Layanan Kereta Komuter di Prefektur Chiba Gunakan Teknologi Face Recogntion

Teknologi pengenalan wajah atau face recogntion sudah diterapkan oleh PT KAI, yakni pada gate boarding layanan kereta jarak jauh. Namun, face recogntion belum diijajal untuk layanana kereta komuter. Nah, salah satu kota di Jepang kini telah menggelar akses via face recogntion pada layanan kereta komuter.

Baca juga: Terapkan Face Recognition, Boarding KA Jarak Jauh Kini Cukup Pindai Wajah

Seperti dilansir The Japan Times (16/6/2024), teknologi pengenalan wajah untuk penumpang kereta api komuter di kota Sakura, Prefektur Chiba. Teknologi pengenalan wajah diperkenalkan di Jalur Yamaman Yukarigaoka. Menurut Yamaman, operator jalur tersebut, ini adalah pertama kalinya sistem manajemen boarding berbasis pengenalan wajah untuk penumpang komuter diterapkan secara praktis pada sistem transportasi umum di negara tersebut.

Setelah mendaftarkan data foto wajah dan informasi kartu kredit terlebih dahulu di situs khusus, penumpang dapat naik kereta, tanpa membeli tiket, melalui kamera yang dipasang di gerbang tiket di stasiun yang mengenali wajah mereka. Penumpang dengan tiket komuter juga dapat menggunakan sistem ini.

Bersamaan, Yamaman juga memperkenalkan sistem tersebut ke layanan busnya. Perusahaan memperkirakan akan terjadi peningkatan jumlah pengguna sistem pengenalan wajah karena penumpang komuter terlihat memilih sistem tersebut ketika mereka memperbarui tiket mereka.

Seorang pejabat Yamaman, yang juga menjalankan bisnis real estate, mengatakan bahwa perusahaan ingin memperkenalkan sistem tersebut kepada seluruh masyarakat. Sistem pengenalan wajah, termasuk gerbang tiket kereta api, sedang diuji di banyak wilayah di negara ini.

Osaka Metro, yang menawarkan layanan kereta bawah tanah terutama di kota Osaka, telah memperkenalkan sistem pengenalan wajah untuk karyawannya dalam tahap uji coba. Mereka berencana untuk mulai menggunakannya untuk penumpang pada akhir tahun fiskal 2024.

Tidak Melulu di Bandara, Osaka Metro Hadirkan Teknologi Face Recognition di Stasiun Bawah Tanah

Layanan Imigrasi di Bandara Changi Sabet Peringkat Terbaik di Dunia

Meski petugas imigrasinya tidak murah senyum kepada para pelancong, namun, pelayanan imigrasi di Bandara Internasional Changi justru meraih peringkat tertinggi di seluruh dunia, atau menyabet gelar sebagai bandara dengan pelayanan imigrasi terbaik di dunia.

Baca juga: Proses Imigrasi Makin Cepat, Kini Total Ada 69 Unit Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Changi mendapatkan gelar Layanan Imigrasi Bandara Terbaik Dunia melalui survei kepuasan penumpang yang dilakukan oleh organisasi pemeringkat transportasi udara Inggris Skytrax. Survei ini dilakukan sejak Agustus 2023 hingga Maret 2024.

Melansir VNexpress, penumpang yang hendak melancong di Singapura mengaku puas dengan layanan yang diberikan kantor imigrasi Bandara Changi. Hal tersebut dinilai berdasarkan waktu tunggu, sistem antrean, jalur prioritas, sistem dan efisiensi e-gate, serta efisiensi dan kesopanan staf imigrasi.

Bandara Changi mempunyai fasilitas layanan imigrasi yang canggih, mulai dari check-in dan registrasi masuk otomatis, sistem autentika biometrik, dan kecerdasan buatan untuk mengangkut bagasi. Seluruh fasilitas tersebut memberi kemudahan bagi penumpang yang akan berlibur maupun sekadar menjadikan Bandara Changi sebagai transit.

Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh Bandara Zurich di Swiss yang memiliki fasilitas dan layanan hampir sama seperti Bandara Changi. Kemudian, di tempat ketiga disinggahi Bandara Internasional Bahrain, dan tempat keempat diisi oleh Bandara Seoul Incheon di Korea Selatan.

Untuk Kunjungan Singkat di Singapura, Bandara Changi Siapkan Fasilitas Khusus Pelancong Bisnis

Bandara Changi Singapura merupakan bandara terbaik di dunia selama bertahun-tahun karena layanan, hutan hujan indoor, dan air terjun indoor tertinggi di dunia. Namun, mereka harus mengalah dengan Bandara Internasional Hamad di Qatar yang tahun ini dinobatkan sebagai yang terbaik.

Untuk bandara di Indonesia, saat ini belum masuk dalam daftar bandara terbaik maupun layanan imigrasi terbaik. Namun, pemerintah terus berupaya meningkatkan pelayanan di sejumlah bandara internasional dan memperbaiki kinerja layanan imigrasi.

Berikut daftar bandara dengan layanan imigrasi terbaik di dunia:
1. Bandara Changi
2. Bandara Zurich
3. Bandara Bahrain
4. Bandara Incheon
5. Bandara Taoyuan
6. Bandara Helsinki
7. Bandara Hamad
8. Bandara Hong Kong
9. Bandara Muscat
10. Bandara Roma-Fiumicino

Sering Disebut Pelancong, Ternyata Sejarah Visa Schengen Berasal dari Sebuah Desa di Luksemburg

Destinasi Eropa selalu menjadi idaman bagi para pelancong, selain keindahan alam dan ikon wisata yang menarik perhatian, kunjungan berlibur ke Benua Biru juga identik dengan kemudahan akses berupa “Visa Schengen.” Dan tak pelak Visa Schengen selalu menjadi topik pembicaraan bagi para pelancong yang akan bepergian ke Eropa. Nah, karena sering disebut, tapi tahukan Anda tentang sejarah Visa Schengen?

Baca juga: Pria Ini Rayakan Saat Meraih Visa Schengen, Setelah Ditolak Enam Kali Beruturut-turut

Sebagai catatan, Visa Schengen adalah visa khusus yang memungkinkan pemegangnya untuk bepergian ke sejumlah negara di Area Schengen tanpa perlu mendapatkan visa tambahan untuk setiap negara yang dikunjungi.

Dari sejarahnya, inisiatif tentang Visa Schengen berasal dari Perjanjian Schengen, yang ditandatangani pada tanggal 14 Juni 1985, di desa Schengen, Luksemburg, oleh lima negara anggota Uni Eropa (UE) pada saat itu: Belgia, Prancis, Jerman Barat, Luksemburg, dan Belanda.

Perjanjian Schengen ditandatangani oleh lima negara awal pada tahun 1985. Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan kontrol perbatasan internal di antara negara-negara anggota dan memberikan kebebasan bergerak kepada warga mereka di dalam area tersebut. Pada tahun 1990, Perjanjian Schengen mulai diimplementasikan secara penuh dalam tahap pertama. Pada tahap ini, kontrol perbatasan internal dihapuskan di antara negara-negara anggota.

Area Schengen secara bertahap diperluas dengan bergabungnya negara-negara baru. Austria, Italia, Spanyol, Portugal, dan Yunani bergabung pada tahun 1995, diikuti oleh negara-negara lain dalam beberapa tahun berikutnya. Pada tahun 2011, Bulgaria, Rumania, dan Cyprus masih belum menjadi bagian dari Area Schengen.

Pada tahun 1995, kontrol perbatasan internal dihilangkan di seluruh Area Schengen, menciptakan zona bebas perjalanan di antara negara-negara anggota. Sejak 2007, beberapa negara, termasuk negara-negara Eropa Timur seperti Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia, telah bergabung dengan Area Schengen.

Visa Schengen pertama kali diperkenalkan pada tahun 1995. Visa ini memungkinkan pemegangnya untuk bepergian ke seluruh wilayah Schengen tanpa perlu mendapatkan visa tambahan.

Guna menunjang akses data kemudian diciptakan Schengen Information System (SIS), yakni sistem informasi terpadu yang memfasilitasi pertukaran informasi keamanan antara negara-negara anggota, yang kemudian diimplementasikan untuk mendukung pelaksanaan Perjanjian Schengen.

Saat ini Visa Schengen menjadi simbol kebebasan bergerak di Eropa dan telah memudahkan perjalanan bagi jutaan orang setiap tahun. Meskipun ada beberapa kendala dan penyesuaian selama bertahun-tahun, konsep ini tetap menjadi tonggak penting dalam integrasi Eropa.

Baca juga: Sebelum ‘Mimpi’ Keliling Eropa, Pahami Dulu Ketentuan Pembuatan Visa Schengen

Area Schengen saat ini terdiri dari Austria, Belgia, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Italia, Latvia, Liechtenstein, Lithuania, Luksemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Swedia dan Swiss.

Sebaiknya Anda Tahu, 10 Negara ini Jarang Tolak Pengajuan Visa Schengen

Visa Schengen adalah kunci Anda untuk menjelahi Benua Biru, dan untuk mendapatkan visa Schengen ibarat ‘gampang-gampang susah,’ pasalnya masin-masing negara anggota Schengen punya kebijakan tersendiri tentang pemberian visa Schengen. Dan melihat laporan Statistik Visa Schengen, Anda akan menemukan perbedaan tingkat penolakan visa di berbagai negara. Melamar ke negara-negara dengan tingkat penolakan yang lebih rendah dapat meningkatkan peluang keberhasilan untuk mendapatkan visa.

Baca juga: Setelah Kroasia, Kini Kosovo Bergabung di Zona Schengen Bebas Visa Eropa 

Seperti dikutip Times of India (22/6/2024), guna meningkatkan kemungkinan permohonan berhasil, disarankan untuk mengajukan permohonan visa di pusat visa di negara-negara dengan tingkat penolakan yang lebih rendah. Setelah diberikan, visa Schengen mengizinkan perjalanan melintasi negara-negara anggota Schengen, asalkan negara yang menerbitkan visa adalah tujuan utama.

Pelamar yang ingin mendapatkan visa Schengen musim panas ini harus menyadari tingkat penolakan yang lebih tinggi di negara-negara tertentu. Semisal Malta, dengan tingkat penolakan visa sebesar 37,6% pada tahun 2023, berada di puncak daftar negara dengan tingkat penolakan visa yang tinggi. Menyusul kemudian adalah Estonia dengan tingkat penolakan sebesar 33,1% dan Belgia sebesar 26,5%.

Swedia dan Kroasia juga memiliki tingkat penolakan yang relatif tinggi, masing-masing sebesar 23,1% dan 20%. Tingkat penolakan rata-rata di seluruh negara anggota pada tahun 2023 mencapai 54,2%.

Sesuai data, Jerman tetap menjadi pilihan terbaik Anda untuk mendapatkan visa Schengen multiple-entry pada tahun 2024. Pengenalan langkah-langkah migrasi baru oleh Jerman akan memungkinkan aksesi penuh Rumania ke wilayah Schengen.

Untuk menghindari penolakan visa karena masalah asuransi perjalanan, penting untuk memilih polis asuransi perjalanan Schengen yang tepat. Beberapa kesalahan umum yang dilakukan wisatawan selama proses permohonan visa harus dihindari untuk mencegah penolakan.

Pria Ini Rayakan Saat Meraih Visa Schengen, Setelah Ditolak Enam Kali Beruturut-turut

Pada pertengahan tahun 2025, sekitar 1,4 miliar orang harus mengajukan ETIAS (European Travel Information and Authorisation System) sebelum melakukan perjalanan ke Uni Eropa (UE). UE juga sedang mengerjakan aplikasi seluler ETIAS untuk menyederhanakan proses permohonan, yang diperkirakan akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2025.

Untuk memastikan Anda mendapatkan visa Schengen dengan mudah, berikut adalah daftar 10 negara dengan tingkat persetujuan visa Schengen tertinggi, yang akan memberikan wawasan berguna bagi calon pelamar.

1. Islandia: tingkat penolakan 2,2%.
2. Swiss: 10,7%
3. Latvia: 11,7%
4. Italia: 12%
5. Luksemburg: 12,7%
6. Lithuania: 12,8%
7. Slowakia: 12,9%
8. Jerman: 14,3%
9 Austria: 14,3%
10. Yunani: 14,7%

Nyaris Terlupakan, Lockheed “Connie” Constellation Pernah Beroperasi di Langit Indonesia

Nyaris terlupakan sejarah, ternyata pesawat propeller jarak jauh Lockheed Constellation pernah beroperasi di Indonesia. Memang tidak dioperasikan oleh maskapai komersial seperti Garuda Indonesia, melainkan pada dekade 60/70-an pernah dioperasikan TNI AU (d/h AURI). Lockheed Constellation adalah pesawat penumpang legendaris, pasalnya pesawat bermesim empat ini dikenal sebagai pembuka jalan bagi penerbangan nyaman.

Baca juga: Kisah Lockheed L-1049 Super Constellation, Pesawat Pembuka Jalan Penerbangan Nyaman

Lockheed Constellation yang dioperasikan oleh AURI bukan berasal dari pembelian baru, melainkan hasil dari barter hibah dari Pakistan. Di era 60-an, Indonesia menghibahkan hampir semua armada jet tempur MiG-19 Farmer buatan Uni Soviet ke Pakistan. Pakistan yang saat itu sedang berperang dengan India membutuhkan pesawat tempur apa saja, yang salah satunya menerima hibah MiG-19 dari Indonesia.

Sementara Pakistan memberikan Lockheed Super/Constellation ke Indonesia pada tahun 1969. Di tengah keterbatasan anggaran dan kebutuhan mendapatkan pesawat angkut jarak jauh khususnya untuk lahyanan VVIP, tawaran pemerintah Pakistan untuk menukar tiga unit Lockheed Constellation kebas PIA (Pakistan International Airlines) dengan lima unit jet tempur MiG-19 telah disetujui oleh Indonesia.

Lockheed Constellation, sering disebut “Connie,” adalah pesawat terbang propeller-driven yang diproduksi oleh Lockheed Corporation antara tahun 1943 dan 1958. Pesawat ini terkenal karena desainnya yang elegan dengan ekor tiga sirip vertikal dan badan pesawat yang melengkung, serta menjadi salah satu ikon dalam penerbangan komersial dan militer selama era setelah Perang Dunia II.

Pengembangan Lockheed Constellation dimulai pada akhir 1930-an. Howard Hughes, pemilik TWA (Trans World Airlines), sangat terlibat dalam pengembangan pesawat ini. Mereka menginginkan pesawat yang lebih cepat dan memiliki jangkauan yang lebih panjang dibandingkan dengan pesawat lain yang ada pada saat itu.

Clarence “Kelly” Johnson dan timnya di Lockheed adalah yang bertanggung jawab atas desain Constellation. Pesawat ini memiliki ciri khas bentuk badan pesawat yang ramping, sayap dengan insiden trapesium, dan ekor tiga sirip vertikal yang membuatnya mudah dikenali.

Varian pertama, L-049 Constellation, melakukan penerbangan perdananya pada 9 Januari 1943. Varian ini memiliki kecepatan jelajah sekitar 300 mph (483 km/h) dan bisa terbang sejauh 3.500 mil (5.600 km). Setelah perang, Constellation menjadi tulang punggung maskapai penerbangan komersial. TWA dan Pan American World Airways adalah dua dari operator utama pesawat ini.

Namun sayang, setelah kemunculan Boeing 707 dan Douglas DC-8 dengan mesin jetnya, Lockheed Super Constellation, termasuk varian L-1049 Super Constellation dan lainnya, harus berakhir. L-1049 Super Constellation melakukan penerbangan terakhir bersama Eastern Airlines, maskapai pertama yang mengoperasikannya, pada tahun 1993.

Boeing 707 dan Douglas DC-8 – Dua Pesawat Legendaris Ikon Penerbangan Jarak Jauh Era 60/70-an

Operasi Intelijen, Airbus A340 Tujuan Filipina Justru Didaratkan di Iran dengan Mematikan Transponder

Meski industri penerbangan komersial Iran relatif mampu bertahan terhadap sanksi yang dikenakan oleh Amerika Serikat dan Eropa Barat, namun, tetap saja pasokan pesawat dari luar negeri terutama dari Airbus dan Boeing masih sangat dibutuhkan, dan untuk itu Iran kerap menjalankam operasi intelijen untuk mendapatkan pesawat yang diinginkan. Seperti belum lama ini, pihak tidak dikenal berhasil membawa kabur dua pesawat komersial Airbus A340 milik perusahaan leasing Macka Invest yang berbasis di Gambia.

Baca juga: Lawan Hegemoni Barat, Iran Gandeng Rusia, Cina, dan India Bentuk Konsorsium Perawatan Pesawat

Airbus A340 adalah pesawat widebody bermesin empat untuk melayani penerbangan jarak jauh. Laporan media Lithuania menuyebutkan kedua pesawat diterbangkan dari Lithuania ke Iran. Masih dari sumber yang sama, menunjukkan bahwa salah satu pesawat Airbus A340 mendarat di Bandara Mehrabad sementara yang lainnya mendarat di Bandara Konarak, Charbahar di Iran selatan.

“Dengan ini, maskapai penerbangan Iran, Mahan Air, telah berhasil mengakuisisi dua pesawat komersial, menghindari sanksi ekonomi yang dikenakan pada negara tersebut karena program nuklirnya,” kata laporan itu.

Kedua pesawat dilaporkan mematikan transpondernya segera setelah memasuki wilayah udara Iran untuk mencegah pelacakan posisi akhir mereka. Airbus A340 lainnya, juga milik Macka Invest dan awalnya ditujukan ke Filipina, tetap berada di Lithuania.

Pesawat tersebut dilarang terbang ke tujuan yang dimaksudkan karena membawa berbagai suku cadang pesawat, menurut Aurelija Kuezada, direktur Bandara Siauliai di Lithuania, berbicara kepada media lokal.

“Pesawat itu seharusnya terbang ke Filipina, tapi kami mengantisipasi pesawat itu juga bisa mendarat di Iran, dan kami tidak berdaya untuk mencegahnya. Itu sebabnya kami tidak mengizinkannya berangkat ketika kami mengetahui pesawat komersial pertama telah mendarat di Iran,” katanya.

Pihak berwenang Lithiania telah menyatakan bahwa penerbangan kedua Airbus A340 di luar wilayah udara Lithuania tidak menimbulkan kekhawatiran apa pun dan dianggap sebagai tanggung jawab otoritas nasional lainnya.

Insiden ini mengulangi kejadian serupa pada tahun 2022 ketika empat pesawat komersial Airbus A340 lepas landas dari Johannesburg menuju Uzbekistan tetapi, mendekati wilayah udara Iran, mematikan transpondernya dan dilaporkan mendarat di Iran.

Karena sanksi ekonomi yang berasal dari pengembangan nuklirnya, maskapai penerbangan komersial Iran dilarang membeli pesawat komersial baru dan suku cadangnya. Sanksi ini telah menyebabkan krisis dalam industri penerbangan komersial, dengan lebih dari 500 pesawat dilarang terbang dan tidak dapat terbang karena kurangnya suku cadang.

Pakar industri telah mengindikasikan bahwa Iran membutuhkan 400 pesawat komersial baru, namun sanksi ekonomi menghalangi pembelian pesawat baru dan juga menghalangi pekerjaan peningkatan dan pemeliharaan pada pesawat yang sudah ada.

Di Tengah Sanksi Barat, Iran Akuisisi Empat Unit Airbus A340 dengan Cara yang Aneh

Kadang Bikin Ketar-ketir, Inilah Pertanyaan ‘Killer’ Petugas Imigrasi di Luar Negeri

Petugas imigrasi yang memeriksa dokumen (paspor) pelancong saat tiba di bandara atau pelabuhan, kadang membuat kita ketar-ketir. Pasalnya, petugas imigrasi dengan wewenangnya, dapat menanyakan apa saja yang terkait dokumen dan ketibaan Anda di suatu negara. Lebih bikin cemas, bila Anda masuk ke negara sosialis, boleh jadi akan makan waktu lama untuk mendapatkan cap (stempel) masuk di paspor.

Baca juga: Bikin Bete, Inilah Sebab Antrean Pengecekan Imigrasi Sampai Mengular

Meski petugas imigrasi bisa menanyakan banyak hal kepada Anda, tapi petugas imigrasi di bandara biasanya mengajukan beberapa pertanyaan standar kepada setiap calon penumpang untuk memverifikasi identitas, tujuan perjalanan, dan status imigrasi mereka. Beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan oleh petugas imigrasi adalah

1. Apa tujuan Anda datang ke [nama negara tujuan]?
Ini adalah pertanyaan standar yang bertujuan untuk memahami alasan perjalanan Anda.

2. Berapa lama Anda berencana tinggal di [nama negara tujuan]?
Petugas ingin tahu berapa lama Anda akan tinggal di negara tersebut untuk memastikan Anda memenuhi persyaratan visa atau izin masuk yang sesuai.

3. Di mana Anda akan tinggal selama Anda berada di [nama negara tujuan]?
Ini adalah pertanyaan tentang akomodasi Anda di negara tersebut.

4. Apakah Anda memiliki pekerjaan di [nama negara asal] atau [nama negara tujuan]?
Pertanyaan ini bertujuan untuk memahami status pekerjaan Anda dan apakah Anda memiliki niat untuk bekerja di negara tersebut.

5. Apakah Anda memiliki keluarga atau teman yang tinggal di [nama negara tujuan]?
Petugas ingin tahu apakah Anda memiliki kontak di negara tersebut.

6. Apakah Anda membawa barang yang harus dideklarasikan atau dikenakan bea cukai?
Ini adalah pertanyaan tentang barang bawaan Anda, termasuk barang yang mungkin dikenakan bea cukai.

7. Apakah Anda memiliki riwayat perjalanan ke [nama negara tujuan] sebelumnya?
Ini adalah pertanyaan tentang riwayat perjalanan Anda ke negara tersebut.

8. Apakah Anda memiliki rencana perjalanan ke negara lain selama Anda berada di [nama negara tujuan]?
Petugas ingin tahu jika Anda memiliki rencana perjalanan ke negara lain selama Anda berada di negara tersebut.

Baca juga: Bikin Cemas dan Panik, Ini Beberapa Sebab Pemeriksaan Paspor di Bandara Bisa Berlangsung Lama

Penting untuk menjawab pertanyaan ini dengan jujur ​​dan akurat, karena informasi ini digunakan untuk menentukan izin masuk Anda ke negara tersebut. Selain pertanyaan standar ini, petugas imigrasi juga dapat mengajukan pertanyaan tambahan berdasarkan subyektivitas petugas dan peraturan imigrasi yang berlaku di negara tujuan.

Fehmarnbelt, Jadi Terowongan Terdalam dan Terpanjang di Dunia, Hubungkan Jerman dan Denmark

Pekerjaan terowongan bawah laut terpanjang di dunia akhirnya dimulai setelah lebih dari satu dekade perencanaan. Terowongan ini akan berada lebih dari 40 meter di bawah Laut Baltik. Terowongan tersebut bernama Terowongan Fehmarnbelt akan menghubungkan Denmark dan Jerman.

Baca juga: Cina Bakal Punya Terowongan Kereta Cepat Pertama di Bawah Laut

Kehadirannya akan memangkas waktu perjalanan dari dua negara ketika akan dibuka pada 2029 mendatang. Terowongan ini akan memiliki panjang 18 km dan menjadi salah satu proyek terbesar di Eropa dengan biaya konstruksi lebih dari 7 miliar euro.

“Hari ini, jika Anda melakukan perjalanan kereta api dari Kopenhagen ke Hamburg, itu akan memakan waktu sekitar empat setengah jam. Saat terowongan itu selesai, perjalanan yang sama akan memakan waktu dua setengah jam,” kata Jens Ole Kaslund, direktur teknis di Femern A / S.

Sehingga bagi mereka yang menempuh perjalanan antara dua kota dengan mobil, perjalanan akan menjadi sekitar satu jam lebih singkat. Sedangkan saat naik ferry melintasi selat memakan waktu sekitar 45 menit sekarang. Ketika terowongan dibangun, perjalanan akan memakan waktu tujuh menit dengan kereta api (perjalanan sekitar 125 mil per jam) dan sepuluh menit dengan mobil (perjalanan sekitar 70 mil per jam).

“Saat ini banyak orang yang terbang di antara dua kota tersebut, tapi ke depan lebih baik naik kereta saja,” tambahnya.

Perjalanan yang sama dengan mobil akan menjadi sekitar satu jam lebih cepat daripada hari ini, dengan memperhitungkan waktu yang dihemat dengan tidak mengantri ke kapal ferry. Kaslund mengatakan, selain bermanfaat bagi kereta dan mobil penumpang, terowongan tersebut akan berdampak positif pada truk dan kereta barang karena menciptakan jalur darat antara Swedia dan Eropa Tengah yang akan lebih pendek 160 km dari sekarang.

Saat ini, lalu lintas antara semenanjung Skandinavia dan Jerman melalui Denmark dapat menggunakan ferry melintasi Fehmarnbelt atau rute yang lebih panjang melalui jembatan antara pulau Zealand, Funen, dan semenanjung Jutlandia. Proyek ini dimulai pada tahun 2008, ketika Jerman dan Denmark menandatangani perjanjian untuk membangun terowongan.

Kemudian membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk undang-undang yang diperlukan untuk disahkan oleh kedua negara dan untuk studi dampak geoteknik dan lingkungan yang akan dilakukan. Sementara prosesnya selesai di pihak Denmark dan di Jerman sejumlah organisasi termasuk perusahaan ferry, kelompok lingkungan dan pemerintah kota setempat telah mengajukan banding atas persetujuan proyek atas klaim persaingan tidak sehat atau masalah lingkungan dan kebisingan.

Keputusan awal diharapkan sebelum akhir tahun meskipun tidak akan dapat menghentikan atau mengubah proyek secara signifikan, itu dapat mengamanatkan studi dampak lebih lanjut sebelum konstruksi dapat dimulai di Jerman. Sementara itu, di tengah tindakan pencegahan untuk menjaga keselamatan pekerja dari Covid-19, pekerjaan konstruksi dimulai pada musim panas di sisi Denmark.

“Proyeknya diatur sedemikian rupa sehingga kami harus bekerja selama beberapa tahun di Denmark sebelum kami dapat memasuki wilayah Jerman,” kata Kaslund.

Sebuah pelabuhan baru sedang dibangun di Rødbyhavn, di Lolland, dan pada awal 2021 sebuah pabrik akan dibangun di belakangnya, dengan enam jalur produksi untuk merakit 89 bagian beton besar yang akan membentuk terowongan. Setiap bagian akan memiliki panjang 217 meter (kira-kira setengah panjang kapal kontainer terbesar di dunia), lebar 42 meter, dan tinggi sembilan meter. Dengan berat masing-masing 73 ribu metrik ton, mereka akan seberat lebih dari 13 ribu gajah.

Ruas-ruas tersebut akan ditempatkan tepat di bawah dasar laut, sekitar 40 meter di bawah permukaan laut pada titik terdalam, dan dipindahkan ke tempatnya dengan tongkang dan derek. Sebanyak 2.500 orang akan bekerja langsung pada proyek konstruksi, yang diharapkan akan beralih ke tahap produksi aktual dari ruas terowongan pada tahun 2023.

Penempatan ruas tersebut akan memakan waktu sekitar tiga tahun. Michael Svane dari Confederation of Danish Industry, salah satu organisasi bisnis terbesar Denmark, yakin terowongan itu akan bermanfaat bagi bisnis di luar Denmark itu sendiri.

Baca juga: ARJ Holding, Investor Eksternal Pertama Untuk Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Terpanjang di Dunia

“Terowongan Fehmarnbelt akan menciptakan koridor strategis antara Skandinavia dan Eropa Tengah. Perpindahan kereta api yang ditingkatkan berarti lebih banyak barang yang bergerak dari jalan raya ke kereta api, mendukung sarana transportasi yang ramah iklim. Kami menganggap koneksi lintas batas sebagai alat untuk menciptakan pertumbuhan dan lapangan kerja tidak hanya secara lokal, tetapi juga secara nasional,” katanya.

 

 

 

Inggris Geger, Kamera Tersembunyi dengan Teknologi AI Tanpa Izin Menganalisa Emosi dan Demografi Ribuan Penumpang Kereta

Ribuan penumpang kereta komuter di Inggris yang emosi dan demografinya direkam oleh sistem kamera AI (Artificial Intelligence) tersembunyi di stasiun-stasiun besar, sebuah laporan baru mengungkapkan. Berita tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran privasi yang serius, muncul setelah permintaan kebebasan informasi oleh Big Brother Watch.

Baca juga: National Rail (Inggris) Hadirkan Peringatan Penumpang via Aplikasi Jika Kereta dan Stasiun Penuh

Selama lebih dari dua tahun, Network Rail, perusahaan yang mengawasi infrastruktur kereta api Inggris, melakukan program uji coba rahasia di stasiun-stasiun utama seperti Waterloo dan Euston di London, Manchester Piccadilly, dan lainnya di seluruh negeri.

Kamera dengan teknologi kecerdasan buatan yang ditempatkan secara strategis di penghalang tiket, menangkap wajah penumpang dan memasukkannya ke dalam layanan Amazon’s Rekognition, sebuah alat AI canggih yang menganalisis gambar untuk menentukan emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan. Selain itu, sistem memperkirakan usia dan jenis kelamin penumpang.

Network Rail membela program tersebut, mengklaim bahwa program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan berpotensi menghasilkan pendapatan iklan tambahan dengan memahami demografi penumpang dan keadaan emosional. Namun, para pendukung privasi mengecam keras kurangnya transparansi seputar persidangan tersebut dan meragukan keakuratan dan kegunaan teknologi pendeteksi emosi, khususnya dalam lingkungan yang dinamis.

Big Brother Watch telah menyatakan keprihatinannya yang mendalam. “Sangat mengkhawatirkan bahwa badan publik seperti Network Rail akan melakukan uji coba pengawasan AI buatan Amazon dalam skala besar tanpa memberi tahu publik,” kata Jake Hurfurt, kepala penelitian dan investigasi kelompok tersebut. “Menggabungkan teknologi keselamatan dengan alat-alat yang memiliki manfaat ilmiah yang dipertanyakan dan menyarankan agar data tersebut digunakan untuk periklanan adalah perkembangan yang mengkhawatirkan.” Big Brother Watch telah mengajukan keluhan ke Kantor Komisaris Informasi (ICO), pengawas privasi data Inggris.

Para ahli di bidang teknologi dan hukum pun menyuarakan keprihatinannya. Profesor Lilian Edwards dari Universitas Newcastle menyebut aspek pengenalan emosi dalam program ini “tidak etis dan mungkin ilegal,” menyoroti sifat teknologi yang belum terbukti dan kurangnya transparansi.

Profesor Sandra Wachter dari Universitas Oxford menambahkan kritik tersebut, dengan menekankan potensi bias teknologi berdasarkan gender dan etnis, serta ketidakandalan yang melekat pada teknologi tersebut. “AI tidak bisa membaca emosi secara akurat,” tegasnya. “Pengawasan seperti ini tidak hanya melanggar privasi tetapi juga menormalkan asumsi bahwa setiap orang berpotensi menjadi penjahat, dan hal ini tidak benar.”

Network Rail membela tindakannya dengan menekankan komitmennya terhadap keamanan. Mereka menyatakan bahwa mereka memanfaatkan berbagai teknologi canggih untuk melindungi penumpang, staf, dan infrastruktur kereta api dari kejahatan dan ancaman lainnya. Perusahaan juga mengklaim bahwa mereka mematuhi undang-undang perlindungan data dan berkolaborasi dengan lembaga penegak hukum untuk memastikan metode mereka proporsional dan legal.

Stasiun dan Kereta Api Bisa Jadi Pilihan Untuk Upacara dan Resepsi Pernikahan

Bandara Charles de Gaulle Paris Kekurangan Garbarata Jelang Olimpiade Musim Panas 2024

Paris sebentar lagi akan menjadi kota yang sangat sibuk, pasalnya pada 26 Juli mendatang akan dibuka secara resmi Olimpiade Musim Panas 2024, yang akan berlangsung sampai 11 Agustus 2024. Lantaran bakal dibanjiri oleh tamu dan wisatawan manca negara, maka sektor penerbangan di Perancis harus menyiapkan diri. Namun, rupanya ada masalah yang masih mengganjal pada kesiapan pelayanan di Bandara Internasional Charles de Gaulle (CDG).

Baca juga: Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Charles de Gaulle, Dirancang oleh Arsitek yang Sama

Pangkal sebabnya adalah rasa frustasi yang diungkapkan CEO Air France-KLM yang mengeluhkan keterbatasan Jetbridge (garbarata) di bandara utama di Perancis tersebut. Bandara ini sedang menghadapi minggu-minggu sibuk ke depan karena pertandingan Olimpiade dan kesibukan perjalanan musim panas.

CEO Air France-KLM telah menyatakan keprihatinannya atas kekurangan garbarata di Bandara CDG Paris dan beberapa kekurangan infrastruktur lainnya serta dampaknya terhadap biaya maskapai penerbangan. Hal ini terjadi menjelang Olimpiade Paris, saat kota ini bersiap menyambut masuknya wisatawan dan atlet dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam acara tersebut.

Seperti dikutip Simple Flying, Ben Smith, CEO grup Air France-KLM, baru-baru ini berbicara dengan wartawan saat ulang tahun ke-20 grup tersebut dan membahas, antara lain, perlunya peningkatan infrastruktur di Bandara Charles de Gaulle.

Smith merasa frustrasi dengan kurangnya garbarata di bandara dan sebagai akibatnya maskapai ini kesulitan mendapatkan tempat parkir yang memadai setiap hari. Ia menjelaskan bahwa keadaan menjadi sangat rumit pada jam-jam sibuk pagi hari ketika banyak pesawat tidak memiliki jalur jet atau gerbang “kontak”. Hal ini juga menyebabkan ketidaknyamanan dalam mengangkut penumpang dengan bus.

Smith lebih lanjut menambahkan bahwa karena masalah ini, Air France harus melakukan negosiasi dengan Aeroports de Paris, yang mengoperasikan Bandara Charles de Gaulle, “tergantung pada apa yang dimiliki maskapai lain, untuk mencoba menemukan posisi parkir untuk armada kami.” Menurut juru bicara perusahaan, Air France terpaksa memarkir 10% penerbangan jarak menengah dan 5% penerbangan jarak jauh di tempat terpencil.

Menurut Smith, salah satu hal yang perlu diperbaiki di CDG adalah jarak yang jauh ke hanggar pemeliharaan yang membuat pesawat sibuk lebih lama karena adanya waktu penarik ekstra. Ia bahkan mencontohkan bandara global lain yang jauh lebih efisien dalam mengantarkan pesawatnya ke fasilitas pemeliharaan lebih cepat.

Bandara Schipol Jadi Satu-satunya di Dunia yang Masih Operasikan Garbarata Ganda