Tujuh Stasiun Kereta Api dengan Fasilitas Unik di Berbagai Negara

Kereta api bukan hanya alat transportasi, tetapi juga cerminan budaya atau sejarah dari suatu negara. Beberapa stasiun kereta api di dunia memiliki fasilitas unik yang membuatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Berikut adalah tujuh stasiun kereta api dengan fasilitas unik di berbagai negara yang bisa Anda kunjungi.

1. Stasiun King’s Cross, London, Inggris
Stasiun King’s Cross di London adalah salah satu stasiun paling terkenal di dunia berkat Platform 9¾ yang menjadi ikonik dalam seri Harry Potter karya J.K. Rowling. Platform ini menjadi tempat dimana para penyihir muda memulai perjalanan mereka ke Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.

Untuk para penggemar Harry Potter, King’s Cross menawarkan pengalaman unik dengan adanya replika troli yang setengah menembus dinding, memberikan kesan troli tersebut seolah-olah menuju ke platform ajaib. Selain itu, di stasiun di Inggris ini juga terdapat toko resmi Harry Potter yang menjual berbagai macam merchandise, mulai dari tongkat sihir hingga pakaian bertema Hogwarts.

2. Stasiun Kanazawa, Jepang
Stasiun Kanazawa di Jepang terkenal dengan pintu gerbang Tsuzumi yang megah dan desain arsitekturnya yang menggabungkan elemen tradisional dan modern. Pintu gerbang ini menyerupai drum tradisional Jepang. Di dalam stasiun, terdapat taman nasional Jepang yang indah dengan kolam, air terjun, dan berbagai tanaman khas. Taman ini memberikan suasana yang tenang dan menyegarkan bagi para penumpang kereta.

Selain itu, stasiun ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern seperti pusat perbelanjaan dan restoran yang menawarkan berbagai macam kuliner khas Jepang. Anda harus mencobanya saat berkunjung kesana.

3. Stasiun Helsinki, Finlandia
Stasiun Helsinki di Finlandia adalah salah satu contoh terbaik dari arsitektur Art Nouveau. Bangunan ini dirancang oleh Eliel Saarinen dan dibuka pada tahun 1919. Fasad stasiun yang megah dihiasi dengan patung-patung penjaga granit yang memegang bola lampu memberikan tampilan yang kuat dan kokoh.

Bagian dalam stasiun pun tak kalah menawan dengan dekorasi khas Art Nouveau yang elegan dan artistik. Stasiun ini juga menjadi pusat transportasi utama di Helsinki, menghubungkan berbagai rute kereta api domestik dan internasional.

4. Stasiun Atocha, Madrid, Spanyol
Stasiun Atocha di Madrid bukan hanya stasiun kereta api, tetapi juga rumah bagi semua taman tropis yang luas. Taman ini berada di dalam bangunan stasiun dan mencakup area lebih dari 4.000 meter persegi.

Terdapat lebih dari 7.000 tanaman dari 260 spesies yang berbeda di dalam taman ini, menciptakan suasana hijau dan segar di tengah keramaian kota. Selain itu, stasiun ini juga memiliki berbagai fasilitas seperti restoran, pusat perbelanjaan, dan area duduk yang nyaman untuk menunggu kereta.

5. Stasiun Tanggula, Tibet, China
Stasiun Tanggula di Tibet berada di ketinggian 5.068 meter diatas permukaan laut. Stasiun ini merupakan bagian dari jalur Kereta Api Qinghai-Tibet, yang menghubungkan kota-kota di China dengan Lhasa, ibukota Tibet.

Karena ketinggiannya yang ekstrim, stasiun ini dilengkapi dengan fasilitas khusus seperti sistem oksigen tambahan untuk membantu penumpang beradaptasi dengan ketinggian. Pemandangan di sekitar stasiun ini juga sangat menakjubkan, yaitu pegunungan bersalju dan lanskap alam yang spektakuler.

Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas Awan

6. Stasiun Grand Central, New York, AS
Stasiun ini terkenal karena keindahan arsitekturnya. Langit-langit stasiun ini dihiasi dengan lukisan rasi bintang yang menakjubkan, memberikan suasana yang magis dan artistik.

Selain itu, stasiun ini juga dikenal dengan pasar makanan gourmet yang menawarkan berbagai pilihan kuliner dari seluruh dunia. Pasat makanan ini menjadi tempat yang populer bagi penduduk lokal maupun wisatawan untuk mencicipi makanan lezat sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta. Stasiun ini telah dilengkapi dengan lift penumpang untuk memastikan aksesibilitas bagi semua penumpang, termasuk mereka yang membawa barang bawaan, penumpang dengan disabilitas, dan orang tua dengan anak-anak.

Inilah Grand Central Terminal, Stasiun Kereta Terbesar di Dunia, Punya 67 Line!

7. Stasiun Semarang Tawang, Indonesia
Stasiun Semarang Tawang di Indonesia adalah salah satu stasiun tertua dan paling bersejarah di negara ini. Stasiun ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan memiliki arsitektur khas Belanda yang elegan dan klasik. Selain melayani penumpang, stasiun ini juga memiliki sebuah museum kecil yang menampilkan berbagai artefak dan informasi tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Museum ini menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi bagi mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang perkembangan transportasi kereta api di Indonesia. Stasiun ini juga memiliki fasilitas modern seperti ruang tunggu dan kios-kios penjual makanan.

Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel

Stasiun-stasiun kereta api di berbagai negara ini menunjukkan betapa beragamnya cara negara-negara merancang dan menggunakan stasiun mereka lebih dari sekadar tempat transit.

Dengan fasilitas-fasilitas unik yang diberikan, stasiun-stasiun ini tidak hanya memudahkan perjalanan tetapi juga memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para penumpang. Fasilitas pendukung pada setiap stasiun ini juga menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan yang datang.

Apakah Anda pecinta arsitektur, penggemar Harry Potter, atau hanya seseorang yang mencari tempat menarik untuk dikunjungi? Stasiun-stasiun ini patut untuk dimasukkan dalam daftar kunjungan Anda selanjutnya. (Arumka – Kontributor)

Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

Pada umumnya, tidak semua maskapai mempunyai pesawat sendiri. Banyak dari mereka yang memilih untuk menyewa pesawat ke berbagai lessor di dunia dengan berbagai alasan. Opsi membeli ataupun menyewa pesawat sebetulnya sama-sama memiliki andil besar dalam menyokong kesuksesan bisnis maskapai. Bergantung pada bagaimana pengelolaan bisnis itu sendiri.

Baca juga: Mengapa Perusahaan Leasing ‘Diburu’ Maskapai dan Mengapa Maskapai Menyewa Pesawat? Ini Jawabannya

Wizz Air, misalnya, tidak akan mencapai pertumbuhan 253 persen dalam delapan tahun terakhir tanpa 100 persen menyewa pesawat. Belum lama ini, pertumbuhan dinamis LOT Polish Airlines, Indigo, GOL atau Vueling juga tak terlepas dari keputusan menyewa pesawat. Maskapai tersebut saat ini tercatat memiliki lebih dari 70 persen pesawat sewaan.

Di seluruh dunia, ada banyak leasing pesawat dengan capital reserves serta kepemilikan pesawat terbesar. Anehnya, CEO tiga dari lima leasing pesawat terbesar di dunia yang saat ini memimpin perusahaan masing-masing ‘lahir’ dari pelopor industri leasing pesawat, Guinness Peat Aviation, yang sejak November 1998 telah dinyatakan bangkrut. Agar lebih jelas, berikut daftar lima lessor atau leasing pesawat terbesar di dunia versi KabarPenumpang.com.

1. AerCap
Pada tahun 2017, perusahaan sewa guna usaha dan penjualan pesawat atau lebih masyhur dikenal perusahaan leasing pesawat ini memilik total pesawat sebanyak 1.566 pesawat, termasuk 970 pesawat narrowbody dan 305 widebody. Pada tahun 2019, situs statista.com mencatat perusahaan asal Irlandia itu memiliki pesawat dengan total asset mencapai 34,5 miliar dollar atau Rp486 (kurs 1 dollar = Rp13.847). Perusahaan yang dipimpin oleh Aengus Kelly, eks Guinness Peat Aviation (GPA), ini menjadi terbesar di dunia setelah mengakuisisi International Lease Finance Corp.

2. GECAS
GECAS adalah singkatan dari GE Capital Aviation Services. Dari segi jumlah pesawat, perusahaan pembiayaan dan leasing komersial Irlandia-Amerika tercatat sebagai yang terbesar di dunia. Pada tahun 2017, cucu usaha dari General Electric ini memiliki 1,035 armada narrowbody dan 168 widebody. Selain itu, GECAS juga memiliki 374 jet regional, pangsa pasar yang tak mampu dilawan seluruh kompetitornya. Perusahaan yang dipimpin oleh Greg Conlon merupakan ‘pecahan’ dari eks pelopor leasing pesawat, GPA, yang sejak November 1998 telah dinyatakan bangkrut.

3. Avolon
Avolon Leases Aircraft adalah perusahaan penyewaan pesawat yang berbasis di Dublin, Irlandia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2010 oleh eks pelopor leasing pesawat, GPA, Domhnal Slattery, dengan modal awal sebesar US$1.4 miliar. Mayoritas saham Avolon dimiliki oleh Bohai Leasing, perusahaan leasing (apapun, tak terbatas hanya pada leasing pesawat saja) terbesar kedua di dunia, beroperasi di 80 negara, dengan aset mencapai Rp653 triliun.

Tahun lalu, Avolon Leases Aircraft melaporkan berhasil mencatatkan laba bersih Rp10,2 triliun, naik sedikit dari tahun sebelumnya diangka yang nyaris sama, serta total kepemilikan pesawat mencapai 925. Di masa pandemi corona, dimana maskapai pada kesulitan keuangan, Avolon mengaku banyak dihubungi maskapai untuk membantu masalah keuangan sekaligus membicarakan perihal pembayaran utang kredit pesawat.

4. SMBC Aviation Capital
CEO salah satu lessor Garuda Indonesia itu, Peter Barrett, belum lama ini mengungkap bahwa capital reserves mereka sekitar US$6,1 miliar atau Rp85 triliun lebih (kurs 1 dollar = Rp13.853). Menurut praktisi hukum, dengan dana sebesar itu, mereka disebut mampu bertahan sampai sekitar sembilan bulan dengan kondisi kredit macet akibat pandemi corona. Sama seperti AerCap dan Avolon, SMBC Aviation Capital juga dipimpin oleh eks GAP.

Baca juga: Penerbangan Komersial Dilarang Beroperasi, Maskapai Penerbangan Indonesia ‘Dihantui’ Tuntutan Lessor

Meski memiliki modal besar, belum tentu lessor memiliki dana itu sendirian. Menurut statista.com sumber pendanaan utama di pasar penyewaan pesawat adalah melalui pasar modal dan hutang bank. Pendanaan juga dapat diperoleh dengan menggunakan uang tunai atau kredit ekspor. Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial yang digunakan untuk penyewaan pesawat terbesar di dunia. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

5. BOC Aviation
Menurut statista.com, pada tahun 2017, wilayah dengan armada pesawat sewaan terbesar di dunia adalah Eropa dengan 3.500 pesawat, diikuti Amerika Utara dengan 3.324 pesawat pada periode yang sama. Nah, untuk wilayah Asia-Pasifik, BOC Aviation adalah rajanya. Meskipun belum ada data spesifik, namun perusahaan yang dipimpin oleh Robert Martin ini memiliki market share tak tertandingi. Salah satu maskapai yang intens berkerjasama dengannya adalah Cathay Pacific.

Sewa Operasi (Operating Lease), Jadi Tipe Kepemilikan Pesawat Paling Populer

Setelah pada artikel sebelumnya dikupas tentang keuntungan dan tantangan dari delapan tipe kepemilikan pesawat, maka di artikel kali ini kami kupas satu di antaranya yang dikenal paling populer digunakan oleh banyak layanan penerbangan. Dalam industri penerbangan, tipe kepemilikan yang paling banyak digunakan adalah Sewa Operasi (Operating Lease). Apa yang menjadi alasannya, simak bahasannya pada tulisan ini.

Baca juga: Empat Kali Lipat dari Harga Rata-rata Global, Biaya Leasing Pesawat Bikin Garuda Indonesia Bangkrut

Banyak maskapai penerbangan komersial menggunakan sewa operasi untuk memperoleh pesawat tanpa perlu membayar biaya penuh di muka atau menanggung beban kepemilikan jangka panjang. Keuntungan yang ditawarkan dari sewa operasi seperti maskapai bisa menyesuaikan ukuran armada mereka sesuai dengan permintaan pasar tanpa komitmen jangka panjang. Kemudian dari segi biaya, tidak memerlukan investasi awal yang besar seperti pembelian pesawat langsung.

Sewa operasi memungkinkan maskapai untuk terus memperbarui armada mereka dengan pesawat yang lebih baru dan lebih efisien. Sering kali, kontrak sewa operasi termasuk layanan pemeliharaan dan dukungan dari perusahaan leasing. AerCap, GECAS (GE Capital Aviation Services), dan Air Lease Corporation adalah beberapa perusahaan leasing besar yang menyediakan pesawat untuk maskapai di seluruh dunia.

Di Indonesia, penggunaan sewa operasi juga merupakan tipe kepemilikan yang paling umum digunakan oleh maskapai penerbangan. Maskapai penerbangan Indonesia, seperti banyak maskapai lainnya di seluruh dunia, memilih sewa operasi untuk menghindari biaya awal yang tinggi yang terkait dengan pembelian pesawat baru.

Dengan sewa operasi, maskapai dapat menyesuaikan armada mereka berdasarkan fluktuasi permintaan pasar, terutama mengingat sektor pariwisata yang bisa sangat dinamis di Indonesia. Sewa operasi memungkinkan maskapai untuk memperbarui armada mereka lebih sering, yang penting untuk menjaga efisiensi operasional dan memenuhi standar keselamatan. Banyak kontrak sewa operasi yang termasuk layanan pemeliharaan dan dukungan dari perusahaan leasing, mengurangi beban operasional maskapai.

Meskipun sewa operasi menawarkan fleksibilitas dan biaya awal yang rendah, maskapai penerbangan harus mempertimbangkan kelemahan potensial seperti biaya jangka panjang yang lebih tinggi, ketergantungan pada penyedia leasing, dan keterbatasan dalam modifikasi pesawat.

Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

Marak Turbulensi Ekstrim, Emirates Rilis Video Keselamatan Terbaru yang Lebih “To The Point”

Beberapa penerbangan mengalami kejadian turbulensi ekstrim dalam waktu berdekatan, tak pelak itu menjadi momok yang mencemaskan bagi para penumpang. Pihak maskapai pun telah memberikan panduan-panduan untuk menghadapi kejadian tidak terduga yang terjadi selama penerbangan.

Baca juga: Singapore Airlines Tawarkan Kompensasi Mulai US$10.000 pada Penumpang yang Terluka dalam Insiden Turbulensi Flight SQ321

Seperti belum lama ini Emirates telah merilis video keselamatan baru yang “sungguh-sungguh”, yang menghindari hal-hal yang berlebihan dan langsung pada intinya. Kesederhanaan video ini berlawanan dengan tren industri berupa video keselamatan yang mencolok dan menarik perhatian.

Video keselamatan tersebut dibuka dengan pramugari Emirates yang memberi tahu penumpang bahwa pengarahan keselamatan “tidak akan menampilkan penari yang menyanyikan lagu, karakter dari film, atau selebritas yang mencoba melucu.” Sebaliknya, ini bertujuan untuk memberikan penjelasan langsung tentang hal-hal penting keselamatan tanpa memerlukan sesuatu yang menarik perhatian, seperti aktor terkenal atau pertunjukan tarian yang mencolok.

Pihak maskapai mengatakan, “Jika Anda mengharapkan penari, bintang film, dan penyanyi, kami menyimpannya untuk hiburan dalam penerbangan kami. Kami menjaga keselamatan Anda dengan serius. Jadi, inilah video keselamatan terbaru kami yang sungguh-sungguh untuk penerbangan Emirates Anda berikutnya.”

Video tersebut membahas informasi keselamatan biasa, seperti menyimpan tas dan mengencangkan sabuk pengaman, yang dipimpin oleh awak kabin Emirates. Hal ini juga membuat keputusan cerdas untuk memotong klip penumpang yang menjelaskan banyak bagian penting, menciptakan perasaan bahwa semua orang di dalam pesawat terlibat dalam proses keselamatan. Video diatur seluruhnya di dalam kabin dan, selain musik yang menenangkan dan suar lensa yang aneh, tidak ada yang dibuat-buat.

Saat ini, maskapai penerbangan sering kali mencoba membuat video keselamatan mereka semenarik mungkin agar dapat ditonton oleh banyak penumpang, dan hal ini menjadi semakin penting di era ponsel pintar yang ada di mana-mana. Namun, pendekatan ini dapat mengurangi rincian pesan. Kita telah melihat beberapa maskapai penerbangan – video keselamatan Air India yang baru-baru ini dirilis yang menampilkan tarian rakyat India, atau upaya British Airways dari tahun lalu, muncul dalam pikiran kita – tampil maksimal dengan video keselamatan mereka, meskipun maskapai lain, seperti Japan Airlines, telah mempertahankan standar yang lebih diremehkan.

Dan Emirates telah menjejalkan semua informasi keselamatan penting ini ke dalam video berdurasi kurang dari empat menit. Durasi ini lebih pendek dari video United yang baru (4 menit 53 detik) dan jauh berbeda dengan durasi video keselamatan beranggaran tinggi terbaru Qantas yang berdurasi 9 menit 33 detik.

Video Keselamatan di Penerbangan Korean Air Kini Dibintangi Pramugari Virtual

Inilah Beragam Metode Boarding di Bandara, Nomer 3 Paling Unik

Di bandara internasional yang menampung pergerakan ribuan penumpang, maka pengaturan penumpang menjadi tantangan tersendiri, terkhusus di ruang boarding, bagaimana mengatur masuknya penumpang ke dalam kabin pesawat, adalah seni tersendiri. Bukan perkara mudah bila yang dihadapi ratusan penumpang dengan berbagai latar belakang dan kepentingan.

Baca juga: Padahal Sudah Pegang Tiket, Ini Sebab Calon Penumpang Rela Antre di Depan Gate Boarding

Nah, secara teori ada ada beberapa jenis sistem boarding yang digunakan di bandara untuk memfasilitasi proses masuknya penumpang ke dalam kabin pesawat. Beberapa sistem boarding yang umum digunakan adalah:

1. Boarding dengan Nomor Urut Kursi
Ini adalah metode paling umum di mana penumpang memasuki pesawat sesuai dengan nomor urut kursi mereka. Misalnya, penumpang diberi nomor urut tiket seperti “Grup 1,” “Grup 2,” atau “Baris 30 ke atas” untuk mengatur urutan masuk ke pesawat.

2. Boarding dengan Zona
Bandara sering mengatur penumpang menjadi zona atau kelompok kecil, dan penumpang dalam zona yang sama diminta untuk masuk ke pesawat bersama-sama. Ini dapat membantu menghindari kerumunan di pintu masuk pesawat.

3. Boarding Terbalik
Dalam metode ini, penumpang dengan kursi jendela masuk terlebih dahulu, diikuti oleh penumpang dengan kursi tengah, dan akhirnya penumpang dengan kursi lorong. Ini membantu mengurangi gangguan saat penumpang mencari tempat duduk.

4. Boarding Berdasarkan Kelas atau Status
Penumpang dalam kelas yang lebih tinggi atau dengan status khusus, seperti pemegang kartu keanggotaan program loyalitas, biasanya diberi prioritas untuk masuk ke pesawat lebih awal.

5. Boarding Acak
Beberapa maskapai juga mencoba metode boarding acak di mana penumpang dipanggil untuk masuk tanpa memperhatikan urutan kursi mereka. Tujuan dari metode ini adalah untuk mengurangi antrian dan kerumunan.

6. Boarding dengan Pintu Khusus
Di beberapa bandara, ada pintu khusus untuk penumpang kelas bisnis atau penerbangan pertama. Penumpang yang masuk melalui pintu ini memiliki akses terpisah ke pesawat.

Baca juga: Ini Uniknya Boarding di Beberapa Maskapai Dunia

Setiap maskapai mungkin memiliki prosedur boarding yang berbeda, dan metode yang digunakan dapat bervariasi berdasarkan ukuran pesawat, kapasitas bandara, dan preferensi maskapai. Tujuan utama dari sistem boarding adalah untuk memastikan proses berjalan lancar, aman, dan efisien, serta meminimalkan waktu tunggu penumpang.

Pilih Boarding Terakhir Masuk Pesawat, Ini Beberapa Alasan yang Mengemuka

Dalam penerbangan jarak jauh, kerap kita melihat banyak penumpang untuk masuk terakhir ke dalam pesawat. Saat penumpang lain tengah antri, beberapa penumpang malah terlihat santai duduk-duduk di ruang boarding. Faktanya, banyak penumpang memilih untuk masuk pesawat terakhir karena beberapa alasan yang berkaitan dengan kenyamanan dan preferensi pribadi.

Baca juga:

1. Mengurangi Waktu Tunggu di Dalam Pesawat
Penumpang yang naik terakhir tidak perlu menunggu lama dalam antrian boarding, mengurangi waktu yang dihabiskan berdiri dan menunggu. Penumpang bisa menghabiskan lebih banyak waktu di ruang tunggu yang nyaman daripada duduk di kursi pesawat yang mungkin lebih sempit dan kurang nyaman.

2. Kebebasan Bergerak Lebih Lama
Penumpang dapat tetap aktif dan bergerak di sekitar terminal lebih lama, yang bisa lebih nyaman daripada duduk di pesawat untuk waktu yang lama sebelum lepas landas. Mereka bisa menggunakan fasilitas di bandara, seperti kamar mandi atau kios makanan, sampai detik terakhir.

3. Menghindari Kekacauan di Kabin
Boarding terakhir memungkinkan penumpang menghindari kerumunan dan kekacauan saat penumpang lain mencoba menyimpan bagasi mereka di kompartemen atas. Dengan boarding terakhir, mereka dapat duduk dengan lebih nyaman tanpa harus berdiri atau bergerak ketika orang lain menata bagasi mereka.

4. Bagasi Kabin
Penumpang yang naik terakhir mungkin tidak khawatir tentang ruang bagasi di kompartemen atas karena mereka merencanakan untuk menaruh barang bawaan di bawah kursi di depan mereka atau mereka bepergian dengan tas yang lebih kecil. Penumpang dengan status prioritas atau yang tidak membawa banyak barang mungkin merasa tidak perlu tergesa-gesa untuk mencari ruang bagasi di atas.

5. Preferensi Pribadi
Beberapa penumpang mungkin hanya merasa lebih nyaman dan santai dengan masuk terakhir, sebagai bagian dari rutinitas perjalanan mereka. Penumpang yang pernah mengalami penantian panjang di dalam pesawat mungkin lebih suka menghindari pengalaman tersebut dengan boarding terakhir.

Masuk Kabin Pesawat Lebih Awal, Beri Penumpang Banyak Kebebasan

Memilih untuk masuk pesawat terakhir adalah pilihan yang seringkali didasarkan pada kenyamanan, preferensi pribadi, dan keinginan untuk mengurangi waktu menunggu di dalam pesawat. Setiap penumpang memiliki alasan unik yang mendorong mereka untuk memilih strategi boarding yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.

 

Biar Tak Kelelahan dan Aman, Begini 4 Aturan Kerja FAA Bagi Pilot

Meski sudah banyak dibantu teknologi canggih di pesawat, pilot tetap saja rawan mengalami kelelahan. Karenanya, Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) telah merancang sejumlah aturan untuk mencegah terjadinya fatigue pilot.

Baca juga: (1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Setidaknya ada empat aturan yang dikeluarkan FAA. Aturan-aturan tersebut, seperti dikutip dari work.chron.com, berlaku untuk semua penerbangan, baik internasional maupun domestik, dan fokus pada istirahat, waktu istirahat, dan membatasi waktu yang dihabiskan di udara.

1. Flight Time Limitations

FAA mendefinisikan waktu penerbangan sebagai periode dimana pesawat mempunyai kekuatan dan cukup mampu untuk bergerak. Jadi, tidak terbatas pada saat meluncur di runway dan cruising di udara saja, melainkan berbagai proses sebelum dan setelah itu, seperti taxiing, deicing, dan waiting time di apron. Selama itu (taxiing, deicing, dan waiting time di apron) menyalakan mesin, maka itu disebut waktu penerbangan.

Flight time limitations atau batasan waktu penerbangan pilot -jika hanya ada satu pilot dalam sebuah penerbangan- adalah sembilan jam. Jika ada tiga pilot dalam satu penerbangan itu diperpanjang jadi 13 jam. Empat pilot lebih panjang lagi jadi 17 jam.

2. Flight Duty Limitations

Berbeda dengan waktu penerbangan, tugas penerbangan dimulai saat pilot melapor persiapan sebuah penerbangan sampai pesawat terparkir rapi di apron pada penerbangan terakhirnya.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Di luar itu, selama pilot memiliki waktu istirahat yang cukup sesuai standar FAA, maka, berbagai aktivitas non-terbang seperti stand by di bandara, pelatihan, terbang sebagai penumpang untuk mengambil sebuah penerbangan di bandara lain dihitung sebagai tugas penerbangan.

Flight duty limitation atau batasan tugas penerbangan didasarkan pada waktu penerbangan pertama di hari tersebut, jumlah pilot (kru kokpit) dalam sebuah penerbangan, number of legs on the flight, dan jenis fasilitas istirahat yang tersedia di pesawat.

Bagi single kokpit atau penerbangan satu pilot, batas tugas penerbangan berkisar sembilan sampai 14 jam. Lebih dari itu, flight duty limitation antara 13 sampai 19 jam.

3. Rest Periods

Rest periods atau waktu istirahat harus setidaknya 10 jam setiap habis melaksanakan tugas penerbangan. Dari 10 jam, delapan jam di antaranya harus digunakan untuk tidur.

Waktu istirahat dimulai saat pilot bebas dari tugas dan berakhir saat pilot melapor untuk sebuah penerbangan. Aturan ini juga termasuk mengharuskan maskapai untuk memastikan pilot bebas dari tugas apapun selama minimal 30 jam berturut-turut per pekan.

Baca juga: Saat Pesawat ‘Terpaksa’ Return to Base dan Divert Landing, Pilot Harus Penuhi Empat Syarat Ini

4. Cumulative Limitations

Cumulative limitations atau batasan kumulatif adalah aturan membatasi pilot maksimal hingga 60 jam tugas penerbangan per pekan atau 168 jam berturut-turut. Dalam periode 28 hari berturut-turut, seorang pilot tidak diperbolehkan melebihi 290 jam dan diizinkan di bawah 100 jam (terhitung sebagai waktu penerbangan).

Di bawah Code of Federal Regulations FAA, selama 365 hari berturut-turut, pilot tidak boleh melebihi 1.400 jam waktu penerbangan.

 

Vietjet Tambahkan Rute Penerbangan Baru, Jangkau Lebih Banyak Destinasi di Asia-Pasifik

Vietjet saat ini mengoperasikan empat jalur penerbangan yang menghubungkan Vietnam dan Indonesia: Jakarta ke Ho Chi Minh City, Jakarta ke Hanoi, Bali ke Ho Chi Minh City, dan Bali ke Hanoi. Wisatawan Indonesia yang ingin mengunjungi Xi’an dapat memilih untuk terbang dari Jakarta atau Bali dengan melakukan transit di Ho Chi Minh.

Baca juga: Vietjet Luncurkan Penerbangan Langsung Hanoi – Melbourne, 8 Juni 2024 Buka Rute Langsung ke Sydney

Selain itu, wisatawan yang ingin melanjutkan perjalanan dari destinasi pantai populer di Vietnam, Nha Trang, ke Daegu dapat mengambil penerbangan dari Jakarta atau Bali, melakukan transit di Ho Chi Minh City, dan kemudian melanjutkan dengan penerbangan langsung dari Nha Trang ke Daegu.

Rute-rute baru ke Asia Timur Laut ini akan memperluas jaringan internasional Vietjet, sehingga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menjangkau lebih banyak destinasi di Vietnam, Asia Tenggara, dan seluruh wilayah Asia-Pasifik. Langkah ekspansi ini juga merupakan respons terhadap lonjakan permintaan yang signifikan dalam penerbangan penumpang dan kargo udara internasional di Asia-Pasifik, yang didorong oleh pertumbuhan aktivitas ekonomi global yang pesat. Menurut Association of Asia Pacific Airlines (AAPA), seluruh maskapai penerbangan di kawasan ini telah mengangkut 27,9 juta penumpang pada bulan Mei lalu, atau meningkat 23,9% dari tahun sebelumnya.

Wisatawan yang terbang bersama Vietjet dapat menikmati berbagai hidangan khas Vietnam dan internasional, seperti Pho (sup mie Vietnam), Banh Mi (baguette Vietnam), dan Ca Phe Sua Da (es kopi susu Vietnam), yang disajikan oleh awak kabin yang profesional di dalam pesawat yang modern dan ramah lingkungan.

Vietjet Raih ‘Best Ultra Low-Cost Airline’ dan ‘Best Low-Cost Airline Onboard Hospitality’ 2024

Ada Insiden Return to Base (Lagi), Garuda Indionesia Siapkan Pesawat Pengganti untuk Pulangkan Jemaah Haji

Garuda Indonesia memastikan kesiapan pesawat pengganti imbas peristiwa Return to Base (RTB) pada penerbangan GA-6239 dengan rute penerbangan Solo – Jeddah yang menggunakan pesawat Airbus 330-300, salah satu pesawat sewaan yang dipersiapkan untuk melayani penerbangan haji pada tahun ini.

Baca juga: Angkut Jamaah Haji, Boeing 747-400 Garuda Indonesia GA-1105 Return to Base di Makassar

Pesawat tersebut sedianya dipersiapkan untuk melayani penerbangan dari Jeddah pada fase pemulangan jemaah haji Indonesia menuju Tanah Air. Adapun penyebab RTB tersebut dikarenakan adanya masalah teknis pada salah satu engine pesawat sehingga diharuskan dilakukan pengecekan kembali dan tindak lanjut prosedur perawatan armada.

Penerbangan GA-6239 tersebut berangkat dari Solo setelah menjalani prosedur inspeksi pesawat rutin oleh pihak lessor maupun tim terkait. Sesaat setelah pesawat lepas landas, Pilot in Command (PIC) menemukan adanya indikator cockpit yang menunjukan kondisi salah satu engine pesawat yang memerlukan pengecekan lebih lanjut, sehingga PIC selanjutnya secara cepat memutuskan untuk melakukan prosedur RTB ke Solo.

Pesawat dengan nomor registrasi T7-MMM yang mengangkut 14 awak pesawat yang terdiri dari 3 cockpit crew dan 11 awak kabin tersebut telah kembali ke Bandara Adi Sumarmo, Solo pada pukul 21.07 waktu setempat. Adapun awak pesawat melakukan proses disembark sesuai dengan ketentuan prosedur safety yang berlaku.

Garuda Indonesia juga telah berkoordinasi dengan otoritas penerbangan terkait guna memastikan tindak lanjut penanganan pesawat termasuk prosedur penarikan pesawat menuju parking stand guna memastikan tidak ada dampak operasional atas peristiwa RTB tersebut.

Saat Pesawat ‘Terpaksa’ Return to Base dan Divert Landing, Pilot Harus Penuhi Empat Syarat Ini

Sebelum Naik Bus, Cek Dulu Terminalnya Tipe Apa?

Ada kabar bahwa Kementerian Perhubungan akan membangun terminal bus tipe A di Demak, Jawa Tengah. Pembangunan ini merupakan salah satu upaya peningkatan pelayanan transportasi jalan. Rencananya pembangunan yang akan menghabiskan dana sekitar Rp3,5 miliar tersebut akan selesai dalam waktu tiga tahun.

Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Muntilan, Kini Berubah Jadi Terminal Bus Prajitno

Berangkat dari kabar ini, ternyata tidak hanya bandara dan stasiun yang memiliki kelas atau tipe. Ternyata terminal juga  punya tipe tersendiri untuk melayani bus dan angkutannya. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa tipe terminal sendiri terbagi tiga yakni A, B dan C.

Kini yang jadi pertanyaan, apa perbedaan ketiga terminal ini? Pembagian tipe terminal sendiri ternyata dipisahkan kewenangannya menjadi milik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah. Pembagian ini juga didasari UU No.23/2014 tentang Pemerintah Daerah yang hanya membagi berdasarkan kewenangan pengelolaan terminal. Untuk menelisiknya lebih lanjut, berikut ini akan dibahas perbedaan dari tiga tipe terminal bus.

Terminal penumpang tipe A
Terminal tipe A ini juga disebut terminal induk yang berfungsi melayani kendaraan umum baik secara nasional maupun internasional seperti angkutan antarkota antarprovinsi atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam provinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan.

Biasanya terminal tipe A terletak di ibu kota Provinsi, Kotamadya atau Kabupaten dan terletak di jalan arteri dengan kelas jalan minimal kelas IIIA. Jumlah arus kendaraannya 50-100 per jamnya, memiliki luas 5 hektar di Pulau Sumatera dan Jawa, serta 3 hektar di pulau lainnya. Memiliki akses jalan masuk di Pulau Jawa 100 meter dan 50 meter untuk pulau lainnya. Penentuan lokasi pembangunannya pun dilaksanakan Direktur Jenderal setelah mendengar pendapat Gubernur.

Terminal penumpang tipe B
Terminal ini juga biasa disebut dengan terminal regional yang melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam provinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. Terminal tipe B sendiri letaknya di Kotamadya atau Kabupaten dan mencakup jaringan trayek angkutan kota dalam provinsi. Terletak di jalan arteri dengan kelas sekurang-kurangnya kelas IIIB. Memiliki jumlah arus kendaraan 25-50 per jamnya.

Terminal tipe ini memiliki luas di Pulau Jawa dan Sumatera seluas 3 hektar dan dipulau lainnya 2 hektar. Terminal tipe B memiliki akses masuk dengan jarak 50 meter untuk Pulau Jawa dan 30 meter untuk pulau lainnya. Penentuan lokasi pembangunannya pun dilakukan oleh Gubernur setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal.

Terminal penumpang tipe C
Terminal tipe C bisa dikatakan sebagai subterminal yang melayani kendaraan umum kelas kecil seperti angkutan kota dan angkutan pedesaan. Letaknya di dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dan dalam jaringan trayek angkutan desa, tak hanya itu terminal tipe C juga berada di jalan lokal dengan kelas jalan paling tinggi IIIA. Arus kendaraannya pun tak banyak hanya 25 per jamnya. Sedangkan luas dan akses jalan masuk ke terminalnya pun tergantung kebutuhan Kabupaten itu sendiri. Untuk penentuan lokasi dan letaknya dilaksanakan oleh Bupati Kepala Daerah/Walikotamadya Daerah Tingkat II setelah mendapat persetujuan Gubernur.

Baca juga: Wales Bangun Terminal Bus Terpadu, Sinergikan Ritel dan Perkantoran

Meski ada pembagian, terminal tipe A dan B minimal harus memiliki jalur pemberangkatan kendaraan umum, jalur kedatangan kendaraan umum, tempat tunggu kendaraan umum, tempat istirahat sementara kendaraan umum, bangunan kantor terminal tempat tunggu penumpang atau pengantar, menara pengawas, loket penjualan karcis, rambu-rambu dan papan informasi, yang memuat petunjuk jurusan, tarif dan jadwal perjalanan, pelataran parkir kendaraan pengantar dan taksi.

Selain itu juga harus dilengkapi dengan toilet, musholla, kios/kantin, ruang pengobatan, ruang infromasi dan pengaduan telepon umum serta tempat penitipan barang
Taman. Adapula kegiatan sirkulasi penumpang, pengantar, penjemput, sirkulasi barang dan pengelola terminal.