Kembangkan Teknologi Autopilot, Boeing Tawarkan Self Flying Plane

Tidak sedikit orang yang akan mengernyitkan dahi ketika ditawarkan untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat otonom. Namun, fase inilah yang baru saja dimasuki oleh Boeing, dimana perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang aviasi tersebut punya visi untuk menciptakan sebuah jet yang bisa terbang dengan sendirinya, tanpa bantuan pilot manusia atau pilotless (self flying plane). Dilansir KabarPenumpang.com dari wired.com (9/6/2017), Wakil Presiden bagian pengembangan produk Boeing, Mike Sinnett mengatakan keperluan mendasar untuk kemajuan teknologi ini sudah tersedia.

Baca Juga: Boeing Tampilkan Konsep Kamar Mandi Mewah Pada Business Jet Class

Sebenarnya, teknologi autopilot yang selama ini terpasang di kebanyakan maskapai sudah melakukan sebagian besar tugas pilot dan tidak memiliki masalah walaupun kondisi cuaca sedang buruk serta jarak pandang yang terbatas. Lebih lanjut, Mark mengatakan akan melakukan uji coba terhadap otomatisasi tersebut dalam sebuah emulator pada musim panas ini, dan mengaplikasikannya pada pesawat nyata tahun depan.

Teknologi autopilot yang digunakan oleh kebanyakan maskapai perlahan-lahan mulai disandingkan dengan otomatisasi lainnya yaitu Flight Management Sytstem (FMS). Begitu pilot memasuki rencana penerbangan, FMS menentukan cara paling efisien untuk mengikutinya. Sistem komputerisasi mengandalkan jaringan sensor yang canggih di seluruh pesawat terbang untuk terus memantau dan menyesuaikan kecepatan, ketinggian saat mengudara, dan faktor lainnya. Dengan kata lain, sebenarnya pilot bisa bersantai dengan diaplikasikannya sistem semacam ini.

Baca Juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

“Walaupun terbilang santai, secara hukum kami tidak diizinkan untuk tidur,” tutur Douglas M. Moss, konsultan penerbangan AeroPacific Consulting yang menerbangkan Boeing 757 dan 767. “Tapi ada kalanya pilot yang merasa jenuh dengan pengaplikasian sistem ini,” tambahnya. Pilot masih perlu memantau kondisi angin dan cuaca, memperhatikan konsumsi bahan bakar, dan mengendalikan pesawat secara manual selama turbulensi dan berbagai situasi lainnya. Namun, Douglas menegaskan, sebaik-baiknya sistem autopilot yang diterapkan, manusia masih bisa melakukannya dengan lebih baik.

Selain dari kebijakan yang diterapkan oleh pihak maskapai, tipe pesawat juga berperan dalam pengadaan sistem otomatisasi di moda udara tersebut. Untuk Airbus, manufaktur yang berbasis di Perancis ini cenderung lebih mengandalkan otomatisasi ketimbang penggunaan jasa pilot, walaupun bisa saja sang pilot mengesampingkan untuk menggunakan otomatisasi tersebut. Berkaca dari situ, Boeing mencoba untuk menguji teknologi mutakhir tersebut walaupun pada akhirnya, sang pilot manusialah yang menentukan pilihannya. “Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,” kata Clint Balog, mantan pilot tes yang meneliti kinerja manusia, kognisi, dan kesalahan di Embry Riddle Aeronautical University.

“Dua hal yang berbanding terbalik bisa dilihat dari Airbus dan Boeing. Ketika Airbus mencoba untuk menghindari kesalahan yang dibuat oleh manusia, sedangkan Boeing masih mengandalkan kemampuan akal sehat dari manusia,” tambahnya dilansir dari sumber yang sama.

Baca Juga: Bermasalah di Mesin, Airbus A330 China Eastern Terpaksa Return to Base

Namun, pengaplikasian otomatisasi pada pesawat yang disandingkan dengan keberadaan pilot tidak semuanya berjalan mulus. Kurangnya pelatihan kepada pilot dalam kondisi tertentu bisa saja membuat mereka kurang sigap dalam menghadapinya, contohnya adalah kondisi darurat. Beberapa penyidik lalu menyangkutpautkan kebimbangan ini dengan insiden Air France Flight 447 yang tenggelam di Samudera Atlantik pada tahun 2009 silam dan menewaskan 228 jiwa. Mereka lalu menghubungkan kejadian ini dengan kegagalan mendadak dari sistem autopilot Airbus A330. Dengan kata lain, kru kokpit seolah kebingungan ketika sistem otomatis tersebut mendadak berhenti.

“AF447 adalah contoh klasik dari apa yang bisa salah dengan otomatisasi,” ucap Clint. Kru penerbangan tidak mengerti sistem otomasi, mereka hanya mempercayainya. Sang kapten bisa saja menyelamatkan maskapai tersebut dengan melakukan beberapa tindakan sederhana, namun kepanikan terlanjur membutakan semuanya.

Otonom penuh menjanjikan penerbangan yang lebih aman dengan menghilangkan risiko kesalahan manusia. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Untuk saat ini, manusia masih berjaya diatas komputerisasi dalam menghadapi berbagai kondisi darurat, seperti yang berkaitan dengan keamanan dan perbaikan mekanis yang cepat. Namun, dibalik semua tantangan yang terampang di depan mata, rintangan terbesar yang harus dihadapi oleh pihak aviasi adalah bagaimana cara merebut hati para penumpang dan meyakinkan mereka bahwa penerbangan otonomi memang benar-benar lebih aman, mengingat salah satu faktor kecelakaan yang terjadi di banyak moda disebabkan oleh human error.