Join Marketing Campaign, Garuda Indonesia Jalin Kerja sama dengan Vietnam Airlines

Garuda Indonesia memperkuat upayanya untuk memperluas jaringan penerbangan khususnya di wilayah Asia Tenggara, yang kali ini dilaksanakan melalui penguatan sinergi bersama Vietnam Airlines dengan mengusung misi yang sama, yaitu memperkuat ekosistem aviasi di Kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Vietnam Airlines Pilih Airbus Skywise Untuk Solusi Pemeliharaan Prediktif Armadanya

Adapun penguatan sinergi kedua maskapai tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilaksanakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra bersama President & CEO Vietnam Airlines Le Hong Ha di Vietnam pada hari, Selasa (22/10).

Melalui sinergi tersebut, kedua maskapai berkomitmen untuk mengoptimalkan berbagai peluang kerjasama termasuk optimalisasi join marketing campaign, perluasan kerjasama codeshare dan penjajakan kerjasama lainnya seperti penyewaan pesawat, ground service, kerjasama maintenance serta pengoperasian kargo.

Lebih lanjut, kerjasama ini diharapkan akan memberikan nilai tambah bagi pengguna jasa kedua maskapai mengingat nantinya para penumpang Vietnam Airlines akan dapat lebih mudah untuk mengakses berbagai destinasi unggulan Indonesia seperti Bali, Lombok, Medan, Jogja, Labuan Bajo serta destinasi eksotis lainnya. Sebaliknya, para pengguna jasa Garuda Indonesia dapat mengakses berbagai tempat wisata di Vietnam seperti Ha Long Bay, kota tua Hoi An in, dan kota Ho Chi Minh.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menyambut baik kerjasama ini mengingat kerjasama ini akan memperkuat jaringan penerbangan internasional Garuda Indonesia khususnya di wilayah ASEAN. “Garuda Indonesia memiliki visi yang sama dengan Vietnam Airlines dimana kami berkomitmen untuk menghadirkan layanan world-class service serta memperluas pilihan destinasi bagi pengguna jasa kami khususnya di Asia Tenggara.

Dengan kerjasama ini diharapkan akan dapat memberikan nilai lebih bagi para pengguna jasa kedua maskapai untuk mengakses berbagai destinasi unggulan di Indonesia dan Vietnam serta berbagai destinasi lainnya sekaligus untuk menjembatani pertukaran sektor perdagangan, budaya dan pariwisata kedua negara. Kami meyakini bahwa kerjasama ini tidak hanya akan meningkatkan konektivitas tetapi juga memperkuat posisi kedua maskapai penerbangan di pasar penerbangan global,” tambah Irfan.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Presiden dan CEO Vietnam Airlines, Le Hong Ha mengatakan “Kami menyambut baik penandatanganan Nota Kesepahaman ini dengan Garuda Indonesia. Kemitraan ini tidak hanya memperkuat posisi kedua maskapai penerbangan nasional namun juga memfasilitasi penyediaan layanan berkualitas tinggi bagi penumpang kami yang melakukan perjalanan antara Vietnam dan Indonesia. Kami percaya hal ini akan membawa manfaat yang signifikan bagi penumpang kami dan semakin meningkatkan ekonomi dan pertukaran budaya antara kedua negara.”

Sebelumnya, Garuda Indonesia dan Vietnam Airlines terus memperkuat jalinan kerjasama antara kedua maskapai dimana pada tahun 2014 lalu kedua maskapai menjalin kerjasama codeshare dimana para penumpang Garuda Indonesia dapat menikmati berbagai pilihan destinasi vietnam airlines seperti Hanoi, Ho Chi Minh. Sementara penumpang Vietnam Airlines dapat menikmati pilihan destinasi Garuda Indonesia seperti Denpasar, Surabaya dan Singapura.

Genjot Pendanaan, Vietnam Airlines Lelang Tiga Unit Airbus A321 Berusia 16 Tahun

Terobsesi Jadi ‘Singapura Kedua’, Kamboja Bangun Bandara Kesembilan Terbesar di Dunia

Meski layanan dirgantara di Kamboja termasuk yang tertinggal, namun negeri di Asia Tenggara itu punya rencana besar untuk membangun bandara internasional yang besar. Dengan anggaran mencapai US$1,2 miliar, Kamboja akan membangun bandara besar yang bakal menjadikan Kamboja sebagai ‘Singapura Kedua’.

Baca juga: Kamboja Punya Kereta Bandara yang Unik, Mirip Railbus Batara Kresna di Solo

Seperti dikutip Airport Technology, tahap pertama bandara baru Kamboja sedang dibangun sekitar 12,5 mil dari ibu kotanya, Phnom Penh, dan akan mampu menampung antara 13 hingga 15 juta penumpang dan sekitar 175.000 ton kargo setiap tahun.

Rencana pembangunan tiga tahap ini bertujuan agar Bandara Internasional Techo Takhmao dapat menampung 50 juta penumpang per tahun hingga selesai dibangun, yang dijadwalkan pada tahun 2050.

Bandara baru tersebut kabarnya akan menggantikan Bandara Internasional Phnom Penh, bandara terbesar saat ini di Kamboja, untuk penerbangan komersial, sementara bandara lama akan digunakan untuk penerbangan domestik dan sebagai pangkalan udara militer.

Menurut Airport Technology, bandara baru Kamboja akan menjadi bandara terbesar kesembilan di dunia. Singapura, yang terletak di sebelah selatan Kamboja, melayani sekitar setengah juta penerbangan setiap tahun dari 100 maskapai penerbangan berbeda ke berbagai tujuan di Asia, Australia, Afrika, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara. Bandara ini juga dapat menampung sekitar 42 juta penumpang per tahun.

Di Timur Tengah, Dubai juga tengah membangun bandara baru, yang bertujuan menjadi bandara terbesar di dunia dan berharap dapat menampung kapasitas 260 juta penumpang per tahun.

Bandara Kamboja akan memiliki desain arsitektur yang terinspirasi dari hutan di negara itu, dengan batang pohon yang menjulang hingga ke atap gedung.

Kanopi atap juga akan menggunakan sistem ventilasi yang diadopsi di gubuk tradisional Kamboja, di mana udara panas diventilasi di bawah atap, penting karena negara tersebut memiliki suhu tinggi sekitar 104 derajat Fahrenheit di bulan-bulan terpanasnya.

Menurut The B1M, Kamboja saat ini merupakan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara, dan tercepat ketiga di Asia secara keseluruhan.

Negara ini telah mengalami kebangkitan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, yang sebagian ditunjukkan dalam industri penerbangannya, karena tiga bandara negara tersebut telah melihat 3 juta penumpang secara kolektif melakukan perjalanan melalui mereka pada paruh pertama tahun ini, yang merupakan peningkatan 22 persen dari waktu yang sama tahun lalu, The B1M melaporkan.

Negara-negara di Asia Tenggara Terbitkan Visa Bergaya Schengen, Mungkinkah?

Di Jepang ‘Sebaiknya’ Tidak Tawarkan Tempat Duduk Ke Manula Saat di Tempat Umum

Menawarkan tempat duduk (kursi) kepada orang tua, khususnya manula sudah menjadi norma yang ada di setiap negara. Namun, ada yang khas di Jepang, pasalnya norma tadi harus disesuaikan untuk standar Negeri Sakura.

Baca juga: Jepang Punya Taksi Khusus Ibu Hamil, Indonesia Punya Taksi Khusus Kaum Difabel!

Di Jepang, terdapat norma sosial yang berbeda terkait interaksi di tempat umum dan moda transportasi, termasuk dalam hal menawarkan tempat duduk kepada orang tua atau orang lain yang dianggap membutuhkan. Meskipun di banyak budaya menawarkan tempat duduk kepada orang tua dianggap sebagai bentuk penghormatan, di Jepang hal ini terkadang tidak dilakukan secara langsung. Berikut beberapa alasan mengapa menawarkan tempat duduk kepada orang tua di Jepang mungkin tidak selalu dianjurkan:

1. Rasa Malu atau Harga Diri
Di Jepang, banyak orang lanjut usia yang mandiri dan bangga dengan kemampuan mereka untuk menjaga diri sendiri, termasuk berdiri di transportasi umum. Menawarkan tempat duduk bisa dianggap sebagai tanda bahwa mereka dianggap lemah atau tidak mampu, yang bisa melukai harga diri mereka atau membuat mereka merasa malu.

2. Norma Kesopanan Tertutup (Tatemae)
Di Jepang, kesopanan sering ditunjukkan melalui tindakan yang tidak langsung atau konfrontatif. Daripada secara eksplisit menawarkan tempat duduk, mungkin dianggap lebih sopan jika seseorang berdiri diam-diam dan meninggalkan tempat duduk tanpa mengatakannya secara langsung, memberi kesempatan bagi orang lain untuk duduk tanpa perlu menerima atau menolak tawaran secara verbal.

3. Keengganan Mengganggu
Orang Jepang cenderung menghindari tindakan yang dapat dianggap mengganggu atau menarik perhatian. Menawarkan tempat duduk secara langsung bisa dianggap sebagai tindakan yang berlebihan atau terlalu memaksa, membuat orang lain merasa tidak nyaman karena perhatian diarahkan pada mereka.

4. Peran Ruang Khusus
Di banyak transportasi umum di Jepang, terdapat kursi prioritas yang diperuntukkan bagi lansia, ibu hamil, dan orang-orang yang membutuhkan. Oleh karena itu, masyarakat cenderung mengandalkan sistem kursi prioritas ini untuk memastikan bahwa mereka yang membutuhkan tempat duduk akan mendapatkannya tanpa perlu tindakan individu seperti menawarkan tempat duduk.

5. Persepsi Berbeda Tentang Kebutuhan
Tidak semua orang yang terlihat tua atau lanjut usia membutuhkan bantuan atau tempat duduk. Menawarkan tempat duduk secara sembarangan bisa dianggap tidak peka jika orang tersebut sebenarnya masih kuat dan tidak membutuhkan bantuan.

Meskipun norma sosial ini ada, orang-orang di Jepang tetap menghormati lansia dan orang-orang yang membutuhkan. Banyak dari mereka yang secara halus dan penuh perhatian memberikan tempat duduk, meskipun dengan cara yang lebih tidak langsung.

Kereta di Jepang Gunakan Kecerdasan Buatan Guna Bantu Penumpang Disabilitas

Terpecahkan! Misteri Platform No.3 di Stasiun Tokyo

Sebuah platform atau peron di salah satu Stasiun Jepang sepertinya berbeda dengan yang lainnya. Pasalnya banyak orang yang berkumpul disana untuk melakukan suatu hal. Platform No.3 di Stasiun JR Ryogoku di Sumida Ward, Tokyo belum lama ini diterangi dengan banyak lentera chochin merah untuk menerangi. Hal ini kemudian membuat platform tersebut dicurigai karena penumpang yang ada disitu terlihat santai tanpa melakukan gerakan yang terburu-buru.

Baca juga: Di Jepang, Bisa Makan Mie Gratis Asalkan Datang ke Stasiun Lebih Awal!

KabarPenumpang.com melansir laman the-japan-news.com, mereka bukanlah penumpang yang akan kembali setelah pulang kerja untuk naik kereta. Orang-orang ini nyatanya hadir di peron untuk mengikuti acara musim dingin yang diselengggarakan oleh panitia penyelenggara kontes sake nasional untuk mempromosikan atsukan sake hangat.

Pabrik pembuat sake yang memenangkan kontes tersebut kemudian menyajikan sake di platform untuk para pengunjung itu. Mereka bahkan yang menggemari atsukan bisa merasakan minuman yang dihangatkan itu hingga suhu optimal.

Tak hanya itu pengunjung juga bisa mencicipi sepuluh macam sake, secangkir sake guinomi dan oden yang merupakan hidangan musim dingin tradisional yang terdiri dari berbagai bahan yang direbus dalam kaldu rasa kecap dengan membayar ¥2500 atau Rp312 ribu. Sedangkan yang membayar ¥12 ribu atau Rp1,5 juta bisa menikmatinya secara kelompok yakni empat orang dengan meja kotatsu yang dilengkapi pemanas.

Ternyata tiket untuk kelompok terbukti banyak diminati pengunjung dan habis terjual 20 hari sebelum acara. Pengunjung acara ini memiliki waktu sekitar 50 menit untuk menikmati makanan, minuman dan suasana tersebut sebelum diantar keluar untuk bergantian dengan yang lainnya.

“Saya memesan tiket begitu dijual pada Desember 2019. Minum sambil duduk di meja kotatsu pada platform dengan jejak-jejak Era Showa (1926-1989) adalah istimewa,” kata Naoko Akatsuka seorang pegawai negeri sipil.

Acara lainnya yang ada di platform No.3 stasiun ini termasuk adanya restoran pop-up gyoza pangsit.

“Kami ingin terus memikirkan cara-cara efektif untuk menggunakan (platform),” kata seorang pejabat East Japan Railway Company.

Diketahui, Stasiun Ryogoku merupakan satu dari empat stasiun kereta utama di Tokyo bersama Stasiun Tokyo dan Stasiun Ueno. Stasiun ini memiliki enam platform untuk kereta penumpang dan beberapa untuk pengangkutan.

“Ada sekitar 320 karyawan pada sekitar tahun 1950, tetapi sekarang hanya ada sekitar 20 karena stasiun tidak lagi menjadi terminal dan tidak lagi menangani pengiriman,” kata kepala stasiun Kazuhiro Nishiyama.

Baca juga: Naik Kereta Shinkansen, Jangan Lupa Beli Ekiben di Kios Stasiun untuk Bekal Makanan

Platform No.3 stasiun tersebut memang sebagian besar tidak digunakan dan hanya kereta yang tidak mengangkut penumpang atau kereta khusus saja yang berhenti di situ.

“Kami berharap platform bersejarah ini, yang dikatakan telah selesai pada sekitar tahun 1929, akan menarik lebih banyak orang dan membantu meningkatkan komunitas lokal,” kata Nishiyama.

Periode Januari-September 2024, KAI Amankan Barang Tertinggal Pelanggan Senilai Lebih dari Rp10 Miliar

Sebagai bagian dari pelayanan kepada para pelanggan kereta api, KAI memiliki sistem layanan Lost and Found dimana para pelanggan yang merasa kehilangan atau tertinggal barangnya di dalam kereta api atau di stasiun, dapat melaporkan kepada petugas ataupun dapat juga melalui Contact Center KAI 121 untuk dapat dilakukan upaya selanjutnya.

Baca juga: Catat, Begini Cara Temukan Barang Tertinggal-Hilang di Stasiun-Kereta LRT Jabodebek

Sepanjang 2024, dari Januari s.d September terdapat 6.455 barang temuan dengan estimasi nilai barang sebesar Rp10.436.502.765 berhasil KAI amankan dan telah dimasukan pada database sistem Lost and Found. Jumlah tersebut meningkat drastis dibanding satu tahun penuh di 2023, dimana KAI menemukan 5.434 barang dan mengamankan barang tersebut dengan estimasi nilai barang sebesar Rp6.655.984.900.

“Jenis item barang-barang berharga yang diamankan seperti barang elektronik, perhiasan, dokumen berharga serta uang tunai. Sebagian besar barang tersebut sudah kembali ke pemilik, sedangkan sisanya masih KAI simpan karena belum diambil oleh pemilik,” ungkap Vice President Public Relations KAI Anne Purba.

Anne mengatakan, petugas announcer secara rutin mengingatkan kepada pelanggan agar menjaga barang bawaannya agar tidak tertinggal di stasiun atau di atas kereta api.

“Barang bawaan pelanggan merupakan tanggung jawab masing-masing, namun demikian untuk memberikan layanan maksimal, petugas KAI akan selalu berupaya membantu mengamankan barang tertinggal yang masih ada di atas kereta api ataupun stasiun,” ucap Anne.

Pengalaman pelanggan terkait layanan Lost and Found KAI dapat ditemui pada kolom komentar pada unggahan akun Instagram @keretaapikita pada 22 April 2024. Top comment dengan akun @fauzia_shalwa menceritakan pengalaman pelanggan lain yang dompetnya tertinggal di Stasiun Yogyakarta namun diantar hingga ke Stasiun Solo oleh petugas.

“Bener pernah ada yang ketinggalan dompet di Stasiun Yogyakarta. Dibawa sampai Stasiun Solo diantar sama petugasnya. Gercep banget,” ujar akun @fauzia_shalzwa.

Akun @g_haiqal19 juga menceritakan pengalaman dimana Ia pernah kehilangan kunci motor di Stasiun Cirebon dan tas di atas KA Kaligung.

“Fasilitas lost and found ini benar-benar membantu banget min. Saya pernah kehilangan kunci motor di area Stasiun Cirebon, Allhamdulilah ditemukan oleh petugas dan ada di lost and found. Kedua, pernah ketinggalan tas di dalam kereta api Kaligung, alhamdulilah kembali berkat fasilitas ini dengan berkoordinasi dengan petugas di Stasiun Semarang Poncol. Mantap min, sukses selalu,” ungkap akun @ g_haiqal19.

Kehilangan Barang Saat di Jepang? Jangan Panik, Cari ‘Koban’ Terdekat dan Bertanyalah Pada Polisi

Saudia Pesan 50 Unit Lilium eVTOL Untuk Layani Resor Mewah dan Jamaah Haji di Mekkah

Maskapai penerbangan nasional Arab Saudi, Saudia, membeli jet listrik dari Lilium yang berkantor pusat di Munich untuk melayani resor mewah baru dan kota suci Mekkah. Kesepakatan tersebut mencakup 50 unit jet eVTOL, dengan pengiriman diharapkan pada tahun 2026.

Baca juga: Jeju Air dan Eve Air Mobility Luncurkan Buku Putih Operasional eVTOL di Pulau Jeju

Jet-jet ini akan menyediakan koneksi ke rute-rute Laut Merah yang terpencil dan mengangkut jamaah haji dari Jeddah ke Mekkah. Hal ini sejalan dengan strategi penerbangan Saudi Vision 2030.

Maskapai penerbangan nasional Arab Saudi beralih ke perusahaan Jerman yang sedang kekurangan uang untuk jet listrik guna melayani rute-rute ke resor-resor mewah baru dan kota suci Mekkah, kata seorang pejabat.

Pesawat dari Lilium yang berkantor pusat di Munich akan menyediakan hubungan langsung ke rute-rute yang sulit dijangkau di sepanjang pantai Laut Merah dan mengangkut jamaah haji Muslim langsung dari Jeddah ke Mekkah, yang tidak memiliki bandara, kata manajer urusan komunikasi Saudia, Razan Shaker.

“Strategi kami adalah membantu menjembatani lokasi dan kota yang tidak memiliki bandara atau yang mungkin sulit dijangkau,” katanya kepada AFP di sela-sela forum logistik di Riyadh.

Rencananya termasuk menerbangkan jamaah haji ke hotel Fairmont Makkah Clock Royal Tower yang ikonis, dekat Masjidil Haram Mekkah, tempat “kami sedang berupaya membuat helipad”, katanya.

Pada bulan Juli, Saudia mengumumkan akan membeli 50 jet Lilium Electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) dengan opsi untuk membeli 50 lagi. Maskapai ini diharapkan mulai menerima pengiriman jet Lilium, yang dapat menampung empat hingga enam penumpang dan terbang hingga 175 kilometer (109 mil), pada tahun 2026.

Baik Saudia maupun Lilium belum mengungkapkan nilai kesepakatan tersebut, tetapi Daniel Wiegand, kepala teknisi inovasi Lilium, mengatakan kepada AFP bahwa harga pesawat tersebut biasanya antara US$ 7 juta dan US$ 9 juta.

Airbus Uji Sistem Kendali Penerbangan pada Prototipe eVTOL CityAirbus NextGen

Bandara di Selandia Baru Batasi Waktu Berpelukan di Zona Penurunan Penumpang

Biasanya zona penurunan penumpang menjadi area ‘perpisahan’ antara penumpang dan kerabat atau rekan yang mengantarkan kepergian. Dan sudah lazim bila pada proses tersebut terjadi perasaan yang sentimentil, seperti diwujudkan dengan aksi berpelukan. Tidak ada yang salah sampai disitu, namun ternyata dianggap bisa merepotkan bagi otoritas bandara di Selandia Baru.

Baca juga: Antar Istri ke Gate Keberangkatan Bandara Changi, Pria Ini Harus Meringkuk di Hotel Prodeo

Bandara Dunedin di Selandia Baru telah memicu perdebatan di seluruh dunia dengan rambu barunya yang memberlakukan batas waktu tiga menit untuk berpelukan di zona penurunan penumpang, dengan tambahan “untuk perpisahan yang lebih hangat, silakan gunakan tempat parkir mobil.”

Beberapa komentator pada unggahan Facebook yang menjadi viral marah dengan batasan waktu untuk berpelukan, sementara yang lain heran dengan bandara yang masih memiliki area penurunan penumpang gratis, mengingat kenaikan biaya dan denda secara umum.

CEO Bandara Dunedin Daniel De Bono mempertimbangkan topik tersebut dalam sebuah wawancara dengan radio RNZ Selandia Baru. Menggambarkan bandara sebagai “sarang emosi,” ia menunjuk pada sebuah penelitian yang menunjukkan pelukan selama 20 detik cukup untuk mendapatkan semburan “hormon cinta” oksitosin dan berpendapat bahwa mengantar penumpang dengan cepat memungkinkan lebih banyak orang untuk mendapatkan lebih banyak pelukan.

Tempat parkir Bandara Dunedin, tempat De Bono mengakui “tim kami telah melihat hal-hal menarik terjadi … selama bertahun-tahun,” memungkinkan kunjungan gratis selama 15 menit.

Sejarah Terminal Bandara dengan Konsep Pier-Finger yang Diadopsi Sampai Sekarang

Vietjet Operasikan Penerbangan Perdana dengan Bahan Bakar Berkelanjutan dari Vietnam

Vietjet telah menunjukkan komitmennya dalam mengurangi jejak karbon dan mendukung upaya global untuk mewujudkan penerbangan berkelanjutan dengan mengoperasikan sejumlah penerbangan perdana menggunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Vietnam.

Baca juga: Airbus dan Pertamina Berkolaborasi Jajaki Pengembangan SAF di Indonesia 

Pemanfaatan SAF oleh Vietjet juga sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dan agenda net zero emissions pada tahun 2060 lewat pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) .

Pagi ini, dua penerbangan Vietjet menggunakan bahan bakar SAF berhasil lepas landas dari Bandara Internasional Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, menuju Melbourne, Australia, dan Bandara Incheon di Seoul, Korea Selatan. Bahan bakar berkelanjutan untuk penerbangan ini disediakan oleh Petrolimex Aviation.

Diproduksi dari bahan baku seperti minyak goreng bekas, produk sampingan pertanian, biomassa kayu, dan limbah perkotaan, bahan bakar penerbangan berkelanjutan dapat mengurangi tingkat emisi karbon hingga 80% jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil tradisional. Bahan bakar ini telah memenuhi standar penerbangan internasional yang ketat serta aman untuk digunakan dalam penerbangan komersial. Penerbangan perdana menggunakan SAF ini merupakan momen penting tidak hanya bagi kedua perusahaan, tetapi juga bagi industri penerbangan di Vietnam.

Dinh Viet Thang, Direktur Jenderal Otoritas Penerbangan Sipil Vietnam, menyatakan, “Vietjet Air dan Petrolimex Aviation telah sukses melaksanakan penerbangan internasional menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan pertama di Vietnam. Hal ini secara jelas menunjukkan komitmen kedua perusahaan tersebut terhadap penggunaan bahan bakar ramah lingkungan. Keberhasilan ini merupakan kebanggaan bersama bagi seluruh industri kami, seiring dengan komitmen kami terhadap perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, serta dalam menegaskan peran Vietnam sebagai anggota komunitas penerbangan global yang bertanggung jawab.”

Vietjet juga berkolaborasi dengan berbagai mitra internasional terkemuka untuk meneliti, mengembangkan, memasok, dan mengimplementasikan SAF, sebagaimana dengan komitmen yang disampaikan oleh pemerintah Vietnam dalam COP26 untuk mencapai target nol emisi pada tahun 2050.

SAF sendiri dianggap sebagai bahan bakar penerbangan masa depan. Seiring dengan penerbangan perdana ini, biaya produksi SAF diharapkan akan semakin berkurang, sehingga dapat terus digunakan dalam skala komersial yang lebih luas.

Saat ini, Vietjet menawarkan empat rute penerbangan yang menghubungkan Jakarta dan Bali dengan Hanoi dan Ho Chi Minh City untuk semakin mempermudah perjalanan antara Vietnam dan Indonesia. Mulai 27 Oktober 2024 mendatang, jumlah penerbangan dari Ho Chi Minh City menuju Bali akan ditingkatkan menjadi empat kali sehari.

Studi Penerbangan Pertama di Dunia Ungkap Penggunaan SAF Mampu Kurangi Emisi Non CO2 Secara Signifikan

Terapkan Tarif Rp 1 Saat Pelantikan Presiden 20 Oktober, Pengguna LRT Jabodebek Naik 73 Persen

PT KAI mencatat lonjakan pengguna LRT Jabodebek yang signifikan pada 20 Oktober 2024, bertepatan dengan penerapan tarif Rp 1 dalam rangka memeriahkan Pesta Rakyat Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

Baca juga: Informasi Real-time Kepadatan Trainset dan Stasiun, LRT Jabodebek Dilengkapi Crowd Detection System

Pada hari tersebut, sebanyak 61.166 masyarakat menggunakan layanan LRT Jabodebek, menunjukkan peningkatan sebesar 73 persen atau 25.887 pengguna dibandingkan rata-rata akhir pekan bulan September yang hanya mencapai 35.279 pengguna. Lonjakan ini menjadi bukti antusiasme masyarakat terhadap mobilitas perkotaan dengan nyaman dan efisien.

Adapun tiga stasiun dengan volume tap in tertinggi yakni:

Stasiun Dukuh Atas dengan 16.382 pengguna
Stasiun Harjamukti dengan 7.502 pengguna
Stasiun Cikoko dengan 5.142 pengguna

Di sisi lain, tiga stasiun yang mencatat volume tap out tertinggi yakni:

Stasiun Dukuh Atas dengan 17.477 pengguna
Stasiun Harjamukti dengan 7.373 pengguna
Stasiun Cikoko dengan 5.285 pengguna

Manager Public Relations LRT Jabodebek Mahendro Trang Bawono mengungkapkan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang begitu tinggi dalam memanfaatkan layanan LRT Jabodebek.

“KAI merasa senang dengan antusiasme tersebut, sehingga memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk mencoba LRT Jabodebek. Promo ini memberikan pengalaman baru bagi banyak pengguna yang mungkin belum pernah mencoba LRT Jabodebek sebelumnya, dan kami bangga bisa memberikan kesempatan itu pada momen penting bagi negara,” jelasnya.

Selain lonjakan jumlah pengguna, KAI juga meningkatkan frekuensi perjalanan LRT Jabodebek pada hari itu. Sebanyak 364 perjalanan LRT Jabodebek dioperasikan untuk mengantisipasi lonjakan pengguna, naik dari biasanya 260 perjalanan pada akhir pekan. Headway atau interval antar kereta juga disesuaikan menjadi 5 – 11 menit guna mengakomodir kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Ada 4.233 Kejadian Barang dan Jutaan Rupiah Uang Tertinggal, LRT Jabodebek Ingatkan Penumpang

Dalam penerapan tarif Rp 1, seluruh operasional LRT Jabodebek berjalan dengan lancar dan tertib. Pengguna mematuhi aturan yang berlaku di stasiun dan di dalam kereta, sehingga suasana tetap terkendali. Antrean di stasiun-stasiun utama dikelola dengan baik, dan para petugas di stasiun maupun kereta tetap sigap dalam membantu pengguna serta memastikan perjalanan aman dan nyaman.

LRT Jabodebek akan terus beroperasi dengan mengedepankan keselamatan dan kenyamanan pengguna, serta memastikan keselamatan tetap terjaga di seluruh perjalanan. KAI berkomitmen untuk terus memberikan layanan LRT Jabodebek terbaik demi mendukung mobilitas masyarakat yang lebih efisien, serta menciptakan pengalaman perjalanan yang semakin nyaman dan aman.

Hari Ini, 58 Tahun Lalu, Yakovlev Yak-40 Pesawat Buatan Uni Soviet Pertama dan Satu-satunya Miliki Sertifikasi Barat

Pada hari ini, 58 tahun lalu, bertepatan dengan 21 Oktober 1966, pesawat buatan Uni Soviet, Yakovlev Yak-40 sukses terbang perdana. Pamor pesawat dengan cepat meningkat bukan hanya di Uni Soviet atau Eropa Timur tetapi juga di Barat setelah menjadi pesawat Uni Soviet pertama dan satu-satunya yang mendapat sertifikasi dari Barat.

Baca juga: Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Dilansir key.aero, ide awal pengembangan pesawat Yakovlev Yak-40 muncul di awal tahun 1960-an. Alexander Yakovlev, kepala OKB-115 (Opytnoye Konstruktorskoye Byuro; biro desain eksperimental) di Moskow, ketika itu mengajukan tawaran untuk mengembangkan jet Yak-40 berkapasitas 24 penumpang sebagai pengganti Lisunov Li-2 -salinan Douglas DC-3 berlisensi Soviet- dan Ilyushin Il-14.

Peruntukkannya tetap sama yakni di rute-rute regional tetapi dengan desain yang lebih ringan serta kecepatan dua kali lipat.

Di tahun tersebut, ada nyaris 3.000 lapangan terbang yang hanya bisa didarati oleh pesawat kecil dan ringan. Sekitar 1.000 dari jumlah tersebut memiliki landasan pacu (runway) rumput sekitar 2.297 kaki (700m).

Sisanya memiliki runway dari strip beton dengan panjang 2.297 kaki (700 m) hingga 3.937 kaki (1.200 m), dan 3.937 kaki (1.200 m). Selain runway, infrastruktur bandaranya juga minim. Itu kenapa desain Yak-40 sangat sederhana, pendek, low-wing, dan sebagainya.

Pada 30 April 1965, pesawat tiga mesin (trijet) ini akhirnya diberi lampu hijau untuk dikembangkan, mengalahkan dua kandidat lainnya dari Ilyushin dan Antonov. Setahun kemudian atau pada 31 Agustus 1966, Yakovlev rampung mengerjakan prototipe pertama dengan nomor registrasi CCCP-1996 (kemudian diubah menjadi CCCP-19661) dan diangkut dari Moskow ke Zhukovsky untuk uji terbang.

Setelah seluruh persiapan tuntas, pada 21 Oktober 1966, Yakovlev Yak-40 akhirnya sukses terbang perdana, dengan pilot Arseny Kolosov dan kopilot Yuri Petrov. Penerbangan perdana itu relatif aman dan lancar. Tidak ada insiden apapun.

Usai diuji coba pada penerbangan perdana, pesawat dimonitor selama satu tahun oleh otoritas sebelum diproduksi secara massal. Setelah masa evaluasi selesai pada 21 Agustus 1968, spesifikasi Yak-40 pun ditetapkan.

Yakovlev Yak-40 memiliki jangkauan 600km dengan kapasitas 24 penumpang dan kecepatan jelajah 550 km per jam serta berat lepas landas 13.700 kg. Terkait penumpang, pada perjalanannya, ini berkembang menjadi berkapasitas 32 penumpang.

Komponen pesawat Yakovlev Yak-40 nyaris seluruhnya adalah buatan Uni Soviet. Sayap diproduksi di pabrik Smolensk, undercarriage oleh fasilitas Gorky (sekarang Nizhny Novgorod) dan mesin Ivchenko AI-25 dipasok dari Zaporizhzhia. Demikian juga dengan APU yang menggunakan Ivchenko AI-9.

Pada 30 September 1968, dua dari empat prototipe yang diproduksi membawa Yakovlev Yak-40 menjalani penerbangan komersial pertama bersama Aeroflot, mengangkut penumpang antara Moskow / Bykovo dan Kostroma dan secara resmi menggantikan Li-2 atau DC-3 versi Uni Soviet.

Selain fokus pada pasar dalam negeri, Yakovlev Yak-40 juga berupaya ekspansi ke Barat meski harus melewati tahapan panjang, salah satunya penyesuaian spesifikasi seperto avionik buatan Collins Aerospace, dan lainnya.

Di awal tahun 70an, Yakovlev Yak-40 resmi beroperasi di Eropa dan menjadi pesawat Uni Soviet pertama dan satu-satunya yang memiliki sertifikasi Barat. Pesawat terus diproduksi sampai tahun 1981.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Sukhoi Superjet 100 Terbang Perdana: Jadi Pesawat Komersial Pertama Rusia Pasca Uni Soviet

Yakovlev tercatat menjadi salah satu pesawat terlaris buatan Uni Soviet dengan total produksi mencapai 1.013 unit, jauh lebih banyak dari versi pengembangannya yaitu Yak-42 yang hanya diproduksi sebanyak 185 unit.

Sampai saat ini, Yakovlev Yak-40 dan perusahaannya (Yakovlev) masih eksis. Hanya saja, sebagaimana Antonov yang kuasanya jatuh ke tangan Ukraina (yang notabene pecahan Uni Soviet), Yakovlev juga demikian dimana kuasanya jatuh ke tangan Slovakia, bukan Rusia.