Inilah Fungsi Threshold, Zebra Cross di Ujung Landas Pacu

Dari sekian banyak tanda pada runway (landas pacu), terdapat tanda yang mirip dengan zebra cross di jalan raya. Tentu saja zebra cross di runway tidak ada untuk memfasilitasi jalur penyeberan orang. Tanda mirip zebra cross pada runway disebut threshold.

Baca juga: Ada 15 Makna Lampu Warna-warni di Runway Bandara, Sudah Tahu?

Fungsi threshold alias zebra cross pada runway yaitu memberikan petunjuk visual kepada pilot pesawat terbang. Nah, selengkapnya, ada beberapa fungsi tanda threshold pada runway:

Batas Akhir Landasan Pacu
Tanda threshold menandai batas akhir landasan pacu. Ini memberikan petunjuk jelas kepada pilot tentang di mana landasan pacu berakhir, membantu dalam proses lepas landas dan pendaratan.

Petunjuk untuk Pilot
Tanda threshold memberikan petunjuk visual kepada pilot untuk membantu mereka mengidentifikasi posisi yang tepat pada landasan pacu, terutama ketika melakukan prosedur lepas landas atau pendaratan. Hal ini membantu pilot memastikan bahwa pesawat berada pada posisi yang aman dan sesuai dengan prosedur operasi.

Referensi Visual untuk Pendekatan
Selama fase pendaratan, pilot dapat menggunakan tanda threshold sebagai referensi visual untuk mengevaluasi ketinggian pesawat dan memastikan bahwa pendaratan dilakukan pada titik yang diinginkan pada landasan pacu.

Keamanan Operasional
Tanda threshold juga berkontribusi pada keamanan operasional. Dengan memberikan petunjuk yang jelas tentang lokasi akhir landasan pacu, tanda ini membantu mencegah pesawat dari melebihi batas landasan pacu yang seharusnya.

Penyesuaian Penerbangan
Pilot dapat menggunakan tanda threshold sebagai referensi visual untuk menyesuaikan penerbangan mereka selama fase lepas landas atau pendaratan. Ini membantu mereka memantau dan mengelola penerbangan pesawat dengan lebih akurat.

Disebut Bisa Bikin Pesawat Tergelincir di Runway, Apa Itu Hydroplaning?

Tanda threshold biasanya memiliki pola warna kontras yang menonjol dengan warna putih atau kuning yang umum digunakan. Selain itu, seringkali terdapat lampu pendaratan yang terpasang di sekitar tanda threshold untuk memberikan petunjuk visual tambahan, terutama selama kondisi cahaya rendah atau malam hari.

Secara umum, tanda threshold pada runway adalah elemen penting dalam infrastruktur bandara untuk memastikan operasi pesawat terbang berjalan dengan aman dan sesuai prosedur.

Kala Kolaborasi Boeing 707 dan American Airlines Ubah Peta Penerbangan AS 62 Tahun Silam

Pada hari ini, 65 tahun lalu, bertepatan dengan Kamis, 29 Januari 1959, perlahan tapi pasti peta industri penerbangan dalam negeri Amerika Serikat (AS) berubah usai American Airlines memulai layanan jet komersial domestik pertama. Alih-alih mengoperasikan Douglas DC-8, American Airlines justru terbang dengan Boeing 707 yang ternyata berhasil membawa perubahan dan menggeser dominasi United Airlines serta Trans World Airlines (TWA).

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Disarikan dari berbagai sumber, sejak pertama berdiri pada 15 April 1926, American Airlines sebetulnya sudah mempunyai kans besar untuk memulai layanan komersial. Hanya saja, terbatasnya pilihan pesawat membuat maskapai itu mengoperasikan pesawat untuk mengantar surat dari St. Louis, Missouri, ke Chicago, Illinois.

Setelah delapan tahun, barulah layanan komersial penumpang pertama dilakoni dari New York ke Chicago dengan menggunakan DC-3.

Akan tetapi, maskapai ini, dan berbagai maskapai lainnya di dunia, mulai meredup seiring kemunculan maskapai nasional Inggris British Overseas Airways Corporation (BOAC) mengoperasikan layanan jet komersial pertama di dunia pada 2 Mei 1952. Saat itu, BOAC didukung oleh De Havilland Comet, pesawat jet komersial pertama dunia.

Sayangnya, pesawat fenomenal ini kurang berhasil lantaran berbagai kecelakaan akibat kegagalan desain hingga menyebabkan fatig logam pada jendela pesawat. Alhasil, Comet pun perlahan ditinggalkan. Bersamaan dengan itu, tentu saja BOAC, yang amat mengandalkan pesawat tersebut, kehilangan tajinya untuk menarik banyak penumpang. Di sinilah era emas maskapai AS dimulai.

Pada tahun 1953, American Airlines menjadi pioneer layanan lintas benua non-stop dari seluruh AS menggunakan Douglas DC-7 bermesin piston. Belum juga sempat menguasai pasar penerbangan lintas benua, Pan American Airlines sudah lebih dahulu menyalip dan merajai pasar tersebut bersamaan dengan turunnya pamor BOAC.

Sadar pasar penerbangan lintas benua sudah didominasi Pan Am dan sulit ditembus, American Airlines bergeser ke pasar domestik dan berhasil memulai layanan jet komersial domestik pertama di AS pada 25 Januari 1959, dari New York ke Los Angeles, menggunakan pesawat Boeing 707. Layanan coast-to-coast atau ujung ke ujung ini rupanya banyak diminati penumpang dan perlahan menempatkan American Airlines merajai layanan domestik saat itu.

Baca juga: Hari Ini, 79 Tahun Lalu, Pan Am Jadi Maskapai Pertama Keliling Dunia dengan Pesawat Komersial

Dominasi American Airlines di pasar domestik pasca peluncuran rute coast-to-coast bukan hanya disebabkan oleh efektivitas dan efisiensi Boeing 707, melainkan juga karena faktor non-teknis kompetitor. Disebutkan, kompetitor utama American Airlines, yaitu Delta Airlines dan United Airlines, tak mau ikut-ikutan menggunakan Boeing 707 dan lebih memilih tetap menunggu peluncuran Douglas DC-8.

Keputusan itu ternyata malah mendorong American Airlines untuk merajai pasar domestik. Di saat yang bersamaan, banyak maskapai besar di seluruh dunia juga menggunakan Boeing 707. Pada posisi ini, bisa dibilang, maskapai yang mengoperasikan Boeing 707 akan ketiban berkah dan sebaliknya, maskapai yang tidak mengoperasikan pesawat itu cenderung tertinggal.

Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Sebanyak 189 orang tewas dan 69 lainnya luka berat serta ringan akibat kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Ajikawaguchi. Kecelakaan ini terjadi pada 29 Januari 1940 karena adanya kesalahan pengoperasian titik peralihan sinyal.

Baca juga: Tragedi Bintaro I – Jadi Kecelakaan Kereta Terburuk dan Paling Tragis di Indonesia

Insiden ini terjadi karena operasi ilegal switching dari staf stasiun yang membuat adanya jalur berubah saat kereta lewat. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jalur ini adalah jalur yang menghubungkan Stasiun Osaka dan daerah pesisir, dan merupakan jalur yang sepi hingga awal periode Showa.

Tetapi setelah Perang Cina-Jepang, industri amunisi berkembang, banyak pabrik dibangun di sepanjang jalur tersebut dan jumlah penumpang komuter meningkat drastis. Pada saat kecelakaan, bensin dikendalikan sebagai bahan strategis dan batu bara didorong untuk dihemat.

Pada pagi hari tanggal 29 Januari 1940, saat kecelakaan terjadi, kereta bawah Nishikujo Jalur 1611 yang berangkat dari Stasiun Osaka adalah kereta Nishikujo Setelah berangkat, ditetapkan bahwa kereta harus meluncur dari Jembatan Sungai Rokkenya ke Stasiun Ajikawaguchi untuk menghemat bensin. Kereta 1611 tiba di Stasiun Ajikawaguchi pada pukul 06.55, tiga menit terlambat dari jadwal.

Karena Jalur Sakurajima adalah jalur tunggal, maka kereta sementara 6001 yang telah datang ke Stasiun Nishikujo, yang berada tepat sebelum Stasiun Ajikawaguchi, tidak dapat berangkat dan ditunda. Kereta penumpang juga mengalami keterlambatan karena tidak bisa berangkat dari stasiun.

Ketika kereta ditunda, itu menghabiskan lebih banyak batu bara, sehingga petugas sinyal yang tidak sabar mencoba membersihkan jalur lebih awal dan mengabaikan konfirmasi yang cukup, dan kereta 1611 mengganti jumlah pemilih sebelum selesai melewati pemungutan suara di halaman stasiun.

Akibat pelanggaran serius terhadap peraturan pengoperasian ini, gerbong terakhir kereta api tahun 1611 berjalan di atas dua pasang rel, kemudian tergelincir dan bertabrakan dengan tiang listrik di dekat perlintasan rel di halaman stasiun. Selain itu, bensin bocor dari tangki bahan bakar pada saat terbalik, dan percikan api diduga dihasilkan oleh gesekan antara bodi mobil dan pemberat atau korsleting pada kabel listrik memicu bahan bakar yang bocor dan badan mobil terbakar.

Penyebab kerusakan tangki bahan bakar bukan karena terguling, tetapi karena sambungan poros baling-baling yang menyalurkan tenaga ke roda saat roda berjalan di atas batu paving saat keluar jalur bersentuhan dengan tangki bahan bakar. Badan mobil kendaraan kecelakaan itu tenggelam karena beban penumpang yang berdesakan, sehingga persendiannya mudah bersentuhan.

Selain itu, kota ini juga terkena hembusan angin barat yang kuat dari Teluk Osaka , dan dalam sekejap api menjadi lebih kuat dan kendaraan terbakar. Dipastikan pada saat penanganan kecelakaan, 181 orang tewas terbakar dan delapan orang termasuk kondektur tewas di Rutan, yang mengakibatkan total 189 orang tewas dan 69 luka berat dan ringan.

Baca juga: Hari ini 31 Tahun Lalu, Terjadi Kecelakaan Kereta Terbesar di India, Tewaskan 140 Orang!

Insiden ini merupakan kecelakaan dengan jumlah korban jiwa terparah dalam sejarah kecelakaan kereta api di Jepang yang tercatat secara akurat hingga saat ini. Karena Jalur ini adalah jalur penting militer, pekerjaan restorasi setelah kecelakaan berlangsung dengan cepat, dan tidak hanya staf Kementerian Perkeretaapian tetapi juga pekerja pabrik di sekitar stasiun dimobilisasi pada siang hari pada hari terjadinya kecelakaan.

Hari ini, 138 Tahun Lalu, Carl Benz Patenkan Mobil Berbahan Bakar Bensin yang Jadi Cikal Bakal Mobil Modern

Siapa yang tak kenal dengan Carl Benz? Dia adalah seorang pendiri mobil mewah saat ini yakni Mercedes-Benz. Ternyata, Carl Benz juga merupakan orang yang mematenkan mobil berbahan bakar bensin pertama. Mobil berbahan bakan bensin ini dipatenkan pada 29 Januari 1886 atau 138 tahun silam.

Baca juga: 123 Tahun Lalu, Rusia Pertama Kali Pamerkan Mobil Produksi Perdana ke Publik

Carl Benz mendapatkan hak paten tersebut setelah mengajukan permohonan dan hak paten yang bisa dikatakan sebagai akte atau tanda kelahiran mobil saat ini. Benz-Patent Motorwagen merupakan mobil dengan tiga roda dan dapat mengangkut dua orang termasuk pengemudinya. KabarPenumpang.com menghimpun berbagai laman sumber, mobil ini menggunakan mesin 4 tak yang diletakkan di antara roda belakang.

Carl Benz pemilik hak paten mobil berbahan bakar bensin pertama

Di mana daya disalurkan menggunakan dua rantai rol pada poros belakang. Carl Benz diketahui menyelesaikan Benz-Patent Motorwagen pada 1885. Motorwagen pertama ini menggunakan mesin berkubikasi 954 cc dengan pengapian koil. Mesinnya menghasilkan daya 2/3 hp pada 250 rpm, tetapi saat dites Universitas Mannheim, dayanya bisa mencapai 0,9 hp pada 400 rpm.

Pada saat itu, mesinnya dapat dikatakan sangat ringan karena hanya berbobot 110 kg. Sebuah flywheel horizontal digunakan untuk menstabilkan keluaran daya dari mesin. Sementara itu, sebuah karburator dikendalikan oleh sleeve valve untuk mengatur daya dan kecepatan mesin.

Mobil ini memiliki desain bak mesin terbuka, katup intake yang dapat digeser katup pembuangan yang dioperasikan oleh cakram cam, pelatuk klep dan pushrod, serta menggunakan sistem pelumasan tetes. Dalam segi penggerak, Motorwagen menggunakan roda yang berukuran sangat besar.

Roda yang digunakan berjumlah tiga buah dengan kedua roda belakang terpasang secara horizontal pada sasis. Hal ini bertujuan untuk mencegah efek girospik dari pemasangan secara vertikal yang nantinya akan mengganggu kemudi dan stabilitas kendaraan. Namun, masalah utama Motorwagen adalah kapasitas bahan bakar yang menjadi kekurangan dari mobil ini.

Baca juga: Hari ini, 80 Tahun Lalu, Henry Ford Meluncurkan Mobil dengan Panel Plastik

Sebab untuk setiap 200 km perjalanan dibutuhkan sepuluh liter bensin agar mobil ini tetap melaju. Untuk diketahui, kehadiran Benz-Patent Motorwagen pada awalnya tidak mendapat sambutan besar dan sempat ditertawakan saat uji coba karena menabrak tembok. Bahkan sangat sulit untuk dikendalikan.

Anti-ice dan De-icing, Dua Metode Bebaskan Pesawat dari Salju dan Es

Pengoperasian pesawat di wilayah bersalju sudah barang tentu membutuhkan penanganan tersendiri. Seperti saat pesawat sedang parkir di apron bandara beriklim dingin, maka dikenal istilah anti-ice (anti pembentukan es) and de-icing (penghilangan es), yakni dua metode perlindungan pesawat dari es untuk keselamatan dalam penerbangan.

Baca juga: FAA Keluarkan Peringatan Potensi Bahaya Selama Proses ‘Anti Icing’ pada Boeing 737 Max

Anti-ice adalah metode yang mencegah terbentuknya es di permukaan pesawat, seperti sayap, saluran masuk mesin, baling-baling, atau jendela. Sistem anti-es biasanya diaktifkan sebelum memasuki kondisi lapisan es, yaitu area yang suhu dan kelembapannya mendukung pembentukan es.

Sistem anti-ice dapat bersifat pasif atau aktif. Sistem pasif menggunakan lapisan atau bentuk khusus yang mengurangi adhesi atau akumulasi es. Sistem aktif menggunakan panas, listrik, atau bahan kimia untuk mencegah pembentukan atau lengketnya es di permukaan pesawat

Sementara de-icing adalah metode menghilangkan es yang sudah terbentuk di permukaan pesawat. Sistem penghilangan lapisan es biasanya diaktifkan setelah mendeteksi atau mengamati es di pesawat. Sistem penghilangan lapisan es juga bisa bersifat pasif atau aktif.

Sistem pasif menggunakan gaya aerodinamis atau getaran untuk melepaskan es dari permukaan. Sistem aktif menggunakan panas, listrik, bahan kimia, atau perangkat mekanis untuk melelehkan atau memecahkan es dan mengeluarkannya dari permukaan.

Perbedaan utama antara anti-ice dan de-icing adalah anti-ice mencegah pembentukan es, sedangkan de-icing menghilangkan es setelah terbentuk.

Kenapa Wiper Pesawat Tidak Rusak Diterjang Angin Saat di Ketinggian?

Dalam konteks penerbangan, pesawat biasanya dilengkapi dengan sistem anti-ice untuk mencegah pembentukan es pada permukaan kritis seperti sayap, ekor, dan inlet mesin. Selain itu, de-icing fluids dapat digunakan sebelum penerbangan jika es sudah terbentuk atau jika ada potensi pembentukan es selama penerbangan.

Keduanya, metode anti-ice dan de-icing, penting untuk menjaga keamanan penerbangan dengan memastikan bahwa permukaan pesawat tetap bebas dari es yang dapat memengaruhi performa atau keamanan penerbangan.

Sering Bepergian Naik Pesawat, Pasti Tahu Aplikasi Pembobol WiFi Bandara Ini, Kan?

Trasnformasi teknologi di era digital, diakui atau tidak, membuat banyak orang seperti ketergantungan dengan internet. Ia (internet) menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi untuk para pelancong yang tengah melakukan perjalanan ke dalam dan luar negeri.

Baca juga: Tips Murah Saat Berada di Bandara Ketika Melancong

Umumnya, hampir di seluruh bandara besar di dunia, menyediakan internet atau WiFi gratis untuk para pengunjung. Namun, terkadang butuh usaha lebih untuk bisa benar-benar menikmati WiFi gratis tersebut. Seperti ‘dipaksa’ nonton beberapa iklan, mengklik sana sini, jaringan terkadang lemot, dan yang lebih menyebalkan lagi, ketika sudah menikmati WiFi gratisan tersebut, akses dibatasi dalam durasi tertentu. Selepas itu, kembali, kita harus melalui beberapa proses rumit yang telah kita lalui sebelumnya. Sangat menyebalkan, bukan?

Seiring berjalannya waktu, berbagai kerumitan tersebut, akhirnya kini bisa terpecahkan. Caranya mudah, meskipun perlu sedikit investasi untuk mendapatkan layanan luar biasa ini agar bisa mengetahui password WiFi di bandara ataupun lounge di seluruh dunia.

Penasaran? Bagi pembaca sekalian yang belum mengetahuinya, WiFox Google Map adalah jawabannya. Ya, aplikasi yang dibuat oleh Anil Polat, seorang travel blogger tersebut, dapat dengan mudah membantu para traveler untuk menemukan WiFi di seluruh bandara dan lounge. Bahkan dalam beberapa kasus, aplikasi tersebut juga bisa membuat traveler mendapatkan akses WiFi publik yang terenkripsi (terkunci), lengkap dengan langkah-langkah untuk menghindari durasi dan ‘dipaksa’ nonton beberapa iklan.

Di Bandara Heathrow di London, misalnya, seperti dikutip dari lifehacker.com, WiFox Google Map memiliki kata sandi untuk Lounge Premium, Admirals Cub, Lounge Etihad, Lounge Emirates, Virgin Atlantic Clubhouse, dan hampir setengah lusin jaringan pribadi lainnya. Sangat variatif bukan?

Bagi pembaca yang masih bingung bagaimana cara menggunakannya, sebetulnya sangat mudah. Usai mengunduh (dengan biaya 1,99 dolar AS), cukup dengan menekan ikon bandara yang telah disediakan, maka seluruh informasi spesifik mengenai WiFi gratis, termasuk informasi password, lokasi, hingga di mana kita harus duduk, semuanya itu langsung bisa didapatkan pada aplikasi ini.

Saat ini, aplikasi buatan pelancong asal San Francisco, Amerika Serikat ini telah tersedia di iOS maupun Android. Aplikasi ini juga tersedia pada toko Amazon. Bahkan, layanan ini pun tersedia bagi para pengguna yang ingin melihatnya secara langsung dalam bentuk blog.

Baca juga: Terpaksa Tidur di Bandara? 6 Tips Ini Bisa Anda Coba!

Mengenai update atau tidaknya layanan ini, sang kreator menjelaskan bahwa ia selalu berusaha WiFi interaktif miliknya tersebut selalu update. Hal itu mengartikan bahwa password yang ia kumpulkan tentunya akan semakin detil dari waktu ke waktu.

Agar nantinya memudahkan pembaca sekalian yang berminat, sebaiknya gunakanlah aplikasi ini jauh-jauh hari sebelum menuju ke bandara, dan langsung catat informasi-informasi yang ada. Hal ini akan dapat meminimalisir resiko tidak adanya koneksi internet ketika ingin membuka aplikasi WiFi gratis tersebut di sebuah bandara tertentu.

 

Vesna Vulovic – Pramugari Selamat dari Ledakan Pesawat di Ketinggian 10.000 Meter

Menjadi korban selamat dalam sebuah kecelakaan pesawat merupakan sebuah keajaiban yang sulit diduga. Apalagi bila melihat kondisi pesawat yang jatuh itu tak lagi berbentuk. Namun beberapa kecelakaan pesawat ternyata tidak semuanya membuat penumpang maupun awak kabin tewas tetapi ada beberapa yang hidup.

Baca juga: Jatuh dari Tangga Pesawat, Eks Pramugari Qantas Tuntut Rp4,5 Miliar untuk Cidera Permanen

Seperti seorang pramugari bernama Vesna Vulovic yang bekerja di Yugoslavia mulai tahun 1971. Saat itu dirinya yang tengah menikmati masa muda dan terdorong untuk bepergian karena obsesinya dengan band The Beatles.

Vesna Vulovic usai kecelakaan pesawat

Dia pindah ke London sebagai mahasiswa dan menjadi pramugari Yugoslavia JAT tahun 1971. Pada Januari tahun berikutnya yakni 1972, Vulovic meenjadi kru sekunder penerbangan 367 dari Stockholm ke Belgrade yang singgah di Kopenhagen dan Zagreb.

Sebenarnya saat itu, Vulovic tidak berada dalam penerbangan tersebut, tetapi dia mengangkat tangan karena belum pernah ke Denmark. Pada penerbangan itu, dirinya menyaksikan orang-orang penumpang pertama turun di Kopenhagen.

Kemudian pada pukul 16.01 waktu setempat pada 26 Januari 1972, pesawat Yugoslavia dengan nomor penerbangan 367 tersebut meledak dan jatuh dari ketinggian 10.160 meter dari atas permukaan laut. Dari kotak hitam yang sudah diselidiki secara rinci, ledakan berasal dari bagian bagasi dan membagi pesawat menjadi beberapa potongan.

Hal ini membuat penumpang dan awak pesawat tersedot keluar, tetapi Vulovic terjepit di dalam pesawat karena troli makanan serta menjaganya hingga jatuh ke tanah. Dia jatuh dan mendarat di sudut lereng gunung bersalju Cekoslovakia. Penduduk desa yang melihat kejadian itu kemudian mendengar suara menjerit. Bruno Honke seorang warga yang tiba di kejadian melihat Vulovic tengah menjerit tanpa alas kaki dan berlumuran darah serta tertimpa seorang rekannya.

Honke membantu dengan pertolongan pertama di mana kondisi Vulovic saat itu mengalami patah kaki di kedua bagiannya, tulang panggul dan tiga tulang punggung patah serta tengkorak retak. Untungnya dia masih hidup dan hentakan jatuh bisa membuatnya meninggal secara mendadak karena jantung yang kaget.

Dokter yang merawatnya mengatakan, tekanan darah Vulovic sangat rendah yang bisa membuatnya pingsan dengan cepat. Padahal bisa dikatakan, seorang yang memiliki tekanan darah rendah tidak bisa menjadi seorang pramugari.

Vulovic diketahui saat itu dirawat di rumah sakit Praha sebelum dipindahkan ke Beograd di mana dirinya diamankan dan dibawah penjagaan polisi selama 24 jam. Penjagaan ini dilakukan secara ketat karena dia selamat dan pihak berwenang khawatir Vulovic dijadikan target pembunuhan oleh teroris separatis Kroasia yang bertanggung jawab atas pemboman tersebut.

Untungnya setelah pemulihan yang baik, dirinya tidak memiliki ingatan yang jelas tentang kecelakaan dan sangat senang ketika akan kembali bertugas menjadi pramugari. Namun maskapai Yugoslavia tidak ingin dia terbang karena khawatir akan membuat pelancong cemas dan diberi pekerjaan dibelakang meja. Meski selamat dari ledakan bom dalam pesawat tersebut, Vulovic tak pernah merasa dirinya beruntung.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

“Semua orang berpikir saya beruntung, tetapi mereka keliru. Jika saya beruntung saya tidak akan pernah mengalami kecelakaan ini. Mati adalah takdir murni di dalam pesawat atau di mobil atau di jalan. Yang lucu adalah bahwa, jika Anda harus mati cara termudah untuk melakukannya adalah di pesawat. Jadi itu saja, itu bukan hari saya untuk mati,” kata Vulovic.

Vesna Vulovic telah wafat pada 23 Desember 2016 akibat sakit jantung di usia 66 tahun, yang tak bisa dilupakan, Ia adalah peraih penghargaan dari Guinness World Record sebagai satu-satunya manusia yang selamat terjun dari ketinggian 10.000 meter tanpa parasut.

Bagaimana Perawatan Mesin Pesawat Dilakukan? Ini Jawabannya

Mesin adalah bagian yang paling mahal dari sebuah pesawat terbang. Meskipun biaya maintenance, repair, and overhaul (MRO) atau perawatan mesin pesawat tergolong mahal, namun, itu tidak ada harganya bila dibandingkan pesawat mengalami kecelakaan ataupun di-grounded berkepanjangan lantaran kerusakan mesin.

Baca juga: Setelah Lalui Jarak Setara 350 Keliling Dunia, Mesin Rolls-Royce Airbus A350 XWB Alami Keretakan

Pasar aero-engine MRO setiap tahunnya bernilai lebih dari US$2,5 miliar atau lebih dari Rp35 triliun (kurs 14.021). Dari jumlah tersebut, maskapai banyak mengeluarkan uang untuk perawatan dan perbaikan bilah turbin, bantalan atau bearings, dan sistem kontrol mesin, dimana ketiganya didapuk sebagai bagian mesin yang paling mahal.

Secara umum, biaya perawatan mesin pesawat mencapai US$12 juta hingga lebih dari US$45 juta atau Rp633 miliar (kurs 14.021).

Meskipun didesain untuk bisa beroperasi di segala kondisi, mesin pesawat tetap saja sewaktu-waktu bisa mengalami kehausan, hasil dari gesekan, getaran, suhu panas ekstrem, dan korosi atau karat; termasuk di dalamnya akibat benda agak besar masuk ke dalam mesin, seperti burung atau bird strike dan sebagainya.

Dalam keadaan normal, mesin pesawat bisa tahan samapi 15 ribu jam terbang. Namun, pada tahun 2019, mesin Rolls-Royce Trent 700 menyelesaikan lebih dari 50.000 jam terbang bersama Aeroflot Airbus A330 tanpa perlu masuk ke hanggar untuk perbaikan, dan berhasil mencatatkan rekor dunia sebagai mesin dengan jam terbang terlama tanpa overhaul. Setelahnya, mesin harus mendapat perawatan berkala untuk keamanan. Lantas, bagaimana perawatan atau MRO mesin pesawat dilakukan?

Dilansir Simple Flying, proses MRO pada mesin pesawat dimulai dengan membongkar dan memeriksa seluruh bagian mesin satu per satu secara detail. Ada sekitar 2.000 komponen di dalam mesin yang harus diperiksa. Setiap komponen yang dirasa tak lagi prima ditukar dengan yang baru, dipasang kembali, diuji, dan, bila semuanya oke mesin menerbangkan kembali pesawat dengan aman.

Sebuah mesin dapat dikatakan melalui perbaikan atau overhaul ketika telah diperiksa, dibongkar, diperiksa kembali, dibersihkan, diperiksa, diperbaiki sesuai dengan instruksi pabrik, diperiksa lagi, dan kemudian diuji menggunakan prosedur yang disetujui oleh badan pengawas penerbangan sipil.

Setelah diagnostik dan inspeksi awal, mesin dan semua bagiannya dibongkar. Kemudian dipelajari lagi sebelum diolah dengan rendaman kimiawi untuk menghilangkan polutan atau kontaminan agar mesin lebih enteng ketika beroperasi.

Di antara bagian tersulit untuk diperiksa, ruang pembakaran adalah salah satunya. Sebab, ruang bakar di dalam mesin merupakan bagian mesin yang paling berat bebannya.

Ruang bakar harus tahan setidaknya suhu 2 ribu derajat Celcius selama berjam-jam, khususnya pada saat take off dan landing, dimana pesawat mengeluarkan tenaga maksimal. Jika sedikit saja terjadi kesalahan, mesin akan mati total.

Ada dua model pemeriksaan, perawatan, dan perbaikan mesin, off wing dan on wing. Gambar ini adalah contoh salah satu perawatan dan pemeriksaan mesin on wing atau saat masih menempel di sayap. Foto: Jay Singh – Simple Flying

Oleh karenanya, usai mendapat perawatan dan perbaikan, mesin pesawat harus diuji di ruang khusus, dimana mesin dihidupkan dan bekerja layaknya dalam sebuah penerbangan.

Proses MRO sebetulnya bisa sangat cepat, tergantung kondisi mesin pesawat, berkisar 15 hingga 35 hari untuk off wing. Namun, bila mesin harus mendapat perawatan berat, seperti membongkar total dan mengganti banyak suku cadang yang sudah melebihi batas maksimum operasi, maka MRO bisa memakan waktu hingga dua bulan.

Baca juga: Setelah 100 Tahun Lebih, Ilmuan Sedunia Masih Bingung Jelaskan Mengapa Pesawat Bisa Terbang

Akan tetapi, pada perawatan mesin pesawat on wing, prosesnya bisa sangat cepat, hanya memakan waktu beberapa jam sampai beberapa hari.

Sebagai informasi, fasilitas MRO di masing-masing benua besarannya berbeda-beda. Fasilitas MRO terbesar di Amerika Utara dipegang oleh Delta’s TechOps di Atlanta, Amerika Serikat. Sedangkan fasilitas MRO terbesar di Asia terletak di Chengdu, Cina, bukan di GMF, yang menyandang fasilitas MRO terbesar di Asia Tenggara.

Inilah 6 Negara dengan Jumlah Bandara Terbanyak di Dunia, Nomor 6 dari Asia! Indonesia, kah?

Qatar, Yunani, Jepang, Jerman, dan Singapura boleh saja berbangga hati atas keberhasilan yang diperoleh bandara di negaranya. Sebelumnya, dari daftar bandara dengan tingkat pengalaman penumpang tertinggi di dunia versi AirHelp, bandara-bandara di kelima negara itu menempati posisi teratas, mulai dari Hamad International Airport (Doha), disusul Athena International Airport, Tokyo Haneda International Airport (Jepang), Cologne Bonn Airport (Jerman), dan Changi International Airport (Singapura) di posisi kelima.

Baca juga: AirHelp Rilis Peringkat Bandara di Dunia, Tiga Bandara Inggris Berada di Posisi Bontot!

Akan tetapi, dari segi kuantitas bandara, kelima negara tersebut belum ada apa-apanya dan tak berada di posisi teratas. Lantas, negara mana saja yang memiliki banyak bandara, bahkan menjadi yang terbanyak di dunia? Dikutip dari Simple Flying, berikut daftar enam negara dengan jumlah bandara terbanyak di dunia.

Amerika Serikat (AS)
Meskipun berada di posisi keempat sebagai negara terluas di dunia, bukan berarti jumlah bandara di AS tak bisa melampaui Rusia, Kanada, dan Cina sebagai negara terluas pertama, kedua, dan ketiga di dunia. Justru sebaliknya, Negeri Paman Sam dinobatkan sebagai negara dengan jumlah bandara terbanyak di dunia dengan total mencapai 19.633 di seantero AS.

Menurut FAA, bila diklasifikasikan, sebanyak 5.082 adalah bandara publik, dan 14.551 sebagai bandara pribadi atau private. Jadi, parameter yang digunakan ialah penggunaan bandara, bukan kepemilikan oleh negara. Dari 5.082 bandara publik, 396 di antaranya bandara utama yang melayani penerbangan berjadwal.

Brasil
Negeri Samba Brasil hanya menempati posisi keenam dalam daftar negara terluas di dunia. Namun, negara yang terkenal sebagai gudangnya pemain sepak bola itu berhasil berada di posisi kedua sebagai negara dengan jumlah bandara terbanyak di dunia. Brasil tercatat memiliki 2.717 bandara, dimana 534 bandara umum dan 2.183 bandara pribadi.

Terdapat 134 bandara dengan penerbangan terjadwal. Yang terbesar adalah Bandara Internasional São Paulo-Guarulhos (GRU), yang dalam keadaan normal melayani 30 juta penumpang setiap tahun melayani penerbangan ke 103 destinasi dan 29 negara.

Meksiko
Meksiko berada di posisi ketiga dalam daftar negara yang memiliki bandara terbanyak di dunia dengan total 1.740 bandara. Di negara ini, hanya ada 58 bandara terjadwal, dimana Bandara Internasional Mexico City menjadi yang tersibuk.

Kanada
Kanada berada di posisi keempat dalam daftar ini dengan memiliki 1.620 bandara. Dari jumlah tersebut, 250 di antaranya memiliki layanan terjadwal dan Bandara Toronto Pearson menjadi yang tersibuk di negara ini.

Baca juga: 20 Bandara Ini Dipercaya Punya Akses WiFi Terbaik di Dunia

Rusia
Negara terbesar dan terluas di dunia, Rusia, hanya memiliki total 1.218 bandara dan menempatkannya berada di posisi kelima dalam daftar negara yang memiliki jumlah bandara terbanyak di dunia. Ada 227 bandara terjadwal di Negeri Beruang Merah ini. Bandara paling baratnya adalah Bandara Khrabrovo (KGD) di Kaliningrad, dan paling timur adalah Bandara Lavrentiya, sebuah lapangan terbang kecil di Chuktokta, yang juga dinobatkan sebagai bandara paling timur di benua bumi.

Cina
Cina sebetulnya tak masuk ke dalam jajaran enam besar daftar negara yang memiliki bandara terbanyak di dunia. Namun, Cina menjadi pasar penerbangan terbesar di dunia. Saat ini, Pemerintah Komunis Cina tengah membangun ratusan bandara baru sampai tahun 2035 mendatang.

Begini Cara ATC Atur Kedatangan dan Keberangkatan Pesawat di Bandara

Di bandara sibuk, lalu lintas udara amat padat. Pergerakan pesawat bahkan terjadi setiap menit. Salah sedikit, bukan tak mungkin insiden fatal terjadi dan petugas Air Traffic Controller (ATC) jadi pihak yang paling bertanggung jawab. Terlepas dari insiden kecelakaan, sebetulnya, bagaimana cara ATC mengatur lalu lintas udara, dalam hal ini kedatangan dan keberangkatan pesawat di bandara?

Baca juga: Mengenal Bandara Tanpa ATC, Bisa Sembarang Mendarat dan Lepas Landas?

Sebagaimana umum diketahui, sistem menara ATC terbagi ke dalam tiga bagian: Aerodrome Control Service (biasanya berpartner dengan petugas darat untuk memberikan isyarat kepada pesawat untuk take-off atau landing), Approach Control Service (mengatur ketinggian pesawat), dan Area Control Sevice (memberikan clearance kepada pesawat yang sedang menjelajah).

Bagi bandara kecil yang lalu lintas udaranya tidak terlalu padat, tentu menjadi seorang petugas ATC akan terasa sangat membosankan – berbanding terbalik dengan bandara yang memiliki tingkat lalu lintas udara yang padat, pekerjaan ini akan terasa sangat melelahkan. Lagi, satu poin yang membuat pekerjaan ini terasa semakin berat adalah prinsip zero mistake – dimana salah informasi sedikit saja, maka kekacauan hingga kecelakaan pesawat bisa saja menanti dalam jangka waktu beberapa menit ke depan.

Dilansir Simple Flying, sebetulnya alur kerja ATC bisa dibilang tergolong mudah. Bagi pesawat yang hendak mendarat, ia cukup diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, dipandu, serta diberi clearance. Pun demikian bagi pesawat-pesawat yang hendak lepas landas. Polanya sama. Setelah meninggalkan bandara, pesawat akan terhubung dengan ATC berikutnya sampai ke terhubung ke ATC bandara tujuan untuk diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, serta diberi clearance.

Masing-masing petugas ATC dari yang tiga itu (Aerodrome Control Service, Approach Control Service, dan Area Control Sevice) akan bekerja membantu proses pendaratan dan keberangkatan sesuai dengan porsinya. Tetapi memang, pada praktiknya tak semudah gambaran alur kerja ATC secara umum. Terlebih saat terjadi kabut dan cuaca buruk.

Namun kini jaman sudah berkembang, dimana modernisasi sudah merambah segala sektor – tidak terkecuali di menara ATC. Teknologi Digital Air Traffic Solutions telah dirilis oleh SAAB AB, manukfaktur asal Swedia yang kondang sebagai pemasok sistem senjata mutakhir pada awal tahun 2017 silam.

Baca juga: “Zero Mistake dan Tahan Tekanan,” Jadi Keharusan Bagi Petugas Menara ATC

Dengan itu, Swedia menjadi negara pertama di dunia yang memiliki dan mengoperasikan menara jarak jauh atau world’s first remote tower sejak dua tahun silam.

Lewat solusi ini, indera penglihatan sang pengatur lalu lintas ‘diperpanjang’ dengan perangkat kamera yang terpasang pada tower. Dengan teknologi ini, maka tidak ada lagi aktivitas petugas ATC yang mengawasi seluruh pergerakan di sekitaran bandara dari atas menara. Petugas pengatur lalu lintas pun tak harus berada dekat atau di dalam area bandara alias remote.