Stasiun Soka: Dulu Tempat Persilangan, Sekarang Jadi Tempat Kulineran

Destinasi wisata ke Kota Kebumen menjadi daya tarik masyarakat untuk berkunjung. Apalagi masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa menggunakan sarana transportasi kereta api. Kota Kebumen yang dijuluki Kota Beriman ini, menawarkan tempat-tempat menarik khususnya kuliner.

Beragam khas kuliner yang disajikan membuat masyarakat yang berkunjung makin penasaran dan menambah pengalaman dalam berwisata. Beragam lokasi kuliner tentu sudah biasa menjajakan dipinggir jalan raya. Tapi bagaimana mencoba kuliner yang dulunya merupakan stasiun kereta api (KA) yang dulunya sempat aktif?

Ya, masih si wilayah Kota Kebumen, ada sebuah stasiun yang dijadikan tempat kuliner unik yang dulunya tempat beroperasi kereta api untuk kedatangan dan keberangkatan. Namanya Stasiun Soka. Nah, stasiun ini merupakan stasiun kecil yang sudah tidak aktif digunakan untuk operasional KA.

Tak cuma bangunannya yang kecil, ternyata stasiun ini juga terkenal dengan lokasinya yang memiliki ciri khas daerah tersebut. Masyarakat sekitar sangat kenal dengan Stasiun Soka ini yang lokasinya dekat dengan kawasan industri genting yang dinamakan Genting Soka.

Saat ini Stasiun Soka yang sudah tidak melayani operasional KA disulap menjadi tempat kuliner yang bernama Warung Sepur. Ya, lokasi yang digunakan adalah Stasiun Soka itu sendiri. Tak Cuma menikmati hidangan, pengunjung yang datang juga bisa menikmati pemandangan lajunya kereta api yang melintas dari barat maupun timur stasiun.

Stasiun Soka yang diubah menjadi tempat kuliner.

Dengan lahan yang disulap menjadi area tempat makan, Warung Sepur memiliki tempat yang lebih nyaman dan ramaah bagi pengunjung yang menikmatinya. Tak hanya itu, rimbunan pohon jati menambah suasana menjadi lebih terlihat hijau.

Bagi penikmat hobi kereta api, sepertinya tempat ini sangat cocok untuk mengabadikan KA yang lewat sekaligus icip-icip makanan khas Warung Sepur dengan harga yang cukup terjangkau.

Diketahui, Stasiun Soka bisa dikatakan masuk kategori kecil. Namun, fungsi dan peranannya sangat besar di zaman Kolonial Belanda hingga tahun 2019. Nuansa bangunan era Kolonial masih begitu terasa. Kokoh, dinding tebal, pintu dan jendela campuran model krepyak dan lokal.

Bangunan Stasiun Soka juga memiliki bentuk dan modelnya tidak jauh beda dengan stasiun kecil lain, salah satunya di Wonosari. Bentuk bangunan utamanya memanjang persegi empat, lengkap dengan pintu-jendela yang masih cukup kuat. Atapnya terbuat dari kayu sebagai penopangnya.

Selain itu, saat Stasiun Soka masih beroperasi, banyak kereta api yang singgah untuk pergantian jalur. Karena waktu itu jalur kereta api di sepanjang Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto masih menggunaka satu jalur (single track). Tak heran, KA yang berada di Stasiun Soka harus berhenti untuk pergantian jalur. Diketahui Stasiun Soka saat itu hanya memiliki dua jalur aktif yang tersedia.

“Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Anjlok Terus Berulang, Pemerintah Mewajibkan KAI untuk Lakukan Audit Para Pekerjanya

Sabtu (25/10) kemarin, publik dikejutkan dengan adanya peristiwa yang tidak diduga pada perjalanan kereta api. Peristiwa anjloknya kereta api (KA) Purwojaya Fakultatif rute Gambir ~ Cilacap di Stasiun Kedunggedeh ramai di media sosial. Berbagai gambaran video dan foto yang berkaitan dengan tragedi anjloknya KA tersebut telah tersebar di masyarakat.

Rangkaian KA Purwojaya yang anjlok di Stasiun Kedunggedeh. (Foto: Dok. KAI)

Mengejutkan sekaligus tak disangka akibat peristiwa tersebut perjalanan KA terganggu hingga berjam-jam lamanya. Bahkan hingga menggunakan rangkaian darurat karena kereta api yang semestinya datang tepat waktu, ternyata terlambat hingga di stasiun tujuan. Pun berbagai stasiun yang searah dengan lokasi anjlok dipenuhi dengan kereta api jarak jauh yang menunggu giliran untuk berjalan.

Akibat peristiwa tersebut, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta menyampaikan permintaan maaf atas anjloknya kereta Purwojaya relasi Gambir – Kroya saat melintas di Emplasemen Stasiun Kedunggedeh km 56+1/2, pada Sabtu (25/10) pukul 14.14 WIB.

Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko menjelaskan bahwa informasi pertama anjloknya KA tersebut karena adanya laporan dari masinis KA 58F yang melaporkan adanya anjlokan dua kereta bagian belakang sesaat setelah melintas di jalur emplasemen Kedunggedeh, adapun stamformasi rangkaian KA purwojaya 1 Lokomotif 8 K1 (kelas ekskutif) 1KM (Kereta Makan) dan 1 Kereta Pembangkit Dengan volume sebanyak 232 penumpang.

Selain kejadian yang menimpa KA Purwojaya, sebelumnya di bulan yang tepatnya pada Rabu (22/10) Kereta Rel Listrik (KRL) juga mengalami peristiwa anjlok di rel wesel Stasiun Rangkasbitung. Peristiwa itu terjadi ketika KRL dengan tujuan Tanah Abang bertolak dari Stasiun Rangkasbitung. Namun, beberapa saat kemudian kereta mengalami anjlok.

Imbas dari insiden itu, perjalanan Commuter Line dari dan menuju Stasiun Rangkasbitung sementara hanya bisa dilayani melalui satu jalur. Dalam laman Instagram @commuterline juga menjelaskan bahwa KAI commuter akan melakukan rekayasa perjalanan untuk mengurangi keterlambatan.

Dari dua kejadian tersebut ternyata disorot Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda. Ia mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan audit keselamatan independen untuk memastikan objektifitas rekomendasi perbaikan layanan kereta api di tanah air.

Seperti pada Agustus lalu setidaknya ada tiga kasus yakni anjloknya KA Argo Bromo di Subang, KRL di Stasiun Jakarta Kota, lalu ada Kereta Kuala Stabas di Lampung. Bulan ini kembali terjadi yakni Kereta Purwojaya di Kedunggedeh Bekasi.

Dia menegaskan tingginya intensitas kereta anjlok merupakan bentuk krisis keselamatan transportasi di tanah air. Menurutnya ada tiga masalah utama yang seringkali menjadi pemicu kecelakaan kereta api di Indonesia yakni usia prasarana, akumulasi kerusakan sarana, dan adanya cacat prosedur operasional.

Langkah tersebut di antaranya melakukan peremajaan infrastruktur dengan teknologi terbaru. Jalur rel yang berusia tua harus diremajakan. Selain itu harus ada teknologi pengawasan rel seperti track geometry measurement system untuk memindai kerusakan rel secara otomatis.

Usianya Lebih dari Satu Abad, Stasiun Karawang Masih Terlihat Megah dan Makin Eksis

Jalur Kereta Api di Wilayah Ini Tak Tersentuh Jalur Ganda Sama Sekali

Era kemajuan kereta api di Indonesia memang sudah terlihat dari berbagai infrastruktur dan bangunan. Seperti rangkaian kereta yang sudah di modifikasi menjadi tingkat kenyamanan yang tinggi, fasilitas di kereta maupun stasiun yang modern, serta jalur ganda kereta api yang sudah tersebar di berbagai wilayah.

Dari berbagai kemajuan pembangunan tersebut ternyata masih ada yang mempertahankan keasliannya, seperti bangunan stasiun yang kental akan cagar budaya dan jalur tunggal kereta api di beberapa wilayah. Nah, ternyata masih ada wilayah kereta api yang masih dipertahankan jalur tunggalnya, padahal disaat wilayah lain sudah harus menggunakan jalur ganda.

Stasiun Ketapang merupakan stasiun ujung timur Pulau Jawa, yang memasuki wilayah Daop 9 Jember. (Foto: Dok. Istimewa)

Wilayah ini berada di Daerah Operasi (Daop) 9 Jember. Bagi kalian yang pernah naik kereta api ke wilayah tersebut mungkin tahu bahkan hafal sekali bahwa jalur tersebut hanya memiliki jalur tunggal. Stasiun yang dilewati wilayah Daop 9 Jember ini meliputi:
• Stasiun Pasuruan
• Stasjun Rejoso
• Stasiun Grati
• Stasiun Bayeman
• Stasiun Probolinggo
• Stasiun Leces
• Stasiun Malasan
• Stasiun Ranuyoso
• Stasiun Klakah
• Stasiun Randuagung
• Stasiun Jatiroto
• Stasiun Tanggul
• Stasiun Bangsalsari
• Stasiun Rambipuji
• Stasiun Mangli
• Stasiun Jember
• Stasiun Arjasa
• Stasiun Kotok
• Stasiun Kalisat
• Stasiun Ledokombo
• Stasiun Sempolan
• Stasiun Garahan
• Stasiub Mrawan
• Stasiun Kalibaru
• Stasiun Glenmore
• Stasiun Sumberwadung
• Stasiun Kalisetail
• Stasiun Temuguruh
• Stasiun Singojuruh
• Stasiun Rogojampi
• Stasiun Banyuwangi Kota
• Stasiun Argopuro
• Stasiun Ketapang

Uniknya, stasiun-stasiun yang dilewati kereta api di Daop 9 Jember ini mayoritas masih menggunakan persinyalan mekanik. Selain itu kebanyakan bangunan stasiunnya pun masih tergolong cagar budaya PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).

Seperti beberapa area di wilayah Daop 2 Bandung, jalur ini masih menggunakan jalur tunggal. Mengingat area yang dilewati masih memiliki bukit terjal dan terdapat terowongan yang mungkin sulit untuk ditembus jika membuat jalur ganda. Selain itu kereta api yang melintas juga tergolong sedikit dibanding wilayah lain yang memiliki perjalanan kereta apinya lebih ramai.

Meski begitu, wilayah Daop 9 Jember masih memiliki panorama yang menawan. Justru dari pengalaman masyarakat penggemar kereta api, walaupun masih memiliki jalur jalur tunggal tapi momen terbaiknya adalah saat di berhenti di stasiun untuk menunggu pergantian jalur (bersilang) dengan kereta api yang berlawanan arah.

Melayani Aspirasi Masyarakat, KA Pandawangi Tambah 6 Perhentian Stasiun Baru di Daop 9 Jember

Ada Aturannya, Lho! Inilah Tips Saat Gunakan Toilet Kereta Api dengan Benar

Kamar kecil atau toilet merupakan bagian yang tak bisa ditiadakan pada kereta penumpang. Fasilitas yang dibutuhkan penumpang ini tentu memiliki bentuk dan desain interior yang berbeda sesuai kelas keretanya. Seperti pada toilet kelas ekonomi dan eksekutif yang didesain berbeda.

Toilet kereta api yang saat ini semakin nyaman digunakan semula merupakan terobosan bagus saat Ignasius Jonan yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia (KAI). Ia menginginkan toilet khususnya di kereta tidak boleh kalah dengan toilet bandara.

Upaya PT KAI untuk menerapkan Toilet Ramah Lingkungan (TRL) juga menjadi sisi perubahan yang positif. Hingga saat ini penumpang yang menggunakan toilet sudah merasa nyaman, rapi dan bersih. Karena petugas kebersihan diatas kereta acap kali membersihkan toilet saat setelah penumpang menggunakannya.

Karena merupakan fasilitas umum, perlu adanya kesadaran dan tanggung jawab dalam diri penumpang saat menggunakannya. Beberapa aturan tertulis tentang menjaga kebersihan juga sudah dipajang di sana. Sayangnya, tak sedikit orang yang masih kurang memerhatikan hal tersebut.

Toilet kereta api.

Nah, supaya toilet tetap bersih dan nyaman, berikut kabarpenumpang memberikan tips saat menggunakan toilet, berikut ini:

1. Tutup dan kunci pintu dengan benar
Pintu toilet kereta didesain khusus, agar mudah dibuka dan ditutup penumpang. Saat masuk ke dalamnya, pastikan sudah menutup dan mengunci pintu dengan baik. Jika menutupnya dengan baik, tanda bahwa toilet sedang digunakan akan menyala dan terlihat dari dalam ruangan penumpang (pada kereta eksekutif/ekonomi premium). Orang lain pun tahu dan tidak akan membuka pintu toilet sembarangan.

2. Jangan merokok di dalam toilet
Semua perjalanan kereta api harus bebas rokok, termasuk di dalam toilet. Banyak kejadian penumpang yang tidak tahan, akhirnya merokok di dalam toilet. Jika ketahuan, petugas akan menurunkan penumpang tersebut langsung di stasiun selanjutnya tanpa ada toleransi. Selain itu, merokok di dalam toilet juga akan membuat baunya menempel di ruangan dan membutuhkan waktu lama untuk menghilangkannya. Penumpang berikutnya akan merasa terganggu saat hendak menggunakan toilet tersebut.

3. Hindari menggunakan toilet saat kereta berhenti
Ada aturan tertulis yang biasanya dipajang di pintu toilet tentang waktu yang tepat untuk menggunakannya, yakni saat kereta berjalan. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Dahulu, sebagian besar kereta menggunakan sistem pembuangan kotoran langsung.

Meskipun sudah menerapkan teknologi TRL, penumpang tetap diimbau untuk tidak menggunakan toilet saat kereta berhenti di stasiun. Salah satu alasannya adalah lubang ventilasi atau jendela toilet cukup rendah, sehingga ada kemungkinan terlihat dari luar, jika tidak ditutup dengan baik.

4. Pastikan toilet dalam keadaan bersih setelah digunakan
Setelah menggunakan toilet, pastikan kondisinya bersih. Kloset dalam keadaan sudah di-flush, tidak ada sampah tisu di wastafel atau lantai, serta pembalut atau kotoran lainnya sudah dibuang di tempat sampah. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab saat menggunakan fasilitas umum. Setelah melakukan kebersihan toilet, membuat penumpang selanjutnya nyaman saat hendak menggunakannya.

5. Gunakan fasilitas dengan bijak
Di dalam toilet kereta api, terdapat berbagai fasilitas umum yang bisa digunakan. Mulai dari sabun cuci tangan, tisu, kantong plastik, dan air. Gunakan fasilitas tersebut dengan bijak dan tidak boros. Selesai menggunakan tisu, plastik, atau pembalut, langsung buang ke tempat sampah yang disediakan.

Itulah tips cara menggunakan toilet kereta api agar baik dan benar. Dengan mengikuti tips-tips di atas, pengalaman menggunakan toilet selama perjalanan kereta bisa jadi lebih nyaman dan aman.

Di Balik Toilet Kereta Api yang Nyaman, Jangan Lupa ada Jasa Petugas Pengisian Air

Wow! Stasiun Purwokerto Bakal Punya Peron Tinggi, Kira-kira Selesai Kapan Ya?

Stasiun Purwokerto merupakan stasiun besar yang sangat ramai didatangi wisatawan dari berbagai wilayah. Apalagi kereta api yang singgah di stasiun ini memang wajib untuk berhenti.

Tak hanya itu, dari segi harga tiket kereta api menuju Stasiun Purwokerto pun bervariasi. Mulai dari harga yang terendah dari subsidi pemerintah, hingga harga yang paling mahal sekelas eksekutif dan wisata.

Stasiun Purwokerto terletak di pusat Kota Purwokerto, Jawa Tengah. Lokasinya menjadikan stasiun ini sebagai titik transit strategis untuk menjangkau berbagai destinasi populer dan fasilitas kota.

Sejarah pun menyebutkan bahwa Stasiun Purwokerto merupakan salah satu stasiun kereta api utama di Jawa Tengah yang mulai beroperasi sejak tahun 1916. Dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), stasiun ini awalnya dirancang sebagai penghubung jalur selatan Pulau Jawa.

Arsitektur khas kolonial yang masih terjaga hingga kini menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpang dan pengunjung. Selain nilai historisnya, stasiun ini memiliki fasilitas modern yang menunjang kenyamanan perjalanan penumpang.

Ya, kenyamanan inilah yang membuat Stasiun Purwokerto kini akan memiliki wajah baru. Wajah baru yang membuat penumpang merasa mudah saat naik dan turun kereta api. Karena bagian peron stasiun ini akan di tinggikan.

Pengerjaan peron tinggi di Stasiun Purwokerto. (Foto: Dok. KAI)

Hingga pertengahan Oktober 2025, proyek peningkatan fasilitas tersebut telah mencapai 66,5 persen dan ditargetkan rampung pada 14 Desember 2025. Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Persero (KAK) Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto, Krisbiyantoro yang dikutip dari laman RRI, menjelaskan bahwa pembangunan peron tinggi ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pelanggan saat naik dan turun kereta api.

Peron tinggi tersebut dirancang dengan standar ketinggian 100 sentimeter dari kop rel, menyesuaikan dengan desain pintu kereta jarak jauh dan menengah. Selama proses pembangunan, KAI memastikan pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan normal.

Peningkatan jumlah pelanggan juga mencerminkan kepercayaan masyarakat yang semakin tinggi terhadap layanan KAI. Faktor pendukungnya antara lain peningkatan kualitas layanan, keandalan waktu tempuh, serta kenyamanan fasilitas stasiun dan rangkaian kereta yang terus diperbarui.

Mengenang Purwokerto Timur, Stasiun Termegah yang Bernilai Sejarah

Kereta Pedagang dan Petani Segera Dioperasikan, Rute Jakarta – Merak Akankah Aktif Lagi?

Setelah memperkenalkan rangkaian baru hasil kinerja Balai Yasa Surabaya Gubeng pada tanggal 28 September 2025 lalu, kereta pedagang dan petani sepertinya dalam waktu dekat akan dioperasikan untuk umum. Ya, kereta jenis ini memang diperuntukkan bagi kaum pedagang dan petani sesuai dengan tulisan yang ada di bodi kereta.

Kereta dengan warna dasar hijau ini sangat identik dengan warna kesejukan yang merupakan warna identik Indonesia yang penuh dengan penghijauan. Selain itu interior juga dibuat sedemikian rupa yang tentunya berbeda dengan kereta penumpang lain pada umumnya. Kereta pedagang dan petani ini dibuat kursi dengan posisi menyamping agar lebih leluasa untuk menaruh barang bawaan.

Nah, beberapa rangkaian kereta ini sudah dikirim ke berbagai wilayah, salah satunya yang sangat dibutuhkan adalah wilayah Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta. Rencana rangkaian kereta ini akan digunakan di jalur Merak – Rangkasbitung. Rencana pengoperasian tersebut rasanya sudah hampir didepan mata. Pasalnya pemerintah akan membuka dan menjalankan kereta pedagang dan petani sesegera mungkin.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Allan Tandiono mengungkapkan bahwa PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) akan mengoperasikan 8 kereta khusus untuk petani dan pedagang. Namun, saat ini KAI sendiri masih sedang menguji coba empat kereta.

Kereta pedagang dan petani. (Foto: Dok. Istimewa)

Rencana tahun ini rangkaian kereta tersebut akan dioperasikan. Tinggal menunggu hasil keputusan dari pemerintah untuk menjalankan secara reguler sepenuhnya. Ada yang mengatakan bahwa kereta ini tengah diuji pertama kali bersamaan dengan kereta api rute Merak – Rangkasbitung.

Mengenai informasi yang beredar, bahwa juga rencana pengoperasian kembali kereta api dengan rute Jakarta – Merak seperti era tahun 2010. Ya, rencana tersebut kemungkinan akan dijalankan mengingat penumpang yang mayoritas membawa dagangannya baru-baru ini viral di media sosial saat menaiki Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Parungpanjang.

Penumpang tersebut rela menunggu dari subuh untuk naik ke KRL pada jam pertama beroperasi. Tak hanya itu, disisi lain penumpang yang hendak aktivitas lainnya merasa terganggu dengan barang bawaan para pedagang tersebut. Berharap ada kereta api khusus untuk mereka yang bisa memuat barang dagangannya. Pengoperasian kereta rute Jakarta – Merak pp ini direncanakan berjalan 2 kali sehari, yakni pagi dan siang hari.

Inovasi Baru, Ternyata Ini Alasan KAI Membuat Kereta Petani dan Pedagang

Sejarah Stasiun Tarik Ternyata Sudah Pernah Memiliki Kanopi Sejak Era Kolonial Belanda, Penasaran?

Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya, Stasiun Tarik merupakan stasiun percabangan yang mengarah ke Stasiun Tulangan dan Stasiun Krian. Stasiun Tarik disinggahi kereta api lokal yaitu Commuter Line Dhoho dan Jenggala. Stasiun Tarik yang terletak di wilayah pinggiran kabupaten Sidoarjo, dulunya merupakan stasiun kecil dengan fasilitas terbatas yang melayani penduduk setempat.

Walaupun begitu, stasiun ini memiliki keunikan sejarah yang pastinya sedikit mengherankan. Ya, layaknya stasiun modern yang sudah memiliki atap atau biasa disebut kanopi yang berada di setiap peron. Ternyata Stasiun Tarik sudah memiliki kanopi sejak dulu.

Dikutip dari laman Indonesian Railway Praservation Society (IRPS), sejarah Stasiun Tarik bermula saat pemerintah kolonial berencana menyambungkan Solo dan Surabaya dengan kereta api. Pemerintah kolonial memberikan konsesi pada Staasspoorwegen pada tahun 1873, dan pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1880 menghubungkan Sidoarjo dan Mojokerto lewat Tulangan dan Tarik.

Di tahun 1881, jalur KA tersambung hingga Kertosono. Kemudian di tahun 1882, jalur KA telah mencapai Madiun. Diikuti dengan sampainya jalur KA di Ngawi pada tahun 1883, dan akhirnya di Solo pada tahun 1884. Dengan jalur seperti ini, maka dulunya jalur cabang Tarik-Sidoarjo lewat Tulangan adalah jalur utama Solo-Surabaya.

Di masa lalu, Stasiun Tarik yang bangunannya masih eksis hingga sekarang memiliki kanopi dengan arsitektur kaca di sampingnya. Kanopi tersebut bukanlah bagian asli dari Stasiun Tarik. Kanopi yang memiliki kemiripan dengan Stasiun Sidoarjo maupun Stasiun Semarang Poncol tersebut merupakan pindahan dari Stasiun Surabaya Kota generasi pertama.

Stasiun Tarik era tahun1945. (Foto: Dok. Maritiem Digitaal)

Seiring dengan perkembangan modern serta beroperasinya jalur ganda, Stasiun Tarik kini lebih luas untuk kenyamanan penumpang kereta api. Revitalisasi stasiun Tarik memiliki dampak sosial yang signifikan meningkatkan mobilitas masyarakat. Modernisasi stasiun membuat masyarakat lokal lebih percaya diri dan senang dengan kemajuan wilayah mereka.

Saat ini, Stasiun Tarik melayani KA Commuter Line Dhoho dan juga KA Commuter Line Jenggala. Sedangkan KA jarak jauh melintas langsung di stasiun ini. Stasiun Tarik merupakan stasiun kelas II yang memiliki 5 jalur. Jalur 1-3 melayani kereta api dari dan ke Surabaya, dan jalur 4-5 melayani kereta api dari dan ke Sidoarjo.

KA Jenggala, Kereta Komuter Plus “Wisata” Rute Mojokerto-Sidoarjo

Wajah Baru Stasiun Purwakarta, Akhirnya Segera Dilengkapi Kanopi

Siapa yang tak kenal Stasiun Purwakarta? Ya, stasiun yang merupakan paling besar di Kota Purwakarta ini merupakan stasiun berikutnya yang nantinya akan memiliki bangunan kanopi. Bagi masyarakat, stasiun yang dijuluki sebagai ‘kuburan kereta api’ tentu mendapat respon positif khususnya penumpang kereta api.

Seperti diketahui bahwa Stasiun Purwakarta sama sekali tak memiliki atap yang terpasang di peron. Atap yang terpasang hanya berada dan tersambung pada stasiun saja. Jadi jika dalam keadaan cuaca sedang hujan, tentu sangat merepotkan bagi penumpang yang hendak naik dan turun kereta api.

Penumpang memadati Stasiun Purwakarta.

Tak hanya pembangunan kanopi pada peron stasiun, bagian peron di Stasiun Purwakarta pun diperpanjang. Mengingat kereta api yang datang dan berhenti di stasiun besar ini biasanya melebihi peron dan cukup kesulitan tentunya kepada penumpang.

Terlihat saat ini pembangunan kanopi Stasiun Purwakarta masih tahap pengerjaan namun tiang dan besi penyangga sudah terpasang dengan rapi dan sempurna. Belum diketahui, setelah kanopi selesai dibangun apakah peron dibuat tinggi atau tidak. Namun yang jelas, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang menunjuk Stasiun Purwakarta untuk fokus menyelesaikan pembangunan kanopi sebagai prioritas utama.

Hingga kini Stasiun Purwakarta masih digemari masyarakat yang ingin destinasi dengan lokasi yang terjangkau atau sekedar menikmati kuliner di pusat kota. Tak heran, banyak kereta api dengan rute Bandung – Cikampek atau pun sebaliknya singgah di stasiun yang memiliki cagar budaya ini.

Selain itu, jika mengingat Stasiun Purwakarta, pasti benak yang terlintas adalah ‘kuburan kereta’. Bagaimana tidak, stasiun ini juga dijuluki masyarakat sebagai stasiun yang memiliki keunikan.

Sebab, kawasan tersebut merupakan kuburan gerbong dan kereta. Kuburan ini menyimpan ratusan gerbong kereta berwarna-warni yang ditumpuk hingga ketinggian 7 meter di salah satu sisi pinggiran rel kereta. Gerbong dan kereta yang dimakamkan di sini merupakan bekas dipo lokomotif dan KRL Ekonomi Non-AC yang sudah tidak beroperasi. Karena keunikannya, kuburan kereta ini sering menjadi lokasi foto-foto wisatawan maupun warga sekitar.

Selain Berusia Satu Abad, Stasiun Purwakarta Adalah Awal Jalur KA Menanjak dan Berkelok Menuju Bandung

Ternyata Nama Jembatan Kewek di Yogyakarta Diambil dari Bahasa Belanda, Berikut Penjelasannya

Menggunakan kereta api (KA) melintasi antara Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan pasti melewati jembatan yang dibawahnya terpampang sebagjan Kota Yogyakarta. Ya, jembatan tersebut dikenal dengan nama Jembatan Kewek yang membentang di atas Jalan Abubakar Ali. Jembatan sekaligus viaduct yang melintas di atas Kali Code ini juga merupakan salah satu ikon Yogyakarta.

Nsh, sebagian masyarakat khususnya diluar Yogyakarta bertanya-tanya, mengapa dinamakan Jembatan Kewek? Ternyata ada penjelasannya. Sebab saat era Kolonial Belanda pernah ada jembatan jalan menuju gereja di seberangnya Kali Code. Dan orang Belanda menyebutnya jalan tersebut dengan sebutan Jalan Kerkweg. Kemudian orang Jawa terbiasa dengan menyebutnya secara mudah adalah Jembatan Kewek.

Perpaduan Jembatan Kewek dulu dan sekarang. (Foto: Dok. Istimewa)

Jembatan tersebut adalah tanda dari wilayah strategis untuk menuju pusat kota dan pusat pemerintahan di Yogyakarta. Karena sebagai penghubung antara Jalan Malioboro dengan Jalan Mangkubumi yang mampu menampilkan wajah Kota Yogyakarta.

Dalam wilayah perkeretaapian, jembatan ini ternyata cukup istimewa. Pasalnya berdiri antara Stasiun Tugu Yogyakarta dengan Stasiun Lempuyangan di Kilometer 166+500. Selain itu, penumpang kereta api (KA) akan sadar dengan sendirinya bahwa saat itu sedang melintas di Yogyakarta

Sejarah menyebutkan pada tahun 1872, NIS membangun jembatan KA yang berada di utara jembatan kembar tersebut. Namun pada tahun 1976, jembatan baru telah terbangun di selatannya, dan menyusul pembangunan jalur ganda pada tahun 2005 lalu. Sementara itu, jembatan NIS tersebut pun mangkrak.

Akan tetapi saat ini, bagian sisi barat tiang pangkal dari jembatan yang masih tersisa tersebut dirobohkan karena akan dipakai untuk jembatan kendaraan jalan raya. Jembatan jala raya tersebut kini berfungsi untuk mengurai kemacetan Jalan Malioboro.

Bentang Jembatan Kewek ini memiliki panjang mencapai 72 meter, terdiri dari 32 meter bagian jembatan yang membentang di atas sungai dan 20 meter yang membentang di atas jalan raya bagian barat serta 20 meter di atas jalan raya bagian timur.

Saat ini kondisi jembatan tersebut dengan pilar penyangga terlihat kondisi masih sangat dengan perawatan rutin oleh petugas jalan rel dan jembatan di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Mengingat makin banyak perjalanan KA yang melintas di Jembatan Kewek.

Diketahui bahwa Kali Code merupakan aliran yang berhulu di Gunung Merapi yang pada beberapa tahun lalu mendapat tumpahan material vulkanik atau banjir lahar yang cukup banyak. Namun meskipun adanya kejadian tersebut, jembatan kembar ini tetap kokoh dan terus dilewati KA baik dari barat maupun timur Pulau Jawa.

Lempuyangan, Sejarah Panjang Stasiun KA Ekonomi di Yogyakarta

Tak Hanya Naik KA, ‘West Java Traincation’ Bakal Ajak Kalian Berwisata Menarik di Jawa Barat

Jelajah perjalanan di Jawa Barat menggunakan kereta api tentu sangat menyenangkan hati saat menikmatinya. Tak Cuma menawarkan pemandangan yang super indah, namun masyarakat juga merasakan akan kampung halaman. Jalur kereta api (KA) di wilayah Provinsi Jawa Barat sangat lengkap dengan pemandangan alamnya, seperti hamparan sawah, bukit dan gunung yang menjulang, deretan rumah dipedesaan dan masih banyak lagi.

Tak hanya panorama yang menawan, jalur KA yang dilewati pun tak luput dari peninggalan sejarah perkeretaapian yang tinggi. Beberapa contohnya adalah bangunan stasiun, terowongan, jembatan, dan jalur kereta itu sendiri. Adanya kereta api yang melintasi jalur di kawasan Jawa Barat, tentunya menambah pengalaman dan sensasi yang luar biasa. Seperti pada jalur utara yang terkenal dengan hamparan sawah, tambak, dan ladang. Sedangkan jalur selatan memiliki pemandangan yang lebih indah, salah satunya pegunungan.

Nah, baru-baru ini ada peluncuran program baru yang dikemas mengasyikkan dalam melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) berkolaborasi dengan sejumlah pihak termasuk PT. Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan program West Java Traincation. Inovasi ini bagian dari upaya mengembangkan sektor pariwisata di Jabar.

Interior kereta Panoramic. (Foto: Dok. KAI)

Bentuk kerja sama Pemprov Jabar dan KAI pada program West Java Traincation, meliputi penyediaan sarana kereta api wisata, integrasi tiket dan paket perjalanan, peningkatan fasilitas layanan di stasiun, serta promosi bersama di tingkat nasional hingga internasional.

West Java Traincation merupakan salah satu upaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar yang mengemas program wisata berbasis jalur KA. Program ini juga diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi lokal di sepanjang jalur KA.

Soft Launching West Java Traincation dilakukan pada Selasa, 14 Oktober 2025. Wisatawan peserta West Java Traincation akan diajak menikmati keindahan pesona alam dari balik jendela kereta api dan dapat turun di beberapa titik pemberhentian. Wisatawan akan diajak mengenali budaya serta kuliner khas dari masing-masing daerah yang disinggahi.

Selain wisata alam dan budaya, melalui program ini, Pemprov Jabar juga menawarkan wisata sejarah perkeretaapian. Program ini menjadi langkah awal dalam mewujudkan visi besar menjadikan Jawa Barat sebagai epicentrum wisata berbasis rel di Indonesia, dengan menggabungkan kekuatan potensi alam, budaya, dan sejarah yang berada di sepanjang jalur kereta api.

Dalam kegiatan Famtrip, Disparbud Jabar memperkenalkan empat rute utama wisata berbasis rel:

• High-Speed Railway Trip – Karawang–Purwakarta–Subang
Mengangkat tema wisata industri, sejarah, dan budaya di jalur cepat KCIC Whoosh.

• Railways Heritage – Bogor -Sukabumi
Menghadirkan pengalaman wisata sejarah dan alam di kawasan Situ Gunung, Kampung Eling, dan Museum Prabu Siliwangi. (Soft Launching West Java Traincation dilakukan di rute ini, di Stasiun Bogor Paledang).

• Railways Unveiling Culture – Jakarta–Cirebon–Kuningan
Menelusuri jejak budaya dan sejarah klasik melalui Keraton Kasepuhan, Goa Sunyaragi, dan Batik Trusmi.

• Railways Scenic Panoramic – Bandung–Garut–Tasikmalaya
Menawarkan panorama alam dan pengalaman budaya seperti Kampung Naga, Candi Cangkuang, hingga Jembatan Cirahong.

Keempat rute tersebut dirancang untuk menghubungkan destinasi wisata dengan sistem transportasi berbasis rel yang aman, berkelanjutan, dan mudah diakses. Mendorong Pergerakan Wisatawan dan Ekonomi Lokal. Selain itu, kolaborasi dengan masyarakat lokal juga diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi kreatif baru.

Dibalik Kemewahan Kereta Compartment Suites, Ada Dukungan KAI Services