Pesawat Boeing Pakai Winglet dan Pesawat Airbus Pakai Sharklet, Apa Bedanya?

Persaingan Boeing dan Airbus sebagai raja manufaktur pesawat dunia sangat ketat. Keduanya bahkan selalu ingin berbeda dalam banyak hal. Kemudi pesawat, misalnya, bila Airbus menggunakan joy stick atau side stick, maka Boeing menggunakan yoke. Begitu juga dengan ujung sayap pesawat (wingtip), jika Boeing menggunakan winglet, maka Airbus menggunakan sharklet. Lantas, apa bedanya?

Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?

Sebagaimana joy stick atau side stick pada pesawat Airbus dan yoke pada pesawat Boeing, winglet dan sharklet juga demikian. Fungsinya sama namun dengan istilah yang berbeda. Selain itu tentu terdapat kelebihan dan kekurangan masing-masing mengingat bentuknya berbeda.

Sebelum menjawab perbedaan dan persamaan winglet dengan sharklet, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu fungsi dari sayap pesawat itu sendiri.

Meski masih menjadi perdebatan, secara umum para ahli sepakat bahwa pesawat bisa terbang disebabkan oleh adanya empat gaya. Gaya thrus (gaya dorong), lift (gaya angkat), weight (gaya berat), dan drag (gaya ke belakang atau menarik mundur).

Namun, semua gaya untuk membuat sebuah pesawat dapat terbang akan sia-sia bila tida ada sayap. Sebab, komponen utama pesawat terbang yang menghasilkan gaya angkat adalah sayap.

Prinsip kerja sayap sendiri adalah udara yang mengalir di bawah sayap lebih lambat daripada di bagian atasnya dikarenakan jalur yang dilewati udara di atas sayap lebih jauh, perbedaan kecepatan tersebut menghasilkan perbedaan tekanan yaitu tekanan di bawah sayap lebih tinggi dari pada tekanan di atas sayap, yang mana mengakibatkan pesawat terangkat ke atas.

Tentu saja kita telah sama-sama ketahui bahwa udara mengalir dari tekanan rendah ke tekananan tinggi, misalkan balon yang kita tiup akan menyemburkan udaranya keluar ketika kita lepaskan karena tekanan di dalam balon lebih tinggi dari tekanan luar balon.

Hal tersebut juga terjadi pada perbedaan tekanan antara bagian bawah dan atas sayap, tepatnya terjadi pada ujung sayap. Aliran udara dari bawah ke atas sayap pada ujung sayap menghasilkan aliran udara yang berputar dengan cepat pada ujung sayap yang disebut juga dengan tip vortex. Aliran ini dapat meningkatkan drag pada sayap, menurunkan gaya angkat dan mengganggu aliran udara.

Guna menghindari terjadinya hal tersebut, ujung sayap dibuat berbelok ke atas dan mengecil atau disebut juga dengan winglet.

Winglet berfungsi untuk meredam putaran udara (vortex) pada bagian ujung sayap yang disebabkan pertemuan udara bagian bawah sayap yang bertekanan tinggi dengan udara bagian atas sayap yang bertekanan rendah yang menyebabkan terjadinya turbulensi.

Putaran udara ini juga menyebabkan pesawat membutuhkan energi yang lebih besar agar dapat stabil di udara, sehingga akan boros bahan bakar. Dengan adanya winglet, bahan bakar pesawat bisa diirit hingga 7 persen, jumlah yang cukup besar untuk pesawat yang melakukan perjalanan long distance.

Winglet pada pesawat Boeing dan sharklet pada pesawat Airbus secara kasat mata hampir tidak ada perbedaan. Keduanya sama-sama menekuk ujung sayap (wingtip) ke arah atas dengan sudut yang nyaris sama. Bedanya, pada sharklet Airbus A320, misalnya, terlihat strobe dan navigation light agak berjauhan.

Baca juga: Kenapa Ujung Sayap Pesawat Boeing 787 Dreamliner Tidak Menekuk? Ini Jawabannya

Sedangkan winglet pada pesawat Boeing 737-NG, misalnya, letak strobe dan nav light lebih berdekatan. Ada juga perbedaan lainnya dimana winglet di pesawat Boeing dilengkapi dengan fin kecil di bawah winglet. Adapun di pesawat Airbus tidak ada.

Dalam situs tanya jawab Quora, perbedaan winglet dan sharklet terletak pada lekukan wingtipnya, dimana pada winglet sudut lekukannya lebih tegas dan sharklet lebih halus. Selain itu, perbedaan juga terletak pada kemiringan wingtipnya.

 

Bekas Mesin Pesawat Disulap Jadi Karavan Unik dengan 4 Tempat Tidur, Dapur, dan Ruang Tamu

Barang bekas yang semula tak bernilai, di tangan-tangan kreatif mampu diubah menjadi sesuatu bernilai tinggi. Salah satunya mesin pesawat. Alih-alih menjadi barang rongsokan, mesin pesawat Rolls-Royce Conway 30 dari pesawat Vickers VC10 yang sudah pensiun disulap menjadi pod karavan unik dengan empat tempat tidur, dapur, bahkan ruang tamu. Oleh sang pemilik, ini dinamakan VC10 Caravan Pod.

Baca juga: Airbus A319 Etihad Bekas Disulap Jadi Penginapan “Arabian Night” Mewah

Dilansir Insider, ide untuk menyulap mesin yang biasa digunakan di pesawat Vickers VC10 itu muncul pada 2013 lalu. Saat itu, Steve Jones mendapat kabar bahwa rekan lamanya di Angkatan Udara Britania Raya (RAF) telah mempensiunkan pesawat buatan Vickers-Armstrongs tersebut.

Beberapa tahun berlalu, ia pun mendatanginya dan membeli mesin pesawat itu. Proses perakitan mesin rongsok menjadi sebuah trailer atau pod karavan tidaklah mudah.

Interior pod karavan buatan Steve Jones. Foto: Insider

Setidaknya butuh waktu sekitar 1.000 jam atau kurang lebih dua bulan, mulai Januari-Maret 2020 lalu. Kocek yang dikeluarkan juga tergolong mahal, mencapai US$5.025 atau sekitar Rp70 juta lebih (kurs 14.084). Itu pun belum termasuk membeli rongsokan atau mesin bekas itu.

Disebutkan, mula-mula Jones memotong semua kabel dan pipa, diikuti dengan meratakan bagian bawah mesin agar sesuai dengan sasis.

Kemudian, ia menyiapkan dua pintu, jendela, melapisi bagian dalam pesawat dengan kayu, karpet, membuat pajangan di dinding, meletakkan furnitur minimalis, dan membuat lounge-dining area di ruang yang cukup sempit, lengkap dengan dua kursi panjang yang bisa difungsikan sebagai tempat tidur double bed. Dalam mode tidur, pod karavan ini bahkan mendapat tambahan dua tempat tidur lagi di bagian atas layaknya kasur tingkat. Jadi total ada empat tempat tidur.

“Tugas besar pertama saya adalah membagi mesin menjadi dua, jadi saya bisa menggunakan rangka luar menjadi pod saya,” katanya. “Setelah semua komponen dikeluarkan dan hanya menyisakan dua roda saja, saya memasukkan kayu lapis dan kemudian menambahkan furniture dan peralatan penunjuang lainnya,” tambahnya.

Ketika difungsikan, VC10 Caravan Pod buatan Jones akan tampak lebih lega dengan adanya dua pintu yang membuat separuh karavan tersebut terbuka lebar. Hal itu juga bisa membuat cahaya dan udara segar di alam bebas masuk ke dalam kabin pod itu sambil duduk menikmati sampanye, mirip seperti ruang tamu.

Meskipun sudah selesai dikerjakan dan siap digunakan kapan pun, Jones belum berencana membawa pod karavan unik itu keliling Inggris sampai setidaknya 2021, akibat pandemi virus Corona. Namun, sebelum hal itu terwujud, nampaknya ia akan disibukkan dengan banyaknya pesanan pod karavan serupa dan khusus.

Baca juga: Fotografer Bali Sukses Curi Perhatian Dunia Berkat Aksi Esktrem di Atas Sayap Pesawat

Meski begitu, Jones berkomitmen untuk menyelesaikan pesanan pod karavan senilai US$31.477 atau Rp 436 juta lebih (kurs Rp 14.084).

Jones memang mendadak terkenal usai kegiatannya yang berpusat di kediamannya di Leicester, diliput oleh sebuah stasiun TV dan ditayangkan dalam sebuah acara bedah rumah, George Clarke’s Amazing Spaces.

Inilah En-Suite, Kursi First Class Masa Depan: Penumpang Bisa Bercinta Secara Private di Udara

Meski penumpang first class trennya menurun, namun perusahaan desain interior dunia tidak lantas berhenti berinovasi membuat konsep kursi first class (kelas satu) masa depan. Salah satunya Firma desain Factorydesign yang meluncurkan konsep kursi first class En Suite. Kursi ini memiliki toilet pribadi layaknya sebuah kamar hotel.

Baca juga: Mengapa Penumpang First Class Semakin Menurun? Ternyata Gegara Ini

Memang tak berlebihan menyebut En Suite bak kamar hotel atau hotel terbang. Sebab, firma desain yang berlokasi di London itu memang terinspirasi dari hotel mewah papan atas, menawarkan pengalaman terbang ultra-premium, khususnya bagi penumpang yang tak peduli berapapun harga mahal yang harus dibayar.

Hal yang paling masuk akal dan menjadi nilai jual andalan En Suite adalah penumpang tidak perlu berbagi toilet karena memilikinya secara pribadi.

“Saat ini, dengan pengecualian Etihad’s The Residence, bahkan pelancong Kelas Premium yang paling istimewa pun diharuskan berbagi kamar kecil (toilet). Bisakah Anda bayangkan diterima di Four Seasons atau Hotel Shangri-La mana pun?” jelas perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Yang Aneh dari Inggris: Penumpang Boleh Seks di Pesawat, Kecuali di Toilet

Konsep kursi first class en suite

En Suite menawarkan penerbangan sangat mewah ke penumpang. Betapa tidak, sekalipun dengan space kecil, penumpang diberikan ruang khusus untuk makan, tidur, bersantai sambil menonton film, serta yang paling penting, kamar mandi pribadi.

Selain itu, En Suite juga didesain multi fungsi. Untuk pasangan, kursi first class rancangan En Suite menawarkan double bedroom dengan tetap mempertahankan privasi berupa toilet pribadi. Di luar pasangan, kabin first class memang tetap membuat penumpang berdampingan dengan penumpang first class lain, tetapi, keduanya tetap mendapat sharing toilet.

Yang terpenting dari semua itu, privasi penumpang first class akan jauh lebih terjaga berkat adanya sekat tinggi sampai ke langit-langit kabin -tak seperti kursi first class saat ini yang sekatnya hanya setinggi dada orang dewasa- memungkinkan pasangan penumpang bercinta saat di udara (on board).

“Melalui inovasi kami di kabin pesawat Ultra-First Class dan Luxury, Factorydesign telah mengambil langkah selanjutnya dalam benar-benar berinovasi dalam penawaran perjalanan super mewah. Privasi tertinggi, hak istimewa tertinggi, ruang bersama terbaik: benar-benar kemajuan berikutnya dalam perjalanan komersial mewah,” tulis perusahaan, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Bagaimana Reaksi Pramugari Saat Temukan Penumpang Berhubungan Seks di Pesawat?

En Suite sebetulnya bukan konsep baru. Pada tahun 2019 silam, konsep ini pernah memenangkan penghargaan International Yacht and Aviation (IY&A). Penghargaan tersebut merupakan yang kedua kalinya di kancah internasional untuk Factorydesign, setelah yang pertama pada perhelatan Delta One Suites.

Dalam sebuah penelitian Inmarsat baru-baru ini tentang Passenger Confidence Tracker, 28 persen penumpang menganggap toilet sebagai tempat yang tak aman untuk dikunjungi ketika di pesawat. Karenanya, dengan menghadirkan toilet pribadi, bukan tak mungkin 28 persen penumpang tersebut berani merogoh kocek lebih semata demi mendapatkan akses toilet pribadi di pesawat.

Bukan Cuma Bisa Mengecam, Indonesia Pernah Larang Pesawat PM Israel Lintasi Ruang Udara Indonesia

Sikap Indonesia tak pernah berubah dalam mendukung Kemerdekaan Palestina, meski sampai saat ini apa yang dilakukan Indonesia lebih dominan pada langkah mengutuk dan mengecam atas kebrutalan pasukan Zionis, namun lebih dari itu, pada tahun 2017, Israel sempat dibuat ‘repot’ oleh kebijakan Pemerintah Indonesia, apakah itu?

Baca juga: Mengenal Palestinian Airlines, Maskapai Nasional Sekaligus Simbol Kemerdekaan Palestina

Persisnya pada Selasa, 21 Februari 2017, maskapai El Al yang membawa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin “Bibi” Netanyahu dijadwalkan lepas landas dari Bandara Changi, Singapura, menuju Sydney, Australia, malam waktu setempat. Secara geografis, penerbangan dari Singapura ke Selatan menuju Australia umumnya jauh lebih efisien dengan melewati ruang udara Indonesia.

Akan tetapi, alih-alih melewati ruang udara Indonesia, pesawat tersebut justru memutar arah, mengambil rute Malaysia-Filipina-Palau-Papua Nugini-Australia. Menurut data FlightAware, dengan rute tersebut, tak heran bila perjalanan membutuhkan waktu tempuh selama 11 jam 3 menit, dengan jarak sejauh 9474 kilometer. Padahal, bila melewati rute Singapura-Indonesia-Australia, sebagaimana penerbangan Singapore Airlines pada keesokan harinya, hanya membutuhkan waktu 7 jam 38 menit, dengan jarak sejauh 6664 kilometer.

Rute yang ditempuh pesawat kenegaraan PM Israel, Benjamin Netanyahu. Foto: FlightAware

Usut punya usut, hal itu bukan karena faktor cuaca sehingga pesawat mengambil rute lain yang lebih aman, melainkan karena Indonesia dan Israel tidak terikat dalam satu perjanjian bilateral atau hubungan diplomatik.

Oleh karenanya, tak heran bila di momen dan waktu yang berbeda, Indonesia juga pernah diperlakukan seperti Netanyahu. Kala itu, saat Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, hendak melakukan kunjungan kenegaraan ke Palestina, Israel juga tidak memberikan izin terbang, beberapa waktu sebelum pesawat Netanyahu ditolak masuk ke ruang udara Indonesia.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, bila berkaca dari mekanisme penerbangan, khususnya di Indonesia, sebuah pesawat (bahkan pesawat kepresidenan atau VIP sekalipun) setidaknya harus mendapat izin masuk dari tiga kementerian, security clearance dari Kementerian Pertahanan, diplomatic clearance dari Kementerian Luar Negeri, dan izin lalu lintas udara dari Kementerian Perhubungan. Ketiga izin ini sepaket. Satu izin tak didapatkan, pesawat tak bisa melintas.

Lantas, apa yang terjadi bila pesawat yang ditumpangi PM Israel Netanyahu bersikukuh untuk melintas, tanpa seizin dari otoritas Indonesia? Jawaban atas pertanyaan tersebut sebetulnya tidak sederhana. Tetapi, dengan adanya izin terbang dari otoritas Indonesia, sebuah pesawat memang akan terus diarahkan untuk mendapatkan rute terbaik dan teraman (saat melewati ruang udara Indonesia).

Dalam kasus pesawat PM Netanyahu, bila rombongan tersebut menerobos masuk, hal itu tentu akan membahayakan pesawat lainnya, mengingat, lalu lintas udara, sekalipun langit cukup luas, rupanya cukup padat sehingga harus diatur sedemikian rupa, seperti ketinggian, airways (jalur atau trek pesawat), dan sejenisnya.

Jangankan masuk tanpa izin, penerbangan yang sudah diizinkan pun, ketika diperjalanan hendak mengubah rute ataupun mengubah ketinggian dan kecepatan, mereka juga tetap harus meminta izin menara pengawas, dalam hal ini Air Traffic Service Center (ATSC) di bawah AirNav Indonesia. Bila tidak, akan sangat berbahaya dan rentan terjadinya kecelakaan.

Dengan kemungkinan bahaya itu, pihak Indonesia bisa saja melakukan langkah-langkah tegas, seperti memukul mundur pesawat hingga keluar dari ruang udara Indonesia atau yang lebih tegas dari itu, yakni menembak jatuh pesawat.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Insiden ditembak jatuhnya pesawat dengan latar belakang tidak adanya izin terbang dari otoritas terkait, pernah terjadi di Sakhalin, Rusia pada 1 September 1983. Pesawat Boeing 747 Korea Selatan milik Korean Air ditembak jatuh oleh jet-jet tempur Soviet di Pulau Sakhalin, setelah berbelok keluar jalur. Sekitar 269 penumpang dan anggota kru dilaporkan tewas.

Pesawat nahas tersebut dinilai telah melewati ruang udara Rusia tanpa izin sehingga dilakukan langkah tegas. Sebelum benar-benar ditembak jatuh, Angkatan Udara Rusia sebetulnya sudah membuka komunikasi dengan pesawat Korean Air. Namun, karena tidak adanya solusi, akhirnya Rusia mengambil langkah tersebut. Insiden itu bisa saja terjadi pada pesawat PM Netanyahu bila 3 tahun lalu ia dan rombongan memaksa masuk ruang udara Indonesia tanpa izin.

Kenapa Kesehatan Mata Masinis Sangat Penting? Ini Dia Jawabannya!

Setiap petugas kereta wajib memenuhi syarat sebelum bisa diterima bekerja oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Biasanya syarat-syarat tersebut harus dipenuhi dan tidak akan ada tawar menawar jika salah satu syaratnya berkurang.

Baca juga: Inilah Alasan Masinis Harus Punya Ingatan Bagus dan Wajib Gunakan Sarung Tangan

Seperti halnya masinis ataupun asisten masinis yang juga harus memiliki syarat yang lengkap salah satunya dalam hal kesehatan. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, setiap masinis dan asisten masinis harus sehat secara jasmani maupun rohani.

Mereka juga tidak buta mata, buta warna, tuli maupun bisu. Masinis dan asisten masinis juga harus memiliki postur tubuh yang proporsional dan bebas dari obat-obatan terlarang atau narkoba. Di awal masuknya para masinis dan asistennya ini sudah di tes kesehatan oleh PT KAI atau KCI.

Tetapi secara berkala dan ketika ujian sertifikasi Awak Sarana Perkeretaapian (ASP) mereka akan melakukan tes ulang. Tes tersebut akan meliputi berbagai hal seperti kondisi umum, tekanan darah, THT, leher, Thorax, Ekstremitas, mata dan urine.

Pasalnya baik masinis atau asisten masinis tidak boleh berdinas mengemudikan kereta api jarak jauh ataupun KRL jika dalam kondisi tidak sehat. Apalahi sebelum dinas kesehatan juga akan diperiksa, sebab, kesehatan masinis dan asistennya adalah penting.

Berikut ini yang harus diperiksa masinis serta asistennya saat waktu tes kesehatan berkala.

1. Buta warna dan rabun
Seorang masinis ataupun asisten masinis tidak boleh buta warna ataupun rabun. Sehingga selain pemeriksaan Sclera, Pupil, Konjungtiva dan katarak akan dites warna dan kemampuan jarak pandang penglihatan. Tes warnanya sendiri mereka akan menggunakan mode tes Ishihara yang dikembangkan dokter Shinobi Ishihara dengan lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Biasanya titik itu berbentuk lingkaran yang terdapat angka dan alur atau lekukan tertentu. Warna titiknya dibuat seperti itu agar orang yang memiliki buta warna tidak melihat perbedaan warna yang dilihat oleh orang normal. Sehingga jika nantinya hasil pemeriksaan menemukan masinis atau asisten masinis buta warna, mereka tidak akan di dinaskan lagi untuk menjalankan kereta.

Baca juga: Indonesian Train Simulator, Rasakan Sensasi Menjadi Masinis Kereta Indonesia

2. Mata dan sinyal
Dalam menjalankan kereta api maupun KRl, masinis harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas di jalur kereta api atau yang biasa disebut persinyalan, semboyan dan marka. Persinyalan yang sudah elektrifikasi ditunjukkan dalam bentuk lampu seperti lampu lalu lintas di jalan raya. Sehingga masinis ataupun asisten harus bisa melihat dengan jelas dan benar. Maka, kesehatan mata mereka sangat penting untuk melihat ini. Sebab harus bisa membedakan warna lampu merah, kuning dan hijau serta mampu melihat dari jarak ratusan meter.

Kenapa Tiket KA Bandara Mahal? Ini Jawabannya

Dibanding kereta komuter atau KRL Jabodetabek, tarif KA Bandara memang jauh lebih mahal. Dari segi layanan dan kenyamanan, tentu saja keduanya berbeda. Namun, itu bukanlah alasan utama. Lantas, apa yang membuat KA Bandara mahal?

Baca juga: Ternyata Negara Ini Jadi Benchmark KA Bandara di Indonesia

Sebelum meluncurkan KA Bandara Premium dan KA Bandara Eksekutif, dengan tarif terendah Rp5 ribu dan teringgi Rp70 ribu, KA Bandara diketahui mematok tarif cukup tinggi.

Normalnya, PT Railink mematok tarif seharga Rp70 ribu per penumpang untuk KA Bandara Soekarno-Hatta dan Rp100 ribu untuk KA Bandara Kualanamu, dan Rp20 ribu untuk KA Bandara YIA. Ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan tarif KRL Jabodetabek yang mematok taif Rp3 ribu untuk 25 km awal dan Rp1 ribu untuk 10 km berikutnya.

Tarif KRL Jabodetabek lebih terjangkau dibanding KA Bandara tentu tak terlepas dari subsidi pemerintah atau Public Service Obligation (PSO). Penumpang KRL Jabodetabek diketahui mendapat subsidi pemerintah, sedangkan KA Bandara tidak. Selain itu, rel KRL Jabodetabek mayoritas dibangun oleh pemerintah. Adapun rel KA Bandara dibangun oleh operator.

VP Corporate Secretary PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter, Anne Purba, dalam sebuah diskusi yang dihadiri KabarPenumpang.com pernah mengatakan, andai pemerintah tidak mensubsidi penumpang, tarifnya bisa saja menyentuh Rp20-25 ribu per sekali keberangkatan. Meski begitu, tetap saja itu masih lebih terjangkau dibanding tarif KA Bandara.

Di samping subsidi, tarif KA Bandara lebih mahal dibanding KRL Jabodetabek juga karena layanan dan kenyamanannya.

KA Bandara melayani penumpang sesuai seat atau kursi yang tersedia. Selain itu, ada juga berbagai fasilitas lainnya, seperti port USB, toilet, kursi nyaman, dan lain sebagainya. Selain itu, tingkat ketepatan waktu atau on time performance-nya juga lebih tinggi dibanding KRL Jabodetabek.

“Tingkat OTP (on time performance) kami menyentuh angka 99,7 persen,” kata Direktur Utama PT Railink Anggoro Tri Wibowo kepada KabarPenumpang.com.

Akan tetapi, alasan utama kenapa tarif atau tiket KA Bandara mahal adalah karena penumpang yang dilayani mayoritas adalah penumpang pesawat.

Kita tahu, apapun yang berhubungan dengan dirgantara cenderung lebih mahal. F&B, restoran, parkir, dan lainnya di bandara pasti lebih mahal dibanding di luar bandara. Investasi membangun bandara, harga sebuah pesawat, dan ekosistemnya, pasti juga lebih mahal dibanding moda lainnya.

Dari sisi prestisiusitas, moda udara memang terkenal lebih tinggi dibanding moda lainnya. Muara dari itu, ada anggapan bahwa penumpang pesawat mampu membayar tarif kereta yang lebih tinggi. Ini yang pada akhirnya membuat KA Bandara mahal.

Baca juga: Horeee! Awal Tahun 2022 Tarif KA Bandara Soekarno-Hatta Kembali dari Goceng

Dengan berbagai perpaduan di atas, tarif KA Bandara pun dipatok lebih mahal. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di seluruh dunia.

“Kenapa KA Bandara mahal? Sudah jelas kami menjual layanan dan kenyamanan. Dari sisi OTP kami menyentuh angka 99,7 persen. Kemudian penumpang kami juga mayoritas penumpang pesawat dari dan ke bandara. Kalau beli tiket pesawat saja mampu, seharusnya membeli tiket KA Bandara juga,” tutup Anggoro.

 

Kenapa Boeing 787 Disebut Dreamliner? Begini Sejarahnya

Boeing 787 atau dikenal sebagai Dreamliner atau Boeing 787 Dreamliner, adalah pesawat yang lahir untuk memenuhi hasrat maskapai yang haus akan pesawat efisien dan tangguh. Terlepas dari itu, sebetulnya kenapa Boeing 787 disebut Dreamliner?

Baca juga: Hari Ini, 11 Tahun Lalu, Pesawat yang Digadang Berakhir di 2020 Boeing 787 Dreamliner Terbang Perdana

Sejak akhir tahun 1990-an, Boeing ingin mengembangkan pesawat yang disebut Sonic Cruiser. Pesawat itu dinilai akan menjadi jawaban atas kebutuhan maskapai, sebagai pesawat yang lebih cepat namun 20 persen efisien dari pesawat Boeing 767.

Akan tetapi, pasca peristiwa 11 September 2001, maskapai lebih menginginkan pesawat yang lebih efisien daripada cepat. Boeing pun merespon dan membatalkan proyek pengembangan Sonic Cruiser. Sebagai gantinya, Boeing merilis pengembangan pesawat “7E7” pada Januari 2003.

Pesawat 7E7 ini dinilai sebagai jawaban perusahaan terhadap teknologi industri ke depan. Dalam pandangan produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS) itu, maskapai penerbangan di seluruh dunia menginginkan pengalaman baru perjalanan udara untuk para penumpang namun tetap mencapai efisiensi tinggi.

Di samping itu, maskapai juga relatif menginginkan pesawat yang tak terlalu besar, namun juga tak terlalu kecil untuk melayani penerbangan jarak jauh antar benua.

Oleh karenanya, Boeing pun mengembangkan pesawat dengan kriteria tersebut melalui Boeing 7E7. Efisiensi bahan bakar yang tak tertandingi dan fleksibilitas jangkauan pesawat menjadi jualan utama pesawat tersebut yang memungkinkan maskapai untuk membuka rute baru, mengoptimalkan kinerja armada, dan jaringan.

Namun, ketika itu, menurut Avgeek Robert Hofmann, terdapat dorongan dari internal untuk memulai kembali penamaan pada pesawat.

Menurutnya, mengutip dari Paul Harvey, Engineering Director Boeing ketika itu, penting untuk menyematkan nama pada pesawat dan bukan hanya sekedar angka belaka. Di samping itu, nama pada pesawat juga membawa daya magis tersendiri.

Baca juga: Hari Ini, 62 Tahun Lalu, Boeing 720 (717) Sang Petarung Jarak Pendek Empat Mesin Terbang Perdana

Karena itu, pada tahun 2003, Boeing menggandeng AOL Time Warner untuk menyediakan beberapa nama sekaligus mengadakan jajak pendapat.

Dalam sebuah blog yang ditulis Randy Tinseth, banyak nama yang disarankan untuk Boeing 7E7. Namun tidak semuanya lolos tim legal and trademark Boeing. Hanya empat calon nama yang lolos; Dreamliner, Global Cruiser, Stratoclimber, dan eLiner.

Di kalangan internal dan warga AS, Global Cruiser mendapat dukungan terbesar. Andai tidak ada polling dari masyarakat di seluruh dunia, mungkin nama itu akan disematkan di pesawat Boeing 7E7 (Boeing 787).

Namun, jajak pendapat pun dihelat, melibatkan 500 ribu respon dari 160 negara. Selain memberikan nama, mereka juga diminta untuk bergabung dengan komunitas virtual World Design Team untuk memberikan masukan terhadap pengembangan Boeing 7E7 (Boeing 787).

Hasil jajak pendapat akhirnya memenangkan Dreamliner sebagai nama pesawat Boeing 7E7, selisih 2.500 suara dengan Global Cruiser, yang menjadi favorit publik AS. Namun, Boeing tak lantas mengumumkannya sampai 15 Juli 2003, bertepatan dengan gelaran Paris Air Show.

Baca juga: Mengapa Pesawat Boeing Selalu Dimulai dan Berakhir dengan Angka 7? Ini Jawabannya

Di tahun 2005, Boeing juga merevisi atau mengganti huruf “E” pada 7E7 dan menggantinya menjadi angka “8” menjadi Boeing 787 Dreamliner.

Sayangnya, Boeing tak merinci arti atau maksud khusus dari kata “Dreamliner” itu sendiri. Namun, menurut beberapa avgeek, ini adalah nama yang pas untuk sebuah pesawat impian baik bagi para penumpang maupun maskapai.

Lawan Hegemoni Barat, Iran Gandeng Rusia, Cina, dan India Bentuk Konsorsium Perawatan Pesawat

Iran dilaporkan bakal membentuk konsorsium perawatan (maintenance) pesawat bersama Rusia, Cina, dan India. Tak hanya itu, Iran juga disebut bakal memproduksi pesawat komersial sendiri dengan berbagai pengalaman yang dimiliki.

Baca juga: Diamuk Putin, Cina Akhirnya Tegas Bantu Rusia Lawan Barat, Kirim Pasokan Suku Cadang Pesawat

Laporan Silk Road Briefing, Kepala Organisasi Penerbangan Sipil Iran (CAO) Mohammad Mohammadi Bakhsh mengungkapkan, tujuan didirikannya konsorsium tersebut untuk menetapkan standar layanan perbaikan pesawat.

Bakhsh juga menyebut, sepanjang tahun 2022 ini, Iran sudah melakukan maintenance terhadap enam pesawat dari empat negara. Hanya saja tak disebut dengan jelas negara mana saja yang mempercayakan maintenance pesawat maskapainya ke Negari Para Mullah itu.

Iran memang sudah beberapa dekade mengalami embargo barat. Akibatnya, mereka tidak bisa membeli pesawat baru beserta suku cadangnya secara legal. Namun, kondisi tersebut membuat Iran justru bangkit. Pesawat-pesawat, baik sipil maupun militer, buatan barat yang sudah terlanjur dimiliki dipelihara sedemikian rupa bahkan dikembangkan atau memodifikasinya.

Dari berbagai pengalaman tersebut, Iran bertekad untuk memproduksi pesawat sendiri. Ini tentu bukan isapan jempol belaka mengingat saat ini Iran sudah berhasil membuat drone tempur sendiri dan belakangan dilaporkan bakal dipakai dalam jumlah besar oleh Rusia.

Masih berkenaan dengan Rusia, pada Juli 2022, Negeri Beruang Merah itu dikabarkan telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Iran. Dengan adanya perjanjian itu, Iran bakal membantu Rusia dengan mengirimkan suku cadang pesawat buatan Iran serta membantu Rusia mempertahankan armada pesawat buatan Boeing-Airbus dan lainnya.

Pada Maret 2022, Menteri Transportasi Rusia Vitaly Savelyev mengatakan Rusia akan menggunakan “pengalaman Iran” dalam menghindari sanksi Barat, yang saat ini sedang menimpa Rusia secara bertubi-tubi usai perang dengan Ukraina meletus pada 24 Februari lalu.

Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam berbagai kesempatan, memang sangat fokus untuk mengembangkan pesawat buatan dalam negeri berserta suku cadangnya. Itu adalah rencana jangka panjang Rusia. Jangka pendeknya, Rusia meminta negara-negara yang dianggap bersahabat, seperti Cina dan Iran, membantu pasokan suku cadang pesawat-pesawat komersial buatan barat yang dioperasikan maskapai Rusia.

Selama ini, suku cadang pesawat memang banyak diproduksi oleh Barat. Mesin pesawat, misalnya, CFM Internasional dan General Electric, itu merupakan perusahaan patungan Amerika Serikat (AS)-Perancis.

Baca juga: Rusak Duopoli Boeing-Airbus, Cina Produksi Suku Cadang Mesin Pesawat Sendiri Mulai 2025

Sistem avionik, landing gear, dan flight control diproduksi oleh Honeywell serta sistem komunikasi dan navigasi diproduksi oleh Rockwell Collins. Keduanya merupakan perusahaan asal AS.

Di luar itu, perusahaan-perusahaan Barat tetap mendominasi. Hanya saja perusahaan-perusahaan Cina sudah bisa bersaing dalam memproduksi suku cadang pesawat.

Kenapa Oman Air Tidak Sesukses Emirates, Etihad, dan Qatar Airways?

Sebagai maskapai nasional negeri kaya minyak Oman, Oman Air memiliki kekuatan modal cukup besar yang sebanding dengan flag carrier lainnya di Timur Tengah, seperti Qatar Airways, Emirates, dan Etihad. Nayatanya, maskapai yang berbasis di Bandara Internasional Muscat itu tertinggal jauh dibanding ketiga maskapai di atas. Bagaimana bisa?

Baca juga: Oman Air – Pilihan Alternatif Penerbangan Langsung Jakarta – Timur Tengah

Technical Product Owner Emirates Airlines, Wolfgang Steuerle, coba menjawab melalui pengalamannya terbang bersama Oman Air. Ia menyebut hanya sekali terbang dengan maskapai tersebut dan menjadi penerbangan terakhir bersamanya.

Disebutkan, suatu hari, ia terbang dari Frankfurt, Jerman, ke Kuala Lumpur via Muscat, Oman. Sejak di Jerman, pelayanan staf maskapai tersebut dinilai tidak ramah.

Ketika itu, ia berdiri dengan jarak 2 meter dari penumpang lain di dekat konter check-in, lalu petugas memintanya untuk berdiri di belakang garis kuning, padahal tidak ada garis kuning di sana. Lalu dengan santainya petugas menjawab bahwa ia harus membayangkannya.

Selama penerbangan ke Oman bisa dibilang aman tanpa ada hal-hal yang dikeluhkan. Tetapi saat transit, hal-hal yang tidak ramah ke penumpang kembali dirasakan. Staf transit security check menegur penumpang dengan nada kasar tanpa sebab yang dimengeri oleh penumpang. Proses pemeriksaannya pun juga lamban dan menyebabkan antrean mengular cukup panjang.

Setelahnya, penerbangan dari Muscat ke Kuala Lumpur cenderung aman. Tak lama setelah lepas landas, pilot mengumumkan return to base akibat adanya kendala teknis, pesawat mendarat kembali di Muscat. Di sini, lagi-lagi palayanan buruk kembali ditampilkan dan dirasakan penumpang.

Penumpang kembali diperiksa oleh staf pemeriksaan keamanan transit dan lamban. Penumpang kemudian digiring ke gate lain dan dibiarkan duduk tanpa informasi apapun. Setelah sekitar satu jam, petugas dengan rompi bulan sabit merah dari arah apron coba masuk ke dalam gate untuk memberikan penumpang air minum. Namun, ditahan oleh petugas gate. Setelah bernegosiasi panjang, akhirnya petugas itu dibolehkan masuk dan membagikan air ke penumpang.

Selang sekitar satu jam kemudian, datang lagi petugas memberikan kupon makanan ke sebuah restoran sebagai kompensasi. Penumpang pun bergegas ke restoran yang dituju, tentu saja harus melewati pos pemeriksaan keamanan transit. Meski tidak ada ‘insiden garis kuning’ tetapi petugas melakukan pemeriksaan dengan sangat lamban betul-betul mengecek bagasi satu per satu secara manual.

Begitu sampai di restoran, masalah baru muncul. Restoran yang hanya menampung 20 orang dipaksa menampung ratusan penumpang.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Antrean panjang untuk mendapatkan kompensasi makanan gratis, meja dan bangku kurang, banyak yang makan sambil berdiri, tidak ada garpu sendok hingga memaksa penumpang makan dengan tangan atau bahkan ada yang tidak memakannya.

Tuntaas menyantap makanan, Wolfgang Steuerle beserta keluarga dan penumpang lainnya, diarahkan kembali ke gate dengan melalui pos pemeriksaan, lagi. Ini diakui cukup melelahkan. Sudah begitu petugasnya tidak ramah.

Lama menunggu, penumpang akhirnya mendapat secercah harapan. Bus datang menjemput para penumpang untuk dibawa ke gate lainnya. Bukan untuk langsung naik ke pesawat, penumpang dibiarkan menunggu di waiting room dan bermalam di sana sebelum akhirnya jam lima pagi waktu setempat penumpang akhirnya bisa benar-benar terbang ke Kuala Lumpur.

Baca juga: 10 Bandara Internasional Ini, Pilihan Transit Ternyaman di Dunia

Ini jauh berbeda dengan rute serupa dengan transit di Abu Dhabi. Wolfgang Steuerle dan penumpang lainnya diberikan pelayanan dengan sangat ramah, mewah, dan informatif. Penumpang diberikan kepastian kapan akan berangkat saat terjadi kendala eksternal. Saat itu terjadi badai pasir ekstrem di UEA dan penerbangan ditunda.

Intinya, pelayanan oleh maskapai dan bandara Oman sangat buruk dan jauh tertinggal dibanding transit di Abu Dhabi bersama Etihad, termasuk juga transit di Dubai bersama Emirates dan Doha bersama Qatar Airways.

Menjajal Sensasi KA Gajayana “Next Generation” dari Malang ke Jakarta

Sejatinya tidak ada label “Next Generation” yang disematkan pada pada rangkaian KA Gajayana terbaru. Namun karena baru pada 21 Januari 2017 KA Gajayana mendapat rangkaian keluaran baru, maka atas inisiatif penulis KA Gajayana yang saat ini melaju di rute Jakarta – Malang disebut sebagai Next Generation. KA Gajayana terbaru menggunakan rangkaian K1 2016 dan K1 2017 yang diproduksi PT INKA. Jika rangkaian KA Gajayana sebelumnya (K1 2009) mengadopsi kaca model pesawat, maka di rangkaian K1 2016/2017 kaca sudah mengacu pada desain khas gerbong kereta cepat, jenis yang sama juga diterapkan pada KA Bima.

Baca juga: Stasiun Malang, Pertahankan Gaya Nieuwe Bouwen Bersiap Direnovasi

Karena didapuk sebagai kereta eksekutif dengan rute terjauh di Indonesia (907 km) dan punya durasi 14,5 jam, mennjajal fasilitas KA Gajayana menjadi menarik untuk jadi perhatian. Dengan sentuhan Next Generation, KA Gajayana di rangkaian terbaru lebih enak, nyaman, minim goncangan dan tentunya kursi yang bagus dengan interior yang boleh dibilang clean cerah. Rangkaian kereta Gajayana terdiri dari 6 sampai 8 kereta eksekutif (K1), 1 kereta makan, 1 kereta pembangkit listrik, dan 1 kereta bagasi.

P_20170316_132158

Kereta pembangkit.
Kereta pembangkit.

KabarPenumpang.com pada Kamis (16/3/2017) lalu mencoba naik KA Gajayana dari Stasiun Malang dengan tujuan akhir Stasiun Gambir. Suatu pelajaran yang berharga, jangan anggap bahwa keberangkatan KA akan terlambat (delay) seperti tahun-tahun lalu. Tiga puluh menit sebelum jadwal keberangkatan, rangkaian KA Gajayana masuk ke peron satu. Tak ada aktvitas loading dan penumpang masuk yang berjalan lamban, hingga akhirnya tepat pukul 13.30 kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun.

Melewati jalur single rail yang berusia tua, rangkaian KA Gajayana berjalan pelan keluar dari pusat kota Malang. Dengan kecepatan yang ditaksir tak mencapai 100 km per jam, lepas dari Malang kereta berhtenti singkat untuk mengambil penumpang di Stasiun Kepanjen, Stasiun Wlingi, Stasiun Blitar, Stasiun Tulungagung, Stasiun Kediri, Stasiun Kertosono, Stasiun Madiun, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Yogyakarta, Stasiun Kutoarjo, Stasiun Purwokerto, Stasiun Cirebon, Stasiun Jatinegara, dan tiba di Stasiun Gambir pada pukul 04.03 WIB. Arus penumpang yang naik dari stasiun antara lumayan masif, baru setelah Stasiun Yogyakarta relatif jarang ada penumpang yang naik kereta ini.

P_20170316_132439

Bicara soal fasilitas, tentunya ada toilet, 2 TV (depan-belakang), 1 TV di tengah, AC central, reclining seat, sandaran kaki, lampu baca, meja makan lipat per kursi, stop kontak per kursi, dan rak bagasi. Mengenai toilet, KA Gajayana sudah mengadopsi toilet dengan septic tank, sehingga lebih bersih dan mengurangi suara bising ketimbang toilet bolong. Tiap gerbong terdiri dari dua toilet, satu berupa toilet dengan kloset duduk, dan satunya lagi masih berupa kloset jongkok. Ketersediaan air bersih pada wastafel, dan flush pada kloset berjalan baik. Sayangnya di KA Gajayana terbaru tidak dilengkapi dengan pintu otomatis, namun pintu gesernya relatif mudah digerakan.

P_20170316_132353

Baca juga: Tidak Lagi Gunakan Toilet “Bolong,” PT KAI Ganti Dengan Septic Tank

P_20170316_132346

Meski tetap mengenakan subclass, namun mengerjakan tugas dengan laptop di kereta ini sangat nyaman. Dudukan meja lipat punya bidang yang pas dengan ukuran laptop 11 inchi. Berlama-lama membuka laptop juga tak jadi soal, mengingat ada stop kontak disamping kursi. Kenyamanan lain yang ditawarkan, mulai pukul 21.00, lampu utama di kabin akan diredupkan, alhasil mata lebih nyaman untuk dibawa keperaduan. Meski begitu ada fasilitas lampu baca di setiap kursi yang mampu menerangi secara baik.

Agak meleset dari harapan, KA ekskutif ini sayangnya belum menyediakan fasilitas free WiFi, padahal dua hotspot telah ditanamkan dan terdeteksi dari smartphone pengguna. Ketika hal ini ditanyakan ke petugas kereta, disebutkan bahwa free WiFi memang akan digelar tapi saat ini masih dalam pengujian. Alhasil menikmati internet di kereta hanya mengandalkan akses seluler operator, yang di beberapa daerah mewah (mepet sawah) dan pedusunan sinyal operator masih sebatas 2G.

Dapur Kering dan Mushola
Tidak seperti gerbong restorasi kereta jaman dulu, gerbong restorasi KA Gajayana dirancang lumayan nyaman. Setiap meja dan kursi makan juga dilengkapi stop kontak listrik, dan dapur disini mengadopsi jenis dapur kering. Ini artinya tidak ada proses masak memasak makanan di gerbong. Setiap paket makanan dan minuman yang ditawarkan untuk penumpang sudah berupa santapan siap saji. Disimpan di dalam freezer, dan jika dihindangkan tinggal dipanaskan lewat microwave.

P_20170316_201959

“Model penyajian seperti diatas memang dipilih untuk menjamin kualitas makanan di kereta higienis,”ujar M. Kuncoro Wibowo, Direktur Komersial PT KAI kepada KabarPenumpang.com. Dari segi penyajian memang masih ada kekurangan, dan kedepan kabarnya PT KAI akan menerapkan penyajian makanan di pesawat udara.

Dapur restorasi KA Gajayana.
Dapur restorasi KA Gajayana.

P_20170316_203053

Bagi umat muslim, menjalankan sholat di KA Gajayana bisa dengan mendatangi ruang mushola yang juga terletak di gerbong restorasi. Faktanya belum besemua KA dilengkapi mushola, meski dibuat dalam bilik kecil untuk satu orang, namun semangat pelayanan PT KAI untuk penumpang harus mendapat apresiasi.

Dari sejarahnya, KA Gajayana resmi beroperasi sejak 28 September 1999. Sempat dirangkaikan dengan kelas bisnis pada awal pengoperasiannya. Nama Gajayana berasal dari seorang raja dari Kerajaan Kanjuruhan yang bernama Sang Liswa (anak dari Dewa Shima) dan terkenal dengan gelar Gajayana yang sangat dicintai oleh para brahmana dan rakyatnya karena membawa ketenteraman di seluruh negeri. Kerajaan Kanjuruhan ini berpusat di wilayah Dinoyo, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur.