Babak Baru, Armada Boeing 787 Dreamliner Mulai Dihapuskan (Scrap)

Bagi banyak maskapai, seri pesawat Boeing 787 Dreamliner masih menjadi andalan untuk melayani penerbangan jarak jauh. Terbang perdana pada 15 Desember 2009, sampai Januari 2023, sudah 1040 unit 787 diproduksi dan pesanan masih terus berjalan bagi pesawat yang tergolong baru ini. Namun, ada kabar bahwa sudah ada seri Boeing 787 yang akan segera dihapuskan (scrap).

Baca juga: Wow, 5 Bangkai Pesawat Ini Justru Jadi Spot Favorit Menyelam di Dunia

Bukan sebatas dipensiunkan, di-scrap artinya pesawat akan dibongkar dan komponennya akan dijual atau dimanfaatkan untuk tujuan lain. Pembongkaran dua unit Boeing 787 pertama yang akan dipensiunkan bakal dilakukan oleh EirTrade. Dan jangan dikira prosesnya cepat, untuk membongkar 787 membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikannya.

EirTrade Aviation telah diberi tugas membongkar dua Boeing 787 pertama yang akan dipensiunkan. Perusahaan manajemen dan perdagangan aset penerbangan global yang berbasis di Dublin ini akan membongkar kedua pesawat sekaligus untuk diambil suku cadangnya.

Pekerjaan tersebut kemungkinan akan memakan waktu sekitar tiga bulan untuk diselesaikan, dengan suku cadang akan tersedia pada akhir Q1 2023. EirTrade belum mengungkapkan identitas dari dua Boeing 787 yang akan dibongkar, menambahkan bahwa detail ini, untuk saat ini, tetap dirahasiakan.

Kedua pesawat tersebut akan menjadi Boeing 787 komersial pertama yang akan pensiun dari layanan, yang berarti bahwa saat ini tidak ada material bekas pakai – used serviceable material (USM) yang tersedia untuk jenis pesawat ini. Oleh karena itu, pekerjaan EirTrade akan menyediakan cara bagi maskapai penerbangan lain dan fasilitas pemeliharaan untuk mendapatkan suku cadang bekas dengan harga lebih murah.

Pekerjaan pembongkaran 787 tersebut akan dilakukan di salah satu fasilitas EirTrade di Prestwick, Skotlandia, dengan materi selanjutnya disimpan di Irlandia sampai pembeli yang cocok dapat ditemukan.

EirTrade tidak asing dengan pembongkaran pesawat berbadan lebar setelah terlibat dalam pembongkaran Airbus A380 pertama yang pensiun pada tahun 2019.

Baca juga: Kasihan, Boeing 747-8 VIP Bekas Kerajaan Arab Saudi ‘Dimutilasi’: Baru Mencatat 50 Jam Terbang

Dikutip dari Simple Flying, Boeing 787 Dreamliner penumpang tertua masih dioperasikan oleh All Nippon Airways. Pesawat terdaftar sebagai JA801A, dikirim ke maskapai pada Oktober 2011, dan menurut data FlightRadar24.com, telah beroperasi ke Quingdao (TAO), Taipei (TPE), dan Hong Kong (HKG) dalam beberapa hari terakhir. United Airlines dan Ethiopian Airlines adalah di antara maskapai lain yang masih menerbangkan Boeing 787 yang lebih tua sejak 2011 dan 2012.

Furrion Rilis Dua Konsep Caravan Futuristik, Salah Satunya Dilengkapi Helipad!

Ketika dunia transportasi sempat digemparkan dengan kehadiran caravan yang merupakan gabungan mobil dan ruang istirahat, kini kendaraan tersebut telah bertransformasi dan tampil dengan penambahan teknologi yang menunjang kenyamanan para penggunanya.

Baca Juga: Terkoneksi Dengan Gadget, Ujet Hadirkan Asymmetrical Smart Scooter

Adapun kendaraan yang kerap kali digunakan oleh grup musik internasional untuk menjalani serangkaian tur ini baru saja ‘naik kelas’ dan dipamerkan pada perhelatan Costumer Electronics Show (CES) 2018 di Las Vegas Convention Center, Nevada, United States.

Furrion selaku perusahaan teknologi yang merilis dua konsep luxury caravan ini menyebutkan bahwa kendaraan besar ini mengadaptasi sistem hiburan layaknya sebuah smarthome dan kitchen set setingkat resto berbintang.

Furrion Elysium RV. Sumber: newatlas.com

Adalah Furrion Elysium dan Hercules-Limitless, dua konsep luxury caravan ini mampu mencuri perhatian para pengunjung di perhelatan CES 2017 tersebut. Furrion Elysium Recreational Vehicle (RV) memiliki panjang 45 kaki, lebar 8 kaki, dan tinggi 13,6 kaki. Ukurannya  yang lebih besar dari kebanyakan caravan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan interior yang ada di dalamnya, seperti kulkas, oven, kulkas, kulkas khusus anggur, TV 75 inci, perapian, kamar mandi pintar, dan sebuah kolam kecil air panas di lantai dua.

Jika kelengkapan interiornya belum cukup membuat Anda tercengang, mungkin bagian luar dari kendaraan ini bisa membuat Anda menganga terkagum. Ya, kendaraan ini dilengkapi dengan sebuah helipad di bagian atasnya. Adapun Furrion Elysium RV ini di desain untuk menampung helikopter seperti Robinson R22.

Baca Juga: MSC Meraviglia, Kapal Pesiar Terbesar dari Mediterranean Shipping Cruises

Mengingat kondisi cuaca di Amerika Serikat yang bisa dibilang sangat ekstrem, Furrion sudah mempertimbangkan setiap detailnya sehingga kendaraan ini bisa dibilang sangat kuat dan mampu menahan guncangan parah yang menerpanya. Namun bagi Anda yang berkeinginan untuk memiliki Furrion Elysium RV ini, nampaknya Anda harus mengurungkan niatan tersebut dalam-dalam, karena hingga saat ini pihak Furrion tidak memperjual-belikan kendaraan futuristik ini.

Hercules-Limitless. Sumber: newatlas.com

Sementara untuk Hercules-Limitless, kendaraan ini lebih menyerupai sebuah sleeper-bus yang bagian interiornya tidak jauh beda seperti Furrion Elysium RV. Konektivitas 4G dan Wi-Fi onboard pun tidak luput melengkapi kendaraan luxury ini, sehingga diharapkan para penggunanya bisa merasa lebih dimanjakan ketika mengendarai Furrion Elysium RV dan Hercules-Limitless.

Kemenhub: Perlu Ada Solusi Sementara Atasi Lonjakan Penumpang Sampai Kereta INKA Selesai

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) buka suara terkait polemik peremajaan sarana kereta rel listrik (KRL). Kemenhub menganggap perlu adanya solusi sementara untuk mengakomodir lonjakan penumpang sampai kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) selesai dibangun dan dioperasikan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Baca juga: Kenapa Ada Pintu Depan di Kabin Masinis KRL Jepang? Ini Jawabannya

“Perlu ada solusi sementara untuk mengatasi lonjakan penumpang KRL sampai produk INKA selesai dan dapat digunakan untuk melayani,” jelas Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati, dalam keterangan resmi yang diterima KabarPenumpang.com.

Karenanya, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) mendukung upaya peremajaan sarana KRL yang sedang dilakukan oleh PT KCI mengingat usia sarana kereta yang akan pensiun. Dukungan ini disampaikan dalam bentuk surat rekomendasi teknis yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian dengan tanggal 19 Desember 2022.

“Pengadaan sarana ini harus segera dilaksanakan untuk menggantikan beberapa rangkaian kereta yang akan dipensiunkan pada 2023-2024 mengingat usia pakainya yang sudah terlalu lama,” tutur Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati hari ini (1/3).

Selain didorong oleh faktor usia sarana, kebutuhan pengadaan muncul untuk mengakomodasi pertumbuhan penumpang. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh PT KCI, realisasi penumpang tertinggi sebelum pandemi sudah menyentuh angka 336,3 juta orang penumpang pada 2019. Jumlah penumpang diproyeksikan akan terus meningkat hingga 523,6 juta orang pada 2040.

Guna mengakomodasi pertumbuhan tersebut, diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas angkut dari 436 juta orang penumpang pada 2023, menjadi 517 juta orang pada 2026. “Semoga upaya ini tetap membuat KCI dapat memberikan layanan terbaik bagi masyarakat,” ujar Adita.

Adita menyadari, ada kebutuhan lain dalam pengadaan sarana kereta api ini, yakni pemanfaatan produk dalam negeri, dengan penggunaan produk PT INKA.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, masa produksi sarana kereta KRL baru oleh INKA membutuhkan waktu 2-3 tahun, sejak sekarang. “Sehingga, sarana KRL bukan baru menjadi pilihan yang bijak menurut kami, sembari menunggu proses produksi dari INKA selesai,” tuturnya.

“Tentu kami dari Kemenhub sangat mendukung pengadaan sarana produksi dalam negeri untuk memajukan industri kita sehingga kami pun sangat mengapresiasi langkah PT KCI yang sudah meneken MoU dengan PT INKA untuk pengadaan ini,” ucap Adita menambahkan.

Baca juga: Teken Kerja Sama, KAI Commuter dan INKA Siap Pengadaan 16 Rangkaian KRL Untuk Operasi 2024

Berkatian dengan hal tersebut, Adita menegaskan, salah satu rekomendasi Kementerian Perhubungan untuk pengadaan sarana KRL bukan baru adalah, KCI harus memastikan kelayakan komponen-komponen sarana yang berhubungan langsung dengan keselamatan. “Jika nanti sudah diputuskan akan dilakukan pengadaan sarana bukan baru, kami berharap PT KCI pun dapat memperhatikan komponen seperti bogie, roda, kelistrikan, dan pengereman agar dapat diperbaiki atau diganti dengan komponen baru,” tuturnya.

Adita mengingatkan agar pengujian pertama dan penerbitan sertifikat kelayakan operasional harus melalui prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh DJKA Kementerian Perhubungan. Adita juga menghimbau sarana bukan baru yang didatangkan dari Jepang nantinya dapat direvitalisasi menggunakan komponen-komponen produksi dalam negeri untuk tetap mendukung industri lokal.

Berapa Banyak Mantan Pilot Militer yang Jadi Pilot Maskapai?

Kekurangan pilot sipil membuka peluang lebar bagi mantan pilot militer yang sudah pensiun agar tetap bisa terbang dan mendapatkan penghasilan. Ini terjadi di banyak negara di dunia. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, pada dekade 80-an, dua pertiga pilot sipil di negara itu adalah mantan pilot militer. Seiring waktu, jumlahnya terus menurun karena beberapa fatktor. Lantas, saat ini, berapa banyak pilot militer yang menjadi pilot maskapai?

Baca juga: Khawatir Arogan, Bahayakah Pilot Militer Pindah Jadi Pilot Komersial?

Sejarah eks pilot militer melanjutkan karir sebagai pilot sipil atau pilot maskapai sudah terjadi pasca Perang Dunia II berakhir. Ketika itu, banyak pesawat termasuk pilot bebas tugas. Di saat yang bersamaan, industri penerbangan sipil global terus tumbuh dan tidak dibarengi dengan ketersediaan pilot sipil.

Eks pilot militer juga lebih mudah mendapatkan lisensi ATP atau Airline Transport Pilot. Mereka hanya perlu mencapai minimum jam terbang 750 jam, jauh dibandingkan dengan pilot sipil yang harus mencapai 1.000-1.500 jam untuk mendapat linsensi ATP.

Dalam kondisi tersebut, tak sedikit pilot militer yang mundur dari kesatuan dan menjadi pilot maskapai secara permanen. Ada juga pilot militer yang sifatnya sewaan oleh maskapai.

Seiring kebutuhan pilot militer yang juga meningkat maskapai penerbangan mulai kesulitan mendapat pilot militer yang pensiun ataupun sengaja keluar dari kesatuan dan memilih status sebagai pilot sipil.

Dilansir Simple Flying, informasi jumlah pilot militer yang melanjutkan karir menjadi pilot sipil di Asia, Eropa, Australia, dan Afrika sangat minim. Namun, data di AS, sebagai mikrokosmos pasar penerbangan global, mungkin dapat menjadi tolok ukur.

Disebutkan, persentase pilot militer yang berkarir menjadi pilot sipil sudah jauh berkurang dibanding dekade 1980-an dan mayoritas pilot sipil tidak memiliki pengalaman sebagai pilot militer.

Ada beberapa alasan mengenai ini. Pertama adalah militer sendiri kekurangan pilot. Dibandingkan dahulu saat masa Perang Dunia II dan masa Perang Dingin, AS memiliki banyak pilot bahkan berlimpah. Tetapi saat ini kondisinya berbeda dan mengalami kekurangan.

Alasan kedua adalah maskapai saat ini lebih banyak mengandalkan pilot ab-initio. Pilot ab-initio sendiri adalah penerbang yang baru lulus mendapatkan Commercial Pilot License (CPL) namun belum mempunyai pengalaman dan belum terbang menjalankan profesinya sebagai pilot.

Baca juga: Inilah Asal Mula Kata ‘Roger’ yang Kerap Diucapkan Pilot Sipil dan Militer

Sudah pasti pilot ab-intio membutuhkan jam terbang dan maskapai memanfaatkan itu sehingga tercipta simbiosis mutualisme. Maskapai membutuhkan pilot terlatih dan bersertifikat untuk menerbangkan pesawat, di sisi lain pilot ab-initio sangat terbantu dengan kesempatan yang diberikan maskapai untuk menambah jam terbang.

Alasan ketiga adalah perkembangan pilot sipil saat ini jauh lebh cepat bertambah dibandingkan pilot militer. Akademi atau sekolah pilot sudah banyak menjamur di seluruh dunia.

Inilah Airfish 8, Flying Boat Buatan Singapura yang Mirip Ikan Pari

Industri penerbangan sangat terbantu dari manfaat biomimicry, yaitu menyadur desain atau teknologi apapun yang ditemukan di alam untuk mendukung kemajuan teknologi manusia. Salah satu contoh nyatanya ada pada flying boat Airfish 8 (AF8) buatan Singapura. Dilihat dari sudut manapun, flying boat yang tak dibekali kemampuan amfibi itu sangat mirip dengan ikan pari.

Baca juga: Inilah PBY Catalina Flying Boat, Pesawat Amfibi Pertama yang Mendarat di Indonesia

Flying boat atau seaplane belakang mulai menjadi buah bibir lagi di Indonesia pasca gelaran balap kapal supercepat F1 Powerboat di Danau Toba, Indonesia. Seaplane dianggap cocok untuk Indonesia yang berupa kepulauan.

Sempat ada angin segar dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Keduanya dikabarkan tengah mengembangkan varian pesawat N219 Amfibi yang akan dijadikan seaplane. Pesawat bermesin PT6A–42 ganda dengan kapasitas 19 penumpang ini dianggap mampu menghubungkan Indonesia dari pulau ke pulau.

Dengan kemampuan bobot maksimum lepas landas (MTOW) 7.030 kg, berjarak tempuh (19 Penumpang) 480 mil laut, dan berkecepatan jelajah maksimum 210 knot, dipastikan N219 mampu menjadi solusi peningkatan keselamatan hingga tercapainya waktu tempuh yang lebih singkat untuk menyeberang antarpulau kecil di Indonesia.

Semisal dari Ambon ke Banda Naira, untuk mencapai pulau tersebut masyarakat atau wisatawan biasa menggunakan speedboat dengan waktu tempuh 8 jam. Sedangkan bila menggunakan N219 seaplane hanya memakan waktu 45 menit saja. Perbandingan waktu tempuh yang sangat besar tentunya.

Namun, saat Indonesia masih terus mengembangkan dan tak berujung, Singapura menyalip dan sukses meraih sertifikasi atas flying boat AF8.

Dilansir Indomiliter.com, Airfish 8 adalah kapal bersayap tetap yang dirancang sedemikian rupa untuk dapat terbang rendah di atas permukaan air. Karena bukan pesawat konvensional, Airfish 8 hanya bisa melayang sampai ketinggian 7 meter di atas permukaan laut. Seperti disebut di awal, ini sangat mirip dengan ikan pari, dimana hewan tersebut memang bisa ‘terbang’ meskipun tak terlalu tinggi.

Dengan sokongan dua mesin V8 propeller masing-masing empat bilah berkekuatan 500 HP, AF8 mampu melesat maksimum 196 km per jam, sedangkan kecepatan jelajahnya 148 km per jam. Struktur AF8 dibangun dari material carbon fibre reinforced dan pastic/sandwich composite.

Jenis bahan bakar AF8 adalah gasoline dengan Oktane 95 atau spesifiksi di atasnya. Dalam kondisi normal, konsumsi bahan bakar mencapai 70 liter per jam. Sementara jarak jelajah Airfish 8 mencapai 300 mil (setara 482 km).

Baca juga: Bukan Lagi AS, Pesawat Amfibi Terbesar di Dunia AG-600 Ada di Cina

Airfish 8 dirancang dengan memanfaatkan fenomena ground effect, yaitu bantalan dinamis yang timbul ketika wahana terbang sangat rendah di atas permukaan, sehingga meningkatkan rasio daya angkat dan daya hambat yang menghasilkan efisiensi bahan bakar yang lebih baik daripada pesawat konvensional.

AF8 pada praktiknya, tidak spesifik diperuntukkan bagi militer maupun sipil. Namun, pesawat dengan teknologi WiSE (Wings In Surface Effect) ini sangat cocok untuk keduanya.

Citroën U55 Cityrama Currus – Bus Wisata Kota dengan Desain “Rumah Kaca”

Bus wisata kota identik dengan desain yang menarik, terutama lewat interior yang ‘terbuka’ untuk memanjakan mata pelancong akan keindahan kota. Dari beragam bus wisata kota, jenis bus Citroën U55 Cityrama Currus, boleh dikata lumayan unik. Bus dari era 50-an ini punya desain tak hanya terbuka dengan bidang kaca, melainkan rancangan deknya yang mengingatkan pada wahana roket dalam film fiksi.

Baca juga: TransJakarta Hadirkan 8 Bus Wisata, Satu Diantaranya Punya Atap Terbuka

Cityrama, penyedia layanan bus wisata kota di Paris, memilih platform truk serbaguna Citroën Type 55 sebagai sasisnya. Sementara Currus dalam hal ini bertindak sebagai perusahaan karoseri. Desain bus ini memang sangat unik, hampir semua badan bus ditutupi oleh kaca lengkung. Lebih menarik lagi, atap bus juga bisa dibuka jadi penumpang bisa merasakan udara segar khas Paris.

Cityrama bus sangat digemari pelancong pada era 70 hingga 80-an. Namun, perjalanan panjang bus wisata ini berlangsung sejak era 50-an. Banyak turis asing datang ke Paris, untuk menaiki Cityrama.

Namun, setelah beropersi beberapa tahun, serangkaian masalah mulai menerpa bus wisata ini. Desain kaca besar yang jadi pemikat pelancong, rupanya menjadi semacam rumah kaca bagi bus. Seperti pada musim panas, suhu di dalam kabin bus menjadi sangat tinggi, dan karena merupakan bus tua, Citroën U55 belum dilengkapi pengatur suhu.

Kaca besar tersebut, menjadi seolah-olah rumah kaca bagi bus. Suhu menjadi tinggi di dalam kabin, yang pada akhirnya membuat mesin bus cepat kepanasan. Beberapa percobaan dilakukan untuk mendingingkan ruang mesin, seperti membuat gril lebih besar di depan, hingga enam buah, dengan harapan udara dingin bisa mengalir ke dalam.

Baca juga: Punya Bus Wisata Listrik, Brussel Jadi yang Pertama di Dunia 

Tetapi, kondisi kabin yang panas menjadi penyebab mudah terbakar dan memang, ada bus yang terbakar ludes, meski tak ada korban jiwa. Akhirnya bus wisata Paris generasi baru dibuat dengan desain yang ‘normal’. Kemudian di akhir 80-an, bus wisata unik ini telah lenyap dari jalanan kota Paris.

Berapa Banyak Bandara di Dunia yang Dapat Layani Penerbangan Reguler Airbus A380?

Pesawat Airbus A380 adalah pesawat komersial terbesar di dunia. Dimensinya bukanlah standar hanggar bandara manapun. Karenanya, bandara harus direnovasi atau disesuaikan agar bisa menangani A380. Sayangnya, tak semua bandara memiliki kekuatan finansial untuk memenuhi kebutuhan itu. Lantas, bandara mana saja di dunia yang dapat melayani pesawat Airbus A380?

Baca juga: Dalam Keadaan Darurat, Bagaimana Airbus A380 Mendarat di Bandara Terdekat yang Tak Penuhi Standar A380?

Sejak di awal kemunculannya, Airbus A380 seolah menjadi ikon penerbangan. Bahkan, muncul stigma maskapai harus menerbangkan A380 untuk dapat mempertahankan status sebagai maskapai terbaik. Maskapai internasional yang ingin terus mendapat reputasi baik juga di-stigmakan harus menerbangkan A380.

Singapore Airlines, misalnya, yang menjadi langganan mendapat gelar maskapai terbaik di dunia versi berbagai lembaga internasional, sadar betul akan stigma tersebut dan menjadi maskapai pertama di dunia yang mengoperasikan Airbus A380.

Tak hanya maskapainya, Bandara Changi juga turut mendukung langkah Singapore Airlines, dengan merevitalisasi bandara agar A380. Bandara Changi pun tercatat menjadi bandara pertama di luar Eropa yang dapat melayani penerbangan komersial Airbus A380.

Seiring waktu, dari 17 ribu bandara internasional di dunia, sedikitnya 140 bandara dilaporkan sanggup melayani penerbangan Airbus A380. Bandara mana sajakah itu?

Menurut Airbus, Airbus A380 dapat lepas landas dan mendarat secara reguler di sedikitnya 140 bandara di seluruh dunia. Banyak di antaranya adalah bandara hub di kota-kota besar seperti London Heathrow, JFK New York, Kingsford Smith Sydney, dan Bangkok Suvarnabhumi; termasuk Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Indonesia, yang pada Juni 2023 mendatang akan menerima penerbangan reguler A380 Emirates rute Dubai-Denpasar.

Selain itu, dari 140 tersebut, sebagian besar merupakan bandara hub bagi maskapai penerbangan yang mengoperasikan A380, seperti Singapore Airlines, Korean Air, atau Lufthansa.

Menariknya, sekalipun rata-rata bandara yang melayani A380 merupakan hub bagi maskapai penerbangannya, namun tidak dengan Portugal dan Hi Fly. Saat Hi Fly masih mengoperasikan A380, pesawat tersebut tidak dapat mendarat di bandara utama negaranya sendiri di Lisbon, Portugal.

Di luar 140 bandara yang dapat melayani penerbangan reguler Airbus A380, sebetulnya, di luar itu, ada lebih banyak bandara yang A380 dapat terbang dan lepas landas di sana, seperti Bandara Alice Springs yang digunakan sebagai fasilitas penyimpanan jangka pendek dan panjang atau istilah lainnya adalah kuburan pesawat di Australia.

Baca juga: Akhirnya, Pesawat Airbus A380 Mendarat dalam Penerbangan Berjadwal di Indonesia

Bila ditotal dengan bandara lain di luar bandara internasional yang jumlahnya 140 tersebut, ada sekitar 400 bandara di dunia yang dapatmelayani A380.

Sebagai informasi, bandara yang dapat melayani A380 harus memiliki berbagai kriteria, seperti dimensi hanggar yang menyesuaikan dimensi (tinggi dan lebar) A380, kekuatan dan panjang runway, ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar, luas boarding room, standard stair car, peralatan kargo, dan lain sebagainya.

Kasihan, Airbus A380 Qantas Mau Comeback, tapi Terkendala Hal Ini

Menyambut peningkatan jumlah penumpang udara, Qantas berupaya mengoperasikan kembali armada Airbus A380 yang saat pandemi Covid-19 disimpan di kuburan pesawat. Sayangnya, proses pengembalian armada pesawat komersial terbesar di dunia tersebut terkendala sejumlah hal. Kabar buruknya, A380 Qantas diperkirakan tak mungkin bisa beroperasi kembali (comeback) selurunya hingga awal tahun 2025.

Baca juga: Bos Qantas: Butuh 10 Insinyur dan 4.500 Jam Kerja untuk ‘Bangkitkan’ Satu A380 dari ‘Kuburan’

Dalam pidato saat sesi makan siang bersama para kolega bisnis dan wartawan di Sydney akhir Oktober lalu, bos Qantas, Alan Joyce, mengungkapkan sejak pandemi Covd-19 menjangkiti seluruh dunia pada awal tahun 2020, pihaknya menggrounded seluruh armada A380 yang dimilikinya sebanyak 12 unit.

Perubahan strategi bisnis di masa mendatang juga membuat dua di antaranya dipensiunkan dini dan dihapus dari layanan.

Sedangkan 10 lainnya ketika itu bersiap menyambut datangnya libur Natal dan Tahun Baru 2023 (Nataru) yang besar kemugkinan akan ada peningkatan permintaan penerbangan.

Kemungkinan tersebut bukan isapan jempol belaka mengingat akhir tahun lalu pandemi Covid-19 sudah mereda dan hampir berakhir, mendorong orang-orang di seluruh dunia bepergian setelah bertahun-tahun dilarang kemanapun di bawah aturan lockdown ketat.

Sayangnya, mengaktifkan 10 unit A380 bukan perkara mudah. Qantas harus merogoh kocek tak sedikit untuk membayar insinyur dan penggantian beberapa komponen penting yang fungsinya sudah menurun lantaran dua tahun di-grounded atau tidak beroperasi.

Joyce menyebut, untuk mengoperasikan kembali satu Airbus A380, butuh sekitar 10 insinyur selama dua bulan (4.500 jam kerja). Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Qantas. Belum selesai masalah tersebut, Joyce kembali mengungkap kendala lainnya.

Upaya Qantas mengembalikan armada A380 ke dalam layanan terkendala slot layanan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO). Qantas diketahui memfokuskan layanan MRO untuk armada A380-nya di fasilitas MRO di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), pilihan tepat mengingat A380 maskapai sebelumnya disimpan di fasilitas jangka panjang yang juga terletak di Negeri Paman Sam.

Lagi pula, di dunia, hanya segelintir fasilitas atau hanggar MRO yang sanggup melayani A380. Meski begitu, di setiap benua fasilitas tersebut sudah ada walau jumlahnya bisa dihitung jari dan rata-rata dimiliki oleh pemain besar seperti Lufthansa Technik.

Qantas sebetulnya juga mengirim armada A380-nya ke fasilitas MRO Abu Dhabi milik Abu Dhabi Aircraft Technologies. Hanya saja, maskapai nasional Emirat itu, Etihad Airways, juga mengaktifkan kembali 10 A380. Tentu saja Qantas harus menunggu bergantian setelah A380 Etihad selesai.

Baca juga: Batam Aero Technic Jadi Fasilitas MRO Pesawat Terluas Ke-2 Dunia, Kalahkan AS-Cina

“Setiap fasilitas maintenance di seluruh dunia sangat penuh karena setiap maskapai berusaha untuk membuat pesawat mereka kembali beroperasi,” jelas CEO Qantas, Alan Joyce, kepada Aviation International News.

Atas berbagai kendala di atas, Qantas, yang mulanya optimis 10 armada A380nya akan beroperasi seluruhnya dalam dua tahun, kini mengungkapkan sampai awal tahun 2025, belum semua armada A380nya dapat kembali ke dalam layanan.

Jembatan Kereta ‘Spiral’ Brusio – Terbuat dari Batu Berusia Lebih dari Satu Abad

Di bangun lebih dari satu abad lalu, jembatan spiral Brusio di Swiss solah menjadi ‘keajaiban’ dalam konstruksi jembatan kereta api. Dirancang sebagai jembatan batu, jembatan spiral ini punya panjang 110 meter dan memungkinkan kereta api naik ke tempat yang lebih tinggi dalam jarak yang relatif pendek.

Baca juga: Rute Ekstrim Kereta Bergerigi di Swiss, Kemiringannya Hingga 48 Persen

Dirangkum dari beberapa literasi, jembatan spiral Brusio merupakan jalur tunggal kereta yang berlokasi di antara Campascio dan Brusio atau berjarak sekitar 55 km dari St. Moritz. Bentuk jembatan yang spiral membuat kereta yang melintas terlihat seolah sedang mengitari jalan layang.

Jembatan spiral ini memiliki total panjang 110 meter dengan radius kelengkungannya secara horisontal mencapai panjang 70 meter. Sedangkan kemiringan longitudinalnya mencapai 7 persen. Brusio memiliki 9 bentangan setiap 10 meter. Dengan desain itu, kereta api yang melintas akan menuruni jembatan dari ketinggian awal 20 meter.

Jembatan Spiral Brusio adalah jembatan batu dari lintasan kereta api tunggal yang melengkung (spiral), terletak di Brusio, Kanton Graubünden, Swiss.

Jembatan spiral Brusio merupakan bagian dari Bernina Railway. Dari sejarahnya, jembatan batu ini dibuka pada 1 Juli 1908, setelah pembukaan sektor Tirano-Poschiavo dari Bernina Railway. Pada tahun 1943, seluruh perusahaan kereta api diambil alih oleh Rhaetian Railway, yang masih memiliki dan menggunakan jembatan spiral ini hingga kini.

Baca juga: Rhaetian Railway Pecahkan Rekor Rangkaian Kereta Penumpang Terpanjang di Dunia, 1,9 Km

Selain menunjang transportasi warga, keberadaan jembatan spiral Brusio tak pelak menjadi primadona pariwisata kereta di Swiss. Sejak tahun 2008, jembatan spiral Brusio telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Bukan Lagi AS, Pesawat Amfibi Terbesar di Dunia AG-600 Ada di Cina

Teknologi Amerika Serikat (AS) sangat mendominasi di berbagai sektor, termasuk sektor dirgantara, dalam hal ini pesawat amfibi. Banyak yang mengetahui bahwa Hughes H-4 Hercules adalah pesawat amfibi terbesar di dunia. Padahal, saat ini, status pesawat amfibi terbesar di dunia bukan lagi milik pesawat AS, melainkan milik pesawat Cina, AG-600 Flying Boat.

Baca juga: Hughes H-4 Hercules Flying Boat, Pesawat Amfibi (Gagal) dengan Rentang Sayap Terbesar

Dilansir Indomiliter.com, pesawat besutan Aviation Industry Corporation of China (AVIC) adalah salah satu program strategis penting Cina dalam memperkuat pengaruh militernya di kawasan, terutama di Laut China Selatan.

Menurut AVIC, saat ini, sudah ada dua prototipe yang dibangun dari total empat prototipe yang direncanakan. Prototipe pertama dipamerkan ke publik pada Juli tahun 2016 silam, dua tahun setelah mockup pesawat diperlihatkan untuk pertama kalinya pada ajang Zhuhai AirShow tahun 2014.

Sekilas tampilan AG600 identik dengan US-2, mengusung empat mesin propeller, bahkan desain kaki-kaki juga terlihat serupa. AG600 dipersiapkan untuk bisa lepas landas dengan bobot maksimum 53,5 ton.

Dalam menjalankan misi water bombing, AG600 sanggup menyedot 12 ton air dalam waktu 20 detik. AG600 yang rencananya akan memulai terbang perdana pada tahun 2017, juga dipersiapkan dalam versi SAR, intai maritim, sampai versi AKS (anti kapal selam). Untuk mendukung misi SAR, pihak pabrikan menyebut AG600 dapat mengavakuasi 50 orang di laut dalam satu kali kesempatan.

Meski diragukan kualitasnya oleh Barat, pesawat amfibi AG-600 Flying Boat sukses terbang perdana dan menyandang sebagai pesawat amfibi terbesar di dunia pada 24 Desember 2017, dilanjutkan dengan sukses uji take-off perdana di air pada akhir 2020.

Dua tahun berselang, AVIC meluncurkan prototipe AG-600 ‘Kunlong’ Flying Boat dan sukses melakukan penerbangan perdana pada 10 September 2022 di Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, Cina selatan. Pesawat ini dibekali empat mesin turbopropeller WJ-6 yang tiap mesinnya mampu menghasilkan tenaga 5.103 HP, AG-600 punya jangkauan terbang sampai 5.000 km. Bilah baling-baling pun sudah mengadopsi jenis six bladed constant speed propellers.

AVIC menyebut AG-600 dirancang untuk memenuhi persyaratan misi penyelamatan maritim, misi pemadam kebakaran, operasi penyelamatan darurat dan menunjang operasi militer. Menurut AVIC, pesawat beroperasi dengan baik, dan sistemnya stabil selama 22 menit penerbangan perdana. AG-600 merupakan pesawat khusus besar pertama asal Cina yang dibangun sesuai standar kelaikan udara pesawat sipil.

Baca juga: Inilah Surcar Airlines, Maskapai Amfibi Baru di Spanyol

Ketika itu, prototipe AG-600M ketiga dan keempat diperkirakan akan terbang untuk pertama kalinya masing-masing pada November 2022 dan awal 2023. Lebih lanjut, AVIC menyebut AG-600M akan mulai menjalankan misi pemadam kebakaran hutan pada tahun 2023 dan akan memasuki pasar pada tahun 2025.

Target tersebut sejauh ini berjalan lancar. Terbaru, pada 25 Februari lalu, AVIC sukses menguji coba prototipe keempat AG-600M. Dalam uji coba tersebut, AG600M terbang selama 17 menit, melakukan beberapa uji coba yang telah direncanakan. Uji coba dilaporkan berjalan sukses. Semua sistem berfungsi dengan baik.