Dubai Jadi Kota Nomer Satu Paling Diminati, Jakarta Nomer Berapa?

Dubai di Uni Emirat Arab (UEA) mengukuhkan posisinya sebagai kota yang paling diminati untuk dihuni oleh banyak orang. Kota ini menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin tinggal di luar negeri, mengalahkan Miami, Paris, dan New York.

Baca juga: Trem di Dubai Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Monitor Keselamatan Penumpang

Menurut data dari Remitly, penyedia layanan keuangan, pencarian data Google selama 12 bulan menunjukkan Dubai sebagai destinasi yang paling diminati untuk dihuni oleh ekspatriat. Frasa ‘pindah ke kota’ dianalisis di 164 negara dan menunjukkan Dubai sebagai destinasi favorit. Hal ini menjadikan Dubai peringkat satu dalam daftar tersebut.

Dubai menjadi kota favorit karena pelayanannya yang canggih, adanya kebijakan ramah ekspatriat, dan gaji bebas pajak. Hal ini membuat banyak orang semakin tertarik untuk pindah ke kota ini.

Berikut adalah sepuluh kota yang paling diinginkan untuk dihuni:
1. Dubai
2. Miami
3. Paris
4. New York City
5. Madrid
6. Singapura
7. London
8. Brussels
9. Toronto
10. Washington DC

Di tahun 2021, Dubai menduduki peringkat kota terbaik di dunia berkat beragam inovasi, rekor dunia yang tak tertandingi, dan pilihan hiburan yang beragam. Tahun ini, Dubai juga masuk dalam daftar tempat yang sangat aman untuk dihuni, bersamaan dengan beberapa kota lainnya seperti Ajman di posisi keempat dan Sharjah di posisi kelima.

Baca juga: Diterpa Gelombang Panas, Dubai Buat Hujan Buatan dengan Drone

Selain kemudahan yang diberikan lewat kebijakannya, Dubai juga menjadi daya tarik sendiri karena keanekaragamannya. Mulai dari arsitekturnya yang modern, kehidupan malam yang semarak, sinar matahari sepanjang tahun, dan peluang kerja yang berlimpah. Hal ini ditandai dengan meningkatnya populasi di Dubai hampir 100.000 selama periode 12 bulan antara tahun 2022 dan 2023.

Ratusan Ribu Penumpang KA Argo Parahyangan Pindah ke Whoosh, KAI: Belum Ada Penurunan Signifikan

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengungkap ada ratusan ribu penumpang KA Argo Parahyangan yang naik Kereta Cepat Whoosh. Merespon hal itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyebut belum ada penurunan yang signifikan pada KA Argo Parahyangan.

Baca juga: 1 Bulan Beroperasi, Kereta Cepat Whoosh Sukses “Curi” Ratusan Ribu Penumpang Argo Parahyangan

“Terkait dengan beroperasinya Kereta Cepat Whoosh, dapat kami sampaikan bahwa sejauh ini belum ada penurunan penumpang yang signifikan pada KA Argo Parahyangan,” jelas Vice President Public Relations, Joni Martinus, kepada KabarPenumpang.com, Jumat (17/11/2023) melalui pesan singkat.

Adanya Kereta Cepat Whoosh, lanjut Joni, yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) kebanggaan Indonesia serta KA Argo Parahyangan adalah merupakan pilihan bagi masyarakat untuk bepergian dari Jakarta ke Bandung atau sebaliknya.

Kedua transportasi massal berbasis rel tersebut mempunyai keunggulan dan ke-khas-an masing-masing dan saling melengkapi.

KA Argo Parahyangan ditujukan bagi penumpang yang memiliki waktu longgar dan ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, sehingga cocok untuk pariwisata.

Sedangkan Kereta Cepat Whoosh lebih cocok bagi penumpang yang ingin perjalanan dalam waktu singkat, sehingga menjadikan Jakarta-Bandung sebagai kota komuter.

Lebih lanjut, Joni menjelaskan bahwa pihaknya belum melakukan strategi khusus berupa pemberian promo dan sejenisnya, demi mencegah penumpang KA Argo Parahyangan beralih ke Whoosh.

Sebelumnya, Direktur Utama PT KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi hadir dalam acara World Railway Cooperation and Development Forum yang digelar di China. Dalam kesempatan itu, KCIC menyampaikan pencapaian-pencapaian Kereta Cepat Whoosh di hadapan seluruh stakeholder perkeretaapian dunia.

“Sampai dengan 14 November 2023, 352 ribu orang telah melakukan perjalanan Jakarta-Bandung sejak Kereta Cepat Whoosh beroperasi secara komersial. Hal ini menunjukkan jika Whoosh telah menjadi salah satu pilihan moda transportasi penting dalam mobilitas masyarakat di wilayah Jakarta-Bandung,” ujarnya.

Baca juga: Yang Ngangenin dari KA Argo Parahyangan, dari Nasi Goreng ‘Gopar’ Hingga Jembatan Cisomang

Berdasarkan survey yang dilakukan kepada seluruh penumpang, 53 persen responden menggunakan kereta cepat whoosh untuk berlibur, 23 persen untuk urusan bisnis, sedangkan sisanya untuk kegiatan pendidikan, komuter, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Whoosh mendukung peningkatan perekonomian melalui tingginya masyarakat yang berlibur dan menggunakannya untuk kepentingan pekerjaan.

Sebanyak 48 persen responden sebelumnya merupakan pengguna kendaraan pribadi, 23 persen merupakan pengguna kendaraan Bus atau Travel, dan sisanya 29 persen merupakan pengguna kereta api konvensional atau dalam hal ini KA Argo Parahyangan.

Emirates Bukukan Pesanan 65 Unit Airbus A350-900, Spesial untuk Penerbangan 15 Jam dari Dubai

Di Dubai Airshow 2023, maskapai super tajir asal Uni Emirat Arab (UEA), Emirates, melakukan penandatangan pemesanan pesawat dalam jumlah yang fantastis. Selain mengorder 90 unit Boeing 777x senilai US$52 miliar, rupanya Emirates juga mengingat kontrak jumbo dengan pabrikan asal Eropa, Airbus, yakni dengan pemesanan (tambahan) lagi 15 unit A350-900.

Baca juga: Emirates Borong 90 Unit 777x Senilai US$52 Miliar, Pertahankan Gelar Maskapai Terbesar Pengguna Boeing 777 Series

Emirates telah menandatangani pesanan tambahan 15 pesawat A350-900 di Dubai Airshow 2023, sehingga total pesanannya menjadi 65 pesawat. Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, Chairman dan Chief Executive, Emirates Airline and Group mengatakan, “A350-900 akan menambah komposisi armada kami dan kami dengan bangga mengumumkan pesanan tambahan untuk jenis pesawat ini.”

Ia mengatakan, dengan armada pesawat baru, Emirates berencana mengerahkan A350 untuk melayani berbagai pasar baru termasuk misi jarak jauh dengan waktu terbang hingga 15 jam dari Dubai. “Kami akan bekerja sama dengan Airbus dan Rolls-Royce untuk memastikan pesawat kami memberikan efisiensi pengoperasian dan pengalaman terbang terbaik bagi pelanggan kami,” kata Sheikh Ahmed.

A350 adalah pesawat berbadan lebar paling modern dan efisien di dunia serta pemimpin jarak jauh dalam kategori kursi 300-410, terbang secara efisien di sektor apa pun mulai dari rute jarak pendek hingga jarak sangat jauh hingga 9.700nm.

Baca juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik

Desainnya yang bersih mencakup teknologi tercanggih, aerodinamis, material ringan, dan mesin generasi terbaru yang bersama-sama memberikan keunggulan 25% dalam pembakaran bahan bakar, biaya pengoperasian, dan emisi CO₂, serta pengurangan kebisingan sebesar 50% dibandingkan pesaing generasi sebelumnya. pesawat terbang.

1 Bulan Beroperasi, Kereta Cepat Whoosh Sukses “Curi” Ratusan Ribu Penumpang Argo Parahyangan

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Dwiyana Slamet Riyadi, memamerkan capaian Kereta Cepat Whoosh dalam World Railway Cooperation and Development Forum di Cina. Salah satu capaiannya menarik ratusan ribu kereta konvensional atau KA Argo Parahyangan yang dioperasikan PT KAI.

Baca juga: Piala Dunia U-17 di Bandung, Official Tim FIFA-PSSI Naik Kereta Cepat Whoosh

“Sampai dengan 14 November 2023, 352 ribu orang telah melakukan perjalanan Jakarta-Bandung sejak Kereta Cepat Whoosh beroperasi secara komersial. Hal ini menunjukkan jika Whoosh telah menjadi salah satu pilihan moda transportasi penting dalam mobilitas masyarakat di wilayah Jakarta-Bandung,” ujarnya.

Tak hanya itu, berdasarkan survey yang dilakukan kepada seluruh penumpang, 53 persen responden menggunakan Kereta Cepat Whoosh untuk berlibur, 23 persen untuk urusan bisnis, sedangkan sisanya untuk kegiatan pendidikan, komuter, dan lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran Whoosh mendukung peningkatan perekonomian melalui tingginya masyarakat yang berlibur dan menggunakannya untuk kepentingan pekerjaan.

Sebanyak 48 persen responden sebelumnya merupakan pengguna kendaraan pribadi, 23 persen merupakan pengguna kendaraan Bus atau Travel, dan sisanya 29 persen merupakan pengguna kereta api konvensional. Hal ini menunjukkan mulai ada pergeseran penggunaan transportasi pribadi ke transportasi massal melalui kehadiran kereta cepat yang nyaman dan dapat diandalkan.

Meski begitu, dari data tersebut dapat dilihat bahwa Whoosh mulai memberikan kontribusi dalam upaya pengurangan polusi udara dan kemacetan di jalan raya.

Jumlah perjalanan harian terus bertambah seiring besarnya minat masyarakat untuk beralih menggunakan Whoosh dalam melakukan perjalan Jakarta-Bandung. Dari awalnya 14, 18, 22, 25, 28, 32, hingga saat ini mencapai 36 perjalanan per hari.

Baca juga: PT KAI Sebut KA Feeder Kereta Cepat Whoosh Anjlok di Bandung Tak Ganggu Layanan

Dwiyana menjelaskan, Kehadiran KCIC di ajang ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan bahwa Indonesia kini telah setara dengan negara-negara lain yang telah lebih dulu mengoperasikan kereta cepat. Kereta Cepat Whoosh mulai menjadi suatu budaya baru di Indonesia untuk melakukan mobilitas di antara Jakarta dan Bandung.

“Kereta Cepat hadir di Indonesia untuk meningkatkan perekonomian dan mempermudah masyarakat dalam bertransportasi. Kecepatan, kenyamanan, dan keamanan yang ditawarkan menjadi keunggulan yang ditawarkan dari kehadiran kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini,” tutupnya.

PO Sudiro Tungga Jaya – Dari Magetan dengan Jargon ELKUSLA (Eling Kuat Selamet)

Belakangann setelah kenaikan tarif tiket pesawat, masyarakat kembali beralih menggunakan transportasi darat baik kereta api ataupun bus antar kota antar provinsi (AKAP). Hal ini kemudian membuat para pemilik perusahaan otobus (PO) semakin mengembangkan sayapnya seperti menambah armada bus yang baru atau membuka anak perusahaan baru yang melayani penumpang.

Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan?

Salah satu yang memanfaatkannya adalah PO Agam Tungga Jaya dimana awalnya bisnis PO ini adalah persewaan bus pariwisata. Kemudian seiring waktu berjalan PO ini membuka PO Sudiro Tungga Jaya yang melayani rute AKAP.

Pada pertengahan Juni 2017 kemarin PO Sudiro Tungga Jaya membuka dua trayek yakni Ponorogo – Ciledug PP dan Ponorogo – Bogor PP. Kemudian di Agustus pada tahun yang sama, membuka trayek ketiganya dari Ponorogo ke Jakarta PP.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, PO Sudiro Tungga Jaya berasal dari Maospati, Magetan, Jawa Timur. PO bus yang satu ini ternyata memiliki perbedaan yang unik dan signifikan dibandingkan PO lainnya dengan trayek sama yakni armadanya mampu mencatatkan waktu yang lebih cepat dengan jarak tempuh yang cukup panjang.

Penasaran kenapa bisa sampai secepat itu? Ternyata PO Sudiro Tungga Jaya sering melaju dengan kecepatan 100 km per jam lebih saat jalanan terlihat agak sepi sehingga wajar bila waktu tempuhnya lebih cepat dan viral dikalangan warganet serta penumpang yang sering menggunakan armada PO bus ini. Selain itu, armada-armadanya juga terkenal sering berovertake di jalanan baik kondisi jalanan sepi maupun jalanan ramai sekalipun.

PO Sudiro Tungga Jaya juga memiliki jargon ELKUSLA (Eling Kuat Selamet) yang jika dalam bahasa Indonesia memiliki arti Ingat Kuat dan Selamat. Armada PO Sudiro Tungga Jaya ini menggunakan body bus jenis Jetbus 2+ SHD dari Karoseri Adi Putro Malang dan yang terbaru menggunakan Zeppelin G3 HDD buatan Gunung Mas. Sedangkan untuk chassisnya sendiri PO Sudiro Tungga Jaya menggunakan chassis bus buatan Hino dengan tipe Hino R260 atau yang biasa disebut RK8, dan Hino RN 285.

Baca juga: PO Intra, Kondektur Bukan Hanya Pengutip Ongkos Tapi Juga Navigator untuk Menyalip

PO Sudiro Tungga Jaya ini melayani kelas eksekutif dengan total jumlah tempat duduk untuk penumpang sebanyak 32 kursi. Ditambah fasilitas-fasilitas seperti recleaning seat, bantal, selimut, servis makan, snack, toilet, hiburan LED TV dan juga ada free wifinya juga. Tarif dari bus ini untuk jurusan Jawa Timur – Jabodetabek diharga Rp180 ribu, sedangkan untuk Jawa Tengah – Jabodetabek diharga Rp160 ribu jika belum ada perubahan.

Stasiun Blitar, Sejarah Panjang dari Fokker Hingga Soekarno

Blitar kota kecil yang letaknya lebih kurang 167 km dari Surabaya dikenal sebagai kota tempat keberadaan makam Presiden RI pertama Ir Soekarno. Namun tak hanya itu, stasiunnya pun cukup dikenal orang karena di hall area stasiun Blitar terpasang poster Bung Karno untuk mengenang jasa-jasa beliau sejak direnovasi tahun 2013-2014 kemarin.

Baca juga: Jejak Sejarah Yang Terlupakan, Stasiun Gambir Dulunya Adalah Tanah Rawa

Nah, untuk mengenal dekat lagi stasiun Blitar, KabarPenumpang.com telah merangkum dari berbagai sumber bahwa stasiun ini persisnya berada di ketinggian +167 meter dan masuk dalam Daerah Oeprasional (Daop) VII Madiun, tetapi sejak 1 Agustus 2016 stasiun ini masuk Daop VIII Surabaya.

Pastinya bangunan stasiun Blitar ini merupakan peninggalan masa Hindia Belanda dan pembangunannya bersamaaan dengan jalur kereta api Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer. Pengerjaan ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda dan dimulai pengerjaannya tahun 1883 yang kemudian diresmikan 16 Juni 1884.

Adanya kereta api di jalur Blitar, awalnya untuk memenuhi kebutuhan para pejabat Belanda dan pengusaha sebagai sarana mobilitas atau alat pengangkut hasil produksi perkebunan serta industri mereka sendiri. Blitar sendiri pada jaman penjajahan Belanda dikembangkan menjadi pusat industri perkebunan yang berada di lereng Gunung Kelud dan lembah sungai Brantas.

Awalnya terdapat ratusan perkebunan yang berhasil dikembangkan orang-orang Eropa pada 1939 dan mencatat ada 45 perusahaan perkebunan dengan tanaman budidaya kopi, karet, kina, tembakau, kapuk, singkong dan kelapa. Tahun 1950, bangunan stasiun Blitar mengalami perombakan dimana bangunan depan pintu masuk stasiun yang menjulang serta ornamen pintu dan jendela yang menandakan bahwa bangunan stasiun bergaya Indische Empire.

Adanya sistem Overkapping yang menggunakan rangka penopang berbahan kayu menambah satu keunikan tersendiri di stasiun ini. Identitas lain, di stasiun Blitar juga terdapat dipo lokomotif, dipo kereta dan menara air.

Adanya hal tersebut menandakan dulunya stasiun ini sangat ramai dengan berbagai akivitas dari pergantian lokomotif uap hingga langsiran penambahan ataupun pengurangan kereta. Stasiun ini memiliki enam jalur dengan dua jalur sepur lurus dan satu jalur menuju area depo. Dibagian selatan stasiun terdapat jalur putar untuk lokomotif.

Stasiun Blitar termasuk stasiun besar yang terdapat di Daop VIII Surabaya, dimana semua kereta ekonomi, bisnis dan eksekutif berhenti di stasiun ini. Karena banyaknya objek wisata di Blitar, kedepannya stasiun tersebut akan dijadikan sebagai meeting point wisata kereta api, sejarah dan budaya.

Baca juga: Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara

Selain Bung Karno, sebenarnya ada lagi yang terkenal dari Blitar. Ya, Anthony Herman Gerard Fokker seorang insinyur Belanda, sang perintis brand aviasi Fokker diketahui lahir di Blitar pada 6 April 1890. Anda akan bertanya-tanya kenapa seorang penemu besar dan pesawatnya pernah di pakai Indonesia bisa lahir di Blitar?

Ini karena ayahnya, Herman Fokker Sr merupakan seorang pemilik perkebunan kopi milik Belanda. Ketika menginjak usia 4 tahun, Ia dipulangkan ke Amsterdam, Belanda untuk mengenyam bangku pendidikan yang lebih layak ketimbang di negeri jajahan. Dan dipercaya bahwa Fokker kecil pernah menggunakan akses stasiun Blitar.

Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Dari perjalanan lebih dari setengah abad melayani penerbangan domestik dan internasional, terbesit pertanyaan dari warganet, sudah berapa jenis pesawat yang pernah dioperasikan Garuda Indonesia sepanjang pengadiannya? Kemudian pertanyaan mengerucut, jenis pesawat apa yang paling banyak digunakan? Pertanyaan tentang sejarah pesawat selalu menarik, khususnya terkait armada yang memperkuat flagship airlines.

Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an

Dan tahukah Anda, bahwa jumlah pesawat terbanyak yang pernah dioperasikan Garuda Indonesia justru bukan dipasok oleh manufaktur seperti Boeing, McDonnel Douglas atau Airbus. Armada pesawat terbanyak Garuda Indonesia justru dipasok oleh manufaktur asal Belanda, Fokker. Garuda Indonesia dalam sejarahnya pernah menggunakan pesawat turbopropeller Fokker F-27 (1969) dan jet Fokker F-28 Fellowship (1971 – 2001). Nah yang disebut terakhir F-28, menjadi pesawat dengan unit terbanyak yang pernah digunakan dalam sejarah perjalanan Garuda Indonesia, bahkan beberapa orang menyebut Fokker F-28 menjadi tulang punggung Garuda Indonesia di periode tersebut.

Dari segi desain, Fokker F-28 mirip Douglas DC-9 yang juga dioperasikan Garuda Indonesia (1969 – 1989) namun dengan fuselage lebih pendek. Dalam sejarahnya GIA pernah mengoperasikan 3 versi F28, yaitu Mk1000, Mk3000 dan Mk4000. Fokker F-28 diluncurkan pada tahun 1962, pesawat ini merupakan hasil kerja dari aliansi yang terdiri dari Fokker dari Belanda, MBB dan Fokker-VFW dari Jerman serta Short Brother dari Inggris.

Sejumlah 62 pesawat Fokker F-28 dalam 3 versi pernah diterbangkan Garuda Indonesia sejak September 1971 hingga 5 April 2001. Garuda Indonesia adalah perusahaan penerbangan di dunia yang pernah paling banyak mengoperasikan Fokker F-28. Pada tahun 1968, Direktur Garuda Indonesia Airways, Wiweko Soepono berkeinginan pesawat Garuda Indonesia dapat menyinggahi semua kota-kota di Indonesia dalam satu hari penerbangan. Wiweko menjual pesawat DC-8 dan menggantinya dengan 12 pesawat Fokker F-27 yang bermesin turboprop dengan pertimbangan kemudahan transisi pilot Garuda menuju Fokker F-28.

Pembelian Fokker F-28 untuk Garuda Indonesia dimulai tahun 1969-1970. Sejumlah 8 calon pilot, 2 calon co-pilot, dan seorang juru mesin dikirim ke Amsterdam untuk menjalani pelatihan. Pesawat Fokker F-28 pertama untuk Garuda Indonesia (PK-GJZ) diterbangkan dari Bandar Udara Schipol, Amsterdam menyinggahi Teheran, Karachi, Kalkuta, Bangkok, dan sampai di Bandar Udara Kemayoran, Jakarta pada 11 Agustus 1971 pukul 10 pagi. Sebelum dioperasikan, pesawat Fokker F-28 pertama Garuda Indonesia dibawa berkeliling Indonesia untuk uji coba landasan selama 5 hari. Pesawat tersebut ternyata mampu mendarat di semua bandar udara di kota-kota besar di Indonesia, hingga bandara berumput dan berkerikil.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Pada awal 1980-an, sejumlah 17 Fokker F-28 MK-3000 dihibahkan kepada Merpati Nusantara, sedangkan pesawat sisanya dihapus dari armada Garuda Indonesia pada 5 April 2001 untuk digunakan oleh Citilink.

Fokker F-28 Citilink

Meski disebut Garuda Indonesia pernah mengoperasikan 62 unit Fokker F-28, namun bukan berarti Garuda Indonesia membeli sebanyak itu, karena pada F-28 ser MK-3000 dibeli lewat tukar-tambah dengan MK-1000. Sehingga jumlah pesawat yang Garuda Indonesia yang dibeli adalah 34 unit.

Berkat Coldplay, MRT Jakarta Catat Rekor Penumpang Terbesar dalam Sejarah

Konser Coldplay di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Rabu kemarin memberikan dampak positif bagi MRT Jakarta. Tak main-main, penumpang MRT Jakarta tembus 163.162 orang per hari pada 15 November. Ini merupakan rekor penumpang harian terbesar MRT Jakarta sepanjang sejarah atau sejak pertama kali beroperasi pada tahun 2019.

Baca juga: Jelang Konser Coldplay, Jumlah Penumpang yang Datang di Stasiun Gambir Meningkat

Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi banyak pihak mulai dari masyarakat yang mempercayakan MRT Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan yang mendukung gelaran konser Coldplay kemarin dengan memperpanjang waktu operasional hinggal 01.30 WIB dan seluruh insan MRT Jakarta yang bertugas dalam memberikan pelayanan terbaiknya kepada masyarakat.

Selain itu, posisi stasiun MRT Jakarta yang memang sangat berdekatan dengan Stadion GBK menjadikan moda ini sangat diminati penumpang, dalam hal ini penonton Coldplay. Tak heran, usai konser selesai pada jam 11 malam, antrean masuk Stasiun MRT Jakarta Istora Mandiri pun mengular sampai jalan.

Begitu konser berakhir, penumpang berbondong-bondong menyerbu stasiun MRT Jakarta terdekat. Ini tentu berbeda dengan saat sebelum konser dimulai dimana waktu kedatangan penonton ke Stadion GBK berbeda-beda.

Meski mencapai on time performance (OTP) nyaris 100 persen dan headway rata-12-15 menit, rupanya antrean penumpang MRT Jakarta tetap mengular sampai beberapa waktu. Sebagian penumpang berharap melalui laman X resmi MRT Jakarta, seharusnya di rentang waktu pukul 11 malam sampai 1.30 dini hari, headwaynya bisa di kisaran 10 menit agar kepadatan cepat terurai.

Perpanjangan jam operasional ini sudah beberapa kali dilakukan oleh MRT Jakarta demi membantu mobilitas warga dalam menghadiri acara-acara yang diselenggarakan di sekitar Stasiun MRT Jakarta. Sebelumnya hal ini juga dilakukan saat gelaran acara SMTOWN di Jakarta.

Hal ini sejalan dengan kampanye MRT Jakarta #UbahJakarta, di mana hal ini menjadikan MRT Jakarta bagian dari gaya hidup masyarakat.

Baca juga: Coldplay ke Jakarta Kampanyekan ‘Sustainable Aviation Fuel’

“Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mempercayakan MRT Jakarta sebagai transportasi publik pilihan dalam bermobilisasi dan telah berkontribusi dalam pengurangan emisi karbon di Jakarta,” jelas MRT Jakarta dalam laman X resminya.

“Kami percaya bahwa transportasi publik dapat juga diandalkan untuk bermobiliasi aman dan nyaman oleh masyarakat dalam acara-acara besar level nasional hingga internasional,” tutupnya.

Dubai Airshow – Pameran Dirgantara Bergengsi Dua Tahunan Terbesar di Timur Tengah

Dubai Airshow 2023 saat ini sedang dihelat dari tanggal 13 sampai 17 November 2023. Meski bukan pameran dirgantara terbesar di dunia, namun Dubai Airshow punya makna strategis dalam industri pertahanan dan dirgantara, pasalnya dihelat di Uni Emirat Arab (UEA), Dubai Airshow banyak mencetak kontrak penting dalam akuisisi pesawat dan helikopter, termasuk di segmen militer dan sipil.

Baca juga: Hari Ini, 112 Tahun Lalu, Pameran Dirgantara Pertama di Dunia Digelar di Paris

Digelar perdana pada tahun 1989, Dubai Airshow terbilang perhelatan internasional yang masih muda. Pameran ini diinisiasi oleh Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, yang saat itu menjabat sebagai Pangeran Mahkota Dubai dan Menteri Pertahanan.

Seiring berjalannya waktu, Dubai Airshow mengalami pertumbuhan yang pesat dan menjadi salah satu pameran dirgantara terkemuka di dunia. Pameran ini menjadi platform penting bagi perusahaan penerbangan dan produsen pesawat untuk memamerkan produk terbaru, menjalin kemitraan, dan melakukan transaksi bisnis.

Dubai Airshow fokus pada teknologi penerbangan dan aerospace, termasuk pesawat komersial, militer, dan pesawat ruang angkasa. Pameran ini menyediakan kesempatan bagi pelaku industri untuk memamerkan inovasi, menjelajahi tren terbaru, dan berpartisipasi dalam diskusi tentang perkembangan di sektor penerbangan.

Selain pameran di dalam ruangan, Dubai Airshow juga menampilkan pertunjukan udara yang spektakuler. Pesawat-pesawat terbang dalam formasi, melakukan aksi aerobatik, dan demonstrasi penerbangan lainnya, memberikan pengalaman yang mengesankan bagi para peserta dan pengunjung.

Baca juga: Paris Air Show 2019 Jadi Ajang ‘Klarifikasi’ Besar-Besaran Bagi Boeing

Pameran ini biasanya diadakan di Dubai Airshow Site di Dubai World Central (DWC), yang merupakan bandara internasional di Dubai. Lokasi ini memiliki fasilitas modern dan luas untuk menyelenggarakan pameran sekelas dunia.

Dubai Airshow diadakan setiap dua tahun sekali. Pameran ini menarik partisipasi global dari berbagai perusahaan penerbangan, produsen pesawat, pemasok peralatan dirgantara, dan pemangku kepentingan industri penerbangan lainnya.

Hari Ini, 114 Tahun Lalu, DELAG Maskapai Pertama di Dunia Asal Jerman Resmi Berdiri

Pada hari ini, 114 tahun lalu, bertepatan dengan Selasa, 16 November 1909, maskapai penumpang pertama di dunia, DELAG (Deutsche Luftschiffahrts-Aktiengesellschaft, atau German Airship Transportation Corporation Ltd) resmi didirikan oleh ‘pangeran’ Jerman, Ferdinand Adolf Heinrich August Graf von Zeppelin, sebagai cabang dari Zeppelin Company.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Dilihat dari namanya, “Si Tua dari Bodensee” (der Alte vom Bodensee) sebetulnya adalah seorang jenderal Angkatan Darat Jerman dan penemu, pembuat, atau pencipta pesawat kaku atau kapal udara Zeppelin; bukan seorang pangeran. Namun, ia kemudian diberi gelar “Graf” atau “Pangeran” sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.

Kembali ke DELAG, pada umumnya, banyak media massa, baik dalam maupun luar negeri,  sering menyoroti posisi KLM sebagai maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi. Sayangnya, tak sedikit pula dari mereka yang menulis bahwa KLM merupakan maskapai pertama di dunia ataupun maskapai tertua di dunia (tanpa ada embel-embel ‘yang masih beroperasi’).

Padahal, KLM baru lahir 10 tahun setelah kelahiran DELAG. Meski sudah resmi berdiri sebagai maskapai pertama di dunia pada 16 November 1909, perusahaan baru menyediakan layanan udara penumpang berjadwal pada tahun 1919, antara Berlin dan Jerman selatan.

Sebelum itu, maskapai DELAG Bodensee (Bodensee=bahasa Jerman dari danau Konstanz, dimana Konstanz adalah kota kelahiran Ferdinand Graf von Zeppelin) hanya melayani penerbangan joy flight keliling Eropa. Belum ada penerbangan dalam kota. Sebab, kapal udaranya belum mendukung sebelum akhirnya kapal udara Zeppelin LZ-120 Bodensee memecahkan kebuntuan akan hal itu.

Kabin LZ-120 Bodensee yang hanya menampung 20 penumpang. Foto: Airship.net

Penerbangan perdana berjadwal DELAG, antara Berlin dan Friedrichshafen, Jerman selatan, dijajaki setiap tanggal ganjil mengangkut sekitar 20 penumpang per penerbangan dan memakan waktu 4-9 jam, jauh lebih cepat dibandingkan 18-24 jam dengan kereta api. Adapun harga tiketnya tak disebutkan dengan jelas.  Di rute ini, setidaknya, maskapai DELAG melakukan 103 penerbangan dan mengangkut hampir 2.500 penumpang, 11.000 pon surat, dan 6.600 pon kargo.

Sebagai maskapai penerbangan komersial pertama di dunia, DELAG juga menawarkan layanan maskapai penumpang transatlantik pertama di dunia, menggunakan LZ-127 Graf Zeppelin untuk membuat penerbangan reguler terjadwal antara Jerman dan Amerika Selatan mulai tahun 1931. Graf Zeppelin melintasi Atlantik Selatan 136 kali sebelum pensiun setelah insiden kapal udara Hindenburg pada tahun 1937.

Tak hanya itu, DELAG Bodensee juga tercatat mempekerjakan Heinrich Kubis sebagai awak kabin pertama di dunia, jauh sebelum pramugari pertama di dunia Ellen Church.

Dilihat dari latar belakang berdirinya, seperti dilansir airships.net, DELAG merupakan hilir dari bisnis kapal udara Zeppelin. Dengan kata lain, DELAG dibangun untuk mengkomersialkan perjalanan Zeppelin dengan menyediakan layanan udara penumpang, dan untuk membeli kapal udara yang diproduksi oleh Zeppelin Company di saat dukungan militer masih belum pasti.

Baca juga: Zeppelin, Riwayat Balon Udara dengan Bahan Bakar Hidrogen

Antara tahun 1910 dan pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914, maskapai DELAG sempat mengangkut lebih dari 34.000 penumpang di lebih dari 1.500 penerbangan, tanpa satu pun cedera. Mayoritas penumpang diberi tiket gratis untuk mempromosikan industri Zeppelin (terutama anggota keluarga kerajaan Jerman, perwira militer, bangsawan, pejabat pemerintah, dan pemimpin bisnis), tetapi DELAG juga mengangkut 10.197 penumpang yang membayar sebelum harus berhenti beroperasi setelah PD I meletus.

Selama berdiri dari 16 November 1909 hingga tahun 1935, ketika operasinya diambil alih oleh Deutsche Zeppelin-Reederei, DELAG , maskapai pertama di dunia, tercatat mengoperasikan sembilan kapal udara Zeppelin, mulai dari LZ-7 Deutschland, LZ-8 Deutschland II, LZ-10 Schwaben, LZ-11 Viktoria Luise, LZ-13 Hansa, LZ-17 Sachsen, LZ-120 Bodensee, LZ-121 Nordstern, hingga LZ-7 Deutschland.