Tiga Pakaian yang Dilarang Digunakan Penumpang Pesawat, Nomor Tiga Kebangetan

Kebanyakan penumpang pesawat berpikir bahwa maskapai tak mengatur ketat pakaian yang dikenakan. Itu memang salah namun tidak sepenuhnya benar. Terdapat beberapa pakaian yang dilarang digunakan penumpang. Pakaian apakah itu?

Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Menurut mantan pramugari yang berpengalaman selama 22 tahun di dunia penerbangan, pakaian pertama yang dilarang dikenakan penumpang pesawat adalah piyama. Tak disebutkan secara pasti kenapa piyama dilarang maskapai. Tetapi, besar kemungkinan terkait masalah kesopanan dan kepatutan.

Hanya saja, Susan menggarisbawahi bahwa penumpang bisa saja mengenakan piyama selama itu bukan milik pribadi alias diberikan oleh maskapai. Dalam penerbangan panjang sekitar 12 jam, terlebih penerbangan lintas benua pada malam hari, beberapa maskapai menyediakan piyama kepada penumpang untuk membuatnya lebih nyaman beristirahat.

Kedua, pakaian yang tidak boleh dikenakan penumpang pesawat adalah pakaian yang terlalu harum. Sebetulnya bukan pakaiannya tetapi parfumnya yang menjadi persoalan.

Memakai parfum dengan aroma yang terlalu kuat dapat menyebar ke seluruh kabin dan membuat beberapa penumpang yang sensitif terganggu. Hal ini bukan tidak pernah terjadi. Tahun lalu, seorang penumpang wanita salah satu maskapai kena semprot seisi pesawat lantaran memakai parfum terlalu banyak dan beraroma kuat saat di pesawat.

Ketiga adalah pakaian renang. Bagi penumpang rute perkotaan, mungkin terdengar aneh mengenakan pakaian renang. Bisa dibilang mustahil. Tetapi, di beberapa maskapai terlebh rute-rute destinasi wisata favorit seperti Hawaii, tak sedikit penumpang yang berani mengenakan pakaian itu.

Terbukti, saking seringnya penumpang pesawat yang mengenakan pakaian renang, maskapai, dalam hal ini Hawaiian Airlines memasukkan larangan mengenakan pakaian renang dalam list pakaian terlarang maskapai. “Pakaian renang tidak dapat diterima,” tulis maskapai di situs webnya.

Menurut pakar penerbangan Christine Negroni, di luar tiga itu, ada pakaian yang tidak dilarang tetapi sebaiknya dihindari penumpang. Pakaian itu adalah legging atau berbahan artificial fibres atau semacam karet. Kenapa demikian?

Lebih lanjut, menurut Negroni, meski menyandang status sebagai moda transportasi paling aman di dunia, bukan tidak mungkin terjadi keadaan darurat pada pesawat, termasuk kebakaran. Saat terjadi kebakaran, pakaian berbagan karet akan cenderung menempel di kulit dan ini membahayakan penumpang.

Sebagai gantinya, Negroni menyarankan penumpang agar mengenakan pakaian berbahan katun atau serat alami, bukan serat buatan seperti legging atau bahan karet lainnya.

Baca juga: Duuh.. Penumpang Pesawat ini Gunakan Pakaian Dalam Sebagai Masker Wajah

“Semua orang memakai celana yoga (legging) di pesawat sekarang, tapi saya menghindari semua serat buatan karena lebih cenderung terbakar dan menempel pada Anda jika ada api,” jelasnya. “Saya sarankan mengenakan pakaian katun atau apa pun yang terbuat dari serat alami,” tutupnya, seperti dikutip dari The Sun.

Menurut pakar penerbangan lainnya, sedikitnya ada enam pakaian yang dilarang penumpang kenakan, mulai dari celana pendek, pakaian ketat, high heels, legging, sandal jepit, dan celana jeans.

Lebih Mewah, Emirates Luncurkan Desain Piyama Baru untuk Penumpang Kelas Bisnis

Emirates punya cara yang unik untuk memaksimalkan penerbangan jarak jauh bagi para penumpang di kelas bisnis. Salah satunya adalah dengan menyajikan piyama untuk penerbangan dengan durasi lebih dari 9 jam. Nah, ada kabar bahwa maskapai asal Uni Emirat Arab tersebut telah merancang piyama baru yang sesuai dengan tren olahraga.

Baca juga: Tempat Tidur di Kabin Kelas Satu – Kenyamanan, Kemewahan dan Keselamatan ‘Jadi Satu’

Emirates telah mengumumkan bahwa akan meluncurkan rangkaian piyama baru untuk penumpang kelas bisnis sebagai bagian dari investasinya. Piyama baru ini siap tersedia mulai 1 Februari 2024.

Set pakaian santai dalam pesawat yang dirancang baru untuk pelanggan kelas bisnis kini mencakup atasan leher cowl yang santai, celana serut, sandal yang nyaman, dan penutup mata yang serasi dengan warna.

Menurut pihak maskapai, piyama tersebut dibuat agar pas untuk penerbangan, menjadikannya sempurna untuk tidur dan juga untuk menikmati minuman di ruang tunggu dalam pesawat Airbus A380. Loungewear juga dapat digunakan untuk berjalan kaki dari pesawat menuju area kedatangan di bandara.

Pakaian santai ini terbuat dari bahan bahan premium super lembut, ringan dan menyerap keringat, kata Emirates. Piyama ini didesain dengan tren athleisure terkini, yaitu gaya hybrid yang melibatkan pakaian sporty namun modis. Pakaian santai tersebut, yang bahannya diberi warna biru muda yang menenangkan, akan tersedia dalam dua ukuran, dengan serat botani dan gaya rajutan jersey yang menghasilkan tirai elegan yang cocok dengan berbagai tipe tubuh. Ini akan memastikan kenyamanan lembut dan elastis saat terbang.

Tiga Pakaian yang Dilarang Digunakan Penumpang Pesawat, Nomor Tiga Kebangetan

Emirates akan menghadirkan piyama baru dalam complementary drawstring pouch, dengan setiap set berisi atasan dan celana yang dapat disesuaikan, sepasang sandal, dan penutup mata. Ini akan ditawarkan saat menaiki pesawat, memungkinkan penumpang untuk berganti pakaian kapan pun mereka mau, memastikan kenyamanan maksimal mereka.

Namun, pakaian santai lengkap hanya akan didistribusikan pada penerbangan berdurasi sembilan jam atau lebih. Pada penerbangan berdurasi dua jam 30 menit, penumpang kelas bisnis hanya akan menerima sandal dan set masker mata.

Ada Luhut di Balik Impor KRL Baru KAI Commuter dari CRRC Sifang Cina

KAI Commuter bersama CRRC Sifang Co., Ltd. melakukan penandatanganan Kontrak Kerjasama Pengadaan Sarana Kereta Rel Listrik (KRL) Baru pada 31 Januari 2024 di Beijing, Cina. Meski tidak ada dalam penandatanganan kontrak tersebut, ternyata Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan berperan dalam hal ini.

Baca juga: Teken Kerja Sama, KAI Commuter dan INKA Siap Pengadaan 16 Rangkaian KRL Untuk Operasi 2024

Pada penandatangan Kontrak Kerjasama Pengadaan Sarana KRL tersebut KAI Commuter diwakili oleh Direktur Utama Asdo Artriviyanto dan disaksikan langsung oleh Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Indonesia untuk negara China Parulian George Andreas Silalahi, Sari Widita (Sekretaris I Kedubes RI), Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo sebagai Induk usaha KAI Commuter, Kementerian BUMN, dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

Asdo menyampaikan bahwa pada Kontrak Pengadaan Sarana KRL Baru ini, KAI Commuter membeli 3 (tiga) rangkaian KRL baru dengan tipe KCI-SFC120-V. “Pengadaan sarana KRL baru ini merupakan pemenuhan atas jumlah sarana KRL sesuai dengan kebutuhan pelayanan pengguna Commuter Line Jabodetabek tahun 2024 -2025 yang sudah mencapai hampir 1 juta pengguna per harinya,” ujar Asdo.

Pengadaan sarana KRL baru ini juga merupakan bagian dari rangkaian pemenuhan sarana KRL Jabodetabek yang dibahas dalam Rapat Koordinasi yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan pada bulan Juni 2023 lalu yang juga dihadiri oleh Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, BPKP, PT INKA, dan stakeholder lainnya.

Dalam pemenuhan pengadaan sarana KRL ini, KAI Commuter sudah melakukan penandatanganan kerjasama pengadaan sarana KRL antara lain:

1. Pengadaan 16 (enam belas) rangkaian sarana KRL baru oleh PT INKA dengan total investasi hampir sebesar Rp 3,83 triliun.
2. Pengadaan 19 (Sembilan belas) rangkaian KRL Retrofit oleh PT INKA degan total investasi lebih dari Rp. 2,23 triliun.
3. Pengadaan 3 (tiga) rangkaian KRL Baru Impor oleh CRRC Sifang, China dengan total investasi sekitar Rp. 783 miliar.

Adapun seluruh pembiayaannya dari pinjaman KAI Commuter, Shareholder Loan dari PT KAI dan bantuan dari Pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

KAI Commuter menyampaikan terimakasih atas dukungan Pemerintah & stakeholder terhadap pengadaan sarana KRL ini termasuk mensupport pendanaan melalui PMN. “Pengadaan Impor sarana KRL baru ini juga merupakan proses terakhir dari rangkaian pengadaan sarana KRL oleh KAI Commuter sesuai hasil Rapat Koordinasi yang dipimpin Menko Marves tersebut,” tambah Asdo.

Pengadaan sarana KRL ini dilakukan untuk penambahan kapasitas angkut pengguna dan replacement sarana KRL yang akan diretrofit oleh PT INKA. Sarana KRL yang sudah memasuki masa peremajaan secara bertahap akan terus dilakukan penggantiannya dengan proses retrofit untuk menjaga kebutuhan operasional layanan Commuter Line Jabodetabek dengan target 1,2 juta pengguna per hari pada tahun 2025.

Tahun 2023 kemarin, KAI Commuter mencatat total pengguna Commuter Line Jabodetabek sebanyak 290.890.677 orang. Angka tersebut lebih besar 38% jika dibanding volume pada tahun 2022 yaitu sebanyak 239.254.813 orang. KAI Commuter juga memprediksi pertumbuhan volume pengguna Commuter Line Jabodetabek sebesar 4% per tahun atau bertambah sebanyak 16,98 juta pengguna setiap tahunnya.

Sebelumnya pada 9 November 2023 lalu, KAI Commuter juga telah melakukan penandatanganan MoU dengan CRRC Qingdao Sifang Co. Ltd. untuk kerja sama saling menguntungkan dalam pengembangan sarana perkeretaapian di Indonesia.

Mulai dari pengadaan sarana Electric Multilple Unit (EMU) atau sarana kereta berpenggerak dengan tenaga listrik maupun Diesel Multiple Unit (DMU) atau sarana kereta berpenggerak dengan tenaga diesel.

Baca juga: Kenapa Ada Pintu Depan di Kabin Masinis KRL Jepang? Ini Jawabannya

MoU tersebut juga sebagai wadah untuk sharing teknologi, perawatan sarana, peningkatan kapasitas sarana, pengadaan suku cadang, dan peningkatan SDM perkeretaapian. Nota kesepahaman kerja sama ini juga merupakan pembaruan dari kerja sama yang telah dilakukan tahun-tahun sebelumnya.

“Hal ini perlu dilakukan mengingat teknologi perkeretaapian yang terus berkembang. Ini merupakan salah satu upaya KAI Commuter untuk meningkatkan teknologi perkeretaapian,” Tutup Asdo.

Scot Rail Tawarkan Desain Gerbong Baru Khusus untuk Pesepeda

Banyak para pengendara sepeda yang juga penumpang berharap agar mereka bisa membawa sepeda bersama dalam kereta yang ditumpangi. Beberapa kereta yang dioperasikan di berbagai negara pun telah mendengarkan harapan para pesepeda tersebut, seperti salah satunya yang telah dijalankan MRT Jakarta beberapa waktu lalu.

Baca juga: Jadi Kapan Indonesia Punya Kereta yang Bisa Bawa Sepeda Tanpa Masuk Logistik?

Bahkan para pesepeda gunung bisa dengan mudah membawa sepedanya ke dalam gerbong dan ada tempat khusus untuk meletakkanya. Contohnya Scot Rail di Skotlandia memiliki kereta bagi penjelajah di dataran tinggi. Yang mana gerbong baru di kereta tersebut memiliki ruang untuk 20 sepeda dan tersedia untuk dipesan oleh pengendara sepeda.

Salah satu gerbong penyimpanan sepeda di kereta

Dilansir KabarPenumpang.com dari road.cc, penumpang juga bisa memiliki area tempat duduk yang berdekatan plus WiFi dan soket listrik. Namun nyatanya terkadang membawa sepeda ke dalam kereta bukanlah tanpa masalah.

Eburtthebike mengatakan, masalahnya sama seperti transportasi itu sendiri. Merancang ruang untuk sepeda ternyata tak semua orang memiliki pengetahuan, pengalaman maupun kualifikasi dengan ide jenius untuk hal tersebut.

Semua komentar tentang parkir sepeda Proteus itu akurat dan desainnya memiliki begitu banyak kekurangan yang akan langsung dibuang di negara mana pun di mana bersepeda adalah arus utama.”

Baca juga: Ridership Meningkat, MRT Jakarta Hadirkan Kereta Khusus Pesepeda Non Lipat

“Ada banyak saran di luar sana tentang apa yang membuat parkir sepeda bagus. Ruang sepeda di kereta harus mengikuti prinsip yang sama persis hanya di dalam gerbong daripada di dalam (atau di luar) gedung. Saya kira ini tidak perlu dikatakan lagi , tapi kendala utama lainnya untuk naik sepeda di kereta api adalah proses pemesanan. Setiap operator yang berbeda memiliki sistemnya sendiri, dan (sejauh yang saya tahu) tidak ada sistem yang sama sekali bagus,” ujar OnYerBike.

Swiss Uji Coba Gerbong Kereta dengan Kursi Lipat untuk Parkir Sepeda

Meski mengakomodasi penumpang sepeda sangatlah penting, tempat parkir sepeda di kereta tidak dapat menampung non-pengendara sepeda saat tidak digunakan. Namun, pengaturan eksperimental yang saat ini sedang diujicobakan di Swiss mungkin akan segera mengubah hal tersebut.

Baca juga: Scot Rail Tawarkan Desain Gerbong Baru Khusus untuk Pesepeda

Area tempat duduk yang dapat diubah saat ini sedang diuji pada gerbong penumpang Stadler FLIRT (Fast Light Intercity and Regional Train) yang dioperasikan oleh jalur kereta Schweizerische Südostbahn (SOB) di Swiss.

Dikutip New Atlas, pada hari-hari biasa umumnya hanya ada sedikit penumpang sepeda yang naik kereta, maka keempat kursi dikonfigurasikan seperti yang ada di kereta lainnya, lengkap dengan sandaran kepala dan sandaran punggung yang berkontur. Hal ini memungkinkan kursi mobile tersebut digunakan oleh penumpang yang seharusnya harus berdiri jika sisa kursi.

Di lain waktu, ketika ada pengendara sepeda yang harus diantisipasi, pegawai jalur kereta api dapat dengan cepat dan mudah melipat keempat kursi sehingga mereka duduk bersandar pada dinding. Dengan melakukan hal tersebut, simbol sepeda akan terlihat di lantai, sehingga semua orang mengetahui tujuan area tersebut. Area tempat duduk serupa di seberang lorong menyediakan ruang penyimpanan bagasi saat kursinya dilipat.

Yang penting, meskipun kursinya sendiri istimewa, kursi tersebut dapat dipasang pada titik pemasangan mobil FLIRT yang sudah ada. Artinya, tidak ada modifikasi yang perlu dilakukan pada kereta api yang menggunakan sistem ini, sehingga menghemat biaya dan memudahkan penerapannya.

Pengguna Sepeda Non Lipat Bisa Bawa Masuk Sepeda ke Kereta di Fukuoka

Penyiapan ini merupakan bagian dari proyek percontohan Innovative Flächenbewirtschaftung im Zug yang didanai pemerintah federal selama satu tahun, yang dimulai bulan lalu dan berlangsung hingga Desember ini.

Anda dapat melihat bagaimana area tempat duduk dikonfigurasi ulang dalam animasi di bawah ini.

 

Mengapa Airbus A330 Sangat Diminati di Asia-Pasifik? Inilah Alasannya

A330 memang bukanlah pesawat Airbus paling mentereng di angkasa. Pamor dan kemampuannya tentu masih kalah jauh dibanding saudara kandungnya, Airbus A350. Tetapi, sejak pertama kali beroperasi pada 1990-an, pesawat ini mendapat begitu banyak peminat di seluruh dunia, utamanya di Asia-Pasifik, dimana 42 persen total pesawat A330 dioperasikan oleh maskapai-maskapai besar di sana. Mengapa demikian?

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Airbus A330 Sang Penantang Boeing 767 Terbang Perdana

Airbus A330 disebut sebagai pesawat twin engine andal, besar, nyaman, dan dapat memuat banyak penumpang dalam sekali angkut. Selain itu, pesawat juga disebut hemat bahan bakar. Tak ayal, dengan efisiensi dan efektivitas, Airbus A330 begitu diandalkan maskapai Asia-Pasifik (dan juga maskapai lainnya) dalam berbagai situasi, baik itu rute jarak pendek ataupun jarak jauh lintas benua.

Per 30 November 2020 lalu, Airbus telah mengirimkan 1.506 A330 ke maskapai di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 604 unit atau 42 persennya dimiliki oleh maskapai penerbangan yang berbasis di kawasan Asia-Pasifik. Sisanya, 359 unit atau 25 persen dikirim ke maskapai penerbangan berbasis di Eropa dan 100 unit lainnya atau 6,6 persen dari total produksi dioperasikan oleh maskapai Amerika Utara.

Dalam daftar 10 maskapai terbesar yang mengoperasikan A330, tujuh di antaranya didominasi oleh maskapai-maskapai di Asia-Pasifik; mulai dari China Southern Airlines, Qantas, Cathay Pacific, China Eastern Airlines, Air China, Korean Air, dan Hainan Airlines. Lebih luas lagi, dari 20 maskapai teratas di seluruh dunia yang mengoperasikan A330, 12 di antaranya berbasis di Asia; termasuk Turkish Airlines, Air Asia, dan maskapai-maskapai Indonesia, seperti Citilink, Garuda Indonesia, dan Lion Air Group.

Laporan Simple Flying, popularitas A330 di Asia-Pasifik hampir dipastikan tak terlepas dari pengaruh Boeing 787 Dreamliner. Dengan berbagai isu permasalahan pada mesin dan sistem oksigen darurat pada pesawat itu, praktis, penumpang jadi khawatir untuk terbang bersamanya dan maskapai mau tak mau mencari pesawat lain yang bisa membuat penumpang nyaman dan merasa aman; dalam hal ini pesawat yang serupa dengan 787 Dreamliner.

Baca juga: Usai Raih 63.900 Jam, Airbus A330-300 Pertama di Dunia Pensiun

Hal ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi Airbus, mengingat Asia-Pasifik merupakan pasar besar yang sangat berpengaruh untuk kesuksesan perusahaan. Sebab, pangsa pasar Amerika Utara sudah pasti tak bisa berbuat banyak, dimana isu nasionalisme mendorong maskapai di sana menggunakan pesawat-pesawat Boeing.

Selain memiliki populasi besar, mencapai 60 persen dari total populasi di dunia atau sekitar empat miliar orang, pertumbuhan pasar penerbangan di sini juga tergolong cepat, baik rute regional antar negara di Asia maupun lintas benua ke Eropa dan Benua Amerika. Sudah begitu, Asia, secara umum, juga dinilai akan menjadi pusat peradaban masa depan Barat. Menarik ditunggu, akankah di masa mendatang keluarga Airbus A330 terus menjadi pilihan favorit maskapai Asia-Pasifik?

Ferrovia Vaticana – Jalur Kereta Bersejarah 1 Km di Dalam Kota Vatikan

Terletak di bagian barat Roma, Vatikan hanya punya luas wilayah 44 hektar. Namun tahukah Anda, bahwa di dalam kota Vatikan terdapat jalur kereta, memang bukan jalur kereta umum, namun Ferrovia Vaticana, atau jalur kereta di dalam wilayah Vatikan punya sejarah panjang yang menarik untuk diketahui.

Baca juga: Selain Keterbatasan Wilayah, Inilah Alasan Mengapa Vatikan Tidak Memiliki Bandara

Dari sejarahnya, Ferrovia Vaticana didirikan pada tahun 1934 oleh Paus Pius XI untuk mendukung konstruksi Basilika Santo Petrus. Saat itu, pembangunan basilika membutuhkan transportasi material konstruksi ke situs pembangunan. Jalur ini berfungsi sebagai sarana transportasi untuk memindahkan bahan bangunan, batu, dan material konstruksi dari stasiun kereta di luar Vatikan ke lokasi pembangunan Basilika Santo Petrus di dalam Vatikan.

Ferrovia Vaticana memiliki rute sekitar 1,19 km dan berjalan dari stasiun kereta di luar Vatikan menuju ke lokasi pembangunan basilika di dalam Vatikan. Meskipun lintasan ini relatif singkat, pada saat pembangunan Basilika Santo Petrus, jalur ini sangat penting untuk mengangkut material konstruksi dan bahan bangunan dari stasiun kereta di luar wilayah Vatikan ke lokasi pembangunan di dalam Vatikan.

Setelah selesainya proyek konstruksi, Ferrovia Vaticana tidak lagi digunakan secara intensif. Meskipun masih ada di tempat, jalur ini tidak berfungsi untuk keperluan umum atau transportasi publik. Saat ini, sebagian besar jalur tersebut mungkin telah menjadi benda sejarah atau mendukung fungsi internal Vatikan yang tidak diketahui secara terbuka.

Baca juga: Fisker Kembangkan Mobil Listrik Khusus Paus Fransiskus di Vatikan

Ferrovia Vaticana mewakili bagian dari sejarah pembangunan Basilika Santo Petrus dan memberikan gambaran tentang usaha dan logistik yang diperlukan untuk membangun struktur sebesar itu pada masanya.

All_Aboard – Aplikasi Pemandu Tunanetra ke Halte Bus dengan Teknologi Bip “Sonar”

Meski sudah ada aplikasi yang memandu pengguna tunanetra ke perkiraan koordinat GPS halte bus, namun tunanetra mungkin tanpa sadar berdiri terlalu jauh dari halte sebenarnya. Nah, sebuah aplikasi baru mengatasi kekurangan itu, dengan membiarkan kamera ponsel pintar mengambil tindakan.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Dikenal sebagai All_Aboard, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial intelligencet/AI) ini dikembangkan oleh tim ilmuwan di pusat penelitian dan perawatan Mata dan Telinga Massachusetts yang berafiliasi dengan Universitas Harvard. Aplikasi ini dibuat untuk digunakan bersama dengan aplikasi navigasi berbasis GPS pihak ketiga seperti Google Maps.

Pengguna memulai dengan memanfaatkan aplikasi lain untuk mencapai perkiraan lokasi halte bus. Mereka kemudian membuka All_Aboard dan mengangkat ponsel cerdasnya agar kamera belakangnya dapat “melihat” jalan di sekitarnya.

Dengan memanfaatkan jaringan saraf pembelajaran mendalam yang dilatih pada sekitar 10.000 gambar halte bus di kota tersebut, aplikasi ini dilaporkan mampu mengidentifikasi secara visual tanda perhentian target jika berada dalam jarak hingga 50 kaki (15 meter) jauhnya. Setelah tanda tersebut terlihat, aplikasi akan memandu pengguna melalui bunyi bip seperti sonar yang mengubah nada dan kecepatan saat orang tersebut semakin dekat ke halte bus.

Dikutip New Atlas, Dalam uji lapangan, 24 relawan tuna netra menggunakan Google Maps dan All_Aboard untuk menemukan total 20 halte bus – 10 di lingkungan perkotaan (Boston) dan 10 di lingkungan pinggiran kota (Newton, Massachusetts).

Mudahkan Tunanetra, Ransel ini Dibekali “Kecerdasan Buatan” untuk Bantu Navigasi

Dalam hal mendekati perhentian tersebut, Google Maps sendiri memiliki tingkat keberhasilan hanya 52%, sedangkan All_Aboard meningkatkan angka tersebut menjadi 93%. Selain itu, meskipun jarak rata-rata antara titik akhir peta dan halte bus sebenarnya adalah 6,62 meter (21,7 kaki) dengan Google Maps, jaraknya hanya 1,54 m (5 kaki) dengan All_Aboard.

All_Aboard sejauh ini telah tersedia untuk melayani di 10 kota besar di seluruh dunia, dan tersedia untuk digunakan di iPhone melalui App Store.

Garuda Indonesa Beli Sertiikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, Apakah Itu?

Garuda Indonesia memperkuat komitmennya dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas rumah kaca. Komitmen tersebut yang salah satunya dilakukan melalui pembelian Sertifikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) di Bursa Karbon di IDX (Bursa Efek Indonesia) yang sekaligus menjadi pembelian perdana sertikat pengurangan emisi yang dilaksanakan Garuda Indonesia.

Baca juga: Upaya Kurangi Emisi Karbon, Garuda Indonesia Gelar Program Carbon Offsetting

Sertifikat Penurunan Emisi (SPE) merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan penurunan emisi yang terdokumentasikan dalam surat bentuk bukti pengurangan emisi oleh usaha dan/atau kegiatan yang telah melalui Pengukuran, Pelaporan, dan Verifikasi, atau Measurement, Reporting, and Verification serta tercatat dalam Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim dalam bentuk nomor dan/atau kode registrasi.

Pembelian sertifikat penurunan emisi tersebut merupakan bagian dari rangkaian program “Carbon Neutral Flight” di Garuda Indonesia yang merupakan wujud komitmen jangka panjang Perusahaan dalam mendukung langkah dekarbonisasi melalui konversi emisi karbon yang ditimbulkan pada operasional penerbangan. Program tersebut yang salah satunya turut dilakukan melalui metode “Carbon Offset” melalui pembelian sertifikasi penurunan emisi milik Pertamina Patra Niaga.

Adapun nantinya pelaksanaan Program Carbon Neutral Flight ini tidak hanya akan dilaksanakan melalui pembelian sertifikat penurunan emisi (SPE) yang tersedia di Bursa Karbon nasional, melainkan juga sertifikat penurunan emisi berskala global sesuai standar ICAO CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation). Tahap awal Program Carbon Neutral Flight tersebut juga telah diimplementasikan pada penerbangan Joy Flight HUT GA ke-75 yang sebelumnya dilaksanakan pada hari Selasa (23/1) yang lalu dan akan dilaksanakan secara berkesinambungan pada berbagai penerbangan lainnya.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-75 Garuda Indonesia serta menjadi wujud implementasi komitmen Perusahaan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060 yang telah diterapkan oleh Pemerintah. Komitmen ini yang kedepannya akan terus kami perkuat melalui kebijakan korporasi yang mengedepankan fokus sustainabilibity dalam seluruh aspek operasional perusahaan.

Empat Langkah Kurangi-Bebas Emisi Karbon Pesawat, Apa Saja?

“Pelaksanaan program ini juga sejalan dengan tema HUT Garuda Indonesia yang ke-75 “Celebrating Unity for The Greater Future” dimana langkah ini merupakan bentuk aktif partisipasi Garuda Indonesia sebagai national flag carrier untuk berkontribusi menjadi garda terdepan dalam mendukung upaya pengurangan emisi karbon yang salah satunya dilaksanakan melalui penerbangan netral karbon. Melalui program Carbon Neutral Flight tersebut, Garuda Indonesia menerapkan perhitungan offset atas carbon footprint yang dihasilkan oleh penerbangan joy flight,” jelas Irfan.

Penumpang Meningkat, LRT Jabodebek Tetap Beroperasi Sampai Pukul 23.03 WIB Selama Februari

KAI memperpanjang penerapan penambahan waktu layanan LRT Jabodebek hingga bulan Februari. Dengan perpanjangan penambahan waktu layanan ini, selama bulan Februari LRT Jabodebek akan tetap melayani pengguna hingga pukul 23.03 WIB.

Baca juga: Penumpang Meningkat, LRT Jabodebek Tambah Jadwal Perjalanan, Berikut Jadwal Lengkap Keberangkatannya

Manager Public Relations LRT Jabodebek, Mahendro Trang Bawono mengatakan perpanjangan penambahan waktu layanan ini sebagai respon terhadap antusiasme yang luar biasa dan tingginya minat masyarakat menggunakan LRT Jabodebek.

Pasca penerapan penambahan waktu layanan mulai 16 Januari lalu, minat masyarakat untuk menggunakan LRT Jabodebek semakin tinggi, hal ini dilihat dari meningkatnya jumlah pengguna LRT Jabodebek.

Pada periode 16-29 Januari 2024 LRT Jabodebek melayani sebanyak 552.903 pengguna, jumlah ini naik 16 persen dibandingkan pada periode yang sama pada bulan Desember 2023 yakni sebanyak 478.256 pengguna.

Penambahan waktu layanan ini juga berdampak pada jumlah perjalanan LRT Jabodebek yang bertambah hingga 264 perjalanan pada hari kerja (weekday) dan 240 perjalanan pada akhir pekan (weekend) serta hari libur nasional.

Mahendro menyampaikan, pengguna LRT Jabodebek dapat menikmati kenyamanan jadwal operasional yang diperpanjang, sehingga memberikan fleksibilitas dalam rutinitas perjalanan sehari-hari.

Baca juga: Catat! di Luar Peak Hour Jam 10.00-15.00, Headway LRT Jabodebek per 1 Jam

Perpanjangan waktu layanan ini bertujuan untuk mengakomodasi beragam kebutuhan pengguna serta memastikan bahwa LRT Jabodebek tetap menjadi pilihan dalam mendorong aksesibilitas dan konektivitas di wilayah Jabodebek dan sekitarnya.

“Kami berharap dengan perpanjangan penambahan waktu layanan ini dapat mengakomodir kebutuhan pengguna dan memenuhi permintaan masyarakat yang terus meningkat,” tutup Mahendro.