Inilah “Karbikes” – Sepeda Listrik Empat Roda yang Memberi Perlindungan dari Panas dan Hujan

Moda transportasi ini sepertinya pas untuk beroperasi Jakarta, lantaran mampu bermanuver di padatnya jalan sekaligus menyehatkan fisik sang pengemudi. Mobil mikro listrik sangat cocok untuk menavigasi lingkungan dalam kota yang padat dan tenang. Seperti halnya ebike atau velomobile. Seperti sebuah startup asal Perancis telah menggabungkan ketiganya untuk sepeda roda empat dengan pedal yang diberi label “Karbikes”.

Baca juga: Honda Bersiap Luncurkan Motocornpacto – Sepeda Listrik Lipat yang Bisa Dikepas dalam Koper

“Saya suka bersepeda ke kota, tetapi siapa yang ingin tiba di tempat tujuan yang basah kuyup karena hujan yang tiba-tiba?” Kendaraan roda empat Karbikes dirancang untuk mengatasi hal tersebut dengan menggabungkan manfaat kendaraan kecil dengan kemudahan ebiking untuk berkeliling kota.

Karbikes telah dikembangkan selama lebih dari 2 tahun oleh startup berbasis di Strasbourg yang didirikan oleh Lucas Vançon dan Gaëlle Richard. Ini pada dasarnya adalah sepeda roda empat listrik tertutup sebagian yang dibangun di sekitar sasis logam yang memiliki proporsi yang sesuai untuk menyusuri jalur sepeda.

Terdapat motor bantuan pedal 250 W dan kombinasi girboks otomatis Valeo untuk kecepatan bantuan pedal hingga 25 km/jam (15,5 mph), sejalan dengan peraturan ebike Eropa. Dan paket baterai 1,24 kWh disertakan untuk jangkauan sekali pengisian daya sekitar 75 km (46,6 mil) – meskipun video promo menyatakan 160 km – dengan panel surya atap 100 W yang membantu mengisi ulang sel saat bepergian. dan kemungkinan perpanjangan waktu antar plugin.

Meskipun sebagian besar foto yang tersedia menunjukkan sisi kendaraan terbuka terhadap elemen, ada pintu kain zip-up yang tersedia menurut France Info, dengan pintu kokoh yang dapat dikunci. Hal ini, bersama dengan atap aluminium dan kaca depan polikarbonat, membantu memastikan pengendara dan penumpang tetap kering selama cuaca buruk.

Di dalamnya Anda akan menemukan bangku tempat duduk di bagian belakang yang kabarnya dapat menampung satu orang dewasa atau dua anak. Pengendara di kursi dengan sandaran tinggi di depan mengadopsi posisi tengah, setengah telentang, dengan stang mirip sepeda yang menawarkan kontrol kemudi dan pengereman. Gambar demo menunjukkan smartphone yang dipasang di bar untuk bantuan navigasi, namun tidak disebutkan tentang aplikasi pendamping pada tahap ini.

Melengkapi spesifikasi yang diberikan adalah rem cakram hidrolik untuk tenaga pengereman yang andal, empat shock untuk meredam medan yang tidak rata, kaca spion, lampu depan dan lampu belakang pengereman plus lampu sein. Sistem alarm terintegrasi juga disebutkan, bersama dengan klakson untuk memperingatkan pejalan kaki yang mungkin melintasi jalan Anda, dan kompartemen penyimpanan belakang yang dapat menampung hingga 400 liter kargo.

Situs web startup tersebut juga menampilkan versi dengan sunroof, dan versi lainnya dengan kotak kargo sebagai pengganti tempat duduk penumpang yang ditujukan untuk layanan pengiriman dalam kota, meskipun hal tersebut tampaknya masih dalam pengembangan.

Getabout hybrid Karbikes dilaporkan hadir dengan banderol harga yang cukup tinggi yaitu €12.000 (yang berarti sekitar US$13.000), ataui dalam rupiah mencapai Rp212.600.000.

Mudahkan Penumpang Pengguna Kursi Roda, Operator Kereta Jepang Adopsi Aplikasi di Ponsel

Operator kereta api baik di dalam maupun luar Tokyo beralih ke aplikasi ponsel pintar untuk membuat layanan mereka mudah diakses dan nyaman bagi penumpang yang menggunakan kursi roda. Aplikasi ini merupakan sistem baru yang memungkinkan petugas stasiun secara internal berbagi informasi tentang di mana penumpang naik dan jam berapa tiba di tujuan.

Baca juga: Mudahkan Difabel, Mulai 2019 Inggris Hadirkan Aplikasi Smartphone dengan Fitur ‘Bantuan’

Hal ini agar bisa membantu penumpang dengan kursi roda naik dan turun. Kehadiran aplikasi ini juga menghilangkan masalah yang disebabkan oleh catatan tulisan tangan konvensional dan miskomunikasi yang dapat terjadi melalui telepon. Tsuyoshi Nakamura, wakil ketua organisasi nirlaba bernama Tokyo Barrier-Free Council, menggambarkan kemunculan aplikasi baru ini sebagai “perkembangan yang menarik.”

“Sangat ideal bahwa janji temu dapat dilakukan melalui aplikasi ini untuk mendapatkan bantuan staf kereta api. Tetapi akan sulit bagi operator kereta api untuk menugaskan personel yang diperlukan dan menutupi biaya, mengingat kesulitan keuangan mereka akibat krisis virus corona,” kata Nakamura yang dikutip KabarPenumpang.com dari asahi.com.

Dia mengatakan, pemerintah harus menanggung bagian yang lebih besar. Selain itu pada musim semi lalu, Tokyo Metro Co. memperkenalkan aplikasi smartphone untuk karyawan yang bekerja di 170 stasiun di sepanjang jalur keretanya. Petugas stasiun memasukkan detail tentang perjalanan penumpang, termasuk gerbong yang mereka tumpangi.

Mereka juga perlu memindai kode QR di pintu pengaman peron dengan perangkat seluler untuk mengonfirmasi tujuan penumpang dan mencegah kesalahan. Waktu kedatangan mereka dikirim ke ponsel pintar petugas yang menunggu penumpang kursi roda di tempat tujuan. Kemudian, alarm berbunyi di telepon ketika kereta penumpang hanya beberapa stasiun dari tujuan.

Sebelum ada aplikasi, penumpang akan memberi tahu petugas stasiun tentang perjalanan mereka, dan petugas akan menuliskan semuanya di atas kertas. Spesifik kemudian akan disampaikan ke stasiun tujuan melalui telepon. Tetapi para pekerja di stasiun yang sibuk biasanya harus melakukan sekitar 70 perjalanan seperti ini setiap hari dan terkadang membuat kesalahan terutama pada jam-jam sibuk.

Seorang perwakilan Tokyo Metro menjelaskan bahwa “catatan tertulis kadang-kadang bisa menjadi tidak mungkin untuk diketahui selama jam sibuk dan itu dapat membuat berantakan dalam menanggapi kebutuhan penumpang.” Tokyo Metro sekarang memiliki sekitar 1.500 ponsel pintar untuk petugas stasiun dan telah memasang 150 komputer tablet di kantor stasiun sejak musim semi, membawa aplikasi ini ke penggunaan yang lebih luas.

Itu praktis menghilangkan kebutuhan untuk berbagi informasi yang dibaca dari catatan tulisan tangan yang berantakan melalui telepon. East Japan Railway Co. (JR East) membuat aplikasi serupa tersedia di 30 stasiun Yamanote Line pada bulan Maret tahun ini.

Baca juga: Google Maps Hadirkan Fitur yang Siap Dukung Kaum Difabel

Perangkat tablet membagikan informasi penting tentang penumpang kursi roda, seperti nomor mobil mereka, lokasi mereka di dalam mobil, apakah mereka ditemani oleh asisten, dan jenis kursi roda apa yang mereka gunakan. Sistem ini juga diterapkan untuk jalur Nanbu dan Keiyo. JR East sedang mempertimbangkan untuk membawanya ke lebih banyak jalur di wilayah metropolitan Tokyo.

D52, Lokomotif Uap Modern Pasca Kemerdekaan Indonesia

Ratusan tahun menjadi bagian dari koloni Belanda, banyak hal ikut melekat erat pada sensasi Negeri Kincir Angin tersebut, diantaranya yang menyentuh dunia perkeretaapian. Selain mengenalkan trem uap dan listrik, jagad kereta api di Indonesia juga dikenalkan lokomotif uap. Namun tak semua lokomotif uap di Tanah Air berasal dari sisa peninggalan Belanda, ada lokomotif uap yang dibeli baru.

Yang dimaksud adalah lokomotif uap D52 milik Djawatan Kereta Api (DKA) – sekarang PT KAI, dan menjadi lokomotif modern pertama di Indonesia pasca kemerdekaan Republik Indonesia.

Baca juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

KabarPenumpang.com yang merangkum dari berbagai laman sumber mendapatkan, bahwa lokomotif D52 ini dipesan sebanyak 100 unit pada tahun 1950 dari pabrikan Fried Krupp, Jerman Barat. Lokomotif D52 sering dibandingkan dengan lokomotif Baureihe 41 atau BR41 milik perusahaan kereta api federal Jerman (Deustche Bundesbahn), yang dibuat oleh pabrik yang sama, dalam kurun waktu yang sama.

Hal ini dikarenakan lokomotif D52 memiliki fitur-fitur khas lokomotif buatan Jerman, seperti smoke deflector tipe Witte, boiler standar einheitslok, dan beberapa fitur lain. D52 merupakan lokomotif uap bergandar 2-8-2 atau biasa didebut dengan Mikado karena memiliki kemampuan yang serbaguna baik digunakan untuk menarik kereta penumpang ataupun barang.

Lokomotif D52 merupakan lokomotif uap paling modern yang dimiliki Indonesia. Roda penggeraknya memiliki diameter sebesar 1503 mm dengan berat kosong loko 63,7 ton dan daya sebesar 1600 HP.

Sepesifikasi lokomotif D52 sendiri dirancang untuk melalui trek atau jalur yang cenderung datar dan lurus. Loko D52 ini mampu berjalan dengan kecepatan yang dipacu hingga 90 km per jam.

Saat pertama kali didatangkan, D52 memiliki dua jenis bahan bakar, dimana D52001 sampai D52050 menggunakan bahan bakar batubara dan 50 lainnya menggunakan minyak residu. Namun sekitar tahun 1956 hingga 1965 sebanyak 21 lokomotif yang menggunakan batubara dikonversi menjadi lokomotif berbahan bakar minyak rsidu di Balai Yasa Madiun yang kini menjadi PT INKA.

D52 099 (KAORI Nusantara)

Sedangkan 29 lain menggunakan batubara dan 10 lainnya dikirim ke Sumatera Selatan. Dikarenakan lokomotif uap ini bertekanan tinggi, sehingga jika terjadi kebocoran sedikit saja bisa membuat ketel atau boiler D52 meledak.

Sehingga untuk merawat D52 selain masinis dan juru api juga ada petugas khusus. Dipo yang menjadi pangkalan D52 ada di Madiun dan Cirebon.

Diketahui banyak kejadian yang menimpa lokomotif ini yakni D52 015 yang sedang menunggu rangkaian KA 2134 Manggarai-Cikampek di emplasemen Manggarai meluncur tanpa awak ke arah Tanah Abang dengan kecepatan 20km/jam dan dapat dihentikan juru langsir yang melompat ke loko dan menarik tuas rem.

D52 084 yang meledak di Galuh Timur, Bumiayu pada Agustus 1977 dan beberapa kejadian lainnya yang menyebabkan lokomotif rusak dan tak lagi berfungsi. Lokomotif D52 099 milik dipo Cirebon sempat menjadi penghuni Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yag digandengkan bersama set kereta kepresidenan era Bung Karno.

Kemudian D52 099 ini dipindahkan ke Solo untuk direaktivasi dan berangkat serta diangkut oleh truk trailer pada 13 Januari 2016 yang kemudian tiba 17 Januari 2016 diini hari di stasiun Solo Balapan. Hingga kini D52 099 berada di stasiun Purwosari, Solo , Jawa Tengah bersama satu lokomotif lainnya yang juga menunggu direaktivasi untuk menambah kereta wisata kota Solo.

Baca juga: GE CC200, Lokomotif Diesel Elektrik Perdana di Indonesia, Ikut Sukseskan KTT Asia Afrika 1955

Masa kejayaan D52 berakhir setelah Dhoho yang merupakan kereta api cepat dan pernah di tarik loko uap, pada tahun 1976 ditarik oleh loko diesel BB301. Diketahui pasa masanya lokomotif D52 tersebar di  Jatinegara 22 unit, Cirebon 15 unit, Banjar 6 unit, Kutoarjo 3 unit, Yogyakarta 16 unit, Madiun 15 unit, Sidotopo 13 unit, Kertapati 10 unit.

Ini Dia Serba-Serbi NOTAM, Pemberitahuan Yang Terkesan “Menakutkan”

Peningkatan status dan beberapa letusan Gunung Agung di Bali pada akhir tahun 2017 telah memaksa Airnav Indonesia mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) dengan nomor A4242/17 yang berisikan tentang penutupan sementara Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Adapun pembahasan ini tidak akan membahas tentang kondisi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pasca ditutup akibat dampak dari abu vulkanik, melainkan pada serba-serbi NOTAM itu sendiri.

Baca Juga: Pesawat Boleh Tetap Mengudara di Tengah Kepulan Abu Vulkanik, Asalkan…

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, NOTAM merupakan pemberitahuan dari ground handling crew yang disebarluaskan melalui perangkat telekomunikasi yang berisikan tentang informasi mengenai penetapan, kondisi atau perubahan di setiap fasilitas aeronautika, pelayanan, prosedur atau kondisi bahaya. NOTAM sendiri memiliki masa aktif yang pendek, bersifat kontinyu, dan penting untuk diketahui oleh personel operasi penerbangan.

Sesuai dengan definisinya, adapaun tujuan dari dikeluarkannya sebuah NOTAM adalah untuk menjamin kelancaran operasional, keamanan, keselamatan penerbangan, dan kegiatan terkait lainnya. Jika dilihat dari apa yang terjadi belakangan ini, NOTAM mungkin diklasifikasikan sebagai penyebar berita buruk di dunia aviasi, padahal pemberitahuan kepada kru udara ini bukanlah suatu hal yang baru atau langka di dunia kedirgantaraan. Sebelum sebuah pesawat mengudara, sang pilot dipastikan akan menerima sebuah NOTAM yang berisikan informasi terkait penerbangan tersebut.

NOTAM di Indonesia sendiri diterbitkan melalui NOTAM Office Kementerian Perhubungan. NOTAM yang dibuat dan diterbitkan untuk ruang udara Indonesia (Jakarta Flight Information Region/FIR dan Ujung Pandang FIR) dikategorikan dalam tiga seri: NOTAM Seri A untuk pendistribusian nasional dan internasional ; NOTAM Seri B untuk pendistribusian nasional dan internasional terbatas negara tetangga ; NOTAM Seri C untuk pendistribusian nasional.

Baca Juga: Giliran Airnav Terbitkan NOTAM, Bandara Ngurah Rai Ditutup Sementara Mulai Pagi Ini

Lalu, apa saja yang harus diinformasikan Ground Handling Crew kepada petugas yang berada di pesawat melalui NOTAM? Tentu saja ada banyak sekali informasi yang harus disampaikan melalui NOTAM, seperti pendirian, penutupan, atau perubahan penting pada operasional bandar udara ; Kegiatan berbahaya yang berpengaruh pada navigasi penerbangan misalnya kegiatan militer, display, lomba, atau terjun payung; Perubahan peraturan yang memerlukan tindakan segera, misalnya daerah terlarang untuk kegiatan SAR; dan Informasi penting lainnya yang disebabkan oleh gempa bumi, asap dari kebakaran hutan, dan lain lain, yang mengganggu operasional bandar udara dan navigasi penerbangan.

Jadi, sedikitnya sudah paham kan mengenai NOTAM?

Setelah Empat Tahun Grounded, Cathay Pacific Bawa Pulang Pesawat Terakhirnya dari Gurun Australia

Cathay Pacific telah membawa pulang pesawat terakhirnya yang ditempatkan di tempat penyimpanan jangka panjang di gurun Australia pada puncak pandemi ketika wilayah asal maskapai tersebut di Hong Kong secara efektif diisolasi dari seluruh dunia dengan beberapa peraturan dan pembatasan Covid-19 yang ketat.

Baca juga: Grounded Besar-Besaran Bikin Bandara Penuh, Haruskah Pesawat Parkir di Gurun?

Airbus A330 yang berusia 20 tahun adalah pesawat pertama dalam armada Cathay Pacific yang dikirim ke tempat penyimpanan pesawat di Alice Springs pada 28 Juli 2020.

Meskipun Cathay Pacific dapat memarkir sebagian armadanya di Bandara Internasional Hong Kong, maskapai ini juga harus mengirim beberapa pesawat ke fasilitas penyimpanan jangka panjang di Australia dan Ciudad Real, Spanyol – keduanya dipilih karena memiliki kelembapan udara yang rendah.

Ketika pemerintah Hong Kong tiba-tiba mengubah strategi pandeminya pada bulan Maret 2022, Cathay Pacific dihadapkan pada tugas berat untuk secara perlahan mengaktifkan kembali seluruh armada pesawatnya yang disimpan.

“Memarkir dan mengaktifkan kembali begitu banyak pesawat adalah tugas sekali seumur hidup, yang skala dan kompleksitasnya belum pernah terlihat sebelumnya di Cathay,” kata Chief Operating Officer dan Service Delivery Officer Cathay Pacific, Alex McGowan.

“Banyak upaya yang dilakukan untuk menjaga agar pesawat tetap aman dan terlindungi saat tidak terbang, dan kemudian mengaktifkannya kembali agar dapat digunakan kembali dalam layanan reguler”.

Cathay Pacific memiliki 85 pesawat yang diparkir di fasilitas penyimpanan jangka panjang di luar negeri, yang setara dengan sekitar 37% dari armada gabungan Cathay Pacific dan anak perusahaan anggarannya, HK Express.

“Dengan armada kami yang kini bersatu kembali, fokus kami adalah berinvestasi untuk masa depan. Grup Cathay memiliki lebih dari 70 pesawat baru yang dipesan, dengan hak untuk memperoleh 52 pesawat tambahan di masa depan,” lanjut McGowan.

“Kami juga menjajaki opsi untuk pesawat berbadan lebar ukuran sedang yang baru.”

General Manager Operasi Teknik Cathay, Bob Taylor, mengatakan pesawat yang disimpan tersebut tidak ditinggalkan begitu saja di luar negeri, namun telah menjalani program pemeriksaan dan inspeksi pemeliharaan selama tiga tahun sepuluh bulan terakhir.

Faktanya, Taylor menjelaskan bahwa para insinyur melakukan total 16.000 pemeriksaan pelestarian pada pesawat yang diparkir di Alice Springs, yang berarti 800.000 jam kerja. Selain itu, 40.000 suku cadang dan item peralatan khusus harus dikirim dari basis pemeliharaan Cathay di Hong Kong untuk mendukung upaya rekayasa di Australia.

Pesawat terakhir memulai perjalanan pulang pada 6 Juni 2024, awalnya terbang dari Alice Springs ke Darwin dan kemudian dilanjutkan ke Hong Kong. Kini setelah pesawat berada di Hong Kong, pesawat tersebut akan menjalani pemeriksaan pemeliharaan hanggar ekstensif sebelum kembali ke layanan komersial.

Yang Aneh dari Kuburan Pesawat di Parung, Bogor: Tidak Ada Landasan Pacu

NOTAM Dikeluarkan, Wilayah Udara Karachi dan Lahore Alami Gangguan Sinyal GPS Parah

Pesawat yang beroperasi di wilayah Karachi dan Lahore, Pakistan, mengalami masalah signifikan dengan sinyal GPS (Global Positioning System). Buntut dari kejadian tersebut, NOTAM (Notice to Airmen) baru-baru ini telah dikeluarkan oleh Otoritas Penerbangan Sipil – Civil Aviation Authority (CAA).

Baca juga: Ini Dia Serba-Serbi NOTAM, Pemberitahuan Yang Terkesan “Menakutkan”

Pemberitahuan CAA menggarisbawahi masalah berulang yang menimbulkan kekhawatiran atas keselamatan navigasi. Pilot di kedua wilayah tersebut telah diinstruksikan untuk segera melaporkan setiap gangguan sinyal GPS kepada Pengendali Lalu Lintas Udara (ATC).

Arahan ini bertujuan untuk memastikan respons yang cepat dan mitigasi terhadap potensi risiko yang terkait dengan kesulitan navigasi.

“Masalah dengan sinyal GPS telah dilaporkan di wilayah kendali Karachi dan Lahore. Masalah ini menimbulkan tantangan navigasi yang serius bagi pesawat, dan kami mendesak kapten untuk segera memberi tahu ATC jika ada insiden semacam itu,” kata juru bicara CAA.

Gangguan pada sinyal GPS dapat berdampak signifikan terhadap kemampuan pesawat untuk bernavigasi secara akurat, terutama di wilayah udara yang padat. Permasalahan tersebut dapat menyebabkan penyimpangan dari jalur penerbangan yang direncanakan, sehingga menimbulkan risiko tidak hanya pada pesawat yang mengalami masalah tersebut tetapi juga pada pesawat lain di sekitarnya.

CAA menekankan pentingnya kewaspadaan dan komunikasi yang cepat, dan menyarankan agar setiap anomali terkait navigasi segera dilaporkan ke ATC. Langkah ini sangat penting untuk menjaga keselamatan dan memastikan upaya terkoordinasi untuk mengatasi dan memperbaiki gangguan.

Seperti dikutip samaa.tv (10/6/2024, meskipun penyebab pasti masalah sinyal GPS masih belum jelas, pihak berwenang sedang menyelidiki situasi tersebut untuk menentukan sumbernya dan menerapkan tindakan perbaikan yang diperlukan. Untuk sementara, pilot dan maskapai penerbangan disarankan untuk lebih berhati-hati dan mematuhi arahan CAA.

Menlu Finlandia: “Skala Gangguan GPS Meningkat di Kawasan Baltik, Rusia Bertanggung jawab”

Pesawat Regional Jet SJ-100 Memulai Uji Penerbangan Tanpa Mesin Baru Rusia

Yakovlev Rusia telah memulai uji penerbangan sertifikasi untuk SJ-100 miliknya, versi domestik dari pesawat penumpang Superjet 100. Penerbangan perdana berdurasi 2,5 jam itu berlangsung di dekat bandara Zhukovsky, Rusia, dengan lima awak di dalamnya. Para insinyur mengevaluasi kinerja pesawat dalam 15 mode berbeda selama uji terbang ini. Mereka juga menilai fungsionalitas sistem bahan bakar baru buatan Rusia.

Baca juga: Semua Pesawat Komersial Buatan Rusia Kini Berganti Nama Menjadi “Yakovlev”

Prototipe ini menggunakan beberapa sistem buatan Rusia yang menggantikan sistem asing, tetapi tetap mengandalkan mesin PowerJet SaM146 yang digunakan pada pendahulunya, Superjet 100. PowerJet adalah perusahaan patungan Safran Aircraft Engines Perancis dan produsen mesin Rusia NPO Saturn, dan ekspor komponen mesin dari Safran ke Rusia berakhir setelah operasi militer Rusia pada tahun 2022 di Ukraina.

Yakovlev memutuskan untuk mempercepat jadwal pengujian dengan tetap menggunakan SAM146 sambil menunggu mesin baru buatan Rusia. Dua prototipe tambahan program ini akan dilengkapi dengan mesin PD-8 yang dibuat oleh Aviadvigatel, yang akan menjadi pembangkit listrik standar untuk model produksi SJ-100 di masa depan.

Yakovlev menargetkan tahap pengujian yang ketat dengan sekitar 200 penerbangan direncanakan pada akhir tahun depan. Program SJ-100 telah menyelesaikan pengujian darat pada berbagai sistem termasuk roda pendaratan, tampilan kokpit, kontrol penerbangan dan pintu.

Rusia Tawarkan Bangun Basis Produksi Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100 ) di India

Demi Aman dan Nyaman, Bus di India Ini Gunakan Teknologi Pemindai Wajah

Keamanan dan kenyamanan selama berkendara menjadi dua poin penting yang selalu menjadi fokus dari setiap penyedia jasa layanan transportasi dalam melayani para pelanggannya. Hal itu pula yang kini tengah dikembangkan oleh penyedia layanan jasa bus yang berbasis di Gurugram India, Shuttl. Diketahui, Shuttl hendak memanfaatkan teknologi mutakhir dan mengaplikasikannya di armada-armada miliknya. Hal tersebut semata-mata untuk menjamin keamanan dan kenyamanan para penumpangnya.

Baca Juga: Tekan Jumlah Kendaraan Pribadi, India Hadirkan Bus Berbasis Aplikasi

Layaknya di kebanyakan negara di dunia, para wanita yang bekerja di Delhi seakan kurang mempercayakan moda transportasi umum seperti bus dan kereta commuter yang tersedia di sana. Maka dari itu, Shuttl ingin mengubah paradigma tersebut dan memutuskan untuk melakukan peningkatan melalui teknologi Unique Selling Proposition (USP) yang mereka miliki.

Shuttl baru saja meluncurkan Secure Anxiety-Free Experience (SAFE), sebuah fitur keselamatan berkendara yang semula ditargetkan pada penumpang wanita, namun pada kenyataannya, target pengoperasian SAFE berkembang dan menyasar penumpang lain seperti anak-anak dan orang tua.

“Kami bangga dapat membawa teknologi terbaru kami ke dalam segmen transpotasi di India. Beberapa di antarannya sudah tersedia di kurang lebih 450 bus, dan sisanya akan diluncurkan secara bertahap,” ungkap Deepanshu Malviya, co-founder dari Shuttl. Di sini, pihak Shuttl masih melakukan penelitian terhadap fitur yang mereka aplikasikan di armada mereka, seperti mengukur efektifitas teknologi tersebut. Berikut adalah beberapa fitur yang terpasang di beberapa moda Bus Shuttl.

Pemindai Wajah
Fitur face recognition ini berfungsi bagi penumpang yang berlangganan saja. Kamera akan mengambil gambar Anda dan menyesuaikannya dengan data yang mereka simpan sebelumnya. Jadi, bisa dibilang hanya orang-orang yang sudah berlangganan saja yang bisa menaiki bus ini. Selain itu ada juga teknologi berbasis suara yang telah dikembangkan dan memungkinkan para penumpang yang tidak berlangganan untuk tetap melanjutkan perjalanannya menggunakan bus ini.

Baca Juga: Tata Ultra Electric, Revolusi Bus Listrik dari India

CCTV
Selain kamera pemindai wajah, terdapat juga CCTV yang dapat memantau semua aktifitas yang terjadi selama perjalanan, selain itu terdapat juga tombol darurat di dalam armada bus tersebut. Di sisi lain, fitur berbasis bahasa isyarat hingga saat ini masih belum tersedia. Anda juga dapat membagikan tautan rekaman CCTV kepada teman-teman Anda melalui jejaring sosial.

Melacak Posisi
Hadirnya fitur GPS ini dapat mempermudah kerabat untuk mengetahui posisi Anda. Tersedia juga fitur yang membeberkan estimasi waktu perjalanan Anda. Interactive Voice Response (IVR) juga memungkinkan Anda untuk melakukan panggilan jika berada dalam kondisi darurat.

Keamanan Pengendara
Saat driver sudah duduk dibalik kursi kemudi, mereka harus meniup breathalyzer untuk memastikan ia tidak dalam kondisi mabuk. Juga terdapat sistem pemindai wajah khusus untuk pengemudi, dimana jika wajah tersebut tidak dikenali, maka mesin tidak akan bisa dijalankan. Rencananya, pihak Shuttl akan menambahkan fitur yang dapat melacak apakah sang pengemudi mengantuk atau tidak, karena hingga saat ini, faktor human error masih memuncaki penyebab kecelakaan di dunia.

PT DI dan Intercrus Aero Jalin Kerja Sama Kembangkan “Intercrus Sola” Advanced Air Mobility 

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sepakati Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Intercrus Aero Indonesia di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Pusat Management (GPM) Lt. 9, PTDI Bandung. Perjanjian kerja sama tersebut ditandatangani Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PT DI, Moh. Arif Faisal dengan Founder & CEO PT Intercrus Aero Indonesia, Jeremy Hasian Saragih, disaksikan Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan. Adapun ruang lingkup MoU meliputi kerja sama pengembangan, sertifikasi, manufaktur dan komersialisasi produk Advanced Air Mobility, yang bernama Intercrus Sola.

Baca juga: Airbus Gandeng Avincis dalam Pengembangan Advanced Air Mobility

Pesawat Intercrus Sola adalah pesawat Vertical Take-Off Landing (VTOL) elektrik dengan kapasitas 4 (empat) penumpang dan memiliki daya angkut 1.200 kg, yang akan memungkinkan perjalanan 9-10 kali lebih cepat dibandingkan mobil, dengan kemampuan jarak tempuh 100 km di area perkotaan, serta kecepatan maksimal 150 km/jam. Perancangan pesawat ini mengacu pada Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 27, Directorate General of Civil Aviation (DGCA), Kementerian Perhubungan RI.

PT Intercrus Aero Indonesia merupakan perusahaan Start-Up di bidang penelitian dan pengembangan, serta manufaktur pesawat Vertical Take-Off & Landing (VTOL) elektrik pada sektor Advanced Air Mobility (AAM).

Kerja sama strategis PTDI dengan PT Intercrus Aero Indonesia akan mendukung pengembangan taksi udara di Indonesia, “Seiring dengan meningkatnya demand terhadap pesawat Advanced Air Mobility, seperti pesawat terbang e-VTOL, produk yang akan dikembangkan bersama PT Intercrus Aero Indonesia ini dapat membantu mengatasi masalah kemacetan lalu lintas di wilayah metropolitan, mengurangi waktu transit dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Hal ini juga tentunya dapat memberikan nilai tambah teknologi dan peningkatan kemampuan engineering PTDI di sektor AAM,” jelas Gita Amperiawan, Direktur Utama PTDI.

Perjanjian ini dijadikan sebagai landasan kerja sama antara kedua pihak, dimana kedepannya PTDI dan PT Intercrus Aero Indonesia akan bersama-sama mengembangkan, mensertifikasi, memanufaktur dan komersialisasi pesawat Intercrus Sola.

“Kami juga berharap dengan terbentuknya tim teknis antara PTDI dan PT Intercrus Aero Indonesia dapat melakukan pengembangan teknologi industri ini secara progresif kedepannya, tidak hanya sebagai produk AAM untuk memenuhi kebutuhan penerbangan sipil, logistik dan tourism saja, melainkan juga untuk kebutuhan military & defense,” tambah Gita Amperiawan.

Kerja sama ini merupakan langkah awal bagi kedua belah pihak yang berkomitmen untuk mengembangkan layanan taksi udara. “Dengan adanya kerja sama dengan PT DI, kami dapat mengembangkan penawaran penerbangan otonom untuk penumpang di daerah perkotaan. Saat ini PT Intercrus Aero Indonesia sedang dalam tahap finalisasi desain prototype, yang rencananya akan disertifikasi oleh DGCA dan secara bertahap akan diproses sertifikasi oleh Federal Aviation Administration (FAA),” kata Jeremy Hasian Saragih, Founder & CEO PT Intercrus Aero Indonesia.

CityAirbus NextGen Memulai Debutnya di Donauwörth, Terbang Perdana Akhir Tahun

Lewat Serbia dan Hongaria, Cina Tembus Investasi Jaringan Kereta Cepat di Eropa

Meski mendapat serangkaian penolakan atas investasi di negara-negara Eropa Barat, namun Cina berhasil membuka mata dunia, bahwa Negeri Panda akhirnya berhasil memasuki pasar investasi besar di Eropa, khususnya dalam pembangunan jaringan kereta cepat. Tidak masuk lewat Eropa Barat, investasi Cina di industri kereta masuk lewat negara Balkan dan Eropa Timur yang haus akan investasi asing.

Baca juga: Jaringan Kereta Api Berkecepatan Tinggi Sepi Peminat, Bisa Jadi Bom Waktu Bagi Ekonomi Cina

Seperti dikutip Newsweek.com (8/6/2024), Presiden Serbia Aleksandar Vucic memuji perusahaan Cina yang mengerjakan jalur kereta berkecepatan tinggi yang menghubungkan ibu kita Serbia, Beograd ke Budapest, ibu kota Hongaria, sebagai “keajaiban” ketika kereta berkecepatan tinggi baru diresmikan di iSerbia pada hari Jumat lalu.

Jaringan kereta api ini merupakan China’s Belt and Road Initiative di Eropa, sebuah skema besar yang diumumkan oleh pemerintah Cina pada tahun 2013 yang bertujuan untuk mengembangkan infrastruktur di sebagian besar Asia, Afrika Timur, dan Eropa Timur, yang secara politik tentu ikut meningkatkan pengaruh Beijing.

Cina telah bekerja keras untuk memperkuat hubungan dengan Serbia dan Hongaria dan kedua negara tersebut dikunjungi, bersama dengan Perancis, oleh Presiden Xi Jinping selama kunjungannya ke Eropa pada bulan Mei. Baik Serbia maupun Hongaria menikmati hubungan hangat dengan Rusia, sekutu utama Cina. Sebagai catatan, Hongaria adalah bagian dari Uni Eropa dan anggota NATO. Sebaliknya, Serbia bukan bagian dari Uni Eropa dan NATO., yang notabene punya kedekatan dengan Cina dan Rusia.

Menurut kantor berita pemerintah Cina, Xinhua, kereta yang diluncurkan pada hari Jumat di stasiun kereta Zemun dapat melaju dengan kecepatan hingga 200 kilometer (124 mil) per jam dan memiliki 250 kursi.

Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengumumkan pada acara tersebut bahwa Serbia telah memesan lima kereta dari China Railway Rolling Stock Corporation, yang dimaksudkan untuk digunakan di sepanjang jalur kereta api Beograd-Budapest yang saat ini sedang dibangun.

Dia berkomentar: “Yang terakhir akan tiba sesuai kontrak pada 31 Desember 2025. Kami akan melakukan pengujian jalur Beograd-Subotica pada bulan September, dan paling lambat 1 Desember. Jika kami menyelesaikan jalur tersebut pada saat itu.”

Cina telah menyelesaikan jalur kereta api antara Beograd dan Novi Sad, kota terbesar kedua di Serbia, dan rencananya akan diperluas hingga Subotica dekat perbatasan Hongaria pada bulan Desember. Setelah selesai pembangunan jalur kereta api Beograd-Budapest, yang dibangun oleh sejumlah perusahaan Cina, jalur ini direncanakan sepanjang 217 mil.

Vucic pada hari Jumat juga menyatakan harapannya bahwa Serbia akan membangun kereta apinya sendiri, dengan berkomentar: “Kami mengimpor kereta api dengan kualitas terbaik dan terindah. Saya berharap kami akan segera membangunnya. Ini akan sangat penting bagi pertumbuhan Serbia.”

GlobalData: Inilah 10 Proyek Kereta Api Termahal Sepanjang 2022, Cina Mendominasi