Pilihan Maskapai Jadi Launch Customer Pesawat, Ada Risiko di Antara Beragam Benefit

Dalam setiap peluncuran jenis pesawat baru, identik dengan istilah ‘launch customer’ yang dirilis oleh pihak pabrikan. Menyebutkan identitas launch customer saat momen peluncuran pesawat merupakan suatu kebanggaan bagi pihak pabrikan. Apalagi bila identitas customer pesawat adalah maskapai besar dan ternama, yang tak pelak bakal mendongkrak citra pesawat yang baru diluncurkan.

Baca juga: Singapore Airlines Sumbangkan Kursi Kelas Bisnis dan Suite A380 Pertama ke National Museum?

Dari definisi, launch customer (pelanggan pertama) adalah istilah yang digunakan dalam industri penerbangan untuk mengacu pada pelanggan pertama yang melakukan pemesanan atau pembelian pesawat terbang baru dari produsen pesawat.

Dalam konteks ini, “launch” merujuk pada peluncuran atau pengenalan model pesawat baru ke pasar oleh produsen. Sebagai pelanggan pertama, launch customer memiliki peran penting dalam membantu produsen pesawat dalam tahap awal pengembangan dan produksi pesawat baru. Sebut saja, Singapore Airlines yang menjadi launch customer Airbus A380 dan Air France yang menjadi launch customer Boeing 777-300ER.

Lantas yang menjadi pertanyaan, apa manfaat atau benefit suatu maskapai menjadi launch customer atas peluncuran pesawat baru?

Disarikan dari beberapa forum penerbangan, disebut menjadi launch customer memiliki beberapa manfaat yang dapat memberikan keuntungan bagi maskapai penerbangan atau operator yang memutuskan untuk melakukan pemesanan atau pembelian pesawat baru dari produsen. Berikut adalah beberapa manfaat menjadi launch customer suatu pesawat:

1. Diskon dan Harga Khusus
Sebagai pelanggan pertama, launch customer sering kali mendapatkan kesepakatan khusus dan diskon dari produsen pesawat. Hal ini dapat mengurangi biaya investasi awal dan memberikan harga yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pelanggan lain yang memesan pesawat setelahnya.

2. Akses Awal dan Pilihan Kustomisasi
Sebagai launch customer, maskapai penerbangan memiliki akses awal untuk mendapatkan pesawat baru sebelum pesawat tersebut tersedia secara luas di pasar. Hal ini memungkinkan maskapai untuk memiliki armada baru lebih cepat dan memungkinkan waktu yang lebih lama untuk melakukan kustomisasi sesuai kebutuhan mereka.

3. Kontribusi dalam Pengembangan
Launch customer berperan dalam pengujian dan evaluasi awal pesawat baru, dan masukan mereka membantu produsen dalam menyempurnakan desain dan kinerja pesawat. Hal ini memungkinkan maskapai untuk berpartisipasi secara aktif dalam pengembangan pesawat dan memastikan pesawat sesuai dengan kebutuhan dan harapan mereka.

4. Promosi dan Prestise
Menjadi pelanggan pertama untuk pesawat baru sering kali mendapatkan perhatian media dan publik. Maskapai penerbangan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan merek mereka dan memperoleh eksposur positif. Selain itu, menjadi launch customer juga memberikan prestise karena menunjukkan kepercayaan produsen pada maskapai tersebut.

5. Penetapan Standar
Sebagai pelanggan pertama, maskapai penerbangan dapat membantu menetapkan standar operasional dan pemeliharaan untuk pesawat tersebut. Hal ini dapat memberikan keuntungan bagi maskapai lain yang akan mengoperasikan pesawat yang sama di masa depan.

6. Kemitraan dengan Produsen
Dengan menjadi launch customer, maskapai penerbangan membangun kemitraan dengan produsen pesawat. Hal ini dapat membuka peluang kolaborasi dan komunikasi yang lebih erat dengan produsen untuk kebutuhan operasional, layanan purna jual, dan pengembangan produk di masa depan.

Baca juga: Boeing 777-300ER Hasil Konversi ke Pesawat Kargo Terbang Perdana

Meskipun menjadi launch customer memiliki sejumlah manfaat, keputusan untuk menjadi pelanggan pertama juga berisiko karena pesawat baru mungkin mengalami masalah awal yang perlu diperbaiki. Namun, banyak maskapai penerbangan besar dan mapan biasanya merasa percaya diri dalam memilih untuk menjadi launch customer karena keuntungan jangka panjang yang mereka dapatkan.

Mulai Hari ini, PT KAI Berikan Sanksi ‘Tegas’ Kepada Penumpang yang Melebihi Relasi dengan Sengaja

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberlakukan aturan baru bagi penumpang yang “dengan sengaja” melebihi relasi yang tertera ditiketnya mulai 3 Agustus 2023. Apabila sengaja melebihi relasi (tujuan), maka penumpang akan mendapatkan sanksi denda hingga sanksi untuk tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu sesuai aturan yang berlaku.

Baca juga: Dalam Dua Hari, Tiga Kondektur Kereta di India Diserang Penumpang Tak Bertiket

VP Public Relations PT KAI Joni Martinus mengungkapkan bahwa aturan ini diterapkan dengan kenyamanan bersama dalam tertib menggunakan transportasi kereta api. “Sekaligus sebagai bagian upaya dalam pencegahan pelanggaran atas penumpang yang melebihi relasi yang menggangu kelancaran perjalanan KA,” tambah Joni.

Sebagai langkah pencegahan atas jenis pelanggaran tersebut, kondektur selalu mengumumkan melalui pengeras suara di dalam kereta api bahwa pelanggan wajib turun di stasiun tujuan sesuai dengan yang tertera di tiket.

Diumumkan pula, bagi pelanggan yang melebihi relasi yang tertera di tiketnya, akan dikenakan sanksi berupa denda atau tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kondektur juga melakukan kegiatan pengecekan guna memastikan kenyamanan pelanggan dalam kurun waktu tertentu yang meliputi kesesuaian identitas, tempat duduk, nama kereta api, nomor kereta api, tanggal dan relasi tiket penumpang sesuai manifest bila diperlukan.

“Pengecekan tersebut dilakukan oleh kondektur melalui aplikasi Check Seat Passenger, sehingga dapat mengetahui identitas penumpang, tempat duduk, dan relasi tiket yang dibeli,” kata Joni.

Jika kondektur mendapati penumpang yang dengan sengaja melebihi relasi, maka kondektur menyampaikan kepada penumpang yang bersangkutan, bahwa secara aturan dikenakan sanksi berupa denda yang harus dibayar menggunakan uang tunai di kereta saat itu juga. Serta akan diturunkan pada stasiun kesempatan pertama.

Adapun besaran dendanya yaitu 2 kali dari harga tiket “parsial” subkelas terendah sesuai dengan kelas pelayanan yang dimiliki penumpang dari stasiun “tujuan” yang tertera pada tiketnya sampai dengan stasiun tempat penumpang diturunkan.

Bagi penumpang yang dengan sengaja melebihi relasi dan tidak dapat membayar di atas kereta api, maka penumpang tersebut tetap diturunkan pada stasiun kesempatan pertama, serta akan dijemput oleh petugas stasiun.

Petugas di stasiun akan mengantar penumpang tersebut ke loket untuk dilakukan pembayaran denda. KAI masih memberi waktu 1×24 jam sejak jadwal kedatangan KA tempat penumpang diturunkan untuk pembayaran denda.

Apabila dalam kurun 1×24 jam, penumpang tersebut tidak membayarkan dendanya, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu selama 90 hari kalender.

Sementara bagi penumpang yang tercatat lebih dari 3 kali melakukan pelanggaran atas tindakan melebihi relasi dari yang tertera di tiket, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan naik kereta api sementara waktu selama 180 hari kalender.

Baca juga: Ikuti Jejak Indonesia, Peraturan Penumpang di Kereta India Dipertegas, Ribuan Orang Terkena Sanksi

“Aturan baru ini sebagai bagian komitmen KAI dalam menyediakan layanan transportasi kereta api yang nyaman, aman, dan selamat,” tutup Joni.

Telat Kenakan Masker Oksigen, Ada Enam Risiko Kesehatan yang Mengancam

Jika penumpang tidak memakai masker oksigen darurat saat terjadi penurunan tekanan kabin yang tiba-tiba atau dekompresi di dalam pesawat, mereka dapat mengalami dampak kesehatan yang serius. Situasi darurat ini dapat menyebabkan penurunan tekanan udara dan kandungan oksigen di dalam kabin, yang dapat menyebabkan hipoksia atau kekurangan oksigen dalam darah.

Baca juga: Pada Kondisi Darurat Ini, Masker Oksigen Akan Turun Secara Otomatis di Kabin Pesawat 

Berikut adalah beberapa dampak kesehatan yang dapat dialami penumpang jika mereka tidak memakai masker oksigen dalam situasi darurat di pesawat:

1. Hipoksia
Hipoksia adalah kondisi di mana tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen. Hal ini dapat menyebabkan pusing, pingsan, kebingungan, kesulitan bernapas, dan gangguan kesadaran. Jika keadaan ini tidak segera diatasi, hipoksia dapat menyebabkan kerusakan otak yang serius atau bahkan kematian.

2. Penurunan Kesadaran
Kekurangan oksigen yang parah dapat menyebabkan penurunan kesadaran atau hilangnya kesadaran sepenuhnya, yang dapat membahayakan keselamatan diri dan orang lain di sekitarnya.

3. Gangguan Jantung dan Pernafasan
Hipoksia dapat menyebabkan gangguan pada fungsi jantung dan pernapasan, termasuk denyut jantung yang tidak teratur atau lambat, serta kesulitan bernapas yang serius.

4. Mual dan Muntah
Kondisi darurat di pesawat dapat menyebabkan sensasi mual dan muntah, yang dapat memperburuk keadaan jika penumpang tidak mampu menggunakan masker oksigen untuk memperbaiki kandungan oksigen dalam darah.

5. Kerusakan Organ
Kekurangan oksigen yang parah dan berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan organ, terutama pada otak, hati, dan ginjal.

6. Risiko Serangan Jantung
Kondisi darurat yang memicu penurunan tekanan kabin dapat meningkatkan risiko serangan jantung pada individu yang menderita kondisi jantung yang mendasari.

Baca juga: Masker Oksigen, “Penyambung Nyawa” Saat Kabin Kehilangan Tekanan

Dalam situasi darurat di pesawat, memakai masker oksigen darurat dengan cepat dan tepat sangat penting untuk memastikan pasokan oksigen yang cukup bagi penumpang dan awak kabin agar tetap sadar dan berfungsi dengan baik selama periode kritis.

Pada Kondisi Darurat Ini, Masker Oksigen Akan Turun Secara Otomatis di Kabin Pesawat

Meski tak ada yang mengharapkan adanya suatu insiden di udara. Namun, yakinlah bahwa masker oksigen akan turun pada waktu yang tepat. Sesuai standar keselamatan penerbangan, maka masker oksigen di dalam pesawat akan turun secara otomatis ketika terjadi penurunan tekanan kabin yang signifikan atau dekompresi.

Baca juga: Bisakah Pilot Mengaktifkan Masker Oksigen untuk Penumpang Secara Manual?

Penurunan tekanan kabin dapat terjadi jika pesawat mengalami masalah dengan sistem tekanan kabin atau karena beberapa alasan lain, seperti krisis mendadak yang membutuhkan penurunan cepat ketinggian pesawat.

Sistem deteksi di pesawat dirancang untuk mendeteksi penurunan tekanan kabin atau dekompresi. Saat sistem deteksi ini mendeteksi masalah tersebut, maka secara otomatis akan mengaktifkan mekanisme yang menyebabkan masker oksigen turun dari panel atas atau di atas kursi penumpang.

Ketika masker oksigen turun, penumpang dan awak kabin diinstruksikan untuk segera mengenakan masker oksigen pada diri mereka sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. Hal ini penting karena jika tekanan kabin turun secara drastis, penumpang hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk mendapatkan pasokan oksigen tambahan dan mempertahankan tingkat oksigen yang cukup untuk tetap sadar.

Penggunaan masker oksigen ini sangat penting untuk keselamatan penumpang dan awak kabin selama situasi darurat yang melibatkan penurunan tekanan kabin atau dekompresi. Instruksi penggunaan masker oksigen ini biasanya dijelaskan dalam prosedur keselamatan pesawat selama pengumuman pra-lepas landas atau dengan menggunakan kartu keselamatan di kabin.

Kapasitas masker oksigen darurat di kabin pesawat bervariasi tergantung pada masker dan desain pesawat tertentu. Namun, umumnya masker oksigen darurat di pesawat dirancang untuk memberikan pasokan oksigen yang cukup untuk membantu penumpang dan awak kabin selama periode waktu tertentu selama situasi darurat.

Biasanya, masker oksigen di pesawat komersial dirancang untuk memberikan pasokan oksigen selama sekitar 12 hingga 15 menit. Waktu ini biasanya sudah cukup untuk mengatasi situasi darurat, seperti penurunan tekanan kabin yang tiba-tiba atau dekompresi, serta memberikan kesempatan bagi pilot untuk menurunkan pesawat ke ketinggian yang lebih aman.

Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu!

Namun, penting untuk diingat bahwa masker oksigen darurat di pesawat dirancang untuk memberikan oksigen tambahan sementara, bukan sebagai pengganti oksigen normal dari ketinggian yang lebih rendah.

Setelah Tiga Tahun, Bandara Internasional Pyongyang Kembali Beroperasi Meski ‘Terbatas’

Pasca pandem Covid-19, semua negara kini telah membuka jalur penerbangan internasional. Namun, ada satu negara yang tetap menutup pintu untuk perjalanan internasional. Dan negara yang dimaksud adalah Korea Utara, Negeri yang dipimpin Kim Jong Un itu tetap teguh untuk menutup diri dari semua akses internasional, khususnya pada penerbangan berjadwal.

Baca juga: Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

Penerbangan internasional ke Korea Utara memang penuh kontroversi. Bicara tentang bandaranya, yakni Bandara Internasional Pyongyang (FNJ) dikabarkan dijadikan situs pengujian rudal balistik, yang sontak menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran pada aspek keselamatan penerbangan.

Dengan rezim yang otoriter dan penuh curiga pada setiap pendatang asing, Korea Utara jelas bukan negara yang ramah untuk tujuan wisata.

Namun, setelah tiga tahun ‘terisolir’, pada bulan Juli 2023, Bandara Pyongyang membuka landasan pacunya untuk layanan internasional untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, yakni guna menyambut delegasi diplomat Cina dan Rusia untuk parade militer. Dua pemerbangan yang membuka aktvitas Bandara Pyongyang adalah maskapai Air China dan pesawat angkut VVIP dari Angkatan Udara Rusia. Kedatangannya unik – ini adalah pertama kalinya pengunjung ke Korea Utara dapat masuk tanpa harus karantina selama enam minggu.

Awal tahun ini, South China Morning Post dan Mainichi Shimbun melaporkan, bahwa Korea Utara sejatinya sudah bersiap untuk melanjutkan penerbangan pada awal Juni 2023. Menurut Global Times, pada Juli 2023, beberapa agen perjalanan Cina mencantumkan tur Korea Utara di situs web mereka. Berbicara kepada surat kabar, juru bicara salah satu grup yang menawarkan perjalanan ke Pyongyang dan Sinuiju, Young Pioneer Tours, mencatat bahwa daftar tersebut telah disiapkan sebelumnya untuk melanjutkan bisnis dengan lancar setelah perbatasan dibuka.

Air Koryo, maskapai nasional Korea Utara, telah menangguhkan semua layanan berjadwal internasional sejak awal tahun 2020. Sementara rute populer ke Bandara Internasional Beijing (PEK) dan Bandara Internasional Vladivostok (VVO), Rusa, belum dilanjutkan.

Baca juga: Stasiun Pyongyang, Titik Awal Perjalanan Kim Jong Un Saat Melawat ke Luar Negeri

Beberapa penerbangan terlihat beroperasi di FlightRadar24.com, dengan peningkatan nyata dalam operasi antara Pyongyang dan Hamhung (DSO) di musim panas 2022 dan hingga awal 2023.

Aturan dan Etika Tata Rias Awak Kabin Masih Mengacu Ke Standar Era 60-an

Awak kabin harus tampak ramah meski lelah karena baru saja selesai perjalanan back to back. Bahkan dalam kondisi ini pun mereka tidak pernah menunjukkan bahwa mereka tengah kelelahan karena pekerjaan mereka yang berlangsung seharian tersebut. Tak hanya itu, awak kabin selalu rapi dengan setelan seragam yang dikenakan. Bahkan gaya rambut dan make up atau riasan mereka terlihat segar meski dalam kabin yang kering.

Baca juga: Hadirkan Seragam Mini, Qantas dan Emirates Harapkan Anak-Anak Cintai Profesi Awak Kabin

Mereka ini diwajibkan untuk tetap mempertahankan senyuman, tetap melayani dengan ketenangan dan memberikan pengalaman bagi pelancong yang bepergian ke luar negeri ataupun domestik. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman express.co.uk, seragam yang dikenakan awak kabin merupakan tanda pengenal sebuah maskapai, sehingga saat mereka keluar selesai bertugas dan pelancong tidak naik maskapai, maka tetap mengetahui awak kabin dari masakapai mana.

Namun, ternyata meski terlihat cantik, ramah dan murah senyum, awak kabin juga dilarang menggunakan aksesoris berlebihan. Hal ini diungkapkan salah seorang awak kabin Emirates terkait perhiasan yang digunakan saat bertugas.

Joanna Colins mengatakan dirinya telah bekerja selama enam tahun terakhir untuk maskapai Emirates. Dia mengaku peraturan terkait penggunaan perhiasan cukup ketat dan tidak boleh digunakan semuanya saat penerbangan.

“Kita bisa mengenakan anting-anting mutiara atau kancing yang berlian atau kristal. Ini berarti setiap pramugari udara atau pramugari dengan rantai di leher mereka, tidak peduli seberapa halus, bisa melanggar peraturan,”ujar Joanna.

Dia mengatakan, menggunakan arloji atau jam tangan diperbolehkan, namun dalam balutan sederhana dan jelas. Bahkan sebagai awak kabin pun hingga kini masih harus mengikuti peraturan yang ada sejak tahun 1960-an.

Seragam yang digunakan awak kabin Lufthansa dan staf lounge Bandara Munich (Lufthansa Group)

“Mereka harus mengikuti banyak aturan mengenai penampilan mereka dan beberapa dari mereka kembali ke masa kejayaannya. Awak kabin perempuan harus mengenakan lipstik dan perona pipi minimal, menurut Standar Seragam Praktik Penaksiran Profesional (USPAP),” ujarnya.

Mantan awak kabin British Airways juga mengakui bahwa peraturan dari tahun 1960-an tersebut tidak berubah. Wendy Barlow mengatakan, selama pelatihan mereka mendapat kunjungan dari Elizabeth Arden yang mengajari para awak kabin pemula cara merias wajah.

British Airways tetap ketat dengan persyaratan awak kabinnya, bahkan hingga hari ini agar stafnya sesuai dengan citra perusahaan mereka. Panduan Pemakai Seragam British Airways bahkan merinci warna lipstik yang diperlukan. Warna-warna tersebut diperlukan untuk melengkapi warna seragam.

Baca juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin

Tiga contoh warna yang ditampilkan dalam panduan ini mencakup warna seperti merah dengan nada biru dan merah muda gelap. Awak kabin wanita diharuskan menggunakan bedak untuk mengatur make-up mereka untuk hari itu dan menggunakan perona pipi. Kulit cerah juga dituntut, “Dimana noda yang kelihatan harus disembunyikan sedapat mungkin,” yang tertulis dalam panduan.

Sejarah Life Jacket – Mulai dari Berbahan Gabus Sampai Berteknologi Hybrid Inflatable

Bagi Anda para pengguna setia moda udara, mungkin Anda kerap mendengar nama barang yang satu ini – namun berharap untuk tidak pernah sama sekali menggunakannya. Apakah Anda tahu barang apa yang dimaksud? Ya, life jacket atau yang biasa disebut jaket pelampung merupakan salah satu instrumen keselamatan yang dapat Anda temui tidak hanya di pesawat saja, pun dengan di kapal. Tentu Anda tidak pernah berharap untuk mengenakan pelampung berwarna jingga ini, bukan?

Baca juga: Kerap Hilang, Jaket Pelampung di Kabin Harus Rutin Diperiksa Keberadaannya

Layaknya instrumen-instrumen lain yang mengalami imbas dari perkembangan jaman, jaket pelampung ini pun mengalami perubahan dari masa ke masa – kendati masih menyandang fungsi yang sama, hanya saja perubahan terjadi pada bahan yang digunakan dan bentukannya.

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jaket pelampung ini mulai dikembangkan pada sekitar tahun 1850-an – periode yang sama ketika kapal-kapal berbahan dasar besi mulai menggantikan eksistensi dari kapal tradisional yang berbahan kayu.

“Ketika sebuah kapal berbahan besi tenggelam, maka muatan berbobotnya (penumpang) juga akan ikut tenggelam, maka dari itu dirancanglah jaket pelampung untuk mencegah penumpangnya ikut tenggelam,” tulis Dr. Christopher Brooks, seorang dokter, ilmuwan, dan penulis buku “Designed for Life: Life Jackets Through the Ages”.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, evolusi dari jaket pelampung ini sendiri sebenarnya hanya terjadi pada model dan bahan dasarnya saja. Mundur ke tahun-tahun awal jaket ini dikembangkan, orang-orang jaman dulu masih menggunakan kulit binatang sebagai bahan dasar dari jaket pelampung ini.

Maju ke awal abad 19, Anda akan menemukan jaket pelampung yang sudah menggunakan lembaran gabus sebagai bahan dasarnya. Menilai gabus merupakan bahan yang tepat agar manusia bisa mengambang, jaket keselamatan ini terus dikembangkan sebagaimana mestinya.

Pada pertengahan abad ke-19, para pengembang jaket ini mulai menggunakan blok kayu atau gabus yang dibentuk menyerupai sebuah rompi.

Perkembangan terus berlanjut dengan serangkaian insiden yang terjadi di dalamnya – dimana insiden-insiden yang berhubungan dengan nyawa seseroang di laut menjadi pelatuk yang siap memicu perkembangan dari jaket pelampung ini dengan bentuk, bahan, dan fungsi yang lebih mutakhir.

Baca juga: Ini Alasan Tak Boleh Kembangkan Pelampung di Dalam Kabin

Jaket pelampung pesawat (Hong Kong Airlines)

Sampai pada akhirnya, jaket pelampung ini menggunakan teknologi hybrid inflatable dimana jaket baru akan mengembang ketika tali yang terletak di bagian dada ditarik atau peluit yang juga tersemat pada jaket tersebut ditiup.

Kendati sederhana, namun jaket pelampung ini terbukti menurunkan angka korban meninggal karena tenggelam dengan sangat signifikan. Mengutip dari laman cottagelife.com, angka korban meninggal karena tenggelam sudah sangat berkurang drastis terhitung sejak tahun 1994 silam. Di tahun 2016 kemarin, masih ada 1,4 kematian akibat tenggelam di Kanada untuk setiap 100.000 orang, dan sebagian besar dari mereka dapat dicegah.

 

 

Ini Alasan Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Lepas Landas dan Mendarat

Sadarkah Anda setiap akan lepas landas ataupun mendarat lampu kabin selalu dimatikan atau diredupkan dan hanya diterangi dengan lampu kecil atau lampu baca? Tahukah Anda kenapa harus mati lampu di dalam kabin saat-saat tersebut? Mungkin bagi Anda yang takut gelap dan memiliki fobia tempat gelap dan sempit hal ini sangat menakutkan, apalagi kondisi dalam kabin yang cenderung dingin.

Baca juga: Hindari Penumpang Pingsan, Suhu Kabin Pesawat Harus Selalu Dingin

Bisa juga Anda berpikiran, lampu kabin dimatikan karena akan menganggu masyarakat yang tinggal di sekitaran bandara karena cahaya dari dalam kabin. Namun, sebenarnya ada penjelasan secara logis terkait masalah kenapa lampu kabin harus dimatikan atau diredupkan saat pesawat lepas landas dan mendarat.

Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk, bahwa lampu besar di kabin dipadamkan di ganti dengan lampu yang lebih redup karena untuk keselamatan para penumpang jika terjadi kecelakaan. Seorang pilot maskapai penerbangan dan penulis Cockpit Confidential, Patrick Smith menjelaskan, meredupkan lampu memungkinkan mata Anda menyesuaikan diri dengan kegelapan, sehingga Anda tidak tiba-tiba ‘dibutakan’ jika terjadi sesuatu pada pesawat.

Baca juga: Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat

“Pencahayaan pada jalur darurat dan tanda-tanda emergency juga akan lebih terlihat. Ini membuat lebih mudah untuk melihat dan membantu Anda memahami dasar-dasar keselamatan penerbangan. Ini membantu Anda tetap berorientasi, dan juga mempermudah pramugari dan awak kabin untuk menilai bahaya eksterior, seperti kebakaran atau puing-puing, yang mungkin mengganggu evakuasi,” ujar Smith.

Diketahui, mata manusia sendiri membutuhkan waktu hingga 10 menit untuk beradaptasi sepenuhnya dengan kegelapan. Waktu ini sangat berharga jika Anda perlu mengevakuasi diri dengan buru-buru bila pesawat terjadi sesuatu.

Ini juga dianggap sebagai alasan bajak laut menggunakan penutup mata. Teori bahwa dengan menjaga satu mata dalam kegelapan akan lebih baik bila bajak laut tiba-tiba harus masuk ke dalam bagian yang gelap.

Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

Dengan hal tersebut juga memberi keuntungan untuk para bajak laut saat menggeledah kapal lainnya dan waktu bertarung di dek serta dibawah kapal. Selain itu juga untuk melihat dan berjaga-jaga saat malam dan mempertahan kapal saat diserang waktu gelap.

Orkney Jadi Wilayah Pertama di Inggris yang Dilayani Drone Pengantar Surat/Parsel

Orkney, Kepulauan di utara Skotlandia, menjadi wilayah pertama di Inggris yang mengirimkan surat melalui drone. Layanan baru ini digelar oleh Royal Mail dan perusahaan drone Skyports untuk mendistribusikan surat dan parsel antar pulau.

Baca juga: Inggris Mulai Uji Coba Drone Kargo ke Kepulauan Terpencil, Indonesia Kapan?

Dalam kemitraan tersebut, melibatkan Orkney Council Harbor Authority dan Loganair. Prosesnya surat akan diangkut dari kantor pengiriman Kirkwall Royal Mail ke Stromness. Dari sana, drone akan membawa barang/surat ke Graemsay dan Hoy di mana staf pos akan menyelesaikan rute pengirimannya.

Sementara layanan awalnya akan beroperasi selama tiga bulan, itu bisa dilanjutkan secara permanen di bawah kerangka peraturan yang ada karena pemandangan unik Orkney dan kedekatan pulau-pulau satu sama lain.

Layanan drone diharapkan secara signifikan meningkatkan layanan dan waktu pengiriman ke Graemsay dan Hoy, karena cuaca dan geografi dapat menyebabkan gangguan pada layanan pengiriman.

Dikutip dari BBC.com (31/7/2023), Penggunaan drone elektrik untuk pengiriman antar pulau juga akan membawa peningkatan keamanan yang signifikan dengan memastikan pekerja pos dapat melakukan pengiriman antar pelabuhan tanpa risiko.

Drone yang sepenuhnya bertenaga listrik akan membawa surat antar pulau, di mana staf akan menyelesaikan rute pengiriman yang biasa mereka lakukan. Skyports akan melakukan penerbangan antar pulau dengan Speedbird Aero DLV-2, yaitu drone multirotor yang mampu membawa muatan hingga 6 kg.

Baca juga: Drone Kargo Karya Anak Bangsa Beraksi di Lokasi Gempa Bumi Cianjur

Proyek ini didanai oleh Dana Inovasi Pengangkutan Departemen Transportasi dan dilaksanakan oleh Connected Places Catapult. Layanan ini akan meningkatkan keselamatan dengan memastikan pekerja pos dapat mengirim antar pelabuhan tanpa risiko.

Garuda Indonesia Uji Coba Penggunaan Bioavtur di Pesawat Boeing 737-800NG

Garuda Indonesia berperan aktif mengurangi emisi gas rumah kaca, salah satunya dengan menjajaki penggunaan energi terbarukan bioavtur J2.4, yang merupakan bagian dari pengembangan konsep Sustainable Aviation Fuel (SAF). Uji coba penggunaan bioavtur tersebut telah dimulai pada pekan lalu, Rabu (26/7) melalui uji statis pada mesin pesawat CFM56-7B yang digunakan pada armada B737-800 NG Garuda Indonesia.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Giliran Malaysia Airlines Gunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Uji coba tersebut kemudian akan dilanjutkan dengan rangkaian uji lanjutan lainnya yakni berupa uji coba ground test dan flight test.

Bersama dengan Pertamina, Institut Teknologi Bandung (ITB), Kementerian ESDM RI, dan pemangku kepentingan terkait lainnya, Garuda Indonesia telah menyelesaikan tahap awal uji coba bahan bakar terbarukan tersebut, yang dilakukan melalui uji statis dengan melihat respon mesin pesawat terhadap penggunaan material bioavtur.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyatakan bahwa penjajakan penggunaan bioavtur ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Garuda Indonesia, sebagai maskapai pembawa bendera bangsa, dalam mendukung berbagai inisiatif dekarbonisasi. Hal itu, lanjutnya, sejalan dengan komitmen Garuda Indonesia dalam mendukung target Pemerintah yang memproyeksikan terwujudnya Net-zero Emission Indonesia 2060, dimana salah satunya akan melibatkan pengembangan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan dengan mengacu pada konsep Sustainable Aviation Fuel (SAF).

“Kami menyadari bahwa sebagai bagian dari ekosistem industri penerbangan, Garuda Indonesia tidak dapat terlepas dari emisi yang dihasilkan dari lini operasional kami. Untuk itu, inisiasi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal kami untuk mendukung ekonomi hijau yang berkelanjutan, sekaligus menjadi pionir sebagai maskapai komersial pertama di Indonesia yang melaksanakan uji coba energi terbarukan, khususnya bioavtur,” papar Irfan.

Baca juga: Minyak Jelantah Bekas Goreng Kentang Sekarang Jadi Bahan Bakar Pesawat

Adapun Bioavtur J2.4 merupakan bahan bakar yang di antaranya terdiri dari komponen minyak inti kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil) sebanyak 2,4 persen. Produk ini merupakan hasil pengembangan dari Pertamina Group dan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB).