Mulai Hari ini, Garuda Indonesia Buka Penerbangan Langsung Surabaya – Singapura

Garuda Indonesia membuka penerbangan langsung internasional pertama pada hub Surabaya, yakni rute Singapura-Surabaya pp yang resmi mulai dilayani pada hari ini, Minggu (26/3). Rute penerbangan Singapura – Surabaya tersebut akan dilayani 5 (lima) kali setiap minggunya yaitu dengan menggunakan armada B737-800NG yang memiliki kapasitas sebanyak 12 penumpang kelas bisnis dan 150 penumpang kelas ekonomi.

Baca juga: Di Bandara Changi Singapura, Penumpang Bisa Naik Perosotan Tertinggi di Dunia untuk ke Boarding Gate

Penerbangan Singapura – Surabaya dilayani dengan GA 855 dan diberangkatkan dari Bandara Internasional Changi pada pukul 19.20 LT dan tiba di Surabaya pada pukul 20.50 WIB. Sementara penerbangan Surabaya – Singapura dilayani dengan GA 855 dan diberangkatkan dari Bandara Internasional Juanda Surabaya pada pukul 07.30 WIB dan akan tiba di bandara internasional Changi pada pukul 10.50 LT.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa sebagai national flag carrier Garuda Indonesia senantiasa berkomitmen untuk mendukung penuh misi pemulihan ekonomi nasional khususnya sektor pariwisata melalui penyediaan aksesibilitas udara khususnya dalam menghubungkan wisatawan asing ke berbagai destinasi unggulan dari Surabaya sebagai salah satu hub pariwisata dan bisnis yang strategis.

Irfan melanjutkan bahwa dilayaninya kembali rute penerbangan ini juga diharapkan akan dapat turut memberikan kontribusi terhadap kebutuhan pengiriman kargo khususnya berbagai produk unggulan unggulan dari Jawa Timur.

Baca juga: Bandara Changi Luncurkan Program Ramah Disabilitas ‘Tersembunyi’

Dengan dilayani rute penerbangan ini, nantinya Garuda Indonesia melayani sedikitnya 37 penerbangan dari Singapura setiap minggunya untuk menuju 3 kota besar di Indonesia yaitu Jakarta yang dilayani 27 kali setiap minggunya, Surabaya yang dilayani 5 kali setiap minggunya serta Denpasar yang dilayani 5 kali setiap minggunya.

Airbus Final Assembly Line di Tianjin Cina Kirimkan A321neo Pertamanya

Airbus telah mengirimkan pesawat A321neo pertama yang dirakit di Final Assembly Line Asia (FAL Tianjin) ke Juneyao Air China di Tianjin, Cina. Pesawat ini ditenagai oleh mesin Pratt & Whitney GTF dan memiliki 207 kursi, terdiri dari 8 di kelas Bisnis dan 199 di kelas Ekonomi. Penerbangan pengirimannya akan menggunakan campuran Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan sepuluh persen untuk mendukung strategi penerbangan hijau di Cina.

Baca juga: Akibat Virus Corona, Airbus Tangguhkan Produksi Pesawat di Pabrik Tianjin, Cina

Airbus memiliki empat fasilitas perakitan akhir Keluarga A320 di seluruh dunia: Hamburg, Jerman; Toulouse, Prancis; Tianjin, Cina; dan Mobile, Amerika Serikat. Dengan konversi fasilitas Tianjin tahun lalu, dan dengan fasilitas terbaru yang akan menyelesaikan transformasinya di Toulouse, sistem industri global akan sepenuhnya mendukung A321, menciptakan fleksibilitas dan kelincahan untuk memenuhi tujuan ramp up Airbus dan kesuksesan pasar yang meningkat. dari model A321.

Diresmikan pada tahun 2008, FAL di Tianjin adalah jalur perakitan pesawat komersial Airbus pertama di luar Eropa. Pada tahun yang sama, bagian pesawat pertama tiba di lokasi. Sejak pengiriman A320 pertamanya pada tahun 2009, FAL Airbus di Tianjin telah mengirimkan lebih dari 600 pesawat selama 14 tahun beroperasi.

A321neo adalah pesawat dengan badan terpanjang dari Keluarga A320 lorong tunggal terlaris Airbus, dengan tempat duduk nyaman sebanyak 244 penumpang, pesawat ini dapat menjangkau 8.700 km.

Baca juga: Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

Menampilkan kabin lorong tunggal terluas di langit, Keluarga A320neo menawarkan setidaknya 20 persen pengurangan konsumsi bahan bakar dan CO2 serta pengurangan kebisingan 50 persen dibandingkan dengan pesawat generasi sebelumnya, berkat penggabungan teknologi terbaru termasuk generasi baru mesin dan Sharklet. Pada akhir Januari 2023, Keluarga A320neo telah menerima lebih dari 8.600 pesanan pasti dari lebih dari 130 pelanggan di seluruh dunia.

Bawa Muatan Mesin Pendingin dari Houston, Pesawat Kargo An-124 Ruslan Mendarat di Kertajati

Setelah Antonov An-225 Mriya dalam kondisi rusak berat akibat terdampak perang di Ukraina, maka predikat pesawat kargo terbesar di dunia kini jatuh pada Antonov An-124 Ruslan. Dan pada ada kabar bahwa An-124 kini telah mendarat dan membongkar muatannya di Bandara Internasional Kertajati, Majalengka Jawa Barat, Rabu (22/3).

Baca juga: Antonov An-124 Terasa ‘Istimewa’ di Yogyakarta, Tapi Sudah ‘Biasa’ di Makassar

Ini untuk pertama kalinya dalam sejarah, pesawat kargo udara terbesar mendarat di Kertajati. Pesawat super jumbo kargo udara itu mengangkut muatan mesin pendingin dari Amerika Serikat (AS). Pesawat ini terbang (take off) dari Houston pada Selasa (21/3). Sebelum mendarat di Bandara Kertajati, pesawat Antonov 124-100 ini sempat singgah di Bandara Nagoya, Jepang untuk mengisi bahan bahan.

Menurut unggahan akun Instagram resmi Bandara Kertajati (@infobijb) pada Kamis (23/3), pesawat kargo raksasa itu mendarat di Bandara Kertajati tepat pukul 14.41 WIB. Usai membongkar muatan dan mengisi bahan bahan, Antonov 124-100 dengan nomor registrasi UR-82007 itu take off pukul 18.12 WIB.

Pengelola Bandara Kertajati menyatakan bahwa mendaratnya Antonov 124-100 ini membuktikan bahwa bandara terbesar kedua di Indonesia ini siap didarati oleh pesawat kargo terbesar dunia.

“Tentunya, dengan mendaratnya pesawat kargo terbesar di dunia di Bandara Kertajati mampu untuk menampung pesawat berbadan lebar, dan akan menjadi magnet ekonomi daerah,” tulis pengelola Bandara Kertajati dalam akun Instagram resminya

Beberapa waktu sebelumnya, Bandara Kertajati juga dikabarkan telah disinggahi oleh pesawat Antonov 124-100. Namun pesawat tersebut hanya transit sejenak guna mengisi bahan bakar dalam perjalanannya dari Melbourne Australia ke Nagoya, Jepang.

Meski pada dasarnya adalah pesawat angkut sipil, An-124 punya sebutan dengan kode NATO sebagai Condor. Pesawat yang terbang perdana pada 24 Desember 1982 ini punya panjang 69,10 m dan berat kosong mencapai 175 ton. Payload An-124 mampu mengangkut berbagai bawaan yang cukuo besar dengan total mencapai 150 ton. Kapasitas payload yang dibawa An-124 lebih besar 25 persen daripada yang dapat dibawa C-5A Galaxy.

Pesawat ini mengandalkan 4 buah mesin Turbofan model Ivchenko-Progress ZMKB D-18T sebagai daya dorongnya. Ibarat kapal ferry Ro-Ro, An 124 dilengkapi dengan dua buah “Cargo Door” yang terdapat pada ekor dan hidung. dengan menggunakan sistem hidrolik, pintu muatan bisa membuka dengan lebar untuk akses keluar masuk barang.

Sejak terbang perdana pada 1982, sampai 2004 sudah 55 unit An-124 yang telah diproduksi. Meski beberapa kali sempat tersiar kabar di Rusia mengenai kemungkinan pemroduksian kembali Ruslan, rencana itu sepertinya sulit terealisasi karena Biro Desain Antonov terletak di Ukraina, yang notabene kini menjadi lawan berat Rusia yang didukung NATO.

Antonov An-124 dikembangkan oleh Soviet Design Bureau OKB Antonov yang sekarang bernama Antonov ASTC, sebuah pabrikan pesawat terbang asal Ukraina yang dikenal sebagai pencetak pesawat terbang raksasa.

Baca juga: Rusia Kembangkan “Elephant”, Pesawat Angkut Berat Pengganti Antonov An-124

An-124 didesain sebagai pesawat militer Angkut strategis, mulai dari helikopter, pesawat ringan, tank, dan berbagai bawaan militer lainya mampu dibawa pesawat ini. Dengan kapasitas bahan bakar penuh (348.740 liter) dan minium payload, diatas kertas An-124 dapat terbang sejauh 14.000 km (ferry flight) pada kecepatan jelajah 865 km per jam.

Insiden Penumpang ‘Mandi Keringat’ di Airbus A320-200 Super Air Jet, Inilah Beberapa Penyebab AC Mati di Pesawat

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan dikabarkan akan melakukan lakukan inpeksi lebih lanjut terhadap pesawat Airbus A320-200 PK-SAW dari maskapai Super Air Jet rute Denpasar (DPS) menuju Jakarta (CGK) dengan kode penerbangan IU-737 yang mengalami gangguan teknis berupa pendingin udara mati selama 2 jam saat terbang pada Selasa (21/3/2023) lalu.

Baca juga: Dikomplain Penumpang, Super Air Jet Buka-bukaan 4 Sumber Kebisingan ‘Normal’ di Pesawat

“Saya mendapatkan informasi bahwa pesawat tersebut mengalami gangguan pada sistem pengatur tekanan udara di cabin sehingga membuat suhu udara di kabin pesawat tinggi dan membuat penumpang menjadi tidak nyaman karena kepanasan,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub M. Kristi Endah Murni dalam keterangannya, Jumat (24/3/2023), dikutip dari cnbcindonesia.com.

Ia mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan agar memberikan teguran kepada maskapai Super Air Jet atas terjadinya permasalahan tersebut. Di sisi lain, Ditjen Hubud melakukan inspeksi lebih lanjut untuk memastikan bahwa pesawat tersebut aman untuk digunakan kembali.

Super Air Jet diminta untuk melakukan investigasi internal atas terjadinya permasalahan tidak berfungsinya sistem pendingin kabin pesawat dan melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan agar permasalahan ini tidak terulang kembali, selain itu Super Air Jet diminta melakukan pembinaan kepada personil penerbangan jika ditemukenali melaksanakan tugas diluar Standar Operational Prosedur (SOP) yang berlaku.

Dia juga mengimbau agar seluruh maskapai terus meningkatkan pelayanan serta mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan. Apalagi sebentar lagi akan menghadapi periode angkutan udara lebaran (angleb) dimana mobilitas masyarakat sangat tinggi.

“Pada periode persiapan angkutan udara lebaran (angleb) tahun ini, kami akan melakukan ramp inspection/inspeksi terhadap pesawat yang akan beroperasi melayani mudik lebaran. Saya mengingatkan kembali para operator di bidang penerbangan untuk mematuhi prinsip 3S+1C dalam penerbangan yaitu Safety, Security, Services dan Compliance (kepatuhan pada aturan yang berlaku),” tutupnya.

Atas kejadian tersebut CEO Super Air Jet, Ari Azhari meminta maaf. Ari mengatakan terdapat indikasi sistem pengatur tekanan udara di kabin tidak berfungsi sebagaimana mestinya saat berada di ketinggian 30 ribu kaki (9.144 meter). “Gangguan ini menyebabkan suhu udara di kabin menjadi lebih tinggi dari semestinya,” kata Ari dalam keterangan resmi, Rabu (22/3/2023).

Di dunia penerbangan terdapat beberapa penyebab matinya pengatur udara – AC (air conditioning) pada kabin, di antaranya adalah:

1. Kegagalan pada sistem listrik
AC pesawat dioperasikan menggunakan sistem listrik yang kompleks, dan jika terjadi masalah pada sistem tersebut, maka AC bisa mati.

2. Masalah pada sistem pendingin
AC pada pesawat menggunakan sistem pendingin yang terdiri dari kompresor, kondensor, evaporator, dan freon. Jika salah satu komponen tersebut bermasalah, maka AC bisa mati.

3. Kebocoran pada sistem pendingin
Jika terjadi kebocoran pada sistem pendingin, maka kinerja AC akan menurun dan akhirnya bisa mati.

4. Kontaminasi pada sistem pendingin
Jika sistem pendingin terkontaminasi oleh kotoran atau benda asing lainnya, maka kinerja AC bisa menurun dan akhirnya bisa mati.

5. Overload pada sistem
Jika terlalu banyak beban yang ditempatkan pada sistem AC, maka kinerjanya bisa menurun dan akhirnya bisa mati.

Baca juga: Dilarang Merokok di Pesawat tapi Disediakan Asbak, Kenapa Demikian?

Untuk menghindari masalah ini, pesawat dilengkapi dengan sistem pemantauan dan perawatan yang ketat. Jika terjadi masalah terkait hal tersebut, maka maskapai wajib memperbaiki atau mengganti pesawat sebelum penerbangan berikutnya.

Kenali Dua Jenis “Grounded” di Dunia Dirgantara

Di sektor dirgantara global, grounded menjadi pertanda bahwa sebuah pesawat mengalami kendala yang serius dan diperkirakan dapat mengancam keselamatan para penumpangnya. Selain itu, ada juga dua jenis grounded, ada yang permanent grounded dan ada yang temporary grounded.

Baca Juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

Jika dilihat dari namanya saja, tentu Anda sudah bisa mengklasifikasikan pesawat-pesawat mana saja yang berstatus permanent grounded. Ya, pesawat-pesawat yang Anda temukan di museum atau dijadikan monumen, seperti pesawat Dakota DC-3 Seulawah dengan nomor sayap RI-001 yang ada di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.

Sementara untuk temporary grounded, terdapat banyak variabel yang menentukannya. Salah satunya adalah kerusakan pada mesin yang akan berdampak pada keselamatan penumpang. Maka dari itu, alih-alih gambling dengan keselamatan penumpang, maka pihak maskapai akan lebih memilih untuk ‘mengistirahatkan’ pesawatnya terlebih dahulu.

Selain itu, pesawat juga bisa grounded ketika suku cadang atau partisi lain yang dibutuhkan untuk reparasi belum tiba. Tidak melulu soal kerusakan, pesawat juga bisa dinyatakan grounded manakala tengah menjalani perawatan rutin.

Baca Juga: Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

Ketika sebuah pesawat grounded, maka semua penerbangan yang dijadwalkan dengan pesawat tersebut akan dibatalkan atau diganti dengan pesawat yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang dan kru penerbangan.

Berkat Lubang Kecil Ini, Jendela Pesawat Dipastikan Bebas Kabut

Sebagai sebuah struktur yang terbilang kompleks, wajar adanya bila banyak bagian dari pesawat yang tak diketahu penumpang umum. Meski begitu, bisa dipastikan setiap bagian pesawat telah dirancang dengan fungsinya masing-masing. Salah satu yang boleh dibilang luput dari perhatian penumpang adalah adanya lubang berukuran kecil pada jendela pesawat.

Mungkin karena ukurannya yang kelewat kecil, tak banyak dari kita yang memperhatikan adanya lubang tersebut. Tapi tahukah karena adanya lubang tersebut, maka jendela pada pesawat tidak pernah berembun. Ya inilah yang disebut sebagai breather hole, dengan lubang kecil ini jumlah tekanan udara yang melewati antara panel dalam dan luar jendela dapat disesuaikan. Singkatnya, breather hole berperan untuk memastikan bahwa panel luar memiliki tekanan lebih besar. Dan lubang kecil inilah yang membuat mengapa jendela pesawat tidak pernah berkabut, lantaran kelembaban yang diatur di antara panel.

Lain dari breather hole, masih ada beberapa item di kabin yang jarang diketahui fungsinya. KabarPenumpang.com merangkum dari laman escape.com.au (11/10/2017), pesawat terbang sebenarnya dirancang khusus secara cermat untuk memastikan keamanan dan kenyamanan para penumpang. Namun, banyak penumpang yang masih tidak memanfaatkan fitur tersembunyi yang juga terlihat mata atau justru di sekitaran kursi tempat Anda duduk.

Baca juga: Ada Tanda Segitiga Misterius di Kabin Pesawat, Apakah Artinya?

1. Pegangan kompartemen
Setiap penumpang melihat para awak kabin yang berjalan dengan tangan sembari memegang kompartemen atas. Sebenarnya, ini adalah untuk memberitahukan pada Anda bahwa bagian kompartemen ada yang bisa dipegang bila berjalan di lorong kabin. Hal ini seperti ada di kereta api yang memiliki pegangan hanya saja penumpang bisa langsung melihatnya tidak seperti di kabin pesawat.

Ada lagi hal rahasia lainnya seperti sandaran tangan yang bisa diangkat dan disejajarkan dengan kursi Anda. Biasanya bisa ditekan dengan tombol yang ada disekitaran sandaran kursi dan engselnya akan terangkat, dengan seperti ini bisa membuat Anda mendapat ruang sedikit lebih banyak saat ukuran kursi menyusut. Awalnya ini dirancang untuk memudahkan penumpang menyelamatkan diri lebih cepat jika dalam keadaan darurat yang juga digunakan untuk para penyandang disabilitas masuk dan keluar dari tempat duduk mereka.

2. Kait kuning dekat pintu darurat
Ada pula kait berwarna kuning yang berada di pesawat, ini digunakan untuk mengikat tali ke pintu pesawat dan slide tiup sehingga penumpang dapat menahannya saat akan pergi keluar melalui sayap pada keadaan darurat.

Baca juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri

3. Air panas gunakan air keran
Yang terakhir adalah air panas yang digunakan untuk menyeduh teh atau kopi Anda, yakni menggunakan air keran dimana ada hasil penelitian Amerika Serikat setiap delapan pesawat gagal memenuhi standar keamanan air dan 15 persen sistem air di pesawat saat diuji mengandung bakteri yang berbahaya.

Empat Inovasi Ini Singkirkan Ketakutan Anda Saat Mengudara

Perkembangan jaman tidak hanya berdampak pada kehidupan per individu, tapi juga memegang andil terhadap meningkatnya sistem keselamatan yang ada di sarana transportasi, salah satunya adalah pesawat. Hingga kini, bukanlah menjadi suatu rahasia ketika masih saja ada orang yang takut untuk bepergian menggunakan si burung besi ini. Alasannya pun beragam, dari mulai takut ketinggian hingga resiko kecelakaan. Namun, semua ketakutan tersebut seakan terjawab dengan empat inovasi yang memastikan keselamatan para penerbang, dihimpun KabarPenumpang.com dari cntraveler.com (6/7/2017).

Baca Juga: Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Bantalan Kursi Anti Api

Sumber: istimewa

Pada awal 1980an, Federal Aviation Administration (FAA) menugaskan NASA untuk menentukan jenis bahan bantalan kursi mana yang paling tahan api jika terjadi kebakaran di kabin. Dewasa ini, hampir seluruh maskapai penerbangan diwajibkan untuk melapisi setiap kursi yang ada di pesawat menggunakan kain yang sudah lulus uji pembakaran sebelumnya. Sebuah perusahaan busa, Aerofoam bahkan menambahkan Kevlar atau bahan yang digunakan untuk membuat rompi anti peluru ke dalam busa yang ia produksi khusus untuk bangku maskapai.

Sensor Gunung

Sumber: teknol.ru

Controlled Flight Into Terrain (CFIT) adalah kategori kecelakaan di mana pesawat tanpa sengaja bertabrakan dengan pegunungan lanskap, lautan, tanah. Seiring dengan banyaknya kecelakaan yang diakibatkan oleh faktor ini, pada tahun 2000, FAA lalu mewajibkan seluruh maskapi untuk melengkapi setiap armadanya dengan Terrain Awareness Warning Systems (TAWS). TAWS adalah perangkat tingkat lanjut anyar untuk memantau ketinggian, kecepatan, dan sudut pesawat untuk keadaan darurat tertentu, seperti penutupan medan yang berbahaya atau tingkat penurunan yang ekstrem, dan akan memperingatkan pilot melalui pesan audio atau visual.

Baca Juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Pilot Fatigue Monitoring

Ilustrasi Pilot yang Mengantuk. Sumber: therogueaviator

Mengingat faktor kecelakaan yang sebagian besar diakibatkan oleh human error ditambah dengan survei  yang dilakukan oleh British Airline Pilots’ Association pada tahun 2013 silam yang menunjukkan bahwa sebanyak 56 persen pilot mengaku tertidur saat tengah mengudara. Maka dari itu, diciptakanlah sebuah perangkat lunak yang dapat memantau tingkat kelelahan pilot yang tengah mengudara, dan akan mengirimkan sinyal kepada pilot jika mereka mulai terlelap.

Kincir Angin yang Menghasilkan Tenaga Listrik

Sumber: Youtube.com

Adalah Ram Air Turbine (RAT), sebuah perangkat yang berfungsi sebagai kincir angin, menggunakan airstream (aliran udara) untuk memutar baling-baling. Turbin akan menghasilkan cukup daya untuk sistem inti yang diperlukan untuk mengendalikan pesawat dan kemudian mendarat.

Kecewa Fasilitas Kabin Tidak Sesuai Iklan, Penumpang Kelas Bisnis Emirates Mendapat Kompensasi Rp132 Juta

Membayar tiket dengan harga mahal, sudah barang tentu penumpang kelas bisnis tidak hanya mengharapkan sebatas pelayanan maksimal dari awak kabin. Lain dari itu, penumpang kelas bisnis juga berhak untuk menikmati fasilitas papan atas selama penerbangan. Terlebih visual atas fasilitas penerbangan kelas bisnis telah dipromosikan oleh pihak maskapai. Dan saat semua itu tidak sesuai kenyataan, maka penumpang yang kritis bisa mendatangkan ‘petaka’ bagi maskapai.

Baca juga: Mungkinkah Refund dan Kompensasi Maskapai ke Penumpang Dibuat Otomatis? 

Dari laman standard.co.uk (21/3/2023), seorang penumpang kelas bisnis dari maskapai Emirates berhasil memenangkan gugatan dan mendapatkan kompensasi hampir £7.000 (setara Rp132 juta), persisnya hal itu terjadi setelah sang penumpang mengeluh tentang kondisi kursi ‘usang’ yang ada di kabin kelas bisnis.

Dengan menggunakan pesawat Emirates jenis Boeing 777-300ER, penumpang bernama Mark Morgan yang berprofesi sebagai ahli bedah, terbang dari Auckland (AKL) – Selandia Baru menuju London (HLR) – Inggris, pada Agustus 2022. Morgan memenangkan kasus melawan Emirates setelah dirinya berpendapat bahwa pengalaman penerbangan jarak jauhnya tidak sesuai dengan iklan dari maskapai.

Mark Morgan persisnya mendapatkan NZ$13.555 (£6.953) dari Emirates. Turut merasakan ketidaknyamanan dalam penerbangan adalah istrinya. Di Pengadilan Sengketa Selandia Baru, Morgan berpendapat bahwa kursi pasangan itu tidak bersandar untuk posisi berbaring rata dan kurang empuk, jauh seperti yang ditampilkan dalam iklan.

Ditambah lagi, tidak ada fasilitas mini bar atau koneksi internet. Parahnya, sistem hiburan berupa inflight entertainment dalam kondisi rusak.

Baca juga: Ingat! Anda Berhak Peroleh Kompensasi Setelah Lapor Kehilangan Bagasi di Bandara 

Morgan mengirimkan foto dan tautan yang menunjukkan seperti apa tempat duduknya, di samping kutipan dari Undang-Undang Perdagangan Selandia Baru yang mengatakan ilegal bagi bisnis untuk menyajikan informasi yang salah atau menyesatkan.

Upaya Kurangi Emisi Karbon, Garuda Indonesia Gelar Program Carbon Offsetting

Garuda Indonesia memperkenalkan program pelestarian lingkungan berbasis konversi poin GarudaMiles yang dapat diakses oleh pengguna jasa Garuda Indonesia melalui program redemption GarudaMiles “Ayo Jaga Bumi Kita Bersama”. Langkah ini yang turut diperkuat melalui program employee engagement untuk internal Garuda Indonesia Group.
Melalui kolaborasi bersama Jejakin, Garuda Indonesia akan menjalankan berbagai inisiatif berkelanjutan dalam memanifestasikan komitmen perusahaan dalam mendukung pengurangan emisi karbon di Indonesia. Hal ini tidak hanya dilakukan melalui berbagai program konservasi lingkungan yang dijalankan Garuda Indonesia, namun juga turut mendorong keterlibatan aktif pengguna jasa Garuda Indonesia melalui inisiatif program konversi GarudaMiles.
Pada tahap awal, melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan, Garuda Indonesia beserta dukungan anak usahanya menjalin kolaborasi program Mangrove Planting bersama Jejakin yang dilaksanakan di kawasan Taman Wisata Pantai Indah Kapuk, Jakarta, Senin (20/3).
Adapun program Mangrove Planting ini diawali dengan penanaman 3.000 bibit yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2023. Secara keseluruhan, jumlah bibit pohon mangrove yang akan ditanam di tahun 2023 tersebut setara dengan pengurangan karbon sebesar  286,800 kgCO2e.
Kontribusi ini dapat memulihkan ekosistem hutan mangrove di Jakarta, dengan mengurangi bencana intrusi air laut, banjir rob, serta meminimalisisr kerusakan habitat di sekitarnya. Bibit pohon mangrove tersebut juga berasal dari konversi redemption GarudaMiles pada program “Ayo Jaga Bumi Kita Bersama”. Melalui program ini, para anggota GarudaMiles dapat menukarkan setiap 1.500 poin mileage-nya untuk satu pohon mangrove. Indonesia, dengan sekitar 120 juta hektar lahan hutannya, berpotensi menghasilkan 28 miliar ton kredit karbon per tahun.
Garuda Indonesia saat ini telah melaksanakan berbagai green efforts baik dalam lini operasional penerbangan seperti optimalisasi penggunaan GPU, implementasi gaya hidup hijau dalam lingkungan internal Garuda Indonesia yang salah satunya dengan melaksanakan penghematan listrik dan air perkantoran, serta kedepannya partisipasi penanaman pohon mangrove berdasarkan konversi dari emisi karbon yang dihasilkan pada aktivitas pekerjaan sehari-hari.

40 Tahun Beroperasi, Kini Tinggal 31 Unit Airbus A310 yang Masih Terbang

Terbang perdana pada 3 April 1982, pesawat small widebody twin engine Airbus A310 terbilang laris di dekade 80-an, yakni dengan diproduksi sebanyak 255 unit. Dan setelah 40 tahun beroperasi, saat ini A310 dalam berbagai varian masih mengudara, setidaknya ada 31 unit yang sampai saat ini masih digunakan, yang kebanyakan untuk melayani jasa kargo udara, tanker dan charter.

Baca juga: Italia ‘Ekspor’ Pasien Corona ke Jerman Pakai Pesawat Militer Airbus A310

Dari segi usia, maka peluang untuk menerbangkan Airbus A310 semakin kecil. Namun, bagi warga yang tinggal di Iran atau Afghanistan, maka jenis pesawat A310 masih mungkin untuk dijumpai. Bahkan, beberapa tahun lalu, Kenya Airways masih menerbangkan A310-300 pada layanan khusus antara Amsterdam dan London Heathrow.

Menurut ch-aviation.com, saat ini hanya tersisa 31 unit A310. Dari jumlah tersebut, sekitar 23 aktif dan dapat dipantau lewat situs pelacakan Flightradar24. Lebih dari separuh armada A310 yang aktif beroperasi untuk melayani penumpang atau barang. Sementara operator penggunanya adalah Ariana Afghan, Iran Air, Iran Airtour, Royal Jordanian (kargo), dan ULS Airlines Cargo (kargo).

Seperti pesawat kembarnya A300, maka Airbus A310 mencapai akhir pasarnya sebagai pesawat jet penumpang dan kargo. Tidak terdapat pesanan pesawat A310 penumpang baru sejak 1990-an, dan hanya pesanan pesawat kargo yang mengalir.

Airbus A310 (bersama dengan A300) produksinya dihentikan pada Juli 2007, tetapi lima pesanan dari Iraqi Airways masih tercatat, namun sanksi internasional terhadap Irak mencegah pengiriman pesawat, sehingga, pihak Airbus memutuskan menghapus pesanan tersebut.

Baca juga: Hari Ini, 50 Tahun Lalu, Airbus A300 Pesawat Jet Widebody Twin Engine Pertama di Dunia Terbang Perdana

Meski terbang perdana pada tahun 1982, A310 diluncurkan Airbus pada Juli 1978. Maskapai pengguna pertamanya adalah Lufthansa dan Swissair. Ciri khas dari A310 yakni punya panjang badan lebih pendek dan menyediakan kapasitas untuk 200 penumpang dan menggunakan fin vertikal lebih kecil.