Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Charles de Gaulle, Dirancang oleh Arsitek yang Sama

Siapa yang tak kenal dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta? Bandara yang sering disebut bandara Cengkareng karena letaknya di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat ini dibuka secara resmi pada 1 Januari 1984 silam.

Baca juga: Keberadaan Runway 3 Bandara Soetta Disebut Tak Berfungsi Optimal, Ini Sebabnya!

Dirangkum KabaraPenumpang.com dari berbagai laman sumber, kehadiran dari Bandara Soetta menggantikan Bandar Udara Kemayoran yang kini tak lagi beroperasi. Bandara ini sendiri mulai beroperasi komersial sejak 1 Mei 1985 dan saat itu hanya memiliki dua terminal yakni Terminal 1 dan Terminal 2.

Terminal 1 melayani semua penerbangan domestik kecuali Garuda Indonesia dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional kecuali Garuda Indonesia. Saat itu Bandara Soetta memiliki luas 18 km persegi dan memiliki dua landasan paralel yang dipisahkan dua taxiway sepanjang 2,4 km.

Terminal 1 adalah terminal pertama yang dibangun, selesai pada tahun 1985 yang terletak di sisi selatan bandara, di seberang Terminal 2. Terminal 1 memiliki 3 sub-terminal, masing-masing dilengkapi dengan 25 loket check in, lima loket bagasi dan tujuh Gerbang.

Terminal ini memiliki kapasitas untuk menangani sembilan juta penumpang per tahun. Setiap bangunan terminal dibagi menjadi 3 concourse yakni Terminal 1A, 1B, dan 1C. Di mana kebanyakan digunakan untuk penerbangan domestik oleh maskapai lokal.

Sedangkan Terminal 2D dan 2E digunakan untuk melayani semua penerbangan internasional kecuali Garuda Indonesia. Terminal 2D untuk semua maskapai asing yang dilayani oleh PT Jasa Angkasa Semesta, salah satu kru darat bandara. Terminal 2E dan 2F untuk penerbangan internasional untuk maskapai lokal.

Kemudian Terminal 3 selesai dibangun pada tanggal 15 April 2009 dan diawal operasinya, Terminal 3 sementara digunakan maskapai berbiaya hemat dan kini semua penerbangan internasional, Citilink dan Garuda Indonesia beroperasi di terminal ini. Bandara Soetta ternyata dirancang oleh arsitek Perancis Paul Andreu, yang juga merancang Bandara Charles de Gaulle di Paris, Perancis.

Salah satu karakteristik besar bandara ini adalah gaya arsitektur lokalnya, dan kebun tropis di antara lounge tempat tunggu. Bandara Soetta hadir setelah Bandar Udara Kemayoran ditujukan untuk penerbangan domestik dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia yakni Bandara Halim Perdanakusuma.

Baca juga: KA Bandara Soetta Tawarkan Layanan City Check-In dan Baggage Handling Gratis!

Pada awal 1970-an, dengan bantuan USAID, delapan lokasi potensial dianalisis untuk bandar udara internasional baru, yaitu Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, Tangerang Selatan dan Tangerang Utara. Akhirnya, Tangerang Utara dipilih dan ditandai juga Jonggol dapat digunakan sebagai bandara alternatif.

Airbus Lifecycle Services Center Beroperasi di Chengdu, Tawarkan One Stop Shop untuk Perbaikan Pesawat

Chengdu sebagai kota dirgantara di Cina, mendapatkan fasilitas baru berupa pembukaan Airbus Lifecycle Services Center (ALSC) pada 24 Januari 2024. ALSC menawarkan solusi untuk mengelola seluruh siklus hidup sebuah pesawat.

Baca juga: Ini Perbedaan Sertifikasi Tipe Pesawat oleh FAA, EASA, dan TC, Mana Lebih Rumit?

ALSC adalah yang pertama dari jenisnya yang mencakup, sebagai one-stop shop, berbagai kegiatan mulai dari parkir dan penyimpanan pesawat hingga pemeliharaan, peningkatan, konversi, pembongkaran dan layanan daur ulang untuk berbagai jenis pesawat, serta distribusi terkendali. bagian bekas dari pembongkaran.

Airbus Lifecycle Services Center di Chengdu telah disertifikasi oleh Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (EASA) dan Administrasi Penerbangan Sipil Tiongkok (CAAC).

Airbus Lifecycle Services Center mencakup area seluas 717.000 meter persegi dan memiliki kapasitas penyimpanan 125 pesawat. Fasilitas ini akan meningkatkan operasinya secara bertahap mulai saat ini hingga tahun 2025, dan secara langsung mempekerjakan hingga 150 karyawan.

Airbus Lifecycle Services Center menyatukan perusahaan patungan antara Airbus, Tarmac Aerosave dan kota Chengdu, bersama dengan perusahaan Airbus Satair. Tarmac Aerosave menghadirkan keahliannya yang telah terbukti selama lebih dari 15 tahun dalam penyimpanan, pembongkaran, dan daur ulang pesawat yang efisien ke dalam proyek ini.

Tandingi Airbus, Boeing Akan Resmikan Pabrik Finishing 737 di Cina

Terletak di pusat yang sama, perusahaan Airbus Satair akan mengakuisisi pesawat tua dan memperdagangkan serta mendistribusikan suku cadang bekas untuk menyelesaikan seluruh cakupan layanan siklus hidup, 75 persen pesawat yang disimpan di ALSC diharapkan dapat terbang kembali setelah disimpan dan ditingkatkan oleh perusahaan patungan. Pesawat yang tersisa akan dibongkar dengan proses Tarmac Aerosave yang unik, sehingga memulihkan sekitar 90 persen berat pesawat.

Hari ini, 43 Tahun Lalu, Tragedi KM Tampomas II Tewaskan Ratusan Penumpang dengan Persoalan Manifes

Hari ini, 43 tahun lalu yang bertepatan dengan 25 Januari 1981, dikenang sebagai momen kelam dalam sejarah jasa pelayaran di Indonesia. Perairan Masalembo menjadi saksi terbakarnya KM Tampomas II yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju ke Makassar. Akibat dari tragedi tersebut, 143 orang tewas termasuk sang nakhoda beserta 288 orang yang hilang tenggelam bersama kapal.

Baca juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Meski begitu ,753 orang lainnya berhasil selamat dari tragedi yang memilukan itu. Saat itu ada 1.055 penumpang yang terdaftar dalam manifes, 82 awak kapal, 191 mobil dan 200 motor yang diangkut ole KM Tampomas II. Jumlah ini belum termasuk dengan penumpang gelap yang ikut dalam pelayaran. Estimasi total penumpang KM Tampomas II adalah 1.442 orang, termasuk penumpang gelap yang ditaksir berjumlah 300 orang.

Dari lintasan kejadian, pada waktu perjalanan hingga 24 Januari malam, tidak terjadi apa pun meski kondisi salah satu mesin kapal rusak. Namun, gelombang pada bulan Januari rupanya cukup besar, yakni 1-10 meter bila dibandingkan bulan lainnya dengan kecepatan 15 knots dan sangat wajar terjadi.

Nahas, pada 25 Januari malam pukul 20.00 WITA, kondisi laut tengah terjadi badai yang lebat dan mengakibatkan masalah pada mesin yang berujung pada kebocoran bahan bakar serta puntung rokok dari ventilasi yang memicu percikan api.

Buntut dari tragedi Tampomas II adalah masalah pada manifes kapal, khususnya terkait adanya penumpang gelap. Pada zaman itu, manifes penumpang tidak menjadi prioritas dan cenderung diabaikan oleh penyedia jasa, termasuk regulator. Padahal manifes sejatinya adalah hak pengguna jasa, persisnya adalah hak pengguna jasa atas identitas dirinya agar terdaftar dalam suatu moda transportasi.

Berlaku di semua moda, manifes penting untuk untuk urusan keselamatan, proses identifikasi korban akan lebih mudah dan cepat dengan adanya manifes penumpang. Dan yang tak kalah penting, data manifes menjadi pegangan bagi pihak asuransi untuk bisa melakukan pembayaran santunan kepada keluar korban.

Mengingat betapa pentingnya manifes, saat ini Pemerintah lewat Kementerian Perhubungan sudah aware dengan persoalan manifes. Bila ditelaah, sudah ada Peraturan Menteri Nomor 25/26 Tahun 2016 yang mengatur mengenai jumlah penumpang dan kendaraan angkutan penyeberangan.

Yang jadi kewajiban operator atau pengelola pelabuhan yakni menciptakan formulir jumlah manifes bersama format yang sudah ditentukan. Lebih detail lagi, operator kapal kemudian menciptakan rekapitulasi daftar penumpang berdasarkan sobekan kupon dari penumpang pejalan kaki dan formulir penumpang yang diisi oleh pengemudi kendaraan baik pribadi ataupun angkutan umum.

Baca juga: Masalah Manifes, Bukti Carut Marutnya Layanan Pelayaran di Tanah Air

Setelah penumpang naik ke kapal, operator kapal wajib menghitung kembali jumlah penumpang untuk menyesuaikannya bersama jumlah penumpang yang ada. Seterusnya, pembuatan rekapitulasi jumlah manifes jadi tanggung jawab nahkoda kapal. Rekapitulasi tersebut pada akhirnya merupakan dasar untuk mengajukana Surat Persetujuan Berlayar pada Syahbandar.

Bukan dengan Udara Biasa, Ban Pesawat Ternyata Harus Diisi Nitrogen

Tak sedikit warganet yang bertanya, ban pesawat biasanya diisi dengan apa? Nah jawabannya ban pesawat biasanya diisi dengan nitrogen daripada udara biasa karena nitrogen memiliki beberapa keunggulan tertentu yang membuatnya lebih cocok untuk aplikasi penerbangan.

Baca juga: Mengapa Ban Pesawat Sekarang Lebih Kecil Dibanding Ban Pesawat Lawas?

Pemanfaatan nitrogen disebabkan oleh sifatnya yang inert. Dengan kata lain, memerlukan energi untuk dapat bereaksi dengan zat lain. Selain itu, nitrogen menunjukkan ekspansi atau kontraksi yang lebih sedikit dibandingkan dengan udara biasa ketika mengalami variasi suhu dan tekanan yang ekstrim. Karakteristik penting ini berperan penting dalam melindungi ban dari ledakan atau kerusakan selama penerbangan.

Berikut beberapa alasan utama penggunaan nitrogen dalam ban pesawat adalah:

1. Ketahanan terhadap Perubahan Suhu
Nitrogen memiliki sifat yang lebih stabil daripada udara biasa. Hal ini berarti bahwa tekanan nitrogen dalam ban pesawat cenderung lebih konsisten meskipun terjadi perubahan suhu yang signifikan, seperti pada saat penerbangan yang melibatkan perubahan ketinggian dan suhu ekstrem.

2. Mengurangi Korosi
Nitrogen cenderung kurang mengandung uap air dan oksigen dibandingkan dengan udara biasa. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko korosi pada komponen internal ban dan velg pesawat, yang penting untuk menjaga integritas struktural.

3. Mengurangi Risiko Pembekuan
Nitrogen memiliki titik beku yang lebih rendah daripada udara biasa. Dengan menggunakan nitrogen, risiko pembekuan di dalam ban dapat dikurangi, terutama pada penerbangan di ketinggian tinggi dengan suhu ekstrem.

4. Mengurangi Risiko Ledakan
Nitrogen dianggap lebih aman dalam menghindari potensi ledakan dibandingkan dengan udara biasa, terutama karena nitrogen tidak mudah terbakar. Ini menjadi pertimbangan penting dalam keamanan penerbangan.

5. Stabilitas Tekanan
Karena nitrogen memiliki ukuran molekul yang lebih besar daripada oksigen dan molekul-molekul lain dalam udara biasa, tekanan ban cenderung lebih stabil seiring waktu. Ini membantu menjaga keseimbangan dan kestabilan pesawat selama penerbangan.

Kapan Ban Pesawat Diganti? Ini Jawabannya

Meskipun ada manfaat tersebut, perlu dicatat bahwa dalam banyak kasus, ban pesawat juga dapat diisi dengan udara biasa, terutama dalam kondisi darurat atau ketika fasilitas pengisian nitrogen tidak tersedia. Kendati demikian, penggunaan nitrogen tetap dianggap sebagai praktik yang umum dalam industri penerbangan untuk meningkatkan keamanan dan kinerja pesawat.

Penasaran Berapa Pendapatan Awak Kabin? Hitung Pakai “Indirect Cost” Yuk!

Menjadi awak kabin adalah pekerjaan yang banyak diidamkan oleh orang-orang di luaran sana. Selain karena mewajibkan memiliki penampilan yang sedap dipandang, soft skill serta tata krama dalam menghadapi penumpang juga patut dikuasai – terlepas dari pendapatan mereka yang ‘katanya’ berada di atas pegawai kantoran level basic.

Baca Juga: Lebih ke Seputar Armada, Inilah “Fleet Cost” di Sektor Penerbangan Komersial

Nah, menyinggung soal pendapatan dari seorang awak kabin, ternyata ini masuk ke dalam Indirect Cost yang harus dibayarkan oleh pihak maskapai. Seperti yang sudah disebutkan di artikel sebelumnya, Indirect Cost menjadi salah satu komponen pembentuk biaya pengoperasian penerbangan yang memegang presentase paling rendah, yaitu 3,64 persen. Jika dibandingkan dengan cost-cost lain, Indirect Cost ini lebih menitik-beratkan kepada service dari SDM di dalam sebuah penerbangan serta maintenance dari armada terkait.

Nah, bagi Anda yang masih penasaran dengan, “berapa sih gaji pokok seorang awak kabin?” atau “berapa sih gaji pokok seorang pilot?”, berikut  KabarPenumpang.com masih mengutip dari data rataan tahun 2017 salah satu maskapai kenamaan di Tanah Air yang didapatkan dari sumber terpercaya, akan mengulas soal rincian komponen yang ada di Indirect Cost.

Cockpit Crew Person: 2,56 persen
Cabin Crew Person: 0,86 persen
Aircraft Maintenance: 0,22 persen

Ya, Indirect Cost memang hanya terdiri dari tiga komponen saja – namun ini membawa dampak yang sangat besar pada implementasi pengoperasian sebuah rute penerbangan. Dari besaran presentase ini juga, dapat terlihat berapa besaran gaji pokok dari awak kabin dan awak kokpit.

Jika total cost dari maskapai tersebut berada di angka US$3,1 miliar, maka besaran Indirect Cost yang harus dibayarkan oleh pihak perusahaan adalah US$111,5 juta.

Baca Juga: Menilik Lebih Jauh “Direct Cost,” Komponen Pembentuk Biaya Operasi dalam Penerbangan

Memang, di dalam ketiga presentase tersebut masih ada penjabaran lebih detail lagi, seperti komponen pembangun dari presentasenya – mengingat apa yang diterima oleh para penerbang tidaklah melulu salary (gaji), masih ada keuntungan lain yang di dapat ketika mereka mengudara (tercantum di Direct Cost)

Jadi, semisal di maskapai tersebut mengoperasikan 100 awak kabin, berapa pendapatan dari masing-masing awak kabinnya? Anda hitung sendiri, ya!

Oneworld Alliance Luncurkan Premium Lounge Pertama di Terminal 1 Bandara Incheon

Oneworld, aliansi yang terdiri dari 13 maskapai internasional untuk pertama kalinya membuka lounge di Bandara Incheon Seoul, Korea Selatan. Saat ini, penumpang yang bepergian dengan maskapai penerbangan yang tergabung dalam aliansi Oneworld dari Bandara Internasional Incheon (ICN) Seoul memiliki ruang baru yang apik untuk bersantai sebelum keberangkatan.

Baca juga: Keluar dari SkyTeam, China Southern Airlines Selangkah Gabung Aliansi Maskapai Oneworld

Lounge milik Oneworld alliance ini terletak di Terminal 1, lounge eksklusif dengan brand Oneworld menawarkan tata letak yang luas dan penuh gaya yang dikembangkan bersama Swissport dan tim Aspire Lounge.

Lounge Oneworld awalnya diumumkan untuk Bandara Domodedovo (DME) di Moskow pada tahun 2019, yakni hub dari S7 Airlines yang sekarang keanggotannya ditangguhkan, karena sanksi yang sedang berlangsung terhadap Rusia. Hal tersebut membuat Oneworld mencari lokasi alternatif untuk ruang tunggu pertama di seluruh aliansi.

Pada bulan September, rumor mulai beredar bahwa Seoul dipilih untuk mengisi kekosongan tersebut, kemungkinan besar karena cakupan bandara oleh lebih dari separuh maskapai penerbangan aliansi Oneworld. American Airlines, Finnair, Cathay Pacific Airways, Malaysia Airlines, Qantas, Qatar Airways, dan SriLankan Airlines terhubung ke Seoul lebih dari 60 kali per minggu selama musim puncak.

Lounge baru ini terletak dekat dengan gerbang keberangkatan Oneworld, memberikan akses nyaman bagi penumpang premium, dan menawarkan ruang untuk hingga 148 pelanggan di ruang seluas 555 meter persegi. Fitur-fiturnya termasuk pencahayaan sesuai suasana hati, desain interior yang dipengaruhi budaya Korea, dan perpaduan zona tempat duduk untuk mengakomodasi kebutuhan penumpang.

Terbuka untuk anggota Emerald dan Sapphire serta penumpang kelas bisnis dan kelas satu pada penerbangan Oneworld, lounge ini dapat diakses dari Senin hingga Sabtu antara pukul 04:30 dan 23:45, dengan jam buka lebih lambat pukul 07:30 pada hari Minggu.

Delapan maskapai penerbangan anggota Oneworld saat ini menawarkan penerbangan dari Seoul; Cathay Pacific sejauh ini merupakan operator grup paling produktif di bandara ini, menawarkan lebih dari tiga keberangkatan setiap hari antara Seoul dan Bandara Internasional Hong Kong (HKG). Penerbangan harian disediakan oleh American Airlines ke Bandara Internasional Dallas-Fort Worth (DFW), Finnair ke Bandara Helsinki (HEL), Malaysia Airlines ke Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL), dan Qatar Airways ke Bandara Internasional Doha Hamad (DOH).

Yuk Kenali AREX – Kereta Ekspress yang Hubungkan Bandara Incheon dan Kota Seoul

British Airways sebelumnya menawarkan layanan langsung ke Seoul dari Bandara Heathrow London (LHR) hingga tahun 2020, dengan penerbangan dibatalkan karena pembatasan yang disebabkan oleh pandemi. Karena lambatnya pertumbuhan di segmen perjalanan bisnis, operator tampaknya tidak memiliki rencana untuk mengaktifkan kembali koneksinya sebelum tahun 2025, menurut The Telegraph.

OjO, Skuter Listrik Hasil Kolaborasi Austin Commuter Scooter

Perkembangan jaman yang semakin ‘menjadi’ dewasa ini secara tidak langsung akan berimbas pada perubahan gaya hidup para pelakunya. Sebut saja yang kini tengah marak diperbincangkan oleh banyak orang dan sudah mulai diimplementasikan ke dunia nyata adalah moda bertenaga listrik. Mulai dari bus, mobil pribadi, hingga skuter kini sudah tersedia kloningannya yang versi tenaga listrik. Nah, tidak mau ketinggalan euforia, Austin Commuter Scooter dan OjO meluncurkan skuter listrik yang diklaim berbeda dengan kebanyakan skuter listrik lain.

Baca Juga: Skuter Listrik Ini Bisa Dikendarai Sambil Duduk dan Berdiri Lho!

Skuter listrik dari OjO ini sedikit berbeda ketimbang layanan ride-sharing Lime dan Bird – yang sama-sama menggunakan skuter elektrik sebagai armadanya. Tidak terlepas dari peran aplikasi, para pengguna Lime dan Bird cukup memasukan destinasi tujuan dan skuter listrik ini akan mengantarkan Anda ke tujuan. Dengan cara seperti ini, maka masalah polusi dan kemacetan di sebuah wilayah dapat dientaskan secara perlahan.

Ternyata, perbedaan antara tiga skuter listrik ini hanya terletak pada desainnya saja, dimana skuter listrik OjO memiliki bentuk seperti sepeda motor Vespa – hanya saja OjO cuma dibekali dengan single seat. Penggunaan single seat di sini menandakan pengguna memiliki varian dalam mengemudikannya, bisa dengan cara duduk atau berdiri. Belum lagi ketersediaan dari keranjang pada bagian belakang yang akan memudahkan para pengguna untuk menyimpan barang bawaannya tanpa harus bersusah payah menggendongnya.

Penggunaan baterai Li-On 48Volt memungkinkan skuter listrik OjO ini menjangkau jarak sekira 50mil atau yang setara dengan 80km dalam sekali pengisian baterai. Sementara untuk penggunaan motor hub HyperGear membuat skuter listrik ini mampu menembus kecepatan maksimal di angka 32km/jam. Kelengkapan lain yang ada di skuter listrik ini adalah lampu LED, rem cakram, ban segala cuaca, hingga shock yang empuk.

Baca Juga: Strator Ride, Otoped Listrik Beroda Besar Siap Masuki Moda Alternatif Perkotaan

Kami sangat senang membantu membawa skuter inovatif OjO ke pasar dan menyediakan skuter yang dapat dikendarai oleh setiap orang,” tutur Elliott McFadden dari Bike Share of Austin, salah satu bagian dari Austin Commuter Scooter.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan dari skuter listrik OjO ini, yaitu fitur pengeras suara yang terintegrasi, dimana ini memungkinkan pengendara mendapatkan navigasi yang sesuai, peringatan seputar lalu lintas, hingga informasi perjalanan lainnya.

 

Kemana Pilot Kalau Tidak Ada Jadwal Terbang?

Pilot, seperti profesi lainnya, bekerja sesuai jadwal yang telah diatur dengan ketat. Mereka harus memenuhi kualifikasi jam terbang dalam memastikan keahlian dan kesiapan mereka. Ketika tidak sedang menjalankan tugas terbang, pilot dapat berada dalam berbagai kegiatan lainnya, seperti libur (day off), menjalani pengecekan kesehatan rutin (medical check-up), berada dalam posisi stand by untuk menggantikan pilot lainnya, atau yang tak kalah pentingnya menjalani pelatihan di simulator.

Baca juga: pakah Pilot Simulator Pesawat Boleh Melakukan Manuver Berbahaya?

Seperti pilot dalam armada Lion Group harus mengikuti pelatihan di simulator secara terjadwal, guna memenuhi kualifikasi jam terbang dan meningkatkan keterampilan. Pelatihan di simulator memberikan kesempatan bagi pilot berlatih mengemudikan pesawat, berkomunikasi dengan petugas lalu lintas udara dan prosedur yang sulit atau darurat.

Pelatihan di simulator menjadi aspek krusial dalam persiapan untuk menjadi seorang pilot yang tangguh (“resilent”). Simulator dapat meniru kondisi penerbangan yang nyata, termasuk cuaca, situasi darurat dan kondisi lainnya.

Mengapa pelatihan di simulator begitu penting?
Pelatihan di simulator sangat penting untuk menjaga kesiapan dan kecakapan seorang pilot. Simulator memberikan pengalaman yang mendekati situasi dunia nyata dan memungkinkan pilot untuk menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi di udara. Ini termasuk mengatasi masalah teknis, menghadapi cuaca ekstrem, dan melatih respons dalam keadaan darurat. Pelatihan di simulator memungkinkan pilot untuk mengasah keterampilan mereka tanpa risiko nyata bagi keselamatan penerbangan.

Tujuan utama dari pelatihan di simulator adalah meningkatkan keahlian teknis, non-teknis dan pemahaman situasional pilot. Mereka mempraktikkan manuver, prosedur, dan respons yang diperlukan dalam lingkungan yang aman dan terkontrol. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterampilan individual pilot, tetapi juga memastikan bahwa mereka siap menghadapi setiap tantangan yang mungkin terjadi dalam penerbangan komersial.

Berapa lama mengikuti training simulator?
Standar pelatihan di simulator dapat bervariasi tergantung pada jenis pesawat, kemampuan teknis dan non-teknis pilot tersebut dan jenis pelatihan yang dilakukan. Umumnya, pelatihan di simulator untuk seorang pilot bisa mencakup beberapa sesi dengan durasi yang bervariasi.

Jika seorang pilot baru akan terbang menggunakan jenis pesawat tertentu, akan mengikuti program “Type Rating.” Pelatihan ini biasanya melibatkan waktu yang signifikan di simulator, bisa mencapai puluhan jam, tergantung pada standar pelatihan pesawatnya dan kemampuan pilotnya.

Pelatihan Pemeliharaan Keterampilan (Recurrent Training). Pilot yang sudah beroperasi dengan jenis pesawat tertentu wajib mengikuti pelatihan berkala untuk memelihara keterampilan mereka. Pelatihan ini biasanya lebih singkat, dengan waktu di simulator yang lebih pendek, namun cukup untuk memperbarui dan mengasah kembali keterampilan.

Apa Itu Simulator Level D? Berikut Penjelasannya

Pelatihan Khusus dan Skenario Darurat, bertujuan memastikan bahwa pilot dapat mengatasi situasi yang jarang terjadi dengan tepat sesuai dengan manual standar operasional prosedur.

Sesi Pengembangan Keterampilan Pribadi (Personal Skill Development). Beberapa karakter pilot memilih melakukan sesi tambahan di simulator untuk pengembangan keterampilan pribadi atau latihan spesifik yang mereka rasa perlu ditingkatkan.

Catat! Ini Informasi Penting Proses Pengajuan Visa ke Uni Emirat Arab

Dubai di Uni Emirat Arab berhasil meraih peringkat pertama di Tripadvisor Travellers’ Choice Best of the Best Destinations Awards selama tiga tahun berturut-turut, dan mencetak sejarah sebagai kota pertama yang meraih pencapaian luar biasa ini. Penghargaan ini diperoleh secara eksklusif berdasarkan ulasan jutaan orang dalam komunitas Tripadvisor.

Baca juga: Dubai Jadi Kota Nomer Satu Paling Diminati, Jakarta Nomer Berapa?

Pencapaian ini bisa jadi pertanda untuk menjadikan Dubai sebagai destinasi liburan Anda berikutnya! Jika Anda berencana untuk menjelajahi kota yang indah ini, berikut panduan untuk pengajuan visa sebelum perjalanan Anda ke Dubai.

Informasi tentang Visa
Setelah mengamankan tiket pesawat, biasanya Anda akan langsung bergegas memilih hotel. Jangan lupakan langkah penting, yaitu mendapatkan visa. Ada berbagai pilihan visa tergantung dengan kebutuhan. Namun, secara umum, visa turis sekali masuk sudah cukup untuk Anda yang ingin berkunjung untuk berlibur.

Berikut adalah persyaratan utama untuk memudahkan proses pengajuan visa:
1. Paspor yang masih berlaku, pastikan paspor Anda masih berlaku setidaknya enam bulan sebelum kedatangan Anda di Dubai.

2. Tiket Perjalanan, tiket perjalanan yang menunjukkan perjalanan pergi dan pulang ke tempat tinggal pemegangnya saat ini.

3. Untuk visa transit, pastikan Anda tidak melebihi jangka waktu visa Anda

4. Menyertakan foto pribadi terbaru (foto visa dengan latar belakang putih berukuran 43mm x 55mm)

5. Asuransi kesehatan yang masih berlaku

5. Unggah salinan paspor Anda

Anda juga dapat menikmati kemudahan mengurus visa dengan bantuan layanan dari berbagai maskapai penerbangan, termasuk Emirates. Saat mengajukan visa UEA, Anda tidak perlu khawatir paspor Anda akan ditahan, karena negara ini menggunakan sistem e-visa. Sehingga Anda dapat bepergian sambil menunggu visa Anda disetujui.

Untuk sebagian besar perjalanan, Anda cukup mendaftar dengan visa sekali masuk yang berlaku selama 30 hari dengan biaya 300 AED atau sekitar Rp1,277,000. Namun, jika Anda berencana singgah dalam waktu yang lebih singkat, pertimbangkan untuk memilih visa transit 96 jam, dengan harga 50 AED atau sekitar Rp213,000.

Baca juga: Bandara Internasional Dubai Buka Tur Keliling Kota, Pemerintah Siapkan Visa Transit

Jika Anda memilih visa transit, jangan lupa sertakan bukti perjalanan lanjutan, termasuk tiket yang menunjukkan kedatangan dari negara lain dan keberangkatan ke tujuan yang berbeda. Visa ini dapat Anda pertimbangkan jika waktu singgah lebih dari 8 jam.

Ini Sebab, Kenapa Pramugari dan Pramugara Harus Bisa Berenang?

Tak sedikit anak muda pasti punya cita-cita menjadi pramugari atau pramugara, profesi yang menyenangkan dan menarik karena bisa menjelajahi tempat baru. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa profesi ini menuntut keterampilan khusus, salah satunya ialah berenang.

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Berenang merupakan bagian pelatihan yang diberikan oleh Lion Group Training Center (LGTC) kepada calon pramugari dan pramugara. LGTC adalah pusat pelatihan yang berada di bawah naungan Lion Group, dilengkapi dengan fasilitas belajar berstandar internasional, pengajar profesional dan lingkungan yang nyaman, aman dan terjamin.

Mengapa berenang menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki pramugari dan pramugara?

· Dalam situasi darurat yang mengharuskan pesawat mendarat di air, pramugari dan pramugara harus bisa berenang untuk proses evakuasi. Mereka harus menguasai teknik bertahan hidup di air, seperti menggunakan pelampung, keluar dari pesawat, menyelamatkan penumpang, menggunakan perahu karet dan lainnya.

· Pramugari dan pramugara harus memiliki tubuh yang sehat dan bugar untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka di udara. Berenang adalah salah satu olahraga yang baik untuk melatih otot, paru-paru, jantung, dan sistem kekebalan tubuh. Berenang juga bisa mengurangi stres dan meningkatkan mood.

Pelatihan berenang yang komprehensif dan berkualitas kepada calon pramugari dan pramugara adalah sesuatu yang mutlak. Pelatihan ini meliputi teori dan praktek berenang. Pelatihan ini juga dilakukan dengan mengikuti protokol kesehatan dan keselamatan yang ketat. Di penerbangan, keterampilan berenang disebut Wet drill berarti latihan bertahan hidup di air yang diberikan kepada pramugari dan pramugara, sebagai salah satu syarat untuk menjadi awak kabin. Wet drill meliputi teori dan praktek berenang, menggunakan pelampung, keluar dari pesawat, menyelamatkan penumpang, dan menggunakan alat pemancar sinyal darurat.

LGTC memiliki fasilitas untuk wet drill seperti kolam renang berukuran besar serta peralatan pendukung untuk melakukan pelatihan penyelamatan di air seperti life raft, survival kit dan lifevest.

Mau Jadi Awak Kabin Emirates? Inilah 4 Standar Pelatihan yang Harus Dilalui

Sebelum praktek wett drill lakukan para instruktur akan memberikan materi di ruang kelas, memperlihatkan perlengkapan/ survival kit yang terdapat di life raft, posisi penyelamatan di air, dan cara cara bertahan hidup diair. Ruangan ganti dan bilas pun tersedia untuk kenyaman para peserta training. LGTC menjamin bahwa pelatihan wet drill yang diberikan kepada calon pramugari dan pramugara sebagai pelatihan berkualitas sesuai standar internasional.