Skybridge Bojonggede Resmi Beroperasi, Pintu Selatan Stasiun Bojonggede Ditutup

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan uji coba operasionalisasi Skybridge Bojonggede mulai Selasa, 5 Desember 2023. Pada hari Jumat, 8 Desember mendatang, Skybridge Stasiun Bojonggede akan beroperasi penuh dan pintu selatan stasiun akan ditutup permanen.

Baca juga: Ini Penyebab KRL Berjalan Perlahan di Petak Cilebut – Bojonggede

Tahap pertama pada Hari Selasa, 5 Desember 2023 pintu selatan tidak akan ditutup, namun penumpang selalu diinformasikan terkait rencana penutupan.

Tahap kedua, Pada Hari Rabu dan Kamis (6 dan 7 Desember 2023) pintu selatan akan ditutup 2 kali. Pertama dilakukan pada jam 09.00 sampai dengan jam 11.00 dan kedua dilakukan pada jam 14.00 sampai dengan 16.00.

Tahap ketiga, pada Hari Jum’at, 8 Desember 2023 pintu Selatan akan ditutup sepanjang jam operasional stasiun atau jam 04.00 s.d. 24.00.

Dengan pemberlakuan tersebut, maka akses dari dan menuju Stasiun Bojonggede dialihkan melalui pintu hall Skybridge yang berada di Terminal Bojonggede.

Dalam rangka mempersiapkan uji coba tersebut, PLT. Kepala BPTJ, Suharto telah melakukan kunjungan bersama dengan Pemerintah Kabupaten Bogor dan PT. KCI pada Hari Senin, 4 Desember 2023.

Dalam kunjungan dimaksud, Suharto menyampaikan pengoperasian Skybridge Bojonggede ini diharapkan akan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas di sekitar Stasiun Bojonggede seperti yang terjadi saat ini.

“Skybridge Bojonggede ini merupakan wujud nyata dari upaya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk mencari solusi permasalahan kemacetan dan kesemrawutan di sekitar Stasiun Bojonggede yang sudah sejak lama menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.

“Diperlukan penataan yang baik pada lingkungan sekitar kawasan stasiun, seperti penataan PKL, penertiban angkutan yang berhenti sembarangan, parkir liar, serta pembangunan park and ride dan jalan akses melalui belakang terminal Bojonggede untuk mendukung Sistem Satu Arah (SSA) yang mana hal ini menjadi tanggung jawab dari Pemerintah Daerah setempat,” jelasnya.

Selain itu Suharto menambahkan dukungan masyarakat juga akan menjadi faktor penting efektivitas Skybridge Bojonggede sebagai fasilitas integrasi antarmoda. “Kami berharap masyarakat akan dapat memanfaatkan Skybridge Bojonggede ini dengan baik, tidak naik dan turun dari angkutan umum ataupun ojek online di pinggir jalan sehingga menimbulkan kemacetan.” kata Suharto.

Pada kesempatan yang sama Bupati Bogor yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi Deni Humaedi menyampaikan terima kasih kepada Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) yang telah membangun prasarana Skybridge Bojonggede.

“Stasiun Bojonggede merupakan Stasiun terpadat ketiga di Indonesia, pergerakan yang padat dan masih banyaknya masyarakat yang naik dan turun depan pintu Stasiun menyebabkan kemacetan. Dengan adanya Skybridge ini maka akan menuntun masyarakat lebih tertib dan nyaman berjalan kaki,” ujarnya.

Direktur Operasional dan Pemasaran PT. KCI Broer Rizal menambahkan, dengan adanya Skybridge ini maka mendukung perbaikan kesemrawutan yang sudah terjadi lama di Stasiun Bojong Gede. “Kami yakin dengan perubahan yang akan segera diberlakukan ini akan memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna jasa KRL,” katanya.

Baca juga: Secercah Cerita di Balik Jembatan Cincin Yang Melegenda

Berkaitan dengan rencana penutupan pintu Selatan dan pengalihan ke skybridge bojonggede, Broer menyampaikan bahwa dirinya yakin dengan lancarnya aksesibilitas penumpang melalui skybridge maka jumlah penumpang kereta commuter juga akan meningkat. “Kami memprediksi akan lebih banyak penumpang yang menggunakan KRL kami,” tutupnya.

Skybridge yang telah selesai 100 persen dibangun BPTJ ini membentang sepanjang 243 meter dengan lebar 3 meter menghubungkan Stasiun Bojonggede dan Terminal Bojonggede. Nantinya jembatan layang ini akan dihibahkan kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Adapun untuk pengoperasian Skybridge Bojonggede akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor bekerja sama dengan PT. KAI (Persero).

Hidupkan Sejarah, Gerbong Tua di Stasiun Rockwood Dijadikan Glamping Mewah

Banyak orang yang peduli dengan sejarah kota di mana mereka tinggal dan beberapa diantaranya bahkan sudah membangkitkan pesona tersendiri. Salah satunya kereta di Stasiun Rockwood yang seperti sudah ada selama beberapa dekade padahal baru dibuka tahun ini.

Baca juga: Gerbong Kereta Tua Dikonversi Jadi Hotel Mewah di Pinggir Pantai Inggris

Dilansir KabarPenumpang.com dari stuff.co.nz (23/8/2021), setelah beberapa tahun melakukan renovasi gerbong kereta bersejarah, pemiliknya yakni Ben dan Cheryl telah menghidupkan kembali sepotong sejarah yang bisa dinikmati para pelancong yang penasaran. Glamping mewah ini berada di kawasan Windwhistle yang sangat peduli dengan tanah dan sejarah dibaliknya.

Fasilitas alam di glamping mewah Selandia Baru. Foto: Stuff

Di mana glamping tersebut letaknya ada di hamparan hutan seluas 40 hektar di belakang wisma dengan jalur yang memungkinkan pelancong menikmati ketenangan di tempat tersebut. Bahkan pelancong bisa mendengarkan burung gereja bernyanyi saat senja atau mungkin melihat kererū atau ekor kipas/pīwakawaka menukik di sekitar pepohonan.

Di belakang gerbong kereta yang dijadikan glamping ini terdapat Sungai Hororata dengan lubang renang alami dan cocok untuk bersantai di musim panas atau menjelajah bersama anak-anak di musim dingin. Tak hanya itu, jika Anda cukup berani, bisa turun sedikit untuk menikmati mandi air panas di luar ruangan.

Adanya landscape peternakan pedesaan di pedesaan Canterbury, menjadi sangat spektakuler dan perbukitan bergulung-gulung ditumbuhi oleh pegunungan bersalju yang luas dan gletser. Bahkan, semakin banyak dari mereka telah mengembangkan hiruk-pikuk pariwisata butik, menyambut pengunjung ke tanah yang mungkin tidak umum sebaliknya.

Saat dunia berputar dan perbatasan tetap tertutup, penting untuk berkembang dan tumbuh, tetapi juga menjaga bisnis lokal. Faktanya, tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk berada di Selandia Baru. Di sini akan menemukan bahwa Anda memiliki tempat untuk diri sendiri yang mungkin belum pernah dialami sebelum pandemi, dan juga akan mendukung keluarga dan usaha kecil yang menawarkan pengalaman kreatif.

Bisa dikatakan, lupakan karavan yang diperbarui dan nikmati kereta tua yang menjadi tren baru. Untuk diketahui, Selandia Baru memiliki begitu banyak sejarah, tetapi sering diabaikan mengingat tempat-tempat seperti Eropa.

Baca juga: Lama Tak Terpakai, Gerbong Tua Ini Disulap Jadi Kamar Hotel Mewah

Sejarah kereta api di Pulau Selatan sangat luas dan mendalam, tetapi sayangnya dilupakan. Dek luar yang menyerap semua sinar matahari, hal pertama yang kami lakukan setelah tiba adalah menyalakan barbekyu dan tertawa dengan kegembiraan yang tak terkendali melihat betapa istimewanya tempat ini.

Stasiun Klaten, Jadi Stasiun Pertama yang Dibangun Antara Jalur Solo-Yogyakarta

Klaten merupakan kabupaten yang berada di Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sini, ada stasiun kereta yang kini bahkan melayani kereta rel listrik atau KRL relasi Yogyakarta menuju Solo. Ya, stasiun tersebut adalah Stasiun Klaten yang letaknya di Jalan KH Samanhudi 53.

Baca juga: Pernah Ditutup Tahun 2011, Stasiun Ceper Kini Beroperasi dengan Persinyalan Elektrik

Stasiun Klaten masuk dalam pengelolaan PT KAI Daerah Operasional (Daop) 6 Yogyakarta. Letaknya juga dekat dengan jalan by pass yang melingkari wilayah kota Klaten. Berada diketinggian +151 meter di atas permukaan laut, Stasiun Klaten merupakan stasiun kelas I yang memiliki enam jalur di mana jalur 1 dan 2 sebagai sepur lurus.


Stasiun Klaten tempo dulu (wikipedia)

Sedangkan jalur 5 dan 6 yang mengarah ke gudang kini sudah diperbaiki dan digunakan kembali agar dapat mengakomodasi kereta yang parkir. Karena letaknya berada di antara Yogyakarta dan Surakarta, membuat banyak kereta yang melintas di jalur Solo – Yogyakarta berhenti di stasiun ini.

Tak hanya kereta KRL, tetapi kereta jarak jauh dari kelas ekonomi, bisnis bahkan eksekutif juga berhenti di Stasiun Klaten. KabarPenumpang.com menghimpun beberapa laman sumber menyebutkan bahwa, per 10 Februari 2021, kereta api penumpang yang melintas langsung/tidak berhenti di stasiun ini adalah KA Argo Wilis, Gajayana, Bima, Turangga, Malabar, Mutiara Selatan dan Sancaka.

Stasiun Klaten dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1910 yang mana catatan sejarah lain menuliskan bahwa stasiun ini dibangun antara tahun 1903 – 1910. Ternyata stasiun ini merupakan stasiun pertama yang dibangun di jalur antara Surakarta dengan Yogyakarta.

Pembanunan ini dilakukan mengingat semakin berkembangnya perekonomian karena kemajuan dibidang industri perkebunan terutama gula. Dulunya di masa pemerintahan kolonial Belanda, Stasiun Klaten merupakan salah satu jalur kereta api vortelanden yang menghubungkan Yogyakarta dengan Surakarta dan berlanjut menuju Semarang.

Jalur ini dikelola oleh NIS yang mulanya hanya difokuskan untuk mengangkut hasil industri perkebunan tebu, kopi, tembakau dan lainnya yang akan diekspor melalui pelabuhan Semarang. Saat ini, untuk mendukung operasional jalur ganda, sistem persinyalan mekanik di stasiun ini diganti dengan sistem persinyalan elektrik buatan PT Len Industri (Persero) yang sudah dipasang sejak tahun 2013 dan baru dioperasikan mulai tanggal 12 Februari 2019.

Baca juga: Stasiun Maguwo Lama – Pernah Jadi ‘Saksi’ Agresi Militer Belanda ke II di Yogyakarta

Sehubungan dengan pembangunan KRL Yogyakarta–Solo, stasiun ini menjadi titik awal pemancangan tiang listrik aliran atas. Seperti pada stasiun umumnya, di sini tersedia alat cetak boarding pass, parkir kebdaraan, toilet dan yang utama loket pemesanan KA jarak jauh dan lokal, pelayanan tiket di layani mulai jam 08.00 hingga jam 16.00 untuk KA lokal sedangkan KA jarak jauh di layani hingga pukul 20.00 WIB.

Ini Sebab Anda Tidak Merasakan ‘Posisi Miring’ Saat Pesawat Berbelok

Pesawat dalam penerbangannya dipastikan akan melakukan serangkaian manuver, seperti berbelok. Namun yang kerap menjadi pertanyaan, mengapa penumpang pesawat tidak merasakan posisi miring saat pesawat berbelok?

Baca juga: Apakah Pilot Simulator Pesawat Boleh Melakukan Manuver Berbahaya?

Ketika pesawat berbelok atau melakukan manuver lainnya, seperti miring atau mengubah arah, sebagian besar penumpang tidak merasakan posisi miring tersebut dengan kuat. Nah, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk efek gravitasi, percepatan sentrifugal, dan kemampuan tubuh manusia untuk beradaptasi dengan perubahan gerakan.

1. Efek Gravitasi
Gaya gravitasi selalu bekerja ke arah bawah, menuju pusat bumi. Oleh karena itu, sepanjang belokan pesawat, penumpang dan benda di dalamnya tetap merasakan kekuatan gravitasi ini menuju bawah, sehingga memberikan perasaan kestabilan.

2. Percepatan Sentrifugal
Saat pesawat berbelok, ada percepatan sentrifugal yang bekerja ke arah samping. Namun, karena pesawat dan semua benda di dalamnya, termasuk penumpang, ikut bergerak bersama, mereka tetap merasakan gaya sentrifugal tersebut sebagai bagian dari gerakan keseluruhan. Ini dapat memberikan perasaan seolah-olah gaya gravitasi “berpindah” ke samping, dan tubuh manusia cenderung beradaptasi dengan perubahan ini.

3. Adaptasi Tubuh
Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan gerakan dan perubahan orientasi tubuh. Sistem vestibular di dalam telinga memberikan umpan balik tentang posisi dan pergerakan kepala, membantu tubuh untuk memahami perubahan arah dan orientasi.

Lima Manuver Pesawat yang Membentuk Gambar di Langit Selama Pandemi Covid-19, Nomor 4 “Jorok”

Sementara banyak penumpang mungkin tidak merasakan miring atau perubahan arah dengan kuat, beberapa orang mungkin tetap merasa tidak nyaman selama manuver tertentu, terutama jika mereka cenderung rentan terhadap mabuk perjalanan atau jika gerakan pesawat berubah secara tiba-tiba dan ekstrem.

Perlu diingat bahwa setiap orang merespons perubahan gerakan pesawat dengan cara yang berbeda, dan beberapa penumpang mungkin lebih peka terhadap perubahan posisi atau gerakan pesawat daripada yang lain.

Bandara Hamburg Bergabung dengan Jaringan Internasional “Hydrogen Hub at Airport”

Bandara Hamburg telah menjadi bandara Jerman pertama dan anggota ke-12 dari jaringan internasional “Hydrogen Hub at Airport”, yang mempromosikan perluasan lebih lanjut infrastruktur hidrogen dalam penerbangan. Keanggotaan jaringan ini sudah mencakup anggota dari bandara, maskapai penerbangan, dan sektor energi di 11 negara termasuk Perancis, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru.

Tujuan dari jaringan internasional ini adalah untuk meneliti, mengembangkan dan memperluas infrastruktur penggunaan hidrogen. “Kami menyambut Bandara Hamburg sebagai anggota “Hydrogen Hub at Airport” terbaru.

4 Tantangan Pesawat Berbahan Bakar Hidrogen, Nomor 1 Tak Terbayang

Keahlian Bandara Hamburg dalam Hidrogen akan menjadi aset yang sangat berharga dalam perjalanan Ekosistem ZEROe kami untuk membangun masa depan di mana penerbangan akan didukung oleh hidrogen yang terdekarbonisasi. Perjalanan untuk mempersiapkan infrastruktur bandara untuk mendukung hidrogen dan penerbangan rendah karbon dimulai dari kemitraan ini.

Meningkatnya keterlibatan bandara di seluruh dunia, termasuk Bandara Hamburg, dalam konsep “Hydrogen Hub at Airport” Airbus akan menjadi kunci untuk mengerahkan pesawat bertenaga hidrogen pada tahun 2035,” kata Karine Guénan, Wakil Presiden Ekosistem Hidrogen NOLe.

Diragukan Boeing, Bagimana Cara Airbus Bangun Tangki Hidrogen Kriogenik Pertamanya?

Penggunaan hidrogen untuk menggerakkan pesawat masa depan tidak hanya akan mengurangi emisi di udara secara signifikan, namun juga berkontribusi pada dekarbonisasi infrastruktur penerbangan di darat. Pada tahun 2020, Airbus meluncurkan program Hydrogen Hub at Airports untuk mendorong penelitian mengenai kebutuhan infrastruktur dan pengoperasian bandara rendah karbon di seluruh rantai kerja.

Tahun 2030 Singapore Airlines Group Tetapkan Sustainable Aviation Fuel 5 Persen dari Kebutuhan Bahan Bakar

Singapore Airlines (SIA) dan Scoot, dua maskapai yang tergabung dalam portofolio maskapai SIA Group, mengumumkan target mereka untuk mengganti 5% dari total kebutuhan bahan bakar mereka dengan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) di tahun 2030.

Bahan bakar berkelanjutan merupakan pendorong utama dalam usaha dekarbonisasi bagi industri penerbangan, dengan potensi untuk mengurangi emisi karbon hingga 80% dalam siklus hidup dibandingkan dengan bahan bakar jet konvensional. Hal ini membuat penggunaan bahan bakar berkelanjutan menjadi aspek penting bagi tujuan SIA Group dalam mencapai nol emisi karbon pada tahun 2050.

Mantap, Airbus A380 Sukses Terbang Pakai Bahan Bakar Minyak Goreng Bekas

Goh Choon Phong, Chief Executive Officer, Singapore Airlines, mengatakan, “Hal ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan keberlanjutan SIA Group. Peningkatan penggunaan bahan bakar berkelanjutan akan menjadi pendorong utama dalam strategi dekarbonisasi kami, yang mencakup investasi berkelanjutan pada pesawat generasi baru dan efisiensi operasional yang lebih tinggi. Secara bersama, inisiatif ini akan membawa kami menuju pencapaian target nol karbon.

“Meskipun demikian, kami tidak dapat melakukannya sendiri. Kolaborasi yang lebih erat dengan para mitra dan pemangku kepentingan, baik yang berada di Singapura maupun di seluruh dunia, tetap diperlukan agar kita semua dapat mencapai target keberlanjutan secara bersama. Kami akan terus mencari peluang agar dapat bekerja sama dalam mendukung produksi dan penggunaan bahan bakar berkelanjutan yang lebih luas di industri penerbangan, serta berbagai inisiatif dekarbonisasi lainnya.”

Diskusi dengan para pemasok bahan bakar terkait dengan berbagai peluang untuk membeli bahan bakar penerbangan berkelanjutan terus berlangsung, dan hal lain yang lebih rinci akan diumumkan pada saat yang tepat.

Dalam beberapa tahun terakhir, SIA Group telah bekerja sama dengan para mitra, baik di Singapura maupun di seluruh dunia, untuk lebih memahami pertimbangan operasional dan komersial yang akan mendukung pasokan dan adopsi SAF yang lebih luas. Sebagai anggota International Advisory Panel (IAP) Singapura dalam mengembangkan rancangan (blueprint) hub udara berkelanjutan, SIA telah berperan aktif dalam pengembangan peta jalan dekarbonisasi untuk sektor penerbangan di Singapura.

SIA Group mendukung International Air Transport Association (IATA) dan pemangku kepentingan lainnya dalam upaya yang mereka lakukan dalam menyepakati prinsip-prinsip inti dari berbagai metode penghitungan SAF. Langkah ini akan meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan bahwa pengurangan emisi yang dihasilkan dari penggunaan SAF dapat dilacak, ditelusuri, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada tahun 2017, melalui kemitraan dengan Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS), SIA mengoperasikan 12 penerbangan ramah lingkungan dari San Francisco menuju Singapura yang mengkombinasikan penggunaan SAF, pesawat hemat bahan bakar, dan operasi penerbangan yang dioptimalkan.

Garuda Indonesia Operasikan Penerbangan Komersial dengan Pesawat Berbahan Bakar Bioavtur

Pada tahun 2020, SIA menjalin kemitraan selama satu tahun dengan Bandara Swedavia di Stockholm untuk penggunaan campuran bahan bakar jet dan SAF melalui sistem hidran bahan bakar di bandara tersebut untuk penerbangan SIA antara Stockholm dan Moskow. Kemitraan ini meningkatkan pemahaman SIA Group tentang logistik dan pengadaan bahan bakar terbarukan.

Pada September 2023, SIA, CAAS, dan GenZero, menyelesaikan uji coba SAF selama 20 bulan. Dalam uji coba ini, 1.000 ton SAF bersih diimpor, dicampur di Singapura, dan diangkut melalui sistem hidran bahan bakar Bandara Changi pada penerbangan SIA dan Scoot.

Douglas DC-8: Lambang Supremasi Penerbangan Jarak Jauh Garuda Indonesia di Era 60/70-an

Satu era dengan Boeing 707, McDonnell Douglas Aircraft juga merilis pesawat penumpang jarak jauh dengan empat mesin Douglas DC-8. Desainnya pun tak berbeda jauh, bahkan kedua pesawat ini termasuk kelas narrow body, alias pesawat dengan satu lorong. Bila Garuda Indonesia tak lama mengoperasikan Boeing 707, maka DC-8 dioperasikan lumayan lama oleh maskapai plat merah ini, sebanyak 11 unit Douglas DC-8 tercatat pernah memperkuat Garuda Indonesia untuk melayani penerbangan ke Eropa dan Asia Timur.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia – Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Disarikan KabarPenumpang.com dari situs planespotters.net, disebutkan ada 11 unit DC-8 dalam berbagai seri yang dioperasikan Garuda Indonesia pada dekade 60 sampai 70-an. Unit pertama yang datang adalah Douglas DC-8 50 dengan nomer PK-GJD, pesawat yang tiba dengan logo Garuda Klasik ini diterima oleh Garuda Indonesia pada Juli 1966. Pesawat DC-8 pertama ini diberinama “Siliwangi.” Sedangkan unit terakhir yang diserahkan dilangsungkan pada tahun 1974.

Dirunut dari sejarah pembuatannya, DC-8 terbang perdana pada 30 Mei 1958. Sebagai maskapai pengguna pertamanya adalah United Airlines dan Delta Air Lines. Rentang produksi DC-8 berlangsung sejak 1958 sampai 1972, McDonnell Douglas Aircraft totalnya telah memproduksi 556 unit DC-8. Populasinya memah sangat jauh dibanding Boeing 707 yang berhasil diproduksi lebih dari seribu unit.

DC-8 PK-GJD Garuda Indonesia masih dengan logo klasik, tampak pesawat di Bandara Kai Tak, Hong Kong pada tahun 1967.

Penciptaan DC-8 terkait langsung dengan Boeing 707, Douglas terpacu untuk mengembangkan sebuah pesawat komersial bertenaga jet-nya sendiri karena takut kehilangan posisi pasar. Dimulai dengan sebuah Crash Program, Douglas berhasil menerbangkan DC-8 tiga tahun setelah program dimulai. Walau dari luar tampak sama dengan Boeing 707 dengan sebuah sayap terpasang-rendah tertekuk ke belakang dan empat mesin turbojet, DC-8 dilengkapi dengan inovasinya sendiri, termasuk fitur servisabilitas dan reliabilitas canggih. Model produksi awal semuanya mempunyai dimensi dan berat similar, tetapi berbeda dalam pemasangan mesin, membuat keuntungan untuk pengembangan secara cepat dalam teknik propulsi. Sebagai pesawat penumpang jarak jauh, DC-8 dapat menjelajah sejauh 3.445 km dengan kecepatan jelajah 967 km per jam.

DC-8 dan Soekarno
Meski saat itu Indonesia belum memiliki pesawat kepresidenan, tapi pada tahun 1959, Presiden RI Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet. Saat itu, pemerintah RI menyewa pesawat DC-8 dari maskapai Pan American World Airways (PanAm) AS. Kedatangan Soekarno dengan pesawat buatan AS ke Moskow, Rusia sempat menjadi permasalahan dan isu yang hangat, namun Soekarno tetap pada pendirian untuk terbang ke Uni Soviet dengan DC-8.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

DC-8 dan Kisah Pilu Jemaah Haji
Dalam catatan sejarah, ada dua musibah yang terkait DC-8 dan jemaah Haji Indonesia. Musibah pertama terjadi pada 4 Desember 1974, yakni pesawat MartinAir DC-8 yang disewa untuk jemaah haji Indonesia dari embarkasi Surabaya menuju Saudi Arabia. Pesawat buatan tahun 1968 milik Matin Air itu gagal mendarat di Bandara Badaranaike Kolombo dan jatuh di Maskeliya, Srilanka. Keperluan mendarat di Kolombo adalah untuk melakukan pengisian bahan bakar.

Dalam musibah penerbangan 138 tersebut, sebanyak 182 jamaah haji, tiga pramugari dan delapan awak pesawat dinyatakan tewas dan tidak bisa lagi dikenali. Sementara musibah kedua terjadi pada 15 November 1978, sebuah pesawat DC-8 milik Islandia yang disewa Garuda Indonesia untuk membawa jemaah haji asal Kalimantan Selatan dari Jeddah menuju Surabaya, gagal mendarat di Bandara Kolombo. Tragedi tersebut menewaskan 174 jamaah Haji, sedangkan 75 jamaah berhasil selamat. Sebuah keajaiban, ada 46 jamaah yang tak cedera sedikit pun.

Semenjak kedua musibah tersebut, Kolombo tak dijadikan lagi lokasi untuk transit pengisian bahan bakar, di era selanjutnya Garuda Indonesia mengadopsi pesawat jarak jauh dengan kemampuan jelakah lebih tinggi, seperti DC-10 dan Boeing 747-200.

Apakah Anda Melakukan Penerbangan Jarak Pendek atau Jarak Jauh? Ini Bedanya

Ketika Anda terbang dari Jakarta ke Ambon, mungkin bakal ada yang menanyakan, berapa lama Anda terbang? Pun begitu ketika Anda bepergian ke luar negeri, tak jarang ada yang menanyakan, apakah Anda ikut penerbangan jarak pendek atau jarak jauh?

5 Tips Agar Penumpang Pesawat Tidak Bosan dalam Penerbangan Jarak Jauh

Sejatinya tidak ada batasan pasti dalam hal jumlah jam yang menjadikan suatu penerbangan dianggap sebagai “penerbangan jarak jauh atau penerbangan pendek.” Pemahaman umum adalah bahwa penerbangan jarak jauh melibatkan perjalanan antara lokasi yang berjarak cukup jauh, melebihi jarak yang biasanya ditempuh dalam penerbangan kelas regional atau domestik. Namun, ada beberapa panduan umum yang dapat Anda gunakan sebagai acuan”

Penerbangan Jarak Pendek
Biasanya, penerbangan yang ditempuh dalam waktu kurang dari 3-4 jam dianggap sebagai penerbangan jarak pendek atau regional. Ini dapat mencakup penerbangan domestik dan beberapa penerbangan internasional di wilayah terdekat.

Penerbangan Jarak Menengah
Penerbangan dengan durasi sekitar 4 hingga 7 jam sering kali dianggap sebagai penerbangan jarak menengah. Ini mungkin mencakup penerbangan antarbenua atau beberapa penerbangan transatlantik.

Penerbangan Jarak Jauh
Penerbangan yang melebihi 7-8 jam dianggap sebagai penerbangan jarak jauh. Ini biasanya mencakup penerbangan antarbenua yang panjang atau penerbangan lintas samudra.

Ini Perbedaan Penerbangan Jarak Jauh dan Jarak Pendek dari Perspektif Pilot

Perlu diingat bahwa panduan ini bersifat umum, dan ada banyak faktor yang dapat memengaruhi klasifikasi suatu penerbangan, termasuk rute spesifik, jenis pesawat yang digunakan, dan peraturan maskapai. Beberapa penerbangan jarak menengah atau pendek, terutama yang menghubungkan wilayah dengan infrastruktur penerbangan terbatas, dapat dianggap sebagai penerbangan jarak jauh. Sebaliknya, beberapa penerbangan yang melewati wilayah besar dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat dan masih dianggap sebagai penerbangan jarak jauh.

Dipelopori Lufthansa, Layanan In-Flight WiFi Kini Telah Berusia 20 Tahun

Tidak terasa, layanan internet di kabin pesawat udara atau kondang disebut in-flight WiFi sudah mencapai usia dua dekade. Maskapai penerbangan yang pertama kali menyediakan layanan in-flight WiFi di pesawat adalah Lufthansa, maskapai penerbangan asal Jerman.

Baca juga: Parade WiFi in The Sky, Inilah Profil Layanan WiFi Maskapai dengan Beragam Karakternya

Lufthansa memulai penerbangan komersial dengan layanan Wi-Fi pada bulan Desember 2003 untuk rute Frankfurt (Jerman) – Washington-Dulles (Amerika Serikat). Pada awalnya, layanan ini hanya tersedia di kelas bisnis, dan kemudian diperluas untuk mencakup kelas ekonomi.

Lufthansa menggunakan teknologi berbasis satelit untuk menyediakan layanan WiFi di pesawat mereka. Saat itu, Lufthansa menggunakan pesawat Boeing 747-400 untuk menyediakan layanan WiFi pertamanya di pesawat. Boeing 747-400 adalah pesawat jumbo jet dengan jangkauan yang panjang, dan pada masa itu, pesawat ini menjadi salah satu dari jenis pesawat utama dalam armada Lufthansa.

Keberhasilan implementasi ini mendorong maskapai penerbangan lain untuk mengadopsi dan memperluas layanan WiFi di pesawat mereka, dan ini menjadi tren industri yang semakin umum seiring waktu.

Pada tahun 2010-an, layanan in-flight WiFi semakin umum dan mulai diperluas ke kelas ekonomi. Pesawat-pesawat yang sering dilibatkan termasuk pesawat jarak jauh atau penerbangan lintas benua. Seiring dengan pesawat baru yang dirancang dengan teknologi terbaru, banyak maskapai meningkatkan kemampuan Wi-Fi di pesawat mereka. Beberapa maskapai bahkan menggantikan atau meningkatkan sistem WiFi mereka untuk menawarkan kecepatan yang lebih tinggi dan koneksi yang lebih stabil.

Baca juga: Pertama di Dunia, Cina Bakal Hadirkan Teknologi 5G di Penerbangan! Seperti Apa?

Layanan in-flight WiFi umumnya menggunakan teknologi seperti satelit atau gelombang radio untuk menyediakan koneksi internet ke pesawat. Perusahaan penerbangan terus mengembangkan dan meningkatkan layanan ini untuk memenuhi kebutuhan penumpang yang semakin bergantung pada konektivitas internet selama penerbangan.

Sambut Nataru 2024, Promo Tarif Baru LRT Jabodebek Jadi Rp3 – 10 Ribu, Headway 7-15 Menit

Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan menerapkan tarif promo LRT Jabodebek jelang masa libur Hari Raya Natal 2023 dan Tahun Baru 2024. Tarif terdekatnya menjadi Rp3 ribu dan terjauhnya Rp10 ribu pada Senin-Jumat di luar jam sibuk (peak hour) termasuk di weekend sampai libur nasional dan Rp20 ribu setiap hari Senin-Jumat di jam sibuk.

Baca juga: Berkurang Lagi, Kereta LRT Jabodebek yang Beroperasi Tinggal 8 Trainset

Tarif promo ini dikeluarkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor: KP-DJKA 266 Tahun 2023 tentang Perubahan Ketiga Atas Keputusan Direktur Jenderal Perkeretaapian Nomor KP-DJKA 147 Tahun 2023 tentang Tarif Promo Angkutan Orang dengan Kereta Api Ringan Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik yang ditandatangani pada Kamis (30/11).

Direktur Jenderal Perkeretaapian, Risal Wasal menjelaskan bahwa promo tarif ini diberikan untuk mendorong masyarakat agar dapat memanfaatkan LRT Jabodebek dalam bepergian selama masa libur akhir tahun ini. “Mobilitas masyarakat pada masa libur kali ini diprediksi cukup tinggi sehingga kami berharap LRT Jabodebek ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengurangi kemacetan di jalan,” jelasnya.

Dengan adanya pemberlakuan tarif promo baru ini, maka masyarakat dapat menggunakan LRT Jabodebek dengan skema tarif sebagai berikut.

No Skema Tarif Periode Waktu Besaran Tarif
Tarif Kilometer Maksimal
1. Hari Kerja Senin s.d. Jum’at

Pada Jam Sibuk

(Peak Hour)

06.00 s.d 08.59 WIB

16.00 s.d 18.59 WIB

Rp 3.000,-

(1 km pertama) + Rp 700,- (tiap km selanjutnya)

Rp 20.000,-
2. Hari Kerja Senin s.d. Jum’at

di luar Jam Sibuk

(Off Peak Hour)

Awal jam operasi s.d 05.59

09.00 s.d 15.59 WIB

19.00 s.d akhir jam operasi

Rp 10.000,-
3. Hari Sabtu, Minggu, dan Libur Nasional Rp 10.000,-

Skema tarif promo ini akan diberlakukan mulai Jum’at, 1 Desember 2023. Selain memberlakukan tarif promo baru, Risal menyebutkan bahwa DJKA juga akan menambah rangkaian kereta LRT Jabodebek yang beroperasi menjadi 16 rangkaian dan 200 perjalanan dari sebelumnya 12 rangkaian dan 160 perjanalan per 1 Desember 2023 dan secara bertahap akan dilakukan penambahan hingga keseluruhan rangkaian (27 rangkaian) dioperasikan secara penuh.

Baca juga: Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek

“Penambahan rangkaian ini dimaksudkan agar waktu tunggu (headway) dapat dipersingkat menjadi 7-15 menit sekaligus untuk mengantisipasi lonjakan penumpang selama musim libur ini,” sambungnya.

Risal berharap dengan diberlakukan tarif baru dan penambahan jumlah rangkaian ini, LRT Jabodebek dapat dijadikan moda transportasi andalan masyarakat selama berlibur, maupun untuk melakukan kegiatan sehari-hari. “Kami pastikan LRT Jabodebek siap melayani masyarakat dengan prima sehingga masyarakat dapat beralih menggunakan moda transportasi ini,” tutupnya.