1 Agustus 1951, Japan Airlines Resmi Berdiri dengan Modal 100 Juta Yen

Siapa yang tak kenal dengan Japan Airlines (JAL), inilah flag carrier Jepang yang sampai saat ini melayani penerbangan reguler ke Indonesia. Sebagai maskapai internasional dengan besar, awalnya JAL didirikan dengan modal 100 juta yen di bawah pimpinan Aiichiro Fujiyama dan presiden Seijiro Yanagida. Berdiri pada 1 Agustus 1951 silam, JAL memulai awal operasinya dengan rute penerbangan domestik terjadwal dari Norwest Airlines.

Baca juga: Sambut Olimpiade Tokyo 2020, Japan Airlines Tampilkan Desain Seragam Baru

Maskapai ini mulai terbang perdana pada 27 Agustus 1951 dengan rute yang berangkat dari Bandara Haneda ke sekitaran Tokyo. Ada tiga pesawat yakni Martin 202 yang bermesin ganda, Douglas DC-4 dan Douglas DC-3 yang disebut Kinsei pada masa awal berdirinya.

Setelah delapan tahun mengitari rute domestik, tahun 1959, JAL kemudian menerbangkan rute internasional pertamanya dari Tokyo ke Los Angeles. Penerbangan ini tidak langsung melainkan transit di Honolulu dan menggunakan DC-7C yang terbukti menjadi pilihan tepat bagi maskapai.

Tak hanya itu, tahun 1959, JAL juga meresmikan rute internasional mereka lainnya seperti dari Tokyo ke Hong Kong transit Taipei dan Tokyo ke Seattle melewati Anchorage. Saat era jet, JAL memperkenalkan jet pertamanya DC-8 yang dikenai sebagai Fuji yang menerbangakan penumpang pada rute Tokyo ke San Francisco di Juli 1960.

JAL menutup layanan jet barunya dengan layanan penerbangan luar biasa yang mewakili budaya Jepang selain lounge bergaya Jepang dan kursi yang dibuat dengan Nishijin, tekstil tradisional yang diproduksi di Jepang. Maskapai ini, selama 27 tahun, memperoleh 60 pesawat DC-8 yang mengesankan dalam berbagai seri.

Hingga akhirnya maskapai asal Negeri Sakura tersebut terus melambung ke ketinggian baru dengan mencapai tempat transportasi penumpang dan kargo nomor satu di dunia, menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dari tahun 1983 dan mempertahankan posisi itu hingga tahun 1987. Kemudian, JAL mulai menggunakan armada Boeing 747-100 yang mengesankan, 200Bs, B747SR, dan 200Fs.

Dengan kehadiran armada-aramada baru, JAL mendominasi pasar baik secara internasional maupun domestik. Diketahui, Boeing 747SR secara khusus dirancang untuk penerbangan jarak pendek dan JAL mengambil keuntungan dari pengoperasian pesawat dengan hop domestik dari Tokyo ke Fukuoka dan Tokyo ke Sapporo.

Pesawat B747SR-SUD pada rute ini mencatat 563 kursi yang mengesankan. Pada tahun 1990, JAL menerima pesawat B747-400 pertamanya, dijuluki “Sky Cruiser,” dan melakukan penerbangan perdananya dari Tokyo ke Seoul, Fukuoka dan Okinawa.

April 2007, JAL membuat keputusan untuk bergabung dengan Oneworld Alliance yang saat ini menghubungkan 13 maskapai penerbangan, menyediakan 1.100 tujuan di seluruh dunia ke lebih dari 180 negara. JAL akan terus menghubungkan dunia dengan peluncuran Dreamliner 787-8 pada rute perdananya dari Narita ke Boston.

Kemudian, pada 2015, Dreamliner 787-9 juga bergabung dengan armada. Bisa dikatakan, ketika menutup sejarah JAL untuk melihat era kemajuan dalam penerbangan dan layanan selama beberapa dekade, maskapai ini terus memberikan tujuan baru yang menarik dan memberi palnggan kesempatan untuk menikmati budaya dari seluruh dunia.

Baca juga: Japan Airlines Terima Airbus A350-900, Tapi Justru Layani Penerbangan Domestik

Satu tujuan baru yang diumumkan JAL pada 29 Juli, adalah Vladivostok, Rusia karena hal itu membuat sejarah pada timeline JAL yang sudah mengesankan. JAL berencana untuk memulai layanan nonstop dari Tokyo ke Vladivostok selama musim panas 2020 dengan harapan untuk melanjutkan perkembangan diplomatik dan ekonomi dengan Rusia seperti yang telah dilakukan JAL selama hampir setengah abad. Rute ini akan menggunakan pesawat Boeing 737-800 dan memberikan opsi anggota oneworld untuk melanjutkan di dalam negeri di Rusia bersama sesama anggota aliansi S7.

Empat Kuburan Kereta di Indonesia, Padukan Nilai Estetik Tanpa Kesampingkan Nuansa Mistik

Siapa yang tidak merinding jika mendengar kata kuburan? Ya, tempat yang kerap kali disangkutpautkan dengan segala sesuatu yang berbau angker dan mistis ini memang dapat dengan mudah membuat bulu kuduk seseorang berdiri. Namun apa jadinya jika ada kuburan yang malah menyajikan artistik nan eksotik? Walaupun misteri tetap menyelimuti dan enggan pergi, namun nilai seni tinggi hadir di balik Kuburan Kereta Api!

Baca Juga: Kuburan Tak Selalu Seram, Stasiun Purwakarta Saksinya

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, tidak heran rasanya jika banyak kereta yang sudah tidak beroperasi dan terbengkalai begitu saja. Kereta-kereta yang sudah memasuki masa pensiunnya ini lalu dibiarkan begitu saja hingga perlahan waktu mulai menggerogoti kokohnya body si ular besi. Berikut, KabarPenumpang.com sarikan empat kuburan kereta api yang ada di Indonesia, dilansir dari sejumlah sumber.

Stasiun Purwakarta

Stasiun Purwakarta. Sumber: istimewa

Stasiun yang dilewati oleh KA Argo Parahyangan ini memang memiliki daya tarik tersendiri, yang paling kuat datang dari kuburan keretanya yang terletak di seberang peron penumpang. Tumpukkan puluhan gerbong menjulang hingga tingginya lebih dari enam meter. Warna-warni gerbong tua dan rambatan tanaman liar pun semakin menambah nilai estetika nan angker dari kuburan yang terletak di Nagri Tengah, Kec. Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat ini.

Stasiun Cikaum, Subang

Stasiun Cikaum. Sumber: youtube.com

Stasiun yang berada di Cikaum Barat, Cikaum, Subang ini terkenal sebagai salah satu tempat perucatan (dibesituakan) sejumlah KRL Eksekutif milik PT KCJ dan PT KAI. Terhitung, setidaknya sudah ada 80 hingga 100 KRL yang ‘membangkai’ di stasiun ini. Salah satu yang paling fenomenal dari tumpukan kereta ini adalah KRL bekas tragedi Bintaro.

Balai Yasa, Yogyakarta

Balai Yasa. Sumber: Tribun

Puluhan lokomotif diesel hydraulic yang pernah mewarnai perkeretaapian Indonesia di tahun 1960-an ini diletakkan di lahan kosong yang ada di Balai Yasa, Yogyakarta. Berdasarkan penuturan dari Eko Purwanto, selaku EVP Balai Yasa Yogyakarta, dirinya tidak menampik bahwa kereta-kereta yang pernah berjaya pada masanya ini kerap kali menimbulkan nuansa mistis yang kental.

“BB304 nomor seri lupa. Cerita mistis ada, bahkan tidak cuma soal itu (lokomotif yang terlibat kecelakaan di Bintaro). Tapi enggak masalah, pekerjaan tetap lancar,” tutur Eko.

Baca Juga: ‘Macet Puluhan Tahun’, Mobil-Mobil di Chatillon Belgia ini Bertransformasi Jadi Spot Angker!

Stasiun Sidotopo, Surabaya

Stasiun Sidotopo. Sumber: travelingyuk.com

Satu lagi tempat yang menampung pensiunan kereta api adalah Stasiun Sidotopo, Simokerto, Surabaya. Stasiun dengan jumlah jalur terbanyak di Indonesia ini sendiri memiliki kuburan kereta yang tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang. Bak tempat peristirahatan terakhir yang jarang tersentuh, puluhan kereta yang bersemayam di sini pun mulai termakan usia dan tertutup rimbunnya alang-alang. Namun, nilai estetika justru terpancar jika sang fotografer pintar mengambil sudut jepretnya.

Jadi, siapkah Anda mengasah kemampuan fotografi Anda di kuburan-kuburan tersebut?

Jangan Lupakan Beberapa Hal Penting ini Ketika Naik Kereta di Jepang

Memiliki jadwal kereta api yang selalu tepat waktu, Jepang sontak dikenal sebagai negara yang paling disiplin di dunia. Selain itu penumpangnya pun sangat sopan. Tetapi tidak semua orang memiliki perilaku yang sempurna dan standar tinggi dalam beretika ketika di transportasi umum.

Baca juga: Ikuti Jejak Indonesia, Peraturan Penumpang di Kereta India Dipertegas, Ribuan Orang Terkena Sanksi

Hal tersebut memungkinkan berbuat sedikit celah kesalahan ketika menggunakan kereta api. KabarPenumpang.com melansir japantoday.com, di mana Jepang Air Trip baru-baru ini melakukan survei perilaku penumpang dari 930 responden dan didapat beberapa hal yang seharusnya tidak dilakukan ketika menggunakan kereta api di Jepang.

(Akibatan.com)

1. Menggunakan kursi lebih dari satu (72,8 persen respon)
Kursi kereta Jepang dengan formasi dua-dua atau bangku panjang, tidak dirancang dengan banyak ruang ekstra per orang. Sehingga mengambil tempat berlebih seperti menyilangkan kaki dan meletakkan tas di sebelah sebaiknya tidak dilakukan.

2. Berbicara dengan suara keras dengan teman (58,5 persen) dan ditelepon (56,3 persen)
Ketika pergi naik kereta bersama teman atau tengah bertelepon dengan seseorang, kecilkan suara Anda. Karena dengan bersuara cukup keras bisa mengganggu penumpang, orang Jepang banyak menikmati tidur di kereta sebelum tiba di tujuan.

3. Meletakkan bawaan dengan tidak sopan (54,1 persen)
Letakkan tas atau barang bawaan Anda di rak atas kursi. Ini agar memberikan tempat yang lebih luas supaya penumpang lain bisa bergerak tanpa harus terhimpit tas atau barang bawaan.

(Akibatan.com)

4. Volume headphone keras (54 persen)
Penggunaan earphone atau headphone hanya untuk pribadi bukan untuk bersama, jadi ketika menggunakannya kecilkan suara agar hanya Anda yang mendengar.

5. Naik turun kereta dengan kasar (42,4 persen)
Biasanya ini terjadi ketika kondisi berlawanan yakni ketika Anda naik, penumpang lain akan turun atau sebaliknya dan seperti tidak sabaran.

6. Menggunakan riasan (40,5 persen)
Banyak yang tidak nyaman ketika bersebelahan dengan seseorang yang mengenakan riasannya. Hal ini dikarenakan serbuk-serbuk bedak yang berterbangan mengganggu penumpang lain.

7. Menggunakan ponsel pintar saat kereta penuh (36,3 persen)
Ketika keadaan penuh sesak, jangan memaksakan diri untuk mengeluarkan ponsel dan bermain. Baiknya simpan di tas atau saku Anda. Karena orang lain tidak suka punggung atau dadanya sebagai sandaran ponsel Anda.

8. Berlarian ke kereta (32,2 persen)
Kereta Jepang hampir selalu tepat waktu, jadi patutnya mudah untuk tahu jam berapa harus tiba di peron. Jika pintu tertutup dan ketinggalan kereta, sebaiknya naik kereta berikutnya dan jangan memaksa naik bila terlambat.

9. Mabuk ketika naik kereta (31,7 persen)
Implikasinya di sini bahwa, dalam keadaan mabuk, orang tersebut juga mengambil ruang ekstra dengan membungkuk di kursi bangku, berperilaku agresif, atau membuat semua orang di sekitar mereka terkena hembusan nafas minuman keras. Jika Anda berada dalam kondisi yang buruk, penumpang lain mungkin lebih suka Anda menunggu sampai Anda sedikit sadar sebelum naik kereta.

10. Meninggalkan sampah (28,2 persen)
Bila tidak ada tempat sampah ketika berada di stasiun, jangan membuangnya begitu saja di peron. Simpan dalam saku atau tas Anda dan buang ketika menemukan tempat sampah.

11. Aroma parfum (27,6 persen)
Orang Jepang tidak terlalu tertarik dengan parfum pribadi yang menyengat. Apalagi ketika wangi itu menyebar di dalam kereta.

12. Makan (26,3 persen) dan minum bir/ alkohol (20 persen)
Mungkin untuk kereta wisata atau jarak jauh dengan kursi khusus yang memiliki nampan lipat makan atau minum bukanlah masalah. Tetapi ketika berada di kereta komuter atau jarak dekat bila ingin makan, beli makanan sekali gigit agar lebih cepat menghabiskannya. Begitu juga dengan minum, di luar kereta non shinkansen jauhkan diri Anda dari minuman alkohol karena membawa dampak yang tidak baik.

13. Membaca ketika ramai (10,9 persen)
Membuka koran atau buku bisa mengganggu ruang orang lain di kereta yang penuh sesak. Baiknya bila ingin membaca naik kereta bukan pada jam sibuk atau padat penumpang.

Baca juga: Abaikan Aturan, Wartawan AsaI Inggris Biarkan Anjing Piaraannya Tidur di Kursi Kereta

Ini harus diingat dan baiknya diterapkan, karena transportasi umum adalah transportasi bersama. Sehingga diri pribadi harus sadar dengan adanya ruang bersama orang lain.

Tips Sopan Buang Angin Selama Perjalanan, Intinya Harus Tetap “Dicicil”

Masuk angin memang perkara yang lumrah bagi semua orang, namun kasus ini menjadi tidak biasa ketika tubuh Anda sudah tidak kuasa lagi menampungnya. Ketika Anda berada di rumah, mungkin sendawa atau buang gas (kentut) tidaklah menjadi soal, tapi bagaimana ceritanya jika Anda terpaksa membuang senyawa amoniak ini di tempat umum, seperti sarana transportasi?

Tentu Anda tidak ingin dicap sebagai orang yang jorok karena buang gas sembarangan. Berikut, KabarPenumpang.com sarikan beberapa tips jitu untuk membuang gas di moda transportasi umum dihimpun dari laman wikihow.com.

Baca Juga: Ini Dia Jurus Jitu Atasi ‘Beser’ Selama Perjalanan Jarak Jauh

Keluarkan Gas di Perut Anda Secara Perlahan
Dua masalah yang kerap kali menjadi pertimbangan Anda untuk tidak membuang gas sembarangan adalah takut terdengar oleh orang lain dan bau semerbak yang ditimbulkan. Untuk masalah yang pertama, Anda bisa mengupayakannya dengan cara membuangnya secara perlahan. Notabene, kondisi di transportasi umum sangatlah berisik, jadi Anda bisa mengambil keuntungan dari kondisi ini.

Regangkan Anus Anda
Selain tips di atas, ada trik lain untuk meminimalisir bunyi yang ditimbulkan oleh proses pembuangan gas ini, yaitu dengan cara meregangkan anus. Anda bisa berpura-pura membenarkan tali sepatu atau aktifitas lain yang memaksa Anda untuk berjongkok di moda transportasi umum. Dilansir dari sumber lain, kerasnya bunyi kentut ini ditentukan oleh kecepatan gas dan luasnya dubur.

Buat Bunyi yang Lebih Keras dari Kentut Anda
Walaupun tips yang satu ini sering dijadikan bahan bercandaan, namun tetap terbukti ampuh lho! Ya, Anda bisa berpura-pura batuk atau berdeham sembari mengeluarkan senyawa amoniak ini. Jika Anda berniat untuk melakukan trik ini, pastikan jumlah gas yang Anda keluarkan juga seimbang dengan durasi batuk yang Anda lakukan, jangan sampai batuk Anda sudah selesai tapi gasnya masih keluar dan berbunyi, berbahaya!

Lepaskan Gas Saat Anda Berjalan
Anda bisa lakukan trik yang satu ini jikalau Anda tengah berjalan di peron atau halte bus. Tapi ingat, mengeluarkannya tetap dicicil ya!

Baca Juga: Tips Kenalan “Ampuh” di Moda Transportasi, Intinya Tidak Boleh Dipaksakan!

Hindari Keramaian
Bagi Anda yang kurang percaya diri untuk membuang gas sembarangan, ada baiknya Anda menjauh dari kerumunan terlebih dahulu untuk membuang gas. Anda bisa pergi ke toilet (jika tersedia) atau ke sudut ruangan (bordes atau sambungan bus gandeng).

Gunakan Pengharum Untuk Hilangkan ‘Jejak’
Ketika semua misi membuang gas diam-diam sudah selesai, sekarang saatnya pastikan gas yang Anda keluarkan bau atau tidak. Untuk berjaga-jaga, Anda bisa menyiapkan segala sesuatu yang memiliki aroma kuat, seperti minyak kayu putih, hand body lotion, atau bahkan parfum untuk menyamarkan bau gas tersebut.

Sembunyi dari Kondektur Tiket Kereta, Masih Bisakah?

Apa jadinya jika Anda tidak memiliki tiket tetapi ingin menaiki kereta api? Kucing-kucingan dengan petugas mungkin jadi solusinya, tapi seberapa lihai Anda mampu mengindari inspeksi dari kondektur kereta yang senantiasa wara-wiri di antara gerbong. Meski tak dianjutkan, ada beberapa lokasi favorit untuk itu, dan beberapa sekuel film Hollywood menampilkan adegan menghindari dari petugas kereta.

Baca juga: Terdesak Kereta Cepat, Parlemen Eropa Tinjau Kelayakan Bisnis Kereta Malam

KabarPenumpang.com melansir dari laman lifehacker.com.au, untuk menghindari inspeksi petugas jika Anda tidak memiliki tiket baiknya berdiri dan berdiamlah di dalam toilet kereta. Ya itulah yang sering diperlihatkan di film-film.

Taktik ini bisa dilakukan dengan mudah, sebab kebanyakan dari petugas kereta tidak memeriksa toilet dan berjalan melewati toilet begitu saja tanpa melirik sedikitpun. Ini mungkin menjadi suatu perbuatan yang tidak baik dan menjadi sebuah kejahatan. Namun, taktik ini dianggap bisa digunakan dan membantu penumpang yang ‘kepepet.’

Ide bersembunyi di toilet sudah barang tentu tidak sempurna. Ada opsi lain seperti beranjak pergi ke toilet atau bordes saat terlihat kondoktur mulai mengecek tiket di gerbong Anda. Namun perlu dicatat, kondektur bisa saja menegur Anda yang ‘pura-pura’ berdiam diri di bordes, pasalnya bordes adalah wilayah terlarang untuk ditumpangi.

Trik lain masih ada, seperti cobalah duduk manis di gerbong restorasi, membeli minum kopi atau teh panas, dipadang lumayan ampuh dari incaran kondektur atau petugas pengecekan tiket.

Memang hal seperti di atas sangat ironis, tetapi semua ini tergantung dari Anda baiknya seperti apa. Kebanyakan taktik di atas sering digunakan pada masa kereta api di Indonesia belum seketat seperti sekarang. Bahkan, bukan lagi bersembunyi, melainkan berbagi tempat dengan penumpang lain demi sampai ke tujuan. Saat ini dengan ketatnya pengecekan di stasiun kereta serta pemberlakuan peron sebagai zona sterilisasi, maka seorang penumpang tanpa tiket tidak akan bisa masuk ke stasiun, apalagi untuk bersembunyi dalam toilet kereta.

Baca juga: Tidak Lagi Gunakan Toilet “Bolong,” PT KAI Ganti Dengan Septic Tank

Tak hanya itu, petugas kereta saat ini melakukan pengecekan penumpang juga hingga ke toilet dan petugas keamanan selalu bolak balik gerbong sekitar 15-30 menit sekali. Ini dilakukan bukan hanya untuk mengecek penumpang gelap, melainkan mengecek penumpang yang menyalahi aturan di kereta seperti merokok di dalam kereta.

Demi Keselamatan, Lebar Celah Peron ada Standarnya, Bagaimana dengan Indonesia?

Standar lebar pada celah peron, atau jarak antara tepi peron dan pintu kereta, merupakan elemen penting untuk keselamatan dan kenyamanan penumpang. Banyak insiden terjadi terkait celah peron, seperti anak kecil yang terperok sampai risiko penumpang tersandung hingga terjatuh.

Baca juga: Sukima Mori, “Monster” yang Jaga Anak-anak Tidak Jatuh di Celah Antara Peron dan Kereta

Nah, tahukah Anda bahwa standar celah peron dapat bervariasi tergantung pada sistem kereta api dan negara, namun ada pedoman umum yang sering diterapkan.

1. Standar Internasional
Organisasi seperti UIC (International Union of Railways) merekomendasikan bahwa lebar celah peron tidak boleh lebih dari 75 mm (3 inci) secara horizontal dan 50 mm (2 inci) secara vertikal.

2. Standar di Inggris:
Di Inggris, Network Rail mengadopsi standar bahwa lebar celah horizontal tidak boleh melebihi 90 mm (3.5 inci).

3. Standar di Amerika Serikat
American Public Transportation Association (APTA) merekomendasikan lebar celah horizontal maksimum 76 mm (3 inci).

Kereta yang berbeda dan desain peron yang bervariasi dapat mempengaruhi lebar celah. Misalnya, peron melengkung cenderung memiliki celah yang lebih besar dibandingkan peron lurus. Pada stasiun di mana kereta melintas dengan kecepatan tinggi tanpa berhenti, celah yang lebih besar mungkin diperlukan untuk alasan keamanan.

Tinggi peron relatif terhadap pintu kereta juga mempengaruhi celah vertikal. Dalam beberapa kasus, peron yang lebih tinggi atau lebih rendah dari pintu kereta membutuhkan penyesuaian tambahan. Beberapa stasiun menggunakan gap fillers, perangkat yang mengisi celah antara peron dan kereta untuk mengurangi jarak dan meningkatkan keselamatan.

Beberapa stasiun menggunakan gap fillers, perangkat yang mengisi celah antara peron dan kereta untuk mengurangi jarak dan meningkatkan keselamatan. Desain modern dari peron dan kereta berusaha untuk meminimalkan celah melalui teknologi yang lebih canggih dan material yang lebih fleksibel. Banyak sistem kereta api mengedukasi penumpang tentang pentingnya berhati-hati saat melangkah masuk atau keluar dari kereta untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Kasus di Negara Berkembang
Ada beberapa alasan mengapa batas celah peron terasa kurang diperhatikan di negara berkembang, di antaranya negara berkembang sering menghadapi keterbatasan anggaran dan harus memprioritaskan pengeluaran untuk berbagai kebutuhan mendesak seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Akibatnya, investasi dalam perbaikan detail seperti lebar celah peron mungkin tidak menjadi prioritas utama.

Modernisasi stasiun dan sistem kereta api memerlukan dana besar. Negara berkembang mungkin tidak memiliki sumber daya finansial yang cukup untuk memperbarui infrastruktur sesuai dengan standar internasional.

Seperti halnya di Indonesia, infrastruktur kereta api yang dibangun pada era kolonial atau beberapa dekade yang lalu. Infrastruktur lama ini mungkin tidak dirancang dengan mempertimbangkan standar keselamatan dan kenyamanan modern, termasuk lebar celah peron. Teknologi yang lebih lama dan desain stasiun yang ketinggalan zaman mungkin tidak memungkinkan penyesuaian yang mudah untuk mengurangi lebar celah peron.

Kurangnya perhatian terhadap batas celah peron di negara berkembang sering disebabkan oleh keterbatasan anggaran, infrastruktur lama, regulasi yang kurang ketat, volume penumpang yang tinggi, dan fokus pada pembangunan cepat. Dengan investasi bertahap, kerjasama internasional, dan edukasi penumpang, negara berkembang dapat mulai mengatasi masalah ini untuk meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang kereta api.

PKD di Stasiun India Berhasil Selamatkan Nyawa Penumpang Tua yang Jatuh ke Celah Peron

Antara Getafe dan Toulouse, Dua ‘Jantung’ Produksi Airbus

Pamor Getafe dalam industri dirgantara memang signifikan, namun jika dibandingkan dengan Toulouse di Perancis, ada beberapa perbedaan penting, selain kesamaan di antara keduanya yang menjadi fasilitas penting bagi jalur produksi Airbus di Eropa.

Baca juga: Mengenal Getafe, Kota Industri Dirgantara dari Negeri Matador yang Tersohor

Toulouse adalah markas besar Airbus dan pusat utama untuk pengembangan dan produksi pesawat mereka. Banyak dari pesawat komersial terbesar dan paling canggih di dunia, termasuk A320, A330, A350, dan A380, dirancang dan dirakit di sini. Toulouse memiliki skala operasi yang lebih besar dan lebih banyak investasi dalam fasilitas penelitian dan pengembangan dibandingkan dengan Getafe. Ini mencakup berbagai pusat penelitian, laboratorium, dan fasilitas produksi canggih.

Kota ini memiliki ekosistem industri yang sangat kuat, dengan banyak perusahaan pendukung, pemasok, dan institusi pendidikan yang berfokus pada dirgantara. Ini termasuk sekolah teknik terkemuka seperti ISAE-SUPAERO dan banyak universitas lain yang menawarkan program studi terkait dirgantara.

Toulouse juga memiliki pengaruh internasional yang lebih besar dalam industri penerbangan dan dirgantara, sering menjadi tuan rumah konferensi dan pameran industri global.

Getafe
eskipun tidak sebesar Toulouse, Getafe tetap merupakan pusat penting bagi Airbus, terutama dalam produksi dan perakitan komponen struktural pesawat. Getafe lebih berfokus pada produksi komponen tertentu seperti sayap dan bagian struktural lainnya, serta pusat perawatan dan perbaikan.

Getafe memainkan peran kunci dalam industri dirgantara Spanyol dan berkontribusi secara signifikan terhadap ekonomi lokal dan nasional. Kota ini juga memiliki institusi pendidikan dan program pelatihan yang bekerja sama dengan industri untuk menyediakan tenaga kerja yang terampil.

Dalam hal sejarah memulai produksi pesawat, Toulouse memiliki sejarah yang lebih tua dibandingkan dengan Getafe. Toulouse mulai mengembangkan industri penerbangan pada awal abad ke-20. Pada tahun 1917, perusahaan penerbangan terkenal, Latécoère, didirikan di Toulouse. Ini menandai awal dari era industri penerbangan di kota ini. Getafe juga mulai mengembangkan industri penerbangan pada awal abad ke-20, dengan pendirian Aeródromo de Getafe pada tahun 1911, yang menjadi salah satu lapangan terbang pertama di Spanyol.

Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

 

Mengenal Getafe, Kota Industri Dirgantara dari Negeri Matador yang Tersohor

Pamornya memang tidak setenar Toulouse di Perancis, namun Getafe yang terletak di selatan Madrid, dikenal sebagai pusat industri dirgantara yang penting di Spanyol. Dan ketika Indonesia berencana untuk mengakuisisi pesawat tanker multirole Airbus A330 MRTT (Mullti Role Tanker Transport), maka nantinya akan berkaitan dengan Getafe.

Baca juga: Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

Bagi PT Dirgantara Indonesia (DI), Getafe juga punya peran strategis, pasalnya rancangan pesawat angkut sedang CN-235 dan pesawat angkut ringan NC-212 Aviocar, juga terkait dengan kota Getafe, pasalnya Getafe adalah markas dari perusahaan dirgantara CASA (Construcciones Aeronáuticas SA), yang kemudian menjadi bagian dari Airbus.

Getafe bisa disebut sebagai kota industri dirgantara di Spanyol. Kota ini adalah rumah bagi beberapa fasilitas utama Airbus, termasuk pabrik dan pusat perawatan. Selain itu, Getafe juga memiliki sejarah panjang dalam industri penerbangan dan dirgantara, dengan berbagai perusahaan yang berkontribusi pada pengembangan dan produksi pesawat terbang serta komponen terkait.

Keberadaan fasilitas-fasilitas ini menjadikan Getafe sebagai salah satu pusat utama untuk industri dirgantara di Spanyol, bersama dengan kota-kota lain seperti Sevilla dan Cádiz yang juga memiliki peran penting dalam sektor ini.

Getafe mulai mengembangkan industri dirgantara pada awal abad ke-20. Salah satu momen penting adalah pendirian Aeródromo de Getafe pada tahun 1911, yang menjadi salah satu lapangan terbang pertama di Spanyol. Selama periode ini, Getafe mulai mendapatkan perhatian sebagai lokasi strategis untuk pengembangan industri penerbangan. Pendirian fasilitas militer dan pelatihan pilot meningkatkan pentingnya wilayah ini.

Pada fase perang saudara Spanyol (1936-1939), Getafe memainkan peran penting sebagai pusat operasi udara bagi pihak Republik. Setelah perang, fasilitas ini dimanfaatkan oleh pemerintah Franco untuk memperkuat angkatan udara Spanyol.

Dengan perkembangan industri penerbangan global, Getafe mulai menarik investasi dari perusahaan internasional. Pada tahun 1970, perusahaan CASA (Construcciones Aeronáuticas SA), yang kemudian menjadi bagian dari Airbus, mendirikan fasilitas di Getafe.

Airbus kini menjadi pemain utama di Getafe. Fasilitas di Getafe berfokus pada desain, produksi, dan perakitan komponen pesawat, seperti sayap dan bagian-bagian struktural lainnya. Getafe juga menjadi pusat untuk teknologi canggih dalam industri dirgantara, termasuk pengembangan material komposit dan teknik manufaktur mutakhir.

Kota ini juga didukung oleh infrastruktur yang kuat, termasuk jaringan transportasi yang baik dan fasilitas riset yang mumpuni. Adanya fasilitas ini menjadikan Getafe sebagai hub industri yang efisien dan inovatif. Getafe juga memiliki beberapa institusi pendidikan yang menawarkan program studi terkait dirgantara, bekerja sama dengan perusahaan seperti Airbus untuk menyediakan pelatihan dan riset.

Pesawat Tanker Airbus A330 MRTT Tiba di Jakarta, Bangkitkan Mimpi Konversi A330-200 Garuda Indonesia

ST Engineering Kembangkan Sistem Garbarata Otomatis

Bagi Anda yang sering menggunakan pesawat, tentu tidak asing dengan yang namanya boarding bridges atau yang dikenal sebagai Garbarata. Sebagai salah satu infrastuktur tambahan, kehadiran garbarata bisa dibilang penanda kemajuan dari suatu bandara, walaupun pada kenyataannya, tidak semua bandara memiliki garbarata. Kurangnya lahan parkir hingga padatnya jadwal penerbangan menjadi alasan mengapa beberapa bandara tidak menghadirkan garbarata yang terbukti dapat membantu penumpang untuk berpindah dari ruang tunggu bandara ke dalam pesawat tersebut.

Baca Juga: Quintiq Siap Otomatisasi Bandara Internasional Dubai

Namun, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (19/4/2017), sebuah perusahaan asal negeri tetangga, Singapore Technologies Engineering (ST Engineering) tengah mengembangkan garbarata otomatis yang diperkirakan akan memakan waktu lima hingga enam tahun. Direktur ST Engineering – NTU Corporate Lab., Paul Tan mengatakan kehadiran garbarata disebuah bandara harus mendapatkan perhatian lebih. Jika tidak, malah akan mengganggu jadwal hingga membahayakan penerbangan lain.

“Jika jembatan penyebrangan penumpang tidak dipasang dengan benar, dikhawatirkan akan mengganggu jadwal penerbangan, dan kemungkinan terburuknya adalah bisa menyebabkan kecelakaan yang merusak pesawat,” ungkap Paul. “Khususnya di Singapura, kehadiran garbarata akan sangat berguna jika cuaca sedang tidak bersahabat,” tambahnya.

Rencana pengadaan garbarata otomatis ini diharapkan dapat membantu operasional di suatu bandara. “Dengan memperkenalkan otomasi, kami menyediakan kemampuan kontrol presisi yang memungkinkan garbarata menancap secara otomatis ke pesawat, terlepas dari kondisi cuaca, sehingga menghilangkan risiko kerusakan potensial atau benturan dengan kendaraan darat,” tambah Tan.

Baca Juga: Pepper Robot, Bantu Check In Penumpang Eva Air

Menurut Tan, garbarata ini menggunakan sistem yang telah disesuaikan sebelumnya berdasarkan jenis pesawat yang ada untuk menyelaraskan jembatan dengan pesawat. Ini akan memungkinkan garbarata beroperasi dalam kondisi cuaca buruk, baik siang maupun malam hari,” tuturnya. Faktanya, ST Engineering mulai berpikir tentang rangkaian solusi robotika di bandara sejak dua tahun yang lalu. “

Tepatnya saat banyak otoritas mulai mengenalkan robotika dan AI ke lingkungan bandara,” tutur Tan saat dirinya menghadairi pameran Robocraft Asia 2017. Langkah tersebut dilakukan saat otoritas penerbangan dan pelaku industri mendorong otomatisasi dan penggunaan teknologi dalam operasi sehari-hari, di tengah krisis tenaga kerja yang menderu. Pada bulan Januari lalu, Changi Airport Group (CAG) mengumumkan program kerja sama dengan Economic Development Board (EDB) senilai S$50 juta untuk mengembangkan solusi dalam sistem robotika dan sistem tak berawak di bandara.

“Sebagai bagian dari upaya ST Engineering untuk membantu Changi Airport dalam transformasi bandara, kami memfokuskan sistem robotika dan intelijen kami di semua sudut bandara,” kata Tan.

Adapun otomatisasi lain yang dicanangkan masuk menginvensi bandara antara lain traktor bagasi otomatis untuk menangani masalah bagasi, dan sistem smart wheelchair. Tan optimis, masuknya otomatisasi ke dalam sebuah bandara dapat meningkatkan produktifitas dan efektifitas hingga 50 persen. Selain itu, Tan pun yakin penyebaran “wabah” otomatisasi ini tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. “Namun kami harus melakukan serangkaian uji coba hingga mendapatkan sertifikasi produk,” tutur Tan. “Dalam satu hingga dua tahun ke depan, nampaknya kami akan sibuk melakukan sejumlah uji coba sebelum akhirnya sistem ini bisa bergabung dengan aktifitas bandara.”tutupnya.

Perahu listrik Semi-submersible Bikin Ekowisata Bahari Bebas Emisi

Sebuah konsep ekowisata semi-submersible yang luar biasa yang membawa penumpang ke atas dan ke bawah air baru saja mendapat dorongan emisi nol berkat kemitraan baru antara Platypus Craft dan produsen motor tempel listrik Evoy.

Baca juga: Jet Shark – Wahana Air Hybrid, Bisa Berlayar di Atas dan Bawah Permukaan

Seperti namanya, Platypus akan menghabiskan waktu untuk beroperasi di atas permukaan dan bawah permukaan air. Kapal dua tempat duduk itu dapat berlayar ke tempat yang sangat menarik di lepas pantai tropis dan kemudian menurunkan bagian tengahnya di bawah permukaan untuk memungkinkan pilot dan penumpang – yang duduk seperti sepeda motor – menjelajahi perairan yang relatif dangkal tanpa perlu mengenakan tangki yang merepotkan.

Desain ini berarti bahwa petualang bawah air tidak perlu pengalaman atau pelatihan menyelam, karena kompresor di kapal akan memasok udara ke masker wajah khusus melalui selang yang dapat ditarik. Tentu saja, peralatan selam juga dapat disimpan di kapal, sehingga orang-orang dapat menjelajah jauh dari pod bawah air jika mereka menginginkannya.

Konsep asli dari Bertrand ini kemudian disempurnakan oleh arsitek angkatan laut Philippe Roulin, dengan rencana yang menyerukan agar seluruh kapal beroperasi dengan tenaga listrik baterai.

Setelah beberapa tahun, Bertrand membangun prototipe yang berfungsi dengan panjang 5,7 m (18,7 kaki) dan lebar 2,46 m (8 kaki). Sepasang motor tempel Torqeedo juga telah diperhitungkan, bersama dengan baterai 10 kW – meskipun versi pembakaran Merkuri akan ditawarkan sebagai opsi.

Pada tahun 2019, versi produksi pertama dijual ke operator tur Kaledonia Baru, Seascape. Buku pesanan juga dibuka secara resmi untuk edisi Blue Ocean untuk lima orang – yang ditawarkan dengan dua mesin tempel Mercury 50-hp atau mesin kembar 10-kW yang dipadukan dengan bank baterai 20-kWh.

Ide-ide segar terus mengalir, menghasilkan tender rekreasi Swordfish tahun 2020. Perbedaan utama antara iterasi ini dan pendahulunya adalah pod tengahnya tertutup daripada terbuka, yang memungkinkan hingga tujuh wisatawan bawah laut menjelajahi lingkungan perairan dengan kenyamanan ber-AC.

Trimaran Blue Ocean telah menyelesaikan lebih dari 400 km (347,5 mil laut) eksplorasi bawah air dalam lima tahun terakhir, dan telah terlibat dalam sejumlah misi lingkungan Blue Odyssey – termasuk satu di Prancis dan satu lagi di Corsica.

Penambahan sistem penggerak laut Evoy akan membuat Platypus jenis ini mampu melaju dengan kecepatan jelajah 15 knot (17 mph) di atas air – meskipun dapat melaju hingga 25 knot (~29 mph) jika diperlukan. Dengan pod penumpang diturunkan, kecepatan tersebut dipotong menjadi 3-5 knot (3,4 – 5,7 mph) untuk manuver bawah air yang lebih aman. Paket baterai di dalam kapal diperkirakan bagus untuk jarak tempuh antara 30 dan 80 mil laut per pengisian daya.

Inilah Nautilus, Desain Superyacht Hybrid, Bisa Jadi Kapal Permukaan dan Kapal Selam