Akibat Kekurangan Pesawat, Rusia Minta Maskapai Kazakhstan Layani Penerbangan Domestik

Otoritas penerbangan Rusia dikabarkan sedang bernegosiasi dengan pemerintah Kazakhstan untuk melibatkan maskapai penerbangannya untuk mengisi layanan penerbangan domestik karena kekurangan pesawat. Seperti diketahui, sanksi dari Amerika Serikat dan Barat yang diberlakukan kepada Rusia ikut berpengaruh pada sektor penerbangan di Rusia.

Baca juga: Hadapi Sanksi AS dan Barat, Maskapai Rusia S7 Bakal Memproduksi, Menguji dan Mensertifikasi Suku Cadang Pesawat

Pihak berwenang Rusia beralih ke negara-negara sahabat untuk membantu mengatur penerbangan domestik karena risiko kekurangan pesawat di antara maskapai penerbangan Rusia. Seperti dikutip The Moscow Times, Kementerian Transportasi Rusia sedang bernegosiasi dengan Kazakhstan untuk melibatkan maskapai penerbangan Kazakhstan dalam mengoperasikan penerbangan di Rusia.

Ini melibatkan apa yang disebut penerbangan cabotage, di mana maskapai penerbangan asing mengoperasikan penerbangan antarkota di negara lain, praktik yang saat ini hanya diizinkan untuk maskapai penerbangan Rusia.

“Kemungkinan mengizinkan penerbangan cabotage sedang dipertimbangkan mengingat kekurangan pesawat,” kata Roman Starovoit, Menteri Transportasi Rusia. Ia menambahkan bahwa negosiasi juga sedang berlangsung dengan negara-negara lain, meskipun ia menolak menyebutkan nama mereka.

Menurut laporan tersebut, sebelum invasi besar-besaran ke Ukraina dimulai pada tahun 2022, maskapai penerbangan Rusia memiliki armada sebanyak 850 pesawat, tetapi pada awal tahun 2023, jumlah ini telah turun menjadi 736, menurut perkiraan oleh firma konsultan Oliver Wyman.

Sanksi, yang telah melarang pasokan pesawat dan suku cadang Barat ke Rusia, dapat menyebabkan armada berkurang setengahnya pada tahun 2026.

Oliver Wyman memperkirakan bahwa pengurangan signifikan pesawat buatan luar negeri akan dimulai pada tahun 2025, karena pesawat-pesawat ini akan memerlukan perbaikan besar.

Pada bulan Agustus, Kyiv Post melaporkan bahwa beberapa maskapai penerbangan sekarang menjatah bahan bakar karena maskapai penerbangan komersial Moskow yang sudah kesulitan terhuyung-huyung dari satu krisis ke krisis lainnya.

Masih Disanksi, Maskapai Rusia Mulai Mengkanibal Pesawat Barat

Pilot dari salah satu maskapai penerbangan berbiaya rendah dari grup Aeroflot, Pobeda Airlines, mengeluh bahwa manajemen mereka telah menerapkan prosedur bahan bakar yang berpotensi berbahaya.

Para penerbang mengatakan bahwa pesawat mereka sedang diisi ulang bahan bakarnya hingga ke tingkat yang sangat rendah, dalam beberapa kasus di bawah, tingkat minimum, yang diperlukan untuk perjalanan tertentu.

Pada bulan Februari, Wall Street Journal, mengutip perusahaan riset Jerman, Jacdec, melaporkan bahwa maskapai penerbangan Rusia telah mengalami 74 keadaan darurat dalam penerbangan pada tahun 2023 – lebih dari dua kali lipat dari 36 kejadian yang dilaporkan pada tahun 2022. Badan Transportasi Udara Federal Rusia, mencatat lebih dari 400 kejadian kegagalan peralatan yang melibatkan mesin, roda pendaratan, penutup sayap, perangkat lunak pesawat, dan sistem hidrolik sebelum penerbangan.

 

Ogah Stag Macet di Jalan Raya, Turis Mulai Gunakan Boat untuk Transportasi di Bali Selatan

Kepadatan populasi di Bali selatan telah berdampak buruk pada sektor transportasi darat, lantaran terjadi kemacetan lalu lintas yang begitu parah. Dengan jumlah wisatawan yang terus meningkat hingga mencapai 3,5 juta jiwa pada Juli 2024, maka kemacetan lalu lintas di kawasan ini semakin memperihatinkan dan justru membuat pelacong tidak nyaman.

Baca juga: LRT “Bali Urban Subway” Resmi Dibangun, Fase Pertama Ditargetkan Tuntas Tahun 2028

Kemacetan lalu lintas membuat wisatawan kehilangan banyak waktu di jalan. Misalnya, dari Canggu menuju Uluwatu, wisatawan bisa menghabiskan waktu hingga dua jam di jalan. Oleh karena itu, kini banyak wisatawan yang memilih alternatif transportasi dengan kapal.

Seperti dikutip Tempo.co, ada beberapa operator kapal yang siap mengantar wisatawan ke destinasi yang diinginkan dari titik-titik tertentu, salah satunya adalah Go Boat.

Rute dan Tarif Kapal
Go Boat menawarkan beberapa rute utama yang menghubungkan kawasan-kawasan populer di Bali. Salah satu rute yang paling populer adalah Canggu – Uluwatu. Jika perjalanan darat dari Canggu menuju Uluwatu memakan waktu hampir dua jam karena macet, jalur laut menawarkan solusi yang jauh lebih cepat dan nyaman. Perjalanan dengan perahu dari Pantai Nelayan Canggu ke Pantai Padang Padang di Uluwatu hanya membutuhkan waktu sekitar 35 menit dengan tarif mulai dari Rp215.000 per orang. Wisatawan dapat menikmati pemandangan laut yang memukau dan terhindar dari stres akibat kemacetan jalan.

Selain rute tersebut, Go Boat juga melayani rute Pantai Kedonganan, Jimbaran – Pantai Nelayan, Canggu dengan waktu tempuh sekitar 25 menit dan tarif mulai dari Rp215.000 per orang.

Rute lain yang tersedia adalah Sanur – Nusa Penida, Sanur – Nusa Lembongan, dan Canggu – Jimbaran, yang menawarkan alternatif transportasi yang efisien dan bebas kemacetan.

Jadwal Perjalanan
Go Boat beroperasi setiap hari dengan beberapa jadwal keberangkatan, menyesuaikan dengan tingginya permintaan wisatawan. Berikut jadwal Go Boat sebagaimana dilansir dari akun Instagram mereka:

– Canggu – Uluwatu: 09:00, 11:00, 13:00, 15:00, dan 17:00
– Uluwatu – Canggu: 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00
– Jimbaran – Canggu: 08:15
– Canggu – Jimbaran: 17:00

Jalur laut menjadi alternatif untuk menghemat separuh waktu tempuh. Wisatawan juga bisa menikmati pemandangan pesisir Bali selama perjalanan.

Inilah Odyssey Submarine Bali, Kapal Selam Wisata untuk Eskplore Eksotisme Bawah Laut Bali

[Hari ini 47 Tahun Lalu] Puncak Pembajakan Lufthansa Flight 181 yang Fenomenal

Hari ini, tepat tanggal 18 Oktober, 47 tahun yang lalu, menjadi salah satu babak kehidupan paling dikenang oleh maskapai kenamaan asal Negeri Bavaria, Lufthansa. Mungkin beberapa dari Anda yang mencintai dunia kedirgantaraan global akan langsung ngeh tentang memori apa yang pernah terjadi pada pada tanggal 18 Oktober 1977. Namun bagi yang belum tahu, tanggal ini merupakan puncak dari pembajakan yang menimpa Lufthansa Flight 181 yang kala itu terbang menggunakan Boeing 737-200.

Baca Juga: Jerman Datangkan Saksi Bisu Pembajakan Lufthansa 1977, Indonesia Juga Punya Sejarah Yang Mirip

Sebenarnya, kejadian ini bermula pada tanggal 13 Oktober 1977, dimana Lufthansa Flight 181 tengah menjalani perjalanan dari Mallorca, Spanyol menuju ke Frankfurt, Jerman. Phak maskapai mengatakan bahwa kala itu, pesawat berisikan 87 penumpang dan lima awak penerbang – dimana mayoritas dari penumpang ini merupakan warga Jerman Barat yang baru pulang berlibur dari Mallorca, dan 11 penumpang diantaranya merupakan ratu kecantikan Jerman.

Keberangkatan para penumpang ini semula berjalan lancar, hingga akhirnya sekitar pukul 11.30 waktu setempat, empat orang pembajak yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Commando Martyr Halima mulai menguasai seisi pesawat dan secara garis besar menuntut agar sembilan rekan mereka yang dipenjara di Jerman Barat dibebaskan serta memberikan mereka uang tunai senilai US$15 juta.

Identitas Teroris

1. Zohair Youssif Akache, warga negara Palestina (23 tahun/pria),
2. Suhaila Sayeh, warga negara Palestina (22 tahun/wanita),
3. Wabil Harb, warga negara Lebanon (23 tahun/pria), dan
4. Hind Alameh, warga negara Lebanon (22 tahun/wanita).

Drama Tragis dan ‘Keliling Dunia’

Secara kompak, keempat muda-mudi ini langsung menggegerkan seisi pesawat dan mulai ‘mengambil alih’ penerbangan yang kala itu dikemudikan kapten pilot Jürgen Schumann. Para pembajak lalu mengarahkan pesawat untuk mendarat di Roma pada sore hari dan mengisi bahan bakar di sana. Lalu di hari yang sama pada pukul 17.45 waktu setempat, Lufthansa Flight 181 kembali bertolak menuju Larnaca, Siprus tanpa arahan dan persetujuan mengudara dari ATC bandara Roma.

Pesawat yang bernama Landshut ini tiba di Larnaca sekitar pukul 20.28 waktu setempat – setelah kurang lebih menjalani perjalanan selama kurang dari tiga jam. Di sini, pembajak sempat meminta Jürgen Schumann untuk mengarahkan pesawat menuju Beirut. Namun sial, ketika hendak bertolak menuju Beirut, otoritas bandara sudah memblokade landasan dan menolak kehadiran pesawat tersebut di sana. Akhirnya si pembajak meminta untuk pesawat mendarat di Bahrain. Sebelum ke Bahrain, Landshut juga sempat hendak mendarat di Damascus (Suriah), Baghdad (Irak), namun kedatangannya ditolak.

Setelah mereka tidak mendapatkan apa yang mereka tuntut di Bahrain, pesawat yang masih berisikan penumpang komplit ini kembali mengudara, kali ini menuju Dubai dan mendarat disana pada 14 Oktober pukul 05.40 waktu setempat. Awalnya, kedatangan Landshut sempat ditolak, namun kapten penerbangan mengatakan bahwa mereka harus mengisi bahan bakar yang sudah mulai mengosong – dan akhirnya pesawat diijinkan mendarat.

Beberapa tokoh juga sempat bernegosiasi langsung dengan pembajak melalui jaringan radio, namun kesepakatan belum juga tercapai. Malahan, kali ini empat pembajak ini mengancam akan meledakkan pesawat jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Kapten Jürgen Schumann. Sumber: istimewa

Alih-alih meledakkan pesawat karena belum tercapainya kesepakatan, para pembajak ini kembali memerintah Kapten Jürgen Schumann untuk bertolak menuju Aden, Yaman. Di sini, nasib nahas menimpa sang kapten. Setelah pesawat memaksa turun di Aden International Airport, Zohair Youssif Akache mengijinkan sang pilot untuk mengecek apakah roda pesawat mengalami kendala atau tidak – kala itu pesawat mendarat di strip pemisah antara landas pacu.

Baca Juga: Minta Tebusan Rp20Juta dan Parasut, Inilah Kronologi Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Namun sekembalinya ke dalam pesawat – tepatnya di dalam kabin penumpang, Kapten Jürgen Schumann malah ditembak tepat dibagian kepala tanpa sempat menjelaskan kondisi ban pesawat. Kini yang bertugas untuk mengendalikan pesawat adalah kopilot Jürgen Vietor, dan lagi-lagi, pesawat kembali mengudara menuju destinasi terakhir, Mogadishu di Somalia.

Di Mogadishu, berbagai taktik pembebasan mulai dilakukan, hingga satu yang berhasil adalah ketika salah satu kru pembebasan menembakkan senjatanya tepat di area blind spot kabin. Sontak, para pembajak yang sedang berada di dalam kabin harus berlari ke ruang kokpit untuk mengecek apa yang terjadi. Lengah, komando GSG 9 (pasukan elit Jerman) mulai merangsek masuk ke dalam kabin, mengamankan penumpang, dan mulai menghabisi teroris ini satu per satu.

Momen pembebasan penumpang Lufthansa Flight 181. Sumber: istimewa

Dari keseluruhan orang yang terlibat di dalam penerbangan ini, total ada 91 orang yang selamat, terdiri dari 87 penumpang, empat awak penerbang, dan satu teroris (Suhaila Sayeh). Sungguh pembajakan yang sangat dramatis dan meninggalkan kenangan buruk bagi semua yang ada di dalam Lufthansa Flight 181.

“Open-air viewing carriages” – Gerbong Pantau ‘Tanpa Jendela’ yang Bisa Diakses Gratis Semua Penumpang KiwiRail

Layanan kereta yang satu ini sepertinya layak dicontoh oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), yakni menghadirkan Open-air Viewing Carriages atau gerbong pantau panoraman langsung (tanpa jendela langsung terbuka) dan dapat diakses secara gratis oleh semua penumpang dari beragam kelas yang berbeda.

Open-air viewing carriages yang menjadi inspirasi adalah salah satu daya tarik utama dari kereta api KiwiRail di Selandia Baru, terutama untuk rute wisata terkenal mereka seperti TranzAlpine, Northern Explorer, dan Coastal Pacific. Kereta-kereta ini dirancang khusus untuk wisatawan agar bisa menikmati pemandangan alam spektakuler Selandia Baru, termasuk pegunungan, lembah, sungai, dan garis pantai, tanpa halangan jendela.

Kursi di Gerbong Menghadap Laut, Inilah “Sea Rail” Kereta Wisata Khas Pesisir Korea Selatan

Di gerbong pantau ini penumpang bisa menikmati pemandangan langsung dari kereta, tanpa kaca jendela yang biasanya menghalangi atau memantulkan cahaya. Ini memungkinkan pengalaman lebih mendalam saat melihat alam liar Selandia Baru. Bagi para penggemar fotografi, open-air carriages memungkinkan mereka untuk mengambil foto dengan kualitas lebih baik, karena mereka bisa langsung memotret tanpa harus melalui kaca yang mungkin mempengaruhi hasil gambar.

Berbeda dengan pengalaman penumpang di gerbong panorama KAI, maka penumpang KiwiRail dapat merasakan angin, aroma segar dari alam, dan suara-suara alami, yang memberikan pengalaman lebih otentik selama perjalanan. Ini membuat perjalanan kereta lebih imersif dan tak terlupakan.

KiwiRail mengoperasikan beberapa rute ikonik yang melewati pemandangan dramatis, seperti perjalanan melalui Southern Alps di rute TranzAlpine atau pantai di Coastal Pacific. Open-air carriages memungkinkan penumpang menikmati keindahan tersebut secara penuh.

Open-air viewing carriages di kereta KiwiRail memang dapat diakses secara bebas oleh penumpang selama perjalanan. Penumpang dari berbagai kelas diizinkan untuk berjalan ke gerbong terbuka ini kapan saja mereka ingin menikmati pemandangan tanpa halangan. Gerbong ini biasanya ditempatkan di bagian tengah atau belakang rangkaian kereta, sehingga mudah diakses oleh semua penumpang.

Ppenumpang yang menikmati Open-air Viewing Carriages biasanya berdiri selama berada di gerbong ini, karena tujuan utama gerbong terbuka adalah memberikan ruang bagi penumpang untuk bebas bergerak, menikmati pemandangan, dan mengambil foto tanpa halangan. Tidak ada tempat duduk yang disediakan di dalam gerbong ini, berbeda dengan gerbong biasa yang memiliki tempat duduk tetap.

 

KiwiRail mulai menggunakan open-air viewing carriages di rute-rute wisata terkenal mereka sejak tahun 1991, saat kereta wisata diperkenalkan untuk meningkatkan pengalaman perjalanan para wisatawan. KiwiRail menyadari bahwa pemandangan alam Selandia Baru yang spektakuler merupakan daya tarik utama, dan gerbong terbuka ini memberikan penumpang kesempatan unik untuk benar-benar merasakan pemandangan tersebut tanpa terhalang kaca jendela.

Glacier Express, Antarkan Anda Nikmati Indahnya Pemandangan Swiss

Serba Antik dan Terawat, Si Kecil Stasiun Bedono Punya Segudang Cerita

Kalau di Jawa Barat ada stasiun Nagreg yang punya ketinggian sekitar +800 meter di atas permukaan laut, di Semarang ada stasiun Bedono yang memiliki ketinggian +711 m. Stasiun yang merupakan ujung dari jalur Bedono-Ambarwa-Tuntang ini memiliki jalur rel yang berbeda dengan lainnya karena berada di dataran tinggi.

Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Stasiun Bendono sendiri berada di kecamatan Jambu, Semarang dan berada di bawah naungan Daerah Operasional IV Semarang. Stasiun Bedono sendiri berstastus non aktif dan hanya menjadi tujuan akhir kereta wisata Ambarawa-Bedono dengan waktu operasi Sabtu-Minggu. Tetapi kereta wisata ini pun sekarang tidak lagi beroperasi.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, stasiun ini ada karena masa pemerintahan kolonial Belanda yang agresif menggasak berbagai hasil bumi Ibu Pertiwi. Apalagi stasiun Bedono berada di ataran tinggi yang dikelilingi kebun kopi.

Pengatur sinyal dan corong air di stasiun Bendono (Jejak kolonial)

Hal inilah yang mendasari Nederlandsch Indisch Spoorweg Matscapij (NISM) untuk membuat jalur kereta demi mengangkut hasil kopinya. Karena berada di ketinggian, Belanda menggunakan lokomotif uap bergerigi untuk menjalankan keretanya.

Tak hanya itu, jalur keretanya sendiri berbeda dari biasanya yang menggunkan dua besi panjang dan di baut bantalan kayu, tetapi di sini bagian tengahnya terdapat bes-besi yang mampu dikait oleh gerigi lokomotif. Untuk bangunan stasiun Bedono sendiri jauh dari kata mewah bahkan kebalikannya yakni sederhana.

Di stasiun Bedono hanya ada ruang tunggu penumpang dan sebuah ruangan yang merangkap sebagai ruang kepala stasiun dan penjualan tiket. Lantai stasiunnya sendiri menggunakan ubin tegel kotak-kotak khas stasiun tua. Ubin tegel ini didatangkan langsung dari pabrik tegel terkenal di Belanda dengan kualitas yang baik.

Dengan ubin tegel, lantai stasiun tidak akan basah jika tekena air sehingga pengunjung tidak perlu khawatir akan tergelincir saat berjalan. Di dalam salah satu ruang stasiun terdapat brankas kecil yang tertempel di tembok alias tidak akan bisa di bawa kecuali di bongkar.

Jalur bergigi stasiun Bendono dan turntable atau meja putar (jejak kolonial)

Mungkin, pada masa stasiun ini berjaya wilayah tersebut rawan dengan aksi perampokan karena agak terpencil dan jauh dari jangkauan petugas. Memang sudah tidak aktif, tetapi jika Anda berkunjung ke stasiun ini, bisa menemukan alat pengatur sinyal manual, turntable atau meja putar untuk lokomotif hingga corong air.

Corong air ini ada karena setiap perjalanan kembali ke ambarawa, lokomotif uap harus mengisi airnya untuk menjalankan kereta. Corong air ini sendiri tersambung dengan bak air yang besar dan terletak di samping rel kereta api serta tidak ada perubahan bentuk sama sekali. Pemandangan sekitaran stasiun Bedono juga masih hamparan sawah yang hijau.

Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Meski kecil bentuk dari arsitektur bangunan ini bisa diacungi jempol karena masih terawat dengan baik hingga kini. Bahkan bisa dikatakan stasiun Bedono jauh dari kata kuno, kotor dan tidak terawat karena bangunan yang dibangun tahun 1873 ini masih berdiri kokoh dan bersih.

Hari Ini, 45 Tahun Lalu, Airbus-PT DI Bersinergi Kembangkan Pesawat Kebanggaan Indonesia CN-235

Pada hari ini, 45 tahun lalu, bertepatan dengan 17 Oktober 1979, IPTN (sekarang PT DI) dan CASA (sekarang Airbus Defense & Space) sepakat mendirikan perusahaan baru, Aircraft Technology (Airtech) untuk pengembangan CN-235.

Baca juga: Hari Ini, 37 Tahun Lalu, CN-235 Pesawat Turboprop Kebanggaan Indonesia Terbang Perdana

Empat tahun setelahnya, prototipe pertama bernama ‘Elena’ yang dikembangkan oleh CASA pun berhasil terbang perdana pada 11 November 1983. Adapun prototipe kedua bernama ‘Tetuko’ yang diproduksi PT DI juga berhasil terbang perdana pada Desember 1983. Tiga tahun berselang, produksi serial dimulai pada 1986 untuk versi 10 dan 100.

Dikutip dari laman resmi PT DI, setelah penerbangan perdana dua prototipe pesawat dengan kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), ramp door untuk memudahkan keluar-masuk barang, dan diklaim punya karakteristik biaya perawatan rendah, ini masing-masing perusahaan membuat versinya sendiri.

PT DI mengembangkan versi yang disempurnakan, seperti versi 110 dan 220, sedangkan Airbus Defense & Space dengan versi 200 dan 300-nya. Hingga saat ini, lebih dari 300 unit CN-235 telah diproduksi dalam banyak versi dengan dua mesin General Electric CT7-9C terbaru (masing-masing memiliki 1.750 SHP).

Khusus untuk versi -200, CN-235 diproduksi dalam tiga varian; sipil, militer, dan special mission. CN-235-220 dapat mengangkut beban maksimal hingga 4.700 kg ataupun dengan jumlah penumpang sebanyak 36 orang.

Pesawat Angkut Militer CN-235-220 yang diproduksi PT DI adalah versi sipil yang telah mengalami berbagai peningkatan dalam desain, aplikasi teknologi, dan metode manufaktur untuk memenuhi standar operasional militer dengan berbagai medan menengah hingga berat.

Adapun CN-235-220 special mission merupakan pesawat yang diklaim tangguh untuk melakukan berbagai misi khusus seperti Search and Rescue (SAR), pengawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), pencegahan dan pengontrolan pencemaran laut, pengawasan dan keamanan laut, Anti-Surface Warfare (ASuW), dan Anti-Submarine Warfare (ASW).

Dalam kolaborasi untuk tujuan ekspor, PT DI memproduksi outer wings, horizontal stabilizers, vertical fins and doors untuk Airbus Defense & Space; sementara Airbus Defense & Space menghasilkan disassembled noses, disassembled cockpit, and center wings untuk PTDI.

Baca juga: Mengenal Pesawat Test Bed, Cikal Bakal Lahirnya Pesawat Baru

Secara umum, spesifikasi CN-235 memuat dua orang awak dan 45 penumpang. Pesawat dengan panjang 21,40 meter, bentang sayap 25,81 meter, tinggi 8,18 meter, berat kosong 9,800 kg, dan maksimum takeoff 15,100 ini ditenagai oleh dua mesin General Electric CT79C turboprops 1.850 tenaga kuda.

Pesawat dengan kecepatan maksimum 509 km per jam dengan jangakuan terbang sejauh 796 km ini tercatat sudah digunakan di 24 negara, termasuk Indonesia, di antaranya Korea Selatan, Amerika Serikat, Perancis, Turki, Thailand, Uni Emirat Arab, Irlandia, dan Malaysia.

 

Airbus dan Toshiba Berkolaborasi dalam Penelitian Superkonduktivitas Pesawat Bertenaga Hidrogen

Airbus UpNext, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Airbus, dan Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation (Toshiba), divisi energi Toshiba Group, akan bekerja sama dan saling berbagi pengalaman dalam teknologi superkonduktivitas untuk pesawat bertenaga hidrogen masa depan.

Baca juga: Diragukan Boeing, Bagimana Cara Airbus Bangun Tangki Hidrogen Kriogenik Pertamanya?

Dalam upaya untuk mendekarbonisasi industri penerbangan, pesawat bertenaga hidrogen adalah salah satu solusi yang menjanjikan untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050. Teknologi superkonduktor menawarkan keuntungan unik untuk pesawat ini, menggunakan hidrogen cair -253°C sebagai bahan bakar tetapi juga untuk mendinginkan sistem propulsi listrik secara efisien. Teknologi kriogenik dapat memungkinkan transmisi daya yang hampir tidak terganggu dalam sistem listrik pesawat, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi energi dan kinerjanya.

“Bermitra dengan Toshiba menghadirkan peluang unik untuk melampaui batasan superkonduktor parsial dan motor listrik konvensional saat ini. Melalui kolaborasi ini, kami bermaksud menghadirkan teknologi terobosan yang dapat membuka kemungkinan desain baru, khususnya untuk pesawat bertenaga hidrogen masa depan Airbus. Kemitraan ini merupakan langkah alami dan penting dalam memajukan teknologi motor superkonduktor untuk memenuhi kebutuhan industri kedirgantaraan,” kata Grzegorz Ombach, Wakil Presiden Senior dan Kepala Disruptive R&T Airbus.

“Keahlian Toshiba dalam teknologi superkonduktor untuk aliran arus tinggi, teknologi penggerak motor untuk kontrol arus yang presisi, dan teknologi mesin putar canggih untuk operasi yang stabil dan berkecepatan tinggi, membentuk fondasi yang kuat untuk kemitraan ini. Kami berdua menyadari potensi luar biasa dari teknologi superkonduktor dalam membentuk masa depan pesawat dan mendorong dekarbonisasi industri penerbangan. Kami yakin bahwa kolaborasi kami dengan Airbus akan memainkan peran penting dalam memajukan teknologi generasi mendatang untuk sektor kedirgantaraan,” kata Tsutomu Takeuchi, Pejabat Korporat Toshiba, yang bertanggung jawab atas bisnis Sistem Daya, dan Direktur Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation.

Para mitra tersebut bertujuan untuk mengembangkan bersama motor superkonduktor berdaya dua megawatt.

Perjanjian tersebut ditandatangani di Tokyo, pada acara Japan Aerospace 2024, oleh Dr. Grzegorz Ombach, Wakil Presiden Senior Airbus dan Kepala Disruptive R&T, dan Tsutomu Takeuchi, Pejabat Korporat Toshiba, yang bertanggung jawab atas bisnis Sistem Daya, dan Direktur Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation. Mereka bergabung dengan Ludovic Ybanez, Kepala Demonstrasi Krioprop Airbus dan Teknologi Kriogenik, Airbus UpNext dan Kensuke Suzuki, Kepala Teknologi Baru, Divisi Sistem Daya, Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation.

Selama 10 tahun terakhir, Airbus telah berupaya untuk mengurangi risiko teknologi superkonduktor. Baru-baru ini, Airbus UpNext meluncurkan Cryoprop, sebuah demonstran untuk menguji sistem propulsi listrik superkonduktor kelas dua megawatt. Toshiba telah melakukan penelitian dan pengembangan aplikasi teknologi superkonduktor selama hampir setengah abad dan telah merilis prototipe motor superkonduktivitas kelas dua megawatt miliknya sendiri untuk aplikasi mobilitas pada bulan Juni 2022.

Airbus Tech Hub Japan diumumkan pada bulan Mei 2024. Inisiatif ini dirancang untuk mengembangkan kemitraan di negara tersebut guna memajukan penelitian, teknologi, dan inovasi di bidang kedirgantaraan serta mendorong batasan untuk mempersiapkan pesawat generasi berikutnya. Kemitraan antara Toshiba dan Airbus merupakan pencapaian pertama dari ambisi ini di Jepang.

4 Tantangan Pesawat Berbahan Bakar Hidrogen, Nomor 1 Tak Terbayang

Informasi Real-time Kepadatan Trainset dan Stasiun, LRT Jabodebek Dilengkapi Crowd Detection System

KAI resmi mengoperasikan Crowd Detection System di seluruh stasiun dan trainset LRT Jabodebek, sebuah langkah maju dalam meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna. Setelah melalui tahap uji coba, sistem ini kini beroperasi penuh untuk mendukung perjalanan harian seluruh pengguna LRT Jabodebek.

Baca juga: Ada 4.233 Kejadian Barang dan Jutaan Rupiah Uang Tertinggal, LRT Jabodebek Ingatkan Penumpang

Melalui Crowd Detection System, KAI menyediakan informasi real-time mengenai kepadatan di setiap trainset dan stasiun. Pengguna dapat mengakses data ini untuk memilih trainset atau car yang kurang padat, sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman dan efisien.

Manager Public Relations LRT Jabodebek Mahendro Trang Bawono, Manager Public menyampaikan bahwa sistem ini adalah bukti komitmen KAI dalam memanfaatkan teknologi demi peningkatan layanan dan keselamatan pengguna.

“Dengan implementasi penuh dari Crowd Detection System, kami berharap pengguna bisa mendapatkan pengalaman perjalanan yang lebih baik. Teknologi ini memungkinkan pengguna untuk menghindari kerumunan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kenyamanan selama menggunakan layanan LRT Jabodebek,” ujar Mahendro.

Sejak dioperasikan, jumlah pengguna LRT Jabodebek terus meningkat. Selama periode 1 hingga 14 Oktober 2024, tercatat sebanyak 987.338 pengguna telah memanfaatkan layanan LRT Jabodebek. Dengan rata-rata pengguna pada hari kerja mencapai 82.298, sementara pada akhir pekan rata-rata pengguna adalah 41.091. Angka ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap transportasi publik yang aman dan nyaman.

Sistem ini menggunakan teknologi canggih berbasis kamera CCTV dan pemrosesan gambar untuk menghitung jumlah orang di area tertentu secara real-time. Hal ini memungkinkan KAI untuk mengelola arus pengguna dengan lebih baik, menghindari kepadatan yang berlebihan, dan memastikan aliran pengguna yang lancar di seluruh area operasional.

Mahendro menambahkan bahwa KAI terus berinovasi dalam memberikan layanan terbaik bagi pengguna. Dengan hadirnya Crowd Detection System, KAI berharap dapat terus memudahkan pengguna LRT Jabodebek untuk merencanakan perjalanan mereka secara lebih nyaman dan aman.

Gandeng INKA, KAI Pastikan Keandalan Layanan LRT Jabodebek

Tips Melancong ke Eropa – Aman Minum Langsung dari Air Keran, Tapi Ada yang Harus Dicermati

Salah satu yang menarik dari melancong ke negara-negara maju seperti di Eropa Barat dan Australia, adalah air dari keran (ledeng) yang dapat langsung dikonsumsi (diminum). Alhasil buat pelancong yang koceknya ngepas, mengisi botol minum dengan air dari keran dapat menghemat budget. Namun, ada ketentuan yang harus diperhatikan, tidak semua kondisi (suhu) air dapat langsung Anda seruput.

Baca juga: Di Stasiun Kereta Inggris, Konsumsi Keran Air Minum Gratis Sudah Jadi Tren

Faktanya memang banyak negara di Eropa, air keran pada suhu normal aman untuk diminum. Namun, air keran panas sebaiknya tidak dikonsumsi langsung. Ada beberapa alasan penting mengapa air panas dari keran tidak disarankan untuk diminum:

1. Kualitas Instalasi Pipa
Air panas sering kali mengalir melalui pipa yang berbeda dari air dingin, dan pipa tersebut bisa terbuat dari material yang lebih rentan terhadap korosi atau pelepasan logam berat. Panasnya air dapat mempercepat proses korosi, yang dapat menyebabkan pelepasan bahan kimia berbahaya seperti timbal (dari pipa lama) atau tembaga dari pipa.

2. Pertumbuhan Bakteri
Air panas di tangki pemanas atau boiler mungkin tidak dipanaskan hingga suhu yang cukup tinggi untuk membunuh semua bakteri. Jika suhu tangki air panas disetel terlalu rendah (di bawah 60°C), ini bisa menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bakteri, seperti Legionella, yang berbahaya jika tertelan.

3. Sistem Penyimpanan Air
Air panas biasanya disimpan dalam tangki pemanas sebelum dialirkan melalui keran. Air yang lama disimpan di tangki ini bisa terkontaminasi oleh bahan-bahan yang ada di dalam tangki, seperti endapan mineral, logam, atau zat kimia yang bisa larut dalam air ketika terpapar panas.

4. Sistem Pemanasan Air
Beberapa sistem pemanas air menggunakan metode pembakaran gas atau pemanas listrik yang mungkin tidak steril, atau menggunakan bahan tambahan yang dapat mengubah komposisi air. Jika pemanas air tidak dirawat dengan baik, ada kemungkinan kontaminasi atau penurunan kualitas air dari tangki pemanas tersebut.

5. Efek Terhadap Zat Kimia Berbahaya
Panas bisa menyebabkan beberapa senyawa kimia yang mungkin ada dalam air untuk bereaksi atau terlepas lebih cepat. Misalnya, beberapa plastik atau material kimia tertentu dalam sistem pemanas bisa melarut dalam air lebih cepat jika terkena suhu tinggi.

Sebaiknya gunakan air dingin dari keran untuk keperluan minum, bahkan jika Anda berniat untuk memanaskannya sendiri (misalnya untuk membuat teh atau kopi). Memanaskan air dingin sendiri dengan ketel atau alat pemanas listrik jauh lebih aman daripada mengambil air langsung dari keran panas, karena Anda menghindari kemungkinan kontaminasi dari pipa atau sistem pemanas.

Agar Aman Menggunakan Keran Air Siap Minum, Perhatikan Tips Berikut Ini!

Di Jepang Penumpang Dilarang Membuka Pintu Taksi, Ini Sebabnya!

Ada pengalaman yang unik saat pelancong dari Indonesia bertandang ke Jepang, salah satunya adalah tidak diperbolehkannya penumpang membuka pintu taksi. Sesuatu hal yang terasa ganjil, mengingat umumnya di Indonesia dan kebanyakan negara lain, membuka dan menutup pintu taksi dilakukan oleh penumpang.

Baca juga: Belajar Selama Empat Tahun, Pengemudi Taksi Jepang Fasih Berbahasa Inggris

Di Jepang, salah satu ciri unik saat menggunakan taksi adalah bahwa penumpang tidak perlu membuka atau menutup pintu sendiri. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Sistem Pintu Otomatis
Banyak taksi di Jepang dilengkapi dengan pintu otomatis yang dikendalikan oleh pengemudi. Pintu ini dirancang untuk dibuka dan ditutup secara otomatis dari tempat duduk pengemudi. Pengemudi mengoperasikan tuas khusus untuk membuka pintu saat penumpang naik atau turun.

2. Etika Pelayanan
Jepang sangat menghargai standar pelayanan yang tinggi, termasuk dalam sektor transportasi. Dengan mengendalikan pintu taksi, pengemudi dapat memastikan kenyamanan dan keselamatan penumpang, serta menunjukkan sikap hormat dan sopan kepada mereka. Ini dianggap sebagai bagian dari layanan yang baik dalam budaya Jepang.

3. Keselamatan
Sistem pintu otomatis juga digunakan untuk menghindari kecelakaan. Jika penumpang membuka pintu sendiri, ada risiko membuka pintu ke arah lalu lintas yang bisa membahayakan, terutama di jalanan yang ramai. Dengan pengemudi yang mengendalikan pintu, mereka bisa memastikan bahwa pintu hanya dibuka di tempat dan waktu yang aman.

Jadi, tidak membuka pintu sendiri di taksi Jepang adalah norma yang berkaitan dengan teknologi pintu otomatis dan budaya pelayanan yang menekankan kenyamanan dan keamanan penumpang.

Sudah Mengaku Rapi Saat Bekerja? Coba Bandingkan Dengan Sopir Taksi di Jepang

TaksiTaksi