Pesawat Qantas Terbang Dua Jam dan Mendarat dengan Satu Mesin, Bagaimana Bisa? Ini Penjelasannya

Mesin pesawat Boeing 737-800 Qantas dilaporkan rusak saat tengah terbang di atas lautan menuju Sydney, Australia. Sempat menyatakan Mayday, sebelum turun menjadi Pan-Pan, pilot memutuskan terus terbang selama dua jam dan sukses mendarat di bandara tujuan dengan hanya satu mesin. Kenapa bisa? Secara teori, pesawat mendarat dengan satu mesin sangat mungkin.

Baca juga: Kenapa Pilot Tak Banyak Memberikan Informasi Saat Terjadi Insiden? Inilah Alasannya

Seperti biasa, sebelum lepas landas, pesawat sudah menjalani serangkaian pengecekan ketat dari tim terkait, mulai dari post flight check atau saat pesawat selesai menjalani penerbangan dan sebelum pesawat memulai penerbangan berikutnya atau pre-flight check.

Ketika lepas landas dari Bandara Auckland, Selandia Baru, sampai beberapa menit setelahnya, dimana ini adalah masa-masa paling kritis yang sangat berisiko menyebabkan terjadinya kecelakaan, pesawat juga tidak menunjukkan tanda-tanda terjadinya kerusakan.

Barulah setelah mencapai ketinggian jelajah atau sekitar satu jam penerbangan dari bandara awal, pilot melaporkan ke ATC keadaan darurat atau Mayday lantaran kerusakan pada salah satu mesin. Mayday berarti sebuah pesawat membutuhkan bantuan mendesak dan berada dalam bahaya besar. Biasanya ini disegerakan mendarat.

Beberapa waktu berselang, pilot menurunkan status menjadi Pan-Pan yang artinya kemungkinan membutuhkan bantuan.

Alih-alih mendarat darurat di bandara terdekat, pilot Qantas Flight 144 rute Auckland-Sydney memutuskan terus melanjutkan penerbangan. Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di bandara tujuan setelah menempuh dua jam lebih perjalanan dengan hanya satu mesin.

Menariknya, saat mesin pesawat rusak (dan langsung dimatikan sebelum terjadi kebakaran) serta melanjutkan penerbangan dengan satu mesin sampai mendarat di bandara tujuan, penumpang tak diberitahu apapun oleh pilot maupun awak kabin.

Hanya beberapa penumpang, saat diwawancarai Reuters, mengungkapkan terdengar beberapa kali ledakan dan terjadi beberapa kali turbulensi. Tapi tak satupun yang mengetahui mesin pesawat mati karena tak ada tanda apapun yang menegangkan seperti mesin kebakaran dan lain sebagainya. Semua terlihat seperti biasa. Mereka baru diberitahu setelah turun dari pesawat

Dalam keterangan persnya, Qantas tidak merinci kerusakan pada mesin. Tetapi menyebut terbang dengan satu mesin aman dilakukan.

“Meski pemadaman mesin dalam pesawat jarang terjadi, dan secara alami akan mengkhawatirkan penumpang, pilot kami dilatih untuk mengelolanya dengan aman dan pesawat dirancang untuk terbang dalam waktu lama dengan satu mesin,” jelasnya.

Baca juga: Seberapa Jauh Pesawat Modern Terbang dengan Satu Mesin? Simak Jawabannya

Secara teori, pesawat sangat mungkin terbang aman dengan satu mesin. Diketahui, sebelum mulai beroperasi secara komersial membawa penumpang, pesawat sipil harus menjalani sertifikasi ETOPS atau Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards atau disebut juga Extended Operations.

ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370. Angka yang tertera di akhir merupakan durasi yang diijinkan untuk pesawat mengudara hanya dengan satu mesin.

Sambut Imlek, Garuda Indonesia Tambah Frekuensi ke Pontianak dan Pangkal Pinang

Menyambut libur Imlek, Garuda Indonesia diwartakan akan menambah frekuensi penerbangan pada periode 18 – 25 Januari 2023, dimana Garuda Indonesia akan menambah 14 (empat belas) frekuensi penerbangan Jakarta-Pontianak – Jakarta dan 4 (tiga) penambahan frekuensi penerbangan Jakarta – Pangkal Pinang – Jakarta, dengan total sebanyak 60 penerbangan dari dan menuju Pontianak dan Pangkal Pinang.

Baca juga: Festival Musim Semi di Cina, Kereta Berikan Tarif Murah Jelang Imlek

Adapun pada penambahan frekuensi di rute-rute tersebut hingga saat ini Garuda Indonesia mencatatkan tingkat keterisian penumpang lebih dari 80 persen.

Selain itu, Garuda Indonesia juga menawarkan potongan harga, gelaran “Promo Tahun Baru Imlek” ini juga menghadirkan penawaran khusus dari Bank Partner hingga Rp588.000. Adapun penawaran tersebut berlaku untuk periode penerbangan hingga November 2023 mendatang.

Penawaran tersebut ditawarkan untuk berbagai penerbangan rute domestik unggulan seperti Jakarta-Pontianak pp mulai Rp2,2 jutaan; Jakarta – Medan pp mulai Rp3,3 jutaan; Jakarta – Lombok pp mulai Rp2,5 jutaan; Jakarta – Labuan Bajo pp mulai Rp3 jutaan dan Jakarta – Sorong pp mulai Rp5,6 jutaan serta berbagai rute domestik lainnya.

Baca juga: Perayaan Imlek di Cina, Ratusan Juta Orang Mudik Padati Berbagai Moda Transportasi

Lebih lanjut rute internasional juga dapat diperoleh dengan harga yang menarik di antaranya Jakarta-Singapura pp mulai Rp3,7 jutaan; Jakarta – Seoul pp mulai Rp7,9 jutaan; Denpasar – Sydney pp mulai Rp8 jutaan; Jakarta – Melbourne pp mulai Rp9,3 jutaan serta berbagai rute internasional lainnya.

8 Gaya Hidup Awak Kabin yang Berbeda dari Pekerja Sipil Biasa, Nomer 3 Bikin Tajir

Meski awak kabin berstatus sebagai pekerja sipil, namun, awak kabin punya gaya kerja dan kehidupan yang relatif berbeda jika dibandingkan pekerja sipil pada umumnya. Begitu Anda bekerja sebagai awak kabin, maka hidup berubah selamanya. Sulit untuk menjalani kehidupan normal di lapangan dan, semakin lama Anda bekerja sebagai awak kabin, maka semakin jauh Anda dari ‘kehidupan’ sipil.
Ungkapan di atas dituangkan oleh Simple Flying yang menggambarkan perbedaan kerja awak kabin dengan kehidapan kerja normal di lapangan. Dan berikut adalah delapan ciri khas pembeda utama kehidupan kerja awak kabin dengan pekerja sipil pada umumnya.
1. Tidak ada Jam Kerja Tertentu
Awak kabin tidak memiliki jadwal atau jam kerja tertentu. Pola kerja ‘nine to five’ tidak ada dalam hidup mereka. Awak kabin dapat mulai bekerja kapan saja, siang atau malam. Awak kabin juga harus melakukan ‘siaga’ di mana kami menunggu untuk meliput penerbangan lain, seandainya seorang anggota kru terlambat atau menelepon karena sakit.
2. Ikatan Kerja yang kuat
Awak kabin sering jauh dari keluarga, dan mereka sering melewatkan acara-acara khusus. Terkadang teman dan keluarga tidak memahami jadwal kerja dan mereka tidak bisa begitu saja meminta cuti, seperti dalam pekerjaan normal. Namun, rekan awak kabin mengerti. Jadi ketika Anda bekerja dengan kru yang sama, Anda menjadi bagian dari keluarga kru, dan ikatan serta persahabatan itu sering kali bertahan selama bertahun-tahun.
3. Gaji variabel
Setiap bulan, gaji awak kabin berbeda-beda. Itu terdiri dari gaji pokok ditambah gaji terbang ditambah tunjangan dan terkadang komisi. Mereka tidak pernah bisa mengharapkan gaji tetap karena semua variabel. Tunjangan layover selalu berbeda karena bergantung pada biaya hidup di negara tersebut, semisal singgah di Jerman akan berbeda dengan tunjangan singgah di Jepang.
4. Tepat waktu
Awak kabin tidak boleh terlambat – atau jika terlambat, mereka bisa kehilangan pekerjaan. Pesawat tidak bisa menunggu. Oleh karena itu, kru sangat tepat waktu, baik saat bertemu dengan kru untuk makan malam setelah penerbangan atau menghadiri janji temu dengan dokter gigi sekalipun.
5. Penuh Perencanaan
Awak kabin suka membuat rencana di sekitar daftar mereka, jadi mungkin merencanakan ke mana harus berbelanja eringkali lebih murah dan lebih bervariasi. Hari libur adalah untuk tidur, memulihkan diri dari jet lag, dan kunjungan aneh ke keluarga atau teman.
6. Bepergian
Awak kabin suka bepergian, dan keseruan itu selalu ada. Perjalanan membuka indera dan tujuan hidup penuh warna yang lebih cerah dalam hidup. Suara kota menyelimuti Anda dan tentu saja aroma dan cita rasa makanan lokal selalu mempesona. Setiap perjalanan memiliki narasinya sendiri dan merupakan kisah yang menarik untuk diceritakan.
7. Gangguan pada Jam Kerja
Jam kerja bisa sangat mengganggu dan jet lag adalah yang terburuk. Awak kabin dapat menemukan diri mereka makan pada waktu yang tidak biasanya atau minum kopi di jam-jam kecil untuk mencoba dan tetap terjaga. Awak kabin jarang memiliki jadwal tidur yang tetap karena mereka mungkin harus mencoba dan tidur tepat sebelum atau sesudah penerbangan untuk menyesuaikan dengan jam kerja dan zona waktu.
8. Penampilan
Maskapai memiliki peraturan yang sangat ketat tentang seragam dan penampilan awak kabin, karena awak kabin adalah wajah dari maskapai. Ini bisa termasuk warna dan gaya rambut, warna make up dan tinggi tumit sepatu. Standar perawatan awak kabin diperiksa saat  bertugas, jadi tidak memenuhi standar dapat membuat mereka di-grounded. Awak kabin harus selalu berpenampilan sempurna baik siang maupun malam dan dimanapun mereka berada.

Pratt & Whitney Rayakan Penghematan 4 Miliar Liter Bahan Bakar di Lini Mesin GTF

Efisiensi bahan bakar tak pelak menjadi fitur yang dikedepankan oleh setiap manukftur mesin jet, betapa tidak efisiensi adalah kunci bagi maskapai atau operator untuk mampu menekan biaya operasional. Dan belum lama ini, pabrikan mesin pesawat Pratt & Whitney merayakan penghematan bahan bakar dari lini mesin Geared Turbofan (GTF)-nya.
Pratt & Whitney, yang berbasis di East Hartford, Connecticut, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa mesinnya telah menghemat 1 miliar galon (hampir 4 miliar liter) bahan bakar sejak mulai beroperasi. Selain hemat bahan bakar,  Pratt & Whitney juga membanggakan penghematan 10 juta ton emisi karbon. Lebih dari 64 operator di seluruh dunia telah memesan mesin GTF, dan 1.400 pesawat telah dikirimkan.
“Mesin GTF terus memberikan biaya operasional yang lebih rendah bagi pelanggan kami; rute baru dan potensi pendapatan untuk maskapai penerbangan, bandara, dan komunitas; serta penghematan besar dalam kebisingan dan emisi bagi penumpang dan planet kita,” ujar  Rick Deurloo, head of Commercial Engines Pratt & Whitney dalam siaran pers. Ia menambahkan, mesin GTF memungkinkan operator mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 sebesar 16 hingga 20 persen dan dapat mengurangi jejak kebisingan hingga 75 persen.
Selain itu, Pratt & Whitney juga mengabarkan telah memperluas jaringan maintenance, repair, and overhaul (MRO) untuk mesin GTF, yakni bekerja sama dengan Air France Industries, KLM Engineering and Maintenance, Iberia Maintenance, dan SR Technics of Zurich.
Pada Oktober 2022, Airbus Industries mulai menguji mesin GTF Advantage Pratt & Whitney pada pesawat A320neo. Misi tersebut mencakup uji ketahanan serta uji cuaca panas dan dingin serta uji operasi untuk bandara dataran tinggi.
Pada bulan November 2022, National Aeronautics and Space Administration (NASA) memilih Pratt & Whitney untuk membantu mengembangkan teknologi mesin canggih guna mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi untuk pesawat lorong tunggal generasi berikutnya.
Mesin GTF termasuk PW1100G-JM, memberikan daya dorong 24K hingga 33K pound, untuk Airbus A320neo, PW1500G dengan daya dorong 19K hingga 25K pound untuk menggerakkan Airbus A220, dan PW1900G yang menghasilkan daya dorong 19K hingga 23K untuk Embraer E190-E2, dan E195-E2.

Gandeng Internet Satelit Starlink, Maskapai Ini Tawarkan Penumpang Gratis Nonton Netflix Selama Penerbangan

Semakin banyak maskapai yang menggunakan jasa inflight WiFi internet satelit Starlink SpaceX. Terbaru, maskapai airBaltic mengumumkan kemitraan dengan perusahaan milik Elon Musk tersebut. Tak berhenti sampai di situ, maskapai juga menawarkan penumpang gratis nonton Netflix tanpa perlu login, termasuk tanpa login inflight WiFi.

Baca juga: Hawaiian Airlines Hadirkan Inflight WiFi Internet Satelit Starlink SpaceX, Jadi Maskapai Besar Pertama di Dunia

airBaltic selama ini memang dikenal sebagai salah satu maskapai paling inovatif. Masakapai asal Latvia itu sebelumnya dinobatkan sebagai maskapai pertama yang seluruh armadanya menggunakan Airbus A220 atau all aribus aircraft.

Saat demam kripto menjangkiti dunia, maskapai nasional Latvia itu menjadi maskapai pertama yang mengizinkan transaksi menggunakan mata uang kripto.

Terkait inflight WiFi internet satelit Starlink SpaceX bekercepatan tinggi di pesawat, airBaltic memang bukan yang pertama di dunia, tetapi maskapai itu jadi yang pertama di Eropa.

CEO airBaltic, Martin Gauss, mengatakan, keputusannya bekerja sama dengan Starlink tak lepas dari kemampuannya menghadirkan internet berkecepatan tinggi, sekitar 350 megabit per detik, selama dalam penerbangan, tanpa perlu login atau memasukkan password, memungkinkan 150 penumpang di kabin menonton Netflix tanpa berebut akses.

Hal itu, lanjutnya, membuat penumpang bebas melakukan apapun layaknya di darat tanpa terkendala sinyal; termasuk nonton film-film berkualitas di Netflix.

Saat ditanya berapa biaya untuk itu, ia memberikan sinyal bahwa layanan tersebut adalah bagian dari pembeda maskapai dengan yang lain. Tetapi tidak secara spesifik disebutkan bahwa itu gratis atau tidak.

Bila tak ada aral melintang, tahun ini layanan internet satelit Starlink SpaceX tersebut bisa dinikmati penumpang. Tanggal pastinya belum diketahui.

“Instalasinya sangat, sangat cepat dan akan otomatis – tidak rumit. Saat Anda masuk ke pesawat dan cukup pilih WiFi – tanpa kata sandi – dan Anda dapat memiliki akses internet kecepatan tinggi setiap saat. Anda dapat melakukan Netflix, Anda dapat melakukan semua aktivitas media sosial Anda, tanpa gangguan,” ujarnya.

Baca juga: Keren, Tahun 2022 Pesawat Airbus Terhubung Internet Berbasis Satelit Berkecepatan 1,8 Gbps!

“Saya sudah mengujinya. Saya pernah naik pesawat terbang dengannya, dan saya sangat terkesan. Ada kecepatan unduh hingga 350 megabit per detik, untuk memberi Anda gambaran. Jadi, jika semua orang ingin menonton Netflix pada saat yang sama, meskipun Anda memiliki sekitar satu megabit per detik, Anda masih dapat menonton Netflix,” tambahnya.

“Kami hanya memiliki 150 kursi di pesawat kami, sehingga setiap penumpang dapat menonton Netflix, bahkan bermain game pun dimungkinkan. Jadi kami tidak akan memiliki masalah dengan kecepatan,” tutupnya, seperti dikutip Simple Flying.

Inilah Solar One, Pesawat Bertenaga Surya ‘Pertama’ di Dunia

Pada hari ini, 43 tahun lalu, bertepatan dengan Kamis, 19 Januari 1978, salah satu pesawat bertenaga surya (matahari) pertama di dunia, Solar One, dipamerkan ke publik. Pesawat bertenaga surya Inggris yang dikembangkan oleh Solar-Powered Aircraft Developments atas rancangan David Williams ini, bergabung dengan pesawat bertenaga surya pertama di dunia lainnya, seperti AstroFlight Sunrise ( pesawat bertenaga surya tak berawak yang terbang perdana pada 4 November 1974) dan Mauro Solar Riser (pesawat bertenaga surya berawak pertama pada 29 April 1979).

Baca juga: Global Solar Energy Rilis Shuttle Bus Bertenaga Surya Pertama di Bandara

Sebelum berbicara lebih jauh, Solar One sebetulnya layak untuk disebut sebagai pesawat bertenaga surya pertama di dunia yang berhasil terbang. Sebab, Mauro Solar Riser, yang terbang beberapa bulan sebelum Solar One, belum bisa dikatakan terbang menggunakan tenaga surya. Pesawat ini hanya mampu mencapai ketinggian 12 meter dan daya tahan 3-5 menit atau sejauh ratusan meter. Sekali lagi, tak cukup untuk disebut terbang.

Terlepas dari itu, yang jelas, disarikan dari berbagai sumber, perjalanan pembuatan pesawat bertenaga surya pertama Inggris ini (mengingat AstroFlight Sunrise dan Mauro Solar Riser keduanya buatan Amerika Serikat), tentu tak mudah. Ide pembuatan Solar One awalnya dimulai dari pembuatan human-powered aircraft (pesawat bertenaga manusia) oleh Freddie To untuk diikutsertakan dalam perlombaan.

Strukturnya, pesawat ini terbuat dari kayu dengan dilapisi solarfilm yang mampu menyerap panas. Sayapnya terbuat dari tiga bagian, satu bagian membentang di pusatnya di bagian tengah dan dua bagian lainnya masing-masing ditambah di kanan serta kiri pesawat, menjadikannya lebih panjang. Adapun desain wing sparnya mirip dengan desain spruce girder box-spar. Begitu juga dengan bagian stabilizer horizontal pesawat.

Sayangnya, pesawat memiliki berat kotor yang tak sesuai dengan ekspektasi yaitu mencapai 104 kg dan terlalu berat untuk penerbangan bertenaga manusia sehingga desainnya diubah menjadi pesawat bertenaga surya. Dari sinilah proyek pembuatan Solar One dimulai.

Awalnya, Solar One sempat pesimis untuk diselesaikan dengan budget anggaran yang minim. Maklum, anggaran atau dana yang disediakan oleh sang kreator hanya sebesar £16.000, tergolong besar memang untuk pembuatan pesawat bertenaga manusia, namun tidak demikian dengan pembuatan pesawat bertenaga surya. Sebab, harga pemasangan 750 sel surya berdiameter 3 inci saja biayanya sudah mencapai £6.000. Belum baterai Nikel-kadmium, motor penggerak listrik, baling-baling dua bilah, pod powerplant, dan berbagai komponen lainnya.

Setelah proses pengerjaan rampung, Solar One akhirnya berhasil terbang perdana pada 19 Desember 1978 di Lasham Airfield, Hampshire, Inggris. Saat itu, pitch baling-baling tidak disetel dengan benar dan penerbangan perdana tak berjalan mulus.

Setelah itu, tim berusaha untuk menemukan setelan yang pas hingga mencapai keberhasilan pada 13 Juni 1979. Saat itu, di tangan pilot Ken Stewart, pesawat bertenaga surya pertama Inggris ini berhasil lepas landas dengan kecepatan 37 km per jam, mencapai ketinggian 24 meter, dan menempuh jarak sejauh 1,2 km.

Kesuksesan itu kemudian diikuti dengan penerbangan kedua pada hari yang sama oleh Bill Maidment, dimana Solar One berhasil terbang di kecepatan 78 km per jam. Sebagai informasi, pesawat bertenaga surya ini berhasil terbang berkat baterai yang menyuplai energi ke powerplan dan motor listrik hingga menggerakkan baling-baling, bukan langsung dari sel surya yang berada di punggung pesawat kemudian menjadi baterai dan menggerakkan baling-baling.

Baca juga: Wujudkan Mimpi, Pemilik Resor di Australia Hadirkan Kereta Bertenaga Sel Surya

Sayangnya, setelah rentetan keberhasilan itu, pesawat dengan kapasitas satu kru, panjang 6,71 meter, bentang sayap 20,63 meter, dan empat powerplant ini akhirnya harus pensiun di tahun yang sama. Tak disebutkan dengan jelas mengapa itu terjadi. Kuat diduga bahwa pesawat memang tidak dibuat untuk terus dioperasikan sampai waktu yang lama.

Untuk diketahui, pada tahun 2016, Solar Impulse 2, sebuah pesawat berawak bertenaga surya berhasil keliling dunia tanpa bahan bakar. Pesawat tersebut menjadi pesawat bertenaga surya pertama di dunia yang berhasil keliling dunia selama setaun lebih dalam 17 tahap.

Apa yang Dikatakan Pilot Saat Tahu Pesawatnya Akan Jatuh? Ternyata Ucapkan ‘Mantra’ Ini

Sebagai penerbang, pilot-kopilot tentu saja jadi manusia yang paling mengetahui apakah pesawat akan terus terbang atau jatuh. Saat pilot mengetahui pesawat akan jatuh, biasanya yang terjadi adalah pilot menyebut-nyebut Tuhannya. Namun, itu bukanlah ‘mantra’ standar pilot profesional. Lantas, apa ‘mantra’ pilot profesional yang biasa diucapkan pilot saat tahu pesawat akan jatuh?

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Pilot Selalu ‘Bohong’ Terkait Hal Ini Saat dalam Penerbangan

Menurut mantan pilot and flight simulator instructor Air Asia, Lim, seperti dikutip dari Quora, sedikitnya ada tiga ‘mantra’ yang diucapkan pilot saat dalam keadaan darurat atau saat tahu pesawat akan jatuh. Salah satu pilot yang pernah mengucapkan mantra ini adalah Capt. Moody, kapten pilot pesawat Boeing 747 British Airways flight 009.

Pada 24 Juni 1982, pesawat itu diketahui terbang dari London Heathrow ke Auckland, dengan transit di Mumbai, Kuala Lumpur, Perth, dan Melbourne. Usai berhenti di Kuala Lumpur, pesawat terbang ke Perth melewati langit Jakarta dan Sukabumi.

Celakanya, kapten Eric Moody yang tengah membawa 263 penumpang tidak mengetahui bahwa Gunung Galunggung sedang meletus atau erupsi. Tak sampai di situ, abu vulkanik gunung yang meletus pada 5 Mei 1982 dan terus mengeluarkan dentuman, pijaran api, abu vulkanik, dan kilatan halilintar sampai 8 Januari 1983 itu mengarah ke Barat. Ini pada akhirnya membuat mesin pesawat flight 009 mati total (failed).

Eric sontak kaget ketika mengetahui bahwa empat mesin pesawat yang tengah ia kendalikan tersebut tidak berfungsi, tepatnya ketika pesawat berada di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Ketika mengetahui insiden tersebut, pesawat tengah berada di ketinggian 36.000 kaki atau setara dengan 11.000 meter.

Mengetahui empat mesinnya mati, yang ada dibenak Eric pesawat akan jatuh perlahan. Namun, ia tidak panik dan seolah sangat terlatih untuk ini. Hal pertama yang ia lakukan ketika itu ialah mengucapkan mantra yang biasa pilot profesional lakukan, yaitu “aviate, navigate, communicate”.

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Semua Mesin Mati Saat Pesawat di Udara?

Walau empat mesin pesawat failed atau mati, bagaimanapun juga ia tetap harus “aviate” atau menerbangkan pesawat, lalu “navigate” atau menavigasikan pesawat ke bandara terdekat untuk mendarat darurat.

Memang, saat mesin pesawat mati, itu tidak lantas membuat pesawat jatuh vertikal bak batu jatuh dari langit. Secara teori, pesawat mampu terbang sejauh 15 km untuk setiap penurunan 1 km. Berhubung pesawat berada di ketinggian 11 ribu meter, itu berarti pesawat mampu terbang sejauh 165 km atau 23 menit sebelum jatuh ke daratan. Bandara Halim diketahui masuk dalam jangkauan itu. Diputuskan, pesawat pun menuju ke sana.

Usai menavigasi, Capt. Eric kemudian melakukan “communicate” agar semua mendapat informasi terkait hal itu. “Communicate” ini ada rumusnya untuk memudahkan pilot, yaitu mnemonik ‘CCCCC’.

‘C’ pertama ialah ‘Crew’ kokpit diberitahu tentang keadaan darurat. ‘C’ kedua adalah berkomunikasi dengan ‘Controller’ atau ATC dan menyatakan keadaan darurat Mayday. ‘C’ ketiga adalah ‘Cabin Crew’ untuk menentukan langkah-langkah yang diambil. ‘C’ keempat adalah ‘Customer’ atau penumpang agar mereka bersiap. Biasanya ini akan terdengar lebih halus dari aslinya, seperti yang Capt. Eric Moody katakan.

”Hadirin sekalian, ini kapten Anda yang berbicara. Kami punya masalah kecil. Keempat mesin telah berhenti. Kami melakukan yang terbaik untuk membuat mereka pergi lagi. Saya yakin Anda tidak terlalu tertekan.”

Baca juga: Kenapa Pilot Tak Banyak Memberikan Informasi Saat Terjadi Insiden? Inilah Alasannya

‘C’ terakhir adalah ‘Company’ agar turut diinformasikan atas apa yang terjadi.

Singkat cerita, pesawat dengan nomor registrasi G-BDXH tersebut saat menyentuh ketinggian 13.000 kaki, tiga dari empat mesin kembali menyala, sehingga pesawat tersebut bisa melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Jakarta dengan mulus.

Mayla FortyFour – Kapal Cepat Bertenaga Listrik yang Bisa Ngebut 130 Km Per Jam

Ada yang beranggapan bila wahana bertenaga listrik kinerjanya masih kalah dengan wahana bertenaga mesin kovensional. Anggapan itu juga berlaku di segmen kapal cepat, namun, start-up asal Jerman Mayla Yachts punya desain yang akan diwujudkan berupa kapal cepat pertama bertenaga listrik yang mampu dibawa melesat hingga 70 knots (130 km per jam).

Baca juga: Kapal Ferry Cepat Milik Operator Cina Punya Bodi Ramping, Cepat dan Hemat Bahan Bakar

Dikutip dari Motorboat & Yachting, kapal cepat bertenaga listrik (electric boat) ini adalah Mayla FortyFour. Kapal ini dibangaun berdasarkan platform lambung Petestep deep-vee. Kapal listrik serat karbon ultra ringan ini ditenagai motor listrik dual-core kembar 800kW, yang menghasilkan tenaga hingga 2.150 hp ke penggerak permukaan yang dipasang di tunnel-mounted surface, begitu pengguna menerapkan throttle, akselerasi kapal ini akan terasa menakutkan.

Daya kapal listrik ini berasal dari baterai lithium-ion 500kWh all-electric atau baterai 400kWh yang lebih kecil. Sementara untuk backup kelistrikan, tersedia generator diesel 400hp (300kW) dan tangki bahan bakar. Versi kapal hybrid ini harus memberikan jangkauan maksimum 270 nm (500 km) pada 30 knot (55 km per jam).

Garis Mayla FortyFour menampilkan perpaduan yang tidak biasa dari desain speed boat tahun 1980-an, namun menggunakan detail yang canggih. Dek depan yang luas itu memakan sedikit lebih dari setengah dari panjang yang tersedia, menyisakan ruang di bawahnya untuk tempat tidur terbuka dengan sofa di kedua sisi, tempat tidur ganda di depan dan kompartemen serta pancuran terpisah.

Anjungan kapal ini relatif kompak menurut standar kapal modern dengan sepasang kursi bucket peredam kejut di belakang kaca depan sampul dan sepasang kursi berjemur di jalur melintang yang meluncur bersama untuk membuat satu sunpad pusat yang besar.

Baca juga: Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di Venesia

Ada juga garasi untuk tender kecil atau jetski. Harga untuk Mayla FortyFour belum diumumkan tetapi yang pertama sudah dijual dan sedang dibangun di Uni Emirat Arab.

Bagaimana Cara Pesawat Belok Saat di Darat dan Udara?

Kendaraan di darat berbelok ke kanan dan kiri mengandalkan roda depan yang terhubung dengan setir di kursi pengemudi. Bagaimana dengan pesawat, apakah pesawat belok juga dengan cara yang sama? Jika ya, bagaimana saat di udara, dimana roda pesawat justru sembunyi di lambung pesawat? Jika tidak, lantas, seperti apa cara pesawat berbelok baik saat di darat maupun di udara?

Baca juga: Kenapa Pesawat Selalu Belok Kiri Setelah Lepas Landas? Berikut Penjelasannya

Kepada KabarPenumpang.com, Capt. Bobby Faisal, eks kapten pilot Garuda Indonesia, menceritakan bagaimana pesawat berbelok, baik di darat maupun di udara. Cara pesawat pesawat belok sebetulnya sangat sederhana, mengandalkan keseimbangan antara kiri dan kanan.

Kesimbangan di sini maksudnya adalah aileron di kanan dan kiri yang bisa dikontrol dari joystick (pada pesawat Airbus) atau yoke (pada pesawat Boeing). Itupun tergantung sudut bank (bank angle) yang ingin dicapai.

Sebelum lanjut tentang bagaimana pesawat belok, perlu diketahui jenis belokan pada pesawat yang dicapai pilot sedikitnya ada tiga; shallow turn atau sedikit berbelok dengan sudut bank sekitar kurang dari 20 derajat, belokan menengah atau setengah curam dengan sudut bank sekitar 20-45 derajat, dan belokan curam dengan sudut bank lebih dari 45 derajat.

Dalam konteks belokan ringan dan setengah curam, pesawat dapat dibelokkan oleh pilot cukup menggunakan aileron.

Capt. Bobby menjelaskan, aileron terdapat satu di sisi sayap kanan dan kiri pesawat. Posisinya persis di dekat winglet di bagian belakang sayap. Saat pesawat ingin berbelok ke kanan, aileron sayap kanan akan naik dan aileron sayap kiri turun.

Cara mengaktifkannya, pilot cukup memutar atau menggerakkan yoke atau sidestick ke kanan, maka kabel-kabel yang terhubung sudah otomatis membuat aileron kanan naik dan aileron kiri turun dan membuat pesawat belok ke kanan.

Demikian pula sebaliknya, saat pesawat ingin di belokkan ke kiri, yoke atau sidestick tinggal digerakkan ke kiri. Ini berlaku untuk di darat maupun di udara.

Saat pilot ingin pesawat belok curam lebih dari 45 derajat, baik di darat maupun di udara, biasanya selain menggunakan aileron juga menggunakan rudder. Rudder posisinya berada di kaki pilot, mirip seperti pedal gas dan rem atau kopling pada mobil.

Umumnya pilot menggunakan dua kaki untuk ini, dimana kaki kiri menginjak pedal rudder kiri untuk membuat pesawat berbelok ke kiri dan kaki kanan menginjak pedal rudder kanan untuk membuat pesawat belok ke kanan. Ini lebih maksimal ditambah dengan kinerja dari aileron sehingga sudut bank atau putaran pesawat menjadi lebih luas lebih dari 45 derajat.

Baca juga: Mendadak Belok Saat Ngebut di Runway, Pesawat Tibet Airlines Terbakar

Perlu dicatat, umum juga terjadi bahwa pada belokan ringan dan setengah curam sekalipun, selain menggunakan aileron, pilot juga menggunakan rudder sebagai alat bantu, tergantung kebutuhan pilot.

Singkatnya, pesawat tidak mempunyai sistem kemudi atau setir yang terhubung ke ban depan pesawat (layaknya mobil atau motor) untuk membuat pesawat belok di darat ataupun di udara. Sebaliknya, baik di darat, saat di apron menuju runway dan berputar sebelum lepas landas, itu menggunakan rudder dan aileron.

Hari Ini, 18 Tahun Lalu, Airbus A380 Dipamerkan ke Publik oleh PM Inggris dan Presiden Perancis

Pada hari ini, 18 tahun yang lalu, bertepatan dengan 18 Januari 2005, Airbus A380 diperkenalkan ke publik. Tak tanggung-tanggung, prosesi itu dihadiri langsung oleh dua petinggi negara; Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, dan Presiden Perancis, Jacques Chirac. Keduanya menyampaikan pujian setinggi langit terhadap pesawat, meskipun pada akhirnya A380 dicap sebagai proyek gagal.

Baca juga: Hari ini, 17 Tahun Lalu, Airbus A380 Sukses Terbang Perdana

Kehadiran Airbus sebagai produsen pesawat kenamaan Eropa dan dunia memang tak lepas dari kerja sama empat negara; Jerman, Inggris, Perancis, dan Spanyol. Meski sudah memulai debut sejak tahun 1970an melalui Airbus A300, pabrikan tersebut tetap tak bisa melawan kedigdayaan raksasa produsen pesawat sipil asal Amerika Serikat (AS), Boeing.

Karenanya, kehadiran pesawat sipil terbesar di dunia ini disambut begitu antusias sebagai penantang Boeing 747 yang merajai pasar pesawat widebody. Tak pelak acara launching pertama A380 ke publik dibuat sangat meriah dan dihadiri oleh pimpinan dua negara.

Dilansir airwaysmag.com, sejak diluncurkan ke publik untuk pertama kalinya pada 18 Januari 2005 di Toulouse, Perancis, pamor Airbus A380 terus meningkat. Pesawat yang menghabiskan biaya Rp163 triliun untuk pengembangan itu disebut pesawat masa depan.

Ketika itu, dihadapan sekitar 5.000 tamu di pabrik Airbus di Toulouse, Perancis, Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, memuji A380 sebagai pesawat yang paling menarik di dunia. Ia juga menyebut pesawat itu menandai “tingkat kerja sama antar negara yang belum pernah terjadi sebelumnya”, dan akan “mengubah cara kita bepergian”.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Singapore Airlines Jadi Maskapai Pertama Operasikan Airbus A380

Tak lupa, ia juga memuji pesawat yang mampu menampung lebih dari 550 penumpang itu sebagai pesawat yang ramah lingkungan karena sejak awal pengembangannya sebisa mungkin meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan.

Sementara itu, Presiden Perancis, Jacques Chirac, bahwa Airbus A380 adalah “Penerbangan yang sesungguhnya” dan debutnya di jagat penerbangan global didedikasikan untuk semua berikut seluruh perasaan dan kebanggaan.

Setelah diperkenalkan, tiga bulan kemudian, prototipe A380 dengan registrasi F-WWOW itu melakukan penerbangan perdana (first maiden) di langit Kota Toulouse, Perancis, pada 27 April 2005. Penerbangan dipimpin langsung oleh Jacques Rosay, kepala pilot penguji Airbus, dibantu enam awak.

Pesawat lepas landas dari Toulouse pada 10.29 waktu setempat dan mengudara selama hampir empat jam. Selama waktu ini, F-WWOW berhasil memenuhi semua tujuan utama uji terbang. Tiga jam 54 menit kemudian, pesawat mendarat di Toulouse pada 14.23 siang waktu setempat. Kedatangannya disambut meriah oleh jurnalis, avgeeks, dan bahkan masyarakat pada umumnya.

Baca juga: Orang Berpengaruh di Airbus Sebut (Dibohongi Soal) Mesin Jadi Sebab Kegagalan A380

Di tahun peluncuran ke publik dan dilakukannya first maiden, Airbus, berikut Inggris dan Perancis, sangat optimis A380 mampu menggeser widebody AS.

Nyatanya, setelah beberapa tahun, tepatnya pada Februari 2019, Airbus mengumumkan menyetop produksi A380 dengan angka penjualan akhir diperkirakan mencapai 242 unit, sedikit dari target minimum penjualan untuk mencapai break even di angka 250 unit pesawat, atau jauh dari target penjualan 750 unit.