Israel Akan Meluncurkan Sistem eTA untuk Pelancong dari Negara Bebas Visa

Meski menjadi pusat kemarahan dunia atas agresi serta kebiadabannya di Gaza, namun Israel punya daya pikat tersendiri bagi para pelancong religi, lantaran keberadaan Yerusalem yang menjadki sentra penting bagi tiga agama. Dan belum lama ini, pihak imigrasi Israel memberlakukan aturan baru bagi pelancong asing yang ingin masuk ke Israel, jelas akan lebih ketat.

Baca juga: Jadi Simbol Konflik Israel-Palestina, Inilah Sejarah Panjang Bandara Ben Gurion di Tel Aviv

Seperti dikutip The Time of Israel (28/5/2024), Israel akan meluncurkan sistem Electronic Travel Authorization (eTA) untuk wisatawan dari negara bebas visa. Israel mengatakan pihaknya akan beralih ke sistem eTA bagi pengunjung dari negara-negara bebas visa mulai bulan Agustus, bergabung dengan Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan negara-negara lain yang memiliki sistem tersebut.

Pengunjung dari negara non-visa akan memerlukan ETA untuk tinggal hingga 90 hari di Israel, karena sebelumnya dapat mengunjungi negara tersebut tanpa eTA. Masuknya akan terus ditentukan oleh petugas pengawas perbatasan, seperti di negara lain dengan sistem serupa.

Program percontohan sistem eTA-IL akan dimulai pada tanggal 1 Juni bagi pemegang paspor AS dan Jerman dan akan terbuka bagi pengunjung dari negara bebas visa lainnya pada tanggal 1 Juli.

eTA-IL akan diwajibkan mulai 1 Agustus, “dan pengunjung tidak akan bisa naik pesawat ke Israel tanpanya”, kata Otoritas Kependudukan dan Imigrasi Israel dalam sebuah pernyataan.

Biayanya NIS 25 ($6,80) dan masa berlakunya hingga 2 tahun, atau hingga paspor saat ini habis masa berlakunya. Untuk mendapatkan paspor baru atau perubahan nama atau jenis kelamin, diperlukan permohonan izin perjalanan baru.

Pengunjung dari negara yang tidak memenuhi syarat masih memerlukan visa di konsulat Israel sebelum melakukan perjalanan, dan tidak perlu mendapatkan eTA-IL.

Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia

5 Kesalahan Populer Pilot Pemula Saat Taxi, Nomor Tiga Butuh Insting Tajam

Pilot memang profesi yang dituntut minim kesalahan atau zero mistake. Salah sedikit, bukan tak mungkin bakal berakibat fatal. Namun, bagi penerbang muda atau pilot pemula, kesalahan sepertinya sudah melekat; dalam hal ini saat taxi (taxiing).

Baca juga: Tanpa Sadar, Tingginya Frekuensi Penerbangan Giring Pesawat Sipil Lakukan “Elephant Walk”

Dalam catatan Doug Ranly, praktisi, pengamat, inovator penerbangan, pada umumnya pilot pemula kerap melakukan lima kesalahan (saat taxiing). Memang tak fatal, namun, tetap saja patut menjadi perhatian, sebab, kelak mereka akan berada pada posisi yang lebih krusial, dengan menerbangankan pesawat yang lebih besar serta dipenuhi manusia dan barang. Dilansir dari studentpilotnews.com, berikut rangkuman lima kesalahan pilot saat taxiing.

1. Terlalu cepat
Dalam pengamatan Doug Ranly, saat taxiing, pilot pemula banyak melalukan kesalahan berkenaan dengan kecepatan. Padahal, saat terbang dan taxiing, pilot tak boleh terburu-buru. Di samping itu, menjaga jarak dan tetap mengikuti pedoman sangat penting dilakukan.

2. Ngerem berlebih
Mencoba performa rem saat taxiing kerap dilakukan pilot. Namun, pilot pemula umumnya kerap melakukannya secara berlebihan. Selain itu, mereka juga kerap menambah kecepatan sambil mengerem. Akibatnya, sistem pengereman pesawat jadi cepat haus.

3. Keluar jalur
Kesalahan lainnya yang kerap dilakukan pilot pemula saat taxiing adalah keluar jalur atau off the centerline, ditandai dengan nose wheel yang tak berada tepat di garis. Membuat pesawat stabil berada di tengah memang bukanlah pekerjaan yang mudah bagi pilot pemula. Butuh feeling yang tepat untuk menguasai pesawat, selain mengacu pada indikator yang ada untuk membuat pesawat berada tepat di tengah.

Keluar jalur saat di taxi way mungkin tak begitu masalah untuk ukuran pesawat latih seperti Cessna 172 Skyhawk atau Cessna 162 Skycatcher. Namun, bagi pesawat yang lebih besar, bukan tak mungkin keluar jalur akan menyebabkan wingtip pesawat akan berbenturan dengan wingtip pesawat lainnya, seperti senggolan pesawat A350 dan B777 Cathay Pacific akibat bandara penuh selain tidak berada dalam jalur yang pas.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

4. Kurang komunikasi
Terkadang, pilot pemula ragu untuk berkomunikasi, entah itu saat menyalahkan mesin, meluncur, mengurangi kecepatan. Padahal, ketika ragu, sikap pilot seharusnya berkomunikasi dengan menara pengawas secara berlebih, bukan malah tak berkomunikasi.

5. Flaps down
Kebanyakan pilot pemula pernah melakukan kesalahan di titik ini. Saat taxiing, flaps down mungkin ada benarnya. Selain menguji perform flaps, itu mungkin dapat membantu menjaga kecepatan pesawat. Namun, ketika meluncur dan terbang, pilot pemula sering kali lupa menurunkannya kembali. Tentu saja laju pesawat jadi tertahan.

Korea Selatan Dapat Kiriman Ratusan Balon Udara dari Utara, Beri Pesan yang Bikin ‘Syok’

Warga Korea Selatan baru saja dibuat geger setelah mendapat kiriman ratusan balon udara dari saudaranya di utara, namun, balon udara ini bukan berisi sesuatu yang indah, melainkan berisikan berbagai jenis sampah, mulai dari botol plastik, bagiab sepatu sampai kotoran manusia.

Baca juga: Hari Ini, 88 Tahun Silam, Balon Udara Zeppelin Hidenburg Terbang Perdana

Seperti dilaporkan BBC.com, Korea Utara telah menjatuhkan sedikitnya 260 balon udara yang membawa sampah ke Korea Selatan, sehingga mendorong pihak berwenang memperingatkan warganya untuk tetap berada di dalam rumah.

Militer Korea Selatan juga memperingatkan masyarakat agar tidak menyentuh balon putih dan kantong plastik yang menempel di dalamnya karena mengandung “sampah kotor”.

Balon-balon tersebut telah ditemukan di delapan dari sembilan provinsi di Korea Selatan dan kini sedang dianalisis. Korea Utara dan Selatan sama-sama menggunakan balon dalam kampanye propaganda mereka sejak Perang Korea pada tahun 1950an.

Militer Korea Selatan sebelumnya mengatakan pihaknya sedang menyelidiki apakah ada selebaran propaganda Korea Utara di dalam balon tersebut. Insiden baru-baru ini terjadi beberapa hari setelah Korea Utara mengatakan akan melakukan pembalasan terhadap “seringnya menyebarkan selebaran dan sampah lainnya” di wilayah perbatasan yang dilakukan oleh para aktivis di Korea Selatan.

“Gundukan kertas bekas dan kotoran akan segera tersebar di wilayah perbatasan dan wilayah pedalaman Korea Selatan dan negara ini akan merasakan betapa besarnya upaya yang diperlukan untuk menghilangkannya,” kata Wakil Menteri Pertahanan Korea Utara Kim Kang Il dalam sebuah pernyataan kepada media pemerintah pada hari Minggu.

Foto-foto yang dibagikan di media sosial menunjukkan tas-tas yang diikatkan melalui tali ke balon putih tembus pandang yang membawa tisu toilet, tanah gelap, baterai, dan isi lainnya.

Kantor berita Korea Selatan Yonhap melaporkan bahwa “beberapa balon yang jatuh membawa sesuatu yang tampak seperti kotoran jika dilihat dari warna dan baunya yang gelap”. Militer Korea Selatan mengutuk tindakan tersebut sebagai “pelanggaran nyata terhadap hukum internasional”.

“Ini sangat mengancam keselamatan rakyat kami. Korea Utara sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang terjadi akibat balon-balon tersebut dan kami dengan tegas memperingatkan Korea Utara untuk segera menghentikan tindakan tidak manusiawi dan kasar ini,” kata juru bicara militer.

Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi

Jill Viner – Jadi Sopir Wanita Pertama di Jaringan Bus Kota London

Tanyakan kepada anak berusia delapan tahun apa cita-cita mereka ketika besar nanti, dan “sopir bus” mungkin adalah salah satu jawabannya. Namun impian masa kecil Jill Viner dilarang, karena perempuan tidak diperbolehkan mengemudikan bus penumpang pada saat itu.

Baca juga: Sopir Bus Mengalami Kejang, Penumpang Wanita Ambil Alih Kemudi

Kemudian pada akhir Mei 1974, Jill menjadi wanita pertama yang berada di belakang kemudi bus London. Warisan dan kariernya selama hampir 20 tahun kini telah dirayakan oleh Museum Transportasi London.

Meskipun beberapa wanita sudah pernah mengemudikan bus untuk London Transport, pada tahun 1974 Jill menjadi pionir sebagai sopir wanita pertama yang mengemudikan bus penumpang komersial. Ia bertugas dari pool Norbiton di barat daya London, mengantar penumpang berkeliling ibu kota Inggris hingga tahun 1993.

“Saya selalu tertarik dengan bus – jangan tanya kenapa. Saya berusia sekitar delapan tahun ketika saya memutuskan ingin menjadi sopir bus,” kata Jill sebelum kematiannya pada tahun 1996.

“Ada beberapa penumpang yang terkejut di halte ketika melihat ada seorang wanita yang sedang mengemudi,” katanya.

“Mereka pastilah orang-orang yang menurut kondektur membuatku terjatuh dari tangga. Aku terlalu sibuk berkonsentrasi pada pekerjaanku untuk melihat apa yang dilakukan orang lain.”

Dalam beberapa minggu setelah hari pertama Jill sebagai sopir bus, dilaporkan bahwa 30 perempuan telah melamar menjadi pengemudi bus.

Pada tahun 1980, London Transport mulai secara proaktif merekrut perempuan untuk menjadi sopir bus. “Saat ini, ada lebih banyak wanita yang bekerja di semua bidang Transportasi untuk London dan perempuan terwakili di semua tingkat organisasi,” kata London Transport Museum, yang merayakan kesuksesan Jill.

Sopir Bus, Profesi Idaman Mertua Dahulu Kala

Medan Magnet Bumi Berubah dan Tidak Teratur, Berpengaruh ke Fungsi Navigasi Berbagai Wahana

Inti luar bumi yang cair, sebagian besar terdiri dari besi dan nikel, menghasilkan medan elektromagnetik yang membentang dari kutub utara dan selatan yang melindungi planet ini dari radiasi partikel matahari yang berbahaya.

Baca juga: Setelah 780.000 Tahun, Ilmuwan Sebut Kutub Utara dan Selatan Akan Pindah Tempat Lagi Akibat Medan Magnet Bumi Melemah

Fluktuasi kekuatan medan magnet bumi — yang disebabkan oleh perubahan harian struktur angin matahari dan badai matahari yang terjadi secara berkala — dapat berdampak pada penggunaan model medan geomagnetik yang penting untuk navigasi pada satelit, pesawat terbang, kapal, dan mobil.

Model medan magnet berbeda berdasarkan lokasi pengumpulan data—baik di atau dekat permukaan bumi atau satelit yang mengorbit rendah bumi. Seperti dikutip phys-org, sebuah penelitian telah mengaitkan perbedaan model dengan tingkat aktivitas cuaca luar angkasa, namun analisis terbaru terhadap model medan magnet Bumi dan satelit selama enam tahun menemukan bahwa perbedaan model juga disebabkan oleh kesalahan pemodelan, bukan hanya fenomena geofisika. Hasilnya dipublikasikan dalam Journal of Geophysical Research: Space Physics .

Tim peneliti Universitas Michigan menilai perbedaan antara pengamatan dari satelit orbit rendah Bumi misi Swarm dan model medan magnet Bumi, generasi ketiga belas dari International Geomagnetic Referee Field atau IGRF-13 . Mereka fokus pada perbedaan kondisi geomagnetik rendah hingga sedang yang mencakup 98,1% waktu antara tahun 2014 dan 2020.

Pengamatan satelit yang dikumpulkan di lokasi berbeda di atas Bumi sensitif terhadap fluktuasi medan magnet, sedangkan model medan magnet Bumi menggunakan observasi untuk memperkirakan medan magnet internal Bumi tanpa memperhitungkan pengaruh badai matahari. Model medan magnet internal seperti IGRF-13 digunakan untuk melacak perubahan kutub magnet bumi , seperti pergeseran kutub Utara sekitar 45 km utara-barat laut setiap tahun.

Memahami perbedaan besar ini penting untuk pengoperasian satelit ketika menggunakan IGRF-13 sebagai referensi dan untuk penelitian fisika magnetosfer, ionosfer, dan termosfer bumi.

Ketidakpastian model paling tinggi terjadi di wilayah kutub utara dan selatan dan analisis statistik mengungkapkan bahwa asimetri antara wilayah kutub utara dan selatan merupakan faktor utama yang mendorong perbedaan model.

“Kita sering mengasumsikan medan magnet yang hampir simetris antara wilayah kutub utara dan selatan, namun sebenarnya keduanya sangat berbeda,” kata Yining Shi, asisten ilmuwan peneliti di University of Michigan Climate and Space Science and Engineering dan penulis studi tersebut. .

Kedua kutub geografis dipetakan ke koordinat geomagnetik yang berbeda. Kutub Utara dipetakan pada sekitar 84° Lintang Magnetik (MLAT) dan 169° Bujur Magnetik (MLON) dan kutub Selatan dipetakan pada sekitar −74° MLAT dan 19° MLON.

Jalur orbit kutub satelit Swarm menciptakan bias pengambilan sampel dengan konsentrasi pengukuran yang tinggi di sekitar kutub geografis, yang memperburuk perbedaan model.

Masalah lain yang menyebabkan kekhawatiran komunitas navigasi adalah bahwa medan magnet kutub telah berubah dengan cepat selama sekitar satu dekade terakhir.

Mengapa Pesawat Dilarang Terbang Melintasi Kutub Utara? Ini Jawabannya

Jadi Destinasi Wisata Baru, LRT Jabodebek Diserbu Penumpang Selama Libur Panjang Waisak

Selama empat hari libur panjang Waisak (23 s.d 26 Mei 2024), sebanyak 139.310 pengguna menggunakan LRT Jabodebek. Adapun pada 23 Mei jumlah pengguna jasa mencapai 34.616 pengguna, pada 24 Mei mencapai 40.133 pengguna, pada 25 Mei mencapai 32.294 pengguna, serta pada 26 Mei mencapai 32.267 pengguna.

Baca juga: Tak Sampai Setahun, LRT Jabodebek Telah Layani 10 Juta Penumpang

Manager Public Relations LRT Jabodebek Mahendro Trang Bawono mengatakan LRT Jabodebek sangat senang menjadi pilihan masyarakat menikmati libur panjang Waisak.

Selama libur panjang Waisak LRT Jabodebek menjadi transportasi yang andal dan efisien untuk melakukan perjalanan. Konektivitas dengan moda transportasi lain menjadikan LRT Jabodebek pilihan menarik bagi masyarakat. Menggunakan LRT Jabodebek pun dapat menghindari masyarakat dari macetnya lalu lintas di masa libur panjang.

Mahendro mengatakan LRT Jabodebek telah menjelma menjadi destinasi tersendiri. Selain menggunakannya sebagai sarana transportasi untuk ke tempat yang dituju, ada pula masyarakat yang sengaja memilih menghabiskan waktu liburannya dengan menikmati perjalanan LRT Jabodebek dari stasiun yang satu ke stasiun yang lainnya.

Baca juga: Pertama Kali Beroperasi Saat Lebaran, LRT Jabodebek Layani 250 Ribuan Penumpang: Naik 73 Persen

Melihat tingginya pengguna selama libur panjang Waisak mencerminkan kepercayaan dan keyakinan masyarakat terhadap layanan LRT Jabodebek.

“LRT Jabodebek berkomitmen untuk terus meningkatkan pengalaman pengguna dan menyediakan perjalanan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi semua,” tutup Mahendro.

Ibarat Mimpi Buruk, Turbulensi di Qatar Airways QR17 Ciptakan Trauma pada Penumpang

Penumpang yang ketakutan di pesawat Boeing 787 Qatar Airways QR17 yang terkena turbulensi hebat pada hari Minggu lalu mengenang kembali melihat penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman “benar-benar terbang” di sekitar kabin – dan beberapa di antaranya yakin mereka akan mati.

Baca juga: Qatar Airways QR17 Dihantam Turbulensi 20 Detik, 12 Orang Terluka saat Waktu Penyajian Makanan

“Penerbangan itu menakutkan – sejujurnya, saya masih trauma,” kata Mufassal Ali segera setelah mendarat dengan selamat di Dublin.

“Itu adalah 15 detik terburuk dalam hidup saya,” katanya tentang jatuhnya pesawat secara tiba-tiba yang mengakibatkan 12 orang terluka, termasuk delapan orang yang dirawat di rumah sakit.

“Saya melihat beberapa orang – mereka benar-benar melayang,” katanya tentang orang-orang yang terlempar dari tempat duduk mereka.

Cheryl Sukar mengenang bagaimana Boeing 787 Dreamliner baru saja “fall” di tengah penerbangan. “Sayangnya ada beberapa penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman sehingga terlempar dari tempat duduknya dan kepalanya terbentur,” ujarnya.

Seorang penumpang yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada RTE News bahwa menurutnya momen mengerikan itu adalah “akhir hidupnya”.

Philomena Prendergast berbagi ketakutan yang sama ketika dia berkata bahwa dia “sangat bersyukur bisa turun dari penerbangan.”

“Saat itu sangat menakutkan, Anda tidak tahu – apakah ini benar atau tidak?” dia berkata.

Emma Rose Power mengatakan “ada kepanikan, terlihat kepanikan di mana-mana” ketika penerbangan Doha-Dublin mengalami turbulensi di atas langit Turki.

“Beberapa pramugari mengalami goresan di wajahnya, es di wajahnya… seorang gadis terkena gendongan di lengannya,” kata Power tentang korban luka.

Penumpang lain, Cathal, menunjukkan kepada RTE bagaimana celana pendeknya robek saat insiden tersebut. “Itu sungguh mengerikan… tidak akan pernah lagi,” dia menggelengkan kepalanya, seraya menambahkan bahwa nampan makan malamnya terlempar dari pangkuannya karena turbulensi.

Beberapa penumpang yang tidak terluka masih tampak syok beberapa jam setelah turbulensi. “Itu sangat menakutkan… Saya tidak terburu-buru untuk kembali ke pesawat, saya dapat memberitahu Anda,” seorang wanita bernama Eileen sambil menangis mengatakan kepada RTE.

Rekan Eileen, Tony, mengatakan dia harus menggendong nenek tersebut saat dia sedang tidur dan tidak mengenakan sabuk pengaman saat turbulensi mulai terjadi.

Penumpang bernama Paul Mocc teringat saat melihat orang-orang terluka – dan memuji pramugari yang terluka karena terus melanjutkan layanan kabin selama sisa penerbangan.

Insiden yang mengerikan ini terjadi hanya satu minggu setelah seorang pria Inggris berusia 73 tahun meninggal dan 30 lainnya terluka ketika sebuah penerbangan Singapore Airlines jatuh dari ketinggian 6.000 kaki dan menyebabkan banyak penumpang dan awak kabin mengalami luka serius akibat benturan.

Kurangi Efek Turbulensi, Sebaiknya Pilih Kursi di Dekat Sayap

Kemenhub Ungkap 55 Persen Bus Pariwisata Tidak Sesuai Standar, Mayoritas Belum Perpanjang Uji Kir

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat berkomitmen dalam meningkatkan aspek keselamatan transportasi darat khususnya angkutan pariwisata. Pada momen libur panjang Hari Raya Waisak 2024, Ditjen Perhubungan Darat telah memeriksa sebanyak 984 bus pariwisata yang tersebar di wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, NTB serta sebagian Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Baca juga: Butuh Ruang Besar untuk Baterai, Bus AKAP dan Pariwisata Belum Bisa Gunakan Energi Listrik

“Dari 984 unit bus yang diperiksa, terdapat 445 bus atau 45 persen yang memenuhi aspek administrasi dan persyaratan teknis. Sementara didapati masih banyak bus yang tidak memenuhi aspek administrasi dan persyaratan teknis yaitu sebanyak 539 bus atau 55 persen dari total kendaraan yang diperiksa,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Hendro Sugiatno pada Senin (27/5).

Adapun ditemukan di lapangan, bus yang tidak memenuhi aspek administrasi dan persyaratan teknis tersebut sebagian besar karena tidak melakukan perpanjangan uji kir. Terhadap bus-bus yang belum melakukan perpanjangan uji kir saat pengawasan dilakukan rampcheck oleh para penguji kendaraan untuk kelayakan operasional serta diberikan sanksi tilang.

“Untuk yang hasil rampcheck-nya menunjukkan secara teknis kendaraan tidak laik jalan diminta untuk mengganti kendaraannya. Kemudian, tindakan selanjutnya yaitu kami akan memanggil perusahaan-perusahaan angkutan pariwisata yang tidak memenuhi persyaratan dan tidak sesuai ketentutan untuk diberi sanksi administratif dan dilakukan pembinaan,” tegasnya.

Pada kegiatan ini juga telah dilakukan sosialisasi kepada para penumpang atau pengguna jasa terkait penggunaan aplikasi Mitra Darat dan website mitradarat.dephub.go.id sebagai salah satu media pengecekan izin dan kelaikan armada bus.

“Ke depan pengawasan dan pemeriksaan secara acak atau random checking akan terus dilakukan di seluruh daerah melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD). Tidak hanya memeriksa izin operasional dan kelaikan armada bus, melainkan juga akan dilakukan pengecekan dan pendataan karoseri beserta hasil produksinya,” ungkap Dirjen Hendro.

Apabila ditemukenali kendaraan yang dibuat, dirakit, atau dimodifikasi oleh karoseri tidak sesuai dengan Sertifikat Uji Tipe (SUT) dan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) maka akan ditindaklanjuti.

Baca juga: Mau Duduk Nyaman di Bus? Jangan Salah Pilih Kursi

Selain itu, akan dilakukan pengecekan secara acak (random checking) juga terhadap Unit Pelaksana Uji Berkala Kendaraan Bermotor (UPUBKB). “Kami akan tindak lanjut apabila ada pelaksanaan pengujian berkala kendaraan bermotor yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Semuanya diharapkan bekerja dengan baik dan sesuai dengan aturan yang berlaku,” pungkasnya.

Ia berharap semua pemangku kepentingan dapat terus berkoordinasi dan bekerja sama untuk melakukan monitoring, pemeriksaan, hingga penegakkan hukum pada PO Bus dan/atau pengemudi yang melanggar ketentuan yang berlaku agar memberikan efek jera.

‘On Time Performance’ Tak Cuma Milik Dunia Penerbangan

On time performance (OTP) atau ketepatan waktu dalam keberhasilan layanan merupakan salah satu hal penting yang harus diperlihatkan dalam kualitas transportasi. Mungkin bagi Anda lebih sering mendengar OTP ini pada industri penerbangan, padahal OTP tak khusus di dunia penerbangan saja, moda transportasi darat dan laut juga punya parameter OTP tersendiri.

Baca juga: Garuda Indonesia Klaim ‘On Time Performance’ Embarkasi Haji 2017 Adalah Yang Terbaik

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, setiap moda transportasi memiliki waktu OTP masing-masing dan bila dilanggar, maka OTP tak lagi berlaku. Sebab, bila terjadi keterlambatan, penumpang yang menggunakan moda transportasi tersebut harus menyesuaikan kembali jadwal mereka untuk sampai ke tujuan.

Pada transportasi darat seperti bus, keterlambatan secara internasional sebenarnya ‘hanya’ diperbolehkan lima menit. Tetapi, karena rata-rata bus menggunakan jalur yang sama dengan kendaraan lain alias berbaur di lalu lintas jalan maka bus kerap terlambat dan memiliki OTP yang buruk dimata masyarakat.

Namun, Bus Rapid Transit (BRT) memiliki ketepatan waktu dimana memiliki infrastruktur jalan yang dibangun secara khusus untuk kinerja waktu lebih baik, layanan kecepatan tinggi dan ini membedakan dengan bus biasa. Tak berbeda jauh dengan BRT, sistem perkeretaapian baik itu MRT, LRT maupun kereta commuter biasanya tidak akan terganggu masalah OTP. Kasus yang berbeda dengan BRT TransJakarta, karena tak semua lintasannya eksklusif, maka TransJakarta belum bisa menerapkan OTP.

OTP pada moda kereta api dipandang lebih baik dari bus, dengan basis rel maka molosnya OTP lebih bisa diminimalisir, hanya saja faktor-faktor teknis masih kerap menjadi batu sandungan, seperti anjloknya kereta dan masalah gangguan persinyalan.

Sedangkan untuk kapal laut dan kapal ferry, OTP juga sangat dibutuhkan, meski tak bisa berlaku secepat pesawat dan kereta, nyatanya OTP menjadi faktor yang amat diperhitungkan, maklum yang dibawa seperti kapal ferry tak hanya manusia, tapi juga berupa kendaraan berukuran besar dengan muatan bahan-bahan penting dan diutuhkan. Di musim Lebaran 2017, PT ASDP Indonesia Ferry memberikan batas waktu satu jam bagi kapal yang baru tiba untuk bongkar muat sebelum berlayar kembali.

Di lingkup maskapai penerbangan internasional, keterlambatan yang masih bisa ditolerir sekitar 15 menit dari waktu keberangkatan yang di jadwalkan. Waktu 15 menit ini biasanya sudah mempertimbangkan faktor-faktor di bandara seperti lepas landas di landasan pacu hingga kendali kontrol lalu lintas udara pada bandara tersebut. Bagi dunia penerbangan yang mengutip tarif lebih tinggi, keterlambatan atas OTP sudah menjadi perhatian serius, dibuktikan dengan peraturan ganti rugi kepada pengguna jasa atas keterlabatan penerbangan.

Baca juga: Lion Air, Punya Citra Buruk Soal Keterlambatan Jadwal Penerbangan

Seperti baru-baru ini, Garuda Indonesia, mengatakan OTP pada pemberangkatan dan pemulangan jemaah Haji dari dan ke Tanah Air memiliki OTP yang baik. Dimana jika dibandingkan dengan tahun 2016 meningkat 2,34 dan dibandingkan dengan rata-rata capaian OTP layanan haji tahun 2016 sebesar 93 persen.

Hub transportasi yang menjadi tujuan transit juga menjadi satu hal yang bisa membuat moda transportasi memiliki ketepatan dalam kinerja atau OTP nya. Sebab, di dalam sebuah hub pastinya banyak moda transportasi yang digunakan untuk melakukan perjalanan ke berbagai destinasi, apalagi sebagai hub besar transit penerbangan seluruh dunia. Biasanya OTP menjadi layanan yang paling utama dilakukan hub tersebut.

Bukan ‘On Time Performance’, Garuda Indonesia Intensifkan Mitigasi Keterlambatan Penerbangan Haji

On Time Performace (OTP) lazimnya menjadi kebanggaan bagi Garuda Indonesia dalam penyelenggaraan layanan Haji. Namun, berbeda dengan pelayanan Haji di tahun 2024. Garuda Indonesia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh calon jemaah haji yang terdampak keterlambatan penerbangan Haji.

Baca juga: Angkut Jamaah Haji, Boeing 747-400 Garuda Indonesia GA-1105 Return to Base di Makassar

Garuda Indonesia kini terus mengintensifkan berbagai langkah mitigasi dalam mengoptimalkan kelancaran penerbangan Haji pasca keterlambatan jadwal keberangkatan pada beberapa kloter penerbangan, menyusul penatalaksanaan prosedur safety armada guna memastikan fokus keselamatan penerbangan dapat terus terjaga.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyampaikan, “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan para calon jemaah haji di beberapa kloter keberangkatan yang mengalami keterlambatan penerbangan, serta kepada otoritas penerbangan haji yang terus bekerja dengan optimal dalam memastikan kelancaran layanan haji bagi masyarakat Indonesia.”

Irfan menambahkan, “Tidak dapat dipungkiri terdapat beberapa catatan krusial keterlambatan penerbangan pada keberangkatan sejumlah kloter dari beberapa embarkasi dimana salah satunya dikarenakan adanya sejumlah penyesuaian jadwal penerbangan pada kloter keberangkatan dari embarkasi Makassar beberapa waktu lalu. Kami pastikan manajemen beserta seluruh tim yang bertugas terus bekerja keras mengerahkan segala upaya untuk memperbaiki hal tersebut, termasuk dengan turut mengoptimalkan kesiapan armada penerbangan haji melalui penggunaan pesawat yang saat ini dioperasikan untuk penerbangan reguler,” ungkap Irfan.

”Lebih lanjut, kami sangat menghargai adanya teguran, peringatan serta masukan yang telah disampaikan berbagai stakeholders pelayanan penerbangan haji, baik itu dari Kementerian Agama RI, Kementerian Perhubungan RI, hingga Pemerintah Daerah. Kami memohon maaf karena tidak memberikan jawaban dan tanggapan mengenai berita yang muncul di publik, karena kami berupaya untuk meminimalisir polemik berkepanjangan tersebut. Oleh karenanya, saat ini kami lebih memfokuskan diri dalam memastikan proses percepatan corective actions berjalan dengan lancar”, jelas Irfan.

Irfan menambahkan, “Garuda Indonesia berkomitmen untuk menjaga dan meningkatkan tingkat ketepatan waktu penerbangan haji selaras dengan berbagai masukan yang disampaikan berbagai stakeholder terkait”.

Adapun bentuk corrective actions yang tengah Garuda Indonesia jalankan di antaranya melalui prosedur inspeksi berlapis terhadap kesiapan armada, peningkatan fungsi pengawasan yang turut dikolaborasikan bersama stakeholders terkait dalam memastikan program aircraft readiness berjalan optimal, penyediaan armada cadangan pada berbagai embarkasi guna menjaga kelancaran arus keberangkatan calon jemaah haji sesuai dengan waktu keberangkatan yang ditentukan, serta program service recovery yang turut kami berlakukan secara konsisten bagi seluruh penumpang calon jemaah haji.

“Dapat kami sampaikan hingga minggu kemarin (26/5), Garuda Indonesia tercatat telah memberangkatkan sekitar 152 kelompok terbang (kloter) dengan jumlah jemaah mencapai sedikitnya 57 ribu jemaah”, jelas Irfan.

Irfan menekankan, “Kami akan terus memantau secara berkala kelancaran operasional penerbangan haji, sekiranya memerlukan langkah mitigasi lanjutan yang diperlukan guna meminimalisir potensi keterlambatan lanjutan pada penerbangan haji yang kami layani. Hal ini yang turut kami optimalkan melalui sinergi bersama otoritas penerbangan terkait khususnya dalam menjaga level of safety and service yang merupakan prioritas utama kami pada seluruh penerbangan agar berjalan optimal.”

Dengan OTP 91,20 Persen, Garuda Indonesia Tuntaskan Fase Pemberangkatan Calon Jamaah Haji 2019