Ini Dia Jawaban Kenapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Ka’bah!

Sebagai Tanah Suci umat Muslim di seluruh penjuru dunia, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jikalau Mekkah mendapatkan ‘perlakuan khusus’. Ditambah dengan posisi dari Ka’bah yang terletak di tengah-tengah masjid paling suci dalam agama Islam, Masjidil Haram. Nah, bagi Anda yang sudah pernah menunaikan ibadah haji atau umroh ke Mekkah dan kota-kota lainnya, pernahkah Anda melihat sebuah pesawat terbang melintas di atas Ka’bah?

Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai

Ya, pasti semua sepakat untuk menjawab tidak pernah melihat pesawat terbang mengudara di atas Ka’bah. Beberapa spekulasi mulai bermunculan seiring dengan semakin banyaknya orang yang skeptis akan pertanyaan ini. Salah satu dari jawaban yang sering kita dengar terkait pertanyaan tersebut adalah karena Ka’bah memiliki gelombang magnet yang sangat besar sehingga pesawat tidak diperkenankan untuk mengudara di atasnya.

Selain jawaban tersebut, ada juga teori lain yang menyebutkan bahwa terdapat ruang hampa yang sangat misterius di atas Ka’bah. Namun jawaban tersebut tidaklah benar. Lalu, kenapa pesawat tidak pernah melintas di atas Ka’bah?

Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, seorang pilot kenamaan berkebangsaan Arab Saudi, Hasan Al Ghamidi mengatakan bahwa spekulasi yang berkembang di publik itu tidaklah benar adanya.

“Kabar dan informasi yang selama ini beredar di media sosial salah dan menyesatkan,” ujar Hasan dikutip dari laman orient-news.net.

Hasan yang juga berprofesi sebagai pemerhati penerbangan sipil ini juga menampik pernyataan tentang eksistensi ruang hampa dan medan magnet yang sangat kuat di atas Ka’bah. Hasan menyebut, bahwa pelarangan sebuah pesawat mengudara di atas Ka’bah itu semata-mata untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan para jemaah haji dan umroh.

Baca Juga: 10 Peraturan Lalu Lintas Unik Ini Siap Membuat Anda Kernyitkan Dahi

“Karena posisi Kota Mekah berada di wilayah pegunungan, ketika ada pesawat yang melintas maka suara pesawat akan memantul dan menimbulkan efek buruk bagi para jamaah haji atau umroh,” terang Hasan.

Jadi, sudah terjawab ya kenapa pesawat dilarang melintas di atas Ka’bah!

Seoul Cabut Zona Larangan Terbang di Perbatasan, Ketegangan dengan Pyongyang Bisa Berdampak pada Penerbangan Komersial

Hanya berstatus gencatan senjata sejak tahun 1953, antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) sejatinya masih berperang. Dengen kesepakatan gencatan senjata setelahnya, maka kedua negara bersaudara itu bisa tetap eksisis meski dalam status siaga untuk berperang. Namun belum lama ada perkembangan yang harus dicermati terkait ‘kondisi udara’ di wilayah Semenanjung Korea.

Baca juga: Air Koryo, Flag Carrier Korea Utara dengan Predikat Bintang 1 Versi Skytrax

Dikutip New York Times – nytimes.com (22/11/2023), dilaporkan bahwa otoritas penerbangan Korea Selatan telah menghapus Zona Larangan Terbang (No Fly Zone) di dekat perbatasan dengan Korea Utara, tepatnya hal itu dilakukan sehari setelah Pyongyang menempatkan satelit mata-mata militer ke orbit untuk pertama kalinya, Seoul mengatakan pihaknya tidak akan lagi mematuhi larangan penerbangan di kawasan perbatasan.

Korea Selatan menangguhkan zona larangan terbang di perbatasan dengan Korea Utara pada hari Rabu, membuka jalan bagi negara tersebut untuk melanjutkan penerbangan pengintaian di sana sehari setelah Korea Utara berhasil menempatkan satelit mata-mata militer pertamanya ke orbit.

Sebagai tanggapan, Korea Utara juga mengatakan bahwa mereka tidak akan lagi menghormati zona larangan terbang. Perjanjian ini juga menyatakan diakhirinya seluruh perjanjian yang ditandatangani dengan Korea Selatan pada tahun 2018 untuk menghentikan permusuhan.

Perjanjian militer antar-Korea, yang ditandatangani dalam periode singkat pemulihan hubungan di Semenanjung Korea, mencakup zona larangan terbang dan perjanjian larangan latihan militer dengan peluru tajam di dekat perbatasan. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua Korea saling menuduh satu sama lain melanggar perjanjian karena hubungan mereka memburuk.

“Kami akan menarik langkah-langkah militer, yang diambil untuk mencegah ketegangan dan konflik militer di semua bidang termasuk darat, laut dan udara, dan mengerahkan angkatan bersenjata yang lebih kuat dan perangkat keras militer tipe baru” di sepanjang perbatasan, kata Kementerian Pertahanan Nasional Korea Utara dalam pernyataannya. sebuah pernyataan.

Korea Utara mengatakan pada hari Rabu bahwa roket yang lepas landas sehari sebelumnya dari stasiun peluncuran luar angkasa Tongchang-ri “secara akurat” menempatkan satelit tersebut di orbit. Media pemerintah Korea Utara memuat liputan penuh di halaman depan mengenai peluncuran tersebut, yang terjadi setelah dua peluncuran satelit sebelumnya, yang dilakukan pada bulan Mei dan Agustus, gagal karena kegagalan fungsi roket.

Terkait dengan penerbangan sipil, Bandara Internasional Incheon (ICN) terletak di Incheon, Korea Selatan, berada di sebelah barat daya Seoul. Secara umum, Bandara Incheon terletak di sebelah selatan garis perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Jaraknya bisa mencapai puluhan kilometer atau lebih, Pusat kota Seoul sendiri hanya berjarak sekitar 40-50 kilometer dari garis perbatasan dengan Korea Utara.

Baca juga: Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

Perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara berada di Zona Demiliterisasi (DMZ), yang merupakan area demiliterisasi yang luas dan penuh ketegangan. Dengan kondisi tersebut, jika eskalasi ketenganan antara Korsel dan Korut meningkat, maka besar kemungkinan akan lansung berpengaruh pada penerbangan komersial internasional yang melewati Bandara Incheon.

Hari Ini, 64 Tahun Lalu, Boeing 720 (717) Sang Petarung Jarak Pendek Empat Mesin Terbang Perdana

Pada hari ini, 64 tahun lalu, bertepatan dengan Senin, 23 November 1959, Boeing 720 terbang perdana. Pesawat yang merupakan versi jarak pendek dari Boeing 707 ini pun selama beberapa tahun menjadi andalan Boeing untuk merajai penerbangan jarak pendek, sebelum akhirnya Boeing meluncurkan Boeing 727 dan 737 untuk pangsa pasar tersebut.

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Boeing Tak Buat Seri 777-100

Dilansir laman resmi Boeing, Boeing 720 awalnya tak begitu diharapkan ketika permintaan akan pesawat dengan kemampuan mendarat di bandara yang lebih kecil mengalir deras dari maskapai seluruh dunia, tak lama pasca Boeing 707 terbang perdana pada 20 Desember 1957. Sebab, di tahun yang sama dengan penerbangan perdana Boeing 720, proses pengembangan Boeing 727 -yang pada akhirnya menggantikan 720- sedang dilakukan.

Akan tetapi, usai pergolakan di internal Boeing, pabrikan itu akhirnya melanjutkan program Boeing 720 dan resmi terbang perdana, dua tahun first flight setelah Boeing 707.

Sebagaimana permintaan pasar, Boeing 720 didesain khusus untuk rute jarak pendek hingga menengah dan memiliki kemampuan beroperasi di landasan pacu yang lebih pendek. Para insinyur Boeing mengurangi panjang badan pesawat hingga 9 kaki (2,7 meter), mengubah leading edge flaps, dan memasang mesin turbofan Pratt & Whitney JT3C-7.

Meski terus dibayang-bayangi dengan kehadiran Boeing 727 yang pada akhirnya berhasil terbang perdana pada 9 Februari 1963, tercatat, ada sekitar 154 unit 720 yang diproduksi Boeing antara tahun 1959 dan 1967. Peran jarak pendek hingga menengahnya kemudian diisi oleh Boeing 727 dan Boeing 737, yang terus eksis sampai saat ini melalui varian terbarunya, Boeing 737 MAX.

Spesifikasi Boeing 720 dan Boeing 720B. Foto: Tangkapan layar

Dikutip dari aerotime.aero, Boeing 720 sebetulnya bisa dibilang aneh karena melawan formula penamaan 7×7 oleh departemen pemasaran Boeing untuk pesawat komersial. Sebagaimana disebutkan di awal, Boeing 720 merupakan versi pengembangan dari Boeing 707. Karenanya, 720 dinamakan sebagai Boeing 707-020, kemudian berubah menjadi Boeing 717 hingga akhirnya menjadi Boieng 720.

Dalam sebuah iklan di majalah Flight, pesawat jarak pendek dan menengah dengan empat mesin ini dikalim sebagai “Pesawat jet tercepat di kelasnya, dengan kecepatan jelajah maksimum mencapai 615 mil atau 989 km per jam.”

“Seri 720 yang serba guna akan memberikan keuntungan kepada maskapai penerbangan dengan keuntungan yang luar biasa, penggunaan awal yang sangat tinggi, dan daya tarik penumpang yang belum pernah terjadi sebelumnya – seperti yang ditunjukkan oleh kesuksesan brilian jet Boeing yang sudah beroperasi,” bunyi lain iklan Boeing di majalah Flight.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Beberapa bulan setelah penerbangan komersial perdana oleh United Airlines pada 5 Juli 1960, Boeing memperkenalkan versi 720B yang dengan menyematkan mesin terbaru Pratt & Whitney JT3D. Mesin tersebut dianggap jauh lebih efektif dan efisien. Versi ini pada akhirnya menjadi yang terlaris dengan total penjualan 89 unit dan sisanya Boeing 720 sebanyak 65 unit.

Jumlah tersebut setidaknya dioperasikan oleh puluhan maskapai di dunia, di antaranya Aer Lingus, Air Malta, American Airlines, Braniff International Airways, Continental Airlines, Eastern Air Lines, Northwest Airlines, Lufthansa , Pan American World Airways (Pan Am), dan United Airlines.

Jet Bisnis Diganjar Sanksi Terbang, Begini Cara ‘Sultan’ Moskow Bisa Tetap Menikmati Eropa Barat

Sebelum Operasi Khusus (invasi) Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Eropa adalah ‘taman bermain’ bagi orang-orang super kaya di Moskow. Dengan banyaknya uang yang tersedia, terdapat banyak pesawat pribadi juga, cukup untuk menempatkan Rusia di posisi ke-11 di dunia untuk keberangkatan jet bisnis terbanyak pada tahun 2022.

Baca juga: Dassault Falcon 50 “Suzanna” – Jet Bisnis yang Disulap Jadi Peluncur Rudal Anti Kapal Exocet

Daftar tujuan teratas untuk menerbangkan jet pribadi dari Rusia adalah tempat-tempat stategis di Eropa. Analisis menarik yang dilakukan New York Times menunjukkan Perancis, Swiss, Inggris, dan Jerman merupakan rute yang paling banyak dilalui para taipan dari Rusia. Tapi itu terjadi sebelum segalanya berubah.

Dikutip dari Simple Flying, setelah invasi Rusia ke Ukraina, maka Eropa Barat melakukan pembatasan terhadap Rusia, seperti menjatuhkan sanksi dan menyita aset oligarki Rusia yang terkait dengan Kremlin. Termasuk memaksa Roman Abramovich menjual Chelsea, klub sepak bola (sepak bola) Eropa yang dimilikinya selama 19 tahun, dan menyita dua jet pribadinya.

Takut kehilangan ‘mainan’ mahal mereka, orang-orang kaya Rusia lainnya mulai mengangkut kapal pesiar super dan jet bisnis mereka ke negara-negara di mana mainan tersebut tidak dapat disita. Dengan pembatasan yang membatasi penerbangan jet pribadi milik Rusia, beberapa oligarki Rusia yang inovatif telah menemukan cara untuk mengabaikan aturan tersebut.

Jika Uni Eropa tidak memberikan sanksi secara pribadi, mereka bisa masuk. Namun, mereka tidak dapat tiba dari Rusia atau berada di pesawat yang terdaftar di Rusia. Dalam hal ini, orang-orang kaya Rusia dapat terbang ke negara ketiga dan kemudian menyewa jet pribadi yang terdaftar secara lokal untuk terbang ke Eropa.

Dua contoh negara yang memfasilitasi Rusia adalah Turki dan Uni Emirat Arab (UEA). Menurut euronews, mengutip sumber terpercaya, kedatangan orang Rusia dengan jet pribadi sewaan melalui negara ketiga adalah kejadian mingguan.

Baca juga: Bombardier Global 8000 – Pesawat Jet Bisnis dengan Kecepatan Supersonik, Pertama Sejak era Condorde Berakhir

Laporan New York Times selanjutnya menunjukkan bahwa penerbangan ke negara lain telah meningkat secara signifikan sejak sanksi dimulai. UEA, yang sudah menjadi tujuan populer, mengalami peningkatan dari hanya 4% dari seluruh penerbangan jet pribadi menjadi 6,1% pada tahun lalu. Turki hanya memiliki 1% pra-sanksi, namun kini menjadi titik akhir untuk 3,6% penerbangan, sementara Azerbaijan hampir tidak memiliki penerbangan sama sekali, dan kini menyumbang 2,3%.

Damri Rute Bandara Soetta Lengkapi 4 Intermoda di Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim

Stasiun Kereta Cepat Whoosh Halim saat ini terhubung dengan empat intermoda. Setelah sebelumnya bus Transjakarta dengan rute 7W, LRT Jabodebek, serta taksi konvensional yang memiliki area tunggu khusus, terbaru Damri dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta (Basoetta) juga hadir di Stasiun Halim. Dengan begitu, warga Bandung yang hendak ke Basoetta bisa langsung naik Damri setelah turun dari Whoosh.

Baca juga: Begini Cara Pesan Tiket Rombongan Kereta Cepat Whoosh, Minimal 20 Penumpang

“Alhamdulillah kami mendapat dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas layanan bagi penumpang khususnya moda transportasi lanjutan dari dan menuju Stasiun Kereta Cepat. Kehadiran keempat intermoda di Stasiun Kereta Cepat Halim ini sangat penting dalam upaya menghadirkan integrasi antarmoda agar masyarakat dapat beralih ke transportasi publik” ujar Direktur Utama PT KCIC Dwiyana Slamet Riyadi.

Layanan DAMRI Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat diakses di pintu utara area Stasiun Kereta Cepat Halim. Adapun jadwal operasional DAMRI dimulai dari pukul 07.00-20.00 WIB untuk keberangkatan dari Stasiun Halim dan 05.00-20.00 WIB untuk keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta.

Dwiyana pun mengabarkan jika saat ini ada tarif promo hingga 50% atau hanya Rp40 ribu saja untuk penumpang Kereta Cepat Whoosh selama masa uji coba.

Untuk moda LRT Jabodebek dapat diakses langsung melalui jembatan penghubung Stasiun Kereta Cepat Halim dan Stasiun LRT Halim. Adapun rute yang tersedia untuk LRT Stasiun Halim adalah rute Dukuh Atas-Jati Mulya pp. Tarif LRT Jabodebek adalah 1 km pertama Rp3.000, selanjutnya 700/km maksimal Rp20.000 di weekday dan maksimal Rp10.000 di weekend.

Untuk rute paling awal menuju Dukuh Atas adalah pukul 05.23 WIB, dan paling terakhir adalah pukul 19.53 WIB. Sedangkan untuk rute paling awal menuju Jati Mulya adalah pukul 06.23 WIB, dan paling terakhir adalah pukul 20.53 WIB.

“LRT Jabodebek sudah bisa digunakan sejak Kereta Cepat Whoosh dioperasikan. Selama ini juga sudah banyak penumpang yang memanfaatkan integrasi moda dengan LRT ini untuk menuju ke berbagai tujuan,” jelas Dwiyana.

Sementara Untuk Bus TransJakarta yang beroperasi yaitu TransJakarta nomor 7W dengan rute Cawang-Stasiun KCJB Halim. Adapun rute yang akan dilalui yakni dari Cawang – Jalan Mayjen Sutoyo – Jalan D.I.Panjaitan – Stasiun Halim. Penumpang dapat menggunakan Bus Transjakarta dengan tarif Rp3.500 dengan menggunakan kartu uang elektronik.

Selain itu Stasiun Kereta Cepat Halim juga sudah terkoneksi dengan transportasi online dan taksi konvensional yang bisa diakses di sekitar pintu utara area Stasiun Kereta Cepat Halim.

Di samping moda transportasi lanjutan, KCIC juga terus berupaya menyediakan kemudahan aksesibilitas melalui akses Jalan DI Pandjaitan yang selesai dibangun Agustus 2023 lalu, ini menjadi akses utama masyarakat menuju stasiun kereta cepat Whoosh Halim. Ke depan, exit tol Jakarta-Cikampek KM 0+850 juga akan dibuka sebagai salah satu akses drop off ke stasiun Kereta Cepat Halim.

Bagi masyarakat yang membawa kendaraan ke area Stasiun juga tidak perlu khawatir karena area Stasiun Kereta Cepat Halim dilengkapi dengan lahan parkir yang luas dengan kapasitas hingga 248 mobil ukuran sedang dan 301 sepeda motor. Tersedia dua area parkir yang cukup luas di sisi barat dan timur stasiun.

Dwiyana menambahkan kehadiran aksesibilitas dan moda transportasi lanjutan ini menjadi sangat penting untuk masyarakat yang akan menggunakan kereta cepat Whoosh, mengingat saat ini volume penumpang terus mengalami peningkatan dengan rata-rata penumpang tertinggi mencapai 21 ribu per hari pada saat weekend dan 18 ribu per hari pada saat weekday.

Baca juga: 1 Bulan Beroperasi, Kereta Cepat Whoosh Sukses “Curi” Ratusan Ribu Penumpang Argo Parahyangan

Secara total sejak awal beroperasi pada 17 Oktober lalu hingga 21 November lalu Kereta Cepat Whoosh telah mengangkut penumpang sebanyak 472 ribu penumapang dengan rata-rata okupansi penumpang mencapai 80-99 persen pada setiap rangkaian yang beroperasi.

“Dengan kemudahan aksesibilitas dan kehadiran koneksi berbagai moda transportasi, masyarakat akan dengan mudah menjangkau stasiun kereta cepat. Tinggal pilih yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing,” tutupnya.

Airbus A220 SWISS Dicegat ‘Bersahabat’ oleh Jet Tempur F/A-18 Hornet

Biasanya, jika penumpang dan awak pesawat melihat jet tempur dari jendela, maka ada sesuatu yang buruk akan terjadi, seperti pesawat yang dicegat (intercept) oleh jet tempur. Namun itu tidak selalu, ada beberapa alasan mengapa militer suatu negara mungkin memutuskan untuk mengirim beberapa jet tempur untuk melihat jet penumpang. Dalam kebanyakan kasus, hal ini terjadi karena pilot pesawat tersebut tidak menanggapi panggilan radio, pada beberapa frekuensi.

Baca juga: F-16 AU Singapura ‘Scramble’, Lebih dari 20 Penerbangan di Bandara Changi Mengalami Delay

Tapi mungkin ada lebih banyak alasan, yakni pilot jet penumpang mungkin telah mengirim pesan melalui radio (atau memasukkan kode transponder) untuk memberi tahu ATC tentang adanya pembajakan. Dalam beberapa kasus, pesawat tempur telah memeriksa sebuah pesawat untuk mengevaluasi kemungkinan kerusakan. Atau seorang remaja mungkin melontarkan lelucon yang sangat buruk di media sosial, sehingga mendorong pihak berwenang untuk meluncurkan jet tempur.

Namun pada hari Senin tanggal 13 November 2023, tiga jet tempur F/A-18 Hornet dari Angkatan Udata Swisss bertemu dengan Airbus A220 milik Swiss International Air Lines (SWISS) di ketinggian dalam kondisi yang jauh lebih bersahabat. Pertemuan tersebut telah dijadwalkan dan telah diberi pengarahan sebelumnya secara rinci. Ini adalah latihan pencegatan, demi kepentingan awak penerbangan militer dan komersial.

Selain penerbang tempur dan awak SWISS A220, latihan intercept ini juga melibatkan 70 penumpang. Mereka adalah pelajar dan personel lainnya yang berpartisipasi dalam program SPHAIR Swiss.

SPHAIR adalah program penyaringan dan pelatihan penerbangan selama dua minggu, terutama untuk calon pilot militer dan spesialisasi terkait penerbangan militer lainnya. Beberapa maskapai penerbangan juga menerima kandidat dari program ini, yang biasanya hanya terbuka untuk warga negara Swiss.

Baca juga: Saat Airbus A320-200 Batik Air di “Force Down” Jet Tempur Sukhoi Su-30

Pilot jet tempur tersebut bergantian memberi isyarat kepada awak A220 tentang cara yang akan mereka lakukan jika ini bukan latihan. Ini termasuk terbang di depan pesawat dan bahkan menjatuhkan suar. Sementara itu, 70 pelajar dan personel SPHAIR di dalam pesawat mendapat komentar langsung dari seorang pilot militer di kabin.

Serangan Siber Menimpa Bandara Long Beach di Los Angeles, Sistem Pembayaran Tiket Lumpuh

Serangan siber (cyber attack) kembali menimpa industri penerbangan, dengan kasus terbaru adalah serangan siber di Bandara Long Beach (LGB), bandara umum utama yang terletak di dekat Los Angeles, pada 14 November lalu. Serangan siber tersebut memengaruhi situs web utama bandara dan menyebabkan otoritas bandara membuat situs web tersebut offline untuk sementara.

Baca juga: Ini 7 Dampak Serangan Siber yang Berimbas Serius pada Maskapai Penerbangan

Dikutip Simple Flying, saat ins situs web bandara dialihkan ke situs web kota Long Beach, yang juga telah menambahkan informasi penerbangan tambahan untuk membantu penumpang menavigasi penerbangan mereka.

Serangan siber tersebut mengubah situs web bandara dan menyebabkan situs web itu sendiri menjadi offline. Selain itu, serangan tersebut memengaruhi beberapa sistem pemrosesan pembayaran yang ditautkan dari situs web.

Namun, sistem bandara utama lainnya tidak terpengaruh oleh serangan tersebut. Sistem yang tetap berfungsi penuh meliputi WiFi publik bandara, sistem internet yang digunakan oleh maskapai penerbangan, pengatur lalu lintas, aplikasi seluler bandara, dan kios pembayaran untuk parkir di properti bandara. Semua sistem ini berjalan pada server terpisah dari server utama yang terhubung dengan situs web bandara.

“Pada 14 November 2023, Kota Long Beach mengetahui bahwa kota tersebut berpotensi mengalami insiden keamanan siber. Departemen Teknologi dan Inovasi Kota segera memulai penyelidikan, bekerja sama dengan firma konsultan keamanan siber yang dikontrak dan memberi tahu FBI. Melalui penyelidikan awal, diketahui telah terjadi insiden keamanan pada jaringan.”

Baca juga: Inilah 5 Kasus Serangan Siber yang Terkenal dalam Dunia Maskapai Penerbangan

Serangan siber ini terjadi pada saat yang tidak menguntungkan menjelang musim perjalanan yang sibuk. Bandara Long Beach memperkirakan sekitar 88.000 penumpang selama akhir pekan Thanksgiving. Diperkirakan juga mencapai 14.000 penumpang pada hari tersibuknya. Angka-angka ini meningkat 25% jika dibandingkan tahun 2019, yang dianggap sebelum adanya pandemi COVID-19. Hal ini menunjukkan kembalinya perjalanan normal dibandingkan dengan penurunan perjalanan selama pandemi.

Inilah Rahasia Boeing Pilih seri 737-800ER Sebagai Platform Pesawat Intai Maritim P-8A Poseidon

Meski kenyang insiden dalam operasi di lautan, namun sejak terbang perdana pada 25 April 2009, boleh dikata pesawat intai P-8A Poseidon belum pernah mendapat kecelakaan, yang secara tak langsung menaikan pamor pesawat intai yang dibangun dari platform Boeing 737-800ER. Dan baru pada hari Senin, 20 November 2023, untuk pertama kalinya kecelakaan menimpa P-8A Poseidon.

Baca juga: 737-800NG, Didapuk Jadi Varian Paling Laris di Keluarga Boeing 737

Sebuan P-8A Poseidon milik Angkatan Laut AS (US Navy) dengan registrasi 16956, mengalami overshoot atau overrun saat melakukan pendaratan di Pangkalan Udara Korps Marinir Teluk Kaneohe di Pulau Oahu, Hawaii. “Pesawat itu mendarat dan melampaui ujung landasan pacu,” kata Letnan Satu Hailey Harms, juru bicara Pangkalan Korps Marinir Hawaii, seperti dikutip USNI news.

Digunakan oleh banyak negara, sampai Oktober 2023, setidaknya 174 unit P-8A Poseidon berhasil diproduksi. Nah, yang menarik adalah mengapa Boeing memutuskan menggunakan platform pesawat komersial Boeing 737-800ER (Extended Range) untuk Posedion, padahal ada beragam varian atau seri 737 yang lebih baru dan modern.

Disarikan dari beberapa dokumen, alasan pemilihan platform 737-800ER untuk Poseidon memiliki beberapa alasan yang melibatkan performa, jangkauan, dan kemampuan pesawat. Berikut adalah beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi keputusan menggunakan 737-800ER:

1. Jangkauan
Boeing 737-800ER memiliki jangkauan yang lebih panjang dibandingkan dengan beberapa varian lain dari seri 737. Jangkauan yang baik sangat penting untuk misi patroli maritim, di mana pesawat perlu menutupi area yang luas di atas lautan.

2. Kapasitas Bahan Bakar
737-800ER dirancang dengan peningkatan kapasitas bahan bakar, yang memungkinkannya memiliki daya jelajah yang lebih baik. Ini penting untuk misi maritim yang mungkin memerlukan waktu operasional yang lebih lama dan jarak jauh dari pangkalan.

3. Kemampuan Modifikasi
Desain dasar 737-800ER memungkinkan untuk modifikasi yang relatif mudah agar sesuai dengan kebutuhan misi militer, termasuk pemasangan sistem sensor, radar, dan peralatan misi khusus lainnya yang dibutuhkan untuk tugas patroli maritim dan anti-kapal selam.

4. Kebutuhan Misi
737-800ER memenuhi persyaratan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat dan kebutuhan misi patroli maritim. Keputusan ini mungkin dipengaruhi oleh analisis kebutuhan operasional dan teknis yang cermat.

5. Ketersediaan dan Biaya
Menggunakan platform yang sudah ada dan terbukti dalam produksi massal seperti 737-800ER dapat membantu mengurangi biaya pengembangan dan produksi pesawat. Selain itu, keputusan ini mungkin juga didasarkan pada ketersediaan dan dukungan global untuk platform tersebut.

Baca juga: TNI AU Kedatangan Pesawat VIP ‘Baru’ Boeing 737-800NG, Bekas Pakai dari Kulula Airlines

Pemilihan dasar pesawat 737-800ER sebagai platform untuk P-8A Poseidon mencerminkan kombinasi antara kemampuan teknis, jangkauan, dan efisiensi biaya. Seiring dengan pengembangan dan modernisasi pesawat, perusahaan seperti Boeing dan mitra industri dapat terus meningkatkan kemampuan dan performa P-8A.

Dengan Airbus A320, TransNusa Umumkan Penerbangan Perdana Jakarta – Singapura

PT TransNusa Aviation Mandiri (TransNusa) mengumumkan kesuksesan penerbangan perdana flight 8B-151, yang telah lepas landas dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta (CGK) dan mendarat dengan aman serta tepat waktu di Terminal 2 Bandara Internasional Changi Singapura (SIN) pagi ini (21/11/2023).

Baca juga: Gallop Air dari Brunei, Jadi Maskapai Internasional Kedua Pengguna COMAC ARJ21 Setelah TransNusa

Beroperasinya rute Jakarta – Singapura bersama TransNusa yang saat ini dilayani sebanyak 1 kali setiap hari pergi-pulang, semakin mengukuhkan posisi TransNusa sebagai maskapai penerbangan berbiaya hemat (Low Cost Carrier/ LCC) dengan konsep Premium Service Carrier, terutama pada jaringan internasional. Pencapaian ini menjadikan TransNusa maskapai penerbangan dengan pertumbuhan bisnis tercepat di kawasan Asia Tenggara pasca Covid-19.

Peresmian rute Jakarta – Singapura sekaligus melanjutkan kesuksesan TransNusa yang pada 16 November 2023 lalu baru saja merayakan penerbangan perdananya untuk rute Jakarta – Guangzhou. TransNusa merupakan maskapai kedua di Indonesia yang melayani penerbangan komersial langsung ke destinasi di China ini.

TransNusa mengoperasikan rute penerbangan ke dan dari Singapura menggunakan armada Airbus A320 berkapasitas 174 penumpang, dengan konfigurasi kursi yang memiliki ruang kaki mencapai 31 inci; lebih luas dibandingkan dengan maskapai LCC umumnya. Selain itu maskapai juga memfasilitasi layanan gratis kapasitas besar untuk cabin baggage (7kg) serta check-in baggage (15-30kg) dengan opsi tiket bundling.

Baca juga: Setelah 100 Jam Penerbangan Pembuktian, TransNusa Airlines Berencana Buka Rute ke Kuala Lumpur

Terhitung sejak April 2023, atau hanya dalam tenggang waktu 8 bulan, TransNusa telah sukses menyusun, mengembangkan, memperkenalkan dan mengoperasikan penerbangan komersial berjadwal menuju kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Melengkapi manifestasi perencanaan strategis perusahaan, Singapura menjadi rute internasional ke-4 dalam jaringan konektivitas internasional milik TransNusa, setelah Kuala Lumpur, Johor Bahru dan Guangzhou. Di pasar domestik sendiri, maskapai juga sukses melayani konektivitas dari dan ke Bali serta Yogyakarta.

Vietjet Tawarkan Promo Black Friday, Jejajah Vietnam dengan Harga Mulai dari Rp0

Vietjet, maskapai berbiaya murah asal Vietnam mengajak para wisatawan Indonesia untuk meramaikan Black Friday, acara belanja terbesar di dunia, dengan promo yang berlangsung selama seminggu penuh dan harga yang sangat terjangkau.

Baca juga: Vietjet Buka Penerbangan Langsung Jakarta-Hanoi Mulai 10 Desember

Mulai dari pukul 12.00 pada tanggal 22 November hingga akhir 28 November (GMT+7), Vietjet menghadirkan hampir satu juta tiket dengan harga mulai dari Rp0 atau Rp900.000 sekali jalan. termasuk pajak dan biaya lainnya, khusus untuk wisatawan Indonesia. Penawaran ini berlaku untuk seluruh penerbangan domestik di Vietnam dan penerbangan internasional antara Vietnam dan Indonesia, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, Cina, Taiwan, Hong Kong, Kazakhstan, dan berbagai destinasi lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Para wisatawan dapat memesan tiket promo dengan harga yang sangat menarik ini melalui situs www.vietjetair.com atau aplikasi Vietjet Air untuk periode penerbangan antara 1 Januari hingga 31 Oktober 2024.

Layanan penerbangan antara Jakarta dan Hanoi akan dimulai pada tanggal 10 Desember. Rute baru ini akan beroperasi empat kali pulang pergi setiap minggunya dan diharapkan akan membuat perjalanan antara kedua kota tersebut menjadi lebih mudah dan terjangkau. Wisatawan Indonesia dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengunjungi Hanoi dan Ho Chi Minh City di Vietnam, atau melanjutkan perjalanan mereka lebih jauh ke Tokyo, Osaka, Seoul, Busan, Taipei, dan kota-kota lainnya.

Baca juga: Vietjet Terima Pesawat ke-101 di Ho Chi Minh City, Airbus A321neo

Vietjet menargetkan untuk menerbangkan satu juta penumpang setiap tahunnya antara Indonesia dan Vietnam sebagai wujud kontribusi untuk meningkatkan kemitraan strategis antar kedua negara. Oleh karena itu, sebanyak 92 penerbangan setiap minggunya telah disiapkan oleh Vietjet untuk menghubungkan Jakarta dan Bali dengan Ho Chi Minh City.