Sambut ‘Satu Tahun Melayani’ LRT Jabodebek Rayakan dengan Pameran Foto dan Turnamen Basket

Jelang memperingati satu tahun operasional, LRT Jabodebek menggelar serangkaian kegiatan istimewa untuk merayakan pencapaian penting dalam tema ‘Satu Tahun Melayani’. Kegiatan ini diharapkan mengapresiasi dukungan masyarakat dan semua pihak yang terlibat, serta memperkuat komitmen LRT Jabodebek dalam menyediakan layanan transportasi yang aman, nyaman, dan efisien.

Baca juga: Seluruh Stasiun LRT Jabodebek Dilengkapi Water Station, Penumpang Bisa Isi Air Minum Gratis

Mulai tanggal 19 hingga 28 Agustus 2024, Stasiun Cawang akan bertransformasi menjadi venue pameran foto yang menampilkan perjalanan LRT Jabodebek dari fase konsepsi hingga operasional. Pameran ini menggambarkan berbagai proses penting seperti peletakan batu pertama, uji coba, hingga peresmian untuk mengedukasi masyarakat mengenai tantangan dan pencapaian yang telah dilalui LRT Jabodebek. Pameran ini terbuka untuk masyarakat dan menyediakan sudut-sudut instagramable untuk para pengunjung.

Manager Public Relations LRT Jabodebek Mahendro Trang Baowono menyampaikan pameran ini tidak hanya menjadi tempat untuk melihat dan berfoto, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang efektif.

“Dengan hadirnya pameran ini, kami ingin masyarakat dapat memahami lebih dalam tentang proses dan upaya yang diperlukan dalam penyediaan layanan transportasi publik yang handal,” ujar Mahendro.

Bersamaan dengan pameran, LRT Jabodebek juga menyelenggarakan ‘LRT Jabodebek Basketball Tournament’ yang diikuti oleh klub-klub dari stakeholder termasuk anak perusahaan KAI, Adhi Karya, DJKA, INKA, dan MRTJ. Turnamen ini bertujuan mempererat hubungan antar stakeholder dan memperkuat rasa kebersamaan melalui olahraga.

Mahendro mengungkapkan kegembiraannya atas dukungan kepada LRT Jabodebek yang diterima selama setahun ini.

“Kami sangat berterima kasih atas antusiasme dan dukungan dari masyarakat. Kami berharap kegiatan ini akan memperkuat hubungan LRT Jabodebek dengan masyarakat yang kami layani,” tutup Mahendro.

Ada Tindak Kejahatan di Stasiun, LRT Jabodebek: Waspada Hoax

10 Terowongan Kereta Terpanjang di Indonesia, Ada Dimana Saja Ya?

Karena kondisi geografis di Indonesia yang didominasi kontur gunung dan perbukitan, menjadikan populasi terowongan kereta banyak di negeri ini, yang bila dikaitkan dengan sistem perkeretaapian di Jawa dan Sumatera, identitas terowongan tak bisa dilepaskan dari kelancaran layanan, dan uniknya hampir sebagian besar terowongan kereta yang ada di Indonesia merupakan sisa peninggalan Belanda.

Baca juga: Kokoh Layaknya Seekor Gajah, “Terowongan Gunung Gajah” Masih Eksis Dilintasi Kereta

Dari 19 terowongan kereta yang ada di Indonesia, ada 10 terowongan yang masuk kategori terpanjang, tidak semuanya masih aktif digunakan saat ini, dan berikut diantaranya

1. Terowongan Wilhelmina
Memiliki panjang 1208 meter menjadikan terowongan yang menghubungkan kereta api Pangandaran dari Banjar dengan Cijulang ini menjadi yang terpanjang di Indonesia. Sayangnya terowongan ini tak lagi berfungsi dikarenakan banyak rel yang hilang dan sudah dipenuhi tanaman merambat. Bangunan terowongan ini di buat oleh Belanda dan diresmikan tanggal 1 Juni 1921.

2. Terowongan Sasaksaat
Dibangun antara tahun 1902-1903 oleh Staatsspoorwagen (SS) perusahaan kereta api Hindia Belanda tersebut membelah bukit Cipedong di kampung Sasaksaat, desa Sumur Bandung, Bandung Barat. Memiliki panjang sekitar 949 meter, bukan hanya menjadi terowongan terpanjang saja melainkan juga terwongan terpadat di Indonesia, karena di lewati kurang lebih 44 kereta api setiap harinya. Terowongan Sasaksaat sendiri berada di antara jalur Padalarang dan Purwakarta dan diantara Stasiun Sasaksaat dan Maswati.

3. Terowongan Eka Bakti Karya
Berada di Sumber Pucung, Malang tepatnya 5 km setelah stasiun Sumber Pucung, terowongan ini memiliki panjang sekitar 850 meter. Disebelah terowongan ini, terdapat bendungan Ir Sutami dan saat ini terowongan Eka Bakti Karya dikelola oleh Daerah Operasional VIII Surabaya.

Terowongan Eka Bakti Karya

4. Terowongan Sawahlunto
Dengan panjang sekitar 827 meter, terowongan Sawahlunto menjadi terowongan yang dilewati lokomotif Mak Itam untuk wisata. Letaknya sendiri berada diantara stasiun Sawahlunto dan stasiun Muara Kalaban.

5. Teowongan Mrawan
Letaknya yang dekat dengan stasiun Mrawan di kabupaten Jember dan dibangun tahun 1901-2901 oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api Hindia Belanda ini memiliki panjang 690 meter. Letak terowongan ini sendiri juga dekat dengan kawasan wisata Gumitir dan menembut Gunung Gumitir yang membatasi Jember dengan Banyuwangi.

6. Terowongan Lampegan
Dibangun tahun 1881-1884 oleh perusahaan kereta Belanda, Terowongan Lampegan berada di antara Cianjur dan Sukabumi. Sempat ambruk pada 8 Februari 2001 silam, terowongan dengan panjang 687 meter ini kemudian direnovasi ulang.

7. Terowongan Kupitan
Tak banyak sejarah tentang terowongan kereta dengan panjang 600 meter dan berada di antara Muara kalaban dan Padang Sibusuak, Sumatera Barat. Saat ini yang diketahui hanya tahun pembangunannya 1921 dan tertera di pintu masuk terowongan yang satu ini.

Terowongan Tebing Tinggi

8. Terowongan Ijo
Berlokasi di Kebumen, Jawa Tengah, terowongan tua ini dibangun tahun 1885-1886 dengan sistem kerja paksa di masa penjajahan Belanda, terowongan dengan panjang 580 meter ini masih beroperasi hingga kini. Terowongan ijo juga menjadi lokasi syuting film Kereta Api Terakhir dan Daun di Atas Bantal.

9. Terowongan Tebing Tinggi
Sama dengan Terowongan Gunung Gajah, Terowongan ini juga terletak di Sumatera Selatan, tepatnya di Talang Banyu, desa Tanjung Kupang, kecamatan Tebing Tinggi. Terowongan yang memiliki panjang sekitar 424 meter ini, termasuk salah satu terowongan yang masih aktif di Indonesia. Tapi karena kurangnya perawatan, sehingga terlihat di beberapa bagian tampak mengalami kerusakan akibat goncangan dan gerusan air hujan.

Baca juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran

10. Terowongan Gunung Gajah
Berada di urutan ke sepuluh, terowongan Gajah memiliki panjang 368 meter dan terletak di Sumatera Selatan di antara stasiun Bunga Mas dan Lahat. Namanya sebenarnya bukan stasiun Gunung Gajah Melainkan stasiun Willem Synja.

Meriahkan HUT ke-48 PT DI, “DI Edutainment” Siapkan Diskon Spesial 48 Persen

Dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang jatuh pada tanggal 23 Agustus 2024, DI Edutainment ikut memeriahkan momentum HUT tersebut dengan menghadirkan diskon menarik sebesar 48% untuk pembelian tiket DI Edutainment khusus pada tanggal 24 Agustus 2024, yang biasanya tiket tersebut dibanderol dengan harga Rp35.000/orang.

Baca juga: PT DI dan Intercrus Aero Jalin Kerja Sama Kembangkan “Intercrus Sola” Advanced Air Mobility 

DI Edutainment merupakan sebuah program edukasi yang disediakan oleh PTDI untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin mengetahui lebih dalam tentang industri pesawat terbang satu-satunya di Asia Tenggara. Sejak pendiriannya di tahun 2023, DI Edutainment telah menerima banyak respon positif dari masyarakat, tidak hanya dari masyarakat Bandung dan Jawa Barat saja, melainkan juga dari luar pulau Jawa, yang secara akumulasi hingga saat ini telah mencapai lebih dari 50.000 pengunjung umum yang dibuka setiap hari Sabtu & Minggu.

Program DI Edutainment ini terdiri dari kegiatan Factory Tour menggunakan DI Edubus, yang mengambil start dari DI Runway 29 Café, lalu masuk ke dalam kawasan PT DI dan melintasi beberapa hanggar pesawat terbang, sambil dipandu dan dijelaskan oleh tour guide terkait beberapa produk pesawat PT DI seperti NC212i, CN235, N219, UAV Elang Hitam/PTTA Wulung, Rudal Nasional dan Roket, serta produk-produk dari Anak Perusahaan PT DI, dalam hal ini PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP) dan IPTN North America (INA) Inc.

Selain itu, pengunjung juga diperkenankan mengambil swafoto di area static display pesawat dan mengunjungi Mock Up Gallery yang di dalamnya terdapat mock up pesawat CN235 produksi PT DI, dimana pengunjung diperbolehkan masuk ke dalam area cockpit dan cabin pesawat CN235 tersebut, serta beberapa pajangan miniatur produk pesawat terbang PT DI, dengan total durasi trip/perjalanan kurang lebih selama 40 menit.

Hari Ini, 37 Tahun Lalu, CN-235 Pesawat Turboprop Kebanggaan Indonesia Terbang Perdana

Inilah Economy Sky-Dream, Tempat Tidur Tiga Tingkat untuk Penumpang Kelas Ekonomi Jarak Jauh

Kursi nyaris tegak lurus di kelas ekonomi mungkin tak ada masalah bagi penumpang pada penerbangan jarak pendek di bawah satu setengah atau dua jam. Namun, di atas itu, apalagi penerbangan internasional antar-benua, penumpang yang duduk di kursi model itu dipastikan tidak nyaman dan ingin segera menyudahi penerbangan.

Baca juga: Mirip Sleeper Bus, Begini Desain Tempat Tidur Double Decker ‘Hotel Udara’ di Pesawat

Namun, itu tidak akan pernah terjadi andai seluruh maskapai merealisasikan konsep Economy Sky-Dream dari perusahaan konsultan dan teknik Belanda, ADSE.

Sebetulnya, penumpang kelas ekonomi jarak jauh sudah mulai mendapai kenyamanan lebih, seperti tempat duduk ergonomis dan leg room lega. Tetapi, tetap saja, tidak ada pengalaman tidur nyaman seperti di rumah. Masalah itulah yang ingin dipecahkan ADSE melalui konsep Economy Sky-Dream.

Dilansir Simple Flying, alih-alih coba menghadirkan lebih banyak ruang di kabin, mereka berpikir akan lebih brilian bila menghadirkan tempat tidur di atas kepala atau kursi penumpang. Bukan hanya satu tetapi dua tempat tidur, menggantikan kompartemen bagasi di bagian atas.

Perlu digaris bawahi, konsep tempat tidur tiga tingkat ini hanya ditujukan untuk kelas ekonomi pesawat widebody Airbus A350 dan Boeing 777.

Sebelum mulai menikmati tempat tidur tiga tingkat ini, seluruh penumpang akan memulai taxiing dan lepas landas dari kursi sebagaimana mestinya. Ini disebut seating mode atau mode tempat duduk. Barulah setelah pesawat meluncur stabil di udara, penumpang bisa menikmati sensasi tidur di kelas ekonomi di tempat tidur tiga tingkat.

Penumpang cukup menaiki tangga untuk mencapai tempat tidur di tingkat kedua dan ketiga. Masing-masing tempat tidur dilengkapi dengan life vests atau sejenis lampu baca, passenger service unit (PSU) berupa ventilasi, masker oksigen saat dalam keadaan darurat dan USB charge. Kursi kosong yang ditinggali penumpang juga bisa dimanfaatkan menjadi tempat tidur. Jadi, total ada tiga tempat tidur.

Karena kompartemen bagasinya pindah ke bawah kursi, pastinya penumpang harus membawa barang-barang yang diinginkan terlebih dahulu sebelum ke tempat tidur tingkat dua dan tiga.

Saat waktunya menyantap hidangan, penumpang kabin kelas ekonomi ini bisa kembali ke kursi di bawahnya, dan mengaktifkan mode foldable table atau meja lipat, mengingat tidak ada meja lipat dari seatback kursi depan. Untuk kenyamanan lebih, penumpang juga bisa mengangkat armrest agar terasa lebih luas.

Pada umumnya, maskapai menerbangkan widebody mereka dengan konfigurasi 10 kursi atau 3-4-3. Adapun konsep Economy Sky-Dream berkurang satu kursi menjadi 3-3-3. Ini tentu menjadi kendala terberat maskapai untuk merealisasikan konsep tersebut, mengingat hilang satu kursi di setiap row bisa berdampak buruk pada arus kas perusahaan.

Akan tetapi, hal itu cepat-cepat diluruskan perusahaan. Melalui Maurice Boon, konsultan teknis untuk ADSE, ia menjamin hal itu tertutup dengan biaya ekstra yang dikeluarkan penumpang di kursi tempat tidur tiga tingkat ini.

Baca juga: Intip Konsep Peacock Suites, Desain Hotel ‘Terbang’ Super Mewah Pesawat di Masa Depan

“Kepadatan penumpang yang berkurang dapat dikompensasikan dengan harga tiket untuk penumpang yang menerbangkan ranjang susun. Penurunan berat badan dari lebih sedikit penumpang dan lebih sedikit barang bawaan cukup signifikan dan mungkin dapat mengurangi berat keseluruhan untuk seluruh bagian tempat tidur susun (bunk beds),” katanya kepada Runway Girl Network.

Bila masalah revenue bisa dijawab, bagaimana dengan masalah safety atau kenyamanan, khususnya saat dalam keadaan darurat. Biasanya, konsep kursi pesawat inovatif seringkali terkendala di sini hingga pada akhirnya konsep tersebut tak pernah terwujud di penerbangan komersial. Apakah konsep kursi Economy Sky-Dream salah satunya? Menarik ditunggu.

Mau Duduk Nyaman di Bus? Jangan Salah Pilih Kursi

Sudah bukan rahasia lagi jika memilih posisi kursi menjadi pilihan awal sebelum berangkat naik bus. Terkadang banyak juga yang tidak memilih posisi kursi alias yang penting duduk dan nyaman. Padahal kenyamanan tempat duduk apalagi di bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) atau pariwisata adalah kunci kita menikmati perjalanan.

Baca juga: Punya Tinggi Tak Wajar, Penumpang Bingung Saat Duduk di Kursi Halte Bus Ini

Tapi, pernahkah Anda pernah berpikir posisi tempat duduk mana yang paling nyaman di dalama bus? Dikutip dari quora.com ada beberapa jawaban yang menarik untuk dicoba dalam pemilihan kursi di dalam bus agar nyaman dalam menikmati perjalanan.

Beberapa orang mengatakan, duduk dimanapun di kursi bus adalah hal yang sama saja. Yang terpenting adalah saat menikmati perjalanan dan nyaman untuk duduk. Namun, beberapa orang lainnya beranggapan lainnya. Ada yang akan memilih di dekat pintu keluar, artinya duduk di kursi bagian depan di tingkat pertama bila bus itu ada dua tingkat.
kursi31Biasanya bila duduk di dekat pintu keluar, saat menggunakan angkutan umum adalah hal paling nikmat dan indah. Hal ini dikarenakan Anda akan merasa leluasan dan tidak sesak apalagi di jam sibuk. Selain itu, ruang gerak lebih luas dan jarak penglihatan pada tempat tujuan Anda jadi lebih mudah terlihat. Ini penempatan tempat duduk bila Anda menggunakan bus sebagai angkutan umum Anda.

Namun, bila Anda menggunakan bus AKAP atau pariwisata ada hal yang berbeda dalam pemilihan kursi. Untuk Anda yang mabok darat baiknya jangan duduk di belakang atau di bagian depan karena goncangan bus paling terasa. Hal ini justru akan membuat Anda bertambah mual, tapi kalau Anda memang menginginkan duduk di kursi depan atau belakang dan seorang yang mabuk perjalanan, baiknya minum obat mabuk seperti Antimo ini bisa membuat Anda tertidur.

Namun, kemungkinan besar bila itu adalah bus AKAP dan Anda sendirian baiknya duduk di tengah, karena bila duduk di bagian belakang, kemungkinan untuk menjadi korban pencopetan akan semakin besar. Lain lagi bila di bus pariwisata atau pergi dengan keluarga duduk dimana saja kemungkinan untuk was-was pencopetan akan jauh dari pikiran Anda.

Pilihan terbaik bila menaiki bus baik AKAP maupun pariwisata, pilih duduk di tengah dekat lorong,ini adalah pilihan tempat duduk yang paling aman dan nyaman. Di sini memang kurang nyaman untuk menikmati pemandangan diluar melalui jendela. Tetapi tempat ini adalah yang paling aman.

Baca juga: Ngeri, Jarum Jahit Ditemukan Tertancap di Kursi Bus Tingkat 

Hal ini terlihat jelas, memang semua orang akan selalu berharap sampai di tujuan dengan selamat, aman dan nyaman. Tapi namanya insiden terkadang tak bisa di hindarkan, duduk di tengah adalah pilihan paling tepat, selain aman, bila bus menabrak sesuatu Anda tidak akan ikut terpental ke depan atau saat duduk di belakang dan bus tiba-tiba di tabrak dari belakang kepala Anda bisa saja terantuk kursi.

Selain itu, bila duduk ditengah biasanya lebih aman dan nyaman karena tidak terlalu merasakan goncangan saat bus berjalan di jalan berkelok atau ngebut.

Rumah Makan Umega, dari Usaha Menambah Gaji Hingga Jadi Bagian Penting Tradisi Merantau Orang Minang

Bicara soal bus antar kota antar provinsi (AKAP) jurusan Bandung-Jabodetabek-Sumatra Barat, tentu saja tak boleh melewatkan rumah makan yang satu ini. Rumah makan yang dimaksud adalah RM Umega yang ada di pinggir Jalan Lintas Tengah Sumatra, Gunung Medan, Dharmasraya, Sumbar.

Baca juga: Sajian di Rumah Makan PO Bus AKAP, Jurus Pemikat Loyalitas Penumpang

Rumah makan tersebut didirikan oleh salah satu pegawai kejaksaan di Dharmasraya, Zubir Sutan Bagindo pada medio 1970-an. Nama Umega sendiri merupakan sebuah akronim dari “Usaha Menambah Gaji”.

Seiring berjalannya waktu, usaha menambah gaji yang dilakukan Zubir justru menghasilkan uang lebih besar dari gajinya. Dari sebuah rumah makan kecil, RM Umega berkembang menjadi berkembang menjadi tempat istirahat terpadu dengan fasilitas rumah makan, toko oleh-oleh, ATM, musala, hotel, hingga SPBU.

Menu makanan yang tersedia di RM Umega sama seperti dengan rumah makan Padang atau Ampera Minang kebanyakan. Ada rendang, ayam gulai, ayam bakar, gulai cancang (daging cincang), telur balado, nasi goreng padang, soto padang dan lain-lain. Tentu saja, tersedia pula sayur pucuk ubi (daun singkong), gulai cubadak (nangka), serta sambal hijau.

Menu makanan yang dijual di RM Umega harganya boleh dikatakan cukup bersahabat untuk ukuran rumah makan di Jalur Lintas Sumatra. Harganya mulai dari belasan ribu rupiah hingga Rp28.000 untuk satu piring nasi beserta sayur dan lauk lengkap.

Rasa dan kebersihannya juga konsisten terjaga selama puluhan tahun. Termasuk kebersihan fasilitas toilet, kamar mandi, dan musalanya.

Oleh karena itu, rumah makan ini juga menjadi pilihan bagi pengendara kendaraan pribadi yang melintas di Jalur Lintas Tengah Sumatra. Saat, musim mudik tiba, area parkir Umega seringkali penuh oleh kendaraan pribadi berplat nomor luar kota, khususnya Jakarta dan Bandung.

Saat ini, perusahaan otobus (PO) yang berhenti rehat di RM Umega antara lain adalah PO Naikilah Perusahaan Minang (NPM), PO Family Raya Ceria (FRC), PO Armada Bumi Minang (ABG), PO Transport Express, PO Lubuk Basung Jaya (LBJ) Transport, PO Putra Rafflesia, PO Epa Star, PO Gumarang Jaya dan PO Palala. Beberapa armada milik PO Antar Lintas Sumatra (ALS) juga kerap terlihat mampir di rumah makan tersebut.

Di sisi lain, RM Umega ternyata punya tempat tersendiri di hati orang Minang, utamanya para perantau yang menuju ke Jawa lewat jalan darat. Sebab, rumah makan tersebut sempat menjadi rumah makan satu-satunya bagi bus yang berangkat dari Sumbar menuju Jawa.

Perantau Minang kawakan yang pernah merasakan bagaimana merantau atau kembali ke kampung halaman menggunakan bus pada medio 1970-awal 2000-an tentunya tak asing dengan rumah makan ini. Kesan tersendiri itu juga ada kaitannya dengan keberadaan pengamen saluang atau alat musik tradisional Minang di teras rumah makan.

Alunan saluang yang merdu seakan menyambut para perantau yang akan kembali ke kampung halamannya di Ranah Minang. Sebaliknya, bagi para perantau yang akan kembali ke tanah rantauan, alunan saluang seakan-akan menjadi salam perpisahan di ujung Bumi Minangkabau.

Baca juga: Pelayanan Rumah Makan Minang dan Karakter Penumpang, Jadi Sebab Bus AKAP Lintas Sumatera Tak Sediakan Makan

Dharmasraya merupakan kabupaten paling barat yang ada di Sumbar. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan wilayah Provinsi Jambi dan menjadi pintu gerbang masuk ke Ranah Minang dari Jawa atau dari bagian selatan Sumatra. (Bisma Satria)

PO ANS, Bagian Tak Terpisahkan dari Tradisi Merantau Urang Awak

Anas Sutan Jamaris atau Haji Anas, pemilik yang juga pendiri Perusahaan Otobus (PO) legendaris dari Ranah Minang ANS tutup usia pada usia 89 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Urang Awak, khususnya para perantau.

Baca juga: PO ANS – Pernah Layani Trayek AKAP Terjauh, Banda Aceh – Denpasar

PO yang namanya merupakan singkatan dari ‘Aman, Nyaman, Sampai Tujuan’ itu boleh dikatakan sebagai pelopor angkutan antar kota antar provinsi (AKAP) di Sumatra Barat. Jauh sebelum hadirnya Jalan Tol Trans Sumatra, ANS sudah memulai kiprahnya di jalanan Sumatra.

Melintasi jalanan yang belum sepenuhnya diaspal mulus, menyebrang sungai menggunakan rakit atau pelayanagan, hingga melintas daerah rawan kejahatan dilakukan oleh bus-bus ANS pada awal kiprahnya. Mengantar para perantau mengadu nasib atau sebaliknya, pulang ke kampung halaman tercinta.

Nama ANS juga sempat disebut dalam novel ‘Negeri Lima Menara’, mengantarkan tokoh utama menuntut ilmu ke Jawa dari Bukittinggi. Dalam novel tersebut, ANS dinarasikan sebagai bus yang nyaman dengan fasilitas hiburan pemutar video.

Selain itu, ANS juga disebut mengantarkan tokoh utama hingga tujuan akhirnya di Ponorogo. Jauh berbeda dengan saat ini, yang mana tujuan akhirnya di Jawa hanya sampai Bandung.

Apa yang ditulis di novel tersebut memang benar adanya. Novel yang mengambil latar medio 1990-an itu betul-betul menggambarkan kedigdayaan ANS yang sempat membuka layanan AKAP hingga Malang dan Denpasar.

Bicara soal kenyamanan, sampai dengan hari ini ANS dikenal oleh Urang Awak sebagai bus yang nyaman. ANS menjadi satu-satunya PO Sumbar yang menyediakan layanan kelas Super Eksekutif sebelum akhirnya disuntik mati dan digantikan oleh Royal Eksekutif.

Kenyamanannya juga ditunjang oleh penggunaan bodi buatan Morodadi Prima yang dikenal stabil ketika melibas tikungan. Sejak dulu, seluruh armadanya menggunakan bodi buatan karoseri yang bermarkas di Singosari, Malang itu.

Sejak dulu, ANS yang identik dengan warna biru dan putih selalu tampil elegan. Membuatnya tampak berkelas dan membuat siapapun yang menumpanginya boleh berbangga hati.

Rizal, pengusaha fotokopi dan percetakan di bilangan Rawamangun menyebut dirinya sudah menjadi pelanggan ANS sejak tiga dekade lalu. Seluruh kelas layanan pernah dicobanya, mulai dari Jumbo (Non AC 2-2 Non Toilet), Jumbo AC (2-2 Non Toilet) AC Eksekutif (2-2 Toilet), Super Eksekutif (AC 2-1 Toilet), dan yang terbaru Royal Eksekutif (AC 2-2 Toilet).

Dia juga sempat merasakan bagaimana ngerinya Jalur Lintas Tengah yang pada medio 1990-an masih menjadi satu-satunya akses antarkota di Sumatra. Bus harus berjalan beriringan ketika melintas di titik-titik rawan seperti Lahat, Sumatra Selatan.

“ANS dari dulu itu dikenal bus nyaman. Busnya saudagar Minang. Kebanyakan yang naik itu para Saudagar atau mahasiswa kaya memang karena tiketnya mahal buat zaman itu. Saya awal merantau ya naiknya bukan ANS, cari yang murah,” katanya.

Dianggap sebagai bus kalangan atas, nyatanya tak membuat ANS lupa daratan. Pada 1998, diketahui sang pemilik menggratiskan tiket untuk perantau Minang yang menjadi korban atau mengalami kerugian akibat kerusuhan. Hal itu pula yang membuat nama ANS punya tempat tersendiri di hati masyarakat Minang.

Gempuran tiket murah dari maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier) juga tak membuat ANS menyerah undur diri dari layanan AKAP. Tetap bertahan hingga akhirnya kejayaan bus Sumbar kembali pada 2019 dengan tersambungnya Jalan Tol Trans Sumatra hingga Palembang.

“Sedih kalau ingat waktu itu, kalah sama pesawat. Sehari satu berangkat, semua daerah [di Sumbar] disisir. Itu juga belum penuh. Andalannya paket barang di bagasi supaya tetap hidup,” ujarnya.

Kini, ANS dan bus-bus Minang lainnya kembali mengulang kejayaannya. Setiap harinya, ANS paling sedikit memberangkatkan tujuh bus dari Sumbar maupun Jawa. Kehadiran PO baru yang mencoba legitnya jalur Bandung-Jabodetabek-Sumbar tak membuat ANS hilang pamor.

Baca juga: Pelayanan Rumah Makan Minang dan Karakter Penumpang, Jadi Sebab Bus AKAP Lintas Sumatera Tak Sediakan Makan

“ANS tetap yang paling nyaman. Tiket sudah bisa dibeli online juga, kemajuan sekali. Fasilitasnya bagus, ditingkatkan terus agar tak kalah saing. Terakhir itu Royal [Eksekutif] baru ada mini bar-nya,” tutur Rizal. (Bisma Satria)

 

Lockheed Constellation Milik TWA Jadi Cocktail Bar Bernuansa Retro

Sudah lumrah jika sebuah pesawat yang sudah tidak beroperasi malah dijadikan sebuah tempat yang memiliki fungsi berbeda dengan sebelumnya. Ya, pada pemberitaan sebelumnya sudah pernah disebutkan bahwa ada banyak orang-orang kreatif di luar sana yang menyulap burung besi rongsok menjadi suatu tempat yang memiliki fungsi baru – mulai dari salon, tempat makan, hingga hotel tematik.

Baca Juga: Kreatif! Pilot ini Sulap Bangkai Airbus A330 Menjadi Sebuah Museum

Nah, kali ini pemberitaan datang dari Negeri Paman Sam dimana sebuah pesawat Lockheed Constellation diubah menjadi bar dengan nuansa retro yang sangat kental. Kira-kira, bagaimana penampakannya?

Seperti yang diberitakan KabarPenumpang.com dari laman designboom.com, pesawat Lockheed Constellation yang digunakan sebagai kerangka dari cocktail bar ini merupakan sebuah pesawat yang dirakit pada tahun 1958 dan dioperasikan oleh maskapai Trans World Airlines (TWA). Tentu saja, interior dari pesawat ini sudah dirombak besar-besaran guna menciptakan rasa nyaman bagi para pengunjungnya.

Sumber: USA News Hub

Anda sudah tidak akan lagi melihar deret bangku selayaknya pesawat penerbangan penumpang – melainkan diganti dengan susunan bangku mewah berlapiskan kain merah. Tata pencahayaan yang terkonsentrasi pada bagian tengah body pesawat juga semakin menambah nilai elegan dari cocktail bar yang ‘terparkir’ di depan JFK Airport ini.

Di dalam cocktail bar ini, Anda semua akan melihat berbagai barang berbau jadul yang akan menggairahkan nostalgia Anda, seperti pedang cocktail hingga board game legendaris, dan tidak lupa, karpet merah ikonik dari TWA.

Sumber: USA News Hub

Desain interior dari TWA Cocktail Bar ini sendiri dipimpin oleh Sara Duffy (Interior Designer) dan Stonehill Taylor (Architects), dimana keduanya dengan apik menggabungkan nilai vintage dengan berbagai kelengkapan perabotan modern.

Baca Juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

Sedikit menyinggung soal TWA sendiri, maskapai ini sendiri ditemukan pada tahun 1930 dengan nama Transcontinental  & Western Air. Di awal pengoperasiannya, maskapai ini melayani rute penerbangan dari New York City menuju Los Angeles via St. Louis, Kansas City, dan beberapa pemberhentian lainnya.

Namun sayang, maskapai penerbangan ini terbilang cukup sering dirundung masalah, sehingga pengoperasiannya harus berhenti di tahun 2001. Tercatat, maskapai TWA ini sendiri pernah mengoperasikan Airbus A318-100, Boeing 717-200, Boeing 757-200, Boeing 767-300ER, hingga McDonnell Douglas MD-83 dengan jumlah yang paling banyak diantara armada lainnya (65 unit).

Komuter KRL Jabodetabek dari Cina Tiba di Awal 2025, Beropasi di Akhir Tahun

Ada kabar baik bagi para pengguna kereta komuter (KRL Jabodetabek), pasalnya pada awal tahun 2025 akan kedatangan sejumlah rangkaian kereta baru, yang berstatus bekas pakai dari Cina.

Baca juga: Ada Luhut di Balik Impor KRL Baru KAI Commuter dari CRRC Sifang Cina

Kabar ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama KAI Commuter Indonesia (KCI) Asdo Artriviyanto saat meluncurkan KMT edisi khusus BT21 di Stasiun BNI City, Senin (12/8) malam kemarin. “Triwulan I 2025 kita akan kedatangan kereta-kereta baru. Kereta baru dengan teknologi baru, persembahan untuk Jabodetabek,” kata Asdo, seperti dikutip detik.com.

Dalam kesempatan yang sama, Manajer Humas PT KAI Commuter Leza Arlan ikut menambahkan perusahaan terus berusaha agar pesanan kereta baru itu dapat datang tepat waktu. Terlebih mengingat KCI memesan cukup banyak rangkaian kereta untuk 2025 nanti. “Jadi kalau untuk yang Commuter line, untuk kereta yang baru tahun depan, mudah-mudahan time delivery-nya sesuai,” ucap Leza saat ditemui wartawan di acara yang sama.

“Sementara satu atau triwulan satu keretanya datang itu kalau sesuai dengan time delivery dan ini makanya time delivery-nya kita jagain,” sambungnya.

Leza menjelaskan kereta baru yang datang merupakan pesanan KCI dari perusahaan asal Cina, CRRC Sifang Co., Ltd dan produsen sarana perkeretaapian dalam negeri INKA. Setelahnya KAI Commuter bersama pemangku kepentingan lainnya akan uji sertifikasi guna memastikan rangkaian kereta layak digunakan.

“Keretanya datang, yang dari CRRC, yang dari INKA juga. Jadi nanti di semester dua ya mudah-mudahan setelah uji sertifikasinya selesai itu bisa teman-teman bisa nikmati lah kereta barunya,” paparnya.

Sebagai informasi, dalam catatan detikcom sebelumnya Kereta Commuter Indonesia (KCI) melakukan penandatanganan Kontrak Kerja Sama Pengadaan Sarana Kereta Rel Listrik (KRL) baru bersama CRRC dan INKA pada akhir Januari 2024 kemarin.

Untuk pemesanan rangkaian kereta baru kepada CRRC, KCI membeli tiga rangkaian baru dengan tipe KCI-SFC120-V. Sedangkan untuk pesanan untuk INKA, KCI membeli 16 rangkaian KRL baru dan melakukan retrofit terhadap 19 rangkaian lama.

Jika dikalkulasi, total kerja sama tersebut bernilai Rp6,84 triliun. Adapun seluruh pembiayaannya, diperoleh KCI lewat skema shareholder loan dari PT KAI dan bantuan dari Pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

Pada awal Juli 2024 lalu, KCI batal melakukan peremajaan (retrofit) terhadap 19 rangkaian kereta lama dengan INKA. Sebagai gantinya, KCI menambah jumlah kereta impor dari CRRC. Akibatnya jumlah retrofit berkurang dari 19 menjadi 2 rangkaian kereta saja. Sedangkan jumlah kereta impor asal ‘Negeri Tirai Bambu’ kini bertambah dari 3 rangkaian menjadi total 11 rangkaian.

Rangkaian KRL baru dari Cina dan INKA inilah yang diharapkan bisa sampai pada awal 2025 nanti. Diharapkan kereta-kereta ini nantinya bisa beroperasi pada semester (antara Juli-Desember) 2025.

Inilah 10 Perilaku Penumpang yang Mengesalkan di KRL Jabodetabek

DC-3 Dakota Masih Terbang Setelah 80 Tahun, Berapa Usia Terbang Maksimum Sebuah Pesawat?

Sebagian dari Anda mungkin pernah mendengar nama pesawat penumpang legendaris Douglas DC-3, yang juga dikenal sebagai Dakota. Ya, pesawat propeller tersebut sampai saat ini masih eksis (dengan sejumlah upgrade), menyiratkan pesawat yang usianya lebih dari 80 tahun tapi masih bisa terbang dengan aman. Dari contoh pada Dakota, mendorong pertanyaan, berapa lama usia terbang maksimum atau masa pakai sebuah pesawat terbang?

Baca juga: McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara

Usia terbang maksimum atau masa pakai sebuah pesawat terbang didasarkan pada beberapa faktor, termasuk desain pesawat, perawatan yang dilakukan, dan kondisi operasional. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai usia terbang pesawat:

1. Desain dan Umur Pakai
Pesawat komersial biasanya dirancang dengan masa pakai sekitar 20 hingga 30 tahun atau lebih, tergantung pada jumlah siklus penerbangan (lepas landas dan pendaratan) dan total jam terbang. Pesawat yang lebih tua dapat terus dioperasikan lebih lama dari itu, selama perawatan dan inspeksi dilakukan secara rutin untuk memastikan keselamatan.

2. Jumlah Siklus Penerbangan:
Siklus penerbangan (lepas landas dan pendaratan) sering kali menjadi faktor yang lebih kritis dibandingkan usia kalender. Pesawat yang melakukan penerbangan pendek (short-haul) mungkin mengalami lebih banyak siklus dibandingkan dengan pesawat yang digunakan untuk penerbangan jarak jauh (long-haul).

Pesawat dirancang untuk menahan sejumlah siklus tertentu, biasanya antara 50.000 hingga 75.000 siklus sebelum memerlukan penggantian atau perbaikan besar.

3. Perawatan dan Inspeksi:
Dengan perawatan yang tepat, pesawat bisa beroperasi jauh melampaui usia desain awalnya. Misalnya, Boeing 747 pertama kali diperkenalkan pada akhir 1960-an, dan beberapa di antaranya masih beroperasi hingga 50 tahun kemudian. Inspeksi reguler dan perawatan yang cermat dapat memperpanjang usia terbang pesawat.

4. Pensiun Pesawat:
Pada titik tertentu, biaya perawatan dan operasi pesawat tua bisa menjadi tidak ekonomis, dan pesawat tersebut mungkin akan dipensiunkan. Faktor-faktor lain termasuk efisiensi bahan bakar dan kemampuan memenuhi regulasi lingkungan baru. Pesawat yang sudah dipensiunkan sering kali dijadikan suku cadang, diubah menjadi kargo, atau dipamerkan di museum.

Secara umum, usia terbang pesawat bervariasi, tetapi dengan perawatan yang baik, pesawat dapat terus beroperasi selama 25-40 tahun atau lebih, tergantung pada jenis dan penggunaannya.

Dalam contoh kasus DC-3 Dakota, secara keseluruhan, kombinasi desain yang tangguh, perawatan yang hati-hati, dan komunitas yang berdedikasi telah memungkinkan banyak DC-3 untuk terus terbang lebih dari 80 tahun setelah pertama kali diluncurkan. Pesawat ini adalah contoh luar biasa dari rekayasa yang baik dan ketahanan dalam dunia penerbangan.

Jadi Maskapai Terbaik, Modal Awal Cathay Pacific Hanya Satu Pesawat DC-3 Bernama “Betsy”