran mesin yang terlalu cepat.

Dilihat dari desainnya, tanda pada spinner mesin pesawat tak melulu berbentuk spiral. Ada juga bentuk yang disebut G-Swirl yang menjadi tanda spiral di mesin pesawat paling banyak dipakai, bentuk Horseshoes, Hurricane, Apostrophe, Comma, Wobbly Ball, dan Wobbly Cressent.

Kopilot Tewas dalam Kecelakaan Yeti Airlines, Suaminya Juga Pilot Tewas dalam Kecelakaan 16 Tahun Lalu

Kecelakaan pesawat ATR 72 500 milik Yeti Airlines yang jatuh di dekat Bandara Pokhara pada hari Minggu lalu, rupanya menyisakan kisah pilu yang dialami oleh salah seorang penerbangnya. Kopilot pesawat yang turut menjadi korban tewas, yakni Anju Khatiwada (44 tahun), ternyata telah kehilangan suami yang juga merupakan pilot dalam kecelakaan yang menimpa Yeti Airlines 16 tahun lalu.

Baca juga: ATR 72 Yeti Airlines Jatuh Sesaat Lepas Landas, Tewaskan 72 Orang, Kecelakaan Udara Terburuk dalam 30 Tahun di Nepal

ATR 72 500 Yeti Airlines dari Kathmandu yang jatuh ke ngarai dalam cuaca cerah di dekat Bandara Pokhara yang menewaskan 68 penumpang dan empat orang awaknya. Karier Khatiwada di bidang penerbangan didorong oleh kematian suaminya Dipak Pokhrel, yang meninggal dalam penerbangan Yeti Airlines pada tahun 2006 yang mengalai crash beberapa menit sebelum mendarat.

Anju Khatiwada mendapatkan pelatihan pilotnya dengan uang asuransi yang Ia dapatkan setelah kematian suaminya dalam kecelakaan Yeti Airlines di kota barat Jumla, kata juru bicara maskapai Sudarshan Bartaula. Dikutip dari SkyNews, sejauh ini jenazah Khatiwada belum teridentifikasi, tetapi diyakini Ia telah tewas.

Juru bicara Yeti Airlines mengatakan Khatiwada memiliki lebih dari 6.400 jam terbang dan sebelumnya telah menerbangi rute wisata populer 27 menit dari Kathmandu ke Pokhara.

Masih belum jelas apa penyebab jatuhnya pesawat ATR 72 yang dikabarkan terguling dari satu sisi ke sisi lain sebelum jatuh di ngarai dekat bandara Pokhara dan terbakar.

Tim penyelamat telah menyisir puing-puing yang tersebar di ngarai sedalam 300 meter untuk mencari penumpang yang belum ditemukan.

Pada hari Senin, Tim pencari menemukan perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan dari penerbangan, keduanya dalam kondisi baik, sebuah penemuan yang mungkin membantu penyelidik menentukan penyebab kecelakaan itu.

Baca juga: Ingin Lihat Rumah Berkontur ala Pegunungan di Nepal, Yuk Mampir ke Dusun Butuh di Lereng Gunung Sumbing

Korban kecelakaan itu termasuk pria Inggris Ruan Calum Crighton dan korban lain dari Nepal, India, Rusia, Korea Selatan, Argentina, Australia, dan Perancis. Penerbangan itu membawa 68 penumpang, termasuk 15 warga negara asing, serta empat awak, kata Otoritas Penerbangan Sipil Nepal. Sementara jenazah kapten pesawat, Kamal KC, telah ditemukan dan diidentifikasi.

Selain Berwujud Kereta Mewah, “Orient Express” Juga Tampil Sebagai Kapal Pesiar, Berlayar Mulai 2026

Setelah kereta mewah Orient Express memulai debutnya sekitar 140 tahun lalu, kini nama besar Orient Express akan diwujudkan dalam bentuk sebuah kapal pesiar, yang siap menjelajahi samudera. Adalah Orient Express Silensea, kapal layar Orient Express pertama, yang baru saja diresmikan oleh grup perhotelan Perancis, Accor.

Baca juga: 4 Oktober 1883, Orient Express Pertama Kali Layani Rute Perancis ke Istanbul

Dikutip dari CNN.com (13/1/2023), disebutkan bahwa kapal pesiar Orient Express akan berlayar pada musim semi tahun 2026. Orient Express dibangun dengan panjang lambung 220 meter. Tidak seperti lazimnya desain kapal pesiar yang ada, Orient Express mengadopsi rancangan kapal di zaman keemasan French Riviera. Yang mana, Orient Express nantinya akan dilengkapi model layar yacht, yang disebut menjadi layar yacht terbesar di dunia.

Dengan kapasitas hingga 120 penumpang, Orient Express Silenseas menampilkan 54 suite, termasuk Presidential Suite seluas 1.415 meter persegi, dua kolam renang, dua restoran, dan bar speakeasy.

Didukung oleh formula propulsi hybrid yang menggabungkan tenaga angin dengan mesin berbahan bakar gas alam cair, Orient Express juga akan mengadakan kabaret amfiteater, di mana para tamu akan disuguhi pertunjukan khusus.

Tata letak interior kapal dirancang oleh arsitek Perancis Maxime d’Angeac, sementara perusahaan desain Stirling Design International yang berbasis di Nantes akan menangani arsitektur eksterior.

“Dengan Orient Express Silenseas, kami memulai babak baru dalam sejarah kami, membawa pengalaman dan keunggulan perjalanan mewah dan membawa para pelancong ke laut terindah di dunia,” demikian pernyataan dari Sébastien Bazin, CEO Accor.

“Kapal layar yang luar biasa ini, berakar pada sejarah Orient Express, akan menawarkan layanan yang tak tertandingi dan ruang desain yang apik, yang mengingatkan pada zaman keemasan kapal pesiar mistis.”

Baca juga: Disney Cruise Line Beli “Global Dream” – Kapal Pesiar Ketujuh Terbesar di Dunia

Meski belum ada jadwal pelayaran, Orient Express kemungkinan akan menawarkan rencana perjalanan ke laut Mediterania selama musim panas dan Laut Karibia di musim dingin, dengan “eksplorasi persinggahan untuk menemukan kekayaan budaya”. Peresmian Orient Express Silenseas dilakukan setelah kapal pesiar superyacht Ritz-Carlton yang sangat dinantikan melakukan pelayaran perdananya pada bulan Oktober.

Kerap Membingungkan, Begini Serba-serbi Bagasi Terdaftar Singapore Airlines

Traveler dimanapun sering kali membawa barang lebih banyak dari kebutuhan saat berlibur. Konsekuensinya, mereka harus membayar lebih untuk bagasi atau meninggalkannya di bandara. Sering kali opsi kedua yang diambil, terlebih traveler kerap bingung atau masih belum paham dengan konsep bagasi terdaftar maskapai, salah satunya maskapai Singapore Airlines (SIA).

Baca juga: Pertama di Asia Tenggara, Bandara Changi Hadirkan Aplikasi Seluler Pelacakan Bagasi Penumpang

Dilansir Simple Flying, saat ini Singapore Airlines menawarkan empat kelas pemesanan yang berbeda; kelas ekonomi, kelas ekonomi premium, kelas bisnis, dan kelas satu (first class).

Untuk kelas ekonomi, maskapai nasional Singapura itu jadi salah satu maskapai yang memperbolehkan penumpang tersebut (kelas ekonomi) mendapat jatah bagasi terdaftar sampai 30 kg. Hanya saja, ini membutuhkan kejelian dari penumpang agar tak salah membeli tiket. Sebab, tidak semua tiket kelas ekonomi menawarkan jatah bagasi gratis 30 kg.

Adapun jatah bagasi terdaftar gratis Singapore Airlines untuk setiap kelas pemesanan adalah sebagai berikut:

Class of travel Weight Allowance
Suites / first class 50kg
Business class 40kg
Premium economy class 35kg
Flexi economy class 30kg
Standard economy class 30kg
Value economy class 25kg
Lite economy class 25kg

Bagi penumpang yang membawa bayi, mereka akan mendapat jatah bagasi terdaftar gratis sampai 10 kg terlepas apapun kelas kabinnya. Bagi penumpang membeli tiket mixed-cabin itineraries atau nyambung dengan penerbangan dari maskapai lain atau maskapai serupa tapi beda kelas kursi, maka jatah bagasi terdaftar menyesuaikan tiket penerbangan dan kelas kursi.

Selain konsep berat bagasi terdaftar, Singapore Airlines juga memberlakukan konsep satuan untuk bagasi terdaftar. Ini hanya berlaku untuk semua penumpang yang terbang ke dan dari Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Berikut jatah bagasi terdaftar SIA di dua rute tersebut.

Class of travel Piece allowance
Suites / first class 2 pieces, up to 32 kg each
Business class 2 pieces, up to 32 kg each
Premium economy class 2 pieces, up to 23 kg each
Economy class 2 pieces, up to 23 kg each

Sama seperti konsep berat bagasi, di konsep bagasi satuan ini, penumpang yang membawa bayi tetap mendapat jatah bagasi terdatar gratis hingga 23 atau 32 kilogram, ergantung pada kelas perjalanan.

Beruntunglah bagi Anda yang sering bepergian menggunakan Singapore Airlines dan terdaftar dalam program frequent flyer maskapai. Sebab, ada tawaran bagasi terdaftar ekstra mulai dari 20 kg sampai 50 kg. Berikut tabelnya:

Class of travel PPS Club members KrisFlyer Elite Gold / Star Alliance Gold members
Suites / first class 50kg 20kg
Business class 40kg 20kg
Premium economy class 35kg 20kg
Flexi economy class 30kg 20kg
Standard economy class 30kg 20kg
Value economy class 25kg 20kg
Lite economy class 25kg 20kg

Baca juga: Tingkatkan Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Tambahkan Tiga Fitur Baru di Aplikasi Mobile

Berikut tabel informasi ekstra bagasi untuk konsep bagasi satuan:

Class of travel PPS Club members KrisFlyer Elite Gold / Star Alliance Gold members
Suites / first class 2 Additional pieces, up to 32kg each 1 Additional piece, up to 32kg each
Business class 2 Additional pieces, up to 32kg each 1 Additional piece, up to 32kg each
Premium economy class 2 Additional pieces, up to 23kg each 1 Additional piece, up to 23kg each
Economy class 2 Additional pieces, up to 23kg each 1 Additional piece, up to 23kg each

M-497 Black Beetle – Pemegang Rekor Kereta Tercepat di AS, Ditenagai Dua Mesin Turbojet

Meski sama-sama mentok di prototipe, kereta bertenaga jet rupanya tak hanya dikembangkan Uni Soviet, dalam aroma Perang Dingin yang menggelora di dekade 60-an, Amerika Serikat ternyata juga mengembangkan kereta yang ditenagai mesin jet. Adalah M-497 Black Beetle, prototipe kereta yang tak tanggung-tanggung, ditenagai mesin turbojet General Electric J47-19, yang tak lain merupakan mesin yang menjadi sumber tenaga untuk pembom strategis Convair B-36 Peacemaker.

Baca juga: Kereta Penumpang Bertenaga Jet Bukan Fiksi, Ternyata ada di St Petersburg Rusia

M-497 Black Beetle adalah kereta eksperimental bertenaga jet dari New York Central Railroad, yang dikembangkan dan diuji pada tahun 1966. Dua mesin jet General Electric J47-19 bekas, yang awalnya digunakan sebagai pendorong untuk pembom B-36 Peacemaker, dipasang di atas Budd Rail Diesel Car yang sudah ada.

Konstruksi kereta jet M-497 kemudian berhasil dikirim pada uji coba di atas trek yang ada antara Butler, Indiana, dan Stryker, Ohio. Jalur tersebut telah dipilih karena tata letaknya yang lurus dan punya kondisi lintasan yang baik, dan tidak ada modifikasi pada trek untuk keperluan uji coba.

Pada tanggal 23 Juli 1966, kereta bertenaga jet M-497 Black Beetle mencapai kecepatan 295,6 km per jam, yang menjadi rekor kecepatan kereta api di AS yang masih bertahan hingga saat ini.

Meski punya kinerja spektakuler, dan dibangun dengan biaya relatif murah, dengan menggunakan suku cadang yang ada, proyek tersebut tidak dianggap layak secara komersial. Analisa yang mengemuka adalah tingginya biaya operasional dan polusi suara dari mesin jet. Rel kereta api mengumpulkan data pengujian yang berharga mengenai tekanan perjalanan kereta api berkecepatan tinggi pada peralatan dan jalur konvensional yang saat itu ada di Amerika.

Data tersebut sebagian besar diabaikan, karena New York Central Railroad akan melakukan merger dengan saingan beratnya Pennsylvania Railroad yang sudah terlibat dalam proyek Metroliner, yang didanai oleh Departemen Perhubungan Amerika Serikat.

Baca juga: Bukan Nama Jet Tempur, Inilah Lokomotif Tejas yang Layani Kereta Ekspres dengan Kecepatan 160 Km Per Jam

M-497 terus melayani untuk Penn Central setelah mesin jet dihapus sampai pensiun oleh Conrail pada tahun 1977. Namun, mesin jetnya sempat digunakan kembali sebagai X29493, sebuah kendaraan salju eksperimental.

Empat Fasilitas MRO Pesawat Terbesar di Dunia, Nomor 3 Ada di ASEAN, GMF Kah?

Mesin adalah bagian yang paling mahal dari sebuah pesawat terbang. Meskipun biaya maintenance, repair, and overhaul (MRO) atau perawatan mesin pesawat tergolong mahal, namun, itu tidak ada harganya bila dibandingkan pesawat mengalami kecelakaan ataupun di-grounded berkepanjangan lantaran kerusakan mesin. Itu kenapa fasilitas MRO makin menjamur di dunia. Beberapa di antaranya bahkan dinobatkan sebagai fasilitas MRO terbesar di dunia. Dilansir Simple Flying, berikut selengkapnya.

Baca juga: Bagaimana Perawatan Mesin Pesawat Dilakukan? Ini Jawabannya

American Airlines Tulsa base
Basis maintenance American Airlines di Tusla, Oklahoma, Amerika Serikat (AS) adalah fasilitas MRO terbesar di dunia. Fasilitas ini mencakup lebih dari 33 hektar dengan maintenance hangers dan shop space seluas lebih dari 280.000 meter persegi. American Airlines menggunakan fasilitas tersebut untuk MRO pesawat narrow dan widebody miliknya.

Dengan lebih dari 5.000 karyawan, 1,000 lebih banyak dibanding pekerja di fasilitas GMF AeroAsia milik Garuda Indonesia, ini memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian kota. Sepanjang tahun 2022, fasilitas MRO terbesar ini menangani sekitar 245 pesawat.

HAECO Xiamen Maintenance Facility
Hong Kong Aircraft Engineering Company (HAECO) Xiamen Group di Cina sedang membangun fasilitas MRO single-span terbesar di dunia. Fasilitas tersebut berlokasi di Bandara Internasional Xiamen Xiang’an, Provinsi Fujian, Cina. Bila tak ada halangan berarti, fasilitas MRO ini beroperasi pada tahun 2025 dan menggeser fasilitas MRO American Airlines sebagai fasilitas MRO terbesar di dunia.

HAECO Xiamen saat ini beroperasi di luar fasilitas Bandara Internasional Gaoqi dan akan pindah ke fasilitas baru setelah selesai. Fasilitas ini mencakup area sekitar 540.000 m2, setengahnya akan memiliki hanggar maintenance dan setengah lainnya untuk area apron. Area yang dibangun akan terdiri dari 18 bangunan, termasuk engineering, test bays, utility tunnels, dan aviation fuel supply center.

HAECO Xiamen berencana membangun enam fasilitas MRO pesawat narrowbody dan 12 peswat widebody di fasilitas baru teresbut. Selain itu, ada juga hanggar atau fasilitas tambahan untuk pengecatan pesawat.

Dengan pindahnya HAECO Xiamen ke fasilitas baru, waktu penyelesaian maintenance diperkirakan akan lebih cepat sekaligus menambah jumlah pesawat yang bisa ditangani di fasilitas ini.

Bombardier’s Singapore Service Center
Siapa sangka, Singapura, negara kecil di Selat Malaka, yang luasnya sedikit lebih besar dibanding Jakarta, mempunyai fasilitas MRO terbesar ketiga di dunia, sekalipun itu bukan milik pemerintah atau maskapai pemerintah, melainkan hasil kerja sama dengan swasta, dalam hal ini Bombardier.

Bombardier’s Singapore Service Center terletak di Seletar Aerospace Park. Fasilitas ini berdiri di area seluas 28.000 meter persegi. Fasilitas ini menyediakan kemampuan perawatan untuk operator pesawat Learjet, Challenger, dan Global Bombardier.

Baca juga: Begini Prosedur Pemeriksaan Pesawat untuk Capai Tingkat Keselamatan Tertinggi

Fasilitas ini umumnya menangani cakupan yang lebih kecil dibanding fasilitas MRO di atas, dengan fokus hanya pada Component, Repair, and Overhaul (CRO). Dalam setahun, fasiltas ini mampu menangani 2.000 jet, jauh lebih banyak dibanding American Airlines’ Tulsa base dan HAECO Xiamen maintenance facility karena pesawat yang ditangani lebih kecil atau berbasis private jet.

Aeroman’s Maintenance Center
Aeroman Holding adalah operator pusat perawatan pesawat terbesar di Amerika Latin. Fasilitas ini mencakup 2.000 meter persegi di El Salvador. Fasilitas canggih ini selesai dibangun dan dioperasikan pada Juni 2019, memiliki kapasitas 14 pesawat.

Apa Itu Microwave Landing System, Instrumen Pendaratan Pengganti ILS

Perkembangan teknologi terus terjadi, termasuk di industri pesawat dalam kaitannya dengan pendaratan. Selama puluhan tahun, pesawat mendarat dibanding dengan teknologi Instrumen Landing System (ILS). Namun, belakangan muncul teknologi yang lebih canggih sebagai pengganti ILS, itu adalah Microwave Landing Sytem (MLS). Apa itu dan seperti apa fungsi serta cara kerjanya?

Baca juga: Hari Ini, 89 Tahun Lalu, Bandara Tersibuk di Dunia Mulai Pamer ILS untuk Pendaratan Malam Hari

MLS adalah alat bantu pendaratan non-visual yang digunakan untuk membantu penerbang dalam melakukan prosedur pendekatan dan pendaratan pesawat di suatu bundara. Sebagaimana sistem komunikasi lainnya, MLS juga memiliki blok sistem perangkat pengirim antena pemancar untuk melakukan proses pengiriman informasi.

Seperti ILS, MLS memungkinkan pesawat menentukan posisinya untuk mendarat. Namun, alih-alih menggunakan frekuensi sekitar 109 MHz dan 331 MHz, MLS menggunakan pita lebih dari 5 GHz. Frekuensi gelombang ini akan membantu memungkinkan MLS panduan presisi hingga Kategori III ke pesawat, termasuk autoland, dan memungkinkan pola pendekatan kompleks untuk pesawat sipil dan militer.

Lahirnya MLS tak lepas dari berbagai kekurangan ILS. ILS selama ini diketahui memudahkan pesawat mendarat dengan cara tetap berada di jalur lateral dan vertikal yang benar untuk mendarat dengan aman.

Sayangnya, gelombang azimuth dan glideslope ILS sangat sempit dan dapat terganggu oleh struktur di dekatnya. Kekurangan ini yang pada akhirnya ditutupi oleh MLS. Teknologi MLS memberikan cakupan minimal 40 derajat baik arah lateral landasan pacu dan setidaknya 20 derajat hingga 20.000 kaki secara vertikal. Sinyal jarak presisinya dapat ditransmisikan melalui rentang 200 saluran, lima kali lebih besar dibandingkan dengan ILS.

MLS umumnya terdiri dari empat bagian, yakni enam antena pengirim di bandara, antena penerima di pesawat, control panel di bandara, dan control panel di pesawat. Antena sebagai bagian dari perangkat telekomunikasi nirkabel memiliki peran yang sangat penting ssebagai pengubah energi listrik pada perangkat pemancar menjadi energi yang dapat diradiasikan di ruang bebas dan sebaliknya.

Dilansir Simple Flying, menggabungkan data antar antena membantu memberikan posisi 3D pesawat yang tepat. Karenanya, MLS ini mampu memandu pesawat bersama ATC mendarat dengan selamat dalam berbagai posisi komples, seperti roundabout karena traffic, cuaca buruk, river approach, bridge approach, sea approach, dan lain sebagainya.

Selain sangat membantu pilot dalam mendaratkan pesawat, teknologi MLS juga memudahkan kinerja petugas ATC. Sebelum ada MLS, controller harus memberikan vektor radar secara terus menerus. Namun, kemampuan MLS untuk menyediakan pendekatan untuk pesawat dalam area cakupannya membuat vektor radar tak diperlukan lagi dan menurunkan beban kerja ATC.

Baca juga: Layani Penerbangan Malam, ILS Wajib Terpasang di Runway Bandara

Sayangnya, meski teknologi MLS jauh lebih mapan dibanding ILS, di dunia penggunannya mulai tahun 1980-an tidak terlalu massif. Itu bukan karena teknologi MLS tidak andal, melainkan ada teknologi baru yang lebih canggih, yaitu ground-based augmentation systems (GBAS).

Teknologi GBAS memungkinkan pilot melalukukan approach presisi dengan fleksibilitas tinggi melalui transmisi data GNSS yang telah dikoreksi dari stasiun darat ke pesawat terbang. BTS GBAS saat ini dapat menawarkan pilot dimana saja antara 26 dan 48 approach, termasuk opsi non-linier dari berbagai ketinggian. Saat ini, teknologi GBAS sudah diadopsi di lebih 100 bandara di dunia sekalipun masih dikembangkan.

Kenapa Kedipan Wing Strobe Light Pesawat Airbus dan Boeing Berbeda? Ini Jawabannya

Sudah jadi rahasia umum bahwa Boeing dan Airbus bersaing sebagai produsen pesawat sipil terbesar di dunia. Karenanya, setiap pesawat yang dibuat memiliki ciri khas tersendiri dan saling membedakan, seperti yoke pada Boeing dan sidestick pada Airbus, dan lainnya; termasuk wing strobe light atau lampu di ujung sayap pesawat dimana Boeing hanya ada satu lampu dan Airbus dua lampu. Kenapa demikian?

Baca juga: Pesawat Dilengkapi Lampu Depan, Fungsinya Sama dengan Kendaraan di Darat?

Dilansir skybrary.aero sedikitnya ada tiga jenis lampu yang terpasang di body luar pesawat; navigation lights, beacon lights, dan strobe lights. Dari ketiga jenis lampu ini, masih ada lampu turunan masing-masing dan tentu saja, memiliki fungsi yang berbeda pula, seperti logo light, taxi, turnoff, takeoff, dan landing lights

Navigation lights, sebagaimana namanya, berfungsi untuk membantu navigasi kru darat. Selain itu, kegunaan lain dari navigation lights adalah untuk mencegah terjadinya kecelakaan – terutama ketika malam hari. Penggunaan lampu ini akan memudahkan pesawat untuk mengetahui posisi dari pesawat lainnya ketika berada di udara.

Navigation lights sendiri terdiri dari tiga warna lampu – merah pada bagian wing tip kiri, hijau pada bagian wing tip kanan, dan putih pada bagian ekor pesawat. Nah jika Anda memperhatikan pesawat pada malam hari dan melihat ada cahaya hijau dan merah yang berkedip, maka itu berasal dari navigation lights.

Selain navigation lights, ada juga beacon light yang mempunyai lampu berwarna merah. Meski sama-sama berwarna merah, posisi lampunya berbeda dengan navigation light, yaitu berada di bagian atas dan bawah lambung pesawat. Karenanya, ini tetap mudah dikenali sebagai isyarat kepada pesawat lain atau ATC di darat.

Beacon lights sendiri akan dinyalakan sebelum mesin pesawat dinyalakan dan akan dimatikan sebelum mesin pesawat dimatikan saat berada di apron. Mungkin bisa dibilang bahwa lampu ini merupakan penanda bahwa suatu pesawat tengah berada dalam waktu operasi.

Sebelum pesawat pushback, banyak aktivitas di ground dan melibatkan banyak kru lintas departemen. Mengingat besrnya kekuatan mesin jet saat dinyalakan, ini berbahaya bagi mereka. Karenanya, sebelum mesin jet dinyalakan pilot, petugas di sekitar pesawat harus diberi isyarat agar waspada dan menjauh melalui beacon light.

Terakhir ada strobe lights, lampu berwarna putih ini terpasang pada ujung belakang sayap atau berseberangan dengan navigation lights.

Strobe lights atau lampu merupakan lampu dengan intensitas tinggi atau lampu yang paling terang di pesawat. Bagaimana tidak terang, strobe light bersinar menembus awan tebal, kabut, dan hujan serta terlihat jelas dari darat.

Lampu ini menyala secara berkala sebagai isyarat bagi pesawat lain untuk menjaga jarak aman. Lampu ini sendiri biasanya dinyalakan ketika pesawat sudah mendekati landasan untuk landing dan dimatikan setelah lepas landas. Pada kebanyakan kasus, strobe lights digunakan untuk menambah visibilitas pesawat ketika tengah berada di darat.

Baca juga: Mengapa Lampu Pendaratan ‘Menyala’ Saat Pesawat Berada di Bawah 10.000 Kaki?

Menariknya, strobe light tidak selalu seragam. Antara pesawat Airbus dan Boeing itu memilki strobe light yang berbeda di ujung sayap, dimana  Boeing hanya ada satu lampu dan Airbus dua lampu. Tak ada keterangan pasti soal ini. Tetapi, menurut beberapa pengamat, itu hanya sebagai pembeda saja. Adapun fungsi kelap kelip-nya tetap sama.

Bedanya hanya pada interval dimana strobe light Airbus lebih cepat berkedip dibanding Boeing. Sudah begitu, secara subjektif, strobe light Airbus juga lebih terang dan diameter cahaya yang dihasilkan juga lebih besar dibanding Boeing.