Di Ketinggian 1.000 Kaki, Subway Buka ‘Restoran’ di Atas Balon Udara

Subway dikenal sebagai jaringan restoran cepat saji terbesar kedua di dunia berdasarkan jumlah gerai, yang mana Subway juga hadir di beberapa bandara. Dan terkait aviasi, terdapat tempat baru di mana Anda dapat membeli sandwich, dan lokasi ini tersedia dalam penerbangan. Persisnya, Subway menerbangkan mereknya sendiri ke tiga kota di AS pada bulan September, memungkinkan hingga 40 tamu setiap hari untuk menikmati Subway di ketinggian 1.000 kaki (304 meter).

Baca juga: Hari Ini, 238 Tahun Lalu, Paris Jadi Saksi Manusia Pertama yang Berhasil Terbang dengan Balon Udara

Dengan balon udara berukuran panjang 180 kaki (54,8 meter), ini mungkin merupakan upaya terbesar Subway, tentu saja mengukurnya dalam sandwich. Kansas City akan menjadi yang pertama melihat balon udara livery khusus pada tanggal 5, 6, dan 7 September 2023. Menurut CNBC, maksimal tujuh penumpang dapat menempuh perjalanan selama 30 menit dari pukul 08:00 hingga 14:00 setiap hari, setara dengan sekitar 40 menit setiap hari.

Beberapa orang yang beruntung ini akan menyantap makanan mereka di ketinggian 1.000 kaki di udara saat melintasi kota mereka. Dari Kansas, balon udara ini akan langsung menuju Florida, sebanyak dua kali rotasi. Yang pertama akan diadakan di Orlando pada tanggal 19 dan 20 September, diikuti oleh Miami pada tanggal 24 dan 26 September.

Bahkan jika Anda tidak mendaftar secara online atau tidak berhasil, perkirakan Anda akan melihat sandwich besar ini di wilayah udara sepanjang bulan.

Balon udaranya sendiri mempunyai corak yang unik. Bagian depan menampilkan Sub yang berisi daging, sayuran, dan keju yang disebut ‘The Beast’, salah satu Subs Deli Hero bulan Juli. Bagian belakang balon udara terdapat logo dan warna Subway yang telah diganti mereknya.

Baca juga: Lebih Murah, Wisata ke Luar Angkasa Naik Balon Udara World View Cuma Rp712 Juta! 

Meskipun ini merupakan pemandangan yang mengejutkan di angkasa, pemandangan ini jelas memenuhi tujuan Subway untuk memamerkan merek barunya, dan menggambarkan, “Kami ingin merayakan seberapa jauh kemajuan kami sejak tahun 2021 dan ke mana arah Subway di masa depan.”

Transjakarta Operasikan Tiga Rute Baru Mikrotrans, Jangkau Tanjung Priok-Depok

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengoperasikan tiga layanan Mikrotrans baru dengan rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87), Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98), dan Industri Raya – ASMI (JAK76) pada September 2023.

Baca juga: Transjakarta Operasikan Dua Rute Pengumpan Mikrotrans Terintegrasi LRT Jabodebek, Lengkapi 11 Halte Terintegrasi LRT Jabodebek

“Layanan Mikrotrans rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) mulai Jumat, 1 September 2023, layanan Mikrotrans rute Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98) pada Senin, 4 September 2023, dan Industri Raya – ASMI (JAK76) pada Kamis, 7 September 2023,” jelas Wibowo, Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta pada Jumat (1/9).

Untuk layanan Mikrotrans rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) dan Industri Raya – ASMI (JAK76) dilayani dengan Mikrotrans yang memiliki fasilitas pendingin ruangan (AC). Sedangkan layanan Mikrotrans rute Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98) Mikrotrans non AC.

Ketiga layanan ini beroperasi pada pukul 05.00 WIB – 22.00 WIB dengan tarif Rp 0,- atau gratis dengan menggunakan Kartu Uang Eletronik (KUE).

Wibowo menambahkan layanan Mikrotrans rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) beroperasi 33 unit dengan 111 titik pemberhentian. Kemudian layanan Mikrotrans rute Terminal Kampung Rambutan – Munjul (JAK98) beroperasi 35 unit dengan 68 titik pemberhentian. “Untuk layanan Mikrotrans rute Industri Raya – ASMI (JAK76) dengan 36 unit Mikrotrans yang memiliki 68 titik pemberhentian,” katanya.

Baca juga: TransJakarta Sosialisasikan Mikrotrans di Wilayah Jakarta Timur

Layanan Mikrotrans juga terintegrasi dengan layanan koridor dan non koridor Transjakarta. “Pelanggan rute Terminal Tanjung Priok – Terminal Rawamangun (JAK87) terkoneksi dengan halte Walikota Jakarta, halte Plumpang Pertamina, dan halte ASMI, yang terhubung dengan koridor 2 (Pulogadung-Monas), koridor 12 (Tanjung Priok-Pluit), hingga 2B (Harapan IndahASMI),” ujarnya.

“Lalu pelanggan Mikrotrans rute Industri Raya – ASMI (JAK76) terkoneksi dengan Halte Kemayoran Landas Pacu Timur, halte ASMI, dan titik pemberhentian (bus stop) Kampung Irlan yang terintegrasi juga dengan koridor 2, 12, 2B (Harapan Indah-ASMI), dan 10K (Tanjung PriokSenen via Taman BMW),” tutupnya.

Serba-serbi Penyebab Penerbangan Terpaksa Dialihkan (Divert) ke Bandara Lain

Pengalihan penerbangan atau divert adalah salah satu yang lazim dalam dunia dirgantara. Meski bukan sesuatu yang diinginkan terjadi, namun pengalihan penerbangan dapat terjadi suatu waktu. Alasan yang mengemuka dari pengalihan penerbangan umumnya terkait cuaca dan teknis pada pesawat. Nah, sejatinya ada beberapa penyebab yang menjadi latar keputusan untuk mengalihan suatu pemerbangan.

Baca juga: Saat Pesawat ‘Terpaksa’ Return to Base dan Divert Landing, Pilot Harus Penuhi Empat Syarat Ini

Penerbangan dapat dialihkan atau didivert ke bandara lain karena berbagai alasan, seperti:

1. Kondisi Cuaca Buruk
Salah satu alasan paling umum untuk dialihkannya penerbangan adalah kondisi cuaca yang tidak memungkinkan pendaratan yang aman di bandara tujuan. Cuaca buruk seperti kabut tebal, hujan deras, angin kencang, atau badai dapat mengganggu visibilitas dan kemampuan pesawat untuk mendarat dengan aman.

2. Kepadatan Lalu Lintas Udara
Jika lalu lintas udara sangat padat di bandara tujuan, penerbangan dapat dialihkan ke bandara lain untuk menghindari kemacetan udara dan memastikan keamanan operasi.

3. Masalah Teknis Pesawat
Masalah teknis yang tak terduga pada pesawat, seperti kerusakan mesin, sistem avionik, atau komponen lainnya, dapat membuat penerbangan dialihkan ke bandara terdekat untuk perbaikan atau pemeriksaan lebih lanjut.

4. Krisis Medis
Jika ada kejadian medis darurat di pesawat, penerbangan dapat dialihkan untuk memberikan perawatan medis kepada penumpang atau awak kabin yang membutuhkan perhatian segera.

5. Keamanan
Ancaman keamanan atau situasi darurat di bandara tujuan, seperti ancaman bom atau situasi lainnya, dapat menyebabkan penerbangan dialihkan ke bandara lain yang lebih aman.

6. Masalah Logistik
Ketika ada masalah operasional seperti kehabisan bahan bakar, atau keterbatasan fasilitas di bandara tujuan, penerbangan dapat dialihkan ke bandara yang lebih memungkinkan untuk mengatasi masalah tersebut.

7. Pengalihan Operasional
Kadang-kadang, maskapai penerbangan dapat mengalihkan rute penerbangan karena pertimbangan operasional, seperti perbaikan landasan pacu atau perbaikan fasilitas di bandara tujuan.

8. Isu Penerbangan Internasional
Dalam beberapa kasus, penerbangan internasional dapat dialihkan ke bandara alternatif jika ada perubahan dalam persyaratan masuk atau izin pendaratan di negara tujuan.

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Penerbangan dialihkan setelah pertimbangan yang matang oleh maskapai penerbangan, awak pesawat, dan otoritas penerbangan terkait. Keamanan dan keselamatan penumpang serta awak pesawat adalah prioritas utama dalam keputusan untuk mengalihkan penerbangan.

Asian Highway 1, Jalan Interkoneksi Hubungkan Jepang dan Turki Sepanjang 20.000 Km!

Pernahkah terlintas di benak Anda mengenai sebuah jalan tol yang memiliki panjang lebih dari 20.000 km? Jika belum, mari tengok jalur darat bebas hambatan yang menghubungkan Tokyo, Jepang dengan Istanbul, Turki, ya Asian Highway 1 (AH 1). Jalan interkoneksi yang menghubungkan 14 negara, yaitu Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Cina, Vietnam, Kamboja, Thailand, Myanmar, India, Banglades, Pakistan, Afganistan, Iran, dan terakhir di Turki. Tidak berhenti sampai di situ, jalur tersebut juga masih tersambung dengan jalur interkoneksi lainnya, yaitu Jalur Eropa E80.

Baca Juga: Bangkitnya Jalur Sutra Modern Dari Cina ke Daratan Eropa

Jalur AH 1 mengambil 20.557 km dari keseluruhan Asian Highway yang memiliki total jarak kurang lebih 141.000 km yang menghubungkan 32 negara di Asia. Asian Highway, atau juga yang dikenal sebagai Great Asian Highway, merupakan proyek kerjasama antar negara di Asia dan Eropa dan Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP), untuk memperbaiki sistem jalan raya di Asia. Ini adalah salah satu dari tiga pilar proyek Asian Land Transport Infrastructure Development (ALTID), yang disahkan oleh komisi ESCAP pada tahun 1992, yang terdiri dari Asian Highway, Trans-Asian Railway (TAR) dan fasilitasi proyek transportasi darat.

Baca Juga: Ingin Lintasi Tol Brebes – Gringsing? Sebaiknya Baca Dulu Rekomendasi KNKT

Dilihat dari sudut pandang lain, keberadaan jalur interkoneksi ini tentu menunjang kelangsungan dari bisnis ekspor impor antar negara. Dengan tidak mengesampingkan keefektifan dari moda laut dan udara, namun melalui jalur darat ini tentunya akan lebih efisien untuk sebuah  negara mengirimkan pasokan ke negara lain, walaupun “para pejuang” di jalur ini harus bersinggungan dengan pengamanan di perbatasan negara.

Sebagaimana yang telah dijabarkan di awal mengenai negara-negara yang dilintasi oleh jalur AH 1, tentunya sebagian dari Anda akan bertanya-tanya bagaimana bisa kendaraan bisa menyebrang dari Jepang menuju Korea, padahal kedua negara tersebut dipisahkan oleh laut? Hingga saat ini, para pengguna jalan AH 1 masih menggunakan jasa ferry untuk menyebrang dari Jepang menuju Korea. Namun wacana mengenai pembangunan jalan bawah laut sudah mulai hangat diperbincangkan oleh kedua belah negara, dengan mengesampingkan egosentris yang terjadi diantaranya.

Baca Juga: Yang Sebaiknya Diketahui dari Tol Cipali dan Brexit

Kembali membahas mengenai jarak yang terbentang sepanjang AH 1, merupakan sebuah jarak yang amat sangat jauh untuk ditempuh dengan menggunakan moda darat seperti mobil pribadi dari titik awal (Jepang) menuju titik akhir (Turki). Jika dibayangkan , sebuah mobil menempuh jarak 20.557 km dengan kecepatan rata-rata 100 km per jam, maka membutuhkan waktu sekitar 205,57 jam atau setara dengan delapan hingga sembilan hari perjalanan non-stop, tidak dihitung dengan lamanya waktu istirahat. Belum lagi kesiapan fisik dari pengemudi yang bisa dibilang mustahil untuk menempuh waktu perjalanan sekian lama tanpa beritirahat, ditambah dengan kesiapan moda yang harus melakukan cooling down jika mesin sudah mulai panas.

Nexa Journey Team.

Sehubungan dengan jarak dan waktu tempuh yang bisa dibilang fantastis untuk ukuran moda darat, sebuah perusahaan entertainment kelas dunia, Worldwide Media bekerja sama dengan manufaktur otomotif asal Jepang, Suzuki mencoba untuk menaklukan salah satu jalur interkoneksi terpanjang di dunia ini.

Adapun tujuan dari diadakannya perjalanan ini adalah untuk menghibur para penonton, Suzuki lalu memfasilitasi sebuah kendaraan yang siap menaklukkan AH 1, walaupun tidak seluruhnya. 10 peserta turut dalam perjalanan yang menempuh jarak 4.325km yang melintasi jalur India menuju Bangkok via Myanmar dalam acara yang bertajuk “NEXA Journeys on Asian Highway 1”. Tentu saja, perjalanan multinegara ini bukan hanya soal menaklukan jarak, melainkan lebih kepada pengalaman tak terlupakan selama menempuh one long road trip.

Vantage, Sistem BRT Asal Tanah Britania yang Adopsi Double Decker

Pernahkah Anda memperhatikan mengapa sistem Bus Rapid Transit (BRT) Ibukota, TransJakarta memiliki halte yang lebih tinggi dari trotoar jalan dan menggunakan armada high deck? Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Direktur Utama Damri, Setia N. Milatia Moemin, dimana ia mengatakan, “Ini merupakan langkah yang ditempuh supaya orang-orang bisa lebih tertib. Tidak hanya penumpangnya saja, melainkan pengemudinya pun tidak bisa menaik-turunkan penumpang seenaknya,”

Baca Juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Berbeda dengan yang ada di Indonesia, salah satu sistem BRT yang ada di Tanah Britania diketahui menggunakan armada low deck untuk melayani setiap penumpangnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Leigh-Salford-Manchester BRT atau yang lebih dikenal dengan nama Vantage merupakan skema transportasi di Greater Manchester yang mengkoneksikan Leigh, Atherton, Tyldesley, Ellenbrook dan pusat kota Manchester via Salford.

Leigh–Salford–Manchester BRT ini sendiri pertama kali dibuka pada 3 April 2016 dan ditunggangi oleh Transport for Greater Manchester sebagai pemiliknya. Keunikan lain dapat Anda temui pada moda yang digunakan adalah jenis busnya, yaitu bus tingkat (double-decker). Tentu, sangat jarang kita jumpai sistem BRT yang menggunakan bus double-decker sebagai armada yang melayani para penumpangnya.

Sebanyak 25 unit bus double-decker Wright Eclipse Gemini 3 berwarna ungu yang selama ini lalu lalang di jalur khusus menggunakan bodi Volvo B5LH yang dilengkapi dengan sejumlah instrumen yang akan meningkatkan pengalaman berkendara para penumpang. Sebut saja kamera CCTV, audio pengumum pemberhentian selanjutnya, hingga pengumuman visual pengoperasian layanan semuanya berada di dalam bus ini.

Tercatat, rataan penumpang tahunan dari sistem yang terbentang sejauh 22km ini adalah 2,6 juta penumpang. Ternyata, terselip satu fakta unik yang melatarbelakangi pembangunan sistem BRT ini. Leigh yang terkenal sebagai salah satu kota terbesar di Inggris ini tidak memiliki jaringan perkeretaapian setelah penutupan Tyldesley Loopline pada tahun 1969 silam. Alhasil, mereka dilanda krisis sarana transportasi berbasis publik yang berguna untuk menghubungkan Leigh dengan kota-kota tetangganya.

Nah, jalur dari Leigh–Salford–Manchester BRT ini sendiri menggunakan material beton kerbed yang menutupi bekas jalur kereta api dari Leigh menuju Ellenbrook. Hal tersebut dipercaya beberapa pihak akan memudahkan akses menuju pusat kota Manchester. Sistem BRT ini sendiri dibangun oleh perusahaan multinasional asal Inggris yang memfokuskan diri pada pembangunan insfrastruktur, Balfour Beatty.

Baca Juga: Perum DAMRI Hadirkan Bus High Deck dengan Pengalaman Pesawat Terbang

Sebelumnya, proposal pembangunan sistem BRT yang menelan dana total £122 juta (Rp2,3 triliun kurs sekarang) ini sempat menghadapi banyak pertentangan dan penyelidikan publik pada tahun 2002 silam. Lalu pada tahun 2013, pembangunan jaringan transportasi ini pun mulai berjalan dan terus dikembangkan hingga saat ini.

Jadi, dapat kita simpulkan, dimana Indonesia yang masih menggunakan bus high deck sebagai armada BRTnya dinilai belum terlalu tertib semisal modanya diganti dengan bus low deck. Betul, bukan?

 

Tak ada di Indonesia, Railbiking Jadi Kegiatan Wisata Rel yang Menyehatkan

Railbiking, atau sepeda rel, adalah jenis kegiatan wisata di mana peserta mengendarai sepeda khusus yang dirancang untuk meluncur di atas rel kereta api yang tidak digunakan atau tidak aktif. Ini adalah cara yang unik dan menyenangkan untuk menjelajahi pemandangan alam, pedesaan, dan kadang-kadang daerah terpencil melalui jalur kereta yang tidak lagi digunakan oleh kereta api.

Baca juga: Gangchon Rail Park – Sensasi Berkeliling dengan Sepeda Rel dan Virtual Reality

Biasanya, rel kereta yang digunakan untuk railbiking telah diubah sedemikian rupa sehingga aman dan cocok untuk pengendara sepeda. Ada berbagai tipe railbike yang tersedia, dari yang cocok untuk satu atau dua orang hingga yang mampu menampung kelompok yang lebih besar.

Destinasi wisata railbiking biasanya terletak di daerah pedesaan yang indah, di sepanjang pegunungan, lembah, dan danau. Ini memberikan peserta pengalaman yang unik dalam menjelajahi lingkungan alami sambil tetap aktif secara fisik.

Namun, perlu diingat bahwa ketersediaan wisata railbike dapat bervariasi tergantung pada lokasi dan negara Anda. Dan berikut ini beberapa destinasi terkenal untuk railbiking di berbagai negara:

1. Korea Selatan (Gangwon-do)
Destinasi railbiking yang populer di Korea Selatan adalah Jalur Kereta Api Gangchon Rail Park. Pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang indah saat meluncur di atas rel kereta yang menghubungkan stasiun-stasiun yang tidak lagi aktif.

2. Belgia (Ardennes)
Di Belgia, ada Jalur Kereta Api RAVeL de la Molignée yang menawarkan pengalaman railbiking di tengah-tengah keindahan pedesaan Ardennes. Ini adalah cara yang unik untuk menjelajahi daerah pedesaan Eropa.

3. Amerika Serikat (Adirondacks, New York)
Railbiking juga populer di AS, dengan Adirondack Scenic Railroad di New York yang menawarkan pengalaman railbiking di sepanjang rel kereta yang menghubungkan Lake Placid dan Saranac Lake.

4. Taiwan (Changhua)
Jalur Kereta Api Pingxi di Taiwan adalah tempat lain di mana Anda dapat menikmati railbiking. Pengunjung dapat mengelilingi danau dan hutan sambil menikmati pemandangan indah.

Baca juga: Rail Bicycle, Mudahkan Petugas Kereta Api Lakukan Inspeksi Pada Jalur Rel

5. Norwegia (Finse)
Di Norwegia, ada opsi railbiking di dekat stasiun kereta Finse, yang terletak di dataran tinggi Hardangervidda. Ini adalah cara yang unik untuk mengeksplorasi pemandangan gunung dan danau Norwegia.

Korean Air Aktifkan Layanan WiFI Viasat di Airbus A321neo

Sebuah survei menyebut bahwa sebagian besar penumpang Korea kemungkinan akan kembali ke maskapai penerbangan yang menyediakan WiFi berkualitas. Berangkat dari hal tersebut, Korean Air, maskapai plat merah Negeri Ginseng, mengumumkan telah mengaktifkan layanan WiFi di pesawat narrow body Airbus A321neo.

Baca juga: Korean Air Akan Timbang Berat Badan Penumpang Sebelum Naik Pesawat, Ada Apa?

Korean Air telah memilih Viasat, sebuah perusahaan komunikasi global, sebagai penyedia konektivitas internet dalam penerbangannya. Maskapai ini menggunakan broadband dalam penerbangan Viasat untuk armada Airbus A321neo, yang terbang pada rute jarak pendek hingga menengah di Asia. Korean Air telah memesan beberapa A321neo dan resmi memperkenalkan tipe tersebut pada November 2022.

Pemilihan Viasat dilakukan melalui kerja sama dengan penyedia perangkat keras Safran Passenger Innovations (SPI) untuk mengembangkan solusi yang dibutuhkan oleh Korean Air. Hal ini termasuk menggabungkan in-flight connectivity (IFC) airtime dan In-flight Entertainment and Connectivity (IFEC) hardware dari Safran.

“Survei menemukan bahwa sebagian besar penumpang Korea kemungkinan akan kembali ke maskapai penerbangan yang menyediakan WiFi berkualitas, dan keputusan ini merupakan langkah menuju arah tersebut,” Kenneth Chang, Wakil Presiden Eksekutif dan Chief Marketing Officer Korean Air.

A321neo adalah pesawat pertama dari keluarga Airbus A320 di armada Korean Air. Maskapai ini sebelumnya mengatakan bahwa pesawat berkapasitas 182 kursi itu terutama akan beroperasi pada rute jarak pendek, termasuk Asia Tenggara, Cina, dan Jepang.

Korean Air telah memesan total 30 unit Airbus A321 untuk menambah armadanya yang sudah beragam. Maskapai ini telah memiliki beberapa pesawat Airbus, seperti A220, A330, dan A380. Pesawat A321 akan dikirimkan ke maskapai ini pada tahun 2027 sebagai bagian dari rencana modernisasi armadanya dan akan dilengkapi dengan sistem WiFi Viasat.

Baca juga: Parade WiFi in The Sky, Inilah Profil Layanan WiFi Maskapai dengan Beragam Karakternya

Airbus A321neo dikonfigurasikan dalam tata letak dua kelas dengan 182 kursi, termasuk delapan kursi berbaring datar di Kelas Prestige dan 174 kursi di kabin ekonomi. Penumpang Kelas Prestige dapat menikmati monitor pribadi berukuran 44 sentimeter (17 inci) untuk layanan audio/video sesuai permintaan dan pengisi daya ponsel pintar nirkabel di kursi. Penumpang kelas ekonomi memiliki monitor berukuran 33 sentimeter (13 inci).

Serba Canggih dan Ramah Lingkungan, Airbus Buka Fasilitas Produksi di Hamburg

Guna menangani sejumlah pesanan, Airbus kini memajukan sistem industrinya dan memperluas peningkatan kapasitas dengan pembangunan hanggar perlengkapan A321XLR otomatis baru, yang secara resmi dibuka di Hambur, Jerman. Pembangunan hanggar perlengkapan ini untuk melanjutkan modernisasi dan digitalisasi sistem industri dan memperluas kapasitasnya untuk menggenjot laju program A320 menjadi 75 unit pada tahun 2026.

Baca juga: Airbus Bangun Stasiun Produksi dan Distribusi Hidrogen Rendah Karbon di Bandara Toulouse

“Lokasi Airbus di Hamburg memainkan peran penting dalam pengembangan dan produksi A321XLR. Dengan hanggar instalasi peralatan kami yang baru dan canggih, kami kini memperluas kapasitas kami untuk memproduksi badan pesawat A321 dan memberikan kontribusi penting untuk mendukung peningkatan kami. Pada saat yang sama kami menegaskan kembali pentingnya Hamburg bagi Airbus,” kata André Walter, Kepala Produksi Pesawat Komersial Airbus di Jerman. “Desain bangunan mencerminkan standar terbaru dalam produksi dan keberlanjutan.”

Di hanggar instalasi peralatan baru, dengan ruang produksi seluas 9.600 m2, yang diberi nama H259, semua komponen badan pesawat belakang pesawat A321XLR – juga dibuat di Hamburg – akan dipasang. Hanggar ini dilengkapi dengan berbagai teknologi tercanggih untuk operasi dan manufaktur, seperti logistik otomatis, sistem digital sepenuhnya, dan stasiun pengujian yang dapat menampilkan status setiap bagian badan pesawat (baik dari segi logistik dan sumber daya) kapan saja.

Bagian badan pesawat yang panjangnya hampir 24 meter dilengkapi dengan semua sistem kelistrikan dan mekanik, serta elemen lain seperti jendela, panel lantai atau antena eksternal, pada ‘jalur pulsa’ otomatis yang terdiri dari delapan stasiun.

Setiap bagian badan pesawat diuji secara ekstensif langsung setelah pemasangan sistem. Bagian badan pesawat kemudian dipindahkan ke jalur perakitan akhir di Hamburg.

Stasiun produksi di hanggar baru direncanakan melalui konsultasi erat dengan karyawan untuk menciptakan aliran produksi yang efisien dan lingkungan kerja yang optimal secara ergonomis dan modern. Selain itu, desain interior juga fokus untuk memastikan kondisi optimal bagi kerja sama antar karyawan di bagian produksi dan fungsi pendukung.

Strukturnya direncanakan dan dibangun secara berkelanjutan. Sistem fotovoltaik seluas 3.000 m2 di atap memasok listrik ke hanggar, dan kelebihannya digunakan untuk memberi daya pada lokasi tersebut. Blok kantor di sisi selatan menawarkan tingkat insulasi yang sangat baik berkat insulasi ekstensif pada langit-langit dan dinding. Sistem kontrol otomatis untuk pemanasan, ventilasi, dan pencahayaan melengkapi langkah-langkah tersebut.

Airbus A321XLR merupakan langkah evolusi berikutnya dari A320neo, sebagai respons terhadap permintaan pasar akan jangkauan dan muatan yang lebih luas, sehingga menciptakan lebih banyak nilai tambah bagi maskapai penerbangan.

Baca juga: Airbus Final Assembly Line di Tianjin Cina Kirimkan A321neo Pertamanya

Pesawat narrow body ini akan menghasilkan jangkauan yang belum pernah terjadi sebelumnya (‘Xtra-panjang’) hingga 4.700 nm – jangkauan 15% lebih jauh dibandingkan A321LR – dan dengan pembakaran bahan bakar per kursi 30% lebih rendah dibandingkan pesawat pesaing generasi sebelumnya, serta pengurangan emisi NOx. dan kebisingan.

10 Halte Bus Ini Punya Desain yang Tidak Biasa

Dalam pikiran Anda pastinya halte bus hanya berupa bangunan kecil dengan atap yang mampu menahan dari panas dan hujan serta ditambah tempat duduk yang cukup hanya untuk beberapa orang. Namun dengan dunia teknologi yang semakin canggih, membuat para arsitek memikirkan rancangan unik untuk halte bus. Ada kemungkinan para arsitek pembuat halte ini ingin para pengguna bus lebih terasa nyaman, elegan dan glamor. Dilansir dari designcurial.com ada 10 rancangan unik dan terbaik dari halte-halte bus.

Baca juga: Pertama di Dunia, Halte Bus Dirancang Ramah Bagi Kawanan Lebah

1. Halte bus di Rumah Sakit Spaarne (Sesign aarne Ziekenhuis)
Dirancang oleh Nio Architecten, hal bus ini berada di Belanda dan terletak di depan RS Spaarne Hoofddorp yang juga berfungsi sebagai putaran. Dengan ciri khas kental warna negara Belanda yakni jingga/orange, memiliki bentuk menyerupai rahang ikan paus. Halte yang dibangun tahun 2003 lalu ini, terbuat dari bahan sintetis yang tahan terhadap pisau dan rokok. Sehingga tidak mudah rusak saat di robek untuk membuat suatu grafiti. Dengan bentuknya yang unik, membuatnya tidak terlupakan.

www.designcurial.com
www.designcurial.com

2. Stasiun bus Poole
Halte bus yang berada di Inggris ini dirancang oleh Penson, atapnya dibuat seperti papan gambar besar yang berisi gambar-gambar mural dengan bentuk dan tekstur yang berbeda. Pencahayaan yang indah membuat halte ini terlihat seperti stasiun bawah tanah. Lampu yang menjadi penerang halte ini menerangi dari titik keberangkatan bus.

www.designcurial.com
www.designcurial.com

3. Arriva Markas Guimarães
Dibuat oleh Ricardo Vieira de Melo dari RVDM Arquitectos, menggabungkan masalah logistik pada perusahaan angkutan umum Arriva. Dia membuat sebuah halte yang mampu menampung 96 bus dengan dua bangunan yang strategis membuat halte terlihat menyatu dan luas.

4. Halte bus Slough
Halte bus yang satu ini adalah buatan arsitektur Bblur dengan bentuk gelombang cahaya. Bblur membuat halte ini sebagai penghormatan kepada astronom lokal William Herschel yang menemukan gelombang inframerah tahun 1800 silam. Halte ini terbuat dari 130 meter kanopi aluminium yang melengkung sehingga para pejalan kaki atau pengguna bus terlindung cahaya. Saat kondisi cahaya berubah, kanopi ini akan memberikan perubahan yang berbeda.

www.designcurial.com
www.designcurial.com

5. Halte bus di Aarau
Atap atau kanopi halte yang berada salah satu kota di Swiss ini berbentuk seperti awan dengan motif gelembung di dalam kanopi. Dengan warna kebiruan dan transparan, halte ini dibuat oleh arsitek Mateja Vehovar dan Stefan Jauslin.

6. Halte bus Preston
Bus double dekker banyak terparkir di halte rancangan BDP ini. Menjadi salah satu halte terbesar di Eropa Barat, Halte Preston mampu menampung 1100 mobil dan 80 bus tingkat. Pada 10 tahun lalu, halte ini sempat diancam akan di bongkar, namun tidak jadi karena dianggap sebagai bangunan yang memiliki ciri khas.

7. Halte bus Osijek
Terletak di negara Kroasia, halte ini memiliki bangunan yang dilapis kaca dan panjangnya hampir sama dengan panjang sungai Drava sebagai batas kota. Atap halte ini berbentuk agak bergelombang dengan tiang-tiang beton sebagai penyangganya. Halte ini dibuat oleh arsitek Predrag dan Bruno Rechner dari Rechner.

8. Vauxhall Bus Station
Halte bus yang satu ini sangat menarik perhatian. Sejak selesai di bangun tahun 2005 lalu, halte ini menjadi bagian dari regenerasi daerah yang sebelumnya diangap kumuh di London Selatan. Dengan ultra modelnya dan seperti landasan ski yang terbuat dari bahan aluminium membuatnya semakin menarik. Arup Associates yang merancang halte ini, menginginkan halte ini selalu terlihat bersih dan menarik saat dipandang.

www.designcurial.com
www.designcurial.com

9. Halte bus Thiais
Tahu permainan rubik? Kubus yang memiliki warna beragam sebagai permainan asah otak. Mungkin halte yang berada di Perancis ini terinspirasi dari permainan itu. Karena bentuknya yang seperti kubus di tambah warna kaca yang menyerupai warna rubik. Bangunan halte unik ini dirancang oleh Emmanuel Combarel dan Dominique Marre.

www.designcurial.com
www.designcurial.com

“Tujuan kami adalah fokus pada alam mineral dan desain bangunan yang bergabung dan tumbuh dari jalan,” ujar Dominique salah satu arsiter.

10. Busbahnhof Poppenbüttel
Dengan desain yang ringan dan elemen desain yang mencolok, halte bus ini dibangun seperti sebuah pulau dan memiliki 8 tempat perhentian bus di sekitarnya. Halte ini pernah mendapatkan penghargaan Building of the Year 2009 dari Hamburg Architecture and Engineering Association (AIV e.v Hamburg). Halte unik ini dibangun oleh arsitek Blunck-Morgen.

Dari Sistem Pencahayaan Sampai Pengisian Listrik, Inilah Deretan Terminal Bus Ramah Lingkungan

Untuk kategori bandara, Changi di Singapura disebut sebagai bandara yang paling ramah lingkungan. Sementara kategori stasiun, Amsterdam Centraal adalah salah satu stasiun yang dikenal paling ramah lingkungan. Lantas bagaimana dengan terminal bus? Adakah terminal bus yang masuk kategori ramah lingkungan?

Baca juga: Terapkan 10 Poin, Amsterdam Centraal Jadi Stasiun Kereta Paling Ramah Lingkungan 

Terminal bus yang paling ramah lingkungan dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti teknologi yang digunakan, penggunaan energi terbarukan, manajemen limbah, efisiensi energi, dan inisiatif keberlanjutan lainnya. Beberapa contoh terminal bus yang dikenal karena upaya ramah lingkungannya adalah:

Terminal Bus Schiphol Noord, Belanda
Terminal bus ini berada di Bandara Schiphol, Amsterdam, memiliki fasilitas berkelanjutan seperti penggunaan energi terbarukan dan panel surya untuk memasok listrik, teknologi pengisian kendaraan listrik, dan manajemen air dan limbah yang efisien.

Terminal Bus Kaohsiung, Taiwan
Terminal bus ini menggunakan teknologi hijau, seperti sistem pencahayaan hemat energi dan fasilitas pengolahan air yang canggih. Selain itu, stasiun ini memiliki atap hijau yang membantu mengurangi dampak lingkungan.

Terminal Bus Wellington, Selandia Baru
Terminal bus ini memiliki panel surya di atapnya yang menyediakan energi untuk operasional terminal, serta fasilitas pengumpulan air hujan dan sistem pencahayaan efisien.

Terminal Bus South Tyrol, Italia
Terminal ini memiliki desain berkelanjutan dengan menggunakan teknologi hijau, seperti pemanas dan pendingin yang efisien, serta penggunaan material ramah lingkungan.

Terminal Bus Kamppi, Helsinki, Finlandia
Terminal ini memiliki sistem pemanas dan pendingin berbasis energi terbarukan, serta fasilitas penyimpanan sepeda yang luas untuk mendorong mobilitas berkelanjutan.

Baca juga: Wales Bangun Terminal Bus Terpadu, Sinergikan Ritel dan Perkantoran

Sebagai catatan, banyak terminal bus di seluruh dunia telah mengadopsi praktik-praktik berkelanjutan untuk menjaga keberlanjutan dan ramah lingkungan. Nilai keberlanjutan terminal bus dapat dinilai berdasarkan berbagai faktor, termasuk penggunaan energi terbarukan, manajemen limbah, efisiensi energi, dan teknologi berkelanjutan lainnya.